<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Bersih Jiwa</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/bersih-jiwa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Periksalah Keinginanmu!</title>
		<link>http://abumushlih.com/periksalah-keinginanmu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/periksalah-keinginanmu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 04:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafus Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1809</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Meneliti, mengoreksi dan mengawasi gerak-gerik hati adalah perkara yang sangat penting. Karena hati merupakan sumber dan poros amalan. Melalaikan urusan hati akan berakibat rusaknya amalan. Oleh sebab itu, seorang mukmin harus senantiasa mengintrospeksi diri sebelum dan sesudah melakukan amalan. Siapa tahu ada cacat dan penyakit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperiksalah-keinginanmu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperiksalah-keinginanmu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Meneliti, mengoreksi dan mengawasi gerak-gerik hati adalah perkara yang sangat penting. Karena hati merupakan sumber dan poros amalan. Melalaikan urusan hati akan berakibat rusaknya amalan. Oleh sebab itu, seorang mukmin harus senantiasa mengintrospeksi diri sebelum dan sesudah melakukan amalan. Siapa tahu ada cacat dan penyakit yang tersembunyi di dalam amalnya, sementara dia tidak menyadarinya? al-Hasan <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti mencermati keinginan hatinya -sebelum melakukan sesuatu-. Apabila niatnya untuk Allah maka dia akan teruskan, namun apabila untuk selain-Nya maka akan dia tunda -sampai niatnya benar-.”</em> (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 111)</p>
<p><span id="more-1809"></span></p>
<p>Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, bahwa beliau pernah berpesan, <em>“Hisablah diri kalian sebelum kelak kalian akan dihisab -di hari kiamat-. Timbanglah amal-amal kalian sebelum kelak -amal- kalian ditimbang. Karena hal itu akan lebih ringan di timbangan kalian esok -di akherat- dengan kalian menghisab diri kalian pada hari ini -di dunia-. Dan hiasilah diri kalian -dengan takwa- untuk menyambut hari persidangan yang besar, yang pada hari itu kalian akan disidang dan tiada satu perkarapun yang tersembunyi dari kalian.”</em> (lihat  <em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 106)</p>
<p>Menyembuhkan hati yang kerapkali terbius oleh bujukan untuk berbuat maksiat dan dosa adalah dengan dua buah terapi ini, yaitu dengan bermuhasabah/introspeksi diri dan menyelisihi keinginan hawa nafsu terhadap hal-hal yang diharamkan. Sesungguhnya hati akan menjadi binasa akibat kelalaian untuk mengintrospeksinya dan memperturutkan hawa nafsu (lihat <em>al-Ighatsah</em>, hal. 106)</p>
<p>Perkara yang akan membantu seorang hamba dalam mengintrospeksi dirinya adalah hendaknya dia memahami bahwa setiap kali dia bersungguh-sungguh dalam bermuhasabah di dunia ini maka niscaya kelak di akherat hisab yang akan dialaminya akan menjadi ringan. Sebagaimana pula apabila dia melalaikan muhasabah ini ketika di dunia maka di akherat dia akan mengalami hisab yang lebih berat (<em>al-Ighatsah</em>, hal. 110)</p>
<p>Selain itu, muhasabah akan semakin terasa mudah baginya tatkala dia menyadari bahwa sesungguhnya laba dari &#8216;perdagangan&#8217; ini adalah mendapatkan &#8216;kapling&#8217; di surga Firdaus dan merasakan nikmatnya memandangi wajah Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Adapun kerugian yang akan dirasakan olehnya ketika tidak menjalankan perdagangan ini dengan baik ialah masuk ke dalam neraka dan terhalangi dari memandang wajah Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Apabila perkara-perkara ini telah tertanam kuat di dalam hatinya maka niscaya akan terasa ringan melakukan muhasabah ketika di dunia (<em>al-Ighatsah</em>, hal. 110)</p>
<p>Dua buah pertanyaan yang semestinya diajukan kepada diri kita sebelum mengerjakan suatu amalan, yaitu untuk siapa dan bagaimana caranya. Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan. Adapun pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang komitmen untuk mengikuti tuntunan Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sebab amal tidak akan diterima jika tidak memenuhi kedua-duanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi Rabbmu, sungguh Kami akan menanyai mereka semuanya tentang apa saja yang mereka amalkan.”</em> (<strong>QS. al-Hijr: 92-93</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Maka benar-benar Kami akan menanyai orang-orang yang rasul itu diutus kepada mereka dan Kami juga pasti akan menanyai para utusan itu, maka akan Kami kisahkan kepada mereka dengan penuh pengetahuan dan tidaklah Kami tidak menyaksikan -apa yang telah mereka lakukan-.”</em> (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 6-7</strong>) (lihat <em>al-Ighatsah</em>, hal. 113).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Supaya Allah menanyai orang-orang yang jujur itu mengenai kejujuran mereka.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 8</strong>). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Kalau orang-orang yang jujur saja ditanyai dan dihisab mengenai kejujuran mereka maka bagaimanakah lagi dengan para pendusta?”</em> Yang dimaksud dengan orang jujur dalam ayat itu adalah para rasul dan orang-orang yang menyampaikan ajaran rasul itu kepada kaumnya, apakah mereka telah menyampaikan dengan sebagaimana mestinya. Kemudian Allah juga akan menanyai masyarakat yang menjadi sasaran dakwah para rasul itu. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan pada hari itu Allah memanggil mereka dan berkata; &#8216;Apa yang sudah kalian penuhi dari ajakan para rasul itu?&#8217;.”</em> (<strong>QS. al-Qashash: 65</strong>) (lihat <em>al-Ighatsah</em>, hal. 113).</p>
<p>Nikmat yang telah Allah curahkan kepada kita -yang jumlahnya sedemikian banyak dan kita tak bisa menghingganya-, itupun akan ditanyakan, apakah kita sudah mensyukurinya dengan baik di jalan Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian kalian benar-benar akan ditanyai mengenai nikmat yang telah diberikan itu.”</em> (<strong>QS. at-Takatsur: 8</strong>). Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan bahwa Qatadah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap hamba tentang nikmat dan kewajiban dari-Nya yang dititipkan kepada dirinya.”</em> (lihat <em>al-Ighatsah</em>, hal. 114).</p>
<p>Pendengaran, penglihatan, dan hati itu pun akan dimintai pertanggungjawabannya dari kita. Laporan pertanggung jawaban manakah yang lebih berat daripada laporan mengenai urusan pendengaran, penglihatan, dan gerak-gerik hati? Laporan manakah yang lebih berat daripada laporan yang ditujukan kepada Rabb semesta alam Yang di tangan-Nya segala urusan Yang menguasai pada hari pembalasan Yang tidak tersembunyi darinya satu perkara pun? Aduhai, betapa malangnya nasib kita jika dosa-dosa kita tidak diampuni oleh-Nya&#8230; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;: 36</strong>).</p>
<p>Apabila demikian kenyataannya, lalu sekarang apa yang membuat kita enggan bermuhasabah? Muhasabah adalah sebuah kewajiban. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang sudah dipersiapkan olehnya untuk hari esok/negeri akherat.”</em> (<strong>QS. al-Hasyr: 18</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> mengingatkan kita bahwa semestinya setiap kita melihat amalan apa yang telah disiapkan olehnya untuk menghadapi hari kiamat kelak, apakah amal salih yang menyelamatkan dirinya ataukah justru keburukan/dosa-dosa yang akan mencelakakan dirinya. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan, bahwa Qatadah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Rabb kalian senantiasa mengesankan dekatnya hari kiamat sampai-sampai Allah menjadikannya seperti seolah-olah ia akan terjadi besok.”</em> Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa baiknya hati akan terwujud dengan senantiasa mengintrospeksi diri, dan rusaknya hati akan terjadi tatkala kita lalai untuk mengawasi gerak-geriknya dan membiarkannya berjalan begitu saja mengikuti keinginan-keinginannya (lihat <em>al-Ighatsah</em>, hal. 114)</p>
<p>Maka sekarang, kita bisa bertanya kepada diri kita; Apakah kita sudah bermuhasabah mengenai kewajiban-kewajiban kita -karena amal yang wajib itu adalah amal yang paling utama-? Dan apabila ternyata muhasabah itu pun termasuk perkara yang wajib dilakukan. Maka pertanyaan berikutnya; Sudahkah kita bermuhasabah mengenai muhasabah diri kita? Sudahkah kita bermuhasabah? Jangan sampai kita menjadi seperti orang yang disindir dalam sebuah ungkapan, <em>“Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.” </em>Coba, bandingkan diri kita dengan para salafus shalih, betapa jauhnya antara sikap kita dengan sikap mereka? Ibnu Abid Dunya meriwayatkan, bahwa Ayyub as-Sikhtiyani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila diceritakan tentang orang-orang soleh, maka aku merasa bukan termasuk golongan mereka.”</em> Mutharrif bin Abdullah <em>rahimahullah </em>berkata ketika berdoa di Arafah, <em>“Ya Allah, janganlah Engkau tolak doa orang-orang gara-gara diriku.”</em> (lihat <em>al-Ighatsah</em>, hal. 115). <em>Ya Allah, bersihkanlah hati-hati kami&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/periksalah-keinginanmu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekas-Bekas Pelajaran Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 20:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1783</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syaikh as-Sa&#8217;di rahimahullah berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki bekas-bekas/dampak yang baik serta keutamaan yang beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya kebaikan di dunia dan di akherat itu semua merupakan buah dari tauhid dan keutamaan yang muncul darinya.” (al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbekas-bekas-pelajaran-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbekas-bekas-pelajaran-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki bekas-bekas/dampak yang baik serta keutamaan yang beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya kebaikan di dunia dan di akherat itu semua merupakan buah dari tauhid dan keutamaan yang muncul darinya.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 16)</p>
<p><span id="more-1783"></span></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> juga berkata, “Segala kebaikan yang segera -di dunia- ataupun yang tertunda -di akherat- sesungguhnya merupakan buah dari tauhid, sedangkan segala keburukan yang segera ataupun yang tertunda maka sesungguhnya itu merupakan buah/dampak dari lawannya&#8230;.” (<em>al-Qawa&#8217;id al-Hisan al-Muta&#8217;alliqatu Bi Tafsir al-Qur&#8217;an</em>, hal. 26)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>)</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata: Ketika turun ayat <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>) Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Lantas merekapun mengadu, <em>“Lalu siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksudkan adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya; &#8216;Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.&#8217; </em>(<strong>QS. Luqman: 13</strong>)<em>.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p>al-Khatthabi <em>rahimahullah</em> berkata, “Asal makna dari zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan barangsiapa yang menempatkan ibadah untuk selain Allah <em>ta&#8217;ala</em> maka dia adalah sosok pelaku kezaliman yang paling zalim.” (sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar&#8217;awi <em>hafizhahullah</em> berkata, “Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> memberitakan kepada kita bahwasanya barangsiapa yang mentauhidkan-Nya dan tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik maka Allah menjanjikan atasnya keselamatan dari masuk ke dalam neraka di akherat serta Allah akan membimbingnya menuju jalan yang lurus di dunia.” (<em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 35)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar&#8217;awi <em>hafizhahullah</em> juga menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang meninggal di atas tauhid serta bertaubat dari dosa-dosa besar maka dia akan selamat dari siksa neraka. Dan barangsiapa yang meninggal dalam keadaan masih bergelimang dengan dosa-dosa besar/tidak bertaubat darinya sementara dia masih bertauhid maka dia akan selamat dari -hukuman- kekal di neraka.” (<em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 35)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah wahdahu la syarika lah -tiada sesembahan yang benar selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya- dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan putra dari seorang hamba perempuan-Nya serta terjadi dengan kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam dan merupakan ruh dari -ciptaan-Nya. Dan dia mengatakan bahwa surga itu benar, neraka juga benar. Maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga melalui salah satu pintu manapun di antara kedelapan pintu surga yang dia kehendaki.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/70-71])</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah ia merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka, yaitu apabila -minimal- di dalam hatinya masih terdapat tauhid meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati maka akan bisa menghalangi masuk neraka secara keseluruhan/tidak masuk neraka sama sekali.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 17)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah ada seorang hambapun yang mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya melainkan Allah pasti haramkan dia tersentuh api neraka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/82-83])</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah barang sedikitpun maka dia pasti masuk neraka.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/164])</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Jibril &#8216;alaihis salam datang kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa barangsiapa yang meninggal di antara umatmu dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah barang sedikitpun maka dia pasti masuk surga.” </em>Aku -Abu Dzar- berkata, <em>“Meskipun dia berzina dan mencuri?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Meskipun dia berzina dan mencuri.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/166])</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “&#8230;Apabila dia adalah seorang pelaku dosa besar -yaitu yang masih bertauhid- meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya -maksudnya tidak bertaubat dari dosa besarnya- maka dia berada di bawah kehendak Allah -artinya terserah kepada Allah mau menghukum atau memaafkannya-. Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia disiksa terlebih dulu lalu akan dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga&#8230;” (<em>Syarh Muslim</em> [2/168])</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “&#8230;Sesungguhnya salah satu ciri hati yang sakit adalah ia berpaling dari mengkonsumsi hal-hal yang bermanfaat dan yang cocok dengannya menuju hal-hal yang justru membahayakan dirinya, serta ia berpaling dari obat yang manjur menuju penyakit yang membahayakan&#8230;” (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 96)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga berkata, “&#8230;Salah satu ciri sehatnya hati adalah ia senantiasa merasa rindu dan berhasrat untuk berkhidmat/mengabdi dan taat -kepada Allah- sebagaimana halnya orang yang lapar menginginkan makanan dan minuman.” (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 98)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya serta menahan dari melampiaskan hawa nafsunya -dengan cara yang terlarang-, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggal baginya.”</em> (<strong>QS. an-Nazi&#8217;aat: 40-41</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu -kiamat- tidak berguna harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;araa&#8217;: 88-89</strong>). <em>Wallahu a&#8217;lam. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammad wa &#8216;ala alihi wa sallam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lezatnya Ketaatan Yang Dipertanyakan</title>
		<link>http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 22:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Munafiq]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Surga Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1781</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Banyak orang mengira bahwa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya merupakan sebuah upaya yang sama sekali tidak menyenangkan, apatah lagi mendatangkan kelezatan. Namun, sebenarnya hal ini adalah sebuah perkara yang sudah dijelaskan oleh agama. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Banyak orang mengira bahwa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya merupakan sebuah upaya yang sama sekali tidak menyenangkan, apatah lagi mendatangkan kelezatan. Namun, sebenarnya hal ini adalah sebuah perkara yang sudah dijelaskan oleh agama. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan manisnya iman, orang yang merasa ridha Allah sebagai rabbnya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Jelas sekali dari hadits yang mulia ini bahwa dengan sebab ketaatan seorang hamba akan bisa merasakan kenikmatan berupa manisnya keimanan.</p>
<p><span id="more-1781"></span></p>
<p>Mengapa anggapan negatif semacam itu muncul, sehingga mengesankan bahwa jalan agama merupakan jalan yang tidak menjanjikan kenikmatan apa-apa? Banyak faktor yang mengelabui manusia sehingga membuat mereka memiliki persepsi yang salah semacam itu. Di antaranya adalah unsur kecintaan kepada dunia -yang notabene sementara dan fana- dan melupakan akherat -padahal akherat itu kekal dan abadi-. Dunia, dengan segenap perhiasannya telah banyak menipu orang. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. Huud: 15-16</strong>)</p>
<p>Gara-gara dunia, sebagian orang pun rela menjual agamanya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Berbicara soal cinta dunia, tak bisa lepas dari godaan harta, wanita, ataupun tahta. Iblis dan bala tentaranya telah sekian lama berkecimpung dalam dunia &#8216;fitnah&#8217; ini untuk menjebak manusia ke jurang-jurang kebinasaan, melalui pintu harta, wanita, atau tahta. Soal harta, bukanlah perkara yang ringan. Sampai-sampai seorang sahabat yang mulia sekelas Umar bin Khattab pun mengakui dalam sebuah ucapannya, <em>“Ya Allah, kami tidak mampu melainkan merasakan gembira terhadap sesuatu yang Kamu hiasi/jadikan indah bagi kami -yaitu harta, wanita, dan anak-anak-. Ya Allah, maka aku memohon kepada-Mu agar dapat menginfakkannya di jalannya yang benar.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em>).</p>
<p>Karena banyaknya orang yang tertipu oleh harta, maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun mengingatkan kepada mereka. Beliau bersabda, <em>“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p>Siapa yang mengatakan bahwa dengan dua atau tiga lembah emas manusia akan merasa cukup, dengan gaji dua atau tiga ratus juta per bulan orang akan merasa puas, siapa yang mengatakan&#8230;? Sementara Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sendiri telah mempersaksikan, <em>“Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Di sisi lain, orang-orang yang berpeluh keringat dan pusing tujuh keliling di atas jalan ketaatan merasakan bahwa apa yang mereka lakukan tidak mendatangkan keuntungan duniawi apa-apa. Waktu mereka &#8216;terbuang&#8217;, harta mereka &#8216;berkurang&#8217;, keinginan mereka terkekang; seolah-olah dunia ini telah menjadi sebuah penjara besar yang memasung segala keinginan dan harapan mereka untuk mencapai kenikmatan.</p>
<p>Janganlah anda heran, sebab memang demikianlah keadaan orang-orang yang belum mengenali karakter kehidupan dunia dan kebahagiaan sejati yang akan dirasakan oleh setiap mukmin di dalamnya. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Dunia ini laksana seorang wanita pelacur yang tak pernah mau setia kepada satu suamipun melainkan sebatas harga transaksi pelacuran&#8230;”</em> Maka orang yang tertipu oleh dunia adalah orang yang rela menjual agama dan kehormatannya demi meraih kenikmatan semu yang berakhir dengan siksa, kepedihan, dan penyesalan.</p>
<p>Padahal, para ulama salaf kita mengatakan, <em>“Sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, barangsiapa yang tidak memasukinya niscaya dia tidak akan memasuki surga di akherat.”</em> Sebagian mereka juga berkata, <em>“Banyak para penghuni dunia yang keluar dari alam dunia sementara mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di dalamnya.” </em>Kenikmatan itu tiada lain adalah mengenal Allah dan merasa tentram dengan segala keputusan-Nya.</p>
<p>Itulah orang yang bisa merasakan kelezatan iman, apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah, apabila dia membenci maka bencinya karena Allah, apabila dia memberi maka pemberiannya juga karena Allah, demikian pula apabila tidak memberi maka hal itu pun karena Allah.. Oleh sebab itu, Allah <em>ta&#8217;ala</em> mensifati orang-orang beriman dengan sifat-sifat yang menggambarkan kelapangan dada mereka terhadap apa yang ditetapkan-Nya. Allah menggambarkan bahwa hati mereka tidak merasa sempit atas apa yang diputuskan oleh Rasul-Nya. Hati mereka bergetar saat teringat kepada-Nya, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka, dan mereka tidak menggantungkan harapan kecuali kepada-Nya semata.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki ataupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka alternatif lain dalam urusan mereka&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>). Allah<em> ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi Rabbmu, sekali-kali mereka itu tidaklah beriman, sampai mereka menjadikanmu -Muhammad- sebagai hakim atas segala yang mereka perselisihkan di antara mereka, lalu mereka tidak mendapati rasa sempit di dalam hati mereka atas keputusan yang kamu berikan, dan mereka pun pasrah dengan sepenuhnya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 65</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetar/takutlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka semakin bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabbnya.”</em> (<strong>QS. al-Anfaal: 2</strong>)</p>
<p>Dan mereka -kaum beriman- adalah orang-orang yang tidak menyimpan keraguan terhadap apa yang dijanjikan oleh Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ketika orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu -untuk menghancurkan pasukan Islam- maka mereka berkata, &#8216;Inilah yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya, dan Maha benar Allah dan rasul-Nya.&#8217; Dan tidaklah hal itu melainkan menambahkan kepada mereka keimanan dan kepasrahan.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 22</strong>). Sebaliknya, kalau kita perhatikan sosok orang-orang kafir dan munafik, maka Allah mensifati mereka dengan keragu-raguan terhadap janji Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ingatlah ketika orang-orang munafik serta orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit itu mengatakan: Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 12</strong>). Maka di posisi mana kita berada?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jauhilah Sifat-Sifat Munafik!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 06:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Munafik]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1760</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al-Ustadz Abu Abdurrahman Mubarak Sumber: http://akhwat.web.id Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjauhilah-sifat-sifat-munafik.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjauhilah-sifat-sifat-munafik.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Penulis  : <strong>Al-Ustadz Abu Abdurrahman Mubarak</strong><br />
Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;6e240&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://akhwat.web.id/" target="_blank">http://akhwat.web.id</a></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna  menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian  dan cobaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p><strong>الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ  عَمَلًا</strong></p>
<p>“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di  antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)</p>
<p><span id="more-1760"></span><br />
<strong>الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ  لَا يُفْتَنُونَ</strong></p>
<p>“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan  (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji  lagi?” (Al-’Ankabut: 1-2)</p>
<p>Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmah-Nya memberitahukan  kepada hamba-hamba-Nya hikmah dihadapkannya mereka kepada berbagai ujian  dan cobaan itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ  الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ<br />
</strong><br />
“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka,  maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan  sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 3)</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu menyatakan  dalam tafsirnya: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang  hikmah-Nya yang sempurna. Di mana sifat hikmah-Nya mengharuskan setiap  orang yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja dengan  pengakuannya. Pasti dia akan dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan.  Bila tidak demikian, niscaya tidak bisa terbedakan antara orang yang  benar dan jujur dengan orang yang dusta. Tidak bisa terbedakan pula  antara orang yang berbuat kebenaran dengan orang yang berbuat kebatilan.  Sudah merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia menguji  (manusia) dengan kelapangan dan kesempitan, kemudahan dan kesulitan,  kesenangan dan kesedihan, serta kekayaan dan kemiskinan.”</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya: “(Agar  terbedakan) orang-orang yang benar dalam pengakuannya dari orang-orang  yang dusta dalam ucapan dan pengakuannya. Sedangkan Allah Subhanahu wa  Ta’ala Maha mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan  yang akan terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengetahui cara  terjadinya sesuatu bila hal itu terjadi. Hal ini adalah prinsip yang  telah disepakati (ijma’) oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.”</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan telah mengabarkan:</p>
<p><strong>وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ  بَصِيرًا</strong></p>
<p>“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah  kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha melihat.” (Al-Furqan: 20)</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan maksud ayat di  atas dalam tafsirnya: “Seorang rasul adalah ujian bagi umatnya, yang  akan memisahkan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang durhaka  terhadap rasul tersebut. Maka Kami jadikan para rasul sebagai ujian dan  cobaan untuk mendakwahi kaum mereka. Seorang yang kaya adalah ujian bagi  yang miskin. Demikian pula sebaliknya. Orang miskin adalah ujian bagi  orang kaya. Semua jenis tingkatan makhluk (merupakan ujian dan cobaan  bagi yang sebaliknya) di dunia ini. Dunia yang fana ini adalah medan  yang penuh ujian dan cobaan.”</p>
<p>Dari penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu di atas,  kita dapatkan faedah bahwa: seorang istri adalah ujian bagi suaminya,  anak adalah ujian bagi kedua orangtuanya, pembantu adalah ujian bagi  tuannya, tetangga adalah ujian bagi tetangga yang lainnya, rakyat adalah  ujian bagi pemerintahnya, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Selanjutnya, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan:  “Tujuannya adalah apakah kalian mau bersabar, kemudian menegakkan  berbagai perkara yang diwajibkan atas kalian, sehingga Allah Subhanahu  wa Ta’ala akan membalas amalan kebaikan kalian. Ataukah kalian tidak mau  bersabar yang dengan sebab itu kalian berhak mendapatkan kemurkaan  (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan siksaan?! Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:</p>
<p><strong>زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ  وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ  الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ  الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ</strong></p>
<p>“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang  diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis  emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang.  Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali  yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa kecintaan terhadap  kenikmatan dan kesenangan dunia akan ditampakkan indah dan menarik di  mata manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan hal-hal ini  secara khusus karena hal-hal tersebut adalah ujian yang paling dahsyat,  sedangkan hal-hal lain hanyalah mengikuti. Maka, tatkala hal-hal ini  ditampakkan indah dan menarik kepada mereka, disertai faktor-faktor yang  menguatkannya, maka jiwa-jiwa mereka akan bergantung dengannya.  Hati-hati mereka akan cenderung kepadanya.” (Taisir Al-Karimirrahman,  hal. 124)</p>
<p><strong>Fitnah (godaan) wanita</strong></p>
<p>Betapa banyak lelaki yang menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa  Ta’ala karena godaan wanita. Betapa banyak pula seorang suami terjatuh  dalam berbagai kezaliman dan kemaksiatan disebabkan istrinya. Sehingga  Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman  dengan firman-Nya:</p>
<p><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ  عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ</strong></p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu  dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu  terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)</p>
<p>Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata: “Yakni akan menyeret orangtua  atau suaminya untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat  kepada Rabbnya, maka karena kecintaan kepadanya, suami atau orangtuanya  tidak bisa kecuali menaatinya (anak atau istri tersebut).”</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ  ضِلْعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ  تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ،  فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ</strong></p>
<p>“Berniat dan berbuat baiklah kalian kepada para wanita. Karena seorang  wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya  rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka apabila kamu  berusaha dengan keras meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya.  Sedangkan bila kamu membiarkannya niscaya akan tetap bengkok. Maka  berwasiatlah kalian kepada para istri (dengan wasiat yang baik).”  (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<p><strong>مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنََ  النِّسَاءِ</strong></p>
<p>“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian/godaan) yang lebih  dahsyat bagi para lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih dari  Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)</p>
<p>Al-Mubarakfuri rahimahullahu berkata: “(Sisi berbahayanya fitnah wanita  bagi lelaki) adalah karena keumuman tabiat seorang lelaki adalah sangat  mencintai wanita. Bahkan banyak terjadi perkara yang haram (zina,  perselingkuhan, pacaran, dan pemerkosaan, yang dipicu [daya tarik]  wanita). Bahkan banyak pula terjadi permusuhan dan peperangan disebabkan  wanita. Minimalnya, wanita atau istri bisa menyebabkan seorang suami  atau seorang lelaki ambisius terhadap dunia. Maka ujian apalagi yang  lebih dahsyat darinya?</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan godaan wanita itu  seperti setan, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu  ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang  wanita. Kemudian beliau mendatangi Zainab istrinya, yang waktu itu  sedang menyamak kulit hewan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu  menunaikan hajatnya (menggaulinya dalam rangka menyalurkan syahwatnya  karena melihat wanita itu). Setelah itu, beliau keluar menuju para  sahabat dan bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ  شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ  فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan berlalu dalam  bentuk setan pula. Apabila salah seorang kalian melihat seorang wanita  (dan bangkit syahwatnya) maka hendaknya dia mendatangi istrinya  (menggaulinya), karena hal itu akan mengembalikan apa yang ada pada  dirinya (meredakan syahwatnya).” (HR. Muslim)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Syarah Shahih Muslim  (8/187): “Para ulama mengatakan, makna hadits itu adalah bahwa  penampilan wanita membangkitkan syahwat dan mengajak kepada fitnah.  Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan adanya kecenderungan  atau kecintaan kepada wanita dalam hati para lelaki, merasa nikmat  melihat kecantikannya berikut segala sesuatu yang terkait dengannya.  Sehingga seorang wanita ada sisi keserupaan dengan setan dalam hal  mengajak kepada kejelekan atau kemaksiatan melalui was-was serta  ditampakkan bagus dan indahnya kemaksiatan itu kepadanya.</p>
<p>Dapat diambil pula faedah hukum dari hadits ini bahwa sepantasnya  seorang wanita tidak keluar dari rumahnya, (berada) di antara lelaki,  kecuali karena sebuah keperluan (darurat) yang mengharuskan dia keluar.</p>
<p>Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu  ‘alaihi wa sallam melarang segala sesuatu yang akan menyebabkan  hamba-hamba-Nya terfitnah dengan wanita, seperti memandang, berkhalwat  (berduaan dengan wanita yang bukan mahram), ikhtilath (campur-baur  lelaki dan perempuan yang bukan mahram). Bahkan mendengarkan suara  wanita yang bisa membangkitkan syahwat pun dilarang.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا  فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ</strong></p>
<p>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka  menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Yang demikian itu  adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa  yang mereka perbuat. (An-Nur: 30)</p>
<p><strong>فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ  وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا</strong></p>
<p>“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah  orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang  baik.” (Al-Ahzab: 32)</p>
<p><strong>وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا</strong></p>
<p>“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu  perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda:<br />
<strong><br />
لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ</strong></p>
<p>“Janganlah salah seorang kalian berduaan dengan seorang wanita kecuali  bersama mahramnya.” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ  الْأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ</strong></p>
<p>“Jauhi oleh kalian masuk kepada para wanita.” Seorang lelaki Anshar  bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang ipar?” Beliau Shallallahu  ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ipar itu berarti kebinasaan (banyak terjadi  zina antara seorang lelaki dengan iparnya).” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Agar hamba-hamba-Nya selamat dari godaan wanita, Allah Subhanahu wa  Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk  menikah dengan wanita shalihah, yang akan saling membantu dengan dirinya  untuk menyempurnakan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu  wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ</strong></p>
<p>“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka  beriman.” (Al-Baqarah: 221)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا  وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ</strong></p>
<p>“Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya,  kebaikan nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita  yang bagus agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih  dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p><strong>Godaan dunia dan harta</strong></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهُ مُسْتَخْلِفُكُمْ  فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا  النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي  النِّسَاءِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) dan hijau (menyenangkan  dilihat). Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan  sebagian kalian dengan sebagian yang lain di dalamnya, maka Dia akan  melihat bagaimana kalian beramal dengan dunia tersebut. Oleh karena itu,  takutlah kalian terhadap godaan dunia (yang menggelincirkan kalian dari  jalan-Nya) dan takutlah kalian dari godaan wanita, karena ujian yang  pertama kali menimpa Bani Israil adalah godaan wanita.” (HR. Muslim dari  Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)<br />
<strong><br />
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang  terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah  harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Harta dan dunia bukanlah tolok ukur seseorang itu dimuliakan atau  dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><strong>فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ  وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ  فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ</strong></p>
<p>Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan  diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku.”  Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia  berkata: “Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 15-16)</p>
<p>Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Maksud ayat-ayat tersebut  adalah tidak setiap orang yang Aku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) beri  kedudukan dan limpahan nikmat di dunia berarti Aku limpahkan  keridhaan-Ku kepadanya. Hal itu hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari-Ku  untuknya. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, Aku  beri sekadar kebutuhan hidupnya tanpa ada kelebihan, berarti Aku  menghinakannya. Namun Aku menguji hamba-Ku dengan kenikmatan-kenikmatan  sebagaimana Aku mengujinya dengan berbagai musibah.” (Ijtima’ul Juyusy,  hal. 9)</p>
<p>Sehingga, dunia dan harta bisa menyebabkan pemiliknya selamat serta  mulia di dunia dan akhirat, apabila dia mendapatkannya dengan cara yang  diperbolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Dia juga mensyukurinya serta menunaikan hak-haknya  sehingga tidak diperbudak oleh dunia dan harta tersebut. Sebagaimana  sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><strong>لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا  فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ  حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا</strong></p>
<p>“Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan: Orang yang Allah Subhanahu  wa Ta’ala karuniakan harta kepadanya lalu dia infakkan di jalan yang  benar, serta orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan ilmu  kepadanya lalu dia menunaikan konsekuensinya (mengamalkannya) dan  mengajarkannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Dan demikianlah keadaan para sahabat dahulu. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu  menceritakan: Beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><strong>يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ  كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ  أَمْوَالِهِمْ</strong></p>
<p>“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendahului kami untuk  mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka juga  berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka bersedekah dengan  kelebihan harta mereka.” (HR. Muslim)</p>
<p>Sebaliknya, orang yang tertipu dengan harta dan dunia sehingga dia  diperbudak olehnya, dia akan celaka dan binasa di dunia maupun akhirat.  Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa  Ta’ala dari hal tersebut). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah  memperingatkan tentang hakikat harta dan dunia itu dalam firman-Nya:</p>
<p><strong>وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ</strong></p>
<p>“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”  (Ali Imran: 185)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ  عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ  فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ</strong></p>
<p>“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir  akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan  kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba  mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian, maka dunia  itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan  orang-orang yang sebelum kalian.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Amr bin ‘Auf  radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p><strong>تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ،  إِنْ أُعْطِيَ رَضِي وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ</strong></p>
<p>“Celaka hamba dinar, dirham, qathifah, dan khamishah (keduanya adalah  jenis pakaian). Bila dia diberi maka dia ridha. Namun bila tidak diberi  dia tidak ridha.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kejahatan orang yang berilmu dan  ahli ibadah dari kalangan ahli kitab yang telah diperbudak oleh harta  dan dunia dalam firman-Nya:</p>
<p><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ  وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ  وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ</strong></p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari  orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan  harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi  (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya: “Yang  dimaksud ayat tersebut adalah peringatan dari para ulama su’ (orang yang  berilmu tapi jahat) dan ahli ibadah yang sesat. Sebagaimana ucapan  Suyfan ibnu Uyainah rahimahullahu: ‘Barangsiapa yang jahat dari kalangan  orang yang berilmu di antara kita, berarti ada keserupaan dengan para  pemuka Yahudi. Sedangkan barangsiapa yang sesat dari kalangan ahli  ibadah kita, berarti ada keserupaan dengan para pendeta Nasrani. Di mana  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits  yang shahih: ‘Sungguh-sungguh ada di antara kalian perbuatan-perbuatan  generasi sebelum kalian. Seperti bulu anak panah menyerupai bulu anak  panah lainnya.’ Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya: ‘Apakah  mereka orang Yahudi dan Nasrani?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab: ‘Siapa lagi?’</p>
<p>Dalam riwayat yang lain mereka bertanya: ‘Apakah mereka Persia dan  Romawi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi  kalau bukan mereka?’</p>
<p>Intinya adalah peringatan dari tasyabbuh (menyerupai) ucapan maupun  perbuatan mereka. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:</p>
<p><strong>لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ  اللهِ</strong></p>
<p>“(Mereka) benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan  mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)</p>
<p>Hal itu karena mereka memakan harta orang lain dengan kedok agama.  Mereka mendapat keuntungan dan kedudukan di sisi umat, sebagaimana para  pendeta Yahudi dan Nasrani mendapatkan hal-hal tersebut dari umatnya di  masa jahiliah. Hingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus  Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun tetap  berkeras di atas kejahatan, kesesatan, kekafiran, dan permusuhannya,  disebabkan ambisi mereka terhadap kedudukan tersebut. Maka Allah  Subhanahu wa Ta’ala memadamkan kesesatan itu dengan cahaya kenabian  sekaligus menggantikan kedudukan mereka degan kehinaan serta kerendahan.  Dan mereka akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa  kemurkaan-Nya.”</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Sungguh, ambisi  terhadap dunia termasuk sebab yang menimbulkan berbagai macam fitnah  pada generasi pertama. Telah terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Umar  radhiyallahu ‘anhuma, dalam Masa’il Al-Imam Ahmad (2/171), bahwa beliau  radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang dari Anshar datang kepadaku pada  masa khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dia berbicara denganku.  Tiba-tiba dia menyuruhku untuk mencela Utsman radhiyallahu ‘anhu. Maka  aku katakan: ‘Sungguh, demi Allah, kita tidak mengetahui bahwa Utsman  membunuh suatu jiwa tanpa alasan yang benar. Dia juga tidak pernah  melakukan dosa besar (zina) sedikitpun. Namun inti masalahnya adalah  harta. Apabila dia memberikan harta tersebut kepadamu, niscaya engkau  akan ridha. Sedangkan bila dia memberikan harta kepada  saudara/kerabatnya, maka kalian marah.”</p>
<p>Selanjutnya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Bila  kalian arahkan pandangan ke tengah-tengah kaum muslimin, baik di zaman  yang telah lalu maupun sekarang, niscaya engkau akan saksikan kebanyakan  orang yang tergelincir dari jalan ini (al-haq) adalah karena tamak  terhadap dunia dan kedudukan. Maka barangsiapa yang membuka pintu ini  untuk dirinya niscaya dia akan berbolak-balik. Berubah-ubah prinsip  agamanya dan akan menganggap remeh/ringan urusan agamanya. (Bidayatul  Inhiraf, hal. 141)</p>
<p>Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Setiap orang dari kalangan  orang yang berilmu yang lebih memilih dunia dan berambisi untuk  mendapatkannya, pasti dia akan berdusta atas nama Allah Subhanahu wa  Ta’ala dalam fatwanya, dalam hukum yang dia tetapkan, berita-berita yang  dia sebarkan, serta konsekuensi-konsekuensi yang dia nyatakan. Karena  hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala mayoritasnya menyelisihi ambisi  manusia. Lebih-lebih ambisi orang yang tamak terhadap kedudukan dan  orang yang diperbudak hawa nafsunya. Ambisi mereka tidak akan bisa  mereka dapatkan dengan sempurna kecuali dengan menyelisihi kebenaran dan  sering menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim berambisi  terhadap jabatan dan mempertuhankan hawa nafsunya, maka ambisi tersebut  tidak akan didapatkan dengan sempurna kecuali dengan menolak kebenaran…</p>
<p>Mereka pasti akan membuat-buat perkara yang baru dalam agama, disertai  kejahatan-kejahatan dalam bermuamalah. Maka terkumpullah pada diri  mereka dua perkara tersebut (kedustaan dan kejahatan).</p>
<p>Sungguh, mengikuti hawa nafsu itu akan membutakan hati, sehingga tidak  lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Bahkan bisa terbalik,  dia lihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah.  Inilah penyakit para ulama bila mereka lebih memilih dunia dan  diperbudak oleh hawa nafsunya.” (Al-Fawaid, hal 243-244)</p>
<p><strong>اللَهُّمَ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا  الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ</strong></p>
<p>“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan  karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kebatilan itu  sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.” Wallahu  ‘alam bish-shawab.</p>
<p>Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;6e240&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=931" target="_blank"><span>http://asysyariah.com/syar</span><span>iah.php?menu=detil&amp;id_onli</span>ne=931</a><br />
<input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" />
<input name="fb_dtsg" type="hidden" value="ld20M" />
<input id="feedback_params" name="feedback_params" type="hidden" value="{&quot;actor&quot;:&quot;1292568681&quot;,&quot;target_fbid&quot;:&quot;392438151122&quot;,&quot;target_profile_id&quot;:&quot;1292568681&quot;,&quot;type_id&quot;:&quot;14&quot;,&quot;source&quot;:&quot;2&quot;,&quot;assoc_obj_id&quot;:&quot;&quot;,&quot;source_app_id&quot;:&quot;&quot;,&quot;extra_story_params&quot;:[],&quot;check_hash&quot;:&quot;793550fb6f7067ae&quot;}" />
<input id="post_form_id" name="post_form_id" type="hidden" value="b9089613221d317db3798880d2b6ba46" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 02:25:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh wa Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1718</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya. Lawan dari nasehat adalah melakukan penipuan. Sementara menipu merupakan dosa besar yang merusak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya. Lawan dari nasehat adalah melakukan penipuan. Sementara menipu merupakan dosa besar yang merusak keimanan seorang hamba. Maka sudah semestinya setiap muslim bersemangat untuk menunaikan nasehat kepada sesama saudaranya demi terjaganya iman di dalam dirinya dan demi kebaikan saudaranya.</p>
<p><span id="more-1718"></span></p>
<p><strong>عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ</strong><strong> </strong><strong>بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari  Jarir bin Abdillah <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata: <em>“Aku berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan nasehat (menghendaki kebaikan) bagi setiap muslim.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” </em>Lalu ada yang bertanya, <em>“Apa itu ya Rasulullah.”</em> Maka beliau menjawab,<em> “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia -dengan bacaan yarhamukallah-, apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْك النَّصِيحَة ، فَعَلَيْك أَنْ تَنْصَحهُ ، وَلَا تُدَاهِنهُ ، وَلَا تَغُشّهُ ، وَلَا تُمْسِك عَنْ بَيَان النَّصِيحَة</strong></p>
<p><em>“Maknanya: -apabila- dia meminta nasehat darimu, maka wajib bagimu untuk menasehatinya, jangan hanya mencari muka di hadapannya, jangan pula menipunya, dan janganlah kamu menahan diri untuk menerangkan nasehat –kepadanya-.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [7/295] asy-Syamilah)</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ</strong><strong> </strong><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى الْمُؤْمِنِ سِتُّ خِصَالٍ يَعُودُهُ إِذَا مَرِضَ وَيَشْهَدُهُ إِذَا مَاتَ وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ وَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيَهُ وَيُشَمِّتُهُ إِذَا عَطَسَ وَيَنْصَحُ لَهُ إِذَا غَابَ أَوْ شَهِدَ</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada enam kewajiban seorang muslim kepada mukmin yang lain. Apabila saudaranya sakit hendaknya dia jenguk. Apabila dia akan meninggal hendaknya dia ikut menyaksikannya. Apabila bertemu maka hendaknya dia ucapkan salam kepadanya. Apabila dia bersin hendaknya mendoakannya. Dan apabila dia pergi/tidak ada atau sedang hadir -ada di hadapannya- maka hendaknya dia bersikap nasehat kepadanya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, beliau berkata hadits hasan sahih)</p>
<p>al-Mubarakfuri <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ يُرِيدُ خَيْرَهُ فِي حُضُورِهِ وَغَيْبَتِهِ ، فَلَا يَتَمَلَّقُ فِي حُضُورِهِ وَيَغْتَابُ فِي غَيْبَتِهِ فَإِنَّ هَذَا صِفَةُ الْمُنَافِقِينَ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Kesimpulannya adalah hendaknya seorang muslim senantiasa menginginkan kebaikan bagi saudaranya, baik ketika dia ada ataupun tidak ada, dan janganlah dia hanya senang mencari muka ketika berada di hadapannya dan menggunjingnya apabila saudaranya itu tidak ada di hadapannya, karena sesungguhnyahal  ini termasuk ciri orang-orang munafik.”</em> (<em>Tuhfat al-Ahwadzi</em> [7/44] asy-Syamilah) <strong></strong></p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> suatu ketika melalui setumpuk makanan -yang dijual- kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalamnya lalu jari beliau menemukan basah-basah di dalamnya. Maka beliau berkata, <em>“Wahai pemilik/penjual makanan, kenapa ini?”</em>. Dia menjawab, <em>“Terkena air hujan ya Rasulullah.”</em> Maka Nabi berkata, <em>“Mengapa kamu tidak meletakkannya di atas tumpukan makanan itu supaya orang-orang bisa melihatnya. Barangsiapa yang menipu maka dia bukan termasuk golongan kami.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>ash-Shan’ani <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>وَالْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْغِشِّ وَهُوَ مُجْمَعٌ عَلَى تَحْرِيمِهِ شَرْعًا مَذْمُومٌ فَاعِلُهُ عَقْلًا</strong></p>
<p><em>“Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya penipuan, dan hal itu adalah perkara yang telah disepakati keharamannya berdasarkan syari’at dan dicela pelakunya menurut logika.”</em> (<em>as-Subul as-Salam</em> [4/134] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>ومن حقوق المسلم على المسلم أن تنصحه إذا استنصحك ، فتشير عليه بما تحبه لنفسك ، فإن من غش فليس منا ، فإذا شاورك في معاملة شخص أو في تزويجه أو غيره ، فإن كنت تعلم منه خيرا فأرشده إليه ، وإن كنت تعلم منه شرا ، فحذره ، وإن كنت لا تدري عنه ، فقل له : لا أدري عنه ، وإن طلب أن تبين له شيئا من الأمور التي تقتضي البعد عنه ، فبينه له</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Di antara kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain adalah kamu harus menasehatinya jika dia meminta nasehat kepadamu, sehingga kamu akan menunjukkan kepadanya apa yang kamu senangi untuk dirimu sendiri, karena orang yang menipu bukan termasuk golongan kita. Apabila dia bermusyawarah kepadamu -meminta saran- ketika berhubungan dengan seseorang atau dalam urusan pernikahannya atau urusan yang lain, maka apabila kamu mengetahui kebaikan darinya maka arahkanlah ia kepadanya. Apabila kamu mengetahui keburukan darinya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila kamu tidak mengetahui tentangnya maka katakanlah kepadanya; aku tidak tahu tentangnya. Apabila dia meminta kamu untuk menerangkan sesuatu perkara yang semestinya dia menjauh darinya maka terangkanlah hal itu kepadanya.”</em> (<em>adh-Dhiya’ al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’</em> [1/233] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Jarullah berkata:</p>
<p><strong>وإذا استنصحك فانصح له أي إذا استشارك في عمل من الأعمال هل يعمله أم لا ؟ فانصح له بما تحب لنفسك فإن كان العمل نافعا من كل وجه فحثه على فعله وإن كان مضرا فحذره منه وإن احتوى على نفع وضر فاشرح له ذلك ووازن بين المنافع والمضار والمصالح والمفاسد وكذلك إذا شاورك في معاملة أحد من الناس أو التزوج منه أو تزويجه فأظهر له محض نصحك واعمل له من الرأي ما تعمله لنفسك وإياك أن تغشه في شيء من ذلك فمن غش المسلمين فليس منهم وقد ترك واجب النصيحة ، وهذه النصيحة واجبة على كل حال ولكنها تتأكد إذا استنصحك وطلب منك الرأي النافع</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, artinya apabila dia meminta masukan kepadamu mengenai suatu pekerjaan apakah dia sebaiknya melakukannya atau tidak? Maka nasehatilah dia dengan sesuatu yang kamu sukai bagi dirimu. Apabila pekerjaan itu bermanfaat dari berbagai sisi maka doronglah dia untuk melakukannya. Apabila hal itu berbahaya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila hal itu mengandung manfaat dan madharat maka jelaskanlah kepadanya hal itu, dan bandingkanlah untuknya antara manfaat dan madharat, atau maslahat dan mafsadat yang ada. Demikian juga apabila dia meminta saran kepadamu dalam urusan muamalah dengan seseorang atau hendak menikah dengannya maka tunjukkanlah kepadanya sikap tulusmu dalam memberikan nasehat. Gunakanlah pendapat dalam menasehatinya dengan pendapat yang kamu sukai bagi dirimu. Janganlah kamu menipunya dalam perkara itu. Karena barangsiapa yang menipu kaum muslimin maka dia bukan termasuk golongan mereka dan dia telah meninggalkan kewajiban nasehat. Nasehat ini hukumnya wajib -secara mutlak- dalam kondisi apapun, akan tetapi kewajiban ini semakin ditekankan tatkala dia meminta nasehat kepadamu dan meminta saran yang bermanfaat kepadamu.” (Kamal ad-Din al-Islami wa Haqiqatuhu wa Mazayahu</em>, hal 77. lihat juga <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar</em>, hal 114 asy-Syamilah)  <strong></strong></p>
<p><strong>عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ</strong><strong> </strong><strong>أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَأَبَا جَهْمٍ خَطَبَانِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ انْكِحِي أُسَامَةَ فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا </strong></p>
<p>Dari Fathimah binti Qais <em>radhiyallahu’anha</em>, dia menuturkan bahwa suatu ketika Mu’waiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm ingin melamarku, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Adapun Abu Jahm, dia itu tidak pernah meletakkan tongkatnya dari  bahunya. Adapun Mu’awiyah adalah orang yang miskin, tak berharta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.”</em> Namun aku tidak menyukainya. Lalu beliau bersabda, <em>“Menikahlah dengan Usamah.” </em>Maka akupun menikah dengannya sehingga Allah menjadikan kebaikan padanya (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>وَفِيهِ دَلِيل عَلَى جَوَاز ذِكْر الْإِنْسَان بِمَا فِيهِ عِنْد الْمُشَاوَرَة وَطَلَب النَّصِيحَة وَلَا يَكُون هَذَا مِنْ الْغِيبَة الْمُحَرَّمَة بَلْ مِنْ النَّصِيحَة الْوَاجِبَة . وَقَدْ قَالَ الْعُلَمَاء إِنَّ الْغِيبَة تُبَاح فِي سِتَّة مَوَاضِع أَحَدهَا الِاسْتِنْصَاح</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menyebutkan apa-apa yang terdapat pada diri seseorang ketika bermusyawarah dan meminta nasehat, dan hal ini tidak termasuk dalam perbuatan ghibah/menggunjing yang diharamkan, bahkan hal ini adalah nasehat yang wajib. Para ulama mengatakan bahwa ghibah diperbolehkan pada enam keadaan, salah satunya adalah ketika dimintai nasehat  -pendapat tentang orang lain yang hendak dinikahi atau menjadi rekan bisnis dan semacamnya, pent-.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [5/240] asy-Syamilah)<strong></strong></p>
<p><strong>وقد سمع أبو تراب النخشبي أحمد بن حنبل وهو يتكلم في بعض الرواة فقال له: أتغتاب العلماء؟! فقال له: ويحك! هذا نصيحة، ليس هذا غيبة.</strong></p>
<p>Abu Turab an-Nakhasyabi pernah mendengar Ahmad bin Hanbal ketika dia sedang membicarakan/mengkritik sebagian periwayat. Maka dia berkata kepadanya, <em>“Apakah kamu menggunjing para ulama?!”</em>. Maka beliau berkata kepadanya, <em>“Celaka kamu! Ini adalah nasehat, ini bukan ghibah.”</em> (disebutkan dalam <em>al-Ba’its al-Hatsits</em>, hal. 36 asy-Syamilah)</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang bisa menunaikan kewajiban yang agung ini dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang saling memberikan nasehat dengan ikhlas karena-Nya. <em>Wallahul muwaffiq. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terperdaya Oleh Nikmat</title>
		<link>http://abumushlih.com/terperdaya-oleh-nikmat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/terperdaya-oleh-nikmat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 22:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1712</guid>
		<description><![CDATA[Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, banyak orang yang terlena dengan kenikmatan dunia. Di antara kenikmatan yang membuat banyak orang lupa akan jati diri dan tujuan hidupnya adalah nikmat kesehatan dan waktu luang. Terutama nikmat waktu, yang begitu banyak orang lalai memanfaatkannya dengan baik. Sehingga banyak sekali waktu mereka yang terbuang percuma bahkan menjerumuskan mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fterperdaya-oleh-nikmat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fterperdaya-oleh-nikmat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, banyak orang yang terlena dengan kenikmatan dunia. Di antara kenikmatan yang membuat banyak orang lupa akan jati diri dan tujuan hidupnya adalah nikmat kesehatan dan waktu luang. Terutama nikmat waktu, yang begitu banyak orang lalai memanfaatkannya dengan baik. Sehingga banyak sekali waktu mereka yang terbuang percuma bahkan menjerumuskan mereka ke dalam jurang bahaya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1712"></span>Duduk di depan televisi seharian pun tak terasa, terhenyak sekian lama di hadapan berita-berita terbaru yang disajikan media massa sudah biasa, dan berjubel-jubel memadati stadion selama berjam-jam untuk menyaksikan pertandingan sepak bola atau konser grup band idola pun rela. Aduhai, alangkah meruginya kita tatkala waktu kehidupan yang detik demi detik terus berjalan menuju gerbang kematian ini kita lalui dengan menimbun dosa dan menyibukkan diri dengan perbuatan yang sia-sia.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku, ingatlah sabda Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ada dua buah nikmat yang kebanyakan orang terperdaya karenanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari</strong><span style="font-weight: normal;"> [6412] dari Ibnu Abbas </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/258])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku, sesungguhnya dunia ini merupakan ladang akherat. Di dalam dunia ini terdapat sebuah perdagangan yang keuntungannya akan tampak jelas di akherat kelak. Orang yang memanfaatkan waktu luang dan kesehatan tubuhnya dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah maka dialah orang yang beruntung. Adapun orang yang menyalahgunakan nikmat itu untuk bermaksiat kepada Allah maka dialah orang yang tertipu (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/259]) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam menetapi kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Jadilah engkau di dunia seperti layaknya orang yang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan jauh.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari</strong><span style="font-weight: normal;"> [6416] dari Ibnu Umar </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/263])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang yang lima: [1] Masa mudamu sebelum masa tuamu, [2] masa sehatmu sebelum sakitmu, [3] masa kayamu sebelum miskinmu, [4] waktu luangmu sebelum sibukmu, dan [5] hidupmu sebelum matimu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. al-Hakim</strong><span style="font-weight: normal;"> dari Ibnu Abbas </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/264], hadits ini disahihkan al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 486) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah sekedar kesenangan sementara, dan sesungguhnya akherat itulah negeri tempat tinggal yang sebenarnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Ghafir: 39</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ada seorang yang bertanya kepada Muhammad bin Wasi&#8217;, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bagaimana keadaanmu pagi ini?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bagaimanakah menurutmu mengenai seorang yang melampaui tahapan perjalanan setiap harinya menuju alam akherat?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. al-Hasan berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya dirimu adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu, maka lenyaplah sebagian dari dirimu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 482)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian orang bijak berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bagaimana bisa merasakan kegembiraan dengan dunia, orang yang perjalanan harinya menghancurkan bulannya, dan perjalanan bulan demi bulan menghancurkan tahun yang dilaluinya, serta perjalanan tahun demi tahun yang menghancurkan seluruh umurnya. Bagaimana bisa merasa gembira, orang yang umurnya menuntun dirinya menuju ajal, dan masa hidupnya menggiring dirinya menuju kematian.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 483) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/terperdaya-oleh-nikmat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamu Dusta!</title>
		<link>http://abumushlih.com/kamu-dusta.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kamu-dusta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 18:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dajjal]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Shodaqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1710</guid>
		<description><![CDATA[Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah -radhiyallahu&#8217;anhu-, maka Natil -salah seorang penduduk Syam- (beliau ini adalah seorang tabi&#8217;in yang tinggal di Palestina, pent) berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.” Abu Hurairah menjawab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkamu-dusta.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkamu-dusta.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah -</span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">-, maka Natil -salah seorang penduduk Syam- (beliau ini adalah seorang tabi&#8217;in yang tinggal di Palestina, pent) berkata kepadanya, </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">“Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">.”</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1710"></span></span></span>Abu Hurairah menjawab,</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">“<span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda: </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">“<span style="font-weight: normal;">Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: [</span><strong>Yang pertama</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.”</strong></em><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">hingga akhirnya dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dilemparkan ke dalam api neraka. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">[</span><strong>Yang kedua</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur&#8217;an. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur&#8217;an di jalan-Mu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur&#8217;an agar disebut sebagai qari&#8217;. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>Yang ketiga</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah bertanya kepadanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1903], lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/529-530])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini memberikan faedah bagi kita, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dosa 	riya&#8217; -yaitu beramal karena dilihat orang dan demi mendapatkan 	sanjungan- adalah dosa yang sangat diharamkan dan sangat berat 	hukumannya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531]). Riya&#8217; merupakan bahaya yang lebih dikhawatirkan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menimpa orang-orang salih sekelas para sahabat. Beliau bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Maukah 	kukabarkan kepada kalian mengenai sesuatu yang lebih aku takutkan 	menyerang kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Para sahabat menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Mau 	ya Rasulullah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Yaitu 	syirik yang samar. Tatkala seorang berdiri menunaikan sholat lantas 	membagus-baguskan sholatnya karena merasa dirinya diperhatikan oleh 	orang lain.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Ahmad dan 	Ibnu Majah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	al-Bushiri berkata sanadnya hasan) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tam-hid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 397, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/55]). Kalau para sahabat saja demikian, maka bagaimana lagi 	dengan orang seperti kita? </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul 	musta&#8217;aan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230;</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dorongan 	agar menunaikan kewajiban ikhlas dalam beramal. Hal ini sebagaimana 	yang telah Allah perintahkan dalam ayat (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah 	mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan 	mengikhlaskan amal untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Bayyinah: 	5</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) 	(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531]) </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa dalil-dalil lain yang bersifat umum yang 	menyebutkan keutamaan jihad itu hanyalah berlaku bagi orang-orang 	yang berjihad secara ikhlas. Demikian pula pujian-pujian yang 	ditujukan kepada ulama dan orang-orang yang gemar berinfak dalam 	kebaikan hanyalah dimaksudkan bagi orang-orang yang melakukannya 	ikhlas karena Allah (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531-532])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Sesungguhnya 	ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat 	rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak 	akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap 	pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh 	manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau 	dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 143)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Keikhlasan 	merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan 	kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah 	berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak 	ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada 	ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk 	memuaskan hawa nafsunya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum 	wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 26). Sebagian salaf berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah 	aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat 	daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/53])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Tercela 	dan diharamkannya orang yang menimba ilmu agama tidak ikhlas karena 	Allah. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa 	yang menuntut ilmu yang semestinya dipelajari demi mencari wajah 	Allah akan tetapi dia tidak menuntutnya melainkan untuk menggapai 	kesenangan dunia maka dia pasti tidak akan mendapatkan bau -harum- 	surga pada hari kiamat kelak.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Abu Dawud</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan disahihkan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; 	al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 22)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Amalan 	yang tercampuri syirik -contohnya riya&#8217;- tidak diterima oleh Allah. 	Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah 	ta&#8217;ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan 	sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang dia 	mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Kutinggalkan dia 	bersama kesyirikannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) 	(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; 	al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 23)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Sebesar 	apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang 	ikhlas. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan 	demi mencari wajah-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Nasa&#8217;i</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan dihasankan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; 	al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 21)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Amalan 	yang  besar bisa berubah menjadi kecil gara-gara niat, sebagaimana 	amal yang kecil bisa menjadi bernilai besar karena niat. Ibnu 	Mubarak berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Betapa 	banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa 	banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; 	al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 19) </span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kamu-dusta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obat Penenang Jiwa</title>
		<link>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 16:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jabatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketenangan]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'rifatullah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1630</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. Amma ba&#8217;du. Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fobat-penenang-jiwa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fobat-penenang-jiwa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Amma ba&#8217;du</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan kalau perlu mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, ada sebuah fenomena memprihatinkan yang sulit sekali dilepaskan dari upaya ini. Seringkali kita jumpai manusia memakai cara-cara yang dibenci oleh Allah demi mencapai keinginan mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1630"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat wanita. Ada yang terjebak dalam hiburan yang tidak halal. Ada pula yang terjebak dalam aksi-aksi brutal atau tindak kriminal. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Padahal, Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. ar-Ra&#8217;d: 28). Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna &#8216;mengingat Allah&#8217; di sini adalah mengingat al-Qur&#8217;an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur&#8217;an (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir al-Qayyim</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 324) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Dzikir merupakan sebuah kelezatan bagi hati orang-orang yang mengerti.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Demikian juga Malik bin Dinar mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 562). Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah; mengapa banyak di antara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama salaf. Sehingga kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada ikut pengajian, atau lebih suka menikmati telenovela daripada merenungkan ayat-ayat-Nya, atau lebih suka berkunjung ke lokasi wisata daripada memakmurkan rumah-Nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Perhatikanlah ucapan Rabi&#8217; bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi&#8217; bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula &#8216;kemampuannya&#8217; untuk bisa mengingat Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriyahnya tampak baik-baik saja. Aduhai, betapa sedikit orang yang memperhatikannya! Ternyata, inilah yang selama ini hilang dan menipis dalam diri kita; yaitu rasa cinta kepada Allah&#8230; </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Syaikh as-Sa&#8217;di </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakekat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 95)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam al-Qur&#8217;an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu merupakan cabang dari pengenalan terhadapnya. Maka manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling cinta kepada-Nya. Dan setiap orang yang mengenal Allah pastilah akan mencintai-Nya. Dan tidak ada jalan untuk menggapai ma&#8217;rifat ini kecuali melalui pintu ilmu mengenai nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma&#8217;rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur&#8217;an maupun as-Sunnah&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa as-Shifat</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 16) </span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa as-Shifat</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 21). Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;,</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> hal. 261)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Hal itu bermula, tatkala kecintaan kepada dunia telah meresap ke dalam relung-relung hatinya. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi &#8216;didukung&#8217; suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk al-Qur&#8217;an, apatah lagi pengenalan terhadap keagungan nama-nama dan sifat-Nya. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Sholat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna, dan al-Qur&#8217;an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangannya. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Wahai saudaraku</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230; apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-A&#8217;la: 16-17). Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. Ghafir: 38-39) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 260)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Apabila engkau menangis karena ludesnya hartamu, atau karena hilangnya jabatanmu, atau karena orang yang pergi meninggalkanmu, maka sekaranglah saatnya engkau menangisi rusaknya hatimu&#8230; </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan wa &#8216;alaihit tuklaan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumber Kemaksiatan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 06:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Kezaliman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Marah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1558</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Sumber segala bentuk kemaksiatan yang besar ataupun yang kecil ada tiga: ketergantungan hati kepada selain Allah, memperturutkan kekuatan angkara murka, dan mengumbar kekuatan nafsu syahwat. Wujudnya adalah syirik, kezaliman, dan perbuatan-perbuatan keji. Puncak ketergantungan hati kepada selain Allah adalah kemusyrikan dan menyeru sesembahan lain sebagai sekutu bagi Allah. Puncak memperturutkan kekuatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsumber-kemaksiatan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsumber-kemaksiatan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>Sumber segala bentuk kemaksiatan yang besar ataupun yang kecil ada tiga: ketergantungan hati kepada selain Allah, memperturutkan kekuatan angkara murka, dan mengumbar kekuatan nafsu syahwat. Wujudnya adalah syirik, kezaliman, dan perbuatan-perbuatan keji. Puncak ketergantungan hati kepada selain Allah adalah kemusyrikan dan menyeru sesembahan lain sebagai sekutu bagi Allah. Puncak memperturutkan kekuatan angkara murka adalah terjadinya pembunuhan. Adapun puncak mengumbar kekuatan nafsu syahwat adalah terjadinya perzinaan.</p>
<p><span id="more-1558"></span></p>
<p>Oleh sebab itu Allah <em>subhanahu</em> memadukan ketiganya dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali apabila ada alasan yang benar, dan mereka juga tidak berzina.”</em> (QS. al-Furqan: 68). Ketiga jenis dosa ini saling menyeret satu dengan yang lainnya. Syirik akan menyeret kepada kezaliman dan perbuatan keji, sebagimana halnya keikhlasan dan tauhid akan menyingkirkan kedua hal itu dari pemiliknya (ahli tauhid). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demikianlah, Kami palingkan darinya -Yusuf- keburukan dan perbuatan keji, sesungguhnya dia termasuk kalangan hamba pilihan Kami (yang ikhlas).”</em> (QS. Yusuf: 24)</p>
<p>Yang dimaksud dengan &#8216;keburukan&#8217; (<em>as-Suu&#8217;</em>) di dalam ayat tadi adalah kerinduan (<em>&#8216;isyq</em>), sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan keji (<em>al-fakhsya&#8217;</em>) adalah perzinaan. Maka demikian pula kezaliman akan bisa menyeret kepada perbuatan syirik dan perbuatan keji. Sesungguhnya syirik itu sendiri merupakan kezaliman yang paling zalim, sebagaimana keadilan yang paling adil adalah tauhid. Keadilan merupakan pendamping bagi tauhid, sementara kezaliman merupakan pendamping syirik.</p>
<p>Oleh sebab itulah, Allah <em>subhanahu</em> memadukan kedua hal itu. Adapun yang pertama -keadilan sebagai pendamping tauhid- adalah seperti yang terkandung dalam firman Allah (yang artinya), <em>“Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Allah, demikian juga bersaksi para malaikat dan orang-orang yang berilmu, dalam rangka menegakkan keadilan.”</em> (QS. Ali Imran: 18). Adapun yang kedua -kezalimaan sebagai pendamping syirik- adalah seperti yang terkandung dalam firman Allah (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik merupakan kezaliman yang sungguh-sungguh besar.”</em> (QS. Luqman: 13). Sementara itu, perbuatan keji pun bisa menyeret ke dalam perbuatan syirik dan kezaliman. Terlebih lagi apabila keinginan untuk melakukannya sangat kuat dan hal itu tidak bisa didapatkan selain dengan menempuh tindakan zalim serta meminta bantuan sihir dan setan.</p>
<p>Allah <em>subhanahu</em> pun telah memadukan antara zina dan syirik di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Seorang lelaki pezina tidak akan menikah kecuali dengan perempuan pezina pula atau perempuan musyrik. Demikian juga seorang perempuan pezina tidak akan menikah kecuali dengan lelaki pezina atau lelaki musyrik. Dan hal itu diharamkan bagi orang-orang yang beriman.”</em> (QS. an-Nur: 3). Ketiga perkara ini saling menyeret satu dengan yang lainnya dan saling mengajak satu sama lain. Oleh sebab itu, setiap kali melemah tauhid dan menguat syirik pada hati seseorang maka semakin banyak  perbuatan keji yang dilakukannya, kemudian semakin besar pula ketergantungan hatinya kepada gambar-gambar -yang terlarang- serta semakin kuat pula kerinduan yang menggelayuti hatinya terhadap gambar/rupa tersebut&#8230;</p>
<p>(diterjemahkan dari <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 78-79)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu, Alangkah Berharganya Dirimu!</title>
		<link>http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 07:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1550</guid>
		<description><![CDATA[Berjam-jam membaca al-Qur’an sesuatu yang amat jarang kita lakukan. Berjam-jam mengikuti kajian kitab pun jarang kita lakukan. Berjam-jam membolak-balik kitab para ulama pun sulit untuk kita saksikan pada kebanyakan sosok pemuda muslim di jaman ini. Namun, berjam-jam di depan internet tanpa ada aktifitas yang jelas dan bermutu adalah sesuatu yang lumrah. Terlebih lagi dengan adanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwaktu-alangkah-berharganya-dirimu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwaktu-alangkah-berharganya-dirimu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Berjam-jam membaca al-Qur’an sesuatu yang amat jarang kita lakukan.  Berjam-jam mengikuti kajian kitab pun jarang kita lakukan. Berjam-jam  membolak-balik kitab para ulama pun sulit untuk kita saksikan pada  kebanyakan sosok pemuda muslim di jaman ini. Namun, berjam-jam di depan  internet tanpa ada aktifitas yang jelas dan bermutu adalah sesuatu yang  lumrah. Terlebih lagi dengan adanya <strong>facebook</strong> yang kini marak di dunia  maya. Sungguh benar Allah <em>ta’ala</em> yang berfirman (yang artinya), <em>“Demi  masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian,   kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam  kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”</em> (QS. al-’Ashr :  1-3).</p>
<p><span id="more-1550"></span>Perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan. Hanya  saja, kebanyakan orang tidak bisa menggunakan produk kecanggihan  teknologi itu dengan sebagaimana seharusnya. Cobalah kita ingat beberapa  belas tahun yang silam, ketika televisi masih menjadi barang langka,  ketika internet dan <em>hape</em> belum meluas sebagaimana sekarang. Niscaya akan  kita dapati banyak kemungkaran yang dahulu jarang kita temukan terjadi  secara terang-terangan ternyata pada jaman sekarang ini sudah menjadi  barang yang biasa dan lumrah menghiasi PC, laptop, dan perangkat  komunikasi para generasi muda. <em>Allahul musta’an</em>! Sungguh benar sabda  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Segeralah beramal sebelum  datangnya fitnah-fitnah bak potongan-potongan malam yang gelap gulita.  Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia telah  menjadi kafir.” Atau “Pada sore hari masih beriman namun di pagi harinya  dia menjadi kafir.” “Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan  sekeping kesenangan dunia.” </em>(HR. Muslim).</p>
<p>Saudaraku -semoga Allah menjaga diriku dan dirimu- waktu yang Allah  berikan kepada kita merupakan nikmat yang sangat agung. Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua buah nikmat yang  kebanyakan manusia terpedaya karena tidak bisa menggunakan keduanya  dengan baik, yaitu kesehatan dan waktu luang.”</em> (HR. Bukhari). Hasan  al-Bashri <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hai anak Adam, sesungguhnya kamu  adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu maka lenyaplah  sebagian dari dirimu.”</em> Ada orang yang mengatakan, <em>“Waktu bagaikan  pedang, kalau kamu tidak menebasnya -dengan kebaikan- maka dia akan  menebasmu -dengan keburukan-.”</em></p>
<p>Hidup di dunia adalah sementara <em>ya akhi</em>…,  untuk apa kita buang waktu kita dalam perkara-perkara yang sia-sia?  Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah kalian mengira, bahwa  Kami menciptakan kalian sia-sia belaka, dan kalian tidak akan  dikembalikan kepada Kami?”</em>. (QS. al-Mukminun : 115). Allah juga  berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian sesudah itu kalian juga akan mati,  lantas kalian kelak akan dibangkitkan pada hari kiamat.”</em> (QS.  al-Mukminun : 15-16).</p>
<p>Setiap mukmin, ketika ditanya; untuk apa anda hidup? Niscaya selama  akalnya masih waras akan menjawab; untuk beribadah kepada Allah.  Benar-benar jawaban yang cerdas. Namun, ketika kita perhatikan dengan  seksama aktifitas dan perilaku manusia di alam nyata dalam bentuk  gerak-gerik mata, jari-jemari, tangan dan kakinya, di kala siang, sore  atau malam hari, maka akan kita temukan realita yang berkebalikan  seratus delapan puluh derajat dari jawaban yang mereka lontarkan. Mereka  makan untuk memenuhi hawa nafsu. Mereka memandang untuk memenuhi hawa  nafsu. Mereka berjalan untuk mencapai apa yang diinginkan oleh nafsu.  Mereka begadang juga untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu. Mereka buka  mata dan telinga lebar-lebar pun untuk memenuhi keinginan hawa nafsu.</p>
<p>Kita tidak sedang menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain,  namun yang kita bicarakan adalah aib-aib kita yang Allah sendirilah yang  paling tahu betapa banyak aib kita di mata-Nya. Meskipun demikian, kita  seperti orang yang masa bodoh dengan dosa-dosanya. Abdullah bin Mas’ud  <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Seorang mukmin akan melihat dosanya  bagaikan sebuah bukit besar yang akan menimpa dirinya. Sedangkan seorang  yang fajir akan melihat dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap  di depan hidungnya kemudian dia halau dengan jari dengan santainya.”</em></p>
<p>Subhanallah! Betapa jauhnya kita dengan akhlak salafus shalih. Ibnu  Abi Mulaikah mengatakan, <em>“Aku berjumpa dengan tiga puluh sahabat  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka semua merasa khawatir  dirinya tertimpa kemunafikan.”</em> Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em> mengatakan,  <em>“Seorang mukmin akan memadukan di dalam dirinya antara ihsan/perbuatan  baik dengan rasa takut. Sedangkan seorang yang munafik akan memadukan di  dalam dirinya antara perbuatan jelek dengan rasa aman dari tertimpa  hukuman.”</em> <em>Allahul musta’aan</em>!</p>
<p>Di manakah posisi kita wahai saudaraku!  Kita menisbatkan diri sebagai seorang salafi -pengikuti pemahaman  salafus shalih- namun dalam prakteknya akhlak kita seperti akhlak  orang-orang Arab Badui…!</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang akhlak orang Arab Badui (yang  artinya), <em>“Orang Arab Badui itu lebih keras kekufuran dan kemunafikannya  dan sangat wajar tidak memahami batasan-batasan (hukum) yang Allah  turunkan kepada rasul-Nya…”</em> (QS. at-Taubah : 97). Syaikh as-Sa’di  <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Meskipun di kota maupun di pelosok/badui juga  sama-sama terdapat orang kafir dan munafik, namun yang berada di pelosok  itu biasanya lebih parah daripada yang hidup di kota. Salah satu  buktinya adalah orang Arab badui/pelosok itu lebih rakus kepada harta  dan lebih pelit terhadapnya.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [1/457]).</p>
<p>Memang sebagian di antara mereka pun terdapat orang yang beriman. Allah  <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan di antara orang Arab Badui itu pun  ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”</em> (QS. at-Taubah : 99).  Oleh sebab itu mereka dicela bukan karena kebaduiannya, akan tetapi  dikarenakan mereka meninggalkan perintah-perintah Allah, dan bahwasanya  mereka adalah golongan orang yang sangat mudah terjerumus di dalamnya  (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [1/458]).</p>
<p>Maka apa bedanya mereka itu (baca: Arab badui yang ‘mbeling’) dengan  sebagian di antara kaum muslimin pada hari ini yang begitu mudah  meninggalkan perintah-perintah Allah serta menerjang  larangan-larangan-Nya semata-mata dengan alasan <em>“Ini kan jaman moderen,  biasalah.” “Kita kan masih muda, ya wajar!”</em>. Atau dengan mengatakan,  <em>“Dari dulu ya sudah kayak gini, masak tradisi warisan nenek moyang mau  kita selisihi [?!]“</em>. Atau dengan mengatakan, <em>“Masak tiap hari disuruh  pengajian, kita ‘kan juga butuh refreshing, menikmati dunia memangnya  gak boleh?”</em>. Atau, <em>“Ah kamu ini sok suci. Jangan munafiklah!”</em>. <em>“Kamu  sih, sukanya yang ekstrim-esktrim.”</em> Dan seabrek bisikan syaitan lainnya.  <em>Laa haula wa laa quwwata illa billah</em>!</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku -semoga Allah membimbingmu-  sesungguhnya syaitan dan bala tentaranya tidak henti-henti berupaya  untuk menjerumuskan umat manusia. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya singgasana Iblis berada di atas lautan.  Maka dia mengutus pasukan-pasukannya demi menyesatkan manusia. Bala  tentaranya yang paling mulia kedudukannya di sisi Iblis adalah yang  paling dahsyat menimbulkan kekacauan.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Suatu ketika,  Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em> mendapati suaminya yaitu Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> meninggalkannya di suatu malam, maka Aisyah pun  merasa cemburu. Setelah pulang, Nabi melihat kegelisahan yang ada  padanya, lalu Nabi berkata, <em>“Ada apa denganmu wahai Aisyah? Apakah kamu  merasa cemburu?”</em>. Aisyah mengatakan, <em>“Bagaimana orang sepertiku tidak  merasa cemburu kepada seorang suami yang seperti anda?”</em>. Maka Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apakah syaitanmu telah  mendatangimu?”</em>. Aisyah berkata, <em>“Wahai Rasulullah, apakah bersamaku ada  syaitan?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Iya.”</em> Lalu Aisyah berkata, <em>“Apakah semua  orang juga demikian?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Iya.”</em> Aisyah kembali bertanya,  <em>“Demikian juga anda wahai Rasulullah?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Iya, hanya  saja Allah telah membantuku untuk menundukkannya sehingga akhirnya dia  pun masuk Islam.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Ketika dahulu para sahabat duduk bersama untuk berbicara dan menasehati  dalam rangka menambah keimanan dan ketakwaan. <em>Eee</em> … pada hari ini  sebagian dari kita justru berkumpul dan saling bahu membahu untuk  memupuk kemaksiatan dan merontokkan tembok keimanan. Tidakkah kita ingat  firman Allah <em>ta’ala</em> (yang artinya), <em>“Pada hari kiamat itu nanti  orang-orang yang saling berkasih sayang dan berteman akan berubah  menjadi saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.”</em> (QS.  az-Zukhruf : 67).</p>
<p>Maka, dengan andil besar dari syaitan dan bala  tentaranya itulah, terbentuklah geng-geng, perkumpulan-perkumpulan,  gerakan-gerakan, yang semuanya memiliki satu kecenderungan yang seragam  yaitu bertekad bulat untuk mendurhakai ar-Rahman Sang penguasa kerajaan  langit dan bumi. Dengan keyakinan mereka, mereka menanamkan bahwa  kehidupan dunia adalah lahan untuk memuaskan hawa nafsu dan mengumbar  kesombongan. Dengan ucapan mereka, mereka ingin mengelabui kaum muda  bahwa tidak ada gunanya rajin-rajin menuntut ilmu agama, lebih baik  sibuk dengan wawasan terkini dan meninggalkan al-Qur’an. Dengan sikap  dan perbuatan mereka, mereka mengajak masyarakat dan para orang tua  untuk bersama-sama menenggelamkan putra-putri mereka dalam pergaulan  bebas tanpa batas, sehingga perbuatan keji pun dengan leluasa  merajalela. Apakah maknanya ini semua, wahai saudaraku yang mulia…  <strong>akankah kita biarkan kemungkaran itu terus merajalela dan merusak  tunas-tunas bangsa?</strong></p>
<p>Oleh sebab itu, seorang pemuda muslim yang masih menyimpan kecintaan  kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya menanamkan tekad di dalam hatinya  agar <strong>tidak ikut memperkeruh raut muka umat Islam masa kini di hadapan  Rabb mereka</strong>.</p>
<p>Jadilah sebagaimana pemuda Ibrahim yang getol untuk  memperjuangan tauhid dan memberantas syirik yang ada di masyarakatnya!</p>
<p>Jadilah sebagaimana para pemuda Kahfi yang beriman kepada Allah dan  Allah pun berkenan menambahkan hidayah kepada mereka!</p>
<p>Jadilah  sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang sangat keras memusuhi musuh-musuh  Islam yang berani melecehkan sahabat Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>!</p>
<p>Jadilah sebagaimana para pemuda Anshar yang berlomba-lomba untuk  maju ke medan jihad demi mempertahankan agamanya!</p>
<p>Jadilah sebagaimana  Uwais al-Qarani yang sangat berbakti kepada ibunya!</p>
<p>Saudaraku, salafuna as-shalih adalah orang-orang yang sangat <strong>pelit  dengan waktunya dan paling gigih dalam menjaga lisan mereka</strong>. Allah  <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah mereka itu mengira bahwa Kami  tidak mendengar rahasia dan bisik-bisikan mereka? Sebenarnya Kami  mendengar, dan para utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi  mereka.”</em> (QS. az-Zukhruf : 80).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang  artinya), <em>“Tidak ada kebaikan di dalam kebanyakan perbincangan mereka  kecuali orang yang menyuruh bersedekah, mengajak yang ma’ruf, atau  mendamaikan di antara manusia.”</em> (QS. an-Nisa’ : 114). Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Salah satu tanda baiknya  keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak penting  baginya.”</em> (HR. Tirmidzi, hasan). Sebagian orang bijak mengatakan,  <em>“Apabila kamu akan berbicara maka ingatlah bahwa Allah mendengar  ucapanmu. Apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Allah juga selalu  mengawasimu.”</em> (lihat <em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 152).</p>
<p><em>Ikhwah</em> sekalian, <strong>tauhid bukan sekedar tulisan</strong> yang tergores di  buku-buku. Tauhid bukan sekedar dihafal di dalam pikiran. Tauhid juga  bukan sekedar slogan-slogan kosong tanpa makna. Tauhid yang bersemayam  di dalam hati seorang insan tentu akan membuahkan <strong>amal nyata di dalam  kehidupan</strong>. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan,  <em>“..pokok keimanan itu tertanam di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan  hati. Ia mencakup pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan  ketundukan. Sedangkan apa yang ada di dalam hati pastilah akan tampak  konsekuensinya dalam perbuatan anggota-anggota badan. <strong>Apabila seseorang  tidak melakukan konsekuensinya maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak  ada atau lemah</strong> [padanya]. Oleh karena itu maka amal-amal lahir itu  merupakan konsekuensi dari keimanan di dalam hati. Ia merupakan  pembuktian atas apa yang ada di dalam hati, tanda dan saksi baginya. Ia  merupakan cabang dari totalitas keimanan dan bagian dari kesatuannya.…” </em>(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah, lihat juga <em>Mujmal  Masa’il al-Iman al-’Ilmiyah</em>, hal. 15).</p>
<p>Ibnu Batthah <em>rahimahullah</em> (wafat tahun 387 H) menyebutkan riwayat  dari Umair bin Habib <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia mengatakan, <em>“Iman itu  bertambah dan berkurang.”</em> Ada yang bertanya, <em>“Apakah maksud pertambahan  dan pengurangannya?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Apabila kita mengingat Allah  kemudian kita memuji dan menyucikan-Nya maka itulah pertambahannya. Dan  apabila kita lalai dan melupakan-Nya maka itulah pengurangannya.”</em> (<em>al-Ibanah al-Kubra</em> [3/153], lihat juga <em>Fath al-Bari Ibnu Rojab</em> [1/5]  as-Syamilah).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Belumkah tiba saatnya bagi  orang-orang yang beriman untuk tunduk dan takut hati mereka dengan  mengingat Allah serta merenungkan kebenaran yang diturunkan (kepada  mereka), dan janganlah mereka itu seperti orang-orang terdahulu yang  diberikan kitab sebelum mereka, ketika masa yang panjang berlalu maka  mengeraslah hati mereka, dan banyak di antara mereka yang menjadi  orang-orang fasik.”</em> (QS. al-Hadid : 16).</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya, <em>“Wahai Rasulullah, apakah kami  akan celakan sedangkan bersama kami masih ada orang-orang salih?”</em>. Maka  beliau menjawab, <em>“Iya, apabila perbuatan-perbuatan keji telah  merajalela.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Demikianlah sekelumit pesan bagi saudara-saudaraku sekalian, para  pemuda yang menginginkan kebahagiaan abadi di akherat nanti, bersama  para bidadari dan pelayan-pelayan yang baik budi. Suatu hari di  saat  orang-orang lain tersiksa, ketika itu pemuda yang tumbuh dalam ketaatan  beribadah kepada Rabbnya pun akan merasakan keteduhan di bawah naungan  Arsy-Nya. Karena dia rela untuk meninggalkan apa yang disenangi oleh  hawa nafsunya demi mendapatkan kecintaan Rabb alam semesta.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang surga (yang artinya), <em>“Itulah yang balasan bagi  orang-orang yang takut kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Bayyinah : 8).</p>
<p>Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memurnikan taubat kita  agar benar-benar ikhlas karena-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar  lagi Maha Penerima taubat. <em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa  ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
