<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 19:36:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Larangan Berdusta Atas Nama Nabi</title>
		<link>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 19:35:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1573</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Dari Samurah bin Jundub dan al-Mughirah bin Syu&#8217;bah radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.” (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, hal. 8 )
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-berdusta-atas-nama-nabi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-berdusta-atas-nama-nabi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Samurah bin Jundub dan al-Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.”</em> (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p><span id="more-1573"></span>Dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian berdusta atas namaku. Sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka dia akan masuk neraka.”</em> Dalam riwayat Bukhari, <em>“Hendaknya dia masuk ke neraka.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-&#8217;Ilm</em>, dan Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p>Dari Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.”</em> (HR. Bukhari, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)</p>
<p>Dari al-Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama orang lain. Maka barangsiapa yang berdusta secara sengaja atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)<em> </em></p>
<p>Dari Salamah bin al-Akwa&#8217; <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berkata-kata atas namaku padahal aku sendiri tidak mengucapkannya</em> <em>maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)<em> </em></p>
<p>Hadits-hadits di atas mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>Tidak boleh berdusta atas nama Nabi</li>
<li>Berdusta atas nama Nabi lebih besar dosanya daripada berdusta      atas nama selainnya</li>
<li>Berdusta atas nama Nabi termasuk dosa besar</li>
<li>Wajib berhati-hati dalam menyampaikan hadits yang disandarkan      kepada Nabi, oleh sebab itu harus diteliti kebenarannya</li>
<li>Yang dimaksud berdusta atas nama Nabi adalah mengatakan bahwa      Nabi mengatakan sesutau padahal beliau tidak mengatakannya</li>
<li>Istilah hadits untuk menyebut sabda Nabi adalah istilah yang      syar&#8217;i dan sudah ada sejak jaman Nabi, bahkan beliau sendiri yang pertama      kali menyebutkannya</li>
<li>Wajibnya mempelajari ilmu hadits, untuk membedakan hadits yang      sahih dan yang bukan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Yang Bisa Menjamin Dirinya?</title>
		<link>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 13:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.” (HR. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p><span id="more-1570"></span></p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad as-Sa&#8217;idi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya hati anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara dua jari di antara jari-jemari ar-Rahman, laksana hati yang satu, -sehingga dengan mudahnya- Allah palingkan hati itu sebagaimana yang dikehendaki-Nya.”</em> Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berdoa, <em>“Wahai Yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk berada di atas ketaatan kepada-Mu.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/250])</p>
<p>Tiga hadits yang agung ini mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>Hendaknya merasa takut terhadap su&#8217;ul khotimah dan mengharapkan      husnul khotimah</li>
<li>Iman terhadap surga dan neraka</li>
<li>Amalan yang telah sekian lama dilakukan tidak bisa menjamin      seseorang bahwa dirinya pasti selamat, karena di akhir hidupnya belum      tentu dia masih istiqomah</li>
<li>Tidak boleh tertipu oleh banyaknya amalan yang pernah dilakukan</li>
<li>Tidak boleh merasa aman dari makar Allah</li>
<li>Tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah</li>
<li>Hendaknya menyeimbangkan antara khauf (takut) dan roja&#8217;      (harapan)</li>
<li>Hendaknya menempuh sebab-sebab yang bisa menjadikan istiqomah</li>
<li>Hendaknya menjaga keikhlasan dalam beramal</li>
<li>Pentingnya memperhatikan dan menata amalan-amalan hati</li>
<li>Peringatan dari bahaya riya&#8217; dan kemunafikan</li>
<li>Ikhlas merupakan sebab utama keselamatan</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk surga sehebat      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk neraka seburuk      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Nasib seseorang di akherat kelak ditentukan bagaimana keadaan      akhir hidupnya di alam dunia ini, apakah dia meninggal di atas keimanan      ataukah tidak?</li>
<li>Penetapan bahwa Allah memiliki jari yang sesuai dengan      keagungan dan kemuliaan-Nya, tidak seperti apa yang ada pada makhluk</li>
<li>Penetapan bahwa hati manusia itu berada di bawah kekuasaan      Allah</li>
<li>Penetapan sifat kasih sayang pada diri Allah, Allah tidak      berbuat semena-mena terhadap makhluk-Nya</li>
<li>Hendaknya selalu memohon taufik kepada Allah agar hatinya      berada di atas kebenaran</li>
<li>Ketaatan kepada Allah merupakan sumber keselamatan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog dan Situs Mahasiswa Muslim</title>
		<link>http://abumushlih.com/blog-dan-situs-mahasiswa-muslim.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/blog-dan-situs-mahasiswa-muslim.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 19:42:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Situs]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1566</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Bismillah, berikut ini informasi beberapa link blog atau situs yang dikelola oleh para mahasiswa muslim yang kami ketahui. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian, ataupun bagi para pemilik blog/situs tersebut.
Dengan harapan, hal ini akan semakin memacu semangat kita -sebagai kaum muda- untuk ikut serta memperbaiki kondisi umat di negeri ini -khususnya kaum mudanya- walaupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fblog-dan-situs-mahasiswa-muslim.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fblog-dan-situs-mahasiswa-muslim.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillah, berikut ini informasi beberapa link blog atau situs yang dikelola oleh para mahasiswa muslim yang kami ketahui. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian, ataupun bagi para pemilik blog/situs tersebut.</p>
<p>Dengan harapan, hal ini akan semakin memacu semangat kita -sebagai kaum muda- untuk ikut serta memperbaiki kondisi umat di negeri ini -khususnya kaum mudanya- walaupun hanya melalui dunia maya. <em>Semoga Allah menjaga kami dan mereka semua agar tetap istiqomah di jalan-Nya&#8230;</em></p>
<p><span id="more-1566"></span></p>
<p>Blog akh <strong>Abu Uwais Didik Suyadi</strong> (mahasiswa UGM Fakultas Biologi)<br />
alamat: <a href="http://abukarimah.wordpress.com/" target="_blank">http://abukarimah.wordpress.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Abu Muhammad al-Ashri</strong> (mahasiswa UGM Fakultas Ilmu Budaya)<br />
alamat: <a href="http://alashree.wordpress.com/" target="_blank">http://alashree.wordpress.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Aditya Budiman</strong> (mahasiswa UGM Fakultas Teknik, Teknik Sipil), dkk.<br />
alamat: <a href="http://alhijroh.co.cc/" target="_blank">http://alhijroh.co.cc/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Bagus Panuntun Setiawan</strong> (mahasiswa UGM Fakultas  Teknik, Teknik Fisika)<br />
alamat: <a href="http://bagussetiawan.wordpress.com/" target="_blank">http://bagussetiawan.wordpress.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Wildan Salim</strong> (mahasiswa UGM Fakultas   Teknik, Teknik Mesin)<br />
alamat: <a href="http://wildansaleem.blogspot.com/" target="_blank">http://wildansaleem.blogspot.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Ariandi</strong> (mahasiswa UGM Fakultas   Teknik, Teknik Sipil)<br />
alamat: <a href="http://andis-gallery.blogspot.com/" target="_blank">http://andis-gallery.blogspot.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Gunawan Aneva</strong> (mahasiswa UGM Fakultas Teknik, Teknik  Mesin)<br />
alamat: <a href="http://gunawananeva.wordpress.com/" target="_blank">http://gunawananeva.wordpress.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Abu Kabsyah Ndaru Triutomo</strong> (mahasiswa UGM Fakultas  Biologi)<br />
alamat: <a href="http://abukabsyah.wordpress.com/" target="_blank">http://abukabsyah.wordpress.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Dhany Rakhmad</strong> (mahasiswa UGM Fakultas Teknik, Teknik  Geodesi)<br />
alamat: <a href="http://dhanyrakhmad.wordpress.com/" target="_blank">http://dhanyrakhmad.wordpress.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi</strong> (mahasiswa UGM Fakultas Teknik, Teknik Kimia)<br />
alamat: <a href="http://hanifnurfauzi.wordpress.com/" target="_blank">http://hanifnurfauzi.wordpress.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Abu Isma&#8217;il Yhouga Ariesta</strong> (mahasiswa UGM Fakultas Teknik, Teknik Sipil)<br />
alamat: <a href="http://yhougam.wordpress.com/" target="_blank">http://yhougam.wordpress.com/</a></p>
<p>Blog akh <strong>Anas al-Amin</strong> (mahasiswa UGM, D3 Teknik Elektro)<br />
alamat: <a href="http://shinegreen.wordpress.com/" target="_blank">http://shinegreen.wordpress.com/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/blog-dan-situs-mahasiswa-muslim.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Mukmin &#8216;Perkasa&#8217;</title>
		<link>http://abumushlih.com/menjadi-mukmin-perkasa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/menjadi-mukmin-perkasa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 17:34:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[Potensi]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1563</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih  baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun  pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa  yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan  bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenjadi-mukmin-perkasa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenjadi-mukmin-perkasa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em> meriwayatkan bahwa Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang mukmin yang kuat lebih  baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun  pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa  yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan  bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya  dahulu aku berbuat demikian niscaya akan begini dan begitu.’ Akan  tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang  dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’  itu akan membuka celah perbuatan syaitan.”</em> (HR. Muslim [2664] lihat  <em>Syarh Nawawi</em>, jilid 8 hal. 260).</p>
<p><span id="more-1563"></span>Hadits yang mulia ini menunjukkan :</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Allah <em>ta’ala</em> memiliki sifat cinta kepada  sesuatu. Kecintaan Allah kepada sesuatu bertingkat-tingkat,  kecintaan-Nya kepada mukmin yang kuat [imannya] lebih dalam daripada  kecintaan-Nya kepada mukmin yang lemah [imannya]. Orang mukmin yang kuat  adalah orang yang menyempurnakan dirinya dengan 4 hal; [1] ilmu yang  bermanfaat, [2] beramal salih, [3] saling mengajak kepada kebenaran, dan  [4] saling menasihati kepada kesabaran. Adapun mukmin yang lemah adalah  yang belum bisa menyempurnakan semua tingkatan ini.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; kebaikan pada diri orang-orang beriman itu  bertingkat-tingkat. Mereka terdiri dari tiga golongan manusia. Pertama;  kaum <em>As-Saabiqun ilal Khairat</em>, orang-orang yang bersegera melakukan  kebaikan-kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal yang  wajib maupun yang sunnah serta meninggalkan perkara yang haram dan yang  makruh. Kedua; kaum <em>Al-Muqtashidun</em> atau pertengahan. Mereka itu adalah  orang yang hanya mencukupkan diri dengan melakukan kewajiban dan  meninggalkan keharaman. Ketiga; <em>Azh-Zhalimuna li anfusihim</em>. Mereka  adalah orang-orang yang mencampuri amal kebaikan mereka dengan amal-amal  jelek.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>; perkara yang bermanfaat ada dua macam;  perkara akhirat/keagamaan dan perkara keduniaan. Sebagaimana seorang  hamba membutuhkan perkara agama maka ia juga membutuhkan perkara dunia.  Kebahagiaan dirinya akan tercapai dengan senantiasa bersemangat untuk  melakukan hal-hal yang bermanfaat di dalam kedua perkara tersebut.  Perkara yang bermanfaat dalam urusan agama kuncinya ada 2; ilmu yang  bermanfaat dan amal salih. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang  membersihkan hati dan ruh sehingga dapat membuahkan kebahagiaan di dunia  dan di akhirat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> yang terdapat dalam ilmu hadits, tafsir, dan fiqih  serta ilmu-ilmu lain yang dapat membantunya seperti ilmu bahasa Arab dan  lain sebagainya. Adapun amal salih adalah amal yang memadukan antara  niat yang ikhlas untuk Allah serta perbuatan yang selalu mengikuti  tuntunan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sedangkan perkara  dunia yang bermanfaat bagi manusia adalah dengan bekerja mencari rezeki.  Pekerjaan yang paling utama bagi orang berbeda-beda tergantung pada  individu dan keadaan mereka. Batasan untuk itu adalah selama hal itu  benar-benar bermanfaat baginya, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, <em>“Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu”</em></p>
<p><strong>Keempat</strong>; dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat itu  tidak sepantasnya manusia bersandar kepada kekuatan, kemampuan dan  kecerdasannya semata. Namun, dia harus menggantungkan hatinya kepada  Allah <em>ta’ala</em> dan meminta pertolongan-Nya dengan harapan Allah akan  memudahkan urusannya.</p>
<p><strong>Kelima</strong>; apabila seseorang menjumpai perkara yang  tidak menyenangkan setelah dia berusaha sekuat tenaga, maka hendaknya  dia merasa ridha dengan takdir Allah <em>ta’ala</em>. Tidak perlu berandai-andai,  karena dalam kondisi semacam itu berandai-andai justru akan membuka  celah bagi syaitan. Dengan sikap semacam inilah hati kita akan menjadi  tenang dan tentram dalam menghadapi musibah yang menimpa.</p>
<p><strong>Keenam</strong>; di dalam hadits yang mulia ini Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menggabungkan antara keimanan kepada  takdir dengan melakukan usaha yang bermanfaat. Kedua pokok ini telah  ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab maupun As-Sunnah dalam banyak tempat.  Agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan kedua hal itu. Sabda  Nabi, <em>“Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu”</em> merupakan perintah untuk menempuh sebab-sebab agama maupun dunia, bahkan  di dalamnya terkandung perintah untuk bersungguh-sungguh dalam  melakukannya, membersihkan niat dan membulatkan tekad, mewujudkan hal  itu dan mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan sabda Nabi, <em>“Dan  mintalah pertolongan kepada Allah”</em> merupakan bentuk keimanan kepada  takdir serta perintah untuk bertawakal kepada Allah ketika mencari  kemanfaatan dan menghindar dari kemudharatan dengan penuh rasa harap  kepada Allah ta’ala agar urusan dunia dan agamanya menjadi sempurna.</p>
<p>Diringkas dari <em>Bahjat Al-Qulub Al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun Al-Akhyar  Syarh Jawami’ Al-Alkhbar</em> karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di  <em>rahimahullahu ta’ala</em>, cetakan Darul Kutub Ilmiyah, hal. 40-46.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/menjadi-mukmin-perkasa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebih Baik Daripada Onta Merah</title>
		<link>http://abumushlih.com/lebih-baik-daripada-onta-merah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/lebih-baik-daripada-onta-merah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 06:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Khaibar]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1560</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
 
Dari Sahl bin Sa&#8217;d radhiyallahu&#8217;anhu, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata: Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flebih-baik-daripada-onta-merah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flebih-baik-daripada-onta-merah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;d <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.”</em> Sahl berkata: Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira di antara mereka yang akan diberikan bendera itu. Sahl berkata: Ketika pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diberikan bendera itu. Kemudian, Nabi bersabda, <em>“Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”</em>. Mereka menjawab, <em>“Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.”</em> Sahl berkata: Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya. Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya. Ali berkata, <em>“Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/31])</p>
<p><span id="more-1560"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini mengandung pelajaran, antara lain:</p>
<ol>
<li>Kewajiban untuk berdakwah mengajak musuh (orang kafir) untuk      masuk Islam sebelum dikobarkannya peperangan. Namun, apabila musuh      tersebut sudah pernah didakwahi -tetapi menolak- maka hal itu tidak lagi      wajib, namun dianjurkan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/30], <em>al-Jadid fi      Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 69)</li>
<li>Keislaman seseorang -orang kafir yang bersyahadat- tetap      diterima meskipun dalam keadaan sedang terjadi peperangan (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [8/31])</li>
<li>Hukum di dunia dibangun di atas apa yang tampak secara lahir.      Adapun hukum batinnya diserahkan kepada Allah (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/31])</li>
<li>Syarat sah keislaman adalah harus mengucapkan dua kalimat      syahadat. Apabila dia bisu atau mengalami hambatan lain yang serupa maka      cukup baginya mengisyaratkan terhadap syahadat itu (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/31])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan ilmu dan      mendakwahkan petunjuk serta tuntunan-tuntunan yang baik (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [8/30])</li>
<li>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berdakwah mengajak      manusia untuk memeluk agama Islam (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab al-Jihad      wa as-Siyar</em>, hal. 617). Ini merupakan bantahan yang sangat jelas bagi      kaum Liberal dan Pluralis yang menganggap bahwa Islam yang diserukan      kepada manusia adalah Islam dengan pengertian &#8216;kepasrahan kepada Tuhan      semata&#8217; tanpa ada kewajiban untuk masuk ke dalam agama yang disebut Islam.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan orang yang bisa      mengajak kepada Islam kepada orang lain kemudian orang yang didakwahi      tersebut menerimanya (masuk Islam), meskipun jumlahnya hanya satu orang      (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab al-Jihad wa as-Siyar</em>, hal. 630)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat jelas pada diri      Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, karena Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> memujinya dengan kata-kata, <em>“Dia mencintai Allah      dan Rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.”</em> (lihat      Shahih Bukhari, <em>Kitab Fadha&#8217;il As-habin Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em>, hal. 775)</li>
<li>Wajibnya mencintai Ali bin Abi Thalib. Karena konsekuensi cinta      kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kita juga harus mencintai apa yang      dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Allah memiliki sifat mencintai (lihat <em>al-Jadid,</em> hal. 69)</li>
<li>Mukjizat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>al-Jadid</em>,      hal. 69)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar semangat para sahabat untuk      memperoleh kebaikan agama mereka (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69). Karena      mereka sangat ingin menjadi orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.      Oleh sebab itu mereka berharap untuk diberi bendera tersebut, bukan karena      mereka menyimpan ambisi kekuasaan sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum      Syi&#8217;ah!</li>
<li>Semestinya seorang pemimpin memeriksa keadaan rakyat atau orang      yang dipimpinnya (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Wajibnya beriman kepada takdir, tatkala bendera itu ternyata      diberikan bukan kepada orang yang berusaha untuk bisa mendapatkannya      (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Seorang panglima perang hendaknya senantiasa bertindak dengan      tenang, namun bukan berarti bersikap lemah dan tidak menunjukkan wibawa      (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Dua kalimat syahadat yang diucapkan dengan lisan tidak cukup      jika tidak diiringi dengan amalam yang membuktikannya (lihat <em>al-Jadid</em>,      hal. 69)</li>
<li>Bolehnya bersumpah ketika menyampaikan suatu perkara untuk      lebih menekankan atau ada kemaslahatan lainnya, meskipun ia tidak diminta      bersumpah (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Hendaknya seorang da&#8217;i dalam mengajak kepada objek dakwahnya,      yang pertama kali diserukannya adalah agar mereka memahami dua kalimat      syahadat (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 70)</li>
<li>Diperlukannya bendera dalam peperangan</li>
<li>Seorang pemimpin atau pun pemerintah hendaknya mengirim utusan      orang-orang yang berdakwah kepada agama Allah -yaitu mendakwahkan tauhid      dan Sunnah- sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para khulafa&#8217; ar-rasyidin (lihat <em>Fath      al-Majid</em>, hal. 90)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan pentingnya pendidikan bagi da&#8217;i</li>
<li>Hidayah taufik hanya di tangan Allah</li>
<li>Seorang da&#8217;i tidak perlu merasa sempit dan sedih semata-mata      karena pengikutnya sedikit. Namun, semestinya dia bersedih karena manusia      tidak mau menerima kebenaran, bukan karena jumlah pengikutnya sedikit</li>
<li>Untuk berperang itu memerlukan strategi dan kehati-hatian</li>
<li>Jihad dengan ilmu (dakwah) itu didahulukan daripada jihad      dengan persenjataan (perang)</li>
<li>Kemenangan berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil      perjuangan pasukan ataupun kelihaian panglimanya</li>
<li>Ajaran Islam adalah ajaran yang penuh dengan kasih sayang      kepada manusia. Islam tidak mengenal aksi pembunuhan membabi buta      sebagaimana yang dilakukan oleh para teroris atau pelaku bom bunuh diri      yang mengklaim tindakkannya sebagai jihad</li>
<li>Dakwah itu harus dilakukan dengan mengikuti skala prioritas,      mendahulukan perkara-perkara yang terpenting sebelum perkara penting      lainnya</li>
<li>Peperangan bukanlah tujuan dalam Islam, namun perang adalah      cara terakhir yang memang harus ditempuh untuk menegakkan kebenaran di      atas muka bumi ini</li>
<li>Islam sangat menghargai nyawa manusia, meskipun itu adalah      nyawa orang-orang kafir. Bahkan, orang kafir yang tinggal di negeri Islam      dan dilindungi oleh pemerintah ataupun orang kafir yang tinggal di sebuah      negara yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin adalah haram      untuk ditumpahkan darahnya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mulia adalah orang yang      dicintai Allah. Sementara orang yang dicintai Allah adalah orang yang taat      kepada Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Hadits ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa para sahabat      yang lain selain Ali tidak dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, bahkan      mereka adalah umat terbaik di atas muka bumi ini</li>
<li>Hadits ini menunjukkan semestinya seorang da&#8217;i      bertanya/berkonsultasi kepada da&#8217;i lain yang lebih senior, terlebih lagi      dalam urusan umat yang memiliki pengaruh luas</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/lebih-baik-daripada-onta-merah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumber Kemaksiatan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 06:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Kezaliman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Marah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1558</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
Sumber segala bentuk kemaksiatan yang besar ataupun yang kecil ada tiga: ketergantungan hati kepada selain Allah, memperturutkan kekuatan angkara murka, dan mengumbar kekuatan nafsu syahwat. Wujudnya adalah syirik, kezaliman, dan perbuatan-perbuatan keji. Puncak ketergantungan hati kepada selain Allah adalah kemusyrikan dan menyeru sesembahan lain sebagai sekutu bagi Allah. Puncak memperturutkan kekuatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsumber-kemaksiatan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsumber-kemaksiatan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>Sumber segala bentuk kemaksiatan yang besar ataupun yang kecil ada tiga: ketergantungan hati kepada selain Allah, memperturutkan kekuatan angkara murka, dan mengumbar kekuatan nafsu syahwat. Wujudnya adalah syirik, kezaliman, dan perbuatan-perbuatan keji. Puncak ketergantungan hati kepada selain Allah adalah kemusyrikan dan menyeru sesembahan lain sebagai sekutu bagi Allah. Puncak memperturutkan kekuatan angkara murka adalah terjadinya pembunuhan. Adapun puncak mengumbar kekuatan nafsu syahwat adalah terjadinya perzinaan.</p>
<p><span id="more-1558"></span></p>
<p>Oleh sebab itu Allah <em>subhanahu</em> memadukan ketiganya dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali apabila ada alasan yang benar, dan mereka juga tidak berzina.”</em> (QS. al-Furqan: 68). Ketiga jenis dosa ini saling menyeret satu dengan yang lainnya. Syirik akan menyeret kepada kezaliman dan perbuatan keji, sebagimana halnya keikhlasan dan tauhid akan menyingkirkan kedua hal itu dari pemiliknya (ahli tauhid). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demikianlah, Kami palingkan darinya -Yusuf- keburukan dan perbuatan keji, sesungguhnya dia termasuk kalangan hamba pilihan Kami (yang ikhlas).”</em> (QS. Yusuf: 24)</p>
<p>Yang dimaksud dengan &#8216;keburukan&#8217; (<em>as-Suu&#8217;</em>) di dalam ayat tadi adalah kerinduan (<em>&#8216;isyq</em>), sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan keji (<em>al-fakhsya&#8217;</em>) adalah perzinaan. Maka demikian pula kezaliman akan bisa menyeret kepada perbuatan syirik dan perbuatan keji. Sesungguhnya syirik itu sendiri merupakan kezaliman yang paling zalim, sebagaimana keadilan yang paling adil adalah tauhid. Keadilan merupakan pendamping bagi tauhid, sementara kezaliman merupakan pendamping syirik.</p>
<p>Oleh sebab itulah, Allah <em>subhanahu</em> memadukan kedua hal itu. Adapun yang pertama -keadilan sebagai pendamping tauhid- adalah seperti yang terkandung dalam firman Allah (yang artinya), <em>“Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Allah, demikian juga bersaksi para malaikat dan orang-orang yang berilmu, dalam rangka menegakkan keadilan.”</em> (QS. Ali Imran: 18). Adapun yang kedua -kezalimaan sebagai pendamping syirik- adalah seperti yang terkandung dalam firman Allah (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik merupakan kezaliman yang sungguh-sungguh besar.”</em> (QS. Luqman: 13). Sementara itu, perbuatan keji pun bisa menyeret ke dalam perbuatan syirik dan kezaliman. Terlebih lagi apabila keinginan untuk melakukannya sangat kuat dan hal itu tidak bisa didapatkan selain dengan menempuh tindakan zalim serta meminta bantuan sihir dan setan.</p>
<p>Allah <em>subhanahu</em> pun telah memadukan antara zina dan syirik di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Seorang lelaki pezina tidak akan menikah kecuali dengan perempuan pezina pula atau perempuan musyrik. Demikian juga seorang perempuan pezina tidak akan menikah kecuali dengan lelaki pezina atau lelaki musyrik. Dan hal itu diharamkan bagi orang-orang yang beriman.”</em> (QS. an-Nur: 3). Ketiga perkara ini saling menyeret satu dengan yang lainnya dan saling mengajak satu sama lain. Oleh sebab itu, setiap kali melemah tauhid dan menguat syirik pada hati seseorang maka semakin banyak  perbuatan keji yang dilakukannya, kemudian semakin besar pula ketergantungan hatinya kepada gambar-gambar -yang terlarang- serta semakin kuat pula kerinduan yang menggelayuti hatinya terhadap gambar/rupa tersebut&#8230;</p>
<p>(diterjemahkan dari <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 78-79)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Yang Paling Disukai</title>
		<link>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ  هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ  أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ
Qutaibah menuturkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya  dari Aisyah -radhiyallahu’anha-, dia berkata, “Amal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ  هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ  أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ</strong></p>
<p>Qutaibah menuturkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya  dari Aisyah -<em>radhiyallahu’anha</em>-, dia berkata, <em>“Amal yang paling disukai  oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan  secara terus menerus oleh pelakunya.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p><span id="more-1555"></span>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ  حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ  عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى  اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ  الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ</strong></p>
<p>Muhammad bin Ar’arah menuturkan kepadaku. Dia berkata; Syu’bah  menuturkan kepada kami dari Sa’d bin Ibrahim dari Abu Salamah dari  Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>, dia berkata, <em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam pernah ditanya, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’</em>. Maka  beliau menjawab,<em>”Yaitu yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.”</em> Beliau juga bersabda, <em>“Bebanilah diri kalian dengan amal-amal yang mampu  untuk kalian kerjakan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p>Kedua hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa :</p>
<ol>
<li> Penetapan sifat mahabbah bagi Allah</li>
<li>Amalan satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan keutamaan di sisi  Allah</li>
<li>Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang dikerjakan secara  kontinyu</li>
<li>Apa yang dicintai oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> -dalam pandangan syari’at- maka hal itu menunjukkan bahwa Allah <em>ta’ala</em> juga mencintai perkara tersebut</li>
<li>Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mengerjakan  amalan</li>
<li>Dalam memilih amalan -sunnah- maka hendaknya seorang memperhatikan  kemampuannya agar bisa kontinyu dalam mengerjakannya, lebih baik sedikit  tapi kontinyu daripada banyak namun terhenti.</li>
<li>Hadits ini menganjurkan agar seorang hamba istiqomah dalam beramal  dan mengikhlaskan amalnya karena Allah dan sesuai dengan tuntunan  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></li>
<li>Amal salih merupakan sebab datangnya kecintaan Allah</li>
<li>Seorang mukmin hendaknya mencitai apa yang dicintai oleh Allah dan  Rasul-Nya, sebagaimana dia juga harus membenci segala perkara yang  dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan sabar di dalam ketaatan</li>
<li>Hadits ini menunjukkan pentingnya menjaga motivasi dan semangat  dalam beramal supaya bias kontinyu</li>
<li>Hadits ini menunjukkan perlunya <em>targhib</em>/dorongan dan <em>tarhib</em>/ancaman  dalam menjaga stabilitas keimanan</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa amal termasuk bagian dari iman</li>
<li>Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya melainkan sesuai  dengan batas kemampuannya</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, <em>wallahu a’lam. Wa  shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sallam. Walhamdu  lillahi Rabbil ‘alamin.</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Depan Gerbang Kematian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1553</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
 Kematian, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya  diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti  akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba  saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia  tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekalipun. Karena  bukanlah sifat malaikat seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-depan-gerbang-kematian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-depan-gerbang-kematian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em> Kematian</em>, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya  diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti  akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba  saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia  tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekalipun. Karena  bukanlah sifat malaikat seperti manusia, yang zalim dan jahil.</p>
<p><span id="more-1553"></span>Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia  lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para  malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai,  tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini  juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah  orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa.  Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada  di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ?  Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi  malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita  tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita  melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan  engkau jera ?</p>
<p><strong>Sebab-sebab su’ul khatimah</strong></p>
<p>Saudaraku seiman mudah -mudahan Allah memberikan taufik kepada Anda-  ketahuilah bahwa su’ul khatimah tidak akan terjadi pada diri orang yang  shalih secara lahir dan batin di hadapan Allah. Terhadap orang-orang  yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya, tidak pernah terdengar cerita  bahwa mereka su’ul khotimah. Su’ul khotimah hanya terjadi pada orang  yang rusak batinnya, rusak keyakinannya, serta rusak amalan lahiriahnya;  yakni terhadap orang-orang yang nekat melakukan dosa-dosa besar dan  berani melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Kemungkinan semua dosa itu  demikian mendominasi dirinya sehingga ia meninggal saat melakukannya,  sebelum sempat bertaubat dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa su’ul khotimah memiliki berbagai sebab yang  banyak jumlahnya. Di antaranya yang terpokok adalah sebagai berikut :</p>
<ul>
<li> Berbuat syirik kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em>. Pada hakikatnya syirik  adalah ketergantungan hati kepada selain Allah dalam bentuk rasa cinta,  rasa takut, pengharapan, do’a, tawakal, inabah (taubat) dan lain-lain.</li>
<li>Berbuat bid’ah dalam melaksanakan agama. Bid’ah adalah menciptakan  hal baru yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Penganut  bid’ah tidak akan mendapat taufik untuk memperoleh husnul khatimah,  terutama penganut bid’ah yang sudah mendapatkan peringatan dan nasehat  atas kebid’ahannya. Semoga Allah memelihara diri kita dari kehinaan itu.</li>
<li>Terus menerus berbuat maksiat dengan menganggap remeh dan sepele  perbuatan-perbuatan maksiat tersebut, terutama dosa-dosa besar.  Pelakunya akan mendapatkan kehinaan di saat mati, disamping setan pun  semakin memperhina dirinya. Dua kehinaan akan ia dapatkan sekaligus dan  ditambah lemahnya iman, akhirnya ia mengalami su’ul khotimah.</li>
<li>Melecehkan agama dan ahli agama dari kalangan ulama, da’i, dan  orang-orang shalih serta ringan tangan dan lidah dalam mencaci dan  menyakiti mereka.</li>
<li>Lalai terhadap Allah dan selalu merasa aman dari siksa Allah. Allah  berfirman yang artinya, <em>“Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang  tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali  orang-orang yang merugi”</em> (QS. Al A’raaf [7] : 99)</li>
<li>Berbuat zalim. Kezaliman memang ladang kenikmatan namun berakibat  menakutkan. Orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang paling layak  meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Allah berfirman yang artinya,  <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang  zalim”</em> (QS. Al An’aam [6] : 44)</li>
<li>Berteman dengan orang-orang jahat. Allah berfirman yang artinya,  <em>“(Ingatlah) hari ketika orang yang zalim itu menggigit dua tangannya,  seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan yang lurus  bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak  menjadikan si fulan sebagai teman akrabku”</em> (QS. Al Furqaan [25] : 27-28)</li>
<li>Bersikap ujub. Sikap ujub pada hakikatnya adalah sikap seseorang  yang merasa bangga dengan amal perbuatannya sendiri serta menganggap  rendah perbuatan orang lain, bahkan bersikap sombong di hadapan mereka.  Ini adalah penyakit yang dikhawatirkan menimpa orang-orang shalih  sehingga menggugurkan amal shalih mereka dan menjerumuskan mereka ke  dalam su’ul khotimah.</li>
</ul>
<p>Demikianlah beberapa hal yang bisa menyebabkan su’ul khotimah.  Kesemuanya adalah biang dari segala keburukan, bahkan akar dari semua  kejahatan. Setiap orang yang berakal hendaknya mewaspadai dan  menghindarinya, demi menghindari su’ul khotimah.</p>
<p><strong>Tanda-tanda husnul khotimah</strong></p>
<p>Tanda-tanda husnul khotimah cukup banyak. Di sini kami menyebutkan  sebagian di antaranya saja :</p>
<ul>
<li> Mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah saat meninggal.  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, <em>“Barangsiapa yang  akhir ucapan dari hidupnya adalah laa ilaaha illallaah, pasti masuk  surga”</em> (HR. Abu Dawud dll, dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil)</li>
<li>Meninggal pada malam Jum’at atau pada hari Jum’at. Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap muslim yang meninggal  pada hari atau malam Jum’at pasti akan Allah lindungi dari siksa kubur”</em> (HR.Ahmad)</li>
<li>Meninggal dengan dahi berkeringat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, <em>“Orang mukmin itu meninggal dengan berkeringat di  dahinya”</em> (HR. Ahmad, Tirmidzi dll. dishahihkan Al Albani)</li>
<li>Meninggal karena wabah penyakit menular dengan penuh kesabaran dan  mengharapkan pahala dari Allah, seperti penyakit kolera, TBC dan lain  sebagainya</li>
<li>Wanita yang meninggal saat nifas karena melahirkan anak. Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang wanita yang meninggal  karena melahirkan anaknya berarti mati syahid. Sang anak akan  menarik-nariknya dengan riang gembira menuju surga”</em> (HR. Ahmad)</li>
<li>Munculnya bau harum semerbak, yakni yang keluar dari tubuh jenazah  setelah meninggal dan dapat tercium oleh orang-orang di sekitarnya.  Seringkali itu didapatkan pada jasad orang-orang yang mati syahid,  terutama syahid fi sabilillah.</li>
<li>Mendapatkan pujian yang baik dari masyarakat sekitar setelah  meninggalnya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah melewati  jenazah. Beliau mendengar orang-orang memujinya. Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Pasti (masuk) surga”</em> Beliau kemudian  bersabda, <em>“kalian -para sahabat- adalah para saksi Allah di muka bumi ini”</em> (HR. At  Tirmidzi)</li>
<li>Melihat sesuatu yang menggembirakan saat ruh diangkat. Misalnya,  melihat burung-burung putih yang indah atau taman-taman indah dan  pemandangan yang menakjubkan, namun tidak seorangpun di sekitarnya yang  melihatnya. Kejadian itu dialami sebagian orang-orang shalih. Mereka  menggambarkan sendiri apa yang mereka lihat pada saat sakaratul maut  tersebut dalam keadaan sangat berbahagia, sedangkan orang-orang di  sekitar mereka tampak terkejut dan tercengang saja.</li>
</ul>
<p><strong>Bagaimana kita menyambut kematian?</strong></p>
<p>Saudara tercinta, sambutlah sang kematian dengan hal-hal berikut :</p>
<ul>
<li> Dengan iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para  Rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk.</li>
<li>Dengan menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya di masjid  secara berjama’ah bersama kaum muslim dengan menjaga kekhusyu’an dan  merenungi maknanya. Namun, shalat wanita di rumahnya lebih baik daripada  di masjid.</li>
<li>Dengan mengeluarkan zakat yang diwajibkan sesuai dengan takaran dan  cara-cara yang disyari’atkan.</li>
<li>Dengan melakukan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap  pahala.</li>
<li>Dengan melakukan haji mabrur, karena pahala haji mabrur pasti surga.  Demikian juga umrah di bulan Ramadhan, karena pahalanya sama dengan  haji bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, yakni setelah melaksanakan  yang wajib. Baik itu shalat, zakat, puasa maupun haji. Allah  menandaskan dalam sebuah hadits qudsi, <em>“Seorang hamba akan terus  mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku  mencintai-Nya”</em></li>
<li>Dengan segera bertobat secara ikhlas dari segala perbuatan maksiat  dan kemungkaran, kemudian menanamkan tekad untuk mengisi waktu dengan  banyak memohon ampunan, berdzikir, dan melakukan ketaatan.</li>
<li>Dengan ikhlas kepada Allah dan meninggalkan riya dalam segala  ibadah, sebagaimana firman Allah yang artinya, <em>“Padahal mereka tidak  disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan  kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus”</em> (QS. Al Bayyinah [98] :  5)</li>
<li>Dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya.</li>
<li>Hal itu hanya sempurna dengan mengikuti ajaran Nabi, sebagaimana  yang Allah firmankan yang artinya, <em>“Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni  dosa-dosamu’. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang”</em> (QS. Ali Imran  [3] : 31)</li>
<li>Dengan mencintai seseorang karena Allah dan membenci seseorang  karena Allah, berloyalitas karena Allah dan bermusuhan karena Allah.  Konsekuensinya adalah mencintai kaum mukmin meskipun saling berjauhan  dan membenci orang kafir meskipun dekat dengan mereka.</li>
<li>Dengan rasa takut kepada Allah, dengan mengamalkan ajaran kitab-Nya,  dengan ridha terhadap rezeki-Nya meski sedikit, namun bersiap diri  menghadapi Hari Kemudian. Itulah hakikat dari takwa.</li>
<li>Dengan bersabar menghadapi cobaan, bersyukur kala mendapatkan  kenikmatan, selalu mengingat Allah dalam suasana ramai atau dalam  kesendirian, serta selalu mengharapkan keutamaan dan karunia dari Allah.  Dan lain-lain</li>
</ul>
<p>(dicuplik dari <em>Misteri Menjelang Ajal, Kisah-Kisah Su’ul Khatimah  dan Husnul Khatimah</em>, penerjemah Al Ustadz Abu ‘Umar Basyir  <em>hafizhahullah</em>). Semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi kita  Muhammad, kepada sanak keluarga beliau dan para sahabat beliau</p>
<p>Penyusun ulang: Ari Wahyudi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu, Alangkah Berharganya Dirimu!</title>
		<link>http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 07:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1550</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Berjam-jam membaca al-Qur’an sesuatu yang amat jarang kita lakukan.  Berjam-jam mengikuti kajian kitab pun jarang kita lakukan. Berjam-jam  membolak-balik kitab para ulama pun sulit untuk kita saksikan pada  kebanyakan sosok pemuda muslim di jaman ini. Namun, berjam-jam di depan  internet tanpa ada aktifitas yang jelas dan bermutu adalah sesuatu yang  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwaktu-alangkah-berharganya-dirimu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwaktu-alangkah-berharganya-dirimu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Berjam-jam membaca al-Qur’an sesuatu yang amat jarang kita lakukan.  Berjam-jam mengikuti kajian kitab pun jarang kita lakukan. Berjam-jam  membolak-balik kitab para ulama pun sulit untuk kita saksikan pada  kebanyakan sosok pemuda muslim di jaman ini. Namun, berjam-jam di depan  internet tanpa ada aktifitas yang jelas dan bermutu adalah sesuatu yang  lumrah. Terlebih lagi dengan adanya <strong>facebook</strong> yang kini marak di dunia  maya. Sungguh benar Allah <em>ta’ala</em> yang berfirman (yang artinya), <em>“Demi  masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian,   kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam  kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”</em> (QS. al-’Ashr :  1-3).</p>
<p><span id="more-1550"></span>Perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan. Hanya  saja, kebanyakan orang tidak bisa menggunakan produk kecanggihan  teknologi itu dengan sebagaimana seharusnya. Cobalah kita ingat beberapa  belas tahun yang silam, ketika televisi masih menjadi barang langka,  ketika internet dan <em>hape</em> belum meluas sebagaimana sekarang. Niscaya akan  kita dapati banyak kemungkaran yang dahulu jarang kita temukan terjadi  secara terang-terangan ternyata pada jaman sekarang ini sudah menjadi  barang yang biasa dan lumrah menghiasi PC, laptop, dan perangkat  komunikasi para generasi muda. <em>Allahul musta’an</em>! Sungguh benar sabda  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Segeralah beramal sebelum  datangnya fitnah-fitnah bak potongan-potongan malam yang gelap gulita.  Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia telah  menjadi kafir.” Atau “Pada sore hari masih beriman namun di pagi harinya  dia menjadi kafir.” “Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan  sekeping kesenangan dunia.” </em>(HR. Muslim).</p>
<p>Saudaraku -semoga Allah menjaga diriku dan dirimu- waktu yang Allah  berikan kepada kita merupakan nikmat yang sangat agung. Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua buah nikmat yang  kebanyakan manusia terpedaya karena tidak bisa menggunakan keduanya  dengan baik, yaitu kesehatan dan waktu luang.”</em> (HR. Bukhari). Hasan  al-Bashri <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hai anak Adam, sesungguhnya kamu  adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu maka lenyaplah  sebagian dari dirimu.”</em> Ada orang yang mengatakan, <em>“Waktu bagaikan  pedang, kalau kamu tidak menebasnya -dengan kebaikan- maka dia akan  menebasmu -dengan keburukan-.”</em></p>
<p>Hidup di dunia adalah sementara <em>ya akhi</em>…,  untuk apa kita buang waktu kita dalam perkara-perkara yang sia-sia?  Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah kalian mengira, bahwa  Kami menciptakan kalian sia-sia belaka, dan kalian tidak akan  dikembalikan kepada Kami?”</em>. (QS. al-Mukminun : 115). Allah juga  berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian sesudah itu kalian juga akan mati,  lantas kalian kelak akan dibangkitkan pada hari kiamat.”</em> (QS.  al-Mukminun : 15-16).</p>
<p>Setiap mukmin, ketika ditanya; untuk apa anda hidup? Niscaya selama  akalnya masih waras akan menjawab; untuk beribadah kepada Allah.  Benar-benar jawaban yang cerdas. Namun, ketika kita perhatikan dengan  seksama aktifitas dan perilaku manusia di alam nyata dalam bentuk  gerak-gerik mata, jari-jemari, tangan dan kakinya, di kala siang, sore  atau malam hari, maka akan kita temukan realita yang berkebalikan  seratus delapan puluh derajat dari jawaban yang mereka lontarkan. Mereka  makan untuk memenuhi hawa nafsu. Mereka memandang untuk memenuhi hawa  nafsu. Mereka berjalan untuk mencapai apa yang diinginkan oleh nafsu.  Mereka begadang juga untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu. Mereka buka  mata dan telinga lebar-lebar pun untuk memenuhi keinginan hawa nafsu.</p>
<p>Kita tidak sedang menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain,  namun yang kita bicarakan adalah aib-aib kita yang Allah sendirilah yang  paling tahu betapa banyak aib kita di mata-Nya. Meskipun demikian, kita  seperti orang yang masa bodoh dengan dosa-dosanya. Abdullah bin Mas’ud  <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Seorang mukmin akan melihat dosanya  bagaikan sebuah bukit besar yang akan menimpa dirinya. Sedangkan seorang  yang fajir akan melihat dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap  di depan hidungnya kemudian dia halau dengan jari dengan santainya.”</em></p>
<p>Subhanallah! Betapa jauhnya kita dengan akhlak salafus shalih. Ibnu  Abi Mulaikah mengatakan, <em>“Aku berjumpa dengan tiga puluh sahabat  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka semua merasa khawatir  dirinya tertimpa kemunafikan.”</em> Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em> mengatakan,  <em>“Seorang mukmin akan memadukan di dalam dirinya antara ihsan/perbuatan  baik dengan rasa takut. Sedangkan seorang yang munafik akan memadukan di  dalam dirinya antara perbuatan jelek dengan rasa aman dari tertimpa  hukuman.”</em> <em>Allahul musta’aan</em>!</p>
<p>Di manakah posisi kita wahai saudaraku!  Kita menisbatkan diri sebagai seorang salafi -pengikuti pemahaman  salafus shalih- namun dalam prakteknya akhlak kita seperti akhlak  orang-orang Arab Badui…!</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang akhlak orang Arab Badui (yang  artinya), <em>“Orang Arab Badui itu lebih keras kekufuran dan kemunafikannya  dan sangat wajar tidak memahami batasan-batasan (hukum) yang Allah  turunkan kepada rasul-Nya…”</em> (QS. at-Taubah : 97). Syaikh as-Sa’di  <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Meskipun di kota maupun di pelosok/badui juga  sama-sama terdapat orang kafir dan munafik, namun yang berada di pelosok  itu biasanya lebih parah daripada yang hidup di kota. Salah satu  buktinya adalah orang Arab badui/pelosok itu lebih rakus kepada harta  dan lebih pelit terhadapnya.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [1/457]).</p>
<p>Memang sebagian di antara mereka pun terdapat orang yang beriman. Allah  <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan di antara orang Arab Badui itu pun  ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”</em> (QS. at-Taubah : 99).  Oleh sebab itu mereka dicela bukan karena kebaduiannya, akan tetapi  dikarenakan mereka meninggalkan perintah-perintah Allah, dan bahwasanya  mereka adalah golongan orang yang sangat mudah terjerumus di dalamnya  (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [1/458]).</p>
<p>Maka apa bedanya mereka itu (baca: Arab badui yang ‘mbeling’) dengan  sebagian di antara kaum muslimin pada hari ini yang begitu mudah  meninggalkan perintah-perintah Allah serta menerjang  larangan-larangan-Nya semata-mata dengan alasan <em>“Ini kan jaman moderen,  biasalah.” “Kita kan masih muda, ya wajar!”</em>. Atau dengan mengatakan,  <em>“Dari dulu ya sudah kayak gini, masak tradisi warisan nenek moyang mau  kita selisihi [?!]“</em>. Atau dengan mengatakan, <em>“Masak tiap hari disuruh  pengajian, kita ‘kan juga butuh refreshing, menikmati dunia memangnya  gak boleh?”</em>. Atau, <em>“Ah kamu ini sok suci. Jangan munafiklah!”</em>. <em>“Kamu  sih, sukanya yang ekstrim-esktrim.”</em> Dan seabrek bisikan syaitan lainnya.  <em>Laa haula wa laa quwwata illa billah</em>!</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku -semoga Allah membimbingmu-  sesungguhnya syaitan dan bala tentaranya tidak henti-henti berupaya  untuk menjerumuskan umat manusia. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya singgasana Iblis berada di atas lautan.  Maka dia mengutus pasukan-pasukannya demi menyesatkan manusia. Bala  tentaranya yang paling mulia kedudukannya di sisi Iblis adalah yang  paling dahsyat menimbulkan kekacauan.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Suatu ketika,  Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em> mendapati suaminya yaitu Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> meninggalkannya di suatu malam, maka Aisyah pun  merasa cemburu. Setelah pulang, Nabi melihat kegelisahan yang ada  padanya, lalu Nabi berkata, <em>“Ada apa denganmu wahai Aisyah? Apakah kamu  merasa cemburu?”</em>. Aisyah mengatakan, <em>“Bagaimana orang sepertiku tidak  merasa cemburu kepada seorang suami yang seperti anda?”</em>. Maka Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apakah syaitanmu telah  mendatangimu?”</em>. Aisyah berkata, <em>“Wahai Rasulullah, apakah bersamaku ada  syaitan?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Iya.”</em> Lalu Aisyah berkata, <em>“Apakah semua  orang juga demikian?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Iya.”</em> Aisyah kembali bertanya,  <em>“Demikian juga anda wahai Rasulullah?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Iya, hanya  saja Allah telah membantuku untuk menundukkannya sehingga akhirnya dia  pun masuk Islam.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Ketika dahulu para sahabat duduk bersama untuk berbicara dan menasehati  dalam rangka menambah keimanan dan ketakwaan. <em>Eee</em> … pada hari ini  sebagian dari kita justru berkumpul dan saling bahu membahu untuk  memupuk kemaksiatan dan merontokkan tembok keimanan. Tidakkah kita ingat  firman Allah <em>ta’ala</em> (yang artinya), <em>“Pada hari kiamat itu nanti  orang-orang yang saling berkasih sayang dan berteman akan berubah  menjadi saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.”</em> (QS.  az-Zukhruf : 67).</p>
<p>Maka, dengan andil besar dari syaitan dan bala  tentaranya itulah, terbentuklah geng-geng, perkumpulan-perkumpulan,  gerakan-gerakan, yang semuanya memiliki satu kecenderungan yang seragam  yaitu bertekad bulat untuk mendurhakai ar-Rahman Sang penguasa kerajaan  langit dan bumi. Dengan keyakinan mereka, mereka menanamkan bahwa  kehidupan dunia adalah lahan untuk memuaskan hawa nafsu dan mengumbar  kesombongan. Dengan ucapan mereka, mereka ingin mengelabui kaum muda  bahwa tidak ada gunanya rajin-rajin menuntut ilmu agama, lebih baik  sibuk dengan wawasan terkini dan meninggalkan al-Qur’an. Dengan sikap  dan perbuatan mereka, mereka mengajak masyarakat dan para orang tua  untuk bersama-sama menenggelamkan putra-putri mereka dalam pergaulan  bebas tanpa batas, sehingga perbuatan keji pun dengan leluasa  merajalela. Apakah maknanya ini semua, wahai saudaraku yang mulia…  <strong>akankah kita biarkan kemungkaran itu terus merajalela dan merusak  tunas-tunas bangsa?</strong></p>
<p>Oleh sebab itu, seorang pemuda muslim yang masih menyimpan kecintaan  kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya menanamkan tekad di dalam hatinya  agar <strong>tidak ikut memperkeruh raut muka umat Islam masa kini di hadapan  Rabb mereka</strong>.</p>
<p>Jadilah sebagaimana pemuda Ibrahim yang getol untuk  memperjuangan tauhid dan memberantas syirik yang ada di masyarakatnya!</p>
<p>Jadilah sebagaimana para pemuda Kahfi yang beriman kepada Allah dan  Allah pun berkenan menambahkan hidayah kepada mereka!</p>
<p>Jadilah  sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang sangat keras memusuhi musuh-musuh  Islam yang berani melecehkan sahabat Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>!</p>
<p>Jadilah sebagaimana para pemuda Anshar yang berlomba-lomba untuk  maju ke medan jihad demi mempertahankan agamanya!</p>
<p>Jadilah sebagaimana  Uwais al-Qarani yang sangat berbakti kepada ibunya!</p>
<p>Saudaraku, salafuna as-shalih adalah orang-orang yang sangat <strong>pelit  dengan waktunya dan paling gigih dalam menjaga lisan mereka</strong>. Allah  <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah mereka itu mengira bahwa Kami  tidak mendengar rahasia dan bisik-bisikan mereka? Sebenarnya Kami  mendengar, dan para utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi  mereka.”</em> (QS. az-Zukhruf : 80).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang  artinya), <em>“Tidak ada kebaikan di dalam kebanyakan perbincangan mereka  kecuali orang yang menyuruh bersedekah, mengajak yang ma’ruf, atau  mendamaikan di antara manusia.”</em> (QS. an-Nisa’ : 114). Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Salah satu tanda baiknya  keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak penting  baginya.”</em> (HR. Tirmidzi, hasan). Sebagian orang bijak mengatakan,  <em>“Apabila kamu akan berbicara maka ingatlah bahwa Allah mendengar  ucapanmu. Apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Allah juga selalu  mengawasimu.”</em> (lihat <em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 152).</p>
<p><em>Ikhwah</em> sekalian, <strong>tauhid bukan sekedar tulisan</strong> yang tergores di  buku-buku. Tauhid bukan sekedar dihafal di dalam pikiran. Tauhid juga  bukan sekedar slogan-slogan kosong tanpa makna. Tauhid yang bersemayam  di dalam hati seorang insan tentu akan membuahkan <strong>amal nyata di dalam  kehidupan</strong>. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan,  <em>“..pokok keimanan itu tertanam di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan  hati. Ia mencakup pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan  ketundukan. Sedangkan apa yang ada di dalam hati pastilah akan tampak  konsekuensinya dalam perbuatan anggota-anggota badan. <strong>Apabila seseorang  tidak melakukan konsekuensinya maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak  ada atau lemah</strong> [padanya]. Oleh karena itu maka amal-amal lahir itu  merupakan konsekuensi dari keimanan di dalam hati. Ia merupakan  pembuktian atas apa yang ada di dalam hati, tanda dan saksi baginya. Ia  merupakan cabang dari totalitas keimanan dan bagian dari kesatuannya.…” </em>(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah, lihat juga <em>Mujmal  Masa’il al-Iman al-’Ilmiyah</em>, hal. 15).</p>
<p>Ibnu Batthah <em>rahimahullah</em> (wafat tahun 387 H) menyebutkan riwayat  dari Umair bin Habib <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia mengatakan, <em>“Iman itu  bertambah dan berkurang.”</em> Ada yang bertanya, <em>“Apakah maksud pertambahan  dan pengurangannya?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Apabila kita mengingat Allah  kemudian kita memuji dan menyucikan-Nya maka itulah pertambahannya. Dan  apabila kita lalai dan melupakan-Nya maka itulah pengurangannya.”</em> (<em>al-Ibanah al-Kubra</em> [3/153], lihat juga <em>Fath al-Bari Ibnu Rojab</em> [1/5]  as-Syamilah).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Belumkah tiba saatnya bagi  orang-orang yang beriman untuk tunduk dan takut hati mereka dengan  mengingat Allah serta merenungkan kebenaran yang diturunkan (kepada  mereka), dan janganlah mereka itu seperti orang-orang terdahulu yang  diberikan kitab sebelum mereka, ketika masa yang panjang berlalu maka  mengeraslah hati mereka, dan banyak di antara mereka yang menjadi  orang-orang fasik.”</em> (QS. al-Hadid : 16).</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya, <em>“Wahai Rasulullah, apakah kami  akan celakan sedangkan bersama kami masih ada orang-orang salih?”</em>. Maka  beliau menjawab, <em>“Iya, apabila perbuatan-perbuatan keji telah  merajalela.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Demikianlah sekelumit pesan bagi saudara-saudaraku sekalian, para  pemuda yang menginginkan kebahagiaan abadi di akherat nanti, bersama  para bidadari dan pelayan-pelayan yang baik budi. Suatu hari di  saat  orang-orang lain tersiksa, ketika itu pemuda yang tumbuh dalam ketaatan  beribadah kepada Rabbnya pun akan merasakan keteduhan di bawah naungan  Arsy-Nya. Karena dia rela untuk meninggalkan apa yang disenangi oleh  hawa nafsunya demi mendapatkan kecintaan Rabb alam semesta.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang surga (yang artinya), <em>“Itulah yang balasan bagi  orang-orang yang takut kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Bayyinah : 8).</p>
<p>Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memurnikan taubat kita  agar benar-benar ikhlas karena-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar  lagi Maha Penerima taubat. <em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa  ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjauhkan Diri Dari Laknat</title>
		<link>http://abumushlih.com/menjauhkan-diri-dari-laknat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/menjauhkan-diri-dari-laknat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 06:55:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1548</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
 
Dari Humran -bekas budak yang dimerdekakan oleh Utsman-, dia berkata: Setelah Utsman -radhiyallahhu&#8217;anhu- selesai berwudhu, dia berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan menyampaikan hadits kepada kalian. Demi Allah, kalau bukan karena teringat akan sebuah ayat yang terdapat di dalam Kitabullah niscaya aku tidak akan menyampaikan hadits kepada kalian. Aku dulu pernah mendengar Rasulullah shallallahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenjauhkan-diri-dari-laknat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenjauhkan-diri-dari-laknat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Humran -bekas budak yang dimerdekakan oleh Utsman-, dia berkata: Setelah Utsman -<em>radhiyallahhu&#8217;anhu</em>- selesai berwudhu, dia berkata, <em>“Demi Allah, aku benar-benar akan menyampaikan hadits kepada kalian. Demi Allah, kalau bukan karena teringat akan sebuah ayat yang terdapat di dalam Kitabullah niscaya aku tidak akan menyampaikan hadits kepada kalian. Aku dulu pernah mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8216;Tidaklah seseorang berwudhu lalu membaguskan wudhunya kemudian mengerjakan sholat kecuali pasti akan diampuni dosanya semenjak itu sampai mengerjakan sholat berikutnya.&#8217;.”</em> Urwah -salah seorang periwayat hadits ini- berkata, <em>“Ayat yang dimaksud -oleh Utsman- adalah (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk setelah Kami jelaskan ia kepada manusia di dalam al-Kitab, maka mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan dilaknat oleh segenap orang yang melaknat.” (QS. al-Baqarah: 159).”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [3/16])</p>
<p><span id="more-1548"></span></p>
<p>Hadits yang mulia ini mengandung pelajaran-pelajaran penting, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Bersumpah dengan nama Allah</li>
<li>Bolehnya bersumpah tanpa diminta dan bukan karena kepentingan      mendesak, dalam rangka menegaskan suatu perkara (lihat <em>Syarh Muslim</em> [3/110] dalam bentuk pdf)</li>
<li>Penamaan &#8216;hadits&#8217; untuk sabda-sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi      wa sallam</em> adalah penamaan yang sudah ada sejak jaman salaf, ia bukan      istilah baru yang diciptakan oleh ulama belakangan</li>
<li>Kewajiban menyampaikan ilmu dan larangan dari menyembunyikannya</li>
<li>Ancaman bagi orang-orang yang menyembunyikan ilmu</li>
<li>Menyembunyikan ilmu adalah dosa besar</li>
<li>Allah mencintai orang-orang yang menyebarkan ilmu dan      mengamalkannya</li>
<li>Allah membenci orang-orang yang menyembunyikan ilmu</li>
<li>Kewajiban bertaubat dari dosa menyembunyikan ilmu, yaitu dengan      menjelaskannya kepada manusia</li>
<li>Ilmu yang sejati adalah ilmu wahyu, yaitu yang bersumber dari      al-Kitab dan as-Sunnah</li>
<li>Keutamaan wudhu yang diiringi dengan mengerjakan sholat      sesudahnya</li>
<li>Amal ketaatan disandarkan kepada manusia, dan dia mendapatkan      pahala atasnya. Artinya manusia tidak dalam keadaan dipaksa oleh Allah.      Begitu pula amal kedurhakaan. Ini adalah bantahan bagi Jabriyah</li>
<li>Amal kebaikan bisa menghapus dosa</li>
<li>Pengagungan para sahabat terhadap ayat-ayat Allah <em>ta&#8217;ala</em></li>
<li>Allah berada di atas</li>
<li>Wudhu yang dilakukan oleh manusia itu bertingkat-tingkat, ada      yang bagus dan ada yang tidak</li>
<li>Para salaf senantiasa berupaya untuk bertindak dan bersikap      sebagaimana apa yang ditunjukkan oleh dalil.</li>
<li>Keutamaan ilmu salaf, dimana ilmu mereka lebih dalam dan      melahirkan amalan serta rasa takut kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em></li>
<li>Perintah untuk berwudhu ketika hendak sholat</li>
<li>Anjuran untuk mengulangi wudhu setiap kali hendak mengerjakan      sholat</li>
<li>Dorongan untuk mempelajari adab-adab wudhu dan      syarat-syaratnya, mengamalkannya, berhati-hati di dalamnya, dan      bersemangat dalam melakukan wudhu sebaik-baiknya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [3/111] dalam bentuk pdf)</li>
<li>Menjauhkan diri dari laknat Allah dengan melaksanakan      perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya</li>
<li>Menyampaikan ilmu (dakwah) merupakan sebab datangnya rahmat      Allah</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/menjauhkan-diri-dari-laknat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
