<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Jalan Lurus</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/jalan-lurus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Ringan Tapi Agung</title>
		<link>http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 05:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1891</guid>
		<description><![CDATA[At Tauhid edisi VI/30 Oleh: al-Akh Yulian Purnama -hafizhahullah- Nampaknya, banyak diantara kita belum merenungkan secara mendalam, ayat Qur’an, dzikir dan doa yang hampir setiap hari terucap dari lisan kita, yang sebenarnya sangat lugas mengikrarkan konsep Tauhid yang benar. Ya, konsep Tauhid yang diajarkan Islam sesungguhnya sangat bisa dipahami dari dzikir, doa dan ayat-ayat sederhana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fringan-tapi-agung.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fringan-tapi-agung.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>At Tauhid edisi VI/30</strong></p>
<p><strong>Oleh: al-Akh Yulian Purnama -</strong><em>hafizhahullah</em><strong>-<br />
</strong></p>
<p>Nampaknya, banyak diantara kita belum  merenungkan secara mendalam, ayat Qur’an, dzikir dan doa yang hampir  setiap hari terucap dari lisan kita, yang sebenarnya sangat lugas  mengikrarkan konsep Tauhid yang benar.</p>
<p><span id="more-1891"></span>Ya, konsep Tauhid yang diajarkan  Islam sesungguhnya sangat bisa dipahami dari dzikir, doa dan ayat-ayat  sederhana yang sering dibaca oleh kebanyakan kita. Beberapa diantaranya  akan dibahas pada tulisan ini.</p>
<p><em><strong>Laa Ilaaha Illallah</strong></em></p>
<p>Kalimat ini tentu tidak asing lagi bagi  kita, sering kita ucapkan di dalam maupun di luar shalat, banyak  terdapat di dalam Al Qur’an dan merupakan rukun pertama dari rukun  Islam. Kalimat ini merupakan pondasi dari agama seorang muslim. Karena  dengan mengucapkan kalimat ini, seorang muslim telah mengikrarkan konsep  Tauhid. Secara bahasa arab, dan menurut penafsiran pada ulama, makna  dari ‘<em>Laa Ilaaha Illallah</em>‘ adalah ‘tidak ada sesembahan yang  berhak disembah selain Allah’. Dengan kata lain, ‘walaupun sesuai  realita sesembahan lain itu memang ada, namun satu-satunya yang berhak  disembah adalah Allah semata’. Jika demikian, orang yang mengucapkan ‘<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>‘ konsekuensinya ia tidak boleh sujud, berdoa,  shalat, tawakkal dan mempersembahkan bentuk ibadah yang lain kepada  selain Allah. Tidak kepada berhala, tidak kepada pohon, tidak kepada  batu, tidak kepada kyai, tidak kepada kuburan, melainkan hanya kepada  Allah semata.</p>
<p>Oleh karena itulah kaum Qura’isy  bersikeras enggan mengucapkan kalimat ini, padahal mereka juga menyembah  Allah dan mengakui Allah sebagai satu-satunya Rabb pencipta alam  semesta.</p>
<p>“<em>Katakanlah: “Siapakah yang memberi  rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa  (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang  mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari  yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka (kaum  musyrikin) akan menjawab: “Allah” </em>“ (QS. Yunus: 31)</p>
<p>Namun ketika diseru untuk mengucapkan ‘<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>‘, mereka berkata:</p>
<p>“<em>Mengapa Muhammad menjadikan  sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja? Sesungguhnya ini  benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan</em>” (QS. Shaad: 5)</p>
<p>Tidak hanya itu, bahkan marah dan  memerangi Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Padahal  sesembahan-sesembahan yang mereka sembah itu hanya sebagai perantara  untuk mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>“<em>Dan mereka menyembah selain  daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada  mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu  adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”</em> ” (QS. Yunus:  18)</p>
<p>Jika konsep Tauhid itu semata-mata  mengakui Allah sebagai satu-satunya Rabb pencipta alam semesta, tentu  kaum musyrikin ketika itu dengan senang hati mengucapkan ‘<em>Laa Ilaaha  Illallah</em>‘ dan tidak perlu marah serta memerangi Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em>.</p>
<p>Namun sungguh sangat disayangkan, banyak  orang yang bersemangat dalam dzikir ‘<em>Laa Ilaaha Illallah</em>‘  namun justru berbuat kesyirikan dengan mempersembahkan bentuk-bentuk  ibadah kepada selain Allah.  Renungkanlah..</p>
<p><em><strong>Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka  Nasta’in</strong></em></p>
<p>Kalimat di atas adalah sebuah ayat dari  surat Al Fatihah, yang tentunya sering kita baca lebih dari 17 kali  dalam sehari dan dihafal hampir oleh semua muslim diseluruh dunia. Yang  artinya:</p>
<p>“<em>Hanya kepada Engkaulah kami  beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan</em>”  (QS. Al Fatihah: 5)</p>
<p>Secara bahasa arab, gaya bahasa ayat ini  mengandung makna pembatasan. Sehingga maknanya ‘<em>Hanya kepadaMu lah  satu-satunya kami beribadah, hanya kepadaMu lah satu-satunya kami  memohon pertolongan</em>‘. Ayat ini menegaskan konsep Tauhid, bahwa  peribadatan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta menggantungkan  pertolongan hanya kepada Allah.</p>
<p>Meminta dan menggantungkan pertolongan  kepada selain Allah, semisal dukun, kyai, jin, atau menggunakan jimat,  rajah, jampi-jampi, berarti telah berbuat yang bertentangan dengan surat  Al Fatihah ayat 5 ini.</p>
<p><em><strong>Laa Haula Wa Laa Quwwata  Illa Billah</strong></em></p>
<p>Kalimat ini adalah dzikir yang sudah  tidak asing lagi di telinga dan lisan kita, dikenal dengan istilah <em>hauqolah</em>.  Biasa kita baca ketika mendengar adzan, ketika setelah shalat, atau  ketika melihat sesuatu yang menakjubkan. Arti dari kalimat ini adalah ‘<em>Tiada  daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah Ta’ala</em>‘.  Begitu agungnya kalimat ini sampai-sampai oleh Rasulullah <em>Shallalahu’alaihi  Wasallam</em> dikatakan sebagai tabungan surgawi.</p>
<p>Makna dari kalimat ini adalah, bahwa  tercapainya sesuatu, perubahan kondisi menjadi lebih baik, adalah  semata-mata karena kehendak Allah dan pertolongan dari-Nya. Bukan karena  pertolongan dukun, bantuan jin, keajaiban jimat atau kesaktian kyai.  Sama sekali bukan.</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan sesuatu  kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya  kecuali Dia</em>” (QS. Yunus: 107)</p>
<p>Konsekuensinya, memohon kebaikan,  memohon tercapainya sesuatu, menggantungkan pertolongan hanyalah  ditujukan kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Inilah konsep Tauhid.</p>
<p>“<em>Dan jika setan mengganggumu dengan  suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya  Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</em>” (QS. Fushilat: 36)</p>
<p><strong>Surat</strong><strong> Yaasin</strong></p>
<p>Konsep Tauhid dalam surat Yasin  sangatlah kental, terutama dalam ayat tentang seorang lelaki yang mau  mengikuti dakwah utusan Allah yang menyerukan Tauhid, di tengah  masyarakat yang berbuat kesyirikan. Lelaki tersebut berkata :</p>
<p>“<em>Faktor apa yang bisa sampai  membuatku tidak menyembah Rabb yang telah menciptakanku dan yang hanya  kepada-Nya-lah kamu semua akan dikembalikan? Untuk apa aku menyembah  sesembahan-sesembahan selain-Nya padahal jika Allah Yang Maha Pemurah  menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at dari para  sesembahan itu tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka  tidak pula dapat menyelamatkanku?</em>” (QS. Yaasin: 22-23)</p>
<p>Ayat ini menggelitik nalar manusia,  yaitu bahwa telah jelas Allah lah semata yang menciptakan alam beserta  isinya dan seluruh manusia. Lalu mengapa mempersembahkan ritual-ritual  ibadah kepada selain Allah? Sungguh kemusyrikan telah melempar jatuh  akal sehat manusia.</p>
<p>Ayat ini juga membantah telak orang yang  meminta-minta pertolongan kepada selain Allah. Karena pertolongan dari  sesembahan selain Allah, tidak bermanfaat jika Allah tidak  menghendakinya terjadi. Begitu juga keburukan  dari sesembahan selain  Allah, tidak membahayakan jika Allah tidak menghendakinya terjadi.</p>
<p>Namun sangat disayangkan, sebagian orang  bersemangat untuk selalu membaca surat Yasin setiap pekannya, namun  belum meresap dalam hati mereka konsep Tauhid yang terkandung di  dalamnya.</p>
<p><strong>Ayat Kursi</strong></p>
<p>Di negeri kita, hampir semua orang  menghapal ayat kursi, yaitu surat Al Baqarah ayat 255. Orang yang  merenungkan ayat kursi akan mendapati di dalamnya sarat akan konsep  Tauhid. Semisal firman Allah <em>Ta’ala</em> (yang artinya): “<em>Tiada  yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya</em>” (QS. Al  Baqarah: 255)</p>
<p>Berkaitan dengan ayat ini, Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya):</p>
<p>“<em>Katakanlah (wahai Muhammad): “Hanya  kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit  dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” </em>“ (QS. Az  Zumar: 44)</p>
<p>Ayat-ayat ini memberi pengajaran bahwa  syafa’at itu sepenuhnya milik Allah <em>Ta’ala</em>. Dan syafa’at dapat  diberikan semata-mata atas izin Allah Ta’ala. Memang benar bahwa  sebagian makhluk Allah ada yang dapat memberi syafa’at, itupun terbatas  pada orang-orang yang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at.  Sehingga tidak boleh sembarang kita mengklaim kyai Fulan, habib Fulan, <em>mbah </em>Fulan bisa memberi syafa’at padahal tidak ada keterangan bahwa  Allah <em>Ta’ala</em> mengizinkan mereka untuk memberi syafa’at.</p>
<p>Pengajaran lain, baginda Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam </em>memang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at. Namun  syafa’at dari Baginda Nabi tidak dapat diberikan kepada salah seorang  di antara kita tanpa izin Allah <em>Ta’ala</em>. Seseorang tidak akan  mendapatkan syafa’at jika Allah tidak me-ridhai dia untuk  mendapatkannya, walau orang tersebut telah memintanya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam </em>ribuan kali. Jika demikian, bukankah seharusnya kita  memohon syafa’at tersebut kepada Allah dan bukan memohonnya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em>? Terlebih lagi berdoa memohon syafa’at kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em> bertentangan dengan konsep Tauhid bahwa doa hanya  ditujukan kepada Allah semata.</p>
<p><strong>Dzikir Setelah Shalat</strong></p>
<p>Doa yang sering kita baca setelah shalat  ini berbunyi:</p>
<p><em>Allahumma, laa maani’a limaa  a’thaita, wa laa mu’thia limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal  jaddu</em></p>
<p>“<em>Ya Allah, tidak ada yang dapat  menghalangi jika Engkau memberikan sesuatu, dan tidak ada yang dapat  memberi jika Engkau telah menghalanginya. Tidak berguna kekayaan  seseorang dihadapun-Mu wahai Dzat Yang Maha Kaya</em>”  (HR. Bukhari  no.6615, Muslim no.477)</p>
<p>Dzikir ini menegaskan bahwa doa hanyalah  ditujukan kepada Allah bukan kepada selain-Nya. Karena Allah-lah yang  memiliki hak veto untuk memberi kebaikan dan keburukan atau tidak  memberinya.</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan sesuatu  kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya  kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada  yang dapat menolak kurnia-Nya</em>” (QS. Yunus: 107)</p>
<p>Dzikir yang diajarkan oleh Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em> ini berisi puji-pujian terhadap Allah terutama memuji  kebesaran Allah dalam hal kekuasaan-Nya untuk memberi kebaikan atau  keburukan. Berkaitan dengan hal tersebut, digunakannya lafadz ‘<em>Allahumma</em>‘  di sini memberikan pengajaran bahwa permintaan kita kepada Allah  disampaikan langsung kepada Allah tanpa melalui perantara siapapun.</p>
<p>“<em>Dan Allah berfirman: “Berdoalah  (langsung) kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan</em>” (QS. Al Mu’min: 60)</p>
<p>Demikian, semoga kita dan seluruh umat  muslim berhenti sejenak saja untuk merenungkan kalimat-kalimat di atas  yang senantiasa meluncur deras dari lisan kita, sehingga dapat kita  resapi hakikat ajaran Tauhid yang agung yang merupakan modal utama untuk  mengharap secercah rahmat dari Allah <em>Ta’ala</em> di hari akhir  kelak. [Yulian Purnama]</p>
<p>Sumber: http://buletin.muslim.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dimanakah Para Pemuda?</title>
		<link>http://abumushlih.com/dimanakah-para-pemuda.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dimanakah-para-pemuda.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 11:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Perang]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1843</guid>
		<description><![CDATA[Para pemuda -semoga Allah merahmati kalian- bukanlah sesuatu yang asing bagi kita bahwa kaum muda adalah pelopor berbagai perubahan di berbagai penjuru dunia. Namun, yang menjadi pertanyaan ialah ke arah mana perubahan itu hendak dijalankan; kepada kebaikan ataukah keburukan? Sementara kita semua menyadari kandungan firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdimanakah-para-pemuda.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdimanakah-para-pemuda.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Para pemuda -<em>semoga Allah merahmati kalian</em>- bukanlah sesuatu yang asing bagi kita bahwa kaum muda adalah pelopor berbagai perubahan di berbagai penjuru dunia.</p>
<p><span id="more-1843"></span>Namun, yang menjadi pertanyaan ialah ke arah mana perubahan itu hendak dijalankan; kepada kebaikan ataukah keburukan? Sementara kita semua menyadari kandungan firman Allah (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”</em> (<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 11</strong>).</p>
<p>Dari situlah, maka kesadaran generasi muda untuk menjadi garda terdepan perjuangan umat Islam merupakan modal besar perubahan ini. Para pemuda yang tidak terlalaikan oleh kesenangan dunia yang fana dan tidak terpedaya oleh tipu daya Iblis dan bala tentaranya yang kian hari kian menggoda. Para pemuda yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Yang dengan kecintaan itu mereka rela berjuang di jalan-Nya, dengan harta mereka, ilmu, bahkan kalau perlu nyawa mereka. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak pernah berperang atau tidak pernah terbersit di dalam hatinya keinginan untuk berperang maka dia meninggal di atas salah satu cabang kemunafikan.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Seorang mujahid itu adalah yang berjuang menundukkan hawa nafsunya dalam rangka ketaatan kepada Allah.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>).</p>
<p>Para pemuda -<em>semoga Allah menambahkan kepada kita ilmu dan kesabaran</em>- sesungguhnya kondisi akhir zaman yang dipenuhi dengan fitnah dan kekacauan membutuhkan kehadiran sosok para pemuda yang <em>&#8216;tumbuh di atas komitmen untuk tetap beribadah kepada Allah</em>&#8216;, para pemuda yang <em>&#8216;hatinya bergantung di masjid&#8217;</em>, para pemuda <em>&#8216;yang memiliki rasa takut yang dalam kepada Rabbnya&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;apabila diingatkan tentang Allah maka muncullah rasa takut dan khusyu&#8217; di dalam hati mereka&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;apabila dibacakan ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman mereka&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;bertakwa kepada Allah di mana saja mereka berada&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;berdakwah kepada tauhid di atas ilmu yang nyata&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar&#8217;</em>, para pemuda yang menjadi <em>&#8216;teladan dalam kebaikan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada kebenaran dan berlepas diri dari segala praktik kemusyrikan&#8217;</em>, para pemuda <em>&#8216;yang senantiasa mengembalikan perselisihan mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;senantiasa menghormati kedudukan para ulama dan penguasa umat Islam&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;mengisi hari-harinya dengan dzikrullah&#8217;</em> dan ketaatan serta <em>&#8216;menjauhi nyanyian setan&#8217;</em> dan <em>&#8216;menjauhkan diri dari pintu-pintu kemaksiatan&#8217;</em>.</p>
<p>Pada hari ini, <em>wahai para pemuda</em>&#8230; manusia-manusia yang tidak mau mengenal agama -<em>bahkan membencinya</em>- tak ubahnya seperti <strong>srigala berbulu &#8216;biduanita&#8217;</strong>. Mereka menjual agama demi mendapatkan fatamorgana, mereka menggiring para pemuda untuk sedikit demi sedikit meninggalkan <em>benteng-benteng agama</em> (yaitu majelis ilmu dan kitab para ulama) menuju <em>&#8216;kamp-kamp pembantaian&#8217;</em> yang telah merusak agama, harga diri dan kehormatan ribuan para pemuda. Para pemuda yang telah menjadi tawanan Iblis, para pemuda yang lalai akan tujuan hidupnya, para pemuda yang tercipta seolah-olah hanya untuk dunia, para pemuda yang tidak mengenal masjid kecuali hari Jum&#8217;at saja, para pemuda yang tidak mengenal al-Qur&#8217;an kecuali di saat Yasinan pula, para pemuda yang tidak mengenal salawat kecuali di sela-sela antara adzan dan iqomat -itupun salawat yang dibuat-buat-, para pemuda yang silau oleh kebudayaan barat dan lupa akan keteladanan kaum salaf kebanggaan umat. Aduhai, para pemuda&#8230; dimanakah kalian berada? Musuh berada di hadapan, sementara kalian terbirit-birit meninggalkan benteng pertahanan!! <em>Allahul musta&#8217;aan</em>&#8230;</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dimanakah-para-pemuda.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seandainya Kalian Tahu Dosa-Dosaku&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/seandainya-kalian-tahu-dosa-dosaku.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/seandainya-kalian-tahu-dosa-dosaku.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 04:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Mas'ud]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafus Shalih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1815</guid>
		<description><![CDATA[Wasiat Abdullah bin Mas&#8217;ud [1] Oleh: Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alusy Syaikh hafizhahullah Termasuk kekurangan yang menimpa kaum muslimin sekarang ini mereka mengerti perkataan-perkataan orang-orang sekarang atau orang-orang yang sezaman dengan mereka dan mereka lalai memperhatikan dan mengenal serta menelaah perkataan-perkataan As-Salafus Soleh padahal perkataan para salaf sedikit namun faedahnya banyak. Adapun perkataan kholaf [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseandainya-kalian-tahu-dosa-dosaku.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseandainya-kalian-tahu-dosa-dosaku.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>Wasiat Abdullah bin Mas&#8217;ud [1]</strong></p>
<p>Oleh: <strong>Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alusy Syaikh</strong> <em>hafizhahullah</em></p>
<p>Termasuk kekurangan yang menimpa kaum  muslimin sekarang ini mereka mengerti perkataan-perkataan orang-orang  sekarang atau orang-orang yang sezaman dengan mereka dan mereka lalai  memperhatikan dan mengenal serta menelaah perkataan-perkataan As-Salafus  Soleh padahal perkataan para salaf sedikit namun faedahnya banyak.</p>
<p><span id="more-1815"></span>Adapun perkataan kholaf (orang-orang terbelakang) banyak namun faedahnya  sedikit sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Rojab  Abdurrohman bin Ahmad Al-Hanbali –rohimahullah- dalam kitabnya yang  agung فضل علم السلف على علم الخلف “Keutamaan ilmu salaf di atas ilmu  kholaf”. Dan landasan hal ini adalah bahwasanya para salaf jika mereka  berbicara dalam pembicaraan-pembicaraan mereka, mereka meneladani  hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam perkataan-perkataannya ringkas dan beliau shallallahu  ‘alaihi wa sallam telah dianugrahi jawami’ul kalim yaitu  perkataan-perkataan yang ringkas namun mengandung makna yang sangat  luas. Maka engkau dapati para sahabat perkataan-perkataan mereka,  wasiat-wasiat mereka, tulisan-tulisan mereka, risalah-risalah mereka  yang mereka ungkapkan tatkala saling menasehati diantara mereka kita  dapati ungkapan-ungkapan tersebut sedikit kata-katanya dan sedikit  hurufnya namun barangsiapa yang mentadabburinya maka ia akan mendapati  keajaiban-keajaiban pada setiap kalimat berupa makna yang luas, banyak,  dan kokoh.</p>
<hr id="system-readmore" style="text-align: justify;" />
<p style="text-align: justify;">Para sahabat Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bertingkat-tingkat, diantara mereka adalah kaum  Muhajirin yang mereka masuk Islam terlebih dahulu di Mekah[1]. Dan  diantara kaum muhajirin tersebut adalah orang yang dekat dengan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membawakan kedua sandal Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta yang membawakan air untuk bersuci  bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah Abdullah bin  Mas’ud Al-Hudzali yang wafat pada tahun 32 H[2].</p>
<p>Abdullah bin  Mas’ud atau Ibnu Ummi ‘Abd sebagaimana demikanlah Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam memanggilnya, beliau termasuk para sahabat yang masuk  Islam di Mekah[3] dan beliau menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  sejak di Mekah dan mendengar Al-Qur’an sejak tatkala pertama kali  turun[4]. Beliau hafal Al-Qur’an, hingga ia pernah berkata,<br />
<strong><br />
والله  الذي لا إله غيره ما أنزلت سورة من كتاب الله إلا أنا أعلم أين أنزلت ولا  أنزلت آية من كتاب الله إلا أنا أعلم فيما أنزلت ولو أعلم أحدا أعلم مني  بكتاب الله تبلغه الإبل لركبت إليه</strong></p>
<p><em>((Demi Dzat yang tidak ada  sesembahan selainNya tidaklah turun surat dari Al-Qur’an kecuali aku  tahu dimana turunnya dan tidaklah turun ayat dari Al-Qur’an kecuali aku  tahu  pada perkara apa turunnya kalau aku mengetahui ada seseorang yang  lebih mengetahui tentang Al-Qur’an daripada aku yang ia bisa ditemui  dengan unta maka aku akan naik unta menemuinya)) [5]</em></p>
<p>Dan  beliau menghapal Al-Qur’an dan merupakan sahabat yang paling pandai baca  Al-Qur’an[6], dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata  tentangnya</p>
<p><strong>من سره أن يقرأ القرآن غضا طريا كما أنزل فليقرأه على  قراءة ابن أم عبد</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang senang untuk membaca  Al-Qur’an sebagaimana turunnya maka hendaknya ia membaca sesuai dengan  qiro’ahnya (bacaannya) Ibnu Ummi ‘Abdin (yaitu Ibnu Mas’ud)”</em> [7]</p>
<p>Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah suatu kali berkata  ((Wahai  Abdullah bacalah Al-Qur’an kepadaku!)), Ibnu Mas’udpun berkata, “Apakah  aku membaca kepadamu padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu?”, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ((Aku senang untuk mendengar  Al-Qur’an dari selainku)). Maka Ibnu Mas’udpun membaca dari awal surat  An-Nisaa’ hingga beliau membaca firman Allah</p>
<p>﴿<strong>فَكَيْفَ إِذَا  جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ  شَهِيدًا(41)يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوْا الرَّسُولَ  لَوْ تُسَوَّى بِهِمْ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ  حَدِيثًا﴾[النساء:41-42]</strong><br />
<em><br />
Maka bagaimanakah (halnya orang-orang  kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari  tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas  mereka itu. Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang  mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan  mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun. </em>(QS.  4:41-42)</p>
<p>Maka Nabipun berkata, حسبك ((Cukup)). Ibnu Mas’ud  berkata, “Maka akupun melihat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  ternyata kedua matanya meneteskan air mata”[8]</p>
<p>Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan umatnya untuk meneladani  Ibnu Mas’ud sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  sebagaimana telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al-Hakim, dan yang lainnya  bahwasanya beliau bersabda, تمسكوا بعهد ابن أم عبد ((Berpeganglah dengan  wasiat Ibnu Mas’ud)) [9], yaitu jika beliau berwasiat kepada kalian  maka berpegangteguhlah dengan wasiat tersebut.</p>
<p>Beliau shallallahu  ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang shahih, رضيت لأمتي ما  رضي لها ابن أم عبد ((Aku ridho bagi umatku apa yang diridhoi oleh Ibnu  Mas’ud bagi umatku)) [10]</p>
<p>Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda dalam hadits yang shahih, قد رضيت لكم ما رضي لكم ابن أم  عبد ((Aku sungguh telah ridho bagi kalian apa yang telah diridhoi oleh  Ibnu Mas’ud bagi kalian)) [11]</p>
<p>Oleh karena itu Ibnu Mas’ud adalah  ahli wasiat dan ia memberi wasiat. Dan wasiat-wasiat beliau  –sebagaimana telah lalu- menggabungkan antara kalimat-kalimat yang  ringkas namun maknanya luas, dan akan tiba apa yang menunjukan hal itu.</p>
<p>Beliau  adalah orang yang wara’, khusyu’, dan selalu mentadabburi Al-Qur’an  serta mengamalkannya, juga memerintahkan dan melarang dengan Al-Qur’an.  Beliaulah yang telah berkata,</p>
<p><strong>إذا سمعت ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ  آمَنُوا﴾ فأرعها سمعك، فإنها خير تؤمر به، أو شر تنهى عنه</strong></p>
<p><em>“Jika  engkau mendengar firman Alllah ((Wahai orang-orang yang beriman)) maka  pasanglah telingamu karena akan datang ayat kebaikan yang engkau  diperintahkan untuk melaksanakannya atau kejelekan yang engkau dilarang  darinya”</em> [12]</p>
<p>Beliau juga yang telah berwasiat, ينبغي لصاحب  القرآن أن يعرف بليله إذا الناس نائمون، وبنهاره إذا الناس مفترون  “Hendaknya bagi penghafal Al-Qur’an untuk mengenal malamnya tatkala  manusia dalam keadaan tidur (yaitu hendaknya sholat malam) dan mengenal  siangnya (yaitu dengan berpuasa) tatkala manusia sedang berbuka” [13]</p>
<p>Beliau  juga yang telah berwasiat tentang Al-Qur’an, لا تنثروه نثر الدقل، ولا  تهزوه هز الشعر، قفوا عند عجائبه، وحركوا به القلوب “Janganlah kalian  membacanya dengan cepat (tanpa mentadabburi maknanya) sebagaimana  dibuangnya ad-daql (korma yang jelak yang dibuang bertaburan[14]), dan  janganlah menandungkannya seperti senandung sya’ir, berhentilah pada  keajaiban-keajaibannya dan gerakkanlah hati” [15]</p>
<p>Beliau memliki  sahabat (murid-murid) dan beliau memberi wasiat-wasiat kepada mereka  yang dijaga hingga sampai kepada kita wasiat-wasiat tersebut. Dan para  sahabatnya sesuai dengan keadaan beliau, mereka berjalan di atas  langkahnya dan mengambil petunjuk-petunjuk beliau. Beliau adalah orang  yang tingkah laku beliau, sifat-sifat beliau yang paling mirip dengan  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu beliau adalah orang yang paling  semangat di atas sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh  karena itu beliau adalah orang yang paling serupa dengan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>Wasiat Pertama</strong></p>
<p>Ibnu  Mas’ud memiliki sahabat (murid-murid), dan demikianlah seorang alim  yang berdakwah maka pasti manusia akan terpengaruh dengannya. Meskipun  demikian beliau adalah suri tauladan hingga dalam kepemimpinannya dan  persahabatannya. Suatu kali ia melihat para sahabatnya (murid-muridnya)  mengikutinya dibelakangnya, ia melihat jumlah mereka yang banyak  maka  beliaupun mengatakan kepada mereka wasiat beliau dan ia adalah wasiat  yang pertama dari wasiat-wasiat beliau yang akan kita tadabburi.</p>
<p>Diantara  wasiat-wasiat beliau adalah:<br />
<strong><br />
لو تعلمون ذنوبي ما وطئ عقبي اثنان،  ولحثيتم التراب على رأسي، ولوددت أن الله غفر لي ذنبا من ذنوبي، وأني دعيت  عبد الله بن روثة. أخرجه الحاكم وغيره</strong>.</p>
<p><em>((Kalau kalian  mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di  belakangku dan sungguh kalian akan melemparkan tanah di atas kepalaku,  dan aku berangan-angan Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan  aku dipanggil Abdullah bin Kotoran)).</em>Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan  yang lainnya[16]</p>
<p>Ia berkata kepada para sahabatnya ((Kalau  kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orang yang berjalan di  belakangku)), dalam riwayat yang lain ((Jika kalian mengetahui  dosa-dosaku –kemudian beliau bersumpah dan berkata- Demi Allah yang  tidak ada sesembahan selainNya kalau kalian tahu maka sungguh kalian  akan menaburkan tanah di atas kepalaku))</p>
<p>Wasiat ini tidak  diragukan lagi merupakan pelajaran karena ketenaran dikalangan manusia  sangat mungkin terjadi jika seseorang memiliki sesuatu yang  membedakannya dikalangan manusia, bisa jadi mereka akan mengagungkannya,  bisa jadi mereka akan memujinya, bisa jadi mereka berjalan di  belakangnya. Dan seseorang jika bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka  ia akan menggetahui bahwa dosanya sangatlah banyak[17]. Oleh karena itu  tidaklah mengherankan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mewasiatkan kepada Abu Bakar –dan ia adalah orang yang terbaik dari umat  ini dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[18]- yaitu  As-Siddiq yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata  tentangnya لو وزن إيمان أبي بكر بإيمان الأمة لرجح إيمان أبي بكر  ((Kalau  ditimbang imannya Abu Bakar dengan imannya umat maka akan lebih berat  imannya Abu Bakar)) [19], Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan  kepadanya agar berdoa di akhir sholat dengan doa, maka ia berkata dalam  doa tersebut</p>
<p><strong>ربي إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا  أنت<br />
</strong><br />
((Ya Allah sesungguhnya aku telah mendzolimi diriki sendiri  dengan kedzoliman yang banyak dan tidak ada yang mengampuniku keculai  Eangkau))</p>
<p>Yang berwasiat adalah Nabi r dan yang diwasiatkan  adalah Abu Bakar As-Shiddiq</p>
<p><strong>ربي إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر  الذنوب إلا أنت فاغفر لي مغفرة من عندك</strong></p>
<p><em>((Ya Allah  sesungguhnya aku telah mendzolimi diriki sendiri dengan kedzoliman yang  banyak dan tidak ada yang mengampuniku keculai Eangkau, maka ampunilah  aku dengan pengampunan dariMu))</em> [20]</p>
<p>Semakin bertambah  ma’rifah seseorang kepada Robnya maka ia akan semakin takut kepada Allah  dan akan semakin takut ada dua orang berjalan di belakangnya, takut ia  akan diagungkan diantara manusia, takut ia diangkat-angkat dikalangan  manusia karena ia mengetahui dari Allah dan dari hak-hak Allah apa yang  membuatnya yakin bahwasanya ia tidak akan mencapai derajat bisa memenuhi  hak-hak Allah. Ia akan kurang dalam bersyukur kepada Allah dan itu  merupakan salah satu bentuk dari dosa-dosa</p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata  ((Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orang yang  berjalan di belakangku))</p>
<p>Orang-orang tersohor, diantaranya orang  yang pandai membaca Al-Qur’an, ia terkenal dengan indahnya bacaannya,  indahnya suaranya maka orang-orangpun berkumpul kepadanya.</p>
<p>Diantara  mereka adalah orang alim yang terkenal dengan ilmunya, tersohor dengan  fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, waro’nya. [21].</p>
<p>Diantaranya  da’i yang tersohor dengan perjuangannya dalam berdakwah kepada manusia  sehingga manusiapun berkumpul disekitarnya karena dengan sebabnya Allah  telah memberi petunjuk kepada mereka kepada kebenaran.</p>
<p>Diantaranya  ada yang terohor dengan sifat amanahnya</p>
<p>Dan tersohor orang yang  menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan demikianlah….</p>
<p>Ketenaran  merupakan hal yang sangat mudah menggelincirkan orang oleh karena itu  Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya dimana ia menjelaskan dalam  wasiatnya tersebut tentang keadaan dirinya, ia menjelaskan bahwasanya  apa yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang memiliki pengikut, maka  ia berkata, “Jika kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua  orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan menaburkan  tanah di atas kepalaku”</p>
<p>Maka orang yang memiliki popularitas atau  termasuk orang-orang yang terpandang di masyarakat hendaknya ia selalu  merendahkan dirinya dihadapan masyarakat, ia menampakan rendahnya  dirinya di hadapan mereka bukan agar terangkat derajatnya di antara  mereka akan tetapi agar terangkat derajatnya di sisi Allah, dan hal ini  kembali pada permasalahan ikhlas. Karena diantara manusia ada yang  merendahkan dirinya di hadapan manusia agar ia terkenal diantara mereka,  dan ini merupakan perangkap syaitan. Di antara mereka ada yang  merendahkan dirnya di hadapan manusia dan Allah mengetahui apa yang  terdapat dalam hatinya bahwasanya ia benar dalam hal itu, ia takut  pertemuan dengan Allah, takut hari dimana akan di balas apa-apa yang  terdapat dalam dada-dada pada hari dimana apa yang ada di hati akan  nampak dan tidak ada sesuatupun yang bisa bersembunyi dari Allah dan  mereka tidak bisa menyembunyikan dari Allah satu kejadianpun.</p>
<p>Ini  merupakan pelajaran yang mesti diperhatikan oleh masing-masing dari  yang diikuti dan mengikuti. Adapun yang mengikuti maka ia sadar  bahwasanya orang yang ia ikuti wajib untuk tidak diagungkan akan tetapi  diambil faedah darinya dari apa yang ia sampaikan dari Allah atau dari  perkara-perkara yang bermanfaat bagi manusia. Adapun pengagungan maka  hanyalah hak Allah kemudian hak Rasulullah, adapun manusia yang lain  maka jika mereka baik maka mereka berhak untuk dicintai dalam diri.</p>
<p>Dan  hendaknya orang yang tersohor agar senantiasa takut kepada Allah,  merasa rendah dihadapan Allah dan selalu mengingat dosa-dosanya, selalu  mengingat ia akan berdiri dihadapan Allah, selalu mengingat bahwasanya  ia bukanlah orang yang berhak untuk diikuti oleh dua orang yang berjalan  di belakangnya. Oleh karena itu tatkala Abu Bakar As-Shiddiq dipuji  dihadapan manusia lalu ia berkhutbah setelah itu, telah shahih darinya  sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata,  “Ya Allah jadikanlah aku” –ia mengucapkannya dengan keras- ia berkata,</p>
<p><strong>اللهم  اجعلني خيرا مما يظنون، واغفر لي ما لا يعلمون</strong></p>
<p><em>“Ya Allah  jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangkakan dan ampunilah aku  dari apa-apa yang mereka tidak ketahui”</em> [22]</p>
<p>Beliau  mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa-dosa hingga manusia  tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah ini sebagaimana yang kita lihat  kondisi sekarang ini dimana orang yang diagungkan semakin bertambah  pengagungan terhadap dirinya sendiri dan orang-orang yang  mengikutinyapun semakin mengagungkannya, ini bukanlah petunjuk para  sahabat. Umar terkadang ia ta’jub dengan dirinya sendiri dan ia  –tatkala- itu adalah seorang kholifah dan ia adalah orang kedua yang  dikabarkan masuk surga setelah Abu Bakar, maka iapun memikul sesuatu di  pasar maka diapun merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa besar (dan  ujub) dengan dirinya.</p>
<p>Dan diantara pintu-pintu dosa adalah  perasaan ujub dan merasa besar yaitu seseorang melihat dirinya hebat.  Diantara salafus soleh ada yang jika dia hendak menyampaikan muhadhoroh  dan ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan mereka.  Kenapa??, karena kebaikan dirinya lebih wajib ia selamatkan daripada  kebaikan orang-orang. Tatkala ia melihat kumpulan yang banyak dan ia  melihat dirinya mulai senang jika mereka berkumpul banyak, mereka diam  memperhatikan, mereka melakukan demikian dan demikian, mereka  menyambutnya maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka  maka merekapun mengatakan tentangnya apa yang mereka katakana. Namun  yang paling penting adalah keselamatan hatinya antara ia dan Robnya, dan  keselamatan (kebaikan) hatimu lebih penting daripada keselamatan hati  orang lain, maka hendaknya tatkala itu perjuangan melawan nafsu dalam  keadaan seperti ini.</p>
<p>Jika demikian maka ini adalah wasiat dari  Ibnu Mas’ud dimana ia berkata, “Demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang  berhak disembah melainkan Ia  seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku  maka kalian akan menaburkan tanah di atas kepalaku”</p>
<p>Dan kami  berharap wasiat ini selalu diingat oleh setiap yang memiliki suatu  ketenaran di antara manusia, baik ia seorang pengajar , atau seorang  alim, atau seorang pembaca Al-Qur’an, atau pemegang tanggung jawab dalam  suatu urusan tertentu, atau seorang amir (pemimpin/penguasa), atau  seorang raja, dan seterusnya dari golongan-golongan manusia, hedaknya ia  merasa rendah dengan dirinya hingga ia tidak besar hatinya maka ia akan  merugi di dunia dan akhirat. Ini adalah wasiat dan ia merupakan wasiat  yang sangat dalam yang mengandung makna yang banyak, dan pada apa yang  kami sebutkan di sini hanyalah isyarat-isyarat, dan dibalik  isyarat-isyarat ini ada ungkapan-ungkapan, dan perhatikanlah maka engkau  akan mendapatkan hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Diterjemahkan dan diberi catatan  kaki oleh Firanda Andirja dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Artikel www.firanda.com</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Catatan Kaki</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
[1] Dan beliau adalah  termasuk para sahabat yang berhijroh dua kali (hijroh ke negeri  Habasyah dan hijroh ke Madinah). Beliau ikut perang Badar dan beliaulah  yang telah membunuh Abu Jahl setelah dijatauhkan oleh dua putra ‘Afro’.  Beliau juga ikut perang-perang yang lain (Al-Bidayah wan Nihayah 7/162)</p>
<p>Beliau  bertubuh ramping (ringan) namun di sisi Allah sangatlah berat nilainya.</p>
<p>Dari  Abdullah bin Mas’ud,<br />
<strong><br />
أنه كان يجني سواكا من الآراك وكان دقيق  الساقين فجعلت الريح تكفؤه فضحك القوم منه فقال صلى الله عليه وسلم : &#8221; مم  تضحكون &#8221; قالوا : يا نبي الله من دقة ساقيه فقال : &#8221; والذي نفسي بيده لهما  أثقل في الميزان من أحد</strong></p>
<p>Bahwasanya beliau sedang mengambil siwak  dari pohon arok dan  kedua betis beliau kurus maka (tiupan) anginpun  menjadikan tubuh beliau bergoyang. Orang-orangpun tertawa. Rasulullah r  pun berkata, “Kenapa kalian tertawa?”, mereka berkata, “Wahai Nabi  Allah, karena kedua betisnya yang kurus (sehingga ia tergoyang karena  tertiup angin-pen)”. Nabi r berkata, ((Demi Dzat yang jiwaku berada di  tangannya sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada  gunung Uhud))[1]</p>
<p>HR Ahmad 1/420 no 3991, Abu Ya’la 9/209 no 5310  dan 9/247 no 5365, dan At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 9/78 no  8452. Lihat juga Majma’ Az-Zawaid 9/289. Hadits ini dishahihkan oleh  Syaikh Albani, lihat As-Shahihah jilid 7 no 3192</p>
<p>[2] Yaitu di  Madinah pada masa khilafah Utsman bin ‘Affan dan umur beliau tatkala  meninggal adalah 63 tahun (Al-Bidayah wan Nihayah 5/337).</p>
<p>[3]  Kisah awal pertemuan beliau dengan Nabi r adalah sebagai berikut</p>
<p>Ibnu  Mas’ud berkata, “Tatkala aku masih remaja aku menggembala  kambing-kambing milik Uqbah bin Abi Ma’ith Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam dan Abu Bakar datang kepadaku. Mereka berdua lari dari kejaran  oarng-orang musyrik. Lalu mereka berdua berkata, “Wahai pemuda, apakah  engkau memiliki susu yang kau berikan kepada kami untuk kami minum?”,  aku (Ibnu Mas’ud) berkata, “Aku dipercaya, aku tidak bisa memberikan  minum kepada kalian berdua”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata, “Apakah padamu seekor Jadz’ah[3] yang belum dikawini oleh  kambing jantan?”, aku berkata, “Ada”, lalu akupun membawa seekor jadz’ah  kepada mereka berdua lalu Nabi rpun meletakan kaki kambing tersebut  diantara betis dan paha beliau lalu beliau mengusap tetek kambing  tersebut dan beliau berdoa maka tetek kambing tersebutpun menjadi  mengembang (panuh berisi susu). Lalu Abu Bakarpun mendatangi beliau  dengan membawa sebuah batu yang berlubang (seperti lubang mangkuk-pen)  maka Nabi rpun memerah susu kambing tersebut dan beliau meletakan susu  hasil perahan pada batu itu. Lalu beliau meminum susu perahan tersebut  dan demikian juga Abu Bakar lalu akupun (Ibnu Mas’ud) ikut meminum susu  tersebut. Kemudian Nabi r berkata kepada tetek kambing tersebut,  “Mengempeslah”, maka payudara kambing tersebutpun mengempes. Lalu akupun  mendatangi Nabi r setelah itu lalu aku katakan kepadanya, “Ajarilah aku  dari perkataan ini”, beliau berkata, “Sesungguhnya engkau adalah pemuda  yang bisa diajari”. Lalu aku mengambil (mendengarkan dan menghafal)  langsung dari mulut beliau tujuh puluh surat (dari Al-Qur’an) yang tidak  ada seorangpun yang menyamaiku pada tujuh puluh surat tersebut”</p>
<p>HR  Ahmad 1/462. Syaikh Al-Albani berkata, “Dan isnadnya hasan” (Shahih  As-Siroh An-Nabawiyah hal 124), At-Toyalisi 1/47 no 353</p>
<p>[4]  Bahkan beliau adalah sahabat yang pertama kali membaca Al-Qur’an dengan  jahr (keras) hingga didengar oleh orang-orang kafir Quraisy.</p>
<p>Ibnu  Ishaq berkata, “Telah menyampaikan kepada kami Yahya bin Urwah bin  Az-Zubair  dari ayahnya berkata, “Yang pertama kali membaca Al-Qur’an  dengan keras –setelah Rasulullah r- di Mekah adalah Abdullah bin Mas’ud.  Pada suatu hari para sahabat Nabi r berkumpul  lalu mereka berkata,  “Demi Allah kaum Quraisy sama sekali belum mendengar Al-Qur’an dibaca  dengan keras, siapakah yang memperdengarkan Al-Qur’an pada mereka?”.  Ibnu Mas’udpun berkata, “Aku”, mereka berkata, “Kami kawatir mereka  melakukan sesuatu atas dirimu, yang kami inginkan adalah seseorang yang  memiliki kabilah yang bisa menjaganya jika mereka (kaum Quraisy) ingin  berbuat jelek kepadanya”. Ibnu Mas’ud berkata, “Biarkanlah aku  (memperdengarkan Al-Qur’an kepada mereka), sesungguhnya Allah akan  menjagaku”. Maka Ibnu Mas’udpun beranjak hingga sampai pada maqom  (Ibrahim) pada waktu dhuha dan saat itu kaum Quraisy sedang berada di  tempat perkumpulan mereka. Lalu Ibnu Mas’udpun berdiri di atas maqom  kemudian membaca firman Allah –sambil mengangkat suara beliau-</p>
<p><strong>بِسْمِ  اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ  الرَّحْمن عَلَّمَ الْقُرْآنَ</strong></p>
<p>Dengan  menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Rabb) Yang  Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al-Qur&#8217;an. (QS. 55:1-2)</p>
<p>Kemudian  beliau menghadap ke arah tempat pertemuan mereka dan membaca firman  Allah tersebut. Merekapun memperhatikan bacaan Ibnu Mas’ud lalu mereka  berkata, “Apakah yang telah dikatakan oleh Ibnu Ummi Abd?”. Kemudian  mereka berkata, “Sesungguhnya ia sedang membaca sebagian apa yang dibawa  oleh Muhammad”. Lalu merekapun berdiri menuju beliau dan  merekapun  memukul wajah beliau namun beliau terus membaca hingga semampu beliau.  Lalu beliau kembali menuju para sahabat dan mereka telah memberikan  bekas (pukulan) di wajah beliau. Para sahabat berkata, “Inilah yang kami  kawatirkan menimpamu”. Beliau berkata, “Sekarang tidak ada musuh-musuh  Allah yang lebih ringan bagiku daripada mereka, jika kalian mau maka aku  akan melakukan hal yang sama besok”. Para sahabat berkata, “Tidak,  sudah cukup, engkau telah memperdengarkan kepada mereka apa yang mereka  benci” (Siroh Ibnu Hisyam hal 221, berkata Muhaqqiqnya, “Sanadnya shahih  dan bersambung”)</p>
<p>[5] HR Al-Bukhari 4/1912 no 4716</p>
<p>[6]  Sebagaimana dalam HR Al-Bukhari 4/1912 no 4714, dari Syaqiq bin Salamah  berkata, “Abdullah bin Mas’ud berkhotbah kepada kami maka ia berkata,<br />
<strong><br />
والله  لقد أخذت من في رسول الله  صلى الله عليه وسلم  بضعا وسبعين سورة والله  لقد علم أصحاب النبي  صلى الله عليه وسلم  أني من أعلمهم بكتاب الله وما  أنا بخيرهم</strong></p>
<p>((Demi Allah aku telah mengambil dari mulut Rasulullah  r tujuh puluh lebih surat, demi Allah para sahabat Nabi r telah  mengetahui bahwasanya aku termasuk orang yang paling paham tentang  Al-Qur’an diantara mereka dan aku bukanlah yang terbaik diantara  mereka)).</p>
<p>Syaqiq berkata, فجلست في الحلق أسمع ما يقولون فما سمعت  رادا يقول غير ذلك “Akupun duduk di halaqoh-halaqoh untuk mendengarkan  apa yang mereka katakana, maka aku tidak mendengar ada seorangpun yang  membantah hal itu yang berkata selain perkataan Ibnu Mas’ud”</p>
<p>[7]Dan  hadits ini termasuk yang paling menunjukan akan keimaman beliau dalam  ilmu Al-Qur’an. Kisah selengkapnya adalah sebagai berikut</p>
<p>Dari  Qois bin Marwan bahwasanya ia menemui Umar dan berkata, “Aku datang  kepada engkau wahai pemimim kaum muslimin dari Kufah. Aku meninggalkan  di sana (di Kufah) seseorang yang menulis mushaf dari hafalannya”. Maka  Umarpun marah dan berkata, “Siapakah dia?”, Qois berkata, “Abdullah bin  Mas’ud”. Maka Umarpun tenang dan berkurang kemarahannya hingga kembali  ke keadaannya semula kemudian ia berkata, “Demi Allah aku tidak  mengetahui seorangpun yang masih hidup yang lebih berhak dari Ibnu  Mas’ud pada sifat itu. Aku akan menyampaikan hal ini kepadamu. Nabi r  sering bergadang di rumah Abu Bakar karena urusan yang berkaitan dengan  kaum muslimin. Suatu saat Nabi r bergadang di rumah Abu Bakar dan akupun  ikut bergadang. Lalu Rasulullah r keluar dan kamipun ikut keluar  bersamanya, tiba-tiba ada seseorang yang sholat di mesjid. Maka  Rasulullah rpun menyimak bacaan orang tersebut. Dan tatkala kami hampir  mengetahui orang tersebut maka Rasulullah r berkata,<br />
<strong><br />
من سره أن  يقرأ القرآن غضا طريا كما أنزل فليقرأه على قراءة ابن أم عبد</strong></p>
<p>“Barangsiapa  yang senang untuk membaca Al-Qur’an sebagaimana turunnya maka hendaknya  ia membaca sesuai dengan qiro’ahnya (bacaannya) Ibnu Ummi ‘Abd (yaitu  Ibnu Mas’ud)”</p>
<p>Kemudian orang itupun (yaitu Ibnu Mas’ud) duduk dan  berdoa, maka Rasulullah r berkata, “Mintalah maka Allah akan  mengabulkannya, mintalah maka Allah akan mengabulkannya”. Umar berkata,  “Maka akupun berkata (dalam hatiku) demi Allah besok aku akan pergi  menemuinya untuk memberinya kabar gembira ini. Lalu akupun pergi  menemuinya dan aku mendapati Abu Bakar telah mendahuluiku, maka Abu  Bakarpun memberinya kabar gembira. Demi Allah aku tidak pernah berlomba  dengan Abu Bakar untuk melakukan kebaikan apapun kecuali ia selalu  mendahuluiku”  (HR Ahmad 1/7, 1/25, Ibnu Majah 1/49 no 138, 1/454,  Al-Hakim 2/246 no 2893, 2/247 no 2895, Ibnu Khuzaimah 2/186 no 1156, An-  Nasai (Al-Kubro) 5/71 no 8255, Al-Baihaqi 1/452 no 1968. Dihasankan  oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 5/379 no 2301)</p>
<p>[8] HR  Al-Bukhari 4/1673 no 4306, 4/1925 no 4763, 4/1927 no 4768, Muslim 1/551  no 800</p>
<p>[9] HR At-Thirmidzi 5/609, 5/627, Al-Hakim 3/79 dan  dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 3/233 no 1233.</p>
<p>[10]  HR Al-Hakim 3/359 no 5387, Ibnu Abi Syaibah 6/384 no 32231, At-Thobroni  dalam Al-Awshoth 7/70 no 6879 dan Al-Kabir 9/80 no 8458, dan  dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 3/225 no 1225</p>
<p>[11]  Al-Hakim 3/360 no 5394</p>
<p>[12] Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam  Al-Hilyah 1/130</p>
<p>[13] Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah  1/130</p>
<p>[14] Tamr yang jelek (kering) tidaklah saling melengket  antara satu dengan yang lainnya sehingga jika di buang maka akan keluar  bertebaran dengan cepat dan saling terpisah bertebaran (Goribul Hadits  karya Ibnu Qutaibah 2/254)</p>
<p>[15] Musonnaf Ibni Abi Syaibah 2/256  no 8733, Al-Baihaqi di As-Syu’ab 2/360 no 2041</p>
<p>[16] Al-Mustadrok  3/357 no 5382. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah (Mushonnaf 7/103 no 34522)  Ibnu Mas’ud berkata, لوددت أن روثة انفلتت عني فنسبت إليها فسميت عبد  الله بن روثة وأن الله غفر لي ذنبا واحدا ((Aku berangan-angan ada sebuah  tai yang terlepas dariku  maka akupun dinisbatkan kepada tai tersebut  maka aku dinamakan Abdullah bin Routsah (tai/kotoran) dan Allah  mengampuni bagiku satu dosaku))</p>
<p>Dalam riwayat Al-Baihaqi  (Syu’abul Iman 1/504 no 848) Ibnu Mas’ud berkata, والذي لا إله غيره  لوددت أني انقلبت روثة وأني دعيت عبد الله بن روثة وأن الله غفر لي ذنبا  واحدا ((Demi Yang tidak ada sesembahan (yang berhak untuk disembah)  selainNa sesungguhnya aku berangan-angan aku berubah menjadi tai dan aku  dipanggil Abdullah bin tai dan Allah mengampuni satu dosaku)) dan  beliau juga berkata (Syu’abul Iman 1/504 no 846) وددت أني نسبت إلى روثة  وان الله تعالى تقبل مني حسنة واحدة من عملي ((Aku berangan-angan agar aku  dinisbatkan kepada tai dan Allah menerima satu amalan kebaikanku))</p>
<p>[17]  Maka sungguh benarlah perkataan Ahmad bin ‘Ashim Al-Anthoki (beliau  meninggal tahun 239 H), من كان بالله أعرف كان منه أخوف  “Barangsiapa  yang lebih mengenal Allah maka ia akan lebih takut kepada Allah”  (Al-Bidayah wan Nihayah 10/318, Bugyatut Tolab fi tarikh Al-Halab 2/750)</p>
<p>[18]  Ar-Robi’ bin Anas berkata, نظرنا في صحابة الأنبياء فما وجدنا نبيا كان  له صاحب مثل أبي بكر الصديق “Kami memperhatikan sahabat-sahabat para nabi  maka kami tidak mendapatkan seorang nabipun yang memiliki seorang  sahabat seperti Abu Bakar” (Tarikh Dimasyq 30/127)</p>
<p>[19] Yang  masyhur ini adalah perkataan Umar bin Al-Khotthob sebagaimana  diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (Syu’abul Iman 1/69 no 36), Ibnu ‘Asakir  (Tarikh Dimasyq 30/126,127), Ishaq bin Rahawaih dalam musnadnya  (sebagaimana di nukil oleh Az-Zaila’i dalam kitabnya takhrij Al-Ahadiits  wal Atsaar 1/248).</p>
<p>Adapun riwayat yang marfu’ dari Nabi r adalah  riwayat yang lemah karena merupakan riwayat Abdullah bin Abdilaziz bin  Abi Rowad dari ayahnya. Berkata Abu Hatim dan yang lainnya tentangnya,  “Hadits-haditsnya munkar”. Berkata Ibnul Junaid, “Ia meriwayatkan  hadits-hadits yang dusta” (Lisanul Mizan 3/310). Berkata Ibnu ‘Adi, “Ia  meriwayatkan hadits-hadits dari ayahnya yang  tidak ada perawi lain yang  memutaba’ahinya” (Al-Kamil fi du’afa’irrijal 4/201). Ibnu Hibban  menyebutnya di kitabnya Ats-Tsiqoot dan berkata, “Haditnya bisa jadi  mu’atabar jika ia meriwayatkan dari selain ayahnya” (Ats-Tsiqoot 8/347  no 13809)</p>
<p>[20] HR Al-Bukhari 1/286 no 799, 5/2331 no 5967.</p>
<p>[21]  Ibnu Mas’ud berkata, بحسب المرء من العلم أن يخاف الله وبحسبه من الجهل  أن يعجب بعمله atau dalam riwayat yang lain dengan makna yang sama كفى  بخشية الله علما وكفى بالاغترار به جهلا “Cukuplah ilmu bagi seseorang  jika ia takut kepada Allah dan cukuplah kebodohan pada dirinya jika ia  ujub dengan amalannya” (Musonnaf Ibni Abi Syaibah 7/103, 104)</p>
<p>[22]Berkata  An-Nawawi, “Abu Bakar jika dipuji maka beliau berdoa….” (Tahdzibul  Asma’ 2/479-480), yaitu doa berikut ini<br />
<strong><br />
اللهم أنت أعلم بي من نفسي  وأنا أعلم بنفسي منهم اللهم اجعلني خيرا مما يظنون واغفر لي ما لا يعلمون  ولا تؤاخذني بما يقولون</strong></p>
<p>Dari Muhammad bin Ziyad dari sebagian  salaf bahwasanya mereka berkata tentang seseorang yang dipuji  dihadapannya, “Taubatnya dari pujian itu hendaknya ia berkata اللهم لا  تؤاخذني بما يقولون واغفر لي ما لا يعلمون واجعلني خيرا مما يظنون “Ya  Allah janganlah engkau menghukumu karena pujian mereka, maafkanlah aku  karena apa yang mereka tidak ketahui, dan jadikanlah lebih baik dari  yang mereka sangka” (Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam  Syu’abul iman 4/228 no 4876, lihat Fathul Bari 10/478)</p>
<p>Berkata  Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Hajjaj Al-Marwazi, “Aku berkata kepada  Imam Ahmad, ما اكثر الداعين لك “Betapa banyak orang yang mendoakan  kebaikan bagimu”, maka kedua matanyapun berkaca-kaca dan berkata, أخاف  ان يكون هذا استدراجا أخاف ان يكون هذا استدراجا “Aku takut ini adalah  istidroj”, dan ia berkata, “Muhammad bin Waasi’ berkata, “Kalau  seandainya dosa itu memiliki bau maka tidak seorangpun dari kalian yang  akan duduk denganku”. Imam Ahmad berkata, “Telah mengabarkan kepadamu  Yunus bin ‘Ubaid ia berkata, “Aku membesuk Muhammad bin Waasi’ dan ia  berkata, وما يغنى عني ما يقول الناس اذا اخذ بيدي ورجلي فأُلْقِيْتُ في  النار “Tidak ada manfaat bagiku pujian manusia jika telah dipegang kedua  tanganku dan kedua kakiku lalu aku dilemparkan ke neraka”. Aku berkata  kepada Abu Abdillah(Imam Ahmad), “Sebagian ahlul hadits mengatakan  kepadaku bahwasanya أبو عبد الله لم يزهد في الدراهم وحدها قد زهد في  الناس Abu Abdillah tidak hanya zuhud di dirham saja bahkan ia juga zuhud  pada manusia”, maka Abu Abdillah berkata, ومن أنا حتى أزهد في الناس  الناس يريدون يزهدون في “Siapakah aku hingga aku zuhud kepada  orang-orang, orang-oranglah yang zuhud kepadaku”, dan Imam Ahmad  berkata, “Mintalah kepada Allah agar menjadikan kita lebih baik dari  yang mereka persangkakan dan mengampubi kita atas apa-apa yang mereka  tidak ketahui”  (Al-Waro’ li ibni Hanbal 1/152)</p>
<p>Hukum memuji pada  dasarnya adalah tidak boleh disebabkan dua hal berikut:</p>
<ol>
<li>Bisa jadi ia memuji sesuatu yang tidak mungkin ia ketahui (seperti  berkata bahwa ia adalah orang yang bertakwa, orang yang ikhlas, orang  yang waro’, zuhud…, karena ini menyangkut hati dan tidak ada yang  mengetahui isi hati kecuali Allah) oleh karena itu hendaknya orang yang  memuji berkata “Aku menyangka demikian”. Berbeda jika ia mengatakan “Aku  melihatnya sholat atau berhaji, berzakat” karena hal ini bisa diketahui  olehnya namun…</li>
<li>Tinggal kecelakaan bagi orang yang  dipuji karena ia tidak aman jika dipuji akan timbul perasaan sombong  atau ujub atau iapun jadi lalai karena bertawakal dengan pujian sipemuji  tersebut akhirnya iapun malas untuk beramal, karena orang yang terus  beramal biasanya adalah orang yang menganggap dirinya kurang.</li>
</ol>
<p>Namun  jika yang dipuji selamat dari hal ini maka tidaklah mengapa, bahkan  bisa jadi hukumnya adalah mustahab sebagaimana Nabi r telah memuji Abu  Bakar dengan perkataannya, “Sesungguhnya engkau bukan termasuk orang  yang isbal karena sombong”, demikian juga perkataan Nabi r kepada Umar,  ما لقيك الشيطان سالكا فجا الا سلك فجا غير فجك “Tidaklah Syaitan bertemu  denganmu tatkala engkau melewati jalan kecuali syaitan akan mencari  jalan yang lain”. Demikian juga pujian Nabi r kepada lelaki Anshor yang  menjamu tamu Rasulullah r “Allah ta’jub dengan perbuatan kalian berdua”,  dan yang lainnya.  Ibnu Uyainah berkata, من عرف نفسه لم يضره المدح  “Barangsiapa yang mengenal dirinya maka pujian tidak akan  mencelakakannya” (Disadur dari penjelasan Ibnu Hajar dalam Al-Fath  10/478-479). Namun siapakah yang merasa aman dari ujub jika dipuji  sebagaimana Abu Bakar dan Umar???!!!</p>
<p>Sumber: website Ustadz Firanda (firanda.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/seandainya-kalian-tahu-dosa-dosaku.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Ahlus Sunnah di Indonesia</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 04:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhtilaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ishlah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Perpecahan]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Muhammad al Imam hafizhahullah (Muhadharah Via Telepon) بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -shallallahu ‘alaihi wa salam-. Amma ba’du: Aku memuji Allah Yang Maha Tinggi dan Maha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Syaikh Muhammad al Imam</strong> <em>hafizhahullah</em><br />
(Muhadharah Via Telepon)</p>
<p><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan  yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi  bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -shallallahu ‘alaihi wa  salam-. Amma ba’du:</p>
<p><span id="more-1812"></span></p>
<p>Aku memuji Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mampu, Rabb Al-’Arsy Al-Karim  yang telah memudahkan kami untuk berhubungan dengan saudara-saudara  kami. Maka ini merupakan keutamaan dari Allah Ta’ala untuk kita dan  untuk manusia, hanya saja kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Hal  ini merupakan nikmat yang besar disaat kita bisa saling berhubungan,  kita tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, kita bersama-sama  memerangi hawa nafsu, menghadap kepada peribadatan kepada Al-Maula  (Allah Ta’ala).</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah -barakallahu fiikum-. Sesungguhnya  Allah telah memilih umat islam di antara sekian umat, dan memilih  Muhammad sebagai seorang rasul dan nabi di antara sekian banyak orang  dan di antara sekian banyak pahlawan, dan memilih ahlus sunnah wal  jama’ah, ahlu ittaba’ wal atsar, ahlul hadits wal khabar di antara  sekian banyak sempalan dan kelompok. Pemilihan dari Allah Ta’ala ini  adalah setelah pemilihan, pengkhususan, penyaringan dan taufiq dari  Allah Ta’ala. Dan pengkhususan yang kedua ini adalah pengkhususan ahlul  atsar wal khabar diantara sekian banyak kelompok sempalan dan kesesatan.  Dan ini adalah pengkhususan, pemilihan, taufiq dan penyaringan yang  sempurna, yang dengannya akan sempurna kehidupan seorang muslim dalam  segi agama, lurus dengannya agama ini, dan akan baik dunianya dengannya.</p>
<p>Dan sebagaimana kalian ketahui bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan  kitab-Nya yang mulia dan sunnah nabi-Nya penjagaan dari kesalahan bagi  siapa saja yang berpegang teguh dengan keduanya, sebagai nikmat bagi  yang diberi taufiq mengamalkan keduanya, dan sebagai rahmat bagi siapa  saja yang menjadi sebab ketaatan kepada keduanya. Maka seorang muslim  yang meniti jalan rasul bukan pelaku bid’ah, yang berpegang teguh <strong>bukan  bercerai berai</strong>, yang mengarah kepada al-haq bukan berpaling, yng  mengamalkan syari’at bukan berpaling, menunaikan al-haq bukan mengubah  dan bukan mengganti, yang seperti ini Allah Ta’ala telah menjamin  baginya adanya dukungan dan pertolongan yang khusus beserta perlindungan  dan penjagaan yang dikhususkan baginya dari sekian banyak manusia.</p>
<p>Allah Rabb semesta alam berfirman kepada nabi-Nya,</p>
<p><strong>إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ  كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ  لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ  سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ  كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ  الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ<br />
</strong><br />
“Jika kalian enggan menolongnya (Muhammad) maka sungguh Allah telah  menolongnya, ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah  satu dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam goa, ketika dia  mengatakan kepada temannya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya  Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan dari-Nya atasnya,  dan Allah mengkokohkaan mereka dengan tentara yang kalian belum  melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu hina. Dan  seruan Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha  Bijaksana.” (At-Taubah: 40)</p>
<p>Maka seorang muslim yang berpegang teguh jika dihinakan manusia dan jika  dimusuhi manusia maka sesungguhnya bersamanya ada penolong yang paling  baik (yaitu Allah Ta’ala). Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>إِن يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika Allah menolong kalian maka tiada yang bisa mengalahkan kalian.”</p>
<p>Mak seorang muslim jika meminta bantuan kepada Allah tidak akan  merugikannya hinaan para penghina dan tidak akan terealisasikan padanya  makarnya pembuat makar. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla mengawasi mereka  semua.</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, yang dituntut adalah agar kita <strong>memperkuat  hubungan kita dengan pencipta kita</strong>, pemelihara kita, dan yang memiliki  perkara kita semua. Kita memperkuat hubungan kita dengan Rabb kita.  Dengan penuh rasa takut mereka diawasi oleh-Nya, takut kepada-Nya,  berharap kepada-Nya, mengejar apa yang ada di sisi-Nya, menjauhi apa  yang menjadi ancaman-Nya Maha Suci Allah dan Maha Tinggi.</p>
<p>Kapan kalbu-kalbu itu dihidupkan dengan dzikir kepada Allah Ta’ala,  penuh dengan pengagungan kepada Allah Ta’ala dan rasa takut kepada Allah  Ta’ala serta merasa di awasi oleh Allah Ta’ala, maka akan mudah bagi  anggota badan untuk melahirkan ucapan dan amalan yang baik, yang shalih.  Hati-hatilah engkau dari kelalaian untuk memperbaiki kalbumu karena  <strong>perbaikan kalbu-kalbu kita ini lebih berat dari pada perbaikan  bendungan, lebih berat dari pembangunan pabrik, lebih berat dari  pembuatan kapal</strong>. Jangan engkau lalai untuk memperbaiki kalbumu. Jika  baik kalbumu maka akan baik keadaanmu, jika lemah kalbumu akan lemah  keadaanmu, dan jika rusak kalbumu akan rusak keadaanmu. Dan jika kalbumu  menjauh dari Allah Ta’ala maka Allah akan menjauh dari hamba. Dan  balasan itu sesuai dengan amalannya.</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya berpegang teguh dengan manhaj  nubuwah benar-benar wujud kelurusan dan hakekat petunjuk, penegak amalan  hamba di atas sebaik-baik perbekalan. Hendaknya semua semangat untuk  berada di atas titian ini, titian di atas manhaj nubuwah. Syaikhul Islam  -rahimahullah- berkata: “Al-haq itu perputar bersama Rasul kemana dia  mengarah, dan bersama para shahabatnya tanpa yang lainnya kemana mereka  mengarah”. Maka merupakan kaidah yang sangat agung yang bertolak darinya  ahlus sunnah dan mereka membangun pegangan teguh mereka di atasnya:  “Bahwa mereka bersama al-haq di manapun berada, berputar bersama mereka  kemanapun mereka mengarah”. Sungguh pemimpin orang terpilih dan  orang-orang terbaik telah mengajarkan pada kita agar kita mengatakan  pada do’a istikharah:</p>
<p><strong>وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ</strong></p>
<p>“Dan taqdirkan bagiku kebaikan di manapun berada, kemudian jadikan aku  ridha padanya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan lainnya.</p>
<p>Lafazh: “Kemudian jadikan aku ridha padanya”, sesorang terkadang  mengetahui al-haq, ditampakkan oleh Allah Ta’ala al-haq padanya tapi dia  enggan menerimanya, jika dia menerimanya tidak bisa jujur dalam  menerimanya dan tidak ikhlas dalam menunaikannya. Tidaklah setiap orang  yang menerima al-haq terus menjadi al-haq.</p>
<p>Maka kita butuh untuk memahami bagaimana bisa berpegang teguh dengan  agama Allah Ta’ala dan menegakkan syari’at Allah Ta’ala, berhenti pada  batasan-batasan Allah Ta’ala. Jika Allah Ta’ala merizkikan kepadamu  sikap berpegang teguh dengan al-kitab dan as-sunnah maka engkau akan  puas tenang dengan keduanya dan engkau tidak akan menginginkan  selainnya, dan tidak menginginkan gantinya. Maka ketahuilah bahwa Allah  Ta’ala telah memuliakan dengan sesuatu yang mencukupkan engkau dari adat  manusia dan pandangan manusia serta aturan manusia. Engkau tidak  membutuhkan sedikitpun apa yang mereka miliki, sesungguhnya kita ini  butuh untuk mempelajari dan mendalami syari’at islam, mengamalkannya dan  medakwahkannya serta membelanya. Kita butuh akan itu semua.</p>
<p>Maka setiap kita hendaknya memuji Allah Ta’ala akan anugerah-Nya dan  akan apa yang dikhususkan dengannya dan dia dimuliakan dengannya. Ingat  dan ingatlah jangan sampai syaithan mendatangi kita dari pintu  kelalaian. Syaithan itu musuh manusia dan makhluk yang paling keras  gangguannya terhadap orang-orang beriman dan terhadap orang yang  berpegang teguh, dan orang yang baik dan shalih. Sesungguhnya gangguan  untuk golongan orang ini sangatlah besar. Allah Ta’ala berfirman  mengabarkan tetntang syaithan,</p>
<p><strong>لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p>“Benar-benar aku akan duduk (merintangi) bagi mereka jalan-Mu yang  lurus.”</p>
<p>Syaithan tidaklah duduk merintangi di jalannya orang-orang yang  menyimpang, dan jalannya orang sesat dan kafir. Hanyalah dia duduk  (melazimi) merintangi jalan kebenaran dan jalan istiqamah. Sebagaimana  yang dikabarkan, siapa yang ingin istiqamah dan memperbaiki hubungan dia  dengan Allah Ta’ala, dan ingin kokoh dalam syari’at Allah Ta’ala  bertindaklah syaithan dengan makrnya dan tipu dayanya, dengan was-wasnya  dan tipuan hiasannya, dengan hinaannya dan manakut-nakuti beserta  pemecah-belahannya. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa salam- telah benar  dalam sabadanya,</p>
<p><strong>إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى  الجَزِيرَةِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk bisa diibadahi orang yang  shalat di jazirah. <strong>Akan tetapi (dia merusak) dengan memecah belah antara  mereka</strong>.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir -radhiyallahu ‘anhu-.</p>
<p>Maka syaithan memecah belah antara orang-orang yang beriman, bahkan  antara orang yang bajik dan shalih. Maka siapa diantara kita yang tidak  waspada dan sadar akan pemecah belahannya syaithan akan menjerumuskannya  dalam pergulatan dan pertarungan terhadap saudaranya sesama muslim  untuk bisa menyingkirkan keduanya. Oleh karena itu, waspadalah dari  datangnya syaithan melalui kelalaian kita. Dan kita semangat sebatas  kemampuan kita melakukan segala perkara sehingga kita bisa membendung  pintunya dan bisa memotong jalannya bi idznillah. Kita semangat untuk  saling menasehati antara kita, karena tujuan perbaikan bukan tujuan yang  lain dari keinginan-keinginan yang menjauhkan keikhlasan dan kejujuran.  Dan juga kita semangat untuk saling menasehati antara kita ketika telah  terjadi perselisihan antara si fulan dan yang lain, dan kita harus  berhias, bersenang-senang dan bernikmat-nikmat dengan sifat sabar demi  terjaganya ukhuwah dalam agama ini, dan demi dakwah kepada Allah Rabb  semesta alam, serta demi tambahnya kebaikan dan saling tolong-menolong  dalam kebaikan.</p>
<p>Rabb kita jalla sya’nuhu menguji dan memberi cobaan pada kita dengan  sebagian kita, agar bisa diketahui adanya kesabaran kita atau tidak  adanya, dan agar diketahui mana yang jujur dalam ta’awun dalam kebaikan  dan ketakwaan dan yang tidak seperti itu. Rabb kita berfirman dan Dia  adalah yang paling benar ucapannya,</p>
<p><strong>وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ  بَصِيرًا</strong></p>
<p>“Dan Kami jadikan sebagian kalian bagi yang lainnya fitnah (ujian),  apakah kalian akan bersabar? Dan adalah Rabbmu itu Maha Melihat.”</p>
<p>Subhanallah, betapa banyak saudara kita yang lalai dari ayat ini. Ketika  timbul dari saudaranya sesuatu dia berusaha bagaimana bisa  menyingkirkannya, bagaimana bisa mengalahkannya, dan bagaimana bisa  memaksakan pendapatnya -kecuali orang yang dirahmati Allah Ta’ala-.</p>
<p>Rabb kita mengajak kita kepada pemberian yang paling luas yang Dia  berikan kepada hamba, memuliakan dengannya hamba. Al-Bukhary dan Muslim  telah meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id bahwa Rasulullah -shallallahu  ‘alaihi wa salam- bersabda,</p>
<p><strong>وَمَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدًا مِنْ عَطَاءٍ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ</strong></p>
<p>“Tidaklah seorangpun diberi pemberian lebih baik daan lebih luas dari  kesabaran.”</p>
<p>Wahai saudara sekalian, aku ingakan kalian akan atsar yang sangat agung,  yaitu atsar yang hasan dari Ibnu Mas’ud dia berkata ditujukan kepada  shahabat di saat itu, pada saat terjadinya sedikit perselisihan:  <strong>“Sesungguhnya apa yang kalian benci selama dalam jama’ah itu lebih baik  dari apa yang kalian cintai dalam perpecahan”.</strong></p>
<p>Maka tetap bersamanya kalian dengan saudaramu ahlus sunnah lebih baik  bagimu, wallahi, meskipun ada sedikit perselisihan, meski terjadi  perselisihan antara engkau dan saudaramu, yang ini keterlaluan dalam  bicara tentangnya atau tentang saudaranya. <strong>Kesabaran, perbaikan dan  nasehat dan yang semisalnya adalah obat, penyembuh</strong>, dan terapinya semua  perkara ini. Maka <strong>janganlah kalian ceburkan diri kalian dalam  perselisihan</strong>, dan jadilah sebagaimana yaang kalian diperintah Allah  ta’ala, merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka, apa yang harus  diperbuat, bagaimana sikapnya bersama ini atau bersama orang-orang yang  terjadi dari mereka ini.</p>
<p>Maka kita memuji Allah Ta’ala bahwa dakwah ahlus sunnah di Yaman  berjalan di atas kebaikan demikian pula di tempat lain. Dikarenakan  orang-orangnya mengikuti arahan para ulama yang mana mereka lebih tahu  akan peristiwa perselisihan, yang mana mereka berusaha untuk  memperbaikinya dan <strong>menutup pintu-pintu fitnah</strong>. Maka merujuk kepada  mereka inilah yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala, dan ialah yaang  dibutuhkan oleh setiap orang yang memikul dakwah di manapun berada, dia  butuh akan hal itu. Maka merujuk kepada ulama hadits ulama sunnah adalah  diantara sebab yang paling besar untuk memperbaiki keadaan, untuk  berlangsungnya kebaikan dan persatuan. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ  أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاء وَاللَّهُ سَمِيعٌ  عَلِيمٌ</strong></p>
<p>“Kalau bukanlah keutamaan Allah atas kalian dan rahmat-Nya tidaklah Dia  akn mensucikan seorang dari kalian selamanya, akan tetapi Allah  mensucikan siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Mendengar lagi Maha  Tahu.”</p>
<p>Dan Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ  وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ  لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ  عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً</strong></p>
<p>“Dan jika datang suatu perkara keamanan atau ketakutan serta merta  mereka menyebarkannya, kalau saja mereka mengembalikannya kepada Rasul  dan ulil amri dari mereka niscaya akan mengetahui orang jeli  memandangnya dari mereka. Dan kalau bukan karena keutamaan Allah atas  kalian niscaya kalian benar-benar mengikuti syaithan kecuali sedikit.”</p>
<p>Kapan kita bisa menjadi pengikut syaithan? Jika kita meninggalkan  merujuk kepada ulama ketika terjadi perselisihan dan fitnah. Maka kami  mewasiatkan kepada saudara kami -hafizhahumullah- dengan kelurusan,  petunjuk dan kesabaran dan mengikuti bimbingan ulama sehingga daerah  perselisihan tidak meluas, sehingga tidak terjadi saling hajr dan  menghizbikan dengan cara yang tergesa-gesa, buru-buru dan tidak tahu  hakekat masalah dengan batasan-batasannya. Maka terjadilah antara dulu  dan sekarang si fulan berbeda dengan si fulan tapi apa itu kelurusan?  Kelurusan adalah bahwa manusia tidak merujuk kepada yang berselisih atau  salah satunya, namun merujuk kepada ulama yang mengetahui perselisihan  ini, yang hidup atau mengetahui perselisihan ini.</p>
<p>Jika sikap merujuk ini terjadi, maka bergembiralah dengan tetapnya  keadaan lurus, dan terus-menerusnya kebaikan, lestarinya ta’awun,  persaudaraan, saling mendukung, dan saling menolong. Dan inilah yang  terjadi -bihamdillah- pada diri kami di Yaman, mereka menempuh jalan  merujuk kepada ulama dan mendengarkan bimbingannya dan apa yang mereka  katakan. Maka kebaikan terjaga dan dakwah ahlus sunnah tetap berlangsung   -bi idznillah-, juga tertolong dengan pertolongan Allah Ta’ala,  terjaga dengan penjagaan Allah Ta’ala sampai hari kiamat. <strong>Entah dakwah  itu akan tertolong dengan kita entah dengan selain kita, entah akan  tersebar dengan sebab kita atau dengan selain kita</strong>. Allah Ta’ala telah  berfirman,</p>
<p><strong>وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا  أَمْثَالَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain  kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”</p>
<p>Barang siapa bukan orang yang berhak mengampu dakwah ini, namun dia  menjadikan dakwah ini untuk meraih kepentingan dunia, maka perbuatan  seperti ini tidak akan langgeng. Karena Allah Ta’ala itu lebih  pencemburu dari pada kita akan agama-Nya, akan dakwah rasul-Nya  -shallallahu ‘alaihi wa salam-. Jika saudar-saudara kita ahlus sunnah  berada di atas bimbingan para ulama, akan tetap ada kebaikan ini,  ukhuwah akan langgeng, dakwah kepada Allah akan kuat.</p>
<p>Yang penting, <strong>dakwah ahlus sunnah akan tertolong dengan kita atau selain  kita</strong>. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا  أَمْثَالَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain  kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”</p>
<p>Sepantasnya bagi kita untuk menjihadi diri-diri kita dengan kejujuran  terhadap Allah, keikhlasan kepada Allah, ridha terhadp al-haq dan  menerimanya. Jika ini terwujudkan akan lestari kebaikan ini biidznillah.  Berusahalah dengan sunguh-sungguh, maka berbekallah dengan ilmu syar’i  dan mengamaalkan konsekuensinya.</p>
<p>Aku memohon kepada Allah dengan anugerah-Nya dan kemurahan-Nya, dengan  keutamaan-Nya dan kebaikan-Nya agar mengkokohkan kita semua di atas  al-haq sampai kita bertemu dengan-Nya. Tiada daya dan upaya kecuali  dengan pertolongan Allah Ta’ala.</p>
<p>Ditranskrip dan diterjemahkan oleh:<br />
‘Umar Al-Indunisy<br />
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman</p>
<p>Sumber: darussalaf.com</p>
<p>Dikutip dengan editing ulang dari:<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this),  &quot;d40cdL4PtKGOP8mFj2SrrVg5NbQ&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/06/15/nasehat-asy-syaikh-muhammad-al-imam-untuk-salafiyin-indonesia/" target="_blank"><span> http://salafiyunpad.wordpr</span><span>ess.com</span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjalan Di Tengah Kegelapan</title>
		<link>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 17:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1792</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberjalan-di-tengah-kegelapan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberjalan-di-tengah-kegelapan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p>Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 122</strong>)</p>
<p><span id="more-1792"></span></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata mengenai tafsiran ayat ini, <em>“Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.”</em> (<em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 35)</p>
<p>Orang-orang yang beriman, mendapat anugerah bimbingan dari Allah untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir yang jelas-jelas menentang ayat-ayat-Nya dan berpaling dari petunjuk Rabbnya, maka &#8216;pembimbing&#8217; mereka adalah thoghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju gelap gulita. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 257</strong>)</p>
<p>Begitu pula orang-orang munafik, yang sengaja meninggalkan kebenaran dan mencampakkannya, maka Allah <em>ta&#8217;ala</em> membiarkan mereka berjalan di atas kegelapan yang mereka pilih atas kehendak hawa nafsunya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Perumpamaan mereka -orang munafik- seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 17-18</strong>)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Katsir menukil riwayat dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengenai tafsiran dari ayat ini. Beliau berkata, <em>“Ini adalah sifat orang-orang munafik. Dahulu mereka beriman sehingga iman itu menyinari hati mereka sebagaimana api yang menyinari orang-orang yang menyalakan api. Kemudian mereka justru kufur maka Allah pun menghilangkan cahaya yang menyinari mereka dan mencabutnya sebagaimana lenyapnya cahaya dari api tersebut sehingga Allah membiarkan mereka berada dalam kegelapan, tidak dapat melihat.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-Azhim</em> [1/67])</p>
<p>Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur&#8217;an dan cahaya iman. Yang keduanya telah dipadukan oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.”</em> (<strong>QS. asy-Syura: 52</strong>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“&#8230;Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur&#8217;an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.”</em> (<em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 38)</p>
<p>Oleh sebab itu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengaitkan antara kemuliaan dan kejayaan suatu kaum dengan komitmen mereka terhadap ajaran al-Qur&#8217;an. Beliau bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian kaum dengan sebab Kitab ini, dan akan menghinakan sebagian yang lain dengan sebab Kitab ini pula.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Sebagaimana Allah <em>ta&#8217;ala</em> menjadikan iman dan ilmu sebagai sebab pengangkatan derajat sebagian dari hamba-hamba-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat.”</em> (<strong>QS. al-Mujadilah: 11</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga mengaitkan antara kebaikan seseorang dengan kepahamannya terhadap al-Qur&#8217;an dan komitmennya untuk mendakwahkannya. Beliau bersabda, <em>“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dengan bahasa lain, kepahaman terhadap agama itulah yang akan menggiring manusia menuju kesuksesan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka niscaya akan dipahamkan dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Di sisi lain, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga mengaitkan antara kekuatan iman yang ada dalam hati seseorang dengan perhatiannya yang serius terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Anfaal: 2</strong>)</p>
<p>Sementara, kaum Khawarij -meskipun mereka pandai membaca al-Qur&#8217;an- namun dicela oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> -bahkan disebut sebagai <em>Syarrul khalqi wal khaliqah</em>/sejelek-jelek manusia- akibat bacaan mereka tidak diiringi dengan kepahaman hati dan tidak bisa memetik pelajaran yang semestinya dari apa yang mereka baca -sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat/salafus shalih-. Beliau bersabda, <em>“Mereka itu -yaitu Khawarij- pandai membaca al-Qur&#8217;an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> mengutip salah satu penafsiran hadits ini bahwa maksudnya adalah, <em>“&#8230;Maknanya hati mereka tidak memahaminya dan mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang mereka baca&#8230;”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [4/349])</p>
<p>Dari sinilah, kita dapat menarik pelajaran bahwa untuk membebaskan diri dari kegelapan seorang hamba harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu untuk menghidupkan hati yang telah mati dan gersang menjadi hati yang hidup dan subur dengan keimanan. Sementara harapan itu tidak akan terwujud kecuali dengan cara mentadabburi al-Qur&#8217;an dan memahaminya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Betapa indah ucapan al-Imam Nashir as-Sunnah Muhammad bin Idris asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Lum&#8217;at al-I&#8217;tiqad</em>-nya, <em>“Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sesuai dengan keinginan Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang datang dari Rasulullah sesuai dengan keinginan Rasulullah.” </em></p>
<p>Dan<em> </em>hal itu tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali jika dilandaskan pada kepasrahan total terhadap dalil-dalil syari&#8217;at yang disampaikan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sehingga tidak ada jalan keluar dari kegelapan yang meliputi langit kehidupan kita kecuali dengan kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Semudah Yang Dibayangkan!</title>
		<link>http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 22:09:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Salafus Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1778</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “&#8230;Merealisasikan la ilaha illallah adalah suatu hal yang sangat sulit. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata: &#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;. Sebagian salaf juga mengatakan: &#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftak-semudah-yang-dibayangkan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftak-semudah-yang-dibayangkan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230;<strong>Merealisasikan la ilaha illallah adalah suatu hal yang sangat sulit</strong>. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata:<em> &#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;</em>. Sebagian salaf juga mengatakan: <em>&#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;</em>. Dan tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, maka dia tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai keikhlasan.</p>
<p><span id="more-1778"></span></p>
<p>Oleh sebab itu, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, <em>&#8216;Orang-orang Yahudi mengatakan: Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat&#8217;</em>. Maka beliau menjawab: <em>&#8216;Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?&#8217;</em> Setan tidak akan repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur -dengan iman-.</p>
<p>Oleh sebab itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang terasa berat dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, <em>&#8216;Benarkah kalian merasakan hal itu?</em>&#8216;. Mereka menjawab, <em>&#8216;Benar&#8217;</em>.  Beliau pun bersabda, <em>&#8216;Itulah kejelasan iman</em>&#8216; (<strong>HR. Muslim</strong>). Artinya hal itu merupakan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan keimanan kalian, karena perasaan itu muncul dalam dirinya sementara hal itu tidak akan muncul kecuali pada hati yang lurus dan bersih.” (<em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/38] cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p><strong>Apa yang dimaksud dengan merealisasikan la ilaha illallah?</strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid&#8217;ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan. Hal itu akan tercapai dengan cara <strong>menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan</strong>, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 20 cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p><strong>Benarkah sesulit itu merealisasikan la ilaha illallah?</strong></p>
<p>Ibnu Abi Mulaikah <em>rahimahullah </em>-seorang tabi&#8217;in- mengatakan,</p>
<p><em>“Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Mereka semua merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa imannya sebagaimana iman Jibril dan Mika&#8217;il.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dan dimaushulkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah di dalam Tarikhnya tanpa menyebutkan jumlah sahabat yang ditemui, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/136-137] cet. Dar al-Hadits)</p>
<p>Ibrahim at-Taimi <em>rahimahullah</em> -seorang fuqaha&#8217; dan ahli ibadah di kalangan tabi&#8217;in- berkata,</p>
<p><em>“Tidaklah aku hadapkan ucapanku kepada amalanku melainkan aku khawatir termasuk orang yang didustakan/tidak dipercayai nasehatnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dan dimaushulkan oleh beliau dalam Tarikhnya, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/136-137] cet. Dar. al-Hadits)</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata -menjelaskan maksud ucapan di atas-,</p>
<p>“Maksudnya; aku merasa takut orang akan mendustakan diriku karena melihat amalanku yang menyelisihi ucapanku, sehingga dia akan berkata, <em>&#8216;Seandainya kamu jujur niscaya kamu tidak akan melakukan sesuatu yang menyelisihi ucapanmu&#8217;</em>. Beliau mengucapkan hal itu karena beliau sering memberikan nasehat/wejangan kepada orang-orang -sementara beliau mengkhawatirkan amalannya, pent-&#8230;” (<em>Fath al-Bari</em> [1/136])</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahulllah</em> berkata,</p>
<p><em>“&#8230; Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 34 cet. Dar al-&#8217;Aqidah)</p>
<p><strong>Lalu bagaimana langkah mewujudkannya?</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230;Tauhid (la ilaha illallah) itu tidak akan terwujud kecuali dengan tiga perkara:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, ilmu; karena kamu tidak mungkin mewujudkan sesuatu sebelum mengetahui/memahaminya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8216;Ketahuilah, bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah.&#8217;</em> (<strong>QS. Muhammad: 19</strong>).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, i&#8217;tiqad/keyakinan, apabila kamu telah mengetahui namun tidak meyakini dan justru menyombongkan diri/angkuh maka itu artinya kamu belum merealisasikan tauhid. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai orang-orang kafir (yang artinya), <em>&#8216;Apakah dia -Muhammad- hendak menjadikan sesembahan-sesembahan -yang banyak- itu menjadi satu sesembahan saja, sungguh ini merupakan perkara yang sangat mengherankan.&#8217;</em> (<strong>QS. Shaad: 5</strong>). Mereka -orang kafir- tidak meyakini keesaan Allah dalam hal peribadahan -meskipun mereka memahami seruan Nabi tersebut, pent-.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, inqiyad/ketundukan, apabila kamu telah mengetahui dan meyakini namun tidak tunduk maka itu artinya kamu belum mewujudkan tauhid. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8216;Sesungguhnya mereka itu dahulu apabila dikatakan kepada mereka bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah maka mereka pun menyombongkan diri/bersikap angkuh dan mengatakan; apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya gara-gara seorang penyair gila?&#8217;</em> (<strong>QS. ash-Shaffat: 35-36</strong>)&#8230;” (<em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/55] cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p><strong>Ilmu tentang la ilaha illallah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“&#8230; La ilaha illallah tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya kecuali apabila dia telah mewujudkan syarat-syaratnya yang jumlahnya ada delapan:</p>
<ol>
<li><strong>Ilmu</strong> -tentang makna la ilaha illallah, pent- yang menepis kebodohan</li>
<li><strong>Keyakinan</strong> yang menepis adanya keragu-raguan</li>
<li><strong>Keikhlasan</strong> yang menepis kemusyrikan</li>
<li><strong>Kejujuran</strong> yang menepis dusta/kepura-puraan</li>
<li><strong>Kecintaan</strong> yang menepis kebencian</li>
<li><strong>Ketundukan</strong> yang menepis sikap meninggalkan</li>
<li>Sikap <strong>menerima</strong> yang menepis penolakan</li>
<li><strong>Mengingkari</strong> segala sesembahan selain Allah&#8230;” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 15)</li>
</ol>
<p><strong>Makna la ilaha illallah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“&#8230;Maknanya: <strong>Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah</strong>.</p>
<p>Makna lain yang keliru adalah:</p>
<p>[1] Tidak ada sesembahan selain Allah.</p>
<p>Ini keliru, sebab makna(konsekuensi)nya: segala yang disembah benar atau salah adalah Allah.</p>
<p>[2] Tidak ada pencipta selain Allah.</p>
<p>Ini memang sebagian dari maknanya, akan tetapi bukan itu yang dimaksudkan; sebab seandainya itu merupakan makna la ilaha illallah niscaya tidak akan terjadi persengketaan antara Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kaumnya, sebab mereka mengakui hal ini -yaitu keesaan Allah dalam hal mencipta, dsb. Pent-.</p>
<p>[3] Tidak ada penetapan hukum selain oleh Allah.</p>
<p>Ini juga sebagian saja dari maknanya, akan tetapi hal ini belum mencukupi dan bukan maksud utamanya. Sebab seandainya Allah dieesakan dalam perkara hukum namun tetap ada selain-Nya yang disembah/diibadahi -oleh seorang hamba- maka tauhid belum dianggap terwujud.” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 13)</p>
<p><strong>Apa konsekuensi la ilaha illallah?</strong></p>
<p>Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230; (konsekuensinya) adalah <strong>meninggalkan peribadahan kepada segala sesuatu selain Allah</strong>, hal ini ditunjukkan oleh ungkapan penolakan yaitu dalam ucapan kita &#8216;la ilaha&#8217;, dan <strong>beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya</strong>, yang hal ini ditunjukkan oleh penetapan yaitu dalam ucapan kita &#8216;illallah&#8217;&#8230;” (<em>at-Tauhid li as-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 50)</p>
<p><strong>Apa itu ibadah?</strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“Pengertiannya: Secara bahasa artinya perendahan diri dan ketundukan. Adapun menurut syari&#8217;at adalah sebuah ungkapan yang mewakili segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang tersembunyi/batin maupun yang tampak/lahir.” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53)</p>
<p><strong>Apa saja pilar-pilar ibadah?</strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“Pilar-pilar ibadah:</p>
<ol>
<li>Kecintaan      (mahabbah)</li>
<li>Rasa      takut (khauf)</li>
<li>Harapan      (raja&#8217;).” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53)</li>
</ol>
<p><strong>Ada apa antara cinta dengan ibadah?</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230;<strong>Pokok semua amalan adalah kecintaan</strong>. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu; maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan <strong>ia merupakan hakekat/inti daripada ibadah</strong>. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa tak ada ruhnya sama sekali padanya&#8230;” (<em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [2/3] cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230; Tidak akan sempurna tauhid seorang hamba sampai sempurna kecintaan hamba tersebut kepada Rabbnya dan kecintaan kepada-Nya <strong>harus lebih didahulukan</strong> di atas semua perkara yang dicintainya dan mengalahkan itu semua serta kecintaan kepada Allah itulah yang menghakimi semua kecintaan yang lain sehingga semua yang dicintai oleh hamba tersebut senantiasa mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan meraih kebahagiaan dan keberuntungan dirinya.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 95)</p>
<p><strong>Menggapai manisnya iman dengan cinta</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>,</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tiga perkara yang barangsiapa ketiganya terdapat dalam dirinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman. [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya. [2] Tidaklah dia mencintai seseorang kecuali karena Allah. [3] Dia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dirinya darinya sebagaimana orang yang tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Kamu ini memang aneh!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Sungguh sebuah perkara yang amat mengherankan tatkala kamu telah mengenal-Nya lantas kamu justru tidak mencintai-Nya. Kamu mendengar da&#8217;i yang menyeru kepada-Nya namun kamu justru berlambat-lambat dalam memenuhi seruan-Nya. Kamu menyadari betapa besar keuntungan yang akan dicapai dengan bermuamalah dengan-Nya namun kamu justru memilih bermuamalah dengan selain-Nya. Kamu mengerti betapa berat resiko kemurkaan-Nya namun kamu justru nekat membangkang kepada-Nya. Kamu bisa merasakan betapa pedih kegalauan yang muncul dengan bermaksiat kepada-Nya namun kamu justru tidak mau mencari ketentraman dengan cara taat kepada-Nya. Kamu bisa merasakan betapa sempitnya hati tatkala menyibukkan diri dengan selain ucapan-Nya atau pembicaraan tentang-Nya namun kemudian kamu justru tidak merindukan kelapangan hati dengan cara berdzikir dan bermunajat kepada-Nya. Kamu pun bisa merasakan betapa tersiksanya hatimu tatkala bergantung kepada selain-Nya namun kamu justru tidak meninggalkan hal itu menuju kenikmatan yang ada dalam pengabdian serta kembali bertaubat dan taat kepada-Nya. Dan yang lebih aneh lagi daripada ini semua adalah kesadaranmu bahwa kamu pasti membutuhkan-Nya dan bahwa Dia merupakan sosok yang paling kamu perlukan, akan tetapi kamu justru berpaling dari-Nya dan mencari-cari sesuatu yang menjauhkan dirimu dari-Nya.” (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 45)</p>
<p><strong>Mana bukti cintamu?</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya),</p>
<p><em>“Katakanlah (Muhammad): &#8216;Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.&#8217; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>). <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Para Nabi dan Rasul</title>
		<link>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 17:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1762</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Berikut ini gambaran sekilas mengenai seruan para nabi dan rasul kepada kaumnya. Allah ta&#8217;ala telah mengisahkan sejarah perjuangan dakwah mereka di dalam kitab-Nya, mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa memetik pelajaran darinya, amin. [1] Dakwah Nabi Nuh &#8216;alaihis salam Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sungguh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-para-nabi-dan-rasul.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-para-nabi-dan-rasul.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Berikut ini gambaran sekilas mengenai seruan para nabi dan rasul kepada kaumnya. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengisahkan sejarah perjuangan dakwah mereka di dalam kitab-Nya, mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa memetik pelajaran darinya, </span><em><span style="font-weight: normal;">amin</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1762"></span><strong>[1] Dakwah Nabi Nuh </strong><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 59</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Nuh adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[2] Dakwah Nabi Hud </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum &#8216;Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 65</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Hud adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[3] Dakwah Nabi Shalih </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 73</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Shalih adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[4] Dakwah Nabi Syu&#8217;aib </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu&#8217;aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 85</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Syu&#8217;aib adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[5] Dakwah Nabi Ibrahim</strong></span><em><strong> &#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Mumtahanah: 4</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">).  Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Ibrahim adalah dakwah tauhid. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[6] Dakwah Segenap Rasul </strong></span><em><strong>&#8216;alaihimus salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nahl: 36</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Lalu apa yang dimaksud dengan tauhid itu?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Tauhid, sebagaimana telah dijelaskan di dalam ayat-ayat di atas adalah menyembah/beribadah semata-mata kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Inilah tauhid yang senantiasa didengung-dengungkan oleh para nabi dan rasul kepada kaumnya dan yang menjadi tujuan utama dakwah mereka (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Majid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 15, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/7]).</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hakekat perintah tauhid ini sering diulang-ulang oleh Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> di dalam al-Qur&#8217;an dalam konteks yang beraneka ragam. Di antaranya adalah:</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[1] Ketika menjelaskan tujuan hidup jin dan manusia</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[2] Ketika menjelaskan muatan dakwah Nabi Ibrahim </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah kecuali dari Yang menciptakan diriku.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. az-Zukhruf: 26-27</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[3] Ketika menjelaskan &#8216;motto hidup&#8217; seorang mukmin</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku dan sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya milik Allah Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-An&#8217;am: 162-163</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[4] Ketika melarang berdoa kepada selain-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang tidak menjamin manfaat dan madharat kepadamu. Apabila kamu melakukannya, maka sungguh kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Apabila Allah timpakan kepadamu suatu bahaya, niscaya tidak ada yang bisa menyngkapnya kecuali Dia.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Yunus: 106-107</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[5] Ketika menjelaskan kesesatan orang yang berdoa kepada selain-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak akan bisa memenuhi permintaannya sampai kiamat tiba.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ahqaf: 5</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[6] Ketika menjelaskan lemahnya sesembahan selain Allah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apakah mereka itu mau mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak bisa menciptakan apa-apa, sementara mereka itu sendiri juga diciptakan, bahkan mereka juga tidak mampu untuk memberikan pertolongan kepada mereka/pemujanya&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 191-192</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[7] Ketika mencela sesembahan selain Allah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Segala sesuatu yang kalian seru selain-Nya itu sama sekali tidak menguasai meskipun setipis kulit ari.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Fathir: 13</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[8] Ketika menjelaskan kecintaan orang kafir kepada sesembahan mereka</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Di antara manusia ada yang mengangkat selain Allah sebagai sesembahan tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Baqarah: 165</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[9] Ketika memerintahkan untuk bertawakal kepada-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan hendaknya kalian bertawakal kepada Allah saja, jika kalian benar-benar beriman.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[10] Ketika melarang tindakan menyelisihi Rasul-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau siksa yang sangat pedih.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nuur: 63</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud &#8216;fitnah&#8217; dalam ayat ini adalah syirik.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Keutamaan Tauhid</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Berikut ini sebagian keutamaan tauhid yang disebutkan oleh para ulama, semoga semakin mendorong kita untuk mendalami, mengamalkan, serta mendakwahkannya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[1] Tauhid adalah rahasia al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">al-Hafizh Ibnu Katsir </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230; Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh sebagian ulama salaf bahwa al-Fatihah merupakan rahasia al-Qur&#8217;an, sedangkan rahasia surat ini terkandung dalam kalimat &#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217; -hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong-&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/36] cet. Dar al-Fikr)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“al-Qur&#8217;an itu seluruhnya berbicara mengenai tauhid, hak-hak serta balasannya, dan juga berbicara mengenai syirik serta pelaku dan balasan/hukuman bagi mereka&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Aqidah ath-Thahawiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 89 cet. al-Maktab al-Islami)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[2] Tauhid adalah syarat keamanan dan hidayah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah yang akan diberikan petunjuk.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-An&#8217;am: 82</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[3] Tauhid adalah syarat diterimanya amalan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Kahfi: 110</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[4] Tauhid adalah sebab keberuntungan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[5] Tauhid adalah kunci surga</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah telah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolongpun.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 72</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Setelah membaca dalil-dalil di atas, dapat kita simpulkan bahwa:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah tauhid</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hakekat tauhid itu adalah beribadah kepada Allah semata dan berlepas 	diri dari segala sesembahan selain-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Tauhid tidak akan terwujud tanpa mengenal syirik dan macam-macamnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Tauhid memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah; tauhid 	merupakan rahasia al-Qur&#8217;an, syarat untuk mendapatkan keamanan dan 	hidayah, syarat diterimanya amalan, sebab keberuntungan, dan kunci 	untuk bisa masuk ke dalam surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan demikian, sudah semestinya setiap da&#8217;i Islam menjadikan 	dakwah tauhid sebagai prioritas utama dakwah yang dilakukannya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dan 	bagi para orang tua, hendaknya mereka menjadikan pendidikan tauhid 	sebagai pembinaan yang paling dititikberatkan kepada putra-putri 	mereka. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu 	a&#8217;lam bis shawab</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span></p>
</li>
</ol>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Mendakwahkan Tauhid!</title>
		<link>http://abumushlih.com/mari-mendakwahkan-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mari-mendakwahkan-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 06:07:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[Muballigh]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1729</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: al-Akh dr. Abu &#8216;Athifah Adika Mianoki -hafizhahullah- Tidak diragukan lagi bahwa tauhid merupakan permasalahan yang paling penting dalam agama ini. Maka mendakwahkannya juga merupakan perkara yang penting yang tidak boleh disepelekan. Namun sangat disayangkan, banyak di antara para dai yang meremehkan dakwah tauhid, mereka justru disibukkan dengan permasalahan lainnya tanpa mempedulikan dakwah yang satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmari-mendakwahkan-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmari-mendakwahkan-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: <strong>al-Akh dr. Abu &#8216;Athifah Adika Mianoki</strong> -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa tauhid merupakan permasalahan yang paling  penting dalam agama ini. Maka mendakwahkannya juga merupakan<span style="text-decoration: underline;"> perkara yang penting yang tidak  boleh disepelekan</span>. Namun sangat disayangkan, banyak di antara  para dai yang meremehkan dakwah tauhid, mereka justru disibukkan dengan  permasalahan lainnya tanpa mempedulikan dakwah yang satu ini. Sementara  orang yang berkonsentrasi mendakwahkan tauhid dianggap ketinggalan zaman  dan memecah belah umat. Padahal inilah inti dakwah para rasul <em>‘alaihimus  salam. </em></p>
<p><em><span id="more-1729"></span></em><span style="color: #ff0000;"><strong>Bukti Benarnya Tauhid  Seseorang</strong></span></p>
<p>Setelah sesorang bertauhid dengan benar dan berusaha untuk  menyempurnakan tauhidnya, kewajiban selanjutnya adalah <span style="text-decoration: underline;">berusaha untuk mendakwahkan tauhid</span>.  Karena keimanan seseorang tidak akan sempurna kecuali jika disertai  ajakan dakwah kepada tauhid. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong>وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ  الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا  الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}</strong></p>
<p>“<em>Demi masa(1). Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam  kerugian(2). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh  dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati  supaya menetapi kesabaran(3)</em>.” (QS. Al Ashri :1-3)</p>
<p>Di samping menyempurnakan tauhid juga harus ada ajakan kepada tauhid.  Jika tidak, maka ada yang kurang dalam tauhid tersebut. Tidak diragukan  lagi bahwa orang yang meniti jalan tauhid disebabkan dia mengetahui  bahwa jalan tauhid adalah jalan yang terbaik. Kalau memang dia benar  dalam keyakinannya, maka dia juga harus mendakwahkan tauhid. Mengajak  kepada seruan tauhid <em>Laa ilaaha ilallah</em> adalah termasuk  kesempurnaan tauhid seseorang, dan tidak akan sempurna tauhid seseorang  kecuali dia berusaha untuk mendakwahkan tauhid tersebut. (Lihat <em>Al  Qoulul Mufiid</em> I/ 82, Syaikh ‘Utsaimin, cet. Darul ‘Aqidah)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwahnya Pengikut Nabi <em>Shalallahu  ‘alaihi wa salam</em></strong></span></p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ  عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا  مِنَ الْمُشْرِكِينَ {108}</strong></p>
<p>“<em>Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang  mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha  Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”</em>.” (QS.  Yusuf:108)</p>
<p>Dalam ayat ini Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan Nabi-Nya untuk  memberitahukan kepada manusia tentang penjelasan manhaj (metode  berdakwah) para nabi dan pengikutnya, yakni berdakwah kepada Allah di  atas dasar ilmu.  Hal ini menunjukkan barang siapa yang tidak mengajak  kepada Allah di atas ilmu maka dia bukanlah pengikut Nabi yang sejati  walupun dia seorang fakih yang berilmu.</p>
<p>Yang dimaksud dengan firman Allah <strong>أَدْعُوا إِلَى اللهِ</strong> (menyeru kepada Allah) adalah <span style="text-decoration: underline;">berdakwah  kepada tauhidullah <em>‘Azza wa Jallla</em> </span>yaitu dengan   beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya,  serta berdakwah terhadap perkara syariat agama yang lainnya. Sehingga  dakwah berlaku untuk orang kafir agar masuk ke dalam Islam dan juga  dakwah kepada kaum muslimn yang bermaksiat kepada Allah agar kembali  bertaubat kepada Allah, mau melaksanakan perintah, memperingatkan mereka  dari syirik dan meninggalkan maksiat. Dakwah tidak hanya terbatas pada  mendakwahi orang kafir, bahkan kaum muslimin juga membutukan dakwah.  Dakwah bersifat umum, yakni dakwah untuk mengenal tauhid dan lawannya  yaitu syirik. (Lihat <em>I’aanatul Mustafiid</em> I/93-94, Syaikh Shalih  Fauzan, cet. Markaz Fajr)</p>
<p>Ayat di atas mengandung dua faedah penting :</p>
<p><strong>Pertama</strong>. Bahwa yang dimaksud dakwah kepada Allah  adalah <span style="text-decoration: underline;">dakwah kepada tauhid</span>.  Inilah yang dipraktekkan Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> ketika mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ke  Yaman.</p>
<p><strong>Kedua</strong>. Peringatan untuk senantiasa <span style="text-decoration: underline;">ikhlas dalam berdakwah</span> .  Seseorang yang berdakwah harus ikhlas dalam berdakwah, sebagaimana  firman Allah <strong>أَدْعُوا إِلَى اللهِ</strong> (menyeru kepada  Allah), karena kebanyakan juru dakwah sekarang mengajak kepada dirinya  dan kelompoknya. (Lihat <em>At Tamhiid </em>hal 65, Syaikh Shalih Alu  Syaikh, cet. Daarut Tauhid)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Para Nabi Mendakwahkan  Tauhid</strong></span></p>
<p>Setiap Rasul yang diutus oleh Allah <em>Ta’ala</em> pasti semua  mendakwahkan tauhid dan memperingatkan tentang syirik. Hal ini  sebagaimana dijelaskan Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ  رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ …{36}</strong></p>
<p>“<em>Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat  (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu</em>”  (QS. An Nahl:36).</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan tentang ayat  ini, “Seluruh para rasul menyeru untuk beribadah hanya kepada Allah dan  melarang untuk menujukan ibadah kepada selain-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> tidak mengutus seorang rasul pun sejak terjadinya kesyirikan pada kaum  Nuh yang diutus rasul kepada mereka kecuali untuk tujuan tersebut (hanya  beribadah kepada Allah semata). Rasul yang pertama diutus ke muka bumi  sampai penutup para Rasul, Muhammad <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em>,  semuanya mendakwahkan sebagaimana yang Allah perintahkan,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن  رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ  {25}</strong></p>
<p>“<em>Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan  Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak)  melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” </em>(QS. Al  Anbiya’:25)”( Fathul Majiid hal 24. Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu  Syaikh, cet. Muasasah al Mukhtar.)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى  بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ  إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ  وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَاتَدْعُوهُمْ  إِلَيْهِ اللهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن  يُنِيبُ {13}</strong></p>
<p>“<em>Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah  diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan  apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu :  Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat  berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya.  Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi  petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).</em> “ (QS.  Asy Syura’:13)</p>
<p>Inilah dakwah seluruh para Nabi, di antara mereka adalah para <em>Ulul  ‘Azmi</em>. Mereka berjalan di atas manhaj dakwah yang satu yaitu  tauhid. Inilah kewajiban paling agung yang merupakan materi dakwah yang  diusung oleh para nabi kepada bani adam apaun kondisi yang mereka hadapi  walaupun mereka menghadapi kondisi kaum, negeri, dan waktu yang  berbeda-beda. Materi dakwah yang mereka sampaiakn satu yang merupakan  kewajiban yang harus ditempuh ketika mengajak manusia kepada Allah <em>‘Azza  wa Jalla</em>. Dan ini juga merupakan jalan dakwah yang ditempuh para  penerus dakwah rasul. Tidak boleh mengganti dan berpaling dari jalan  dakwah ini. (<em>Usus Manhaj Salaf fii Da’wah ilallah</em> hal 86,  Syaikh Fawwaz bin Haliil as Suhaimi, cet. Daar Ibnul Qayyim )</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tauhid Asas Perbaikan  Umat</strong></span></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “Barangsiapa yang ingin  meninggikan suatu bangunan, hendaklah ia memantapkan pondasinya,  menguatkannya, dan harus lebih memperhatikannya. Karena sesungguhnya  tingginya bangunan itu sesuai dengan kuatnya pondasi dan kemantapannya.  Amal perbuatan serta derajat kemuliaan manusia adalah sebuah bangunan,  sedangkan  pondasinya adalah iman. Semakin kokoh suatu pondasi akan  menghasilkan bangunan yang tinggi dan kuat. Jika suatu bangunan roboh  mudah untuk memperbaikinya. Namun jika pondasinya tidak kokoh, bangunan  itu tidak akan tinggi dan kuat. Jika suatu pondasi telah hancur, maka  bangunannya pun akan roboh . Orang yang bijaksana akan lebih  memperhatikan perbaikan pondasi. Sedangkan orang yang bodoh akan  meninggikan bangunan tanpa memperhatikan kondisi pondasinya, sehingga  tidak berapa lama lagi bangunan itu akan hancur”.</p>
<p>Beliau melanjutkan : “Maka buatlah bangunanmu di atas pondasi iman  yang kokoh. Jika rusak bagian dari bangunan yang tinggi  maka  memperbaikinya lebih mudah bagimu daripada hancurnya suatu pondasi.  Pondasi ini terdiri dari dua macam. Pondasi pertama yaitu benarnya  pengenalan terhadap Allah, perintah-perintah-Nya serta nama-nama dan  sifat-sifat-Nya. Yang kedua adalah ketundukan dan ketaatan hanya kepada  Allah dan rasul-Nya dengan sebenar-benarnya. Inilah pondasi terkuat yang  bisa digunakan oleh seseorang untuk menegakkan bangunannya dan ia bisa  meninggikan bangunannya sesuka dia. Oleh karena itu, perkokohlah pondasi  bangunan kalian, jagalah kekuatannya dan senantiasalah memeliharanya” (<em>Al  Fawaaid</em> hal 149-150, Ibnul Qayyim al Juziyah, cet. Daarul ‘Aqidah)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Contohlah Dakwah Nabi  Kita</strong></span></p>
<p>Barangsiapa yang mau meneliti sejarah Rasulullah <em>shalaallahu  ‘alaihi wa salam</em>, dia akan dapat mengambil pelajaran manhaj  berdakwah kepada Allah. Bahwasanya yang pertama kali yang diserukan  kepada manusia adalah aqidah tentang beribdaha hanya kepada Allah semata  dan tidak menyekutukannya serta meninggalkan peribadatan kepada  selain-Nya, sebagaimana ini merupakan makna dari kalimat <em>Laa ilaaha  ilallah</em>.</p>
<p>Sesungguhnya Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salaam</em> adalah  uswah dalm segala hal . termasuk dalam melaksankan dakwah.  Beliau   tinggal di Mekah selama tiga belas tahun setelah diutus menjadi rasul,  menyeru kepada manusia untuk memperbaiki aqidah dengan menyembah Allah  semata dan meninggalakan peribadatan kepada berhala. Seruan ini beliau  lakukan sebelum memerintahkan mereka untuk sholat, zakat, puasa, haji,  dan meninggalkan kemaksiatan seperti riba, zina, meminum khomer, dan  perjudian.</p>
<p>Hal ini menunjukkan dengan jelas kesalahan sebgian jamaah dakwah pada  zaman ini yang tidak memprioritaskan aqidah dan hanya mementingkan  dakwah terhadap perbaikan akhlak (dengan mengenyampingkan dakwah tauhid,  ed). Mereka melihat kebanyakan manusia  melakukan perbuatan syirik  akbar  di sekitar kuburan di negeri-negeri Islam namun tidak  mengingkarinya, tidak melarang darinya, baik dengan perkataan, pada saat  ceramah, atau dengan tulisan, kecuali hanya sebagian kecil saja. Bahkan  terkadang mereka berada di antara barisan orang-orang yang melakukan  syirik, bersatu dengan orang-orang yang menyimpang, tidak melarang dan  memperingatkan mereka! (<em>Al Irsyaad ilaa shahiihil I’tiqad</em> hal  15, Syaikh Shalih Fauzan, cet. Maktabah Salsabil)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tauhid Prioritas Utama</strong></span></p>
<p>Bukti bahwa dakwah tauhid yang seharusnya jadi prioritas adalah sabda  Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> ,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما  تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ  فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم  وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من  أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق  دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab,  maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak  disembah) selain Allah –dalam riwayat lain: kepada tauhidullah-. Jika  mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka  bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap  siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka  beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka  zakat yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada  orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal  tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap  doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan  Allah</em>” (H.R Bukhari 1395 dan Muslim 19)</p>
<p>Dalam hadist ini terdapat pelajaran tentang tahapan dalam berdakwah,  yakni memulai dari yang paling penting kemudian baru yang lainnya.  Inilah jalan dakwah para rasul, mereka memulainya dengan dakwah kepada  kalimat <em>Laa ilaaha ilallah</em>, karena hal ini merupakan pokok dan  asas bangunan agama seseorang. Jika telah kokoh syahadat <em>Laa ilaaha  ilallah</em>, maka memungkinkan dibangun di atasanya perkara yang  lainnya. Adapun jika syahadatnya belum kokoh, maka tidak bermanfaat amal  yang lainnya. Tidak mungkin Engkau memerintahkan manusia shalat  sementara mereka masih musyrik, Engkau juga tidak bisa memerintahkan  puasa, shodaqoh, menyambung silaturahmi sementara mereka masih  menyekutukan Allah, karena Engkau tidak meletakkan asas yang pertama.</p>
<p>Hal ini berbeda dengan kondisi para dai hari ini yang tidak  memperhatikan tentang dakwah terhadap syahadat <em>Laa ilaaha ilallah</em>.  Mereka mengajak manusia untuk meninggalkan riba, bergaul dengan baik  sesama manusia, berhukum dengan hukum yang Allah turunkan, dan  permasalaha yang lain, namun mereka tidak mengingatkan tentang perkara  tauhid dan tidak memperhatikannya seolah-olah ini bukan sesuatu yang  wajib. Bagaimana pun mereka susah payah berjuang namun amalan mereka  tidak bermanfaat sehingga mereka memperkokoh pondasi dan pokok yang  mendasari  perkara-perkara agama yang lain berupa hukum-hukum, sholat,  zakat, haji, dan sebaginya. Inilah manjahj para Nabi  sebagaimana firman  Allah,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ  رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ …{</strong>36}</p>
<p>“<em>Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat  (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu</em>”  (An Nahl:36).(<em>I’aanatul Mustafiid</em> I/ 99-100)</p>
<p>Mengapa para juru dakwah sekarang justru meremehkan hak Allah ini?!  Bukankah hak Allah lebih pantas untuk didahulukan? Bukankah dakwah  tauhid merupakan kunci dakwahnya para rasul, sebagaimana yang telah  Allah abadikan dalam banyak ayat-Nya?</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwah Tauhid Dari Awal  Sampai Akhir</strong></span></p>
<p>’Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> menceritakan,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه  وسلم- فِى مَرَضِهِ الَّذِى لَمْ يَقُمْ مِنْهُ « لَعَنَ اللَّهُ  الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ».  قَالَتْ فَلَوْلاَ ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خُشِىَ أَنْ  يُتَّخَذَ مَسْجِدًا. وَفِى رِوَايَةِ ابْنِ أَبِى شَيْبَةَ وَلَوْلاَ  ذَاكَ لَمْ يَذْكُرْ قَالَتْ</strong></p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda ketika  sakit yang menyebabkan beliau tidak bisa bangkit lagi, ‘<em>Allah  melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para nabi  mereka sebagai masjid’</em>.” Aisyah berkata, “Kalau bukan karena itu,  niscaya kuburan beliau dipertontonkan, padahal tindakan itu  dikhawatirkan akan dijadikannya kuburan beliau sebagai masjid.”(H.R  Muslim 529)</p>
<p>Demikianlah Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> memulai  dakwahnya dengan tauhid, mengiringi dengan tauhid dan mengakhiri pula  dengan tauhid. Dan beliau <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> senantiasa mewasiatkan umatnya dengan tauhid di akhir hidup  beliau.Wasiat merupakan pesan terakhir dalam kehidupan seseorang.  Tentunya yang akan disampaikan adalah perkara yang paling utama dan  paling penting karena ia tidak akan sempat lagi menyampaikan sesuatu  apapun setelah itu. Dari sini dapat terlihat apa yang dianggap paling  penting oleh seseorang dalam hidupnya. Demikian pula  wasiat para nabi  adalah tauhid, yang menunjukkan bahwa yang paling penting bagi mereka  adalah tauhid. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَوَصَّى بِهَآإِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ  وَيَعْقُوبَ يَابَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ  تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ {</strong>132}</p>
<p><em>“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya,  demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya  Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali  dalam (keadaan) Islam”</em> (Al Baqarah: 132)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Metode Mendakwahkan  Tauhid</strong></span></p>
<p>Syaikh Shalih Alu Syaikh <em>hafidzahullah</em> menjelaskan bahwa  dakwah kepada syahadat <em>Laa ilaaha ilallah</em> adalah dakwah yang  terperinci. Ini adalah satu hal yang penting. Banyak orang yang berilmu  menyerukan dakwah tauhid secara global. Namun jika datang penjelasan  rinci tentang permasalahan tauhid atau syirik mereka menyelisihinya.  Demikianlah seharusnya penerapan dakwah tauhid, yakni dakwah yang  terperinci, bukan hanya secara global. Adapun kebanyakan orang mereka  menyeru dakwah tauhid secara global. Mereka mengatakan :” Kami berpegang  teguh dengan tauhid dan berlepas diri dari syirik”, namun tidak  menyebutkannya secara terperinci. (Lihat <em>At Tamhiid</em> hal 63)</p>
<p>Inilah yang diterapkan oleh para ulama <em>robbani</em> dalam  mendakwahkan tauhid. Contohnya adalah dakwah yang dilakukan oleh Syaikh  Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em>. Dapat kita lihat dalam  kitab beliau yang sangat bagus yaitu Kitab Tauhid. Dalam kitab ini  beliau menjelasakan permasalahan tauhid dan syirik secara terperinci.  Kitab ini diangggap oleh para ulama sebagai kitab yang paling bagus dan  paling lengkap menjelasakan semua permasalahan tauhid. Oleh karena itu,  kaum muslimin, khususnya para dai dan penuntut ilmu, hendaknya  mempelajari kitab ini beserta penjelasan para ulama dengan benar dan  mengajarkannya kepada umat.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwah Tauhid Memecah  Belah Umat?</strong></span></p>
<p>Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan <em>hafidzahullah</em> ditanya : Sungguh telah menyebar -<em>Alhamdulillah</em>- seruan kepada  manhaj salaf dan berpegang teguh dengannya, akan tetapi ada orang yang  mengatakan: “Sesungguhnya dakwah ini (dakwah salafiyah) tidak lain  hanyalah akan memecah belah barisan (kaum muslimin, pent) dan  mengkoyak-koyakkan, serta menjadikan sebagian mereka memerangi sebagian  yang lain. Sehingga mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan  meninggalkan (memerangi, pent) musuh-musuh mereka yang hakiki. Apakah  ini benar, dan apa nasehat Syaikh?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Jawaban</span> :</p>
<p>Ini adalah pemutarbalikan hakekat (fakta), karena sesungguhnya  berdakwah kepada tauhid dan manhaj <em>salafus shalih</em> itulah yang  mampu menyatukan kalimat, dan menyatukan barisan (kaum muslimin)  sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا  وَلاَ تَفَرَّقُوا … </strong>{103}</p>
<p>“<em>Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah secara keseluruhan, dan  jangan kalian berpecah-belah.</em>” [Ali-Imran: 103]</p>
<p>Dan firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً  وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ </strong>{92}</p>
<p>” <em>Sesungguhnya ini adadalah agama kamu semua, agama yang satu dan  Aku adalah Rabbmu, maka beribadahlah kepadaKu.</em>” [Al-Anbiya: 92]</p>
<p>Maka tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu kecuali di atas kalimat  tauhid dan manhaj salaf, karena apabila mereka dibolehkan memilih  manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf maka bercerai berai dan  berselisihlah mereka, sebagaimana kenyataannya demikian.Siapa yang  menyeru kepada tauhid dan manhaj salaf, itulah orang yang menyeru kepada  persatuan, sedangkan orang yang menyeru (umat) untuk menyelisihi manhaj  salaf maka dialah yang menyeru kepada perpecahan dan perselisihan.  Apabila kaum muslimin di atas tauhid dan manhaj salaf, maka mereka  berdiri di depan musuh, dalam satu barisan. Dan apabila mereka  berpecah-belah dalam berbagai manhaj maka mereka tidak akan mampu  menghadapi musuh mereka.<br />
[Disalin dari kitab al Ajwibatu al Mufidah ‘an As-ilah al Manahij al  Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, Pengumpul  Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin,  Penerbit Yayasan Al-Madinah]</p>
<p>Demikian pembahasan singkat tentang pentingnya dakwah tauhid. Semoga  Allah senantiasa membimbing kita di atas jalan tauhid, mempelajari dan  mengamalkan serta berusaha semampu kita untuk mendakwahkannya. Khususnya  kepada para pengemban tugas dakwah, marilah kita memprioritaaskan  dakwah tauhid yang merupakan inti dakwah para nabi dan merupakan poros  perbaikan umat. <em>Wallahul musta’an</em>.</p>
<p>Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mari-mendakwahkan-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama Para Nabi dan Rasul</title>
		<link>http://abumushlih.com/agama-para-nabi-dan-rasul.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/agama-para-nabi-dan-rasul.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 06:48:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[JIL]]></category>
		<category><![CDATA[Liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1692</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam shahihnya : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمْرَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ Muhammad bin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fagama-para-nabi-dan-rasul.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fagama-para-nabi-dan-rasul.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah </em>meriwayatkan di dalam shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمْرَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ</strong></p>
<p><span id="more-766"> </span></p>
<p>Muhammad bin Sinan menuturkan kepada kami. Dia berkata; Fulaih bin Sulaiman menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hilal bin Ali menuturkan kepada kami dari Abdurrahman bin Abi ‘Amrah dari Abu Hurairah -<em>radhiyallahu’anhu</em>-, dia berkata; Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab Ahadits al-Anbiya’, lihat Fath al-Bari [6/550]. Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Kitab al-Fadha’il dengan redaksi yang agak berbeda)</p>
<p><span id="more-1692"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini menyimpan pelajaran berharga bagi kita, antara lain :</p>
<ol>
<li> Ibnu Hajar mengatakan, “Makna hadits ini adalah pokok agama mereka -para nabi- adalah satu/sama yaitu tauhid, meskipun cabang-cabang syari’at mereka berbeda-beda…” (Fath al-Bari [6/549])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa agama para nabi yang diutus oleh Allah di muka bumi ini adalah tauhid yaitu memurnikan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Hal itu sebagaimana firman Allah (yang artinya), <em>“Allah mensyari’atkan bagi kalian ajaran agama yang telah Allah wasiatkan kepada Nuh, dan sebagaimana juga Kami wahyukan kepadamu, dan yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu hendaknya kalian menegakkan agama dan tidak berpecah belah di dalamnya…”</em> (QS. as-Syuura : 13). Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa agama yang diajarkan oleh segenap para nabi itu adalah beribadah kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, meskipun syari’at mereka berbeda-beda (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [7/147]). Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah (yang artinya), <em>“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa; tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, oleh sebab itu sembahlah Aku.”</em> (QS. al-Anbiyaa’ : 25).</li>
<li>Hadits ini merupakan bantahan telak bagi kaum atheis yang menolak agama.</li>
<li>Hadits ini juga merupakan bantahan bagi kaum Nasrani yang mengaku mengikuti Nabi Isa <em>‘alaihis salam</em> namun tidak mau tunduk kepada ajaran Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan ia juga menjadi bantahan bagi kaum Yahudi. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar kenabianku seorang di kalangan umat ini, Yahudi ataupun Nasrani lalu meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaranku melainkan dia pasti termasuk penghuni neraka.”</em> (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>).</li>
<li>Hadits ini merupakan bantahan telak bagi kaum Liberal dan Pluralis (semacam JIL dan begundal-begundalnya) yang mengatakan bahwa semua agama itu benar; maksud mereka Yahudi, Nasrani dan Islam adalah dilandaskan pada monothesime (baca: tauhid) –oleh sebab itu ada di antara mereka yang menulis buku dengan judul ‘Tiga agama satu tuhan’ [?!}– dengan alasan bahwa semua agama itu adalah diturunkan oleh Ibrahim ‘alaihis salam. Sungguh dangkal akal mereka, sepertinya mereka belum pernah membaca -atau pura-pura tidak tahu- ayat (yang artinya), <em>“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang bertauhid dan muslim, dan dia sekali-kali bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran : 67). Imam Ath-Thabari mengatakan : Ini merupakan pendustaan dari Allah <em>‘azza wa jalla</em> terhadap klaim orang-orang yang mendebat ajaran Nabi Ibrahim dan millahnya dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Mereka mengklaim bahwa Nabi Ibrahim berada di atas millah (agama) yang mereka anut. Ayat ini menjadi penegas sikap berlepas dirinya Ibrahim dari perbuatan mereka. A<span style="text-decoration: underline;">llah menegaskan sesungguhnya mereka itulah -Yahudi dan Nasrani- yang menyelisihi agama yang beliau bawa</span>. Hal ini menjadi kata putus dari Allah<em> ‘azza wa jalla</em> bagi seluruh pemeluk Islam dan umat Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menetapkan bahwa mereka itulah -umat Islam- orang-orang yang benar-benar menganut ajaran agama Ibrahim dan berjalan di atas jalan-jalan dan syariat yang beliau gariskan, dan bukannya para pemeluk agama-agama selain agama yang mereka peluk (Maktabah Syamilah). Allah juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa al-Masih putra Maryam itu adalah Allah, sedangkan al-Masih sendiri mengatakan, ‘Hai bani Isra’il, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian, sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagi orang-orang yang zalim itu.”</em> (QS. al-Maa’idah : 72). Nah, itulah jadinya kalau orang belajar Islam kepada Orientalis…, bukannya pinter malah jadi keblinger! <em>Hadahumullah!</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/agama-para-nabi-dan-rasul.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Yang Bisa Menjamin Dirinya?</title>
		<link>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 13:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.” (HR. Muslim, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p><span id="more-1570"></span></p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad as-Sa&#8217;idi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya hati anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara dua jari di antara jari-jemari ar-Rahman, laksana hati yang satu, -sehingga dengan mudahnya- Allah palingkan hati itu sebagaimana yang dikehendaki-Nya.”</em> Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berdoa, <em>“Wahai Yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk berada di atas ketaatan kepada-Mu.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/250])</p>
<p>Tiga hadits yang agung ini mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>Hendaknya merasa takut terhadap su&#8217;ul khotimah dan mengharapkan      husnul khotimah</li>
<li>Iman terhadap surga dan neraka</li>
<li>Amalan yang telah sekian lama dilakukan tidak bisa menjamin      seseorang bahwa dirinya pasti selamat, karena di akhir hidupnya belum      tentu dia masih istiqomah</li>
<li>Tidak boleh tertipu oleh banyaknya amalan yang pernah dilakukan</li>
<li>Tidak boleh merasa aman dari makar Allah</li>
<li>Tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah</li>
<li>Hendaknya menyeimbangkan antara khauf (takut) dan roja&#8217;      (harapan)</li>
<li>Hendaknya menempuh sebab-sebab yang bisa menjadikan istiqomah</li>
<li>Hendaknya menjaga keikhlasan dalam beramal</li>
<li>Pentingnya memperhatikan dan menata amalan-amalan hati</li>
<li>Peringatan dari bahaya riya&#8217; dan kemunafikan</li>
<li>Ikhlas merupakan sebab utama keselamatan</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk surga sehebat      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk neraka seburuk      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Nasib seseorang di akherat kelak ditentukan bagaimana keadaan      akhir hidupnya di alam dunia ini, apakah dia meninggal di atas keimanan      ataukah tidak?</li>
<li>Penetapan bahwa Allah memiliki jari yang sesuai dengan      keagungan dan kemuliaan-Nya, tidak seperti apa yang ada pada makhluk</li>
<li>Penetapan bahwa hati manusia itu berada di bawah kekuasaan      Allah</li>
<li>Penetapan sifat kasih sayang pada diri Allah, Allah tidak      berbuat semena-mena terhadap makhluk-Nya</li>
<li>Hendaknya selalu memohon taufik kepada Allah agar hatinya      berada di atas kebenaran</li>
<li>Ketaatan kepada Allah merupakan sumber keselamatan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
