<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Keutamaan</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/keutamaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Orang Terbaik Sesudah Nabi</title>
		<link>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 05:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Utsman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2459</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari menuturkan: Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Jami&#8217; bin Abi Rasyid menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Ya&#8217;la menuturkan kepada kami dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: Aku bertanya kepada &#8230; <a href="http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-terbaik-sesudah-nabi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-terbaik-sesudah-nabi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div id="_mcePaste">
<div id="_mcePaste">Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Jami&#8217; bin Abi Rasyid menuturkan kepada kami. Dia berkata:</div>
<div><span id="more-2459"></span></div>
<div>Abu Ya&#8217;la menuturkan kepada kami dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: Aku bertanya kepada bapakku -Ali bin Abi Thalib-, <em>“Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?”</em>. Beliau menjawab,<em> “Abu Bakar.”</em> Lalu aku katakan, <em>“Kemudian siapa?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Kemudian Umar.”</em> Aku khawatir kalau-kalau beliau akan menyebutkan Utsman -setelah itu-, maka aku katakan, <em>“Kemudian anda?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku hanyalah salah seorang lelaki di antara kaum muslimin.” </em>(Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3671] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/37])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Adam bin Abi Iyas menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu&#8217;bah menuturkan kepada kami dari al-A&#8217;masy. Dia berkata: Aku mendengar Dzakwan menuturkan dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri radhiyallahu&#8217;anhu, dia berkata: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tidak akan bisa menandingi infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, tidak pula setengahnya.”</em> Riwayat ini diperkuat oleh riwayat Jarir, Abdullah bin Dawud, dan Muhadhir dari al-A&#8217;masy (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3673] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/38])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Muhammad bin Basyar menuturkan kepadaku. Dia berkata: Yahya menuturkan kepada kami dari Sa&#8217;id dari Qotadah, bahwa Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> pernah menuturkan kepada mereka: Suatu ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman naik di atas gunung Uhud, tiba-tiba gunung itu bergetar (terjadi gempa). Beliau pun bersabda, <em>“Tenanglah wahai Uhud. Sesungguhnya yang di atasmu ini adalah seorang Nabi, seorang yang Shiddiq/jujur, dan dua orang yang akan mati Syahid.”</em> (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3675] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/44])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>al-Humaidi dan Muhammad bin Abdullah menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata: Ibrahim bin Sa&#8217;ad menuturkan kepada kami dari bapaknya, dari Muhammad bin Jubair bin Muth&#8217;im, dari bapaknya, dia berkata: Suatu saat datang seorang perempuan menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka beliau memerintahkannya untuk kembali lagi menemuinya. Perempuan itu berkata, <em>“Bagaimana jika nanti saya datang dan tidak bertemu dengan anda -seolah-olah perempuan itu bermaksud kematiannya-?”</em>. Maka beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila kamu tidak berhasil menemuiku, maka temuilah Abu Bakar.”</em> (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3659] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/22])</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tujuh Faidah Dzikir</title>
		<link>http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 04:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2408</guid>
		<description><![CDATA[Mengingat Allah (baca: dzikir) merupakan pokok daripada syukur. Manfaat yang besar dapat diperoleh dengan mengerjakan amalan ini. Namun, sayang sekali kebanyakan orang melupakan dan melalaikannya. Padahal, faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah: [1] Mendatangkan pertolongan Allah Allah ta&#8217;ala &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftujuh-faidah-dzikir.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftujuh-faidah-dzikir.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Mengingat Allah (baca: dzikir) merupakan pokok daripada syukur. Manfaat yang besar dapat diperoleh dengan mengerjakan amalan ini. Namun, sayang sekali kebanyakan orang melupakan dan melalaikannya. Padahal, faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah:</p>
<p><span id="more-2408"></span></p>
<p><strong>[1] Mendatangkan pertolongan Allah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan mengingat kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>)</p>
<p><strong>[2] Mendatangkan ampunan dan pahala yang besar</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, lelaki maupun perempuan, maka Allah sediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 35</strong>)</p>
<p><strong>[3] Sebab hidupnya hati</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya (Allah) dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya, seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p><strong>[4] Mendatangkan ketentraman jiwa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 28</strong>)</p>
<p><strong>[5] Jauh dari perangkap setan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman maka akan Kami jadikan setan sebagai pendamping yang selalu menemaninya.” </em>(<strong>QS. az-Zukhruf: 36</strong>)</p>
<p><strong>[6] Jalan menuju keikhlasan</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berusaha mengelabui Allah, sedangkan Allah justru mengelabui mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat maka mereka berdiri dengan penuh kemalasan, mereka mencari-cari pujian manusia, dan mereka sama sekali tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 142</strong>)</p>
<p><strong>[7] Perlindungan Allah pada hari kiamat</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat&#8230; di antaranya adalah seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sepi, kemudian meneteslah air matanya.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dan yang perlu diingat bahwasanya dzikir yang benar adalah yang dilandasi keikhlasan niat dan dikerjakan dengan mengikuti Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senang Mendengarkan Bacaan al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 07:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2320</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.” Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”. Beliau &#8230; <a href="http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadaku, <em>“Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.”</em> Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, <em>“Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku.”</em> Maka aku pun membacakan surat an-Nisaa&#8217;, ketika sampai pada ayat [yang artinya], <em>“Bagaimanakah jika [pada hari kiamat nanti] Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka.&#8221;</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 41</strong>). Aku angkat kepalaku, atau ada seseorang dari samping yang memegangku sehingga aku pun mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat air mata beliau mengalir (<strong>HR. Bukhari [4582] dan Muslim [800]</strong>)</p>
<p><span id="more-2320"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki rasa senang dan menikmati bacaan al-Qur&#8217;an yang dibacakan oleh orang lain. Oleh sebab itu Imam Bukhari juga mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Orang yang senang mendengarkan al-Qur&#8217;an dari selain dirinya&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/107]). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ada beberapa pelajaran dari hadits Ibnu Mas&#8217;ud ini, di antaranya; anjuran untuk mendengarkan bacaan [al-Qur'an] serta memperhatikannya dengan seksama, menangis ketika mendengarkannya, merenungi kandungannya. Selain itu, hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya meminta orang lain untuk membacanya untuk didengarkan, dalam keadaan seperti ini akan lebih memungkinkan baginya dalam mendalami dan merenungkan isinya daripada apabila dia membacanya sendiri. Hadits ini juga menunjukkan sifat rendah hati seorang ulama dan pemilik kemuliaan meskipun bersama dengan para pengikutnya.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/117])</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri orang soleh adalah bisa menangis ketika mendengar bacaan al-Qur&#8217;an. Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/112]). Lantas, apakah yang mendorong Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menangis ketika mendengar ayat di atas? Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang tampak bagi saya, bahwasanya beliau [Nabi] menangis karena sayangnya kepada umatnya. Sebab beliau mengetahui bahwa kelak beliau pasti menjadi saksi atas amal mereka semua, sedangkan amal-amal mereka bisa jadi tidak lurus (amalan yang tidak baik) sehingga membuat mereka berhak untuk mendapatkan siksaan, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [9/114])</p>
<p>Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an harus dilandasi dengan keikhlasan. Bukan karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan. Oleh sebab itu, Imam Bukhari mengiringi bab tadi [menangis tatkala membaca al-Qur'an] dengan bab &#8216;Dosa orang yang membaca al-Qur&#8217;an untuk mencari pujian (riya&#8217;), mencari makan, atau menyalah gunakannya untuk berbuat jahat/dosa&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/114]).</p>
<p>Dan yang lebih utama lagi adalah menangis tatkala sendirian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang menceritakan 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, yang salah satunya adalah, <em>“Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lantas berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [660] dan Muslim [1031]</strong>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hadits ini menunjukkan keutamaan menangis karena takut kepada Allah ta&#8217;ala dan keutamaan amal ketaatan yang rahasia/tersembunyi karena kesempurnaan ikhlas padanya, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/354])</p>
<p>Satu pelajaran lagi yang mungkin bisa ditambahkan di sini, adalah keutamaan belajar bahasa arab. Karena dengan memahami bahasa arab akan lebih memudahkan dalam menghayati kandungan al-Qur&#8217;an. Oleh sebab itu hendaknya kita lebih bersemangat lagi dalam mempelajari bahasa arab dan mengkaji tafsir al-Qur&#8217;an. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambutlah Bulan Penuh Berkah&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/sambutlah-bulan-penuh-berkah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sambutlah-bulan-penuh-berkah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 May 2011 03:46:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Buka Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kurma]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahur]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syawwal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2288</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku&#8230; Bulan yang penuh berkah tak lama lagi menjumpai kita&#8230; Pada bulan itu, pintu-pintu langit terbuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup&#8230;. Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Apabila bulan Ramadhan telah masuk, maka dibukalah pintu-pintu langit.” dalam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sambutlah-bulan-penuh-berkah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsambutlah-bulan-penuh-berkah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsambutlah-bulan-penuh-berkah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; Bulan yang penuh berkah tak lama lagi menjumpai kita&#8230; Pada bulan itu, pintu-pintu langit terbuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup&#8230;.</p>
<p><span id="more-2288"></span></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila bulan Ramadhan telah masuk, maka dibukalah pintu-pintu langit.”</em> dalam riwayat lain dikatakan, <em>“Dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu Jahannam, dan setan-setan pun dibelenggu.”</em> Dalam riwayat lainnya lagi disebutkan, <em>“[dibuka] pintu-pintu rahmat.”</em> (<em>Muttafaq &#8216;alaih</em>)</p>
<p>Orang-orang yang gemar berpuasa akan masuk surga melalui pintu istimewa&#8230;.</p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Di surga itu terdapat delapan pintu. Salah satu di antaranya adalah pintu yang disebut pintu ar-Rayyan, tidak memasukinya kecuali orang-orang yang rajin berpuasa.”</em> (<em>Muttafaq &#8216;alaih</em>)</p>
<p>Berpuasa dengan landasan iman dan mencari pahala di sisi-Nya merupakan sebab turunnya ampunan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>&#8230;</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu. Barangsiapa yang mendirikan sholat malam di bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya akan diampuni pula dosa-dosanya yang telah berlalu. Dan barangsiapa yang menghidupkan malam qadar karena iman dan mengharapkan pahala niscaya juga akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” </em>(<em>Muttafaq &#8216;alaih</em>)</p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; Amalan puasa sangat tinggi nilainya di hadapan Allah <em>ta&#8217;ala</em>, oleh sebab itu balasannya akan dilipatgandakan tanpa batasan tertentu, berbeda dengan amal-amal yang lainnya&#8230;.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Semua amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ta&#8217;ala berfirman, &#8216;Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya -sekehendak-Ku-. Dia telah rela untuk meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.&#8217; Orang yang berpuasa juga akan mendapatkan dua kegembiraan. Gembira di saat berbuka/berhari-raya, dan gembira tatkala berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh, bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi daripada harumnya minyak kasturi. Puasa merupakan perisai. Apabila kalian sedang menjalani puasa di suatu hari hendaknya tidak berkata-kata kotor dan jangan berteriak-teriak. Kalau misalnya ada orang yang mencaci-maki dirinya maka katakanlah kepadanya, &#8216;Aku adalah orang yang sedang berpuasa.&#8217;.” </em>(<em>Muttafaq &#8216;alaih</em>)<em> </em></p>
<p>Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan dimana para setan dibelenggu dan terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan&#8230;</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Telah datang kepada kalian Ramadhan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” </em>(HR. Ahmad dan an-Nasa&#8217;i, hadits dinyatakan <em>jayyid </em>oleh<em> </em>Syaikh al-Albani dalam <em>al-Misykat</em>)</p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; Pada bulan puasa, makan sahur sebelum subuh pun bernilai pahala dan mendatangkan keberkahan dari sisi-Nya&#8230;</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Makan sahurlah, karena sesungguhnya di dalam santap sahur itu terdapat keberkahan.”</em> (<em>Muttafaq &#8216;alaih</em>)</p>
<p>Dari al-Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengundang aku untuk makan sahur pada bulan Ramadhan. Beliau bersabda, <em>“Marilah kita menikmati sarapan yang penuh berkah.”</em> (HR. Abu Dawud dan an-Nasa&#8217;i, sanadnya dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>al-Misykat</em>)</p>
<p>Bahkan, makan sahur menjadi ciri puasa orang-orang yang beriman&#8230;</p>
<p>Dari Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pemisah antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik hidangan sahur bagi seorang mukmin adalah kurma.”</em> (HR. Abu Dawud)</p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; Kalaulah misalnya gelas masih berada di tangan sementara adzan telah berkumandang maka tidak mengapa menuntaskannya&#8230;</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila salah seorang dari kalian mendengar kumandang adzan (subuh) sementara bejana masih ada di tangannya maka janganlah dia meletakkannya sampai dia menyelesaikan keperluannya.”</em> (HR. Abu Dawud, sanadnya dinyatakan sahih Syaikh al-Albani dalam <em>al-Misykat</em>)</p>
<p>Bagi para dermawan yang menginfakkan hartanya untuk memberi hidangan buka puasa, maka Allah pun janjikan pahala yang luar biasa&#8230;</p>
<p>Dari Zaid bin Khalid <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang memberi makan untuk berbuka puasa atau mempersiapkan bekal pasukan maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukannya (berbuka puasa/berjihad).”</em> (HR. al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;abul Iman</em>, dinyatakan sahih Syaikh al-Albani dalam <em>al-Misykat</em>)</p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; Namun, puasa yang diterima bukanlah puasa sembarangan&#8230; Puasa yang diterima adalah yang bersih dari perusak-perusaknya&#8230;</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya maka Allah sama sekali tidak membutuhkan perbuatannya meninggalkan makan dan minumnya.” </em>(HR. Bukhari)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga&#8230;</p>
<p>Dari Abu Hurairah<em> radhiyallahu&#8217;anhu, </em>Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa dan tidak ada yang didapatkannya selain rasa dahaga, dan betapa banyak orang yang mendirikan sholat malam dan tidak ada yang didapatkannya selain begadang.” </em>(HR. ad-Darimi, sanadnya dinyatakan <em>jayyid</em> oleh Syaikh al-Albani dalam <em>al-Misykat</em>)</p>
<p>Puasa yang dilandasi dengan kepatuhan total kepada syari&#8217;at <em>Rabbul &#8216;alamin</em>, bukan berlandaskan penuhanan akal dan perasaan&#8230;</p>
<p>Dari Mu&#8217;adzah al-&#8217;Adawiyah, dia bertanya kepada &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>, <em>“Mengapa perempuan yang haidh harus mengqadha&#8217; puasa namun tidak mengqadha&#8217; sholat?”</em>. Aisyah menjawab, <em>“Kami dahulu biasa mengalami hal itu, dan kami diperintahkan untuk mengqadha&#8217; puasa namun tidak diperintahkan untuk mengqadha&#8217; sholat.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Puasa yang dikerjakan dengan mengikuti tuntunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>&#8230;</p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata, <em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang untuk berpuasa pada hari raya idul fitri dan nahr/idul adha.”</em> (<em>Muttafaq &#8216;alaih</em>)</p>
<p>Dari Abu Hurairah<em> radhiyallahu&#8217;anhu, </em>Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang lupa padahal dia sedang berpuasa kemudian dia terlanjur makan atau minum maka hendaknya dia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya Allah lah yang memberinya makan dan minum.” </em>(<em>Muttafaq &#8216;alaih</em>)</p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Umat manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka terus menyegerakan berbuka.”</em> (<em>Muttafaq &#8216;alaih</em>)</p>
<p>Dari Tsabit al-Bunani, suatu saat Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> ditanya, <em>“Apakah kalian dahulu di masa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membenci berbekam bagi orang yang sedang berpuasa?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Tidak, kecuali apabila orang itu dikhawatirkan keadaannya menjadi  sangat lemah.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, carilah sebuah malam yang mulia&#8230;</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anhu&#8217;anha</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anhu&#8217;anha</em>, beliau berkata, <em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam senantiasa bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh hari terakhir melebihi kesungguhan beliau pada hari-hari yang lain.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Apabila Ramadhan telah paripurna, maka berpuasa enam hari di bulan Syawwal akan semakin menyempurnakan pahala yang akan diterima oleh seorang hamba&#8230;</p>
<p>Dari Abu Ayyub al-Anshari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dia mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka seolah-olah dia telah berpuasa sepanjang tahun.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Semoga Allah mempertemukan kita dengan bulan yang mulia itu, melarutkan kita dalam malam-malam yang dihiasi dengan berbagai bentuk ketaatan&#8230; Mudah-mudahan dengan itu Allah berkenan mengampuni dosa-dosa kita di masa silam&#8230; <em>Huwa ahlut taqwa wa ahlul maghfirah</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sambutlah-bulan-penuh-berkah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Ilmu</title>
		<link>http://abumushlih.com/kemuliaan-ilmu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kemuliaan-ilmu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 07:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[salafush shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2273</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Maka Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian, dan orang-orang yang diberikan ilmu berderajat-derajat.” (QS. al-Mujadilah: 11) Ibnu Wahb meriwayatkan dari Imam Malik. Imam Malik berkata: Aku pernah mendengar Zaid bin Aslam -gurunya- mengatakan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kemuliaan-ilmu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-ilmu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-ilmu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian, dan orang-orang yang diberikan ilmu berderajat-derajat.”</em> (<strong>QS. al-Mujadilah: 11</strong>)</p>
<p><span id="more-2273"></span></p>
<p>Ibnu Wahb meriwayatkan dari Imam Malik. Imam Malik berkata: Aku pernah mendengar Zaid bin Aslam -gurunya- mengatakan tentang tafsir firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Kami akan mengangkat kedudukan orang-orang yang Kami kehendaki.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 76</strong>). Beliau (Zaid) berkata, <em>“Yaitu dengan sebab ilmu.”</em> (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/133, lihat juga <em>Umdat al-Qari</em> 2/5)</p>
<p>Ada sebuah riwayat dari al-Auza&#8217;i, bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang menemui Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Lelaki itu berkata, <em>“Wahai Abu Abdirrahman, amal apakah yang paling utama?”</em>. Beliau menjawab, “<em>Ilmu”</em>. Kemudian dia bertanya lagi, <em>“Amal apakah yang paling utama?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Ilmu”</em>. Lantas lelaki itu berkata, <em>“Aku bertanya kepadamu tentang amal yang paling utama, lantas kamu menjawab ilmu?!”</em>. Ibnu Mas&#8217;ud pun menimpali perkataannya, <em>“Aduhai betapa malangnya dirimu, sesungguhnya ilmu tentang Allah merupakan sebab bermanfaatnya amalmu yang sedikit maupun yang banyak. Dan kebodohan tentang Allah akan menyebabkan amal yang sedikit maupun yang banyak menjadi tidak bermanfaat bagimu.”</em> (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/133)</p>
<p>Ibnu Wahb menceritakan, suatu saat Abud Darda&#8217; <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata: Aku tidak takut apabila kelak ditanyakan kepadaku, <em>“Hai Uwaimir, apa yang sudah kamu ilmui?”</em>. Namun, aku khawatir jika ditanyakan kepadaku, <em>“Apa yang sudah kamu amalkan dari ilmu yang sudah kamu ketahui?”</em>. Karena Allah tidak akan memberikan ilmu kepada seseorang selama dia hidup di dunia melainkan Allah pasti akan menanyainya pada hari kiamat (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/136)</p>
<p>Ibnu Baththal berkata, <em>“Barangsiapa yang mempelajari hadits demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya maka kelak di akherat Allah akan memalingkan wajahnya menuju neraka.”</em> (<em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/136)</p>
<p>Masruq berkata, <em>“Sekadar dengan kualitas ilmu yang dimiliki seseorang maka sekadar itulah rasa takutnya kepada Allah. Dan sekadar dengan tingkat kebodohannya maka sekadar itulah hilang rasa takutnya kepada Allah.”</em> (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/136)</p>
<p>Qatadah berkata: Sesungguhnya setan tidak pernah membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia pun datang melalui pintu ilmu. Setan mengatakan, <em>“Untuk apa kamu terus-menerus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan semua (ilmu) yang telah kamu dengar, niscaya itu sudah cukup bagimu.”</em> Maka Qatadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa <em>&#8216;alaihis salam</em> adalah orang yang paling layak untuk merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi ternyata Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), <em>“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu.”</em>(<strong>QS. al-Kahfi: 66</strong>) (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/136)</p>
<p>Demikianlah, sekelumit catatan mengenai kemuliaan ilmu. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu menimba ilmu demi menggapai ridha-Nya. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa hshahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kemuliaan-ilmu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istiqomah Di Atas Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/istiqomah-di-atas-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/istiqomah-di-atas-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 15:52:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2231</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslimin&#8230; semoga senantiasa dirahmati Allah&#8230; Istiqomah, sebuah perbendaharaan paling berharga bagi setiap insan&#8230; Tidak ada seorang pun di dunia ini melainkan membutuhkannya. Agar kelak di akherat, dirinya bisa berbahagia tatkala berjumpa dengan-Nya&#8230; Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya; &#8230; <a href="http://abumushlih.com/istiqomah-di-atas-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fistiqomah-di-atas-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fistiqomah-di-atas-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kaum muslimin&#8230; <em>semoga senantiasa dirahmati Allah</em>&#8230;</p>
<p>Istiqomah, sebuah perbendaharaan paling berharga bagi setiap insan&#8230; Tidak ada seorang pun di dunia ini melainkan membutuhkannya. Agar kelak di akherat, dirinya bisa berbahagia tatkala berjumpa dengan-Nya&#8230;</p>
<p><span id="more-2231"></span>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya;</p>
<p><strong>حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي  شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ح و  حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا  عَنْ جَرِيرٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ  كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ  عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي  فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي  حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ  فَاسْتَقِمْ</strong></p>
<p>Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib menuturkan kepada kami.  Mereka berdua berkata; Ibnu Numair menuturkan kepada kami [tanda  perpindahan sanad] demikian pula Qutaibah bin Sa’id dan Ishaq bin  Ibrahim mereka semuanya menuturkan kepada kami dari Jarir [tanda  perpindahan sanad] begitu pula Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Dia  berkata; Abu Usamah menuturkan kepada kami. Mereka semuanya meriwayatkan  dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari <strong>Sufyan bin Abdullah  ats-Tsaqafi</strong>, dia berkata; Aku berkata, <em>“Wahai Rasulullah, katakanlah  kepada saya suatu ucapan di dalam Islam yang tidak akan saya tanyakan  kepada seorang pun sesudah anda.”</em> Sedangkan dalam penuturan Abu Usamah  dengan ungkapan, <em>“orang selain anda”</em>, maka beliau menjawab, <em>“Katakanlah;  Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dalam  Kitab al-Iman, lihat <em>Syarh Nawawi</em> [2/91-92])</p>
<p>Istiqomah, sebuah perkara yang sangat agung dan tidak bisa diremehkan,  sampai-sampai Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em> mengatakan tatkala  menjelaskan firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p><strong>فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ</strong></p>
<p><em>“Istiqomahlah engkau sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.”</em> (<strong>QS. Huud : 112</strong>)</p>
<p>Ibnu Abbas mengatakan, <em>“Tidaklah turun kepada Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam di dalam keseluruhan al-Qur’an suatu ayat yang lebih  berat dan lebih sulit bagi beliau daripada ayat ini.”</em> (lihat <em>Syarh  Nawawi</em> [2/92]).</p>
<p>Sampai-sampai sebagian ulama -sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qasim al-Qusyairi- mengatakan,</p>
<p><strong>الِاسْتِقَامَة لَا يُطِيقهَا إِلَّا الْأَكَابِر</strong></p>
<p><em>“Tidak ada yang bisa benar-benar istiqomah melainkan orang-orang besar.”</em> (Disebutkan oleh an-Nawawi dalam <em>Syarh Muslim</em> [2/92])</p>
<p>Oleh sebab itu ikhwah sekalian, semoga Allah meneguhkan kita di atas  jalan-Nya, marilah  kita mengingat besarnya nikmat yang  Allah karuniakan kepada <strong>Ahlus Sunnah yang tetap tegak di atas kebenaran</strong> di antara berbagai golongan yang menyimpang dari jalan-Nya. Inilah  nikmat teragung dan <strong>anugerah terindah yang menjadi cita-cita setiap  mukmin</strong>. Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><strong>إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ  ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا  تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ  تُوعَدُون</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah,  kemudian mereka istiqomah akan turun kepada mereka para malaikat seraya  mengatakan; Janganlah kalian takut dan jangan sedih, dan bergembiralah  dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.” </em>(<strong>QS. Fusshilat : 30</strong>).</p>
<p>al-Qadhi ‘Iyadh <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat  di atas -QS. Fusshilat : 30- adalah <strong>orang-orang yang mentauhidkan Allah</strong> dan beriman kepada-Nya lalu istiqomah dan tidak berpaling dari tauhid.  Mereka konsisten dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah <em>subhanahu wa  ta’ala</em> <strong>sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan itu</strong> (lihat <em>Syarh  Nawawi</em> [2/92]).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menjelaskan,  bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengakui dan mengikrarkan  -keimanan mereka-, mereka ridha akan rububiyah Allah <em>ta’ala</em> serta pasrah  kepada perintah-Nya. Kemudian mereka istiqomah di atas jalan yang lurus  dengan <strong>ilmu dan amal</strong> mereka, mereka itulah orang-orang yang akan  mendapatkan kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat (lihat  <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [2/1037-1038]).</p>
<p>Abu Bakar as-Shiddiq <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan ketika menafsirkan  ayat di atas (yang artinya), <em>“Kemudan mereka tetap istiqomah”</em>, maka  beliau mengatakan, <em>“Artinya mereka <strong>tidak mempersekutukan Allah dengan  sesuatu apapun</strong>.”</em> Diriwayatkan pula dari beliau, <em>“Yaitu mereka tidak  berpaling kepada sesembahan selain-Nya.”</em> (Disebutkan oleh Ibnu Rajab  al-Hanbali di dalam <em>Jami’ al-’Ulum</em>, hal. 260).</p>
<p>Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em> tentang makna firman Allah <em>ta’ala</em> <em>“Sesungguhnya orang-orang yang  mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah”</em>, beliau  mengatakan, <em>“Yaitu mereka istiqomah dalam <strong>menunaikan kewajiban-kewajiban</strong> yang Allah bebankan.”</em> Sedangkan Abu al-’Aliyah mengatakan, <em>“Kemudian  -setelah mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah- maka mereka pun  <strong>mengikhlaskan</strong> kepada-Nya agama dan amal.”</em> Qatadah mengatakan, <em>“Mereka  istiqomah <strong>di atas ketaatan</strong> kepada Allah.”</em> Diriwayatkan pula dari Hasan  al-Bashri, apabila beliau membaca ayat ini maka beliau berdoa, <em>Allahumma  anta Rabbuna farzuqnal istiqomah</em>; <em>‘Ya Allah, engkaulah Rabb kami,  <strong>karuniakanlah rezeki keistiqomahan kepada kami</strong>’.”</em> (<em>Jami’ al-’Ulum</em>, hal.  260).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/istiqomah-di-atas-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Amalan Harian Muslim Sejati</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 22:16:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim&#8230; Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri. Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-amalan-harian-muslim-sejati.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-amalan-harian-muslim-sejati.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Saudaraku</em>, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim&#8230; Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri.</p>
<p><span id="more-2207"></span></p>
<p>Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, amalan yang dicintai-Nya, amalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya, amalan yang akan menentramkan hatimu dimanapun kau berada, amalan yang akan menjadi tabunganmu menyambut hari esok setelah ditiupnya sangkakala dan hancurnya dunia beserta segenap isinya&#8230;</p>
<p>Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih di dalam surga-Nya&#8230;, <em>Allahumma amin</em>.</p>
<p><strong>[1] Perbanyaklah berdzikir kepada-Nya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 41</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.”</em> (<strong>QS. al-Munafiqun: 9</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah suatu kaum berkumpul seraya mengingat Allah, melainkan pasti malaikat akan menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang di sisi-Nya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>[2] Tetaplah berdoa kepada-Nya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” </em>(<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tiada suatu urusan yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.”</em> (<strong>HR. al-Hakim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah subhanah, maka Allah murka kepada dirinya.” </em>(<strong>HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Rabb kita tabaraka wa ta&#8217;ala setiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir turun ke langit terendah dan berfirman, &#8216;Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang mau meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)<em> </em></p>
<p><strong>[3] Mohon ampunlah kepada-Nya</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Allah akan menyiksa mereka sementara kamu berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka selalu beristighfar/meminta ampunan.” </em>(<strong>QS. al-Anfal: 33</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Allah, sesungguhnya aku setiap hari meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p><em>Saudaraku</em>,&#8230; perjalanan waktu menggiring kita semakin mendekati kematian&#8230; Oleh sebab itu marilah kita isi umur kita dengan dzikir, doa, dan taubat kepada-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya, diampuni oleh-Nya, dan mendapatkan rahmat dari-Nya&#8230;</p>
<p>Sumber:<br />
<em>Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a</em> karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Yang Terlupakan</title>
		<link>http://abumushlih.com/fiqih-yang-terlupakan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/fiqih-yang-terlupakan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 01:39:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Asma'ul Husna]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2020</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an dan memudahkannya sebagai pelajaran bagi manusia. Salawat dan keselamatan semoga terlimpah kepada Nabi dan kekasih-Nya, Muhammad, para sahabatnya dan seluruh pengikut mereka yang setia. Amma ba&#8217;du. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/fiqih-yang-terlupakan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ffiqih-yang-terlupakan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ffiqih-yang-terlupakan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an dan memudahkannya sebagai pelajaran bagi manusia. Salawat dan keselamatan semoga terlimpah kepada Nabi dan kekasih-Nya, Muhammad, para sahabatnya dan seluruh pengikut mereka yang setia. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2020"></span> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan padanya, maka dia akan dipahamkan/difaqihkan dalam (urusan) agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).</p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya fiqih tentang nama-nama Allah yang terindah (al-Asma&#8217; al-Husna) adalah sebuah bidang ilmu yang sangat utama, bahkan ia merupakan fiqih yang terbesar. Ilmu ini menduduki posisi pertama-tama dan terdepan dalam kandungan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan padanya, maka dia akan dipahamkan/difaqihkan dalam (urusan) agama.” (<strong>Muttafaq &#8216;alaih</strong>). Ia merupakan sebaik-baik perkara yang semestinya digapai selama hidup, sebaik-baik ilmu yang digali dan diraih oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan dan akal yang terbimbing. Bahkan ia merupakan puncak tertinggi yang menjadi target untuk berlomba-lomba dan ujung cita-cita yang menjadi tujuan bagi orang-orang yang saling bersaing dalam kebaikan. Ia merupakan pilar perjalanan hidup menuju Allah dan pintu gerbang yang tepat untuk menggapai cinta dan ridha-Nya. Ia merupakan jalan yang lurus yang ditempuh oleh orang-orang yang dicintai Allah dan dipilih-Nya.”</em> (<em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 11)</p>
<p>Fiqih tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan pondasi agama seorang hamba. Sebab ia merupakan bagian utama dalam keimanan kepada Allah. Inilah pondasi yang tidak boleh dilupakan dan pilar agama yang tidak layak diabaikan. Pondasi amalan ada dua -sebagaimana diterangkan oleh Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>- yaitu:</p>
<ol>
<li>Mengenal Allah dengan benar, memahami perintah-perintah-Nya,      nama-nama dan sifat-sifat-Nya</li>
<li>Memurnikan ketundukan kepada Allah dan rasul-Nya, bukan kepada      selainnya. Kedua hal inilah pondasi paling kuat yang akan melandasi      bangunan agama seorang hamba. Kekuatan dan ketinggian agama seseorang akan      tergantung pada kekuatan dua hal ini (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>,      hal. 12)</li>
</ol>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam al-Qur&#8217;an terdapat penyebutan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya yang jauh lebih banyak daripada ayat-ayat yang di dalamnya terkandung penyebutan mengenai makan, minum dan pernikahan di surga. Ayat-ayat yang mengandung penyebutan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya itu lebih agung kedudukannya daripada ayat-ayat tentang hari kiamat. Ayat paling agung di dalam al-Qur&#8217;an adalah ayat Kursi yang mengandung ayat-ayat semacam itu&#8230;”</em> (<em>Dar&#8217;u at-Ta&#8217;arudh</em>, sebagaimana dinukil dalam <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 13-14)</p>
<p>Mengenal dan merenungkan keagungan nama-nama dan sifat-sifat Allah termasuk inti dakwah para nabi dan rasul. Diterangkan oleh Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> bahwasanya dakwah para rasul itu berporos pada tiga perkara:</p>
<ol>
<li>Memperkenalkan keagungan Allah kepada hamba-hamba-Nya melalui      nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya</li>
<li>Menunjukkan dan menjelaskan kepada mereka jalan yang akan      mengantarkan kepada-Nya, yaitu dengan berdzikir kepada-Nya, bersyukur dan      beribadah kepada-Nya</li>
<li>Menerangkan kepada mereka tentang balasan yang akan mereka      terima sesampainya mereka di hadapan-Nya, berupa kenikmatan surga dan yang      paling utama di antaranya adalah keridhaan Allah dan kenikmatan memandang      wajah-Nya dan Allah pun mengajak bicara dengan mereka (lihat <em>Fiqh      al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 16-17)</li>
</ol>
<p>Mengenal Allah merupakan sebuah kenikmatan tiada tara yang banyak tidak dirasakan oleh manusia. Sebagian ulama salaf berkata, <em>“Orang-orang yang malang di antara penduduk dunia ini adalah mereka yang keluar darinya -dari dunia- dan tidak sempat mencicipi kenikmatan paling lezat di dalamnya.”</em> Lantas ada yang bertanya, <em>“Apakah kenikmatan paling lezat yang ada di dalamnya?”</em>. Dia menjawab, <em>“Mengenal Allah, mencintai-Nya dan merasa tentram dengan mendekatkan diri kepada-Nya serta rindu untuk berjumpa dengan-Nya.”</em> (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 21)</p>
<p>Akan tetapi, yang dimaksudkan dengan mengenal Allah di sini bukanlah sekedar wawasan, dimana orang yang taat maupun orang bejat sama-sama memilikinya. Namun, yang dimaksud adalah pengenalan yang diiringi dengan perasaan malu kepada Allah, cinta kepada-Nya, ketergantungan hati kepada-Nya, rindu berjumpa dengan-Nya, takut kepada-Nya, bertaubat dan meningkatkan ketaatan kepada-Nya, merasa tentram dengan-Nya, dan meninggalkan makhluk demi mengabdi kepada-Nya (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 22)</p>
<p>Melupakan perenungan terhadap nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya termasuk tindakan melupakan Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Sungguh ini merupakan perbuatan yang sangat tercela. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”</em> (<strong>QS. al-Hasyr: 19</strong>). Barangsiapa yang melupakan Allah, maka akan membuatnya lupa akan jati dirinya sendiri, lupa akan kemaslahatan hidupnya di dunia maupun di akherat, tidak mengetahui sebab-sebab yang akan mengantarkan dirinya menuju kebahagiaan di dunia dan di akherat&#8230; (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 25). Aduhai betapa malangnya orang semacam ini!</p>
<p>Yang dimaksud &#8216;melupakan Allah&#8217; itu meliputi:</p>
<ol>
<li>Meninggalkan perintah Allah, sebagaimana disebutkan oleh Imam      al-Baghawi dan Ibnul Jauzi <em>rahimahumallah</em> dalam tafsirnya</li>
<li>Meninggalkan dzikir/mengingat Allah, sebagaimana disebutkan      oleh Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> dalam tafsirnya</li>
<li>Tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya dan tidak      merasa takut kepada-Nya, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam      asy-Syaukani <em>rahimahullah</em> dalam tafsirnya</li>
<li>Meninggalkan kewajiban yang Allah bebankan kepada mereka,      sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari <em>rahimahullah</em> dalam tafsirnya (lihat tafsiran-tafsiran di atas di dalam software <em>Maktabah      asy-Syamilah</em>)</li>
</ol>
<p>Oleh sebab itu, tidak selayaknya bagi kaum muslimin, apalagi para penuntut ilmu untuk meremehkan pembahasan atau kajian mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah. Karena ini merupakan fiqih akbar yang akan mengenalkan kita dengan Rabb yang kita sembah, Rabb yang telah melimpahkan sekian banyak nikmat kepada kita, Rabb yang kalaupun menimpakan musibah kepada kita itupun karena hikmah dari-Nya, Rabb yang akan mengingat dan menolong kita selama kita mau mengingat-Nya dan membela agama-Nya. Semoga Allah menanamkan ke dalam hati kita kecintaan untuk mengenali, merenungi dan melaksanakan konsekuensi dari tauhid yang agung ini. <em>Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/fiqih-yang-terlupakan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaminan Dari Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 15:17:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1948</guid>
		<description><![CDATA[Bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya sangat banyak. Di antaranya adalah berupa jaminan dari-Nya bagi siapa saja yang mau benar-benar mengikuti petunjuk-Nya bahwa mereka tidak akan sesat dan tidak pula celaka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjaminan-dari-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjaminan-dari-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya sangat banyak. Di antaranya adalah berupa jaminan dari-Nya bagi siapa saja yang mau benar-benar mengikuti petunjuk-Nya bahwa mereka tidak akan sesat dan tidak pula celaka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.”</em> (<strong>QS. Thaha: 123</strong>)</p>
<p><span id="more-1948"></span></p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.”</em> Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat <em>Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah </em>karya<em> </em>Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).</p>
<p>Lalu apa yang dimaksud dengan mengikuti petunjuk Allah? Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah: [1] Membenarkan berita yang datang dari-Nya, [2] Tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman, [3] Mematuhi perintah, [4] Tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 515)</p>
<p><strong>[1] Membenarkan berita</strong></p>
<p>Demikianlah sikap seorang mukmin. Karena dia meyakini bahwa apa yang dikatakan oleh Allah adalah kebenaran di atas kebenaran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah mengatakan yang benar dan Dia juga menunjukkan jalan -yang benar-.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 4</strong>). Maka seluruh ucapan Allah dan syari&#8217;at yang ditetapkan-Nya adalah kebenaran. Adapun ucapan dan perbuatan yang batil sama sekali tidak layak disandarkan kepada-Nya dari sisi mana pun. Ucapan dan perbuatan yang batil -dengan segala bentuknya- bukan termasuk petunjuk-Nya. Karena Allah tidak akan menunjukkan kecuali kepada jalan yang lurus (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 658)</p>
<p>Termasuk di dalam hal ini adalah membenarkan sabda-sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya, akan tetapi itu merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya.”</em> (<strong>QS. an-Najm: 3-4</strong>). Apa yang disampaikan oleh Nabi merupakan penjelas bagi ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kami turunkan kepadamu adz-Dzikra (al-Qur&#8217;an) supaya kamu menjelaskannya kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka itu, dan mudah-mudahan mereka berpikir.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 44</strong>). Oleh sebab itu terdapat ucapan yang masyhur dari Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, <em>“Barangsiapa menolak hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka dia berada di tepi jurang kehancuran.” </em>Imam asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya Sunnah/hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya gara-gara mengikuti pendapat seseorang.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[2] Menepis syubhat</strong></p>
<p>Syubhat adalah kesamaran-kesamaran yang dibuat oleh musuh-musuh agama dalam rangka mengelabui manusia dari jalan yang lurus. Sehingga kebenaran tampak sebagai kebatilan, dan sebaliknya kebatilan tampak sebagai kebenaran. Timbulnya pembangkangan terhadap ketetapan Allah dan penolakan terhadap berita yang datang dari-Nya muncul dari pintu ini selain dari pintu syahwat. Padahal, kita semua tahu bahwasanya keberuntungan dan kebahagiaan hanya akan dicapai dengan taat dan tunduk kepada Allah dan rasul-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 71</strong>). Allah<em> ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak pantas bagi lelaki dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka, barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu berhati-hati dalam mengambil ilmu adalah jalan untuk menyelamatkan diri dari terpaan syubhat. Ibnu Sirin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah  dari siapa kalian mengambil agama kalian.” </em>Kemudian juga dengan bertanya kepada para ulama mengenai permasalahan yang tidak dipahami. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 43</strong>). Dengan senantiasa merujuk kepada al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah sebagai pemutus perselisihan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir&#8230;”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 59</strong>). Dan juga selalu berusaha mengikuti metode pemahaman salafus shalih. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 100</strong>). Imam al-Auza&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wajib bagimu untuk mengikuti jejak para salaf/pendahulu, meskipun orang-orang menolak dirimu. Dan jauhilah pendapat akal-akal manusia, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[3] Mematuhi perintah</strong></p>
<p>Menyimpang dari perintah rasul adalah kehancuran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 80</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyimpang dari perintah rasul itu, karena mereka akan ditimpa dengan fitnah/malapetaka atau siksaan yang sangat pedih.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 63</strong>). Memang terkadang apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya terasa berat atau tidak disukai oleh hawa nafsu manusia. Ini merupakan ujian dari Allah untuk menampakkan siapakah di antara hamba-Nya yang mendahulukan ketaatan kepada-Nya daripada keinginan hawa nafsunya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu jelek bagi kalian. Allah yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 216</strong>).</p>
<p><strong>[4] Menundukkan hawa nafsu</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman menukil ucapan Nabi Yusuf<em> &#8216;alaihis salam</em> (yang artinya), <em>“Sesungguhnya hawa nafsu itu sangat mengajak kepada keburukan kecuali yang dirahmati oleh Rabbku.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 53</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Adapun barangsiapa yang merasa takut terhadap kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari memperturutkan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal untuknya.”</em> (<strong>QS. an-Nazi&#8217;at: 40-41</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang mujahid adalah orang yang berjuang menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi -hawa nafsu- dan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan -bagi nafsu-.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>).</p>
<p>Keempat hal di atas telah tercakup dalam ucapan Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, <em>“Orang yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.”</em> Inilah bukti kedalaman ilmu salafus shalih. Semoga Allah membimbing kita untuk mengikuti jejak mereka. <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelezatan Ubudiyah di Bulan Penuh Berkah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 04:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1921</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya keimanan, orang yang merasa ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu&#8217;anhu) Bulan Ramadhan adalah musim kebaikan, tatkala pintu-pintu surga &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan lezatnya keimanan, orang yang merasa ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari al-Abbas bin Abdul Muthallib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><span id="more-1921"></span></p>
<p>Bulan Ramadhan adalah musim kebaikan, tatkala pintu-pintu surga dibuka dan semua pintu neraka ditutup. Di bulan ini Allah mewajibkan <em>shaum</em> atau <em>shiyam</em> Ramadhan. Sebuah ibadah yang sangat dicintai oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Dengan menjalani puasa selama sebulan ini seorang hamba dididik untuk mengendalikan dirinya, meninggalkan hal-hal yang disukai oleh nafsunya demi menggapai kecintaan dan keridhaan Rabbnya. Sebuah bentuk ibadah yang mencakup tiga sisi kesabaran; sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menerima takdir yang terasa menyakitkan. Dengan menahan lapar dan dahaga, semenjak terbit fajar di pagi buta hingga terbenamnya matahari di kala senja.</p>
<p>Dengan berpuasa Ramadhan, maka seorang hamba berupaya menegakkan agamanya, melengkapi keimanannya, menggapai ampunan dan pahala dari Tuhannya, dan menempa diri untuk menjadi pribadi yang bertakwa; pribadi yang patuh kepada Rabbnya. Disamping itu, ternyata pada bulan Ramadhan masih terdapat ibadah-ibadah lainnya yang tidak khusus diperintahkan pada bulan ini saja, namun ia bersifat umum -di bulan apa pun- selama seorang hamba masih diberi usia dan mampu untuk menjalankannya.</p>
<p><strong>Berpuasa, berarti menunaikan tugas hidup kita</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Puasa adalah ibadah yang kita diperintahkan untuk menunaikannya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian mudah-mudahan kalian menjadi orang yang bertakwa.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 183</strong>)</p>
<p><strong>Puasa, ibadah yang sangat dicintai-Nya</strong></p>
<p>Puasa Ramadhan adalah ibadah yang wajib ditunaikan, sedangkan ibadah yang wajib lebih dicintai daripada ibadah sunnah, apalagi puasa Ramadhan merupakan rukun Islam. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman dalam hadits qudsi, <em>“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu ibadah yang lebih Aku cintai daripada ibadah yang Aku wajibkan kepadanya&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima pilar; syahadat bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>)</p>
<p><strong>Puasa, sebuah ketetapan yang harus diterima</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah pantas bagi seorang yang beriman lelaki atau perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas ada bagi mereka alternatif yang lainnya. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>).</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Puasa, dapat menggugurkan dosa</strong></p>
<p>Manusia bergelimang dengan salah dan dosa, maka berkat rahmat dari-Nya Allah menjadikan ibadah yang agung ini sebagai salah satu sebab penghapusan dosa, namun hal ini khusus diberikan kepada hamba-Nya yang ikhlas dan mengikuti tuntunan dalam menjalankannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena dorongan iman dan mencari pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Shalat lima waktu, jum&#8217;at yang satu menuju jum&#8217;at yang lain, Ramadhan yang satu menuju Ramadhan yang lain, merupakan penghapus dosa yang terjadi di antaranya, selama perbuatan dosa-dosa besar dijauhi.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Puasa, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Puasa itu bukan sekedar menahan dari makan dan minum, akan tetapi puasa yang sebenarnya ialah dengan menahan diri dari kesia-siaan dan perbuatan kotor.”</em> (<strong>HR. Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim</strong>, sanadnya sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Betapa banyak orang yang berpuasa namun yang didapatkannya hanyalah lapar dan dahaga.”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad, al-Baihaqi</strong>, sanadnya sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda mengenai ihsan, <em>“Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak sanggup -beribadah seolah-olah- melihat-Nya maka sesungguhnya Dia maha melihat dirimu.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Harus ikhlas dan sesuai tuntunan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seluruh amalan dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang diniatkannya. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Namun, barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, niscaya hijrahnya hanya akan memperoleh apa yang diniatkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang membuat-buat dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, niscaya hal itu tertolak.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>)</p>
<p><strong>Berpuasa dan berhari raya dengan patokan hilal</strong></p>
<p>Hilal adalah bulan sabit kecil yang tampak di awal bulan hijriyah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Berpuasalah karena melihatnya -hilal- dan berhari rayalah karena melihatnya. Apabila ia -hilal Ramadhan- tertutup mendung maka genapkanlah bulan -sebelumnya, yaitu Sya&#8217;ban- menjadi tiga puluh hari.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Apabila hilal sudah tampak dengan persaksian minimal satu orang kemudian diterima dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang di suatu negara, maka saat itulah kaum muslimin memulai puasa. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Puasa ialah tatkala kalian bersama-sama puasa, demikian juga hari raya ialah ketika kalian bersama-sama berhari raya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, sahih). Adapun untuk penetapan hari raya dibutuhkan minimal dua saksi.</p>
<p><strong>Tidak berpuasa di hari yang diragukan</strong></p>
<p>Hari yang diragukan adalah tanggal tiga puluh bulan Sya&#8217;ban, dan terkadang ketika itu sudah tersebar berita tampaknya hilal di sebagian tempat namun belum ditetapkan oleh pihak yang berwenang bahwa  hari tersebut adalah awal puasa. Maka berpuasa pada hari itu adalah terlarang. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan itu maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim -yaitu Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-.”</em> (<strong>HR. As-habus Sunan</strong> dengan <em>sanad sahih</em> dan <strong>Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dari &#8216;Ammar bin Yasir <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>).</p>
<p><strong>Musafir dan orang sakit</strong></p>
<p>Apabila orang sakit -yang masih bisa diharapkan kesembuhannya- dan musafir tidak mendapati kesusahan dengan berpuasa maka puasa lebih utama, namun apabila ternyata dengan puasa justru semakin menyusahkan maka tidak puasa lebih utama. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa di antara kalian yang menderita sakit atau sedang menempuh perjalanan/safar hendaknya dia menggantinya di hari-hari yang lain.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 184</strong>). Suatu ketika Hamzah bin Amr al-Aslami pernah bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengenai hukum puasa ketika safar, maka beliau menjawab, <em>“Kalau kamu mau silahkan puasa, dan kalau kamu mau maka silahkan berbuka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>). Berbuka ketika safar adalah keringanan/<em>rukhshah</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya hal itu adalah keringanan dari Allah, barangsiapa yang mengambilnya maka itu baik, dan barangsiapa yang ingin untuk berpuasa maka tidak ada dosa atasnya.” </em>(<strong>HR. Muslim</strong> dari Hamzah bin Amr al-Aslami <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Puasa boleh saja selama hal itu tidak memberatkan si musafir. Karena apabila justru memberatkan maka semestinya dia berbuka. Oleh sebab itu di kesempatan yang lain Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah bersabda, <em>“Bukan termasuk kebaikan berpuasa ketika safar.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Jabir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>).</p>
<p><strong>Perempuan haidh dan nifas</strong></p>
<p>Apabila seorang perempuan mendapati haidh atau nifas pada suatu waktu dalam suatu hari, entah di awal siang atau di akhirnya maka dia harus berbuka -tidak meneruskan puasa- dan mengganti puasa di hari yang lain. Seandainya dia tetap berpuasa, maka puasanya tidak sah. Mu&#8217;adzah pernah bertanya kepada Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>, <em>“Mengapa perempuan haidh mengqadha&#8217; puasa namun tidak mengqadha&#8217; sholat?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Apakah kamu penganut Haruriyah (Khawarij)?!”</em>. Aku berkata, <em>“Bukan, aku hanya ingin bertanya.”</em> Maka beliau berkata, <em>“Dahulu kami mengalami hal itu dan kami hanya diperintahkan untuk mengqadha&#8217; puasa namun kami tidak diperintahkan mengqadha&#8217; sholat.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Ibu hamil dan menyusui</strong></p>
<p>Ibu hamil dan menyusui apabila tidak sanggup/tidak kuat berpuasa atau mengkhawatirkan kesehatan bayi atau janinnya maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah berupa makanan yang cukup mengenyangkan untuk satu orang miskin sebagai ganti setiap hari yang ditinggalkannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla menggugurkan kewajiban puasa dan separuh sholat bagi musafir, dan juga menggugurkan kewajiban puasa bagi ibu hamil dan menyusui.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa&#8217;i, Ibnu Majah</strong>, dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, hasan). Suatu ketika, Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> ditanya mengenai ibu hamil yang mengkhawatirkan kondisi janinnya jika dia tetap berpuasa, maka beliau menjawab, <em>“Hendaknya dia berbuka dan memberi makan (fidyah) kepada orang miskin setiap harinya sebanyak satu mud gandum.”</em> (<strong>HR. al-Baihaqi</strong> dengan sanad sahih). Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> juga berkata, <em>“Ibu hamil dan menyusui berbuka dan tidak perlu mengqadha&#8217;.”</em> (<strong>HR. ad-Daruquthni</strong>, sahih)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kakek-kakek dan nenek-nenek </strong></p>
<p>Kakek-kakek dan nenek-nenek atau orang yang menderita sakit parah dan sulit diharapkan sembuh maka tidak perlu puasa dan cukup memberikan makan bagi satu orang miskin sebagai ganti setiap hari puasa yang ditinggalkannya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagi orang-orang yang tidak mampu melakukan puasa itu hendaknya membayar fidyah berupa makanan bagi orang miskin.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 184</strong>). Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Ayat ini tidak dihapus hukumnya, akan tetapi ia masih berlaku bagi lelaki dan perempuan yang sudah tua renta dan tidak mampu lagi berpuasa sehingga mereka hanya perlu memberikan makan untuk satu orang miskin demi mengganti setiap hari yang ditinggalkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p><strong>Anak kecil dan orang gila</strong></p>
<p>Kewajiban puasa ini pun gugur bagi anak kecil yang belum baligh ataupun orang gila. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pena diangkat dari tiga golongan; dari orang gila sampai dia sembuh, dari orang yang tertidur sampai dia bangun, dan dari anak kecil sampai dia ihtilam/mimpi basah.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong>, sahih dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>)</p>
<p><strong>Pembatal puasa</strong></p>
<p>Makan, minum, muntah, dan berhubungan suami istri secara sengaja membatalkan puasa. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang lupa padahal dia sedang puasa kemudian makan dan minum maka hendaknya dia menyempurnakan puasanya, karena Allah lah yang memberi makan dan minum kepadanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Dalam lafal yang lain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang membatalkan puasa pada suatu hari di bulan Ramadhan dalam keadaan lupa maka tidak ada qadha&#8217; baginya dan tidak pula kaffarah/tebusan.”</em> (<strong>HR. ad-Daruquthni, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim</strong>, sanadnya sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang muntah secara tidak sengaja maka tidak ada qadha&#8217; baginya, namun barangsiapa yang secara sengaja muntah maka hendaknya dia mengqadha&#8217;/menggantinya di hari yang lain.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni</strong> sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kaffarah berhubungan suami istri</strong></p>
<p>Apabila seorang lelaki dengan sengaja melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan maka dia wajib membayar <em>kaffarah</em>/tebusan dengan ketentuan sebagaimana dalam hadits berikut. Dikisahkan oleh Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan melapor, <em>“Wahai Rasulullah, aku binasa.”</em> Beliau berkata, <em>“Apa yang membuatmu binasa?”</em>. Dia menjawab, <em>“Aku telah berhubungan dengan istriku di -siang hari- bulan Ramadhan.”</em> Maka Nabi mengatakan, <em>“Apakah kamu mampu untuk memerdekakan seorang budak.”</em> Dia menjawab, <em>“Tidak.”</em> Lalu beliau berkata, <em>“Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”</em>. Maka dia menjawab, <em>“Tidak.”</em> Lalu beliau berkata, <em>“Apakah kamu mampu memberikan makanan untuk enam puluh orang miskin?”</em>. Dia menjawab, <em>“Tidak.”</em> Lantas beliau berkata,<em> “Duduklah.”</em> Kemudian dia duduk. Lalu setelah itu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mendapat pemberian sekeranjang kurma. Kemudian Nabi bersabda, <em>“Bersedekahlah dengannya!”</em>. Maka lelaki itu menjawab, <em>“Tidak ada orang di antara kedua lembah ini yang lebih miskin daripada kami.”</em> Maka Nabi pun tertawa sampai tampak gigi taringnya, lalu beliau bersabda, <em>“Ambil ini, dan beri makan keluargamu dengannya.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bertekad puasa di malam harinya</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak membulatkan tekad untuk berpuasa sebelum fajar/subuh maka tiada puasa baginya.”</em> (<strong>HR. As-habus Sunan, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban</strong>, sanadnya sahih). Sementara, tekad atau niat itu tempatnya di dalam hati, sehingga tidak perlu diucapkan. Seandainya apa yang diucapkan menyelisihi apa yang di dalam hati, maka yang menjadi patokan adalah apa yang di dalam hati. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mengajarkan untuk mengucapkan niat maka kita pun tidak usah mengucapkannya. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sedangkan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan di dalam urusan agama.</p>
<p><strong>Jauhilah penyimpangan!</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintah/urusan rasul itu, sebab mereka nanti akan tertimpa fitnah/bencana atau menimpa mereka azab yang sangat pedih.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 63</strong>). Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang menciptakan suatu bid&#8217;ah yang dia pandang sebagai kebaikan, maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- telah mengkhianati risalah&#8230;”</em></p>
<p><strong>Menuai berkah dengan makan sahur</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Makan sahurlah, karena sesungguhnya di dalam santap sahur itu terkandung berkah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pemisah antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik hidangan sahur seorang mukmin adalah kurma.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Baihaqi</strong> dengan sanad sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Makan sahurlah, meskipun hanya dengan seteguk air.”</em> (<strong>HR. Abu Ya&#8217;la</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, hasan)</p>
<p><strong>Mengakhirkan sahur</strong></p>
<p>Hendaknya menunaikan sahur beberapa saat menjelang adzan dikumandangkan. Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dia berkata, <em>“Dahulu kami pernah sahur bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kemudian setelah itu beliau pun bangkit menuju sholat -Subuh berjama&#8217;ah, pent-.”</em> Aku -Anas- berkata, <em>“Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?”</em>. Dia (Zaid) menjawab, <em>“Sekitar -lamanya waktu membaca- lima puluh ayat.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Batas akhir santap sahur</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Silahkan makan dan minum sampai jelas bagimu perbedaan antara benang putih dengan benang hitam, yaitu terbitnya fajar.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 187</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menafsirkan, <em>“Yang dimaksud dengannya adalah hitamnya malam dan putihnya siang.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Adi bin Hatim <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Fajar itu ada dua. Adapun yang pertama, maka ia tidak menyebabkan tidak bolehnya makan (sahur) dan tidak menyebabkan bolehnya sholat (subuh). Sedangkan yang kedua menyebabkan tidak boleh lagi makan (sahur) dan membolehkan sholat (subuh).”</em> (<strong>HR. Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi</strong>, sanadnya sahih dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila salah seorang dari kalian sudah mendengar adzan sementara bejana (gelas atau sendok, pent) masih di tangannya maka janganlah dia letakkan sampai dia selesai menunaikan kebutuhannya dari bejana tersebut.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Ibnu Jarir, al-Hakim, al-Baihaqi, Ahmad</strong> dengan <em>sanad hasan</em> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Dalil-dalil ini menunjukkan dengan jelas bahwa batas akhir makan sahur adalah pada saat berkumandangnya adzan, yaitu ketika terbit fajar shodiq, bukan sepuluh menit sebelum adzan!</p>
<p><strong>Dua raka&#8217;at qabliyah subuh</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dua raka&#8217;at fajar -yaitu sebelum subuh, pent- adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak sempat melakukan sholat dua raka&#8217;at fajar maka hendaknya dia menunaikannya setelah matahari terbit.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban</strong>, sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menceritakan, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam biasanya membaca dalam dua raka&#8217;at fajar (qabliyah subuh) &#8216;Qul yaa ayyuhal kafirun&#8217; dan &#8216;Qul huwallahu ahad&#8217;.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Sholat subuh berjama&#8217;ah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sholat yang paling berat bagi kaum munafikin adalah sholat &#8216;isyak dan subuh -berjama&#8217;ah-, seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun harus sambil merangkak.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mendengar seruan adzan lantas tidak mendatanginya -sholat jama&#8217;ah- maka tiada sholat baginya, kecuali karena ada udzur yang menghalanginya.”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi</strong>, sahih dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian larang istri-istri kalian untuk berangkat ke masjid, namun sebenarnya rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka -untuk sholat di sana, pent-.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Ahmad</strong>, sahih dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>).</p>
<p><strong>Luruskan shof!</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Luruskan shof-shof kalian, sesungguhnya lurusnya shof adalah bagian dari kesempurnaan sholat.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Dzikir setelah subuh</strong></p>
<p>Ummu Salamah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> menceritakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>biasa mengucapkan doa setelah salam dari menunaikan sholat Subuh, <em>&#8216;Allahumma inni as&#8217;aluka &#8216;ilman nafi&#8217;an wa rizqan thayyiban wa &#8216;amalan mutabbalan&#8217; (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amal yang diterima)</em> (<strong>HR. Ibnu Majah dan Ahmad</strong>, sahih)</p>
<p><strong>Manfaatkan waktu sebaik mungkin</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi waktu, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua buah nikmat yang banyak orang tertipu dalam menyikapinya; yaitu kesehatan dan waktu luang.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Perbanyak dzikir</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku serta janganlah kalian kufur/ingkar.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 41-42</strong>). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan, maka apakah yang terjadi pada seekor ikan tatkala ia dipisahkan dari air?”</em></p>
<p><strong>Jangan tinggalkan sholat!</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Jabir bin Abdullah <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah sholat, barangsiapa yang meninggalkannya sungguh dia telah kafir.”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, Nasa&#8217;i, Tirmidzi</strong>, sahih dari Buraidah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jaga lisan dan anggota badan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata baik atau diam saja.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Salah satu ciri kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, hasan). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila pada suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah dia berkata-kata kotor, berteriak-teriak ataupun betindak dungu. Kalaupun ada orang yang mencaci-maki dirinya hendaklah dia katakan kepadanya; Saya ini sedang puasa.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Tetap jaga pandangan!</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawabannya.”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;: 36</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah kepada para lelaki yang beriman; Hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka serta menjaga kemaluan mereka, hal itu pasti lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha teliti terhadap apa pun yang mereka lakukan.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 30</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman kepada kaum perempuan (yang artinya), <em>“Hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berdandan -mengumbar aurat, pent- seperti halnya cara dandan kaum jahiliyah yang pertama&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 33</strong>)</p>
<p><strong>Jauhi musik dan nyanyian!</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya akan ada di antara umatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr, dan ma&#8217;azif (alat-alat musik).”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dengan nada tegas, sahih dari Abu Amir atau Abu Malik al-Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Saatnya untuk menghentikan rokok</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia menyukai bagi saudaranya apa (kebaikan) yang disukainya bagi dirinya sendiri.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak boleh mendatangkan bahaya, secara sengaja ataupun tidak sengaja.”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, ad-Daruquthni</strong>, sahih dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Jangan pelit!</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Tidaklah seorang hamba memaafkan melainkan Allah akan tambahkan kemuliaan baginya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap tawadhu&#8217;/rendah hati melainkan pasti akan ditinggikan kedudukannya oleh Allah ta&#8217;ala.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Segera<em> </em>berbuka jika sudah tiba saatnya</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang-orang -umat Islam- akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka senantiasa menyegerakan berbuka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila malam telah datang dari arah sana dan siang telah pergi dari arah sana dan matahari pun sudah tenggelam maka orang yang berpuasa sudah -boleh- berbuka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Doa sebelum berbuka</strong></p>
<p>Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> menceritakan bahwa, <em>“Dahulu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam apabila hendak berbuka maka beliau membaca doa, &#8216;Dzahabadh dhama&#8217;u wabtallatil &#8216;uruqu wa tsabatal ajru insya Allah&#8217; (akan hilang dahaga, terbasahi kerongkongan, dan pahala pun didapatkan dengan izin Allah).”</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong>, hasan)</p>
<p><strong>Makan dengan tangan kanan</strong></p>
<p>Umar bin Abu Salamah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata: Dahulu sewaktu kecil aku diasuh oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, suatu saat tanganku berkeliaran di atas tempat hidangan, maka beliau berkata kepadaku, <em>“Hai nak! Sebutlah nama Allah (baca bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu.”</em> Umar berkata, <em>“Semenjak itu maka cara makanku adalah selalu seperti itu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Menirukan bacaan mu&#8217;adzin</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila kalian mendengar seruan (adzan) maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan mu&#8217;adzin.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Adapun bacaan <em>al-Hai&#8217;alatain</em> -yaitu <em>hayya &#8216;alash sholah</em> dan <em>hayya &#8216;alal falah</em>- maka diganti dengan <em>laa haula wa laa quwwata illa billaah</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Sholat tahiyyatul masjid</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid maka janganlah dia duduk sampai dia melakukan sholat dua raka&#8217;at.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Qatadah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Sholat sunnah di antara adzan dan iqomah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap di antara dua adzan -maksudnya antara adzan dan iqomah- ada sholat. Setiap di antara dua adzan ada sholat.”</em> Kemudian pada ketiga kalinya beliau berkata, <em>“Bagi yang mau melakukannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abdullah bin Mughaffal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Namun, apabila iqomah sudah dikumandangkan dan imam pun sudah siap maka sholat sunnah tersebut hendaknya segera diselesaikan jika tinggal sedikit atau diputus. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila sholat sudah akan didirikan (iqomah sudah dikumandangkan) maka tidak ada lagi sholat selain sholat wajib.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Shalat sunnah rawatib</strong></p>
<p>Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Aku menghafal dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sepuluh raka&#8217;at; dua raka&#8217;at sebelum zhuhur, dua raka&#8217;at sesudahnya, dua raka&#8217;at setelah maghrib, dua raka&#8217;at setelah &#8216;isyak, dan dua raka&#8217;at sebelum sholat subuh&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sholat empat raka&#8217;at sebelum zhuhur dan dua raka&#8217;at sebelum subuh.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang melakukan sholat-sunnah- dua belas raka&#8217;at setiap sehari semalam niscaya akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Ummu Habibah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Berdoa antara adzan dan iqomah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak akan tertolak doa yang dipanjatkan di antara adzan dan iqomah.”</em> (<strong>HR. Nasa&#8217;i</strong> dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Jangan tergesa-gesa </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila kalian telah mendengar iqomah maka berjalanlah menuju sholat dan tetaplah kalian bersikap tenang dan sopan. Jangan terburu-buru, apa yang kalian dapati maka sholatlah -sebagaimana imam- dan apa yang terluput maka sempurnakanlah -sesudah imam selesai-.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila hidangan sore telah tersaji maka dahulukan menikmatinya sebelum kalian sholat maghrib.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Doa keluar masjid</strong></p>
<p>Fathimah menceritakan bahwa dahulu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> apabila akan masuk masjid maka beliau membaca doa, <em>&#8216;Bismillah, wassalamu &#8216;ala rasulillah. Allahummaghfirli dzunubi, waftahli abwaba rahmatik&#8217;</em> (<em>dengan menyebut nama Allah dan semoga keselamatan tercurah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakan untukku pintu-pintu rahmat-Mu</em>). Adapun apabila hendak keluar maka beliau membaca <em>&#8216;Bismillah, wassalamu &#8216;ala rasulillah. Allahummaghfirli dzunubi, waftahli abwaba fadhlik&#8217;</em> (<em>dengan menyebut nama Allah dan semoga keselamatan tercurah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakan untukku pintu-pintu karunia-Mu</em>) (<strong>HR. Ibnu Majah</strong>, sahih)</p>
<p><strong>Doa masuk masjid</strong></p>
<p>Abdullah bin Amr bin al-Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Kebiasaan beliau -Nabi- apabila hendak masuk masjid maka beliau membaca A&#8217;uudzu billaahil &#8216;azhim wa biwajhihil kariim wa sulthanihil qadiim minasy syaithaanir rajiim (Aku berlindung kepada Allah yang maha agung dan dengan wajah-Nya yang mulia serta kekuasaan-Nya yang ada semenjak dulu kala, dari godaan syaithan yang terkutuk).”</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong>, sahih)</p>
<p><strong>Apabila terlambat sholat jama&#8217;ah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi sholat -berjama&#8217;ah- sedangkan imam sedang berada dalam suatu keadaan/posisi maka lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh sang imam.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi </strong>dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu,</em> sahih)</p>
<p><strong>Sholat Tarawih</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menegakkan sholat malam di bulan Ramadhan karena dorongan iman dan mencari pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> berkata, <em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah menambah di bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lainnya lebih dari sebelas raka&#8217;at&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sholat malam itu dua-dua (salam setiap 2 roka&#8217;at, pent)&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya apabila seseorang sholat -tarawih, pent- bersama imam sampai selesai maka dihitung baginya pahala sholat semalam suntuk.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Nasa&#8217;i</strong> dari Abu Dzarr <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, sahih)</p>
<p><strong>Perbanyak membaca al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> dari Utsman bin Affan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum karena Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain karena Kitab ini pula.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Pahami kandungan al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki menjadi baik oleh Allah, maka akan dipahamkan dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Mu&#8217;awiyah bin Abu Sufyan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Hisablah dirimu</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengerjakannya. Amat besar kemurkaan di sisi Allah kalian mengucapkan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengerjakannya.”</em> (<strong>QS. ash-Shaff: 2-3</strong>). Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak akan bergeser dua telapak kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ditanyakan kepadanya mengenai empat perkara..” Salah satunya beliau sebutkan, “Tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan dengannya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dari Abu Barzah al-Aslami <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> <em>hasan sahih</em>)</p>
<p><strong>Dzikir sebelum tidur</strong></p>
<p>Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menceritakan bahwa suatu ketika istrinya Fathimah -<em>radhiyallahu&#8217;anha</em>- meminta diberikan pembantu kepada ayahnya yaitu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Maka beliau bersabda, <em>“Maukah ku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik bagimu daripada pembantu. Apabila kamu hendak berbaring ke tempat tidur bacalah tasbih -Subhanallah- tiga puluh tiga kali, bacalah tahmid -Alhamdulillah- tiga puluh tiga kali, dan bacalah takbir -Allahu akbar- tiga puluh tiga kali.”</em> Ali pun berkata, <em>“Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Perjuangan di sepuluh hari terakhir</strong></p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersungguh-sungguh -dalam beribadah- pada sepuluh hari terakhir -Ramadhan- lebih daripada kesungguhan beliau pada hari-hari yang lainnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Carilah lailatul qadar (malam kemuliaan) pada [malam ganjil] sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>)</p>
<p><strong>Tunaikan zakat fithri di akhir Ramadhan</strong></p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menunaikan zakat Ramadhan seukuran satu sho&#8217; makanan, dari anak kecil, orang tua, orang merdeka maupun budak.”</em> (<strong>HR. Ibnu Khuzaimah</strong>, sahih). Abdul Warits bertanya kepada Ayyub<em> </em>[salah seorang murid Ibnu Umar], <em>“Kapan Ibnu Umar biasa menyerahkan sho&#8217; -zakatnya-?”</em>. Dia -Ayyub- menjawab, <em>“Ketika amil (petugas khusus) sudah duduk -membuka layanan-.”</em> Aku -Abdul Warits- berkata, <em>“Lalu kapan amil itu mulai bertugas?”</em>. Ayyub menjawab, <em>“Sebelum -iedul- fithri sehari atau dua hari.”</em> (<strong>HR. Ibnu Khuzaimah</strong>). Dan zakat ini disalurkan kepada orang-orang miskin, karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“&#8230; ia merupakan bahan makanan untuk orang-orang miskin&#8230;”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, Abu Dawud</strong> dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, hasan)</p>
<p>Demikianlah sebagian rangkaian ibadah wajib maupun sunnah yang bisa ditunaikan di bulan Ramadhan. Semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melimpahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya, dan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

