<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Abu Mushlih</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/author/admin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 06:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Iman Kepada Takdir</title>
		<link>http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 06:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jabriyah]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Qodariyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2499</guid>
		<description><![CDATA[Iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman. Dari &#8216;Umar bin Khaththab radhiyallahu&#8217;anhu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda tentang iman, “Yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir baik maupun yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fiman-kepada-takdir.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fiman-kepada-takdir.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman. Dari &#8216;Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda tentang iman, <em>“Yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir baik maupun yang buruk.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [1]])</p>
<p><span id="more-2499"></span></p>
<p>Ketika mendengar pengingkaran takdir yang dilakukan oleh sebagian penduduk Bashrah yang terpengaruh pemikiran Ma&#8217;bad al-Juhani, Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> mengatakan dengan tegas kepada Yahya bin Ya&#8217;mar dan Humaid bin Abdurrahman, <em>“Apabila kamu bertemu dengan mereka, kabarkanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka telah berlepas diri dariku. Demi Allah yang dengan nama-Nya Abdullah bin Umar bersumpah! Seandainya salah seorang diantara mereka ada yang berinfak dengan emas sebesar Uhud maka Allah tidak akan menerimanya hingga mereka beriman kepada takdir.”</em> Kemudian beliau membawakan hadits di atas sebagai dalilnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/15] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)</p>
<p><strong>[1] Kandungan Iman Kepada Takdir</strong></p>
<p>Iman kepada takdir mencakup empat tingkatan:</p>
<ol>
<li>Mengimani ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu sebelum      terjadinya</li>
<li>Mengimani bahwa Allah telah menuliskan itu semua sebelum      terjadinya</li>
<li>Mengimani bahwa semua itu terjadi dengan kehendak dari-Nya</li>
<li>Mengimani bahwa semua itu ada karena diciptakan oleh-Nya</li>
</ol>
<p>Diantara dalil untuk keempat tingkatan ini adalah:</p>
<ol>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Agar kalian mengetahui bahwa      Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwasanya Allah itu ilmu-Nya      meliputi segala sesuatu.”</em> (QS. ath-Thalaq: 12)</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Dan segala sesuatu telah kami      catat dalam imam/kitab induk yang jelas.”</em> (QS. Yasin: 12). Yang      dimaksud kitab induk yang jelas adalah Lauhul Mahfuzh</li>
<li>Dari Abdullah bin &#8216;Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>,      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah telah      menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan      langit dan bumi.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Qadar</em> [2653])</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Seandainya Rabb-mu berkehendak      niscaya seluruh yang ada di atas muka bumi itu pasti beriman.” </em>(QS.      Yunus: 99)</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Bagi siapa pun diantara kalian      yang berkehendak untuk menempuh jalan yang lurus. Namun, kalian tidaklah      berkehendak kecuali apabila Allah Rabb alam semesta juga menghendakinya.” </em>(QS.      at-Takwir: 28-29)</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), “Allah adalah pencipta segala      sesuatu.” (QS. az-Zumar: 62) (lebih lengkap lihat <em>al-Mukhtashar fi      &#8216;Aqidati Ahlis Sunnah fi al-Qadar</em> karya Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em>,      hal. 17-25 cet. Dar al-Imam Ahmad)</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[2] Dua Macam Kehendak Allah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kehendak/<em>irodah</em> Allah terbagi menjadi dua macam:</p>
<ol>
<li><em>Irodah kauniyah</em>; yaitu kehendak      Allah yang mencakup segala hal yang terjadi di alam semesta. Apa pun yang      Allah kehendaki pasti terjadi dan apa pun yang tidak Allah kehendaki tidak      akan terjadi. Bisa jadi hal itu dicintai dan diridhai oleh-Nya, atau      justru sebaliknya; hal itu adalah perkara yang tidak dicintai dan tidak      diridhai-Nya. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), <em>“Barangsiapa      yang Allah kehendaki untuk mendapatkan hidayah maka Allah akan lapangkan      dadanya untuk menerima Islam, dan barangsiapa yang Allah kehendaki untuk      disesatkan maka Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak; seolah-olah      dia sedang mendaki ke atas langit.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 125)</li>
<li><em>Irodah syar&#8217;iyah</em>; yaitu kehendak      Allah yang terkandung dalam perintah-Nya, di dalamnya tercermin kecintaan      dan keridhaan-Nya. Namun, apa yang dikehendaki-Nya menurut syari&#8217;at belum      tentu terjadi kecuali apabila dikehendaki oleh-Nya secara kauni/<em>irodah      kauniyah</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah      menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi      kalian.”</em> (QS. al-Baqarah: 185). Segala bentuk ketaatan adalah sesuatu      yang Allah kehendaki secara syar&#8217;i (<em>irodah syar&#8217;iyah</em>), akan tetapi      tidak setiap hamba menjadi pelaku ketaatan. Ada diantara mereka yang      bermaksiat. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang taat bisa melakukan ketaatan      dengan terkumpulnya kedua macam kehendak tersebut. Adapun orang yang      bermaksiat, maka pada dirinya hanya terwujud <em>irodah kauniyah</em>. Allah      -dengan hikmah-Nya- menghendakinya terjadi walaupun hal itu bukan perkara      yang Allah cintai (lihat <em>al-Mukhtashar fi &#8216;Aqidati Ahlis Sunnah fi      al-Qadar</em>, hal. 55-58)</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[3] Buah Iman Kepada Takdir </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Diantara faidah yang bisa dipetik dari beriman kepada takdir adalah ketenangan hati serta tidak mudah goncang dalam menghadapi pahit getirnya perjalanan hidup. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah di muka bumi atau pada diri kalian sendiri melainkan telah tercatat dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya hal itu bagi Allah sangatlah mudah. Supaya kalian tidak berputus asa atas apa yang telah luput dari kalian dan supaya kalian tidak terlalu bergembira atas apa yang Allah berikan kepada kalian.”</em> (QS. al-Hadid: 22-23) (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 343-344)</p>
<p>Selain itu, orang yang beriman terhadap takdir akan memiliki keteguhan sikap dalam menghadapi berbagai cobaan, krisis, dan tekanan. Karena mereka meyakini bahwa hidup ini memang sebuah ujian. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.”</em> (QS. al-Mulk: 2). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang memang Allah tetapkan atas kami. Dia lah penolong kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal.”</em> (QS. at-Taubah: 51) (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 345)</p>
<p>Bahkan, dengan keimanan kepada takdir, seorang hamba bisa merubah bencana yang menimpanya menjadi pahala. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya. Dan Allah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui.”</em> (QS. at-Taghabun: 11). &#8216;Alqomah berkata tentang maksud ayat ini, <em>“Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, maka dia menyadari bahwa hal itu datang dari Allah, oleh sebab itu dia pun merasa ridha dan pasrah.”</em> Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tertimpa musibah kemudian bersabar maka Allah akan anugerahkan petunjuk ke dalam hatinya (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 345-346)</p>
<p><strong>[4] Sabar Menghadapi Takdir</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan lebih utama di atas kesabaran menghadapi takdir yang terasa menyakitkan.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 279)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.”</em> Beliau juga mengatakan, <em>“Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p>Dari Shuhaib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” </em>(HR. Muslim dalam <em>Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;iq</em> [2999])</p>
<p><strong>[5] Kaum Penolak Takdir</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kaum penolak takdir/Qadariyah dapat dibagi menjadi 2:</p>
<ol>
<li>Qadariyah ekstrim yaitu yang mengingkari ilmu Allah terhadap      segala sesuatu sebelum terjadinya. Mereka juga mengingkari apabila      segalanya telah tertulis dalam <em>lauhul mahfuzh</em>. Mereka mengatakan      bahwa Allah memang telah memerintah dan melarang, akan tetapi Allah tidak      mengetahui siapakah yang akan taat dan siapa yang akan bermaksiat.      Sehingga menurut mereka segalanya terjadi begitu saja secara tiba-tiba      tanpa diketahui dan ditakdirkan sebelumnya oleh Allah. Aliran ini bisa      dikatakan telah musnah atau hampir tiada</li>
<li>Qadariyah yang mengakui ilmu Allah mencakup segalanya, akan      tetapi mengingkari takdir Allah terhadap perbuatan hamba. Menurut mereka      perbuatan hamba tercipta secara merdeka sebagai hasil ciptaan mereka      sendiri -bukan atas ciptaan dan kehendak Allah- dan inilah yang dianut      oleh Mu&#8217;tazilah. Kebalikan dari aliran ini adalah kelompok yang ekstrim      dalam menetapkan takdir, sampai-sampai mereka mengatakan bahwa hamba tidak      lagi memiliki kemampuan dan pilihan atas perbuatannya sendiri. Menurut      mereka hamba dalam keadaan <em>mujbar</em>/dipaksa dalam semua perbuatan      mereka. Karena pemikiran itulah mereka disebut dengan Jabriyah (lihat <em>al-Irsyad      ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 341 cet. Dar Ibnu Khuzaimah)</li>
</ol>
<p><strong>[6] Takdir Rahasia Allah</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Qadar</em> [2651])</p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad as-Sa&#8217;idi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk surga.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jihad wa as-Siyar</em> [2898] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Qadar</em> [112])</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENERIMAAN SANTRI BARU MA’HAD AL-‘ILMI</title>
		<link>http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 06:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2496</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu adalah landasan ucapan dan perbuatan Ilmu merupakan pondasi kebangkitan Ilmu menjadi syarat tegaknya peradaban Ilmu menanamkan rasa takut kepada ar-Rahman Marilah, Saudaraku..! Kita tegakkan penghambaan kepada Allah dengan ilmu PENERIMAAN SANTRI BARU MA’HAD AL-‘ILMI YOGYAKARTA ANGKATAN IX TAHUN 2012 &#8230; <a href="http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenerimaan-santri-baru-ma%25e2%2580%2599had-al-%25e2%2580%2598ilmi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenerimaan-santri-baru-ma%25e2%2580%2599had-al-%25e2%2580%2598ilmi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Ilmu adalah landasan ucapan dan perbuatan<br />
Ilmu merupakan pondasi kebangkitan<br />
Ilmu menjadi syarat tegaknya peradaban<br />
Ilmu menanamkan rasa takut kepada ar-Rahman<br />
</em></p>
<p><span id="more-2496"></span></p>
<p><em>Marilah, Saudaraku..!<br />
Kita tegakkan penghambaan kepada Allah dengan ilmu</em></p>
<p><strong>PENERIMAAN SANTRI BARU MA’HAD AL-‘ILMI YOGYAKARTA<br />
ANGKATAN IX TAHUN 2012 – 2013</strong></p>
<p><strong>Terbuka Untuk Umum<br />
Ikhwan dan Akhwat</strong></p>
<p><strong>Materi Pelajaran Rutin:</strong></p>
<ul>
<li>Tauhid</li>
<li>Aqidah</li>
<li>Fiqih</li>
<li>UshulFiqih</li>
</ul>
<p><strong>Daurah-Daurah :</strong></p>
<ul>
<li><em>Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah</em> (Manhaj)</li>
<li><em>Tsalatsatul Ushul</em> (Tauhid)</li>
<li><em>(Aqidah)</em></li>
<li><em>Shifat Wudhu Nabi</em> (Fiqih)</li>
<li><em>Talkhis Shifat Sholat Nabi</em> (Fiqih)</li>
<li><em>Qowa’id Fiqhiyyah</em> (Fiqih)</li>
<li><em>Ushul Fi Tafsir</em> (UshulTafsir)</li>
<li><em>Baiquniyah</em> (UshulHadits)</li>
</ul>
<p><strong>Masa Belajar:</strong><br />
1 tahun (2 semester)</p>
<p><strong>Jadwal Kajian:</strong><br />
4 kali pertemuan perpekan (di luar jam kuliah)</p>
<p><strong>Staf Pengajar:</strong></p>
<ul>
<li>Ustadz Abu Sa’ad <em>hafizhahullah</em></li>
<li>Ustadz Afifi Abdul Wadud <em>hafizhahullah</em></li>
<li>Ustadz Abu ‘Isa <em>hafizhahullah</em></li>
<li>Ustadz Marwan <em>hafizhahullah</em></li>
<li>Ustadz Aris Munandar <em>hafizhahullah</em></li>
</ul>
<p><strong>Waktu Pendaftaran:</strong><br />
1 Mei – 31 Mei 2012</p>
<p><strong>Biaya Pendaftaran:</strong><br />
Gratis</p>
<p><strong>2 Langkah Pendaftaran</strong><br />
<strong><em>Langkah Pertama</em>: Via SMS</strong><br />
Ketik: Daftar [spasi] MI [spasi] Nama [spasi] JenisKelamin [spasi] Alamat [spasi] Pekerjaan<br />
Contoh: Daftar MI Ahmad Putra Pogung Kidul Mahasiswa<br />
SMS dikirimkan ke nomor:<br />
0857 2593 7791 (putra)<br />
0852 9299 5015 (putri)</p>
<p><strong><em>Langkah Kedua</em>: Via e-mail</strong></p>
<p><a href="http://mahadilmi.files.wordpress.com/2012/04/formulir-pendaftaran-mi-2012.doc">Download Formulir Pendaftaran</a></p>
<p>Kemudian diisi dengan lengkap lalu dikirimkan ke alamat email:<br />
<a href="mailto:mahadilmi.ikhwan@gmail.com">mahadilmi.ikhwan@gmail.com</a> (putra)<br />
<a href="mailto:mahadilmi_akhwat@yahoo.com">mahadilmi_akhwat@yahoo.com</a> (putri)</p>
<p><strong>Syarat Pendaftaran*:</strong></p>
<ol>
<li>Muslim/muslimahusia minimal 17 tahun.</li>
<li>Terbuka untuk mahasiswa dan non mahasiswa.</li>
<li>Bersedia dan komitmen menjalani pendidikan selama 1 tahun.</li>
<li>Mengisi Formulir Pendaftaran</li>
<li>Fotocopy KTP dan KTM (bagi mahasiswa)</li>
<li>Surat Rekomendasi (dari ustadz, pengurus YPIA, atau yang lainnya).</li>
<li>Mengikuti tes masuk:
<ol>
<li>Tes tertulis meliputi tes bahasa arab dan tes kemampuan dasar diniyyah.</li>
<li>Tes wawancara meliputi tes kemampuan baca Al-Qur’an dan kesungguhan.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>*<small>Syarat no. 5 dan 6 diserahkan jika sudah resmi diterima</small></p>
<p><strong>Tes Seleksi:</strong><br />
Sabtu, 2 Juni 2012<br />
Pkl. 08.30 WIB – selesai<br />
di Masjid Pogung Raya, Pogung Dalangan (utara Fakultas Teknik UGM)</p>
<p><strong>Pengumuman Hasil Seleksi:</strong><br />
Bisa dilihat di website <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a> dan <a href="http://mahadilmi.wordpress.com/">www.mahadilmi.wordpress.com</a><br />
Tanggal 9 Juni 2012</p>
<p><strong>Briefing:</strong><br />
Ahad, 10 Juni 2012<br />
Pkl. 08.30WIB – selesai<br />
di Masjid Al-Ashri PogungRejo</p>
<p><strong>Biaya Pendidikan:</strong><br />
SPP per bulan Rp 50.000,-</p>
<p><strong>Penyelenggara:</strong><br />
<a title="Ma'had Al 'Ilmi Yogyakarta" href="http://mahadilmi.wordpress.com/">Ma’had Al-’Ilmi Yogyakarta</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Membutuhkan Hidayah?</title>
		<link>http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 11:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2494</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa besarkah kebutuhan kita kepada hidayah? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan setidaknya ada 10 alasan yang melatarbelakangi doa yang senantiasa kita panjatkan dalam sholat kita. Yaitu doa meminta hidayah. Beliau memaparkan: Barangsiapa yang mencermati segala kerusakan yang menimpa alam semesta &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Seberapa besarkah kebutuhan kita kepada hidayah? Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan setidaknya ada 10 alasan yang melatarbelakangi doa yang senantiasa kita panjatkan dalam sholat kita. Yaitu doa meminta hidayah. Beliau memaparkan:</p>
<p><span id="more-2494"></span></p>
<p>Barangsiapa yang mencermati segala kerusakan yang menimpa alam semesta secara umum maupun khusus, niscaya dia akan menemukan bahwa itu semua muncul dari dua sumber utama ini (yaitu akibat kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, pent).</p>
<p>Adapun kelalaian, maka ia akan menghalangi seorang hamba dari mengetahui kebenaran sehingga membuatnya tergolong orang yang sesat. Adapun memperturutkan hawa nafsu akan memalingkannya dari mengikuti kebenaran sehingga membuatnya termasuk golongan orang yang dimurkai. Sedangkan orang yang dikaruniai nikmat itu adalah orang-orang yang diberi anugerah ilmu tentang kebenaran dan ketundukan untuk melaksanakannya serta mendahulukan hal itu di atas selainnya. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas jalan keselamatan. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang berada di atas jalan kehancuran.</p>
<p>Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk mengucapkan setiap sehari semalam berkali-kali, <em>“Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladzina an&#8217;amta &#8216;alaihim ghairil maghdhubi &#8216;alaihim wa lad dhaalliin.”</em> Artinya: <em>“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.”</em> (QS. al-Fatihah: 5-7)</p>
<p>Karena sesungguhnya seorang hamba sangat-sangat membutuhkan pengetahuan terhadap apa saja yang bermanfaat baginya dalam kehidupan dunia dan akheratnya. Sebagaimana dia juga sangat-sangat membutuhkan keinginan yang kuat sehingga bisa mendahulukan urusan yang bermanfaat baginya itu serta sebisa mungkin menjauhi segala hal yang membahayakan dirinya.</p>
<p>Dengan terkumpulnya kedua perkara ini maka sungguh dia telah mendapat petunjuk menuju jalan yang lurus itu. Apabila dia kehilangan ilmu tentangnya maka dia akan menempuh jalan orang-orang yang sesat. Dan apabila dia kehilangan tekad dan keinginan untuk mengikutinya maka dia telah menempuh jalan orang-orang yang dimurkai. Dengan begitu bisa diketahui betapa agung kedudukan doa ini dan betapa besar kebutuhan hamba terhadapnya, karena kebahagiaan hidup di dunia dan akherat semuanya tergantung pada hal ini.</p>
<p>Setiap hamba senantiasa membutuhkan hidayah dalam setiap waktu dan tarikan nafas, dalam segala urusan yang dia lakukan atau pun dia tinggalkan, karena sesungguhnya dia berada di antara berbagai keadaan yang dia pasti diliputi olehnya:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, hal-hal yang telah dia lakukan akan tetapi tidak mengikuti petunjuk akibat kebodohannya, maka dalam keadaan ini dia butuh untuk mencari hidayah kepada kebenaran dalam hal itu.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, dia sudah mengetahui hidayah dalam masalah itu, akan tetapi dia sengaja melanggarnya, maka dalam keadaan ini dia butuh untuk bertaubat dari kesalahannya.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, hal-hal yang memang tidak diketahuinya baik ilmu maupun amalan yang benar padanya, sehingga dia pun kehilangan hidayah untuk mengilmui sekaligus mengamalkannya.</p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong>, hal-hal yang memang dia telah memperoleh sebagian hidayah dalam urusan itu akan tetapi belum sempurna, maka dia butuh untuk mendapatkan hidayah yang sempurna padanya.</p>
<p><strong><em>Kelima</em></strong>, hal-hal yang dia telah mendapatkan hidayah terhadap pokok kebenaran dalam hal itu secara global saja, maka dia pun masih membutuhkan hidayah terhadap rincian-rinciannya.</p>
<p><strong><em>Keenam</em></strong>, dia telah mendapatkan hidayah &#8216;menuju&#8217; jalan yang lurus itu, maka dia pun masih membutuhkan hidayah untuk bisa berjalan &#8216;di atasnya&#8217;. Karena hidayah &#8216;menuju&#8217; jalan itu lain, sedangkan hidayah &#8216;di atas&#8217; jalan itu sesuatu yang lain lagi. Bukankah anda bisa melihat bahwasanya  seseorang bisa jadi telah mengetahui bahwa jalan menuju negeri anu adalah jalan ini dan itu. Meskipun demikian dia tidak sanggup untuk menempuhnya. Karena untuk bisa menempuh jalan itu masih memerlukan hidayah yang lebih khusus lagi untuk bisa berjalan di atasnya. Seperti misalnya dengan melakukan perjalanan di waktu ini bukan di waktu yang itu, kemudian mengambil air di jarak sekian dengan jumlah sekian, lalu singgah di tempat ini bukan di tempat yang itu. Inilah hidayah yang dibutuhkan untuk bisa menempuh jalan itu yang terkadang diabaikan oleh orang yang sudah mengetahui jalan tersebut, sehingga dia pun gagal dan tidak berhasil mencapai tujuan.</p>
<p><strong><em>Ketujuh</em></strong>, dia juga membutuhkan hidayah untuk hal-hal yang terkait dengan masa depannya sebagaimana yang dia dapatkan pada waktu yang telah berlalu.</p>
<p><strong><em>Kedelapan</em></strong>, perkara-perkara yang dia tidak bisa meyakini apa yang benar dan batil dalam hal itu, oleh sebab itu dia masih membutuhkan hidayah kepada keyakinan yang benar di dalamnya.</p>
<p><strong><em>Kesembilan</em></strong>, perkara-perkara yang telah diyakini olehnya bahwa dia berada di atas petunjuk akan tetapi sebenarnya dia berada di atas kesesatan dalam keadaan tidak menyadarinya. Dengan demikian dia membutuhkan hidayah dari Allah untuk bisa meninggalkan keyakinan tersebut.</p>
<p><strong><em>Kesepuluh</em></strong>, hal-hal yang telah dia lakukan sebagaimana hidayah yang sebenarnya, maka dia pun masih membutuhkan hidayah untuk bisa berbagi hidayah itu kepada selainnya, agar bisa membimbing dan mengarahkannya. Karena apabila dia melalaikan hal itu niscaya dia akan kehilangan hidayah sekadar dengan kelalaiannya tadi. Sesungguhnya balasan itu serupa dengan jenis amalan. Semakin dia berjuang dalam memberikan hidayah dan ilmu kepada orang lain maka semakin besar perhatian Allah dalam memberikan hidayah dan ilmu kepada dirinya, sehingga dia akan bisa menjadi orang yang mendapat hidayah dan menyebarkannya.</p>
<p>Hal itu sebagaimana dalam doa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan selainnya, <em>“Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman, dan jadikanlah kami orang yang memberikan hidayah dan terus diberi hidayah, tidak sesat dan tidak pula menyesatkan. Mendatangkan keselamatan kepada wali-wali-Mu dan memerangi musuh-musuh-Mu. Dengan cinta-Mu Kami mencintai orang yang mencintai-Mu. Dengan permusuhan-Mu kami akan memusuhi siapa saja yang menentang-Mu.” </em>(HR. Tirmidzi dalam <em>Kitab ad-Da&#8217;awat </em>sanadnya dilemahkan Syaikh al-Albani, tetapi sisi pendalilan dari hadits ini didukung oleh hadits yang lain)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Diterjemahkan secara bebas dari:<br />
<em>Risalah Ibnul Qayyim ila Ahadi Ikhwanihi</em> (hal. 5-10)<br />
Penerbit Dar &#8216;Alam al-Fawa&#8217;id<br />
<em>tahqiq</em> Abdullah bin Muhammad al-Mudaifir<br />
<em>isyraf</em> Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matrikulasi Bahasa Arab Gratis</title>
		<link>http://abumushlih.com/matrikulasi-bahasa-arab-gratis.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/matrikulasi-bahasa-arab-gratis.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 23:48:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'had al-Ilmi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<category><![CDATA[UNY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2491</guid>
		<description><![CDATA[Menimba ilmu syar’i sembari kuliah, mengapa tidak?! Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Ilmu sebelum berkata dan beramal.” Berminat untuk bergabung dengan Ma’had Al-‘Ilmi? Ikutilah…! PROGRAM MATRIKULASI BAHASA ARAB MA’HAD AL-‘ILMI YOGYAKARTA Terbuka UntukUmum Putra-Putri Kegiatan : Pemantapan bahasa Arab bagi calon &#8230; <a href="http://abumushlih.com/matrikulasi-bahasa-arab-gratis.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmatrikulasi-bahasa-arab-gratis.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmatrikulasi-bahasa-arab-gratis.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Menimba ilmu syar’i sembari kuliah, mengapa tidak?!</p>
<p><span id="more-2491"></span></p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah </em>berkata, <em>“Ilmu sebelum berkata dan beramal.”</em></p>
<p>Berminat untuk bergabung dengan Ma’had Al-‘Ilmi?</p>
<p>Ikutilah…!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PROGRAM MATRIKULASI BAHASA ARAB</strong></p>
<p><strong>MA’HAD AL-‘ILMI YOGYAKARTA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Terbuka UntukUmum</p>
<p>Putra-Putri</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kegiatan :</strong></p>
<p>Pemantapan bahasa Arab bagi calon santri Ma’had Al-‘Ilmi</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Waktu:</strong></p>
<p>5 Mei 2012 &#8211; 27 Mei 2012 (8 kali pertemuan)</p>
<p><strong>Jadwal Kegiatan:</strong></p>
<p>Sabtu : Pkl. 07.00 – 10.00 WIB</p>
<p>Ahad : Pkl. 07.00 – 10.00 WIB</p>
<p>*)  Waktu belajar bias dirubah sesuai kesepakatan pengajar dan santri.</p>
<p><strong>Pengajar :</strong></p>
<p>Staf pengajar Ma’had Umar Bin Khattab</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pilihan Kelas:</strong></p>
<p>Kelas A. Syarat : Pernah belajar kitab Muyassar dan Mukhtarat</p>
<p>Kelas B. Syarat : Pernah belajar kitab Muyassar</p>
<p><strong>Pendaftaran:</strong></p>
<p>15 April – 30 April 2012</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Biaya:</strong></p>
<p>Gratis</p>
<p><strong>Pendaftaran</strong></p>
<p>Ketik: Daftar [spasi] nama [spasi] alamat [spasi] pekerjaan [spasi] kelas yang dipilih</p>
<p>Contoh: Daftar Ahmad SendowoMahasiswaKelas A</p>
<p><strong>Dikirimkanke no:</strong></p>
<p>0857 1298 5553 (putra)</p>
<p>0852 9299 5015 (putri)</p>
<p><strong>Placement Test :</strong></p>
<p>Sabtu, 28 April 2012. Pkl. 08.30 &#8211; selesai</p>
<p>di Masjid Al-Ashri Pogung Rejo (utara Fakultas Teknik UGM)</p>
<p><strong>Briefing:</strong></p>
<p>Ahad, 29 April 2012. Pkl. 08.30 &#8211; selesai</p>
<p>di Masjid Al-Ashri Pogung Rejo</p>
<p><strong>Penyelenggara:</strong></p>
<p>Ma&#8217;had Al-&#8217;Ilmi Yogyakarta</p>
<p><strong>Informasi:</strong></p>
<p>www.mahadilmi.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/matrikulasi-bahasa-arab-gratis.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenaikan Harga BBM, Antara Kecaman dan Dukungan</title>
		<link>http://abumushlih.com/kenaikan-harga-bbm-antara-kecaman-dan-dukungan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kenaikan-harga-bbm-antara-kecaman-dan-dukungan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 23:50:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Demo BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaikan BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Penguasa]]></category>
		<category><![CDATA[Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Unjuk Rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2489</guid>
		<description><![CDATA[Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) adalah topik yang sekarang ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh masyarakat di berbagai media. Semua orang pun angkat bicara mengatasnamakan rakyat. Ada yang mengecam, dan mungkin ada juga yang membela kebijakan ini. &#8216;Ala kulli hal, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kenaikan-harga-bbm-antara-kecaman-dan-dukungan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkenaikan-harga-bbm-antara-kecaman-dan-dukungan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkenaikan-harga-bbm-antara-kecaman-dan-dukungan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) adalah topik yang sekarang ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh masyarakat di berbagai media. Semua orang pun angkat bicara mengatasnamakan rakyat. Ada yang mengecam, dan mungkin ada juga yang membela kebijakan ini.</p>
<p><span id="more-2489"></span></p>
<p><em>&#8216;Ala kulli hal</em>, kebutuhan terhadap bahan bakar yang satu ini memang seolah-olah telah menjadi nafas dan detak jantung perekonomian bangsa kita. Sehingga kenaikan harga padanya pun membangkitkan tanggapan yang sangat luar biasa. Entah dari sudut sosial, ekonomi, politik, ataupun sudut-sudut yang lainnya.</p>
<p><strong>[1] Keprihatinan Kita Bersama</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Saudaraku</em>, apabila kita cermati dengan pikiran yang jernih dan hati yang lapang sesungguhnya kenaikan harga barang kebutuhan semacam ini adalah sesuatu yang biasa terjadi -walaupun mungkin tidak menyenangkan- dalam kehidupan kita. Kita tidak sedang berbicara dari sudut ekonomi ataupun politik; akan tetapi kita hanya ingin mengemukakan sebuah realita yang sangat memprihatinkan; sebuah realita yang telah dan sedang bergejolak serta merambah kemana-mana.</p>
<p>Ya, boleh saja kita merasa prihatin dengan kenaikan harga ini. Namun, yang lebih membuat hati kita sedih dan tersayat-sayat adalah tatkala hal ini membuat sebagian orang kehilangan rasa malu dan perikemanusiaannya dengan mencaci-maki pemimpin mereka lalu merusak fasilitas-fasilitas umum ataupun aset milik orang lain yang sebenarnya dibangun juga demi kemaslahatan dan kepentingan mereka. Apakah mereka telah kehilangan hati nurani dan akal sehat?!</p>
<p><em>Saudaraku</em>, demonstrasi bukanlah solusi! Belum pernahkah anda menyaksikan kebiadaban demonstrasi? Apakah anda belum pernah mendengar seruan untuk menghalalkan darah sesama manusia di tengah kerumunan massa demonstran?! Adakah sebuah kejahatan kemanusiaan yang lebih besar daripada menghalalkan tertumpahnya darah manusia tanpa alasan yang benar?!! Inilah fakta yang tidak bisa dipungkiri akibat orasi membakar massa yang diteriakkan oleh segelintir orang yang disebut-sebut sebagai kaum intelektual dan cendekia [?!]</p>
<p>Berpikirlah matang-matang sebelum bertindak! Apakah anda pernah menimbang demonstrasi dengan akal sehat dan hati nurani serta menyikapinya berdasarkan petunjuk agama? Wahai orang-orang yang gemar meneriakkan penegakan syari&#8217;ah dan khilafah, pernahkah anda dapati generasi terbaik umat ini membakar kemarahan massa dengan mengkritik kebijakan penguasa di mimbar-mimbar dengan mengatasnamakan agama?! Inikah yang diajarkan oleh &#8216;Umar bin Khaththab, &#8216;Utsman bin &#8216;Affan, dan &#8216;Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> kepada kita?!</p>
<p>Marilah bersama-sama kita renungkan barang sejenak&#8230; Bukankah setiap orang punya kesalahan, tidak terkecuali anda dan kita semua! Apakah anda suka dan bangga jika kesalahan dan dosa anda dibeberkan di hadapan massa dan menjadi bahan pembicaraan segenap anggota keluarga, sahabat, sanak famili, tetangga, atau bahkan para pemirsa di segenap penjuru Nusantara?! Oke, boleh saja anda tidak setuju atau menolak pendapat orang. Akan tetapi ingatlah, harga diri dan kehormatan sesama tetap harus dijaga. Apalagi sampai terjadi tindak kekerasan!</p>
<p><strong>[2] Demonstrasi Ditolak Oleh Akal Sehat</strong></p>
<p>Cobalah anda bayangkan..! Jika suatu ketika ayah anda sendiri -yang telah merawat anda sejak kecil dan membiayai segala keperluan anda sampai bisa menikmati bangku kuliah, bahkan dia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan anak dan istrinya- ternyata suatu ketika ayah anda itu melakukan sebuah kekeliruan -kalau memang itu sebuah kekeliruan- yang menyangkut kepentingan keluarga; anak dan istrinya, maka apakah layak seorang anak seperti anda -yang kuliahnya mungkin juga tidak beres- kemudian berkoar-koar di depan rumah atau di jalan-jalan -dengan membawa <em>megaphone</em> dan spanduk keprihatinan- mengobral aib keluarga agar publik tahu dan media massa pun meliputnya?! Seolah-olah dia berkata, <em>“Biarlah seluruh dunia tahu apa yang terjadi pada keluarga kita&#8230;!”</em>. <em>Laa haula wa laa quwwata illa billaah</em>! Adakah akal sehat manusia membolehkan perbuatan semacam ini?! Kalau terhadap seorang kepala rumah tangga saja perbuatan semacam ini tidak layak dan tidak sopan, maka bagaimanakah lagi jika yang dijelek-jelekkan di muka umum ini adalah kepala sebuah negara?! Sadarlah, wahai para pemuda&#8230;!!</p>
<p>Sebagian orang mungkin akan mengira bahwa tulisan ini adalah sebuah jilatan untuk penguasa. Oh, sama sekali tidak! Marilah bersama-sama kita lihat bagaimana potret dan konsep gerakan massa dan demonstrasi yang sesungguhnya! Agar anda tidak tertipu dan kecewa setelah semuanya terlambat&#8230;</p>
<p>Dalam bukunya <em>Gerakan Massa</em>, Eric Hoffer berbicara tentang potret para pemimpin gerakan massa, <em>“Bualan besar sampai tingkatan tertentu mutlak diperlukan untuk kepemimpinan yang efektif. Gerakan massa tidak mungkin ada tanpa putar balik kenyataan.”</em> (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 115). Padahal, pemutarbalikan kenyataan tentu saja sebuah tindakan yang tidak bisa dibenarkan!</p>
<p>Mengenai dampak gerakan massa dan cara untuk menghentikannya pun telah dijelaskan olehnya. Dia berkata, <em>“Pikiran bahwa gerakan massa tidak dapat dihentikan dengan kekerasan adalah tidak benar. Kekerasan dapat menghentikan dan melumatkan gerakan massa sekuat apa pun. Tetapi untuk ini, kekerasan itu harus dijalankan tanpa ampun dan tanpa henti.”</em> (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 109).</p>
<p>Kekacauan dan bahkan pertumpahan darah adalah sesuatu yang dianggap wajar dalam sebuah gerakan massa. Eric Hoffer mengatakan, <em>“Keadaan kacau balau, pertumpahan darah, dan kehancuran yang berserakan di jalan-jalan yang dilalui gerakan massa yang sedang menanjak, menimbulkan kesan pada kita bahwa para pengkut gerakan massa tersebut memang kasar dan tidak mengenal tata tertib hukum.”</em> (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 116). Inilah yang telah terjadi dimana-mana; pertumpahan darah akibat demonstrasi adalah kejahatan dalam sejarah umat manusia yang harus dipertanggungjawabkan oleh para provokator dan penggerak demonstrasi berdarah&#8230;</p>
<p>Dia juga mengatakan, <em>“Barangkali lebih baik bagi suatu negara, bila pemerintahannya mulai menunjukkan tanda-tanda tidak mampu lagi menjalankan tugasnya, agar ditumbangkan saja oleh gerakan rakyat raksasa -meski upaya menumbangkan ini meminta korban jiwa dan harta yang besar sekalipun- daripada dibiarkan jatuh dan roboh dengan sendirinya.”</em> (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 164)</p>
<p>Demonstrasi membabi buta kerapkali disulut oleh perasaan kecewa dan tidak puas akibat orasi-orasi dan hasutan para penggeraknya. Eric Hoffer memaparkan, <em>“Orang yang kecewa dan tidak puas menjadi pengikut seorang pemimpin bukan karena ia yakin sang pemimpin sedang membawanya ke suatu dunia impian, melainkan lebih karena ia merasa sang pemimpin tersebut sedang menuntunnya menjauhi dirinya sendiri yang dibencinya. Bagi orang ini, penyerahan diri kepada seorang pemimpin bukan merupakan suatu cara untuk mencapai suatu tujuan melainkan cara untuk mencapai suatu kepuasan. Ke mana sang pemimpin membawa dia, itu soal kedua.”</em> (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 118)</p>
<p>Bukan sesuatu yang aneh jika gerakan massa dijalankan oleh para pemalas yang sebenarnya kecewa terhadap diri mereka sendiri. Kemudian mereka ingin mengobati kekecewaan itu dengan cara menyalahkan orang lain! <em>“Seruan dari gerakan massa untuk mengadakan aksi bersama menggetarkan hati orang yang kecewa dan tidak puas. Bagi mereka ini, aksi bersama merupakan obat bagi semua yang dideritanya. Aksi bersama membuat mereka lupa pada diri sendiri, dan memberi mereka rasa mempunyai tujuan dan harga diri. Bahkan tampaknya, rasa kecewa dan tidak puas itu timbul terutama karena orang tidak dapat bertindak, dan orang yang paling merasa kecewa dan tidak puas ialah orang yang memilki bakat dan kepribadian yang sesuai untuk suatu kehidupan penuh kegiatan, tetapi terbenam dalam kehidupan yang bermalas-malasan.”</em> (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 121)</p>
<p>Gerakan massa merebak berkat hasutan orang yang pandai bersilat lidah dan mengidap kekecewaan terhadap penguasa. Walaupun, mereka sendiri juga tidak mampu mengatasi masalah itu jika dipercaya untuk menyelesaikannya! Eric Hoffer berkata, <em>“Gerakan massa biasanya baru menanjak bila kekuasaan yang ada sudah kehilangan nama. Nama yang memudar bukan akibat kesalahan dan tindak sewenang-wenang mereka yang memegang tampuk kekuasaan, tetapi akibat hasutan orang yang pandai bersilat lidah dan mengidap rasa kecewa.”</em> (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 131)</p>
<p><em>Para pembaca yang dirahmati Allah</em>, inilah identitas sesungguhnya dari gerakan massa dan demonstrasi yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai obat dan solusi bagi persoalan bangsa. Padahal, sesungguhnya demonstrasi itu adalah bagian dari masalah itu sendiri!</p>
<p><strong>[3] Demonstrasi Ditolak Oleh Syari&#8217;at</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tidakkah anda ingat kasus pembunuhan khalifah &#8216;Utsman bin &#8216;Affan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> yang terjadi akibat demonstrasi yang didalangi oleh kaum Khawarij?! Tidakkah anda ingat &#8216;unjuk rasa&#8217; pertama kali yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah -sesepuh kaum Khawarij- di hadapan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan tuduhan perbuatan zalim yang dilemparkannya kepada beliau?!</p>
<p>Tidakkah anda ingat bagaimana kemacetan yang timbul, roda perekonomian yang terhenti, dan kerugian milyaran rupiah yang timbul akibat demonstrasi buruh besar-besaran beberapa waktu yang lalu?! Tidakkah anda melihat kerusuhan yang terjadi dan kerusakan yang timbul akibat demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang baru saja terjadi di sebagian kota di tanah air?!</p>
<p>Sungguh benar ucapan Sahabat Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, <em>“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, akan tetapi dia tidak mendapatkannya.” </em>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sudah seharusnya cara anda beramar ma&#8217;ruf adalah dengan cara yang ma&#8217;ruf, demikian pula cara anda dalam melarang kemungkaran bukan berupa kemungkaran.”</em> (lihat <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wa an-Nahyu &#8216;anil Munkar</em>, hal. 24)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menaatiku maka dia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amirku maka dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai amirku maka dia telah durhaka kepadaku.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab <em>al-Ahkam</em>)</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terkandung kewajiban untuk taat kepada para penguasa -kaum muslimin- selama itu bukan perintah untuk bermaksiat sebagaimana sudah diterangkan di depan di awal Kitab al-Fitan. Hikmah yang tersimpan dalam perintah untuk taat kepada mereka adalah untuk memelihara kesatuan kalimat (stabilitas masyarakat, pent) karena terjadinya perpecahan akan menimbulkan kerusakan.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [13/131] cet. Dar al-Hadits)</p>
<p>Dari &#8216;Iyadh bin bin Ghunm <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah dia menampak hal itu secara terang-terangan/di muka umum, akan tetapi hendaknya dia memegang tangannya seraya menyendiri bersamanya -lalu menasehatinya secara sembunyi-. Apabila dia menerima nasehatnya maka itulah -yang diharapkan-, dan apabila dia tidak mau maka sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban dirinya.”</em> (HR. Ahmad dan Ibnu Abi &#8216;Ashim dengan sanad <em>sahih</em>, lihat <em>al-Ma&#8217;lum Min Wajib al-&#8217;Alaqah baina al-Hakim wa al-Mahkum</em>, hal. 23)</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Wajib atas setiap individu muslim untuk selalu mendengar dan patuh -kepada penguasa- dalam apa yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya, kecuali apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh patuh.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari Tamim bin Aus ad-Dari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Agama ini adalah nasehat.”</em> Beliau mengucapkannya tiga kali. Maka kami bertanya, <em>“Untuk siapa wahai Rasulullah?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Untuk mengikhlaskan ibadah kepada Allah &#8216;azza wa jalla, beriman kepada Kitab-Nya, taat kepada Rasul-Nya, memberikan nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin serta nasehat bagi orang-orang biasa (rakyat) diantara mereka.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Imam Ibnu ash-Sholah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Nasehat bagi para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, mentaati mereka di dalamnya, mengingatkan mereka terhadap kebenaran, memberikan peringatan kepada mereka dengan lembut, menjauhi pemberontakan kepada mereka, mendoakan taufik bagi mereka, dan mendorong orang lain (masyarakat) untuk juga bersikap demikian.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 103)</p>
<p>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menerangkan, “<em>Nasehat bagi para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, mentaati mereka di dalamnya, memerintahkan mereka untuk menjalankan kebenaran, memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka dengan lemah lembut dan halus, memberitahukan kepada mereka hal-hal yang mereka lalaikan, menyampaikan kepada mereka hak-hak kaum muslimin yang belum tersampaikan kepada mereka, tidak memberontak kepada mereka, dan menyatukan hati umat manusia (rakyat) supaya tetap mematuhi mereka.” </em>(lihat <em>Syarh Muslim lil Imam an-Nawawi</em> [2/117], lihat juga penjelasan serupa oleh Imam Ibnu Daqiq al-&#8217;Ied <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh al-Arba&#8217;in</em>, hal. 33-34)</p>
<p>Sahabat Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> pernah ditanya bagaimana cara beramar ma&#8217;ruf dan nahi mungkar kepada penguasa, maka beliau menjawab, <em>“Apabila kamu memang mampu melakukannya,  cukuplah antara kamu dengan dia saja.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 105)</p>
<p>Dari Abu Wa&#8217;il Syaqiq bin Salamah, dia berkata: Ada orang yang bertanya kepada Usamah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, <em>“Mengapa kamu tidak bertemu dengan &#8216;Utsman untuk berbicara (memberikan nasehat) kepadanya?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Apakah menurut kalian aku tidak berbicara kepadanya kecuali harus aku perdengarkan kepada kalian? Demi Allah! Sungguh aku telah berbicara empat mata antara aku dan dia saja. Karena aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu timbulnya masalah.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Inilah kiranya mungkin apa yang bisa kami sampaikan di sini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi segenap kaum muslimin di negeri ini. Kalaulah kami dituduh sebagai penjilat penguasa, maka para ulama semacam Ibnu Hajar, Ibnu ash-Sholah, an-Nawawi, Ibnu Daqiq al-&#8217;Ied, Ibnu Abbas dan Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> pun tak akan lepas dari tuduhan mereka! <em>Allahul musta&#8217;aan</em>. Kepada Allah semata, kami memohon pertolongan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kenaikan-harga-bbm-antara-kecaman-dan-dukungan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syahadat Laa Ilaha Illallah</title>
		<link>http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 05:57:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Laa ilaha illallah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2486</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca rahimakumullah, syahadat laa ilaha illallah adalah cabang keimanan yang tertinggi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha &#8230; <a href="http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsyahadat-laa-ilaha-illallah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsyahadat-laa-ilaha-illallah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Pembaca <em>rahimakumullah</em>, syahadat <em>laa ilaha illallah</em> adalah cabang keimanan yang tertinggi. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [9] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [35], lafal ini milik Muslim)</p>
<p><span id="more-2486"></span>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” </em>(lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam)</p>
<p>Syahadat inilah yang kelak akan menyelamatkan seorang hamba di hari kiamat. Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sangat bersemangat untuk mendakwahi pamannya Abu Thalib agar mau mengucapkan kalimat ini sebelum kematiannya. Sa&#8217;id bin al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, beliau menceritakan: Ketika kematian hendak menghampiri Abu Thalib, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun datang kepadanya. Di sana beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin al-Mughirah telah berada di sisinya. Kemudian beliau berkata, <em>“Wahai pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untuk membelamu kelak di sisi Allah.”</em> Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan syahadat kepadanya, sedangkan mereka berdua pun terus mengulangi ucapan itu. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>&#8230; (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1360] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [24])</p>
<p>Tentu saja yang dimaksud orang yang bersyahadat dengan sebenarnya adalah orang yang memahami kandungannya. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mempersyaratkan ilmu pada diri orang yang mengucapkan syahadat, jika dia memang ingin masuk ke dalam surga. Dari &#8216;Utsman bin &#8216;Affan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, niscaya dia akan masuk ke dalam surga.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [26])</p>
<p>Namun, memahami kandungan syahadat dan mengucapkannya pun belum cukup jika tidak disertai dengan amalan nyata di dalam kehidupan. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mempersyaratkan orang yang ingin masuk surga untuk membersihkan dirinya dari syirik. Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, niscaya dia masuk ke dalam neraka.”</em> Dan aku -Ibnu Mas&#8217;ud- berkata, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti akan masuk surga.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1238] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [92])</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Syahadat dengan lisan saja tidak cukup. Buktinya adalah kaum munafik juga mempersaksikan keesaan Allah &#8216;azza wa jalla. Akan tetapi mereka hanya bersaksi dengan lisan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini di dalam hati mereka. Oleh sebab itu ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka&#8230;”</em> (lihat <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em>, hal. 23 cet. Dar Tsurayya 1424 H). Ini menunjukkan bahwa  mengucapkan syahadat belum bisa menyelamatkan jika tidak dibarengi dengan keyakinan dan dibuktikan dengan amalan. Meskipun demikian, bukan berarti kita boleh sembarangan mencurigai orang. Sebab yang menjadi patokan adalah apa yang tampak secara lahiriah. Adapun urusan batin kita serahkan kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Marilah, sejenak kita simak kisah Usamah bin Zaid berikut ini&#8230;</p>
<p>Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> menceritakan: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengirim kami untuk bertempur melawan kaum Huraqah. Kami pun menggempur mereka dan berhasil membuat mereka kocar-kacir. Aku bersama seorang Anshar mengikuti salah seorang diantara mereka. Tatkala kami berhasil meringkusnya, tiba-tiba dia mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>. Temanku dari kaum Anshar pun menahan diri, sedangkan aku terus menyerangnya dengan tombakku hingga dia tewas. Pada saat kami pulang, kejadian itu dilaporkan kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Maka beliau bersabda, <em>“Wahai Usamah! Apakah kamu membunuhnya padahal dia telah mengucapkan laa ilaha illallah?!”</em>. Aku  menjawab, <em>“Orang itu hanya ingin cari selamat.”</em> Dalam riwayat lain Usamah menjawab, <em>“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia mengucapkan kalimat itu karena takut dari tebasan pedang.”</em> Dalam riwayat lain Nabi bertanya, <em>“Apakah kamu membelah dadanya, sehingga bisa mengetahui apakah dia benar-benar mengucapkannya atau tidak?!” </em>Dalam riwayat lain Nabi berkata,<em> “Apa yang akan kamu lakukan dengan laa ilaha illallah apabila kelak ia datang pada hari kiamat?!”</em>. Nabi terus mengulangi ucapan itu sampai-sampai aku berharap seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari itu (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Maghazi</em> [4269] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [96])</p>
<p>Kisah ini menunjukkan kepada kita betapa agung kedudukan kalimat <em>laa ilaha illallah</em>. Apabila seseorang telah mengucapkannya terjagalah darah dan hartanya, kecuali apabila dia melakukan dosa yang sangat besar sehingga menyebabkan dirinya layak untuk diperangi atau ditumpahkan darahnya. Dari Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Aku diperintahkan untuk memerangi umat manusia sampai mereka mempersaksikan laa ilaha illallah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukannya maka mereka telah menjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali ada alasan lain yang dibenarkan dalam Islam untuk mengambilnya. Adapun hisab atas mereka itu adalah urusan Allah.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [25] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [22])</p>
<p>Darah seorang muslim haram untuk ditumpahkan kecuali ada sebab yang jelas dan dibenarkan oleh syari&#8217;at dalam menumpahkannya. Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim yang bersyahadat laa ilaha illallah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah kecuali dengan salah satu diantara tiga alasan: membalas nyawa dengan nyawa, seorang yang telah menikah namun berzina, dan orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jama&#8217;ah/persatuan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ad-Diyat</em> [6878] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Qisamah wal Muharibin wal Qishash wad Diyat</em> [1676]</p>
<p>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Adapun sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8216;orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jama&#8217;ah&#8217; maka itu bersifat umum mencakup semua orang yang murtad dari Islam dengan sebab apapun kemurtadannya. Oleh sebab itu wajib membunuhnya jika dia tidak mau kembali kepada Islam. Para ulama mengatakan: Hukum ini juga mencakup setiap orang yang keluar dari jama&#8217;ah (persatuan umat) dengan sebab bid&#8217;ah, pemberontakan, atau karena tindak kejahatan lain yang dia lakukan. Demikian pula termasuk dalam hal ini adalah kaum Khawarij. Wallahu a&#8217;lam.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [6/228])</p>
<p>Seorang khalifah yang lurus, Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> telah menunjukkan kepada kita keteladanan dan keberanian dalam memerangi orang-orang yang secara terang-terangan menghinakan ajaran Islam dan mengingkari syari&#8217;at yang sudah baku. Tatkala sebagian orang arab sepeninggal Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadi murtad dan menjadi pengikut nabi palsu -Musailamah al-Kadzdzab dan al-Aswad al-&#8217;Ansi- dan sebagian yang lain masih mengakui kewajiban sholat akan tetapi menolak kewajiban zakat, maka bangkitlah Sahabat Nabi yang mulia ini untuk menumpas pemberontakan mereka.</p>
<p>Sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menceritakan: Tatkala Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> wafat kemudian Abu Bakar diangkat menjadi khalifah sesudahnya, maka sebagian orang Arab pun kembali ke dalam kekafiran. &#8216;Umar bin al-Khaththab berkata kepada Abu Bakar, “Bagaimana bisa engkau memerangi orang-orang itu, padahal Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda, <em>“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan laa ilaha illallah. Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah maka terjaga harta dan nyawanya kecuali ada alasan yang benar untuk mengambilnya. Adapun hisabnya adalah urusan Allah.”</em> Abu Bakar menjawab, <em>“Demi Allah, aku pasti akan memerangi orang-orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat, karena zakat adalah kewajiban atas harta. Demi Allah, seandainya mereka menolak menyerahkan kepadaku seutas tali yang dahulu biasa mereka serahkan kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -di masa beliau masih hidup- niscaya aku akan memerangi mereka karena penolakan itu.”</em> &#8216;Umar bin al-Khaththab berkata, <em>“Demi Allah, tidaklah aku melihatnya kecuali  Allah &#8216;azza wa jalla telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang. Sehingga aku pun mengetahui bahwa tindakan beliau adalah benar.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab az-Zakah</em> [1399] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [20])</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Hakikat Ibadah</title>
		<link>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 20:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2484</guid>
		<description><![CDATA[Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17, at-Tauhid al-Muyassar, hal. 53). Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah thariq mu&#8217;abbad (Lihat Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [1/34])). &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17, <em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53).</p>
<p><span id="more-2484"></span></p>
<p>Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah <em>thariq mu&#8217;abbad </em>(Lihat<em> Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim </em>[1/34])). Yaitu jalan yang telah dihinakan, karena telah banyak diinjak-injak oleh telapak kaki manusia (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34). Sehingga, ibadah bisa diartikan dengan perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan (Lihat <em>at-Tanbihat al-Mukhtasharah Syarh al-Wajibat</em>, hal. 28).</p>
<p>Secara terminologi, ada beberapa definisi yang diberikan oleh para ulama tentang makna ibadah, yang pada hakikatnya semua definsi itu saling melengkapi. Di antaranya mereka menjelaskan bahwa ibadah adalah ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya yang disampaikan melalui lisan para rasul-Nya (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> juga menerangkan bahwa ibadah itu mencakup ketundukan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta membenarkan berita yang dikabarkan-Nya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 45)</p>
<p>Ibnu Juraij <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa ibadah kepada Allah artinya adalah mengenal Allah (Lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [7/327]). Yang dimaksud mengenal Allah di sini adalah mentauhidkan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat tentang perintah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada Mu&#8217;adz sebelum keberangkatannya ke Yaman. Beliau bersabda, <em>“.. Hendaklah yang pertama kali kamu ajak kepada mereka adalah supaya mereka beribadah kepada Allah &#8216;azza wa jalla -dalam riwayat lain disebutkan untuk mentauhidkan Allah-, kemudian apabila mereka sudah mengenal Allah&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Nawawi</em> [2/49] cet. Dar Ibnul Haitsam, lihat pula <em>Shahih Bukhari</em> cet. Maktabah al-Iman, tahun 1423 H, hal. 203 dan 1467. Lihat juga <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 80 cet. Dar al-Hadits tahun 1423 H)</p>
<p>Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ibadah adalah puncak perendahan diri yang dibarengi dengan puncak kecintaan. Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Menurut pengertian syari&#8217;at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/34]). Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, <em>“Sebagian ulama mendefinisikan ibadah sebagai kesempurnaan rasa cinta yang disertai kesempurnaan sikap tunduk.”</em> (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menegaskan, <em>“Ibadah yang diperintahkan itu harus mengandung unsur perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini mengandung tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satu unsur saja maka dia belum dianggap beribadah kepada Allah dengan sebenarnya. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja, maka ini adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan modal rasa harap semata, maka ini adalah metode kaum Murji&#8217;ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka, maka ini adalah jalannya kaum Khawarij.”</em> (<em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 35)</p>
<p>Ibadah juga diartikan dengan tauhid. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> mengenai maksud firman Allah (yang artinya), <em>“Wahai umat manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 21</strong>). Beliau menjelaskan, <em>“Artinya tauhidkanlah Rabb kalian&#8230;”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/75])</p>
<p>Di dalam kitabnya <em>al-&#8217;Ubudiyah </em>(Lihat<em> al-&#8217;Ubudiyah, </em>hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh, tahun 1425 H), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi (Lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 54 cet. al-Maktab al-Islami tahun 1423 H). Dari sini, maka ibadah itu mencakup perkara hati/batin dan juga perkara lahiriyah. Sehingga seluruh ajaran agama itu telah tercakup dalam istilah ibadah (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> menerangkan di dalam <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul </em>(Lihat<em> Syarh Tsalatsat al-Ushul, </em>hal. 23 cet. Dar al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah tahun 1424 H) bahwa pengertian ibadah bisa dirangkum sebagai berikut; suatu bentuk perendahan diri kepada Allah yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari&#8217;at-Nya.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.”</em> (lihat <em>asy-Syarh al-Mumti&#8217; &#8216;ala Zaad al-Mustaqni&#8217;</em> [1/9] cet. Mu&#8217;assasah Aasam, tahun 1416 H).</p>
<p>Dari pengertian-pengertian di atas paling tidak kita dapat menarik satu kesimpulan penting bahwa sesungguhnya ibadah itu ditegakkan di atas rasa cinta dan pengagungan. Rasa cinta akan melahirkan harapan dan tunduk kepada perintah-Nya, sedangkan pengagungan akan menumbuhkan rasa takut dan mematuhi larangan-larangan-Nya. Selain itu, kita juga bisa mengerti bahwa pelaksanaan ibadah tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus mengikuti tuntunan para rasul <em>&#8216;alaihimush sholatu was salam</em>. Dalam konteks sekarang, maka kita semua harus mengikuti petunjuk dan ajaran Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, nabi dan rasul yang terakhir.</p>
<p>Ibadah/amalan akan menjadi benar dan diterima di sisi Allah jika memenuhi 2 syarat; ikhlas dan ittiba&#8217; (Lihat <em>Mazhahiru Dha&#8217;fil &#8216;Aqidah fi Hadzal &#8216;Ashr wa Thuruqu &#8216;Ilajiha</em>, oleh Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>, hal. 10 cet. Kunuz Isybiliya, tahun 1430 H. Sebagian ulama menambahkan syarat ketiga yaitu aqidah yang benar, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali dalam <em>Abraz al-Fawa&#8217;id Syarh Arba&#8217; al-Qawaid</em>).</p>
<p>Ikhlas artinya ibadah itu hanya diperuntukkan kepada Allah dan tidak dipersekutukan dengan selain-Nya. Ini merupakan kandungan dari syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em>. Lawan dari ikhlas adalah syirik, riya&#8217; dan sum&#8217;ah. <em>Riya&#8217;</em> adalah beribadah karena ingin dilihat orang, sedangkan <em>sum&#8217;ah</em> adalah beribadah karena ingin didengar orang. Ittiba&#8217; maksudnya adalah setia dengan tuntunan/sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak mereka-reka tata cara ibadah yang tidak ada tuntunannya. Ini merupakan kandungan dari <em>syahadat anna Muhammadar rasulullah</em>. Lawan dari <em>ittiba&#8217;</em> adalah <em>ibtida&#8217;</em> atau membuat bid&#8217;ah (Silahkan baca <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, oleh Syaikh Dr. Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi <em>hafizhahullah</em>, cet. Jami&#8217;ah al-Islamiyah bil Madinah al-Munawwarah).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai dengan syari&#8217;at Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan yang diniatkan untuk mencari wajah Allah, inilah dua rukun amal yang akan diterima di sisi-Nya (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [5/154] Baca juga <em>al-Qawa&#8217;id wa al-Ushul aj-Jami&#8217;ah wa al-Furuq wa at-Taqasim al-Badi&#8217;ah an-Nafi&#8217;ah</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 40-42 cet. Dar al-Wathan tahun 1422 H).</p>
<p>Sebagaimana orang yang tidak ikhlas amalannya tidak diterima, demikian pula orang yang tidak ittiba&#8217; -alias berbuat bid&#8217;ah- maka amalannya pun tidak diterima. Apalagi orang yang beribadah tanpa keikhlasan dan tanpa ittiba&#8217; (Lihat <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar wa Qurratu &#8216;Uyun al-Akhyar Syarh Jawami&#8217; al-Akhbar</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 14 cet. Darul Kutub al-Ilmiyah, tahun 1423 H). Oleh sebab itu para ulama, di antaranya Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> menafsirkan bahwa yang dimaksud <em>ahsanu &#8216;amalan</em> (amal yang terbaik) dalam surat al-Mulk [ayat 2] sebagai amalan yang paling ikhlas dan paling benar (Lihat <em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 93).</p>
<p>Ikhlas jika dikerjakan karena Allah, sedangkan benar jika dikerjakan dengan mengikuti sunnah/ajaran Nabi (Lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, karya Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits, tahun 1418 H). Bukan dengan cara-cara bid&#8217;ah. Bid&#8217;ah adalah tata cara beragama yang diada-adakan dan menyaingi syari&#8217;at, dimaksudkan dengannya untuk berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, hal. 13). Hal ini memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa syari&#8217;at Islam ini mengatur niat dan cara. Niat yang baik juga harus diwujudkan dengan cara dan sarana yang baik pula (Lihat pula <em>Ighatsat al-Lahfan min Masha&#8217;id asy-Syaithan</em>, karya Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>, hal. 16 cet. Dar Thaibah, tahun 1426 H). Islam tidak mengenal kaidah ala Yahudi; &#8216;tujuan menghalalkan segala cara&#8217;.</p>
<p>Dengan demikian untuk beribadah dengan baik, seorang muslim harus memadukan antara <em>shihhatil irodah</em> (ketulusan niat) dengan <em>shihhatul fahm</em> (kelurusan pemahaman). Oleh sebab itu Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwa kedua hal tadi -<em>shihhatul irodah</em> dan <em>shihhatul fahm</em>- merupakan anugrah dan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Ketulusan niat terwujud di dalam tauhid dan keikhlasan, sedangkan kelurusan pemahaman terwujud dalam ittiba&#8217; kepada sunnah. Sehingga amat wajar jika para ulama sangat menekankan kedua pokok yang agung ini. Sampai-sampai diriwayatkan bahwa Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> pernah berdoa, <em>“Allahumma ahyinaa &#8216;alal islam, wa amitnaa &#8216;alas sunnah.”</em> Artinya: <em>“Ya Allah, hidupkanlah kami di atas islam (tauhid), dan matikanlah kami di atas Sunnah.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Belajar Zuhud</title>
		<link>http://abumushlih.com/mari-belajar-zuhud.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mari-belajar-zuhud.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 10:36:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2482</guid>
		<description><![CDATA[Zuhud merupakan sebab kecintaan Allah kepada seorang hamba. Para ulama salaf merupakan teladan terdepan dalam hal zuhud. Salah satu pembeda terbesar yang melebihkan mereka di atas generasi sesudahnya adalah karena mereka lebih zuhud kepada dunia dan lebih berhasrat kepada akhirat. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mari-belajar-zuhud.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmari-belajar-zuhud.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmari-belajar-zuhud.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Zuhud merupakan sebab kecintaan Allah kepada seorang hamba. Para ulama salaf merupakan teladan terdepan dalam hal zuhud. Salah satu pembeda terbesar yang melebihkan mereka di atas generasi sesudahnya adalah karena mereka lebih zuhud kepada dunia dan lebih berhasrat kepada akhirat.</p>
<p><span id="more-2482"></span></p>
<p><strong>Pengertian Zuhud</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Zuhud yang disyari&#8217;atkan itu adalah; dengan meninggalkan perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat kelak di negeri akhirat dan kepercayaan yang kuat tertanam di dalam hati mengenai balasan dan keutamaan yang ada di sisi Allah&#8230; Adapun secara lahiriyah, segala hal yang digunakan oleh seorang hamba untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, maka meninggalkan itu semua bukanlah termasuk zuhud yang disyari&#8217;atkan. Akan tetapi yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan sikap berlebihan dalam perkara-perkara yang menyibukkan diri sehingga melalaikan dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, baik itu berupa makanan, pakaian, harta, dan lain sebagainya&#8230;”</em> (lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimyah</em> karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 69-70)</p>
<p>Berikut ini, sebagian riwayat mengenai zuhud yang dibawakan oleh Imam Ibnu Abi &#8216;Ashim <em>rahimahullah</em> (wafat 287 H) dalam kitabnya <em>az-Zuhd</em>. Semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[1] Menjaga Lisan dan Perbuatan </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin &#8216;Amr <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa diam -pandai menjaga lisan- niscaya dia akan selamat.”</em> (lihat <em>az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 15)</p>
<p>Dari Jabir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dia menceritakan bahwa ada seorang lelaki menemui Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan bertanya, <em>“Wahai Rasulullah! Kaum muslimin seperti apakah yang paling utama?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Yaitu seorang muslim yang bisa menjaga kaum muslimin yang lain dari gangguan lisan dan tangannya.”</em> (lihat <em>az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 21)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menjaga apa yang ada diantara kedua jenggotnya dan apa yang ada diantara kedua kakinya niscaya dia akan masuk Surga.”</em> (lihat <em>az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 22)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.” </em>(lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 23)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata, <em>“Demi Allah yang tiada sesembahan yang benar selain-Nya. Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih butuh dipenjara dalam waktu yang lama selain daripada lisan.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 26)</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau berkata, <em>“Sesuatu yang paling layak untuk terus dibersihkan oleh seorang hamba adalah lisannya.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 27)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berpesan, <em>“Jauhilah oleh kalian kebiasaan terlalu banyak berbicara.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 28)</p>
<p>Pada suatu ketika Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berwasiat kepada putranya Abdurrahman. Beliau berkata, <em>“Wahai putraku, aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah. Kendalikanlah lisanmu. Tangisilah dosa-dosamu. Hendaknya rumahmu cukup terasa luas bagimu.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 30)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ucapan yang baik itu pun termasuk sedekah.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 30)</p>
<p>Dari Ibnu Abi Zakaria <em>rahimahullah</em>, beliau mengatakan, <em>“Aku belajar untuk diam setahun lamanya.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 39)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 45)</p>
<p><strong>[2] Pandai Memilih Teman</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Muharib <em>rahimahullah</em>, beliau menuturkan, <em>“Dahulu kami berteman dengan al-Qasim bin Abdurrahman, ternyata beliau mengungguli kami dengan tiga perkara; dengan banyak sholat, banyak diam, dan jiwa yang dermawan.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 46)</p>
<p>Dari Malik bin Dinar <em>rahimahullah</em>, beliau mengatakan, <em>“Setiap teman yang kamu tidak bisa memetik kebaikan darinya maka jauhilah dia.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 49)</p>
<p><strong>[3] Memandang Dunia Sebagaimana Mestinya</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dunia ini adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir.” </em>(lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 69)</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sudah menjadi ketetapan Allah tabaraka wa ta&#8217;ala bahwasanya tidaklah Allah mengangkat suatu perkara dunia melainkan Allah juga pasti akan merendahkannya.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 115)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari &#8216;Umar bin al-Khaththab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah Allah membukakan dunia kepada seseorang melainkan Allah pasti akan munculkan permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari kiamat.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 138)</p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Berhati-hatilah kalian terhadap dunia. Berhati-hatilah kalian terhadap kaum perempuan.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 139)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari &#8216;Amr bin &#8216;Anbasah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pada hari kiamat, dunia akan didatangkan. Kemudian dipilih darinya apa-apa yang digunakan untuk taat kepada Allah dan ikhlas karena-Nya. Adapun apa-apa yang dipakai tidak untuk taat kepada Allah dan tidak ikhlas karena-Nya maka dilemparkan ke dalam Neraka Jahannam.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 142)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mari-belajar-zuhud.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Bahasa Arab Kembali Dibuka</title>
		<link>http://abumushlih.com/program-bahasa-arab-kembali-dibuka.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/program-bahasa-arab-kembali-dibuka.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 07:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kursus]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'had Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Shorof]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2478</guid>
		<description><![CDATA[Ma’had ‘Umar Bin Khottob Kembali Membuka Progam Bahasa Arab Terbuka Untuk Putra &#8211; Putri Pilihan Kelas Putra : Kelas Dasar (kitab panduan : Muyassar) Kelas Menengah (kitab panduan : Mukhtarot) Kelas Lanjutan (kitab panduan : Mulakhos) Putri : Kelas Dasar &#8230; <a href="http://abumushlih.com/program-bahasa-arab-kembali-dibuka.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fprogram-bahasa-arab-kembali-dibuka.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fprogram-bahasa-arab-kembali-dibuka.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>Ma’had ‘Umar Bin Khottob</strong><br />
<strong>Kembali Membuka Progam Bahasa Arab</strong><br />
<strong>Terbuka Untuk Putra &#8211; Putri</strong></p>
<p><span id="more-2478"></span></p>
<p><strong>Pilihan Kelas</strong></p>
<p>Putra :<br />
Kelas Dasar (kitab panduan : Muyassar)<br />
Kelas Menengah (kitab panduan : Mukhtarot)<br />
Kelas Lanjutan (kitab panduan : Mulakhos)</p>
<p>Putri :<br />
Kelas Dasar (kitab panduan : Muyassar)<br />
Kelas Menengah (kitab panduan : Mukhtarot)</p>
<p><strong>Pendaftaran :</strong></p>
<p>Tempat Pendaftaran Langsung:</p>
<p><em>Untuk Putra</em></p>
<ol>
<li>Wisma Misfallah Tholabul ‘Ilmi (MTI), Pogung Kidul (Utara Fak. Teknik UGM)</li>
<li>Toko Ihya’, Karang Bendo CT III/2 (Utara Fak. Pertanian UGM)</li>
</ol>
<p><em>Untuk Putri</em></p>
<ol>
<li>Wisma Raudhatul ‘Ilmi, Pogung Dalangan, SIA XVI No. 40 RT 10/RW 50, Sinduadi, Mlati</li>
<li>Wisma Hilyah, Pogung Rejo, SIA XVI RT 13/RW 51 No. 391, Sinduadi, Mlati</li>
</ol>
<p><em>Atau lewat via SMS dengan format</em><br />
Ketik : Daftar_Nama Lengkap_ Universitas/Pekerjaan_Alamat_Kelas Yang Dipilih<br />
Kirim ke  0856 4231 8414 (Untuk Putra) atau 0857 4355 8784 (Untuk Putri)</p>
<p>Contoh : Daftar_Ali Ibrahim_UGM_Pogung Lor_Dasar</p>
<p><em>*Pendaftar via sms wajib daftar ulang pada hari Jum’at, 2 Maret 2012 di MPR saat Placement Test</em></p>
<p><strong>Waktu pendaftaran : </strong>13 Februari – 2 Maret 2012</p>
<p><strong>Tes Penempatan </strong>(sifat : <strong>wajib</strong> bagi pendaftar kelas menengah dan lanjutan)<br />
Hari, tanggal : Jum’at, 2 Maret 2012<br />
Tempat : Masjid Pogung Raya (MPR), Pogung Dalangan<br />
Pukul : 16.00 WIB &#8211; selesai</p>
<p><strong>Briefing dan Daftar Ulang </strong>(sifat : <strong>wajib </strong>bagi semua santri)</p>
<p>Hari, tanggal : Ahad, 4 Maret 2012<br />
Tempat : Masjid Al ‘Ashri, Pogung Rejo<br />
Pukul : 08.00 WIB – selesai</p>
<p><strong>Kegiatan Belajar Mengajar</strong></p>
<p>Masa belajar : 5 Maret – 11 Mei 2012<br />
Pengajar : Staf pengajar Ma’had Umar Bin Khottob<br />
Tempat Belajar : Masjid-masjid dan wisma-wisma sekitar Kampus UGM<br />
Frekuensi: 4 pertemuan perpekan</p>
<p><em>Jadwal dan tempat belajar akan ditentukan saat briefing</em></p>
<p><strong>Biaya : Rp 130.000,00 (belum termasuk kitab, kitab bisa pesan ke panitia)</strong></p>
<p><strong>Informasi :</strong></p>
<p>0856 4231 8414 (putra)<br />
0857 4355 8784 (putri)</p>
<p><em>Penyelenggara : Ma’had Umar Bin Khattab</em><br />
<em>Sekretariat : Wisma Darut Tauhid, Pogung Kidul SIA XVI 8C RT 01/49, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta.</em></p>
<p><em>Info lebih lengkap hubungi informasi atau klik : www.muslim.or.id//www.muslimah.or.id//www.badaronline.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/program-bahasa-arab-kembali-dibuka.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat, Teguran, dan Pelajaran</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[[1] Istighfar Palsu Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun &#8230; <a href="http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-teguran-dan-pelajaran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-teguran-dan-pelajaran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>[1] Istighfar Palsu</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.”</em> Kemudian beliau menjelaskan, <em>“Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, karya al-Khathib al-Baghdadi, hal. 69)</p>
<p><span id="more-2476"></span></p>
<p><strong>[2] Niat Menimba Ilmu</strong></p>
<p>Abu Abdillah ar-Rudzabari <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 71)</p>
<p><strong>[3] Guru Terbaik</strong></p>
<p>Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, <em>“Kepada siapakah aku duduk/berteman dan belajar?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasehatimu dengan ucapannya semata.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 71-72)</p>
<p><strong>[4] Rusaknya Hati</strong></p>
<p>Muhammad bin Ya&#8217;qub <em>rahimahullah</em> berkata: Suatu saat aku mendengar al-Junaid ditanya mengenai hati; faktor apa yang merusak hati seorang pemuda? Maka beliau menjawab, <em>“Rasa tamak/hawa nafsu dan ambisi.”</em> Lalu beliau ditanya, <em>“Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Sikap wara&#8217;/menjaga diri dari yang diharamkan.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 72)</p>
<p><strong>[5] Kenali Dirimu!</strong></p>
<p>Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar, <em>“Wahai orang yang riya&#8217;!”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 93)</p>
<p><strong>[6] Antara Wajah dan Perbuatan</strong></p>
<p>Sebagian orang bijak mengatakan, <em>“Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 105)</p>
<p><strong>[7] Amalan Setelah Berbuat Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Seorang lelaki menemui seorang ahli ibadah. Ahli ibadah itu bertanya kepadanya, <em>“Apakah kamu pernah melakukan suatu perbuatan dosa?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya.”</em> Ahli ibadah itu pun berkata, <em>“Itu artinya kamu sudah mengetahui bahwa Allah menetapkan hal itu menimpamu?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya.”</em> Lalu ahli ibadah itu berpesan, <em>“Maka sekarang beramallah sampai kamu mengetahui bahwa Allah &#8216;azza wa jalla benar-benar telah menghapus dosa itu darimu.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 124)</p>
<p><strong>[8] Kiat Menghafal Hadits</strong></p>
<p>Waki&#8217; <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.”</em> (lihat mukadimah <em>az-Zuhd</em> karya Imam Waki&#8217;, hal. 91)</p>
<p>Waki&#8217; <em>rahimahullah</em> juga berpesan, <em>“Mintalah pertolongan -kepada Allah- untuk menguatkan hafalan dengan cara mempersedikit dosa.”</em> (mukadimah <em>az-Zuhd</em>, hal. 91)</p>
<p><strong>[9] Nikmat dan Adzab</strong></p>
<p>Abud Darda&#8217; <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 48)</p>
<p><strong>[10] Larut Dalam Pujian dan Celaan</strong></p>
<p>Wahb bin Munabbih <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 51)</p>
<p><strong>[11] Pembersihan Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Sirin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Aku pernah mendapat berita bahwa ada salah seorang dari kaum Anshar yang apabila datang waktu sholat maka dia mengatakan -kepada teman-temannya-: “Berwudhulah kalian, sesungguhnya sebagian ucapan yang tadi kalian katakan lebih kotor daripada hadats.”.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 53)</p>
<p><strong>[12] Hakikat Syukur</strong></p>
<p>Muhammad bin Ka&#8217;ab <em>rahimahullah</em> mengatakan tentang maksud ayat (yang artinya), <em>“Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.”</em> (<strong>QS. Saba&#8217;: 13</strong>). Kata beliau, <em>“Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 65)</p>
<p><strong>[13] Godaan Perempuan</strong></p>
<p>Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sungguh apabila aku dititipi untuk menjaga sebuah rumah dari permata itu jauh lebih aku senangi daripada harus dititipi seorang perempuan cantik.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 67)</p>
<p><strong>[14] Menimba Ilmu Atau Bekerja</strong></p>
<p>Abdurrahim bin Sulaiman ar-Razi <em>rahimahullah</em> berkata: Dahulu kami belajar kepada Sufyan ats-Tsauri. Apabila datang kepadanya seorang lelaki dalam rangka menimba ilmu, maka beliau pun bertanya kepadanya, <em>“Apakah kamu memiliki jalan penghasilan?”</em>. Apabila orang itu mengabarkan bahwa dia dalam keadaan cukup, maka beliau memerintahkannya untuk menimba ilmu. Dan apabila ternyata orang itu belum berkecukupan maka beliau memerintahkannya untuk mencari pekerjaan (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 69-10)</p>
<p><strong>[15] Jangan Sebarkan Kekejian!</strong></p>
<p>Khalid bin Ma&#8217;dan <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk “Orang-orang yang menyukai tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 19</strong>).” (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 71)</p>
<p><strong>[16] Sambutan Yang Indah</strong></p>
<p>Tsabit al-Bunani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dahulu apabila kami datang menemui Anas bin Malik, tatkala beliau melihat kedatangan kami maka beliau minta diambilkan minyak wangi. Kemudian beliau mengusap minyak wangi itu dengan kedua telapak tangannya lalu menyalami saudara-saudaranya yang datang.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 81)</p>
<p><strong>[17] Catat, Hafalkan, dan Sampaikan!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yahya bin Khalid al-Barmaki <em>rahimahullah</em> berkata kepada anaknya, <em>“Dahulu mereka -pendahulu yang salih- mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka dengar. Mereka menghafalkan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka catat. Kemudian mereka menyampaikan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka hafalkan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 126)</p>
<p><strong>[18] Bukan Amal Biasa-Biasa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara&#8217;/menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 133)</p>
<p><strong>[19] Apalah Artinya Dunia</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Seandainya seluruh isi dunia ini dijadikan halal bagiku, niscaya aku akan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 144)</p>
<p><strong>[20] Puncak Syukur</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Muhammad bin al-Hasan <em>rahimahullah</em> menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, <em>“Apakah puncak syukur itu?”</em>. Aku menjawab, <em>“Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.”</em> Lalu dia mengatakan, <em>“Jawabanmu tepat, wahai anak muda.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 144)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

