Archive for November, 2008
MEMBELAKANGI KIBLAT KETIKA KENCING
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apa hukum menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang hajat?”. Maka beliau menjawab :
TERIMALAH TAUBAT KAMI YA ALLAH
Saudara-saudaraku, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Semua orang pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang rajin bertaubat kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53).
DZIKIR DAN SYUKUR
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),”Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al Baqarah [2] : 152).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata :
Allah ta’ala memerintahkan untuk berdzikir kepada-Nya, dan menjanjikan balasan yang terbesar karenanya. Balasan itu ialah Allah akan mengingat orang yang mengingat-Nya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya melalui lisan Rasul-Nya, ”Barang siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya sendiri, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barang siapa yang mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingat-Nya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka”.
HADITS-HADITS POKOK BAGIAN 3
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama seluruhnya adalah nasihat.” Maka kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Yaitu untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk rakyatnya.” (HR. Muslim [55]).
TAFWIDH AQIDAH SALAF?
Secara bahasa tafwidh berasal dari kata ‘fawwadha’ yang artinya menyerahkan urusan (lihat Al-Mu’jam Al-Wasith, 2/705). Sedangkan yang dimaksud dengan istilah tafwidh dalam pembahasan nama dan sifat Allah adalah menyerahkan kandungan makna nama atau sifat Allah kepada Allah (lihat Al-Mujalla fi Syarh Al-Qawa’id Al-Mutsla, hal. 227).
BAGAIMANAKAH TATA CARA WUDHU YANG BENAR?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Seperti apakah tata cara wudhu yang sesuai syari’at?”. Maka beliau menjawab :
ULAMA SALAF DAN KEIKHLASAN
Seorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata, ”Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 19).
Yusuf bin Al Husain Ar Razi rahimahullah mengatakan, ”Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berusaha mengenyahkan riya’ dari dalam hatiku, namun sepertinya ia kembali muncul dengan warna yang lain.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).
SAHIH BUKHARI DAN SAHIH MUSLIM
An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para ulama -semoga Allah merahmati mereka- telah sepakat bahwa kitab paling sahih sesudah Al-Qur’an Al-’Aziz adalah dua kitab sahih, yaitu Bukhari dan Muslim, dan segenap umat (Islam) benar-benar telah menerima keduanya…” (Muqadimah An-Nawawi dalam Syarh Muslim, 1/176).
PRIORITAS DALAM BELAJAR
Suatu ketika ada lelaki berjenggot lebat datang ke majelis Al-A’masy rahimahullah. Lelaki itu bertanya kepadanya tentang perkara sepele dalam shalat. Periwayat (kisah) ini mengatakan : Maka Al-A’masy pun berpaling memandang kami seraya berkata, “Lihatlah orang ini, jenggotnya sanggup menanggung hafalan empat ribu hadits akan tetapi pertanyaannya seperti pertanyaan anak kecil yang baru belajar di kuttab (sekolah dasar tempo dulu)!” (Dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 75).
BIOGRAFI RINGKAS AN-NAWAWI RAHIMAHULLAH
Nama dan nasabnya
Nama beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam, An-Nawawi, Ad-Dimasyqi, Asy-Syafi’i, dijuluki dengan Muhyiddin (artinya; penghidup agama) meskipun beliau sendiri tidak menyukai julukan itu dan berkun-yah Abu Zakariya. Beliau disebut An-Nawawi karena dinisbatkan kepada tempat kelahirannya yaitu Nawa; sebuah kota kecil di dekat kota Damaskus. Ayah beliau Syaraf, adalah seorang syaikh yang zuhud dan wara’.
