<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Jalan Lurus</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/jalan-lurus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kemuliaan Abu Bakar</title>
		<link>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 22:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2457</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah [Fath al-Bari Juz 7 hal. 15] dengan judul &#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat bab di dalam <em>Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [<em>Fath al-Bari</em> Juz 7 hal. 15] dengan judul <em>&#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” </em>Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturan Imam Bukhari tersebut.</p>
<p><span id="more-2457"></span></p>
<p>Imam Bukhari berkata:</p>
<p><strong>Abdullah bin Muhammad</strong> menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: <strong>Abu &#8216;Amir</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Fulaih</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Salim Abu Nazhar</strong> menuturkan kepadaku dari <strong>Busr bin Sa&#8217;id</strong> dari <strong>Abu Sa&#8217;id al-Khudri</strong> <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkhutbah kepada orang-orang (para sahabat). Beliau mengatakan, <em>“Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”</em></p>
<p>Beliau -Abu Sa&#8217;id- berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Memang, Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.”</em></p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di <em>Kitab</em> <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> (lihat <em>Syarh Nawawi</em> Juz 8 hal. 7-8)</p>
<p>Berikut ini pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas. Kami sarikan dari keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi. Semoga bermanfaat.</p>
<ol>
<li>Hadits      ini mengandung keistimewaan yang sangat jelas pada diri Abu Bakar      ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>yang tidak ditandingi oleh siapapun -di      antara para sahabat-. Hal itu disebabkan beliau berhak mendapat predikat <em>Khalil</em> -kekasih terdekat- bagi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kalaulah      bukan karena faktor penghalang yang disebutkan oleh Nabi di atas (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [7/17 dan 19])</li>
<li>Abu      Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengetahui bahwa seorang hamba yang      diberikan tawaran tersebut adalah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.      Oleh sebab itu beliau pun menangis karena sedih akan berpisah dengannya,      terputusnya wahyu, dan akibat lain yang akan muncul setelahnya (lihat <em>Syarh      Nawawi</em> [8/7])</li>
<li>Hadits      ini menunjukkan bahwa semestinya masjid dijaga agar tidak menjadi seperti      jalan tempat berlalu-lalangnya manusia kecuali dalam kondisi darurat yang      sangat penting (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Para      ulama itu memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat. Setiap orang yang      lebih tinggi pemahamannya maka ia layak untuk disebut sebagai<em> a&#8217;lam</em> (orang yang lebih tahu) (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hadits      ini mengandung motivasi untuk lebih memilih pahala akhirat daripada perkara-perkara      dunia (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hendaknya      seorang berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik      kepadanya dan menyebutkan keutamaannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
</ol>
<p>Saudaraku&#8230; Kita bisa melihat bersama bagaimana zuhudnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap dunia. Kecintaan kepada akhirat dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah jauh lebih beliau utamakan daripada kesenangan dunia.</p>
<p>Kita juga bisa melihat bersama bagaimana kedalaman ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> terhadap hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ilmu itupun terserap dengan cepat ke dalam hatinya dan membuat air matanya meleleh. Beliau sangat menyadari bahwa kehadiran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah para sahabat laksana lentera yang menerangi perjalanan hidup mereka. Nikmat hidayah yang dicurahkan kepada mereka melalui bimbingan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah di atas segala-galanya.</p>
<p>Kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa dakwah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berjalan dengan bantuan dan dukungan para sahabatnya. Beliau -dengan kedudukan beliau yang sangat agung- tidaklah berdakwah sendirian. Terbukti pengakuan beliau terhadap jasa-jasa Abu Bakar yang sangat besar kepadanya. Tentu saja yang beliau maksud bukan semata-mata bantuan Abu Bakar untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi demi kemaslahatan umat yang itu tak lain adalah dalam rangka dakwah dan berjihad di jalan Allah.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan Abu Bakar di mata Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang melebihi sahabat-sahabat yang lain. Sehingga sangat keliru pemahaman sekte Syi&#8217;ah yang menjelek-jelekkan bahkan sampai mengkafirkan beliau.</p>
<p>Hadits ini pun menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap para sahabatnya. Bagaimana beliau dengan tanpa malu-malu mengakui keutamaan Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Padahal, kedudukan Abu Bakar tentu saja berada di bawah kedudukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Meskipun demikian, beliau menyebutkan jasanya dan menyanjungnya di hadapan para sahabat yang lain.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa memuji orang di hadapannya diperbolehkan selama orang tersebut tidak dikhawatirkan <em>ujub</em> karenanya. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar dari sisi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap memujinya di hadapannya dan di hadapan para sahabat yang lain. Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa Abu Bakar bukanlah termasuk kategori orang yang dikhawatirkan merasa ujub setelah mendengar pujian tersebut.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecintaan yang terpendam di dalam hati pasti akan membuahkan pengaruh pada gerak-gerik fisik manusia. Kecintaan yang sangat dalam pada diri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap Abu Bakar pun tampak dari ucapan dan perbuatan beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka konsekuensinya kita pun mencintai orang yang beliau cintai. Dan di antara orang yang beliau cintai, bahkan yang paling beliau cintai adalah Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Kecintaan yang berlandaskan Islam dan persaudaraan seagama. Lantas ajaran apakah yang justru mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, kalau bukan ajaran kesesatan?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salafi Kembali Dicaci</title>
		<link>http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 00:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2429</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Sunnah sebagai penyelamat di tengah derasnya badai fitnah. Salawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, yang telah menunjukkan dengan gamblang mengenai jalan kebenaran, yaitu jalan al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat). Amma ba’du. Rasulullah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsalafi-kembali-dicaci.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsalafi-kembali-dicaci.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Sunnah sebagai penyelamat di tengah derasnya badai fitnah. Salawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, yang telah menunjukkan dengan gamblang mengenai jalan kebenaran, yaitu jalan <em>al-Firqah an-Najiyah</em> (golongan yang selamat). <em>Amma ba’du</em>.</p>
<p><span id="more-2429"></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam itu datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Saudara seiman dan seakidah yang dirahmati Allah, tak henti-hentinya ahlul bathil menyerang dan menyerbu ahlul haq. Namun sama sekali hal itu tak akan menggoyahkan al haq sedikit pun. Belum lagi berlalu tragedi pengepungan kaum Syi’ah Hutsi di Yaman kepada saudara-saudara kita di Dammaj yang telah menewaskan sejumlah korban Ahlus Sunnah -<em>semoga Allah menempatkan mereka di surga-Nya</em>-.</p>
<p>Ternyata, dalam situasi yang sedemikian memprihatinkan ini, di negeri kita masih ada juga orang-orang yang berusaha menebarkan keragu-raguan terhadap kebenaran kepada umat Islam. Tuduhan dan celaan yang tidak pada tempatnya telah mengotori lisan dan tulisan mereka. Maha Suci Allah dari apa yang mereka lontarkan&#8230;</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah mengokohkan imanku dan imanmu&#8230; Sesungguhnya Islam yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan mengikuti metode beragama para sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>.</p>
<p>Terlalu banyak dalil, dari ayat maupun hadits yang menetapkan hakikat yang agung ini. Sehingga pemahaman tentang hal ini menjadi sebuah perkara yang teramat jelas dan gamblang di mata orang-orang yang masih mendengar suara hatinya.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu urusan maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 59</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menaati rasul, sesungguhnya dia telah menaati Allah.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 80</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan/tuntunan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah/petaka atau siksaan yang amat pedih.” </em>(<strong>QS. an-Nuur: 63</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim/pemutus perkara dalam segala perselisihan yang terjadi di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati dalam hati mereka rasa sempit atas apa yang kamu putuskan, dan mereka pasrah dengan sepenuhnya.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 65</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah layak bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula bagi seorang perempuan yang beriman, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain untuk urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia di dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 115</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu Muhajirin dan Anshar, beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya&#8230;” </em>(<strong>QS. at-Taubah: 100</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku, maka dia akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk mengikuti Sunnah/ajaranku dan Sunnah Khulafa’ur rasyidin yang berjalan di atas hidayah. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah berbagai perkara yang diada-adakan. Karena setiap bid’ah itu sesat.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Tirmidzi</strong>, Tirmidzi berkata; <em>hadits hasan sahih</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami pasti tertolak.” </em>(<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang menciptakan suatu bid’ah yang dia pandang sebagai sebuah kebaikan (bid’ah hasanah) maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengkhianati risalah.”</em></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sunnah adalah bahtera Nuh. Barangsiapa yang menaikinya niscaya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”</em></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.”</em></p>
<p>Imam al-Auza’i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wajib bagimu untuk mengikuti jejak orang-orang yang terdahulu (salaf), dan jauhilah pendapat-pendapat akal manusia meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.”</em></p>
<p>Imam asy-Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya suatu Sunnah/hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya meninggalkannya hanya gara-gara mengikuti pendapat seseorang.”</em></p>
<p>Ketika membicarakan tentang <em>ath-Tha’ifah al-Manshurah</em>/golongan yang dimenangkan, Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila mereka itu bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka itu.”</em></p>
<p>Imam adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em> memuji Imam ad-Daruquthni dengan ucapannya, <em>“Beliau tidak pernah menggeluti ilmu kalam/filsafat dan perdebatan, beliau pun tidak suka menceburkan diri ke dalamnya. Bahkan beliau adalah seorang salafi/pengikut salaf.”</em></p>
<p>Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa mengikuti Salafus Shalih –kaum Muhajirin dan Anshar, yaitu para sahabat, dan juga tabi’in dan tabi’ut tabi’in- adalah sebuah keharusan, apabila kita ingin termasuk golongan orang diridhai dan ditolong Allah. Maka setiap muslim tanpa kecuali harus beragama dengan berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pehamaman Salafus Shalih berdasarkan dalil-dalil yang sudah sangat jelas dan gamblang di atas, dan dalil-dalil lain yang banyak sekali. Inilah yang dimaksud dengan istilah salafi!!</p>
<p>Sekarang marilah kita bertanya kepada diri-diri kita:</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui cara sholat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> –dari takbir sampai salam- kalau bukan dari para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui tuntunan puasa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> –dari sejak sahur sampai buka- kalau bukan dari para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui cara wudhu dan tayammum yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kalau bukan dari para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui akhlak Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kalau bukan dari keterangan para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Aduhai, lantas mengapa sekarang di zaman ini, tatkala kita berbicara akidah, tatkala kita berbicara tauhid, tatkala kita berbicara tentang dakwah dan metode <em>ishlahul ummah</em>/memperbaiki umat sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan dipahami oleh para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em> kemudian seketika muncul tokoh-tokoh kaum muslimin yang berteriak-teriak mengingkari, melecehkan bahkan memusuhinya?!</p>
<p>Sungguh benar, apa yang dikatakan oleh sahabat Anas bin Malik <em>radhiyallahu’anhu </em>bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya tidaklah datang suatu zaman, melainkan yang sesudahnya itu lebih buruk daripada zaman sebelumnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Di saat-saat seperti inilah, semestinya setiap kita berintrospeksi sudahkah kita benar-benar berusaha mengikuti pemahaman Salafus Shalih, dalam akidah kita, ibadah kita, akhlak kita, dan mu’amalah kita. Bukannya malah menjauhkan umat dari pemahaman Salafus Shalih dan para ulamanya!</p>
<p>Apakah seperti ini balasan kalian kepada orang-orang yang telah mengorbankan harta, waktu, tenaga, bahkan nyawanya demi tegaknya dakwah Islam ini, wahai saudaraku! Tidakkah kalian ingat sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Janganlah kalian mencela para sahabatku! Seandainya ada salah seorang di antara kalian yang berinfak emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tidak akan bisa mengimbangi infak mereka walaupun hanya satu mud/dua genggaman tangan, atau pun setengahnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Akankah kita mengikuti jejak makhluk-makhluk keji yang telah mencaci-maki para Sahabat bahkan mengkafirkan mereka dengan kedok kecintaan kepada keluarga Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>? Apakah kita akan menjadi juru bicara mereka yang senantiasa menutup-nutupi  aib, kedustaan, dan pengkhianatan mereka (baca: Syi’ah) kepada umat, sementara para Sahabat yang mulia –para pemetik janji surga- beserta para ulama pengikut setia mereka kita hinakan dan kita cela habis-habisan?! <em>Subhanallah</em>&#8230; Sungguh ini adalah kezaliman yang sangat besar!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Artinya?</title>
		<link>http://abumushlih.com/apa-artinya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/apa-artinya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 00:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2331</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Kalau kita cermati akan banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian menjawab, bahwa kehidupan adalah uang. Sehingga setiap detik hidup ini yang dicari adalah uang. Artinya apabila dia tidak memiliki uang, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/apa-artinya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapa-artinya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapa-artinya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Sebagian orang mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Kalau kita cermati akan banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian menjawab, bahwa kehidupan adalah uang. Sehingga setiap detik hidup ini yang dicari adalah uang. Artinya apabila dia tidak memiliki uang, seolah-olah kehidupannya telah hilang. Sebagian lagi menjawab, bahwa kehidupan adalah kedudukan. Sehingga setiap detik yang dicari adalah kedudukan. Sebagian lagi memandang bahwa kehidupan adalah kesempatan untuk bersenang-senang. Maka bagi golongan ini kesenangan duniawi adalah tujuan utama yang dicari-cari.</p>
<p><span id="more-2331"></span></p>
<p>Saudaraku -<em>semoga Allah merahmatimu</em>- kehidupan ini adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga untuk kita. Jangan sampai kita sia-siakan kehidupan di dunia ini untuk sesuatu yang tidak jelas dan akan sirna. Kenikmatan dunia ini pun kalau mau kita pikirkan dengan baik, maka tidaklah lama. Sebentar saja, bukankah demikian? Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Seolah-olah tatkala  melihat hari kiamat itu, mereka tidaklah hidup (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di waktu siang atau sesaat di waktu dhuha.”</em> (<strong>QS. an-Nazi&#8217;at: 46</strong>)</p>
<p>Lalu apa yang harus kita lakukan di dunia ini? Sebuah pertanyaan menarik. Sebuah pertanyaan yang akan kita temukan jawabannya di dalam al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Jangan salah paham dulu&#8230; Jangan dikira bahwa itu artinya setiap detik kita harus berada di masjid, atau setiap detik kita harus membaca al-Qur&#8217;an, atau setiap hari kita harus berpuasa, sama sekali bukan demikian&#8230; Ibadah, mencakup segala ucapan dan perbuatan yang dicintai oleh Allah. Allah tidak menghendaki kita setiap detik berada di masjid. Allah juga tidak menghendaki kita setiap detik membaca al-Qur&#8217;an. Semua ibadah itu ada waktunya. Yang terpenting bagi kita adalah melakukan apa yang Allah cintai bagaimana pun keadaan kita dan di mana pun kita berada.</p>
<p>Di antara perkara yang dituntut pada diri kita adalah senantiasa mengingat Allah, sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang yang banyak berdzikir dan mengingat Allah dalam segala kondisi. Ibnu Taimiyah pernah mengungkapkan, <em>“Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas apa yang akan terjadi pada seekor ikan jika ia dikeluarkan dari air?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahkan mengatakan, <em>“Perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat Allah adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dengan mengingat Allah, maka kita akan berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Karena Allah senantiasa mengawasi kita dan mengetahui apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan, di mana pun dan kapan pun. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya perkara sekecil apapun. Inilah yang semestinya senantiasa kita tanamkan di dalam hati kita. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpesan, <em>“Bertakwalah kepada Allah dimana pun kamu berada.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>). Kita harus bertakwa kepada Allah baik ketika berada di rumah, di jalan, di kampus, di pasar atau di mana pun kita berada, ketika bersama orang maupun ketika bersendirian.</p>
<p>Menjadi orang yang bertakwa itu bagaimana? Saudaraku -<em>semoga Allah menunjuki kita</em>- ketakwaan itu akan diraih manakala kita senantiasa mengingat adanya hari pembalasan dan bersiap-siap untuk menghadapinya dengan menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> bahwa takwa adalah, <em>“Rasa takut kepada Allah, beramal dengan wahyu yang diturunkan, dan bersiap-siap menyambut hari kiamat.”</em> <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/apa-artinya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudaraku&#8230; Apa Yang Kau Cari?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 16:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2329</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang teman -semoga Allah menambahkan kepadanya ilmu yang bermanfaat- pernah menulis sebuah artikel dengan judul yang kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Namun, pada kesempatan ini saya hanya akan sedikit menyampaikan beberapa keterangan dan sedikit mengkaji realita yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-apa-yang-kau-cari.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-apa-yang-kau-cari.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Salah seorang teman -<em>semoga Allah menambahkan kepadanya ilmu yang bermanfaat</em>- pernah menulis sebuah artikel dengan judul yang kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Namun, pada kesempatan ini saya hanya akan sedikit menyampaikan beberapa keterangan dan sedikit mengkaji realita yang ada di sekitar kita demi mengingatkan diri kami sendiri dan segenap <em>ikhwah</em>&#8230;</p>
<p><span id="more-2329"></span><strong>Pertama</strong>; <em>Masalah Niat</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa amalan yang kita lakukan akan sangat tergantung pada niat pelakunya. Oleh sebab itu kami mengingatkan kepada segenap <em>ikhwah</em> untuk senantiasa menjaga niat dalam beramal karena Allah, bukan karena mencari tujuan-tujuan yang rendah dan hina. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Maka keikhlasan adalah perkara yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan oleh setiap kita, dalam setiap amalan yang kita lakukan, di mana pun dan kapan pun&#8230;</p>
<p><strong>Kedua</strong>; <em>Masalah Prioritas</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa keutamaan amalan itu bertingkat-tingkat, ada yang wajib dan ada yang sunnah, ada yang utama dan ada yang lebih utama, ada yang penting dan ada yang lebih penting. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada mengerjakan hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu hendaknya kita lebih mendahulukan sesuatu yang memiliki urgensi dan keutamaan yang lebih daripada sesuatu yang kurang penting dan kurang utama, terlebih lagi di saat-saat kebanyakan manusia tenggelam dalam kelalaian dan penyimpangan-penyimpangan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ibadah di saat fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>; <em>Masalah Ilmu</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa ilmu merupakan pintu menuju kebahagiaan, keselamatan, dan kemuliaan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka akan dipahamkan oleh-Nya dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Beliau juga bersabda, <em>“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu [agama] niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu hendaknya kita bersemangat dalam menuntut ilmu ini. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> pernah mengatakan, <em>“Barangsiapa yang menuntut ilmu dalam rangka menghidupkan ajaran Islam, maka dia termasuk Shiddiqin dan derajatnya adalah sesudah derajat kenabian.” </em>Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dalam sehari cukup sekali atau dua kali. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”</em></p>
<p><strong>Keempat</strong>; <em>Masalah Hidayah</em></p>
<p>Kita semua mengetahui betapa butuhnya kita terhadap hidayah dan bimbingan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Sehingga setiap hari kita memohon kepada-Nya untuk ditunjuki jalan yang lurus. Hidayah ini mencakup petunjuk berupa ilmu dan amalan. Karena orang yang berjalan di atas jalan yang lurus adalah yang memadukan antara ilmu dan amalan. Bukan sekedar berilmu tapi tidak beramal. Bukan juga beramal namun tanpa ilmu.</p>
<p>Oleh sebab itu kita harus menjaga nikmat hidayah ini dengan baik. Jangan sampai Allah mencabut hidayah ini dari dalam diri kita akibat kelalaian dan kesalahan kita sendiri. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tatkala mereka menyimpang maka Allah pun simpangkan hati mereka.”</em> (<strong>QS. ash-Shaff: 5</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya di hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata: Wahai Rabbku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku bisa melihat. Allah menjawab; Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami akan tetapi kamu justru melupakannya, maka demikian pula pada hari ini kamu dilupakan.”</em> (<strong>QS. Thaha: 124-125</strong>)</p>
<p><strong>Kelima</strong>; <em>Masalah Dakwah</em></p>
<p>Kita semua juga mengetahui bahwa dakwah merupakan tugas agung para pengikut setia Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dakwah memiliki keutamaan dan urgensi yang sangat besar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas ilmu yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu ilmu yang telah kita dapatkan tidak boleh disembunyikan. Hendaknya kita ikut berpartisipasi dalam menyebarluaskannya. Terlebih lagi di masa seperti masa kita sekarang ini tatkala kebatilan dan kemaksiatan begitu gencarnya dipromosikan melalui segala sarana, baik di kota maupun di desa, di kalangan orang tua maupun anak muda. Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> pernah berkata, <em>“Ilmu itu tidak bisa ditandingi oleh apapun, yaitu bagi orang yang niatnya benar.”</em> Ketika ditanya apa maksud niat yang benar itu, beliau menjawab, <em>“Yaitu belajar dalam rangka menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.”</em></p>
<p><strong>Keenam</strong>; <em>Masalah Sabar</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa untuk menuntut ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya tentu saja dibutuhkan kesabaran. Demikian juga untuk menjauhi larangan-larangan, menjalankan perintah, serta tatkala mengalami musibah. Maka hendaknya setiap kita menggembleng diri dengan kesabaran. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dengan bekal kesabaran dan keyakinan, maka akan diraih kepemimpinan dalam urusan agama.” </em></p>
<p>Para ulama kita juga menegaskan, bahwa sabar laksana kepala bagi anggota badan. Apabila kesabaran itu hilang maka hilanglah keimanan. Sabar ini sangat dibutuhkan. Lihatlah kesabaran para ulama kita dalam menuntut ilmu hingga harus merasakan haus dan lapar, jauh dari sanak famili, harus meninggalkan tanah kelahiran mereka, bahkan ada di antara mereka yang rela menjual pakaian dan bahkan rumahnya demi menuntut ilmu.</p>
<p>Demikian juga lihatlah kesabaran mereka dalam menghadapi berbagai ujian dan tekanan yang datang dari musuh-musuh dakwahnya. Tidaklah itu semua mereka lakukan kecuali karena keyakinan mereka akan kebenaran janji Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada orang-orang yang sabar. Allah tidak akan menyia-nyiakan jerih payah mereka, Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan dan kesabaran mereka selama hidup di dunia&#8230; Karena Allah akan membalasnya dengan surga yang kenikmatannya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia&#8230; Sebuah kenikmatan yang sekali celupan di dalamnya bisa melupakan segala kesusahan dan kerepotan yang pernah dialaminya selama hidup di dunia&#8230;</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>; <em>Masalah Akidah</em></p>
<p>Kita semua telah mengetahui keutamaan dan urgensi akidah bagi individu dan masyarakat. Sebab akidah yang benar merupakan kunci keselamatan pada hari pembalasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu [hari kiamat] tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>). Allah pun menjadikan dakwah kepada akidah yang benar sebagai pondasi dan ruh dakwah para nabi dan rasul. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu selayaknya setiap pribadi muslim dan muslimah memiliki perhatian yang besar terhadap masalah akidah, memahaminya dengan benar dan berusaha mendakwahkannya kepada umat setelah berusaha menanamkannya di dalam dirinya sendiri. Janganlah kita meremehkan masalah akidah, karena ia adalah pondasi dan ruh agama ini. Akidah tidak hanya dibutuhkan di permulaan, di tengah-tengah, ataupun di akhir saja, namun dia dibutuhkan di semua waktu dan di segala kondisi. Inilah ibadah hati yang tidak boleh terlepas barang sedetik pun dari hati setiap insan.</p>
<p>Kita harus ingat, bahwa bodoh dan lalai terhadap akidah adalah gerbang kehancuran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman tentang bahaya penyimpangan akidah ini (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”</em> (<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 72</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>; <em>Masalah Bahasa Arab</em></p>
<p>Kita semua juga telah mengetahui bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits ditulis dalam bahasa arab, demikian juga kitab-kitab para ulama kita. Maka menjadi kebutuhan bagi kita semua untuk bisa memahami ayat-ayat, hadits-hadits serta keterangan para ulama dengan benar. Oleh sebab itu alangkah pentingnya bagi setiap penuntut ilmu untuk mempelajari bahasa ini. Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Pelajarilah bahasa arab, karena ia adalah bagian penting dari agama kalian.” </em>Dengan memahami bahasa arab, maka seorang penuntut ilmu akan dapat membaca kitab-kitab tafsir, hadits dan fikih serta kitab-kitab ushul yang akan sangat berguna bagi pembentukan pribadi muslim yang cerdas dan bermanfaat bagi umat manusia.</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>; <em>Masalah Waktu</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa waktu, umur dan kesempatan merupakan kenikmatan yang tidak ternilai harganya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua nikmat yang banyak orang tertipu olehnya; yaitu kesehatan dan waktu luang.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Oleh sebab itu, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga bersumpah dengan waktu. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu semestinya kita gunakan waktu ini sebaik-baiknya demi kebahagiaan hidup kita di dunia maupun di akhirat. Sebab kita juga tidak tahu kapan kita akan mati dan dalam keadaan apa kita mati. Yang bisa kita lakukan adalah beramal dan beramal. Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan hari. Apabila berlalu hari itu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.” </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpesan, <em>“Bersegeralah dalam beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Pada waktu pagi seorang beriman namun di sore hari menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman dan esok harinya kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mungkin ini saja sebagian catatan yang rasanya perlu kami sampaikan sebagai pengingat bagi diri kami dan pembaca sekalian, mengingat pentingnya hal ini untuk disampaikan dan demikian banyaknya perkara yang menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka.</p>
<p>Tulisan ini terutama kami tujukan kepada segenap generasi muda yang telah diberikan kenikmatan oleh Allah berupa akal pikiran dan kesempatan serta kekuatan, agar mereka tidak menyia-nyiakan berbagai kesempatan baik yang telah dibukakan untuk mereka.</p>
<p>Semoga yang singkat ini bermanfaat, <em>wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>* Tulisan ini disusun dengan saran dari salah seorang teman -<em>semoga Allah senantiasa menjaganya</em>-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luasnya Rahmat Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/luasnya-rahmat-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/luasnya-rahmat-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 03:43:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmat]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2296</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala Allah menciptakan seluruh makhluk, Allah tuliskan di dalam kitab-Nya, yang kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arsy, yang isinya adalah: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari [3194] dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/luasnya-rahmat-allah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fluasnya-rahmat-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fluasnya-rahmat-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tatkala Allah menciptakan seluruh makhluk, Allah tuliskan di dalam kitab-Nya, yang kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arsy, yang isinya adalah: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.”</em> (<strong>HR. Bukhari [3194] dan Muslim [2751]</strong>)</p>
<p><span id="more-2296"></span></p>
<p>Dari Umar bin al-Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau menuturkan: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepada kami, <em>“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”</em>. Kami menjawab, <em>“Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [5999] dan Muslim [2754]</strong>)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kalau seandainya seorang mukmin mengetahui segala bentuk hukuman yang ada di sisi Allah niscaya tidak akan ada seorang pun yang masih berhasrat untuk mendapatkan surga-Nya. Dan kalau seandainya seorang kafir mengetahui segala bentuk rahmat yang ada di sisi Allah niscaya tidak akan ada seorang pun yang berputus asa untuk meraih surga-Nya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [6469] dan Muslim [2755]</strong>)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dahulu ada seorang lelaki yang belum pernah melakukan satu kebaikan pun, dia berpesan kepada anak-anaknya, &#8216;Kalau dirinya telah meninggal maka bakarlah jenazahnya, kemudian tebarkanlah setengah abunya di daratan dan setengahnya lagi di lautan. Demi Allah, seandainya Allah mampu membangkitkannya niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang belum pernah diberikan kepada siapa pun di antara umat manusia ini.&#8217; Tatkala lelaki itu meninggal anak-anaknya melaksanakan apa yang dia pesankan kepada mereka. Kemudian, Allah perintahkan daratan untuk mengumpulkan abunya yang tersebar di sana, dan Allah perintahkan lautan untuk mengumpulkan abunya yang tersebar di sana, lantas Allah bertanya kepadanya, &#8216;Mengapa kamu lakukan hal ini?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Karena takut kepada-Mu ya Rabb. Sedangkan Engkau Maha mengetahui.&#8217; Maka Allah pun mengampuninya.” </em>(<strong>HR. Bukhari [3481] dan Muslim [2756]</strong>)<em> </em></p>
<p>Dari<em> </em>Abu<em> </em>Musa <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, sampai tiba saatnya matahari terbit dari arah tenggelamnya.”</em> (<strong>HR. Muslim [2759]</strong>)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan seorang mukmin pun cemburu. Allah akan merasa cemburu ketika seorang mukmin melakukan perkara yang diharamkan kepadanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [5222] dan Muslim [2761]</strong>)</p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; kalau rahmat Allah sedemikian luas, maka janganlah kita berputus asa dari menggapainya.  Namun, hal itu bukan berarti kita boleh merasa aman dari siksaan-Nya&#8230; Karena tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah kecuali orang-orang yang merugi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/luasnya-rahmat-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Muda, Hendak Kemana?</title>
		<link>http://abumushlih.com/generasi-muda-hendak-kemana.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/generasi-muda-hendak-kemana.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 05:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Radikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2291</guid>
		<description><![CDATA[Masa muda adalah masa yang penuh dengan tanda tanya. Karena perjalanan masa muda merupakan kesempatan emas bagi siapa saja yang ingin merusak atau membangun peradaban umat manusia. Kita lihat, orang-orang yang ingin menjauhkan kaum muda dari agamanya berupaya sekuat tenaga &#8230; <a href="http://abumushlih.com/generasi-muda-hendak-kemana.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgenerasi-muda-hendak-kemana.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgenerasi-muda-hendak-kemana.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Masa muda adalah masa yang penuh dengan tanda tanya. Karena perjalanan masa muda merupakan kesempatan emas bagi siapa saja yang ingin merusak atau membangun peradaban umat manusia. </em></p>
<p><em><span id="more-2291"></span></em>Kita lihat, orang-orang yang ingin menjauhkan kaum muda dari agamanya berupaya sekuat tenaga untuk menyuguhkan berbagai sajian &#8216;menarik&#8217; untuk menjebak dan menjerumuskan mereka ke lembah kehancuran akhlak dan masa depan mereka. <em>Semoga Allah tidak memperbanyak golongan perusak semacam mereka&#8230;</em></p>
<p>Di sisi lain, kita juga melihat ada sebagian kalangan yang berupaya -dengan segala keterbatasan yang ada- untuk membendung arus pemikiran dan gaya hidup menyimpang yang tengah disebarluaskan di tengah generasi muda umat ini. <em>Semoga Allah meneguhkan mereka dan melipatgandakan pahala atas kesabaran dan keikhlasan mereka&#8230;</em></p>
<p><em>Saudaraku</em>, <em>semoga Allah menyatukan kita di atas jalan yang lurus.</em>.. Kemerosotan akhlak generasi muda adalah persoalan yang harus diatasi. Kita tidak hanya berbicara mengenai akhlak mereka kepada sesama, bahkan akhlak mereka kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>, Dzat yang telah menciptakan dan mencurahkan berbagai macam nikmat kepada mereka.</p>
<p>Belum lama kita dengar slogan-slogan kekafiran yang muncul di antara pemuda negeri ini. Seperti contohnya ungkapan, <em>“Area bebas tuhan”</em>, <em>“Tidak ada hukum tuhan”</em>, <em>“Semua agama benar”</em> dan lontaran-lontaran aneh bin sesat lainnya yang sangat menyakitkan untuk diceritakan. Apa ini kalau bukan buah makar setan dan bala tentaranya dari kalangan manusia yang berusaha untuk merongrong akidah dan keimanan kaum muslimin terutama generasi mudanya?!</p>
<p>Demikian juga, kalau kita melihat dari sisi yang lain, munculnya arus pemikiran ekstrim di tengah para pemuda yang disebarluaskan oleh sebagian &#8216;kaum tua&#8217;. Mereka yang berbicara seolah-olah semua orang selain kelompoknya adalah kafir seluruhnya. Mereka yang berbicara seolah-olah pemerintah umat ini tidak ada kebaikannya sama sekali. Mereka yang berbicara seolah-olah para pemimpin kaum muslimin semuanya adalah para pengkhianat rakyatnya. Mereka yang berbicara seolah-olah kekuasaan adalah segala-galanya. Mereka yang senantiasa membela aksi-aksi pengeboman yang menelan korban tak bersalah dengan dalih jihad dan perlawanan [?!]. Apakah ini kalau bukan buah makar setan dan bala tentaranya yang menggiring para pemuda ke jurang kebinasaan; melestarikan pemikiran ala khawarij yang membiarkan pemuja berhala bebas berkeliaran dan membantai kaum muslimin dengan alasan menegakkan keadilan?!</p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; pembinaan generasi muda di atas manhaj rabbani adalah perkara yang menjadi jawaban atas problematika yang kini tengah menghimpit mereka. Orang-orang yang bermanhaj rabbani adalah sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama kita, <em>“Yaitu orang-orang yang membimbing manusia dengan ilmu-ilmu yang mendasar sebelum ilmu-ilmu yang besar.”</em> (lihat Shahih al-Bukhari).</p>
<p>Banyak kita saksikan, kalangan yang menawarkan solusi atas problematika generasi muda. Akan tetapi sedikit yang kita temukan bersesuaian dengan manhaj yang haq ini; manhaj Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya dalam mendidik generasi muda secara khusus dan kaum muslimin secara umum. Padahal, Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memberikan jaminan kepada siapa saja yang konsisten mengikuti manhaj mereka dengan keberhasilan.</p>
<p>Bukankah Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, Allah pun mempersiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 100</strong>)</p>
<p>Inilah ayat yang menjadi syi&#8217;ar pengikut Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan menjadi ganjalan hati bagi orang-orang munafik dan musuh-musuh Islam. Ayat yang mengajak umat ini untuk merasa cukup dengan manhaj/cara beragama yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabat. Ajaran yang telah sempurna dan dapat diterapkan pada kondisi serta masa yang berbeda-beda. Ajaran yang menjamin pengikutnya sehingga tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”</em> (<strong>QS. Thaha: 123</strong>)</p>
<p>Maka musuh-musuh Islam pun berusaha keras untuk menjauhkan generasi muda dari manhaj yang haq ini. Mereka tawarkan berbagai macam wacana dan pemikiran demi mengacaukan pola berpikir dan gaya hidup anak muda. Bukan ilmu-ilmu mendasar yang mereka berikan, akan tetapi ilmu-ilmu yang lebih layak disebut sebagai racun pemikiran dan bisikan setan. Terkadang ayat dan hadits pun tidak segan mereka plintir maknanya demi mencocokkan dengan pemikiran mereka. Bahkan, yang lebih parah lagi ada yang terang-terangan lebih mendahulukan akalnya daripada ayat-ayat al-Qur&#8217;an..! <em>Subhanallah</em>&#8230; Mereka menuduh bahwa kepatuhan kepada dalil adalah bentuk kemalasan berpikir. Dengan kata lain, mereka ingin mengatakan bahwa tunduk kepada rasul secara total adalah sebuah ketololan&#8230;[?!] <em>Sungguh ini adalah kedustaan yang sangat besar</em>&#8230;</p>
<p>Tidak berhenti di situ saja. Bahkan, dibuatlah <em>imej</em> (kesan) bahwa orang-orang yang tekun menimba ilmu agama itu &#8211;apalagi sudah mengangkat celana di atas mata kaki dan memelihara jenggot bagi kaum lelaki dan mengenakan cadar bagi kaum perempuan&#8211; pada akhirnya akan menjadi orang-orang yang sesat dan membahayakan umat.</p>
<p>Kita tidak pungkiri bahwa banyaknya aliran dan firqah di tubuh kaum muslimin ini menyebabkan banyak anak muda yang salah jalan dalam beragama. Namun, merupakan sebuah sikap yang sangat keliru jika kemudian hal itu dijadikan alasan untuk berpaling dan tidak mau sama sekali mempelajari ilmu agama. Jelas, ini adalah sikap kekanak-kanakan&#8230; Dan inilah -<em>wallahu a&#8217;lam</em>- <em>imej</em> yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya diciptakan melalui media massa dan pemberitaan&#8230; Mereka tidak ingin generasi muda dekat dengan agamanya. Yang mereka inginkan adalah sosok generasi muda yang menjadi robot-robot penghasil uang dan konsumen fanatik demi melariskan produk-produk pemikiran dan kebudayaan barat yang jauh dari agama dan kesopanan&#8230;</p>
<p>Pada kondisi semacam ini, siapakah yang peduli terhadap nasib generasi muda umat ini? Akankah kita biarkan mereka buta tentang aqidah dan ajaran agamanya? Akankah kita biarkan mereka terseret oleh pemikiran ala iblis dan gaya hidup ala binatang? Dimanakah kecemburuan kita sebagai seorang muslim terhadap saudaranya? Bukankah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dicintainya bagi dirinya sendiri.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Syaikh Yahya al-Hajuri -<em>semoga Allah meluruskan langkah-langkahnya</em>- berkata, <em>“Maka menyampaikan kebaikan kepada umat manusia adalah termasuk bagian keimanan. Janganlah ada yang mengira bahwa dakwah ilallah ataupun ta&#8217;lim yang dilakukan oleh seseorang itu akan sia-sia belaka selama dia bersikap jujur kepada Allah -ikhlas dalam amalannya, pent-. Meskipun tidak ada seorang pun yang menerima dakwahmu maka kamu  tetap mendapatkan pahala&#8230;”</em> (<em>Syarh al-Arba&#8217;in</em>, hal. 105). Inilah saatnya, kita bahu-membahu untuk menyelamatkan generasi muda dari cengkeraman bahaya..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/generasi-muda-hendak-kemana.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Tengah Era Fitnah dan Kelalaian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2286</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. Amma ba&#8217;du. Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2286"></span> Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap insan. Tidakkah kita ingat bersama, <em>wahai saudaraku semoga Allah menjagaku dan menjagamu</em>&#8230; bahwa menjadi orang yang istiqomah di atas ketaatan di kala-kala fitnah merajalela adalah sebuah keutamaan yang sangat besar&#8230;</p>
<p>Dari Ma&#8217;qil bin Yasar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan bahwa mereka itu adalah, <em>“Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.”</em> (<strong>HR. Thabrani</strong>, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)</p>
<p>Ingatkah engkau <em>wahai saudaraku</em>&#8230; bahwa kebaikan paling utama yang saat ini banyak dilalaikan oleh manusia adalah tauhid, iman dan keikhlasan?</p>
<p>Tentang keutamaan tauhid, maka kita semua ingat bahwa tauhid inilah yang menjadi tujuan diciptakannya seluruh jin dan manusia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Para ulama salaf menafsirkan bahwa makna ibadah di sini adalah tauhid&#8230;</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada&#8230; betapa banyak di antara mereka yang melalaikan tauhid! Sehingga mereka terjerumus dalam berbagai perbuatan syirik&#8230; Entah itu syirik besar maupun kecil, entah itu yang tampak maupun yang tersembunyi&#8230; Padahal, kita semua tahu betapa besar bahaya dosa yang satu ini, sampai-sampai Allah mengatakan (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p>Tentang pentingnya keimanan, maka terlalu banyak dalil yang menunjukkan betapa besar peranan iman bagi kehidupan setiap insan. Di antaranya Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada di sekitar kita&#8230; betapa banyak orang yang rela menjual keimanannya demi mendapatkan kesenangan dunia yang hanya sementara! Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah dalam melakukan amalan-amalan sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman namun di pagi harinya dia menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Adapun, tentang keagungan ikhlas&#8230; maka banyak sekali dalil yang menunjukkan hal itu kepada kita. Di antaranya, Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>). Dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu diukur dengan niatnya. Dan setiap orang akan diberi balasan seperti apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena motivasi dunia atau karena keinginan menikahi seorang wanita, maka hijrahnya hanya akan mendapatkan balasan seperti apa yang dia niatkan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Lihatlah, berbagai fenomena yang ada di tengah umat manusia&#8230; Betapa banyak indikasi yang mencerminkan rusaknya nilai-nilai keikhlasan ini di dalam aktifitas hidup mereka. Penyakit riya&#8217; dan ujub seolah telah menjadi wabah yang merambah kemana-mana&#8230; Orang yang sholat, orang yang bersedekah, orang yang berdakwah, orang yang mengajarkan kebaikan&#8230; tidaklah ada satu celah kebaikan kecuali setan berusaha untuk membidikkan anak panah ujub dan riya&#8217; ini kepadanya&#8230;</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca <em>Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in</em> di dalam sholat kita&#8230; Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan -menukil keterangan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- bahwa <em>iyyaka na&#8217;budu</em> merupakan senjata untuk melawan penyakit riya&#8217;, sedangkan <em>iyyaka nasta&#8217;in</em> merupakan senjata untuk melumpuhkan penyakit ujub&#8230;</p>
<p><em>Saudaraku</em>.., semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran.. Tauhid, iman dan keikhlasan inilah yang menjadi perisai hidup seorang muslim. Tidak ada nilainya harta dan keturunan apabila tidak diiringi dengan tauhid, iman dan keikhlasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari -kiamat- tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>)</p>
<p>Tidaklah seorang hamba mendapatkan kemuliaan derajat di sisi Allah kecuali karena tauhid, iman dan keikhlasan yang mewarnai tindak-tanduk dan perilakunya. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah pada hari tiada lagi naungan kecuali naungan dari-Nya: [1] Seorang pemimpin yang adil, [2]  pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, [3] lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak berbuat keji oleh seorang wanita berkedudukan dan cantik namun ia mengatakan, &#8216;Aku takut kepada Allah&#8217;, [6] orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sepi lalu berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Maka di masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian semacam ini setiap muslim harus berjuang mempertahankan tauhid, keimanan dan keikhlasan yang ada di dalam dirinya. Semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> menunjuki kita kepada kebenaran dan meneguhkan kita di atasnya, dan semoga Allah menunjuki kita kebatilan dan menjauhkan kita darinya. <em>Wallahul musta&#8217;an</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laksana Pohon Yang Tak Berbuah</title>
		<link>http://abumushlih.com/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 04:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Siksa]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2239</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab Bad’i al-Khalq dalam sahihnya, beliau berkata; حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيلَ لِأُسَامَةَ لَوْ أَتَيْتَ فُلَانًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي &#8230; <a href="http://abumushlih.com/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flaksana-pohon-yang-tak-berbuah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flaksana-pohon-yang-tak-berbuah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Kitab Bad’i al-Khalq dalam sahihnya, beliau berkata;</p>
<p><span id="more-2239"></span></p>
<p><strong>حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ  عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيلَ لِأُسَامَةَ لَوْ  أَتَيْتَ فُلَانًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا  أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ دُونَ  أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لَا أَكُونُ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ وَلَا أَقُولُ  لِرَجُلٍ أَنْ كَانَ عَلَيَّ أَمِيرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ  شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالُوا وَمَا سَمِعْتَهُ يَقُولُ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ يُجَاءُ  بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ  أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ  فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا  شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ  الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ  وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ  عَنْ الْأَعْمَشِ</strong></p>
<p>Ali menuturkan kepada kami, Sufyan menuturkan kepada kami dari  al-A’masy dari Abu Wa’il dia berkata;ada orang yang berkata kepada  <strong>Usamah</strong>, <em>“Seandainya saja engkau mau mendatangi si fulan dan berbicara  menasihatinya.”</em> Maka dia menjawab, “Apakah menurut kalian aku tidak  berbicara dengannya melainkan aku harus menceritakannya kepada kalian.  Aku sudah menasihatinya secara rahasia. Aku tidak ingin membuka pintu  yang menjadikan aku sebagai orang pertama yang membuka pintu fitnah itu  -menasihati penguasa dengan terang-terangan-. Aku pun tidak akan  mengatakan kepada seseorang sebagai orang yang terbaik -walaupun dia  adalah pemimpinku- setelah aku mendengar sabda Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>.” Mereka bertanya, <em>“Apa yang kamu dengar dari beliau  itu?”</em>. Dia menjawab; Aku mendengar beliau bersabda, <em>“Akan didatangkan  seorang lelaki pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka  dan <strong>terburailah isi perutnya di neraka sebagaimana seekor keledai yang  berputar mengelilingi penggilingan</strong>. Maka berkumpullah para penduduk  neraka di sekitarnya. Mereka bertanya, “Wahai fulan, apa yang terjadi  padamu, bukankah dahulu kamu memerintahkan yang ma’ruf kepada kami dan  melarang kami dari kemungkaran?”. Lelaki itu menjawab, “<strong>Dahulu aku  memerintahkan kalian mengerjakan yang ma’ruf sedangkan aku tidak  melakukannya. Dan aku melarang kalian dari kemungkaran namun aku justru  melakukannya</strong>.”</em> Hadits ini diriwayatkan oleh Ghundar dari Syu’bah dari  al-A’masy (<strong>HR. Bukhari</strong> [3027] , disebutkan pula oleh Bukhari dalam Kitab  <em>al-Fitan</em> [6569] as-Syamilah).</p>
<p>Hasan Al Bashri <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Orang alim adalah orang  yang merasa takut kepada Ar Rahman walaupun dia tidak menyaksikan-Nya,  ia sangat menginginkan apa yang Allah iming-imingkan kepada dirinya, dan  ia bersikap zuhud terhadap sesuatu yang akan membuat murka Allah.”</em> Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em> bahwa hakikat  orang yang benar-benar mengenal Ar Rahman (Allah) adalah : [1] orang  yang tidak mempersekutukan apapun dengan Allah, [2] menghalalkan sesuatu  yang dihalalkan-Nya, [3] mengharamkan sesuatu yang diharamkan-Nya, [4]  senantiasa menjaga pesan/wasiat-Nya, dan [5] meyakini dirinya pasti akan  berjumpa dengan-Nya serta amalnya akan dihisab (<em>Tafsir Al Qur’an Al  ‘Azhim</em>, 6/349).</p>
<p>Sufyan Ats Tsauri menukil dari Abu Hayyan At Tamimi ucapan seorang  lelaki, <em>“Dahulu dikatakan bahwa ulama itu ada tiga macam; [1] Orang yang  alim terhadap Allah dan alim tentang aturan Allah, [2] Orang yang alim  tentang Allah namun tidak alim tentang aturan Allah, [3] Orang yang alim  tentang aturan Allah namun tidak alim terhadap Allah. Orang yang alim  terhadap Allah dan alim tentang aturan Allah adalah orang yang takut  kepada Allah serta mengetahui batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban.  Sedangkan Orang yang alim tentang Allah namun tidak alim tentang aturan  Allah adalah orang yang takut kepada Allah namun tidak mengerti seluk  beluk batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban. Adapun Orang yang alim  tentang aturan Allah namun tidak alim terhadap Allah adalah orang yang  mengerti seluk beluk batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban namun tidak  merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.”</em> (<em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>,  6/350).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Qasim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “<strong>Amal adalah buah  dari ilmu</strong>. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang lainnya. Ilmu  diibaratkan seperti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah seperti  buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus  menyertainya dengan amalan. Sebab <strong>orang yang berilmu akan tetapi tidak  beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh</strong>. Di dalam  hadits disebutkan, <em>“Orang yang paling keras siksanya adalah seorang  berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya”</em>. Orang  semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang dijadikan  sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam sebuah  sya’ir dikatakan,</p>
<p><em>Orang alim yang tidak mau<br />
Mengamalkan ilmunya<br />
Mereka akan disiksa sebelum<br />
Disiksanya para penyembah berhala</em></p>
<p>(<em>Hasyiyah Tsalatsatul Ushul</em>, hal. 12)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hendaknya  diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka <strong>ilmunya  itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya</strong>. Hal ini sebagaimana  terdapat dalam hadits Abu Barzah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kedua telapak kaki  seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan  ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah <strong>tentang ilmunya, apa  yang sudah diamalkannya</strong>” (<strong>HR. Tirmidzi</strong> 2341). Hal ini bukan berlaku bagi  para ulama saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua  orang yang mengetahui suatu perkara agama maka itu berarti telah tegak  padanya hujjah. Apabila seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah  pengajian atau khutbah Jum’at yang di dalamnya dia mendapatkan  peringatan dari suatu kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun  mengetahui bahwa kemaksiatan yang dilakukannya itu adalah haram maka ini  juga ilmu. Sehingga hujjah juga sudah tegak dengan apa yang didengarnya  tersebut. Dan terdapat hadits yang sah dari Abu Musa Al Asy’ari  radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Al Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk  menjatuhkan dirimu” (<strong>HR. Muslim</strong>)”</em> (<em>Hushulul Ma’mul</em>, hal. 18)</p>
<p><em>Allahumma na&#8217;udzu bika min &#8216;ilmin laa yanfa&#8217;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiada Nabi Lagi Sesudah Beliau!</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 22:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sekte]]></category>
		<category><![CDATA[Sesat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2228</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslimin&#8230; semoga senantiasa dirahmati Allah&#8230; Allah ta’ala berfirman, مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Muhammad itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki di antara kalian. Akan tetapi, beliau &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kaum muslimin&#8230; <em>semoga senantiasa dirahmati Allah</em>&#8230;</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><strong>مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“Muhammad itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki di antara kalian. Akan tetapi, beliau adalah utusan Allah dan <strong>penutup nabi-nabi</strong>. Dan Allah terhadap segala sesuatu Maha mengetahui.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 40</strong>)</p>
<p><span id="more-2228"></span></p>
<p>Di dalam kitab tafsirnya, Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>فهذه الآية نص في أنه لا نبي بعده، وإذا كان لا نبي بعده فلا رسول [بعده] بطريق الأولى والأحرى؛ لأن مقام الرسالة أخص من مقام النبوة، فإن كل رسول نبي، ولا ينعكس. وبذلك وردت الأحاديث المتواترة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم من حديث جماعة من الصحابة.</strong></p>
<p><em>“Ayat ini merupakan dasar hukum yang tegas yang menyatakan bahwa <strong>tidak ada lagi nabi setelah beliau</strong>. Dan apabila tidak ada Nabi sesudahnya maka itu artinya lebih-lebih lagi tidak ada rasul [setelahnya]. Sebab kedudukan kerasulan itu lebih istimewa daripada kedudukan kenabian. Karena setiap rasul itu pasti nabi, dan tidak sebaliknya. Banyak hadits mutawatir dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melalui penuturan jama’ah para Sahabat yang telah menegaskan hal itu.”</em> (<em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em> [6/428] asy-Syamilah)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي</strong></p>
<p><em>“&#8230;Aku adalah penutup nabi-nabi, [artinya] <strong>tidak ada lagi Nabi sesudahku</strong>&#8230;”</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong> dll dari Tsauban <em>radhiyallahu’anhu</em>. al-Hafizh berkata: <em>“Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, dinilai sahih oleh Ibnu Hibban”</em>, lihat <em>al-Fath</em> [20/131] asy-Syamilah)</p>
<p>Penulis kitab ‘<em>Aun al-Ma’bud</em> syarah/keterangan atas Sunan Abu Dawud berkata:</p>
<p><strong>( لَا نَبِيّ بَعْدِي )</strong><strong> </strong><strong>: تَفْسِير لِمَا قَبْله</strong></p>
<p><em>“Tidak ada lagi Nabi sesudahku; Ini merupakan <strong>tafsiran</strong> dari ucapan sebelumnya [yaitu ‘aku adalah penutup nabi-nabi’].”</em> (<em>‘Aun al-Ma’bud</em> [9/292] asy-Syamilah)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ</strong></p>
<p><em>“Aku adalah al-‘Aqib/yang paling belakang; al-‘Aqib yaitu [nabi] yang <strong>tidak ada lagi nabi sesudahnya</strong>.” </em>(<strong>HR. Muslim</strong> dari Jubair bin Muth’im <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Berdasarkan ayat dan hadits-hadits yang agung di atas teranglah bagi kita semua <strong>kebatilan</strong> pendapat yang menyatakan bahwa masih ada nabi setelah Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Inilah kebenaran, lantas apa lagi yang masih tersisa setelah kebenaran kecuali kesesatan&#8230;</p>
<p><em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lenyapnya Keberkahan Ilmu</title>
		<link>http://abumushlih.com/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 07:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2192</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. Seorang penuntut ilmu, tentu tidak menginginkan ilmunya hilang begitu saja tanpa bekas. Terlebih lagi, jika yang hilang itu adalah keberkahan ilmunya. Alias ilmu yang dipelajarinya tidak &#8230; <a href="http://abumushlih.com/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flenyapnya-keberkahan-ilmu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flenyapnya-keberkahan-ilmu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2192"></span></p>
<p>Seorang penuntut ilmu, tentu tidak menginginkan ilmunya hilang begitu saja tanpa bekas. Terlebih lagi, jika yang hilang itu adalah keberkahan ilmunya. Alias ilmu yang dipelajarinya tidak menambah dekat dengan Allah <em>ta&#8217;ala</em>, namun justru sebaliknya, <em>wal &#8216;iyadzu billah</em>&#8230;</p>
<p>Tidak sedikit, kita jumpai para penuntut ilmu syar&#8217;i yang berusaha untuk mengkaji kitab para ulama, bahkan bermajelis dengan para ulama dalam rangka menyerap ilmu dan arahan mereka. Tentu saja, perkara ini adalah sesuatu yang sangat-sangat harus kita syukuri. Karena dengan kokohnya ilmu dalam diri setiap pribadi muslim, niscaya agamanya akan tertopang landasan yang kuat. Sering kita dengar, ucapan yang sangat populer dari seorang Imam, Amirul Mukminin dalam bidang hadits, Muhammad bin Isma&#8217;il al-Bukhari <em>rahimahullah</em> di dalam Kitab Shahihnya yang menegaskan, <em>“Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.” </em></p>
<p>Begitu pula, perkataan Imam Ahlus Sunnah di masanya Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em> yang sangat terkenal, <em>“Umat manusia sangat membutuhkan ilmu jauh lebih banyak daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari cukup sekali atau dua kali. Adapun ilmu, maka ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.” </em>(lihat <em>al-&#8217;Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu</em>, tahqiq Syaikh Ali al-Halabi <em>hafizhahullah</em>).</p>
<p>Akan tetapi, tatkala ilmu yang dikaji, dihafalkan, dan didalami itu tidak sampai meresap serta tertancap kuat ke dalam lubuk hati, maka justru musibah dan bencana yang ditemui. Tidakkah kita ingat ungkapan emas para ulama salaf yang menyatakan, <em>“Orang-orang yang rusak di antara ahli ilmu kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan Nasrani.”</em> (lihat <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id min Surah al-Fatihah</em> oleh <em>Fadhilatusy Syaikh</em> Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>). Apa yang mereka katakan adalah kenyataan yang amat sering kita jumpai. Itu bukanlah dongeng atau cerita fiksi.</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah menjaga diriku dan dirimu&#8230; Masih tersimpan dalam ingatan kita, doa yang sepanjang hari kita panjatkan kepada Allah, <em>“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka, dan bukan jalannya orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula orang-orang yang sesat (Nasrani).” </em>Inilah doa yang sangat ringkas namun penuh dengan arti. Bahkan, Syaikhul Islam Abul Abbas al-Harrani <em>rahimahullah</em> pun menyebutnya sebagai doa yang paling bermanfaat, mengingat kandungannya yang sangat dalam dan berguna bagi setiap pribadi. Kaum Yahudi dimurkai karena mereka berilmu namun tidak beramal. Adapun kaum Nasrani tersesat karena mereka beramal tanpa landasan ilmu. Maka, orang yang berada di atas jalan yang lurus adalah yang memadukan antara ilmu dan amalan.</p>
<p>Dari sinilah, kita mengetahui, bahwa hakekat keilmuan seseorang tidak diukur dengan banyaknya hafalan yang dia miliki, banyaknya buku yang telah dia beli, banyaknya kaset ceramah yang telah dia koleksi, banyaknya ustadz atau bahkan ulama yang telah dia kenali, tidak juga deretan titel akademis yang dibanggakan kesana-kemari. Kita masih ingat, ucapan sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu wa ardhahu</em>, <em>“Bukanlah ilmu itu diukur dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi pokok dari ilmu adalah khas-yah/rasa takut -kepada Allah-.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em> karya Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Oleh sebab itulah, kita dapati para ulama salaf sangat keras dalam berjuang menggapai keikhlasan dan menaklukkan hawa nafsu serta ambisi-ambisi duniawi. Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, <em>“Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih berat daripada niatku.” </em>(lihat <em>Hilyah Thalib al-&#8217;Ilm</em> oleh Syaikh Bakr Abu Zaid <em>rahimahullahu rahmatan wasi&#8217;ah</em>).  Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya [tulus] karena Allah dan Rasul-Nya niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang dia inginkan saja.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).</p>
<p>Ikhlas, bukanlah ucapan yang terlontar di lidah, huruf yang tertulis dalam catatan, banyaknya harta yang telah kita sumbangkan untuk kebaikan, lamanya waktu kita berdakwah, atau penampilan fisik yang tampak oleh mata. Ikhlas adalah &#8216;permata&#8217; yang tersimpan di dalam hati seorang mukmin yang merendahkan hati dan jiwa-raganya kepada Rabb penguasa alam semesta. Inilah kunci keselamatan dan keberhasilan yang akan menjadi sebab terbukanya gerbang ketentraman dan hidayah dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan memperoleh keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 82</strong>). Allah berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari [kiamat] tidak lagi berguna harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Sementara kita semua mengetahui, bahwa tanpa keikhlasan tak ada amal yang akan diterima, <em>Allahul musta&#8217;an</em>.</p>
<p>Kita juga masih ingat, nasehat emas Ahli Hadits kontemporer yang sangat terkenal Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> di dalam kitab-kitabnya supaya kita tidak menjadi orang yang memburu popularitas. Beliau mengutip ungkapan para ulama kita terdahulu, <em>Hubbuzh zhuhur ya</em><em>qtha&#8217;uzh zhuhur</em>, <em>“</em><em>Menyukai ‘ketinggian’ </em><em>akan mematahkan punggung.”</em> Maknanya, gila popularitas akan menyebabkan kebinasaan, kurang lebih demikian&#8230; Allah berfirman (yang artinya), <em>“Berikanlah peringatan, sesungguhnya peringatan itu akan berguna bagi orang-orang yang beriman.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 55</strong>).</p>
<p>Ikhlas -<em>wahai saudaraku</em>- … adalah rahasia kesuksesan dakwah nabi dan rasul serta para pendahulu kita yang salih. Berapapun jumlah orang yang tunduk mengikuti seruan mereka, mereka tetap dinilai berhasil dan telah menunaikan tugasnya dengan baik. Mereka tidak dikatakan gagal, meskipun ayahnya  sendiri produsen berhala, meskipun anaknya sendiri menolak perintah Rabbnya, meskipun pamannya sendiri tidak mau masuk Islam yang diserukannya, meskipun tidak ada pengikutnya kecuali satu atau dua saja, bahkan ada nabi yang tidak punya pengikut sama sekali&#8230;! Mereka, adalah suatu kaum yang mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah karena keikhlasan dan ketaatan mereka kepada Rabbnya, karena ilmu dan amalan yang mereka miliki. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka itulah yang akan bersama dengan kaum yang mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada&#8217; dan orang-orang salih. Mereka itulah sebaik-baik teman.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 69</strong>)</p>
<p>Kalau kita memang ikhlas -<em>wahai saudaraku</em>- niscaya kita akan merasa senang apabila saudara kita mendapatkan hidayah, entah itu melalui tangan kita atau tangan orang lain&#8230; Kalau kita memang ikhlas -<em>wahai saudaraku</em>- maka amalan sekecil apapun tidak akan pernah kita sepelekan! Ibnu Mubarak <em>rahimahullah</em> mengingatkan, <em>“Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wal Hikam</em> oleh Ibnu Rajab). <em>Semoga Allah memberikan karunia keikhlasan kepada kita..</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

