<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Penjabaran</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/penjabaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 07:31:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Apakah Kita Sudah Bertaqwa?</title>
		<link>http://abumushlih.com/apakah-kita-sudah-bertaqwa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/apakah-kita-sudah-bertaqwa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 23:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2022</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Dzat yang paling berhak untuk kita takuti dan tempat kita memohon ampunan. Salawat dan keselamatan semoga terus tercurah kepada teladan terbaik, seorang hamba yang telah diampuni dosa-dosanya namun senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada-Nya minimal tujuh puluh &#8230; <a href="http://abumushlih.com/apakah-kita-sudah-bertaqwa.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapakah-kita-sudah-bertaqwa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapakah-kita-sudah-bertaqwa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, Dzat yang paling berhak untuk kita takuti dan tempat kita memohon ampunan. Salawat dan keselamatan semoga terus tercurah kepada teladan terbaik, seorang hamba yang telah diampuni dosa-dosanya namun senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada-Nya minimal tujuh puluh kali setiap harinya, semoga keselamatan juga terlimpah kepada para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2022"></span>Taqwa merupakan sebab keberuntungan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bertaqwalah kalian kepada Allah, mudah-mudahan kalian beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 189 </strong>lihat juga <strong>QS. Ali Imran: 130 </strong>dan <strong>200</strong>). Ini artinya, barangsiapa yang tidak bertaqwa kepada Allah maka dia tidak menempuh jalan yang akan mengantarkan dirinya menuju keberuntungan (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 88).</p>
<p>Hal ini -keberuntungan bagi orang yang bertaqwa- adalah sesuatu yang sangat wajar dan mudah dipahami, karena orang yang bertaqwa akan mendapatkan pertolongan dan pembelaan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang suka berbuat ihsan/kebaikan.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 128</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan senantiasa bersama dengan orang-orang yang bertaqwa.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 194</strong>). Yang dimaksud dengan kebersamaan Allah di sini adalah pertolongan dan pembelaan serta taufik dari-Nya, sebuah kebersamaan yang khusus bagi para rasul dan pengikut setia mereka (lihat <em>Mudzakkirah &#8216;ala al-Aqidah al-Wasithiyah</em> oleh Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>, hal. 38, lihat juga <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 90)</p>
<p>Orang paling faqih/paham agama dalam pandangan ulama salaf adalah orang yang paling bertaqwa. Suatu ketika, Sa&#8217;ad bin Ibrahim <em>rahimahullah</em> ditanya mengenai siapakah orang yang paling faqih di antara penduduk Madinah? Maka beliau menjawab, <em>“Yaitu orang yang paling bertaqwa di antara mereka.”</em> Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayim dalam <em>Miftah Dar as-Sa&#8217;adah</em> (lihat <em>Ta&#8217;liqat Risalah Lathifah</em> oleh Abul Harits at-Ta&#8217;muri, hal. 44). Lalu apakah pengertian taqwa? Thalq bin Habib <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Taqwa adalah kamu mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah disertai rasa takut akan siksaan dari Allah.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/222])</p>
<p>Namun, mewujudkan ketaqwaan tak semudah mengucapkannya. Karena ia membutuhkan ketekunan dan kesabaran serta ketelitian dalam mengoreksi diri dan berjuang untuk memperbaikinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, <em>“Tidaklah seseorang itu bisa menjadi orang yang bertaqwa sampai dia menjadi orang yang sangat perhitungan terhadap dirinya sendiri melebihi ketelitian seorang pengusaha terhadap rekan usahanya, dan juga sampai dia bisa mengetahui darimanakah pakaiannya (halal atau haram), tempat makan dan minumnya.”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim fi Thariq Thalab al-&#8217;Ilm</em>, oleh Syaikh Abdul Aziz as-Sad-han <em>hafizhahullah</em>, hal. 117).</p>
<p>Oleh sebab itu juga, tidak semestinya seorang larut dengan pujian yang dialamatkan orang lain kepada dirinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, <em>“Orang yang berakal adalah yang mengenali jati dirinya sendiri dan tidak tertipu oleh pujian orang-orang yang tidak mengerti seluk-beluk -kekurangan- dirinya.”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim fi Thariq Thalab al-&#8217;Ilm</em>, hal. 118). Perhatikanlah apa yang diucapkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> tatkala mendengar orang-orang memuji-muji dirinya. Beliau justru berdoa, <em>“Ya Allah, sesungguhnya Engkau lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri, dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka, maka ya Allah jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangka, dan jangan Engkau hukum aku gara-gara ucapan mereka, dan dengan rahmat-Mu maka ampunilah keburukan yang tidak mereka ketahui -pada diriku-.”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim fi Thariq Thalab al-&#8217;Ilm</em>, hal. 119).</p>
<p>Salah satu cara untuk mengoreksi diri adalah dengan mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang menimpa orang lain, yaitu dengan mencari tahu sebab-sebab yang mengantarkan mereka terjatuh ke dalam kesalahan tersebut (lihat <em>Ma&#8217;alim fi Thariq Thalab al-&#8217;Ilm</em>, hal. 120). Sehingga, orang yang berbahagia adalah yang bisa memetik pelajaran dari kejadian yang menimpa orang lain, bukan justru dia sendiri yang menjadi bahan pelajaran bagi orang-orang di sekelilingnya akibat kekeliruan yang dilakukannya. Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Sesungguhnya orang yang berbahagia itu adalah yang bisa memetik nasehat dari kejadian yang menimpa orang lain.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 140)</p>
<p>Salah seorang pembesar tabi&#8217;in serta tokoh ahli ibadah bernama Mutharrif bin Abdullah bin asy-Syikhkhir <em>rahimahullah</em> berdoa kepada Allah, <em>“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar jangan sampai ada orang lain yang lebih berbahagia dengan ilmu yang Kau ajarkan kepadaku daripada diriku sendiri, dan aku berlindung kepada-Mu agar jangan sampai aku menjadi bahan pelajaran bagi orang selain diriku.”</em> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengomentari doa ini, <em>“Ini adalah termasuk doa yang paling bagus.”</em> (lihat <em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amalu</em> oleh Syaikh Prof. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr <em>hafizhahullah</em>, hal. 20)</p>
<p>Dari sini, kita bisa mengetahui betapa besar peran <em>muhasabah</em>/introspeksi diri dalam mewujudkan ketaqwaan di dalam diri kita. Tidak mengherankan jika Allah <em>ta&#8217;ala</em> menyebutkan kedua perkara ini secara beriringan untuk mengingatkan kita tentang keterkaitan yang erat antara keduanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang sudah dia persiapkan untuk menyambut hari esok (hari kiamat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap segala amalan yang kalian kerjakan.”</em> (<strong>QS. al-Hasyr: 18</strong>)</p>
<p>Sementara, kita semua tahu bahwasanya pada hari kiamat kelak banyaknya harta dan keturunan tidak akan memberikan manfaat sama sekali, kecuali bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat dari gelapnya syubhat dan kotornya syahwat. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada  hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>). Maka ketaqwaan yang hakiki adalah ketaqwaan yang berakar dari dalam lubuk hati, bukan sekedar ucapan yang indah dan penampilan yang mengagumkan. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ketaqwaan yang hakiki adalah ketaqwaan dari dalam hati bukan semata-mata ketaqwaan dengan anggota badan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 136). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan perintah-perintah Allah, sesungguhnya hal itu lahir dari ketaqwaan di dalam hati.”</em> (<strong>QS. al-Hajj: 32</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak akan sampai kepada Allah daging maupun darahnya (kurban), akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan dari kalian.”</em> (<strong>QS. al-Hajj: 37</strong>).</p>
<p>Pertanyaan paling mendasar bagi kita sekarang adalah, <em>“Apakah kita masih memiliki hati?”</em>. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Carilah hatimu pada tiga tempat; ketika mendengarkan bacaan al-Qur&#8217;an, pada saat berada di majelis-majelis dzikir/ilmu, dan saat-saat bersendirian. Apabila kamu tidak berhasil menemukannya pada tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah untuk mengaruniakan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati -yang hidup- lagi.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 143). <em>Allahul musta&#8217;aan&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/apakah-kita-sudah-bertaqwa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Kesebelasan&#8217; Yang Merugi</title>
		<link>http://abumushlih.com/kesebelasan-yang-merugi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kesebelasan-yang-merugi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 18:08:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Iblis]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Munafik]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1836</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Berikut ini, sebelas karakter yang menjerumuskan manusia ke dalam kerugian. Semoga Allah menyelamatkan kita darinya. [1] Memeluk agama selain Islam Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kesebelasan-yang-merugi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkesebelasan-yang-merugi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkesebelasan-yang-merugi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Berikut ini, sebelas karakter yang menjerumuskan manusia ke dalam kerugian. Semoga Allah menyelamatkan kita darinya.</p>
<p><span id="more-1836"></span><strong>[1] Memeluk agama selain Islam</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya dan di akherat kelak dia pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>). Hakekat dari ajaran agama Islam adalah; berserah diri kepada Allah dengan bertauhid, patuh kepadanya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari segala bentuk syirik dan pelakunya (lihat <em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 30)</p>
<p><strong>[2] Murtad dari agama Islam</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa kafir setelah beriman maka sungguh sia-sia amal mereka dan di akherat dia termasuk golongan orang-orang yang merugi.” </em>(<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 5</strong>). Kemurtadan bisa dibagi menjadi tiga bentuk; [1] <strong>Keyakinan</strong>, seperti halnya menghalalkan sesuatu yang jelas-jelas haram dalam agama dan telah dimengerti dengan gamblang oleh setiap orang misalnya menghalalkan zina dan minum khamr. [2] <strong>Perbuatan</strong>, seperti halnya bersujud kepada makhluk, melempar mushaf al-Qur&#8217;an secara sengaja ke dalam comberan, dsb. [3] <strong>Ucapan</strong>, seperti halnya mengolok-olok adanya surga dan neraka, atau mengatakan bahwa dia tidak puas dengan hukum-hukum syari&#8217;at, dsb. (lihat <em>Matn al-Ghayah wa at-Taqrib ta&#8217;liq Majid al-Hamawi</em>, hal. 310-311)</p>
<p><strong>[3] Berbuat syirik</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu; bahwa jika kamu berbuat syirik niscaya akan terhapus seluruh amalmu dan kelak kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.” </em>(<strong>QS. az-Zumar: 65</strong>). Syirik terbagi 2; akbar dan ashghar. <strong>Syirik akbar</strong>; mengeluarkan dari agama, pelakunya -jika meninggal dan tidak bertaubat- maka kekal di neraka, menghapuskan semua amalan, menyebabkan bolehnya menumpahkan darah dan mengambil hartanya. <strong>Syirik ashghar</strong>; tidak mengeluarkan dari agama, apabila pelakunya masuk neraka maka tidak kekal, tidak menghapuskan semua amalan namun hanya amalan yang tercampurinya, tidak menyebabkan bolehnya menumpahkan darah atau mengambil hartanya (lihat <em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 20)</p>
<p><strong>[4] Lemah iman dan tidak berpendirian</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi, maka jika dia memperoleh kebaikan (kesenangan dunia) dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan (musibah) dia berbalik ke belakang (murtad). Dia rugi di dunia dan di akherat. Itulah kerugian yang nyata.” </em>(<strong>QS. al-Hajj: 11</strong>). Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah; diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, diamalkan dengan anggota badan, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan (lihat <em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 45). Iman itu bercabang-cabang dan berbeda-beda tingkatannya, ada di antaranya jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran, ada yang jika ditinggalkan menyebabkan dosa besar atau kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan menyebabkan tersia-siakannya pahala (lihat <em>Mujmal Masa&#8217;il Iman</em>, hal. 14)</p>
<p><strong>[5] Tidak beramal salih dan tidak berdakwah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” </em>(<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>). Mutharrif bin Abdullah berkata, <em>“Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Adapun baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.”</em> Ibnul Mubarak berkata, <em>“Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niatnya.”</em> Ibnu &#8216;Ajlan berkata, <em>“Amal tidak akan baik kecuali dengan tiga hal; ketakwaan kepada Allah, niat yang baik, dan benar/sesuai tuntunan.”</em> Fudhail bin Iyadh berkata, <em>“Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 19). Dakwah juga termasuk bagian dari amal ibadah, sehingga harus ikhlas dan sesuai tuntunan (lihat <em>al-Hujaj al-Qawiyyah</em>, hal. 11)</p>
<p><strong>[6] Mendustakan perjumpaan dengan Allah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh merugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Sehingga apabila kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, maka mereka berkata; &#8216;Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu.&#8217; Sementara mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.” </em>(<strong>QS. al-An&#8217;aam: 31</strong>). Barangsiapa yang mendustakan hari kebangkitan maka dia telah kafir (lihat <strong>QS. At-Taghabun: 7</strong>). <em> </em></p>
<p><strong>[7] Menentang ayat-ayat Allah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“(dan) barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya (karena timbangan keburukan/dosanya lebih berat), maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” </em>(<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 9</strong>)</p>
<p><strong>[8] Mengangkat setan sebagai pelindung</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menjadikan syaitan sebagai wali/pelindung maka sesungguhnya dia telah menderita kerugian yang sangat nyata.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 119</strong>). Bagaimana musuh justru dijadikan teman? Sementara Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengisahkan ucapan Iblis sang pemuka syaithan (yang artinya), <em>“Karena Engkau telah menetapkan aku sesat, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku pasti akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”</em> (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 16-17</strong>). Gangguan Iblis &#8216;dari arah kiri&#8217;, menurut penafsiran sebagian ulama dimaknakan dengan kemaksiatan yang diperintahkan dan dianjurkan Iblis yang dihias-hiasi olehnya supaya tampak indah dan menarik (lihat <em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 137).</p>
<p><strong>[9] Berbuat kerusakan di bumi</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“(orang fasik yaitu) orang-orang yang melenggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” </em>(<strong>QS. al-Baqarah: 27</strong>). Melakukan kemaksiatan adalah bentuk dari berbuat kerusakan di bumi (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 48).</p>
<p><strong>[10] Merasa aman dari makar Allah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi.” </em>(<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 99</strong>). Merasa aman dari makar Allah tergolong dosa besar yang sangat besar karena ia bertolak belakang dengan nilai-nilai tauhid. Termasuk bentuk merasa aman dari makar Allah adalah terus bertahan di atas kemaksiatan namun mengangankan ampunan Allah (lihat <em>Fath al-Majid</em>, hal. 346-347)</p>
<p><strong>[11] Bergabung dengan hizbu syaithan</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah bahwa sesungguhnya hizb syaithan itulah orang-orang yang merugi.” </em>(<strong>QS. al-Mujadilah: 19</strong>). Termasuk dalam golongan <em>hizb syaithan</em> adalah kaum munafikin yang memberikan loyalitas kepada orang kafir (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 847)<em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kesebelasan-yang-merugi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Penunjang Pembelajaran Bahasa Arab Untuk Pemula (2)</title>
		<link>http://abumushlih.com/catatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula-2.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/catatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula-2.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 16:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kaidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Kursus Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1733</guid>
		<description><![CDATA[BAGIAN 2. PENJABARAN I’RAB Review Pelajaran Terakhir: Dalam bahasa arab, akhir kata itu bisa berubah, dan ada juga yang tetap. Peristiwa perubahan akhir kata ini disebut i’rab. Kata yang bisa berubah akhirannya disebut dengan kata yang mu’rab. Adapun peristiwa tetapnya &#8230; <a href="http://abumushlih.com/catatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula-2.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcatatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula-2.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcatatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula-2.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>BAGIAN 2. PENJABARAN I’RAB </strong></p>
<p><strong>Review Pelajaran Terakhir</strong>:</p>
<p>Dalam bahasa arab, akhir kata itu bisa berubah, dan ada juga yang tetap. Peristiwa perubahan akhir kata ini disebut <em>i’rab</em>. Kata yang bisa berubah akhirannya disebut dengan kata yang <em>mu’rab</em>. Adapun peristiwa tetapnya akhir kata disebut dengan istilah <em>bina’</em>.  Kata yang senantiasa tetap keadaan akhirnya disebut dengan kata yang <em>mabni</em>.</p>
<p><span id="more-1733"></span></p>
<p><strong>Tahap Pertama:</strong></p>
<p><em>Mengenal Macam-Macam I’rab</em></p>
<p>Sebagaimana sudah diterangkan di depan, bahwa dalam bahasa arab kata itu terbagi menjadi <em>isim</em>, <em>fi’il</em> dan <em>harf</em>. Apabila ditinjau dari keadaan akhir katanya masing-masing kata tersebut dapat dirinci sebagai berikut: [1] <em>Isim</em>, ada yang mu’rab –akhirannya bisa berubah- dan ada yang mabni -akhirannya selalu tetap-, [2] <em>Fi’il</em>, ada yang mu’rab dan ada yang mabni, [3] <em>Harf</em>, semuanya mabni.</p>
<p><strong>Macam I’rab: </strong>I’rab ada 4 macam: <em>rofa’, nashab, jer/khafdh, </em>dan<em> jazm</em>. I’rab yang ada pada isim adalah rofa’, nashab, dan jer. Adapun i’rab yang ada pada fi’il adalah rofa’, nashab dan jazm. Kata yang i’rabnya rofa’ disebut <em>marfu’</em>. Kata yang i’rabnya nashab disebut <em>manshub</em>. Kata yang i’rabnya jer disebut <em>majrur</em>. Dan kata yang i’rabnya jazm disebut <em>majzum</em>. Maka isim itu ada yang <em>marfu’</em>, ada yang <em>manshub</em>, dan ada yang <em>majrur</em> (tidak ada isim majzum). Sedangkan fi’il, ada yang <em>marfu’</em>, ada yang <em>manshub</em>, dan ada yang <em>majzum</em> (tidak ada fi’il majrur).</p>
<p><strong>Tahap Kedua:</strong></p>
<p><em>Pengenalan Isim Mu’rab dan Isim Mabni</em></p>
<p><strong>Isim Mu’rab</strong>: adalah isim yang akhir katanya bisa berubah karena perubahan kedudukan/jabatan kata (misal sebagai pelaku) atau karena adanya kata lain yang mendahuluinya (misal harf jer). Isim mu’rab ada 9, yaitu: <em>isim mufrad</em>,<em> mutsanna, jamak mudzakar salim, jamak mu’annats salim, jamak taksir, maqshur, manqush, asma’ul khamsah, </em>dan<em> isim laa yansharif </em>.</p>
<p><strong>Isim Mabni</strong>: adalah isim yang akhir katanya senantiasa tetap meskipun kedudukan/jabatan katanya berubah atau didahului oleh kata-kata yang menyebabkan perubahan pada isim mu’rab. Isim mabni ada 5, yaitu: <em>isim dhamir</em> (kata ganti), <em>isim maushul</em> (kata sambung), <em>isim isyarah</em> (kata penunjuk), <em>isim istifham</em> (kata tanya), dan <em>isim syarat</em> (jika atau barangsiapa).</p>
<p><strong>Tahap Ketiga:</strong></p>
<p><em>Penjelasan Tanda-Tanda I’rab Pada Isim </em></p>
<p>Tanda i’rab pada isim terdiri dari tanda asal/pokok dan tanda cabang.</p>
<p>Tanda pokok i’rab pada isim adalah:</p>
<ol>
<li>Marfu’ dengan tanda dhommah; pada <em>isim mufrad, jamak taksir, jamak mu’annats salim, dan isim laa yansharif</em></li>
<li>Manshub dengan tanda fathah; pada <em>isim mufrad, jamak taksir, dan isim laa yansharif</em></li>
<li>Majrur dengan tanda kasrah; pada <em>isim mufrad, jamak taksir, dan jamak mu’annats salim</em></li>
</ol>
<p>Tanda cabang i’rab pada isim adalah sbb:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tanda rofa’</strong></p>
<ol>
<li>Marfu’ dengan tanda Alif; pada <em>isim mutsanna</em></li>
<li>Marfu’ dengan tanda Wawu; pada isim <em>asma’ul khomsah dan jamak mudzakar salim </em></li>
<li>Marfu’ dengan tanda Dhommah muqaddarah/dhommah yang tidak ditulis; pada <em>isim maqshur dan manqush</em></li>
</ol>
<p><strong>Tanda nashab</strong></p>
<ol>
<li>Manshub dengan tanda Ya’; pada <em>isim mutsanna dan jamak mudzakar salim</em></li>
<li>Manshub dengan tanda Alif; pada <em>isim asma’ul khomsah</em></li>
<li>Manshub dengan tanda Kasrah; pada <em>isim jamak mu’annats salim</em></li>
<li>Manshub dengan tanda Fathah muqaddarah; pada <em>isim maqshur</em></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tanda jer</strong></p>
<ol>
<li>Majrur dengan tanda Ya’; pada <em>isim mutsanna dan jamak mudzakkar salim</em></li>
<li>Majrur dengan tanda Fathah; pada <em>isim laa yansharif</em></li>
<li>Majrur dengan tanda Kasrah muqaddarah; pada <em>isim maqshur dan manqush</em></li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Tahap Keempat:</strong></p>
<p><em>Pengenalan Fi’il Mu’rab dan Fi’il Mabni</em></p>
<p><strong>Fi’il Mu’rab</strong>: adalah fi’il yang akhir katanya bisa berubah karena disebabkan masuknya alat-alat penashob atau penjazem. Fi’il yang mu’rab mencakup; semua fi’il mudhari’ yang tidak bersambung dengan nun inats atau nun taukid.</p>
<p>Fi’il mudhari’ yang mu’rab ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok:</p>
<ol>
<li>Fi’il shohih akhir; yaitu yang akhirannya adalah huruf shohih (selain alif, wawu dan ta’)</li>
<li>Fi’il mu’tal akhir; yaitu yang akhirannya adalah huruf ‘illat (alif, wawu atau ta’)</li>
<li>Fi’il af’alul khomsah; yaitu yang akhirannya adalah huruf ‘illat dan nun</li>
</ol>
<p><strong>Fi’il Mabni</strong>: adalah fi’il yang akhir katanya senantiasa tetap meskipun dimasuki oleh alat penashob atau penjazem. Fi’il yang mabni mencakup; semua fi’il madhi, semua fi’il amr, dan fi’il mudhari’ yang bersambung dengan nun inats atau nun taukid.</p>
<p><strong>Tahap Kelima: </strong></p>
<p><em>Penjelasan Tanda-Tanda I’rab Pada Fi’il </em></p>
<p>Tanda i’rab pada fi’il adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mudhari’ Shohih Akhir</strong></p>
<ol>
<li>Marfu’ dengan tanda dhommah</li>
<li>Manshub dengan tanda fathah</li>
<li>Majzum dengan tanda sukun</li>
</ol>
<p><strong>Mudhari’ Mu’tal Akhir</strong></p>
<ol>
<li>Marfu’ dengan tanda dhommah muqoddarah</li>
<li>Manshub dengan tanda fathah pada mu’tal ya’ dan wawu sedangkan untuk mu’tal alif manshub dengan tanda fathah muqoddarah</li>
<li>Majzum dengan tanda dihapus huruf terakhirnya/<em>hadzful akhir</em></li>
</ol>
<p><strong>Mudhari’ Af’alul Khomsah</strong></p>
<ol>
<li>Marfu’ dengan tetapnya huruf nun di akhir/<em>tsubutun nun</em></li>
<li>Manshub dengan dihapusnya huruf nun di akhir/<em>hadzfun nun</em></li>
<li>Majzum dengan dihapusnya huruf nun di akhir/<em>hadzfun nun </em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/catatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula-2.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Penunjang Pembelajaran Bahasa Arab Untuk Pemula</title>
		<link>http://abumushlih.com/catatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/catatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 17:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Baca Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kaidah]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Pemula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1721</guid>
		<description><![CDATA[BAGIAN 1. PENDAHULUAN Tahap Pertama Mengenali istilah-istilah dasar dalam bahasa arab Dalam bahasa arab kata disebut dengan al-Kalimah. al-Kalimah dibagi menjadi 3; isim (kata benda), fi’il (kata kerja) dan harf (kata depan).  Suatu susunan kalimat sempurna dalam bahasa arab disebut &#8230; <a href="http://abumushlih.com/catatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcatatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcatatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>BAGIAN 1. PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tahap Pertama</strong><br />
<em>Mengenali istilah-istilah dasar dalam bahasa arab </em></p>
<p>Dalam bahasa arab kata disebut dengan <em>al-Kalimah</em>. <em>al-Kalimah </em>dibagi menjadi 3; <em>isim </em>(kata benda), <em>fi’il</em> (kata kerja) dan <em>harf</em> (kata depan).  Suatu susunan kalimat sempurna dalam bahasa arab disebut dengan <em>al-Jumlah al-Mufidah</em>/<em>al-Kalam</em>.</p>
<p><span id="more-1721"></span>Ada  4 syarat <em>jumlah mufidah</em>, yaitu: [1] Berupa <strong>lafazh</strong>, yaitu suara yang terdiri dari huruf-huruf hija’iyah, [2] Tersusun (<strong>murokkab</strong>) lebih dari satu kata, baik tampak maupun tidak tampak/ada yang disembunyikan, [3] Berfaedah sempurna (<strong>mufid</strong>), artinya pendengar tidak menyimpan tanda tanya lagi setelah kalimat itu diucapkan karena ada sesuatu yang kurang lengkap dalam kalimat tersebut, [4] Mengikuti kaidah penyusunan kalimat dalam bahasa arab dan menggunakan bahasa arab, bukan bahasa selain arab (<strong>bil wadh’i</strong>).</p>
<p><strong>Tahap Kedua</strong><br />
<em>Mengenali Isim, Fi’il dan Harf</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>al-Kalimah</em> atau ‘kata’ sebagaimana sudah diterangkan di atas terdiri dari <em>isim</em>, <em>fi’il</em> dan <em>harf</em>.  Berikut ini akan dijelaskan lebih detil mengenai ketiga macam kata tersebut, mulai dari pengertian, ciri-ciri, serta pembagiannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pengertian Isim: </strong>Isim adalah suatu kata yang menunjukkan suatu makna sempurna dengan sendirinya dan tidak menggambarkan latar belakang waktu kejadian, dalam bahasa Indonesia <em>isim</em> dikenal dengan istilah ‘kata benda’. Kata benda ini bisa mencakup manusia, hewan, benda mati, tumbuhan, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Ciri-ciri Isim</strong>:<strong> </strong>Isim bisa dikenali dengan melihat ciri yang ada padanya, di antara ciri tersebut adalah: [1] Bisa dikasrah akhir katanya, [2] Bisa ditanwin akhirannya, [3] Bisa diberi alif-lam (al) di awalnya, [4] Didahului oleh harf jer (akan diterangkan nanti di bagian harf)</p>
<p><strong>Pembagian Isim: </strong>Isim dapat dibagi berdasarkan bilangannya menjadi 3 jenis: [1] <em>Isim mufrad</em>; yaitu yang menunjukkan tunggal. [2] <em>Isim mutsanna</em>; yaitu yang menunjukkan ganda/dua. [3] <em>Isim Jamak</em>; yaitu yang menunjukkan banyak/lebih dari dua. Selain pembagian ini masih ada pembagian lain yang akan diterangkan di belakang, insya Allah.</p>
<p><strong>Pengertian Fi’il</strong>: Fi’il adalah suatu kata yang menunjukkan suatu makna sempurna dengan sendirinya dan menggambarkan latar belakang waktu kejadian, dalam bahasa Indonesia <em>fi’il</em> dikenal dengan istilah ‘kata kerja’. Namun, terdapat sedikit perbedaan yaitu dalam bahasa arab bentuk kata kerja itu berubah sesuai dengan latar belakang waktu kejadiannya, tidak sebagaimana pada bahasa Indonesia. Kata kerja ini mencakup kata kerja lampau (<strong><em>fi’il madhi</em></strong>), kata kerja sekarang/akan datang (<strong><em>fi’il mudhari’</em></strong>), dan kata kerja perintah (<strong><em>fi’il amr</em></strong>).</p>
<p><strong>Ciri-ciri Fi’il</strong>: Fi’il bisa dikenali dengan melihat ciri yang ada padanya, di antara ciri tersebut adalah: [1] Didahului dengan kata <em>qad</em> (sesungguhnya), [2] Didahului dengan kata <em>saufa</em> (kelak), [3] Didahului dengan kata <em>sa</em> (akan), [4] Diakhiri dengan <em>ta’ ta’nits sakinah</em> (huruf ta’ sukun yang menunjukkan pelakunya adalah perempuan), [5] Bisa bersambung dengan <em>ta’ fa’il</em> (huruf ta’ yang menunjukkan pelaku), [6] Bisa bersambung dengan <em>nun taukid</em> (huruf nun tasydid yang menunjukkan penegasan)</p>
<p><strong>Pembagian Fi’il</strong>: Fi’il dapat dibagi berdasarkan bentuk penunjukan waktunya menjadi 3: [1] <em>Fi’il madhi</em>; menunjukkan suatu kejadian/perbuatan di waktu yang telah berlalu. [2] <em>Fi’il mudhari’</em>; menunjukkan suatu kejadian/perbuatan di waktu yang sedang berjalan atau akan datang. [3] <em>Fi’il amr</em>; menunjukkan tuntutan akan terjadinyaa suatu perbuatan di masa depan/sesudah waktu pembicaraan.</p>
<p><strong>Pengertian Harf</strong>: Harf adalah suatu kata yang menunjukkan suatu makna sempurna tidak pada dirinya sendirinya, artinya dia memerlukan kata yang lain (isim atau fi’il) untuk menyempurnakan maksudnya.  Harf semacam ini disebut juga dengan <em>harf ma’ani</em>; huruf yang bermakna. Karena di sana terdapat juga jenis harf lain yang tidak bermakna dan disebut dengan <em>harf mabani</em> yaitu huruf-huruf hija’iyah (alif sampai ya’). Di antara contoh harf ma’ani adalah <em>harf jer</em>, yaitu harf yang menyebabkan isim sesudahnya menjadi kasrah.</p>
<p><strong>Ciri-Ciri Harf</strong>: Harf tidak memiliki ciri khusus sebagaimana halnya isim atau fi’il.</p>
<p><strong>Pembagian Harf</strong>: Harf dapat dibagi menjadi 3: [1] Harf yang bisa masuk kepada isim saja, contohnya adalah harf jer [2] Harf yang bisa masuk pada fi’il saja, contohnya harf <em>lam</em> dan <em>lan</em> [3] Harf yang bisa masuk kepada isim maupun fi’il, contohnya <em>wa</em> (yang artinya; dan).</p>
<p><strong>Tahap Ketiga</strong><br />
<em>Mengenal keadaan akhir kata</em></p>
<p>Dalam bahasa arab, akhir kata itu bisa berubah, dan ada juga yang tetap. Peristiwa perubahan akhir kata ini disebut <em>i’rab</em>. Kata yang bisa berubah akhirannya disebut dengan kata yang <em>mu’rab</em>. Adapun peristiwa tetapnya akhir kata disebut dengan istilah <em>bina’</em>. Kata yang senantiasa tetap keadaan akhirnya disebut dengan kata yang <em>mabni</em>.</p>
<p>Bersambung insya Allah.. <em>Allahul muwaffiq</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/catatan-penunjang-pembelajaran-bahasa-arab-untuk-pemula.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadikan Sunnah Sebagai Pijakan</title>
		<link>http://abumushlih.com/menjadikan-sunnah-sebagai-pijakan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/menjadikan-sunnah-sebagai-pijakan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 22:18:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ushul Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1689</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. an-Nisaa&#8217;: 80) Pengertian Sunnah Sunnah dalam terminologi ahli ushul merupakan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam selain al-Qur&#8217;an. Maka &#8230; <a href="http://abumushlih.com/menjadikan-sunnah-sebagai-pijakan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenjadikan-sunnah-sebagai-pijakan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenjadikan-sunnah-sebagai-pijakan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang taat kepada rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 80</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1689"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><strong>Pengertian Sunnah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sunnah dalam terminologi ahli ushul merupakan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> selain al-Qur&#8217;an. Maka dalam pengertian ini, sunnah itu mencakup ucapan beliau </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, perbuatannya, persetujuannya, tulisan yang beliau tinggalkan, isyarat yang beliau berikan, tekad dan juga sikap beliau dalam meninggalkan sesuatu. Dalam makna ini maka sunnah itu bisa disamakan dengan istilah al-Hikmah yang sering disebutkan beriringan dengan al-Kitab di dalam ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Seperti misalnya, Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah, dan Allah mengajarkan kepadamu apa-apa yang kamu tidak ketahui, dan karunia Allah atas dirimu sungguh sangat besar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 113</strong><span style="font-weight: normal;">). Oleh sebab itu Imam asy-Syafi&#8217;i </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> menukil keterangan ulama ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan al-Hikmah di sini adalah Sunnah Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 122)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><strong>Klasifikasi Sunnah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sunnah dalam pengertian ini dapat dibagi menjadi tiga bagian apabila ditinjau dari keterkaitannya dengan dalil-dalil al-Qur&#8217;an. </span><strong>Pertama</strong><span style="font-weight: normal;">: Sunnah yang menjadi penegas; yaitu Sunnah yang sama persis kandungannya dengan kandungan dalil atau ayat al-Qur&#8217;an dari segala sisi. </span><strong>Kedua</strong><span style="font-weight: normal;">: Sunnah yang menjadi penjelas atau penafsir terhadap perkara-perkara yang disebutkan secara global saja oleh ayat al-Qur&#8217;an. </span><strong>Ketiga</strong><span style="font-weight: normal;">: Sunnah yang bersifat mandiri atau menambahkan sesuatu yang memang tidak disinggung di dalam al-Qur&#8217;an. Sunnah semacam ini bisa berupa keterangan mengenai wajibnya sesuatu yang hukumnya didiamkan oleh al-Qur&#8217;an, artinya al-Qur&#8217;an tidak membicarakan mengenai wajibnya hal itu. Atau bisa juga berupa keterangan mengenai haramnya sesuatu yang hukumnya didiamkan oleh al-Qur&#8217;an, artinya al-Qur&#8217;an tidak membicarakan mengenai haramnya hal itu (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 123) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><strong>Sunnah sebagai hujjah/landasan hukum</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Kaum muslimin telah sepakat mengenai wajibnya taat kepada Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> dan keharusan untuk mengikuti Sunnahnya. Ibnu Taimiyah </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Adapun Sunnah ini, apabila ia telah terbukti keabsahannya maka segenap kaum muslimin telah sepakat mengenai kewajiban untuk mengikutinya.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Di antara dalil-dalil yang melandasinya adalah firman Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Katakanlah: taatilah Allah dan taatilah Rasul, apabila kalian berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir itu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Ali Imran: 32</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> juga berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau merasakan siksaan yang sangat pedih.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nur: 63</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> juga berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak pantas bagi seorang beriman lelaki ataupun perempuan apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian ternyata masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam menyelesaikan urusan mereka.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ahzab: 36</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang perkara apa saja maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 59</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan al-Kitab dan yang semisal dengannya bersama hal itu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Abu Dawud, dll</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Beliau juga bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah itu sama kedudukannya dengan apa yang diharamkan oleh Allah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Ibnu Majah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 124-125) </span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/menjadikan-sunnah-sebagai-pijakan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Depan Gerbang Kematian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1553</guid>
		<description><![CDATA[Kematian, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia tidak mau menerima pengunduran &#8230; <a href="http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-depan-gerbang-kematian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-depan-gerbang-kematian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em> Kematian</em>, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya  diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti  akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba  saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia  tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekalipun. Karena  bukanlah sifat malaikat seperti manusia, yang zalim dan jahil.</p>
<p><span id="more-1553"></span>Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia  lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para  malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai,  tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini  juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah  orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa.  Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada  di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ?  Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi  malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita  tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita  melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan  engkau jera ?</p>
<p><strong>Sebab-sebab su’ul khatimah</strong></p>
<p>Saudaraku seiman mudah -mudahan Allah memberikan taufik kepada Anda-  ketahuilah bahwa su’ul khatimah tidak akan terjadi pada diri orang yang  shalih secara lahir dan batin di hadapan Allah. Terhadap orang-orang  yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya, tidak pernah terdengar cerita  bahwa mereka su’ul khotimah. Su’ul khotimah hanya terjadi pada orang  yang rusak batinnya, rusak keyakinannya, serta rusak amalan lahiriahnya;  yakni terhadap orang-orang yang nekat melakukan dosa-dosa besar dan  berani melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Kemungkinan semua dosa itu  demikian mendominasi dirinya sehingga ia meninggal saat melakukannya,  sebelum sempat bertaubat dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa su’ul khotimah memiliki berbagai sebab yang  banyak jumlahnya. Di antaranya yang terpokok adalah sebagai berikut :</p>
<ul>
<li> Berbuat syirik kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em>. Pada hakikatnya syirik  adalah ketergantungan hati kepada selain Allah dalam bentuk rasa cinta,  rasa takut, pengharapan, do’a, tawakal, inabah (taubat) dan lain-lain.</li>
<li>Berbuat bid’ah dalam melaksanakan agama. Bid’ah adalah menciptakan  hal baru yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Penganut  bid’ah tidak akan mendapat taufik untuk memperoleh husnul khatimah,  terutama penganut bid’ah yang sudah mendapatkan peringatan dan nasehat  atas kebid’ahannya. Semoga Allah memelihara diri kita dari kehinaan itu.</li>
<li>Terus menerus berbuat maksiat dengan menganggap remeh dan sepele  perbuatan-perbuatan maksiat tersebut, terutama dosa-dosa besar.  Pelakunya akan mendapatkan kehinaan di saat mati, disamping setan pun  semakin memperhina dirinya. Dua kehinaan akan ia dapatkan sekaligus dan  ditambah lemahnya iman, akhirnya ia mengalami su’ul khotimah.</li>
<li>Melecehkan agama dan ahli agama dari kalangan ulama, da’i, dan  orang-orang shalih serta ringan tangan dan lidah dalam mencaci dan  menyakiti mereka.</li>
<li>Lalai terhadap Allah dan selalu merasa aman dari siksa Allah. Allah  berfirman yang artinya, <em>“Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang  tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali  orang-orang yang merugi”</em> (QS. Al A’raaf [7] : 99)</li>
<li>Berbuat zalim. Kezaliman memang ladang kenikmatan namun berakibat  menakutkan. Orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang paling layak  meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Allah berfirman yang artinya,  <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang  zalim”</em> (QS. Al An’aam [6] : 44)</li>
<li>Berteman dengan orang-orang jahat. Allah berfirman yang artinya,  <em>“(Ingatlah) hari ketika orang yang zalim itu menggigit dua tangannya,  seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan yang lurus  bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak  menjadikan si fulan sebagai teman akrabku”</em> (QS. Al Furqaan [25] : 27-28)</li>
<li>Bersikap ujub. Sikap ujub pada hakikatnya adalah sikap seseorang  yang merasa bangga dengan amal perbuatannya sendiri serta menganggap  rendah perbuatan orang lain, bahkan bersikap sombong di hadapan mereka.  Ini adalah penyakit yang dikhawatirkan menimpa orang-orang shalih  sehingga menggugurkan amal shalih mereka dan menjerumuskan mereka ke  dalam su’ul khotimah.</li>
</ul>
<p>Demikianlah beberapa hal yang bisa menyebabkan su’ul khotimah.  Kesemuanya adalah biang dari segala keburukan, bahkan akar dari semua  kejahatan. Setiap orang yang berakal hendaknya mewaspadai dan  menghindarinya, demi menghindari su’ul khotimah.</p>
<p><strong>Tanda-tanda husnul khotimah</strong></p>
<p>Tanda-tanda husnul khotimah cukup banyak. Di sini kami menyebutkan  sebagian di antaranya saja :</p>
<ul>
<li> Mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah saat meninggal.  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, <em>“Barangsiapa yang  akhir ucapan dari hidupnya adalah laa ilaaha illallaah, pasti masuk  surga”</em> (HR. Abu Dawud dll, dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil)</li>
<li>Meninggal pada malam Jum’at atau pada hari Jum’at. Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap muslim yang meninggal  pada hari atau malam Jum’at pasti akan Allah lindungi dari siksa kubur”</em> (HR.Ahmad)</li>
<li>Meninggal dengan dahi berkeringat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, <em>“Orang mukmin itu meninggal dengan berkeringat di  dahinya”</em> (HR. Ahmad, Tirmidzi dll. dishahihkan Al Albani)</li>
<li>Meninggal karena wabah penyakit menular dengan penuh kesabaran dan  mengharapkan pahala dari Allah, seperti penyakit kolera, TBC dan lain  sebagainya</li>
<li>Wanita yang meninggal saat nifas karena melahirkan anak. Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang wanita yang meninggal  karena melahirkan anaknya berarti mati syahid. Sang anak akan  menarik-nariknya dengan riang gembira menuju surga”</em> (HR. Ahmad)</li>
<li>Munculnya bau harum semerbak, yakni yang keluar dari tubuh jenazah  setelah meninggal dan dapat tercium oleh orang-orang di sekitarnya.  Seringkali itu didapatkan pada jasad orang-orang yang mati syahid,  terutama syahid fi sabilillah.</li>
<li>Mendapatkan pujian yang baik dari masyarakat sekitar setelah  meninggalnya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah melewati  jenazah. Beliau mendengar orang-orang memujinya. Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Pasti (masuk) surga”</em> Beliau kemudian  bersabda, <em>“kalian -para sahabat- adalah para saksi Allah di muka bumi ini”</em> (HR. At  Tirmidzi)</li>
<li>Melihat sesuatu yang menggembirakan saat ruh diangkat. Misalnya,  melihat burung-burung putih yang indah atau taman-taman indah dan  pemandangan yang menakjubkan, namun tidak seorangpun di sekitarnya yang  melihatnya. Kejadian itu dialami sebagian orang-orang shalih. Mereka  menggambarkan sendiri apa yang mereka lihat pada saat sakaratul maut  tersebut dalam keadaan sangat berbahagia, sedangkan orang-orang di  sekitar mereka tampak terkejut dan tercengang saja.</li>
</ul>
<p><strong>Bagaimana kita menyambut kematian?</strong></p>
<p>Saudara tercinta, sambutlah sang kematian dengan hal-hal berikut :</p>
<ul>
<li> Dengan iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para  Rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk.</li>
<li>Dengan menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya di masjid  secara berjama’ah bersama kaum muslim dengan menjaga kekhusyu’an dan  merenungi maknanya. Namun, shalat wanita di rumahnya lebih baik daripada  di masjid.</li>
<li>Dengan mengeluarkan zakat yang diwajibkan sesuai dengan takaran dan  cara-cara yang disyari’atkan.</li>
<li>Dengan melakukan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap  pahala.</li>
<li>Dengan melakukan haji mabrur, karena pahala haji mabrur pasti surga.  Demikian juga umrah di bulan Ramadhan, karena pahalanya sama dengan  haji bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, yakni setelah melaksanakan  yang wajib. Baik itu shalat, zakat, puasa maupun haji. Allah  menandaskan dalam sebuah hadits qudsi, <em>“Seorang hamba akan terus  mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku  mencintai-Nya”</em></li>
<li>Dengan segera bertobat secara ikhlas dari segala perbuatan maksiat  dan kemungkaran, kemudian menanamkan tekad untuk mengisi waktu dengan  banyak memohon ampunan, berdzikir, dan melakukan ketaatan.</li>
<li>Dengan ikhlas kepada Allah dan meninggalkan riya dalam segala  ibadah, sebagaimana firman Allah yang artinya, <em>“Padahal mereka tidak  disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan  kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus”</em> (QS. Al Bayyinah [98] :  5)</li>
<li>Dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya.</li>
<li>Hal itu hanya sempurna dengan mengikuti ajaran Nabi, sebagaimana  yang Allah firmankan yang artinya, <em>“Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni  dosa-dosamu’. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang”</em> (QS. Ali Imran  [3] : 31)</li>
<li>Dengan mencintai seseorang karena Allah dan membenci seseorang  karena Allah, berloyalitas karena Allah dan bermusuhan karena Allah.  Konsekuensinya adalah mencintai kaum mukmin meskipun saling berjauhan  dan membenci orang kafir meskipun dekat dengan mereka.</li>
<li>Dengan rasa takut kepada Allah, dengan mengamalkan ajaran kitab-Nya,  dengan ridha terhadap rezeki-Nya meski sedikit, namun bersiap diri  menghadapi Hari Kemudian. Itulah hakikat dari takwa.</li>
<li>Dengan bersabar menghadapi cobaan, bersyukur kala mendapatkan  kenikmatan, selalu mengingat Allah dalam suasana ramai atau dalam  kesendirian, serta selalu mengharapkan keutamaan dan karunia dari Allah.  Dan lain-lain</li>
</ul>
<p>(dicuplik dari <em>Misteri Menjelang Ajal, Kisah-Kisah Su’ul Khatimah  dan Husnul Khatimah</em>, penerjemah Al Ustadz Abu ‘Umar Basyir  <em>hafizhahullah</em>). Semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi kita  Muhammad, kepada sanak keluarga beliau dan para sahabat beliau</p>
<p>Penyusun ulang: Ari Wahyudi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kau Kira Hidup Ini Sia-Sia?</title>
		<link>http://abumushlih.com/kau-kira-hidup-ini-sia-sia.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kau-kira-hidup-ini-sia-sia.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 07:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hedonisme]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Nihilisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1546</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha tinggi Allah Raja Yang Maha benar. Tiada sesembahan -yang benar- kecuali Dia, Rabb Yang memiliki Arsy yang mulia.” &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kau-kira-hidup-ini-sia-sia.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkau-kira-hidup-ini-sia-sia.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkau-kira-hidup-ini-sia-sia.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha tinggi Allah Raja Yang Maha benar. Tiada sesembahan -yang benar- kecuali Dia, Rabb Yang memiliki Arsy yang mulia.”</em> (QS. al-Mu&#8217;minun: 115-116)</p>
<p><span id="more-1546"></span>Ayat yang mulia ini mengandung pelajaran penting, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Sesungguhnya manusia diciptakan bukan tanpa tujuan atau sekedar      untuk bermain-main saja dan demi kesia-siaan. Manusia tidak seperti      binatang yang tidak mendapatkan pahala atau hukuman. Akan tetapi Allah      menciptakan manusia agar beribadah dan menegakkan perintah-perintah-Nya      (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [3/272] cet. Dar al-Fikr).      Sebagaimana telah Allah tegaskan dalam ayat lain (yang artinya), <em>“Tidaklah      Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (QS. adz-Dzariyat: 56). Sedangkan ibadah itu dibangun di atas dua prinsip      pokok yaitu kesempurnaan rasa cinta dan kesempurnaan perendahan diri.      Ibadah mencakup segala perkara yang dicintai dan diridhai Allah, berupa      ucapan ataupun perbuatan, yang tampak ataupun yang tersembunyi (lihat <em>Syarh      al-Jami&#8217; li &#8216;Ibadatillahi wahdah</em>, hal. 18 dalam bentuk pdf). Dalam      istilah syari&#8217;at, ibadah bisa juga dimaknai sebagai pelaksanaan terhadap      perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya dengan      dilandasi rasa cinta, harap, dan takut (lihat <em>at-Tam-hid li Syarh Kitab      at-Tauhid</em>, hal. 13 dalam bentuk pdf)</li>
<li>Wajibnya mengimani adanya hari akhir, yaitu kembalinya manusia      ke kampung akherat (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [3/272] cet.      Dar al-Fikr).</li>
<li>Allah tersucikan dari perbuatan sia-sia, di antara contohnya      adalah tidak mungkin Allah menciptakan manusia ini tanpa ada tujuan dan      hikmahnya (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [3/272] cet. Dar      al-Fikr).</li>
<li>Barangsiapa yang mengira bahwa Allah menciptakan alam semesta      ini untuk kesia-siaan maka secara tidak langsung dia telah mencela      kesempurnaan kekuasaan Allah atas kerajaan-Nya, sehingga Allah tidak kuasa      untuk memberikan perintah dan larangan untuk makhluk-Nya. Dan orang yang      beranggapan semacam itu tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar      pengagungan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dan      mereka -orang-orang musyrik- itu tidaklah mengagungkan Allah dengan      sebenar-benar pengagungan. Tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak      menurunkan apapun kepada umat manusia.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 91) (lihat <em>adh-Dhau&#8217;      al-Munir &#8216;ala at-Tafsir</em> [4/325] dalam bentuk pdf)</li>
<li>Anggapan bahwa alam semesta ini ada demi sebuah kesia-siaan      adalah anggapan yang muncul dari orang-orang kafir. Sebagaimana yang      dijelaskan oleh Allah dalam ayat (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami      menciptakan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di antara      keduanya ini untuk kesia-siaan. Itu adalah persangkaan orang-orang kafir      saja, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk ke      dalam neraka.”</em> (QS. Shaad: 27) (lihat <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir &#8216;ala      at-Tafsir</em> [4/326] dalam bentuk pdf). Dan ini merupakan bentuk buruk      sangka (<em>su&#8217;u zhan</em>) mereka kepada <em>Rabbul &#8216;alamin</em> (lihat <em>adh-Dhau&#8217;      al-Munir &#8216;ala at-Tafsir</em> [4/327] dalam bentuk pdf)</li>
<li>Ayat yang agung ini juga mengandung bantahan bagi paham      hedonisme; yaitu pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan      materi sebagai tujuan utama dalam hidup (lihat <em>Kamus Besar Bahasa      Indonesia</em>, edisi ke-3 hal. 394)</li>
<li>Ayat yang agung ini  juga      mengandung bantahan bagi paham nihilisme; yaitu paham aliran filsafat      sosial yang tidak mengakui nilai-nilai kesusilaan, kemanusiaan, keindahan,      dsb, juga segala bentuk kekuasaan pemerintahan, -menurut paham ini- semua      orang berhak mengikuti kemauannya sendiri (lihat <em>Kamus Besar Bahasa      Indonesia</em>, edisi ke-3 hal. 782)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kau-kira-hidup-ini-sia-sia.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studi Tentang Bid&#8217;ah dan Mubtadi&#8217; (Kajian)</title>
		<link>http://abumushlih.com/studi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/studi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 06:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh wa Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Mubtadi']]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, berikut ini link halaman web Syaikh Muhammad Sa&#8217;id Ruslan -hafizhahullah- yang menyajikan rangkaian kajian dengan pembahasan jarh wa ta&#8217;dil dengan materi &#8216;Telaah mengenai bid&#8217;ah dan mubtadi&#8221;.Bagi yang berminat bisa mendownload kajian-kajian beliau seputar materi ini. Semoga bermanfaat bagi kita &#8230; <a href="http://abumushlih.com/studi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fstudi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fstudi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillah, berikut ini link halaman web Syaikh Muhammad Sa&#8217;id Ruslan -<em>hafizhahullah</em>- yang menyajikan rangkaian kajian dengan pembahasan <em>jarh wa ta&#8217;dil</em> dengan materi <strong>&#8216;Telaah mengenai bid&#8217;ah dan mubtadi&#8221;</strong>.Bagi yang berminat bisa mendownload kajian-kajian beliau seputar materi ini.</p>
<p>Semoga bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p><span id="more-1369"></span></p>
<p><a href="http://www.rslan.com/vad/items.php?chain_id=166" target="_blank">http://www.rslan.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/studi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sunnah dan Bid&#8217;ah</title>
		<link>http://abumushlih.com/sunnah-dan-bidah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sunnah-dan-bidah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 00:06:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1304</guid>
		<description><![CDATA[Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu berkata: “Ikutilah -Sunnah- dan janganlah kalian menciptakan bid&#8217;ah, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.” (HR. Abu Khaitsamah dalam Kitab al-&#8217;Ilm, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani. Lihat tahqiq Syarh Lum&#8217;ah hal. 41) Makna &#8216;Sunnah&#8217; Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sunnah-dan-bidah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsunnah-dan-bidah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsunnah-dan-bidah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata:</p>
<p><em>“Ikutilah -Sunnah- dan janganlah kalian menciptakan bid&#8217;ah, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.”</em> (HR. Abu Khaitsamah dalam <em>Kitab al-&#8217;Ilm</em>, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani. Lihat tahqiq <em>Syarh Lum&#8217;ah</em> hal. 41)</p>
<p><span id="more-1304"></span></p>
<p><strong>Makna &#8216;Sunnah&#8217;</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>Sunnah secara bahasa artinya adalah jalan. Adapun menurut istilah, ia adalah segala sesuatu yang menjadi pijakan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya, baik berupa akidah maupun amalan. Mengikuti sunnah hukumnya adalah wajib berdasarkan firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir.”</em> (QS. al-Ahzab: 21). Dan juga sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan diberi petunjuk sesudahku. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham.”</em> (hadits sahih, diriwayatkan oleh Ahmad dll, pent). (<em>Syarh Lum&#8217;at al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 40 tahqiq Asyraf bin Abdul Maqshud)</p>
<p>Syaikh Abdussalam mengatakan:</p>
<p>Apa yang mereka (ulama salaf) maksudkan dengan istilah Sunnah adalah makna yang lebih luas daripada maknanya menurut ulama hadits, ulama ushul ataupun ulama fikih. Apa yang dimaksud dengan sunnah dalam pandangan mereka -ulama salaf- adalah kesesuaian dengan al-Kitab dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serta sunnah para sahabatnya, baik dalam perkara keyakinan ataupun ibadah, dan yang menjadi lawannya adalah bid&#8217;ah. Maka seseorang akan dikatakan berada di atas Sunnah apabila perbuatan-perbuatannya sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Demikian pula seseorang akan dikatakan berada di atas bid&#8217;ah apabila perbuatannya menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah atau salah satunya (<em>Kun Salafiyan &#8216;alal Jaddah</em>, hal. 26)</p>
<p><strong>Makna &#8216;Bid&#8217;ah&#8217;</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah </em>menjelaskan:</p>
<p>Adapun bid&#8217;ah secara bahasa artinya adalah perkara yang diada-adakan. Kalau ditinjau dari makna istilahnya, maka bid&#8217;ah artinya segala sesuatu yang diada-adakan di dalam agama yang menyelisihi pijakan Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, baik berupa akidah maupun amalan. Hukum dari bid&#8217;ah itu adalah haram berdasarkan firman Allah<em> ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”</em> (QS. An-Nisaa&#8217;: 115). Dan juga dilandaskan pada sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Jauhilah oleh kalian segala perkara baru yang diada-adakan -dalam agama- karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid&#8217;ah, dan setiap bid&#8217;ah pasti sesat.”</em> (hadits sahih, diriwayatkan oleh Ahmad dll, pent). (<em>Syarh Lum&#8217;at al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 40 tahqiq Asyraf bin Abdul Maqshud)</p>
<p>Demikian penjelasan ringkas tentang Sunnah dan Bid&#8217;ah, semoga bermanfaat. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sunnah-dan-bidah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Download &#8216;Kajian Kitab Tauhid&#8217; Syaikh Ibnu Baz</title>
		<link>http://abumushlih.com/download-kajian-kitab-tauhid-syaikh-ibnu-baz.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/download-kajian-kitab-tauhid-syaikh-ibnu-baz.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 04:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, berikut ini link download kajian Kitab Tauhid (berbahasa Arab) yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz rahimahullah, mantan mufti agung Kerajaan Saudi Arabia. Sumber: alathar.net. Semoga bermanfaat. Kajian 1 Kajian 2 Kajian 3 Kajian 4 Kajian &#8230; <a href="http://abumushlih.com/download-kajian-kitab-tauhid-syaikh-ibnu-baz.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdownload-kajian-kitab-tauhid-syaikh-ibnu-baz.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdownload-kajian-kitab-tauhid-syaikh-ibnu-baz.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillah, berikut ini link download kajian Kitab Tauhid (berbahasa Arab) yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz <em>rahimahullah</em>, mantan mufti agung Kerajaan Saudi Arabia. Sumber: alathar.net.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p><span id="more-1227"></span><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2552" target="_blank">Kajian 1</a></p>
<p><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2553" target="_blank">Kajian 2</a></p>
<p><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2554" target="_blank">Kajian 3</a></p>
<p><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2555" target="_blank">Kajian 4</a></p>
<p><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2556" target="_blank">Kajian 5</a></p>
<p><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2557" target="_blank">Kajian 6</a></p>
<p><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2558" target="_blank">Kajian 7</a></p>
<p><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2559" target="_blank">Kajian 8</a></p>
<p><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2560" target="_blank">Kajian 9</a></p>
<p><a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=geit&amp;co=2561" target="_blank">Kajian 10</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/download-kajian-kitab-tauhid-syaikh-ibnu-baz.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

