<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Keutamaan</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/keutamaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kunci Meraih Ampunan</title>
		<link>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 04:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1907</guid>
		<description><![CDATA[Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat. Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ditemui. Sehingga hal itu menyebabkan seorang hamba harus waspada, karena tatkala dia telah merasa taubatnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat.</p>
<p><span id="more-1907"></span></p>
<p>Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ditemui. Sehingga hal itu menyebabkan seorang hamba harus waspada, karena tatkala dia telah merasa taubatnya diterima, kemudian -pada akhirnya- perasaan itu justru menyeret dirinya terjerumus ke dalam lembah dosa yang lainnya, <em>wal &#8216;iyadzu billah!</em></p>
<p>Ketahuilah saudaraku, bahwa tauhid yang bersih merupakan kunci untuk meraih ampunan. Namun, hal ini tidaklah sesederhana dan semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut:</p>
<p>[1] Orang yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar atau tidak bertaubat darinya maka dia pasti masuk neraka.</p>
<p>[2] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih terkotori dengan syirik kecil sementara kebaikan-kebaikannya ternyata lebih berat daripada timbangan keburukannya maka dia pasti masuk surga.</p>
<p>[3] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih memiliki syirik kecil sedangkan keburukan/dosanya justru lebih berat dalam timbangan maka orang itu berhak masuk neraka namun tidak kekal di sana (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 44)</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dan dia menghasankannya)</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan syarat untuk bisa meraih ampunan Allah<em> ta&#8217;ala</em>. Syaikh Abdurrahman bin Hasan <em>rahimahullah</em> berkata mengomentari hal ini, <em>“Ini adalah <strong>syarat yang berat</strong> untuk bisa mendapatkan janji itu yaitu curahan ampunan. Syaratnya adalah <strong>harus bersih dari kesyirikan, banyak maupun sedikit</strong>. Sementara tidak ada yang bisa selamat/bersih darinya kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah ta&#8217;ala. Itulah hati yang selamat sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), “Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara: 88-89</strong>).”</em> (<em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 53-54)</p>
<p>Namun -sebagaimana sudah disinggung di atas- keutamaan ini hanya akan bisa diperoleh bagi orang yang bersih tauhidnya. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“&#8230;Seandainya ada seorang yang bertauhid dan sama sekali tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa hampir seisi bumi, maka Allah pun akan menemuinya dengan ampunan sepenuh itu pula. Namun <strong>hal itu tidak akan bisa diperoleh bagi orang yang cacat tauhidnya</strong>. Karena sesungguhnya tauhid yang murni yaitu yang tidak tercemari oleh kesyirikan apapun maka ia tidak akan menyisakan lagi dosa. Karena ketauhidan semacam itu telah memadukan antara kecintaan kepada Allah, pemuliaan dan pengagungan kepada-Nya serta rasa takut dan harap kepada-Nya semata, yang hal itu menyebabkan <strong>tercucinya dosa-dosa, meskipun dosanya hampir memenuhi isi bumi</strong>. Najis yang datang sekedar menodai, sedangkan faktor yang menolaknya sangat kuat.”</em> (Dinukil dari <em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 54-55)</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung keterangan bahwa kandungan makna <em>la ilaha illallah</em> yang bisa lebih berat timbangannya daripada semua makhluk dan semua dosa. Kandungan maknanya yaitu <strong>wajib meninggalkan syirik dalam jumlah banyak maupun sedikit</strong>. Hal itu pasti membuahkan ketauhidan yang sempurna. <strong>Tidak mungkin bisa bersih dari syirik kecuali bagi orang yang benar-benar merealisasikan tauhidnya</strong> serta mewujudkan konsekuensi dari kalimat ikhlas (syahadat) yang berupa ilmu, keyakinan, kejujuran, keikhlasan, rasa cinta, menerima, tunduk patuh dan lain sebagainya yang menjadi konsekuensi kalimat yang agung itu (lihat<em> Qurrat al-&#8217;Uyun al-Muwahhidin</em>, hal. 22).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang mengucapkannya -la ilaha illallah- dengan penuh keikhlasan dan kejujuran maka dia <strong>tidak akan terus-menerus berkubang dalam kemaksiatan-kemaksiatan</strong>. Karena keimanan dan keikhlasannya yang sempurna menghalangi dirinya dari terus-menerus berkubang dalam maksiat. Oleh sebab itu dia akan bisa masuk surga sejak awal bersama dengan rombongan orang-orang yang langsung masuk surga.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21)</p>
<p>Hadits di atas juga menunjukkan bahwa tauhid <strong>tidak cukup di lisan</strong>. Namun tauhid juga menuntut seorang hamba untuk <strong>menunaikan kewajiban serta meninggalkan kemaksiatan</strong>. Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa barangsiapa yang mempersaksikannya -kalimat tauhid- namun dia mencemarinya dengan perbuatan dosa dan kemaksiatan, atau dia sekedar mengucapkannya dengan lisan sementara hati atau amalannya berbuat syirik seperti halnya orang-orang munafik maka orang semacam ini ucapan syahadatnya tidak bermanfaat. Akan tetapi yang semestinya dia lakukan adalah mengucapkannya kemudian meyakininya dengan kuat, melaksanakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan serta mengikuti tuntunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 20).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang dilarang maka itu berarti dia telah berani menawarkan dirinya untuk menerima hukuman Allah ta&#8217;ala meskipun dia mengucapkan kalimat ini dan meyakininya. Apabila dia melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya maka berubahlah dia menjadi orang yang murtad dan kafir. Syahadat ini tidak lagi bermanfaat untuknya. Oleh sebab itu kalimat ini <strong>harus diwujudkan dalam kenyataan</strong> dan mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya, kalau tidak demikian maka dia berada dalam bahaya besar seandainya dia tidak kunjung bertaubat.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 26).</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung motivasi (<em>targhib</em>) dan peringatan (<em>tarhib</em>). Ini merupakan motivasi agar orang mau <strong>berjuang keras membersihkan tauhidnya dari kotoran syirik dan kemaksiatan</strong>, karena Allah menjanjikan ampunan yang demikian besar bagi orang yang murni tauhidnya. Dan ini sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang selama ini tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan agar waspada dan takut kalau-kalau ternyata di akhir hidupnya mereka tidak tergolong orang yang bersih tauhidnya.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Seandainya Allah mau menyiksa manusia -di dunia- sebagai hukuman atas dosa yang mereka perbuat niscaya tidak akan Allah sisakan di atas muka bumi ini seekor binatang melatapun. Akan tetapi Allah menunda hukuman itu untuk mereka hingga waktu yang telah ditentukan. Maka apabila telah datang saatnya sesungguhnya Allah Maha melihat semua hamba-Nya.”</em> (<strong>QS. Fathir: 45</strong>). Imam Ibnu Katsir<em> rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya adalah seandainya Allah menyiksa mereka sebagai hukuman atas semua dosa yang mereka perbuat niscaya Allah akan menghancurkan semua penduduk bumi dan segala binatang dan rezeki yang mereka miliki.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/362])</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwasanya para pelaku maksiat itu sangat berresiko dijatuhi ancaman siksa dan mereka akan masuk ke neraka lalu mereka akan dikeluarkan darinya dengan syafa&#8217;at para nabi dan yang lainnya. Hal itu dikarenakan mereka telah melemahkan tauhid mereka dan mencemarinya dengan kemaksiatan-kemaksiatan.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan <strong>membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid&#8217;ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan</strong>. Hal itu akan tercapai dengan cara menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah.”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 20)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa <strong>merealisasikan <em>la ilaha illallah</em> adalah sesuatu  yang sangat sulit</strong>. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata: <strong><em>&#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;</em></strong>. Sebagian salaf juga mengatakan: <em>&#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;</em>. Dan tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, maka dia tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai keikhlasan.</p>
<p>Oleh sebab itu, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, <em>&#8216;Orang-orang Yahudi mengatakan: Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat&#8217;</em>. Maka beliau menjawab: <em>&#8216;Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?&#8217;</em> Setan tidak akan repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur -dengan iman-.</p>
<p>Oleh sebab itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang terasa berat dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, <em>&#8216;Benarkah kalian merasakan hal itu?&#8217;</em>. Mereka menjawab, <em>&#8216;Benar&#8217;</em>. Beliau pun bersabda, <em>&#8216;Itulah kejelasan iman&#8217;</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Artinya hal itu merupakan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan keimanan kalian, karena perasaan itu muncul dalam dirinya sementara hal itu tidak akan muncul kecuali pada hati yang lurus dan bersih (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/38])</p>
<p>Keikhlasan -yang hal ini merupakan intisari dari ajaran tauhid- merupakan sesuatu yang membutuhkan <strong>perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu</strong>. Sahl bin Abdullah berkata, <em>“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 26).</p>
<p>Dan sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 143).</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Binasalah hamba Dinar! Celakalah hamba Dirham! Celakalah hamba khamisah (sejenis kain)! Celakalah hamba khamilah (sejenis model pakaian)! Apabila diberi dia merasa senang, dan apabila tidak diberi maka dia murka. Celaka dan merugilah dia!”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa sebagian manusia ada yang <strong>cita-cita hidupnya hanya untuk mendapatkan dunia</strong> dan perkara itulah yang paling dikejar olehnya. Itulah tujuan pertama dan terakhir yang dicarinya. Maka kalau ada orang semacam ini niscaya akhir perjalanan hidupnya adalah kebinasaan dan kerugian (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 331).</p>
<p>Itulah sosok pengejar dunia, yang rasa senang dan bencinya dikendalikan oleh hawa nafsunya (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 241). Maka barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai puncak urusan dan akhir cita-citanya pada hakekatnya dia telah mengangkatnya sebagai sesembahan tandingan bagi Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 332)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagaimanakah pendapatmu mengenai orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan?” </em>(<strong>QS. al-Furqan: 43</strong>).</p>
<p>Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali <em>hafizhahullah</em> memberikan keterangan bahwa sesungguhnya <strong>tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah melainkan dia condong menujukan ibadahnya kepada selain Allah</strong>. Memang, bisa jadi dia tidak tampak memuja/menyembah patung atau berhala. Atau juga tidak tampak dia menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi, sebenarnya dia telah menyembah hawa nafsu yang telah menjajah hatinya dan memalingkan dirinya sehingga tidak mau tunduk beribadah kepada Allah (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 147)</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Pokok munculnya kesyirikan kepada Allah adalah kesyirikan dalam hal cinta. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), &#8216;Sebagian manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.&#8217; (<strong>QS. al-Baqarah: 165</strong>)&#8230;”</em> (<em>ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</em>, hal. 212). Orang yang mencintai selain Allah -apa pun bentuknya- sebagaimana kecintaannya kepada Allah, atau orang yang lebih mendahulukan ketaatan kepada selain Allah daripada ketaatan kepada Allah maka sesungguhnya orang tersebut telah terjerumus dalam syirik besar yang tidak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya tidak bertaubat darinya (lihat<em> al-Qaul as-Sadid</em>, hal. 96, lihat juga <em>al-Jadid</em>, hal. 278)</p>
<p>Bahkan, karena terlalu berlebihan kecintaannya kepada dunia maka sebagian orang tega menjadikan amal akherat sebagai alat untuk menggapai ambisi-ambisi dunia semata! <strong>Secara fisik mereka tampak mengejar pahala akherat</strong>, namun hatinya dipenuhi dengan kecintaan kepada kesenangan dunia yang hanya sesaat. <em>Subhanallah</em>&#8230; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya),<em>“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan untuk mereka balasan atas amal-amal mereka di dalamnya sedangkan mereka tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak akan mendapatkan balasan apa-apa di akherat selain neraka dan akan hapuslah semua amal yang mereka kerjakan dan sia-sialah apa yang dahulu mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. Huud: 15-16</strong>).</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa beramal soleh semata-mata untuk menggapai kesenangan dunia -tanpa ada keinginan untuk memperoleh balasan akherat atau balasan yang dijanjikan Allah- termasuk kategori kesyirikan, bertentangan dengan kesempurnaan tauhid, bahkan menyebabkan terhapusnya pahala amalan (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 238)</p>
<p><em>Nas&#8217;alullahat taufiq was salamah</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Menembus&#8217; Pintu Surga</title>
		<link>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 06:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1885</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut   Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya   pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221;</em></p>
<p><span id="more-1885"></span>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ  الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا  يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ  فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا  أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut  Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya  pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka.  Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’.  Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain  golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu  dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…”</em> (HR.  Bukhari [1896] dari Sahl <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah  orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab  orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya  (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum  muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar  melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki  surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat <em>Syarh  Riyadhush Shalihin</em> oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).</p>
<p>Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana  dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,</p>
<p><strong>مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ  اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا  خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ  وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ  كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ  مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو  بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ  مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ  يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو  أَنْ تَكُونَ مِنْهُم</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah  maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah  kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan  dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad  akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa  akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan  ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”</em></p>
<p>Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, <em>“Ayah dan ibuku  sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu  dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah  ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.</em></p>
<p>Maka beliau pun menjawab, <em>“Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk  golongan mereka.”</em> (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang  hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang  harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta  (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351).</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan  berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala  bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan  dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits  dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara  tegas, Nabi bersabda,</p>
<p><strong>لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب  الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل</strong></p>
<p><em>“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga  yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah  dilakukannya.”</em> (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih,  demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, <em>“Dan aku  berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari  semua pintu surga-.” </em>Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau  Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas  termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit  orang yang bisa <strong>mengumpulkan berbagai amal kebaikan</strong> di dalam dirinya  (Fath Al-Bari, 7/31).</p>
<p>Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan  ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.</p>
<p><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو  بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ  أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya (kepada para  sahabat), <em>“Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”</em>. Abu  Bakar berkata, <em>“Saya.”</em> Beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian  yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”</em>. Maka Abu Bakar berkata,  <em>“Saya.”</em> Beliau kembali bertanya, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari  ini memberi makan orang miskin?”</em>. Maka Abu Bakar mengatakan, <em>“Saya.”</em> Lalu beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini  sudah mengunjungi orang sakit.”</em> Abu Bakar kembali mengatakan, <em>“Saya.”</em> Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, <em>“Tidaklah  ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan  masuk surga.”</em> (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq  <em>radhiyallahu’anhu</em>, <em>”Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya)  mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang  bersemayam di dalam hatinya.”</em> Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut,  Ibnu ‘Aliyah mengatakan, <em>”Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya  adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap  (sesama) makhluk-Nya.”</em> (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab,  hal. 102).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا  صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ  كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ</strong></p>
<p><em>”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging.  Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia  rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging  itu adalah jantung.” </em>(HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat  An-Nu’man bin Basyir <em>radhiyallahu’anhuma</em>).</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ”Di dalam hadits ini terdapat  isyarat yang menunjukkan bahwa <span style="text-decoration: underline;">kebaikan gerak-gerik anggota badan  manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan,  kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat  (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya</span>.  Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain  kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai  Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal  yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik  seluruh anggota badannya. Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala  macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat  untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-‘Ulum  wa Al-Hikam, hal. 93).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar   bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari  kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108).</p>
<p>Maka dari arah pintu manakah kita -dengan segala kekurangan yang ada- akan berusaha -dengan taufik Allah tentunya- bisa menembus pintu surga? Dari satu pintu, ataukah dari banyak pintu&#8230; <em>Allahul muwaffiq</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Shaum Ramadhan</title>
		<link>http://abumushlih.com/kedudukan-shaum-ramadhan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kedudukan-shaum-ramadhan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 08:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Buka Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Infak]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Panduan Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1880</guid>
		<description><![CDATA[“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan kepadanya…”. Kewajiban Bagi Kaum Yang Beriman Allah ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa, sebagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkedudukan-shaum-ramadhan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkedudukan-shaum-ramadhan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang  lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan  kepadanya…”.</em></p>
<p><span id="more-1880"></span><strong>Kewajiban Bagi Kaum Yang Beriman</strong></p>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا  كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian untuk  berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian  agar kalian bertakwa.”</em> (QS. Al-Baqarah [2] : 183).</p>
<p>Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Ramadhan merupakan salah  satu rukun Islam. Inilah kedudukannya (yang mulia) di dalam agama Islam.  Hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma’/kesepakatan kaum muslimin  karena Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan demikian.” (Syarh Riyadhush  Shalihin, 3/380).</p>
<p>Ketika menjelaskan ayat di atas beliau mengatakan, “Allah mengarahkan  pembicaraannya (di dalam ayat ini, pen) kepada orang-orang yang beriman.  Sebab puasa Ramadhan merupakan bagian dari konsekuensi keimanan. Dan  <strong>dengan menjalankan puasa Ramadhan akan bertambah sempurna keimanan  seseorang</strong>. Dan juga karena dengan meninggalkan puasa Ramadhan akan  mengurangi keimanan. Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang  meninggalkan puasa karena meremehkannya atau malas, apakah dia kafir  atau tidak? Namun pendapat yang benar menyatakan bahwa orang ini tidak  kafir. Sebab tidaklah seseorang dikafirkan karena meninggalkan salah  satu rukun Islam selain dua kalimat syahadat dan shalat.” (Syarh  Riyadhush Shalihin, 3/380-381).</p>
<p>Menunaikan kewajiban merupakan ibadah yang sangat utama, karena  <strong>kewajiban merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah</strong>. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda membawakan firman Allah ta’ala  (dalam hadits qudsi),</p>
<p><strong>وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا  افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ</strong></p>
<p>“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang  lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan  kepadanya…” (HR. Bukhari [6502] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang  menunjukkan bahwa mengerjakan kewajiban lebih utama daripada mengerjakan  amalan yang sunnah.” (Syarh Arba’in li An-Nawawi yang dicetak dalam  Ad-Durrah As-Salafiyah, hal. 265).</p>
<p>Syaikh As-Sa’di juga mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat pokok  yang sangat agung yaitu kewajiban harus didahulukan sebelum  perkara-perkara yang sunnah. Dan ia juga menunjukkan bahwa amal yang  wajib itu lebih dicintai Allah dan lebih banyak pahalanya.” (Bahjat  Al-Qulub Al-Abrar, hal. 116).</p>
<p>Al-Hafizh mengatakan, “Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwasanya  menunaikan kewajiban-kewajiban merupakan amal yang paling dicintai oleh  Allah.” (Fath Al-Bari, 11/388).</p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Amal-amal  wajib lebih utama daripada amal-amal sunnah. Menunaikan amal yang wajib  lebih dicintai Allah daripada menunaikan amal yang sunnah. Ini  merupakan pokok agung dalam ajaran agama yang ditunjukkan oleh  dalil-dalil syari’at dan ditetapkan pula oleh para ulama salaf.”  Kemudian beliau menyebutkan hadits di atas. Setelah itu beliau  mengatakan, “Maka hadits ini memberikan penunjukan yang sangat gamblang  bahwa amal-amal wajib lebih mulia dan lebih dicintai Allah daripada  amal-amal sunnah.” Kemudian beliau menukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar  di atas (lihat Tajrid Al-Ittiba’ fi Bayan Tafadhul Al-A’maal, hal. 34).</p>
<p>Dikutip dari:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;0b9a9&quot;, event);" rel="nofollow" href="../keagungan-puasa-ramadhan.html/" target="_blank">http://abumushlih.com/keagungan-puasa-ramadhan.html/</a></p>
<p>Anda tertarik untuk mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan bermanfaat?<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;0b9a9&quot;, event);" rel="nofollow" href="../gema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html/" target="_blank">http://abumushlih.com/gema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html/</a></p>
<p>Anda tertarik untuk menyisihkan harta di jalan Allah?<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;0b9a9&quot;, event);" rel="nofollow" href="../semarak-dakwah-jogja-syaban-ramadhan-1431-h.html/" target="_blank">http://abumushlih.com/semarak-dakwah-jogja-syaban-ramadhan-1431-h.html/</a></p>
<p>Anda di luar Jogja dan ingin berlangganan buletin dakwah setiap pekan?<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;0b9a9&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://buletin.muslim.or.id/tentang/penawaran-buletin-at-tauhid-jogjakarta" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id/tentang/penawaran-buletin-at-tauhid-jogjakarta</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kedudukan-shaum-ramadhan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Hanya Menahan Makan</title>
		<link>http://abumushlih.com/tidak-hanya-menahan-makan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tidak-hanya-menahan-makan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 07:03:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Minuman]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1850</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan tak lama lagi menghampiri, jika umur kita masih diberi. Banyak orang bergembira, bukan karena ibadah yang agung ini -yaitu puasa Ramadhan- begitu istimewa di sisi Allah ta&#8217;ala, namun karena sebab lain yang tak semestinya. Ada yang bergembira karena di bulan puasa mereka bisa menikmati berbagai sajian spesial menu makanan yang tak biasanya mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftidak-hanya-menahan-makan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftidak-hanya-menahan-makan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bulan Ramadhan tak lama lagi menghampiri, jika umur kita masih diberi. Banyak orang bergembira, bukan karena ibadah yang agung ini -yaitu puasa Ramadhan- begitu istimewa di sisi Allah <em>ta&#8217;ala</em>, namun karena sebab lain yang tak semestinya.</p>
<p><span id="more-1850"></span></p>
<p>Ada yang bergembira karena di bulan puasa mereka bisa menikmati berbagai sajian spesial menu makanan yang tak biasanya mereka rasakan di bulan lainnya. Ada yang bergembira karena di bulan puasa mereka bisa bertemu dengan <em>&#8216;mbak-mbak&#8217;</em> tatkala jalan-jalan pagi sepulang dari kultum subuh. Ada yang bergembira karena di bulan puasa mereka bisa menikmati &#8216;tidur siang&#8217; sepuas-puasnya selepas makan sahur hingga kumandang adzan zhuhur mengangkasa. Ada pula yang merasa senang karena di bulan ini mereka bisa menyimak berbagai sajian musik islami [?] di radio ataupun televisi untuk melembutkan hati [?!]. Nah, fenomena semacam ini tentu tidak <em>pas</em> dengan hikmah agung dari ibadah puasa, apalagi jika hal itu terjadi pada kalangan pemuda atau santri yang sudah pernah<em> &#8216;mencium aroma&#8217;</em> kitab para ulama.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Puasa adalah perisai. Oleh sebab itu janganlah berbicara jorok, jangan berbuat dungu. Kalau ada orang lain yang memeranginya atau mencaci-maki dirinya katakanlah padanya, &#8216;Aku sedang puasa&#8217;. Dua kali&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, ini lafal Bukhari, lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/122-123], <em>Syarh Muslim</em> [4/481-484]). al-Qurthubi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Perisai maknanya penghalang/pelindung, yaitu sebagaimana yang diajarkan dalam syari&#8217;at. Oleh sebab itu seorang yang berpuasa semestinya melindungi puasanya dari hal-hal yang akan merusakkan/membatalkannya atau mengurangi pahalanya&#8230;”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/123], lihat juga penjelasan an-Nawawi dalam <em>Syarh Muslim</em> [4/483]). Sebagian ulama menafsirkan perisai dalam hadits ini sebagai pelindung dari neraka. Ibnul &#8216;Arabi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya puasa itu menjadi perisai dari neraka karena ia mengandung penahanan diri dari melampiaskan syahwat. Sementara neraka itu diliputi oleh perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Kesimpulannya, apabila seseorang -yang berpuasa- itu menahan dirinya dari melampiaskan syahwatnya -tanpa kendali- di dunia maka hal itulah yang akan menjadi penghalang/pelindung baginya kelak di akherat.”</em> (dikutip oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fath al-Bari</em> [4/123]).</p>
<p>Penafsiran ini tepat sekali sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba melindungi dirinya dari api neraka.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>, disahihkan oleh penyusun <em>Sifat Shaum Nabi fi Ramadhan</em>, lihat hal. 12-13 dari kitab tersebut). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Neraka diliputi oleh hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsu sedangkan surga diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai oleh hawa nafsu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/362], <em>Syarh Muslim</em> [9/101])</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa yang dimaksud dengan hal-hal yang tidak disukai -oleh hawa nafsu- itu contohnya adalah bersungguh-sungguh dalam ibadah dan terus menerus dalam melakukannya, bersabar dalam melalui kesulitan yang ada padanya, menahan luapan marah,  memaafkan, tidak mudah emosi, bersedekah, berbuat baik kepada orang yang berlaku buruk padanya, menahan diri dari mengumbar syahwat dan lain sebagainya. Adapun syahwat/keinginan nafsu yang meliputi neraka itu maksudnya adalah keinginan-keinginan <strong>yang diharamkan</strong> seperti minum khamr, berzina, memandang kepada perempuan lain -yaitu bukan mahram-, menggunjing, <strong>memainkan alat-alat musik</strong> dan lain sebagainya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [9/101]). Pernyataan seorang pemuka madzhab Syafi&#8217;i ini sungguh indah, adakah di antara para pendaku madzhab Syafi&#8217;i yang mendengarkannya?</p>
<p>Maka, jelaslah bagi kita bahwa bulan puasa bukan semata-mata bulan menahan diri dari makan dan minum. Hanya saja ada satu hal yang perlu digarisbawahi di sini pula, bahwa termasuk yang semestinya dijauhi oleh seorang muslim di bulan puasa, demikian pula di bulan-bulan lainnya adalah bunyi-bunyian alat-alat musik, sebagaimana disinggung oleh an-Nawawi, semoga Allah merahmati beliau. Bahkan, Majid al-Hamawi dalam catatan kakinya terhadap matan Abu Syuja&#8217; yang merupakan kitab fiqih dasar dalam madzhab Syafi&#8217;i mengkategorikan alat-alat musik sebagai barang yang <strong>tidak bermanfaat sama sekali</strong>, sehingga <strong>tidak sah untuk dijadikan objek transaksi jual-beli</strong>!! (lihat <em>Matn al-Ghayah wa at-Taqrib</em>, hal. 153)</p>
<p>Cukuplah bagi kita sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Benar-benar akan muncul di antara umatku ini masyarakat-masyarakat yang menghalalkan -dengan perbuatannya, pent- kemaluan -yaitu zina-, kain sutera -untuk lelaki-, khamr, dan ma&#8217;azif/alat-alat musik.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dengan nada tegas dan dijadikannya sebagai hujjah, lihat <em>Shahih Bukhari</em>, hal. 1178). Hadits ini disahihkan oleh para pakar hadits di antaranya Imam Ibnu ash-Shalah, Ibnu Katsir, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir -<em>rahimahumullah- </em>dan mereka telah membantah kekeliruan Ibnu Hazm -<em>ghafarahullah</em>- yang menolak hadits ini (lihat <em>al-Ba&#8217;its al-Hatsis</em>, hal. 44).</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> -sedangkan beliau ini sangat dieluk-elukkan oleh sebagian tokoh pergerakan sebagai ulama pakar masalah hati, dan itulah kenyataannya- berkata, <em>“..al-Ma&#8217;azif itu tidak lain mencakup segala macam alat musik, tiada perselisihan di antara pakar bahasa tentangnya. Seandainya itu adalah halal, niscaya Nabi tidak akan mencela mereka karena &#8216;penghalalan&#8217; yang mereka perbuat, dan juga Nabi tidak akan mengiringkan penghalalannya dengan penghalalan khamr dan zina/sutera&#8230;”</em> (lihat <em>Ighotsat al-Lahfan</em>, hal. 333).</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> bahkan mengatakan, <em>“Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.”</em> Ibnul Qayyim menjelaskan, riwayat ini shahih berasal dari Ibnu Mas&#8217;ud (<em>Ighotsat al-Lahfan</em>, hal. 318). Para ulama juga menjelaskan bahwa perkataan para sahabat itu bisa menjadi hujjah jika tidak menyelisihi dalil dan tidak diingkari oleh para Sahabat yang lain (lihat <em>Jam&#8217;u al-Mahshul</em> karya Syaikh Abdullah al-Fauzan, hal. 135). Kalau nyanyian saja -tanpa bumbu alat musik- sudah sedemikian buruk dampaknya, lalu bagaimana lagi dengan nyanyian <em>full-music</em> yang didendangkan dengan suara mendayu-dayu oleh para wanita yang tak punya malu [?!] <em>La haula wa la quwwata illa billah&#8230; </em>Ini di bulan puasa, bagaimana lagi di luar bulan puasa&#8230;. Inikah potret masyarakat yang lebih adil dan sejahtera? <em>Subhanallah</em>&#8230;.</p>
<p>Kalau masih ada yang &#8216;ngotot&#8217; mempertahankan pendapat Ibnu Hazm yang keliru tersebut, maka sekarang silahkan mereka juga mengikuti pendapatnya -dalam hal puasa- yang mengatakan bahwa <strong>segala macam maksiat membatalkan puasa</strong>! (lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/123]). <em>“Ah, kalian ini sukanya meributkan masalah-masalah furu&#8217;/cabang. Tuh.., lihat musuh di hadapan kita, kalian hanya sibuk cela sana cela sini!” </em>Itu sebagian komentar miring yang sering muncul ketika nasehat-nasehat semacam ini diangkat. Mungkin mereka lupa kalau nasehat itu adalah bukti rasa cinta.</p>
<p>Maka kami katakan -<em>wabillahit taufiq was sadad</em>-: Saudaraku, manakah yang lebih paham terhadap agama ini; para Sahabat ataukah kita? Kalau kamu menjawab para Sahabat lebih paham, maka sekarang tanyakanlah kepada dirimu dimanakah letak kunci kebaikan umat ini, bukankah di dalam hatinya? Kamu tentu akan menjawab; benar! Kita juga pasti pernah mendengar firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”</em> (<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 11</strong>). Kita pun pernah mendengar kaidah para ulama <em>al-khuruj minal khilaf aula</em>; keluar dari perselisihan itu merupakan sikap yang lebih utama -<em>itupun kalau khilafnya mu&#8217;tabar</em>-. Lalu bagaimanakah cara melepaskan diri dari <em>khilaf</em> ini kalau bukan dengan meninggalkan musik dengan segala corak dan alirannya?! <em>Jawablah dengan nuranimu..!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tidak-hanya-menahan-makan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Puasa</title>
		<link>http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 03:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1769</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya para lelaki muslim dan perempuan muslimah, para lelaki dan perempuan yang beriman, para lelaki dan perempuan yang taat, para lelaki dan perempuan yang jujur, para lelaki dan perempuan yang sabar, para lelaki dan perempuan yang khusyu&#8217;, para lelaki dan perempuan yang rajin bersedekah, para lelaki dan perempuan yang rajin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-puasa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-puasa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya para lelaki muslim dan perempuan muslimah, para lelaki dan perempuan yang beriman, para lelaki dan perempuan yang taat, para lelaki dan perempuan yang jujur, para lelaki dan perempuan yang sabar, para lelaki dan perempuan yang khusyu&#8217;, para lelaki dan perempuan yang rajin bersedekah, </span></em><em><strong>para lelaki dan perempuan yang rajin berpuasa</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">, para lelaki dan perempuan yang senantiasa menjaga kemaluannya, dan para lelaki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, maka </span></em><em><strong>Allah siapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Ahzab: 35</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1769"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Puasa merupakan perisai yang dapat digunakan oleh seorang hamba untuk melindungi dirinya dari jilatan api neraka.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Ahmad</strong><span style="font-weight: normal;">, sahih)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Suatu ketika, Abu Umamah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> bertanya kepada Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dengan sebab itu aku bisa masuk ke dalam surga.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Lakukanlah puasa, tiada yang dapat menyamainya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Nasa&#8217;i</strong><span style="font-weight: normal;">, sanadnya sahih)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa maka janganlah dia mengucapkan kata-kata kotor ataupun berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci-maki dirinya atau memeranginya maka ucapkanlah; Aku sedang puasa. Demi tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. Seorang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan; ketika berbuka puasa maka dia merasa senang, dan ketika berjumpa dengan Rabbnya maka dia pun merasa senang dengan puasanya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dicuplik dengan peringkasan dari kitab</span><strong> Shifat Shaum Nabi </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</strong></em><strong> fi Ramadhan</strong><span style="font-weight: normal;"> karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid -</span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahumallah</span></em><span style="font-weight: normal;">-</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan salah satu sebab turunnya ampunan dan curahan pahala</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan salah satu sebab untuk menyelamatkan diri dari siksaan api 	neraka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan salah satu sebab untuk masuk ke dalam surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan sebuah amalan yang sangat istimewa yang disandarkan Allah 	kepada diri-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan benteng dari perbuatan jelek</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa akan 	mendatangkan kegembiraan di hati orang yang beriman; yaitu di dunia 	ketika dia berbuka/berhari raya dan di akherat ketika dia berjumpa 	dengan Allah dengan membawa amalannya</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Semoga Allah yang Maha kuasa lagi Maha mengetahui masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadhan di tahun ini. Sehingga kita bisa menjalankan sebuah ibadah yang sangat agung demi menggapai ampunan dan pahala dari-Nya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Wisma al-Ghuroba&#8217;, Pogung Dalangan</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">7 Jumadi Tsani 1431 H/21 Mei 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Ikhlas</title>
		<link>http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 17:03:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sum'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1738</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, yang berkuasa membolak-balikkan hati anak Adam bagaimanapun Dia inginkan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman dan pembawa lentera bimbingan untuk membangkitkan kesadaran hati manusia yang telah lalai dan lupa akan hakekat kehidupan. Amma ba&#8217;du. Saudara-saudara sekalian, semoga Allah menambahkan kepada kita bimbingan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentang-ikhlas.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentang-ikhlas.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Sesungguhnya segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, yang berkuasa membolak-balikkan hati anak Adam bagaimanapun Dia inginkan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman dan pembawa lentera bimbingan untuk membangkitkan kesadaran hati manusia yang telah lalai dan lupa akan hakekat kehidupan. </span><em><span style="font-weight: normal;">Amma ba&#8217;du</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Saudara-saudara sekalian, semoga Allah menambahkan kepada kita bimbingan dan pertolongan&#8230; sesungguhnya pada masa-masa seperti sekarang ini; masa yang penuh dengan ujian dan godaan serta kekacauan yang meluas di berbagai sudut kehidupan&#8230; kita sangat memerlukan hadirnya hati yang diwarnai dengan keikhlasan. Hati yang selamat, sebagaimana yang disinggung oleh Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> dalam firman-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Pada hari itu -hari kiamat- tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;"><span id="more-1738"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Hati yang ikhlas itulah yang selamat</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> memaparkan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ia adalah hati yang selamat dari segala syahwat/keinginan nafsu yang menyelisihi perintah dan larangan Allah serta terbebas dari segala syubhat yang menyelisihi berita yang dikabarkan-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Ighatsat al-Lahfan</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 15)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Syaikh as-Sa&#8217;di </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hati yang selamat itu adalah hati yang selamat dari syirik dan keragu-raguan serta terbebas dari kecintaan kepada keburukan/dosa atau perilaku terus menerus berkubang dalam kebid&#8217;ahan dan dosa-dosa. Karena hati itu bersih dari apa-apa yang disebutkan tadi, maka konsekunsinya adalah ia menjadi hati yang diwarnai dengan lawan-lawannya yaitu; keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kepada kebaikan serta dihiasinya -tampak indah- kebaikan itu di dalam hatinya. Sehingga keinginan dan rasa cintanya akan senantiasa mengikuti kecintaan Allah, dan hawa nafsunya akan tunduk patuh mengikuti apa yang datang dari Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Taisir al-Karim ar-Rahman</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/812]) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga mensifatkan pemilik hati yang selamat itu dengan ucapannya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230;Ia akan senantiasa berusaha mendahulukan keridhaan-Nya dalam kondisi apapun serta berupaya untuk selalu menjauhi kemurkaan-Nya dengan segala macam cara&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Kemudian, beliau juga mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230; amalnya ikhlas karena Allah. Apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya juga karena Allah. Apabila memberi maka pemberiannya itu karena Allah. Apabila tidak memberi juga karena Allah&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Ighatsat al-Lahfan</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 15)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Ayat-Ayat Yang Memerintahkan Untuk Ikhlas</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab dengan benar, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya agama yang murni itu merupakan hak Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Padahal, mereka tidaklah disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam menjalankan ajaran yang lurus, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Ghafir: 14</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Dialah Yang Maha Hidup, tiada sesembahan -yang benar- selain Dia, maka sembahlah Dia dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Ghafir: 65</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Hadits-Hadits Yang Memerintahkan Untuk Ikhlas</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan dilakukan demi mengharap wajah-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Nasa&#8217;i </strong><span style="font-weight: normal;">dari Abu Umamah al-Bahili </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, sanadnya hasan, dihasankan oleh al-Iraqi dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Takhrij al-Ihya&#8217;</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang yang paling berbahagia dengan syafa&#8217;atku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas dari dalam hati atau dirinya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari </strong><span style="font-weight: normal;">dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Gara-Gara Tidak Ikhlas</strong><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah -</span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">-, maka Natil -salah seorang penduduk Syam- (beliau ini adalah seorang tabi&#8217;in yang tinggal di Palestina, pent) berkata kepadanya, </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">“Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">.”</span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Abu Hurairah menjawab, </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">“Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda: </span></span><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: [</span><strong>Yang pertama</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.”</strong></em><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">hingga akhirnya dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dilemparkan ke dalam api neraka. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">[</span><strong>Yang kedua</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur&#8217;an. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur&#8217;an di jalan-Mu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur&#8217;an agar disebut sebagai qari&#8217;. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>Yang ketiga</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1903], lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/529-530])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini memberikan faedah bagi kita, di antaranya:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[1] Dosa riya&#8217; -yaitu beramal karena dilihat orang dan demi mendapatkan sanjungan- adalah dosa yang sangat diharamkan dan sangat berat hukumannya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531]). Riya&#8217; merupakan bahaya yang lebih dikhawatirkan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menimpa orang-orang salih sekelas para sahabat. Beliau bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Maukah kukabarkan kepada kalian mengenai sesuatu yang lebih aku takutkan menyerang kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Para sahabat menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Mau ya Rasulullah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Yaitu syirik yang samar. Tatkala seorang berdiri menunaikan sholat lantas membagus-baguskan sholatnya karena merasa dirinya diperhatikan oleh orang lain.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Ahmad dan Ibnu Majah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, al-Bushiri berkata sanadnya hasan) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tam-hid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 397, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/55]). Kalau para sahabat saja demikian, maka bagaimana lagi dengan orang seperti kita? </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230;</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[2] Dorongan agar menunaikan kewajiban ikhlas dalam beramal. Hal ini sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam ayat (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan amal untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[3] Hadits ini menunjukkan bahwa dalil-dalil lain yang bersifat umum yang menyebutkan keutamaan jihad itu hanyalah berlaku bagi orang-orang yang berjihad secara ikhlas. Demikian pula pujian-pujian yang ditujukan kepada ulama dan orang-orang yang gemar berinfak dalam kebaikan hanyalah dimaksudkan bagi orang-orang yang melakukannya ikhlas karena Allah (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531-532])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[4] Sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 143)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[5] Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 26). Sebagian salaf berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/53])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[6] Tercela dan diharamkannya orang yang menimba ilmu agama tidak ikhlas karena Allah. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya dipelajari demi mencari wajah Allah akan tetapi dia tidak menuntutnya melainkan untuk menggapai kesenangan dunia maka dia pasti tidak akan mendapatkan bau -harum- surga pada hari kiamat kelak.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Abu Dawud</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan disahihkan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 22)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[7] Amalan yang tercampuri syirik -contohnya riya&#8217;- tidak diterima oleh Allah. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah ta&#8217;ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 23)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[8] Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan demi mencari wajah-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Nasa&#8217;i</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan dihasankan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 21)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[9] Amalan yang  besar bisa berubah menjadi kecil gara-gara niat, sebagaimana amal yang kecil bisa menjadi bernilai besar karena niat. Ibnu Mubarak berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 19)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>Buah Keikhlasan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Di antara buah paling agung yang diperoleh oleh orang-orang yang ikhlas adalah diharamkan tersentuh api neraka. Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah mengharamkan sentuhan api neraka kepada orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas karena ingin mencari wajah Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong><span style="font-weight: normal;"> dari Itban </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang ikhlas/bertauhid maka akan selamat dari hukuman kekal di dalam neraka, yaitu selama di dalam hatinya masih tersisa iman/tauhid meskipun sekecil biji sawi. Dan apabila keikhlasan itu sempurna di dalam hatinya maka ia akan selamat dari hukuman neraka dan tidak masuk ke dalamnya sama sekali (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 17)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang mendapatkan keutamaan ini hanyalah orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat syahadat. Maka terkecualikan dari keutamaan ini orang-orang munafik, dikarenakan mereka tidak mencari wajah Allah ketika mengucapkannya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tam-hid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 26). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Hadits ini mengandung bantahan bagi kaum Murji&#8217;ah yang menganggap bahwa ucapan la ilaha illallah itu sudah cukup meskipun tidak disertai dengan harapan untuk mencari wajah Allah (ikhlas). Demikian pula, hadits ini mengandung bantahan bagi kaum Khawarij dan Mu&#8217;tazilah yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka, sementara hadits ini menunjukkan bahwa para pelaku perbuatan-perbuatan yang diharamkan tersebut -dan tidak bertaubat sebelum matinya- tidak akan kekal di neraka, hanya saja  pelakunya memang berhak menerima hukuman/siksa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/46])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Selain itu, orang yang ikhlas juga akan merasa ringan dalam melakukan berbagai ketaatan -yang pada umumnya terasa memberatkan-, karena orang yang ikhlas senantiasa menyimpan harapan pahala dari Allah. Demikian pula, ia akan merasa ringan dalam meninggalkan maksiat, karena rasa takut akan hukuman Rabbnya yang tertanam kuat di dalam hatinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 17) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang ikhlas dalam beramal akan bisa mengubah amalannya yang tampak sedikit menjadi banyak pahalanya, sehingga ucapan dan amalannya akan membuahkan pahala yang berlipat ganda (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 19). Syaikh as-Sa&#8217;di </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Amal-amal itu sesungguhnya memiliki keutamaan yang bervariasi dan pahala yang berlipat-lipat tergantung pada keimanan dan keikhlasan yang terdapat di dalam hati orang yang melakukannya&#8230; ”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat al-Qulub al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 17). Semoga Allah menjadikan kita orang yang ikhlas. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">NB: Sebagian materi artikel ini kami ambil dari kitab <em>Ta&#8217;thir al-Anfaas bi Ahaadits al-Ikhlas</em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Kebaikan</title>
		<link>http://abumushlih.com/kunci-kebaikan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kunci-kebaikan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 09:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dalil]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1678</guid>
		<description><![CDATA[Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَلَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agama. Dan akan senantiasa ada sekelompok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-kebaikan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-kebaikan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَلَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agama. Dan akan senantiasa ada sekelompok orang di antara kaum muslimin yang berjuang membela kebenaran dan mereka akan selalu menang dalam melawan orang-orang yang memusuhi mereka hingga datangnya hari kiamat.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, ini lafal Muslim)</p>
<p><span id="more-1678"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini mengandung pelajaran, antara lain:</p>
<ol>
<li>Ditetapkannya kebaikan bagi orang-orang yang mendalami agama Allah. Dan kepahaman tersebut tidak hanya hasil dari usaha manusia, bahkan ia merupakan anugerah dari Allah dan orang-orang semacam ini -yang diberi anugerah oleh Allah- akan senantiasa ada di dunia ini hingga datangnya kiamat yaitu bertiupnya angin yang akan mencabut ruh setiap orang yang di dalam hatinya menyimpan keimanan sehingga tersisalah orang-orang terjelek dan kepada merekalah hari kiamat itu terjadi (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/115] asy-Syamilah)</li>
<li>Yang dimaksud segolongan orang yang selalu membela kebenaran itu adalah para ulama ahli hadits. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhari <em>rahimahullah</em>. Imam Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila mereka itu bukan ahli hadits, maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka itu.”</em> al-Qadhi ‘Iyadh <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah Ahlus Sunnah dan orang-orang yang meyakini sebagaimana keyakinan ahli hadits.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/115] asy-Syamilah)</li>
<li>Orang yang tidak mau memahami ajaran agama dan tidak mau mempelajari kaidah-kaidahnya serta cabang-cabangnya maka orang semacam ini telah dihalangi dari kebaikan. Maka hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat jelas bagi para ulama di antara segenap manusia dan keutamaan mempelajari ilmu agama dibandingkan ilmu-ilmu yang lainnya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/115], <em>Syarh Ibnu Batthal</em> [1/148-149] asy-Syamilah)</li>
<li>Ibnu Batthal <em>rahimahullah</em> berkata, “Sesungguhnya ilmu itu dinilai memiliki keutamaan disebabkan ilmu itulah yang akan membimbing pemiliknya untuk merasa takut kepada Allah, berusaha untuk selalu melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kedurhakaan kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”</em> (<strong>QS. Fathir: 28</strong>). Ibnu Umar berkata kepada orang yang memanggilnya sebagai faqih -orang yang ahli agama-, <em>“Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah orang yang zuhud kepada dunia dan sangat merindukan akherat.”</em>.” (lihat <em>Syarh Ibnu Batthal</em> [1/149], lihat juga <em>Syarh an-Nawawi</em> [3/489] asy-Syamilah)</li>
<li>Motivasi untuk menimba ilmu agama (lihat <em>Syarh an-Nawawi</em> [3/489] asy-Syamilah). Banyak sekali ayat ataupun hadits yang menunjukkan keutamaan menimba ilmu dan memberikan dorongan bagi kita untuk itu. Maka sudah semestinya setiap muslim bersemangat untuk memahami ajaran agamanya agar dia bisa meraih kebaikan sebanyak-banyaknya. <em>Allahul muwaffiq</em>.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kunci-kebaikan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bentengi Diri Dengan Ketakwaan Hati</title>
		<link>http://abumushlih.com/bentengi-diri-dengan-ketakwaan-hati.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bentengi-diri-dengan-ketakwaan-hati.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 00:04:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1676</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah&#8230;, Alhamdulillah washalatu wassalamu&#8217;ala rasulillah wa &#8216;ala alihi wa ashabihi wa man tabi&#8217;ahum biihsanin ila yaumiddin. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala yang telah menurunkan kitab-Nya sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia; yang telah mengutus Rasul-Nya sebagai hujjah atas mereka. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbentengi-diri-dengan-ketakwaan-hati.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbentengi-diri-dengan-ketakwaan-hati.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillah&#8230;, Alhamdulillah washalatu wassalamu&#8217;ala rasulillah wa  &#8216;ala alihi wa ashabihi wa man tabi&#8217;ahum biihsanin ila yaumiddin.</p>
<p>Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala yang  telah menurunkan kitab-Nya sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi  manusia; yang telah mengutus Rasul-Nya sebagai hujjah atas mereka.  Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi  Muhammad, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan  baik sampai hari kiamat nanti. Amiin.</p>
<p><span id="more-1676"></span>Para pembaca, kaum muslimin yang kami cintai karena Allah,  sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala menciptakan dunia dan isinya  untuk kebutuhan manusia dan tidaklah kita jumpai makhluk lain yang  menerima kenikmatan semisal mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah  Subhanahu wa ta&#8217;ala yang artinya, &#8220;Dia-lah Allah, yang menjadikan segala  yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit,  lalu dijadikan-Nya tujuh langit dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.&#8221;  [QS. Al-Baqarah: 29]</p>
<p>Ini termasuk belas kasih Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala dan nikmat-Nya  yang diberikan kepada manusia. Namun perlu kita ketahui juga dengan  nikmat yang banyak ini tidaklah Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala menuntut  apa-apa kepada manusia, melainkan hanya untuk beribadah kepada-Nya  semata dan tidak beribadah kepada selain-Nya. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala  berfirman yang artinya, &#8220;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia  melainkan supaya mereka menyembah-Ku.&#8221; [QS. Adz-Dzaariyaat: 56]</p>
<p>Sebuah perintah ibadah  bukanlah untuk kepentingan Allah Subhanahu wa  ta&#8217;ala, melainkan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dan beribadah  kepada Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala haruslah dilandasi dengan ketakwaan  kepada-Nya.</p>
<p><strong>Apa itu taqwa..??</strong><br />
Taqwa secara bahasa berarti  waspada dan berhati-hati. Adapun taqwa secara istilah syariat adalah  engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala dilandasi  keimanan karena mengharap pahala-Nya dan engkau meninggalkan maksiat  kepada-Nya dilandasi keimanan karena takut dari siksa-Nya. [disebutkan  oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah(3/64)]</p>
<p>Dari definisi di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa tidaklah  sebuah amalan dianggap sebagai ketaatan kecuali apabila dilandasi dengan  keimanan (bukan karena kebiasaan, atau mengikuti hawa nafsu, mencari  pujian dan popularitas) tidak !! sama sekali tidak. Dasarnya hanyalah  keimanan dan tujuan akhirnya adalah mencari pahala dan keridhaan Allah  Subhanahu wa ta&#8217;ala.</p>
<p><strong>Urgensi taqwa</strong></p>
<ol>
<li>Wasiat Allah yang berharga<br />
Taqwa merupakan sebuah jaminan untuk  meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Itulah wasiat Allah bagi  orang-orang terdahulu juga umat sekarang. Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala  berfirman yang artinya, &#8220;Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada  orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu;agar  bertaqwa kepada Allah.&#8221; [QS. An-Nisaa': 131]</li>
<li>Menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya<br />
Taqwa merupakan sebuah  perintah yang sangat agung, dimana Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala   perintahkan bukan hanya kepada manusia saja bahkan kepada para  rasul-Nya. Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman yang artinya, &#8220;Hai para  Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.  Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya  agama tauhid ini adalah agama kamu semua,agama yang satu dan Aku adalah  Rabb kalian, maka bertaqwalah kepada Ku.&#8221; [QS. Al-Mu'minuun: 51-52]<br />
Begitu  juga Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam sering mengingatkan para  sahabatnya agar bertaqwa kepada Allah. Beliau bersabda, &#8220;Bertaqwalah  engkau dimana pun kamu berada.&#8221;[HR At-Tirmidzi, hasan]</li>
<li>Sebaik-baik bekal<br />
Bekal yang hakiki adalah bekal yang terus  menerus bermanfaat bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Adapun  sebaik-baik bekal menuju negeri abadi adalah taqwa. Allah Subhanahu wa  ta&#8217;ala berfirman yang artinya, &#8220;Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik  bekal adalah taqwa.&#8221;[QS. Al-Baqarah: 197]</li>
</ol>
<p><strong>Buah manis dari ketaqwaan</strong></p>
<ol>
<li>Dicintai oleh Allah<br />
Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman yang  artinya, &#8220;Maka sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.&#8221;[QS.  Al-'Imran: 76]<br />
Seperti yang kita ketahui bersama jikalau Allah  mencintai seorang hamba niscaya Dia akan mengabulkan permintaanya dan  melindunginya dari apa-apa yang ia benci.</li>
<li>Dimudahkan urusan dunia dan akhirat<br />
Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala  berfirman yang artinya, &#8220;Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah  niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.&#8221; [QS.  Ath-Thalaq: 4]</li>
<li>Dilipat gandakan pahala<br />
Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman yang  artinya, &#8220;Dan barangsiapa yamg bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan  menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat-gandakan pahala  baginya.&#8221; [QS. Ath-Thalaq: 5]</li>
<li>Masuk surga dan dijauhkan dari api neraka<br />
Termasuk buah manis  dari ketaqwaan adalah memasukkan pemiliknya kedalam surga dan  menyelamatkan dari api neraka. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman yang  artinya, &#8220;Dan tidak ada seorangpun daripadamu melainkan ia akan  mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kepastian yang  sudah ditetapkan. Kemudian kami menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa  dan membiarkan orng-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan  berlutut.&#8221; [QS. Maryam: 71-72]</li>
</ol>
<p><strong>Bagaimana menjadi orang yang bertaqwa..??</strong><br />
Setelah  kita mengetahui arti, urgensi, dan buah manis dari ketaqwaan tentulah  kita ingin mengetahui kiat-kiat agar menjadi orang yang bertaqwa. Di  antara kiat-kiat tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Menuntut ilmu agama<br />
Tidak diragukan lagi bahwa menuntut ilmu  adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Yang mana dengan ilmu  tersebut seseorang dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Yang  dimaksud ilmu di sini adalah ilmu agama yang telah banyak dilupakan oleh  mayoritas manusia.</li>
<li>Berdo&#8217;a<br />
Berdo&#8217;a merupakan hal yang mudah bagi setiap manusia dan  hendaklah manusia selalu berdo&#8217;a agar diberikan ketaqwaan, seperti yang  dilakukan Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam. Doa yang beliau  panjatkan antara lain, &#8220;Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk,  ketaqwaan, kesucian dan kecukupan.&#8221;[HR Muslim]</li>
<li>Mentadabburi Al-Qur&#8217;an dan Hadis</li>
<li>Berteman dengan orang yang bertaqwa<br />
Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi  wa sallam bersabda, &#8220;seseorang dipandang dari agama temannya,maka  hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi  temannya.&#8221;[HR Abu Daud]<br />
Tidak semua orang layak dijadikan teman,  hendaklah kita memilih teman yang dapat membantu kita dalam ketaqwaan  kepada Allah.</li>
<li>Meninggalkan dosa dengan segera<br />
Sesungguhnya jiwa ini selalu  memerintahkan kepada kejelekan, firman Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala yang  artinya, &#8220;Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.&#8221;[QS.  Yusuf: 53]<br />
Jikalau terbesit di benak kita keinginan bermaksiat,  hendaklah kita membuang jauh-jauh fikiran tersebut agar kita selamat  dari kubangan dosa dan menjadi hamba yang bertaqwa.</li>
</ol>
<p>Allahu A&#8217;lam bisshawab.<br />
<em>[ Muhammad Khaidir ]</em></p>
<p><em>Sumber: </em>http://<a href="http://stdi.imam-syafii.or.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=90" target="_blank">stdi.imam-syafii.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bentengi-diri-dengan-ketakwaan-hati.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbahagialah al-Ghuroba&#8217;</title>
		<link>http://abumushlih.com/berbahagialah-al-ghuroba.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/berbahagialah-al-ghuroba.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 09:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1674</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim [145] dalam Kitab al-Iman.Syarh Muslim, 1/234). an-Nawawi rahimahullah menukil keterangan al-Harawi bahwa makna orang-orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberbahagialah-al-ghuroba.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberbahagialah-al-ghuroba.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari jalan Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata; Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali  menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang  yang asing itu.” (<strong>HR. Muslim</strong> [145] dalam Kitab al-Iman.Syarh Muslim,  1/234).</p>
<p><span id="more-1674"></span>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menukil keterangan  al-Harawi bahwa makna orang-orang yang asing adalah : orang-orang yang  berhijrah meninggalkan negeri/daerah mereka karena kecintaan mereka  kepada Allah ta’ala (Syarh Muslim, 1/235). Keterangan al-Harawi di atas  dilandaskan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah  dalam Shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya Islam datang dalam  keadaan asing dan ia akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah  orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah yang dimaksud  dengan orang-orang asing?”. Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang  memisahkan diri dari kabilah-kabilah [mereka].” (<strong>HR. Ibnu Majah</strong> [3978]  dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibni Majah  [8/488] namun tanpa tambahan ‘ada yang bertanya, dan seterusnya’,  as-Syamilah).</p>
<p>Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amr bin  al-’Ash <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia mengatakan; Suatu hari Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berbicara dan ketika itu kami berada di  sisi beliau, “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Kemudian ada yang  menanyakan, “Siapakah yang dimaksud orang-orang yang asing itu wahai  Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Orang-orang salih yang hidup di  tengah-tengah orang-orang yang jelek lagi banyak [jumlahnya]. Orang yang  mendurhakai mereka lebih banyak daripada orang yang menaati mereka.”  (<strong>HR. Ahmad</strong> 6362 [13/400], disahihkan al-Albani dalam Shahih w a Dha’if  al-Jami’ 7368 [3/443] as-Syamilah)</p>
<p>Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> menyebutkan di dalam Silsilah  al-Ahadits as-Shahihah penafsiran makna orang-orang yang asing tersebut  dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dalam  as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan dari Abdullah bin Mas’ud  <em>radhiyallahu’anhu</em> secara marfu’ -sampai kepada Nabi-, beliau <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya Islam itu datang dalam  keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti ketika datangnya.  Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah  mereka itu wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu orang-orang  yang tetap baik [agamanya] tatkala orang-orang lain menjadi rusak.”  (as-Shahihah no 1273 [3/267]. as-Syamilah, lihat juga Limadza ikhtartul  manhaj salafi, hal. 54).</p>
<p>al-Qari menafsirkan bahwa makna orang-orang yang asing adalah  orang-orang yang memperbaiki [memulihkan] ajaran Nabi yang telah dirusak  oleh manusia sesudahnya. Beliau berdalil dengan hadits yang  diriwayatkan melalui Amr bin Auf al-Muzani <em>radhiyallahu’anhu</em>, demikian  dinukilkan oleh al-Mubarakfuri (Tuhfat al-Ahwadzi [6/427] as-Syamilah).  Imam Tirmidzi menyebutkan dalam Sunannya hadits tersebut yang  disandarkan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,  “Mereka itu adalah orang-orang yang memperbaiki ajaranku yang telah  dirusak oleh manusia-manusia sesudah kepergianku.” (<strong>HR. Tirmidzi</strong> [2554]  dari Amr bin Auf al-Muzani <em>radhiyallahu’anhu</em>, namun hadits ini  dinyatakan berstatus dha’if jiddan -lemah sekali- oleh Syaikh al-Albani  dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [2630] as-Syamilah, lihat pula  Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 53 oleh Syaikh Salim al-Hilali).</p>
<p>al-Mubarakfuri menjelaskan makna ‘ memperbaiki ajaranku yang telah  dirusak oleh manusia-manusia’ yaitu : “Mereka mengamalkan ajaran/sunnah  tersebut dan mereka menampakkannya sekuat kemampuan mereka.” (Tuhfat  al-Ahwadzi [6/428] as-Syamilah). al-Mubarakfuri juga menjelaskan bahwa  hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di atas bersatus lemah  dikarenakan terdapat seorang periwayat yang bernama Katsir bin Abdullah  bin Amr bin Auf al-Muzani. al-Mubarakfuri berkata, “Katsir ini adalah  periwayat yang lemah menurut banyak ulama ahli hadits, bahkan menurut  mayoritas mereka. Sampai-sampai Ibnu Abdi al-Barr mengatakan, ‘Orang ini  telah disepakati akan kedha’ifannya’.” Maka keterangan beliau ini  menyanggah at-Tirmidzi yang menghasankan hadits di atas (lihat Tuhfat  al-Ahwadzi [6/428] as-Syamilah).</p>
<p>Syaikh Salim al-Hilali <em>hafizhahullah</em> berkata, “…tidak ada riwayat  yang sah mengenai penafsiran [Nabi] tentang makna al-Ghuraba’  (orang-orang asing) selain  dua tafsiran yang marfu’ yaitu : <span style="text-decoration: underline;">[1]  Orang-orang yang [tetap] baik tatkala masyarakat telah diliputi  kerusakan. [2] Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah banyak  orang yang buruk [agamanya], akibatnya orang yang menentang mereka lebih  banyak daripada yang mengikuti mereka</span>.” (Limadza ikhtartul manhaj  salafi, hal. 55).</p>
<p>Imam at-Tirmidzi membawakan hadits dari Anas bin Malik  <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,  “Akan datang suatu masa ketika itu orang yang tetap bersabar di antara  mereka di atas ajaran agamanya bagaikan orang yang sedang menggenggam  bara api.” (HR. Tirmidzi [2260] disahihkan al-Albani dalam Shahih wa  Dha’is Sunan at-Tirmidzi [5/260], as-Shahihah no 957. as-Syamilah).</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita termasuk al-Ghuroba&#8217;.. <em>Allahumma amin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/berbahagialah-al-ghuroba.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meraih Ampunan Di Hari Jum&#8217;at</title>
		<link>http://abumushlih.com/meraih-ampunan-di-hari-jumat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/meraih-ampunan-di-hari-jumat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 11:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Mandi Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1664</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi sholat Jum&#8217;at lalu dia mengerjakan sholat sebanyak yang bisa dilakukannya kemudian dia diam -mendengarkan khutbah- sampai khotib menyelesaikan khutbahnya lalu dia menjalankan sholat bersamanya niscaya akan diampuni dosanya antara Jum&#8217;at itu dengan Jum&#8217;at yang lain ditambah tiga hari.” (HR. Muslim, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmeraih-ampunan-di-hari-jumat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmeraih-ampunan-di-hari-jumat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi sholat Jum&#8217;at lalu dia mengerjakan sholat sebanyak yang bisa dilakukannya kemudian dia diam -mendengarkan khutbah- sampai khotib menyelesaikan khutbahnya lalu dia menjalankan sholat bersamanya niscaya akan diampuni dosanya antara Jum&#8217;at itu dengan Jum&#8217;at yang lain ditambah tiga hari.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [4/169])</p>
<p><span id="more-1664"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini mengandung mutiara hikmah, antara lain:</p>
<ol>
<li>Keutamaan mandi Jum&#8217;at (lihat <em>Syarh Muslim</em> [4/169]).      Ibnu Abdil Barr berkata, “Saya tidak mengetahui ada ulama yang menyatakan      mandi jum&#8217;at itu sebagai perkara fardhu/wajib kecuali ulama Zhahiriyah.      Mereka mewajibkannya dan menganggap orang yang sengaja meninggalkannya      termasuk golongan orang yang bermaksiat kepada Allah. Meskipun  demikian mereka tetap menilai sah orang      yang melakukan sholat Jum&#8217;at tanpa mandi sebelumnya&#8230;” (<em>al-Istidzkar</em> [5/18] pdf). Salah satu dalil terkuat yang dianggap menunjukkan  bahwa mandi jum&#8217;at tidak wajib adalah      hadits Samurah bin Jundab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa berwudhu di hari Jum&#8217;at      maka hal itu cukup dan baik, sedangkan barangsiapa yang mandi maka mandi      itu lebih baik.”</em> (HR. Ahmad, ad-Darimi, at-Tirmidzi dan beliau      menghasankannya, akan tetapi al-Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa hadits ini      memiliki cacat/<em>illah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [2/421] pdf). Ikrimah      menceritakan, suatu ketika sebagian penduduk Iraq datang menemui Ibnu      Abbas dan bertanya, <em>“Wahai Ibnu Abbas, apakah mandi Jum&#8217;at itu wajib?”</em>.      Beliau menjawab, <em>“Tidak. Namun hal itu lebih bersih dan lebih bagus      serta lebih baik bagi orang yang mandi. Barangsiapa yang tidak sempat      mandi maka tidak mengapa&#8230;”</em> (<em>al-Istidzkar</em> [5/31] pdf, Ibnu      Hajar menghasankan riwayat ini namun menurut beliau riwayat lain yang lebih kuat      dari Ibnu Abbas justru sebaliknya, lihat <em>Fath al-Bari</em> [2/422] pdf).      Imam Malik pernah ditanya mengenai hukum mandi Jum&#8217;at apakah ia wajib, maka      beliau menjawab, <em>“Hal itu bagus, akan tetapi tidak wajib.”</em> (<em>al-Istidzkar</em> [5/32] pdf). Namun terdapat dalil-dalil lain yang lebih kuat secara sanad      dan zahirnya menunjukkan bahwa mandi Jum&#8217;at adalah wajib. Bahkan, Ibnu      Mundzir menukilkan bahwa Abu Hurairah, Ammar bin Yasir dan sahabat Nabi      yang lain -<em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>- mewajibkannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [2/420]). <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</li>
<li>Dianjurkan untuk mengerjakan sholat sunnah mutlak -dua      raka&#8217;at-dua raka&#8217;at- tanpa ada batasan maksimal jumlah raka&#8217;atnya sebelum      imam/khotib datang untuk berkhutbah (yaitu sebelum khotib naik mimbar),      hal ini merupakan madzhab Syafi&#8217;i dan mayoritas ulama/jumhur (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [4/169], lihat juga <em>al-Wajiz fi Fiqhi Sunnah wal Kitab      al-&#8217;Aziz</em>, hal. 146)</li>
<li>Hendaknya diam mendengarkan khutbah (lihat <em>Syarh Muslim</em> [4/169])</li>
<li>Berbicara sebelum khutbah dimulai atau -sesudah khutbah-      sebelum takbiratul ihram -untuk sholat Jum&#8217;at- adalah tidak mengapa (lihat      <em>Syarh Muslim</em> [4/169])</li>
<li>Luasnya ampunan Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Dimana Allah berkenan      mengampuni dosa dengan sebab amal-amal shalih yang bisa dilakukan secara      rutin oleh seorang hamba dalam setiap pekannya. Dan hal ini juga      menunjukkan betapa besarnya kebutuhan kita terhadap ampunan dan      rahmat-Nya, yang karenanya maka Allah menjadikan banyak sebab agar hamba      bisa meraih ampunan dari-Nya. <em>Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami&#8230;</em></li>
<li>Keutamaan yang agung ini hanya berlaku bagi orang yang beriman      dan tidak melakukan kekafiran atau kemusyrikan yang membuatnya keluar dari      agama. Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya (yang      artinya), <em>“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu;      apabila kamu berbuat syirik maka pasti akan lenyap semua amalmu dan kelak      kamu pasti termasuk golongan orang yang merugi.”</em> (QS. az-Zumar:      65)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/meraih-ampunan-di-hari-jumat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
