<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Tafsir</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/tafsir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Khusyu&#8217; Di Dalam Ibadah</title>
		<link>http://abumushlih.com/khusyu-di-dalam-ibadah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/khusyu-di-dalam-ibadah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 18:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Khusyu']]></category>
		<category><![CDATA[Munafik]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1725</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: al-Akh Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -hafizhahullah- Allah ta’ala berfirman, menceritakan tentang keadaan orang-orang yang beriman: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2 “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu, orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka” (Al Mu’minun : 1-2) Tanda orang beriman, sebagaimana yang Allah ta’ala terangkan adalah mereka khusyu’ di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkhusyu-di-dalam-ibadah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkhusyu-di-dalam-ibadah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: <strong>al-Akh Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi</strong> -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p>Allah <em>ta’ala </em>berfirman, menceritakan tentang keadaan  orang-orang yang beriman:</p>
<p><strong>قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي  صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2</strong></p>
<p>“<em>Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu,  orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka” (Al Mu’minun : 1-2)</em></p>
<p><em><span id="more-1725"></span></em>Tanda orang beriman, sebagaimana yang Allah <em>ta’ala </em>terangkan  adalah mereka khusyu’ di dalam sholat-sholat mereka.</p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan, khusyu’ dalam  sholat adalah merasa tenang dalam sholat dan merasa takut (kepada Allah)  dalam sholatnya tersebut.(<em>Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Darut Thayibah,  Asy Syamilah</em>).</p>
<p>Syaikh As Sa’diy <em>rahimahullahu </em>menerangkan makna ‘<em>khusyu’  di dalam sholat’</em>, yaitu seseorang menghadirkan hati di hadapan  Allah, merasakan dekatnya (ilmu dan pengawasan) Allah, yang dengan semua  itu hati bisa merasa tenang, jiwa merasa damai. Hal ini akan terpancar  dalam gerakan tubuh yang tenang, tidak lalai dalam sholat, menghayati  setiap bacaan yang dibaca dalam sholatnya, dari awal takbir hingga akhir  sholat. Semua ini dalam rangka tunduk dan taat kepada Allah. (<em>Lihat  Taisir Karimirrahman,</em> <em>Maktabah Ar Rusyd, hal. 547</em>)</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan, <strong>inilah  hakikat <em>ruh </em>sholat dan inilah sholat yang dimaksudkan oleh  Allah untuk ditegakkan oleh hamba-Nya</strong>. (<em>Lihat Taisir  Karimirrahman,</em> <em>Maktabah Ar Rusyd, hal. 547</em>)</p>
<p>Muhammad bin Sirin <em>rahimahullahu </em>mengatakan, “Dahulu para  shahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa  mengangkat pandangan mereka ke arah langit tatkala sholat. Namun ketika  turun ayat ini, (yaitu al Mu’minun 1-2) maka semenjak itu mereka  menundukkan pandangan mereka ke tempat sujud mereka. (<em>Lihat Tafsir  Ibnu Katsir, Darut Thayibah, Maktabah Asy Syamilah</em>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p><strong>الخشوع خمود نيران الشهوة وسكون دخان الصدور وإشراق نور التعظيم  في القلب</strong><strong> </strong></p>
<p>“<em>Khusyu’ adalah memadamkan luapan syahwat, meredamkan gejolak di  hati dan melahirkan cahaya pengagungan (kepada Allah ta’ala) di dalam  hati</em>.” (<em>Lihat Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, Maktabah Asy  Syamilah</em>)</p>
<p>Letak kekhusyu’an adalah di dalam hati, sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> mengkhabarkan bahwa ketaqwaan manusia ada di  dalam hati. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p><strong>التقوى ههنا (ويشير إلى صدره ثلاث مرات)</strong></p>
<p>“<em>Takwa letaknya adalah di sini (dan Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam berisyarat menunjuk ke arah dada beliau tiga kali)”  (Hadits riwayat Muslim)</em></p>
<p>Hal ini pun telah ditegaskan oleh Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em>,</p>
<p><strong> وأجمع العارفون على أن الخشوع محله القلب وثمرته على الجوارح</strong><strong> </strong></p>
<p><strong><em>“</em></strong><em>Para ahli ilmu telah sepakat, bahwa  letak kekhusyu’an adalah di dalam hati, dan buah dari kekhusyu’an akan  tercermin pada anggota badan yang lainnya.”</em> (<em>Lihat Madarijus  Salikin, Ibnul Qayyim, Maktabah Asy Syamilah</em>)</p>
<p>Saudaraku sungguh <strong>amalan hati adalah lebih utama daripada  semata-mata amalan badan</strong>. Sebagaimana dinyatakan oleh Syaikul  Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullahu</em>, <em> </em></p>
<p><strong>كَانَتْ أَعْمَالُ الْقَلْبِ الْمُجَرَّدَةِ أَفْضَلَ مِنْ  أَعْمَالِ الْبَدَنِ الْمُجَرَّدَةِ . كَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ :  قُوَّةُ الْمُؤْمِنِ فِي قَلْبِهِ وَضَعْفُهُ فِي جِسْمِهِ وَقُوَّةُ  الْمُنَافِقِ فِي جِسْمِهِ وَضَعْفُهُ فِي قَلْبِهِ </strong></p>
<p>“S<em>emata-mata amalan hati adalah <strong>lebih utama</strong> dibandingkan dengan semata-mata amalan badan. Sebagaimana dikatakan oleh  para ulama terdahulu : kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya dan  kelemahannya ada pada jasadnya, sedangkan kekuatan orang-orang munafik  ada pada jasad mereka dan kelemahan mereka terletak pada hati mereka”  (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, Maktabah Asy Syamilah)</em></p>
<p>Setan dan bala tentaranya tidak akan tinggal diam tatkala melihat  bani Adam sedang berusaha khusyu’. Hendaklah seorang waspada terhadap  seluruh tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menjerumuskan manusia  dalam kesengsaraan. Seorang shahabat, Hudzaifah Ibnu Yaman <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> berkata,<em> </em></p>
<p><strong>إياكم وخشوع النفاق فقيل له : وما خشوع النفاق قال : أن ترى  الجسد خاشعا والقلب ليس بخاشع</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>“</strong><em>Waspadalah kalian dengan khusyu’-nya  orang-orang munafik…!!!”, kemudian seorang bertanya kepada beliau,  bagaimanakah khusyu’-nya orang-orang munafik?, beliau mengatakan,  “Engkau melihat seseorang, jasadnya Nampak khusyu’ akan tetapi hatinya  sama sekali tidak merasakan kekhusyu’an”</em>.</p>
<p>Lihatlah saudaraku apa yang dikatakan Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu </em>tentang  bedanya khusyu’-nya orang-orang beriman dan orang-orang munafik. Beliau  <em>rahimahullahu </em>mengatakan:</p>
<p><strong>أن خشوع الإيمان هو خشوع القلب لله بالتعظيم والإجلال والوقار  والمهابة والحياء فينكسر القلب لله كسرة ملتئمة من الوجل والخجل والحب  والحياء وشهود نعم الله وجناياته هو فيخشع القلب لا محالة فيتبعه خشوع  الجوارح وأما خشوع النفاق فيبدو على الجوارح تصنعا وتكلفا والقلب غير خاشع  وكان بعض الصحابة يقول أعوذ بالله من خشوع النفاق قيل له وما خشوع النفاق  قال أن يرى الجسد خاشعا والقلب غير </strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya khusyu’ karena iman adalah menundukkan hati di  hadapan Allah ta’ala dengan segala bentuk pengagungan dan pemuliaan.  Hati seakan-akan luluh di hadapan Allah karena cinta dan takut kepada  Allah, mengakui berbagai nikmat Allah yang melekat pada dirinya. Inilah  ketundukan hati yang hakiki, yang terletak di relung hati seorang hamba,  yang akan diikuti oleh anggota badan lainnya. </em></p>
<p><em>Adapun khusyu’-nya orang-orang munafik adalah menampakkan dengan  anggota badan di hadapan pandangan para manusia, dengan berbuat  seolah-olah badannya nampak khusyu’, akan tetapi hakikatnya hatinya sama  sekali tidaklah merasa khusyu’</em>.” -Sekian perkataan Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em>-  (<em>Lihat Ar Ruh, Ibnul Qayyim, Maktabah Asy Syamilah</em>)</p>
<p>Kekhusyu’an yang tertanam dalam hati seorang manusia, akan membuahkan  ketenangan dalam gerakan anggota badannya, merasakan <em>ruh</em> ibadah dan bisa menikmati kelezatan beribadah. <strong>Inilah sumber  kekuatan seorang mukmin</strong>, bersumber dari hati dan bermuara ke  anggota badan lainnya.</p>
<p>Saudaraku, sungguh inilah yang banyak dilalaikan oleh sebagian besar  kaum muslimin saat ini. <strong>Sholat mereka secepat kilat, bibir <em>komat-kamit </em>laksana bacaan mantra dan tidak paham  maknanya. <em>Allahu  musta’an</em></strong><em>.</em></p>
<p>Sungguh benar apa yang dikatakan oleh shahabat Hudzaifah Ibnul Yaman,  tatkala beliau mengatakan:</p>
<p><strong>أول ما تفقدون من دينكم الخشوع وآخر ما تفقدون من دينكم الصلاة</strong><strong> </strong></p>
<p>“<em>Hal pertama yang akan hilang dari agama ini adalah <strong>khusyu’</strong>,  dan perkara terakhir yang akan hilang dari agama ini adalah <strong>sholat</strong>”</em> (Diriwayatkan Al Hakim disepakati oleh Adz Dzahabi)</p>
<p>Perkara ini, yaitu khusyu’ merupakan perkara yang berat membutuhkan  usaha dan jerih payah. Sampai-sampai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em>, manusia paling mulia berlindung kepada Allah dari hati  yang lalai, dari hati yang tidak khusyu’ :</p>
<p><strong>اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ  وَنَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَعِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَدَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ  لَهَا</strong><strong> </strong></p>
<p>“<em>Ya Allah, <strong>sesungguhnya</strong> <strong>aku berlindung  kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’</strong>, dari jiwa yang tidak  pernah merasa puas, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari doa yang  tidak terkabul” (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan An Nasa’i)</em></p>
<p>Hanya kepada Allah kita memohon hidayah dan petunjuk. Ya Rabb  jadikanlah Kami ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang khusyu’. Amiin.</p>
<p>***</p>
<p>Abu Fauzan Hanif<br />
<a href="http://hanifnurfauzi.wordpress.com" target="_blank">http://hanifnurfauzi.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/khusyu-di-dalam-ibadah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembalilah, Wahai Saudaraku!</title>
		<link>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 20:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1716</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, apakah gerangan yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah?” (QS. al-Infithar: 6) Sebagian ulama berkata bahwa di dalam firman Allah “Apa yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah” terdapat isyarat mengenai jawaban atas pertanyaan ini. Yaitu bahwasanya yang menyebabkan manusia terperdaya dan terlena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkembalilah-wahai-saudaraku.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkembalilah-wahai-saudaraku.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai umat manusia, apakah gerangan yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Infithar: 6</strong><span style="font-weight: normal;">) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian ulama berkata bahwa di dalam firman Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah”</span></em><span style="font-weight: normal;"> terdapat isyarat mengenai jawaban atas pertanyaan ini. Yaitu bahwasanya yang menyebabkan manusia terperdaya dan terlena adalah kemurahan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;"> serta penundaan hukuman dan kelembutan sikap-Nya. Padahal sesungguhnya tidak boleh orang terperdaya dan terlena disebabkan hal itu. Karena Allah membiarkan orang zalim bebas berkeliaran sampai tiba waktunya Allah menghukumnya dan pada saat itulah dia tidak mampu lagi untuk mengelak darinya. Lalu, apakah gerangan yang membuatmu terperdaya oleh karunia Rabbmu Yang Maha Pemurah? Jawabnya: kemurahan dan kelembutan Allah. Inilah sebab yang memperdaya manusia sehingga membuat dirinya terus menerus bergelimang dalam maksiat, mendustakan kebenaran dan bersikeras mempertahankan penyimpangan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir Juz &#8216;Amma</span></em><span style="font-weight: normal;"> Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 65)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1716"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Aduhai, alangkah tepat apa yang digambarkan oleh ayat yang mulia tersebut! Betapa sering kita jumpai diri kita ini; dengan berbagai kenikmatan yang Allah curahkan dan alirkan ke dalam berbagai relung nafas kehidupan kita, namun ternyata hal itu bukannya semakin menyadarkan kita akan kesalahan dan dosa yang kita perbuat di hadapan-Nya. Justru sebaliknya, kita justru semakin berbuat semaunya, membangkang dan menerjang larangan-larangan-Nya, bertindak semena-mena seolah-olah tiada kematian yang akan memutuskan harapan dan angan-angan para durjana.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku yang kucintai, semoga Allah membukakan hati kita untuk menerima kebenaran yang datang dari-Nya. Tidakkah engkau ingat, sebuah nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita dahulu. Dahulu, kita tidak mengenal Islam dan Sunnah ini sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> dan para sahabatnya. Dahulu, kita masih terlena oleh berbagai kesenangan dunia dan berbagai hiburan yang tak mengenal batasan agama. Dahulu, kita tidak mengenal apa itu tauhid, apa itu manhaj, bahkan kita pun tidak mengenal apa tujuan hidup kita yang sebenarnya. Bukankah demikian keadaan kita dulu sebelum Allah pancarkan hidayah itu di dalam lubuk hati kita setelah kegelapannya? </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Lalu mengapa -wahai saudaraku yang mulia- pada hari ini kita seolah-olah telah melupakan kenikmatan agung itu&#8230; Kita kembali terlena oleh suasana dan hiruk pikuk kehidupan dunia yang fana dan melalaikan dari-Nya. Mengapa kita lalai dan terlena serta terus menerus melestarikan pembangkangan kepada-Nya? Apakah kita telah berani meremehkan hak-hak Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;">? Ataukah kita berani melecehkan dan menganggap sepele hukuman yang akan ditimpakan oleh-Nya kepada kita? Ataukah karena kita memang sudah tidak lagi mengimani akan balasan yang dijanjikan-Nya? (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Taisir al-Karim ar-Rahman</span></em><span style="font-weight: normal;">, Juz 2 hal. 1274) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Maha suci Allah, betapa lancang dan kurang ajarnya diri kita ini! Setiap detik kehidupan ini kita senantiasa diberi karunia nikmat dan kemurahan dari-Nya lantas itu semua kita balas dengan kedurhakaan dan pembangkangan bahkan penghinaan kepada-Nya?! Betapa tidak tahu dirinya kita ini&#8230; Wahai saudaraku, bukankah Allah yang telah menunjukimu sehingga mengenal Islam dan Sunnah Nabi-Nya </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">? Bukankah Allah yang membimbingmu sehingga mengetahui tata cara beribadah yang benar kepada-Nya? Bukankah Allah juga yang mengentaskan kebodohanmu sehingga engkaupun menjadi orang yang berilmu? Lalu mengapa -dengan ilmu itu- kamu tidak semakin bertambah taat dan patuh kepada-Nya? Dimanakah ilmu yang ada pada dirimu?</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Bukankah Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengingatkan dan memuji orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Fathir: 28</strong><span style="font-weight: normal;">). Alangkah benar ucapan Fudhail bin &#8216;Iyadh </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Seorang yang berilmu akan senantiasa dinilai sebagai orang bodoh selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia telah mengamalkannya maka barulah dia benar-benar menjadi orang berilmu yang sejati.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi di dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Iqtidha&#8217; al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amala</span></em><span style="font-weight: normal;">). Abdullah bin Mas&#8217;ud </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bukanlah ilmu itu didapat hanya dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakekat ilmu itu adalah yang membuahkan rasa takut kepada Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (dinukil oleh Ibnul Qayyim di dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Inilah rahasianya; mengapa selama ini pengetahuan yang kita miliki tidak mengantarkan kita menjadi hamba-hamba yang patuh dan tunduk kepada-Nya, namun justru menjadikan kita sebagai para pemuja hawa nafsu yang senantiasa menerjang aturan-Nya. Tiada lain karena rasa takut kepada-Nya tidak menghiasi hati dan perilaku kita. Hati kita dipenuhi dengan kecintaan terhadap dunia dengan segala perhiasannya. Hati kita dipenuhi dengan kegandrungan kepada kesenangan dunia yang sementara lagi menipu. Hati  kita telah mabuk dan terpesona oleh rayuan nafsu dan bujukan syaitan yang durjana.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Itulah rahasianya mengapa Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> mewasiatkan kepada kita untuk segera beramal yaitu mengamalkan ilmu yang telah kita mengerti. Dan mengamalkan ilmu itu adalah cerminan rasa takut kita kepada Allah</span><em><span style="font-weight: normal;"> &#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;">. Hal itu supaya kita tidak tergolong orang yang tertipu dengan dunia; sehingga akibatnya kita pun rela menjual agama demi mendapatkan kesenangan dunia yang menipu dan sementara saja, </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-weight: normal;">! Rasul </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal sebelum datangnya fitnah-fitnah yang datangnya bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Yang membuat seorang di pagi hari masih beriman, namun di sore harinya dia telah berubah menjadi kafir. Atau di sore hari dia beriman, namun di pagi harinya berubah menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Para ulama suu&#8217; duduk di depan pintu surga seraya menyeru manusia supaya masuk ke dalamnya dengan ucapan lisan mereka. Akan tetapi mereka mengajak kepada neraka dengan amal perbuatan mereka. Setiap kali ucapan mereka mengajak manusia, “Kemarilah!” maka perbuatan mereka justru berkata, “Jangan kalian dengarkan ucapannya.” Karena seandainya apa yang dia serukan adalah kebenaran maka niscaya dia adalah orang yang pertama kali melakukannya. Mereka itu secara lahir tampak sebagai pemberi petunjuk, akan tetapi pada hakekatnya mereka adalah perampok.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 60)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya maka hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada keinginan hawa nafsunya. Hati yang begitu terpikat dengan syahwat akan terhalangi dari Allah sesuai dengan kadar ketergantungan hati itu kepadanya. Hati merupakan bejana -untuk mengenal- Allah di atas muka bumi yang diciptakan-Nya. Maka hati yang paling dicintai-Nya adalah hati yang paling lembut, paling kuat, dan paling jernih. Aduhai, mengapa mereka menyibukkan hati mereka dengan dunia. Seandainya mereka mau menyibukkannya dengan -kecintaan kepada- Allah dan -harapan terhadap- hari akherat niscaya akan tampak dengan jelas bagi mereka keagungan makna firman-Nya dan kebesaran ayat-ayat-Nya yang bisa disaksikan dan niscaya dia akan mampu memetik berbagai hikmah yang jarang ditemukan dan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 95)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Wahai saudaraku, kembalilah ke jalan Rabbmu. Sesungguhnya barisan para mujahid senantiasa menunggu kehadiranmu. </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu waliyyut taufiq</span></em><span style="font-weight: normal;">. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ar-Rahman ar-Rahim</title>
		<link>http://abumushlih.com/ar-rahman-ar-rahim.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ar-rahman-ar-rahim.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 11:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Asma' wa Shifat]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmat]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1683</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Fatihah: 2) Ayat yang agung ini mengandung pelajaran, di antaranya: Penetapan bahwa Allah memiliki nama, yang di antaranya adalah dua nama ini; ar-Rahman dan ar-Rahim. Nama ar-Rahman mengandung sifat kasih sayang pada diri-Nya. Adapun nama ar-Rahim mengandung perbuatan Allah yang merahmati hamba-hamba-Nya (lihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Far-rahman-ar-rahim.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Far-rahman-ar-rahim.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”</em> (<strong>QS. al-Fatihah: 2</strong>)</p>
<p><span id="more-1683"></span></p>
<p>Ayat yang agung ini mengandung pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Penetapan bahwa Allah memiliki nama, yang di antaranya adalah      dua nama ini; ar-Rahman dan ar-Rahim. Nama ar-Rahman mengandung sifat      kasih sayang pada diri-Nya. Adapun nama ar-Rahim mengandung perbuatan      Allah yang merahmati hamba-hamba-Nya (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh      Ibnu Utsaimin, hal. 10)</li>
<li>Nama Allah ar-Rahman juga mengandung makna suka memberikan      kebaikan, bersifat dermawan, dan suka berbuat kebajikan (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>,      hal. 21)</li>
<li>Di dalam ayat ini terkandung salah satu pilar ubudiyah yaitu <em>roja&#8217;</em>/harapan.      Maksudnya dengan merenungi kandungan ayat ini maka seorang hamba akan      senantiasa mengharapkan rahmat Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Sebab      apabila Allah itu adalah sosok yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,      maka tentu saja rahmat/kasih sayang-Nya sangatlah diharapkan (lihat <em>Syarh      Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 18)</li>
<li>Ayat ini -sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya- menunjukkan      bahwa rububiyah Allah itu dilandasi dengan sifat kasih sayang yang sangat      luas, bukan rububiyah yang dibangun di atas sifat suka menyiksa dan      menghukum (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 10)</li>
<li>Seorang hamba akan bisa meraih kebahagiaan dengan mengenal      nama-nama dan sifat-sifat Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Karena dengan mengenali      keindahan dan keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya maka dia akan bisa      menyempurnakan kekuatan ilmunya (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 20)</li>
<li>Nama ar-Rahman menunjukkan rahmat Allah yang maha luas dan      mencakup seluruh makhluk. Oleh sebab itu ketika berbicara tentang      kemuliaan diri-Nya yang ber-istiwa/tinggi menetap di atas Arsy -sementara      Arsy itu meliputi semua makhluk- maka Allah menyebut dirinya dengan nama      yang memiliki kandungan sifat yang paling luas pula yaitu ar-Rahman. Allah      <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“ar-Rahman istiwa&#8217; di atas      Arsy.”</em> (<strong>QS. Thaha: 5</strong>). Di sisi lain, Allah juga berfirman (yang      artinya), <em>“Rahmat-Ku luas mencakup segala sesuatu.”</em> (<strong>QS.      al-A&#8217;raaf: 56</strong>). (lihat <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir fi at-Tafsir</em> [1/60])</li>
<li>Konsekuensi dari sifat rahmah/kasih sayang yang terdapat dalam      nama ar-Rahman, adalah Allah mengutus para rasul dan menurunkan      kitab-kitab untuk membimbing manusia demi kebahagiaan hidup mereka.      Perhatian Allah untuk itu jelas lebih besar daripada sekedar perhatian      Allah untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanam-tanaman dan biji-bijian di      atas muka bumi ini. Tetesan air hujan akan membuahkan kehidupan tubuh      jasmani bagi manusia. Adapun wahyu yang dibawa oleh para rasul dan      terkandung di dalam kitab-kitab merupakan sebab hidupnya hati mereka      (lihat <em>at-Tafsir al-Qayyim</em>, hal. 8).</li>
<li>Berangkat dari faedah terakhir di atas, kita dapat menarik      kesimpulan bahwa orang yang ingin mendapatkan rahmat Allah yang sempurna      di dunia dan di akherat maka dia harus tunduk kepada syari&#8217;at Rasul yang      diutus kepadanya. Sehingga pada jaman sekarang ini -setelah diutusnya Nabi      Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>- siapa saja yang ingin masuk      surga dia harus tunduk kepada ajaran Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em>. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah      ada seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah dia      beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak      beriman kepada ajaranku, melainkan dia pasti termasuk golongan penduduk      neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>,      lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/243]). Maka tidak ada pertentangan sama      sekali antara sifat kasih sayang Allah dengan dimasukkannya orang kafir ke      dalam neraka. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ar-rahman-ar-rahim.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segala Puji Hanya Untuk-Mu</title>
		<link>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 22:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hamdalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1680</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Segala puji untuk Allah Rabb seru sekalian alam.” (QS. al-Fatihah: 1) Ayat yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, diantaranya: Penetapan bahwasanya hanya Allah ta&#8217;ala yang berhak mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan al dalam kata alhamdu menunjukkan makna mencakup keseluruhan bagiannya (lihat Tafsir Juz &#8216;Amma Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsegala-puji-hanya-untuk-mu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsegala-puji-hanya-untuk-mu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Segala puji untuk Allah Rabb seru sekalian alam.”</em> (<strong>QS. al-Fatihah: 1</strong>)</p>
<p><span id="more-1680"></span></p>
<p>Ayat yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Penetapan bahwasanya hanya Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang berhak      mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan <em>al</em> dalam kata <em>alhamdu</em> menunjukkan makna mencakup keseluruhan bagiannya (lihat <em>Tafsir Juz      &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9)</li>
<li>Dalam segala kondisi maka Allah berhak mendapatkan pujian. Oleh      sebab itu apabila Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merasakan sesuatu      yang menyenangkan beliau maka beliau pun berdzikir,<em> &#8216;Alhamdulillahilladzi bi ni&#8217;matihi tatimmush shalihaat&#8217;</em> artinya:      Segala puji bagi Allah yang dengan curahan nikmat-Nyalah maka segala      kebaikan menjadi sempurna. Demikian juga apabila beliau menjumpai keadaan      yang sebaliknya (tidak menyenangkan) maka beliau berdzikir, <em>&#8216;Alhamdulillahi      &#8216;ala kulli haal&#8217;</em> artinya: Segala puji bagi Allah dalam kondisi apapun      (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9).</li>
<li>Yang dimaksud pujian -<em>alhamdu</em>- di sini adalah sanjungan      yang diiringi dengan rasa cinta dan pengagungan (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 8 )</li>
<li>Allah senantiasa dipuji dikarenakan kesempurnaan dzat-Nya,      keindahan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta keagungan      perbuatan-perbuatan-Nya. Selain itu Allah juga dipuji karena anugerah      nikmat yang dicurahkan oleh-Nya kepada seluruh makhluk-Nya (lihat <em>Syarh      Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 12). Karena Allah adalah <em>al-Mu&#8217;thi</em> -yang maha pemberi- dan <em>al-Mun&#8217;im</em> -yang mengaruniakan nikmat- maka      dialah yang patut untuk selalu dipuji..</li>
<li>Allah juga terpuji karena ketetapan hukum-Nya, yaitu <strong>hukum      kauni</strong> -hukum yang berlaku bagi semua ciptaan-Nya di dalam dunia ini-      demikian juga <strong>hukum syar&#8217;i</strong> -yang berupa ketetapan hukum ilmiah dan      amaliah bagi mukallaf/orang yang dibebani syari&#8217;at- begitu pula dalam hal <strong>hukum      ukhrawi</strong> yang ditetapkan oleh-Nya berupa balasan dan hukuman bagi      hamba-Nya di alam akherat (lihat <em>Jam&#8217;ul Mahshul fi Syarh Risalah Ibnu      Sa&#8217;di fi al-Ushul</em>, hal. 13-14)</li>
<li>Di dalam ayat tersebut Allah lebih mendahulukan sifat      uluhiyah/sesembahan -yaitu yang terkandung dalam kata Allah- daripada      sifat rububiyah/pemeliharaan -yaitu yang terkandung dalam kata Rabb-, hal      ini dimungkinkan karena 2 alasan: Pertama, karena kata Allah itu adalah      nama khusus bagi-Nya yang disifati oleh semua nama/Asma&#8217;ul Husna yang lain      sehingga dikedepankan. Atau yang kedua, karena orang-orang yang didakwahi      oleh para rasul adalah golongan orang-orang yang menolak keesaan Allah dalam      hal uluhiyah-Nya, artinya mereka membagi-bagi ibadah mereka tidak hanya      untuk Allah tapi juga untuk selain-Nya (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9)</li>
<li>Karena Allah satu-satunya pemelihara seluruh alam semesta ini      maka hanya Allah pula yang berhak untuk diibadahi, tidak ada yang menerima      ibadah selain Allah (lihat <em>Risalah Tsalatsat al-Ushul</em> yang dicetak      dalam <em>Majmu&#8217;ah at-Tauhid</em>, hal. 20)</li>
<li>Rububiyah atau pemeliharaan Allah itu berlaku mencakup semua      makhluk (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9).      Sehingga ayat ini menunjukkan keesaan Allah dalam hal rububiyah-Nya (lihat      <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 8). Rububiyah Allah itu      mencakup tiga hal pokok, yaitu: mencipta, menguasai, dan mengatur alam      semesta (lihat lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal.      9).</li>
<li>Ayat ini mengandung pilar ibadah yang sangat agung yaitu <em>al-Mahabbah</em>/rasa      cinta. Karena Allah adalah <em>al-Muhsin</em> -yang melimpahkan segala      kebaikan- dan Dia juga <em>al-Mun&#8217;im</em> -yang mencurahkan semua nikmat-      maka sebagai konsekuensinya adalah hanya Allah yang layak dicintai dengan      puncak kecintaan yang tertinggi dan tidak boleh ditandingi dengan      kecintaan kepada apapun juga (lihat <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah      al-Fatihah</em>, hal. 12)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semuanya Merugi, Kecuali&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 21:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1662</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3) Surat yang agung ini mengandung mutiara hikmah: Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi umat manusia, bahkan waktu itu termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsemuanya-merugi-kecuali.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsemuanya-merugi-kecuali.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3)</p>
<p><span id="more-1662"></span></p>
<p>Surat yang agung ini mengandung mutiara hikmah:</p>
<ol>
<li>Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi umat manusia,      bahkan waktu itu termasuk nikmat paling agung yang Allah karuniakan kepada      mereka (lihat <em>Syarh Kitab Tsalatsat al-Ushul</em> Syaikh Shalih bin      Abdul Aziz alu Syaikh, hal. 6)</li>
<li>Dengan menyempurnakan iman, amal salih, dakwah, dan sabar maka      seorang hamba akan selamat dari kerugian dan berhasil meraih keberuntungan      yang sangat besar (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> Syaikh as-Sa&#8217;di      [2/1303])</li>
<li>Wajib bagi kita untuk mempelajari empat perkara, yaitu: ilmu,      amal, dakwah, dan sabar. Adapun ilmu yang paling pokok untuk dimengerti      adalah: mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam dengan      dalil-dalilnya (lihat <em>Majmu&#8217;ah at-Tauhid</em>, hal. 17)</li>
<li>Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat      adalah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang beriman kepada      Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan      beriman kepada takdir (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin,      hal. 230-231).</li>
<li>Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat      adalah orang-orang yang beramal salih. Sedangkan amalan tidak dikatakan      sebagai amal salih kecuali apabila terpenuhi padanya dua buah syarat:      ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kalau seandainya amalannya mengikuti tuntunan namun      tidak ikhlas maka tidak diterima. Demikian juga kalau ikhlas tapi tidak      mengikuti tuntunan juga tidak diterima (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em>,      hal. 232-233).</li>
<li>Benarnya akidah menentukan diterima atau tidaknya amalan (lihat      <em>Abraz al-Fawa&#8217;id min al-Arba&#8217; al-Qawa&#8217;id </em>Syaikh Zaid bin Hadi      al-Madkhali, hal. 27). Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,      “Akidah yang benar merupakan pondasi tegaknya agama dan syarat sah      diterimanya amalan. Hal itu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah (yang      artinya), <em>“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya,      maka hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu      pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan      kepada orang-orang sebelummu: Seandainya kamu berbuat syirik niscaya akan      lenyap seluruh amalmu, dan kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang      merugi.”</em> (QS. az-Zumar: 65). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang      artinya), <em>“Sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya.      Ingatlah, untuk Allah agama/ketaatn yang tulus/murni itu.”</em> (QS.      az-Zumar: 2-3). Maka ayat-ayat yang mulia ini serta ayat-ayat lain yang      semakna -dan itu banyak jumlahnya- menunjukkan bahwa amalan tidak akan      diterima kecuali apabila bersih dari syirik. Oleh sebab itulah maka fokus      perhatian para rasul -semoga salawat dan keselamatan dicurahkan Allah      kepada mereka- menjadikan perbaikan akidah sebagai prioritas utama      dakwahnya&#8230;” (<em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 9-10)</li>
<li>Iman itu mencakup ucapan, amalan, dan keyakinan. Itu artinya      amal merupakan bagian dari iman. Di dalam surat ini Allah mengiringkan      amal setelah iman demi menunjukkan betapa penting dan mulianya amalan      (lihat <em>Syarh Kitab Tsalatsat al-Ushul,</em> hal. 7)</li>
<li>Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan. Kalau      seorang hamba memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya maka dia telah      mengikuti jalannya orang-orang yang dimurkai -<em>al-maghdhubi &#8216;alaihim</em>-.      Adapun apabila dia beramal namun tanpa landasan ilmu maka dia telah      mengikuti jalannya orang-orang yang sesat -<em>adh-dhaallin</em>-. Apabila      ilmu dan amal itu berjalan beriringan pada diri seorang hamba maka dia      telah berjalan di atas jalannya orang-orang yang diberi karunia oleh      Allah; yaitu jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang      shalih (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>,      hal. 21)</li>
<li>Dakwah -mengajak- kepada kebenaran merupakan bagian dari      beramal dengan ilmu yang dimiliki. Dan orang yang paling mulia adalah      orang yang sangat memperhatikan urusan dakwah -yaitu mengajak- orang untuk      berilmu dan beramal. Kemuliaan itu mereka dapatkan karena mereka telah      mewarisi tugas para rasul yaitu mendakwahkan ilmu dan amal yang dengan      sebab dakwah mereka itulah Allah berkenan mencurahkan petunjuk kepada      hamba-hamba-Nya (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah      al-Ushul</em>, hal. 22)</li>
<li>Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat      adalah orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran. Sedangkan      maksud dari saling menasehati dalam kebenaran itu adalah saling menasehati      untuk mewujudkan iman dan amal shalih. Artinya mereka satu sama lain      saling mengingatkan dan memotivasi untuk mengamalkannya (lihat <em>Taisir      al-Karim ar-Rahman</em> [2/1303])</li>
<li>Setiap muslim maupun muslimah wajib berdakwah mengajak manusia      kepada ajaran agama Allah ini sesuai dengan kemampuan dan bekal ilmu yang      dia miliki (lihat <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul</em> Syaikh Ibnu Baz, hal. 4)</li>
<li>Untuk berdakwah mengajak kepada kebenaran harus dibekali dengan      ilmu. Karena seorang tidak bisa mengajak kepada kebenaran kecuali setelah      mengenal kebenaran itu terlebih dulu (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah      ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 14-15, lihat juga QS. Yusuf ayat 108).</li>
<li>Kebenaran paling utama dan paling wajib didakwahkan terlebih      dulu kepada manusia adalah ajakan untuk bertauhid. Yang hal itu mencakup      tauhid dalam hal rububiyah, uluhiyah, maupun asma&#8217; wa shifat-Nya (lihat <em>Thariq      al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 15). Tauhid rububiyah      yaitu meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta, pengatur dan penguasa      alam ini. Tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah. Tauhid      asma wa shifat yaitu meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana      disebutkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah tanpa menolak dan tanpa      menyerupakan dengan makhluk-Nya.</li>
<li>Sabar merupakan salah satu pilar tegaknya dakwah. Karena      seorang da&#8217;i pasti akan menghadapi manusia dengan berbagai corak pemahaman      dan kecondongan, yang mereka itu berasal dari beraneka ragam tingkatan      masyarakat. Ada di antara mereka yang dengan mudah menerima dakwahnya, dan      tidak sedikit pula yang berpaling dan menolaknya, atau bahkan kemudian      menyakiti dirinya (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah      al-Ushul</em>, hal. 23)</li>
<li>Keselamatan dan keberuntungan hidup ini hanya akan diperoleh      dengan kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam      menahan diri agar tidak terjerumus dalam maksiat/kedurhakaan kepada Allah,      dan juga kesabaran dalam menyikapi takdir musibah yang terasa menyakitkan      (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [2/1303])</li>
<li>Sabar yang dipuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan,      bukan karena mencari sanjungan atau kedudukan di mata orang. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang bersabar karena      mengharapkan wajah Rabb mereka.”</em> (QS. ar-Ra&#8217;d: 22) (lihat <em>Thariq      al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 18)</li>
<li>Salah satu bentuk kesabaran yang akan mendatangkan keselamatan      bagi umat adalah bersabar dalam menghadapi pemimpin yang zalim. Dalam hal      ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah berpesan, <em>“Tunaikanlah      hak-hak mereka -pemerintah- dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan perkara ini, yaitu bersatu di bawah      naungan pemerintah, tidak memerangi para pemimpin -yang zalim tersebut-,      dan tidak mengobarkan peperangan dalam kondisi kacau merupakan salah satu      pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, sebagaimana yang ditegaskan oleh      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullahu ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Amru      bil Ma&#8217;ruf wa an-Nahyu &#8216;anil Mungkar</em>, hal. 32)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Keamanan dan Hidayah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 09:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ushul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1540</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Tatkala turun ayat (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan rasa aman, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-An&#8217;am: 82). Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan mereka pun berkata, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-keamanan-dan-hidayah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-keamanan-dan-hidayah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Tatkala turun ayat (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan </em><em>rasa aman, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 82). Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dan mereka pun berkata, <em>“Siapakah di antara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hal itu bukan seperti yang kalian kira. Namun yang dimaksud adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya, &#8216;Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.&#8217; (QS. Luqman: 13).” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p><span id="more-1540"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Kunci utama untuk mendapatkan keamanan dan hidayah adalah      tauhid yang bersih dari segala kotoran syirik. Maka dari sini, kita bisa      memahami mengapa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> beserta      para sahabatnya -demikian juga para rasul terdahulu- senantiasa mengawali      dakwahnya dengan tauhid dan menjadikannya sebagai prioritas yang paling      utama. Tidak lain dan tidak bukan, karena tauhid itulah kunci keberhasilan      suatu umat. Mereka diciptakan untuk bertauhid. Itu artinya, barangsiapa      yang tidak bertauhid maka dia telah menyelisihi fitrahnya dan meninggalkan      jalan Allah <em>ta&#8217;ala</em> menuju jalan kesesatan yang  menyeret pelakunya ke jurang kehancuran      dunia dan akherat <em>wal &#8216;iyadzu billah</em>. Maka pahamilah perkara ini      baik-baik wahai para aktifis dakwah dan para da&#8217;i&#8230; Jangan sampai kalian      pertaruhkan nasib umat ini di &#8216;meja perjudian&#8217; yang membuat mereka lalai      dari tujuan penciptaan dirinya.</li>
<li>Kezaliman itu bertingkat-tingkat. Ada kezaliman yang membuat      pelakunya sama sekali tidak mendapatkan keamanan dan petunjuk. Ada      pula kezaliman yang dampaknya tidak sampai separah kezaliman yang pertama,      dimana pelakunya masih dikatakan sebagai mukmin, meskipun dengan kualitas      iman yang rendah (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab al-Iman</em>, hal. 20, <em>Fath      al-Bari</em> [1/109,111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kezaliman yang melenyapkan keamanan dan petunjuk      secara menyeluruh adalah syirik kepada Allah. Inilah penafsiran dari ayat      82 dari surat al-An&#8217;am (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab Tafsir al-Qur&#8217;an</em>,      hal. 959). Barangsiapa yang menjadikan ibadah itu dipersembahkan kepada      selain Allah maka dia adalah sezalim-zalim pelaku kezaliman (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/206])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat menyadari bahwa semua      orang -pada umumnya- pasti tidak bisa luput dari kezaliman, minimal      kezaliman terhadap dirinya sendiri yaitu dengan bermaksiat kepada Allah <em>ta&#8217;ala, </em>meskipun tidak mencapai derajat kesyirikan.</li>
<li>Kata-kata <em>&#8216;bizhulmin&#8217;</em> (dengan kezaliman) dipahami oleh      para sahabat dengan maknanya yang umum yang meliputi segala jenis maksiat      dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mengingkari cara      pemahaman mereka itu. Hanya saja, beliau menjelaskan bahwa yang      dimaksudkan kezaliman dalam ayat ini adalah kezaliman yang paling berat      yaitu syirik. Sehingga kata &#8216;kezaliman&#8217; di sini tergolong sebagai ungkapan      umum namun yang dimaksudkan adalah maknanya yang khusus -<em>al &#8216;am urida      bihil khash</em>- (<em>Fath al-Bari</em> [1/109-110], lihat juga <em>Ma&#8217;alim      Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah</em>, hal. 419)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kemaksiatan -dosa besar ataupun      dosa kecil- bukanlah kekafiran -yang mengeluarkan dari agama-. Oleh sebab      itu Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab<em> &#8216;Zhulmun      duna zhulmin&#8217;</em> -kezaliman yang tidak mengeluarkan dari agama- di dalam <em>Kitab      al-Iman</em> dari shahihnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206], <em>Fath      al-Bari</em> [1/109]). Sehingga hadits ini mengandung bantahan bagi kaum      Khawarij yang menganggap bahwa pelaku dosa besar keluar dari Islam.      Demikian juga, ia mengandung bantahan bagi kaum Murji&#8217;ah yang menganggap      bahwa kemaksiatan tidak mempengaruhi keimanan.</li>
<li>&#8216;Prestasi&#8217; seorang hamba dalam mewujudkan keimanan (tauhid) di      dalam dirinya dan membersihkan diri dari segala bentuk kezaliman (terutama      syirik) akan mengangkat kedudukannya di sisi Allah <em>ta&#8217;ala</em>.      Sebagaimana predikat <em>Khalil ar-Rahman</em> -kekasih Allah- serta      &#8216;seorang imam yang patut dijadikan teladan&#8217; diberikan Allah kepada Nabi      Ibrahim <em>&#8216;alaihis salam</em> (lihat Shahih al-Bukhari, <em>Kitab Ahadits      al-Anbiya&#8217;</em>, hal. 700-702)</li>
<li>Syirik merupakan kezaliman yang sangat besar. Karena orang yang      berbuat syirik telah meletakkan ibadah tidak pada tempatnya. Ibadah yang      semestinya hanya dipersembahkan kepada Allah Yang Maha esa dalam hal      rububiyah-Nya, justru diberikan juga kepada makhluk-makhluk yang lemah dan      tak menguasai apa-apa. Ini menunjukkan bahwa orang musyrik tidak bersikap      hikmah dan juga tidak pandai bersyukur kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> atas      nikmat kehidupan yang diberikan kepadanya. Padahal, Allah sama sekali      tidak membutuhkan makhluk-Nya. Orang yang tidak bersyukur kepada Allah      -sementara tauhid itu merupakan bentuk syukur yang paling tinggi- pada      hakekatnya adalah orang yang takabur atau menyombongkan diri. (lihat      Shahih al-Bukhari, <em>Kitab Ahadits al-Anbiya&#8217;</em>, hal. 721)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi      wa sallam</em> memiliki peran yang sangat besar dalam menafsirkan al-Qur&#8217;an, bahkan hal itu      merupakan kewajiban utama yang beliau emban. Seandainya tidak ada beliau      maka manusia akan salah paham dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur&#8217;an,      sebagaimana yang dialami para sahabat ketika menyikapi makna ayat ke-82      dari surat al-An&#8217;am ini. Mereka menyangka bahwa syarat untuk memperoleh      ketentraman dan petunjuk itu adalah harus bersih dari segala bentuk      kezaliman, dan itu tentunya merupakan sesuatu yang sangat berat. Maka      muncullah peran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menjelaskan      maksud sebenarnya dari ayat tersebut (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab Tafsir      al-Qur&#8217;an</em>, hal. 1007)</li>
<li>Di dunia, orang musyrik -yang sebelumnya muslim- dihukumi      sebagai orang murtad alias halal darahnya. Sementara di akherat nanti      semua amal kebaikan mereka tidak ada artinya apa-apa. Oleh sebab itu Allah      menafikan keamanan dan hidayah dari orang-orang yang mencampuri keimanan mereka      dengan kezaliman (syirik) alias murtad (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab      Istitabatul Murtadin</em>, hal. 1388)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bolehnya -bagi Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>- untuk menunda keterangan setelah waktu turunnya      ayat. Namun, ketika keterangan itu diperlukan maka beliau wajib      menyampaikannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Tidak mungkin bersatu antara iman dan kekafiran secara lahir      dan batin. Oleh sebab itu setelah mencantumkan hadits ini di dalam <em>Kitab      al-Iman</em>, Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membawakan bab dengan judul      &#8216;ciri-ciri orang munafik&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa lafaz umum dimaknakan menurut      keumumannya sampai datang dalil lain yang mengkhususkannya (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kemaksiatan tidak disebut sebagai      syirik (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mempersekutukan      Allah barang sedikitpun maka dia akan mendapatkan keamanan dan hidayah. Lalu      bagaimana halnya dengan pelaku maksiat yang disiksa atau dihukum? Maka dia      juga tetap dikatakan sebagai orang yang mendapatkan keamanan ketika dibebaskan      kelak dari kekalnya siksa neraka dan pada akhirnya juga dibimbing masuk surga (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini mengandung bantahan bagi kaum al-Qur&#8217;aniyun (baca:      Ingkar Sunnah) yang menolak hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em> serta mencukupkan diri dengan al-Qur&#8217;an.</li>
<li>Hadits ini mengandung peringatan dari bahaya menyelisihi Sunnah      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena hal itu pasti akan      menjerumuskan ke dalam kesesatan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah Kejujuran</title>
		<link>http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 01:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jujur]]></category>
		<category><![CDATA[Kendaraan]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1538</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu, beliau mengisahkan bahwa suatu saat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memboncengkan Mu&#8217;adz di atas seekor binatang tunggangan (keledai bernama &#8216;Ufair). Nabi berkata, “Hai Mu&#8217;adz.” Mu&#8217;adz menjawab, “Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.” Lalu Nabi berkata, “Hai Mu&#8217;adz.” Mu&#8217;adz menjawab, “Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.” Sampai tiga kali. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbuah-kejujuran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbuah-kejujuran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><span style="font-weight: normal;">Dari Anas bin Malik </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau mengisahkan bahwa suatu saat Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> memboncengkan Mu&#8217;adz di atas seekor binatang tunggangan (keledai bernama &#8216;Ufair). Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hai Mu&#8217;adz.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mu&#8217;adz menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Lalu Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hai Mu&#8217;adz.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mu&#8217;adz menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Sampai tiga kali. Nabi pun bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada seorang pun yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah secara jujur dari dalam hatinya kecuali Allah pasti akan mengharamkan dia dari tersentuh api neraka.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mu&#8217;adz berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya menyampaikan kabar ini kepada orang-orang agar mereka bergembira?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kalau hal itu disampaikan, nantinya mereka justru bersandar kepadanya (malas beramal)?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Menjelang kematiannya, Mu&#8217;adz pun menyampaikan hadits ini karena khawatir terjerumus dalam dosa (menyembunyikan ilmu) (HR. Bukhari dan Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/273] dan </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/73-76], ini adalah lafaz Bukhari)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1538"></span></span>Hadits yang agung ini menyimpan pelajaran penting, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Diperbolehkan 	mengkhususkan suatu bagian dari ilmu kepada sekelompok orang tanpa 	memberitahukannya kepada kepada kelompok lainnya karena 	dikhawatirkan mereka tidak bisa memahaminya yang mengakibatkan 	mereka terjatuh dalam kekeliruan (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-&#8217;Ilm</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 43)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk memberi nama pada binatang tunggangan atau kendaraan yang 	dimiliki (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Jihad wa as-Siyar</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 601)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Diperbolehkan 	seseorang untuk membonceng kepada orang lain -berdua- di atas seekor 	keledai  atau kendaraannya, dengan syarat tidak menyulitkan bagi 	hewan atau kendaraan tersebut (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Libas</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1233, </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384], </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/33])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	dimaksud dengan bersaksi &#8216;secara jujur dari dalam hatinya&#8217; adalah 	dia mengucapkan syahadat tersebut dengan tulus, tidak sebagaimana 	syahadatnya kaum munafikin yang dilandasi dengan kedustaan dan 	kepura-puraan. Artinya orang tersebut mengucapkan syahadat itu 	dengan lisannya dan hatinya pun membenarkan isinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/274])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa salah satu syarat diterimanya syahadat adalah 	harus diucapkan dengan jujur, bukan pura-pura atau dilandasi dengan 	keudustaan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tanbihat 	al-Mukhtasharah Syarh al-Wajibat</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 51-52) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan ketawadhu&#8217;an Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan keutamaan Mu&#8217;adz bin Jabal dan kelembutan adabnya 	dalam bertutur kata (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan kedekatan hubungan antara Mu&#8217;adz dengan Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan kedalaman ilmu Mu&#8217;adz bin Jabal yang mana Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengkhususkan 	ilmu -yang membawa resiko berat- ini kepada dirinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk mengulangi ucapan -ketika mengajar- dalam rangka memberikan 	penegasan dan menanamkan pemahaman dengan sebaik-baiknya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian 	ulama menjelaskan bahwa dari hadits ini juga bisa dipetik pelajaran 	tidak bolehnya mempopulerkan hadits-hadits tentang 	rukhshah/keringanan kepada masyarakat umum karena dikhawatirkan akan 	menimbulkan kesalahpahaman dalam diri mereka (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa intisari dakwah Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> kepada umatnya adalah mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">tabaraka wa ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1467)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan dianjurkan untuk menyampaikan sesuatu yang bisa 	menggembirakan hati sesama muslim (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/31])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Larangan 	bersandar kepada keluasan rahmat Allah yang menyebabkan tumbuhnya 	perasaan aman dari makar Allah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/31])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan wajibnya menyampaikan ilmu dan menyembunyikannya 	merupakan perbuatan dosa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa seorang murid boleh meminta penjelasan 	tambahan kepada gurunya akan sesuatu yang terasa meragukan atau 	belum mapan di dalam pikirannya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan semestinya seorang murid meminta ijin kepada 	gurunya yang telah mengajarkan kepadanya suatu ilmu khusus yang 	tidak diberikan kepada selainnya apabila akan menyebarkan ilmu 	tersebut (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Tindakan 	Mu&#8217;adz menyampaikan hadits ini menjelang kematiannya setelah adanya 	larangan dari Nabi</span><em><span style="font-weight: normal;"> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> menunjukkan bahwa Mu&#8217;adz memahami larangan tersebut bukan mengandung 	hukum haram, akan tetapi dalam rangka menyelamatkan sebagian orang 	dari kesalahpahaman (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> kepada umatnya. Beliau berusaha keras untuk menutup segala celah 	yang mungkin mengantarkan mereka menuju kehancuran. Di antaranya 	adalah upaya beliau agar umatnya tidak salah paham dalam menyikapi 	hadits-hadits yang menceritakan keutamaan tauhid.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	juga -secara tidak langsung- menunjukkan keutamaan ilmu agama dan 	kepahaman di dalamnya. Karena dengan pemahaman yang benar akan 	membentengi seseorang dari kekeliruan bersikap dan mengambil 	tindakan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa pemahaman tauhid yang benar tidak akan membawa 	pemiliknya untuk bersandar kepada rahmat Allah semata dan merasa 	aman dari makar-Nya. Justru sebaliknya, kita temukan bahwa 	orang-orang yang telah diakui ketauhidannya dan menjadi teladan di 	dalamnya adalah sosok manusia yang sangat khawatir terjerumus ke 	dalam kemusyrikan dan kemunafikan. Lihatlah doa yang dipanjatkan 	oleh Nabi Ibrahim</span><em><span style="font-weight: normal;"> &#8216;alaihis salam</span></em><span style="font-weight: normal;">! </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya 	Allah jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah 	patung-patung.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(QS. 	Ibrahim: 35). Dan lihatlah para sahabat yang merasa khawatir dirinya 	terjangkit kemunafikan&#8230; Lalu bagaimanakah lagi dengan keadaan kita 	yang baru belajar tauhid kemarin sore?! </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Nas&#8217;alullahas 	salamah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits ini juga menunjukkan betapa besar semangat generasi salaf 	dalam menyebarkan ilmu, bahkan meskipun di saat-saat menjelang 	kematian mereka!</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hendaknya seorang da&#8217;i memperhitungkan maslahat dan madharat dari 	metode dakwah yang dia jalankan. Tidak semua kebenaran harus 	disampaikan dalam satu waktu dan kesempatan. Bisa jadi yang terbaik 	adalah menunda penyampaiannya di waktu yang lain demi mengantisipasi 	madharat yang lebih besar</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Pemahaman 	tauhid yang benar akan mengantarkan seseorang untuk bersemangat 	dalam beramal demi menggapai kedekatan diri dengan-Nya dan agar 	dirinya bisa menjadi seorang hamba yang pandai mensyukuri 	nikmat-Nya. Tidakkah kita ingat keteladanan Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> -manusia terhebat dalam mewujudkan tauhid-? Ternyata, beliau tidak 	bermalas-malasan, bahkan beliau sholat malam sampai telapak kakinya 	pecah-pecah!! Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita di hari ini </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ayyuhal ikhwah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">! </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahumma arinal 	haqqa haqqa warzuqnat tiba&#8217;ah, wa arinal bathila bathila warzuqna 	jtinabah&#8230;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Aduhai, 	betapa sering muncul anggapan bahwa kita telah paham tauhid, namun 	kenyataannya kita adalah orang yang paling bodoh tentangnya. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Wallahul 	muwaffiq</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Kegelapan Menuju Cahaya</title>
		<link>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 11:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1424</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta’ala berfirman, اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdari-kegelapan-menuju-cahaya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdari-kegelapan-menuju-cahaya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: right;">اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</p>
<p><em>“Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”</em> (QS. al-Baqarah: 257)</p>
<p><span id="more-1424"></span></p>
<p>al-Baghawi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">قوله تعالى: { اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا } ناصرهم ومعينهم</p>
<p><em>“Firman Allah ta’ala: Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman. Maknanya adalah Dia sebagai pembela dan pemberi bantuan kepada mereka.”</em> (<em>Ma’alim at-Tanzil</em> [1/315] asy-Syamilah)</p>
<p>al-Alusi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">{ يُخْرِجُهُم } بهدايته وتوفيقه</p>
<p><em>“Allah mengeluarkan mereka, yakni dengan hidayah dan taufik dari-Nya.”</em> (<em>Ruh al-Ma’ani</em> [2/324] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Jarir ath-Thabari <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">يخرجهم من ظلمات الكفر إلى نور الإيمان</p>
<p><em>“Maksudnya, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan.”</em> (<em>Jami’ al-Bayan</em> [5/424] asy-Syamilah)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;">عن الضحاك:&#8221;الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور&#8221;، الظلمات: الكفر، والنور: الإيمان &#8220;والذين كفروا أولياؤهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلى الظلمات&#8221;، يخرجونهم من الإيمان إلى الكفر</p>
<p><em>“Diriwayatkan dari adh-Dhahhak tentang ayat ‘Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya’ bahwa yang dimaksud dengan ‘kegelapan-kegelapan’ adalah kekafiran sedangkan ‘cahaya’ adalah keimanan. ‘Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan’ maksudnya mengeluarkan mereka dari keimanan menuju kekafiran.”</em> (<em>Jami’ al-Bayan</em> [5/425] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">والظلمات : الضلالة ، والنور : الهدى ، والطاغوت : الشياطين</p>
<p><em>“Yang dimaksud dengan kegelapan-kegelapan adalah kesesatan, sedangkan yang dimaksud dengan cahaya adalah petunjuk. Adapun thaghut yaitu syaitan-syaitan.” </em>(<em>Zaad al-Masiir</em> [1/263] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">وحد تعالى لفظ النور وجمع الظلمات؛ لأن الحق واحد والكفر أجناس كثيرة وكلها باطلة</p>
<p><em>“Allah ta’ala menyebutkan lafal cahaya dalam bentuk tunggal dan menyebutkan kegelapan dalam bentuk plural/jamak, hal itu dikarenakan kebenaran itu satu sedangkan kekafiran itu banyak ragamnya dan seluruhnya adalah kebatilan.”</em> (<em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em> [1/685] asy-Syamilah)</p>
<p>asy-Syinqithi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">وهذه الآية يفهم منها أن طرق الضلال متعددة . لجمعه الظلمات وأن طريق الحق واحدة . لإفراده النور</p>
<p><em>“Dari ayat ini dapat dipahami bahwasanya jalan-jalan kesesatan itu banyak, karena Allah menyebutkan kegelapan dalam bentuk jamak. Adapun jalan kebenaran hanya satu, karena Allah menyebutkan cahaya dalam bentuk tunggal/mufrad.”</em> (<em>Adhwa’ al-Bayan</em> [1/186] asy-Syamilah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Tafsir Surat al-Fatihah [bagian 1]</title>
		<link>http://abumushlih.com/mutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 23:57:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. as-Sholatu was salamu &#8216;ala Khatamin Nabiyyin Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa ash-habihit thahirin wa man tabi&#8217;ahum bi ihsanin ila yaumid din. Amma ba&#8217;d. Sesungguhnya al-Qur&#8217;an mengandung pelajaran dan bimbingan bagi umat manusia. al-Qur&#8217;an memberikan tuntunan bagi mereka agar bisa membedakan antara kebenaran dengan kebatilan, antara iman dengan kekafiran, antara tauhid dengan kesyirikan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. as-Sholatu was salamu &#8216;ala Khatamin Nabiyyin Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa ash-habihit thahirin wa man tabi&#8217;ahum bi ihsanin ila yaumid din. Amma ba&#8217;d.</p>
<p>Sesungguhnya al-Qur&#8217;an mengandung pelajaran dan bimbingan bagi umat manusia. al-Qur&#8217;an memberikan tuntunan bagi mereka agar bisa membedakan antara kebenaran dengan kebatilan, antara iman dengan kekafiran, antara tauhid dengan kesyirikan, antara taat dan kemaksiatan, antara  jalan menuju surga dengan jalan menuju neraka, antara sosok manusia teladan yang pandai bersyukur kepada Rabbul &#8216;alamin dan sosok manusia yang tidak pandai bersyukur kepada ar-Rahman.</p>
<p><span id="more-1096"></span></p>
<p>Oleh sebab itulah, kami berkeinginan -dengan senantiasa memohon taufik kepada Allah ta&#8217;ala- untuk ikut serta menyajikan pembahasan tafsir ayat-ayat suci kepada sidang pembaca yang mulia. Kami berharap hal ini bisa mengikis kebodohan kami dan memberikan manfaat bagi saudara-saudara kami kaum muslimin. Allah lah tempat kami meminta pertolongan.</p>
<p>Pada kesempatan ini kami akan memulai pembahasan tafsir sebuah surat yang sangat mulia yaitu surat al-Fatihah. Sebuah surat yang berulang kali dibaca oleh setiap muslim di setiap harinya, yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita untuk memahami maknanya dan mengamalkan isinya. Dalam menyusun tulisan ini kami akan berusaha untuk merujuk kepada kitab-kitab tafsir dan syarah/penjelasan hadits yang telah disusun oleh para ulama kita, semoga Allah merahmati mereka semua. Semoga Allah memudahkan amal ini untuk ikhlas karena-Nya, bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, dan istiqomah hingga kesudahannya.</p>
<p><strong>Surat paling agung dalam al-Qur&#8217;an</strong><br />
al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">قال الإمام أحمد بن محمد بن حنبل، رحمه الله، في مسنده: حدثنا يحيى بن سعيد، عن شعبة، حدثني خبيب بن عبد الرحمن، عن حفص بن عاصم، عن أبي سعيد بن المُعَلَّى، رضي الله عنه، قال: كنت أصلي فدعاني رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلم أجبه حتى صلَّيت وأتيته، فقال: &#8221; ما منعك أن تأتيني؟ &#8221; . قال: قلت: يا رسول الله، إني كنت أصلي. قال: &#8221; ألم يقل الله: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ } [الأنفال: 24] ثم قال: &#8221; لأعلمنك أعظم سورة في القرآن قبل أن تخرج من المسجد &#8221; . قال: فأخذ بيدي، فلما أراد أن يخرج من المسجد قلت: يا رسول الله إنك قلت: &#8221; لأعلمنك أعظم سورة في القرآن &#8221; . قال: &#8221; نعم، الحمد لله رب العالمين هي: السبع المثاني والقرآن العظيم الذي أوتيته &#8221; .</p>
<p>Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullahuta&#8217;ala mengatakan di dalam Musnadnya: Yahya bin Sa&#8217;id menuturkan kepada kami -sebuah riwayat- dari Syu&#8217;bah. Dia berkata: Khubaib bin Abdurrahman menuturkan kepadaku dari Hafsh bin &#8216;Ashim dari Abu Sa&#8217;id bin al-Mu&#8217;alla radhiyallahu&#8217;anhu, dia berkata: Dahulu saat aku sedang mengerjakan sholat lalu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memanggilku. Aku tidak memenuhi panggilan itu sampai sholat selesai kulakukan. Abu Sa&#8217;id berkata: Kemudian aku mendatangi beliau (Nabi), maka beliau bertanya, “Apa yang menghalangimu untuk datang menemuiku?”. Abu Sa&#8217;id berkata: Kujawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tadi sedang sholat.” Maka beliau mengatakan, “Bukankah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8216;Hai orang-orang yang beriman penuhilah panggilan Allah dan Rasul ketika menyeru kalian menuju sesuatu yang memberikan kehidupan bagi kalian.&#8217;.” Kemudian beliau bersabda, “Sungguh aku akan ajarkan kepadamu sebuah surat paling agung di dalam al-Qur&#8217;an sebelum kamu keluar dari masjid ini.” Abu Sa&#8217;id berkata: Kemudian beliau menggandeng tanganku -seraya berjalan-, lalu ketika beliau hampir keluar dari masjid kukatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi anda mengatakan: Sungguh akan kuajarkan kepadamu sebuah surat yang paling agung di dalam al-Qur&#8217;an.” Maka beliau menjawab, “Benar, itulah surat Alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin (surat al-Fatihah), itulah as-Sab&#8217;u al-Matsani dan al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim yang dianugerahkan kepadaku.” (HR. Ahmad [17884] Syaikh Syu&#8217;aib al-Arna&#8217;uth menyatakan sanad hadits ini shahih sesuai dengan kriteria/syarat Imam Bukhari [Musnad Ahmad, 4/211 cet. Mu'assasah Qurthubah. Asy-Syamilah], pent) (Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [1/18] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p>Syaikh Abdul Muhsin al-&#8217;Abbad hafizhahullah ketika menjelaskan kandungan hadits ini berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وهذا يدل على عظم سورة الفاتحة، وأنها أعظم سورة في كتاب الله، ولهذا شرعت قراءتها في الصلاة، بل قراءتها في الصلاة لازمة في كل ركعة من الركعات، وهي ركن من أركان الصلاة، وتثنى في الصلوات وتعاد وتكرر</p>
<p>“Hadits ini menunjukkan betapa agungnya surat al-Fatihah, dan menunjukkan bahwa ia merupakan surat paling agung di dalam Kitabullah. Oleh sebab itulah surat ini disyari&#8217;atkan untuk dibaca di dalam sholat, bahkan hukum membacanya di dalam sholat adalah wajib di setiap raka&#8217;at, dan ia merupakan salah satu rukun sholat. Surat ini senantiasa dibaca berulang-ulang di dalam sholat&#8230;” (Syarh Sunan Abu Dawud [8/145] software Maktabah as-Syamilah)</p>
<p>Imam al-&#8217;Aini rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan kandungan hadits di atas:</p>
<p style="text-align:right;">قوله أعظم سورة أي في الثواب على قراءتها وذلك لما يجمع هذه السورة من الثناء والدعاء والسؤال</p>
<p>“Perkataan beliau &#8216;Surat yang paling agung&#8217; maknanya: yaitu paling besar pahala bacaannya, dikarenakan di dalam surat ini telah terkandung bebagai hal yang utama seperti pujian, do&#8217;a, dan permintaan.” (&#8216;Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari [27/254] software Maktabah as-Syamilah)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:</p>
<p style="text-align:right;">قال بن التين معناه أن ثوابها أعظم من غيرها</p>
<p>“Ibnu at-Tin mengatakan: Makna ungkapan itu -surat paling agung- adalah pahalanya paling besar dibandingkan pahala -membaca- surat yang lainnya.” (Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [8/158] software Maktabah as-Syamilah)</p>
<p><strong>Faedah</strong>:<br />
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan berbagai pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits yang mengisahkan dialog Abu Sa&#8217;id bin al-Mu&#8217;alla radhiyallahu&#8217;anhu dengan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di atas. Di antara pelajaran yang beliau sampaikan adalah sbb:</p>
<ol>
<li> Bolehnya bagi Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam untuk menyeru dan memanggil orang lain yang sedang mengerjakan sholat sunnah. Hal itu merupakan kekhususan bagi beliau ketika beliau masih hidup. Demikian pula diperbolehkan bagi seorang ibu untuk memanggil anaknya ketika ia sedang sholat sunnah. Hal ini memiliki landasan penguat dari hadits tentang seorang rahib yang dipanggil oleh ibunya namun dia tidak memenuhinya. Kemudian ibu tersebut mendoakan jelek bagi anaknya dan Allah pun mengabulkan doanya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Adapun bagi selain rasul dan ibu maka tidak boleh baginya memanggil siapa saja yang sedang mengerjakan sholat dan tidak wajib bagi orang yang sholat itu untuk memenuhi panggilannya ketika dia sedang sholat kecuali apabila dalam rangka menyelamatkan jiwa orang dari ancaman bahaya yang jelas-jelas akan terjadi atau dalam keadaan darurat</li>
<li> Wajibnya memenuhi panggilan Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berdasarkan ayat di atas</li>
<li> Besarnya semangat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam memberikan pelajaran kepada para sahabatnya dan dorongan beliau kepada mereka agar menanti-nantikan apa yang hendak beliau sampaikan</li>
<li> Besarnya semangat seorang sahabat untuk menimba ilmu dan keberaniannya untuk mengingatkan Nabi atas apa yang telah beliau janjikan</li>
<li> Nabi merespon baik atas peringatan yang diberikan oleh sahabatnya dan kesetiaan beliau dalam menepati janjinya (lihat Tafsir wa Bayan li A&#8217;zhami Suratin fil Qur&#8217;an hal. 4 software Maktabah asy-Syamilah)</li>
</ol>
<p>Demikian pelajaran singkat yang bisa kami sampaikan di sini, semoga Allah masih mempertemukan kita dalam kesempatan lain berikutnya. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</p>
<p>Yogyakarta, Pagi hari Sabtu 7 Syawwal 1430 H<br />
Hamba yang fakir kepada ampunan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Alamat blog: http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAFSIR SURAT AL-FATIHAH</title>
		<link>http://abumushlih.com/tafsir-surat-al-fatihah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tafsir-surat-al-fatihah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 21:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Abdul Muhsin Al &#8216;Abbad Surat Al Fatihah merupakan sebuah surat paling agung di dalam Al Qur&#8217;an. Hal itu berdasarkan hadits Abu Sa&#8217;id bin Al Mu&#8217;alla yang dikeluarkan oleh Al Bukhari (hadits nomor 4474). Surat ini telah mencakup ketiga macam tauhid : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma&#8217; wa shifat. Tauhid rububiyah adalah mengesakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftafsir-surat-al-fatihah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftafsir-surat-al-fatihah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Syaikh Abdul Muhsin Al &#8216;Abbad</p>
<p>Surat Al Fatihah merupakan sebuah surat paling agung di dalam Al Qur&#8217;an. Hal itu berdasarkan hadits Abu Sa&#8217;id bin Al Mu&#8217;alla yang dikeluarkan oleh Al Bukhari (hadits nomor 4474). Surat ini telah mencakup ketiga macam tauhid : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma&#8217; wa shifat. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah ta&#8217;ala dalam perbuatan-perbuatan-Nya, seperti: menciptakan, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan, dan perbuatan-perbuatan Allah ta&#8217;ala yang lainnya. Maknanya Allah itu esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal mencipta, menghidupkan dan mematikan makhluk.</p>
<p><span id="more-266"></span>Sedangkan tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dengan perbuatan-perbuatan hamba seperti: dalam hal berdoa, merasa takut, berharap, bertawakal, meminta pertolongan (isti&#8217;anah), memohon keselamatan dari cekaman bahaya (istighatsah), menyembelih binatang, dan perbuatan-perbuatan hamba yang lainnya. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap mereka untuk menjadikan segala ibadah itu ikhlas semata-mata tertuju kepada Allah &#8216;azza wa jalla sehingga mereka tidak mempersekutukan sesuatupun bersama-Nya dalam hal ibadah. Sebagaimana tiada pencipta kecuali Allah, tiada yang menghidupkan kecuali Allah, tiada yang mematikan kecuali Allah, maka tiada yang berhak disembah kecuali Allah.</p>
<p>Tauhid asma&#8217; wa shifat adalah menetapkan nama dan sifat yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bagi diri-Nya tanpa disertai dengan tahrif (penyelewengan makna), ta&#8217;wil (penafsiran yang menyimpang), ta&#8217;thil (menolak makna atau teksnya), takyif (menegaskan bentuk tertentu dari sifat Allah), tasybih (menyerupakan secara parsial) ataupun tamtsil (menyerupakan secara total). Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah ta&#8217;ala yang artinya, &#8220;Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.&#8221; (QS. Asy Syura : 11). Sesungguhnya ayat yang mulia ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang kebenaran madzhab Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dalam mengimani sifat-sifat Allah &#8216;azza wa jalla yaitu dengan menetapkan sifat serta menyucikan-Nya. Di dalam firman-Nya &#8216;azza wa jalla, &#8220;Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.&#8221; terdapat penetapan dua buah nama Allah yaitu As Sami&#8217; (Maha Mendengar) dan Al Bashir (Maha Melihat). Kedua nama ini menunjukkan keberadaan dua sifat Allah yaitu As Sam&#8217;u (mendengar) dan Al Bashar (melihat). Sedangkan di dalam firman-Nya ta&#8217;ala, &#8220;Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.&#8221; terdapat penyucian Allah ta&#8217;ala dari keserupaan diri-Nya dengan makhluk dalam sifat-sifat mereka. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala mendengar tetapi tidak sebagaimana pendengaran makhluk. Dia juga melihat namun tidak sama seperti penglihatan mereka.</p>
<p>Bahkan ayat pertama yang terdapat dalam surat yang agung ini sudah mencakup ketiga macam tauhid tersebut. Tauhid uluhiyah sudah ditunjukkan keberadaannya dengan firman-Nya, &#8220;Alhamdulillah&#8221; (Segala puji bagi Allah). Hal itu dikarenakan penyandaran pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan sebuah bentuk ibadah dan sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari perbuatan mereka.</p>
<p>Adapun tauhid rububiyah, ia juga sudah terkandung di dalam firman-Nya ta&#8217;ala, &#8220;Rabbil &#8216;alamin.&#8221; (Rabb seru sekalian alam). Hal itu disebabkan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala adalah rabb bagi segala sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya. Hal itu sebagaimana difirmankan oleh Allah &#8216;azza wa jalla, &#8220;Hai umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian serta orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit menjadi atap, dan Dia lah yang menurunkan air hujan dari langit kemudian berkat air itu Allah menumbuhkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian, maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.&#8221; (QS. Al Baqarah : 21-22).</p>
<p>Sedangkan tauhid asma&#8217; wa shifat, maka sesungguhnya ayat pertama itu pun telah menyebutkan dua buah nama Allah. Kedua nama itu adalah lafzhul jalalah &#8216;Allah&#8217; dan Rabb sebagaimana di dalam firman-Nya &#8220;Rabbil &#8216;alamin&#8221;. Pada ayat ini kata &#8216;rabb&#8217; disebutkan dalam bentuk mudhaf (dipadukan dengan kata lain, pen). Sedangkan pada ayat lainnya yang tercantum dalam surat Yasin ia disebutkan secara bersendirian tanpa perpaduan, yaitu dalam firman-Nya, &#8220;Salamun qaulan min rabbir rahim&#8221; (Semoga keselamatan tercurah dari rabb yang maha penyayang) (QS. Yasin : 58).</p>
<p>Adapun &#8216;alamin&#8217; adalah segala makhluk selain Allah. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dengan dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maka Dia lah Sang Pencipta. Sedangkan semua selain diri-Nya adalah makhluk. Allah &#8216;azza wa jalla bercerita tentang kisah Musa dan Fir&#8217;aun, &#8220;Fir&#8217;aun mengatakan, &#8216;Apa itu rabbul &#8216;alamin?&#8217; Maka Musa menjawab, &#8216;Dia adalah rabb penguasa langit, bumi, dan segala sesuatu yang berada di antara keduanya, jika kamu mau jujur meyakininya.&#8217;.&#8221; (QS. Asy Syu&#8217;ara&#8217; : 23-24).</p>
<p>&#8216;Ar Rahman Ar Rahim&#8217; (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) merupakan dua buah nama Allah yang menunjukkan salah satu sifat Allah yaitu rahmah (kasih sayang). Ar Rahman termasuk kategori nama Allah yang hanya boleh dipakai untuk menyebut Allah. Sedangkan nama Ar Rahim telah disebutkan di dalam Al Qur&#8217;an pemakaiannya untuk menyebut selain-Nya. Allah &#8216;azza wa jalla berfirman tentang sifat Nabi-Nya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian, terasa berat olehnya apa yang menyulitkan kalian, dan dia sangat bersemangat untuk memberikan kebaikan bagi kalian, dan dia sangat lembut dan menyayangi orang-orang yang beriman.&#8221; (QS. At Taubah : 128).</p>
<p>Ibnu Katsir mengungkapkan tatkala menjelaskan tafsir basmalah di awal surat Al Fatihah, &#8220;Kesimpulan yang dapat dipetik adalah sebagian nama Allah ta&#8217;ala ada yang bisa dipakai untuk menamai selain-Nya, dan ada yang hanya boleh dipakai untuk menamai diri-Nya -seperti nama Allah, Ar Rahman, Al Khaliq, Ar Raziq dan sebagainya- .&#8221;</p>
<p>&#8216;Maliki yaumid din&#8217; menunjukkan kepada tauhid rububiyah. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala adalah rabb segala sesuatu dan penguasanya. Seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang berada di antara keduanya adalah milik-Nya. Dia lah Raja yang menguasai dunia dan akhirat. Allah &#8216;azza wa jalla berfirman, &#8220;Milik Allah kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya, dan Dia Maha menguasai segala sesuatu.&#8221; (QS. Al Ma&#8217;idah : 120). Allah juga berfirman, &#8220;Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8221; (QS. Al Mulk : 1). Allah berfirman, &#8220;Katakanlah; Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia yang melindungi dan tiada yang dapat terlindungi dari siksa-Nya, jika kalian benar-benar mengetahui? Maka mereka akan menjawab, &#8216;Allah&#8217;. Katakanlah; Lantas dari sisi manakah kalian tertipu.&#8221; (QS. Al Mu&#8217;minun : 88-89).</p>
<p>Yaumid din adalah hari terjadinya pembalasan dan penghitungan amal. Di dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah adalah penguasa pada hari pembalasan -padahal Dia adalah penguasa dunia dan akhirat- dikarenakan pada hari itu semua orang pasti akan tunduk kepada Rabbul &#8216;alamin. Berbeda dengan situasi yang terjadi di dunia, ketika di dunia masih ada orang yang bisa melampaui batas dan menyombongkan dirinya, bahkan ada pula yang berani mengatakan, &#8220;Aku adalah rabb kalian yang paling tinggi.&#8221; Dan dia pun lancang mengatakan, &#8220;Wahai rakyatku semua, tidaklah aku mengetahui adanya sesembahan bagi kalian selain diri-Ku.&#8221;</p>
<p>&#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217; (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Ini menunjukkan tauhid uluhiyah. Penyebutan objek yang didahulukan sebelum dua buah kata kerja tersebut menunjukkan pembatasan. Ia menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah. Demikian pula meminta pertolongan dalam urusan yang hanya dikuasai oleh Allah juga harus diminta hanya kepada Allah. Kalimat yang pertama menunjukkan bahwasanya seorang muslim harus melaksanakan ibadahnya dengan ikhlas untuk mengharap wajah Allah yang disertai  kesesuaian amal dengan sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Sedangkan kalimat yang kedua menunjukkan bahwa hendaknya seorang muslim tidak meminta pertolongan dalam mengatasi segala urusan agama dan dunianya kecuali kepada Allah &#8216;azza wa jalla.</p>
<p>&#8216;Ihdinash shirathal mustaqim&#8217; (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Ini menunjukkan tauhid uluhiyah, sebab ia merupakan doa. Dan doa termasuk jenis ibadah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah &#8216;azza wa jalla, &#8220;Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapapun.&#8221; (QS. Al Jin : 18). Doa ini mengandung seagung-agung tuntutan seorang hamba yaitu mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus. Dengan meniti jalan itulah seseorang akan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya serta akan menuai keberhasilan dunia dan akhirat. Kebutuhan hamba terhadap petunjuk ini jauh lebih besar daripada kebutuhan dirinya terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanyalah bekal untuk menjalani kehidupannya yang fana. Sedangkan petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan bekal kehidupannya yang kekal dan abadi. Doa ini juga mengandung permintaan untuk diberikan keteguhan di atas petunjuk yang telah diraih dan juga mengandung permintaan untuk mendapatkan tambahan petunjuk. Allah &#8216;azza wa jalla berfirman, &#8220;Dan orang-orang yang tetap berjalan di atas petunjuk, maka Allah pun akan menambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah akan memberikan ketakwaan kepada mereka.&#8221; (QS. Muhammad : 17). Allah juga berfirman tentang Ashabul Kahfi, &#8220;Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami pun menambahkan petunjuk kepada mereka.&#8221; (QS. Al Kahfi : 13). Allah juga berfirman, &#8220;Dan Allah akan menambahkan petunjuk kepada orang-orang yang tetap berjalan di atas petunjuk.&#8221; (QS. Maryam : 76).</p>
<p>Petunjuk menuju jalan yang lurus itu akan menuntun kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada&#8217;, dan orang-orang salih. Mereka itu adalah orang-orang yang memadukan ilmu dengan amal. Maka seorang hamba memohon kepada Rabbnya untuk melimpahkan hidayah menuju jalan lurus ini yang merupakan sebuah  pemuliaan dari Allah kepada para rasul-Nya dan wali-wali-Nya. Dia memohon agar Allah menjauhkan dirinya dari jalan musuh-musuh-Nya yaitu orang-orang yang memiliki ilmu akan tetapi tidak mengamalkannya. Mereka itulah golongan Yahudi yang dimurkai. Demikian juga dia memohon agar Allah menjauhkan dirinya dari jalan orang-orang yang beribadah kepada Allah di atas kebodohan dan kesesatan. Mereka itulah golongan Nasrani yang sesat. Hadits yang menerangkan bahwa orang-orang yang dimurkai itu adalah Yahudi dan orang-orang sesat itu adalah Nasrani dikeluarkan oleh At Tirmidzi (hadits nomor 2954) dan ahli hadits lainnya, silakan lihat takhrij hadits ini di buku Silsilah Ash Shahihah karya Al Albani (hadits nomor 3263), di dalam buku itu disebutkan nama-nama para ulama yang menyatakan keabsahan hadits tersebut.</p>
<p>Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya ketika membahas firman Allah ta&#8217;ala, &#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan pendeta dan rahib-rahib benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan memalingkan manusia dari jalan Allah.&#8221; (QS. At Taubah : 34) menukilkan ucapan Sufyan bin Uyainah yang mengatakan, &#8220;Orang-orang yang rusak di antara orang berilmu di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara para ahli ibadah di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Nasrani.&#8221;</p>
<p>Guru kamu Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan di dalam kitabnya Adhwa&#8217;ul Bayan (1/53), &#8220;Orang-orang Yahudi dan Nasrani -meskipun sebenarnya mereka sama-sama sesat dan sama-sama dimurkai- hanya saja kemurkaan itu lebih dikhususkan kepada Yahudi -meskipun orang Nasrani juga termasuk di dalamnya- dikarenakan mereka telah mengenal  kebenaran namun justru mengingkarinya, dan secara sengaja melakukan kebatilan. Karena itulah kemurkaan lebih condong dilekatkan kepada mereka. Adapun orang-orang Nasrani adalah orang yang bodoh dan tidak mengetahui kebenaran, sehingga kesesatan merupakan ciri mereka yang lebih menonjol. Meskipun begitu Allah menyatakan bahwa &#8216;al magdhubi &#8216;alaihim&#8217; adalah kaum Yahudi melalui firman-Nya ta&#8217;ala tentang mereka, &#8220;Maka mereka pun kembali dengan menuai kemurkaan di atas kemurkaan.&#8221; (QS. Al Baqarah : 90). Demikian pula Allah berfirman mengenai mereka, &#8220;Katakanlah; maukah aku kabarkan kepada kalian tentang golongan orang yang balasannya lebih jelek di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati Allah dan dimurkai oleh-Nya.&#8221; (QS. Al Ma&#8217;idah : 60). Begitu pula firman-Nya, &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan patung sapi itu sebagai sesembahan niscaya akan mendapatkan kemurkaan.&#8221; (QS. Al A&#8217;raaf : 152). Sedangkan golongan &#8216;adh dhaalliin&#8217; telah Allah jelaskan bahwa mereka itu adalah kaum Nasrani melalui firman-Nya ta&#8217;ala, &#8220;Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat, dan mereka pun menyesatkan banyak orang, sungguh mereka telah tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al Ma&#8217;idah : 77). &#8221;</p>
<p>Dari penjelasan terdahulu maka jelaslah bahwa surat Al Fatihah mengandung lebih daripada sekedar pembahasan ketiga macam tauhid : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma&#8217; wa shifat. Sebagian ulama ada juga yang membagi tauhid menjadi dua macam : tauhid fil ma&#8217;rifah wal itsbat -ia sudah mencakup tauhid rububiyah dan asma&#8217; wa shifat- dan tauhid fi thalab wal qashd yang tidak lain adalah tauhid uluhiyah. Maka tidak ada pertentangan antara pembagian tauhid menjadi dua ataupun tiga. Ibnu Abil &#8216;Izz Al Hanafi mengatakan di dalam Syarh &#8216;Aqidah Thahawiyah (hal. 42-43), &#8220;Kemudian, tauhid yang diserukan oleh para utusan Allah dan menjadi muatan kitab-kitab suci yang diturunkan-Nya ada dua macam : tauhid dalam hal penetapan dan pengenalan (itsbat wal ma&#8217;rifah), dan tauhid dalam hal tuntutan dan keinginan (fi thalab wal qashd). Adapun tauhid yang pertama adalah penetapan hakikat Rabb ta&#8217;ala, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya. Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam perkara-perkara itu semua. Hal itu sebagaimana yang diberitakan oleh Allah mengenai dirinya sendiri, dan juga sebagaimana yang diberitakan oleh Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Al Qur&#8217;an telah menjelaskan dengan gamblang mengenai jenis tauhid ini, sebagaimana tercantum di dalam bagian awal surat Al Hadid, Thaha, bagian akhir surat Al Hasyr, bagian awal surat &#8216;Alif lam mim tanzil&#8217; (As Sajdah), awal surat Ali &#8216;Imran, seluruh ayat dalam surat Al Ikhlas, dan lain sebagainya. Yang kedua : Tauhid thalab wal qashd, seperti yang terkandung dalam surat Qul ya ayyuhal kafirun, Qul Ya ahlal kitabi ta&#8217;aalau ila kalimatin sawaa&#8217;in bainana wa bainakum, awal surat Tanzilul Kitab dan bagian akhirnya, awal surat Yunus, pertengahan, dan bagian akhirnya, awal surat Al A&#8217;raaf dan bagian akhirnya, dan surat Al An&#8217;aam secara keseluruhan. Mayoritas surat-surat Al Qur&#8217;an mengandung dua macam tauhid tersebut, bahkan setiap surat dalam Al Qur&#8217;an demikian halnya; sebab Al Qur&#8217;an itu meliputi pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, inilah yang disebut dengan tauhid ilmi khabari. Ia juga berisi tentang dakwah yang mengajak untuk beribadah kepada Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya serta menanggalkan segala bentuk sesembahan selain-Nya, inilah yang disebut tauhid iradi thalabi. Ia juga berisi tentang perintah dan larangan serta kewajiban untuk menaati-Nya, ini merupakan hak-hak tauhid dan penyempurna baginya. Ia juga mengandung berita mengenai pemuliaan yang diberikan bagi orang-orang yang bertauhid, kebaikan yang Allah limpahkan kepada mereka di dunia dan kemuliaan yang akan mereka terima di akhirat, maka itu semua merupakan balasan bagi ketauhidannya. Ia juga berisi berita mengenai para pelaku kesyirikan, siksa yang Allah timpakan kepada mereka sewaktu di dunia dan azab yang harus mereka rasakan di akhirat, maka itu merupakan balasan bagi orang-orang yang meninggalkan tauhid. Dengan demikian seluruh bagian dari Al Qur&#8217;an berisi tentang tauhid, hak-haknya, dan balasannya, serta menjelaskan tentang syirik, pelakunya, dan balasan (hukuman) yang diberikan kepada mereka. Maka alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin adalah tauhid. Ar rahmanir rahim adalah tauhid. Maliki yaumid din adalah tauhid. Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in adalah tauhid. Ihdinash shirathal mustaqim adalah tauhid yang mengandung permohonan petunjuk untuk bisa meniti jalan ahli tauhid yang telah mendapatkan anugerah kenikmatan dari Allah, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan juga bukan jalan orang-orang yang sesat; yaitu orang-orang yang memisahkan diri dari tauhid.&#8221;</p>
<p>Dikarenakan keagungan kedudukan surat Al Fatihah ini dan ketercakupannya terhadap tauhidullah dalam hal rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan asma&#8217; wa shifat-Nya, kandungan permohonan petunjuk meniti jalan yang lurus, dan dikarenakan kebutuhan setiap muslim terhadap petunjuk itu jauh berada di atas kebutuhannya terhadap apapun dan lebih mendesak, maka surat ini pun disyari&#8217;atkan untuk dibaca di setiap raka&#8217;at shalat. Di dalam Sahih Bukhari (756) dan Muslim (393) dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu&#8217;anhu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.&#8221; Di dalam Sahih Muslim (878) dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda, &#8220;Barangsiapa mengerjakan shalat yang tidak membaca Ummul Qur&#8217;an di dalamnya maka shalatnya pincang -tiga kali- yaitu tidak sempurna.&#8221; Maka ditanyakan kepada Abu Hurairah, &#8220;Kalau kami sedang berada di belakang imam, bagaimana?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Bacalah untuk diri kalian sendiri, karena sesungguhnya aku mendengar Rasululah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Allah ta&#8217;ala berfirman : &#8216;Aku membagi shalat (Al Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.&#8217; Kalau hamba itu membaca, &#8216;Alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin&#8217;, maka Allah ta&#8217;ala menjawab, &#8216;Hamba-Ku telah memuji-Ku&#8217;. Kalau dia membaca, &#8216;Ar Rahmanirrahim&#8217; maka Allah ta&#8217;ala menjawab, &#8216;Hamba-Ku menyanjung-Ku&#8217;. Kalau ia membaca, &#8216;Maliki yaumid din&#8217; maka Allah berfirman, &#8216;Hamba-Ku mengagungkan Aku&#8217;. Kemudian Allah mengatakan, &#8216;Hamba-Ku telah pasrah kepada-Ku&#8217;. Kalau ia membaca, &#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217; maka Allah menjawab, &#8216;Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.&#8217;. dan kalau dia membaca, &#8216;Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an&#8217;amta &#8216;alaihim ghairil maghdhubi &#8216;alaihim wa ladh dhaalliin&#8221; maka Allah berfirman, &#8216;Inilah hak hamba-Ku dan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya.&#8217;.&#8221;</p>
<p>Makna dari firman Allah di dalam hadits qudsi ini, &#8220;Kalau ia membaca, &#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217; maka Allah menjawab, &#8216;Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.&#8221; ialah : kalimat yang pertama yaitu &#8216;Iyyaka na&#8217;budu&#8217; mencakup ibadah, dan itu merupakan hak Allah. sedangkan kalimat yang kedua (yaitu wa iyyaka nasta&#8217;in, pen) mengandung permintaan hamba untuk memperoleh pertolongan dari Allah dan menunjukkan bahwa Allah berkenan memberikan kemuliaan baginya dengan mengabulkan permintaannya.</p>
<p>Guru kami Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengambil kesimpulan hukum dari surat Al Fatihah ini untuk menetapkan keabsahan kekhilafahan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu&#8217;anhu. Beliau mengatakan di dalam kitabnya Adhwa&#8217;ul Bayan (1/51), &#8220;Dari ayat yang mulia ini diambil kesimpulan mengenai keabsahan kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu&#8217;anhu. Hal itu dikarenakan beliau termasuk golongan orang yang disebut di dalam As Sab&#8217;ul Matsani dan Al Qur&#8217;an Al &#8216;Azhim -yaitu dalam surat Al Fatihah- yang Allah perintahkan kita untuk meminta petunjuk kepada-Nya agar bisa meniti jalan mereka. Maka hal itu menunjukkan bahwa jalan mereka adalah jalan yang lurus. Hal itu sebagaimana disinggung dalam ayat-Nya, &#8220;Ihdinash shirathal mustaqim. Shirathalladzina an&#8217;amta &#8216;alaihim.&#8221; Allah telah menerangkan siapa saja golongan orang yang diberikan kenikmatan itu, dan di antara mereka adalah orang-orang shiddiq. Sementara beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga telah menjelaskan bahwa Abu Bakar radhiyallahu&#8217;anhu termasuk kategori orang-orang shiddiq. Dengan demikian jelaslah bahwa beliau pun termasuk dalam golongan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah itu, itulah isi perintah Allah kepada kita yaitu memohon petunjuk agar bisa berjalan di atas jalan mereka, sehingga tidak lagi tersisa sedikitpun kesamaran bahwa Abu Bakar radhiyallahu&#8217;anhu benar-benar berada di atas jalan yang lurus, dan hal itu juga menunjukkan bahwa kepemimpinan beliau adalah sah.&#8221; (Diterjemahkan oleh Ari Wahyudi dari &#8216;Min Kunuz Al Qur&#8217;an&#8217; karya Syaikh Abdul Mushin Al &#8216;Abbad hafizhahullah, hal. 1-6. Muraja&#8217;ah : Ustadz Aris Munandar, S.S.).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tafsir-surat-al-fatihah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
