<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Kisah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/kisah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 06:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kisah Unik Abu Hurairah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 06:41:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2423</guid>
		<description><![CDATA[Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati... *** Imam Muslim rahimahullah menuturkan sebuah kisah menarik di &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-hurairah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-hurairah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati.</em><em>..</em></p>
<p><span id="more-2423"></span></p>
<p>***</p>
<p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> menuturkan sebuah kisah menarik di dalam kitabnya Shahih Muslim. Beliau berkata: Zuhair bin Harb menuturkan kepada saya: [Dia berkata] Umar bin Yunus al-Hanafi menuturkan kepada kami: [Dia berkata] Ikrimah bin &#8216;Ammar menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Hurairah menuturkan kepadaku.</p>
<p>Abu Hurairah berkata:</p>
<p>Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ketika itu ada juga bersama kami Abu Bakar dan Umar dalam sebuah rombongan [para sahabat]. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bangkit meninggalkan rombongan kami. Akhirnya, beliau pun tertinggal di belakang kami. Kami khawatir kalau ada apa-apa yang menimpa beliau sehingga tertinggal dari rombongan. Kami pun merasa khawatir dan berusaha mencari tahu keberadaan beliau. Saat itu, aku adalah orang pertama yang dirundung cemas, jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa beliau.</p>
<p>Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati. Ternyata pintu itu tidak ada. Yang aku temukan hanyalah sebuah sungai kecil yang menuju bagian dalam kebun. Sungai itu bersumber dari sebuah mata air di luar kebun. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala.</p>
<p>Di dalam kebun itu, aku bertemu dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau berkata, <em>“Abu Hurairah?”</em>. Kujawab, <em>“Benar ya Rasulullah”.</em> Beliau mengatakan, <em>“Ada apa denganmu?”</em>. Aku  berkata, <em>“Sebelum ini anda berada di tengah-tengah kami, kemudian anda pergi sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa khawatir ada apa-apa yang terjadi padamu sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa was-was, dan akulah orang pertama yang merasa cemas. Oleh sebab itu aku datangi kebun ini. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala. Sementara para sahabat yang lain tetap berada di belakang.”</em></p>
<p>Beliau pun bersabda -seraya memberikan sepasang sandalnya kepadaku-, <em>“Pergilah dengan membawa kedua sandalku ini. <strong>Siapa saja yang kamu temui di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka berikanlah kabar gembira surga untuknya</strong>.”</em></p>
<p>Setelah keluar, ternyata orang pertama yang aku jumpai adalah Umar. Umar pun bertanya, <em>“Ada apa dengan kedua sandal ini wahai Abu Hurairah?”</em>. Aku berkata, <em>“Ini adalah sandal Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau mengutusku dengannya seraya berpesan: Barangsiapa yang  aku jumpai di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka akan aku berikan kabar gembira surga untuknya.”</em></p>
<p>Umar pun memukul dadaku dengan tangannya. Aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar berkata, <em>“Kembalilah wahai Abu Hurairah.”</em> Aku pun kembali menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seraya menahan tangis aku adukan hal ini kepada beliau. Umar pun ternyata berjalan mengikutiku dari belakang.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepadaku, <em>“Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Hurairah?”</em>. Aku menjawab, “Aku tadi bertemu dengan Umar. Kemudian kukabarkan kepadanya berita yang anda perintahkan. Tiba-tiba Umar mendaratkan sebuah pukulan ke dadaku sehingga aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar justru berkata kepadaku, <em>“Kembalilah.”</em></p>
<p>Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepada Umar, <em>“Wahai Umar. Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?”</em>. Umar menjawab, <em>“Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Benarkah anda telah mengutus Abu Hurairah dengan membawa kedua sandalmu untuk mengatakan kepada orang yang dia temui; barangsiapa yang dia temui sedangkan dia telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya bahwa dia mendapatkan kabar gembira surga?”</em>.</p>
<p>Beliau pun menjawab, <em>“Benar”</em>. Umar pun menimpali, <em>“<strong>Jangan anda lakukan itu. Saya khawatir orang-orang menjadi bersandar kepadanya. Biarkan saja mereka sibuk dengan amalnya</strong>.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ya, biarkan saja mereka.”</em></p>
<p>[Diterjemahkan dari <em>Shahih Muslim</em> bersama Syarah Nawawi, juz 2 hal. 77-82]</p>
<p>Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kisah ini menyimpan segudang pelajaran berharga. Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> telah menyebutkan sebagian pelajaran yang terkandung di dalam hadits ini sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Tatkala memberitakan rombongan para sahabat yang ada saat itu,      Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Ketika itu ada juga      bersama kami Abu Bakar dan Umar&#8230;”</em>. Ini merupakan cara pemberitaan      yang bagus. Yaitu apabila bermaksud menceritakan serombongan orang namun      dirasa terlalu banyak jika harus disebutkan seluruhnya, maka cukuplah      disebutkan tokoh-tokohnya. Adapun yang lain cukup disebutkan secara umum      (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/77])</li>
<li>Di dalam hadits di atas Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebutkan bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang      mengucapkan la ilaha illallah dengan disertai keyakinan hati. Hal ini      menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan kalimat syahadat tanpa disertai      keyakinan terhadap kandungannya tidaklah bermanfaat. Demikian pula, keyakinan      tauhid yang tidak diucapkan juga tidak berguna. Oleh sebab itu keduanya      harus dipadukan; yaitu keyakinan tauhid dan ucapan/syahadat (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/79]). Hal ini tentu saja dengan catatan ucapan dan keyakinan      itu juga diiringi dengan amalan; yaitu seorang beribadah kepada Allah      semata dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana hal itu      telah dipahami&#8230;</li>
<li>Perbuatan Umar ketika memukul Abu Hurairah bukanlah dalam      rangka menjatuhkan atau menyakitinya, akan tetapi demi mencegahnya dari      apa yang hendak dia lakukan dan supaya dia benar-benar menahan diri      darinya. Sebab, menurut pandangan Umar menyembunyikan berita itu untuk      sementara jauh lebih mendatangkan kebaikan daripada menyebarkannya. Karena      dengan menyebarkannya membuat orang hanya bersandar dengan tauhid dan      meninggalkan amalannya. Tatkala pandangan itu disampaikan Umar kepada Nabi      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ternyata beliau pun menyetujui      pendapatnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/80])</li>
<li>Hal ini menunjukkan bahwa apabila seorang pemimpin atau orang      yang lebih senior memilih suatu pendapat kemudian orang-orang yang      mengikutinya memiliki pendapat yang berlainan, semestinya bagi pengikut      untuk menyampaikan pendapat itu kepada pemimpin atau seniornya. Apabila      tampak baginya bahwa yang benar adalah pendapat si pengikut maka      selayaknya pemimpin itu pun rujuk kepadanya. Apabila ternyata sebaliknya      -pendapat mereka yang salah-, hendaknya dia menjawab kerancuan yang mereka      tanyakan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/80])</li>
<li>Seorang yang berilmu hendaknya menyempatkan diri untuk      duduk-duduk bersama murid-murid atau orang-orang yang bertanya kepadanya      dalam rangka menyampaikan ilmu atau faidah serta melayani      pertanyaan-pertanyaan mereka (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Kisah di atas menunjukkan betapa besar penghormatan dan sopan      santun para sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> dalam menunaikan hak-hak      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em> dalam memuliakan beliau      dan menaruh rasa kasih sayang yang sangat besar kepada beliau (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Kisah ini juga memberikan pelajaran hendaknya para murid atau      pengikut memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang yang mereka      ikuti. Hendaknya mereka juga memikirkan tentang kemaslahatan untuknya dan      berusaha menyingkirkan mafsadat yang ditemuinya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Bolehnya memasuki suatu daerah/tempat milik orang lain      -termasuk juga menggunakan barang-barang yang ada di dalamnya- walaupun      tanpa ijin darinya selama dia mengetahui bahwa orang tersebut [pemiliknya]      tidak mempermasalahkan hal itu dikarenakan kedekatan hubungan yang      terjalin di antara mereka berdua. Inilah pendapat yang dianut oleh      mayoritas ulama salaf maupun ulama belakangan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Hendaknya seorang pemimpin mengirimkan suatu tanda yang bisa      dikenali oleh para pengikutnya demi mendatangkan ketenangan di hati mereka      (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81]). Sebagaimana halnya Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> mengutus Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> dengan membawa sandal beliau agar para sahabat merasa yakin tentang      keselamatan beliau dan tidak perlu lagi mencemaskan keadaannya</li>
<li>Bolehnya menahan penyebaran sebagian ilmu yang dirasa kurang      perlu dalam rangka  kemaslahatan      yang lebih besar atau dikhawatirkan timbulnya mafsadat (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/81]). Pelajaran serupa juga bisa kita petik dari hadits      Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> tatkala berboncengan dengan Nabi      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Ketika itu Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah seorang hamba yang bersaksi      bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah      hamba dan utusan-Nya -dengan penuh kejujuran- kecuali pasti Allah haramkan      dia masuk neraka.” </em>Mu&#8217;adz berkata, <em>“Wahai Rasulullah, tidakkah      sebaiknya saya kabarkan hadits ini kepada orang-orang sehinga mereka      merasa senang?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Kalau kamu lakukan hal itu,      niscaya mereka akan bersandar (menyepelekan amal).” M</em>enjelang akhir      hayatnya barulah Mu&#8217;adz bin Jabal menyampaikan hadits ini karena ia      khawatir terjatuh dalam perbuatan dosa -yaitu menyembunyikan ilmu- (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/83])</li>
</ol>
<p>Demikianlah secuplik kisah unik yang dialami oleh sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Mudah-mudahan menjadi bahan pelajaran bagi kita. Dari sini kita juga bisa memetik pelajaran tentang kedalaman ilmu para ulama salaf dan kepahaman mereka tentang kondisi umat manusia.</p>
<p>Para ulama salaf bukanlah kaum tekstualis yang hanya berkutat pada teks dalil tanpa menganalisa hal-hal lain yang terkait dengannya -sebagaimana tuduhan kaum Liberal-, bahkan mereka pun menyelami dampak dan pengaruh dari suatu dalil terhadap pendengarnya. Mereka menggunakan akalnya demi memahami dan menerapkan dalil, bukan untuk menghakimi dan menyelewengkannya.</p>
<p>Wahai kaum muslimin&#8230; Ketahuilah, bahwa kejayaan umat ini hanya akan diraih bersama manhaj salaf. Bukankah Imam Malik <em>rahimahullah</em> telah mengatakan, <em>“Tidak akan memperbaiki kondisi akhir umat ini kecuali sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.” </em>Imam al-Auza&#8217;i <em>rahimahullah</em> juga berpesan, <em>“Hendaklah kamu setia dengan jejak para salaf meskipun orang-orang menolakmu. Dan waspadalah dari pendapat akal manusia, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ungkapan yang indah.” </em>Akankah kita membuang ucapan emas para ulama salaf dan kita telan ucapan kotor kaum sekuler dan pluralis? <em>Kallaa tsumma kallaa</em> -sekali-kali tidak-&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dzatu Anwath</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 17:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kekafiran]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tabarruk]]></category>
		<category><![CDATA[Tasyabbuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2308</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu&#8217;anhu, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dzatu-anwath.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dzatu-anwath.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Waqid al-Laitsi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri&#8217;tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath. Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata, <em>“Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, <em>“Allahu akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telag mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra&#8217;il kepada Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 138</strong>). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong> dan beliau mensahihkannya, disahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam takhrij <em>as-Sunnah</em> karya Ibnu Abi &#8216;Ashim, lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/126])</p>
<p><span id="more-2308"></span> Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik di kala itu memiliki keyakinan yang keliru terhadap Dzatu Anwath, yang hal itu mencakup tiga perkara: [1] Mereka mengagung-agungkan pohon tersebut, [2] Mereka melakukan i&#8217;tikaf (berdiam dalam rangka ibadah) di sisinya, [3] Mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dalam rangka mengharapkan keberkahan pohon tersebut mengalir kepada senjata-senjata mereka sehingga diharapkan senjata itu menjadi lebih tajam dan mendatangkan kebaikan yang lebih bagi orang yang membawa senjata tersebut (lihat <em>at-Tam-hid</em>, hal. 132).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa mencari berkah kepada pohon adalah terlarang -bahkan termasuk syirik-, dan hal itu merupakan salah satu kebiasaan buruk umat-umat terdahulu yang sesat (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/126 dan 128]). Larangan ini berlaku juga untuk hal yang lain seperti mencari berkah kepada batu, kubur, atau yang lainnya. Termasuk yang terlarang adalah mencari berkah dengan keringat orang soleh, bersentuhan dengan tubuh mereka, atau menyentuh pakaian mereka dan yang semacamnya (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 103). Dari sini kita mengetahui bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang di sisi kubur para wali atau orang soleh berupa mencari berkah dengan menyentuhkan pakaian atau bagian tubuh padanya merupakan perbuatan syirik kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa jahiliyah itu tidak khusus berlaku bagi orang-orang yang hidup di masa sebelum Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Akan tetapi siapa pun yang tidak mengetahui kebenaran dan melakukan perbuatan-perbuatan orang jahil maka dia tergolong <em>ahlul jahiliyah</em> (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/130]). Hadits ini juga menunjukkan terlarangnya meniru-niru kebiasaan jahiliyah (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 102). Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang berpindah dari suatu kebatilan yang sudah terbiasa melekat dalam hatinya maka terkadang masih ada saja sisa-sisa kebatilan itu pada dirinya. Terkadang butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghilangkan sisa keburukan itu (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/132])</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan disunnahkannya mengucapkan takbir [<em>Allahu akbar</em>] ketika mengingkari atau heran terhadap sesuatu, demikian juga halnya ucapan tasbih [<em>Subhanallah</em>]. Hadits ini juga menunjukkan bahwa yang menjadi pegangan -dalam menyikapi- adalah hakikat sesuatu bukan nama atau istilahnya. Kalau itu kebatilan maka tetap batil meskipun nama dan istilahnya berganti (lihat <em>Syarh Kitab Tauhid</em> Syaikh Bin Baz, hal. 66-67)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahai Putraku, Naiklah Bersama Kami&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/wahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/wahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 07:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Nuh]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2300</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi umat manusia dengan kisah-kisah umat terdahulu sebelum mereka. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad dan pengikut setia ajarannya hingga kiamat tiba. Amma ba&#8217;du. Di antara kisah yang menyentuh &#8230; <a href="http://abumushlih.com/wahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi umat manusia dengan kisah-kisah umat terdahulu sebelum mereka. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad dan pengikut setia ajarannya hingga kiamat tiba. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2300"></span></p>
<p>Di antara kisah yang menyentuh hati adalah kisah dakwah Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em>. Sebuah kisah yang amat menakjubkan. Kisah perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang mengajak kaumnya untuk taat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, akan tetapi kebanyakan mereka justru mencemooh dan menolak ajakannya.</p>
<p>Sebuah kisah yang mencerminkan kesabaran pembela kebenaran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, agar kamu -wahai Nuh- memperingatkan kaummu sebelum siksaan yang pedih menimpa mereka. Nuh berkata, &#8216;Wahai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian. Hendaklah kalian beribadah kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dan taat kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan menangguhkan  kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya ketentuan ajal dari Allah itu apabila telah datang maka tidak bisa lagi ditangguhkan seandainya kalian mengetahui&#8217;. Nuh berkata, &#8216;Wahai Rabbku, sungguh aku telah mendakwahi kaumku siang dan malam. Ternyata dakwahku tidak menambah apa-apa selain mereka justru semakin bertambah lari&#8230;”</em> (<strong>QS. Nuh: 1-6</strong>)</p>
<p>Kisah tentang dakwah yang mendapatkan rintangan dan cemoohan.. Dakwah yang mengajak kepada keselamatan, namun disambut dengan tanggapan yang sangat menyakitkan! Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), &#8216;Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, &#8216;Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) orang biasa seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” </em>(<strong>QS. Hud: 25-27</strong>)<em> </em></p>
<p>Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> mengajak kaumnya untuk bertauhid, akan tetapi mereka justru menolak ajakannya. Mereka tetap bersikeras mempertahankan budaya syirik yang telah mendarah daging dalam kehidupannya. Allah menceritakan keluhan Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> (yang artinya), <em>“Nuh berkata, &#8216;Wahai Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku dan justru mengikuti orang-orang yang tidak mendatangkan apa-apa dengan harta dan anak-anaknya selain kerugian. Mereka pun melakukan makar yang besar. Mereka berkata: Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan sampai kalian tinggalkan Wadd, Suwa&#8217;, Yaghuts, Ya&#8217;uq, dan Nasr&#8230;”</em> (<strong>QS. Nuh: 21-23</strong>).</p>
<p>Adakah kezaliman dan kedurhakaan yang lebih besar daripada syirik? Adakah ajakan yang lebih sesat daripada ajakan untuk menolak tauhid dan melestarikan syirik? Maha suci Allah&#8230; Sungguh, Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> telah menunaikan tugasnya untuk berdakwah tauhid kepada kaumnya. Sebagaimana yang Allah tugaskan kepada segenap rasul yang diutus-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah).”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>)</p>
<p>Hingga, tibalah saatnya Allah memerintahkan Nabi Nuh<em> &#8216;alaihis salam</em> untuk membuat perahu sebelum datangnya banjir maha dahsyat yang akan menenggelamkan orang-orang yang durhaka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia pun tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh (950 tahun), sehingga banjir besar pun menelan mereka sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbuat kezaliman. Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang menaiki bahtera itu, dan Kami jadikan ia sebagai bahan pelajaran bagi semua manusia.”</em> (<strong>QS. al-Ankabut: 14</strong>)</p>
<p>Proyek bahtera keselamatan ini justru membuat Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> diejek oleh para pembesar kaumnya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Buatlah bahtera dengan pengawasan dan wahyu dari Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku mengenai nasib orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan dia [Nuh] pun membuat bahtera itu, dan setiap kali para pembesar kaumnya melewatinya, mereka pun mencemooh perbuatannya. Nuh pun berkata, &#8216;Jika kalian mengejek kami sekarang maka kelak kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami. Kalian pun kelak akan tahu siapakah yang akan mendapati siksaan yang menghinakan dirinya dan siapakah yang akan tertimpa azab yang kekal&#8217;.”</em> (<strong>QS. Hud: 37-39</strong>)</p>
<p>Dan, ketika banjir besar itu datang, Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> telah menaikkan para pengikutnya yang setia ke atas bahtera. Memang tidak ada yang beriman kepada beliau kecuali segelintir orang saja. Sebagai seorang ayah, Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> tentu sangat ingin menyelamatkan putranya &#8211;yang bernama Yam, anaknya yang keempat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> [2/468]&#8211; dari timpaan azab.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan bahtera itu pun berlayar membawa mereka (Nuh dan pengikutnya) di tengah gelombang  yang datang laksana gunung. Dan Nuh memanggil putranya yang berada di tempat yang jauh terpencil, &#8216;Wahai putraku, naiklah bersama kami. Janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.&#8217;.”</em> (<strong>QS. Hud: 42</strong>)</p>
<p>Lihatlah kasih sayang seorang ayah yang salih ini kepada putranya&#8230; Kasih sayang sejati seorang ayah yang menginginkan putranya selamat dari siksaan Allah. Kasih sayang yang menuntut sang ayah untuk mengajak putranya kepada kebenaran. Bukan kasih sayang palsu yang membiarkan sang anak larut dalam kebatilan&#8230; Seorang ayah yang menghendaki putranya menjadi hamba yang taat kepada Allah dan mengagungkan perintah-perintah-Nya..</p>
<p>Akan tetapi, sungguh disayangkan ternyata ajakan yang tulus ini disambut dengan pembangkangan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> menceritakan (yang artinya), <em>“Dia [anaknya] berkata, &#8216;Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari terpaan air.&#8217; Nuh berkata, &#8216;Tidak ada yang selamat pada hari ini dari hukuman Allah kecuali orang yang dirahmati.&#8217; Gelombang itu pun memisahkan mereka berdua, dan putranya termasuk golongan yang ditenggelamkan.”</em> (<strong>QS. Hud: 43</strong>)</p>
<p>Sang anak yang kafir ini mengira bahwa dengan lari ke puncak gunung bisa menyelamatkan dirinya dari ditenggelamkan oleh air bah yang sangat besar itu. Padahal, pada hari itu hanya orang-orang yang taat kepada rasul saja yang selamat, karena mereka telah menempuh jalan menuju rahmat Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Adapun orang-orang yang dengan sengaja menentang rasul setelah tampak jelas petunjuk bagi mereka, maka kehancuran itulah kesudahan yang akan mereka temukan.</p>
<p>Semoga kisah ini bisa menjadi pendorong bagi kita untuk bersabar dalam mendakwahkan kebenaran, terus berusaha menyebarkan dakwah walaupun harus mendapatkan cemoohan. Hidayah di tangan Allah, adapun kita sekedar menyampaikan saja. Kita pun harus meyakini bahwa taat kepada rasul adalah sumber kebahagiaan dan keselamatan, meskipun sebagian orang (baca: orang kafir dan munafik) menganggapnya sebagai kebodohan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/wahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sosok Teladan Dalam Kebaikan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 16:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2280</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. Kita mungkin pernah mendengar istilah &#8216;multi-talenta&#8217;. Ya, orang yang digelari dengan istilah ini artinya orang tersebut memiliki bakat dan keahlian yang beraneka-ragam, bukan satu keahlian saja. Bicara &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsosok-teladan-dalam-kebaikan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsosok-teladan-dalam-kebaikan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Kita mungkin pernah mendengar istilah &#8216;multi-talenta&#8217;. Ya, orang yang digelari dengan istilah ini artinya orang tersebut memiliki bakat dan keahlian yang beraneka-ragam, bukan satu keahlian saja. Bicara soal bakat, mungkin masing-masing orang memang berlainan. Namun, jika berbicara soal amal kebaikan, tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan berbagai pintu kebaikan yang dibukakan untuknya. Karena dengan memanfaatkan berbagai pintu kebaikan yang ada, maka seorang hamba akan bisa meraih keutamaan yang sangat agung di akherat kelak, yaitu dipanggil masuk surga dari semua pintu surga&#8230; Sungguh, sebuah harapan yang sangat mulia!</p>
<p><span id="more-2280"></span>Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Shahih mereka berdua hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menginfakkan &#8216;sepasang hartanya&#8217; di jalan Allah maka dia akan dipanggil -oleh malaikat- dari pintu-pintu surga, &#8216;Wahai hamba Allah! Inilah kebaikan -yang akan kamu peroleh-.&#8217; Barangsiapa yang tergolong ahli sholat, maka dia akan dipanggil dari pintu sholat. Barangsiapa yang tergolong ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa yang tergolong ahli puasa, maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan.”</em> Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, <em>“Wahai Rasulullah, bahaya apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Lantas, apakah ada orang yang dipanggil dari kesemua pintu itu?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, <em>“Ada. Dan aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya.” </em>(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di beberapa tempat; [1] Kitab <em>ash-Shaum</em> [hadits no. 1897], [2] Kitab <em>al-Jihad wa as-Siyar</em> [hadits no. 2841], [3] Kitab <em>Bad&#8217;u al-Khalq</em> [hadits no. 3216], [4] Kitab <em>Fadhail ash-Shahabah</em> [hadits no. 3666], dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim di Kitab <em>az-Zakah</em> [hadits no. 1027], lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/132] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/351])</p>
<p><strong>Makna &#8216;Sepasang Harta&#8217;</strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;sepasang harta&#8217; di dalam hadits di atas adalah dua buah harta yang serupa dari jenis apa saja (<em>Fath al-Bari</em> [4/132]). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menukil keterangan al-Harawi, bahwa tafsiran dari sepasang harta itu misalnya; dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor unta (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/351]).</p>
<p>Ibnu Baththal <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa yang dimaksud dengan &#8216;sepasang harta&#8217; adalah dua buah [harta benda], seperti misalnya dua keping dinar, dua helai pakaian, dan semacamnya (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal</em> [4/15]). Lalu, apa maksudnya? an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menyimpulkan bahwa ungkapan &#8216;sepasang harta&#8217; ini menunjukkan keutamaan bersedekah dan membelanjakan harta untuk ketaatan serta [kita] dianjurkan untuk memperbanyak hal itu (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/352]). Dengan kata lain, apabila kita bersedekah maka jangan pelit-pelit&#8230;</p>
<p><strong>Pintu ar-Rayyan Bagi Ahli Shaum</strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan salah satu keutamaan ibadah puasa, yaitu bahwasanya orang-orang yang tekun mengerjakan ibadah yang agung ini kelak di akherat akan dipanggil untuk masuk surga melalui pintu ar-Rayyan. Oleh sebab itu, Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> memasukkan hadits ini dalam Kitab ash-Shaum dengan judul bab<em> &#8216;ar-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa&#8217;</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/131]).</p>
<p>Selain hadits di atas, di dalam bab tersebut Imam Bukhari juga membawakan hadits dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu, yang disebut dengan ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk [surga] dari pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang memasuki pintu itu selain mereka. Akan ada panggilan, &#8216;Dimanakah orang-orang yang berpuasa?&#8217;. Maka mereka pun berdiri. Tidak ada yang melewatinya selain mereka. Apabila mereka telah masuk [semua] maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang melewatinya.”</em> (HR. Bukhari di Kitab <em>ash-Shaum</em> [hadits no. 1896] dan di Kitab <em>Bad&#8217;u al-Khalq</em> [hadits no. 3257], dan Muslim di Kitab <em>ash-Shiyam</em> [hadits no. 1152], lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/131] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/485])</p>
<p><strong>Keutamaan Infaq fi Sabilillah</strong></p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan yang besar pada amalan infaq -membelanjakan harta- fi sabilillah. Yang dimaksud dengan fi sabilillah di sini tidak terbatas pada jihad saja. Berdasarkan riwayat yang dibawakan oleh Imam Ahmad yang artinya, <em>“Bagi setiap ahli amalan akan dipanggil dari pintu amalan tersebut.”</em> maka al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, <em>“Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan fi sabilillah lebih luas daripada jihad dan amal-amal salih lainnya.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [6/57]). Qadhi &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud fi sabilillah di sini  mencakup seluruh perkara kebaikan, sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/352]). Meskipun, kata-kata fi sabilillah jika disebutkan tanpa kaitan maka secara umum maksudnya adalah jihad sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [6/55])</p>
<p>Walaupun, tentu saja membelanjakan harta demi keperluan jihad fi sabilillah merupakan amalan yang juga sangat utama. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Zaid bin Khalid al-Juhani <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau bersabda, <em>“Barangsiapa yang mempersiapkan perbekalan untuk seorang pasukan fi sabilillah maka sesungguhnya dia telah ikut berperang. Dan barangsiapa yang membantu sanak kerabatnya yang ditinggal perang maka sesungguhnya dia juga telah ikut berperang.”</em> (HR. Bukhari di Kitab <em>al-Jihad wa as-Siyar</em> [hadits no. 2843] dan Muslim di Kitab <em>al-Imarah</em> [hadits no. 1895], lihat <em>Fath al-Bari</em> [6/58] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [6/522])</p>
<p>Ada sebuah pelajaran menarik dari hadits ini. an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hadits ini mengandung dorongan untuk berbuat baik/ihsan kepada orang-orang yang menunaikan tugas-tugas kemaslahatan bagi kaum muslimin atau orang-orang yang menegakkan urusan-urusan penting bagi mereka/kaum muslimin.”</em> (<em>Syarh Shahih Muslim</em> [6/522]). <em>Hal jazaa&#8217;ul ihsan illal ihsan&#8230;</em></p>
<p><strong>Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan tentang beliau, “<em>Aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya.” </em>Yaitu<em> </em>golongan orang-orang yang dipanggil dari semua pintu surga. Hal itu karena harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi, sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/31] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/353]).</p>
<p>Perlu diperhatikan pula di sini, bahwa yang dimaksud dengan ahli shaum, ahli sholat, ahli sedekah, maupun ahli jihad -yang layak untuk dipanggil dari semua pintu surga itu- bukanlah orang yang semata-mata telah menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut. Namun, yang dimaksud adalah orang-orang yang selain menunaikan yang wajib-wajib maka ia juga melakukan amal-amal yang sunnah dan konsisten dalam melaksanakannya. Abdul Wahid berkata: Seandainya ada yang bertanya, <em>“Apakah tergolong di dalamnya orang yang [sekedar] menunaikan puasa Ramadhan, menzakati hartanya, dan melaksanakan sholat-sholat wajibnya?”</em>. Jawabnya adalah:  Bahwa yang dimaksudkan oleh hadits ini adalah ibadah-ibadah sunnah yang dilakukan secara terus-menerus dan diusahakan untuk diperbanyak. Itulah orang yang layak untuk dipanggil dari pintu-pintu surga (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal</em> [4/18], lihat juga <em>Fath al-Bari</em> [7/30])</p>
<p>Hadits ini juga mengandung pelajaran bolehnya memuji seseorang di hadapannya selama tidak dikhawatirkan orang tersebut terjerumus dalam fitnah/dosa seperti ujub dan semacamnya (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/353]). Namun, perlu kita ingat bahwa orang seperti Abu Bakar -dalam hal ilmu maupun amalan- adalah sosok yang sangat jarang ditemukan&#8230; Bahkan, di masa para sahabat sekalipun&#8230;!</p>
<p>Dalam hal amalan, beliau adalah sosok yang sangat unggul dibandingkan yang lainnya. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam hadits pintu ar-Rayyan di atas; tatkala beliau menjadi orang yang dipanggil masuk surga dari semua pintu amalan. Selain itu, juga sebagaimana tercermin dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepada para sahabat, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini berpuasa?”</em>. Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menjawab, <em>“Saya.”</em> Beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah memberi makan orang miskin?”</em>. Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menjawab, <em>“Saya.”</em> Beliau kembali bertanya, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit?”</em>. Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> kembali menjawab, <em>“Saya.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah itu semua terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti masuk surga.”</em> (HR. Muslim di Kitab <em>az-Zakah</em> dan Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [hadits no. 1028], lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/353] dan [8/12])</p>
<p>Begitu pula dalam hal ilmu, beliau adalah orang yang paling alim di antara para sahabat. Hal itu sebagaimana tergambar dengan jelas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu saat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> duduk berceramah di atas mimbar. Beliau mengatakan, <em>“Seorang hamba yang telah diberikan pilihan oleh Allah untuk mendapatkan segala perhiasan dunia ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Maka hamba tersebut lebih memilih apa yang ada di sisi-Nya.”</em> Abu Bakar pun menangis dan menangis. Lalu dia berkata, <em>“Kami rela untuk menebus anda dengan bapak-bapak dan anak-anak kami (ya Rasulullah).”</em> Dia -Abu Bakar- berkata, <em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam itulah hamba yang diberi pilihan tersebut.”</em> Ternyata Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami tentangnya&#8230; (HR. Bukhari di beberapa tempat; [1] di Kitab <em>ash-Shalah</em> [hadits no. 466], [2] di Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [hadits no. 3654], [3] di Kitab <em>Manaqib al-Anshar</em> [hadits no. 3904] dan Muslim di Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [hadits no. 2382], lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [8/7])</p>
<p><strong>Jadilah Kunci Kebaikan!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya, begitu pula Ibnu Abi &#8216;Ashim di dalam <em>as-Sunnah</em> hadits dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya ada di antara manusia, orang-orang yang menjadi kunci-kunci kebaikan, penutup-penutup keburukan. Dan ada juga sebagian orang yang menjadi kunci-kunci keburukan, penutup-penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu kebaikan, dan sungguh celakalah orang yang Allah jadikan dia sebagai pembuka pintu keburukan.”</em> (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em> [1332], diambil dari <em>&#8216;Kaifa Takunu Miftahan Lil Khair&#8217;</em>, karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr <em>hafizhahullah</em>, hal. 5). Semoga Allah menjadikan kita&#8230; sebagai kunci kebaikan&#8230;! <em>Amin ya Mujiibas saa&#8217;iliin</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentara Pun Bersujud Kepada-Nya</title>
		<link>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2010 11:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Pengungsi]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2144</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari ini, musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo kedatangan jama&#8217;ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara, prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi Merapi. Kehilangan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentara-pun-bersujud-kepada-nya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentara-pun-bersujud-kepada-nya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<div>
<p>Beberapa hari ini,  musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo  kedatangan jama&#8217;ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara,  prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk  membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi  Merapi. Kehilangan rumah, kehilangan harta, kehilangan sanak saudara,  kehilangan usaha, kehilangan ternak, bahkan kehilangan cita-cita&#8230;  Inilah mendung yang menggelayuti alam pikiran banyak pengungsi.</p>
<p><span id="more-2144"></span><em>&#8220;Saya mau pulang kemana?&#8221;</em>. <em>&#8220;Saya mau kerja apa?&#8221;</em>.<em> &#8220;Saya mau makan apa?&#8221;</em>. <em>&#8220;Anak saya bagaimana?&#8221;</em>.  Itulah sebagian tanda tanya besar yang merasuk dalam hati mereka,  mengusik pikiran dan terkadang harus memecahkan tangisan dan lelehan air  mata&#8230; Hanya Allah tempat kami meminta pertolongan dari segala  keburukan dan kesusahan yang terpampang di depan mata&#8230;  Oleh sebab itu  wajarlah apabila banyak sekali pihak yang menangkap kesedihan mereka  dan mewujudkannya dalam berbagai bentuk kepedulian dan bantuan. Dan para  tentara itu, saya rasa juga memiliki empati yanag dalam terhadap  penderitaan yang sedang dialami oleh saudara-saudara mereka. Tidak  tanggung-tanggung, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) hari ini datang ke  Maguwo meninjau kinerja anak buahnya dalam menjalankan tugas-tugas  mereka dalam program rehabilitasi dan recovery pasca bencana ini.  Sesuatu yang layak untuk dihargai dan mendapatkan perhatian dari  anak-anak negeri.</p>
<p>Tatkala waktu sholat Zhuhur tiba, mereka  pun berdatangan menghadiri sholat jama&#8217;ah dengan seragam mereka yang  khas, baju loreng dan sepatu tentara yang kemudian mereka lepas di depan  musholla. Mereka ganti sepatu itu dengan sandal jepit yang disediakan  di sana -yang bahkan kanan dan kirinya tidak serasi-, melangkah ke  tempat wudhu dan bersuci untuk menghadap Rabb langit dan bumi,  menunaikan kewajiban sholat 5 waktu, sesuatu yang lebih mereka cintai  daripada jabatan yang mereka miliki. Tak lama kemudian, mereka telah  larut dalam ibadah agung yang mencerminkan keimanan seorang mukmin di  hadapan Rabbnya. Sebuah ibadah -yang kalau dikerjakan dengan sepenuh  hati- tentu akan menahan diri pelakunya dari perbuatan keji dan  mungkar&#8230;</p>
<p>Selepas sholat dan berdzikir, mereka pun  beranjak pergi meninggalkan musholla ini. Namun, di tengah langkah  mereka datanglah sosok da&#8217;i sederhana yang menawarkan buletin dakwah  kepada mereka. Bukan itu saja yang ditawarkannya, akan tetapi buku ushul  tsalatsah (tiga landasan utama), hadits arba&#8217;in, panduan dzikir dan  doa, bahkan tak lupa beberapa butir korma dan air minum pun ditawarkan  olehnya. Sungguh, pemandangan yang menyejukkan sekaligus mencerminkan  kejernihan sikap seorang da&#8217;i. Bukan hanya pengungsi atau korban erupsi  merapi yang butuh dakwah, bahkan bapak-bapak tentara ini pun semestinya  diperhatikan. Jangan sia-siakan kesempatan ini&#8230; <em>&#8220;Sungguh, apabila Allah menunjuki seorang saja dengan perantara dirimu, itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.&#8221;</em></p>
<p>Melalui  kepedulian semacam inilah, disertai kesadaran yang tertancap kuat di  dalam hati, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, keinginan yang kuat  untuk membantu sesama, segala beban berat dan penderitaan para pengungsi  dan korban erupsi -dengan izin Allah- akan sedikit demi sedikit  terkurangi. Apalagi mereka adalah saudara kita, yang bersujud kepada  Rabb yang sama, mengikuti Nabi yang sama, dan memegang teguh agama yang  sama. Walaupun dalam beberapa perkara mereka tergelincir -itupun karena  ketidakpahaman mereka-, namun mereka adalah saudara kita, yang  barangkali hati mereka jauh lebih bersih daripada hati kita, mereka  lebih sabar dan ikhlas daripada kita, bahkan mungkin lebih banyak  perjuangan dan pengorbanannya untuk membela agama&#8230;</p>
<p>Oleh  sebab itulah, kepedulian kita kepada mereka merupakan konsekuensi dari  perasaan cinta karena Allah (baca: aqidah) yang tertanam dalam hati  setiap mukmin. <em>Laa yu&#8217;minu ahadukum hatta yuhibba li akihi maa yuhibbu li nafsihi</em>, <em>&#8220;Tidak  sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai dia menyukai  kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia sukai bagi dirinya  sendiri.&#8221;</em></p>
<p>Sekarang, marilah kita bertanya sejauh mana bukti kesempurnaan iman itu ada dan tertancap di dalam hati kita? <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. </em></p>
<p>Yogyakarta, 8 Muharram 1432 H/ 14 Desember 2010</p>
<p>Bantuan dapat disalurkan ke:</p>
<p><strong>Rekening BNI UGM Yogyakarta </strong><strong> </strong><br />
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti</p>
<p><strong>Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta</strong><br />
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro</p>
<p><strong>Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705</strong><br />
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro</p>
<p><strong>Rekening BCA</strong><br />
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi</p>
<p>Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri    kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:<br />
<strong>Nama</strong><strong>/Alamat</strong><strong>/TanggalKirim</strong><strong>/JumlahUang</strong><strong>/RekeningTujuan</strong><strong>/Merapi</strong></p>
<p>Ke nomor :<br />
<strong>0852</strong><strong> 5205</strong><strong> 2345</strong> (Wiwit Hardi P.)<br />
atau<br />
<strong>0856</strong><strong> 4305</strong><strong> 2159</strong> (Nizamul Adli)</p>
<p>YM: ypiapeduli@yahoo.com</p>
<p>Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan <em>jazaakumullahu    khairaa</em>n.</p>
<p>Laporan Pemasukan per 12 Desember 2010<br />
<a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html" target="_blank">http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html</a></p>
<p>Profesor Simon Pimpin Rapat Rehabilitasi Masjid Pasca Bencana<br />
<a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html" target="_blank">http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html</a></p>
<p>Susunan Tim Rehabilitasi<br />
<a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html" target="_blank">http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Unik Abu Burdah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-burdah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-burdah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Oct 2010 00:07:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iedul Adha]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Kambing]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2066</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu’anhu. Dia berkata: Pamanku Abu Burdah telah menyembelih hewan kurbannya sebelum sholat (hari raya), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Kambing yang kamu sembelih itu adalah kambing biasa yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-burdah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-burdah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-burdah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, dari al-Bara’ bin ‘Azib <em>radhiyallahu’anhu</em>. Dia berkata: Pamanku Abu Burdah telah menyembelih hewan kurbannya sebelum sholat (hari raya), maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata kepadanya, <em>“Kambing yang kamu sembelih itu adalah kambing biasa yang bisa dimanfaatkan dagingnya (bukan kambing qurban).”</em> Maka dia berkata, <em>“Wahai Rasulullah, -kalau begitu- saya masih punya kambing jadza’ah (kambing yang sudah berusia 2 tahun)–untuk disembelih-.”</em> Beliau menjawab, <em>“Ya sudah, berqurbanlah dengannya, akan tetapi hal ini tidak diperbolehkan bagi selain dirimu.”</em> Kemudian beliau bersabda, <em>“Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum sholat (hari raya) sesungguhnya hanya menyembelih untuk dirinya sendiri. Adapun yang menyembelih sesudah sholat maka ibadah qurbannya telah sempurna (memenuhi syarat) dan mencocoki ajaran/sunnah kaum muslimin.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [7/40-41], <em>Fath al-Bari</em> [10/6 dst])</p>
<p><span id="more-2066"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini mengandung pelajaran-pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Ibadah qurban merupakan sunnah; yaitu ajaran yang telah mendarah-daging dalam tubuh kaum muslimin. Yang dimaksud istilah sunnah di sini adalah bermakna jalan/metode, bukan sunnah dalam istilah fikih –yang bermakna mustahab/dianjurkan- yang merupakan lawan dari perkara wajib. Oleh sebab itu, Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membawakan hadits ini di bawah judul bab ‘Sunnah Udh-hiyah’ (Disunnahkannya menyembelih qurban). Sehingga makna Sunnah di dalam hadits ini tidak diartikan dengan istilah Sunnah dalam ilmu fikih. Kemudian apabila ternyata tidak ada dalil yang menegaskan wajibnya ibadah ini, maka ia tetap berada pada hukum asalnya yaitu sunnah/mustahab, inilah alasan Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab tersebut (lihat <em>Fath al-Bari</em> [10/6]).</p>
<p>Beliau –Imam Bukhari- juga membawakan riwayat dari Ibnu Umar dengan tanpa sanad, dan riwayat ini disebutkan secara lengkap dengan sanadnya oleh Hamad bin Salamah dalam Mushannafnya demikian juga oleh Imam Tirmidzi bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang bertanya kepada Ibnu Umar tentang qurban, apakah itu merupakan kewajiban? Maka beliau menjawab, <em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin setelahnya biasa berqurban.”</em> Kemudian Imam Tirmidzi berkata, <em>“Demikianlah yang telah diamalkan di kalangan para ulama, yaitu bahwasanya qurban bukanlah sesuatu yang wajib&#8230;”</em> Ibnu Hajar juga menukil ucapan Ibnu Hazm, <em>“Tidak ada riwayat yang sah dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa bahwa qurban itu wajib&#8230;”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [10/5]).</p>
<p><strong>Kedua</strong>; Waktu penyembelihan qurban adalah setelah selesai pelaksanaan sholat hari raya. Di dalam riwayat Aisyah, Anas bin Malik dan Jundab bin Sufyan al-Bajali –<em>radhiyallahu’anhum</em>-, dikatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang sudah terlanjur menyembelih sebelum sholat maka hendaklah dia mengulanginya.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [7/38-44 dan <em>Fath al-Bari</em> [10/8]). Sebagian orang yang mewajibkan qurban berdalil dengan perintah yang ada dalam hadits ini (karena hukum asal perintah adalah wajib). Namun, hal ini tidak tepat, karena maksud perintah di sini adalah untuk mengulangi penyembelihan agar berada pada waktu yang dibenarkan oleh syari’at. Ungkapan Nabi tersebut sama saja dengan ucapan yang ditujukan –misalnya- kepada orang yang melakukan sholat Dhuha sebelum matahari terbit, <em>“Apabila matahari sudah terbit maka ulangilah sholatmu.”</em> Tentu saja perintah di sini tidak menunjukkan wajibnya sholat Dhuha, demikian makna penjelasan Ibnu Hajar, <em>wallahu a’lam</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [10/6 dan 20,22])</p>
<p><strong>Ketiga</strong>; Sosok manusia yang dijadikan sebagai rujukan hukum adalah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dan boleh jadi beliau mengkhususkan suatu hukum kepada seseorang dan tidak kepada yang lain, walaupun tidak ada udzur dari syari’at bagi orang tersebut (lihat <em>Fath al-Bari</em> [10/20]). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidak beriman, sampa mereka menjadikanmu sebagai hakim atas segala perselisihan yang terjadi di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati rasa sempit terhadap keputusan hukum yang kamu berikan, dan mereka pasrah dengan sepenuhnya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 65</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak layak bagi orang yang beriman lelaki maupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka alternatif yang lain dalam urusan mereka itu.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>)</p>
<p><strong>Keempat</strong>; Perintah kepada satu orang pada dasarnya berlaku bagi semua orang yang terbebani syari’at di kalangan umat ini selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya bagi orang tertentu (lihat <em>Fath al-Bari</em> [10/20]).</p>
<p><strong>Kelima</strong>; Hendaknya seorang imam juga mengajarkan kepada orang-orang (jama’ah) mengenai hukum-hukum qurban di sela-sela menyampaikan khutbahnya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [10/20]). Kisahnya adalah, bahwa ketika itu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkhutbah Iedul Adha -setelah sholat- dan menyampaikan tuntunan qurban ini. Kemudian Abu Burdah pun melaporkan bahwa dia sudah terlanjur menyembelih hewan qurbannya lalu Nabi memerintahkannya untuk mengulangi qurbannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [10/19 dan 23]).</p>
<p><strong>Keenam</strong>; Hadits ini menunjukkan sahnya seorang kepala keluarga berqurban hanya dengan seekor kambing untuk dirinya beserta keluarganya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [10/20]).</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>; Ibnu Abi Jamrah berkata, <em>“Suatu amalan meskipun dikerjakan dengan niat yang baik maka tidak dinilai sah kecuali apabila mengikuti tuntunan syari’at.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [10/20]). Maka tidak benar ungkapan yang populer dari sebagian kalangan, <em>“Yang penting ‘kan niatnya!”</em>. Niat yang benar tidak cukup jika tidak dikerjakan dengan cara yang benar pula, camkan hal ini baik-baik!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-burdah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Seorang Kyai</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 07:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>&#8220;Terus  terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang  tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga  bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya  untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap  keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan  atau baca barzanji, diba&#8217;an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah  berbau kesyirikan&#8221; </em></p>
<p><span id="more-1988"></span></p>
<p><em>&#8220;Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya&#8221; </em>(Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Kita  biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan  kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar  kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala  masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan  kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali,  yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang  yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga  saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.&#8221;</em> (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)</p>
<p>Beliau  adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok  pesantren &#8220;Rahmatullah&#8221;. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh  teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh  teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.</p>
<p>Keberanian  beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak sejalan dengan  Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat berakar dalam  lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau terhadap arus kyai itu  bukan  berlandaskan apriori belaka, bukan pula didasari oleh rasa  kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam, namun merupakan  Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Kyai  Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang  mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil.  namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap ajaran  Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari keanggotaan  NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu kepada  beliau.</p>
<p>Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan  dirinya dari keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para  tetangga dan kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak  hanya mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau  mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan  kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan  permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang  shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat  pada umumnya.</p>
<p>Seandainya para Kyai itu mau mengkaji  kembali ajaran dan tradisi budaya yang berurat berakar yang telah  dikritisi dan digugat oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi  sendiri, namun juga dari para ulama tanah haram juga telah menggugat dan  mengkritisi penyakit kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar  mengurat kepada para santri dan masyarakat. Jika mereka itu mau  mendengarkan perkataan para ulama itu, tentunya penyakit-penyakit kronis  yang ada dalam tubuh NU akan bisa terobati. Aqidah umatnya akan  terselamatkan dari penyakit TBC (Tahayul, Bid&#8217;ah, Churofat). Sehingga  Kyai-kyai NU, habib, Gus serta asatidznya lebih dewasa jika ada orang  yang mau dengan ikhlas menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU  dan yang telah banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para  sahabatnya. Maka, Insya Allah, NU khususnya dan para &#8216;alim NU pada  umumnya akan menjadi barometer keagamaan dan keilmuan. &#8216;Alimnya yang  berbasis kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan  misi NU itu sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, sehingga para &#8216;alim  serta Kyai yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat  sebagai pewaris para Nabi.</p>
<p>Namun sayang, dakwah yang  disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang sebelah mata  oleh para Kyai NU  setempat. Mereka juga meragukan keloyalan beliau terhadap ajaran NU.  Dengan demikian, beliau harus menerima konsekuensi berupa pemecatan dari  kepengurusan keanggotaannya sebagai a&#8217;wan NU Kandangan, Kediri,  sekaligus dikucilkan dari lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren.  Mereka semua memboikot aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.</p>
<p>Walaupun  beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap menyikapinya  dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam dirinya.</p>
<p>Siapakah  yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh Kyai  Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin senasib  dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya karena  meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan syari&#8217;at  Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan karena  pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.</p>
<p>Kyai  Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus orang-orang yang  bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat banyak para Kyai  yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid&#8217;ahan dan tradisi-tradisi yang  tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat itulah beliau  tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup yang penuh  cobaan dan ujian.</p>
<p>Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan  dan penghormatan tersandang, harta melimpah serta jabatan terpikul,  namun murka Allah dekat dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di  hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan  keselamatan dengan meninggalkan tradisi yang selama ini beliau  gandrungi.</p>
<p>Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat  kepada Allah dari ajaran-ajaran syirik, bid&#8217;ah dan kufur. Walaupun Kyai  Afrokhi ditinggalkan oleh para kyai ahli bid&#8217;ah, jama&#8217;ah serta santri  beliau, ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup  begitu nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu&#8217; serta penuh tawakkal  kepada Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.</p>
<p>Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:</p>
<p><em>&#8220;Untuk  itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas kekeliruan yang  saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf saya kepada warga  Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa saya sesatkan dalam  kebid&#8217;ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba&#8217;an, maulidan, haul dan  selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau kesyirikan dan juga  sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah senantiasa menerima taubat  dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang lalu (Amin ya robbal &#8216;alamin)&#8221;</em></p>
<p>(Dinukil  dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku &#8220;Buku Putih Kyai  NU&#8221; oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh Ponpes  Rohmatulloh-Kediri-, mantan A&#8217;wan Syuriah MWC NU Kandangan Kediri)</p>
<p>catatan:  Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan karena ada  alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok. Silahkan nukil  dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah ilalloh.</p>
<p>-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Menakjubkan Tentang Sabar dan Syukur Kepada Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 14:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[WEB USTADZ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc. Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc.</strong></p>
<p>Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama<strong> Abu Qilabah </strong>bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.</p>
<p><span id="more-1775"></span>Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu &#8216;anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, <strong>&#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;</strong>&#8221;</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.</p>
<p>Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, &#8220;Aku mendengar engkau berkata &#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;, maka nikmat manakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut??, dan kelebihan apakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu hingga engkau menysukurinya??&#8221;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8220;Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku?, demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya maka tolonglah engkau mencari kabar tentangya –semoga Allah merahmati engkau-&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau&#8221;.</p>
<p>Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gudukan pasir, tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan di makan oleh binatang buas, akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun. Aku berkata, &#8220;Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??&#8221;.</p>
<p>Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Tatkala aku menemui orang tersbut maka akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?&#8221;, aku berkata, &#8220;Benar&#8221;. Ia berkata, &#8220;Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?&#8221;.</p>
<p>Akupun berkata kepadanya, &#8220;Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihissalam?&#8221;, ia berkata, &#8220;Tentu Nabi Ayyub ‘alaihissalam &#8220;, aku berkata, &#8220;Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?&#8221;, orang itu berkata, &#8220;Tentu aku tahu&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?&#8221;, ia berkata, &#8220;Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikapnya?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?&#8221;, ia berkata, &#8220;Iya&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, lagsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau&#8221;. Orang itu berkata, <strong>&#8220;Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka&#8221;</strong>, kemudian ia berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.  Aku berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[1]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis. Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku &#8220;Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?&#8221;.</p>
<p>Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu  mereka berkata, &#8220;Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!&#8221;, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, &#8220;Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!&#8221;.</p>
<p>Aku bertanya kepada mereka, &#8220;Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?&#8221;, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu &#8216;Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan. Tatkala tiba malam hari akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah</p>
<h5>}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ{ (الرعد:24)</h5>
<p>&#8220;Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.&#8221; (QS. 13:24)</p>
<p>Lalu aku berkata kepadanya, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua&#8221;, ia berkata, &#8220;<strong>Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai</strong>&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>[1] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Sumber: situs pribadi guru kami Ustadz Firanda -<em>hafizhahullah</em>- <a href="http://firanda.com" target="_blank">http://firanda.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekedar Untuk Mengingat</title>
		<link>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 04:35:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Sykur]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1723</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka dahulunya, adalah para pemuda yang rajin mengikuti majelis ilmu dan duduk mendengarkan ceramah agama. Bahkan, beberapa di antara mereka adalah mantan tokoh-tokoh penggerak kegiatan dakwah di kampusnya. Tragis, gelar aktifis yang dulu mereka sandang kini telah berubah drastis. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1723"></span><span style="font-weight: normal;">Jenggot di dagu terpangkas habis, celana yang dulu diangkat di atas mata kaki -yang menandakan pengagungan terhadap Sunnah Nabi- kini telah terjurai menyentuh bumi, sosok yang dulunya sangat menjaga hubungan dengan perempuan non mahram kini telah terseret dalam aktifitas pacaran -bahkan dengan perempuan beda agama [!]-, pemuda yang sebelumnya akrab dengan majelis ilmu agama kini telah hanyut dalam dunia lain yang melalaikan dirinya dari tujuan hidupnya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Aduhai, semoga Allah mengembalikan mereka ke jalan-Nya&#8230;</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku, mengingat akan nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita merupakan perkara yang sangat penting dan banyak dilalaikan oleh manusia. Padahal, kita tahu bahwa semua kebaikan yang ada pada diri kita pada hakekatnya adalah anugerah dan karunia dari Allah ta&#8217;ala, sebuah nikmat yang harus kita syukuri dan kita senantiasa mohon kepada Allah agar meneguhkan kita di atas petunjuk dan bimbingan-Nya. Bukannya membuat kita malah menjadi sombong dan berubah menjadi hamba yang tidak bisa berterima kasih kepada Rabbnya. Perkara ini sudah sangat jelas sehingga semua orang niscaya bisa memahaminya dengan izin Allah. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan senantiasa mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur/ingkar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Baqarah</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengingatkan kita untuk senantiasa meminta tambahan petunjuk dan keteguhan agar kita bisa menjalani kehidupan dunia yang penuh dengan coba ini di atas rel yang semestinya. </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dalam sehari semalam tujuh belas kali kalimat ini kita ucapkan, yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita terhadap pancaran cahaya petunjuk dan bimbingan-Nya. Kalaulah Allah tidak menunjuki kita, maka kita akan tenggelam dalam berbagai kegelapan yang berlapis-lapis. Kegelapan dosa, kegelapan bid&#8217;ah, kegelapan syirik, atau bahkan kegelapan kemunafikan yang menjalar ke berbagai sikap dan perilaku hidup kita. Sehingga dengan kegelapan yang demikian pekat itu, kita tidak bisa melihat kebenaran sebagaimana mestinya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah keluarkan mereka dari bebagai kegelapam menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang akan mengeluarkan mereka dari cahaya menuju berbagai kegelapan.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Baqarah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span><em><span style="font-weight: normal;">. </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Maka tidak ada orang yang selamat dari kegelapan-kegelapan ini kecuali orang yang diberi taufik oleh Allah untuk tegar dalam menghadapi ujian, tidak tergoda dan terlena oleh kepalsuan dunia, tidak goyah oleh gemerlap kemewahan, dan senantiasa mengingat bahwa hidupnya di alam dunia ini hanyalah sejenak. Yang digambarkan oleh Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> layaknya seorang pengendara yang singgah di bawah sebatang pohon kemudian pergi meninggalkannya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang cerdas tentu tidak akan menjadikan pohon yang akan tumbang itu sebagai tempat tinggalnya, dia akan melanjutkan perjalanannya dan tidak terlena oleh sejuknya angin maupun rindangnya dedaunan. Karena perjalanannya masih jauh dan membutuhkan perbekalan yang cukup untuk mencapai tujuan dalam keadaan selamat. Saudaraku, cukuplah bagi kita firman Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Siapkanlah bekalmu wahai saudaraku, sebelum mulut terkunci dan sekujur tubuhmu menjadi kaku&#8230; </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dhimam bin Tsa&#8217;labah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 21:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Ahad]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sanad]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1714</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu, beliau mengatakan: Suatu saat ketika kami sedang duduk-duduk bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di masjid, kemudian ada seorang lelaki yang datang dengan mengendarai seekor onta, lantas dia berhentikan ontanya itu di masjid lalu mengikatnya. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dhimam-bin-tsalabah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dhimam-bin-tsalabah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><span style="font-weight: normal;">Dari Anas bin Malik </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau mengatakan: Suatu saat ketika kami sedang duduk-duduk bersama Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> di masjid, kemudian ada seorang lelaki yang datang dengan mengendarai seekor onta, lantas dia berhentikan ontanya itu di masjid lalu mengikatnya. Kemudian dia berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Ketika itu Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> sedang duduk sandaran di  antara mereka. Maka kami katakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ini orangnya, lelaki yang berkulit putih dan sedang bersandar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Lalu lelaki itu pun berkata kepada beliau, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Ibnu Abdil Muthallib?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya, aku akan menyambut keinginanmu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kemudian lelaki itu berkata kepada Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku akan bertanya kepadamu yang mungkin terlalu mengusik dirimu dalam menjawab pertanyaan itu. Maka janganlah engkau menyimpan kemarahan kepadaku disebabkan hal itu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Nabi berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tanyakanlah apa yang kira-kira tampak perlu bagimu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia bertanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku bertanya kepadamu dengan menyebut nama Rabbmu dan Rabb orang-orang sebelummu, apakah benar Allah mengutusmu kepada semua umat manusia?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Beliau menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allahumma, hal itu memang benar.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah yang memerintahkanmu supaya kami menunaikan sholat lima waktu dalam sehari semalam?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Nabi menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allahumma, hal itu memang benar.” Lalu dia berkata, “Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah memerintahkanmu agar kami berpuasa pada bulan -Ramadhan- ini dalam setiap tahunnya?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Nabi menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allahumma, hal itu memang benar.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah memerintahkanmu untuk memungut sedekah/zakat ini dari kalangan orang kaya di antara kami lalu kamu bagikan kepada orang miskin di antara kami?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Maka Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menjawab, “</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahumma, benar apa yang kamu ucapkan.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">lelaki itu berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku telah beriman kepada semua ajaran yang kamu bawa. Dan aku adalah utusan dari kaumku yang ada di belakangku. Namaku Dhimam bin Tsa&#8217;labah, salah seorang kerabat Bani Sa&#8217;d bin Bakr.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Bukhari [63] dan Muslim [12]</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/182-183] dan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/25-26])</span></span></p>
<p><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1714"></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Kisah ini mengandung faedah, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	seorang pemimpin duduk sambil bersandar di antara para pengikutnya. 	Kisah di atas menunjukkan kerendahan hati Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> yang tidak bersikap sombong sehingga mau untuk duduk-duduk bersama 	para sahabatnya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/183]). Maka sudah semestinya bagi seorang pemimpin untuk 	duduk-duduk bersama bawahannya untuk mendengar permasalahan dan 	keluhan mereka. Aduhai, alangkah indah adab dan akhlak yang 	dicontohkan oleh Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230; </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	dimaksud memberhentikan onta di masjid di dalam riwayat di atas 	adalah meletakkannya di pelataran masjid. Hal itu sebagaimana 	disebutkan dengan jelas dalam riwayat Ahmad dan al-Hakim dari Ibnu 	Abbas yang bunyinya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Maka 	dia pun memberhentikan ontanya di dekat pintu masjid dan mengikatnya 	lalu dia masuk -masjid-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/184]). Hal ini -</span></span><em><span style="font-weight: normal;">wallahu 	a&#8217;lam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">- 	mengisyaratkan bolehnya membuat tempat parkir kendaraan di halaman 	masjid. Bahkan, hal itu bisa jadi diperintahkan apabila ternyata 	dengan tidak adanya lahan khusus untuk parkir menyebabkan gangguan 	bagi masyarakat yang berlalu-lalang di sekitar masjid. Maka alangkah 	bijaknya para pembangun masjid yang tidak melupakan adanya tempat 	parkir khusus jama&#8217;ah di seputar masjid&#8230;</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hendaknya 	seorang murid atau penuntut ilmu mengajukan pertanyaan kepada 	gurunya dengan cara yang baik dan santun. Hal itu sebagaimana yang 	dicontohkan oleh Dhimam yang dengan santun mengajukan permohonan 	maafnya sebelum bertanya perkara yang bisa jadi mengusik perasaan 	Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Dan hendaknya sang murid mengajukan pertanyaan tanpa terlalu 	berpanjang lebar. Umar bin Khattab </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkomentar mengenai kisah ini, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku 	belum pernah melihat orang yang lebih bagus dalam mengajukan 	pertanyaan dan lebih ringkas dalam menyampaikannya daripada Dhimam.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/184])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini dijadikan dalil oleh al-Hakim untuk menegaskan anjuran untuk 	mencari sanad yang lebih tinggi dalam istilah ilmu hadits. Karena 	Dhimam bin Tsa&#8217;labah dalam kisah ini sebenarnya sedang menanyakan 	apa-apa yang telah disampaikan kepadanya oleh utusan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> yang beliau kirim kepada kaumnya, sebagaimana disebutkan dalam 	riwayat Muslim. Maka Dhimam sangat ingin mendengar hal itu secara 	lagsung dari lisan Rasul </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> demi lebih memperkuat keyakinannya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/185] dan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/25]). Yang dimaksud sanad yang lebih tinggi adalah yang lebih 	dekat dengan Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	atau lebih pendek jalurnya. Sanad yang lebih tinggi lebih utama 	karena lebih jauh dari kekeliruan dan kesalahpahaman. Imam Ahmad bin 	Hanbal berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sanad 	yang tinggi merupakan sunnah orang-orang yang terdahulu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Bahkan beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Mencari 	ketinggian sanad itu merupakan bagian dari agama.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Hadits 	an-Nabawi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 150-152). Saya katakan: Hal ini mengisyaratkan bahwa hendaknya 	kita berusaha untuk sebisa mungkin dekat dengan para ulama dan 	bimbingan mereka. Termasuk di dalamnya adalah dengan cara menggali 	ilmu dari murid-murid para ulama. Lihatlah, betapa banyak 	penyimpangan dan perselisihan yang timbul tatkala para penimba ilmu 	yang masih pemula tidak menggubris bimbingan para ulama besar 	mereka&#8230; </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul 	musta&#8217;aan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga merupakan hujjah/argumen yang sangat kuat untuk beramal 	dengan hadits ahad (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/186], </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/27]). Hadits ini juga menunjukkan wajibnya menerima hadits ahad 	dalam masalah akidah. Mengkhususkan bolehnya berhujjah dengan hadits 	ahad dalam masalah hukum saja -bukan untuk akidah- merupakan 	tindakan tanpa dalil dan perkara yang batil (lihat lebih lengkap 	dalam </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Muntaha 	al-Amani bi Fawa&#8217;id Mushtholah Hadits li al-Albani</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 83 dan sesudahnya)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	menisbatkan seseorang kepada kakeknya apabila kakeknya memang lebih 	terkenal daripada bapaknya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/187]). Yang dimaksud adalah sebutan Ibnu Abdil Muthallib yang 	diucapkan oleh Dhimam kepada Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Padahal, Abdul Muthallib adalah kakek Nabi bukan ayahnya. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	meminta orang lain untuk bersumpah dalam rangka menambah keyakinan 	dan untuk memperkuat penegasan suatu perkara (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/187])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini merupakan dalil yang menunjukkan bolehnya bersandar kepada 	bacaan seorang murid di hadapan gurunya yang biasa disebut dalam 	ilmu hadits sebagai </span></span><em><span style="font-weight: normal;">qiro&#8217;ah 	&#8216;alal alim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> atau </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-&#8217;ardh</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Orang yang membaca di hadapan gurunya sedangkan gurunya membenarkan 	atau mendiamkannya itu sama hukumnya dengan orang mendengar hal itu 	langsung dari penuturan gurunya. Sufyan berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apabila 	dibacakan kepada seorang muhaddits maka tidak mengapa kamu katakan, 	&#8216;haddatsani&#8217; -telah menuturkan kepadaku-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Imam Malik dan Sufyan ats-Tsauri berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Membaca 	di depan seorang alim dengan bacaan orang alim itu sendiri adalah 	sama.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/181-182], </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Hadits 	an-Nabawi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 200-201)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa wajibnya mengerjakan sholat lima waktu itu 	berlaku secara berulang-ulang untuk setiap sehari semalam. Demikian 	pula, hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban menjalankan puasa 	Ramadhan itu berlaku di setiap tahun (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/26])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga dijadikan dalil oleh para ulama untuk menyatakan bahwa 	orang-orang awam yang taklid adalah termasuk kaum beriman yang 	diterima keimanannya, selama mereka meyakini kebenaran tanpa 	tercampur dengan keragu-raguan (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/27]). Secara umum hukum taklid itu adalah boleh. Karena hal ini 	merupakan konsekuensi dari firman Allah (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Bertanyalah 	kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. </span></span><span style="font-style: normal;"><strong>an-Nahl: 43</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). 	Taklid diperbolehkan bagi orang yang tidak punya kemampuan untuk 	menggali kesimpulan hukum dari dalil. Adapun apabila dirinci, maka 	ada juga jenis taklid yang terlarang (lebih lengkap baca </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim 	Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 496 dst)     </span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

