Archive for January, 2009
SABARLAH SAUDARAKU…
Menjelang sore hari, beberapa orang pemuda berjalan menyusuri jalan kecil di daerah kos-kosan di sekitar kampus terkenal di Yogyakarta. Tidak sebagaimana keumuman pemuda yang lainnya, mereka mengenakan baju koko, celana di atas mata kaki, dan memelihara jenggot meskipun hanya beberapa helai. Anda tahu kiranya kemana mereka hendak menuju? Ya, benar mereka hendak menimba ilmu syar’i. Menghampiri salah satu taman surga yang ada di atas muka bumi, yaitu majelis ilmu.
NGALAP BERKAH
Allah ta’ala berfiriman (yang artinya), “Bagaimanakah menurut kalian tentang Latta, Uzza, dan Manat (sesembahan lain) yang ketiga itu. apakah bagi kalian anak laki-laki sedangkan bagi Allah anak perempuan, tentu saja hal itu adalah pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian berikan begitu pula oleh nenek-nenek moyang kalian, tidak ada bukti sama sekali yang diturunkan Allah yang membenarkan perbuatan kalian itu. kalian tidaklah melakukannya kecuali sekedar mengikuti persangkaan dan memperturutkan hawa nafsu semata. Padahal sungguh telah datang petunjuk dari Rabb mereka.” (QS. An-Najm : 19-23).
GELANG PENOLAK BALA
Diriwayatkan dari Imran bin Hushain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika melihat seorang lelaki yang di tangannya terdapat gelang dari kuningan, maka beliau bertanya, “Apa ini?”. Dia menjawab, “Untuk menangkal penyakit.” Maka Nabi mengatakan, “Lepaskan saja, karena sesungguhnya gelang itu tidak akan memperbaiki keadaanmu kecuali kamu semakin bertambah lemah. Bahkan kalau kamu meninggal dalam keadaan masih memakai gelang itu tentu kamu tidak akan bahagia selamanya.” (HR. Ahmad, sanadnya la ba’sa bih)
HADITS TENTANG NADZAR
Hadits Pertama
Diriwayatkan di dalam shahih Bukhari, dari Aisyah radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bernadzar untuk menaati Allah maka taatilah, dan barangsiapa yang bernadzar untuk durhaka kepada Allah maka janganlah dia durhaka kepada-Nya.”
DEMOKRASI DAN PEMILU
Oleh :
Syaikh al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah
Syaikh al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan berlindung kepadaNya dari keburukan diri kita dan kejelekan amalan kita, siapa yang diberi petunjuk oleh Allah niscaya dia akan tertunjuki, sedang siapa yang disesatkan Allah tiada yang mampu memberi petunjuk kepadanya.
NASEHAT UNTUK KITA BERSAMA
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai macam nikmat dan karunia. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan panutan umat manusia untuk menemukan kebenaran dan menggapai kebahagiaan. Semoga Allah ta’ala menjadikan hidup kita berbarakah dan mendatangkan manfaat bagi diri kita dan umat manusia.
MENEGAKKAN KEADILAN, BUKAN KEZALIMAN
Kalau kita berbicara soal keadilan, maka hampir setiap orang sepakat agar semua orang menegakkan keadilan. Namun, yang menjadi titik persengketaan adalah ketika manusia menerjemahkan keadilan dengan penafsiran yang menyimpang dari makna yang semestinya. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memaparkan di dalam salah satu karyanya ‘Huquq da’at ilaihal fithrah wa qarrarat-ha as-syari’ah’ bahwa keadilan adalah; memberikan hak kepada setiap pemiliknya atau menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kedudukan dan martabatnya.
KEBANGKITAN YANG DINANTIKAN
Tidak ada orang yang senang hidup dalam kehinaan dan kerendahan. Oleh sebab itu kita saksikan banyak orang rela mencurahkan waktu dan tenaga serta pikirannya untuk mencapai kesuksesan dan kemuliaan. Sebagian orang memandang bahwa kemuliaan akan bisa digapai dengan memiliki banyak pengikut dan teman. Berdasarkan anggapan itu maka dia pun berusaha untuk meningkatkan jumlah pengikut pemikirannya dan memperbanyak jumlah teman demi tercapainya persatuan kekuatan yang dia dambakan. Sebagian yang lain menilai bahwa sumber keberhasilan itu akan diperoleh tatkala perekonomian telah mereka kuasai. Oleh karena itu mereka pun berusaha untuk memotivasi orang-orang untuk membangun usaha-usaha sebagai ‘mesin’ pencetak uang agar mereka bisa menjadi sebuah umat yang mandiri dan berkecukupan secara materi.
SEBAB-SEBAB HATI MENJADI KERAS
Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Bada’i al-Fawa’id [3/743], “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”
HATI DAN BUMI, WAHYU DAN AIR HUJAN
Bumi kering kerontang karena musim kemarau tak kunjung usai. Akibatnya tanam-tanaman sulit untuk tumbuh dan berkembang. Air hujan tak juga meresap ke lapisan bumi. Padahal, tanpa adanya air maka tanaman hampir mustahil bisa diharapkan untuk tumbuh kembali. Apalagi mengharapkan buahnya yang lebat, tentu hal itu lebih tidak mungkin lagi. Maka demikian pula hati seorang insan ketika ia jauh dari siraman wahyu ilahi dan tidak diisi dengan dzikir kepada-Nya laksana bumi yang tak pernah tersirami air hujan setiap hari. Ucapan-ucapan terpuji dan amal salih mustahil muncul dari hati yang mati.