<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Hukum</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/hukum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 06:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Puasa 6 Hari Syawwal</title>
		<link>http://abumushlih.com/puasa-6-hari-syawwal.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/puasa-6-hari-syawwal.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Sep 2010 03:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Shaum]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syawwal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1977</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda, Lc. -hafizhahullah- Pertanyaan : Apakah benar bahwa hadits yang menjelaskan tentang disyari&#8217;atkannya puasa enam hari di bulan syawaal adalah hadits yang lemah? Lantas jika disyari&#8217;atkan puasa enam hari di bulan syawaal, maka bagaimana dengan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/puasa-6-hari-syawwal.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpuasa-6-hari-syawwal.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpuasa-6-hari-syawwal.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda, Lc. -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong> Apakah benar bahwa hadits yang menjelaskan tentang disyari&#8217;atkannya puasa enam hari di bulan syawaal adalah hadits yang lemah?</p>
<p><span id="more-1977"></span>Lantas  jika disyari&#8217;atkan puasa enam hari di bulan syawaal, maka bagaimana  dengan seorang wanita yang punya hutang puasa banyak sehingga bulan  syawaal dihabiskan untuk menqodo hutang puasanya sehingga tidak sempat  puasa syawwal kecuali dua hari? . Apakah boleh puasa syawwal terlebih  dahulu baru kemudian mengqodho hutang puasa?</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersabda</p>
<p>مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّال كانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ<br />
<em><br />
&#8220;Barangsiapa  yang berpuasa Ramdhan kemudian mengikutkannya dengan puasa enam hari di  bulan syawwal maka seperti puasa sepanjang masa&#8221; (HR Muslim)</em></p>
<p><strong>Hukum hadits ini</strong></p>
<p>Hadits  ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya dari jalan Sa&#8217;d bin  Sa&#8217;iid dari Umar bin Tsabit dari sahabat Abu Ayyuub Al-Anshoori.</p>
<p>Imam  Ahmad juga meriwayatkan hadits ini dari jalur yang sama di atas (lihat  Musnad Al-Imam Ahmad 5/417 no 23580) demikian juga Abu Dawud (lihat  sunan Abi Dawud 2/324 no 2433), At-Tirmidzi (lihat sunan At-Tirmidzi  3/132 no 759), dan Ibnu Majah (lihat sunan Ibni Majah 1/547 no 1716)</p>
<p>http://www.firanda.com/administrator/index.php?option=com_content&amp;sectionid=4&amp;task=edit&amp;cid[]=44</p>
<p>Sa&#8217;d  bin Sa&#8217;iid adalah saudara kandung Yahya bin Sa&#8217;iid Al-Anshoori.  At-Tirmidzi berkata, &#8220;Sebagian ulama mengkritik kredibilitas Sa&#8217;d bin  Sa&#8217;iid dari sisi hapalannya&#8221; (sunan At-Tirmidzi 3/132, adapun perkataan  para ulama al-jarh wat ta&#8217;diil tentangnya maka bisa meruju&#8217; kitab  Tahdziib at-Tahdziib 1/692). Adapun kesimpulan yang diambil oleh Ibnu  Hajr tentangnya adalah : Shoduuq sayyiul hifzh = jelek hapalannya (lihat  taqriib at-tahdziib 369)</p>
<p>Oleh karena hal ini sebagian ulama  melemahkan hadits ini seperti Abul Khithoob Umar bin Dihyah  –rahimahullah- sebagaimana dalam kitab beliau Al-&#8217;Ilmul Masyhuur fi  fadhoil al-ayyaam wasy syuhuur. Beliau berkata, &#8220;Hadits ini tidak shahih  dari Nabi –shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- karena jalur-jalur hadits ini  berputar  pada Sa&#8217;d bin Sa&#8217;iid dan dia adalah dho&#8217;iif jiddan (sangat  lemah))  (lihat rof&#8217;ul isykaal &#8216;an shiyaam sittati ayyaam min syawwaal  hal 20-217)</p>
<p><strong>Yang benar hadits ini adalah hadits yang shahih</strong>,  cukuplah tatkala Imam Muslim mengeluarkan hadits ini dalam shahihnya  menunjukan bahwa beliau telah menshahihkan hadits ini.</p>
<p>Adapun  pernyataan Abul Khithoob bahwa sanad hadits ini berputar pada Sa&#8217;d bin  Sa&#8217;iid merupakan pernyataan yang tidak benar. Karena yang meriwayatkan  hadits ini dari Umar bin Tsabit <strong>bukan hanya Sa&#8217;ad bin Sa&#8217;iid</strong>, jadi  beliau tidak bersendirian, akan tetapi ada mutaaba&#8217;ah, yaitu ada dua  perawi lain yang tsiqoh yang meriwayatkan juga dari Umar bin Tsabit.  Kedua perawi tersebut adalah;</p>
<p>Pertama : <strong>Shofwan bin Sulaim</strong> yang  beliau adalah perawi yang tsiqoh (lihat taqriib at-Tahdziib hal 453),  sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud (lihat sunan Abi Dawud 2/324 no  2433) An-Nasaa&#8217;i (lihat Sunan An-Nasaa&#8217;i al-Kubro 2/163 no 2863) dan  Ibnu Hibbaan (lihat shahih Ibni Hibbaan no 3634)</p>
<p>Kedua : <strong>Yahya  bin Sa&#8217;iid bin Qois Al-Anshoori</strong> (Saudara kandung Sa&#8217;d bin Sa&#8217;iid), yang  beliau adalah perawi yang tsiqoh juga (lihat taqriib At-Tahdziib hal  1056), sebagaimana diriwayatkan oleh An-Nasa&#8217;i (lihat Sunan An-Nasai  Al-Kubro 2/164 no 2866) Dan disebutkan oleh Ad-Daruquthni dalam kitab  &#8216;ilal beliau (lihat &#8216;Ilal Ad-Daaruquthni 6/108)</p>
<p>Dari sini jelas  bahwa Sa&#8217;d bin Sa&#8217;iid tidak bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini,  sehingga jelas bagi kita bahwa hadits ini adalah hadits yang shahih.</p>
<p>Dan  untuk penjelasan lebih penjang lebar tentang keshahihah hadits ini bisa  merujuk pada kitab  Rof&#8217;ul isykaal &#8216;an shiyaami sittah min syawwal,  karya Abu Sa&#8217;iid Sholaahuddiin Kholil bin Kaykaldi al-&#8217;alaai  asy-Syaafi&#8217;i dan juga penjelasan Al-Imam Ibnul Qoyyim pada Hasyiah Sunan  Abi Dawud (Dicetak bersama &#8216;Aunul Ma&#8217;buud, lihat 7/86-95)</p>
<p>Yang  lebih menunjukan akan keshahihan hadits ini, ternyata hadits ini  memiliki banyak syahid, yaitu hadits ini juga diriwayatkan dari  sahabat-sahabat yang lain selain Abu Ayyub Al-Anshoori. Diantaranya  Tsaubaan dan Abu Huroiroh –rodhiallahu &#8216;anhum-</p>
<p>Dari sini kita  mengetahui bersama bahwasanya meskipun hadits yang dibawakan oleh Imam  Muslim (demikian juga Imam Al-Bukhari) dalam shahihnya –seperti hadits  yang sedang kita bahas ini- ternyata ada seroang perawi yang lemah  –contohnya Sa&#8217;d bin Sa&#8217;iid- akan tetapi Imam Muslim tidaklah memasukan  hadits tersebut dalam shahihnya kecuali setelah memeriksa hadits  tersebut bahwasanya hadits tersebut ada mutaaba&#8217;ah dan syawahidnya.</p>
<p>Ibnul  Qoyyim berkata, &#8220;Kita menerima lemahnya Sa&#8217;d bin Sa&#8217;iid,  akan tetapi  Imam Muslim berhujjah dengan hadits yang diriwayatkannya karena nampak  bagi Imam Muslim bahwa Sa&#8217;d bin Sa&#8217;iid tidak salah dalam hadits yang ini  karena ada qorinah (indikasi yang menunjukan akan hal itu) dan adanya  mutaba&#8217;aat dan syawahid yang menunjukan akan tidak salahnya Sa&#8217;d bin  Sa&#8217;iid dalam hadits ini. Meskipun Sa&#8217;d bin Sa&#8217;iid telah dikenal  kesalahannya di selain hadits ini. Jadi kondisi seroang perawi yang  salah dalam suatu hadits tidaklah menghalangi untuk berhujjah dengannya  pada hadits yang nampak bahwasanya dia tidak salah (hapalannya) dalam  hadits tersebut. Dan inilah hukum banyak hadits-hadits yang terdapat  dalah shahih Al-Bukhari dan shahih Muslim yang dimana isnad-isnadnya ada  perawi yang diperbincangkan kredibiltasnya dari sisi hapalannya.  Sesungguhnya Imam Bukhari dan Imam Muslim tidaklah meriwayatkan  haditsnya kecuali setelah mendapatkan adanya mutaba&#8217;ah bagi perawi  tersebut&#8221; (Hasyiyah Sunan Abi Dawud, dicetak bersama &#8216;Aunul Ma&#8217;buud  7/90-91)</p>
<p><strong>Fiqh Hadits</strong></p>
<p>Maksud sabda Nabi -shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam-  كَصِيَامِ الدَّهْر  &#8220;Seperti puasa sepanjang masa&#8221; maksudnya  adalah puasa setahun penuh, karena kalau setiap tahun seseroang  berpuasa Ramadhan dan enam hari dibulan syawwal maka seakan-akan ia  berpuasa seumur hidupnya (lihat Adz-Dzakhiroh karya Al-Qoroofi 2/531).   Hal ini sebagaimana dijelasakan dalam lafal yang lain dari hadits yang  diriwayatkan dari sahabat Tsaubaan, dimana Nabi bersabda</p>
<p>من صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كان تَمَامَ السَّنَةِ { من جاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا</p>
<p><em>Barangsiapa yang puasa enam hari  setelah &#8216;idul fitri maka seperti berpuasa setahun penuh. Allah berfirman  &#8220;Barangsiapa yang memebawa satu kebaikan maka baginya 10 kali lipat  balasan kebaikan&#8221; (HR Ibnu Majah no 1715) </em></p>
<p>Dalam riwayat yang lain</p>
<p>مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدِ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ</p>
<p><em>Barangsiapa  yang berpuasa di bulan Ramadhan maka satu bulan mendapat ganjaran  sepuluh bulan, dan (ditambah) puasa enam hari setelah &#8216;iidul fitri maka  hal itu seperti puasa selama setahun penuh </em>(HR Ahmad 5/280 no 22465  dan An-Nasaai dal As-Sunan Al-Kubro no 2861, lihat juga hadits yang  diriwayatkan dari Abu Huroiroh sebagaiamana diriwayatkan oleh  At-Thobrooni dalam Al-Mu&#8217;jam Al-Aushoth 7/315 no 7607)</p>
<p>Bahkan dalam lafal yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (2/298 no 2115) lebih diperjelas lagi. Nabi bersabda</p>
<p>صِيَامُ رَمَضَانَ بِعَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ السِّتَّةِ أَيَّامٌ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ</p>
<p><em>Puasa  bulan Ramdhan ganjarannya seperti puasa sepuluh bulan dan puasa enam  hari seperti puasa selama dua bulan, maka semuanya seperti puasa selama  setahun penuh. </em></p>
<p>Maka sungguh besar ganjaran bagi orang  yang berpuasa penuh di bulan Ramadhan kemudian menyertakannya dengan  puasa enam hari di bulan syawaal, maka seakan-akan ia telah berpuasa  selama setahun penuh. Bahkan sebagian ulama Syafi&#8217;iyyah berpendapat  bahwa ganjarannya adalah seperti puasa wajib setahun penuh bukan puasa  sunnah (lihat Haasyiyah I&#8217;aanatut Thoolibiin 2/268)</p>
<p>Diantara  faedah penting dari puasa sunnah syawaal yaitu menyempurnakan kekurangan  yang ada di puasa fardu di bulan Ramadan. Nabi bersabda</p>
<p>أن أَوَّلَ ما يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ  الْمُسْلِمُ يوم الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ فَإِنْ أَتَمَّهَا  وَإِلَّا قِيلَ انْظُرُوا هل له من تَطَوُّعٍ فَإِنْ كان له تَطَوُّعٌ  أُكْمِلَتْ الْفَرِيضَةُ من تَطَوُّعِهِ ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ  الْأَعْمَالِ الْمَفْرُوضَةِ مِثْلُ ذلك</p>
<p><em>Sesungguhnya amalan  seorang hamba muslim yang pertama kali dihisab pada hari qiyamat adalah  sholat wajib. Jika sholatnya sempurna (maka akan dicatat pahalanya  sempurna) dan jika kurang maka dikatakan, &#8220;Lihatlah apakah hambaku punya  amalan-amalan sunnah?, kalau dia memiliki amalan-amalan sunnah maka  sempurnakanlah bagi hambaku amalan wajibnya dengan amalan sunnahnya&#8221;.  Dan demikian hal ini juga berlaku bagi seluruh amalan-amalan wajib </em>(HR Abu Dawud 1/229 no 864, Ibnu Majah 1/458 no 1425, dan AN-Nasa&#8217;i dalam sunannya 1/233 no 466)</p>
<p><strong>Cara berpuasa enam hari di bulan Syawwal</strong></p>
<p>Agar keutamaan puasa enam hari di bulan Syawaal bisa diraih maka ada dua hal yang hendaknya diketahui</p>
<p><strong>Pertama</strong> : Hendaknya puasa enam hari ini dikerjakan setelah selesai mengerjakan  puasa Ramadhan, maka jika ada hutang puasa di bulan Ramadhan maka  hendaknya diqodho terlebih dahulu. Maka tidak disyari&#8217;atkan puasa enam  hari di bulan Syawwal sebelum mengqodho hutang puasa Ramdhannya.</p>
<p>Hal ini karena dalam lafal hadits Nabi mengatakan</p>
<p>&#8220;Barangsiapa  yang berpuasa Ramdhan kemudian mengikutkannya dengan puasa enam hari di  bulan syawwal maka seperti puasa sepanjang masa&#8221;</p>
<p>Dan kalimat  (ثُمَّ) yang atrinya &#8220;Kemudian&#8221; menunjukan akan adanya tertib &#8220;urutan&#8221;.  Jadi puasa enam hari di bulan Syawaal tidaklah dikerjakan kecuali  setelah selesai mengerjakan puasa bulan Ramadhan. (lihat Majmu&#8217; Fatawa  wa Rosaail Syaikh Muhammad bin Sholeh al-&#8217;Utsaimin 20/18)</p>
<p>Bahkan  sebagian ulama memandang jika seseorang berbuka puasa di bulan Ramadhan  tanpa udzur maka tidak disyari&#8217;atkan baginya untuk berpuasa enam hari di  bulan Syawwal.</p>
<p>Ar-Romli berkata, &#8220;banyak ulama yang berpendapat  bahwa barangsiapa yang tidak berpuasa (penuh) di bulan Ramadhan karena  ada udzur atau karena safar, atau karena masih kecil (belum baligh) atau  karena gila atau karena kafir, maka tidak disunnahkan baginya untuk  berpuasa enam hari di bulan Syawwal. Abu Zur&#8217;ah berkata, &#8220;Namun yang  benar tidaklah demikian. Bahkan ia tetap mendapatkan asal pahala puasa  enam hari –meskipun tidak mendapatkan seperti pahala yang disebutkan di  hadits karena pahala tersebut diperoleh jika telah berpuasa Ramadhan  secara penuh. Dan jika ia berbuka puasa di bulan Ramadhan karena  melanggar (tanpa udzur) maka haram baginya untuk puasa enam hari di  bulan Syawwal&#8221; (Nihaayatul Muhtaaj 3/208)</p>
<p><strong>Kedua</strong> : Tidak mengapa dikerjakan secara berurutan atau terpisah-pisah.</p>
<p>Ibnu  Qudamah berkata, &#8220;Tidak ada bedanya antara dikerjakannya puasa enam  hari ini secara berurutan atau secara terpisah-pisah, baik di awal bulan  Syawwal ataukah di akhir bulan, karena hadits datang secara mutlaq&#8221;  (Al-Mughni 4/440)</p>
<p>Meskipun sebagian ulama memandang lebih utama  dikerjakan puasa enam hari tersebut secara berurutan dan langsung segera  setelah &#8216;iedul fithri karena hal ini merupakan bentuk kesegeraan dalam  beramal sholeh, dan juga jika diakhirkan akan dikawatirkan timbulnya  halangan-halangan (lihat Haasyiyah I&#8217;aantut Tholibiin 2/268, Mughniil  Muhtaaj 1/448, dan Majmu&#8217; Fatawa wa Rosaail Syaikh Muhammad bin Sholeh  al-&#8217;Utsaimin 20/18 )</p>
<p><strong>Khilaf Ulama</strong></p>
<p>Para  ulama telah berselisih apakah orang yang melaksanakan puasa enam hari  di selain bulan syawwal karena udzur atau karena hal yang lain juga akan  mendapatkan keutamaan yang sama seperti jika dikerjakan di bulan  syawwal?</p>
<p><strong>Pendapat pertama</strong> : Keutamaan puasa syawwal bisa  diperoleh dengan berpuasa enam hari tersebut di bulan syawwal dan juga  di bulan-bulan yang lainnya setelah syawwal, dan pahalanya tetap sama.  Dan ini adalah madzhab Malikiah.</p>
<p>Adapun penyebutan bulan syawwal dalam hadits dibawakan pada makna</p>
<p>Pertama :  hanya untuk meringankan dalam berpuasa.<br />
Al-Qoroofi  berkata, &#8220;Syari&#8217;at menentukan puasa enam hari dari bulan Syawwal untuk  keringanan bagi mukallaf karena masih dekat dengan puasa (bulan  Ramadhan). Namun tujuan tercapai meskipun puasanya di selain bulan  Syawwal&#8221; (Adz-Dzakhiiroh 3/530)</p>
<p>Berkata Mahmud &#8216;Ulaisy,  &#8220;Pengkhususan enam hari dari bulan Syawwal hanyalah untuk meringankan  dan memudahkan karena ringannya seseroang berpuasa di bulan Syawwal  karena sudah kebiasaan berpuasa di bulan Ramadhan&#8221; (Minahul Jalil Syarh  Mukhtasor Sayyid Kholil 2/121)</p>
<p>Kedua : Penyebutan Syawaal hanya  sebagai contoh saja, karena maksudnya adalah puasa enam hari seperti  puasa dua bulan, kapan saja enam hari tersebut dilakukan.</p>
<p>Ibnul  &#8216;Arobi berkata, &#8220;Meskipun seandainya puasa enam hari dikerjakan di  selain bulan Syawwal maka hukumnya sama. Nabi menyebutkan bulan Syawwal  bukan untuk penentuan waktu… akan tetapi hanya sebagai contoh saja&#8221;  (Ahkaamul Qur&#8217;an 2/321)</p>
<p>Pendapat kedua : Barangsiapa yang  berudzur sehingga tidak mampu untuk mengerjakan puasa enam hari di bulan  Syawwal maka boleh baginya untuk mengqodhonya di bulan Dzulqo&#8217;dah, akan  tetapi pahalanya lebih sedikit. Ini merupakan pendapat sebagian ulama  Syafi&#8217;iyyah.</p>
<p>Ad-Dimyaathi berkata, &#8220;Sabda Nabi &#8220;Seperti puasa  sepanjang tahun&#8221;, maksudnya adalah seperti pahala puasa wajib sepanjang  tahun. Kalau maksudnya bukan demikian maka tidak ada keistimewaan puasa  enam hari di bulan Syawwal, karena barangsiapa setelah berpuasa Ramadhan  lalu berpuasa enam hari di selain bulan Syawaal maka dia tetap akan  mendapatkan ganjaran puasa sepanjang tahun, karena setiap kebaikan  dibalas sepuluh kali lipatnya.</p>
<p>Intinya, barangsiapa yang setiap  tahun berpuasa enam hari di bulan syawwal beserta puasa bulan Ramdhan  maka dia seperti berpuasa wajib sepanjang masa… dan barang siapa yang  berpuasa enam hari di selain bulan Syawwal maka seperti puasa sunnah  sepanjang masa&#8221; (Haasyiyah I&#8217;aanatut Thoolibiin 2/268)</p>
<p>Pendapat  ketiga : Tidak diperoleh pahala puasa setahun kecuali bagi orang yang  berpuasa enam hari di bulan Syawwal. Ini adalah madzhab Hanabilah.</p>
<p>Berkata  Al-Bahuuti, &#8220;Dan tidak diperoleh fadhilah (keutamaan) puasa enam hari  tersebut jika dikerjakan di selain bulan Syawwal karena dzohirnya  hadits-hadits&#8221; (Kasyful Qinaa&#8217; 2/159)</p>
<p>Kesimpulan : Para ulama  berbeda pendapat tentang apakah diperbolehkan melaksanakan puasa enam  hari diselain bulan Syawaal dengan tetap mendapatkan keutamaannya?.</p>
<p>Namun  barangsiapa yang hanya bisa puasa tiga hari –misalnya- di bulan Syawaal  dan sisanya dia qodho di bulan Dzulqo&#8217;dah, atau sama sekali tidak bisa  mengejakan keenam harinya kecuali di bulan Dzulqo&#8217;dah karena ada udzur,  maka diharapkan ia juga mendapatkan pahala dan keutamaan puasa selama  setahun penuh.</p>
<p>Syaikh Al-&#8217;Utsaimin berkata, &#8220;Kita katakan kepada  orang yang wajib mengqodho puasa bulan Ramadhan, &#8220;Qodho&#8217;lah puasa  Ramadhanmu terlebih dahulu lalu kemudian berpuasalah enam hari di bulan  Syawwal !!&#8221;. Jika bulan Syawwal telah berakhir sebelum selesai berpuasa  enam hari, maka ia tidak mendapatkan keutamaan puasa Syawwal kecuali  jika dikarenakan adanya udzur sehingga ia mengakhirkan pelaksanaan puasa  Syawaal di luar bulan Syawwal&#8221; (lihat Majmu&#8217; Fatawa wa Rosaail Syaikh  Muhammad bin Sholeh al-&#8217;Utsaimin 20/18)</p>
<p><strong>Peringatan 1</strong></p>
<p>Sebagian  orang memandang bahwa puasa enam hari di bulan Syawwal adalah bid&#8217;ah.  Mereka berdalil dengan perkataan Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththo&#8217;  (1/311) tentang puasa enam hari setelah &#8216;iidul fitri : &#8220;Aku tidak  melihat seorangpun dari kalangan ahli ilmu dan ahli fiqh yang berpuasa  enam hari tersebut. Dan tidak sampai hal ini kepadaku dari seorangpun  dari kalangan salaf, dan sesungguhnya ahlul ilmi membenci hal ini,  mereka kawatir hal ini merupakan bid&#8217;ah dan mereka khawatir orang-orang  yang jahil akan mengikutkan puasa yang bukan bagian dari puasa Ramadhan   kepada puasa Ramadhan&#8221;</p>
<p>Para ulama mengomentari perkataan Imam Malik ini untuk menjawab maksud dari perkataan Imam Malik ini.<br />
Diantara komentar mereka adalah</p>
<p>Pertama  : Bisa jadi hadits tentang puasa enam hari di bulan Syawwal ini tidak  sampai kepada Imam Malik. Ibnu Abdil Barr berkata, &#8220;Mungkin saja Imam  Malik tidak mengetahui hadits ini. Kalau seandainya ia mengetahui hadits  ini tentu dia akan memandang disyari&#8217;atkannya puasa enam hari di bulan  Syawwal&#8221; ( Al-Istidzkaar 3/380). Kemungkinan inilah yang dikuatkan oleh  As-Syinqithi dalam Adhwaaul Bayaan (7/363) karena hal ini merupakan  dzohir dari perkataan Imam Malik &#8220;Dan tidak sampai hal ini kepadaku dari  seorangpun dari kalangan salaf &#8220;.</p>
<p>Kedua : Maksud dari Imam Malik  bukanlah membid&#8217;ahkan puasa enam hari di bulan Syawwal, akan tetapi  beliau tetap memandang disyari&#8217;atkannya puasa enam hari di bulan Syawaal  hanya saja beliau khawatir kalau dikerjakan puasa enam hari di bulan  Syawwal maka orang-orang yang bodoh akan menyangka bahwa puasa enam hari  tersebut termasuk rangkaian dari puasa bulan Ramdhan (lihat  Al-Istidzkaar 3/379)</p>
<p><strong>Peringatan 2 :</strong></p>
<p>Sebagian  orang memahami bahwa hadits ini menunjukan akan disyari&#8217;atkannya puasa  setiap hari selama setahun penuh (365 hari), karena Rasulullah  menyamakan orang yang berpuasa selama bulan Ramadhan dan ditambah enam  hari di bulan syawwal sama pahalanya seperti puasa selama setahun penuh.</p>
<p>Hal ini tidaklah tepat dari beberapa sisi;<br />
Pertama  : Hal ini tidaklah merupakan kelaziman, perumpamaan dengan sesuatu  perkara yang dipermisalkan tidak melazimkan bolehnya perkara tersebut.  (lihat fathul baari 4/223). Sebagai contoh dalam suatu Hadits Nabi  bersabda,</p>
<p>مَنْ صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قيام الليلة<br />
<em><br />
&#8220;Barangsiapa  yang sholat (Tarwih atau qiyamul lail) bersama imam sampai sang imama  selesai maka akan dicatat baginya pahala sholat semalam suntuk&#8221;. </em></p>
<p>Hadits ini tidaklah menunjukan akan  bolehnya sholat semalam suntuk dari ba&#8217;da isyaa&#8217; langsung hingga subuh  setiap hari tanpa tidur, karena Nabi telah menegur seorang sahabat yang  berkata, &#8220;Aku akan sholat malam terus dan tidak tidur&#8221;, dengan perkataan  beliau –shllallahu &#8216;alaihi wa salaam&#8221;, &#8220;Adapun aku maka aku sholat  malam dan aku tidur… dan barangsiapa yang benci dengan sunnahku maka  bukan dari golonganku&#8221;</p>
<p>Kedua : Puasa dahr (setahun penuh  tanpa berbuka) menyelisihi petunjuk Nabi. Nabi pernah menegur seseorang  yang berkata, &#8220;Aku akan berpuasa terus tanpa berbuka&#8221; dengan perkataan  beliau –shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, &#8220;Aku puasa dan aku berbuka… dan  barangsiapa yang benci dengan sunnahku maka bukan dari golonganku&#8221;</p>
<p>Ketiga : Nabi bersabda kepada Abdullah bin &#8216;Amr,</p>
<p>صُم يوماً وأفطر يوماً، فذلك صيام داود عليه السلام، وهو أفضل الصيام<br />
<em><br />
&#8220;Puasalah sehari dan berbukalah sehari, itulah puasa Nabi Dawud –&#8217;alaihis salam- dan ini adalah puasa yang paling afdhol&#8221; </em></p>
<p>Hadits ini menunjukan bahwa puasa Dawud  adalah yang paling utama bukan puasa dahr, kalau puasa dahr  disyari&#8217;atkan tentunya puasa dahrlah yang lebih afdhol</p>
<p>Keempat : Sabda Nabi yang tegas, لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَدَ &#8220;Tidaklah berpuasa orang yang puasa selama-lamanya&#8221;</p>
<p>Kelima  : Puasa dahr bertentangan dengan agama islam yang memperhatikan  keseimbangan dan perhatian terhadap hak tubuh dan hak keluarga,  sebagaimana perkataan Salman kepada Abu Ad-Dardaa&#8217; dan perkataannya ini  dibenarkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alihi wa sallam</p>
<p>إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حقًَّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حقًّا، وَلأهْلِكَ عَلَيْكَ حقاً، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ</p>
<p><em>Sesungguhnya  Robmu memliki hak yang harus engkau tunaikan, edmikian juga dirimu  punya hak, keluargamu juga punya hak, maka berikanlah kepada setiap yang  memiliki hak haknya</em> (Lihat Minhatul &#8216;Allaam syarh Bulugul Maroom 1/91)<br />
<strong>Kota Nabi 28 Ramadhan 1431 H (7 september 2010)<br />
</strong></p>
<p><strong>Di susun oleh Abu Abdil Muhsin Firanda</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://firanda.com/undefined/">www.firanda.com</a></strong><br />
<strong>Kitab-kitab rujukan</strong></p>
<ol>
<li>Rof&#8217;ul isykaal &#8216;an shiyaami sittah min syawwal, Abu Sa&#8217;iid  Sholaahuddiin Kholil bin Kaykaldi al-&#8217;alaai asy-Syaafi&#8217;i, tahqiq Sholaah  bin &#8216;Aayidl, Daar Ibni Hazm, cetakan pertama (1415 H-1994 M)</li>
<li>Taqriib at-Tahdziib, Ibnu Hajr al-&#8221;asqolaani, tahqiq Abul Asybaal, Daarul &#8216;Aashimah</li>
<li>Tahdziib At-Tahdziib, Ibnu Hajr al-&#8217;Asqolaani, tahqiq Ibrahim Az-Zaibaq  dan &#8216;Aadil Mursyid, Muassasah Ar-Risaalah, cetakan pertama (1416 H-1996  M)</li>
<li>Al-&#8217;Ilal Al-Waaridah fi Al-Ahaadiits An-Nabawiyyah,  Ad-Daaruquthni, tahqiq Mahfuudzurrohmaan As-Salafi, Daar Thoibah,  cetakan pertama (1405 H-1985 M)</li>
<li>Al-Mughni, Ibnu Qudamah,  tahqiq : Doktor Abdulloh bin Abdilmuhsin At-Turki dan Doktor Abdul  Fattah Muhammad, Daar &#8216;Aalamul Kutub, cetakan ketiga (1417 H-1997 M)</li>
<li>Kasyful Qinaa&#8217; &#8216;an matnil Iqnaa&#8217;, Manshur bin Yunus bin Idris  Al-bAhuuti, tahqiq : Muhamad Amiin Ad-Dlinnaawi, &#8216;Aalam al-Kutub,  cetakan pertama (1417 H-1997 M)</li>
<li>Adhwaaul Bayaan fi  iidhoohil Qur&#8217;an bil Qur&#8217;an, Muhammad Al-Amiin As-Syinqiithi, tahqiq :  Maktab al-buhuuts wad diroosaat, Daarul Fikr</li>
<li>Al-Istidzkaar Al-Jaami&#8217; li madzaahibi fuqohaail Amshoor, Abu Umar Yusuf  bin Abdillah bin Abdil Barr An-Namari Al-Qurthubi, tahqiq : Salim  Muhammad &#8216;Athoo dan Muhammad Ali Mua&#8217;wwadh, Darul Kutub al-Ilmiyyah</li>
<li>Majmu&#8217; Fatawa wa Rosaail Syaikh Muhammad bin Sholeh al-&#8217;Utsaimin, jam&#8217;  wa tartiib : Fahd bin Naashir bin Ibroohiim As-Sulaimaan, Daar  At-Tsuroyyaa</li>
<li>Adz-Dzakhiiroh, Syihaabuddin Ahmad bin Idris Al-Qoroofi, tahqiq : Muhammad Hujai, Daarul Gorb (1994 M)</li>
<li>Hasyiyah I&#8217;aanatit Thoolibiin &#8216;ala hilli Alfaadz Fathil Mu&#8217;iin li Syarh  Qurrotil &#8216;Ain bi Muhimmaatid Diin, Muhammad Syathoo Ad-Dimyaathi,  Daarul Fikr</li>
<li>Fathul Baari bi Syarh Shahihil Bukhari, Ibnu Hajr Al-&#8217;Asqolaani, tahqiq Muhibbuddiin Al-Khothiib, Daarul Ma&#8217;rifah</li>
<li>Nihaayatul Muhtaaj ilaa syarhil Minhaaj, Ar-Romli, Daarul Fikr (1404 H-1984 M)</li>
<li>Minahul Jalil Syarh Mukhtasor Sayyid Kholiil, Muhammad &#8216;Ulaisy, Daarul Fikr (1409 H-1989 M)</li>
<li>Ahkaamul Qur&#8217;an, Abu Bakr Muhammad bin Abdillah bin Al-&#8217;Arobi, tahqiq : Muhammad bin Abdil Qoodir &#8216;Atoo, Daarul Fikr</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/puasa-6-hari-syawwal.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haba&#8217;ib Serukan Tinggalkan Perayaan Maulid!</title>
		<link>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 07:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Haba'ib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasululllah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1957</guid>
		<description><![CDATA[Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawanafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara yang menyelisih syari&#8217;at,yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhabaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhabaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah  untuk tidak memperturuti hawanafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka  sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara  yang menyelisih syari&#8217;at,yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati  oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah  penyimpangan, dan tidak sesuai dengan <em>Maqasidu asy-Syar&#8217;I al-Muthahhar</em> (tujuan-tujuan syari&#8217;at yang suci) untuk menjadikan ittiba&#8217; (mengikuti)  kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sebagai standar utama yang  dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan  (ibadah)mereka.</p>
<p><span id="more-1957"></span></p>
<p>Dalam sebuah pernyataan yang dilansir &#8221;  Islam Today &#8220;, para Habaib berkata, &#8220;Bahwa Kewajiban Ahlul Bait  (Keturunan Rasulullah) adalah <strong>hendaklah mereka menjadi orang yang paling  yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em></strong>,  mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta  yang sebenarnya (terhadap beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, red.),  serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari&#8217;at  Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan <strong>cinta yang  hakiki pasti akan menyeru Ittiba&#8217; yang benar</strong>.&#8221;</p>
<p>Mereka (Para  Habaib) menambahkan, &#8220;Di antara fenomena yang menyakitkan adalah  terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang mulia (AhlulBait) dalam berbagai macam penyimpangan syari&#8217;at, dan  pengagungan terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang tidak pernah dibawa oleh  al-Habibal-Mushtafa <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Dan di antara  syiar-syiar tersebut adalah <strong>bid&#8217;ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih  cinta</strong>.</p>
<p>Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa  yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> adalah karena hal itu dapat menyebabkan  pengkultusan terhadap beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang beliau  sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan  lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits  yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu  <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang  berlebihin seperti ini, dengan sabdanya:</p>
<p><em>Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam</em>. (HR. al-Bukhari)</p>
<p>Sedangkan  seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada  as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan,</p>
<p>&#8220;Bahwa  <strong>perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah  dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan  tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Baityang  mulia</strong>, seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali ZainalAbidin,  Ja&#8217;far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat  Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam &#8220;Radhiyallahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>-begitu  pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi&#8217;in.</p>
<p>Para  Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait,</p>
<p>Wahai Tuan-tuan Yang  terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya  kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif  (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em>, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah  sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang  dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari&#8217;at  tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang  ditolak oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihiwasallam</em>:</p>
<p><em>Barangsiapa mengada-adakan sesuatu  yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di  dalamnya, maka ia tertolak</em>. (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berikut  ini adalah teks pernyataannya:</p>
<p><strong>Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu  Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>) tentang Peringatan/ perayaan  Maulid Nabi.</strong></p>
<p>Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di  atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini  (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syari&#8217;at yang beliau bawa  adalah syari&#8217;at yang paling sempurna, Allah <em>Ta&#8217;ala</em>berfirman:</p>
<p><em>Pada hari  ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah  Ku-cukupkankepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi  agamamu.</em> (QS. Al Ma&#8217;idah:3)</p>
<p>Dan meyakini (mengimani) bahwa  mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> merupakan keyakinan  atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah  <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p><em>Tidak sempurna iman salah  seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya,  anaknya, dan semua manusia</em>. (HR. al-Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Beliau  adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja  anak-cucu Adam, Imam Para Nabijika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka  jika mereka diutus, si empu Tempat yang Mulia, Telaga yang akan  dikerumuni (oleh manusia), si empu bendera pujian, pemberi syafa&#8217;at  manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya  menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri  teladan yang baik bagimu(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah  dan (kedatangan) harikiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>. (QS.  al-Ahzab: 21)</p>
<p>Dan di antara kecintaan kepadabeliau adalah  mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p><em>Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Maka  Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah <strong>hendaklah  mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah  Beliau</strong> <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>, mengikuti petunjuknya, dan wajib  atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau  <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>, red.), serta menjadi manusia yang paling  menjauhi hawa nafsu. Karena Syari&#8217;at datang untuk menyelisihi penyeru  hawa nafsu, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Maka demi Rabbmu, mereka (pada  hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam  perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa  keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan  mereka menerima dengan sepenuhnya</em>. (QS. An-Nisa&#8217;: 65)</p>
<p>Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru Ittiba&#8217; yang benar. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Katakanlah:&#8221;Jika kamu  (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi  dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang</em>.  (QS. Ali &#8216;Imran: 31)</p>
<p>Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi  kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlulbait) haruslah  sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan  tidak menyalahi atau menyelisinya.</p>
<p>Dan di antara fenomena  menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> pandangannya  dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang  kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk  keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya  sebagian anak-cucu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang mulia  (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari&#8217;at, dan  pengagungan terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang tidak pernah dibawa oleh  <em>al-Habib al-Mushtafa Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Dan di  antara syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk  moyang kami Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> tersebut adalah <strong>bid&#8217;ah  peringatan Maulid Nabi</strong> dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan  sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan  <em>Maqasidu asy-Syar&#8217;Ial-Muthahhar</em> (tujuan-tujuan syari&#8217;at yang suci)  untuk menjadikan <em>ittiba&#8217;</em> (mengikuti) Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam  segala sikapdan perbuatan (ibadah) mereka.</p>
<p>Karena  kecintaan kepada beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> mengharuskan  ittiba&#8217; (mengikuti) beliau <em>Shallalllahu &#8216;alaihi wasallam</em> secara lahir dan  batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan  mengikuti beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, bahkan mengikuti  (ittiba&#8217;) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan  orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba&#8217;) adalah komitmen  dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan  hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian  terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta  menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syari&#8217;at Islam.</p>
<p>Dan  di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi  adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang beliau sendiri tidak membolehkannya,  bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa  peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan  aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan  seperti ini, dengan sabdanya:</p>
<p><em>Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.</em> (HR. al-Bukhari)</p>
<p>Maka  bagaimana dengan faktanya,sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi  dengan lafazh-lafazh bid&#8217;ah,dan istighatsah-istighatsah syirik.</p>
<p>Dan  <strong>perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah  dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi</strong> <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan  tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait  yang mulia, seperti &#8216;Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal  Abidin, Ja&#8217;far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para  Sahabat Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam –Radhiyallahu &#8216;anhum  ajma&#8217;in</em>—begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para  tabi&#8217;in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun  dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.</p>
<p>Jika  ini tidak dikatakan bid&#8217;ah,lalu apa bid&#8217;ah itu sebenarnya? Dan  Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan  terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa  pengecualian di dalamnya:</p>
<p><em>Semua bid&#8217;ah itu sesat</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Wahai Tuan-tuan Yang terhormat!</p>
<p>Wahai  sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asalusul/  nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan <em>taklif</em> (pembebanan),yakni  melaksanakan sunnah Rasululullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>,dan  berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan  menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya.</p>
<p>Dan karena  mengikuti apa yangtidak dibolehkan oleh syari&#8217;at tidak mendatangkan  kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah  <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wasallam</em>:</p>
<p><em>Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam  urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia  tertolak</em>. (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)!</p>
<p>Jangan  kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan  kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak  mengajarkan petunjuk beliau!</p>
<p>DemiAllah, tidak seorangpun  di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata  karena kedekatan kalian dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p><strong>Ini  merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan  kebaikan bagi kalian</strong>, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah  lelulur kalian dengan meninggalkan bid&#8217;ah dan seluruh yang tidak  diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan  agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda:</p>
<p><em>Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Yang menanda tangan risalah di atas yaitu:</p>
<p>1. <em>Habib Syaikh</em> Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial Adhdhamir al-Khairiyah di Traim)</p>
<p>2. <em>Habib Syaikh</em> Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari&#8217;ah di SMP dan Khatib di Abu &#8216;Uraisy)</p>
<p>3. <em>Habib Syaikh</em> Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.</p>
<p>4. <em>Habib Syaikh</em> Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum &#8216;Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima&#8217;I di Ghail Bawazir)</p>
<p>5.<em>Habib  Syaikh</em> Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing  al-Maktabat-Ta&#8217;awuni Li ad-Da&#8217;wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan  Imam serta Khatib di Kharj).</p>
<p>6.<em>Habib Syaikh</em> Abdullah bin Faishal  al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmahal-Khairiyah, dan Imam serta Khatib  Jami&#8217; ar-Rahmah di Syahr).</p>
<p>7.<em>Habib Syaikh</em> DR. &#8216;Ishom bin Hasyim  al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari&#8217;ah Jurusan Ekonomi Islam di  Universitas Ummu al-Qurra&#8217;, Imam dan Khotib di Mekkah).</p>
<p>8. <em>Habib Syaikh</em> &#8216;Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi&#8217; ad-Durar as-Saniyah)</p>
<p>9. <em>Habib Syaikh</em> Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi&#8217; ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).</p>
<p>10.<em>Habib Syaikh</em> Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajrial-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami&#8217; ar-Rahman di al-Mukala).</p>
<p>11. <em>Habib Syaikh</em> Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)</p>
<p>12.<em>Habib  Syaikh</em> DR. Hasyim bin &#8216;Ali al-Ahdal (Prof di Universitas UmmulQurra&#8217; di  Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta&#8217;limu al-Lughah al-&#8217;Arabiyah LiGhairi  an-Nathiqin Biha).</p>
<p>sumber: Milis As-Sunnah</p>
<p>Dikutip dari note fb <strong>Surya Noor Rahmatullah</strong>, <em>jazahullahu khairan</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudah Benarkah Arah Kiblat Kita?</title>
		<link>http://abumushlih.com/sudah-benarkah-arah-kiblat-kita.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sudah-benarkah-arah-kiblat-kita.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 06:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[Kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[Polemik Kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1787</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz M. Abduh Tuasikal -hafizhahullah- Di tengah sebagian kalangan, baru-baru ini terlihat perdebatan mengenai masalah kiblat. Terutama ketika Majelis Ulama Indonesia pada tahun ini mengeluarkan fatwa mengenai arah kiblat bahwa arahnya cukup ke barat saja tanpa mesti serong ke &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sudah-benarkah-arah-kiblat-kita.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsudah-benarkah-arah-kiblat-kita.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsudah-benarkah-arah-kiblat-kita.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">Oleh <strong>Ustadz M. Abduh Tuasikal</strong> -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah sebagian kalangan, baru-baru  ini terlihat perdebatan mengenai masalah kiblat. Terutama ketika Majelis  Ulama Indonesia pada tahun ini mengeluarkan fatwa mengenai arah kiblat  bahwa arahnya cukup ke barat saja tanpa mesti serong ke utara beberapa  derajat. Melihat fatwa ini sebagian orang menyatakan tanda tidak setuju  dengan fatwa tersebut. “<em>Arah kiblat kita sekarang tidak menghadap  persis ke ka’bah, malah arahnya ke Brasil dan bukan ke Ka’ bah</em>”,  ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1787"></span>Pada edisi Buletin At Tauhid kali ini,  kami ingin mengutarakan bagaimanakah pendapat para pakar fikih mengenai  masalah ini. Tentu saja pendapat yang mereka bangun adalah berdasarkan  dalil, bukan hanya sekedar akal-akalan atau logika semata yang kosong  dari dalil. Semoga penjelasan kali ini dapat memberikan sedikit titik  terang dari polemik yang ada. <em>Hanya Allah yang beri taufik.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menghadap Kiblat Merupakan  Syarat Sah Shalat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menghadap kiblat merupakan syarat sah  kiblat, hal ini berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama[1]. Ibnu  Qudamah <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Menghadap kiblat merupakan  syarat sah shalat, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah.”[2]  Dalilnya adalah firman Allah <em>Ta’ala</em><em> </em>(yang artinya),   “<em>Palingkanlah  mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada,  palingkanlah mukamu ke arahnya.</em>” (QS. Al Baqarah: 144).</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda kepada orang yang jelek shalatnya, “<em>Jika engkau  hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah  ke kiblat, kemudian bertakbirlah.</em>” (HR. Bukhari no. 6251 dan  Muslim no. 912). An Nawawi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Hadits ini  mengandung faedah yang amat banyak. Perlu diketahui bahwa hadits ini  menerangkan mengenai kewajiban-kewajiban dalam shalat dan bukanlah  sunnah.” Beliau melanjutkan, “Hadits ini menunjukkan tentang wajibnya  thoharoh (bersuci), <span style="text-decoration: underline;">menghadap  kiblat</span>, takbirotul ihrom dan membaca Al Fatihah.”[3]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yang Mendapat <em>Udzur</em> (Keringanan) Tidak Menghadap Kiblat</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kita sudah ketahui bersama bahwa  menghadap kiblat adalah di antara syarat sah shalat. Namun ada beberapa  keadaan yang dibolehkan seseorang tidak menghadap kiblat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Tidak mampu menghadap kiblat, seperti orang  sakit sehingga tidak mampu mengarahkan badannya ke arah kiblat. “<em>Bertakwalah  pada Allah semampu kalian.</em>” (QS. At Taghobun: 16)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Orang yang samar baginya arah kiblat, ia sudah  berusaha mencari, namun ia shalat menghadap ke arah lainnya.  Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar, beliau berkata, “<em>Ketika  orang-orang shalat subuh di Quba’, tiba-tiba datang seorang laki-laki  dan berkata, “Sungguh, tadi malam telah turun ayat kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau diperintahkan untuk menghadap ke  arah Ka’bah. Maka orang-orang yang sedang shalat berputar menghadap  Ka’bah, padahal pada saat itu wajah-wajah mereka sedang menghadap negeri  Syam. Mereka kemudian berputar ke arah Ka’bah.</em>” (HR. Bukhari no.  403 dan Muslim no. 526). Riwayat ini menunjukkan bahwa ketika di  pertengahan shalat sudah diketahui arah kiblat sebenarnya, maka  hendaklah ketika itu ia menghadap ke arah tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Keadaan sangat takut ketika menghadapi musuh  atau semacamnya. Dalilnya adalah firman Allah <em>Ta’ala </em>(yang  artinya), “<em>Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah  sambil berjalan atau berkendaraan</em>.” (QS. Al Baqarah: 239).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>: Bagi musafir yang melaksanakan shalat sunnah  di atas kendaraan boleh baginya tidak menghadap kiblat ketika ada udzur  saat itu. Ibnu ‘Umar berkata, “<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan dengan  menghadap arah yang dituju kendaraan dan juga beliau melaksanakan witir  di atasnya. Dan beliau tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas  kendaraan</em>.” (HR. Bukhari no. 1098 dan Muslim no. 1652)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cara Menghadap Kiblat Ketika  Melihat Ka’bah Secara Langsung</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menghadap kiblat ada dua keadaan:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>ketika melihat ka’bah secara langsung,</li>
<li>ketika tidak melihat ka’bah secara langsung.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang  melihat ka’bah secara langsung, wajib baginya menghadap persis ke  Ka’bah dan tidak boleh dia berijtihad untuk menghadap ke arah lain. Ibnu  Qudamah Al Maqdisi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Jika seseorang  langsung melihat ka’bah, wajib baginya menghadap persi ke arah ka’bah.  Kami tidak mengetahui adanya perselisihan ulama mengenai hal ini. Ibnu  ‘Aqil mengatakan,”<em>Jika melenceng sebagian dari yang namanya Ka’bah,  shalatnya tidak sah</em>”.”[4]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika Tidak Melihat Ka’bah Secara  Langsung</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam <em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al  Kuwaitiyah</em> dikatakan bahwa para ulama berselisih pendapat bagi  orang yang tidak melihat ka’bah secara langsung karena tempat yang jauh  dari Ka’bah. Yang mereka perselisihkan adalah apakah orang yang tidak  melihat ka’bah secara langsung wajib baginya menghadap persis ke ka’bah  ataukah menghadap ke arahnya saja (melenceng sedikit tidak mengapa,  pen).[5]</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat ulama Hanafiyah, pendapat yang  terkuat pada madzhab Malikiyah dan Hanabilah, juga hal ini adalah  pendapat Imam Asy Syafi’i (sebagaimana dinukil dari Al Muzaniy), mereka  mengatakan bahwa bagi orang yang berada jauh dari Makkah, cukup baginya  menghadap ke arah ka’bah (tidak mesti persis ke Ka’bah).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalil dari pendapat pertama ini adalah  ayat (yang artinya), “<em>Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah  mukamu ke arahnya</em>.” (QS. Al Baqarah: 144). Menurut pendapat pertama  ini, mereka menafsirkan “<em>syatro</em>” dalam ayat tersebut dengan  arah yaitu arah ka’bah. Jadi bukan yang dimaksud persis menghadap ke  ka’bah namun cukup menghadap arahnya, yaitu cukup menghadap ke arah  barat sudah dikatakan menghadap kiblat.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama tersebut juga berdalil dengan  hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang ditujukan pada  penduduk Madinah, “<em>Arah antara timur dan barat adalah qiblat.</em>”  (HR. Ibnu Majah no. 1011 dan Tirmidzi no. 342. Tirmidzi mengatakan  hadits ini <em>hasan</em> <em>shohih</em>[6]). Hadits ini berlaku bagi  penduduk Madinah, di mana arah kiblat mereka adalah antara timur dan  barat. Maksudnya, bagi siapa saja yang tidak melihat ka’bah secara  langsung, maka dia cukup menghadap ke arahnya saja. Seperti kita kaum  muslimin di Indonesia berarti menghadap ke arah antara utara dan  selatan, itulah arah kiblat. Jadi cukup kita menghadap ke arahnya saja  (yaitu cukup ke arah barat) dan tidak mengapa melenceng atau tidak  persis ke arah ka’bah.[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Ulama besar Saudi Arabia, Syaikh  Muhammad bin Sholih Al Utsaimin<em> rahimahullah</em> berkata, “Bergeser  sedikit dari arah kiblat tidaklah mengapa kecuali jika seseorang berada  di Masjidil Haram.  Masjidil Haram adalah kiblat bagi orang yang shalat  di sana yaitu langsung menghadap ke Ka’bah. Oleh karena itu, para ulama  mengatakan: Barangsiapa memungkinkan menyaksikan Ka’bah, maka wajib  baginya untuk menghadap langsung ke Ka’bah. Dan apabila seseorang yang  hendak shalat di Masjidil Haram hanya menghadap ke arah Ka’bah dan tidak  menghadap persis ke Ka’bah maka dia wajib mengulangi shalatnya karena  shalat yang dia lakukan tidak sah. Hal ini berdasarkan firman Allah <em>‘azza  wa jalla</em> (yang artinya), “<em>Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil  Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya</em>.”  (QS. Al Baqarah: 144)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, apabila seseorang berada jauh  dari Ka’bah dan tidak mungkin dia melihat (menyaksikan) Ka’bah secara  langsung walaupun dia masih berada di kota Mekkah, maka wajib baginya  untuk menghadap ke arah Ka’bah dan tidak mengapa kalau bergeser sedikit.  Hal ini dapat dilihat pada sabda beliau<em> shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> kepada penduduk Madinah,  “<em>Arah antara timur dan barat  adalah kiblat.</em>” Dikatakan demikian karena penduduk Madinah  menghadap kiblat ke arah selatan. Maka setiap arah yang antara Barat dan  Timur maka bagi mereka adalah kiblatnya. Begitu juga dikatakan kepada  orang yang shalat menghadap ke Barat (seperti yang berada di Indonesia,  pen) bahwa arah yang berada antara selatan dan utara adalah kiblat.”[8]</p>
<p style="text-align: justify;">Dari penjelasan ini dapat kita katakan:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>jika kita melihat ka’bah secara langsung, maka kita punya kewajiban  untuk menghadap ke arah ka’bah persis, tanpa boleh melenceng;</li>
<li>namun jika kita berada jauh dari Ka’bah, maka kita cukup menghadap  ke arahnya saja, seperti di negeri kita cukup menghadap ke arah barat  yaitu arah antara utara dan selatan.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sekarang masalahnya, apakah boleh kita  –yang berada di Indonesia- menghadap ke barat lalu bergeser sedikit ke  arah utara? Jawabannya, selama itu tidak menyusahkan diri, maka itu  tidak mengapa. Karena arah tadi juga arah kiblat. Bahkan kami katakan  agar terlepas dari perselisihan ulama, cara tersebut mungkin lebih baik  selama kita mampu melakukannya dan tidak menyusah-nyusahkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun jika merasa kesulitan mengubah  posisi kiblat, karena masjid agak terlalu jauh untuk dimiringkan dan  sangat sulit bahkan kondisi masjid malah menjadi sempit, selama itu  masih antara arah utara dan selatan, maka posisi kiblat tersebut  dianggap sah. Akan tetapi, jika mungkin kita mampu mengubah arah kiblat  seperti pada masjid yang baru dibangun atau untuk tempat shalat kita di  rumah, selama itu tidak ada kesulitan, maka lebih utama kita merubahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika ada yang mengatakan, “<em>Kami  tetap ngotot, untuk meluruskan arah kiblat walaupun dengan penuh  kesulitan.</em>” Maka cukup kami kemukakan perkataan Ash Shon’ani, “Ada  yang mengatakan bahwa kami akan pas-pasin arah kiblat persis ke ka’bah.  Maka kami katakan bahwa hal ini terlalu menyusahkan diri dan seperti ini  tidak ada dalil yang menuntunkannya bahkan hal ini tidak pernah  dilakukan oleh para sahabat padahal mereka adalah sebaik-baik generasi  umat ini.[9] Jadi yang benar, kita cukup menghadap arahnya saja, walau  kita berada di daerah Mekkah dan sekitarnya (yaitu selama kita tidak  melihat Ka’bah secara langsung).”[10]</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi intinya, jika memang penuh  kesulitan untuk mengepas-ngepasin arah kiblat agar persis ke Ka’bah maka  janganlah menyusahkan diri. Namun, jika memang memiliki kemudahan, <em>ya  silakan</em>. Tetapi ingatlah bertakwalah kepada Allah semampu kalian.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Diperkuat Lagi dengan Fatwa MUI</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Majelis Ulama Indonesia (MUI)  mengeluarkan fatwa terkait arah kiblat sebagai konsekuensi dari  pergeseran lempeng bumi. Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (22/3),  MUI menegaskan pergeseran tersebut tak mempengaruhi arah kiblat. Untuk  itu, MUI mengingatkan umat Islam agar tak perlu bingung dengan arah  kiblat. Terlebih, dengan mengubah bahkan membongkar masjid atau musholla  agar mengarah ke kiblat.</p>
<p style="text-align: justify;">Konferensi pers tersebut disampaikan  oleh Ketua MUI Drs. H. Nazri Adlani, didampingi Sekretaris MUI Dr. H  Amrullah Ahmad, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Prof. Dr. KH Ali Mustafa  Yaqub, MA, dan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Drs. H. Aminudin Yakub,  MA.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang diktum dari fatwa MUI No. 03  Tahun 2010 tentang Kiblat disebutkan, pertama, tentang ketentuan hukum.  Dalam kententuan hukum tersebut disebutkan bahwa: (1) Kiblat bagi orang  shalat dan dapat melihat ka’bah adalah menghadap ke bangunan Ka’bah  (ainul ka’bah), (2) Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat  melihat Ka’bah adalah arah Ka’bah (jihat al-Ka’bah), (3) Letak georafis  Indonesia yang berada di bagian timur Ka’bah/Mekkah, maka kiblat umat  Islam Indonesia adalah menghadap ke arah barat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, rekomendasi. MUI merekomendasikan  agar bangunan masjid/mushalla di Indonesia sepanjang kiblatnya  menghadap kea rah barat, tidak perlu diubah, dibongkar, dan  sebagainya.[11]</p>
<p style="text-align: justify;">Fatwa MUI ini menindaklanjuti beredarnya  informasi di tangah masyarakat mengenai adanya ketidakakuratan arah  kiblat di sebagian masjid atau musala di Indonesia, berdasarkan temuan  hasil penelitian dan pengukuran dengan menggunakan metode ukur satelit.  Atas informasi tersebut masyarakat resah dan mempertanyakan hukum arah  kiblat. Sehingga komisi fatwa MUI memandang perlu menetapkan fatwa  tentang arah kiblat untuk dijadikan pedoman bagi masyarakat, demikian  tercantum dalam Fatwa yang ditanda tangani oleh Ketua Muhammad Anwar  Ibrahim dan sekretaris Hasanudin itu.[12]</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian penjelasan dari redaksi At  Tauhid mengenai arah kiblat. Semoga yang singkat ini bisa membuka wacana  keilmiahan kaum muslimin sehingga bisa mengetahui manakah maksud para  ulama dengan arah kiblat. <em>Wallahu a’lam bish showab.</em><em> </em>“<em>Aku  tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih  berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan  (pertolongan) Allah</em>” (QS. Hud: 88). [Muhammad Abduh Tuasikal]</p>
<p style="text-align: justify;">_____________</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu  Malik, 1/303, Al Maktabah At Taufiqiyah.<br />
[2] Al Mughni, Ibnu Qudamah, 1/490, Darul Fikr, 1405.<br />
[3] Lihat Al Minhaj Syarh Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An  Nawawi, 4/107, Dar Ihya’ At Turots, 1392.<br />
[4] Al Mughni, 1/490.<br />
[5] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 2/11816, Asy Syamilah.<br />
[6] Dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholi dan Misykatul  Mashobih bahwa hadits ini <em>shohih</em>.<br />
[7] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 2/1119.<br />
[8] Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al  Utsaimin, hal. 551, Darul Aqidah.<br />
[9] Sebagaimana dijelaskan dalamm Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts  Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, fatwa no. 4254 bahwa dahulu para ulama juga bisa  menentukan arah kiblat yang pas menghadap ka’bah sebelum adanya  peralatan canggih seperti saat ini. Mereka dahulu mengukur arah kiblat  dengan rasi bintang, terbit dan tenggelamnya rembulan, dan bisa pula  dengan melihat waktu terbit dan tenggelamnya matahari, atau dengan  memperhatikan fenomena-fenomena alam yang lainnya. Kami katakan, “Jadi  jangan disangka bahwa perhitungan arah kiblat baru ada saat ini. Namun  sejak dahulu sejak dikenalnya ilmu falak.”<br />
[10] <em>Subulus Salam Syarh Bulughul Marom</em>, Muhammad bin Isma’il  Ash Shon’ani, 1/397, Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, 1427.<br />
[11]Sumber:<a href="http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=147:fatwa-tentang-arah-kiblat&amp;catid=1:berita-singkat&amp;Itemid=50" target="_blank">http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=147:fatwa-tentang-arah-kiblat&amp;catid=1:berita-singkat&amp;Itemid=50</a><br />
[12] Sumber: <a href="http://www.sulut.depag.go.id/index.php?a=detilberita&amp;id=2277" target="_blank">http://www.sulut.depag.go.id/index.php?a=detilberita&amp;id=2277</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: <a href="http://buletin.muslim.or.id" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sudah-benarkah-arah-kiblat-kita.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Beribadah Di Area Pekuburan</title>
		<link>http://abumushlih.com/larangan-beribadah-di-area-pekuburan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/larangan-beribadah-di-area-pekuburan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 17:07:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1702</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Nida` Chomsaha Sofwan, Lc. -hafizhahullah- Di dalam al Qur`an, Allah telah menyifati Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa salllam dengan banyak sifat terpuji. Di antaranya, Allah menyifati beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai seorang yang sangat menginginkan keimanan dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/larangan-beribadah-di-area-pekuburan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-beribadah-di-area-pekuburan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-beribadah-di-area-pekuburan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh<br />
<strong>Ustadz Abu Nida` Chomsaha Sofwan, Lc.</strong> -<em>hafizhahullah-</em></p>
<p>Di dalam al Qur`an, Allah telah menyifati Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi  wa salllam</em> dengan banyak sifat terpuji. Di antaranya, Allah menyifati  beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai seorang yang sangat  menginginkan keimanan dan keselamatan umat ini, dan amat belas kasihan  lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Salah satu bentuk  kesempurnaan keinginan beliau n yang kuat agar umatnya beriman dan  selamat adalah, beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memperingatkan  ummatnya dari segala sarana yang dapat menggiring kepada kesyirikan, dan  menutup seluruh celah yang dapat mengantarkan kepada perbuatan syirik.  Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> benar-benar bersikap keras dan  tegas dalam masalah syirik. Bahkan, khawatir dianggap luput menekankan  bahayanya, perihal syirik ini masih juga dijelaskan saat beliau  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah mendekati masa-masa sakaratul maut.</p>
<p><span id="more-1702"></span>Salah satu sarana dan celah yang dapat mengantarkan kepada perbuatan  syirik, yaitu beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shalih.  Perbuatan ini telah menjadi fenomena yang telah lama ada, dan bahkan  menjadi kebiasaan sebagian besar kaum muslimin di negeri ini. Bahkan  bukan lagi beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shalih tersebut,  tetapi telah beribadah kepada orang shalh yang menghuni kuburan  tersebut. Kuburan-kuburan orang shalih atau tempat-tempat yang konon  merupakan lokasi kuburan orang shalih dikunjungi, lalu melakukan beragam  peribadahan di sisinya, seperti: berdoa, shalat, membaca al Qur`an,  thawaf, sedekah dan sebagainya.</p>
<p>Padahal dari hadits-hadits Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,  dapat diketahui, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sangat keras  sikap nya terhadap orang-orang yang beribadah kepada Allah di sisi  kuburan orang yang shalih. Kalau beribadah kepada Allah di sisi kubur  saja, beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersikap keras, tentu akan  lebih keras lagi jika sampai beribadah kepada penghuni kubur tersebut.</p>
<p>Berikut adalah hadits-hadits mengenai larangan tersebut :<br />
1. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari’ Aisyah  <em>Radhiyallahu &#8216;anha</em>, bahwa Ummu Salamah <em>Radhiyallahu &#8216;anha</em> (salah seorang  istri Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) menceritakan kepada  Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang gereja dengan  rupaka-rupaka di dalamnya yang dilihatnya di Negeri Habasyah (Ethiopia).  Maka Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p><strong>أُولَئِكَ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ أَوِ الْعَبْدُ  الصَّالِحُ؛ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِداً وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ  الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ</strong></p>
<p><em>&#8220;Mereka itu, apabila ada orang yang shalih -atau hamba yang shalih-  meninggal di antara mereka- mereka bangun di atas kuburnya sebuah tempat  ibadah, dan mereka buat di dalam tempat itu gambar-gambar mereka;  mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah.<br />
</em><br />
Sabda beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> “mereka itulah makhluk yang  paling buruk di hadapan Allah” menunjukkan haramnya membangun  masjid-masjid di atas pekuburan, dan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> melaknat orang yang melakukan hal itu. Perbuatan itu merupakan  sarana yang mengantarkan kepada kekufuran dan kesyirikan, yang secara  nyata merupakan kezhaliman yang paling besar.</p>
<p>Al Baidhawi berkata: “Tatkala orang-orang Yahudi dan Nasrani bersujud  kepada kuburan para nabi dengan maksud mengagungkan derajat mereka, dan  menjadikan kuburan-kuburan tersebut sebagai kiblat, yang mereka  menghadap dalam shalat, serta menjadikannya sebagai berhala-berhala,  maka Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melaknat mereka”.</p>
<p>Imam al Qurthubi berkata,”Mula-mula, para pendahulu mereka memahat  gambar-gambar tersebut agar mereka dapat menjadikannya sebagai suri  teladan dan mengenang perbuatan-perbuatan shalih mereka, sehingga dapat  memiliki kesungguhan beribadah yang sama seperti mereka; karenanya,  mereka beribadah kepada Allah di sisi kuburan-kuburan mereka. Kemudian  setelah mereka meninggal, datanglah generasi yang tidak mempunyai  pengetahuan yang cukup terhadap agama, sehingga tidak mengerti maksud  dari pendahulu mereka tersebut; lalu setan merasuki mereka dengan  menyatakan, bahwa para pendahulu mereka tersebut sebenarnya telah  menyembah rupaka-rupaka ini dan mengagungkannya. Oleh karena itu, Nabi  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang terjadinya hal tersebut untuk  menutup segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tersebut.”</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> berkata,”(Mereka dikatakan  sebagai makhluk yang paling buruk), karena memadukan dua fitnah  sekaligus. Yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di  atasnya dan fitnah membuat gambar-gambar.” Keduanya disebut fitnah,  karena memalingkan manusia dari agama.</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga berkata,”Hal inilah yang dipakai Rasulullah  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai alasan untuk melarang membangun  masjid-masjid di atas kuburan-kuburan, karena telah banyak menjerumuskan  umat-umat sebelumnya, baik ke dalam syirik besar maupun syirik lainnya  yang lebih ringan. Banyak orang cenderung melakukan perbuatan syirik  terhadap patung orang shalih dan patung-patung yang mereka anggap bahwa  ia merupakan garis-garis rajah dari bintang-bintang, dan hal lain yang  serupa dengan bintang. Ini terjadi, karena berbuat syirik dengan  menyembah kuburan orang yang diyakini keshalihannya lebih terasa di  dalam jiwa, daripada berbuat syirik dengan menyembah pohon atau batu.</p>
<p>Oleh karena itu pula, Anda mendapatkan ahli syirik memohon di sisi  kuburan dengan penuh kesungguhan, penuh kekhusyuan dan sikap berserah  diri, serta menyembahnya dengan sepenuh hati, padahal ibadah yang  seperti itu tidak pernah mereka lakukan di rumah-rumah Allah ataupun di  waktu tengah malam menjelang Subuh. Di antara mereka ada yang bersujud  kepada kuburan itu. Ketika melakukan shalat dan berdoa di sisi kuburan  tersebut, kebanyakan mereka mengharapkan keberkahan, yang tidak pernah  mereka harapkan ketika berada di masjid-masjid.</p>
<p>Lantaran perbuatan tersebut dapat menimbulkan kerusakan, maka dengan  tanpa ragu, Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengikisnya.  Sampai-sampai beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang shalat di  pekuburan secara mutlak, meskipun orang melakukannya tidak dengan maksud  mengharapkan berkah tempat tersebut sebagaimana ia mengharapkannya  ketika shalat di dalam masjid. Begitu pula beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> melarang umatnya melakukan shalat pada waktu terbit dan  tenggelamnya matahari, karena waktu-waktu tersebut digunakan oleh kaum  musyrikin untuk menyembah matahari. Karenanya, beliau <em>Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang umatnya shalat pada waktu-waktu tersebut,  meskipun mereka tidak memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kaum  musyrikin tadi. Hal ini sebagai upaya beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> menutup rapat celah-celah menuju kesyirikan.</p>
<p>Adapun bila seseorang melakukan shalat di sisi kuburan dengan maksud  untuk mendapatkan keberkahan melalui shalat di sisi kuburan tersebut,  maka ini jelas merupakan sikap memusuhi Allah dan RasulNya, melanggar  aturan agamaNya, mengada-adakan sesuatu di dalam agama yang tidak pernah  Allah izinkan. Kaum muslimin telah bersepakat secara ijma’, bahwa di  antara perkara-perkara mendasar dalam agama, yaitu mengetahui bahwa  shalat di sisi kuburan adalah dilarang. Dan Rasulullah <em>Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> melaknat orang yang mengfungsikan kuburan sebagai  masjid. Karena itu, di antara perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang paling  besar dan merupakan sebab-sebab terjadinya kesyirikan adalah melakukan  shalat di sisi kuburan dan mengfungsikannya sebagai masjid, serta  mendirikan masjid-masjid di atasnya. Nash-nash dari Nabi <em>Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> yang melarang hal itu, dan memperingatkan pelakunya  secara keras sangatlah banyak dan mutawatir. Seluruh kelompok umat  secara jelas dan terang-terangan melarang untuk mendirikan masjid-masjid  di atasnya, karena mereka mengikuti sunnah yang shahih dan sharih  (jelas).</p>
<p>Para ulama pengikut Imam Ahmad dan ulama yang lain, yakni pengikut Imam  Malik dan Imam Syafi’i, secara terang-terangan mengharamkan perbuatan  tersebut. Ada juga yang menyatakan, hal itu sebagai perbuatan makruh,  namun sepatutnya membawa maknanya kepada <em>karahah at tahrim</em> (makruh yang  berindikasi pengharaman) sebagai tanda bersangka baik kepada para ulama  yang menyatakan demikian, sehingga mereka tidak disangka membolehkan  perbuatan yang secara mutawatir dilarang oleh Rasulullah <em>Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> dan pelakunya beliau laknat.”</p>
<p>2. Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah <em>Radhiyallahu &#8216;anha</em>,  bahwa ia pernah berkata: Tatkala Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> hendak diambil nyawanya, beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun  segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em> buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan napas. Ketika  dalam keadaan demikian, beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الَْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ  أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani,  mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah  (masjid)&#8221;.<br />
</em><br />
Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan hal itu saat mendekati  kematiannya, untuk memperingatkan umatnya dari perbuatan mereka (Yahudi  dan Nasrani) itu. Seandainya bukan karena peringatan beliau <em>Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> tersebut, niscaya kubur beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> akan ditampakkan; hanya saja beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> khawatir, jika (kubur beliau) akan dijadikan sebagai tempat ibadah.”</p>
<p>Syaikh Shalih Alu asy Syaikh menjelaskan, ada tiga bentuk menjadikan  kuburan sebagai tempat ibadah.</p>
<p><strong>Pertama</strong> : Menjadikan kuburan itu sebagai tempat sujudnya. Bentuk yang  paling bisa dipahami dari perkataan ‘mereka menjadikan kuburan tersebut  sebagai masjid’ ialah, menjadikan kuburan sebagai masjid. Yaitu tempat  melakukan shalat dan sujud di atasnya. Demikian ini jelas merupakan  sarana yang sangat berbahaya, dan paling merusak yang mengantarkan  kepada syirik dan berlaku ghuluw kepada kuburan.</p>
<p><strong>Kedua</strong> : Shalat ke arah kuburan. Makna menjadikan kuburan sebagai masjid  dalam bentuk ini, yaitu seseorang shalat di hadapan kuburan dengan  menjadikannya sebagai kiblatnya. Dengan kondisi ini, dia telah  menjadikan kuburan sebagai tempat ia merendahkan dan menghinakan  dirinya.<br />
Masjid di sini bukan lagi semata-mata berarti tempat sujud –meletakkan  dahi di atas tanah–, tetapi berarti tempat merendahkan dan menghinakan  diri. Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid, maksudnya,   menjadikannya sebagai kiblat. Karena itu, Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> melarang shalat ke arah kuburan, karena merupakan salah satu  sarana kepada sikap pengagungan kuburan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong> : Menjadikan kuburan berada di dalam suatu bangunan, dan bangunan  itu adalah masjid. Jika yang dikubur itu seorang nabi, maka mereka  membuat bangunan di atasnya. Mereka lantas menjadikan di sekeliling  kuburan itu sebagai masjid dan menjadikan tempat itu sebagai tempat  beribadah dan shalat.</p>
<p>Adapun perkataan ‘Aisyah bahwa ‘beliau memperingatkan (umatnya) dari  perbuatan mereka (Yahudi dan Nasrani)’, maka di dalamnya terdapat  isyarat yang menjadi penyebabnya. Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,  yang sedang dalam keadaan sakaratul maut, melaknat Yahudi dan Nasrani  dalam hadits ini. Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ingin  memperingatkan para sahabatnya agar jangan sampai mengikuti  langkah-langkah kedua Ahli Kitab tersebut. Dan ternyatalah mereka, para  sahabat, menerima peringatan beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> itu  dan mengamalkan wasiat beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Kemudian perkataan ‘Aisyah ‘dan seandainya bukan karena hal itu, niscaya  kuburan beliau ditampakkan’. Maksudnya, kalau bukan karena peringatan  dan kekhawatiran beliau n bahwa kuburan beliau dijadikan masjid oleh  umatnya sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani, niscaya kuburan beliau  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berada di luar rumahnya, berdampingan  dengan kuburan-kuburan para sahabat di Baqi atau selainnya. Di samping  alasan ini, ada juga alasan lain, yaitu sabda Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em>, sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Bakar <em>Radhiyallahu  &#8216;anhu</em> :</p>
<p>إِ<strong>نَّ الأَنْبِيَاءَ يُقْبَرُونَ حَيْثُ يُقْبَضُونَ<br />
</strong><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya para nabi itu dikuburkan di mana mereka diwafatkan&#8221;.<br />
</em><br />
Adapun Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah dimaklumi,  bahwa beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> wafat di dalam rumah  ‘Aisyah.</p>
<p>Kemudian perkataan ‘Aisyah selanjutnya ‘hanya saja beliau khawatir  (kuburannya) akan dijadikan sebagai tempat ibadah’, terdapat dua  riwayat.</p>
<p>Berdasarkan riwayat pertama, maka Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> sendirilah yang mengkhawatirkan hal tersebut, sehingga beliau  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan ummatnya untuk  menguburkannya di tempat beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> wafat.  Sedangkan berdasarkan riwayat kedua, maka kemungkinan yang  mengkhawatirkan hal itu adalah para sahabat. Artinya, mereka khawatir  hal itu terjadi pada sebagian umat sehingga mereka pun tidak menampakkan  kuburan Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> , karena dikhawatirkan umat  Islam berlebih-lebihan dan terlalu mengagung-agungkan kuburan beliau  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> jika ditampakkan.</p>
<p>Imam al Qurthubi berkata,”Oleh karena itulah, kaum muslimin berusaha  semampu mungkin menutup jalan yang mengarah kepada pemujaan kuburan Nabi  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan cara meninggikan dinding tanahnya  dan menutup rapat pintu-pintu masuk ke arahnya dengan menjadikan  dindingnya mengitari kuburan beliau. Mereka pun takut apabila letak  kuburan beliau n dijadikan kiblat bagi orang-orang yang melakukan shalat  sehingga seakan shalat yang menghadap ke arahnya tersebut merupakan  suatu wujud beribadah. Karenanya, mereka kemudian membangun dua dinding  dari dua sudut kuburan bagian utara, dan mengalihkan keduanya hingga  bertemu pada sudut yang membentuk segitiga dari arah utara sehingga  tidak memungkinkan siapa pun untuk menghadap ke arah kuburan beliau.”</p>
<p>3. Diriwayatkan oleh Muslim dari Jundub bin Abdullah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>,  dia berkata: “Aku mendengar bahwa Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah bersabda lima hari sebelum beliau wafat, <em>‘Sungguh aku menyatakan  kesetiaanku kepada Allah dengan menolak, bahwa aku mempunyai seorang  khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah  menjadikan aku sebagai khalil. Seandainya aku menjadikan seorang khalil  dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil.  Ketahuilah bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan  kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, maka janganlah kamu  sekalian menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar  melarang kamu melakukan perbuatan itu.’”</em></p>
<p>Al Khalili berkata,”Pengingkaran Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap perbuatan mereka tersebut dapat diartikan dengan dua makna.  <strong>Pertama</strong>, mereka bersujud terhadap kuburan para nabi untuk mengagungkan  utusan Allah tersebut. <strong>Kedua</strong>, mereka memang menganggap boleh melakukan  shalat di kuburan para nabi dan menghadap ke arah ketika melakukan  shalat, karena mereka memandang hal itu sebagai bentuk ibadah kepada  Allah dan cerminan sikap pengagungan yang sangat kepada para nabi  tersebut.</p>
<p>Makna pertama merupakan syirik jaliy (bentuk syirik yang jelas).  Sedangkan makna kedua merupakan syirik khafiy (bentuk syirik yang  tersembunyi). Oleh karena itu, mereka layak untuk dilaknat.”</p>
<p>Syaikh Shalih Alu asy Syaikh berkata,”Keterkaitan hadits ini dengan  permasalahan sikap keras Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, adalah  beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengharamkan menjadikan kuburan  para nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid (tempat ibadah),  meskipun mungkin saja orang yang melakukannya beribadah hanya kepada  Allah. Hal itu, karena perbuatan tersebut termasuk di antara  sarana-sarana yang mengantarkan kepada syirik besar. Telah ditetapkan di  dalam kaidah-kaidah syariat dan telah disepakati oleh para muhaqqiq,  bahwa menutup pintu (celah) yang mengantarkan kepada kesyirikan dan  kepada perbuatan haram adalah wajib; karena syariat datang untuk menutup  pokok-pokok perbuatan-perbuatan haram dan menutup celah-celah menuju  kepadanya. Sehingga wajib menutup setiap pintu dari pintu-pintu  kesyirikan kepada Allah. Di antara pintu-pintu itu ialah, menjadikan  kuburan para nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid. Karena itu,  tidak sah shalat yang dilakukan di dalam masjid yang dibangun di atas  kuburan karena hal itu menafikan larangan Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em>.</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah melarang, namun orang-orang itu  melakukannya, padahal larangan beliau tertuju kepada tempat shalat itu  dilakukan sehingga shalatnya pun batal. Jadi, orang yang shalat di dalam  masjid yang dibangun di atas kuburan, maka shalatnya batal, tidak sah  berdasarkan sabda Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ‘ketahuilah,  janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid’, maksudnya, dengan  membangun masjid di atasnya dan shalat di sekitarnya, ‘karena sungguh  aku larang kalian darinya’.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata,”Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> , (pada)  menjelang akhir hayatnya (sebagaimana dinyatakan dalam hadits Jundub)  telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.  Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya –sebagaimana  dalam hadits ‘Aisyah– beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan  itu. Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan  kuburan sebagai tempat ibadah walaupun tidak membangunnya. Inilah makna  kata-kata Aisyah ‘dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah’,  karena para sahabat belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di  sekitar kubur beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Padahal setiap  tempat yang digunakan untuk melakukan shalat di dalamnya, itu berarti  sudah dijadikan sebagai masjid; bahkan setiap tempat yang dipergunakan  untuk shalat disebut masjid sebagai yang telah disabdakan oleh  Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> : <em>“Telah dijadikan bumi ini  untukku sebagai masjid dan sebagai sarana bersuci.”.</em></p>
<p>Kesimpulannya : Shalat di kuburan tidak boleh, baik itu shalat menghadap  ke arahnya, atau shalat di dekatnya karena mengharap berkah tempat  tersebut, atau tidak mengharap berkahnya, tetapi hanya shalat nafilah  (selain shalat jenazah). Semua itu tidak boleh. Baik di atas kuburan itu  ada bangunan, seperti masjid, atau tidak bangunan di atasnya, maka  shalat di atasnya tetap tidak boleh.</p>
<p>Di dalam Shahih al Bukhari, terdapat hadits bahwa Nabi <em>Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Jadikanlah di antara shalat kalian itu  dilakukan di rumah-rumah kalian, dan jangan di kuburan.”</em> Juga disebutkan  di dalam Shahih al Bukhari perkataan beliau kepada Umar <em>Radhiyallahu  &#8216;anhu</em> ketika melihat sekelompok orang shalat di dekat sebuah kubur  ‘kuburan, kuburan’, maksud beliau, jauhilah kuburan, jauhilah kuburan.  Ini menunjukkan, shalat di kuburan tidak diperbolehkan, karena merupakan  pengantar kepada kesyirikan. Lebih parah lagi jika di kuburan tersebut  dibangun bangunan, lalu menjadikan bangunan-bangunan sekitar kuburan itu  sebagai masjid untuk shalat, berdoa, membaca al Qur`an, dan semisalnya.</p>
<p>Maraji:<br />
1. Fath al Majid Syarh Kitab at Tauhid.<br />
2. At Tamhid li Syarhi Kitab at Tauhid, karya Syaikh Shalih Alu Syaikh.<br />
3. Al Qaul al Mufid, Jilid I, karya Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IX/1426H/2005M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi  Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2707/slash/0" target="_blank">http://www.almanhaj.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/larangan-beribadah-di-area-pekuburan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koreksi Kesalahan Seputar Wudhu</title>
		<link>http://abumushlih.com/koreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/koreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 00:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[Wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1698</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi -hafizhahullah- PERTANYAAN Berwudhu, suatu kegiatan yang sudah akrab dengan kaum muslimin. Seorang muslim yang ingin beramal ibadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah tentunya juga ingin mengetahui kesalahan-kesalahan yang terjadi yang dilakukan orang dalam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/koreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkoreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkoreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong>Oleh:<strong> al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi -<em>hafizhahullah-</em><br />
</strong></p>
<p><strong>PERTANYAAN </strong></p>
<p>Berwudhu, suatu kegiatan yang sudah akrab dengan kaum muslimin.  Seorang muslim yang ingin beramal ibadah dengan benar sesuai dengan  tuntunan Rasulullah tentunya juga ingin mengetahui kesalahan-kesalahan  yang terjadi yang dilakukan orang dalam praktik berwudhu, agar dapat  terhindar dari kesalahan-kesalahan tersebut. Oleh sebab itu, harap  diterangkan kesalahan-kesalahan yang sering terjadi!</p>
<p><span id="more-1698"></span><strong>JAWABAN</strong></p>
<p>Ada beberapa kesalahan dalam praktek berwudhu di tengah masyarakat.  Berikut ini kami akan menerangkan beberapa kesalahan tersebut.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Memisahkan Antara  Kumur-Kumur dan Menghirup Air </span></strong></p>
<p>Memisahkan antara kumur-kumur dengan menghirup air, dengan cara  mengambil air tersendiri untuk dihirup selain dari air untuk  berkumur-kumur, merupakan kesalahan yang hampir merata di tengah  masyarakat. Perlu kami terangkan bahwa memisahkan antara kumur-kumur  dengan menghirup air tidak dilandasi tuntunan yang benar dari Rasulullah  <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> .</p>
<p>Orang yang melakukan hal tersebut sandarannya hanyalah dibangun di  atas hadits yang lemah. Berikut ini penjelasannya.</p>
<p>Hadits Thalhah bin Musharrif dari ayahnya, dari kakeknya, beliau  berkata,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ وَالْمَاءُ يَسِيْلُ  مِنْ وَجْهِهِ وَلِحْيَتِهِ عَلَى صَدْرِهِ فَرَأَيْتُهُ يَفْصِلُ بَيْنَ  الْمَضْمَضَةِ وَالْإِسْتِنْشَاقِ</span></strong><strong> </strong></span></p>
<p><em> “Saya masuk menemui Nabi shallallahu</em><em> ‘</em><em> alaihi  wa alihi wa sallam dan beliau sedang berwudhu. Air mengucur dari wajah  dan jenggot beliau di atas dadanya. Saya melihat beliau memisahkan  antara kumur-kumur dengan menghirup air ke hidung.” </em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam <strong><em> Sunan</em></strong> -nya no. 139, Al-Baihaqy dalam <strong><em> Sunan</em></strong> -nya  1/51, dan Ath-Thabarany jilid 19 no. 409-410. Semuanya dari jalan  Al-Laits bin Abi Sulaim dari Thalhah bin Musharrif, dari ayahnya, dari  kakeknya. Lalu dalam salah satu riwayat Ath-Thabarany dengan lafazh,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَتَمَضْمَضَ ثَلاَثًا وَاسْتَنْشَقَ  ثَلاَثًا يَأْخُذُ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مَاءً جَدِيْدًا … </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi  wa alihi wa sallam berwudhu lalu berkumur-kumur tiga kali dan menghirup  air tiga kali. Beliau mengambil air baru (baca: tersendiri) untuk  setiap anggota ….” </em></p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang lemah sebagaimana yang dikatakan oleh  Abu Hatim dalam <strong><em> Al-‘Ilal </em></strong> 1/53 karya anaknya.  Ada dua kelemahan dalam sanadnya:</p>
<p><strong> Pertama</strong> , terdapat rawi yang bernama Al-Laits bin  Abi Sulaim<strong></strong>dan ia telah dilemahkan oleh Ibnu Mahdy,  Yahya Al-Qaththan, Ibnu ‘Uyyainah, Ibnu Ma’in, Ahmad, Abu Hatim, Abu  Zur’ah, Ya’qub Al-Fasawy, An-Nasa`i dan lain-lainnya, bahkan Imam  An-Nawawy, dalam <strong><em> Tahdzib Al-Asma` Wa Al-Lughat </em></strong> 1/2/75, menukil kesepakatan para ulama atas lemah dan goncangnya hadits  Al-Laits bin Abi Sulaim.</p>
<p><strong> Kedua</strong> , ayah Thalhah bin Musharrif adalah rawi yang  <em>majhul</em> ‘tidak dikenal’.</p>
<p>Baca <strong><em> Tahdzibut Tahdzib</em></strong> , <strong><em> Al-Badrul Munir</em></strong> 3/277-286, <strong><em> At-Talkhish  Al-Habir</em></strong> 1/133-134, dan <strong><em> Nashbur Rayah</em></strong> 1/17.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam <strong><em> At-Talkhish</em></strong> ,  menyebutkan bahwa Ibnus Sakan menyebut dalam <strong><em> Shahih</em></strong> -nya satu hadits dari jalan Abu Wa`il Syaqiq bin Salamah, bahwa beliau  berkata,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">شَهِدْتُ عَلِيَّ بْنَ أَبِيْ طَالِبٍ  وَعُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ تَوَضَّأَ ثَلاَثًا ثَلاَثًا فَأَفْرَدَا  الْمَضْمَضَةَ مِنَ الْإِسْتِنْشَاقِ ثُمَّ قَالاَ : هَكَذَا رَأَيْنَا  رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Saya menyaksikan ‘Ali bin Abi Thalib dan ‘Utsman bin ‘Affan  berwudhu tiga kali-tiga kali, lalu keduanya menyendirikan (baca:  memisahkan) kumur-kumur dari menghirup air. Kemudian keduanya berkata,  ‘Demikianlah kami melihat Rasulullah shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam berwudhu.’.” </em></p>
<p><strong> Saya berkata</strong> , “Al-Hafizh Ibnu Hajar tidak  menyebutkan sanad hadits ini, tapi bisa dipastikan bahwa hadits ini  lemah karena ‘Utsman bin ‘Affan, dalam riwayat Bukhary-Muslim dan  selainnya, telah memeragakan cara Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam </em> berwudhu dan beliau tidak memisahkan  antara kumur-kumur dan menghirup air. Demikian pula ‘Ali bin Abi Thalib,  dalam riwayat yang shahih dari beliau, memeragakan cara Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam </em> berwudhu, tetapi  tidak memisahkan antara kumur-kumur dan menghirup air.</p>
<p>Kemudian saya menemukan sanad hadits Abu Wa`il Syaqiq bin Salamah  yang disebutkan oleh <em>Al-Hafizh</em> Ibnu Hajar tersebut, yaitu  diriwayatkan oleh Ibnul Ja’d sebagaimana dalam <strong><em> Al-Ja’diyyat</em></strong> no. 3406 dan dari jalannya diriwayatkan oleh Al-Maqdasy dalam <strong><em> Al-Mukhtarah</em></strong> no. 347 dari jalan ‘Abdurrahman bin Tsabit  bin Tsauban, dari ‘Abdah bin Abi Lubabah, dari Syaqiq bin Salamah, sama  dengan lafazh yang disebut oleh <em>Al-Hafizh</em> Ibnu Hajar tapi ‘Ali  bin Abi Thalib tidak disebutkan.</p>
<p>Adapun ‘Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban, yang ada di dalam sanad,  adalah rawi yang dha’if maka hadits ini adalah <strong>mungkar</strong> karena menyelisihi riwayat para rawi yang <em>tsiqah</em> ‘terpercaya’  yang tidak menyebutkan lafazh ini.”</p>
<p>Maka sebagai kesimpulan, seluruh hadits, yang menjelaskan bahwa  kumur-kumur dipisah dari menghirup air, adalah lemah.</p>
<p>Berkata Imam An-Nawawy dalam <strong><em> Al-Majmu’ Syarh  Al-Muhadzdzab</em></strong> 1/398, “Adapun memisah (antara kumur-kumur  dan menghirup air-pent.), tidak ada sama sekali hadits yang <em>tsabit</em> ‘kuat, sah’. Yang ada hanyalah hadits Thalhah bin Musharrif dan ia  adalah (rawi yang) lemah.”</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim dalam <strong><em> Zadul Ma’ad</em></strong> 1/192-193, “Dan tidaklah datang (keterangan tentang) memisah antara  kumur-kumur dan menghirup air dalam hadits yang shahih sama sekali.”</p>
<p>Setelah membaca uraian lemahnya hadits yang menjelaskan  disyariatkannya memisahkan antara kumur-kumur dan menghirup air, mungkin  akan muncul pertanyaan di dalam benak, “Kalau cara memisah antara  kumur-kumur dan menghirup air itu salah, lalu bagaimana cara yang  benarnya?”</p>
<p>Jawabannya dari dua sisi:</p>
<p><strong> Secara global</strong> , kami menetapkan bahwa  berkumur-kumur dan menghirup air adalah menggabungkannya dengan cara  mengambil air lalu digunakan untuk berkumur-kumur sekaligus menghirup  air.</p>
<p><strong> Secara rinci</strong> , dalam hadits Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> diterangkan tiga <em>kaifiyah</em> ‘cara’ dalam berkumur-kumur dan menghirup air.</p>
<ul>
<li><strong> Pertama</strong> ,<strong></strong>berkumur-kumur dan  menghirup air secara bersamaan dari satu telapak tangan sebanyak tiga  kali cidukan. Hal ini diterangkan dalam beberapa hadits, di antaranya  hadits ‘Abdullah bin Zaid riwayat Bukhary-Muslim,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">فَتَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ  وَاحِدَةٍ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثًا </span></strong></span></p>
<p><em> “Maka beliau berkumur-kumur dan menghirup air dari satu telapak  tangan. Beliau mengerjakan itu sebanyak tiga kali.” </em></p>
<ul>
<li><strong> Kedua</strong> ,<strong></strong>berkumur-kumur dan  menghirup air secara bersamaan<strong></strong>sebanyak tiga kali dari  satu kali cidukan air dengan satu telapak tangan. Cara ini, walaupun  agak sulit diterapkan, tetapi memungkinkan dan bisa dilakukan, sebab <em>kaifiyah</em> ini telah diterangkan dalam hadits ‘Abdullah bin Zaid riwayat Bukhary,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ  مِنْ غُرْفَةٍ وَاحِدَةٍ </span></strong></span></p>
<p><em> “Maka beliau berkumur-kumur dan (menghirup air lalu)  mengeluarkannya sebanyak tiga kali dari satu cidukan.” </em></p>
<ul>
<li><strong> Ketiga</strong> ,<strong></strong>berkumur-kumur tiga kali  lalu menghirup air tiga kali dari satu kali cidukan dengan satu telapak  tangan. Hal ini dijelaskan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى فِي  الْإِنَاءِ فَمَضْمَضَ ثَلاَثًا وَاسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا </span></strong></span></p>
<p><em> “Kemudian beliau memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana lalu  berkumur-kumur tiga kali dan menghirup air tiga kali.” </em> (diriwayatkan oleh<strong></strong>Abu Daud, An-Nasa`i<strong></strong>dan  lain-lain, dan dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam <strong><em> Jami’  Ash-Shahih</em></strong> dan Al-Hafizh, dalam <strong><em> At-Talkhish</em></strong> , menyebutkan jalan-jalan yang banyak dari hadits ini)</p>
<p>Walaupun hadits ini mengandung <em>ihtimal</em> ‘kemungkinan’, tetapi  zhahirnya menunjukkan <em>kaifiyah</em> tersendiri. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Baca <strong><em> Ikhtiyarat Ibnu Qudamah</em></strong><strong></strong> 1/158, <strong><em> Al-Mughny</em></strong> 1/170-171, dan <strong></strong><strong><em> Al-Majmu’</em></strong><strong></strong><strong></strong> 1/397-398.</p>
<p><strong> <span style="text-decoration: underline;">Lalai Dalam  Menyempurnakan Wudhu </span></strong></p>
<p>Lalai dalam menyempurnakan wudhu, sehingga menyebabkan ada bagian  dari anggota wudhu (anggota badan dalam berwudhu) yang terluput dari  basuhan air, adalah kesalahan besar, apalagi kalau yang terluput dari  basuhan air itu adalah anggota yang merupakan rukun wudhu, maka wudhu  dianggap batal. Dimaklumi bersama, bahwa anggota yang merupakan rukun  wudhu adalah yang tertera dalam ayat 5 surah Al-Maidah,</p>
<p><em> “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian berdiri hendak  mengerjakan shalat, maka cucilah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan  kalian sampai ke siku, lalu usaplah kepala-kepala kalian dan cucilah  kaki-kaki kalian sampai ke mata kaki.” </em></p>
<p>Berikut ini beberapa dalil yang menunjukkan kewajiban dan keutamaan  menyempurnakan wudhu.</p>
<p><strong> Pertama</strong> ,<strong></strong>hadits Abu Hurairah,  bahwa Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> mengajar seseorang yang jelek shalatnya,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ  الْوُضُوْءَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Jika kamu hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu.”</em> (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim)</p>
<p><strong> Kedua</strong> ,<strong></strong>hadits Laqith bin Saburah,  bahwa Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">أَسْبِغِ الْوُضُوْءَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Sempurnakanlah wudhu.”</em><strong></strong></p>
<p>(Diriwayatkan oleh Asy-Syafi’iy dalam <strong><em> Al-Umm</em></strong> 1/52, Ahmad 4/32-33, ‘Abdurrazzaq no. 79, Abu ‘Ubaid dalam <strong><em> Ath-Thahur</em></strong> no. 284, Ath-Thayalisy no. 171, Al-Bukhary  dalam <strong><em> Al-Adab Al-Mufrad</em></strong> no. 166, Abu Daud no.  141, Tirmidzy no. 788, Ibnu Majah no. 407, An-Nasa`i 1/66,79, Ibnul  Mundzir dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> 1/406-407, Ibnu  Khuzaimah no. 150 168, Ibnu Hibban no. 1053, 1087, Al-Hakim 1/247-248  dan 4/123, Al-Baihaqy 1/50, 51, 76 dan 7/303, Ath-Thabarany 19/no. 281,  dan Ibnu ‘Abdil Barr 18/223. Dishahihkan oleh <em>Syaikhuna</em> Muqbil  dalam <strong><em> Al-Jami’ Ash-Shahih</em></strong> )</p>
<p><strong> Ketiga</strong> , hadits Abu Hurairah dan ‘Abdullah bin ‘Amr  bin ‘Ash riwayat Bukhary-Muslim dan hadits ‘Aisyah riwayat Muslim,  bahwa Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> bersabda,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Celakalah tumit-tumit dari api neraka.” </em></p>
<p>Sebab <em>wurud</em> (pengucapan) hadits adalah karena sebagian dari  para shahabat yang berwudhu dan hanya mengusap di atas kakinya, maka  Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> menegur mereka dengan hadits di atas.</p>
<p><strong> Keempat</strong> , hadits ‘Utsman bin ‘Affan, Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَطَهَّرُ فَيُتِمُّ  الطُّهُوْرَ الَّذِيْ كَتَبَ اللهُ عَلَيْهِ فَيُصَلِّيْ هَذِهِ  الصَّلَوَاتَ الْخَمْسَ إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَاتٍ لِمَا بَيْنَهُمَا </span></strong></span></p>
<p><em> “Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhu  yang Allah tetapkan atasnya kemudian dia mengerjakan shalat lima waktu,  kecuali ia menjadi kaffarah (penggugur dosa) di antara kelimanya.”</em> (diriwayatkan oleh Muslim)</p>
<p><strong> Kelima</strong> , hadits ‘Utsman bin ‘Affan riwayat Muslim,  Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> menyatakan,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ  الْوُضُوْءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ فَصَلاَّهَا  مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ  لَهُ ذَُنُوْبَهُ </span></strong></span></p>
<p><em> “Barangsiapa yang berwudhu untuk shalat, lalu ia menyempurnakan  wudhunya kemudian melangkah untuk mengerjakan shalat wajib sehingga ia  shalat wajib bersama orang-orang atau bersama jamaah atau di mesjid,  maka Allah mengampuni untuk dosa-dosanya.” </em></p>
<p><strong> </strong><strong>Mencuci Anggota Wudhu Lebih Dari Tiga Kali </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> , dalam mencuci anggota wudhu, mencontohkan beberapa <em>kaifiyah</em>.</p>
<p>Kadang beliau mencuci anggota wudhunya <strong>tiga-tiga kali</strong>,<strong></strong>sebagaimana  yang diterangkan dalam hadits yang sangat banyak, seperti hadits  ‘Utsman bin ‘Affan riwayat Bukhary-Muslim dan hadits ‘Abdullah bin Zaid  riwayat Bukhary-Muslim.</p>
<p>Kadang pula beliau mencuci anggota wudhunya <strong>dua-dua kali</strong>,<strong></strong>sebagaimana  dalam hadits ‘Abdullah bin Zaid riwayat Bukhary,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya Nabi shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa  alihi wa sallam berwudhu 2 kali 2 kali.” </em></p>
<p>Kadang beliau juga mencuci anggota wudhunya <strong>satu-satu kali</strong>,<strong></strong>dan  ini merupakan batasan wajibnya. Hal ini diterangkan oleh Ibnu ‘Abbas  dalam riwayat Bukhary,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً مَرَّةً </span></strong></span></p>
<p><em> “Nabi shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam  berwudhu satu kali satu kali.” </em></p>
<p>Selain itu, kadang beliau berselang-seling dalam mencucinya dengan  cara mencuci sebagiannya tiga kali, sebagian lain dua dan satu kali,  sebagaimana praktik wudhu Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> yang diperagakan oleh ‘Abdullah bin  Zaid,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">فَأَكْفَأَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا  ثَلاَثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهُمَا فَمَضْمَضَ  وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثًا ثُمَّ  أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهُمَا فَغَسَلَ وَجَهَهُ ثَلاَثُا ثُمَّ  أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهُمَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى  الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهُمَا  فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ثُمَّ غَسَلَ  رَجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ. </span></strong></span></p>
<p><em> “Maka beliau menuangkan air di atas telapak tangannya kemudian  mencucinya tiga kali kemudian beliau memasukkan tangannya (ke dalam  bejana) lalu mengeluarkannya kemudian beliau berkumur-kumur dan  menghirup air dari satu telapak tangan, beliau lakukan itu tiga kali.  Kemudian beliau memasukkan tangannya lalu mengeluarkannya kemudian  mencuci wajahnya tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya lalu  mengeluarkan kemudian mencuci kedua tangannya sampai ke siku dua kali  dua kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya lalu mengeluarkannya  kemudian mengusap kepalanya; menggerakkan kedua tangannya ke belakang  dan mengedepankannya. Kemudian beliau mencuci kedua kakinya sampai ke  mata kaki.” </em> (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim, dan lafazh ini  milik Muslim)</p>
<p>Ini tuntunan Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi  wa alihi wa sallam</em> dalam mencuci anggota wudhunya, tidak dinukil  beliau mencuci anggota wudhunya lebih dari tiga kali, bahkan yang ada  adalah larangan melebihi tiga kali sebagaimana yang diterangkan dalam  hadits dari jalan ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ عَنِ  الْوُضُوْءِ فَأَرَاهُ ثَلاَثًا ثَلاَثُا فَقَالَ : هَذَا الْوُضُوْءُ  فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Datang seorang A’raby kepada Rasulullah shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam bertanya kepadanya tentang wudhu. Maka beliau  memperlihatkan wudhu tiga-tiga kali lalu beliau berkata, ‘Inilah wudhu,  siapa yang menambah di atas ini maka ia telah berbuat jelek, melampaui  batas dan berbuat zhalim.’.”</em> (Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 135,  Ibnu Majah no. 422, An-Nasa`i no. 140, Ahmad 2/180, Ibnul Jarud dalam <strong><em> Al-Muntaqa</em></strong> no. 75, Ibnu Khuzaimah no. 174, Ath-Thahawy  dalam <strong><em> Syarh Musykil Al-Âtsar</em></strong><strong></strong> 1/36 , Ibnul Mundzir dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> 1/361  no. 329, dan Al-Baihaqy 1/79 dengan sanad yang <strong>hasan</strong>)</p>
<p>Para ulama menyebutkan bahwa dikatakan ia berbuat jelek karena  meninggalkan yang lebih utama dan dikatakan melampaui batas karena  melampaui batasan sunnahnya dan dikatakan berbuat zhalim karena  menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.</p>
<p>Tapi, perlu diingat, bahwa larangan mencuci anggota wudhu lebih dari  tiga kali ini berlaku kalau anggota wudhunya dengan tiga kali telah  terbasuh sempurna dengan air, adapun seperti orang yang berada di terik  matahari atau semisalnya kemudian tatkala dia membasuh anggota wudhunya  tiga kali dan ternyata setelah itu masih ada bagian yang belum tersentuh  oleh air maka di sini ia boleh menambah dan membasuh bagian yang belum  tersentuh air tersebut berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan di  atas tentang kewajiban menyempurnakan wudhu.</p>
<p>Selain itu, para ulama berbeda pendapat tentang larangan melebihkan  cucian dari tiga kali, apakah larangan itu bersifat makruh atau haram.</p>
<p>Imam Syafi’i dan mayoritas ulama syafi’iyah menganggap hal tersebut  makruh <em>karahah tanzih </em>‘makruh yang tidak sampai haram’.</p>
<p>Ibnul Mubarak berkata, “Saya tidak menjamin seseorang yang melebihkan  wudhunya lebih dari tiga kali bahwa ia tidak berdosa.”</p>
<p>Berkata Ahmad dan Ishaq, “Tidak ada yang menambah lebih dari tiga  kali kecuali orang yang tertimpa musibah/malapetaka.”</p>
<p>Imam Al-Bukhary berkata, “Dan Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> menerangkan bahwa kewajiban wudhu adalah  satu-satu kali dan beliau juga berwudhu dua-dua kali dan tiga-tiga kali  dan beliau tidak menambah di atas tiga kali, dan para ulama menganggap  makruh berlebihan di dalamnya dan melewati perbuatan Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> .”</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Itu juga adalah bid’ah dan  kesesatan menurut kesepakatan kaum muslimin. Bukanlah sunnah dan bukan  ketaatan dan <em>qurbah</em> ‘pendekatan diri’ dan siapa yang  mengerjakannya di atas dasar itu sebagai ibadah dan ketaatan maka  hendaknya dilarang dari hal tersebut. Kalau tidak mau, maka diberi <em>ta’zir</em> ‘hukuman pelajaran’ untuknya karena itu.”</p>
<p>Baca <strong><em> Al-Mughny</em></strong> 1/193-194, <strong><em> Shahih Al-Bukhary</em></strong><strong></strong> bersama<strong></strong><strong><em> Fathul Bary</em></strong> 1/232-234, <strong><em> Al-Majmu’</em></strong> 1/466-468, <strong><em> Al-Fatawa</em></strong> 21/168, <strong><em> Nailul Authar</em></strong> 1/218, dan lain-lain.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Mengusap Kepala  Tiga Kali</span></strong><strong></strong></p>
<p>Mengusap kepala tiga kali juga termasuk kesalahan-kesalahan dalam  wudhu karena hal tersebut tidak dibangun di atas landasan yang kuat.</p>
<p>Untuk mengetahui tidak kuatnya landasan pendapat ini simak uraian  pendapat para ulama dalam masalah ini.</p>
<p><strong> Pendapat pertama</strong> , disunnahkan mengusap kepala tiga  kali. Ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan pengikutnya, pendapat Imam  Ahmad dalam satu riwayat, dan Daud Azh-Zhahiry. Dalilnya sebagai  berikut:</p>
<ol>
<li> Hadits-hadits yang disebutkan di atas bahwa Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> berwudhu tiga kali-tiga kali.  Masuk di dalamnya tiga kali-tiga kali.</li>
<li> Mereka juga berdalilkan dengan hadits ‘Utsman bin ‘Affan dalam  sebagian riwayat dengan lafazh,</li>
</ol>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">وَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا </span></strong></span></p>
<p><em> “Dan beliau mengusap kepalanya tiga kali.”</em></p>
<p><strong> Pendapat kedua</strong> , tidak disyariatkan mengusap kepala  kecuali satu kali. Ini merupakan pendapat jumhur ulama seperti Abu  Hanifah, Malik, Ahmad yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Salim bin  ‘Abdillah, An-Nakha’iy, Mujahid, Thalhah bin Musharrif dan Al-Hakam bin  ‘Utaibah.</p>
<p>Dalil akan kuatnya pendapat ini sangat banyak, di antaranya:</p>
<ul>
<li> Hadits ‘Abdullah bin Zaid riwayat Bukhary-Muslim,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ  وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Kemudian beliau mengusap kepalanya mengedepankan dan  mengebelakangkannya satu kali.”</em></p>
<ul>
<li> Hadits ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ketika  beliau mencontohkan wudhu Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> ,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً </span></strong></span></p>
<p><em> “</em><em> Kemudian beliau mengusap kepalanya satu kali</em><em> .”</em></p>
<p>Riwayat Abu Daud no. 111, Tirmidzy no. 48, An-Nasa`i no. 92, Ahmad  1/154, Al-Baihaqy 1/68, Al-Maqdasy no. 642, dan lain-lain. Dishahihkan  oleh <em>Syaikhuna</em> Muqbil dalam <strong><em> Al-Jami’ Ash-Shahih</em></strong> .</p>
<ul>
<li> Hadits-hadits yang sangat banyak yang menjelaskan sifat wudhu  Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> , yang hadits-hadits tersebut menyebutkan seluruh anggota  wudhu dicuci tiga kali kecuali kepala tidak disebutkan berapa kali  diusap. Ini menunjukkan bahwa jumlah usapan kepala tidaklah sama dengan  anggota yang lainnya.</li>
</ul>
<p>Adapun dalil-dalil pendapat pertama di jawab sebagai berikut,</p>
<ol>
<li> Konteks hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> mencuci anggota wudhunya tiga  kali-tiga kali adalah riwayat yang global/mutlak dan riwayat global ini  telah diterangkan secara rinci dalam hadits-hadits yang telah  disebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa  alihi wa sallam</em> mengusap kepala satu kali.</li>
<li> Seluruh hadits-hadits yang menerangkan bahwa Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> mengusap kepala lebih dari  satu kali adalah hadits-hadits yang lemah.</li>
</ol>
<p>Berikut penjelasan hadits-hadits lemah (yang dimaksud pada poin di  atas) tersebut.</p>
<p><strong>Hadits Pertama </strong></p>
<p>Hadits Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">وَمَسَحَ رَأْسَهُ مَرَّتَيْنِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Dan beliau mengusap kepalanya dua kali.” </em></p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam <strong><em> Al-Mushannaf</em></strong> no. 11, Abu Daud no. 126, At-Tirmidzy no. 33,  Ibnu Majah no. 438, Ahmad 6/359, Ath-Thabarany 24/no. 675, 681, 686,  687 dan dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> no. 939, dan  Al-Baihaqy 1/64. Semuanya dari jalan ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil  dan dia ini adalah rawi yang diperselisihkan oleh para ulama apakah bisa  diterima haditsnya atau tidak. Dan saya lebih condong ke pendapat  syeikh Muqbil <em>rahimahullah</em> yang menguatkan akan lemahnya  riwayatnya, apalagi dalam hadits ini dia telah goncang dalam  meriwayatkannya. Kegoncangan tersebut karena di dalam riwayat lain, yang  dikeluarkan oleh Abu Daud no. 129, At-Tirmidzy no. 34, Ibnu Abi Syaibah  no. 59, Al-Baihaqy 1/58-60, Ath-Thabarany 24/no. 689 dan dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> no. 2388, 6100 dan dalam <strong><em> Ash-Shaghir</em></strong> no. 1167, dan Ibnul Jauzy dalam <strong><em> At-Tahqiq</em></strong> no. 144, ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil  menyebutkan mengusap kepala satu kali bukan dua kali. Maka ini  memperkuat akan lemahnya hadits ini, <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p><strong>Hadits Kedua </strong></p>
<p>Hadits ‘Utsman bin ‘Affan.</p>
<p>Berkata Imam Al-Baihaqy dalam <strong><em> As-Sunan Al-Kubra</em></strong> 1/62, “Telah diriwayatkan dari riwayat-riwayat yang aneh dari ‘Utsman <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> pengulangan dalam mengusap kepala, akan tetapi  riwayat-riwayat tersebut -bersamaan dengan menyelisihi riwayat para <em>huffazh</em> ‘ahli hafalan’ yang <em>tsiqah</em>- bukanlah hujjah di kalangan <em>Ahli  Ma’rifat</em> ‘para ulama’ walaupun sebagian <em>Ashhab</em> ‘orang-orang Syafi’iyah’ berhujjah dengannya.”</p>
<p>Berkata Abu Daud dalam <strong><em> As-Sunan</em></strong> 1/64 (cet.  Dar Ibnu Hazm), “Hadits-hadits ‘Utsman yang shahih semuanya menunjukkan  bahwa mengusap kepala itu hanya sekali saja.”</p>
<p>Ini kesimpulan secara global tentang kelemahan riwayat mengusap  kepala tiga kali dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan.</p>
<p>Adapun penjelasan lemahnya secara rinci adalah sebagai berikut.</p>
<p>Penyebutan kepala diusap tiga kali dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan  datang dalam lima jalan:</p>
<p><strong> Pertama</strong> , dari jalan ‘Abdurrahman bin Wardan, dari  Abu Salamah, dari Humran, dari ‘Utsman bin ‘Affan.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 107, Al-Bazzar no. 418, Ad-Daraquthny  1/91, Al-Maqdasy dalam <strong><em> Al-Mukhtarah</em></strong> no. 328,  dan Al-Baihaqy 1/62.</p>
<p>‘Abdurrahman bin Wardan ini rawi yang lemah di tingkatan <em>syawahid</em> ‘pendukung’.</p>
<p><strong> Kedua</strong> , dari jalan ‘Âmir bin Syaqiq bin Jamrah,  dari Syaqiq bin Salamah, dari ‘Utsman.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 110, Ad-Daraquthny 1/91 dan Al-Baihaqy  1/63. Di dalam sanad hadits ini ada dua cacat:</p>
<ol>
<li> ‘Âmir bin Syaqiq adalah <em>layyinul hadits</em> ‘lembek haditsnya’  sebagaimana yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam <strong><em> At-Taqrib</em></strong> .</li>
<li> ‘Amir bin Syaqiq telah goncang dalam meriwayatkan hadits ini  karena, dalam <strong><em> Sunan Abu Daud</em></strong> , <strong><em> Musnad Al-Bazzar</em></strong> no. 393, dan <strong><em> Shahih Ibnu  Khuzaimah</em></strong> , dia meriwayatkan hadits yang sama dan tidak  menyebutkan bahwa kepala diusap tiga kali.</li>
</ol>
<p><strong> Ketiga</strong> , dari jalan Muhammad bin ‘Abdillah bin Abi  Maryam, dari Ibnu Darah Maula ‘Utsman, dari ‘Utsman.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Ahmad 1/61, Ad-Daraquthny 1/91-92, Al-Baihaqy 1/62,  Al-Maqdasy no. 364, dan Ibnu Jauzy dalam <strong><em> At-Tahqiq</em></strong> no. 136. Ibnu Darah ini <em>majhulul hal</em> ‘tidak dikenal’  sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam <strong><em> At-Talkhis</em></strong> 1/146 (cet. Mu’assah Qurthubah), dan ada kemungkinan dia goncang dalam  meriwayatkan hadits ini, sebab dalam riwayat Al-Bazzar no. 409 tidak  disebutkan mengusap kepala tiga kali.</p>
<p><strong> Kempat</strong> , dari jalan Ishaq bin Yahya, dari Mu’awiyah  bin ‘Abdillah bin Ja’far bin Abi Thalib, dari ayahnya, dari ‘Utsman.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Imam Ad-Daraquthny dan Al-Baihaqy 1/63. Ishaq bin  Yahya ini <em>matrukul hadits</em> ‘ditinggalkan haditsnya’.</p>
<p><strong> Kelima</strong> , dari jalan Shalih bin Abdul Jabbar, dari  Ibnu Bailamany, dari ayahnya, dari ‘Utsman bin ‘Affan.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ad-Daraquthny 1/92 dan di dalam sanadnya ada  tiga kelemahan:</p>
<ol>
<li> Shalih bin ‘Abdul Jabbar meriwayatkan hadits-hadits yang mungkar  dari Ibnul Bailamany. Demikian komentar Al-‘Uqaily.</li>
<li> Ibnul Bailamany, namanya adalah Muhammad bin Abdurrahman. Ia ini  rawi yang <em>mungkarul hadits</em>, bahwa dianggap <em>Muttaham</em> ‘dicurigai berdusta’, oleh Ibnu ‘Ady dan Ibnu Hibban.</li>
<li> Ayah Ibnul Bailamany, yaitu ‘Abdurrahman, dha’if sebagaimana yang  dikatakan oleh <em>Al-Hafidz</em> Ibnu Hajar.</li>
</ol>
<p>Lihat <strong><em> Mizanul I’tidal</em></strong><strong><em> , </em></strong><strong><em> Lisanul Mizan</em></strong><strong><em> , </em></strong><strong><em> Taqribut Tahdzib</em></strong><strong></strong> dan lain-lain.</p>
<p><strong> Catatan</strong></p>
<p>ada beberapa jalan lain yang disebutkan oleh Ibnul Mulaqqin dalam <em>Al-Badru  Al-Munir</em>, tapi setelah saya merujuk keasalnya, ternyata tidak ada  lafazh mengusap kepala tiga kali. Karena itu, kami tidak menyebutkannya.</p>
<p><strong>Hadits Ketiga</strong></p>
<p>Hadits ‘Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Iman Az-Zaila’iy dalam kitabnya, <strong><em> Nashbur Rayah</em></strong> 1/32-33, menyebutkan bahwa ada tiga jalan dalam hadits ‘Ali bin Abi  Thalib yang menyebutkan bahwa kepala diusap tiga kali. Berikut ini  uraian jalan-jalan tersebut.</p>
<p><strong> Pertama</strong> , dari jalan Abu Hanifah meriwayatkan dari  Khalid bin ‘Alqamah, dari ‘Abdul Khair, dari Aly.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Hanifah sebagaimana dalam <strong><em> Musnad</em></strong> -nya, Abu Yusuf dalam <strong><em> Kitabul Âtsar</em></strong> no. 4,<strong></strong>dan  Al-Baihaqy 1/63<strong><em>.</em></strong></p>
<p>Di dalamnya ada dua kelemahan:</p>
<ol>
<li> Abu Hanifah dha’if menurut jumhur ulama <em>Al-Jarh Wat-Ta’dil</em>.  Baca <strong><em> Nasyru Ash-Shahifah</em></strong> karya <em>Syaikhuna</em> Muqbil <em>rahimahullah.</em></li>
<li> Imam Ad-Daraquthny menyebutkan bahwa Abu Hanifah telah menyelisihi  sekelompok ulama <em>Al-Huffadz</em> ‘ahli hafalan’ seperti Zaidah bin  Qudamah, Sufyan Ats-Tsaury, Syu’bah, Abu ‘Awanah, Syarik, Ja’far bin  Harits, Harun bin Sa’d, Ja’far bin Muhammad, Hajjaj bin Artha`ah, Aban  bin Taghlib, Aly bin Shalih, Hazim bin Ibrahim, Hasan bin Shalih dan  Ja’far Al-Ahmar. Semua menyebutkan bahwa kepala hanya diusap satu kali,  bukan tiga kali. Demikian dinukil Az-Zaila’iy dalam <strong><em> Nashbur  Rayah</em></strong> dan lihat juga <strong><em>‘</em></strong><strong><em> Ilal Ad-Daraquthny</em></strong> 4\48-31.</li>
</ol>
<p><strong>Kedua</strong> , diriwayatkan oleh Imam Al-Bazzar dalam <strong><em> Musnad</em></strong> -nya no. 736 dari jalan Abu Daud Ath-Thayalisi,  dari Sallam bin Sulaim Abul Ahwash, dari Abu Ishaq, dari Abu Hayyah bin  Qais, dari ‘Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dan disebutkan bahwa beliau  mengusap kepalanya tiga kali.</p>
<p>Demikian riwayat Al-Bazzar. Tetapi riwayatnya ini diselisihi oleh  para imam lainnya seperti Abu Daud dalam <strong><em> Sunan</em></strong> -nya, At-Tirmidzy, An-Nasa`i , Ibnu Majah no. 436, 456, Al-Bukhary  dalam <strong><em> Al-Kuna</em></strong> hal. 24, Abdullah bin Ahmad  dalam <strong><em> Zawa’id Al-Musnad</em></strong> 1/127,157, Abu Ya’la,  Al-Maqdasy dalam <strong><em> Al-Mukhtarah</em></strong> no. 795-798,  dan Al-Baihaqy 1/75.</p>
<p>Maka jelaslah dari sini ada kesalahan dalam riwayat Al-Bazzar.  Tetapi, dari mana asal kesalahan ini, sedangkan seluruh rawi Al-Bazzar <em>Muhtajun  Bihim</em> ‘dipakai berhujjah’?</p>
<p>Penulis lebih condong menitikberatkan kesalahan pada Al-Bazzar karena  beliau memiliki kelemahan dari sisi hafalannya. <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p><strong> Ketiga</strong> , diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarany dalam  <strong><em> Musnad Asy-Syamiyyin</em></strong><strong></strong> no.  1336. Di dalam sanadnya terdapat rawi-rawi yang saya tidak temukan  biografinya, dan ada rawi yang bernama Sulaiman bin Abdurrahman dha’if  dan rawi lain bernama ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Ubaidillah Al-Himsyi dha’if  kadang-kadang meriwayatkan hadits mungkar.</p>
<p><strong>Hadits Keempat </strong></p>
<p>Hadits Abu Hurairah.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarany dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> no. 5912 dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> beliau berkata,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَمَضْمَضْ ثَلاَثًا وَاسْتَنْشَقَ  ثَلاَثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلاَثُا وَمَسَحَ  بِرَأْسِهِ ثَلاَثًا وَغَسَلَ قَدَمَيْهِ ثَلاَثًا </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya Rasulullah berwudhu maka beliau berkumur-kumur  tiga kali dan menghirup air tiga kali dan mencuci wajahnya tiga kali dan  mencuci kedua tangannya tiga kali mengusap kepalanya tiga kali dan  mencuci kedua kakinya tiga kali.” </em></p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat dua cacat:</p>
<ol>
<li> Guru Imam Ath-Thabarany, Muhammad bin Yahya bin Al-Mundzir  Al-Qazzaz Al-Bashry, tidak disebutkan padanya <em>jarh</em> dan <em>ta’dil</em>.</li>
<li> ‘Amir bin ‘Abdul Wahid Al-Ahwal disimpulkan oleh Al-Hafizh Ibnu  Hajar dalam <strong><em> Taqribut Tahdzib</em></strong> bahwa beliau  adalah <em>shaduqun yukhti`u</em>, berarti ia menurut penilaian  Al-Hafizh hanyalah dipakai sebagai pendukung. Kemudian tidak pantas ia  bersendirian dari ‘Atha` bin Abi Rabah dalam meriwayatkan hadits yang  seperti ini karena ‘Atha` adalah seorang rawi yang terkenal mempunyai  banyak murid lalu dimana murid-muridnya yang lain yang lebih senior?  Kenapa mereka tidak meriwayatkan hadits ini? <em>Wallahu A’lam</em>.</li>
</ol>
<p>Dari uraian di atas jelaslah lemah pendapat bahwa kepala boleh diusap  lebih dari satu kali. Berarti dengan hal ini nampak kuat pendapat bahwa  kepala hanya diusap satu kali.</p>
<p>Pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, Syaikh  Muqbil, dan lain-lain. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Baca <strong><em> Al-Mughny</em></strong><strong></strong> 1/178-180,  <strong><em> Al-Majmu’</em></strong><strong></strong> 1/460-465, <strong><em> Al-Fatawa</em></strong><strong></strong> 21/125-127.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Mengusap Telinga  Dengan Air Tersendiri </span></strong></p>
<p>Dalam praktik wudhu di tengah masyarakat, kebanyakan dari mereka  ketika mengusap kepala mengambil air kemudian setelah itu mengambil air  lagi untuk mengusap telinga. Ini juga merupakan kesalahan dalam wudhu.</p>
<p>Kami tegaskan demikian karena dua alasan:</p>
<p><strong> Alasan pertama</strong> , dalil-dalil yang dipakai tentang  disyariatkannya mengambil air baru untuk telinga bersumber dari hadits  yang lemah, yakni hadits ‘Abdullah bin Zaid,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّهُ رَأَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ فَأَخَذَ لِأُذُنَيْهِ مَاءً  خِلاَفَ الَّذِيْ أَخَذَ لِرَأْسِهِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya ia melihat Rasulullah shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam berwudhu lalu beliau mengambil untuk kedua  telinganya air selain dari air yang dia ambil untuk kepalanya.” </em></p>
<p>Hadits dengan lafazh ini diiriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy dari  jalan Al-Haitsam bin Kharijah dari Ibnu Wahb dari ‘Âmir bin Harits dari  ‘Itban bin Waqi’ Al-Anshary dari ayahnya dari ‘Abdullah bin Zaid. Imam  Al-Baihaqy juga menyebutkan bahwa ada rawi lain juga meriwayatkan hal  yang sama dari Ibnu Wahb yaitu ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Imran bin Miqlash dan  Harmalah bin Yahya.</p>
<p>Hadits ini <em>syadz</em> ‘lemah’ sebagaimana yang diisyaratkan oleh  Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <strong><em> Bulughul Maram</em></strong> .  Kami menetapkan <em>syadz</em>-nya hadits ini karena tiga sebab:</p>
<ol>
<li> Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dari jalan Ibnu Wahb tetapi  dengan lafazh,</li>
</ol>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ  يَدِهِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Dan beliau mengusap kepalanya dengan air bukan sisa (air untuk  mencuci) tangannya.” </em></p>
<ol>
<li> Imam Ibnu Turkumany, dalam <strong><em> Al-Jauhar An-Naqy</em></strong> , menyebutkan bahwa Ibnu Daqiq Al-Ied melihat dalam riwayat Ibnul  Muqri’ dari Harmalah dari Ibnu Wahb bukan seperti lafazh Al-Baihaqy  tetapi seperti lafazh Muslim.</li>
<li> Enam orang rawi semua meriwayatkan dari Ibnu Wahb dan mereka  menyebutkan hadits dengan lafazh riwayat Muslim. Enam rawi itu adalah:  Harun bin Ma’ruf, Harun bin Sa’id, Abu Ath-Thahir, Hajjaj bin Ibrahim  Al-Azraq, Ahmad bin ‘Abdirrahman bin Wahb, dan Syuraij bin Nu’man. Lihat  riwayat mereka dalam <strong><em> Shahih Muslim</em></strong><strong></strong> no. 236, <strong><em> Musnad Abu ‘Awanah</em></strong> , dan <strong><em> Musnad Ahmad</em></strong> 4/41.</li>
</ol>
<p>Nampaklah dari sini kesalahan riwayat Al-Baihaqy yang menetapkan  bahwa telinga diusap dengan air tersendiri, sehingga riwayat ini tidak  bisa dipakai berhujjah.</p>
<p><strong> Alasan kedua</strong> , mengambil air tersendiri untuk kedua  telinga adalah menyelisihi sunnah Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> , sebab dalam satu hadits yang shahih,  Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> menyatakan,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">الْأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Kedua telinga itu bagian dari kepala.” </em> (Dishahihkan oleh  Syaikh Al-Albany dalam <strong><em> Ash-Shahihah</em></strong><strong></strong> no. 36)</p>
<p>Maksud hadits ini bahwa telinga itu bagian dari kepala dan hukumnya  sama dengan kepala. Karena bagian dari kepala, maka kedua telinga diusap  dengan air yang diambil untuk kepala.</p>
<p>Sebagai kesimpulan bahwa kedua telinga diusap dengan air lebih dari  kepala setelah mengusap kepala dan tidak disyaratkan mengambil air  tersendiri untuk telinga. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Dan cara wudhu yang pasti dari  beliau <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> , dalam riwayat <em>Ash-Shahihain</em> (Bukhary-Muslim) dan  lain-lainnya dari beberapa jalan, tidak ada padanya (keterangan)  mengambil air baru bagi telinga.” Lihat <strong><em> Al-Fatawa</em></strong> 11/279.</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim, “Dan tidak <em>tsabit</em> ‘tetap/shahih’ dari  beliau bahwa beliau mengambil untuk kedua (telinga)nya air baru.” Lihat <strong><em> Zadul Ma’ad</em></strong> 1/195.</p>
<p>Pendapat yang kami kuatkan ini adalah pendapat Jumhur ulama.</p>
<p>Baca <strong><em> Al-Mughny</em></strong> 1/183-184, <strong><em> Al-Majmu’</em></strong> 1/424-426, <strong><em> Nailul Authar</em></strong><strong></strong> 1/204 dan lain-lainnya.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Mengusap Leher dan  Tengkuk </span></strong></p>
<p>Ternasuk kesalahan dalam berwudhu adalah mengusap leher atau sebagian  darinya seperti tengkuk. Kesalahan perkara tersebut adalah jelas karena  tidak ada hadits yang shahih yang menunjukkan hal tersebut. Yang ada  hanyalah hadits-hadits yang lemah ataupun palsu, di antaranya:</p>
<p>Hadits Laits bin Abi Sulaim dari Thalhah bin Musharrif, dari ayahnya,  dari kakeknya,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّهُ رَأَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ رَأْسَهُ حَتَّى بَلَغَ  القَذَالَ وَمَا يَلِيْهِ مِنْ مُقَدَّمِ الْعُنُقِ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “</em><em> Sesungguhnya beliau melihat Rasulullah </em><em> shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em><em> mengusap kepalanya hingga ke belakang kepala (tengkuk) dan yang  setelahnya dari permulaan batang leher</em><em> .”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad 3/481, Abu Daud no. 132,  Al-Baihaqy 1/60, Ath-Thahawy dalam <strong><em> Syarh Ma’an y Al-Âtsar</em></strong> 1/30, Ath-Thabarany 19/180/407, dan Al-Khatib dalam <strong><em> Tarikh  Baghdad</em></strong> 6/169. Di dalam sanadnya ada rawi yang bernama  Laits bin Abi Sulaim dan ia adalah seorang rawi yang lemah. Juga riwayat  Thalhah bin Musharrif dari ayahnya dari kakeknya ada kelemahan  sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan memisah antara  kumur-kumur dan menghirup air.</p>
<p>Mungkin karena itulah Imam An-Nawawy, dalam <strong><em> Al-Majmu’</em></strong> 1/488, berkata , “ Ia adalah hadits yang lemah menurut kesepakatan  (para ulama-pent.) .”</p>
<p>Demikian pula hadits yang berbunyi,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَسَحُ الرَّقَبَةِ أَمَانٌ مِنَ الْغُلِّ </span></strong></span></p>
<p><em> “</em><em> Mengusap leher adalah pengaman dari </em> Al-Ghill <em> ‘</em><em> dengki, iri hati, benci</em><em> ’ .”</em></p>
<p>Juga hadits yang berbunyi,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَنْ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عُنُقَهُ لَمْ  يُغَلَّ بِالْأَغْلاَلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ </span></strong></span></p>
<p><em> “</em><em> Siapa yang berwudhu dan mengusap lehernya, ia tidak  akan dibelenggu dengan (rantai) belengguan hari kiamat</em><em> .”</em></p>
<p>Kedua hadits ini adalah hadits palsu sebagaimana yang diterangkan  oleh Imam Al-Albany dalam <strong><em> Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah wal  Maudhu’ah</em></strong> no. 69 dan 744.</p>
<p>Berkata Imam An-Nawawy , “ Tidak ada sama sekali (hadits) yang shahih  dari Nabi <em> shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> dalamnya (yakni dalam masalah mengusap leher/tengkuk-pent.)  .”</p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam <strong><em> Al-Fatawa</em></strong> 21/127-128, “Tidak benar dari Nabi <em> shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> bahwa beliau mengusap lehernya dalam  wudhu, bahkan tidak diriwayatkan hal tersebut dari beliau dalam hadits  yang shahih. Bahkan hadits-hadits shahih, yang di dalamnya ada  (penjelasan) sifat wudhu Nabi <em> shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> , (menerangkan bahwa) beliau tidak  mengusap lehernya. Karena itulah, hal tersebut tidak dianggap sunnah  oleh Jumhur Ulama seperti Malik, Ahmad dan Syafi ’ iy dalam zhahir  madzhab mereka …, dan siapa yang meninggalkan mengusap leher, maka  wudhunya adalah benar menurut kesepakatan para ulama .”</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim, “Tidak ada satu hadits pun yang shahih dari  beliau tentang mengusap leher .” Lihat <strong><em> Zadul Ma’ad</em></strong> 1/195.</p>
<p>Baca <strong><em>Al-Majmu’</em></strong> 1/488 dan <strong><em> Nailul Authar</em></strong> 1/206-207.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Berdoa Setiap Kali  Mencuci Anggota Wudhu </span></strong></p>
<p>Tidak jarang kita melihat ada orang yang berwudhu, ketika  berkumur-kumur, membaca,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيَّكَ  كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدُا</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang  saya tidak akan haus selama-lamanya.” </em></p>
<p>Lalu ketika mencuci wajah, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ  تَسْوَدُّ الْوُجُوْهُ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi  hitam.” </em></p>
<p>Kemudian ketika mencuci tangan, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ  بِيَمِيْنِيْ وَلاَ تُعْطِنِيْ بِشِمَالِيْ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah  engkau berikan di tangan kiriku.” </em></p>
<p>Selanjutnya ketika mengusap kepala, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ  عَلَى النَّارِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, haramkanlah rambut dan kulitku dari api neraka.” </em></p>
<p>Lalu ketika mengusap telinga, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ الَّذِيْنَ  يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, jadikanlah saya dari orang-orang yang mendengarkan  perkataan lalu mengikuti yang terbaiknya.” </em></p>
<p>Terakhir ketika mencuci kaki, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ عَلَى  الصِّرَاطِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, kokohkanlah kedua kakiku di atas jembatan (hari  kiamat).” </em></p>
<p>Doa ini banyak disebutkan oleh orang-orang belakangan di kalangan  Syafi’iyah, dan ini adalah perkara yang aneh karena tidak ada sama  sekali landasan dalilnya. Bahkan Imam Besar ulama Syafi’iyah, yang  dikenal dengan nama Imam An-Nawawy, menegaskan bahwa doa ini tidak ada  asalnya dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di  kalangan Syafi’iyah.</p>
<p>Maka, dengan ini, tidak diragukan bahwa doa ini termasuk bid’ah sesat  dalam wudhu yang harus ditinggalkan.</p>
<p>Lihat <strong><em> Al-Majmu’</em></strong><strong></strong> 1/487-489.</p>
<p><em> Wallahu Ta’ala A’lam Wa Fauqa Kulli Dzi ‘Ilmin ‘Alim</em> .</p>
<p>Sumber: <a href="http://an-nashihah.com/?p=81" target="_blank">http://an-nashihah.com/?p=81</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/koreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Celakalah Tumit Yang Tidak Terbasuh Air!</title>
		<link>http://abumushlih.com/celakalah-tumit-yang-tidak-terbasuh-air.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/celakalah-tumit-yang-tidak-terbasuh-air.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 22:17:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah Hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1685</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu&#8217;anhuma, beliau berkata: Suatu saat kami menempuh perjalanan pulang bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dari Mekah menuju Madinah. Sampai akhirnya di tengah jalan kami tiba di sebuah lembah -yang terdapat mata air padanya-. Karena waktu &#8230; <a href="http://abumushlih.com/celakalah-tumit-yang-tidak-terbasuh-air.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcelakalah-tumit-yang-tidak-terbasuh-air.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcelakalah-tumit-yang-tidak-terbasuh-air.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abdullah bin Amr </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau berkata: Suatu saat kami menempuh perjalanan </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">pulang</span></span><span style="font-weight: normal;"> bersama Rasulullah</span><em><span style="font-weight: normal;"> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> dari Mekah menuju Madinah. Sampai akhirnya di tengah jalan kami tiba di sebuah lembah -yang terdapat mata air padanya-. Karena waktu &#8216;Ashar sudah hampir tiba sebagian orang bergegas mendahului rombongan lalu berwudhu dalam keadaan tergesa-gesa. Setibanya kami di sana, tampak bahwa tumit mereka tidak tersentuh oleh air -dalam riwayat Bukhari perawi berkata; </span><em><span style="font-weight: normal;">kami hanya mengusap kaki kami-. </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Melihat hal itu</span></span><span style="font-weight: normal;"> maka Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> berteriak, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Celakalah tumit-tumit -yang tidak terbasuh air, pent- karena jilatan api neraka. Sempurnakanlah wudhu kalian.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Dalam riwayat Bukhari disebutkan bahwa perawi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Beliau -Nabi- mengulangi ucapannya itu dua atau tiga kali.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/175] dan </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [3/31])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1685"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini mengandung mutiara hikmah antara lain:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Wajibnya 	membasuh/mencuci kedua kaki dengan air secara sempurna ketika 	berwudhu, tidak cukup mengusapnya. Sebab seandainya dengan mengusap 	saja cukup niscaya Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> tidak 	akan memberikan ancaman neraka bagi orang yang tidak membasuh kedua 	tumitnya, demikian penjelasan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abdil Barr, dan 	an-Nawawi. Dalam sebagian riwayat Muslim dari jalan Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi 	wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Celakalah </span></em><em><strong>mata 	kaki</strong></em><em><span style="font-weight: normal;"> -yang tidak 	terbasuh air itu- karena jilatan api neraka.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Dalam riwayat ini juga dikatakan bahwa suatu ketika Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> melihat seorang lelaki yang tidak membasuh kedua tumitnya lantas 	beliau memberikan teguran keras semacam itu. Sehingga hal ini 	menjadi bantahan bagi kaum Syi&#8217;ah yang hanya mewajibkan mengusap 	kaki. Abdurrahman bin Abi Laila berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Para 	sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sepakat mengenai 	wajibnya membasuh/mencuci kedua kaki.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [3/29-32], </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/319-320], </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Istidzkar</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/51] pdf)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Perintah 	untuk menyempurnakan wudhu. Yang dimaksud menyempurnakan wudhu 	adalah menunaikan hak masing-masing anggota badan yang 	dibersihkan/dibasuh ketika wudhu (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Taudhih 	al-Ahkam</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/217] pdf, </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [3/41])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Termasuk 	dalam perintah menyempurnakan wudhu adalah menyela-nyelai jari-jari 	kaki dengan air. Hal ini berdasarkan sabda Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> yang 	diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dan dihasankan oleh Bukhari 	dari Ibnu Abbas </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apabila kamu berwudhu 	maka sela-selailah jari tangan dan jari kakimu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	semakna juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari sahabat Laqith bin 	Shabirah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">yang 	disahkan oleh Tirmidzi sendiri, al-Baghawi dan Ibnu al-Qaththan 	(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Nail 	al-Authar</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/182] pdf dan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Tuhfat 	al-Ahwadzi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/149-150] pdf). Sebagian ulama berpendapat bahwa amalan ini 	sunnah/tidak wajib, di antaranya adalah Ibnu Abdil Barr, al-Qadhi 	Abu Syuja&#8217;, dan Syaikh Abdullah al-Bassam</span></span><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Istidzkar</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/53] pdf, </span><em><span style="font-weight: normal;">Matn 	al-Ghayah wa at-Taqrib</span></em><span style="font-weight: normal;"> hal. 31-32, dan </span><em><span style="font-weight: normal;">Taudhih 	al-Ahkam</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/218] pdf). 	Namun, sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa menyela-nyelai 	jari itu adalah wajib -karena hukum asal perintah selama tidak ada 	dalil yang memalingkannya adalah wajib sebagaimana diterangkan dalam 	ilmu Ushul Fiqh-, di antara ulama yang mewajibkannya adalah Imam 	asy-Syaukani, kemudian disetujui oleh al-Mubarakfuri dan Syaikh Dr. 	Abdul &#8216;Azhim Badawi (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Nail 	al-Authar</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/182] pdf, </span><em><span style="font-weight: normal;">Tuhfat al-Ahwadzi</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/151] pdf dan </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Wajiz</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 34). Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Wahb, bahwa beliau 	berkata: Aku pernah mendengar [Imam] Malik ditanya mengenai 	menyela-nyelai jari kedua kaki ketika wudhu? Maka dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hal 	itu bukan menjadi kewajiban bagi orang-orang.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Dia berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku 	meninggalkannya supaya orang-orang mendapatkan keringanan/tidak 	merasa berat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka 	aku pun berkata kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kami 	memiliki riwayat hadits yang berbicara tentang hal itu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Dia pun bertanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Riwayat 	apakah itu?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Lalu 	kusampaikan bahwa: al-Laits bin Sa&#8217;ad menuturkan -riwayat- kepada 	kami, demikian juga Ibnu Lahi&#8217;ah dan Amr bin al-Harits dari Yazid 	bin Amr al-Mu&#8217;afiri dari Abu Abdirrahman al-Habli dari al-Mustaurid 	bin Syaddad al-Qurasyi -</span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">-, 	beliau berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku 	melihat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menggosok dengan 	jari kelingkingnya apa yang ada di sela-sela jari-jari kedua 	kakinya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia 	-Malik- berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	ini adalah hadits yang hasan (sahih maksudnya, pent), dan aku sama 	sekali belum pernah mendengarnya kecuali saat ini.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Kemudian semenjak itu aku mendengar beliau ketika ditanya mengenai 	hal itu maka beliau memerintahkan untuk menyela-nyelai jari-jemari 	(</span><em><span style="font-weight: normal;">Muqadimah Jarh wa 	Ta&#8217;dil</span></em><span style="font-weight: normal;"> hal. 31-32 pdf, 	kisah ini dinukil oleh Syaikh al-Albani dalam Muqadimah </span><em><span style="font-weight: normal;">Shifat 	Sholat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 49). Inilah bukti pengagungan Sunnah dalam diri salafus shalih! </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	mengeraskan suara dalam menyampaikan ilmu, yaitu ketika keadaan 	menuntut demikian, misalnya karena jarak yang jauh, banyaknya jumlah 	orang yang berkumpul, atau sebab-sebab lainnya. Imam Bukhari </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berdalil dengan hadits ini untuk membuat bab di dalam Kitab al-&#8217;Ilm 	yang berjudul </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;Bab 	mengenai orang yang mengangkat suaranya dalam menyampaikan ilmu&#8217;</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/175]). Dari sini kita juga bisa menarik kesimpulan bahwa 	diperbolehkan -bahkan terkadang dituntut- menggunakan pengeras suara 	dalam pengajian, dan hal itu sama sekali bukan termasuk bid&#8217;ah 	-</span><em><span style="font-weight: normal;">bid&#8217;ah hasanah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	menurut mereka- sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang yang 	tidak paham, </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu 	a&#8217;lam</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	mengulangi ucapan dua atau tiga kali untuk menanamkan pemahaman pada 	diri orang yang diajak bicara. Imam Bukhari </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> meletakkan hadits ini di dalam Kitab al-&#8217;Ilm di bawah judul </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;Bab 	mengenai orang yang mengulangi ucapan sebanyak tiga kali supaya 	dimengerti&#8230;&#8217;. </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul 	Munayyir menjelaskan bahwa dengan bab ini Bukhari ingin membantah 	sebagian orang yang tidak suka mengulangi ucapan -dalam ta&#8217;lim- 	serta mengingkari permintaan murid kepada gurunya agar mengulangi 	penjelasannya. Meskipun sebenarnya hal itu sangat tergantung pada 	kondisi yang ada (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/230])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hendaknya 	mengajarkan ilmu kepada orang yang belum paham (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/320])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Boleh 	mengingkari kesalahan dengan suara keras, jika diperlukan (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/320])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Tidak 	boleh menunda penjelasan dari waktu yang dibutuhkan (faedah ini kami 	petik dari keterangan Syaikh Walid Saifun Nashr </span></span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dalam daurah di Kaliurang) </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bantahan 	bagi orang yang mencukupkan diri dengan mengusap kaki dengan dalih 	bacaan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">kasrah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dalam bagian ayat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">wa 	arjulikum</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> -mengikuti perintah mengusap kepala dalam bagian ayat sebelumnya- 	yang terdapat dalam sebagian riwayat. Padahal bacaan yang lebih 	tepat adalah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">wa 	arjulakum</span></em><span style="font-weight: normal;"> dengan </span><em><span style="font-weight: normal;">fathah</span></em><span style="font-weight: normal;"> -mengikuti perintah untuk mencuci wajah dan tangan dalam bagian ayat 	sebelumnya- (lihat </span><strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 96</strong><span style="font-weight: normal;">). 	Seandainya dibaca </span><em><span style="font-weight: normal;">kasrah</span></em><span style="font-weight: normal;"> pun maka yang dimaksud adalah perintah untuk mengusap khuf 	sebagaimana dijelaskan oleh Sunnah/Hadits Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">. Hal 	ini menunjukkan kepada kita bahwasanya </span><strong>al-Qur&#8217;an tidak 	boleh ditafsirkan oleh akal/logika </strong><span style="font-weight: normal;">-terlebih 	lagi dalam perkara ibadat seperti sholat dan wudhu- </span><strong>sampai 	datang dalil dari as-Sunnah/hadits yang menjelaskannya</strong><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Shifat Wudhu Nabi 	shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 30-31). Kalau dalam masalah ibadat saja demikian, maka 	bagaimanakah lagi jika ayat itu berbicara perihal aqidah?! Apakah 	boleh seseorang menafsirkan ayat-ayat tentang aqidah dengan 	logikanya sembari melupakan hadits sahih dari Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">?</span></span><span style="font-weight: normal;"> Atau bahkan -yang lebih parah lagi- dengan lancangnya dia menolak 	hadits shahih tersebut dengan tuduhan bahwa hadits itu bertentangan 	dengan ayat al-Qur&#8217;an?! </span><em><span style="font-weight: normal;">Subhanallah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	betapa mengherankan akidah yang dimiliki oleh sebagian orang di 	jaman ini&#8230; Seolah-olah orang itu ingin berkata di hadapan Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Saya 	lebih tahu tafsir ayat ini daripada anda”</span></em><span style="font-weight: normal;"> [?!] Sungguh, ini adalah kedustaan yang sangat besar! Muhammad </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> tidak berbicara 	dengan hawa nafsunya, berbeda dengan kita&#8230; </span><em><span style="font-weight: normal;">Ya 	Allah ampunilah dosa kami, dan tunjukilah kami jalan-Mu yang 	lurus&#8230;</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/celakalah-tumit-yang-tidak-terbasuh-air.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takfir, Bukan Masalah Ringan!</title>
		<link>http://abumushlih.com/takfir-bukan-masalah-ringan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/takfir-bukan-masalah-ringan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 08:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Murtad]]></category>
		<category><![CDATA[Takfir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1660</guid>
		<description><![CDATA[Dari Ibnu Umar radhiyallahu&#8217;anhuma, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya maka sungguh tuduhannya itu akan kembali terarah kepada salah seorang di antara mereka berdua.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Apabila sebagaimana apa yang dia katakan -maka dia &#8230; <a href="http://abumushlih.com/takfir-bukan-masalah-ringan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftakfir-bukan-masalah-ringan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftakfir-bukan-masalah-ringan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya maka sungguh tuduhannya itu akan kembali terarah kepada salah seorang di antara mereka berdua.”</em> Dalam sebagian riwayat disebutkan, <em>“Apabila sebagaimana apa yang dia katakan -maka dia tidak bersalah- akan tetapi apabila tidak sebagaimana yang dia tuduh maka tuduhan itu justru kembali kepadanya.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/126-127] dan <em>Shahih Bukhari</em>, hal. 1254)</p>
<p><span id="more-1660"></span>Maksud dari &#8216;tuduhan itu justru kembali kepadanya&#8217; adalah sebagaimana yang diterangkan oleh al-&#8217;Aini <em>rahimahullah</em>, yaitu, “Apa yang diucapkannya justru terarah kepada dirinya sendiri, karena orang yang dia kafirkan ternyata benar imannya (tidak kafir).” Sehingga maknanya adalah kalau tuduhannya itu tidak terbukti kebenarannya maka sesungguhnya dia telah mengkafirkan dirinya sendiri (lihat <em>&#8216;Umdat al-Qari</em> [22/245] pdf)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim al-&#8217;Aql berkata, “Takfir/penjatuhan vonis kafir adalah perkara yang diatur dalam hukum syari&#8217;at acuannya adalah al-Kitab dan as-Sunnah. Maka tidak boleh mengkafirkan seorang muslim karena ucapan atau perbuatannya selama dalil syari&#8217;at tidak menunjukkan atas kekafirannya. Dengan disebutkannya istilah hukum kafir -secara umum- atas suatu ucapan atau perbuatan itu tidak secara otomatis menunjukkan jatuhnya vonis kafir tersebut -secara khusus- kepada orang tertentu -yaitu pelakunya- kecuali apabila syarat-syarat -pengkafiran- itu sudah terpenuhi dan penghalang-penghalangnya tersingkirkan. Takfir merupakan hukum yang sangat berbahaya resikonya, oleh sebab itu wajib meneliti segalanya/tatsabbut dan berhati-hati di dalam menjatuhkan vonis kafir ini kepada seorang muslim.” (<em>Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fil &#8216;Aqidah</em>, hal. 19 pdf)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Berikut ini ada beberapa catatan penting seputar takfir yang semestinya diperhatikan:</p>
<ol>
<li>Pedoman dan tempat rujukan dalam hal takfir ini adalah Allah      dan rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>(yaitu al-Kitab dan      as-Sunnah)</li>
<li>Orang yang terbukti keislamannya dengan meyakinkan maka      keislamannya itu tidak lenyap darinya kecuali dengan bukti yang meyakinkan      pula</li>
<li>Tidak setiap ucapan atau perbuatan -yang disebut oleh dalil      sebagai bentuk kekafiran- menjadi kekafiran besar yang mengeluarkan dari      agama. Sebab kekafiran itu ada dua macam: kufur asghar dan kufur akbar.      Maka menerapkan hukum terhadap ucapan atau perbuatan tersebut hanya bisa      dilakukan dengan mengikuti metode ulama Ahlus Sunnah dan aturan-aturan      yang telah mereka terangkan</li>
<li>Tidak boleh menjatuhkan hukum takfir kepada seorang muslim pun      kecuali orang yang ditunjukkan dengan jelas dan gamblang mengenai      kekafirannya oleh dalil al-Kitab dan as-Sunnah, sehingga dalam hal ini      tidak cukup berlandaskan kepada syubhat/perkara yang masih samar ataupun      sekedar zhann/dugaan</li>
<li>Terkadang disebutkan di dalam al-Kitab ataupun as-Sunnah      sesuatu yang dipahami bahwa ucapan, perbuatan, atau keyakinan tertentu      sebagai kekafiran. Maka tidak boleh semata-mata berdasarkan hal itu      kemudian dengan serta merta menjatuhkan vonis kafir kepada seseorang      kecuali apabila telah ditegakkan hujjah kepadanya: yaitu dengan      terpenuhinya syarat-syarat -dalam keadaan dia mengetahui, sengaja, dan      atas dasar pilihannya sendiri- dan juga dengan hilangnya penghalang-penghalang      -untuk dikafirkan- yaitu perkara-perkara yang menjadi lawan dari      syarat-syarat tersebut (artinya; dia tidak jahil, dalam keadaan sadar, dan      tidak terpaksa) (lihat lebih lengkap dalam <em>Mujmal Masa&#8217;il al-Iman      al-&#8217;Ilmiyah fi Ushul al-&#8217;Aqidah as-Salafiyah</em>, hal. 17-18). <em>Allahul      musta&#8217;aan</em>&#8230; <strong> </strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/takfir-bukan-masalah-ringan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Menaati Ulil Amri</title>
		<link>http://abumushlih.com/kewajiban-menaati-ulil-amri.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kewajiban-menaati-ulil-amri.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 21:08:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Thaghut]]></category>
		<category><![CDATA[Ulil Amri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1656</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kewajiban-menaati-ulil-amri.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkewajiban-menaati-ulil-amri.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkewajiban-menaati-ulil-amri.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus dampaknya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 59</strong>)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1656"></span>Ayat yang mulia ini mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Terdapat perbedaan penafsiran 	mengenai makna <strong>ulil amri</strong>. Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> sebagaima diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dengan sanad 	sahih, beliau berkata, <em>“Mereka -yaitu ulil amri- adalah para 	pemimpin/pemerintah.”</em> Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari 	Maimun bin Mihran dan yang lainnya. Sedangkan Jabir bin Abdullah 	berkata bahwa mereka itu adalah para ulama dan pemilik kebaikan. 	Mujahid, Atha&#8217;, al-Hasan, dan Abul Aliyah mengatakan bahwa yang 	dimaksud adalah para ulama. Mujahid juga mengatakan bahwa yang 	dimaksudkan adalah para sahabat. Pendapat yang dikuatkan oleh Imam 	asy-Syafi&#8217;i adalah pendapat pertama, yaitu maksud ulil amri adalah 	para pemimpin/pemerintah (lihat <em>Fath al-Bari</em> [8/106] pdf). 	Oleh sebab itu an-Nawawi <em>rahimahullah</em> membuat judul bab untuk 	hadits Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma </em><span style="font-style: normal;">mengenai 	tafsir ayat ini dengan judul </span><span style="font-style: normal;"><strong>&#8216;Kewajiban 	taat kepada pemerintah selama bukan dalam kemaksiatan dan 	diharamkannya hal itu dalam perbuatan maksiat&#8217;</strong></span><span style="font-style: normal;">. 	Kemudian beliau menukilkan ijma&#8217;/konsensus para ulama tentang 	wajibnya hal itu (lihat </span><em>Syarh Muslim</em><span style="font-style: normal;"> [6/467]). Adapun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim </span><em>rahimahullah</em><span style="font-style: normal;"> bahwa 	kandungan ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut; yaitu ulama 	maupun umara/pemerintah. Dikarenakan kedua penafsiran ini sama-sama 	terbukti sahih dari para sahabat (lihat </span><em>adh-Dhau&#8217; al-Munir 	&#8216;ala at-Tafsir</em><span style="font-style: normal;"> [2/235 dan 238] 	pdf) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Wajibnya menaati <strong>pemerintah 	muslim</strong> selama bukan dalam rangka maksiat. Hal ini sebagaimana 	telah ditegaskan oleh Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau bersabda, 	<em>“Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, dalam kondisi susah 	maupun mudah, dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan tidak 	menyenangkan, atau bahkan ketika mereka itu lebih mengutamakan 	kepentingan diri mereka di atas kepentinganmu.”</em> (<strong>HR. 	Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [6/469])</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Ketaatan kepada pemerintah muslim 	ini dibatasi dalam hal ketaatan/perkara ma&#8217;ruf saja, sedangkan <strong>dalam 	perkara maksiat maka tidak diperbolehkan</strong>. Hal ini berdasarkan 	hadits Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah 	<em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Wajib atas 	setiap individu muslim untuk selalu mendengar dan patuh dalam apa 	yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya, kecuali apabila dia 	diperintahkan untuk melakukan maksiat. Maka apabila dia 	diperintahkan untuk melakukan maksiat maka tidak boleh mendengar dan 	tidak boleh patuh.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat 	<em>Syarh Muslim</em> [6/470]). Demikian juga hadits Ali bin Abi 	Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi 	wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak ada ketaatan dalam rangka 	bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam 	perkara ma&#8217;ruf.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh 	Muslim</em> [6/471])</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Kewajiban untuk mendengar dan taat 	kepada pemerintah muslim ini juga dibatasi <strong>selama tidak tampak 	dari mereka kekufuran yang nyata</strong>. Apabila mereka melakukan 	kekufuran yang nyata maka wajib untuk mengingkarinya dan 	menyampaikan kebenaran kepada mereka. Adapun memberontak atau 	memeranginya -sezalim atau sefasik apapun mereka- maka tidak boleh 	<strong>selama dia masih muslim/tidak kafir</strong> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [6/472-473], <em>Fath al-Bari</em> [13/11]). Dalilnya adalah hadits 	Ubadah bin Shamit <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kecuali apabila kalian melihat 	kekafiran yang nyata dan kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah 	atas kesalahannya itu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat 	<em>Syarh Muslim</em> [6/473]). al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang dimaksud dengan &#8216;kalian memiliki bukti kuat dari 	sisi Allah atas kesalahannya itu&#8217; adalah adanya dalil tegas dari 	ayat atau hadits sahih yang tidak menerima ta&#8217;wil. Konsekuensinya, 	tidak boleh memberontak kepada mereka apabila perbuatan mereka itu 	masih mengandung kemungkinan  ta&#8217;wil.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [13/10]). Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“&#8230; 	kecuali apabila kaum muslimin telah melihat kekafiran yang nyata 	yang mereka memiliki bukti kuat dari sisi Allah tentangnya, maka 	tidak mengapa melakukan <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2116/slash/0" target="_blank">pemberontakan</a> kepada penguasa ini untuk 	menyingkirkannya </em><em><strong>dengan syarat apabila mereka mempunyai 	kemampuan yang memadai</strong></em><em>. Adapun apabila mereka tidak 	memiliki kemampuan itu maka janganlah mereka memberontak. Atau 	apabila terjadi pemberontakan maka -diduga kuat- akan timbul 	kerusakan yang lebih dominan, maka mereka tidak boleh memberontak 	demi memelihara kemaslahatan masyarakat luas. Hal ini berdasarkan 	kaidah syari&#8217;at yang telah disepakati menyatakan bahwa; &#8216;tidak boleh 	menghilangkan keburukan dengan sesuatu yang -menimbukkan akibat- 	lebih buruk dari keburukan semula, akan tetapi wajib menolak 	keburukan itu dengan sesuatu yang benar-benar bisa menyingkirkannya 	atau -minimal- meringankannya.&#8217;&#8230;”</em> (<em>al-Ma&#8217;lum Min Wajib 	al-&#8217;Alaqah baina al-Hakim wa al-Mahkum</em>, hal. 9-10)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Wajib bagi orang-orang yang mampu 	-dari kalangan ulama atau yang lainnya- untuk <strong>menasehati penguasa 	muslim</strong> yang melakukan penyimpangan dari hukum Allah dan 	Rasul-Nya. Namun hal itu -menasehati penguasa- dilakukan <strong>tanpa 	menyebarluaskan aib-aib mereka di muka umum</strong>. Hal itu sebagaimana 	disebutkan dalam hadits &#8216;Iyadh bin bin Ghunm  <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, 	Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, 	<em>“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah dia 	menampak hal itu secara terang-terangan/di muka umum, akan tetapi 	hendaknya dia memegang tangannya seraya menyendiri bersamanya -lalu 	menasehatinya secara sembunyi-. Apabila dia menerima nasehatnya maka 	itulah -yang diharapkan-, dan apabila dia tidak mau maka 	sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban dirinya.”</em> (<strong>HR. 	Ahmad dan Ibnu Abi &#8216;Ashim</strong> dengan sanad sahih, lihat <em>al-Ma&#8217;lum</em>, 	hal. 23, lihat juga perkataan asy-Syaukani dalam kitabnya <em>as-Sail 	al-Jarar</em> yang dikutip dalam kitab ini hal. 44). <span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Wajibnya <strong>bersabar</strong> dalam 	menghadapi penguasa muslim yang zalim kepada rakyatnya. D<span style="font-weight: normal;">ari 	Hudzaifah bin al-Yaman </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Akan ada 	para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan 	dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan 	akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana 	hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka Hudzaifah pun bertanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai 	Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kamu 	harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun 	punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. </span></em><em><strong>Tetaplah 	mendengar dan taat</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Muslim</strong><em><span style="font-weight: normal;">, </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">lihat</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> Syarh Muslim </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[6/480]</span></span><span style="font-weight: normal;">). 	Dari Ummu Salamah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anha</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Akan muncul 	para penguasa yang kalian mengenali mereka namun kalian mengingkari 	-kekeliruan mereka-. Barangsiapa yang mengetahuinya maka harus 	berlepas diri -dengan hatinya- dari kemungkaran itu. Dan barangsiapa 	yang mengingkarinya -minimal dengan hatinya, pent- maka dia akan 	selamat. Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang meridhainya dan 	tetap menuruti kekeliruannya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mereka -para sahabat- bertanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“</span></em><em><strong>Apakah 	tidak sebaiknya kami memerangi mereka?</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">”</span></em><span style="font-weight: normal;">. 	Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Jangan, 	selama mereka masih menjalankan sholat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [6/485]). </span><strong>Faedah</strong><span style="font-weight: normal;">: 	an-Nawawi</span><em><span style="font-weight: normal;"> rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Di dalam 	hadits ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak 	mampu melenyapkan kemungkaran tidak berdosa semata-mata karena dia </span></em><em><strong>tinggal diam</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">, 	akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu 	atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti 	kemungkarannya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [6/485])</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left: -0.01in; margin-bottom: 0in;"><strong>Catatan Penting</strong><span style="font-weight: normal;">: </span></p>
<p style="margin-left: -0.01in; margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian orang terjerumus dalam kesalahan dalam menyikapi penguasa muslim yang melakukan kekeliruan. Mereka menganggap demokrasi adalah haram, bahkan termasuk kemusyrikan. Karena di dalam konsep <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2672/slash/0" target="_blank">demokrasi </a>rakyat menjadi sumber hukum dan kekuasaan ditentukan oleh mayoritas. Di satu sisi mereka telah benar yaitu mengingkari demokrasi yang hal itu termasuk dalam bentuk kekafiran dan kemusyrikan, penjelasan lebih lengkap bisa dibaca dalam kitab </span><em><span style="font-weight: normal;">Tanwir azh-Zhulumat</span></em><span style="font-weight: normal;"> karya Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam -</span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">-. Namun, di sisi lain mereka telah melakukan kekeliruan yang sangat besar yaitu serampangan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada orang. Biasanya mereka berdalil dengan ayat (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Ma&#8217;idah: 44). Anggaplah demikian, bahwa mereka -yaitu pemerintah- telah berhukum dengan selain hukum Allah -meskipun sebenarnya pernyataan ini harus dikaji lebih dalam-, namun ada </span><strong>satu hal penting yang perlu diingat</strong><span style="font-weight: normal;"> -dan perkara inilah yang mereka lalaikan- bahwa tidak semua orang yang berhukum dengan selain hukum Allah itu dihukumi kafir! Mereka juga berdalih dengan ucapan para ulama yang menyatakan </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;setiap orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah maka dia adalah thaghut&#8217;</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/74]). Berdasarkan itulah mereka menyebut pemerintah negeri ini sebagai rezim thaghut dan kafir.</span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-weight: normal;">Kemudian, sebagai imbas dari keyakinan tersebut mereka pun mencaci-maki penguasa dan menuduh orang-orang yang menyerukan ketaatan kepada penguasa sebagai kelompok penjilat -sebagaimana tuduhan itu juga ditujukan kepada saya-, bahkan mereka pun tidak segan-segan menggelari para ulama dengan julukan ulama </span><em><span style="font-weight: normal;">salathin</span></em><span style="font-weight: normal;">, alias kaki tangan pemerintah, </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-weight: normal;">. </span></p>
<p style="margin-left: -0.01in; margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-left: -0.01in; margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Maka untuk menjawab kerancuan ini -</span><em><span style="font-weight: normal;">dengan memohon taufik dari Allah</span></em><span style="font-weight: normal;">- berikut ini kami ringkaskan penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> ketika menjelaskan isi Kitab at-Tauhid: Yang dimaksud dengan berhukum dengan selain hukum Allah yang dihukumi kafir dan murtad -sehingga layak untuk disebut sebagai thaghut- adalah dalam tiga keadaan: [1] Apabila dia meyakini bahwa berhukum dengan selain hukum Allah -yang bertentangan dengan hukum Allah- itu boleh, seperti contohnya: meyakini bahwa zina dan khamr itu halal. [2] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah itu sama saja (sama baiknya) dengan hukum Allah. [3] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah lebih bagus daripada hukum Allah. Lalu, dia bisa dihukumi zalim -yang tidak sampai kafir- apabila dia masih meyakini hukum Allah lebih bagus dan wajib diterapkan namun karena kebenciannya kepada orang yang menjadi objek hukum maka dia pun menerapkan selain hukum Allah. Demikian juga ia dikatakan fasik -yang tidak kafir- apabila dia menggunakan selain hukum Allah dengan keyakinan bahwa hukum Allah yang benar, namun dia melakukan hal itu -berhukum dengan selain hukum Allah- karena faktor dorongan hawa nafsu, suap, nepotisme dsb. Kemudian beliau juga menjelaskan bahwa tindakan orang yang mengganti syari&#8217;at dengan undang-undang buatan manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk kekafiran akbar -yang saya dengar dari ceramah Syaikh Abdul Aziz ar-Rays beliau telah rujuk dari pendapat ini sebelum wafatnya-. Meskipun demikian, orang yang memberlakukan undang-undang ini tidak serta merta dikafirkan. Seperti misalnya, apabila dia menyangka bahwa sistem yang diberlakukannya itu tidak bertentangan dengan Islam, atau dia menyangka bahwa hal itu termasuk  urusan yang diserahkan oleh Islam kepada manusia, atau dia tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu termasuk kekafiran (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/68-69 dan 71]). </span></p>
<p style="margin-left: -0.01in; margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-left: -0.01in; margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dengan menyimak keterangan beliau di atas jelaslah bagi kita bahwa tindakan sebagian orang yang dengan mudahnya mengkafirkan penguasa negeri ini -</span><em><span style="font-weight: normal;">semoga Allah membimbing mereka-</span></em><span style="font-weight: normal;"> serta menjuluki mereka sebagai rezim thaghut adalah sebuah tindakan serampangan dan tidak dibangun di atas ilmu yang benar. Bahkan, kalau diteliti lebih jauh ternyata mereka itu telah terjangkiti virus pemikiran Khawarij gaya baru yang menebar kekacauan berkedok jihad, </span><em><span style="font-weight: normal;">subhanallah.</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kewajiban-menaati-ulil-amri.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Grup Orang-Orang Keterlaluan</title>
		<link>http://abumushlih.com/grup-orang-orang-keterlaluan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/grup-orang-orang-keterlaluan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 07:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Siksa]]></category>
		<category><![CDATA[Sombong]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1591</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak disucikan-Nya (Abu Mu&#8217;awiyah -seorang periwayat- berkata: dan -Allah- tidak akan memandang mereka) dan mereka akan menerima &#8230; <a href="http://abumushlih.com/grup-orang-orang-keterlaluan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgrup-orang-orang-keterlaluan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgrup-orang-orang-keterlaluan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ada tiga golongan manusia yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak disucikan-Nya (Abu Mu&#8217;awiyah -seorang periwayat- berkata: dan -Allah- tidak akan memandang mereka) dan mereka akan menerima siksa yang sangat pedih, yaitu: orang yang sudah tua tapi berzina, raja yang suka berdusta, dan orang miskin yang sombong.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/184])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1591"></span></span>Hadits yang agung ini mengandung pelajaran, antara lain:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Di antara 	bentuk hukuman yang diberikan Allah di akherat kelak kepada 	orang-orang yang durhaka adalah dengan tidak mengajak bicara, tidak 	menyucikan, dan tidak memandang mereka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Di antara 	bentuk kenikmatan dan balasan yang diberikan Allah di akherat kelak 	kepada orang-orang yang taat adalah dengan mengajak bicara, 	menyucikan, dan memandang mereka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Iman kepada 	hari akherat dan pembalasan amal</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Iman adanya 	kehidupan setelah kematian</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Dorongan 	untuk beramal salih sebelum kematian datang</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Anjuran untuk 	bertaubat dari dosa dan kesalahan di masa silam agar tidak menjadi 	penyesalan di akherat nanti</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Penetapan 	bahwa Allah berbicara dan memandang, yang sesuai dengan kemuliaan 	dan keagungan diri-Nya, tidak serupa dengan makhluk-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Berzina, 	berdusta, dan sombong merupakan dosa besar</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Perbuatan 	dosa akan membawa petaka bagi pelakunya, cepat ataupun lambat</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Tercelanya 	orang-orang yang melakukan suatu jenis perbuatan dosa padahal dari 	segi kemungkinan dan dorongan untuk melakukannya adalah kecil, di 	sisi lain juga sebenarnya orang tersebut tidak terlalu 	&#8216;membutuhkannya&#8217;. Orang yang sudah tua semestinya akalnya sudah 	sempurna dan melemah sebab-sebab untuk melakukan &#8216;hubungan&#8217; dengan 	perempuan. Maka orang tua yang berzina jauh lebih tercela 	dibandingkan seandainya pelakunya itu masih muda yang notabene 	akalnya masih belum sempurna dan sebab-sebab untuk itu masih 	&#8216;menggebu-gebu&#8217;. Begitu pula seorang raja/pemimpin yang menipu 	rakyatnya padahal dia adalah penguasa yang tidak perlu merasa takut 	kepada siapa-siapa dan tidak perlu menjilat kepada orang lain. 	Demikian pula orang miskin, tidak punya harta, lantas apa yang akan 	disombongkannya? Itu semua menunjukkan bahwa mereka melakukan 	perbuatan dosa tersebut dalam keadaan tidak ada &#8216;alasan&#8217; untuk 	melakukannya tidak lain karena meremehkan kedudukan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> dan tidak peduli sama sekali terhadap aturan-Nya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/184-185])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Meninggalkan 	kemaksiatan karena takut kepada Allah ketika dia mampu melakukannya 	merupakan sebab bertambahnya iman.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Melakukan 	kemaksiatan dalam keadaan sedikitnya faktor pendorong dan kecilnya 	kemungkinan untuk melakukannya akan menyebabkan turunnya keimanan 	secara drastis, lebih parah keadaannya daripada orang yang 	bermaksiat dalam kondisi banyak faktor pendorongnya. Walaupun 	dua-duanya sama-sama tercela dan merusak iman pelakunya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fathu 	Rabbil Bariyyah</span></em><span style="font-weight: normal;">, karya 	Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Menyebutkan 	permasalahan secara global kemudian dirinci merupakan salah satu 	metode mengajar yang dicontohkan oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/grup-orang-orang-keterlaluan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Berdusta Atas Nama Nabi</title>
		<link>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 19:35:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1573</guid>
		<description><![CDATA[Dari Samurah bin Jundub dan al-Mughirah bin Syu&#8217;bah radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.” (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-berdusta-atas-nama-nabi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-berdusta-atas-nama-nabi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Samurah bin Jundub dan al-Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.”</em> (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p><span id="more-1573"></span>Dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian berdusta atas namaku. Sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka dia akan masuk neraka.”</em> Dalam riwayat Bukhari, <em>“Hendaknya dia masuk ke neraka.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-&#8217;Ilm</em>, dan Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p>Dari Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.”</em> (HR. Bukhari, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)</p>
<p>Dari al-Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama orang lain. Maka barangsiapa yang berdusta secara sengaja atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)<em> </em></p>
<p>Dari Salamah bin al-Akwa&#8217; <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berkata-kata atas namaku padahal aku sendiri tidak mengucapkannya</em> <em>maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)<em> </em></p>
<p>Hadits-hadits di atas mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>Tidak boleh berdusta atas nama Nabi</li>
<li>Berdusta atas nama Nabi lebih besar dosanya daripada berdusta      atas nama selainnya</li>
<li>Berdusta atas nama Nabi termasuk dosa besar</li>
<li>Wajib berhati-hati dalam menyampaikan hadits yang disandarkan      kepada Nabi, oleh sebab itu harus diteliti kebenarannya</li>
<li>Yang dimaksud berdusta atas nama Nabi adalah mengatakan bahwa      Nabi mengatakan sesutau padahal beliau tidak mengatakannya</li>
<li>Istilah hadits untuk menyebut sabda Nabi adalah istilah yang      syar&#8217;i dan sudah ada sejak jaman Nabi, bahkan beliau sendiri yang pertama      kali menyebutkannya</li>
<li>Wajibnya mempelajari ilmu hadits, untuk membedakan hadits yang      sahih dan yang bukan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

