Archive for the ‘Pemurnian Ajaran’ Category
Cara Mudah Mempelajari Aqidah Ahlus Sunnah (2)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Bab 2. Metode Salafus Shalih Dalam Penetapan Aqidah
Bab ini mencakup lima pembahasan:
-
Sumber Aqidah
-
as-Sunnah Merupakan Wahyu Yang Terjaga
-
as-Sunnah Merupakan Hujjah
-
as-Sunnah Merupakan Hujjah Yang Mandiri
-
Hadits Ahad Hujjah dalam Aqidah
Cara Mudah Mempelajari Aqidah Ahlus Sunnah (1)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Bab 1. Pengantar Aqidah Ahlus Sunnah
Bab ini mencakup tujuh pembahasan:
-
Makna Aqidah
-
Urgensi Aqidah
-
Makna as-Sunnah
-
Ahlus Sunnah wal Jama’ah
-
Nama Lain Ahlus Sunnah wal Jama’ah
-
Makna Salaf
-
Kewajiban Mengikuti Manhaj Salaf
Sekali Lagi Tentang Takfir
Pembaca,
Takfir, satu perkara yang sangat mendasar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita untuk tidak mudah menuduh kafir kepada saudaranya. Sebab, bila tuduhan kafir tersebut tidak benar, maka akan berbalik kepada yang menuduh. Berikut, kami sampaikan pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin tentang takfir.
Semoga dapat menambah pengetahuan dan pemahaman kita terhadap urgensi takfir. Disadur dari dua kitab Beliau rahimahullah, yaitu : Kitab Al Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid dan Syarh Kasyfu Asy Syubuhat (Wa Yalihi Syarh Al Ushul As Sittah).
Aktifis Pengajian Identik Dengan Teroris?
Apabila kita cermati munculnya fenomena aliran dan pemahaman yang menyimpang di kalangan umat Islam -seperti halnya kasus yang sedang banyak dibicarakan yaitu tentang terorisme berkedok jihad- boleh jadi akan banyak orang yang merasa heran bercampur kebingungan. Bagaimana bisa orang yang dikenal rajin beribadah, aktif mengikuti kegiatan keagamaan, dan menunjukkan semangat yang tinggi dalam berislam ikut terseret dalam pemahaman yang sesat?
Membongkar Kedustaan Wali Syaitan
Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dukun-dukun itu biasa menuturkan kepada kami lantas kami jumpai bahwa apa yang mereka katakan itu benar/terbukti, -bagaimana ini-.” Maka Nabi menjawab, “Itu adalah ucapan benar yang dicuri dengar oleh jin (syaitan) kemudian dia bisikkan ke telinga walinya (dukun) dan dia pun menambahkan seratus kedustaan di dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [7/334])
Meluruskan Sejarah Wahhabi (Kajian)
Bismillah, berikut ini link halaman web yang menyajikan kajian menarik dengan tema ‘Meluruskan Sejarah Wahhabi’ dengan pembicara Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawi hafizhahullah, selamat menyimak. Semoga bermanfaat…
Taat Kepada Penguasa
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku maka dia telah taat ikepada Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amirku maka dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai amirku maka dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari [7137] dalam Kitab al-Ahkam)
Berhati-Hati Dalam Menukil Berita
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila dia senantiasa menceritakan semua yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)
Menjadi Salafi, Mengapa Tidak?
Syaikh Salim Al-Hilali menukil keterangan Ibnu Manzhur seorang pakar bahasa Arab mengenai makna kata ’salaf’. Ibnu Manzhur mengatakan di dalam kamus Lisan Al-’Arab (9/159), “Salaf juga bermakna setiap orang yang mendahuluimu, yaitu nenek moyangmu dan orang-orang terdahulu yang masih memiliki hubungan kerabat denganmu; yang mereka itu memiliki umur dan keutamaan yang lebih di atasmu. Oleh sebab itu generasi pertama (umat ini) dari kalangan tabi’in disebut sebagai kaum salafush-shalih/pendahulu yang baik.” (lihat Limadza ikhtartul manhaj salafy, hal. 30).
Mengembalikan Kedaulatan Hukum Allah
Sebuah Kritik Atas Ketidakkonsistenan Hizbu Tahrir
Hizbu Tahrir bicara soal akidah
Ketika berbicara tentang perbandingan antara Wahabi dan golongannya, Hizbu Tahrir berkata, “Betul, bahwa ada masalah dalam akidah umat Islam, tetapi tidak berarti mereka belum berakidah Islam. Bagi Hizb, umat Islam sudah berakidah Islam. Hanya saja, akidahnya harus dibersihkan dari kotoran dan debu, yang disebabkan oleh pengaruh kalam dan filsafat. Karena itu, Hizb tidak pernah menganggap umat Islam ini sesat. Hizb juga menganggap, bahwa persoalan akidah ini, meski penting, bukanlah masalah utama. Bagi Hizb, masalah utama umat Islam adalah tidak berdaulatnya hukum Allah dalam kehidupan mereka. Karena itu, fokus perjuangan Hizb adalah mengembalikan kedaulatan hukum Allah, dengan menegakkan kembali Khilafah.” (Hizbu Tahrir Bukan Wahabi)
