Celaan Terhadap Bid’ah

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada kemaksiatan. Karena kemaksiatan masih bisa diharapkan taubat dari pelakunya, sedangkan kebid’ahan hampir tidak bisa diharapkan taubat pelakunya.”

Celaan Terhadap Bid’ah di dalam al-Qur’an

Bid’ah tercela berdasarkan al-Kitab, Sunnah dan Ijma’. Adapun di dalam al-Kitab yaitu firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Katakanlah, ‘Maukah kukabarkan kepada kalian tentang orang yang paling merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia padahal mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104).

Seperti itulah keadaan para pelaku bid’ah bersama penyimpangan mereka terhadap syari’at Allah yang telah lancang menandingi agama-Nya dan bersikap lancang terhadap Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara di saat yang sama mereka menyangka berada di atas jalan yang lurus (shirothol mustaqim)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu ada wajah-wajah yang memutih cerah dan ada wajah-wajah yang menghitam.” (QS. Ali ‘Imran: 106). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Memutih wajah-wajah pengikut sunnah dan persatuan, dan menghitam wajah-wajah pembela bid’ah dan perpecahan”

Celaan Terhadap Bid’ah di dalam as-Sunnah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang tidak ada tuntunan darinya maka itu adalah tertolak.” (Muttafaq ‘alaih) dan dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Kalian harus berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah khulafa’ ar-rasyidiin yang mendapatkan hidayah sesudahku. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham. Jauhilah perkara/ajaran yang diada-adakan. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ahlu Sunan)

Celaan Ulama Salaf Terhadap Bid’ah

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jauhilah para pengagung akal karena sebenarnya para pengagung akal adalah musuh pembela Sunnah. Mereka tidak sanggup menghafalkan hadits-hadits sehingga mereka nekad berbicara dengan akal belaka. Mereka itu sesat dan menyesatkan.”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Jauhilah kebid’ahan yang diciptakan oleh orang, karena agama tidaklah hilang dari hati secara sekaligus. Akan tetapi syaithan menciptakan berbagai kebid’ahan baginya, sampai akhirnya iman itu akan keluar dari dalam hati.”

Beliau radhiyallahu ‘anhu juga berkata: “Ikutilah tuntunan dan jangan kalian membuat kebid’ahan sebab kalian sudah dicukupkan.” Ayyub As-Sikhtiyani mengatakan: “Tidaklah pelaku bid’ah menambah kesungguhan (dalam bid’ah -pent) kecuali pasti akan semakin menjauhkan dirinya dari Allah.”

Syuraih al-Qadhi rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya as-Sunnah telah mendahului qiyas kalian. Maka ikutilah tuntunan dan jangan membuat kebid’ahan; karena sesungguhnya kalian tidak akan sesat selama tetap berpegang teguh dengan atsar.”

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada kemaksiatan. Karena kemaksiatan masih bisa diharapkan taubat dari pelakunya, sedangkan kebid’ahan hampir tidak bisa diharapkan taubat pelakunya.”

Sumber: ‘Isyruna ‘Uqbatan fi Thariq al-Muslim Yajibul al-Hadzru min Haa

This entry was posted in Pemurnian Ajaran and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *