<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Kisah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/kisah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kisah Menakjubkan Tentang Sabar dan Syukur Kepada Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 14:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[WEB USTADZ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc. Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc.</strong></p>
<p>Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama<strong> Abu Qilabah </strong>bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.</p>
<p><span id="more-1775"></span>Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu &#8216;anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, <strong>&#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;</strong>&#8221;</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.</p>
<p>Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, &#8220;Aku mendengar engkau berkata &#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;, maka nikmat manakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut??, dan kelebihan apakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu hingga engkau menysukurinya??&#8221;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8220;Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku?, demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya maka tolonglah engkau mencari kabar tentangya –semoga Allah merahmati engkau-&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau&#8221;.</p>
<p>Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gudukan pasir, tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan di makan oleh binatang buas, akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun. Aku berkata, &#8220;Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??&#8221;.</p>
<p>Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Tatkala aku menemui orang tersbut maka akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?&#8221;, aku berkata, &#8220;Benar&#8221;. Ia berkata, &#8220;Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?&#8221;.</p>
<p>Akupun berkata kepadanya, &#8220;Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihissalam?&#8221;, ia berkata, &#8220;Tentu Nabi Ayyub ‘alaihissalam &#8220;, aku berkata, &#8220;Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?&#8221;, orang itu berkata, &#8220;Tentu aku tahu&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?&#8221;, ia berkata, &#8220;Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikapnya?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?&#8221;, ia berkata, &#8220;Iya&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, lagsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau&#8221;. Orang itu berkata, <strong>&#8220;Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka&#8221;</strong>, kemudian ia berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.  Aku berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[1]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis. Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku &#8220;Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?&#8221;.</p>
<p>Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu  mereka berkata, &#8220;Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!&#8221;, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, &#8220;Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!&#8221;.</p>
<p>Aku bertanya kepada mereka, &#8220;Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?&#8221;, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu &#8216;Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan. Tatkala tiba malam hari akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah</p>
<h5>}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ{ (الرعد:24)</h5>
<p>&#8220;Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.&#8221; (QS. 13:24)</p>
<p>Lalu aku berkata kepadanya, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua&#8221;, ia berkata, &#8220;<strong>Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai</strong>&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>[1] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Sumber: situs pribadi guru kami Ustadz Firanda -<em>hafizhahullah</em>- <a href="http://firanda.com" target="_blank">http://firanda.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekedar Untuk Mengingat</title>
		<link>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 04:35:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Sykur]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1723</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka dahulunya, adalah para pemuda yang rajin mengikuti majelis ilmu dan duduk mendengarkan ceramah agama. Bahkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka dahulunya, adalah para pemuda yang rajin mengikuti majelis ilmu dan duduk mendengarkan ceramah agama. Bahkan, beberapa di antara mereka adalah mantan tokoh-tokoh penggerak kegiatan dakwah di kampusnya. Tragis, gelar aktifis yang dulu mereka sandang kini telah berubah drastis. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1723"></span><span style="font-weight: normal;">Jenggot di dagu terpangkas habis, celana yang dulu diangkat di atas mata kaki -yang menandakan pengagungan terhadap Sunnah Nabi- kini telah terjurai menyentuh bumi, sosok yang dulunya sangat menjaga hubungan dengan perempuan non mahram kini telah terseret dalam aktifitas pacaran -bahkan dengan perempuan beda agama [!]-, pemuda yang sebelumnya akrab dengan majelis ilmu agama kini telah hanyut dalam dunia lain yang melalaikan dirinya dari tujuan hidupnya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Aduhai, semoga Allah mengembalikan mereka ke jalan-Nya&#8230;</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku, mengingat akan nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita merupakan perkara yang sangat penting dan banyak dilalaikan oleh manusia. Padahal, kita tahu bahwa semua kebaikan yang ada pada diri kita pada hakekatnya adalah anugerah dan karunia dari Allah ta&#8217;ala, sebuah nikmat yang harus kita syukuri dan kita senantiasa mohon kepada Allah agar meneguhkan kita di atas petunjuk dan bimbingan-Nya. Bukannya membuat kita malah menjadi sombong dan berubah menjadi hamba yang tidak bisa berterima kasih kepada Rabbnya. Perkara ini sudah sangat jelas sehingga semua orang niscaya bisa memahaminya dengan izin Allah. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan senantiasa mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur/ingkar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Baqarah</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengingatkan kita untuk senantiasa meminta tambahan petunjuk dan keteguhan agar kita bisa menjalani kehidupan dunia yang penuh dengan coba ini di atas rel yang semestinya. </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dalam sehari semalam tujuh belas kali kalimat ini kita ucapkan, yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita terhadap pancaran cahaya petunjuk dan bimbingan-Nya. Kalaulah Allah tidak menunjuki kita, maka kita akan tenggelam dalam berbagai kegelapan yang berlapis-lapis. Kegelapan dosa, kegelapan bid&#8217;ah, kegelapan syirik, atau bahkan kegelapan kemunafikan yang menjalar ke berbagai sikap dan perilaku hidup kita. Sehingga dengan kegelapan yang demikian pekat itu, kita tidak bisa melihat kebenaran sebagaimana mestinya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah keluarkan mereka dari bebagai kegelapam menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang akan mengeluarkan mereka dari cahaya menuju berbagai kegelapan.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Baqarah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span><em><span style="font-weight: normal;">. </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Maka tidak ada orang yang selamat dari kegelapan-kegelapan ini kecuali orang yang diberi taufik oleh Allah untuk tegar dalam menghadapi ujian, tidak tergoda dan terlena oleh kepalsuan dunia, tidak goyah oleh gemerlap kemewahan, dan senantiasa mengingat bahwa hidupnya di alam dunia ini hanyalah sejenak. Yang digambarkan oleh Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> layaknya seorang pengendara yang singgah di bawah sebatang pohon kemudian pergi meninggalkannya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang cerdas tentu tidak akan menjadikan pohon yang akan tumbang itu sebagai tempat tinggalnya, dia akan melanjutkan perjalanannya dan tidak terlena oleh sejuknya angin maupun rindangnya dedaunan. Karena perjalanannya masih jauh dan membutuhkan perbekalan yang cukup untuk mencapai tujuan dalam keadaan selamat. Saudaraku, cukuplah bagi kita firman Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Siapkanlah bekalmu wahai saudaraku, sebelum mulut terkunci dan sekujur tubuhmu menjadi kaku&#8230; </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dhimam bin Tsa&#8217;labah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 21:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Ahad]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sanad]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1714</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu, beliau mengatakan: Suatu saat ketika kami sedang duduk-duduk bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di masjid, kemudian ada seorang lelaki yang datang dengan mengendarai seekor onta, lantas dia berhentikan ontanya itu di masjid lalu mengikatnya. Kemudian dia berkata, “Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?”. Ketika itu Nabi shallallahu &#8216;alaihi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dhimam-bin-tsalabah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dhimam-bin-tsalabah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><span style="font-weight: normal;">Dari Anas bin Malik </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau mengatakan: Suatu saat ketika kami sedang duduk-duduk bersama Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> di masjid, kemudian ada seorang lelaki yang datang dengan mengendarai seekor onta, lantas dia berhentikan ontanya itu di masjid lalu mengikatnya. Kemudian dia berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Ketika itu Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> sedang duduk sandaran di  antara mereka. Maka kami katakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ini orangnya, lelaki yang berkulit putih dan sedang bersandar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Lalu lelaki itu pun berkata kepada beliau, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Ibnu Abdil Muthallib?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya, aku akan menyambut keinginanmu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kemudian lelaki itu berkata kepada Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku akan bertanya kepadamu yang mungkin terlalu mengusik dirimu dalam menjawab pertanyaan itu. Maka janganlah engkau menyimpan kemarahan kepadaku disebabkan hal itu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Nabi berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tanyakanlah apa yang kira-kira tampak perlu bagimu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia bertanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku bertanya kepadamu dengan menyebut nama Rabbmu dan Rabb orang-orang sebelummu, apakah benar Allah mengutusmu kepada semua umat manusia?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Beliau menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allahumma, hal itu memang benar.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah yang memerintahkanmu supaya kami menunaikan sholat lima waktu dalam sehari semalam?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Nabi menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allahumma, hal itu memang benar.” Lalu dia berkata, “Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah memerintahkanmu agar kami berpuasa pada bulan -Ramadhan- ini dalam setiap tahunnya?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Nabi menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allahumma, hal itu memang benar.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah memerintahkanmu untuk memungut sedekah/zakat ini dari kalangan orang kaya di antara kami lalu kamu bagikan kepada orang miskin di antara kami?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Maka Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menjawab, “</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahumma, benar apa yang kamu ucapkan.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">lelaki itu berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku telah beriman kepada semua ajaran yang kamu bawa. Dan aku adalah utusan dari kaumku yang ada di belakangku. Namaku Dhimam bin Tsa&#8217;labah, salah seorang kerabat Bani Sa&#8217;d bin Bakr.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Bukhari [63] dan Muslim [12]</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/182-183] dan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/25-26])</span></span></p>
<p><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1714"></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Kisah ini mengandung faedah, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	seorang pemimpin duduk sambil bersandar di antara para pengikutnya. 	Kisah di atas menunjukkan kerendahan hati Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> yang tidak bersikap sombong sehingga mau untuk duduk-duduk bersama 	para sahabatnya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/183]). Maka sudah semestinya bagi seorang pemimpin untuk 	duduk-duduk bersama bawahannya untuk mendengar permasalahan dan 	keluhan mereka. Aduhai, alangkah indah adab dan akhlak yang 	dicontohkan oleh Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230; </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	dimaksud memberhentikan onta di masjid di dalam riwayat di atas 	adalah meletakkannya di pelataran masjid. Hal itu sebagaimana 	disebutkan dengan jelas dalam riwayat Ahmad dan al-Hakim dari Ibnu 	Abbas yang bunyinya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Maka 	dia pun memberhentikan ontanya di dekat pintu masjid dan mengikatnya 	lalu dia masuk -masjid-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/184]). Hal ini -</span></span><em><span style="font-weight: normal;">wallahu 	a&#8217;lam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">- 	mengisyaratkan bolehnya membuat tempat parkir kendaraan di halaman 	masjid. Bahkan, hal itu bisa jadi diperintahkan apabila ternyata 	dengan tidak adanya lahan khusus untuk parkir menyebabkan gangguan 	bagi masyarakat yang berlalu-lalang di sekitar masjid. Maka alangkah 	bijaknya para pembangun masjid yang tidak melupakan adanya tempat 	parkir khusus jama&#8217;ah di seputar masjid&#8230;</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hendaknya 	seorang murid atau penuntut ilmu mengajukan pertanyaan kepada 	gurunya dengan cara yang baik dan santun. Hal itu sebagaimana yang 	dicontohkan oleh Dhimam yang dengan santun mengajukan permohonan 	maafnya sebelum bertanya perkara yang bisa jadi mengusik perasaan 	Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Dan hendaknya sang murid mengajukan pertanyaan tanpa terlalu 	berpanjang lebar. Umar bin Khattab </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkomentar mengenai kisah ini, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku 	belum pernah melihat orang yang lebih bagus dalam mengajukan 	pertanyaan dan lebih ringkas dalam menyampaikannya daripada Dhimam.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/184])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini dijadikan dalil oleh al-Hakim untuk menegaskan anjuran untuk 	mencari sanad yang lebih tinggi dalam istilah ilmu hadits. Karena 	Dhimam bin Tsa&#8217;labah dalam kisah ini sebenarnya sedang menanyakan 	apa-apa yang telah disampaikan kepadanya oleh utusan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> yang beliau kirim kepada kaumnya, sebagaimana disebutkan dalam 	riwayat Muslim. Maka Dhimam sangat ingin mendengar hal itu secara 	lagsung dari lisan Rasul </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> demi lebih memperkuat keyakinannya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/185] dan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/25]). Yang dimaksud sanad yang lebih tinggi adalah yang lebih 	dekat dengan Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	atau lebih pendek jalurnya. Sanad yang lebih tinggi lebih utama 	karena lebih jauh dari kekeliruan dan kesalahpahaman. Imam Ahmad bin 	Hanbal berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sanad 	yang tinggi merupakan sunnah orang-orang yang terdahulu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Bahkan beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Mencari 	ketinggian sanad itu merupakan bagian dari agama.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Hadits 	an-Nabawi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 150-152). Saya katakan: Hal ini mengisyaratkan bahwa hendaknya 	kita berusaha untuk sebisa mungkin dekat dengan para ulama dan 	bimbingan mereka. Termasuk di dalamnya adalah dengan cara menggali 	ilmu dari murid-murid para ulama. Lihatlah, betapa banyak 	penyimpangan dan perselisihan yang timbul tatkala para penimba ilmu 	yang masih pemula tidak menggubris bimbingan para ulama besar 	mereka&#8230; </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul 	musta&#8217;aan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga merupakan hujjah/argumen yang sangat kuat untuk beramal 	dengan hadits ahad (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/186], </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/27]). Hadits ini juga menunjukkan wajibnya menerima hadits ahad 	dalam masalah akidah. Mengkhususkan bolehnya berhujjah dengan hadits 	ahad dalam masalah hukum saja -bukan untuk akidah- merupakan 	tindakan tanpa dalil dan perkara yang batil (lihat lebih lengkap 	dalam </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Muntaha 	al-Amani bi Fawa&#8217;id Mushtholah Hadits li al-Albani</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 83 dan sesudahnya)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	menisbatkan seseorang kepada kakeknya apabila kakeknya memang lebih 	terkenal daripada bapaknya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/187]). Yang dimaksud adalah sebutan Ibnu Abdil Muthallib yang 	diucapkan oleh Dhimam kepada Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Padahal, Abdul Muthallib adalah kakek Nabi bukan ayahnya. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	meminta orang lain untuk bersumpah dalam rangka menambah keyakinan 	dan untuk memperkuat penegasan suatu perkara (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/187])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini merupakan dalil yang menunjukkan bolehnya bersandar kepada 	bacaan seorang murid di hadapan gurunya yang biasa disebut dalam 	ilmu hadits sebagai </span></span><em><span style="font-weight: normal;">qiro&#8217;ah 	&#8216;alal alim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> atau </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-&#8217;ardh</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Orang yang membaca di hadapan gurunya sedangkan gurunya membenarkan 	atau mendiamkannya itu sama hukumnya dengan orang mendengar hal itu 	langsung dari penuturan gurunya. Sufyan berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apabila 	dibacakan kepada seorang muhaddits maka tidak mengapa kamu katakan, 	&#8216;haddatsani&#8217; -telah menuturkan kepadaku-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Imam Malik dan Sufyan ats-Tsauri berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Membaca 	di depan seorang alim dengan bacaan orang alim itu sendiri adalah 	sama.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/181-182], </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Hadits 	an-Nabawi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 200-201)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa wajibnya mengerjakan sholat lima waktu itu 	berlaku secara berulang-ulang untuk setiap sehari semalam. Demikian 	pula, hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban menjalankan puasa 	Ramadhan itu berlaku di setiap tahun (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/26])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga dijadikan dalil oleh para ulama untuk menyatakan bahwa 	orang-orang awam yang taklid adalah termasuk kaum beriman yang 	diterima keimanannya, selama mereka meyakini kebenaran tanpa 	tercampur dengan keragu-raguan (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/27]). Secara umum hukum taklid itu adalah boleh. Karena hal ini 	merupakan konsekuensi dari firman Allah (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Bertanyalah 	kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. </span></span><span style="font-style: normal;"><strong>an-Nahl: 43</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). 	Taklid diperbolehkan bagi orang yang tidak punya kemampuan untuk 	menggali kesimpulan hukum dari dalil. Adapun apabila dirinci, maka 	ada juga jenis taklid yang terlarang (lebih lengkap baca </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim 	Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 496 dst)     </span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buatlah Hatiku Tenang, Wahai Jarir! (Sebuah Nasehat untuk Ulil Abshar)</title>
		<link>http://abumushlih.com/buatlah-hatiku-tenang-wahai-jarir-sebuah-nasehat-untuk-ulil-abshar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/buatlah-hatiku-tenang-wahai-jarir-sebuah-nasehat-untuk-ulil-abshar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 19:54:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzul Khalashah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Ahad]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[JIL]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Parang]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Siroh]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1652</guid>
		<description><![CDATA[Dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu&#8217;anhu, Jarir berkata: Suatu ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Wahai Jarir, maukah engkau menenangkan hatiku dari memikirkan Dzul Khalashah?” &#8211;itu adalah sebuah rumah di Khats&#8217;am (sebuah tempat di Yaman, pent) yang dijuluki sebagai Ka&#8217;bahnya Yaman (yang di dalamnya terdapat berhala yang dipuja-puja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbuatlah-hatiku-tenang-wahai-jarir-sebuah-nasehat-untuk-ulil-abshar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbuatlah-hatiku-tenang-wahai-jarir-sebuah-nasehat-untuk-ulil-abshar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir bin Abdullah al-Bajali </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Jarir berkata: Suatu ketika Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata kepadaku, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Jarir, maukah engkau menenangkan hatiku dari memikirkan Dzul Khalashah?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> &#8211;itu adalah sebuah rumah di Khats&#8217;am  (sebuah tempat di Yaman, pent) yang dijuluki sebagai </span><strong>Ka&#8217;bahnya Yaman</strong><span style="font-weight: normal;"> (yang di dalamnya terdapat berhala yang dipuja-puja, pent)&#8211;. Jarir berkata: Akupun bergegas berangkat -ke sana, untuk berperang, pent- bersama dengan seratus lima puluh pasukan berkuda -dari suku Ahmas, pent-. Sebenarnya aku ini tidak begitu tangguh mengendarai kuda. Hal itu aku ceritakan kepada Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, maka beliau pun menepukkan telapak tangannya ke dadaku seraya berdoa, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikan dia pemberi petunjuk dan senantiasa terbimbing.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Qais berkata: Maka berangkatlah Jarir ke sana dan berhasil membakar hangus rumah itu dengan api. Kemudian Jarir mengutus seseorang di antara kami untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Orang itu biasa dipanggil dengan sebutan Abu Arthah -nama aslinya Husain bin Rabi&#8217;ah, pent-. Sesampainya dia di hadapan Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, dia pun melapor, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah saya datang menghadap anda kecuali kami telah meninggalkannya dalam keadaan -hangus, pent- bagaikan seekor onta yang terkena kudis di sekujur tubuhnya.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Maka Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> pun mendoakan keberkahan bagi kuda-kuda suku Ahmas beserta pasukannya sebanyak lima kali. (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [8/98-100] dan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Shahih Bukhari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> hal. 633,635,795,900,1253,1293)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1652"></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Anjuran 	untuk mengirimkan utusan yang menyampaikan kabar gembira berupa 	keberhasilan penaklukan musuh dan yang semacamnya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [8/99]). Hadits ini juga menunjukkan anjuran untuk memberikan kabar 	gembira kepada sesama muslim yang dapat membuat hatinya senang, 	sebagaimana dalam hadits Mu&#8217;adz bin Jabal yang populer itu.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kesenangan 	dan kebahagiaan jiwa Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan para sahabatnya adalah dengan berjayanya tauhid dan tumbangnya 	syirik. Maka perhatikanlah hal ini baik-baik </span></span><em><span style="font-weight: normal;">wahai 	saudaraku terutama para da&#8217;i</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">,&#8230; 	Hendaknya kita berupaya untuk meneladani mereka. Betapa besarnya 	perjuangan mereka -generasi salaf- dalam mendakwahkan tauhid ke 	berbagai penjuru dunia. Yang hal itu menunjukkan kepada kita bahwa 	yang menjadi </span></span><span style="font-style: normal;"><strong>cita-cita 	tertinggi</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> perjuangan mereka adalah agar umat manusia menyembah kepada Allah 	saja dan mengingkari thaghut/sesembahan selain Allah. Bukankah Allah 	telah menegaskan tujuan agung ini dalam firman-Nya (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh Kami 	telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyeru; 	sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. an-Nahl: 36). Sehingga dakwah tauhid itulah yang menjadi ruh 	perjuangan mereka, bukan dakwah menuju kekuasaan ataupun 	kesejahteraan ekonomi, apalagi tendensi untuk meraih simpati duniawi 	semua umat beragama! </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Camkan 	hal ini baik-baik, wahai para pemuda!</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">al-Hafizh 	Ibnu Hajar </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak 	ada sesuatu pun yang lebih melelahkan bagi hati Nabi shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam melainkan keberadaan sosok pujaan selain Allah 	ta&#8217;ala yang dipersekutukan dengan-Nya -dalam hal ibadah-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [7/671] pdf). Maka hal ini mencerminkan kebencian dan keresahan yang 	amat mendalam pada diri Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> karena bercokolnya kemusyrikan di atas muka bumi ini. Tentunya hal 	ini sangat bertolak belakang dengan sikap sebagian orang yang 	dijuluki sebagai cendekiawan Islam dan &#8216;kelompok pembaharu&#8217; (baca: </span></span><span style="font-style: normal;"><strong>JIL dan 	antek-anteknya</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) 	yang sangat tidak suka apabila rasa kebencian terhadap syirik dan 	pelakunya itu ditanamkan dalam hati umat Islam. Tidakkah kita ingat, 	wahai pembaca yang budiman.. indahnya firman Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh 	telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Ibrahim dan 	orang-orang yang bersamanya. Yaitu ketika mereka berkata kepada 	kaumnya, &#8216;Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa 	yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan </span></em><em><strong>telah 	tampak jelas adanya permusuhan dan kebencian antara kami dengan 	kalian</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">, untuk 	selama-lamanya sampai kalian mau beriman (beribadah) kepada Allah 	semata&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Mumtahanah: 4). Maka ambillah pelajaran, wahai </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ulil 	abshar</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (orang yang punya pikiran)&#8230;! </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">al-Hafizh 	Ibnu Hajar </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Di 	dalam hadits ini terkandung ajaran yaitu disyari&#8217;atkannya 	melenyapkan sesuatu yang memicu merajalelanya fitnah/keburukan bagi 	manusia, baik yang berujud bangunan atau selainnya; apakah dia 	tergolong jenis manusia, binatang, atau bahkan benda mati.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [7/673] pdf). Di antara pemicu fitnah terbesar di negeri ini yang 	harus [segera] dilenyapkan adalah keberadaan Jaringan Islam Liberal 	beserta segala institusi yang mereka bangun untuk mempropagandakan 	kesesatan mereka. Mudah-mudahan pemerintah negeri ini -</span></span><em><span style="font-weight: normal;">semoga 	Allah membimbing mereka</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">- 	bisa segera mengambil tindakan demi keselamatan akidah kaum 	muslimin, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahumma 	amin</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Demikian juga tindakan ini mestinya diberlakukan kepada semua 	penebar fitnah kekafiran dan kemusyrikan di mana saja. Hal ini 	mengisyaratkan pentingnya pemerintah kaum muslimin untuk <strong>memahami 	akidah yang benar dan berjuang mempertahankannya</strong> dengan kekuasaan 	yang mereka miliki.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Ajaran 	untuk menjinakkan hati suatu masyarakat dengan mengangkat orang 	sebagai pemimpin bagi mereka yang dia itu adalah berasal dari 	masyarakat itu sendiri (putra daerah) (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [7/673] pdf). </span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Keutamaan 	pasukan penunggang kuda di dalam peperangan </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [7/673] pdf). Hal ini merupakan bagian dari perwujudan firman Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan 	persiapkanlah untuk menghadapi mereka -orang kafir- kekuatan apa 	saja yang mampu kalian siapkan, dan juga kuda-kuda yang ditambatkan 	-khusus untuk perang- dalam rangka menakut-nakuti musuh Allah dan 	musuh kalian serta musuh lain selain mereka&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Anfal: 60) </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Wajibnya 	menerima <strong>hadits ahad</strong> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [7/673] pdf). Yaitu tatkala Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menerima berita seorang utusan Jarir yang menyampaikan kabar gembira 	tersebut. Dan tentu saja di dalam berita itu terkandung konsekuensi 	aqidah; yaitu meyakini kebenarannya. Maka hadits yang mulia ini 	merupakan bantahan bagi sebagian gerakan dakwah yang menyerukan 	untuk kembali kepada syari&#8217;at Islam namun pada saat yang sama mereka 	sendiri justru tidak memahami syari&#8217;ah, bahkan tidak paham aqidah, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Sadarlah wahai 	Syabaab..</span></em></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	tindakan yang agak berlebihan dalam menghancurkan musuh (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [7/673] pdf). Tentu saja hal ini dengan mempertimbangkan maslahat 	dan madharat yang ditimbulkan. Karena kita mengetahui bahwa salah 	satu kaidah baku dalam bab </span></span><em><span style="font-weight: normal;">amar 	ma&#8217;ruf dan nahi mungkar</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> adalah <span style="text-decoration: underline;">tidak boleh melakukan ingkarul mungkar tatkala dampaknya 	justru melahirkan kemungkaran lain yang lebih besar</span> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Amru 	bil Ma&#8217;ruf wa an-Nahyu &#8216;anil Munkar</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 33). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Keutamaan 	sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> beserta kaumnya (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [7/673] pdf). Yaitu berupa kepatuhan beliau terhadap Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan perjuangannya dalam menumpas kesyirikan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Barokah 	yang ada pada telapak tangan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan doa yang beliau panjatkan (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [7/673] pdf).</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk mengulangi doa sebanyak jumlah bilangan ganjil. Hadits ini 	menunjukkan bahwa Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> terkadang mengulangi doanya lebih dari 3 kali. Maka hadits ini 	merupakan dalil pengkhusus/</span></span><em><span style="font-weight: normal;">takhshish</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> terhadap ucapan Anas, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Beliau/Nabi 	kalau berdoa -mengulanginya- sebanyak tiga kali.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Sehingga 3 kali itu ditafsirkan sebagai kebiasaan beliau secara 	umum. Kejadian ini menunjukkan bahwa kondisinya memang menuntut hal 	itu -yaitu mendoakan mereka lebih dari 3 kali- dikarenakan jasa 	mereka yang sangat besar dalam memberantas kekafiran dan membela 	Islam (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [7/673] pdf).</span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/buatlah-hatiku-tenang-wahai-jarir-sebuah-nasehat-untuk-ulil-abshar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bangunlah, Wahai Abu Turab!</title>
		<link>http://abumushlih.com/bangunlah-wahai-abu-turab.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bangunlah-wahai-abu-turab.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 09:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kun-yah]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[Suami-Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1632</guid>
		<description><![CDATA[Dari Sahl bin Sa&#8217;d radhiyallahu&#8217;anhu, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam datang ke rumah Fathimah -putri beliau- radhiyallahu&#8217;anha namun beliau tidak menemukan Ali -suami Fathimah- ada di rumah. Maka beliau berkata, “Dimana putra pamanmu?”. Fathimah menjawab, “Ada sesuatu antara aku dengannya sehingga dia pun memarahiku lalu dia keluar rumah dan tidak tidur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbangunlah-wahai-abu-turab.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbangunlah-wahai-abu-turab.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;d <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> datang ke rumah Fathimah -putri beliau- <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> namun beliau tidak menemukan Ali -suami Fathimah- ada di rumah. Maka beliau berkata, <em>“Dimana putra pamanmu?”</em>. Fathimah menjawab, <em>“Ada sesuatu antara aku dengannya sehingga dia pun memarahiku lalu dia keluar rumah dan tidak tidur siang di sisiku.”</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lantas mengatakan kepada seseorang, <em>“Lihatlah, dimana dia berada.”</em> Kemudian orang itu kembali dan melaporkan, <em>“Wahai Rasulullah, dia berada di masjid, sedang tidur.”</em> Lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mendatanginya dalam keadaan sedang berbaring sementara kain selendangnya lepas dari bahunya -sehingga tampaklah bahunya- dan terkena terpaan debu/tanah (<em>turab</em>, bhs arab). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun mulai mengusap debu dari tubuhnya seraya berkata, <em>“Bangunlah wahai Abu Turab, bangunlah wahai Abu Turab.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/627] dan <em>Syarh Muslim</em> [8/34])</p>
<p><span id="more-1632"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini menyimpan mutiara hikmah, antara lain:</p>
<ol>
<li>Bolehnya menyebut putra paman (saudara      sepupu) kepada kerabat ayah. Karena Ali bin Abi Thalib adalah putra dari      paman Nabi -yaitu Abu Thalib- dan bukan putra dari paman Fathimah (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [1/627])</li>
<li>Arahan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> -sebagai      seorang bapak- kepada Fathimah -putrinya- agar berbicara dengan suaminya      menggunakan sebutan itu. Karena di dalam sebutan tersebut terdapat unsur      kelemahlembutan dan jalinan kedekatan yang timbul karena ikatan tali      kekerabatan. Seolah-olah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memahami apa yang ketika itu tengah terjadi di antara putrinya dengan sang      suami -yaitu Ali bin Abi Thalib-. Dengan ungkapan itu beliau ingin agar      putrinya bersikap lembut dan      perhatian (tidak bersikap cuek/masa bodoh)      terhadap suaminya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/627])</li>
<li>Tidur siang merupakan kebiasaan para salaf. Sebagaimana yang      dikatakan oleh Sahl bin Sa&#8217;d <em>radhiyalahu&#8217;anhu</em>, <em>“Dahulu kami      sering tidur siang -sebelum waktu zuhur- dan baru menikmati santap siang      setelah sholat Jum&#8217;at.” </em>(HR. Bukhari). Adapun hadits riwayat      at-Thabrani yang bunyinya, <em>“Tidurlah siang, karena sesungguhnya syaitan      tidak tidur siang.”</em> maka al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, <em>“Di dalam      sanadnya terdapat Katsir bin Marwan, sedangkan dia ini matruk/haditsnya      ditinggalkan.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/79]). Yang dimaksud      dengan <em>&#8216;qoilulah&#8217;</em> (tidur siang) adalah tidur di pertengahan hari      (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/34]). al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, <em>“Qailulah      adalah tidur di tengah siang, yaitu ketika matahari tergelincir ke barat,      dan beberapa saat sebelum atau sesudahnya.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [11/79]).</li>
<li>Boleh tidur siang di masjid, meskipun orang tersebut memiliki      kamar tidur di rumahnya dan meskipun hal itu -tidur di sana- bukan      merupakan suatu keperluan yang mendesak baginya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/627] dan [11/79-80]).</li>
<li>Hadits ini juga dijadikan dalil yang menunjukkan bolehnya kaum      lelaki tidur di masjid -meskipun di malam hari-, sebagaimana diungkapkan      oleh al-Bukhari dan an-Nawawi (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/34] dan <em>Fath      al-Bari</em> [1/626]. Hal itu -bolehnya sering tidur di masjid- berlaku      terutama bagi orang yang  belum      punya tempat tinggal yang menetap, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu      Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, bahwa beliau bersama dengan seorang      pemuda lajang yang belum berkeluarga biasa tidur di masjid Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/627])</li>
<li>Hendaknya mengatasi kemarahan yang timbul -seperti yang sering      terjadi dalam rumah tangga, antara suami dengan istri- dengan cara yang      tidak membangkitkan kemarahan pula, dan semestinya berusaha menempuh cara      agar kemarahan tersebut menjadi reda dan suasana menjadi cair (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [1/627])</li>
<li>Boleh memberi nama kun-yah (panggilan dengan Abu atau Ummu)      kepada seseorang -ataupun untuk diri sendiri- bukan dengan menggunakan      nama anaknya, sebagaimana halnya Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> yang disebut oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan Abu      Turab/bapaknya tanah (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/627])</li>
<li>Boleh memberi tambahan nama kun-yah kepada orang yang sudah      memiliki nama kun-yah. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya menjuluki      seseorang (memberikan <em>laqab</em>/gelar) dengan memakai nama kun-yah      terhadap orang yang tidak marah akibat julukan itu (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/627-628])</li>
<li>Seorang ayah boleh masuk rumah putrinya tanpa harus ijin      terlebih dulu kepada suaminya selama dia mengetahui bahwa hal itu diridhai      olehnya, artinya suami dari putrinya tidak akan mempermasalahkan hal itu      (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/628])</li>
<li>Tidak mengapa/tidak terlarang -bagi lelaki- menampakkan kedua      bahu dalam keadaan terbuka (tidak tertutup kain/baju) di luar kondisi      mengerjakan sholat (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/628]). Walaupun tentu      saja yang lebih utama adalah menutupnya -karena itu lebih indah-, apalagi      jika berada di tempat umum yang dilihat orang banyak -lelaki ataupun      perempuan- sehingga akan menyebabkan rasa risih bagi orang yang      melihatnya, <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</li>
<li>Problematika dalam hidup berumah tangga adalah masalah yang      biasa terjadi kepada siapa saja. Namun, yang menjadi catatan adalah      bagaimana cara menyelesaikan persoalan tersebut dengan baik dan tidak      menimbulkan mafsadat atau kekacauan yang lebih besar. Oleh sebab itu dibutuhkan      kesabaran dan sikap saling pengertian di antara komponen rumah tangga.</li>
<li>Kebiasaan suami ketika menemui masalah dengan istrinya adalah      keluar/pergi meninggalkan rumahnya. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> memberikan contoh yang baik dimana beliau tidak pergi ke tempat yang      bukan-bukan, akan tetapi beliau pergi ke masjid dan memilih beristirahat      di sana. Dan hal ini sekaligus menunjukkan betapa kuat keterikatan hati      beliau dengan masjid dan ketergantungan hatinya kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>.      Ditinjau dari sudut ini, maka hadits ini menunjukkan keutamaan Ali bin Abi      Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan besarnya perhatian seorang ayah kepada      putrinya meskipun di saat putrinya sudah berumah tangga. Dan demikianlah      yang dicontohkan oleh Nabi kita <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,      dimana beliau ikut memperhatikan keadaan rumah tangga putrinya dan sangat      menginginkan keharmonisan rumah tangga yang mereka bina.</li>
<li>Perintah untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.      Dan hal ini berlaku secara umum bagi siapa saja, termasuk di dalamnya      dalam lingkup rumah tangga, antara suami dengan istri, bahkan antara orang      tua dengan anak serta menantunya. Inilah bukti kesempurnaan ajaran Islam      yang diturunkan kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Kecintaan dan pengagungan kepada Sunnah Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> pada diri para sahabat adalah sesuatu yang patut      diteladani dan wajib dimiliki oleh setiap mukmin. Sebagaimana halnya Ali      bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> yang sangat menyukai sebutan &#8216;Abu      Turab&#8217; -yang secara makna notabene terkesan tidak mengandung pujian-      dikarenakan orang yang memberikannya adalah Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam </em>sendiri. Sahl bin Sa&#8217;d <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Tidak ada nama yang lebih dicintai oleh Ali selain      -panggilan- Abu Turab, dan sungguh beliau merasa senang jika dipanggil      dengan nama itu.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/34]). <em>Ya      Allah, karuniakanlah kepada hati kami kecintaan terhadap Sunnah, dan      kebencian terhadap Bid&#8217;ah &#8230;</em></li>
<li>Boleh meminta tolong seseorang untuk mencarikan orang lain, dan      hal ini tidaklah mengurangi tawakal. Demikian juga diperbolehkan meminta      bantuan kepada orang lain -jika diperlukan- dalam perkara-perkara      kebaikan, karena hal itu termasuk dalam cakupan perintah saling tolong      menolong dalam kebaikan dan takwa, dengan syarat tetap menggantungkan hati      semata-mata kepada Allah, bukan kepada orang atau sebab/perantara yang      dipakai. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bangunlah-wahai-abu-turab.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jin Yang Disembah Justru Masuk Islam</title>
		<link>http://abumushlih.com/jin-yang-disembah-justru-masuk-islam.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jin-yang-disembah-justru-masuk-islam.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 05:39:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Paganisme]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1627</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau menerangkan tafsir dari firman Allah &#8216;azza wa jalla (yang artinya), “Mereka itu -sosok- yang disembah -selain Allah- justru berusaha mencari kedekatan diri di sisi Rabb mereka, siapakah di antara mereka yang lebih dekat -kepada-Nya-.” (QS. al-Israa&#8217;: 57). Beliau berkata, “Dahulu sekelompok bangsa jin masuk Islam, sedangkan sebelum itu mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjin-yang-disembah-justru-masuk-islam.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjin-yang-disembah-justru-masuk-islam.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau menerangkan tafsir dari firman Allah <em>&#8216;azza wa jall</em>a (yang artinya), <em>“Mereka itu -sosok- yang disembah -selain Allah- justru berusaha mencari kedekatan diri di sisi Rabb mereka, siapakah di antara mereka yang lebih dekat -kepada-Nya-.”</em> (QS. al-Israa&#8217;: 57). Beliau berkata, <em>“Dahulu sekelompok bangsa jin masuk Islam, sedangkan sebelum itu mereka dipuja-puja (disembah) -oleh manusia-. Kemudian orang-orang yang dahulu menyembah mereka tetap bertahan untuk menyembah mereka, padahal sekelompok jin -yang disembah itu- telah masuk Islam.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Shahih Bukhari</em> hal. 983 dan <em>Syarh Muslim</em> [9/270])</p>
<p><span id="more-1627"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini mengandung hikmah, antara lain:</p>
<ol>
<li>Hakekat tauhid adalah dengan menujukan ibadah -di antaranya      adalah doa- hanya kepada Allah <em>ta&#8217;ala </em>(lihat <em>at-Tam-hid li Syarh      Kitab at-Tauhid</em>, hal. 80). Ini artinya, orang yang menujukan ibadah      kepada Allah dan juga kepada selain Allah, maka dia belum dianggap sebagai      orang yang bertauhid, meskipun bekas sujudnya melekat di dahinya dan      bacaan al-Qur&#8217;annya bisa membuat menangis semua orang yang mendengarnya!</li>
<li>Tauhid mengandung sikap berlepas diri dari segala bentuk      kemusyrikan/peribadatan kepada selain Allah. Sehingga tidak ada yang boleh      disembah selain Allah siapapun atau apapun bentuknya (lihat <em>al-Qaul      al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/94], <em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid      at-Tauhid</em>, hal. 32).</li>
<li>Bantahan bagi orang yang beranggapan bahwa kesyirikan yang      dilakukan oleh orang-orang musyrik hanya disebabkan mereka memuja      berhala/patung (lihat catatan kaki dalam <em>Fath al-Majid Syarh Kitab      at-Tauhid</em>, hal. 93)</li>
<li>Mengabulkan doa merupakan salah satu bagian dari keesaan      rububiyah Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid</em>,      hal. 80). Oleh sebab itu menujukan doa kepada selain Allah merupakan      kekafiran/pengingkaran kepada tauhid. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang      artinya), <em>“Barangsiapa yang berdoa kepada sesembahan tandingan selain      Allah yang tidak ada bukti untuk membenarkannya maka sesungguhnya      perhitungannya adalah di sisi Rabbnya, sesungguhnya orang-orang kafir itu      tidaklah beruntung.”</em> (QS. al-Mu&#8217;minun: 117).</li>
<li>Kebatilan peribadatan kaum musyrikin kepada selain Allah,      dimana sosok yang mereka ibadahi justru mencari kedekatan diri di sisi      Allah serta mengharapkan rahmat dan takut akan siksa-Nya (lihat <em>al-Jadid      fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 57)</li>
<li>Kesalihan yang ada pada diri sosok yang disembah selain Allah      tidak bisa dijadikan sebagai dalil/alasan untuk membenarkan perbuatan syirik      yang melibatkan diri mereka (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>,      hal. 57). Syirik ya tetap syirik, walaupun yang disembah adalah Nabi atau      malaikat, apalagi yang disembah adalah jin!</li>
<li>Mengucapkan syahadat saja tidak cukup apabila tidak diiringi dengan      sikap mengingkari segala sesembahan selain Allah (lihat <em>al-Jadid fi      Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 58). Oleh sebab itu dakwah yang diserukan      oleh para rasul adalah, <em>“Sembahlah Allah dan jauhilah      thaghut/sesembahan selain Allah.”</em> (lihat QS. an-Nahl: 36)</li>
<li>Mengimani keberadaan makhluk yang disebut dengan jin. Tidak      sebagaimana anggapan sebagian orang yang berpendapat bahwa &#8216;jin&#8217; adalah      sekedar ungkapan yang mewakili segala sesuatu yang samar dan tersembunyi      dan bukan nama bagi suatu makhluk tertentu sebagaimana halnya manusia.      Apakah mereka tidak membaca al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah, sehingga sedemikian      jauh kesesatan mereka? <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</li>
<li>Jin ada yang kafir dan ada yang muslim. Hal ini menunjukkan      bahwa jin juga dibebani kewajiban beribadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya.      Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam ayat-Nya (yang artinya), <em>“Tidaklah      Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (QS. adz-Dzariyat: 56)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jin-yang-disembah-justru-masuk-islam.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ya Allah, Umatku, Umatku&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/ya-allah-umatku-umatku.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ya-allah-umatku-umatku.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 05:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1623</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash radhiyallahu&#8217;anhuma, beliau menceritakan: Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membaca firman Allah &#8216;azza wa jalla mengenai Ibrahim (yang artinya), “Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia, barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia adalah termasuk golonganku.” (QS. Ibrahim: 36). &#8216;Isa &#8216;alaihis salam juga berkata (yang artinya), “Jika Engkau menyiksa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fya-allah-umatku-umatku.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fya-allah-umatku-umatku.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau menceritakan: Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> membaca firman Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengenai Ibrahim (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia, barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia adalah termasuk golonganku.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. Ibrahim: 36). &#8216;Isa </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;alaihis salam</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga berkata (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu, dan apabila Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Ma&#8217;idah: 118). Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya Allah, umatku, umatku.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Dan beliaupun menangis. Allah</span><em><span style="font-weight: normal;"> &#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad -sedangkan Rabbmu tentu lebih mengetahui- lalu tanyakan kepadanya, apa yang membuatmu menangis?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Maka Jibril </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;alaihis sholatu was salam</span></em><span style="font-weight: normal;"> pun menemui beliau dan bertanya kepadanya, lalu Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> memberitakan kepadanya tentang apa yang telah diucapkannya -dan Dia (Allah) tentu lebih mengetahuinya-. Lantas Allah berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad, dan katakan kepadanya, &#8216;Sesungguhnya Kami pasti akan membuatmu ridha berkenaan dengan nasib umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu bersedih.&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/344-345])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1623"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini mengandung pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Keterangan 	mengenai betapa sempurna rasa kasih sayang Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> terhadap umatnya dan perhatian beliau yang sangat besar terhadap 	kemaslahatan umatnya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/345])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk mengangkat kedua belah tangan ketika berdoa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/345])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Kabar 	gembira bagi umat ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Kami 	pasti akan membuatmu ridha berkenaan dengan nasib umatmu, dan Kami 	tidak akan membuatmu bersedih.&#8217; </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> Syarh Muslim </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[2/345])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Keterangan 	mengenai keagungan posisi Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> di sisi Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">dan 	betapa lembut sikap Allah kepada beliau </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/345])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hikmah 	diutusnya Jibril untuk bertanya kepada Nabi adalah demi menampakkan 	kemuliaan yang ada pada diri Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	yang mana beliau berada di sebuah kedudukan -makhluk- yang tertinggi 	sehingga layak untuk dimuliakan dengan bentuk memperoleh apa yang 	bisa membuatnya ridha dari Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/345])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Bolehnya menangis, bahkan itu mencerminkan sifat kasih sayang yang 	ada pada diri seorang hamba. Selama tangisan itu muncul dari 	ketulusan hati, bukan karena pura-pura.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa, Allah tidak membutuhkan 	makhluk-Nya, bahkan para malaikat sekalipun.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Para 	Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;alaihimus 	sholatu was salam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> adalah orang-orang yang sangat menaruh perhatian terhadap nasib 	umatnya dan begitu menyayangi mereka, dan bukti terbesar atas hal 	itu adalah dakwah yang mereka serukan agar manusia kembali ke jalan 	Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya serta taat 	kepada utusan-Nya</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Semestinya 	seorang da&#8217;i merasa sedih dan prihatin dengan keburukan yang menimpa 	masyarakatnya dan berusaha untuk mencari jalan keluar bagi 	permasalahan mereka tersebut. </span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Penetapan 	bahwa Allah berbicara</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Iman terhadap 	keberadaan Malaikat, bahwa mereka itu ada dan bukan sekedar kiasan 	sebuah kekuatan baik yang abstrak/tidak ada wujudnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hakekat 	kepedulian kepada umat adalah kepedulian terhadap agama mereka dan 	bagaimana nasib mereka kelak di akherat. Maka orang yang paling 	peduli terhadap nasib umat adalah para da&#8217;i tauhid, karena upaya 	mereka demi &#8216;menyelamatkan&#8217; orang dari kekalnya siksa neraka&#8230;</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ya-allah-umatku-umatku.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuduhlah Akal Kalian!</title>
		<link>http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 09:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1613</guid>
		<description><![CDATA[Yazid al-Faqir (si bungkuk, tabi&#8217;in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan: Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang banyak berangkat menunaikan ibadah haji.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftuduhlah-akal-kalian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftuduhlah-akal-kalian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yazid <em>al-Faqir</em> (si bungkuk, tabi&#8217;in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan:</p>
<p>Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang banyak berangkat menunaikan ibadah haji.  Kemudian, kamipun keluar di hadapan orang-orang -sembari menyerukan pemikiran Khawarij dan menghasut orang-orang untuk mengikutinya-.</p>
<p><span id="more-1613"></span></p>
<p>Ketika kami melewati Madinah, kami bertemu di sana dengan Jabir bin Abdullah -seorang sahabat Nabi- yang sedang menuturkan hadits dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada sekelompok orang sambil dia duduk bersandar kepada sebuah tiang. Ketika itu, dia menyebutkan hadits tentang <em>al-Jahannamiyun</em> (yaitu orang-orang yang dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke surga).</p>
<p>Aku pun (Yazid) berkata kepadanya,</p>
<p><em>“Wahai Sahabat Rasulullah, apa-apaan yang kalian ceritakan ini? Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka Engkau benar-benar telah menghinakannya.” (QS. Ali Imran: 192). Allah juga menyatakan (yang artinya), “Setiap kali mereka -penduduk neraka- ingin keluar darinya maka mereka pun dikembalikan lagi ke dalamnya.” (QS. as-Sajdah: 20). Lalu apa-apaan yang kalian ucapkan tadi?”. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Jabir pun menjawab, <em>“Apakah Engkau membaca al-Qur&#8217;an?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.”</em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Apakah kamu pernah mendengar (di dalam al-Qur&#8217;an) mengenai maqam/kedudukan agung yang dimiliki oleh Muhammad &#8216;alaihis salam, yaitu yang beliau dibangkitkan oleh Allah di atasnya (maksudnya adalah syafa&#8217;at Nabi kepada umatnya kelak di akherat)?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.” </em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Sesungguhnya hal itu -yang aku sampaikan- merupakan kedudukan terhormat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang dengan sebab itu Allah berkenan mengeluarkan siapa saja yang ingin dikeluarkan-Nya -yaitu semua orang beriman-.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yazid berkata:</p>
<p>Kemudian Jabir menceritakan kejadian diletakkannya jembatan/shirath -di atas neraka- dan bagaimana keadaan orang-orang yang berjalan di atasnya, namun aku khawatir tidak hafal dengan baik rentetan ceritanya. Yang jelas, dia menceritakan bahwa <strong>ada suatu kaum yang keluar dari neraka yang sebelumnya mereka berada di dalamnya</strong>.</p>
<p>Dia -Jabir- berkisah, <em>“Mereka itu keluar darinya dalam keadaan seperti pucuk-pucuk benih tanaman wijen -yang menghitam karena tersengat sinar matahari- (hal iti disebabkan tubuh mereka terbakar di dalam neraka, sebagaimana diceritakan dalam sebagian riwayat). Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah sungai di antara sungai-sungai yang ada di surga dan mandi di dalamnya. Kemudian mereka pun keluar -dalam keadaan putih bersih- seperti lembaran-lembaran kertas.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Setelah mendengar -hadits- itu, maka kami pun rujuk -dari pendapat kami-. Kami berkata, <em>“Sungguh celaka kalian ini -maksudnya adalah diri mereka sendiri- apakah kalian mengira orang tua ini (yaitu Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?”</em>.</p>
<p>Setelah itu, kamipun  kembali pulang -seusai menunaikan ibadah haji-. Demi Allah, tidak ada di antara kami yang tetap berkeras untuk keluar (memberontak sebagaimana Khawarij) kecuali hanya satu orang.</p>
<p>Demikianlah isi kisah itu, atau sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Nu&#8217;aim -seorang guru dari gurunya Imam Muslim yang meriwayatkan hadits ini-.</p>
<p>(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/323-324])</p>
<p>Kisah ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Kewajiban mengimani adanya neraka dan siksaan pedih yang ada di      dalamnya. Sehingga hal itu akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah      kemudian berupaya senantiasa menjauhkan diri dari meninggalkan kewajiban      atau menerjang larangan-Nya.</li>
<li>Semua orang yang beriman pasti masuk ke dalam surga, meskipun      di antara mereka ada juga yang terlebih dahulu &#8216;mampir&#8217; ke neraka untuk      dibersihkan dosa-dosanya, <em>semoga Allah menyelamatkan kita dari      siksanya&#8230;</em></li>
<li>Keutamaan tauhid yang sangat agung, karena tidak mungkin orang      bisa masuk surga tanpa tauhid di dalam dirinya. Orang yang beriman tidak      dikatakan beriman jika dia tidak mengikhlaskan (memurnikan ibadahnya)      untuk Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Oleh sebab itu Allah      berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni      dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang di bawahnya bagi siapa      saja yang dikehendaki-Nya.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 48)</li>
<li>Keadilan para sahabat. Artinya mereka adalah penukil berita dan      hadits-hadits yang terpercaya. Oleh sebab itu para tabi&#8217;in tidak meragukan      kejujuran mereka dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dakwah yang dikumandangkan oleh para sahabat adalah seruan      untuk berpegang teguh dengan Sunnah. Oleh sebab itu mereka adalah      orang-orang yang paling giat menyebarkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah manusia, bahkan mereka itulah      narasumber  kunci periwayatan      hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada      generasi-generasi lain sesudah mereka, <em>semoga Allah membalas jasa-jasa      mereka dengan sebaik-baik balasan</em>.       Oleh sebab itu barangsiapa yang berupaya untuk mendiskreditkan para      sahabat dan menjatuhkan kehormatan mereka di mata kaum muslimin -apalagi      sampai mengkafirkan mereka- maka pada hakekatnya dia ingin menghancurkan      agama Islam yang mulia ini dengan cara menolak riwayat-riwayat mereka! <em>Maha      suci Allah dari perbuatan keji yang mereka lakukan..</em></li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>. Dimana      mereka senantiasa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-Qur&#8217;an kepada      Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (hadits). Karena mereka      meyakini bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah manusia      yang paling paham tentang al-Qur&#8217;an. Dan juga mereka memahami bahwa apa      yang disabdakan oleh Rasul tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur&#8217;an.      Karena kewajiban Rasul adalah menyampaikan apa yang diturunkan oleh Allah.      Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan Kami telah turunkan      kepadamu adz-Dzikra (al-Qur&#8217;an) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa      yang diturunkan kepada mereka dan mudah-mudahan mereka mau memikirkannya.”</em> (QS. An-Nahl: 44). Oleh sebab itu siapapun juga yang meninggalkan manhaj      para sahabat dalam memahami al-Qur&#8217;an dan menerapkannya pasti akan      tersesat&#8230; Kisah ini sebagai salah satu buktinya!</li>
<li>Menyimpang dari manhaj (metode beragama) para sahabat akan      berujung kepada kesesatan. Bagaimana tidak? Sementara Allah <em>&#8216;azza wa      jalla</em> sendiri telah merekomendasikan mereka di hadapan segenap umat      manusia di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Orang-orang      yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta      orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada      mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Allah telah persiapkan      untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka      kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.”</em> (QS.      at-Taubah: 100)</li>
<li>Bantahan bagi Khawarij yang berpemahaman bahwa pelaku dosa      besar kekal di neraka dan tidak mungkin keluar darinya. Dan pembuktian      kepada mereka bahwa kesalahan yang mereka lakukan <strong>bukan terletak pada      dalil</strong> (sumber hukum) yang mereka pakai, akan tetapi <strong>letak kesalahan      mereka adalah dalam hal istidlal</strong> (cara penyimpulan hukum) dari dalil      yang ada,  entah itu ayat-ayat      al-Qur&#8217;an maupun hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Oleh      sebab itu untuk mengikuti kebenaran tidak cukup dengan membawakan dalil      tanpa disertai dengan cara pemahaman terhadap dalil yang benar! Dan betapa      banyak orang yang tersesat  melalui      pintu ini -istidlal yang salah-, <em>maka ambillah pelajaran wahai      saudaraku!</em></li>
<li>Sebab utama sekte Khawarij menyimpang dari jalan yang lurus      adalah karena mereka terlalu kagum dengan hasil pikiran mereka dan tidak      mau mengikuti cara pemahaman para sahabat <em>radhiyallahu ta&#8217;ala &#8216;anhum.</em> Mereka ahli membaca al-Qur&#8217;an, namun mereka tidak memahaminya sebagaimana      yang dipahami oleh Rasul dan para sahabat. Oleh sebab itulah mereka itu      sesat dan menyesatkan. Bukankah ketika mengkafirkan Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mereka juga berdalil dengan ayat al-Qur&#8217;an, namun ternyata mereka sendiri      yang tidak paham tentang tafsirannya?!</li>
<li>Tidak boleh mempertentangkan antara dalil al-Qur&#8217;an dengan      dalil Hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sebab keduanya      adalah wahyu yang bersumber dari Allah <em>ta&#8217;ala. </em>Adapun sebuah hadits      yang disandarkan kepada Nabi yang bunyinya, <em>“Apa saja datang kepada      kalian dariku maka bandingkanlah ia dengan apa yang ada dalam Kitabullah.      Apabila ia cocok dengan Kitabullah maka itu berarti aku benar-benar mengucapkannya.      Akan tetapi jika ia bertentangan dengan Kitabullah maka itu artinya aku      tidak mengucapkannya&#8230;”</em> maka ini adalah hadits yang <strong>tidak sahih</strong> yang dibuat-buat oleh kaum Zindiq dan Khawarij, sebagiamana yang      diungkapkan oleh Abdurrahman bin Mahdi dan dikutip oleh Ibnu Abdil Barr      (lihat kutipannya dalam <em>Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal      Jama&#8217;ah</em>, Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani hal. 126) <em> </em></li>
<li>Meninggalkan bimbingan para ulama Rabbani -dan para sahabat      adalah tokoh terdepan dalam barisan mereka- akan menjerumuskan umat ke      dalam jurang kehancuran. Salah satu penyebab utama terjadinya hal itu      -baik di masa dahulu maupun sekarang- adalah <strong>rasa percaya diri yang      berlebihan dan kekaguman terhadap pendapat pribadi atau kelompoknya</strong> sehingga menganggap diri telah paham perkara agama tanpa terlebih dulu      berkonsultasi kepada para ulama. <em>Maka camkanlah hal ini baik-baik,      wahai para pemuda!</em> Dan ketika ulama sudah ditinggalkan, maka yang      diangkat adalah sosok <em>Ruwaibidhah</em> yaitu orang-orang yang bodoh      -meskipun dijuluki dengan Kiyai, Ustadz, atau Cendekiawan- yang nekad      berbicara soal urusan orang banyak.. <em>Laa haula wa laa quwwata illa      billaah</em></li>
<li>Syafa&#8217;at Nabi bagi para pelaku dosa besar agar dikeluarkan dari      neraka adalah benar adanya. Hal itu sebagaimana yang dikisahkan oleh      Hammad bin Zaid ketika dia bertanya kepada Amr bin Dinar, <em>“Apakah kamu      pernah mendengar Jabir bin Abdullah -radhiyallahu&#8217;anhuma- menyampaikan      hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang isinya:      Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan sekelompok orang dari neraka dengan      sebab syafa&#8217;at?”</em>. Maka dia menjawab, <em>“Benar.”</em> (lihat Sahih      Muslim yang dicetak bersama <em>Syarh Muslim</em> [2/322])</li>
<li>Keutamaan ahlul hadits, yaitu orang-orang yang berpegang teguh      dengan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ada di      antara ulama salaf dahulu yang mengatakan, <em>“Para malaikat adalah      penjaga-penjaga langit, sedangkan ahlul hadits adalah penjaga-penjaga      bumi.” Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dan meneguhan kita untuk      berada di dalam rombongan mereka, Allahul musta&#8217;an&#8230; </em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Allah Pun Tertawa Karenanya</title>
		<link>http://abumushlih.com/allah-pun-tertawa-karenanya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/allah-pun-tertawa-karenanya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 06:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Akhir]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kenikmatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1593</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan orang yang paling terakhir masuk surga. Dia adalah seorang lelaki yang keluar dari neraka sembari merangkak. Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berkata kepadanya, &#8216;Pergilah kamu, masuklah ke dalam surga.&#8217; Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fallah-pun-tertawa-karenanya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fallah-pun-tertawa-karenanya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh, aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan orang yang paling terakhir masuk surga. Dia adalah seorang lelaki yang keluar dari neraka sembari merangkak. Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berkata kepadanya, &#8216;Pergilah kamu, masuklah ke dalam surga.&#8217; Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, &#8216;Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.&#8217; Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berfirman kepadanya, &#8216;Pergilah, masuklah kamu ke surga.&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, &#8216;Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.&#8217; Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berfirman kepadanya, &#8216;Pergilah, masuklah kamu ke surga. Sesungguhnya kamu akan mendapatkan kenikmatan semisal dunia dan sepuluh lagi yang sepertinya&#8217; atau &#8216;Kamu akan memperoleh sepuluh kali kenikmatan dunia&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang itu pun berkata, &#8216;Apakah Engkau hendak mengejekku, ataukah Engkau hendak menertawakan diriku, sedangkan Engkau adalah Sang Raja?&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Ibnu Mas&#8217;ud berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh, ketika itu aku melihat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Periwayat berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Maka orang-orang pun menyebut bahwa dialah sang penghuni surga yang paling rendah kedudukannya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Dalam riwayat lain disebutkan: Maka Ibnu Mas&#8217;ud pun tertawa, lalu berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apakah kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Mereka menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Mengapa engkau tertawa?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Demikian itulah tertawanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. -Ketika itu- mereka -para sahabat- bertanya, &#8216;Mengapa anda tertawa wahai Rasulullah?&#8217;. &#8216;Disebabkan tertawanya Rabbul &#8216;alamin tatkala orang itu berkata, &#8216;Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Rabbul &#8216;alamin?&#8217;. Lalu Allah berfirman, &#8216;Aku tidak sedang mengejekmu. Akan tetapi Aku Maha kuasa melakukan segala sesuatu yang Kukehendaki.&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/314-315])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1593"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Beriman 	terhadap keberadaan surga dan neraka. Surga merupakan tempat tinggal 	bagi orang-orang yang beriman, sedangkan neraka merupakan tempat 	tinggal orang-orang yang kufur kepada Rabbnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Iman kepada 	hari akhir serta pembalasan amal manusia kelak di akherat</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Iman kepada 	perkara gaib</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Iman 	bahwa Nabi Muhammad </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> adalah benar-benar utusan Allah yang berbicara berlandaskan wahyu 	dari-Nya, bukan menyampaikan dongeng atau cerita yang beliau karang 	sendiri </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Dorongan 	untuk beramal salih agar termasuk penduduk surga, dan peringatan 	dari kemaksiatan yang dapat menyeret pelakunya ke dalam jurang 	neraka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Boleh 	tertawa, dan hal itu bukanlah perkara yang dibenci dalam sebagian 	kondisi dan kesempatan. Hal itu juga tidak menyebabkan jatuhnya 	muru&#8217;ah/kehormatan selama tidak sampai melampaui batas kewajaran 	(lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/315])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Boleh 	menirukan tertawanya orang lain dengan tujuan menggambarkan keadaan 	sosok yang patut diteladani sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu 	Mas&#8217;ud menirukan tertawanya Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [11/503])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Pada 	hari kiamat kelak, Allah berbicara kepada hamba-hamba-Nya (lihat 	Shahih al-Bukhari, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	at-Tauhid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 1490-1491)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Allah Maha kuasa atas segala sesuatu</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah 	adalah Sang Raja (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Malik</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) 	yang menguasai jagad raya</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Allah adalah Rabb (pemelihara dan pengatur) alam semesta</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Allah Maha berkehendak</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah 	pun bisa tertawa, namun tertawanya Allah tidak sebagaimana makhluk. 	Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak 	ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi 	Maha Melihat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. 	asy-Syura: 11). Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Para salaf 	telah bersepakat menetapkan &#8216;tertawa&#8217; ada pada diri Allah. Oleh 	sebab itu wajib menetapkannya (menerimanya, pent) tanpa 	menyelewengkan maknanya, tanpa menolaknya, tanpa membagaimanakan 	sifatnya, dan tidak menyerupakannya. Itu merupakan tertawa yang 	hakiki yang sesuai dengan -keagungan- Allah ta&#8217;ala.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Lum&#8217;at 	al-I&#8217;tiqad</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 61)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Kenikmatan 	yang ada di Surga jauh berlipat ganda daripada kenikmatan di alam 	dunia (lihat Shahih Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	ar-Riqaq</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1329). 	Oleh sebab itu tidak selayaknya kenikmatan yang sedemikian besar 	&#8216;dijual&#8217; demi mendapatkan kesenangan dunia yang sedikit dan 	sementara saja, bahkan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan 	akherat</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Khayalan atau 	perasaan tidak bisa dijadikan sebagai pegangan, tetapi yang 	dijadikan pegangan adalah wahyu/dalil atau perkataan orang yang 	benar-benar mengetahui/berilmu</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Wajib 	mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Luasnya 	rahmat Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	tatkala orang yang paling terakhir keluar dari neraka pun masih 	merasakan kenikmatan surga yang sepuluh kali lipat dari kenikmatan 	dunia</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang 	mukmin yang dihukum di neraka karena dosa besarnya maka suatu saat 	akhirnya diapun akan dikeluarkan darinya dan masuk ke dalam surga. 	Sehingga ini merupakan bantahan bagi Khawarij yang beranggapan bahwa 	pelaku dosa besar kekal di dalam neraka (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/323])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Ada sebagian 	orang beriman yang &#8216;mampir&#8217; dulu ke neraka sebelum dimasukkan ke 	dalam surga, tentu saja hal itu bukan karena kezaliman Allah namun 	karena dosa besar yang mereka lakukan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Peringatan 	atas bahaya dosa-dosa besar bagi pelakunya di akherat kelak -apabila 	dia belum bertaubat darinya-, karena pelakunya termasuk golongan 	orang yang diancam dengan siksa neraka, </span><em><span style="font-weight: normal;">wal 	&#8216;iyadzu billah</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Tidak boleh 	bersikap meremehkan dosa-dosa besar</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang 	yang benar-benar memahami keutamaan tauhid bukanlah orang yang 	menganggap sepele dosa-dosa besar. Oleh sebab itu Ibnu Mas&#8217;ud pernah 	berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Seorang 	mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah 	bukit yang dia khawatir akan runtuh menimpa dirinya. Adapun orang 	fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas 	hidungnya kemudian cukup dia usir dengan cara seperti ini -yaitu 	dengan menggerakkan tangannya semata-.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [11/118])</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan keadilan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> dimana Allah memberikan hukuman kepada orang-orang yang berbuat dosa 	besar kelak di akherat sesuai dengan kehendak-Nya, meskipun bisa 	saja Allah berkehendak untuk mengampuninya (untuk sebagian 	hamba-Nya) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan keutamaan orang yang lebih dulu masuk surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Anjuran untuk 	berlomba-lomba dalam beramal supaya bisa menjadi golongan orang yang 	terdahulu masuk surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Orang yang 	masuk surga itu bertingkat-tingkat dalam hal keutamaan diri dan 	balasan yang mereka dapatkan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan keutamaan tauhid, karena tidaklah orang masuk surga 	kecuali karena tauhid yang dilaksanakannya ketika di dunia</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits ini 	juga menunjukkan bahaya syirik dan kekafiran, karena tidaklah 	seorang kekal di dalam neraka melainkan karena sebab dosa syirik 	besar dan kekafiran yang dilakukan olehnya</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/allah-pun-tertawa-karenanya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebih Baik Daripada Onta Merah</title>
		<link>http://abumushlih.com/lebih-baik-daripada-onta-merah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/lebih-baik-daripada-onta-merah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 06:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Khaibar]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1560</guid>
		<description><![CDATA[Dari Sahl bin Sa&#8217;d radhiyallahu&#8217;anhu, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata: Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flebih-baik-daripada-onta-merah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flebih-baik-daripada-onta-merah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;d <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.”</em> Sahl berkata: Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira di antara mereka yang akan diberikan bendera itu. Sahl berkata: Ketika pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diberikan bendera itu. Kemudian, Nabi bersabda, <em>“Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”</em>. Mereka menjawab, <em>“Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.”</em> Sahl berkata: Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya. Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya. Ali berkata, <em>“Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/31])</p>
<p><span id="more-1560"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini mengandung pelajaran, antara lain:</p>
<ol>
<li>Kewajiban untuk berdakwah mengajak musuh (orang kafir) untuk      masuk Islam sebelum dikobarkannya peperangan. Namun, apabila musuh      tersebut sudah pernah didakwahi -tetapi menolak- maka hal itu tidak lagi      wajib, namun dianjurkan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/30], <em>al-Jadid fi      Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 69)</li>
<li>Keislaman seseorang -orang kafir yang bersyahadat- tetap      diterima meskipun dalam keadaan sedang terjadi peperangan (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [8/31])</li>
<li>Hukum di dunia dibangun di atas apa yang tampak secara lahir.      Adapun hukum batinnya diserahkan kepada Allah (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/31])</li>
<li>Syarat sah keislaman adalah harus mengucapkan dua kalimat      syahadat. Apabila dia bisu atau mengalami hambatan lain yang serupa maka      cukup baginya mengisyaratkan terhadap syahadat itu (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/31])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan ilmu dan      mendakwahkan petunjuk serta tuntunan-tuntunan yang baik (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [8/30])</li>
<li>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berdakwah mengajak      manusia untuk memeluk agama Islam (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab al-Jihad      wa as-Siyar</em>, hal. 617). Ini merupakan bantahan yang sangat jelas bagi      kaum Liberal dan Pluralis yang menganggap bahwa Islam yang diserukan      kepada manusia adalah Islam dengan pengertian &#8216;kepasrahan kepada Tuhan      semata&#8217; tanpa ada kewajiban untuk masuk ke dalam agama yang disebut Islam.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan orang yang bisa      mengajak kepada Islam kepada orang lain kemudian orang yang didakwahi      tersebut menerimanya (masuk Islam), meskipun jumlahnya hanya satu orang      (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab al-Jihad wa as-Siyar</em>, hal. 630)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat jelas pada diri      Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, karena Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> memujinya dengan kata-kata, <em>“Dia mencintai Allah      dan Rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.”</em> (lihat      Shahih Bukhari, <em>Kitab Fadha&#8217;il As-habin Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em>, hal. 775)</li>
<li>Wajibnya mencintai Ali bin Abi Thalib. Karena konsekuensi cinta      kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kita juga harus mencintai apa yang      dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Allah memiliki sifat mencintai (lihat <em>al-Jadid,</em> hal. 69)</li>
<li>Mukjizat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>al-Jadid</em>,      hal. 69)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar semangat para sahabat untuk      memperoleh kebaikan agama mereka (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69). Karena      mereka sangat ingin menjadi orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.      Oleh sebab itu mereka berharap untuk diberi bendera tersebut, bukan karena      mereka menyimpan ambisi kekuasaan sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum      Syi&#8217;ah!</li>
<li>Semestinya seorang pemimpin memeriksa keadaan rakyat atau orang      yang dipimpinnya (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Wajibnya beriman kepada takdir, tatkala bendera itu ternyata      diberikan bukan kepada orang yang berusaha untuk bisa mendapatkannya      (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Seorang panglima perang hendaknya senantiasa bertindak dengan      tenang, namun bukan berarti bersikap lemah dan tidak menunjukkan wibawa      (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Dua kalimat syahadat yang diucapkan dengan lisan tidak cukup      jika tidak diiringi dengan amalam yang membuktikannya (lihat <em>al-Jadid</em>,      hal. 69)</li>
<li>Bolehnya bersumpah ketika menyampaikan suatu perkara untuk      lebih menekankan atau ada kemaslahatan lainnya, meskipun ia tidak diminta      bersumpah (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Hendaknya seorang da&#8217;i dalam mengajak kepada objek dakwahnya,      yang pertama kali diserukannya adalah agar mereka memahami dua kalimat      syahadat (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 70)</li>
<li>Diperlukannya bendera dalam peperangan</li>
<li>Seorang pemimpin atau pun pemerintah hendaknya mengirim utusan      orang-orang yang berdakwah kepada agama Allah -yaitu mendakwahkan tauhid      dan Sunnah- sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para khulafa&#8217; ar-rasyidin (lihat <em>Fath      al-Majid</em>, hal. 90)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan pentingnya pendidikan bagi da&#8217;i</li>
<li>Hidayah taufik hanya di tangan Allah</li>
<li>Seorang da&#8217;i tidak perlu merasa sempit dan sedih semata-mata      karena pengikutnya sedikit. Namun, semestinya dia bersedih karena manusia      tidak mau menerima kebenaran, bukan karena jumlah pengikutnya sedikit</li>
<li>Untuk berperang itu memerlukan strategi dan kehati-hatian</li>
<li>Jihad dengan ilmu (dakwah) itu didahulukan daripada jihad      dengan persenjataan (perang)</li>
<li>Kemenangan berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil      perjuangan pasukan ataupun kelihaian panglimanya</li>
<li>Ajaran Islam adalah ajaran yang penuh dengan kasih sayang      kepada manusia. Islam tidak mengenal aksi pembunuhan membabi buta      sebagaimana yang dilakukan oleh para teroris atau pelaku bom bunuh diri      yang mengklaim tindakkannya sebagai jihad</li>
<li>Dakwah itu harus dilakukan dengan mengikuti skala prioritas,      mendahulukan perkara-perkara yang terpenting sebelum perkara penting      lainnya</li>
<li>Peperangan bukanlah tujuan dalam Islam, namun perang adalah      cara terakhir yang memang harus ditempuh untuk menegakkan kebenaran di      atas muka bumi ini</li>
<li>Islam sangat menghargai nyawa manusia, meskipun itu adalah      nyawa orang-orang kafir. Bahkan, orang kafir yang tinggal di negeri Islam      dan dilindungi oleh pemerintah ataupun orang kafir yang tinggal di sebuah      negara yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin adalah haram      untuk ditumpahkan darahnya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mulia adalah orang yang      dicintai Allah. Sementara orang yang dicintai Allah adalah orang yang taat      kepada Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Hadits ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa para sahabat      yang lain selain Ali tidak dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, bahkan      mereka adalah umat terbaik di atas muka bumi ini</li>
<li>Hadits ini menunjukkan semestinya seorang da&#8217;i      bertanya/berkonsultasi kepada da&#8217;i lain yang lebih senior, terlebih lagi      dalam urusan umat yang memiliki pengaruh luas</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/lebih-baik-daripada-onta-merah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
