<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dakwah Tauhid</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>&#34;Katakanlah: &#039;Inilah jalanku. Aku mengajak -manusia- menuju Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah dan sama sekali aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.&#34; (QS. Yusuf: 108)</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Feb 2010 22:43:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Saudaraku, Kemanakah Engkau Yang Dahulu?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 22:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1446</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -hafizhahullah- *
[ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ]
Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam
Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah subhaanahu wa ta’ala menunjuki seorang hamba untuk dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -<em>hafizhahullah</em>- *</p>
<p><strong><em>[ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ]</em></strong></p>
<p><em>Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam</em></p>
<p>Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah <em>subhaanahu wa ta’ala</em> menunjuki seorang hamba untuk dapat mengenal Islam.<span id="more-116"> </span> Allah <em>ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (آل عمران )</strong></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman, tatkala (Allah) mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari golongan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka (dari kesyirikan, kebid’ahan, dan akhlak buruk lainnya [</em>Lihat <em>Taisir Karimirrahman]), dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah, meskipun sebelumnya, mereka dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran : 164)</em></p>
<p><em><span id="more-1446"></span></em></p>
<p>Bahkan nikmat hidayah Islam merupakan nikmat terbesar yang diterima seorang manusia dari Allah. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu </em>mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong> فالمهتدي هو العامل بالحق المريد له وهي اعظم نعمة لله على العبد</strong></p>
<p>“<em>Orang yang mendapatkan hidayah adalah orang yang beramal dengan kebenaran, dia menginginkan hidayah tersebut ada pada dirinya, dan <strong>ini</strong> <strong>merupakan anugerah Allah yang paling besar kepada seorang hamba</strong>.”(</em> <em>Miftah Dar As Sa’adah, Asy Syamilah)</em></p>
<p>Hidayah Islam akan membimbing hamba mengetahui kedudukan dirinya di hadapan Allah <em>ta’ala</em>. Hidayah Islam akan memahamkan hamba akan hakikat keberadaan dirinya di dunia. Hidayah Islam akan membawa hamba untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Rabbul ‘Alamin dan menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Sungguh… beruntunglah orang-orang yang berjalan di atas bumi ini, dengan bimbingan dan naungan hidayah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p><strong>[ Allah Perintahkan Manusia Meminta Hidayah ]</strong></p>
<p>Di setiap rakaat dalam sholat-sholat kita, bukankah Allah perintahkan kepada kita untuk membaca surat Al Fatihah??? Bukankah dalam salah satu ayat, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p><em>“(Ya Allah), berikanlah kepada kami hidayah menuju jalan yang lurus” (Al Fatihah : 6)</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun adalah orang yang senantiasa berdoa kepada Allah <em>ta’ala </em>memohong hidayah. Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca doa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى</strong></p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya <strong>aku meminta kepada-Mu hidayah</strong>, ketaqwaan, penjagaan diri, dan hati yang merasa cukup”(HR. Muslim, no. 2721)</em></p>
<p>Lihatlah bagaimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya meminta hidayah. Dan beliau adalah beliau, yang telah diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, dijamin oleh Allah <em>ta’ala</em> dengan jaminan surga. Lantas kita… ??? Di manakah kita dibandingkan dengan Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[ Akhi…Hargailah Nikmat yang Agung Ini ]</strong></p>
<p>Tatkala Allah <em>ta’ala </em>melunakkan hati seorang hamba untuk dapat menerima <em>al haq</em>, yang ketika itu mayoritas manusia menolaknya, maka sungguh…inilah anugerah terbesar dari Allah kepada hamba. Tidaklah kenikmatan ini didapatkan oleh semua manusia, Allah (dengan segala hikmah dan pengetahuan-Nya) hanyalah menunjuki hamba tertentu saja diantara hamba-hamba-Nya. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ</strong></p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Allah menyesatkan orang-orang yang Dia kehendaki dan Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki” (Fathir : </em></p>
<p>Namun terkadang banyak manusia lalai akan nikmat yang agung ini, lalai dan menyia-nyiakannya. Benih-benih hidayah yang dahulu pernah tumbuh dalam hatinya, benih hidayah yang dahulu seseorang bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah karenanya, merasakan manisnya hidup di atas sunnah… Ada sebagian manusia menelantarkan kenikmatan ini, seakan-akan mereka adalah orang yang belum pernah mengenal hidayah, kembali menjadi <em>awwam</em>.</p>
<p>Sungguh sangat dikhawatirkan apa yang menimpa kaum Yahudi, menimpa pula kepada mereka. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ</strong></p>
<p><em>“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah akan memalingkan hati mereka (dari kebenaran). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (As Shof : 5) </em></p>
<p>Saudaraku… Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun tidak mau mengikutinya. Merekalah orang yang dimurkai oleh Allah <em>‘azza wa jalla.</em></p>
<p>Syaikh As Sa’diy <em>rahimahullahu </em>mengatakan, <em>“Salah satu puncak kelancangan dan kesesatan adalah tatkala seorang manusia mengetahui kebenaran, lantas meninggalkannya. Mereka berpaling dari kebenaran dengan maksud dan keinginan mereka. Maka Allah ta’ala akan semakin memalingkan hati mereka dari kebenaran, sebagai hukuman bagi mereka, atas kesesatan yang mereka pilih. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka, karena mereka tidaklah pantas untuk menerima kebaikan, tidak pantas bagi mereka melainkan kebinasaan. </em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Beliau melanjutkan, <em>“Ayat ini, yaitu As Shof ayat 5, menunjukkan bahwa ketika Allah ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik, bukanlah berarti Allah dzolim kepada mereka. Tetapi, semua ini hanyalah disebabkan karena perbuatan mereka. Mereka sendirilah lah yang menutup pintu-pintu hidayah, setelah mereka mengilmuinya.”</em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Allah ta’ala telah berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ</strong></p>
<p><em> “Kami palingkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana pada awalnya mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran), dan Kami biarkan mereka bimbang dalam kesesatan” (Al An’am : 110)</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> [Akhi…Kemanakah Engkau yang Dahulu…???]</strong></p>
<p>Kita saksikan realita dengan mata kita, sebagaian saudara-saudara kita yang dahulu bersama kita mempelajari sunnah, yang dahulu sangat semangat mengamalkan sunnah, menggebu-gebu mendakwahkan sunnah, saat ini hanyut tertelan gelombang <em>fitnah</em>.</p>
<p>Jenggot yang dahulu menjadi kebanggaan, sekarang tinggallah menjadi kenangan. Pakaian syar’i yang dahulu engkau kenakan, celanamu yang dahulu di atas mata kaki, seiring berlalunya zaman, semakin memanjang, hingga menyapu jalanan.</p>
<p>Lupakah engkau, wahai saudaraku… bahwa kita dahulu pernah berlomba-lomba memenuhi seruan adzan? Lupakah engkau… bahwa kita dahulu sangat semangat menghadiri kajian-kajian? Bukankah engkau dahulu terhadap teman-teman perempuan selalu menjaga pandangan?</p>
<p>Saudariku, kemana jilbabmu yang engkau kenakan? Jilbabmu yang dahulu engkau banggakan, jilbab yang menutup sempurna, kini semakin mengecil, lantas menghilang. <strong>Saudaraku, kemanakah dirimu yang dahulu…?</strong></p>
<p>Sungguh, kita saksikan saat ini, betapa ganasnya fitnah yang melanda orang-orang yang beriman. Fitnah yang menyerang kaum muslimin.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا</strong></p>
<p><em>“Bersegeralah dalam beramal ketika datangnya fitnah, fitnah yang bagaikan potongan gelapnya malam, seorang yang beriman di pagi hari, menjadi kafir di sore hari atau seorang yang beriman di sore hari, menjadi kafir di pagi harinya, dia menukar agamanya dengan sebagian dari perhiasan dunia.”(HR. Muslim, no 328)</em></p>
<p>Tidaklah selamat dari fitnah ini melainkan dia yang ditunjuki oleh Allah untuk tegar menapak jalan kebenaran. <em>Fitnah</em> <em>syubhat</em> dan <em>fitnah</em> <em>syahwat</em>. Hanyalah kepada Allah, seorang hamba memohon hidayah. Allahu musta’an.</p>
<p>Allah <em>subhaanahu wa ta’ala </em>adalah Dzat yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Orang yang dahulu sangat semangat menyerukan sunnah, saat ini telah berubah menjadi seorang yang membenci sunnah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdoa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>“يا مقلب القلوب ! ثبت قلبي على دينك” . فقيل له في ذلك .فقال : إنه ليس آدمي إلا و قلبه بين إصبعين من أصابع الله ، فمن شاء أقام و من شاء أزاغ</strong><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Ya Allah, Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu”, kemudian ada yang bertanya tentang doa tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah anak Adam melainkan hatinya berada diantara dua jari dari jemari-jemari Allah. Siapa yang dikehendaki, Allah akan luruskan dia, dan siapa yang dikehendaki, Allah akan simpangkan dia.”(HR. Tirmidzi no. 3517, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini : Sanadnya Shahih)</em></p>
<p><em>Saudaraku…</em></p>
<p><em>Ini adalah sebatas nasehat … </em></p>
<p><em>Bagi kami…sebagai motivator supaya tegar berjalan melawan fitnah syubhat dan syahwat… </em></p>
<p><em>Bagi saudara-saudara kami… sebagai pengingat agar tetap istiqomah, hingga berjumpa Allah kelak di akhirat…</em></p>
<p><em>Terkhusus bagi saudara-saudara lama kami… yang dahulu kita pernah bersama…</em></p>
<p><em>Ini sebatas nasehat…</em></p>
<p><em>Karena agama tidaklah tegak melainkan dengan nasehat….</em></p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ad Dinnu An Nashihat”</em></p>
<p><em>Washolallahu ‘ala Nabiyina Muhammad…</em></p>
<p><em>***</em></p>
<p><em>Al Faqir ‘ila Maghfirati Rabbihi ‘Azza wa Jalla</em></p>
<p><a href="http://hanifnurfauzi.wordpress.com/" target="_blank"><em>Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi</em></a></p>
<p><em>______________________________________</em></p>
<p><em>Wisma Darus Shalihin, 16 Shafar 1431 H</em></p>
<p><em>*</em>Penulis adalah salah seorang mahasiswa UGM (Teknik Kimia) yang sekarang ini banyak berkecimpung dalam kegiatan keislaman, di antara aktivitasnya adalah: menjadi mudir/direktur Ma&#8217;had Bahasa Arab Umar bin Khattab yang dibina oleh <a href="http://ypia.or.id" target="_blank">Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</a>. Semoga Allah menjaga kami dan beliau dan memberikan keistiqomahan kepada kami dan beliau.   <em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keagungan Sabar</title>
		<link>http://abumushlih.com/keagungan-sabar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/keagungan-sabar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 00:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1443</guid>
		<description><![CDATA[Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Ibnu ‘Atha’ rahimahullah berkata, “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibrahim al-Khawwash <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” </em>(<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Ibnu ‘Atha’ <em>rahimahullah</em> berkata,<em> “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan kesabaran.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7])</p>
<p><span id="more-1443"></span>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan, <em>“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), ‘Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka’. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari’at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. …”</em> (<em>I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid</em> [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Macam-Macam Sabar</strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan…”</em> (<em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 279)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.”</em> Beliau juga mengatakan, <em>“Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan. Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama: [1] membenarkan berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] menjauhi larangan-larangan keduanya…”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 105-106)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar merupakan akhlak para rasul</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelummu maka mereka pun bersabar menghadapi tindakan pendustaan tersebut, dan mereka pun disakiti sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.”</em> (QS. al-An’am: 34)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan kebahagiaan hidup</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.”</em> (QS. al-’Ashr: 1-3)</p>
<p>Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran.”</em> (HR. Bukhari secara <em>mu’allaq</em> dengan nada tegas, dimaushulkan oleh Ahmad dalam <em>az-Zuhd</em> dengan sanad sahih, lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/342] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Sabar </strong><strong>penopang</strong><strong> </strong><strong>ke</strong><strong>iman</strong><strong>an</strong></p>
<p>Dari Shuhaib <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” </em>(HR. Muslim [2999] lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [9/241])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar adalah separuh keimanan.”</em> (HR. Abu Nu’aim dalam <em>al-Hilyah</em> dan al-Baihaqi dalam <em>az-Zuhd</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/62] dan [11/342]). Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>nya [31079] dan al-Baihaqi dalam <em>Syu’ab al-Iman</em> [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam <em>Dha’if al-Jami’</em> [3535], lihat <em>Shahih wa Dha’if al-Jami’ as-Shaghir</em> [17/121] software Maktabah asy-Syamilah).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar penepis fitnah</strong></p>
<p>Dari Abu Malik al-Asy’ari <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“…Dan sabar itu adalah cahaya -yang panas-…”</em> (HR. Muslim [223], lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [3/6] cet. Dar Ibn al-Haitsam tahun 2003). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“… Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan bersabar. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan bekal sabar dan keyakinan itulah akan bisa dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat…”</em> (dikutip dari <em>adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir</em> yang disusun oleh Syaikh Ali ash-Shalihi [5/134], lihat juga <em>Ighatsat al-Lahfan</em> hal. 669)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan hidayah bagi hati</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.”</em> (QS. at-Taghabun: 11)</p>
<p>Ibnu Katsir menukil keterangan al-A’masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata, <em>“Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘<strong>Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya</strong>.”</em> Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, <em>“Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”</em> (<em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p><strong>Hikmah dibalik musibah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.”</em> (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat <em>as-Shahihah</em> [1220])</p>
<p>Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberitakan bahwa ada kalanya Allah <em>ta’ala</em> memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah menahan dari memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi dalam <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid</em>, hal. 275)</p>
<p>Setelah kita mengetahui betapa indahnya sabar, maka sekarang pertanyaannya adalah: sudahkah kita mewujudkan nilai-nilai kesabaran ini dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menjadikan sabar sebagai pilar kebahagiaan kita? Sudahkah sabar mewarnai hati, lisan, dan gerak-gerik anggota badan kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/keagungan-sabar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Dakwah Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/keutamaan-dakwah-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/keutamaan-dakwah-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 16:29:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1441</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas -hafizhahullah-
Para da’i harus memulai dakwahnya dengan mengajak kepada tauhid karena itu adalah dakwah paling utama dan paling mulia. Dakwah tauhid berarti mengajak kepada derajat keimanan yang paling tinggi. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
<strong>Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</strong> -<em>hafizhahullah-</em></p>
<p>Para da’i harus memulai dakwahnya dengan mengajak kepada tauhid karena itu adalah dakwah paling utama dan paling mulia. Dakwah tauhid berarti mengajak kepada derajat keimanan yang paling tinggi. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang, cabang yang paling tinggi adalah perkataan: ‘Laa ilaaha illallaah’, yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan dan malu adalah salah satu cabang Iman.” [1]</p>
<p><span id="more-1441"></span> Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwasanya cabang-cabang keimanan lainnya tidak akan sah dan tidak diterima kecuali setelah sahnya cabang yang paling utama ini (tauhid).</p>
<p>Berdasarkan apa yang disebutkan di atas, maka semua gerakan dakwah yang berdiri tegak di atas dakwaan dan simbol ishlah (perbaikan), namun tidak memfokuskan perhatian dan tidak bertolak dari upaya perbaikan tauhid, tentunya akan terjadi penyelewengan dan penyimpangan sesuai dengan kejauhannya dari pokok yang sangat penting ini. Sebagaimana perbuatan orang-orang itu telah menghabiskan usia mereka dalam memperbaiki mu’amalah antara manusia, namun mu’amalah mereka terhadap al-Khaliq (Allah) atau ‘aqidah mereka terhadap-Nya menyimpang jauh dari petunjuk Salafush Shalih. Sama halnya dengan mereka yang telah menghabiskan umurnya dalam upaya menempati dan menduduki sistem pemerintahan dengan harapan akan mampu mengadakan perbaikan pada manusia melalui jalur tersebut atau dengan mengerjakan berbagai kegiatan politik untuk mengejar dan meraih kekuasaan, namun demikian mereka tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki kerusakan ‘aqidah mereka dan kerusakan ‘aqidah orang-orang yang menjadi objek dakwah mereka.</p>
<p>Peran ‘aqidah dalam kehidupan amat penting, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menekankan kepada para da’i agar senantiasa mencurahkan perhatian mereka kepadanya dan mengawali dakwah mereka dengannya seperti yang tercantum dalam hadits Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu</p>
<p>Ada sebagian orang merasa heran dan aneh dengan diprioritaskannya dakwah kepada tauhid? (Kami jawab): “Bukankah hak Allah berupa pengesaan di dalam beribadah adalah sesuatu yang paling berhak mendapatkan perhatian dan paling berhak untuk sering diucapkan oleh lisan manusia? Tauhid adalah hak Allah Azza wa Jalla yang murni, bagaimana mungkin dianggap sebagai masalah kecil dan remeh oleh para pelopor gerakan-gerakan dan manhaj-manhaj dakwah di zaman ini? Bukankah hal inilah yang paling utama untuk dibukakan baginya pintu-pintu dan dilapangkan baginya tempat-tempat dan kesempatan?”</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menuturkan: “Tauhid adalah kunci pembuka dakwah para Rasul.” Kemudian beliau menyebutkan tentang hadits Mu’adz yang telah disebut sebelum-nya. [2]</p>
<p>Walaupun kondisi dan problematika ummat berbeda-beda namun tetap yang menjadi prioritas dalam dakwah adalah mengajak kepada tauhid. Sama saja halnya, apakah problem mereka di bidang perekonomian sebagaimana yang dihadapi oleh kaum Mad-yan, ataupun problem demoralisasi (kebobrokan moral) seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth Alaihissalam. Penulis tidak perlu menyebutkan: “Atau problem yang dihadapi mereka adalah krisis politik,” karena semua ummat dan bangsa yang tersebut pada ayat-ayat di atas belum diberlakukan pada mereka hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala</p>
<p>Cahaya dakwah tauhid yang diberkahi ini sekali-kali tidak boleh padam sesaat pun hanya dengan berdalih kestabilan dan kemantapan tauhid pada hati-hati manusia.</p>
<p>Meskipun kesadaran dan sambutan ummat terhadap tauhid telah mencapai kesempurnaan, namun demikian pasti terdapat kekurangan pada diri manusia. Kekurangan yang paling jelek adalah kekurangan dalam keikhlasan dan lenyapnya keyakinan tauhid. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tinggal diam, beliau senantiasa menyebut kejelekan perbuatan syirik, hingga pada hari-hari terakhir kehidupan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia ini. Padahal kondisi ummat pada saat itu telah mencapai puncak kekuatannya dalam bertauhid kepada Rabb-nya dan mereka berada pada satu barisan. [3]</p>
<p>Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi&#8217;i, PO BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]<br />
_________<br />
Footnotes<br />
[1]. Lihat Madaarijus Saalikiin (III/462), cet. Daarul Hadits.<br />
[2]. Disadur secara ringkas dari Sittu Durar min Ushuul Ahlil Atsar (hal. 16-20, 22, 23) oleh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani, cet. Maktabah al-‘Umarain al-‘Ilmiyyah, th. 1420 H, at-Tauhiid Awwalan yaa Du’aatal Islam oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. II-Maktabah al-Ma’arif-th. 1422 H, al-‘Aqiidah Awwalan lau Kaanu Ya’lamuun oleh Dr. ‘Abdul Aziz al-Qaari’, cet. II-th. 1406 H, Manhajul Anbiyaa’ fid Da’wah ilallaah fiihil Hikmah wal ‘Aql oleh Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali.<br />
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 9) dan Muslim (no. 35). Lafazh ini milik Muslim dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu</p>
<p>Disalin dari : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2474/slash/0" target="_blank">almanhaj.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/keutamaan-dakwah-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Web Maktabah Syaikh Muqbil -rahimahullah-</title>
		<link>http://abumushlih.com/web-maktabah-syaikh-muqbil-rahimahullah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/web-maktabah-syaikh-muqbil-rahimahullah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 13:51:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Muqbil]]></category>
		<category><![CDATA[Yaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1437</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, berikut ini adalah alamat situs yang menyajikan pelajaran-pelajaran berharga dari salah seorang ulama da&#8217;wah salafiyah dari Yaman, yaitu Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi&#8217;i -rahimahullah-. Di dalamnya banyak terdapat faedah yang disajikan dalam bentuk tulisan maupun rekaman. Silahkan mengunjunginya, semoga bermanfaat.
http://www.muqbl.com/
NB: Kami ucapkan jazahullahu khairan kepada al-Akh Abu Shilah yang telah menyebarkan kabar gembira ini.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah, berikut ini adalah alamat situs yang menyajikan pelajaran-pelajaran berharga dari salah seorang ulama da&#8217;wah salafiyah dari Yaman, yaitu <strong>Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi&#8217;i</strong> -<em>rahimahullah</em>-. Di dalamnya banyak terdapat faedah yang disajikan dalam bentuk tulisan maupun rekaman. Silahkan mengunjunginya, semoga bermanfaat.</p>
<p><a href="http://www.muqbl.com/" target="_blank">http://www.muqbl.com/</a></p>
<p>NB: Kami ucapkan <em>jazahullahu khairan</em> kepada <a href="http://tholib.wordpress.com/" target="_blank">al-Akh Abu Shilah</a> yang telah menyebarkan kabar gembira ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/web-maktabah-syaikh-muqbil-rahimahullah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku [Sangat] Membutuhkan-Mu</title>
		<link>http://abumushlih.com/aku-sangat-membutuhkan-mu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/aku-sangat-membutuhkan-mu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 07:32:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hawa Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1435</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji untuk Allah, Yang menciptakan manusia dan tidak membutuhkan mereka, Yang menciptakan mereka agar mau tunduk dan mengagungkan-Nya, Yang segala manfaat dan madharat ada di tangan-Nya. Semoga pujian dan keselamatan terlimpah kepada Nabi pilihan, sang kekasih ar-Rahman, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Amma ba’du.
Saudaraku, menjalani kehidupan di alam dunia adalah sebuah cobaan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji untuk Allah, Yang menciptakan manusia dan tidak membutuhkan mereka, Yang menciptakan mereka agar mau tunduk dan mengagungkan-Nya, Yang segala manfaat dan madharat ada di tangan-Nya. Semoga pujian dan keselamatan terlimpah kepada Nabi pilihan, sang kekasih ar-Rahman, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Amma ba’du.</p>
<p><span id="more-1435"></span>Saudaraku, menjalani kehidupan di alam dunia adalah sebuah cobaan dari Rabbul ‘alamin. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2). Untuk itulah, sebaik-baik insan adalah yang senantiasa menghadirkan perasaan bahwa Rabbnya sedang mengujinya, dengan apapun yang sedang dialaminya; kesenangan, musibah, ataupun terjerembab dalam dosa.</p>
<p>Apakah dia bisa menjadi seorang hamba yang merendahkan diri dan mengagungkan Rabbnya dengan penuh rasa cinta kepada-Nya, yaitu dengan mempersembahkan ibadahnya hanya untuk Dia semata. Sebagaimana ayat yang selalu kita baca setiap harinya, di setiap raka’at sholat yang kita lakukan. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. ‘Hanya kepada-Mu –ya Allah- kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.’ Dari situlah, maka segala bentuk kejadian yang menimpanya semestinya dapat menjadi sarana untuk menggapai ridha dan cinta-Nya.</p>
<p>Tatkala kenikmatan menyapa, maka segenap rasa syukur pun dia panjatkan kepada-Nya. Tatkala musibah melanda dan menyayat hati, maka ridha dengan takdir dan bersabar menerima kenyataan adalah ibadah yang akan menghiasi hati, lisan, dan anggota badannya. Demikian pula, ketika hawa nafsu dan bujukan syaitan memperdaya dirinya sehingga dia pun menerjang larangan atau melalaikan kewajibannya, maka kesejukan taubat dan air mata penyesalan akan menghampiri jiwanya.</p>
<p>Saudaraku, berapa banyak kenikmatan yang telah dicurahkan Rabbul ‘alamin kepada kita? Entah berapa banyak, tak ada seorang profesor pun yang yang bisa menjawabnya.  Namun, lihatlah keadaan dan tingkah laku kita&#8230; Betapa sedikit rasa syukur kita kepada-Nya, dan betapa banyak kemaksiatan yang kita lakukan kepada-Nya. Orang bilang, ‘air susu dibalas air tuba’. Alangkah buruknya, akhlak kita kepada-Nya&#8230; Kita mengaku muslim (orang yang pasrah), namun betapa sering kita membantah aturan dan kebijaksanaan-Nya. Kita mengaku beriman, namun betapa sering perintah dan larangan-Nya kita ingkari serta berita-Nya yang kita abaikan. Aduhai, apakah kita merasa mampu membahayakan Rabb yang menguasai jagad raya, dengan kedurhakaan kita kepada-Nya? Demi Allah, hal itu tidaklah bisa membahayakan-Nya! Kamu ini hidup untuk apa?!</p>
<p>Allah berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)</p>
<p>Saudaraku, banyak orang mengira dengan maksiat mereka akan meraih bahagia. Padahal, sebaliknya. Kebahagiaan sejati tak pernah bisa diraih dengan kedurhakaan kepada-Nya. Seorang profesor yang mulia Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah beberapa waktu lalu –dalam ceramahnya di Masjid Istiqlal Jakarta- menyampaikan nasehat yang sangat indah untuk kaum muslimin di Indonesia. Beliau berkata, ‘as-Sa’aadah biyadillah, wa laa tunaalu illa bi thaa’atillah’. Kebahagiaan itu ada di tangan Allah, dan ia tak akan diraih kecuali dengan taat kepada Allah. Sebuah kalimat yang ringkas, namun sarat akan makna! Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan atas nasehat dan arahannya untuk kita&#8230;</p>
<p>Saudaraku, demikianlah kenyataannya. Tak ada setetes pun kebahagiaan yang hakiki yang akan diperoleh seorang hamba yang lemah dan penuh dengan kekurangan kecuali dengan cara tunduk dan taat kepada Rabb yang menciptakannya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan segenap insan di alam dunia ini bahwa keberuntungan dan kebahagiaan hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar taat dan mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3). Allah juga mengingatkan (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan binasa.” (QS. Thaha: 123).</p>
<p>Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya dia telah beruntung/sukses. Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sekedar kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185). Allah ‘azza wa jalla juga menyatakan (yang artinya), “Adapun barangsiapa yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya dan menahan dirinya dari memperturutkan hawa nafsunya, maka surgalah tempat kembalinya.” (QS. an-Naazi’aat: 40-41)</p>
<p>Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Tidak ada kehidupan bagi hati, tidak juga kesenangan dan ketenangan, kecuali dengan cara mengenal Rabb, sesembahan, dan pencipta dirinya. Yaitu dengan mengenal nama-nama, sifat-sifat, serta perbuatan-perbuatan-Nya. Di samping itu semua, dia menjadikan Allah sebagai sesuatu yang lebih dicintainya di atas segala-galanya. Oleh sebab itulah, usaha yang dilakukannya –di alam dunia ini – adalah untuk melakukan perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya yang mereka itu semua adalah makhluk-Nya.” (Syarh Aqidah Thahawiyah)</p>
<p>Maka berbahagialah orang yang diberikan taufik oleh Allah untuk mengenal Islam dan mencintainya, mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti ajarannya, serta menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan tempat bergantungnya hati baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan lezatnya iman, yaitu orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, ridha Islam sebagai agama, dan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu).</p>
<p>Lezatnya keimanan, bukan diraih dengan mencicipi berbagai macam resep masakan di berbagai restoran dan rumah makan. Apalagi dengan melakukan perkara-perkara yang mengundang murka Allah yang sangat keras hukumannya. Hal ini menunjukkan kepada kita –wahai saudaraku yang mulia, semoga Allah menyelamatkan kita dari pedihnya neraka- bahwa kebahagiaan yang bersemayam di dalam dada dalam bentuk ridha kepada takdir-Nya, selalu merasa di bawah pengawasan-Nya, ingin menggapai cinta dan ridha-Nya, berharap dan takut kepada-Nya, merupakan kelezatan tiada tara yang menghiasi hati orang-orang yang mengenal keagungan Rabbnya. Kelezatan yang bisa diraih dengan taat kepada-Nya. Mereka itulah sesungguhnya orang yang benar-benar hidup di alam dunia ini, dengan cahaya iman dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.</p>
<p>Adapun orang-orang ‘tampak berbahagia’ di alam dunia yang fana ini, sementara mereka adalah para pembangkang dan pembantah aturan-Nya, maka sesungguhnya kebahagiaan mereka adalah kesenangan yang semu dan akan berakhir dengan kesengsaraan yang tiada tara. Aduhai, betapa malang orang yang menjual kebahagiaan hakiki dan abadi dengan kesenangan yang semu dan sementara!</p>
<p>Mereka tersenyum, tertawa, dan penuh keceriaan, padahal mereka bergelimang dengan dosa dan kemaksiatan kepada Rabbnya. Mereka tampakkan kepada manusia seolah-olah mereka bahagia dengan kemaksiatannya. Mereka gambarkan kepada manusia bahwa dengan meninggalkan perintah Allah dan rasul-Nya akan memberikan jalan pintas bagi siapa saja untuk meraih kepuasan dan kenikmatan yang luar biasa. Subhanallah, Maha suci Allah&#8230; alangkah buruk perbuatan mereka. Mereka rela menjual agamanya demi mendapatkan secuil kenikmatan dunia. Yang dunia itu di sisi Allah tidak lebih berharga daripada sehelai sayap nyamuk! Allahu akbar!</p>
<p>Maka ingatlah selalu wahai saudaraku –semoga Allah meneguhkan diriku dan dirimu di jalan-Nya- kehidupan kita di dunia ini akan berakhir dengan kematian dan bersambung di alam kubur dan hari kebangkitan. Akan ditanyakan kepada kita ‘siapakah sesembahanmu, apa agamamu, siapakah nabimu’. Apakah akan kita jawab nanti bahwa sesembahan kita adalah hawa nafsu, agama kita adalah kebebasan ala binatang, dan nabi kita adalah para wali-wali syaitan? Ya Allah, lindungilah kami dari pedihnya hukuman-Mu&#8230;</p>
<p>Lantas, pada saat ini ketika kaki kita masih menginjakkan bumi yang Allah ciptakan, paru-paru kita masih menghirup udara yang Allah ciptakan, tenggorokan kita masih terbasahi dengan air yang Allah alirkan, kulit kita masih merasakan hangatnya sinar matahari yang Allah ciptakan, mata kita masih bisa memandang berkat adanya cahaya yang Allah ciptakan, jantung kita pun masih berdegup mengalirkan darah yang Allah ciptakan, lidah kita masih bisa bergerak dan melontarkan kata-kata yang semuanya pasti Allah dengarkan, maka adakah di antara kita yang membusungkan dadanya di hadapan manusia dan berkata, “Ya Allah, aku tidak membutuhkan-Mu selama-lamanya!”?</p>
<p>Tentu saja, tidak ada orang sebodoh itu yang mampu melakukannya. Namun, kenyataannya tingkah laku dan perbuatan kita menunjukkan betapa cueknya kita terhadap aturan dan bimbingan-Nya. Seolah-olah tidak ada gunanya Allah mengutus rasul-Nya, tidak ada gunanya Allah turunkan kitab-Nya, dan tidak ada gunanya Allah ciptakan surga dan neraka&#8230; Karena kita telah disibukkan dan tenggelam dalam kedurhakaan kepada-Nya&#8230;. Dan kita jadikan umur kita habis untuknya, cinta dan benci bukan karena-Nya, memberi dan tidak bukan karena-Nya, diam dan bergerak juga bukan karena-Nya. Bahkan, yang lebih jelek lagi&#8230; kita telah memandang keburukan dan dosa kita sebagai kebaikan dan jasa, na’udzu billahi min dzaalik. Afaman zuyyina lahu suu’u ‘amalihi fa ra’aahu hasana..</p>
<p>Maka ketahuilah saudaraku, bahwa kita –tanpa terkecuali- sangat membutuhkan-Nya, di mana saja dan kapan saja kita berada. Karena sesungguhnya langit dan bumi serta segala sesuatu yang di dalamnya adalah berada di bawah kekuasaan dan aturan-Nya. Apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apapun yang tidak Allah kehendaki tidak akan pernah terjadi. Karenanya taufik adalah di tangan-Nya, bukan di tangan kita&#8230; maka mintalah kepada-Nya semoga Allah mencurahkan taufik dan bimbingan-Nya kepada kita dan tidak menelantarkan kita dalam kebingungan dan dibiarkan hidup tanpa bantuan dari-Nya. Apakah engkau wahai raja, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai orang kaya, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai tentara, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai orang yang rupawan dan berparas jelita merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai para da’i, merasa tidak butuh kepada-Nya?</p>
<p>Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/aku-sangat-membutuhkan-mu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits Seputar Masjid</title>
		<link>http://abumushlih.com/hadits-seputar-masjid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/hadits-seputar-masjid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 13:49:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1433</guid>
		<description><![CDATA[

Keutamaan masjid dibandingkan tempat yang lainnya
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p><strong>Keutamaan masjid dibandingkan tempat yang lainnya</strong><br />
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا</p>
<p>Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)</p>
<p><span id="more-699"> </span></p>
<p><span id="more-1433"></span><strong>Keutamaan membangun masjid ikhlas karena Allah</strong><br />
imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ عُثْمَانِ بْنَ عَفَّانَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ</p>
<p>Dari Utsman bin Affan -radhiyallahu’anhu- dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membangun masjid ikhlas karena Allah maka Allah akan membangunkan baginya yang serupa dengannya di surga.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)</p>
<p><strong>Tidak boleh membangun masjid di tanah pekuburan</strong><br />
Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكِ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>Dari ‘Aisyah -radhiyallahu’anha- bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, di dalam gereja itu terdapat gambar-gambar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu apabila di antara mereka terdapat orang yang soleh yang meninggal maka mereka pun membangun di atas kuburnya sebuah masjid/tempat ibadah dan mereka memasang di dalamnya gambar-gambar untuk mengenang orang-orang soleh tersebut. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)</p>
<p><strong>Tidak boleh menyerupai Yahudi dan Nasrani</strong><br />
Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي لَمْ يَقُمْ مِنْهُ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</p>
<p>Dari ‘Aisyah -radhiyallahu’anha- dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau sedang menderita sakit yang membuatnya tidak bisa bangun -menjelang wafat, pen-, “Allah melaknat Yahudi dan Nasrani; mereka menjadikan kubur-kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)</p>
<p><strong>Larangan menjadikan kubur orang soleh sebagai tempat ibadah</strong><br />
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ جُنْدَبِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ</p>
<p>Dari Jundab -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum beliau meninggal, “Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku tidak akan menjadikan seorang pun dari kalian sebagai kekasihku, karena sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Kalau seandainya ku diijinkan untuk mengangkat seorang kekasih dari kalangan umatku, maka niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian biasa menjadikan kubur para nabi dan orang-orang soleh di antara mereka sebagai tempat ibadah, sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal semacam itu.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)</p>
<p><strong>Menjaga kebersihan masjid dari kotoran</strong><br />
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا</p>
<p>Dari Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu- dia berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Berludah di masjid adalah kesalahan dan peleburnya adalah dengan menguburkannya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)</p>
<p><strong>Boleh membawa anak kecil ke masjid</strong><br />
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ النَّاسَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ وَهِيَ ابْنَةُ زَيْنَبَ بِنْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَاتِقِهِ فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا وَإِذَا رَفَعَ مِنْ السُّجُودِ أَعَادَهَا</p>
<p>Dari Abu Qatadah al-Anshari -radhiyallahu’anhu- dia berkata; Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami para sahabat sedangkan Umamah binti Abi al-’Ash -yaitu anak perempuan Zainab putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berada di atas bahunya. Apabila beliau ruku’ maka beliau meletakkannya dan apabila bangkit dari sujud maka beliau mengembalikannya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)</p>
<p><strong>Tidak mengganggu jama’ah yang lain dengan bau yang tak sedap</strong> (rokok dsb)<br />
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسَاجِدَنَا حَتَّى يَذْهَبَ رِيحُهَا يَعْنِي الثُّومَ</p>
<p>Dari Ibnu Umar -radhiyallahu’anhuma- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakan sayuran seperti ini maka janganlah dia mendekat ke masjid-masjid kami sampai baunya telah hilang.” Maksudnya adalah bawang (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/hadits-seputar-masjid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan Emas Berinfak!</title>
		<link>http://abumushlih.com/kesempatan-emas-berinfak.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kesempatan-emas-berinfak.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 12:14:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Infak]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Pembangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Pogung Dalangan]]></category>
		<category><![CDATA[Proyek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1431</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita haturkan hanya kepada Allah Ta’ala, serta sholawat dan salam tercurah pada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarga, shahabat dan pengikutnya yang teguh menjalankan sunnah beliau sampai akhir zaman.
Sehubungan dengan akan diadakannya renovasi total Masjid Pogung Dalangan (MPD), panitia mengajukan permohonan bantuan dana kepada Bapak/Ibu para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.</p>
<p>Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita haturkan hanya kepada Allah Ta’ala, serta sholawat dan salam tercurah pada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarga, shahabat dan pengikutnya yang teguh menjalankan sunnah beliau sampai akhir zaman.</p>
<p>Sehubungan dengan akan diadakannya renovasi total Masjid Pogung Dalangan (MPD), panitia mengajukan permohonan bantuan dana kepada Bapak/Ibu para dermawan. Kami informasikan bahwa berdasarkan perhitungan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) Program Renovasi Total MPD diperkirakan menghabiskan biaya pembangunan (murni) sebesar <strong>Rp 977.758.200 untuk luas 2 bangunan 481m (2 lantai).</strong></p>
<p><span id="more-1431"></span>Proposal renovasi total Masjid Pogung Dalangan (MPD) dan Surat Kesanggupan Infak terlampir.</p>
<p>Besar harapan kami kepada Alloh Ta’ala kemudian kepada para dermawan atas bantuan dananya guna kelancaran pembangunan di atas. Semoga Alloh Ta’ala membukakan pintu hati para dermawan sehingga dimudahkan dalam menyisihkan sebagian hartanya untuk diinfakkan pada kegiatan Renovasi Total MPD.</p>
<p>Bantuan dapat disalurkan ke rekening Panitia Renovasi Total MPD lewat :</p>
<p><strong>Bank Muamalat Indonesia Kantor Kas UGM Yogyakarta,<br />
No. Rek : 922 335 8824 a.n Sumartono S.Apt a/o Kabir<br />
</strong><br />
Demikian permohonan ini kami ajukan. Semoga infak yang bapak/ibu berikan, mudah–mudahan menjadi amal yang diterima Allah Ta’ala.</p>
<p>Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</p>
<p>Disebarkan dengan ijin dari Bpk. H. Kabir (Takmir MPD)</p>
<p>Bagi ikhwan/akhwat yang ingin membantu silakan menyalurkan donasi ke rekening sebagaimana dicantumkan di atas dan silakan menyampaikan konfirmasi kepada:</p>
<p>Didik Suyadi (takmir mahasiswa) di nomor 0858 6869 1101.</p>
<p>Download</p>
<p>Proposal:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;6d4e978f02d7ade11af708bfde023ade&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.archive.org/download/renovasimasjidpogungdalangan/ProposalRenovasiMpd.pdf" target="_blank">http://www.archive.org/download/renovasimasjidpogungdalangan/ProposalRenovasiMpd.pdf</a></p>
<p>Foto lama MPD<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;6d4e978f02d7ade11af708bfde023ade&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.archive.org/download/fotolamamasjidpogungdalangan/FotoLamaMasjid.pdf" target="_blank">http://www.archive.org/download/fotolamamasjidpogungdalangan/FotoLamaMasjid.pdf</a></p>
<p>Surat Pengantar<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;6d4e978f02d7ade11af708bfde023ade&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.archive.org/download/SuratPengantar/SuratPengantarPembangunanMpd.pdf" target="_blank">http://www.archive.org/download/SuratPengantar/SuratPengantarPembangunanMpd.pdf</a></p>
<p>Silahkan disebarluaskan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kesempatan-emas-berinfak.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Yang Terlupakan</title>
		<link>http://abumushlih.com/dakwah-yang-terlupakan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dakwah-yang-terlupakan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 05:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1428</guid>
		<description><![CDATA[ 
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata,
“Dakwah kepada tauhid merupakan warisan para nabi dan rasul. Akan tetapi dakwah ini, barangsiapa yang tidak hidup di atasnya dan tidak mendalaminya niscaya dia tidak akan memahami bagaimana cara mengajak kepada tauhid. Bahkan, terkadang ada saja orang yang menyangka bahwa hal itu -dakwah tauhid- tidak dibutuhkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh <em>hafizhahullah</em> berkata,</p>
<p>“Dakwah kepada tauhid merupakan warisan para nabi dan rasul. Akan tetapi dakwah ini, <strong>barangsiapa yang tidak hidup di atasnya dan tidak mendalaminya niscaya dia tidak akan memahami bagaimana cara mengajak kepada tauhid</strong>. Bahkan, terkadang ada saja orang yang menyangka bahwa hal itu -dakwah tauhid- tidak dibutuhkan lagi. Padahal, penghambaan makhluk kepada Allah <em>jalla wa ‘ala</em> -yang hal itu merupakan tujuan keberadaan makhluk- hanya akan bisa terwujud apabila mereka diseru untuk mengabdi kepada Allah <em>jalla wa ‘ala</em> dengan mentauhidkan-Nya, dengan memahaminya, mengetahui ilmunya serta berusaha untuk menerapkannya. Apabila anda membimbing manusia untuk mentauhidkan Allah dalam hal ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan mereka serta dalam apa saja yang diyakini oleh hati mereka, maka keyakinan dan tauhid itulah yang akan membangkitkan amal salih dan menempa jiwa yang tunduk dan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala.”</p>
<p><span id="more-1428"></span></p>
<p>“Jiwa semacam inilah yang layak untuk mendapatkan keutamaan pengampunan dosa. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, <em>‘Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai setinggi langit lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan apapun niscaya Aku akan menemuimu dengan ampunan sepenuh itu pula.’ ‘Wahai anak Adam, seandainya kamu menghadap-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan apapun niscaya Aku akan menemuimu dengan ampunan sepenuh itu pula. Wahai anak Adam, selama kamu terus berdoa dan berharap kepada-Ku niscaya Aku akan ampuni dosamu, dan Aku tidak peduli.’</em><strong> Sesungguhnya keutamaan ini hanya diperoleh oleh ahli tauhid</strong>. Adapun jiwa yang musyrik atau dipenuhi dengan keragu-raguan, jiwa yang senantiasa dalam keraguan dalam urusan tauhid, maka jiwa yang semacam itu tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan agama Islam, tidak pula keutamaan yang dijanjikan oleh Islam bagi pemeluknya ataupun keutamaan/pahala yang dijanjikan bagi ahli tauhid.”</p>
<p>“Oleh sebab itu, dalam keadaan manusia yang sangat membutuhkan dakwah tauhid ini, kami merasa heran terhadap sebagian orang yang mengatakan bahwa hal itu –dakwah tauhid- tidak diperlukan. Hal ini merupakan bentuk kelancangan mereka yang tidak memahami keagungan hak Allah <em>jalla wa ‘ala</em> serta bagaimana seharusnya mengagungkan Rabb kita <em>jalla wa ‘ala</em>. Padahal, <strong>sesungguhnya mengagungkan Allah hanyalah dengan mewujudkan tauhid dengan benar</strong>. Barangsiapa yang mewujudkan tauhid dengan benar berarti dia telah mengagungkan Allah. Dan barangsiapa yang melalaikan tauhid maka sesungguhnya dia telah melalaikan hak Allah, meskipun bekas sujud tampak di dahinya, meskipun puasa telah membuat kulitnya tampak tinggal tulang belulang, maka itu semua tidak ada harganya. Bahkan, Allah <em>jalla wa ‘ala </em>telah berfirman kepada nabi-Nya –yang artinya-, <em>‘Sungguh jika kamu berbuat syirik, niscaya seluruh amalmu akan terhapus dan kamu pasti akan termasuk orang-orang yang merugi.’</em> (QS. az-Zumar: 65).”</p>
<p>“Oleh sebab itulah kami sangat keheranan karena di sana ada banyak orang yang telah mencapai dalam hal ilmu dan dakwah seperti apa yang mereka capai –sangat luas ilmunya dan amat gigih dalam hal dakwah, pent-, akan tetapi di sisi yang lain mereka memiliki ucapan-ucapan syirik serta sikap yang menunjukkan ketidakpahaman mereka tentang hak Allah, perbuatan ekstrim/<em>ghuluw</em> yang tercela, ketergantungan hati kepada selain Allah; yang itu semua dapat kalian lihat dan kalian dengar melalui kitab-kitab dan sumber yang lainnya. Hal ini merupakan bagian dari fitnah yang semakin dahsyat yang akan terus terjadi hingga tegaknya hari kiamat nanti.”</p>
<p>(<em>Syarh Kasyfu asy-Syubuhat</em>, hal. 4)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dakwah-yang-terlupakan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Saat Fitnah Merajalela</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-saat-fitnah-merajalela.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-saat-fitnah-merajalela.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 14:44:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1426</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta’ala berfirman,
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Berhati-hatilah kalian dari suatu ‘fitnah’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah maha keras hukuman-Nya.” (QS. al-Anfaal: 25)
Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata,
يقول تعالى ذكره للمؤمنين به وبرسوله: &#8220;اتقوا&#8221;، أيها المؤمنون &#8220;فتنة&#8221;، يقول: اختبارًا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;">وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</p>
<p><em>“Berhati-hatilah kalian dari suatu ‘fitnah’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah maha keras hukuman-Nya.”</em> (QS. al-Anfaal: 25)</p>
<p><span id="more-1426"></span>Ibnu Jarir ath-Thabari <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">يقول تعالى ذكره للمؤمنين به وبرسوله: &#8220;اتقوا&#8221;، أيها المؤمنون &#8220;فتنة&#8221;، يقول: اختبارًا من الله يختبركم، وبلاء يبتليكم &#8220;لا تصيبن&#8221;، هذه الفتنة التي حذرتكموها &#8220;الذين ظلموا&#8221;، وهم الذين فعلوا ما ليس لهم فعله، إما إجْرام أصابوها، وذنوب بينهم وبين الله ركبوها. يحذرهم جل ثناؤه أن يركبوا له معصية، أو يأتوا مأثمًا يستحقون بذلك منه عقوبة</p>
<p><em>“Allah ta’ala dzikruhu menyatakan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya: Hati-hatilah kalian, wahai orang-orang yang beriman, akan suatu fitnah. Maksudnya adalah suatu cobaan dari Allah untuk menguji kalian dan datangnya musibah yang menjadi cobaan untuk kalian. Yang itu tidaklah menimpa –maksudnya adalah fitnah yang diperingatkan kepada kalian- khusus kepada orang-orang yang zalim. Yang dimaksud dengan orang zalim adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan, baik dengan bentuk melakukan kejahatan, atau dengan berbuat kemaksiatan antara diri mereka dengan Allah. Allah jalla tsana’uhu memperingatkan mereka agar tidak tenggelam dalam kedurhakaan kepada-Nya atau melakukan dosa yang membuat mereka berhak untuk mendapatkan hukuman dari-Nya.”</em> (<em>Jami’ al-Bayan</em> [13/473] asy-Syamilah)</p>
<p>al-Baghawi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">وقال ابن زيد: أراد بالفتنة افتراق الكلمة ومخالفة بعضهم بعضا</p>
<p><em>“Ibnu Zaid berkata: Yang dimaksud dengan fitnah adalah perpecah-belahan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka.”</em> (<em>Ma’alim at-Tanzil</em> [3/346] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">قال ابن أبي طلحة عن ابن عباس : في هذه الآية ، أمر الله المؤمنين أن لا يُقِرُّوا المنكر بين أظهرهم ، فيعمهم الله بالعذاب . وقال مجاهد : هذه الآية لكم أيضاً</p>
<p><em>“Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai makna ayat ini, beliau berkata: ‘Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman –semua- agar mereka tidak membiarkan kemungkaran merajalela di tengah-tengah mereka karena hal itu akan menyebabkan Allah meratakan azab kepada mereka’. Mujahid mengatakan: ‘Ayat ini juga berlaku bagi kalian.’.”</em> (<em>Zaad al-Masiir</em> [3/98] asy-Syamilah)</p>
<p>Dari Ma’qil bin Yasar <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ</p>
<p><em>“Beribadah di saat harj -berkecamuknya fitnah- laksana berhijrah kepadaku.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">الْمُرَاد بِالْهَرْجِ هُنَا الْفِتْنَة وَاخْتِلَاط أُمُور النَّاس . وَسَبَب كَثْرَة فَضْل الْعِبَادَة فِيهِ أَنَّ النَّاس يَغْفُلُونَ عَنْهَا ، وَيَشْتَغِلُونَ عَنْهَا ، وَلَا يَتَفَرَّغ لَهَا إِلَّا أَفْرَاد .</p>
<p><em>“Yang dimaksud dengan harj di sini adalah fitnah dan kesimpangsiuran urusan manusia. Sebab banyaknya keutamaan beribadah di saat itu adalah karena manusia lalai darinya dan disibukkan dengan perkara lain sehingga meninggalkannya serta tidak ada yang bersungguh-sungguh melakukannya kecuali beberapa gelintir orang saja.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [9/339] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">ووجه تمثيله بالهجرة أن الزمن الأول كان الناس يفرون فيه من دار الكفر وأهله إلى دار الإيمان وأهله فإذا وقعت الفتن تعين على المرء أن يفر بدينه من الفتنة إلى العبادة ويهجر أولئك القوم وتلك الحالة وهو أحد أقسام الهجرة</p>
<p><em>“Sisi kemiripan hal itu dengan hijrah adalah di masa yang pertama -masa Nabi- maka umat manusia dahulu meninggalkan negeri kufur dan penduduknya menuju negeri iman dan penduduknya. Maka apabila terjadi fitnah wajib di saat itu bagi setiap orang untuk pergi membawa agamanya dari gejolak fitnah menuju ketaatan beribadah serta menjauhi kelompok orang-orang yang larut dalam fitnah itu serta keadaan yang buruk itu. Sementara hal itu adalah termasuk salah satu kategori hijrah.”</em> (<em>al-Kaba’ir</em>, hal 202. Lihat juga perkataan Ibnul Arabi yang dinukil dalam <em>Faidh al-Qadir</em> [4/490] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa hakekat ibadah itu adalah, <em>“Menjalankan ketaatan kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”</em> (lihat <em>Syarh al-Jami’ li ‘Ibadatillahi Wahdah</em>, hal. 16). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> juga telah menjelaskan dengan ungkapannya yang sangat populer bahwa ibadah itu adalah <strong>‘segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir/tampak maupun yang batin/tersembunyi.’</strong> (lihat kitab beliau <em>al-‘Ubudiyah</em>). Dari sini kita mengetahui bahwa standar ibadah adalah kecintaan Allah. Semakin dicintai suatu perkara/amalan di sisi Allah maka semakin tinggi kedudukan amalan tersebut di dalam agama yang mulia ini.</p>
<p>Dari sini kita bisa memetik pelajaran –<em>wallahu a’lam</em>- bahwa di tengah berkecamuknya fitnah di antara kaum muslimin -dalam bentuk apa saja- maka yang wajib bagi mereka lakukan pertama kali adalah kembali kepada Allah dan merenungkan -berdasarkan dalil-dalil syari’at- mengenai tindakan apakah yang paling Allah cintai bagi mereka ketika fitnah itu telah melanda. Bukan dengan kembali kepada hawa nafsu dan perasaan mereka. Ingatlah, bahwa segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itulah hawa nafsu, meskipun ia dibungkus dengan ayat-ayat dan hadits-hadits!</p>
<p>Di tengah tersebarnya berita-berita tidak jelas -apalagi terkait dengan pribadi para ulama ataupun pemerintah-, maka wajib bagi para pemuda untuk menahan lisan dan jari-jari mereka agar tidak berbicara ataupun menyebarkan tulisan mengatasnamakan agama yang mulia ini kecuali dengan dalil dan berlandaskan berita yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah <em>ta’ala</em>. Ingatlah, nasehat Muhammad bin Sirin <em>rahimahullah</em> yang dinukil oleh Imam Muslim <em>rahimahullah</em> dalam mukadimah shahihnya, <em>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”</em> Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-saat-fitnah-merajalela.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Kegelapan Menuju Cahaya</title>
		<link>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 11:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1424</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta’ala berfirman,
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari cahaya menuju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: right;">اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</p>
<p><em>“Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”</em> (QS. al-Baqarah: 257)</p>
<p><span id="more-1424"></span></p>
<p>al-Baghawi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">قوله تعالى: { اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا } ناصرهم ومعينهم</p>
<p><em>“Firman Allah ta’ala: Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman. Maknanya adalah Dia sebagai pembela dan pemberi bantuan kepada mereka.”</em> (<em>Ma’alim at-Tanzil</em> [1/315] asy-Syamilah)</p>
<p>al-Alusi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">{ يُخْرِجُهُم } بهدايته وتوفيقه</p>
<p><em>“Allah mengeluarkan mereka, yakni dengan hidayah dan taufik dari-Nya.”</em> (<em>Ruh al-Ma’ani</em> [2/324] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Jarir ath-Thabari <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">يخرجهم من ظلمات الكفر إلى نور الإيمان</p>
<p><em>“Maksudnya, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan.”</em> (<em>Jami’ al-Bayan</em> [5/424] asy-Syamilah)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;">عن الضحاك:&#8221;الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور&#8221;، الظلمات: الكفر، والنور: الإيمان &#8220;والذين كفروا أولياؤهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلى الظلمات&#8221;، يخرجونهم من الإيمان إلى الكفر</p>
<p><em>“Diriwayatkan dari adh-Dhahhak tentang ayat ‘Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya’ bahwa yang dimaksud dengan ‘kegelapan-kegelapan’ adalah kekafiran sedangkan ‘cahaya’ adalah keimanan. ‘Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan’ maksudnya mengeluarkan mereka dari keimanan menuju kekafiran.”</em> (<em>Jami’ al-Bayan</em> [5/425] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">والظلمات : الضلالة ، والنور : الهدى ، والطاغوت : الشياطين</p>
<p><em>“Yang dimaksud dengan kegelapan-kegelapan adalah kesesatan, sedangkan yang dimaksud dengan cahaya adalah petunjuk. Adapun thaghut yaitu syaitan-syaitan.” </em>(<em>Zaad al-Masiir</em> [1/263] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">وحد تعالى لفظ النور وجمع الظلمات؛ لأن الحق واحد والكفر أجناس كثيرة وكلها باطلة</p>
<p><em>“Allah ta’ala menyebutkan lafal cahaya dalam bentuk tunggal dan menyebutkan kegelapan dalam bentuk plural/jamak, hal itu dikarenakan kebenaran itu satu sedangkan kekafiran itu banyak ragamnya dan seluruhnya adalah kebatilan.”</em> (<em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em> [1/685] asy-Syamilah)</p>
<p>asy-Syinqithi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">وهذه الآية يفهم منها أن طرق الضلال متعددة . لجمعه الظلمات وأن طريق الحق واحدة . لإفراده النور</p>
<p><em>“Dari ayat ini dapat dipahami bahwasanya jalan-jalan kesesatan itu banyak, karena Allah menyebutkan kegelapan dalam bentuk jamak. Adapun jalan kebenaran hanya satu, karena Allah menyebutkan cahaya dalam bentuk tunggal/mufrad.”</em> (<em>Adhwa’ al-Bayan</em> [1/186] asy-Syamilah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
