<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Tafsir</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/category/tafsir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 06:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Antara Sulaiman dan Qarun</title>
		<link>http://abumushlih.com/antara-sulaiman-dan-qarun.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/antara-sulaiman-dan-qarun.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 13:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Sulaiman]]></category>
		<category><![CDATA[Qarun]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1992</guid>
		<description><![CDATA[Manusia sangat menyukai kesenangan dunia, baik berupa kesehatan, harta, keturunan, ataupun kedudukan. Mereka sangat membanggakannya dan menjadikannya sebagai parameter kesuksesan hidup. Oleh sebab itu mereka sangat bersedih dan bahkan berputus asa tatkala kesenangan itu lenyap darinya. Mereka tidak bisa menjadi &#8230; <a href="http://abumushlih.com/antara-sulaiman-dan-qarun.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fantara-sulaiman-dan-qarun.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fantara-sulaiman-dan-qarun.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Manusia sangat menyukai kesenangan dunia, baik berupa kesehatan, harta, keturunan, ataupun kedudukan. Mereka sangat membanggakannya dan menjadikannya sebagai parameter kesuksesan hidup. Oleh sebab itu mereka sangat bersedih dan bahkan berputus asa tatkala kesenangan itu lenyap darinya. Mereka tidak bisa menjadi sosok hamba yang bersabar ketika mendapatkan musibah yang ditakdirkan-Nya.</p>
<p><span id="more-1992"></span>Sebaliknya, tatkala berhasil mendapatkan kembali nikmat dunia yang sebelumnya luput darinya, mereka merasa seolah-olah dirinyalah orang yang paling berhak menikmatinya. Mereka juga meremehkan dan melecehkan orang lain yang ada di sekitarnya karena tidak memiliki &#8216;kemuliaan&#8217; seperti yang didapatkannya. Mereka pun ternyata tidak bisa menjadi sosok hamba yang pandai bersyukur kepada Rabbnya atas nikmat yang telah dilimpahkan oleh-Nya.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan jika Kami berikan rahmat Kami kepada manusia, kemudian (rahmat itu) Kami cabut kembali, pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih. Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata; &#8216;Telah hilang bencana itu dariku.&#8217; Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga, kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”</em> (<strong>QS. Hud: 9-11</strong>).</p>
<p>Di dalam ayat yang mulia ini, Allah menceritakan tentang tabiat buruk manusia yang bodoh lagi suka melakukan kezaliman. Tatkala Allah menganugerahkan kepadanya sebagian dari rahmat-Nya berupa kesehatan, rezeki yang melimpah atau anak-anak yang menyenangkan hati dan semacamnya lalu Allah pun mencabut hal itu darinya, dia bersikap putus asa dan berpangku tangan saja, dia tidak mengharapkan pahala dari Allah (atas musibahnya). Tidak pernah terbersit dalam pikirannya bahwa kelak Allah akan mengembalikan sesuatu yang hilang itu kepada dirinya, menggantikannya dengan yang serupa atau bahkan sesuatu yang lebih baik darinya.</p>
<p>Demikian pula, apabila Allah melimpahkan kepadanya rahmat/kemudahan setelah dirundung kesulitan  maka diapun terlalu gembira dan berbangga diri. Dia mengira bahwa keadaan itu akan terus-menerus dialaminya, sampai-sampai dia berkata, <em>“Semua bencana telah luput dariku.”</em> Ini menunjukkan dirinya terlalu gembira dan berbangga-bangga. Dia merasa senang dengan suatu karunia/nikmat yang cocok dengan hawa nafsunya. Dia merasa angkuh dengan kenikmatan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Itulah yang membuatnya semakin congkak, sombong, <em>ujub</em> akan diri sendiri dan angkuh kepada orang lain, suka merendahkan dan melecehkan mereka. Aib manakah yang lebih parah daripada sifat semacam ini?</p>
<p>Inilah karakter yang melekat pada jiwa manusia kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah untuk bersabar ketika mendapatkan musibah -sehingga tidak berputus asa- dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat -sehingga dia tidak bersikap angkuh- dan dia pun mengerjakan amal-amal salih yang wajib maupun yang sunnah. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan mendapatkan balasan pahala yang sangat besar berupa surga beserta segala macam kenikmatan yang diinginkan jiwa manusia (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 396. cet. Dar al-Hadits)</p>
<p>Contoh sosok manusia yang larut dengan &#8216;keberhasilan&#8217;nya dan angkuh dengan kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya adalah Qarun. Dia berkata dengan nada sombong dan angkuh, sebagaimana diceritakan dalam ayat (yang artinya), <em>“Dia (Qarun) berkata, &#8216;Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.&#8217;&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Qashash: 78</strong>).</p>
<p>Dia mengira bahwa dirinya memang orang yang berhak dan paling pantas untuk mendapatkan itu semua. Sehingga dia pun menolak mentah-mentah nasehat dari kaumnya untuk tidak dihanyutkan oleh kesenangan dunia sehingga melupakan urusan akherat. Dalam pandangannya, kekayaan materi itulah  bukti pemuliaan dan kecintaan Allah kepada dirinya. Allah tidak tinggal diam terhadap hal ini. Allah  membantah persangkaan Qarun ini dengan firman-Nya (yang artinya), <em>“Tidakkah dia (Qarun) tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Qashash: 78</strong>). (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 684. cet. Dar al-Hadits)</p>
<p>Berbeda halnya dengan sosok yang mengerti akan dirinya dan memahami keagungan Rabbnya. Maka dia akan mengakui bahwa nikmat yang dia peroleh adalah ujian dari Rabbnya. Sehingga dia pun merasa khawatir kalau-kalau tidak bisa menunaikan syukur kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Inilah keletadanan yang dicontohkan oleh Nabi Sulaiman <em>&#8216;alaihis salam</em>, sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), <em>“Maka ketika dia (Sulaiman) melihat Singgasana (Ratu Balqis) itu terletak di hadapannya, dia pun berkata; &#8216;Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia besyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya Mahamulia.&#8217;.”</em> (<strong>QS. an-Naml: 40</strong>). (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 662. cet. Dar al-Hadits)</p>
<p>Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri; apakah kita termasuk pengikut keteladanan Sulaiman <em>&#8216;alaihis salam</em> ataukah pengekor kesesatan Qarun dan orang-orang yang sejalan dengannya. <em>Wallahul muwaffiq</em>. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammad wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/antara-sulaiman-dan-qarun.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khusyu&#8217; Di Dalam Ibadah</title>
		<link>http://abumushlih.com/khusyu-di-dalam-ibadah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/khusyu-di-dalam-ibadah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 18:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Khusyu']]></category>
		<category><![CDATA[Munafik]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1725</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: al-Akh Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -hafizhahullah- Allah ta’ala berfirman, menceritakan tentang keadaan orang-orang yang beriman: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2 “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu, orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka” (Al &#8230; <a href="http://abumushlih.com/khusyu-di-dalam-ibadah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkhusyu-di-dalam-ibadah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkhusyu-di-dalam-ibadah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: <strong>al-Akh Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi</strong> -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p>Allah <em>ta’ala </em>berfirman, menceritakan tentang keadaan  orang-orang yang beriman:</p>
<p><strong>قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي  صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2</strong></p>
<p>“<em>Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu,  orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka” (Al Mu’minun : 1-2)</em></p>
<p><em><span id="more-1725"></span></em>Tanda orang beriman, sebagaimana yang Allah <em>ta’ala </em>terangkan  adalah mereka khusyu’ di dalam sholat-sholat mereka.</p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan, khusyu’ dalam  sholat adalah merasa tenang dalam sholat dan merasa takut (kepada Allah)  dalam sholatnya tersebut.(<em>Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Darut Thayibah,  Asy Syamilah</em>).</p>
<p>Syaikh As Sa’diy <em>rahimahullahu </em>menerangkan makna ‘<em>khusyu’  di dalam sholat’</em>, yaitu seseorang menghadirkan hati di hadapan  Allah, merasakan dekatnya (ilmu dan pengawasan) Allah, yang dengan semua  itu hati bisa merasa tenang, jiwa merasa damai. Hal ini akan terpancar  dalam gerakan tubuh yang tenang, tidak lalai dalam sholat, menghayati  setiap bacaan yang dibaca dalam sholatnya, dari awal takbir hingga akhir  sholat. Semua ini dalam rangka tunduk dan taat kepada Allah. (<em>Lihat  Taisir Karimirrahman,</em> <em>Maktabah Ar Rusyd, hal. 547</em>)</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan, <strong>inilah  hakikat <em>ruh </em>sholat dan inilah sholat yang dimaksudkan oleh  Allah untuk ditegakkan oleh hamba-Nya</strong>. (<em>Lihat Taisir  Karimirrahman,</em> <em>Maktabah Ar Rusyd, hal. 547</em>)</p>
<p>Muhammad bin Sirin <em>rahimahullahu </em>mengatakan, “Dahulu para  shahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa  mengangkat pandangan mereka ke arah langit tatkala sholat. Namun ketika  turun ayat ini, (yaitu al Mu’minun 1-2) maka semenjak itu mereka  menundukkan pandangan mereka ke tempat sujud mereka. (<em>Lihat Tafsir  Ibnu Katsir, Darut Thayibah, Maktabah Asy Syamilah</em>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p><strong>الخشوع خمود نيران الشهوة وسكون دخان الصدور وإشراق نور التعظيم  في القلب</strong><strong> </strong></p>
<p>“<em>Khusyu’ adalah memadamkan luapan syahwat, meredamkan gejolak di  hati dan melahirkan cahaya pengagungan (kepada Allah ta’ala) di dalam  hati</em>.” (<em>Lihat Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, Maktabah Asy  Syamilah</em>)</p>
<p>Letak kekhusyu’an adalah di dalam hati, sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> mengkhabarkan bahwa ketaqwaan manusia ada di  dalam hati. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p><strong>التقوى ههنا (ويشير إلى صدره ثلاث مرات)</strong></p>
<p>“<em>Takwa letaknya adalah di sini (dan Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam berisyarat menunjuk ke arah dada beliau tiga kali)”  (Hadits riwayat Muslim)</em></p>
<p>Hal ini pun telah ditegaskan oleh Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em>,</p>
<p><strong> وأجمع العارفون على أن الخشوع محله القلب وثمرته على الجوارح</strong><strong> </strong></p>
<p><strong><em>“</em></strong><em>Para ahli ilmu telah sepakat, bahwa  letak kekhusyu’an adalah di dalam hati, dan buah dari kekhusyu’an akan  tercermin pada anggota badan yang lainnya.”</em> (<em>Lihat Madarijus  Salikin, Ibnul Qayyim, Maktabah Asy Syamilah</em>)</p>
<p>Saudaraku sungguh <strong>amalan hati adalah lebih utama daripada  semata-mata amalan badan</strong>. Sebagaimana dinyatakan oleh Syaikul  Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullahu</em>, <em> </em></p>
<p><strong>كَانَتْ أَعْمَالُ الْقَلْبِ الْمُجَرَّدَةِ أَفْضَلَ مِنْ  أَعْمَالِ الْبَدَنِ الْمُجَرَّدَةِ . كَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ :  قُوَّةُ الْمُؤْمِنِ فِي قَلْبِهِ وَضَعْفُهُ فِي جِسْمِهِ وَقُوَّةُ  الْمُنَافِقِ فِي جِسْمِهِ وَضَعْفُهُ فِي قَلْبِهِ </strong></p>
<p>“S<em>emata-mata amalan hati adalah <strong>lebih utama</strong> dibandingkan dengan semata-mata amalan badan. Sebagaimana dikatakan oleh  para ulama terdahulu : kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya dan  kelemahannya ada pada jasadnya, sedangkan kekuatan orang-orang munafik  ada pada jasad mereka dan kelemahan mereka terletak pada hati mereka”  (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, Maktabah Asy Syamilah)</em></p>
<p>Setan dan bala tentaranya tidak akan tinggal diam tatkala melihat  bani Adam sedang berusaha khusyu’. Hendaklah seorang waspada terhadap  seluruh tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menjerumuskan manusia  dalam kesengsaraan. Seorang shahabat, Hudzaifah Ibnu Yaman <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> berkata,<em> </em></p>
<p><strong>إياكم وخشوع النفاق فقيل له : وما خشوع النفاق قال : أن ترى  الجسد خاشعا والقلب ليس بخاشع</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>“</strong><em>Waspadalah kalian dengan khusyu’-nya  orang-orang munafik…!!!”, kemudian seorang bertanya kepada beliau,  bagaimanakah khusyu’-nya orang-orang munafik?, beliau mengatakan,  “Engkau melihat seseorang, jasadnya Nampak khusyu’ akan tetapi hatinya  sama sekali tidak merasakan kekhusyu’an”</em>.</p>
<p>Lihatlah saudaraku apa yang dikatakan Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu </em>tentang  bedanya khusyu’-nya orang-orang beriman dan orang-orang munafik. Beliau  <em>rahimahullahu </em>mengatakan:</p>
<p><strong>أن خشوع الإيمان هو خشوع القلب لله بالتعظيم والإجلال والوقار  والمهابة والحياء فينكسر القلب لله كسرة ملتئمة من الوجل والخجل والحب  والحياء وشهود نعم الله وجناياته هو فيخشع القلب لا محالة فيتبعه خشوع  الجوارح وأما خشوع النفاق فيبدو على الجوارح تصنعا وتكلفا والقلب غير خاشع  وكان بعض الصحابة يقول أعوذ بالله من خشوع النفاق قيل له وما خشوع النفاق  قال أن يرى الجسد خاشعا والقلب غير </strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya khusyu’ karena iman adalah menundukkan hati di  hadapan Allah ta’ala dengan segala bentuk pengagungan dan pemuliaan.  Hati seakan-akan luluh di hadapan Allah karena cinta dan takut kepada  Allah, mengakui berbagai nikmat Allah yang melekat pada dirinya. Inilah  ketundukan hati yang hakiki, yang terletak di relung hati seorang hamba,  yang akan diikuti oleh anggota badan lainnya. </em></p>
<p><em>Adapun khusyu’-nya orang-orang munafik adalah menampakkan dengan  anggota badan di hadapan pandangan para manusia, dengan berbuat  seolah-olah badannya nampak khusyu’, akan tetapi hakikatnya hatinya sama  sekali tidaklah merasa khusyu’</em>.” -Sekian perkataan Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em>-  (<em>Lihat Ar Ruh, Ibnul Qayyim, Maktabah Asy Syamilah</em>)</p>
<p>Kekhusyu’an yang tertanam dalam hati seorang manusia, akan membuahkan  ketenangan dalam gerakan anggota badannya, merasakan <em>ruh</em> ibadah dan bisa menikmati kelezatan beribadah. <strong>Inilah sumber  kekuatan seorang mukmin</strong>, bersumber dari hati dan bermuara ke  anggota badan lainnya.</p>
<p>Saudaraku, sungguh inilah yang banyak dilalaikan oleh sebagian besar  kaum muslimin saat ini. <strong>Sholat mereka secepat kilat, bibir <em>komat-kamit </em>laksana bacaan mantra dan tidak paham  maknanya. <em>Allahu  musta’an</em></strong><em>.</em></p>
<p>Sungguh benar apa yang dikatakan oleh shahabat Hudzaifah Ibnul Yaman,  tatkala beliau mengatakan:</p>
<p><strong>أول ما تفقدون من دينكم الخشوع وآخر ما تفقدون من دينكم الصلاة</strong><strong> </strong></p>
<p>“<em>Hal pertama yang akan hilang dari agama ini adalah <strong>khusyu’</strong>,  dan perkara terakhir yang akan hilang dari agama ini adalah <strong>sholat</strong>”</em> (Diriwayatkan Al Hakim disepakati oleh Adz Dzahabi)</p>
<p>Perkara ini, yaitu khusyu’ merupakan perkara yang berat membutuhkan  usaha dan jerih payah. Sampai-sampai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em>, manusia paling mulia berlindung kepada Allah dari hati  yang lalai, dari hati yang tidak khusyu’ :</p>
<p><strong>اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ  وَنَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَعِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَدَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ  لَهَا</strong><strong> </strong></p>
<p>“<em>Ya Allah, <strong>sesungguhnya</strong> <strong>aku berlindung  kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’</strong>, dari jiwa yang tidak  pernah merasa puas, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari doa yang  tidak terkabul” (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan An Nasa’i)</em></p>
<p>Hanya kepada Allah kita memohon hidayah dan petunjuk. Ya Rabb  jadikanlah Kami ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang khusyu’. Amiin.</p>
<p>***</p>
<p>Abu Fauzan Hanif<br />
<a href="http://hanifnurfauzi.wordpress.com" target="_blank">http://hanifnurfauzi.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/khusyu-di-dalam-ibadah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembalilah, Wahai Saudaraku!</title>
		<link>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 20:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1716</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, apakah gerangan yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah?” (QS. al-Infithar: 6) Sebagian ulama berkata bahwa di dalam firman Allah “Apa yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah” &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkembalilah-wahai-saudaraku.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkembalilah-wahai-saudaraku.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai umat manusia, apakah gerangan yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Infithar: 6</strong><span style="font-weight: normal;">) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian ulama berkata bahwa di dalam firman Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah”</span></em><span style="font-weight: normal;"> terdapat isyarat mengenai jawaban atas pertanyaan ini. Yaitu bahwasanya yang menyebabkan manusia terperdaya dan terlena adalah kemurahan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;"> serta penundaan hukuman dan kelembutan sikap-Nya. Padahal sesungguhnya tidak boleh orang terperdaya dan terlena disebabkan hal itu. Karena Allah membiarkan orang zalim bebas berkeliaran sampai tiba waktunya Allah menghukumnya dan pada saat itulah dia tidak mampu lagi untuk mengelak darinya. Lalu, apakah gerangan yang membuatmu terperdaya oleh karunia Rabbmu Yang Maha Pemurah? Jawabnya: kemurahan dan kelembutan Allah. Inilah sebab yang memperdaya manusia sehingga membuat dirinya terus menerus bergelimang dalam maksiat, mendustakan kebenaran dan bersikeras mempertahankan penyimpangan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir Juz &#8216;Amma</span></em><span style="font-weight: normal;"> Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 65)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1716"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Aduhai, alangkah tepat apa yang digambarkan oleh ayat yang mulia tersebut! Betapa sering kita jumpai diri kita ini; dengan berbagai kenikmatan yang Allah curahkan dan alirkan ke dalam berbagai relung nafas kehidupan kita, namun ternyata hal itu bukannya semakin menyadarkan kita akan kesalahan dan dosa yang kita perbuat di hadapan-Nya. Justru sebaliknya, kita justru semakin berbuat semaunya, membangkang dan menerjang larangan-larangan-Nya, bertindak semena-mena seolah-olah tiada kematian yang akan memutuskan harapan dan angan-angan para durjana.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku yang kucintai, semoga Allah membukakan hati kita untuk menerima kebenaran yang datang dari-Nya. Tidakkah engkau ingat, sebuah nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita dahulu. Dahulu, kita tidak mengenal Islam dan Sunnah ini sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> dan para sahabatnya. Dahulu, kita masih terlena oleh berbagai kesenangan dunia dan berbagai hiburan yang tak mengenal batasan agama. Dahulu, kita tidak mengenal apa itu tauhid, apa itu manhaj, bahkan kita pun tidak mengenal apa tujuan hidup kita yang sebenarnya. Bukankah demikian keadaan kita dulu sebelum Allah pancarkan hidayah itu di dalam lubuk hati kita setelah kegelapannya? </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Lalu mengapa -wahai saudaraku yang mulia- pada hari ini kita seolah-olah telah melupakan kenikmatan agung itu&#8230; Kita kembali terlena oleh suasana dan hiruk pikuk kehidupan dunia yang fana dan melalaikan dari-Nya. Mengapa kita lalai dan terlena serta terus menerus melestarikan pembangkangan kepada-Nya? Apakah kita telah berani meremehkan hak-hak Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;">? Ataukah kita berani melecehkan dan menganggap sepele hukuman yang akan ditimpakan oleh-Nya kepada kita? Ataukah karena kita memang sudah tidak lagi mengimani akan balasan yang dijanjikan-Nya? (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Taisir al-Karim ar-Rahman</span></em><span style="font-weight: normal;">, Juz 2 hal. 1274) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Maha suci Allah, betapa lancang dan kurang ajarnya diri kita ini! Setiap detik kehidupan ini kita senantiasa diberi karunia nikmat dan kemurahan dari-Nya lantas itu semua kita balas dengan kedurhakaan dan pembangkangan bahkan penghinaan kepada-Nya?! Betapa tidak tahu dirinya kita ini&#8230; Wahai saudaraku, bukankah Allah yang telah menunjukimu sehingga mengenal Islam dan Sunnah Nabi-Nya </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">? Bukankah Allah yang membimbingmu sehingga mengetahui tata cara beribadah yang benar kepada-Nya? Bukankah Allah juga yang mengentaskan kebodohanmu sehingga engkaupun menjadi orang yang berilmu? Lalu mengapa -dengan ilmu itu- kamu tidak semakin bertambah taat dan patuh kepada-Nya? Dimanakah ilmu yang ada pada dirimu?</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Bukankah Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengingatkan dan memuji orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Fathir: 28</strong><span style="font-weight: normal;">). Alangkah benar ucapan Fudhail bin &#8216;Iyadh </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Seorang yang berilmu akan senantiasa dinilai sebagai orang bodoh selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia telah mengamalkannya maka barulah dia benar-benar menjadi orang berilmu yang sejati.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi di dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Iqtidha&#8217; al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amala</span></em><span style="font-weight: normal;">). Abdullah bin Mas&#8217;ud </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bukanlah ilmu itu didapat hanya dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakekat ilmu itu adalah yang membuahkan rasa takut kepada Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (dinukil oleh Ibnul Qayyim di dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Inilah rahasianya; mengapa selama ini pengetahuan yang kita miliki tidak mengantarkan kita menjadi hamba-hamba yang patuh dan tunduk kepada-Nya, namun justru menjadikan kita sebagai para pemuja hawa nafsu yang senantiasa menerjang aturan-Nya. Tiada lain karena rasa takut kepada-Nya tidak menghiasi hati dan perilaku kita. Hati kita dipenuhi dengan kecintaan terhadap dunia dengan segala perhiasannya. Hati kita dipenuhi dengan kegandrungan kepada kesenangan dunia yang sementara lagi menipu. Hati  kita telah mabuk dan terpesona oleh rayuan nafsu dan bujukan syaitan yang durjana.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Itulah rahasianya mengapa Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> mewasiatkan kepada kita untuk segera beramal yaitu mengamalkan ilmu yang telah kita mengerti. Dan mengamalkan ilmu itu adalah cerminan rasa takut kita kepada Allah</span><em><span style="font-weight: normal;"> &#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;">. Hal itu supaya kita tidak tergolong orang yang tertipu dengan dunia; sehingga akibatnya kita pun rela menjual agama demi mendapatkan kesenangan dunia yang menipu dan sementara saja, </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-weight: normal;">! Rasul </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal sebelum datangnya fitnah-fitnah yang datangnya bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Yang membuat seorang di pagi hari masih beriman, namun di sore harinya dia telah berubah menjadi kafir. Atau di sore hari dia beriman, namun di pagi harinya berubah menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Para ulama suu&#8217; duduk di depan pintu surga seraya menyeru manusia supaya masuk ke dalamnya dengan ucapan lisan mereka. Akan tetapi mereka mengajak kepada neraka dengan amal perbuatan mereka. Setiap kali ucapan mereka mengajak manusia, “Kemarilah!” maka perbuatan mereka justru berkata, “Jangan kalian dengarkan ucapannya.” Karena seandainya apa yang dia serukan adalah kebenaran maka niscaya dia adalah orang yang pertama kali melakukannya. Mereka itu secara lahir tampak sebagai pemberi petunjuk, akan tetapi pada hakekatnya mereka adalah perampok.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 60)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya maka hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada keinginan hawa nafsunya. Hati yang begitu terpikat dengan syahwat akan terhalangi dari Allah sesuai dengan kadar ketergantungan hati itu kepadanya. Hati merupakan bejana -untuk mengenal- Allah di atas muka bumi yang diciptakan-Nya. Maka hati yang paling dicintai-Nya adalah hati yang paling lembut, paling kuat, dan paling jernih. Aduhai, mengapa mereka menyibukkan hati mereka dengan dunia. Seandainya mereka mau menyibukkannya dengan -kecintaan kepada- Allah dan -harapan terhadap- hari akherat niscaya akan tampak dengan jelas bagi mereka keagungan makna firman-Nya dan kebesaran ayat-ayat-Nya yang bisa disaksikan dan niscaya dia akan mampu memetik berbagai hikmah yang jarang ditemukan dan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 95)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Wahai saudaraku, kembalilah ke jalan Rabbmu. Sesungguhnya barisan para mujahid senantiasa menunggu kehadiranmu. </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu waliyyut taufiq</span></em><span style="font-weight: normal;">. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ar-Rahman ar-Rahim</title>
		<link>http://abumushlih.com/ar-rahman-ar-rahim.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ar-rahman-ar-rahim.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 11:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Asma' wa Shifat]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmat]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1683</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Fatihah: 2) Ayat yang agung ini mengandung pelajaran, di antaranya: Penetapan bahwa Allah memiliki nama, yang di antaranya adalah dua nama ini; ar-Rahman dan ar-Rahim. Nama ar-Rahman mengandung &#8230; <a href="http://abumushlih.com/ar-rahman-ar-rahim.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Far-rahman-ar-rahim.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Far-rahman-ar-rahim.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”</em> (<strong>QS. al-Fatihah: 2</strong>)</p>
<p><span id="more-1683"></span></p>
<p>Ayat yang agung ini mengandung pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Penetapan bahwa Allah memiliki nama, yang di antaranya adalah      dua nama ini; ar-Rahman dan ar-Rahim. Nama ar-Rahman mengandung sifat      kasih sayang pada diri-Nya. Adapun nama ar-Rahim mengandung perbuatan      Allah yang merahmati hamba-hamba-Nya (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh      Ibnu Utsaimin, hal. 10)</li>
<li>Nama Allah ar-Rahman juga mengandung makna suka memberikan      kebaikan, bersifat dermawan, dan suka berbuat kebajikan (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>,      hal. 21)</li>
<li>Di dalam ayat ini terkandung salah satu pilar ubudiyah yaitu <em>roja&#8217;</em>/harapan.      Maksudnya dengan merenungi kandungan ayat ini maka seorang hamba akan      senantiasa mengharapkan rahmat Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Sebab      apabila Allah itu adalah sosok yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,      maka tentu saja rahmat/kasih sayang-Nya sangatlah diharapkan (lihat <em>Syarh      Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 18)</li>
<li>Ayat ini -sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya- menunjukkan      bahwa rububiyah Allah itu dilandasi dengan sifat kasih sayang yang sangat      luas, bukan rububiyah yang dibangun di atas sifat suka menyiksa dan      menghukum (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 10)</li>
<li>Seorang hamba akan bisa meraih kebahagiaan dengan mengenal      nama-nama dan sifat-sifat Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Karena dengan mengenali      keindahan dan keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya maka dia akan bisa      menyempurnakan kekuatan ilmunya (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 20)</li>
<li>Nama ar-Rahman menunjukkan rahmat Allah yang maha luas dan      mencakup seluruh makhluk. Oleh sebab itu ketika berbicara tentang      kemuliaan diri-Nya yang ber-istiwa/tinggi menetap di atas Arsy -sementara      Arsy itu meliputi semua makhluk- maka Allah menyebut dirinya dengan nama      yang memiliki kandungan sifat yang paling luas pula yaitu ar-Rahman. Allah      <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“ar-Rahman istiwa&#8217; di atas      Arsy.”</em> (<strong>QS. Thaha: 5</strong>). Di sisi lain, Allah juga berfirman (yang      artinya), <em>“Rahmat-Ku luas mencakup segala sesuatu.”</em> (<strong>QS.      al-A&#8217;raaf: 56</strong>). (lihat <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir fi at-Tafsir</em> [1/60])</li>
<li>Konsekuensi dari sifat rahmah/kasih sayang yang terdapat dalam      nama ar-Rahman, adalah Allah mengutus para rasul dan menurunkan      kitab-kitab untuk membimbing manusia demi kebahagiaan hidup mereka.      Perhatian Allah untuk itu jelas lebih besar daripada sekedar perhatian      Allah untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanam-tanaman dan biji-bijian di      atas muka bumi ini. Tetesan air hujan akan membuahkan kehidupan tubuh      jasmani bagi manusia. Adapun wahyu yang dibawa oleh para rasul dan      terkandung di dalam kitab-kitab merupakan sebab hidupnya hati mereka      (lihat <em>at-Tafsir al-Qayyim</em>, hal. 8).</li>
<li>Berangkat dari faedah terakhir di atas, kita dapat menarik      kesimpulan bahwa orang yang ingin mendapatkan rahmat Allah yang sempurna      di dunia dan di akherat maka dia harus tunduk kepada syari&#8217;at Rasul yang      diutus kepadanya. Sehingga pada jaman sekarang ini -setelah diutusnya Nabi      Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>- siapa saja yang ingin masuk      surga dia harus tunduk kepada ajaran Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em>. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah      ada seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah dia      beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak      beriman kepada ajaranku, melainkan dia pasti termasuk golongan penduduk      neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>,      lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/243]). Maka tidak ada pertentangan sama      sekali antara sifat kasih sayang Allah dengan dimasukkannya orang kafir ke      dalam neraka. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ar-rahman-ar-rahim.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segala Puji Hanya Untuk-Mu</title>
		<link>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 22:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hamdalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1680</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Segala puji untuk Allah Rabb seru sekalian alam.” (QS. al-Fatihah: 1) Ayat yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, diantaranya: Penetapan bahwasanya hanya Allah ta&#8217;ala yang berhak mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan al dalam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsegala-puji-hanya-untuk-mu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsegala-puji-hanya-untuk-mu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Segala puji untuk Allah Rabb seru sekalian alam.”</em> (<strong>QS. al-Fatihah: 1</strong>)</p>
<p><span id="more-1680"></span></p>
<p>Ayat yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Penetapan bahwasanya hanya Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang berhak      mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan <em>al</em> dalam kata <em>alhamdu</em> menunjukkan makna mencakup keseluruhan bagiannya (lihat <em>Tafsir Juz      &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9)</li>
<li>Dalam segala kondisi maka Allah berhak mendapatkan pujian. Oleh      sebab itu apabila Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merasakan sesuatu      yang menyenangkan beliau maka beliau pun berdzikir,<em> &#8216;Alhamdulillahilladzi bi ni&#8217;matihi tatimmush shalihaat&#8217;</em> artinya:      Segala puji bagi Allah yang dengan curahan nikmat-Nyalah maka segala      kebaikan menjadi sempurna. Demikian juga apabila beliau menjumpai keadaan      yang sebaliknya (tidak menyenangkan) maka beliau berdzikir, <em>&#8216;Alhamdulillahi      &#8216;ala kulli haal&#8217;</em> artinya: Segala puji bagi Allah dalam kondisi apapun      (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9).</li>
<li>Yang dimaksud pujian -<em>alhamdu</em>- di sini adalah sanjungan      yang diiringi dengan rasa cinta dan pengagungan (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 8 )</li>
<li>Allah senantiasa dipuji dikarenakan kesempurnaan dzat-Nya,      keindahan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta keagungan      perbuatan-perbuatan-Nya. Selain itu Allah juga dipuji karena anugerah      nikmat yang dicurahkan oleh-Nya kepada seluruh makhluk-Nya (lihat <em>Syarh      Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 12). Karena Allah adalah <em>al-Mu&#8217;thi</em> -yang maha pemberi- dan <em>al-Mun&#8217;im</em> -yang mengaruniakan nikmat- maka      dialah yang patut untuk selalu dipuji..</li>
<li>Allah juga terpuji karena ketetapan hukum-Nya, yaitu <strong>hukum      kauni</strong> -hukum yang berlaku bagi semua ciptaan-Nya di dalam dunia ini-      demikian juga <strong>hukum syar&#8217;i</strong> -yang berupa ketetapan hukum ilmiah dan      amaliah bagi mukallaf/orang yang dibebani syari&#8217;at- begitu pula dalam hal <strong>hukum      ukhrawi</strong> yang ditetapkan oleh-Nya berupa balasan dan hukuman bagi      hamba-Nya di alam akherat (lihat <em>Jam&#8217;ul Mahshul fi Syarh Risalah Ibnu      Sa&#8217;di fi al-Ushul</em>, hal. 13-14)</li>
<li>Di dalam ayat tersebut Allah lebih mendahulukan sifat      uluhiyah/sesembahan -yaitu yang terkandung dalam kata Allah- daripada      sifat rububiyah/pemeliharaan -yaitu yang terkandung dalam kata Rabb-, hal      ini dimungkinkan karena 2 alasan: Pertama, karena kata Allah itu adalah      nama khusus bagi-Nya yang disifati oleh semua nama/Asma&#8217;ul Husna yang lain      sehingga dikedepankan. Atau yang kedua, karena orang-orang yang didakwahi      oleh para rasul adalah golongan orang-orang yang menolak keesaan Allah dalam      hal uluhiyah-Nya, artinya mereka membagi-bagi ibadah mereka tidak hanya      untuk Allah tapi juga untuk selain-Nya (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9)</li>
<li>Karena Allah satu-satunya pemelihara seluruh alam semesta ini      maka hanya Allah pula yang berhak untuk diibadahi, tidak ada yang menerima      ibadah selain Allah (lihat <em>Risalah Tsalatsat al-Ushul</em> yang dicetak      dalam <em>Majmu&#8217;ah at-Tauhid</em>, hal. 20)</li>
<li>Rububiyah atau pemeliharaan Allah itu berlaku mencakup semua      makhluk (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9).      Sehingga ayat ini menunjukkan keesaan Allah dalam hal rububiyah-Nya (lihat      <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 8). Rububiyah Allah itu      mencakup tiga hal pokok, yaitu: mencipta, menguasai, dan mengatur alam      semesta (lihat lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal.      9).</li>
<li>Ayat ini mengandung pilar ibadah yang sangat agung yaitu <em>al-Mahabbah</em>/rasa      cinta. Karena Allah adalah <em>al-Muhsin</em> -yang melimpahkan segala      kebaikan- dan Dia juga <em>al-Mun&#8217;im</em> -yang mencurahkan semua nikmat-      maka sebagai konsekuensinya adalah hanya Allah yang layak dicintai dengan      puncak kecintaan yang tertinggi dan tidak boleh ditandingi dengan      kecintaan kepada apapun juga (lihat <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah      al-Fatihah</em>, hal. 12)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semuanya Merugi, Kecuali&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 21:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1662</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3) Surat yang agung ini mengandung &#8230; <a href="http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsemuanya-merugi-kecuali.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsemuanya-merugi-kecuali.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3)</p>
<p><span id="more-1662"></span></p>
<p>Surat yang agung ini mengandung mutiara hikmah:</p>
<ol>
<li>Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi umat manusia,      bahkan waktu itu termasuk nikmat paling agung yang Allah karuniakan kepada      mereka (lihat <em>Syarh Kitab Tsalatsat al-Ushul</em> Syaikh Shalih bin      Abdul Aziz alu Syaikh, hal. 6)</li>
<li>Dengan menyempurnakan iman, amal salih, dakwah, dan sabar maka      seorang hamba akan selamat dari kerugian dan berhasil meraih keberuntungan      yang sangat besar (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> Syaikh as-Sa&#8217;di      [2/1303])</li>
<li>Wajib bagi kita untuk mempelajari empat perkara, yaitu: ilmu,      amal, dakwah, dan sabar. Adapun ilmu yang paling pokok untuk dimengerti      adalah: mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam dengan      dalil-dalilnya (lihat <em>Majmu&#8217;ah at-Tauhid</em>, hal. 17)</li>
<li>Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat      adalah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang beriman kepada      Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan      beriman kepada takdir (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin,      hal. 230-231).</li>
<li>Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat      adalah orang-orang yang beramal salih. Sedangkan amalan tidak dikatakan      sebagai amal salih kecuali apabila terpenuhi padanya dua buah syarat:      ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kalau seandainya amalannya mengikuti tuntunan namun      tidak ikhlas maka tidak diterima. Demikian juga kalau ikhlas tapi tidak      mengikuti tuntunan juga tidak diterima (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em>,      hal. 232-233).</li>
<li>Benarnya akidah menentukan diterima atau tidaknya amalan (lihat      <em>Abraz al-Fawa&#8217;id min al-Arba&#8217; al-Qawa&#8217;id </em>Syaikh Zaid bin Hadi      al-Madkhali, hal. 27). Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,      “Akidah yang benar merupakan pondasi tegaknya agama dan syarat sah      diterimanya amalan. Hal itu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah (yang      artinya), <em>“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya,      maka hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu      pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan      kepada orang-orang sebelummu: Seandainya kamu berbuat syirik niscaya akan      lenyap seluruh amalmu, dan kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang      merugi.”</em> (QS. az-Zumar: 65). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang      artinya), <em>“Sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya.      Ingatlah, untuk Allah agama/ketaatn yang tulus/murni itu.”</em> (QS.      az-Zumar: 2-3). Maka ayat-ayat yang mulia ini serta ayat-ayat lain yang      semakna -dan itu banyak jumlahnya- menunjukkan bahwa amalan tidak akan      diterima kecuali apabila bersih dari syirik. Oleh sebab itulah maka fokus      perhatian para rasul -semoga salawat dan keselamatan dicurahkan Allah      kepada mereka- menjadikan perbaikan akidah sebagai prioritas utama      dakwahnya&#8230;” (<em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 9-10)</li>
<li>Iman itu mencakup ucapan, amalan, dan keyakinan. Itu artinya      amal merupakan bagian dari iman. Di dalam surat ini Allah mengiringkan      amal setelah iman demi menunjukkan betapa penting dan mulianya amalan      (lihat <em>Syarh Kitab Tsalatsat al-Ushul,</em> hal. 7)</li>
<li>Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan. Kalau      seorang hamba memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya maka dia telah      mengikuti jalannya orang-orang yang dimurkai -<em>al-maghdhubi &#8216;alaihim</em>-.      Adapun apabila dia beramal namun tanpa landasan ilmu maka dia telah      mengikuti jalannya orang-orang yang sesat -<em>adh-dhaallin</em>-. Apabila      ilmu dan amal itu berjalan beriringan pada diri seorang hamba maka dia      telah berjalan di atas jalannya orang-orang yang diberi karunia oleh      Allah; yaitu jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang      shalih (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>,      hal. 21)</li>
<li>Dakwah -mengajak- kepada kebenaran merupakan bagian dari      beramal dengan ilmu yang dimiliki. Dan orang yang paling mulia adalah      orang yang sangat memperhatikan urusan dakwah -yaitu mengajak- orang untuk      berilmu dan beramal. Kemuliaan itu mereka dapatkan karena mereka telah      mewarisi tugas para rasul yaitu mendakwahkan ilmu dan amal yang dengan      sebab dakwah mereka itulah Allah berkenan mencurahkan petunjuk kepada      hamba-hamba-Nya (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah      al-Ushul</em>, hal. 22)</li>
<li>Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat      adalah orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran. Sedangkan      maksud dari saling menasehati dalam kebenaran itu adalah saling menasehati      untuk mewujudkan iman dan amal shalih. Artinya mereka satu sama lain      saling mengingatkan dan memotivasi untuk mengamalkannya (lihat <em>Taisir      al-Karim ar-Rahman</em> [2/1303])</li>
<li>Setiap muslim maupun muslimah wajib berdakwah mengajak manusia      kepada ajaran agama Allah ini sesuai dengan kemampuan dan bekal ilmu yang      dia miliki (lihat <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul</em> Syaikh Ibnu Baz, hal. 4)</li>
<li>Untuk berdakwah mengajak kepada kebenaran harus dibekali dengan      ilmu. Karena seorang tidak bisa mengajak kepada kebenaran kecuali setelah      mengenal kebenaran itu terlebih dulu (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah      ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 14-15, lihat juga QS. Yusuf ayat 108).</li>
<li>Kebenaran paling utama dan paling wajib didakwahkan terlebih      dulu kepada manusia adalah ajakan untuk bertauhid. Yang hal itu mencakup      tauhid dalam hal rububiyah, uluhiyah, maupun asma&#8217; wa shifat-Nya (lihat <em>Thariq      al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 15). Tauhid rububiyah      yaitu meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta, pengatur dan penguasa      alam ini. Tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah. Tauhid      asma wa shifat yaitu meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana      disebutkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah tanpa menolak dan tanpa      menyerupakan dengan makhluk-Nya.</li>
<li>Sabar merupakan salah satu pilar tegaknya dakwah. Karena      seorang da&#8217;i pasti akan menghadapi manusia dengan berbagai corak pemahaman      dan kecondongan, yang mereka itu berasal dari beraneka ragam tingkatan      masyarakat. Ada di antara mereka yang dengan mudah menerima dakwahnya, dan      tidak sedikit pula yang berpaling dan menolaknya, atau bahkan kemudian      menyakiti dirinya (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah      al-Ushul</em>, hal. 23)</li>
<li>Keselamatan dan keberuntungan hidup ini hanya akan diperoleh      dengan kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam      menahan diri agar tidak terjerumus dalam maksiat/kedurhakaan kepada Allah,      dan juga kesabaran dalam menyikapi takdir musibah yang terasa menyakitkan      (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [2/1303])</li>
<li>Sabar yang dipuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan,      bukan karena mencari sanjungan atau kedudukan di mata orang. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang bersabar karena      mengharapkan wajah Rabb mereka.”</em> (QS. ar-Ra&#8217;d: 22) (lihat <em>Thariq      al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 18)</li>
<li>Salah satu bentuk kesabaran yang akan mendatangkan keselamatan      bagi umat adalah bersabar dalam menghadapi pemimpin yang zalim. Dalam hal      ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah berpesan, <em>“Tunaikanlah      hak-hak mereka -pemerintah- dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan perkara ini, yaitu bersatu di bawah      naungan pemerintah, tidak memerangi para pemimpin -yang zalim tersebut-,      dan tidak mengobarkan peperangan dalam kondisi kacau merupakan salah satu      pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, sebagaimana yang ditegaskan oleh      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullahu ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Amru      bil Ma&#8217;ruf wa an-Nahyu &#8216;anil Mungkar</em>, hal. 32)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Keamanan dan Hidayah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 09:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ushul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1540</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Tatkala turun ayat (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan rasa aman, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-An&#8217;am: 82). Hal &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-keamanan-dan-hidayah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-keamanan-dan-hidayah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Tatkala turun ayat (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan </em><em>rasa aman, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 82). Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dan mereka pun berkata, <em>“Siapakah di antara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hal itu bukan seperti yang kalian kira. Namun yang dimaksud adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya, &#8216;Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.&#8217; (QS. Luqman: 13).” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p><span id="more-1540"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Kunci utama untuk mendapatkan keamanan dan hidayah adalah      tauhid yang bersih dari segala kotoran syirik. Maka dari sini, kita bisa      memahami mengapa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> beserta      para sahabatnya -demikian juga para rasul terdahulu- senantiasa mengawali      dakwahnya dengan tauhid dan menjadikannya sebagai prioritas yang paling      utama. Tidak lain dan tidak bukan, karena tauhid itulah kunci keberhasilan      suatu umat. Mereka diciptakan untuk bertauhid. Itu artinya, barangsiapa      yang tidak bertauhid maka dia telah menyelisihi fitrahnya dan meninggalkan      jalan Allah <em>ta&#8217;ala</em> menuju jalan kesesatan yang  menyeret pelakunya ke jurang kehancuran      dunia dan akherat <em>wal &#8216;iyadzu billah</em>. Maka pahamilah perkara ini      baik-baik wahai para aktifis dakwah dan para da&#8217;i&#8230; Jangan sampai kalian      pertaruhkan nasib umat ini di &#8216;meja perjudian&#8217; yang membuat mereka lalai      dari tujuan penciptaan dirinya.</li>
<li>Kezaliman itu bertingkat-tingkat. Ada kezaliman yang membuat      pelakunya sama sekali tidak mendapatkan keamanan dan petunjuk. Ada      pula kezaliman yang dampaknya tidak sampai separah kezaliman yang pertama,      dimana pelakunya masih dikatakan sebagai mukmin, meskipun dengan kualitas      iman yang rendah (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab al-Iman</em>, hal. 20, <em>Fath      al-Bari</em> [1/109,111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kezaliman yang melenyapkan keamanan dan petunjuk      secara menyeluruh adalah syirik kepada Allah. Inilah penafsiran dari ayat      82 dari surat al-An&#8217;am (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab Tafsir al-Qur&#8217;an</em>,      hal. 959). Barangsiapa yang menjadikan ibadah itu dipersembahkan kepada      selain Allah maka dia adalah sezalim-zalim pelaku kezaliman (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/206])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat menyadari bahwa semua      orang -pada umumnya- pasti tidak bisa luput dari kezaliman, minimal      kezaliman terhadap dirinya sendiri yaitu dengan bermaksiat kepada Allah <em>ta&#8217;ala, </em>meskipun tidak mencapai derajat kesyirikan.</li>
<li>Kata-kata <em>&#8216;bizhulmin&#8217;</em> (dengan kezaliman) dipahami oleh      para sahabat dengan maknanya yang umum yang meliputi segala jenis maksiat      dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mengingkari cara      pemahaman mereka itu. Hanya saja, beliau menjelaskan bahwa yang      dimaksudkan kezaliman dalam ayat ini adalah kezaliman yang paling berat      yaitu syirik. Sehingga kata &#8216;kezaliman&#8217; di sini tergolong sebagai ungkapan      umum namun yang dimaksudkan adalah maknanya yang khusus -<em>al &#8216;am urida      bihil khash</em>- (<em>Fath al-Bari</em> [1/109-110], lihat juga <em>Ma&#8217;alim      Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah</em>, hal. 419)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kemaksiatan -dosa besar ataupun      dosa kecil- bukanlah kekafiran -yang mengeluarkan dari agama-. Oleh sebab      itu Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab<em> &#8216;Zhulmun      duna zhulmin&#8217;</em> -kezaliman yang tidak mengeluarkan dari agama- di dalam <em>Kitab      al-Iman</em> dari shahihnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206], <em>Fath      al-Bari</em> [1/109]). Sehingga hadits ini mengandung bantahan bagi kaum      Khawarij yang menganggap bahwa pelaku dosa besar keluar dari Islam.      Demikian juga, ia mengandung bantahan bagi kaum Murji&#8217;ah yang menganggap      bahwa kemaksiatan tidak mempengaruhi keimanan.</li>
<li>&#8216;Prestasi&#8217; seorang hamba dalam mewujudkan keimanan (tauhid) di      dalam dirinya dan membersihkan diri dari segala bentuk kezaliman (terutama      syirik) akan mengangkat kedudukannya di sisi Allah <em>ta&#8217;ala</em>.      Sebagaimana predikat <em>Khalil ar-Rahman</em> -kekasih Allah- serta      &#8216;seorang imam yang patut dijadikan teladan&#8217; diberikan Allah kepada Nabi      Ibrahim <em>&#8216;alaihis salam</em> (lihat Shahih al-Bukhari, <em>Kitab Ahadits      al-Anbiya&#8217;</em>, hal. 700-702)</li>
<li>Syirik merupakan kezaliman yang sangat besar. Karena orang yang      berbuat syirik telah meletakkan ibadah tidak pada tempatnya. Ibadah yang      semestinya hanya dipersembahkan kepada Allah Yang Maha esa dalam hal      rububiyah-Nya, justru diberikan juga kepada makhluk-makhluk yang lemah dan      tak menguasai apa-apa. Ini menunjukkan bahwa orang musyrik tidak bersikap      hikmah dan juga tidak pandai bersyukur kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> atas      nikmat kehidupan yang diberikan kepadanya. Padahal, Allah sama sekali      tidak membutuhkan makhluk-Nya. Orang yang tidak bersyukur kepada Allah      -sementara tauhid itu merupakan bentuk syukur yang paling tinggi- pada      hakekatnya adalah orang yang takabur atau menyombongkan diri. (lihat      Shahih al-Bukhari, <em>Kitab Ahadits al-Anbiya&#8217;</em>, hal. 721)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi      wa sallam</em> memiliki peran yang sangat besar dalam menafsirkan al-Qur&#8217;an, bahkan hal itu      merupakan kewajiban utama yang beliau emban. Seandainya tidak ada beliau      maka manusia akan salah paham dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur&#8217;an,      sebagaimana yang dialami para sahabat ketika menyikapi makna ayat ke-82      dari surat al-An&#8217;am ini. Mereka menyangka bahwa syarat untuk memperoleh      ketentraman dan petunjuk itu adalah harus bersih dari segala bentuk      kezaliman, dan itu tentunya merupakan sesuatu yang sangat berat. Maka      muncullah peran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menjelaskan      maksud sebenarnya dari ayat tersebut (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab Tafsir      al-Qur&#8217;an</em>, hal. 1007)</li>
<li>Di dunia, orang musyrik -yang sebelumnya muslim- dihukumi      sebagai orang murtad alias halal darahnya. Sementara di akherat nanti      semua amal kebaikan mereka tidak ada artinya apa-apa. Oleh sebab itu Allah      menafikan keamanan dan hidayah dari orang-orang yang mencampuri keimanan mereka      dengan kezaliman (syirik) alias murtad (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab      Istitabatul Murtadin</em>, hal. 1388)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bolehnya -bagi Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>- untuk menunda keterangan setelah waktu turunnya      ayat. Namun, ketika keterangan itu diperlukan maka beliau wajib      menyampaikannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Tidak mungkin bersatu antara iman dan kekafiran secara lahir      dan batin. Oleh sebab itu setelah mencantumkan hadits ini di dalam <em>Kitab      al-Iman</em>, Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membawakan bab dengan judul      &#8216;ciri-ciri orang munafik&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa lafaz umum dimaknakan menurut      keumumannya sampai datang dalil lain yang mengkhususkannya (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kemaksiatan tidak disebut sebagai      syirik (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mempersekutukan      Allah barang sedikitpun maka dia akan mendapatkan keamanan dan hidayah. Lalu      bagaimana halnya dengan pelaku maksiat yang disiksa atau dihukum? Maka dia      juga tetap dikatakan sebagai orang yang mendapatkan keamanan ketika dibebaskan      kelak dari kekalnya siksa neraka dan pada akhirnya juga dibimbing masuk surga (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini mengandung bantahan bagi kaum al-Qur&#8217;aniyun (baca:      Ingkar Sunnah) yang menolak hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em> serta mencukupkan diri dengan al-Qur&#8217;an.</li>
<li>Hadits ini mengandung peringatan dari bahaya menyelisihi Sunnah      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena hal itu pasti akan      menjerumuskan ke dalam kesesatan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah Kejujuran</title>
		<link>http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 01:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jujur]]></category>
		<category><![CDATA[Kendaraan]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1538</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu, beliau mengisahkan bahwa suatu saat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memboncengkan Mu&#8217;adz di atas seekor binatang tunggangan (keledai bernama &#8216;Ufair). Nabi berkata, “Hai Mu&#8217;adz.” Mu&#8217;adz menjawab, “Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.” Lalu Nabi &#8230; <a href="http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbuah-kejujuran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbuah-kejujuran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><span style="font-weight: normal;">Dari Anas bin Malik </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau mengisahkan bahwa suatu saat Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> memboncengkan Mu&#8217;adz di atas seekor binatang tunggangan (keledai bernama &#8216;Ufair). Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hai Mu&#8217;adz.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mu&#8217;adz menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Lalu Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hai Mu&#8217;adz.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mu&#8217;adz menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Sampai tiga kali. Nabi pun bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada seorang pun yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah secara jujur dari dalam hatinya kecuali Allah pasti akan mengharamkan dia dari tersentuh api neraka.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mu&#8217;adz berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya menyampaikan kabar ini kepada orang-orang agar mereka bergembira?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kalau hal itu disampaikan, nantinya mereka justru bersandar kepadanya (malas beramal)?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Menjelang kematiannya, Mu&#8217;adz pun menyampaikan hadits ini karena khawatir terjerumus dalam dosa (menyembunyikan ilmu) (HR. Bukhari dan Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/273] dan </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/73-76], ini adalah lafaz Bukhari)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1538"></span></span>Hadits yang agung ini menyimpan pelajaran penting, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Diperbolehkan 	mengkhususkan suatu bagian dari ilmu kepada sekelompok orang tanpa 	memberitahukannya kepada kepada kelompok lainnya karena 	dikhawatirkan mereka tidak bisa memahaminya yang mengakibatkan 	mereka terjatuh dalam kekeliruan (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-&#8217;Ilm</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 43)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk memberi nama pada binatang tunggangan atau kendaraan yang 	dimiliki (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Jihad wa as-Siyar</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 601)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Diperbolehkan 	seseorang untuk membonceng kepada orang lain -berdua- di atas seekor 	keledai  atau kendaraannya, dengan syarat tidak menyulitkan bagi 	hewan atau kendaraan tersebut (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Libas</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1233, </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384], </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/33])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	dimaksud dengan bersaksi &#8216;secara jujur dari dalam hatinya&#8217; adalah 	dia mengucapkan syahadat tersebut dengan tulus, tidak sebagaimana 	syahadatnya kaum munafikin yang dilandasi dengan kedustaan dan 	kepura-puraan. Artinya orang tersebut mengucapkan syahadat itu 	dengan lisannya dan hatinya pun membenarkan isinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/274])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa salah satu syarat diterimanya syahadat adalah 	harus diucapkan dengan jujur, bukan pura-pura atau dilandasi dengan 	keudustaan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tanbihat 	al-Mukhtasharah Syarh al-Wajibat</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 51-52) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan ketawadhu&#8217;an Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan keutamaan Mu&#8217;adz bin Jabal dan kelembutan adabnya 	dalam bertutur kata (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan kedekatan hubungan antara Mu&#8217;adz dengan Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan kedalaman ilmu Mu&#8217;adz bin Jabal yang mana Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengkhususkan 	ilmu -yang membawa resiko berat- ini kepada dirinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk mengulangi ucapan -ketika mengajar- dalam rangka memberikan 	penegasan dan menanamkan pemahaman dengan sebaik-baiknya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian 	ulama menjelaskan bahwa dari hadits ini juga bisa dipetik pelajaran 	tidak bolehnya mempopulerkan hadits-hadits tentang 	rukhshah/keringanan kepada masyarakat umum karena dikhawatirkan akan 	menimbulkan kesalahpahaman dalam diri mereka (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa intisari dakwah Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> kepada umatnya adalah mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">tabaraka wa ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1467)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan dianjurkan untuk menyampaikan sesuatu yang bisa 	menggembirakan hati sesama muslim (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/31])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Larangan 	bersandar kepada keluasan rahmat Allah yang menyebabkan tumbuhnya 	perasaan aman dari makar Allah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/31])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan wajibnya menyampaikan ilmu dan menyembunyikannya 	merupakan perbuatan dosa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa seorang murid boleh meminta penjelasan 	tambahan kepada gurunya akan sesuatu yang terasa meragukan atau 	belum mapan di dalam pikirannya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan semestinya seorang murid meminta ijin kepada 	gurunya yang telah mengajarkan kepadanya suatu ilmu khusus yang 	tidak diberikan kepada selainnya apabila akan menyebarkan ilmu 	tersebut (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Tindakan 	Mu&#8217;adz menyampaikan hadits ini menjelang kematiannya setelah adanya 	larangan dari Nabi</span><em><span style="font-weight: normal;"> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> menunjukkan bahwa Mu&#8217;adz memahami larangan tersebut bukan mengandung 	hukum haram, akan tetapi dalam rangka menyelamatkan sebagian orang 	dari kesalahpahaman (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> kepada umatnya. Beliau berusaha keras untuk menutup segala celah 	yang mungkin mengantarkan mereka menuju kehancuran. Di antaranya 	adalah upaya beliau agar umatnya tidak salah paham dalam menyikapi 	hadits-hadits yang menceritakan keutamaan tauhid.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	juga -secara tidak langsung- menunjukkan keutamaan ilmu agama dan 	kepahaman di dalamnya. Karena dengan pemahaman yang benar akan 	membentengi seseorang dari kekeliruan bersikap dan mengambil 	tindakan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa pemahaman tauhid yang benar tidak akan membawa 	pemiliknya untuk bersandar kepada rahmat Allah semata dan merasa 	aman dari makar-Nya. Justru sebaliknya, kita temukan bahwa 	orang-orang yang telah diakui ketauhidannya dan menjadi teladan di 	dalamnya adalah sosok manusia yang sangat khawatir terjerumus ke 	dalam kemusyrikan dan kemunafikan. Lihatlah doa yang dipanjatkan 	oleh Nabi Ibrahim</span><em><span style="font-weight: normal;"> &#8216;alaihis salam</span></em><span style="font-weight: normal;">! </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya 	Allah jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah 	patung-patung.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(QS. 	Ibrahim: 35). Dan lihatlah para sahabat yang merasa khawatir dirinya 	terjangkit kemunafikan&#8230; Lalu bagaimanakah lagi dengan keadaan kita 	yang baru belajar tauhid kemarin sore?! </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Nas&#8217;alullahas 	salamah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits ini juga menunjukkan betapa besar semangat generasi salaf 	dalam menyebarkan ilmu, bahkan meskipun di saat-saat menjelang 	kematian mereka!</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hendaknya seorang da&#8217;i memperhitungkan maslahat dan madharat dari 	metode dakwah yang dia jalankan. Tidak semua kebenaran harus 	disampaikan dalam satu waktu dan kesempatan. Bisa jadi yang terbaik 	adalah menunda penyampaiannya di waktu yang lain demi mengantisipasi 	madharat yang lebih besar</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Pemahaman 	tauhid yang benar akan mengantarkan seseorang untuk bersemangat 	dalam beramal demi menggapai kedekatan diri dengan-Nya dan agar 	dirinya bisa menjadi seorang hamba yang pandai mensyukuri 	nikmat-Nya. Tidakkah kita ingat keteladanan Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> -manusia terhebat dalam mewujudkan tauhid-? Ternyata, beliau tidak 	bermalas-malasan, bahkan beliau sholat malam sampai telapak kakinya 	pecah-pecah!! Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita di hari ini </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ayyuhal ikhwah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">! </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahumma arinal 	haqqa haqqa warzuqnat tiba&#8217;ah, wa arinal bathila bathila warzuqna 	jtinabah&#8230;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Aduhai, 	betapa sering muncul anggapan bahwa kita telah paham tauhid, namun 	kenyataannya kita adalah orang yang paling bodoh tentangnya. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Wallahul 	muwaffiq</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Kegelapan Menuju Cahaya</title>
		<link>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 11:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1424</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta’ala berfirman, اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju &#8230; <a href="http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdari-kegelapan-menuju-cahaya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdari-kegelapan-menuju-cahaya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: right;">اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</p>
<p><em>“Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”</em> (QS. al-Baqarah: 257)</p>
<p><span id="more-1424"></span></p>
<p>al-Baghawi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">قوله تعالى: { اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا } ناصرهم ومعينهم</p>
<p><em>“Firman Allah ta’ala: Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman. Maknanya adalah Dia sebagai pembela dan pemberi bantuan kepada mereka.”</em> (<em>Ma’alim at-Tanzil</em> [1/315] asy-Syamilah)</p>
<p>al-Alusi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">{ يُخْرِجُهُم } بهدايته وتوفيقه</p>
<p><em>“Allah mengeluarkan mereka, yakni dengan hidayah dan taufik dari-Nya.”</em> (<em>Ruh al-Ma’ani</em> [2/324] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Jarir ath-Thabari <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">يخرجهم من ظلمات الكفر إلى نور الإيمان</p>
<p><em>“Maksudnya, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan.”</em> (<em>Jami’ al-Bayan</em> [5/424] asy-Syamilah)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;">عن الضحاك:&#8221;الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور&#8221;، الظلمات: الكفر، والنور: الإيمان &#8220;والذين كفروا أولياؤهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلى الظلمات&#8221;، يخرجونهم من الإيمان إلى الكفر</p>
<p><em>“Diriwayatkan dari adh-Dhahhak tentang ayat ‘Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya’ bahwa yang dimaksud dengan ‘kegelapan-kegelapan’ adalah kekafiran sedangkan ‘cahaya’ adalah keimanan. ‘Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan’ maksudnya mengeluarkan mereka dari keimanan menuju kekafiran.”</em> (<em>Jami’ al-Bayan</em> [5/425] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">والظلمات : الضلالة ، والنور : الهدى ، والطاغوت : الشياطين</p>
<p><em>“Yang dimaksud dengan kegelapan-kegelapan adalah kesesatan, sedangkan yang dimaksud dengan cahaya adalah petunjuk. Adapun thaghut yaitu syaitan-syaitan.” </em>(<em>Zaad al-Masiir</em> [1/263] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">وحد تعالى لفظ النور وجمع الظلمات؛ لأن الحق واحد والكفر أجناس كثيرة وكلها باطلة</p>
<p><em>“Allah ta’ala menyebutkan lafal cahaya dalam bentuk tunggal dan menyebutkan kegelapan dalam bentuk plural/jamak, hal itu dikarenakan kebenaran itu satu sedangkan kekafiran itu banyak ragamnya dan seluruhnya adalah kebatilan.”</em> (<em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em> [1/685] asy-Syamilah)</p>
<p>asy-Syinqithi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">وهذه الآية يفهم منها أن طرق الضلال متعددة . لجمعه الظلمات وأن طريق الحق واحدة . لإفراده النور</p>
<p><em>“Dari ayat ini dapat dipahami bahwasanya jalan-jalan kesesatan itu banyak, karena Allah menyebutkan kegelapan dalam bentuk jamak. Adapun jalan kebenaran hanya satu, karena Allah menyebutkan cahaya dalam bentuk tunggal/mufrad.”</em> (<em>Adhwa’ al-Bayan</em> [1/186] asy-Syamilah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Tafsir Surat al-Fatihah [bagian 1]</title>
		<link>http://abumushlih.com/mutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 23:57:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. as-Sholatu was salamu &#8216;ala Khatamin Nabiyyin Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa ash-habihit thahirin wa man tabi&#8217;ahum bi ihsanin ila yaumid din. Amma ba&#8217;d. Sesungguhnya al-Qur&#8217;an mengandung pelajaran dan bimbingan bagi umat manusia. al-Qur&#8217;an memberikan tuntunan bagi mereka &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. as-Sholatu was salamu &#8216;ala Khatamin Nabiyyin Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa ash-habihit thahirin wa man tabi&#8217;ahum bi ihsanin ila yaumid din. Amma ba&#8217;d.</p>
<p>Sesungguhnya al-Qur&#8217;an mengandung pelajaran dan bimbingan bagi umat manusia. al-Qur&#8217;an memberikan tuntunan bagi mereka agar bisa membedakan antara kebenaran dengan kebatilan, antara iman dengan kekafiran, antara tauhid dengan kesyirikan, antara taat dan kemaksiatan, antara  jalan menuju surga dengan jalan menuju neraka, antara sosok manusia teladan yang pandai bersyukur kepada Rabbul &#8216;alamin dan sosok manusia yang tidak pandai bersyukur kepada ar-Rahman.</p>
<p><span id="more-1096"></span></p>
<p>Oleh sebab itulah, kami berkeinginan -dengan senantiasa memohon taufik kepada Allah ta&#8217;ala- untuk ikut serta menyajikan pembahasan tafsir ayat-ayat suci kepada sidang pembaca yang mulia. Kami berharap hal ini bisa mengikis kebodohan kami dan memberikan manfaat bagi saudara-saudara kami kaum muslimin. Allah lah tempat kami meminta pertolongan.</p>
<p>Pada kesempatan ini kami akan memulai pembahasan tafsir sebuah surat yang sangat mulia yaitu surat al-Fatihah. Sebuah surat yang berulang kali dibaca oleh setiap muslim di setiap harinya, yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita untuk memahami maknanya dan mengamalkan isinya. Dalam menyusun tulisan ini kami akan berusaha untuk merujuk kepada kitab-kitab tafsir dan syarah/penjelasan hadits yang telah disusun oleh para ulama kita, semoga Allah merahmati mereka semua. Semoga Allah memudahkan amal ini untuk ikhlas karena-Nya, bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, dan istiqomah hingga kesudahannya.</p>
<p><strong>Surat paling agung dalam al-Qur&#8217;an</strong><br />
al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">قال الإمام أحمد بن محمد بن حنبل، رحمه الله، في مسنده: حدثنا يحيى بن سعيد، عن شعبة، حدثني خبيب بن عبد الرحمن، عن حفص بن عاصم، عن أبي سعيد بن المُعَلَّى، رضي الله عنه، قال: كنت أصلي فدعاني رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلم أجبه حتى صلَّيت وأتيته، فقال: &#8221; ما منعك أن تأتيني؟ &#8221; . قال: قلت: يا رسول الله، إني كنت أصلي. قال: &#8221; ألم يقل الله: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ } [الأنفال: 24] ثم قال: &#8221; لأعلمنك أعظم سورة في القرآن قبل أن تخرج من المسجد &#8221; . قال: فأخذ بيدي، فلما أراد أن يخرج من المسجد قلت: يا رسول الله إنك قلت: &#8221; لأعلمنك أعظم سورة في القرآن &#8221; . قال: &#8221; نعم، الحمد لله رب العالمين هي: السبع المثاني والقرآن العظيم الذي أوتيته &#8221; .</p>
<p>Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullahuta&#8217;ala mengatakan di dalam Musnadnya: Yahya bin Sa&#8217;id menuturkan kepada kami -sebuah riwayat- dari Syu&#8217;bah. Dia berkata: Khubaib bin Abdurrahman menuturkan kepadaku dari Hafsh bin &#8216;Ashim dari Abu Sa&#8217;id bin al-Mu&#8217;alla radhiyallahu&#8217;anhu, dia berkata: Dahulu saat aku sedang mengerjakan sholat lalu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memanggilku. Aku tidak memenuhi panggilan itu sampai sholat selesai kulakukan. Abu Sa&#8217;id berkata: Kemudian aku mendatangi beliau (Nabi), maka beliau bertanya, “Apa yang menghalangimu untuk datang menemuiku?”. Abu Sa&#8217;id berkata: Kujawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tadi sedang sholat.” Maka beliau mengatakan, “Bukankah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8216;Hai orang-orang yang beriman penuhilah panggilan Allah dan Rasul ketika menyeru kalian menuju sesuatu yang memberikan kehidupan bagi kalian.&#8217;.” Kemudian beliau bersabda, “Sungguh aku akan ajarkan kepadamu sebuah surat paling agung di dalam al-Qur&#8217;an sebelum kamu keluar dari masjid ini.” Abu Sa&#8217;id berkata: Kemudian beliau menggandeng tanganku -seraya berjalan-, lalu ketika beliau hampir keluar dari masjid kukatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi anda mengatakan: Sungguh akan kuajarkan kepadamu sebuah surat yang paling agung di dalam al-Qur&#8217;an.” Maka beliau menjawab, “Benar, itulah surat Alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin (surat al-Fatihah), itulah as-Sab&#8217;u al-Matsani dan al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim yang dianugerahkan kepadaku.” (HR. Ahmad [17884] Syaikh Syu&#8217;aib al-Arna&#8217;uth menyatakan sanad hadits ini shahih sesuai dengan kriteria/syarat Imam Bukhari [Musnad Ahmad, 4/211 cet. Mu'assasah Qurthubah. Asy-Syamilah], pent) (Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [1/18] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p>Syaikh Abdul Muhsin al-&#8217;Abbad hafizhahullah ketika menjelaskan kandungan hadits ini berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وهذا يدل على عظم سورة الفاتحة، وأنها أعظم سورة في كتاب الله، ولهذا شرعت قراءتها في الصلاة، بل قراءتها في الصلاة لازمة في كل ركعة من الركعات، وهي ركن من أركان الصلاة، وتثنى في الصلوات وتعاد وتكرر</p>
<p>“Hadits ini menunjukkan betapa agungnya surat al-Fatihah, dan menunjukkan bahwa ia merupakan surat paling agung di dalam Kitabullah. Oleh sebab itulah surat ini disyari&#8217;atkan untuk dibaca di dalam sholat, bahkan hukum membacanya di dalam sholat adalah wajib di setiap raka&#8217;at, dan ia merupakan salah satu rukun sholat. Surat ini senantiasa dibaca berulang-ulang di dalam sholat&#8230;” (Syarh Sunan Abu Dawud [8/145] software Maktabah as-Syamilah)</p>
<p>Imam al-&#8217;Aini rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan kandungan hadits di atas:</p>
<p style="text-align:right;">قوله أعظم سورة أي في الثواب على قراءتها وذلك لما يجمع هذه السورة من الثناء والدعاء والسؤال</p>
<p>“Perkataan beliau &#8216;Surat yang paling agung&#8217; maknanya: yaitu paling besar pahala bacaannya, dikarenakan di dalam surat ini telah terkandung bebagai hal yang utama seperti pujian, do&#8217;a, dan permintaan.” (&#8216;Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari [27/254] software Maktabah as-Syamilah)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:</p>
<p style="text-align:right;">قال بن التين معناه أن ثوابها أعظم من غيرها</p>
<p>“Ibnu at-Tin mengatakan: Makna ungkapan itu -surat paling agung- adalah pahalanya paling besar dibandingkan pahala -membaca- surat yang lainnya.” (Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [8/158] software Maktabah as-Syamilah)</p>
<p><strong>Faedah</strong>:<br />
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan berbagai pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits yang mengisahkan dialog Abu Sa&#8217;id bin al-Mu&#8217;alla radhiyallahu&#8217;anhu dengan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di atas. Di antara pelajaran yang beliau sampaikan adalah sbb:</p>
<ol>
<li> Bolehnya bagi Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam untuk menyeru dan memanggil orang lain yang sedang mengerjakan sholat sunnah. Hal itu merupakan kekhususan bagi beliau ketika beliau masih hidup. Demikian pula diperbolehkan bagi seorang ibu untuk memanggil anaknya ketika ia sedang sholat sunnah. Hal ini memiliki landasan penguat dari hadits tentang seorang rahib yang dipanggil oleh ibunya namun dia tidak memenuhinya. Kemudian ibu tersebut mendoakan jelek bagi anaknya dan Allah pun mengabulkan doanya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Adapun bagi selain rasul dan ibu maka tidak boleh baginya memanggil siapa saja yang sedang mengerjakan sholat dan tidak wajib bagi orang yang sholat itu untuk memenuhi panggilannya ketika dia sedang sholat kecuali apabila dalam rangka menyelamatkan jiwa orang dari ancaman bahaya yang jelas-jelas akan terjadi atau dalam keadaan darurat</li>
<li> Wajibnya memenuhi panggilan Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berdasarkan ayat di atas</li>
<li> Besarnya semangat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam memberikan pelajaran kepada para sahabatnya dan dorongan beliau kepada mereka agar menanti-nantikan apa yang hendak beliau sampaikan</li>
<li> Besarnya semangat seorang sahabat untuk menimba ilmu dan keberaniannya untuk mengingatkan Nabi atas apa yang telah beliau janjikan</li>
<li> Nabi merespon baik atas peringatan yang diberikan oleh sahabatnya dan kesetiaan beliau dalam menepati janjinya (lihat Tafsir wa Bayan li A&#8217;zhami Suratin fil Qur&#8217;an hal. 4 software Maktabah asy-Syamilah)</li>
</ol>
<p>Demikian pelajaran singkat yang bisa kami sampaikan di sini, semoga Allah masih mempertemukan kita dalam kesempatan lain berikutnya. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</p>
<p>Yogyakarta, Pagi hari Sabtu 7 Syawwal 1430 H<br />
Hamba yang fakir kepada ampunan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Alamat blog: http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mutiara-tafsir-surat-al-fatihah-bagian-1.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

