<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dakwah Tauhid</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 May 2013 00:46:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Belajar Kaidah Bahasa Arab Untuk Pemula</title>
		<link>http://abumushlih.com/belajar-kaidah-bahasa-arab-untuk-pemula.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/belajar-kaidah-bahasa-arab-untuk-pemula.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 00:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Baca Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Kursus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[pelajar]]></category>
		<category><![CDATA[Shorof]]></category>
		<category><![CDATA[UMY]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2976</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Rujukan: At-Tas’hil Fii Ma’rifat Qawa’id Lughat at-Tanziil Intensitas pertemuan 3x sepekan Waktu: Rabu, Sabtu, dan Ahad pagi jam 05.45-06.45 Tempat: Masjid Al-MubarakTegalrejo (keluar gerbang utama UMY ikuti JALUR ring road +- 400m ke Utara) Registrasi 10 ribu Silahkan daftar &#8230; <a href="http://abumushlih.com/belajar-kaidah-bahasa-arab-untuk-pemula.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Kitab Rujukan: At-Tas’hil Fii Ma’rifat Qawa’id Lughat at-Tanziil</p>
<p>Intensitas pertemuan 3x sepekan</p>
<p><span id="more-2976"></span></p>
<p>Waktu: Rabu, Sabtu, dan Ahad pagi jam 05.45-06.45</p>
<p>Tempat: Masjid Al-MubarakTegalrejo (keluar gerbang utama UMY ikuti JALUR ring road +- 400m ke Utara)</p>
<p>Registrasi 10 ribu</p>
<p>Silahkan daftar via sms ketikDAFTARNAMAJurusan/Pekerjaan<br />
kirim ke 0877 3949 4717 *</p>
<p>*s/d tanggal 21 Mei 2013/ 11 Rajab 1434 H</p>
<p>Brifing: Rabu 22 Mei 2013 Pkl. 05.45-06.45 WIB di Masjid al-Mubarok</p>
<p>Penyelenggara:<br />
FORSIM (Forum Studi Islam Mahasiswa)<br />
Jl.Lingkar Selatan Gg.Kenanga No.11B<br />
(Komp.Masjid Al-Mubarak) RT 02 Tegalrejo<br />
Tamantirto Kasihan Bantul DIY 55183</p>
<p>INFO &amp; REGISTRASI :<br />
0877 3949 4717<br />
0852 9269 4038</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/belajar-kaidah-bahasa-arab-untuk-pemula.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah ila Allah atau ila Ri&#8217;aasah?</title>
		<link>http://abumushlih.com/dakwah-ila-allah-atau-ila-riaasah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dakwah-ila-allah-atau-ila-riaasah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Apr 2013 14:23:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Harokah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Haroki]]></category>
		<category><![CDATA[Parlemen]]></category>
		<category><![CDATA[Partai]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Penguasa]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2972</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, kekasih dan pilihan-Nya, seorang tokoh pembawa lentera hidayah dan sosok da&#8217;i yang mengajak kepada jalan-Nya. Amma ba&#8217;du. Kaum muslimin yang dirahmati Allah, salah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/dakwah-ila-allah-atau-ila-riaasah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, kekasih dan pilihan-Nya, seorang tokoh pembawa lentera hidayah dan sosok da&#8217;i yang mengajak kepada jalan-Nya. <i>Amma ba&#8217;du</i>.</p>
<p><span id="more-2972"></span></p>
<p>Kaum muslimin yang dirahmati Allah, salah satu keistimewaan pengikut Rasul <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> adalah berdakwah -mengajak manusia- kepada jalan Allah; kepada Islam, kepada tauhid, sunnah, dan keimanan.</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman-Nya di dalam Kitab-Nya yang agung (yang artinya), “Katakanlah [Muhammad]: Inilah jalanku, aku mengajak [berdakwah] untuk [menghamba] kepada Allah, di atas bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan Maha suci Allah, sama sekali aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)</p>
<p>Memang, dakwah merupakan salah satu sumber keberuntungan dan kesuksesan, tidaklah hal itu diragukan. Sebab, Allah <i>ta&#8217;ala</i> telah menyatakan (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3)</p>
<p>Di dalam surat yang ringkas ini, Allah menggambarkan kepada kita bahwa jalan menuju keberuntungan ditopang oleh 4 perkara -sebagaimana disinyalir oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi <i>rahimahullah</i>- yaitu; ilmu, amal, dakwah, dan sabar. Bahkan, keempat hal ini tergolong perkara yang wajib untuk dipelajari dan diterapkan dalam hidup ini.</p>
<p>Diantara keempat hal itu, dakwah telah menempati posisi yang sangat agung dalam dunia pencerahan dan tarbiyah generasi. Sebab ilmu dan amal tak akan tertanam dan tersebar tanpa dakwah yang gigih dan terarah. Mereka -yang teguh di jalan dakwah ini- memegang erat slogan yang diisyaratkan oleh Imam al-Bukhari <i>rahimahullah</i> di dalam Sahih-nya, “Orang yang membina manusia dengan ilmu-ilmu yang kecil/dasar sebelum ilmu-ilmu yang besar.”</p>
<p>Namun, yang menjadi masalah adalah ketika dakwah dan tarbiyah itu telah mengalami salah arah, salah prioritas dan mengalami distorsi kepentingan. Dakwah yang pada awalnya ditegakkan di atas pilar-pilar tauhid, iman, sunnah, dan keikhlasan, lambat laun bergeser dan memudar menjadi ajakan kepada sekelompok pihak dan kekuasaan [baca: ar-Ri'aasah; kepemimpinan, bhs. Arab]. Aduhai, betapa malangnya bahtera dakwah&#8230; Ketika suara dan kursi sudah menjadi bidikan dan target kemenangan&#8230;</p>
<p>Seolah-olah mereka lupa sebuah ayat yang dahulu mereka tetapkan dalam manhaj dakwahnya. Yaitu firman Allah (yang artinya), “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak [manusia] kepada Allah dan beramal salih, seraya mengatakan: Sesungguhnya aku ini termasuk golongan orang-orang yang pasrah/muslim.” (QS. Fushshilat: 33)</p>
<p>Inilah ayat dakwah yang dahulu selalu mereka junjung tinggi. Inilah ayat motivasi yang menggerakkan hati dan pikiran mereka untuk berkhidmat untuk agama dan negeri ini. Namun, seolah-olah sepatah kata di dalamnya telah tercabut dari ingatan mereka&#8230; yaitu kata-kata <i>man da&#8217;aa ila Allaah</i>&#8230; [orang yang mengajak -manusia- kepada Allah]; bukan kepada kelompok atau partainya, bukan kepada kekuasaan dan bendera&#8230;</p>
<p>Subhanallah!  <i>Ikhwati fillah</i>&#8230; saudaraku seagama dan seakidah.. Jalan dakwah ini terlalu mulia dan terlalu mahal untuk ditukar dengan onggokan kartu suara ataupun dunia dan seisinya. Tidakkah <i>antum</i> [anda] ingat, cobaan berat yang menimpa sebagian sahabat Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> di awal perjalanan dakwah Islam yang menuai kontroversi dan cemoohan -bahkan permusuhan- dari para pemuka Kafir Quraisy.</p>
<p>Lihatlah, apa yang menimpa sahabat Khubaib bin &#8216;Adi <i>radhiyallahu&#8217;anhu</i> -sebagaimana dituturkan Syaikh Shalih as-Suhaimi dalam sebuah ceramahnya- ketika dikatakan kepadanya oleh orang kafir Quraisy yang saat itu siap menebaskan pedang ke lehernya, “Wahai Khubaib, maukah engkau apabila Muhammad yang menggantikan posisimu saat ini?”. Simaklah, apa yang dilontarkan oleh seorang Sahabat yang mulia ini -sosok yang telah ter-shibghah dengan iman dan mengerti betapa tingginya nilai Islam dan tauhid yang ia perjuangkan-. Beliau berkata, “Demi Allah, tidak! Meskipun hanya satu duri yang melukai tubuhnya; aku tidak mau beliau yang mengalaminya.” Allahu akbar!!</p>
<p>Aduhai, saudaraku yang mulia&#8230; Tidakkah engkau ingat sabda Nabi kita <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>, “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim)</p>
<p>Lupakah engkau akan nasihat dan bimbingan beliau <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>, “Bersegeralah kalian melakukan amal-amal [ketaatan] sebelum datangnya fitnah-fitnah [kekacauan] seperti potongan malam yang gelap gulita; pada pagi hari seorang beriman namun sore harinya menjadi kafir; atau sore hari beriman lalu pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.” (HR. Muslim)</p>
<p>Hilangkah dari ingatan dan catatanmu sabda Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> yang dahulu dihafalkan dan dipelajari dalam program-program tarbiyah, “Sesungguhnya amalan dinilai dengan niat. Dan setiap orang hanya akan mendapatkan balasan selaras dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dia gapai atau wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya hanya akan mendapat balasan seperti apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>“Akhi, jangan berburuk sangka.” Tak jarang, kalimat inilah yang muncul ketika nasehat dan teguran diberikan kepada sebagian orang. Padahal, sesungguhnya bukanlah wilayah hati dan perkara niat yang sedang kita persoalkan. Namun, pokok permasalahan [baca; penyimpangan manhaj] yang telah menyeret sebagian da&#8217;i kepada kepentingan-kepentingan sesaat dan menjauhkan mereka dari Kitab dan Sunnah Nabi-Nya <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>; itulah yang kita khawatirkan dan mendapatkan perhatian serius dari para ulama Islam.</p>
<p><b>Kita Harus Sabar, <i>Akhi</i> (Saudaraku)&#8230;!</b></p>
<p>Saudaraku -semoga Allah tambahkan taufik dan hidayah-Nya kepada aku dan kamu- menemukan jalan Islam dan manhaj yang haq adalah anugerah yang tak selayaknya kita sia-siakan. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Dengan karunia dari Allah dan rahmat-Nya, dengan hal yang semacam itulah hendaknya mereka bergembira. Hal itu jauh lebih baik daripada apa-apa [dunia] yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)</p>
<p>Apabila kita serius mengejar ridha Allah dan surga-Nya, tentulah akan ringan bagi kita untuk menundukkan akal, perasaan, dan kepentingan kelompok kita kepada firman Allah, sabda Nabi-Nya <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>, dan manhaj para salaf yang mulia <i>ridhwanullahi &#8216;alaihim ajma&#8217;in</i> . Bukankah, Allah telah menceritakan dalam firman-Nya (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun pasti ridha kepada-Nya&#8230;” (QS. At-taubah: 100)</p>
<p>Bukankah bagi anda, “Allah adalah ghoyah kami”, “Muhammad adalah qudwah kami”, dan “al-Qur&#8217;an adalah undang-undang kami”&#8230; Sungguh betapa mulia dan indah jika kita tulus dan serius mewujudkan semboyan ini dalam realita, bukan hanya sekedar teriakan dan slogan pembakar semangat massa dan pemantik perasaan kaum hawa&#8230;</p>
<p>“Kita harus sabar, akhi&#8230; Tidak bisa umat berubah secara langsung begitu saja. Kita harus berjuang dengan segala sarana yang ada.” Ya, benar! Kesabaran di dalam dakwah mutlak dibutuhkan. Dan kesungguhan dalam dakwah pun perkara yang dituntut dengan syarat harus tetap berjalan di bawah naungan al-Qur&#8217;an [fi zhilalil Qur'an] dan tentu saja dengan mengikuti bimbingan as-Sunnah dan atsar para salafus shalih&#8230;</p>
<p>Bukankah Allah <i>jalla wa &#8216;ala</i> telah memerintahkan (yang artinya), “Jika kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 59)</p>
<p>Bukankah Allah <i>jalla dzikruhu</i> juga memperingatkan (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul itu dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 115)</p>
<p>Allah, Rasul, dan al-Qur&#8217;an al-Karim menyeru anda dan kita semua untuk kembali ke jalan yang lurus [shirathal mustaqim] dan meninggalkan jalan hizbu asy-Syaithan [pengikut setan]; yaitu jalan bid&#8217;ah dan perpecahan, jalan hawa nafsu dan penyimpangan. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan [yang lain] karena akan mencerai-berikan kalian dari jalan-Nya.” (QS. Al-An&#8217;aam: 153)</p>
<p>al-Qur&#8217;an lah yang akan membawa umat ini kepada kemuliaan, bukan kotak suara, bendera fanatisme, atau kursi kekuasaan. Rasul <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan sebagian kaum dengan Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)</p>
<p>Ini hanyalah sebuah renungan, yang mengingatkan penulis akan sebuah ayat yang ditulis dalam stiker kampanye seorang aktifis dakwah kampus yang mencalonkan diri sebagai presiden mahasiswa di sebuah universitas beberapa tahun yang silam. Sebuah ayat yang menuntut kita untuk tunduk kepada Allah dan menyingkirkan berbagai kepentingan yang menodai kesucian syari&#8217;at-Nya. Allah menceritakan ucapan Nabi Syu&#8217;aib <i>&#8216;alaihis salam</i> kepada kaumnya (yang artinya), “Tidaklah aku bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan sekuat kemampuanku. Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.” (QS. Huud: 88)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dakwah-ila-allah-atau-ila-riaasah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Mutiara Kalam Ilahi [Bagian 4]</title>
		<link>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-4.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-4.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Apr 2013 14:52:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Hasad]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sesat]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2968</guid>
		<description><![CDATA[Hanya Allah Tumpuan Pertolongan [31] Allah ta&#8217;ala berfirman, وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ “Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang beriman bertawakal.” (QS. Ali &#8216;Imran: 160) Setiap Orang Pasti Mati [32] Allah ta&#8217;ala berfirman, كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “Setiap yang berjiwa pasti &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-4.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>Hanya Allah Tumpuan Pertolongan</b></p>
<p>[31] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ</strong></p>
<p>“Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang beriman bertawakal.” (QS. Ali &#8216;Imran: 160)</p>
<p><span id="more-2968"></span></p>
<p><b>Setiap Orang Pasti Mati</b></p>
<p>[32] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ</strong></p>
<p>“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali &#8216;Imran: 185)</p>
<p><b>Larangan Berbuat Syirik</b></p>
<p>[33] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا</strong></p>
<p>“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 36)</p>
<p><b>Larangan Hasad</b></p>
<p>[34] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ</strong></p>
<p>“Apakah mereka merasa dengki terhadap karunia yang Allah berikan kepada mereka [orang lain] dari keutamaan-Nya.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 54)</p>
<p><b>Kembali Kepada al-Kitab dan as-Sunnah</b></p>
<p>[35] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ</strong></p>
<p>“Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu hal maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 59)</p>
<p><b>Lemahnya Tipu Daya Setan</b></p>
<p>[36] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا</strong></p>
<p>“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 76)</p>
<p><b>Ketaatan Kepada Allah</b></p>
<p>[37] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ</strong></p>
<p>“Barangsiapa yang taat kepada rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 80)</p>
<p><b>Musuh Yang Nyata</b></p>
<p>[38] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا</strong></p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang kafir adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 101)</p>
<p><b>Keunggulan Umat Islam</b></p>
<p>[39] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ</strong></p>
<p>“Jika kalian terluka maka sesungguhnya mereka [musuh Islam] pun terluka sebagaimana kalian. Akan tetapi kalian mengharap dari Allah sesuatu [balasan] yang tidak mereka harapkan.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 104)</p>
<p><b>Kesesatan Yang Amat Jauh</b></p>
<p>[40] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا</strong></p>
<p>“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat jauh.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 116)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-4.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Mutiara Kalam Ilahi [Bagian 3]</title>
		<link>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-3.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-3.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Apr 2013 03:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Imran]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Perpecahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmat Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Terbaik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2965</guid>
		<description><![CDATA[Hanya Islam Yang Benar [21] Allah ta&#8217;ala berfirman, إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ “Sesungguhnya agama [yang benar] di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali &#8216;Imran: 19) Allah Pasti Mengetahui [22] Allah ta&#8217;ala berfirman, قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-3.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>Hanya Islam Yang Benar</b></p>
<p>[21] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya agama [yang benar] di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali &#8216;Imran: 19)</p>
<p><span id="more-2965"></span></p>
<p><b>Allah Pasti Mengetahui</b></p>
<p>[22] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ</strong></p>
<p>“Katakanlah: Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada kalian atau kalian menampakkannya Allah pasti mengetahuinya.” (QS. Ali &#8216;Imran: 29)</p>
<p><b>Bukti Ketulusan Cinta</b></p>
<p>[23] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ</strong></p>
<p>“Katakanlah: Jika kalian mengaku mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali &#8216;Imran: 31)</p>
<p><b>Jalan Yang Lurus</b></p>
<p>[24] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali &#8216;Imran: 51)</p>
<p><b>Hanya Islam Yang Diterima</b></p>
<p>[25] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</strong></p>
<p>“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima dan di akhirat dia akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali &#8216;Imran: 85)</p>
<p><b>Puncak Kebajikan</b></p>
<p>[26] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ</strong></p>
<p>“Kalian tidak akan mencapai kebajikan sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai. Dan apa pun yang kalian infakkan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Ali &#8216;Imran: 92)</p>
<p><b>Mati di Atas Tauhid</b></p>
<p>[27] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ</strong></p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali &#8216;Imran: 102)</p>
<p><b>Jangan Berpecah Belah</b></p>
<p>[28] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا</strong></p>
<p>“Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah.” (QS. Ali &#8216;Imran: 103)</p>
<p><b>Karakter Umat Terbaik</b></p>
<p>[29] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ</strong></p>
<p>“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, kalian memarintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar, dan kalian beriman kepada Allah.” (QS. Ali &#8216;Imran: 110)</p>
<p><b>Jalan Meraih Rahmat Allah</b></p>
<p>[30] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ</strong></p>
<p>“Taatlah kepada Allah dan Rasul mudah-mudahan kalian mendapatkan rahmat.” (QS. Ali &#8216;Imran: 132)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-3.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Mutiara Kalam Ilahi [Bagian 2]</title>
		<link>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-2.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-2.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2013 03:52:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[al-Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Imran]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kalamullah]]></category>
		<category><![CDATA[Makna Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Ayat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2963</guid>
		<description><![CDATA[Tegakkan Sholat [11] Allah ta&#8217;ala berfirman, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku&#8217;-lah [sholatlah] bersama orang-orang yang ruku&#8217;.” (QS. Al-Baqarah: 43) Allah Maha Tahu [12] Allah ta&#8217;ala berfirman, أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-2.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>Tegakkan Sholat</b></p>
<p>[11] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ</strong></p>
<p>“Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku&#8217;-lah [sholatlah] bersama orang-orang yang ruku&#8217;.” (QS. Al-Baqarah: 43)</p>
<p><span id="more-2963"></span><b>Allah Maha Tahu</b></p>
<p>[12] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ</strong></p>
<p>“Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan.” (QS. Al-Baqarah: 77)</p>
<p><b>Penghuni Surga</b></p>
<p>[13] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</strong></p>
<p>“Orang-orang beriman dan beramal salih, mereka itulah penduduk surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 82)</p>
<p><b>Dzikir dan Syukur</b></p>
<p>[14] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ</strong></p>
<p>“Inggatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)</p>
<p><b>Makan Yang Halal</b></p>
<p>[15] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ</strong></p>
<p>“Wahai umat manusia, makanlah apa yang di bumi ini yang halal dan baik, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 168)</p>
<p><b>Masuk Islam Secara Kaffah</b></p>
<p>[16] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ</strong></p>
<p>“Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 208)</p>
<p><b>Orang Yang Mengharap Rahmat Allah</b></p>
<p>[17] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218)</p>
<p><b>Kebaikan Yang Sangat Banyak</b></p>
<p>[18] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا</strong></p>
<p>“Barangsiapa yang diberikan hikmah [ilmu dan kepahaman] maka sungguh dia telah mendapatkan kebaikan yang sangat banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269)</p>
<p><b>Takutlah Dari Kiamat</b></p>
<p>[19] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ</strong></p>
<p>“Takutlah kalian akan suatu hari yang pada hari itu kalian dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 281)</p>
<p><b>Tidak Ada Yang Tersembunyi Bagi-Nya</b></p>
<p>[20] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya Allah tidaklah samar/tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” (QS. Ali &#8216;Imran: 5)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-2.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Mutiara Kalam Ilahi [Bagian 1]</title>
		<link>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-1.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-1.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Apr 2013 06:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kalam Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[Munafik]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Tadabbur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2961</guid>
		<description><![CDATA[Prinsip Seorang Muslim [1] Allah ta&#8217;ala berfirman, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mu [ya Allah] kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 4) Kebutuhan Setiap Mukmin [2] Allah ta&#8217;ala berfirman, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ “Tunjukilah kami jalan yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-1.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>Prinsip Seorang Muslim</b></p>
<p>[1] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</strong></p>
<p>“Hanya kepada-Mu [ya Allah] kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 4)</p>
<p><span id="more-2961"></span></p>
<p><b>Kebutuhan Setiap Mukmin</b></p>
<p>[2] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p>“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 5)</p>
<p><b>Nasihat Tidak Meresap</b></p>
<p>[3] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja bagi mereka; apakah engkau berikan peringatan kepada mereka atau tidak engkau beri peringatan. Mereka tidak mau beriman.” (QS. Al-Baqarah: 6)</p>
<p><b>Pengakuan Tanpa Bukti</b></p>
<p>[4] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ</strong></p>
<p>“Sebagian orang ada yang berkata: &#8216;Kami beriman kepada Allah dan hari akhir&#8217; padahal sesungguhnya mereka bukan kaum beriman.” (QS. Al-Baqarah: 8)</p>
<p><b>Perintah Tauhid Untuk Segenap Manusia</b></p>
<p>[5] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</strong></p>
<p>“Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian; Dzat yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)</p>
<p><b>Kabar Gembira Bagi Orang Beriman</b></p>
<p>[6] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ</strong></p>
<p>“Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal salih, bahwasanya mereka akan mendapatkan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai&#8230;” (QS. Al-Baqarah: 25)</p>
<p><b>Tidak Pandai Berterima Kasih</b></p>
<p>[7] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ</strong></p>
<p>“Bagaimana mungkin kalian justru kufur/ingkar kepada Allah sementara dahulu kalian adalah mati lalu Dia [Allah] yang menghidupkan kalian&#8230;” (QS. Al-Baqarah: 28)</p>
<p><b>Para Malaikat Tidak Malu Untuk Berkata &#8216;Tidak Tahu&#8217;</b></p>
<p>[8] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا</strong></p>
<p>“Mereka [malaikat] berkata: &#8216;Maha suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.&#8217;.” (QS. Al-Baqarah: 32)</p>
<p><b>Tidak Perlu Sedih dan Khawatir</b></p>
<p>[9] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ</strong></p>
<p>“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka mereka tidak perlu khawatir dan tidak pula mereka harus bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 38)</p>
<p><b>Jangan Campur Aduk Kebenaran dengan Kebatilan</b></p>
<p>[10] Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ</strong></p>
<p>“Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan kalian menyembunyikan kebenaran itu, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sepuluh-mutiara-kalam-ilahi-bagian-1.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Landasan Pokok Islam</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-landasan-pokok-islam.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-landasan-pokok-islam.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Apr 2013 02:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ushul Tsalatsah]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2957</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslimin yang dirahmati Allah, menjadi seorang muslim adalah kemuliaan. Kemuliaan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang telah mencicipi manisnya keimanan. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman, orang yang ridha Islam sebagai Rabb, Islam sebagai &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-landasan-pokok-islam.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Kaum muslimin yang dirahmati Allah, menjadi seorang muslim adalah kemuliaan. Kemuliaan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang telah mencicipi manisnya keimanan.</p>
<p><span id="more-2957"></span></p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman, orang yang ridha Islam sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib <i>radhiyallahu&#8217;anhu</i>)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya dan kelak di akhirat dia termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali &#8216;Imran: 85)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS. Al-Ma&#8217;idah: 3)</p>
<p>Islam tidaklah akan tegak kokoh di dalam jiwa seorang hamba tanpa tiga perkara; [1] mengenal Allah, [2] mengenal rasul, dan [3] mengenal agama Islam dengan landasan dalil. Ketiga hal inilah yang menjadi sebab keselamatan dunia dan di akhirat. Ketiga hal inilah yang akan membuat hamba bisa menjawab pertanyaan kubur, “Siapa Rabbmu”, “Siapa Nabimu”, dan “Apa Agamamu?”</p>
<p><b>Mengenal Allah</b></p>
<p>Mengenal Allah tidak sesederhana yang dikira. Banyak orang telah mengakui bahwa Allah pencipta alam semesta, yang mengatur dan menguasai segalanya. Akan tetapi bukan semacam itu hakikat mengenal Allah. Apabila keyakinan seperti itu telah mencukupi niscaya orang-orang musyrik di masa Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidak diperangi.</p>
<p>Yang dimaksud mengenal Allah yang sejati adalah dengan mentauhidkan-Nya. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu karena Allah adalah sesembahan yang benar, adapun segala yang diseru/disembah selain-Nya adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus sebelum engkau [Muhammad] seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan [yang benar] selain Aku, maka sembahlah Aku [saja].” (QS. Al-Anbiyaa&#8217;: 25)</p>
<p>Inilah yang terkandung dalam kalimat tauhid laa ilaha illallah; tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka wajib bagi setiap muslim untuk menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 36)</p>
<p>Oleh sebab itu, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> berpesan kepada sahabatnya, “Hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Inilah cabang keimanan yang paling tinggi. Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih cabang, dan yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah, yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh menujukan ibadahnya kepada selain Allah, apapun bentuknya; entah itu malaikat, nabi, wali, atau orang salih. Ibadah apa saja hanya boleh ditujukan kepada Allah, apakah itu berupa doa, sembelihan, nadzar, istighotsah, tawakal, isti&#8217;adzah [mencari perlindungan], dan lain sebagainya.</p>
<p>Semua ibadah adalah hak Allah, menujukannya kepada selain Allah adalah kezaliman; bahkan kezaliman terbesar di atas muka bumi ini. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)</p>
<p>Orang yang mempersekutukan Allah haram masuk surga dan kekal di dalam neraka. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong.” (QS. Al-Ma&#8217;idah: 72)</p>
<p><b>Mengenal Rasul</b></p>
<p>Mengenal Rasul bukan semata-mata mengenal nama, tempat kelahiran dan garis keturunannya. Bahkan yang paling utama dalam mengenal rasul ini adalah tunduk kepada ajaran dan tuntunan beliau. Sebab beliau adalah utusan Allah yang wajib dipatuhi perintahnya, dijauhi larangannya, dan dibenarkan berita-beritanya.</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 80)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia [Muhammad] berbicara dari hawa nafsunya akan tetapi tidaklah yang diucapkannya itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> juga berfirman (yang artinya), “Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintah rasul itu, bahwa dia akan tertimpa fitnah atau tertimpa azab yang sangat pedih.” (QS. An-Nuur: 63)</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang taat kepadaku niscaya dia masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Tidaklah mendengar tentangku seorang pun diantara umat ini, apakah Yahudi atau Nasrani kemudian dia tidak mau beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)</p>
<p>Termasuk di dalam kandungan mengenal rasul adalah dengan menjalankan syari&#8217;at dan hukum-hukumnya serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan tuntunannya. Sebab Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka pasti tertolak.” (HR. Muslim)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi lelaki yang beriman dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan lain dari urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)</p>
<p>Ibadah kepada Allah tidak akan diterima jika tidak sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang berharap perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)</p>
<p><b>Mengenal Islam</b></p>
<p>Islam adalah satu-satunya agama yang benar di sisi Allah. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali &#8216;Imran: 19)</p>
<p>Islam ditegakkan di atas dalil al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu wajib memulangkan segala perselisihan dalam hal agama kepada keduanya. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah [al-Qur'an] dan Rasul [as-Sunnah] jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu adalah yang terbaik dan lebih bagus hasilnya.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 59)</p>
<p>Islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali menjadi terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing; yaitu yang menghidupkan ajaran-ajaran nabi tatkala umat manusia telah hanyut dalam kesesatan dan penyimpangan. Rasul <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim)</p>
<p>Hakikat Islam adalah pasrah kepada Allah semata dengan bertauhid, patuh kepada-Nya dengan penuh ketaatan, serta berlepas diri dari syirik, bid&#8217;ah dan pelakunya. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari kalian dan telah tampak jelas antara kami dengan kalian permusuhan, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)</p>
<p>Islam yang benar adalah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> dan dilanjutkan oleh para sahabat <i>radhiyallahu&#8217;anhum</i>. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Orang-orang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshor, demikian pula orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun pasti ridha kepada-Nya&#8230;” (QS. At-Taubah: 100)</p>
<p>Inilah ketiga pokok ajaran Islam yang semestinya dimengerti oleh setiap muslim dan muslimah. <i>Wallahu a&#8217;lam bish shawaab</i>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-landasan-pokok-islam.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman Kepada Jibt dan Thaghut</title>
		<link>http://abumushlih.com/iman-kepada-jibt-dan-thaghut.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/iman-kepada-jibt-dan-thaghut.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 03:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dukun]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kekafiran]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Sihir]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Thaghut]]></category>
		<category><![CDATA[Thoghut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2955</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman, أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِّنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ “Bagaimanakah pendapatmu mengenai orang-orang yang diberikan kepada mereka sebagian dari al-Kitab [ahli kitab], akan tetapi mereka itu justru beriman kepada jibt dan thaghut&#8230;” (QS. An-Nisaa&#8217;: 51) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/iman-kepada-jibt-dan-thaghut.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman,</p>
<p><strong>أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِّنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ</strong></p>
<p>“Bagaimanakah pendapatmu mengenai orang-orang yang diberikan kepada mereka sebagian dari al-Kitab [ahli kitab], akan tetapi mereka itu justru beriman kepada jibt dan thaghut&#8230;” (QS. An-Nisaa&#8217;: 51)</p>
<p><span id="more-2955"></span></p>
<p><b>Tafsir Istilah Jibt dan Thaghut</b></p>
<p>Umar bin al-Khaththab <i>radhiyallahu&#8217;anhu</i> menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan istilah jibt adalah sihir, sedangkan yang dimaksud dengan thaghut adalah setan. Ini pula penafsiran yang dipilih oleh asy-Sya&#8217;bi dan Mujahid (lihat <i>Ibthal at-Tandid</i>, hal. 147, <i>Ma&#8217;alim at-Tanzil</i>, hal. 310, dan <i>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</i> [2/334])</p>
<p>Muhammad bin Sirin dan Mak-hul menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan istilah jibt di dalam ayat ini adalah kahin/dukun, sedangkan thaghut adalah penyihir. Ibnu &#8216;Abbas, Sa&#8217;id bin Jubair dan Abul &#8216;Aliyah mengatakan bahwa kata jibt berasal dari bahasa Habasyah/Ethiopia yang bermakna penyihir, sedangkan thaghut adalah dukun. Qotadah menafsirkan, bahwa jibt adalah setan, sedangkan thaghut adalah dukun (lihat <i>Ma&#8217;alim at-Tanzil</i>, hal. 310 dan <i>al-Jami&#8217; li Ahkam al-Qur&#8217;an</i> [6/411 dan 412])</p>
<p>al-Jauhari -seorang pakar bahasa- berkata, bahwa jibt adalah istilah yang mencakup berhala/patung, kahin/dukun, penyihir, dan yang serupa dengannya. Adapun pengertian thaghut yang paling bagus adalah segala sesuatu yang membuat hamba melampaui batas dengan cara disembah, diikuti, atau dipatuhi; sebagaimana definisi yang disampaikan Ibnul Qayyim<i>. </i>Imam Malik menafsirkan, bahwa thaghut adalah segala yang disembah selain Allah (lihat <i>Ibthal at-Tandid</i>, hal. 147 dan <i>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</i> [2/334 dan 235])</p>
<p><b>Maksud Ayat Di Atas</b></p>
<p>Syaikh Shalih bin Abdul &#8216;Aziz alusy Syaikh <i>hafizhahullah</i> menerangkan, bahwa ayat di atas berisi celaan kepada ahli kitab yang justru beriman kepada ajaran sihir; sehingga hal itu membuat Allah melaknat dan murka kepada mereka. Dikarenakan praktek sihir banyak tersebar di tengah-tengah mereka, oleh sebab itu Allah pun mencela mereka. Hal ini menunjukkan bahwa sihir termasuk perbuatan yang diharamkan dan dosa besar (lihat dalam <i>at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid</i>, hal. 301)</p>
<p>Syaikh Abdul &#8216;Aziz bin Baz <i>rahimahullah</i> menjelaskan, bahwa ayat ini bercerita tentang kaum Yahudi yang beriman kepada jibt yaitu sihir, dan mereka juga beriman kepada thaghut; yaitu setan. Para pakar bahasa menafsirkan bahwa jibt adalah sesuatu yang tidak mengandung kebaikan sama sekali semacam sihir, patung, dan lain sebagainya. Adapun istilah thaghut berasal dari kata <i>thughyan</i> yang artinya melampaui batas&#8230; (lihat dalam <i>Syarh Kitab at-Tauhid</i> oleh beliau, hal. 125)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/iman-kepada-jibt-dan-thaghut.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Santet vs Harga Bawang</title>
		<link>http://abumushlih.com/santet-vs-harga-bawang.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/santet-vs-harga-bawang.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Apr 2013 22:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dukun]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[Santet]]></category>
		<category><![CDATA[Sihir]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2953</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan segenap makhluk untuk tunduk beribadah kepada-Nya. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan pembawa rahmat bagi seluruh alam. Amma ba&#8217;du. Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, kehidupan tak lepas dari cobaan. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/santet-vs-harga-bawang.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan segenap makhluk untuk tunduk beribadah kepada-Nya. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan pembawa rahmat bagi seluruh alam. <i>Amma ba&#8217;du</i>.</p>
<p><span id="more-2953"></span></p>
<p>Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, kehidupan tak lepas dari cobaan. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “[Allah] yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> juga berfirman (yang artinya), “Apakah manusia itu dibiarkan untuk mengatakan; “Kami beriman” lantas mereka tidak diuji.” (QS. Al-&#8217;Ankabut: 2)</p>
<p><b>Fitnah Kemusyrikan</b></p>
<p>Diantara bentuk ujian dan cobaan yang Allah berikan di atas muka bumi ini adalah segala bentuk kekafiran dan kemusyrikan. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Dan perangilah mereka itu [orang-orang musyrik] sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama [ketaatan] itu seluruhnya murni untuk Allah.” (QS. Al-Anfal: 39)</p>
<p>Yang dimaksud dengan &#8216;fitnah&#8217; di dalam ayat di atas adalah kesyirikan. Imam Ibnu Jarir <i>rahimahullah</i> berkata, “Artinya perangilah mereka sampai tidak ada lagi kesyirikan dan tidak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya; sehingga dengan sebab itulah akan terangkat bencana dari hamba-hamba Allah di atas bumi ini&#8230;” (lihat dalam <i>Fiqh al-Fitan</i>, hal. 36-37 karya Dr. Abdul Wahid al-Idrisi)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 217). Mujahid <i>rahimahullah</i> menafsirkan bahwa yang dimaksud &#8216;fitnah&#8217; di dalam ayat ini adalah kekafiran (lihat <i>al-Jami&#8217; li Ahkam al-Qur&#8217;an</i> [3/427]). Imam al-Baghawi <i>rahimahullah</i> menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan istilah &#8216;fitnah&#8217; di dalam ayat tersebut adalah kesyirikan (lihat <i>Ma&#8217;alim at-Tanzil</i>, hal. 121)</p>
<p>Tentu, setiap muslim akan merasa gerah apabila syirik dibiarkan dan kekafiran merajalela. Sebab syirik adalah dosa terbesar, kemaksiatan paling buruk, dan kezaliman tertinggi yang harus diberantas dari permukaan bumi ini. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan akan mengampuni dosa di bawahnya bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 48)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> juga menegaskan (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah telah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma&#8217;idah: 72). Allah <i>ta&#8217;ala</i> juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)</p>
<p><b>Sepak Terjang Dukun Di Negeri Kita</b></p>
<p>Perdukunan adalah bagian tak terpisahkan dari kejahatan syirik yang berkembang di tengah umat manusia. Tradisi perdukunan di muka bumi ini memang sudah berurat berakar dan sangat sulit untuk diberantas. Tidak terkecuali di negeri-negeri Islam seperti halnya Indonesia yang kita cintai ini (lihat <i>Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita</i>, hal. 93)</p>
<p>Para dukun yang lebih senang disebut sebagai ahli hikmah, orang pinter, paranormal, hiper metafisik dan nama keren lainnya ini, tidak lagi membuka praktek di kampung-kampung. Tetapi di tempat-tempat elit seperti perhotelan, membuka studio tempat praktek sekaligu sebagai kantornya atau bahkan ada yang berani membuka pesantren untuk mengelabui para pasiennya. Mereka juga berani melakukan seminar-seminar ilmiah dan beriklan di media cetak dan elektronik dan bahkan lewat internet (lihat <i>Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita</i>, hal. 94)</p>
<p>Diantara bentuk layanan yang ditawarkan dukun adalah jasa santet dan pertenungan dengan berbagai ragam model akibat yang diderita oleh korban yang ditenung, sejak gangguan jiwa, perpecahan keluarga, bahkan sampai bagaimana caranya agar berakibat meninggal dunia (lihat <i>Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita</i>, hal. 102)</p>
<p><b>Sihir dan Dukun Meresahkan Masyarakat</b></p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan..” diantaranya beliau sebutkan, “Syirik kepada Allah dan sihir.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu&#8217;anhu</i>)</p>
<p>Syaikh Shalih bin Abdul &#8216;Aziz alusy Syaikh <i>hafizhahullah</i> menyatakan, bahwa sihir termasuk salah satu bentuk syirik akbar (lihat <i>at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid</i>, hal. 296)</p>
<p>Hakikat sihir itu adalah meminta bantuan kepada setan dalam memberikan pengaruh [buruk] kepada tubuh orang yang disihir. Seorang penyihir bisa menerapkan sihirnya dengan cara mendekatkan diri [baca; beribadah] kepada setan. Apabila tukang sihir telah menghamba kepada setan maka setan dari bangsa jin akan memberikan bantuan dalam rangka mempengaruhi tubuh orang yang disihir. Setiap tukang sihir pasti memiliki khodim [pembantu] dari kalangan setan [jin]. Dan penyihir tidak akan bisa memberikan pengaruh secara nyata kepada orang yang disihir tanpa mengabdi kepada setan. Oleh sebab itulah sihir termasuk dalam kategori kesyirikan (lihat <i>at-Tam-hid</i>, hal. 297)</p>
<p>Syaikh Shalih alusy Syaikh berkata, “Bahkan saya pernah membaca di dalam sebagian kitab sihir, saya menemukan bahwasanya seorang penyihir -sebagaimana yang digambarkan oleh sang penulis buku itu- tidak akan bisa mencapai hakikat sihir dan memperoleh bantuan jin sebagaimana yang diharapkan kecuali setelah dia menghinakan al-Qur&#8217;an, melecehkan Mushaf, sampai dia mau kufur kepada Allah, mencela Allah <i>jalla wa &#8216;ala</i> dan nabi-Nya <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>. Demikian ini pula yang dituturkan oleh sebagian orang yang mencermati hakikat sebenarnya mengenai hal itu.” (lihat <i>at-Tam-hid</i>, hal. 297)</p>
<p>Dukun [kahin] yaitu orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib pun memiliki relasi yang kuat dengan setan. Mereka [dukun] akan melakukan pemujaan kepada setan -apakah dengan cara bersujud atau memberikan sembelihan- demi mendapatkan informasi yang mereka inginkan; semisal lokasi barang yang hilang atau dicuri orang (lihat <i>I&#8217;anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid</i> [1/475] karya Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan)</p>
<p><b>Sihir Memang Ada dan Berbahaya</b></p>
<p>Sihir dalam pembicaraan syari&#8217;at terbagi menjadi dua macam; sihir yang hakiki dan sihir berupa khayalan. Sihir hakiki bisa mempengaruhi badan atau hati, sehingga bisa menyebabkan jatuh sakit bahkan kematian. Demikian pula sihir yang hakiki bisa membuat orang merasa melakukan sesuatu padahal dia tidak melakukannya. Termasuk dalam kategori sihir hakiki adalah yang menyebabkan orang cinta menjadi benci atau sebaliknya [baca; pelet], begitu pula yang membuat suami istri menjadi bercerai. Adapun sihir khayalan adalah yang mempengaruhi pandangan atau penglihatan saja sehingga orang akan melihat sesuatu tidak sebagaimana kenyataannya (lihat <i>Durus fi Syarh Nawaqidh al-Islam</i>, hal. 142-143 oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah)</p>
<p>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <i>hafizhahullah</i> juga memaparkan, bahwa sihir membawa dampak yang merusak bagi masyarakat. Sebab dengan adanya sihir akan mengobarkan permusuhan, kebencian dan keburukan di tengah-tengah manusia. Oleh sebab itu tidak boleh membiarkan penyihir berkembang di tengah masyarakat islam dalam bentuk apapun juga. Sihir adalah kemungkaran serta wajib untuk diingkari dan dilenyapkan. Sudah semestinya negeri-negeri kaum muslimin dibersihkan dari kejahatan semacam ini (lihat <i>Durus fi Syarh Nawaqidh al-Islam</i>, hal. 151-152)</p>
<p>Dalam kesempatan lain Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan <i>hafizhahullah</i> juga menegaskan, bahwa sihir adalah sesuatu yang hakiki [nyata] dan bisa memberikan pengaruh kepada badan orang yang disihir. Meskipun demikian pengaruh itu hanya akan bisa muncul dengan takdir Allah; tidak berjalan dengan sendirinya di luar kekuasaan-Nya. Kedua macam sihir di atas -baik yang hakiki maupun khayalan- adalah perbuatan yang sama-sama diharamkan (lihat <i>I&#8217;anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid</i> [1/472])</p>
<p><b>Harga Bawang Menggoncang &#8216;Keimanan&#8217;</b></p>
<p>Sebagian orang -semoga Allah berikan taufik kepada mereka- memandang masalah santet [baca; sihir dan perdukunan] tidak lebih berbahaya dan tidak lebih meresahkan daripada problem harga bawang, <i>wallahul musta&#8217;aan</i>. Padahal, ayat-ayat di atas dengan jelas menunjukkan kepada kita besarnya bahaya syirik dan kekafiran; termasuk di dalamnya adalah sihir dan perdukunan [baca: santet, pelet, dkk].</p>
<p>Menurut sebagian orang, jika dukun menawarkan jasa pengobatan dengan ilmu gaib [baca; perdukunan dan sihir] maka hal itu tidak perlu dipermasalahkan, yang penting &#8216;kan tidak merugikan orang lain. Toh, mengobati orang adalah perkara positif dan bermanfaat; untuk apa dilarang?! Itulah cara berpikir yang mereka anut. Padahal, Islam tidak mengenal kaidah ala Yahudi; &#8216;tujuan menghalalkan segala cara&#8217;.</p>
<p>Di dalam Islam, tujuan yang baik harus diwujudkan dengan cara yang benar. Islam tidak mengenal prinsip ala Robin Hood; yang &#8216;membolehkan&#8217; merampas harta orang-orang kaya dalam rangka berbagi kepada kaum tertindas dan rakyat jelata.</p>
<p>Oleh sebab itu kami menghimbau diri kami dan kaum muslimin dimana pun berada untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dan melindungi aqidah dan tauhid kita agar tidak tercemar oleh kotoran syirik dan kekafiran serta kerancuan berpikir yang dihembus-hembuskan oleh musuh-musuh Islam; dari luar maupun dari dalam.</p>
<p><i>Kepada Allah jua kita bersandar dan meminta petunjuk. </i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/santet-vs-harga-bawang.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langkah-Langkah Untuk Bisa Membaca Kitab</title>
		<link>http://abumushlih.com/langkah-langkah-untuk-bisa-membaca-kitab.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/langkah-langkah-untuk-bisa-membaca-kitab.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2013 03:55:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Gundul]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Mufrodat]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Shorof]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2949</guid>
		<description><![CDATA[Allahumma yassir wa a&#8217;in. Membaca kitab gundul [tulisan arab tanpa harokat] adalah sebuah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap penimba ilmu syar&#8217;i dan para calon da&#8217;i. Kemampuan membaca kitab gundul akan sangat membantu setiap muslim dan muslimah dalam memahami dalil &#8230; <a href="http://abumushlih.com/langkah-langkah-untuk-bisa-membaca-kitab.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><i>Allahumma yassir wa a&#8217;in.</i></p>
<p>Membaca kitab gundul [tulisan arab tanpa harokat] adalah sebuah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap penimba ilmu syar&#8217;i dan para calon da&#8217;i. Kemampuan membaca kitab gundul akan sangat membantu setiap muslim dan muslimah dalam memahami dalil al-Kitab maupun as-Sunnah.</p>
<p><span id="more-2949"></span></p>
<p>Ilmu yang menopang kemampuan ini adalah nahwu dan shorof. Ilmu nahwu adalah ilmu kaidah bahasa arab yang membahas tentang keadaan akhir kata di dalam kalimat dan perubahan yang terjadi padanya. Adapun ilmu shorof adalah ilmu kaidah bahasa arab yang membahas pembentukan kata sebelum disusun ke dalam kalimat.</p>
<p>Kedua ilmu ini sangat penting untuk dipelajari. Dengan memahami ilmu nahwu seorang akan bisa membedakan antara pelaku [fa'il] dan objek [maf'ul bih]. Dengan memahami ilmu nahwu seorang akan mengenali keadaan akhir dari suatu kata; apakah ia bisa berubah akhirannya ataukah tetap. Dengan ilmu nahwu pula seorang akan bisa membaca akhir kata dengan benar; apakah ia harus dibaca dhommah, fat-hah, atau kasroh misalnya.</p>
<p>Ilmu shorof juga tidak kalah pentingnya. Karena dengan memahami shorof kita bisa mengetahui asal suatu kata dan pola-pola perubahannya. Suatu kata kerja bisa diubah menjadi kata benda. Suatu kata kerja aktif bisa diubah menjadi kata kerja pasif. Bagaimana cara membentuk kata perintah, dan lain sebagainya. Semua ini bisa dipelajari dalam ilmu shorof atau disebut juga ilmu tashrif.</p>
<p>Meskipun demikian kedua ilmu ini juga belum cukup untuk menjadi &#8216;senjata yang ampuh&#8217; untuk menaklukkan kitab-kitab gundul. Sebab di samping nahwu dan shorof, seorang penimba ilmu juga harus memiliki kosakata/mufrodat yang cukup untuk bisa berlatih membaca kitab. Namun, hal ini bukanlah masalah yang harus ditakuti.</p>
<p>Betapa banyak orang yang tadinya tidak mengenal bahasa arab sama sekali dan tidak menghafal mufrodat secara rutin dan terprogram namun berhasil meng-gondrongi [baca; mengharokati] tulisan arab gundul dan bahkan mampu menerjemahkannya. Tentu saja ini semua terwujud berkat taufik dan pertolongan Allah semata.</p>
<p>Selain itu, ada satu hal yang perlu untuk ditekankan di sini; bahwa kemampuan baca kitab ini tidak akan berarti apabila tidak digunakan dalam rangka mencapai tujuan yang benar, yaitu untuk memahami al-Kitab dan as-Sunnah. Oleh sebab itu sangat disarankan bagi para pemula untuk mencari majelis-majelis ilmu yang membahas kitab para ulama salaf. Dengan demikian dia akan terbiasa mendengar penjelasan, ungkapan, dan istilah para ulama; terlebih lagi dalam masalah aqidah dan tauhid yang itu merupakan perkara paling fundamental di dalam agama Islam.</p>
<p><b>Luruskan Niat</b></p>
<p>Dalam sebuah hadits yang sangat populer, dari &#8216;Umar bin al-Khaththab <i>radhiyallahu&#8217;anhu</i>, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang [yang beramal] akan dibalas selaras dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dia raih atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang sangat agung. Sebab di dalam hadits ini dipancangkan salah satu pondasi amalan; yaitu keikhlasan. Amal tidak akan diterima tanpanya. Amal apapun; apakah itu sholat, puasa, zakat, haji, demikian pula tholabul &#8216;ilmi/menuntut ilmu syar&#8217;i. Semuanya membutuhkan niat yang benar. Oleh sebab itu, sebagian ulama hadits mengawali karya mereka dengan hadits ini. Seperti Imam Bukhari <i>rahimahullah</i> dalam kitabnya Sahih al-Bukhari, demikian pula Imam Abdul Ghani al-Maqdisi <i>rahimahullah</i> dalam kitabnya &#8216;Umdatul Ahkam, dan Imam an-Nawawi <i>rahimahullah</i> dalam kitabnya Riyadhus Shalihin.</p>
<p><b>Tumbuhkan Semangat</b></p>
<p>Mempelajari ilmu bahasa arab adalah bagian dari ibadah dan termasuk ajaran agama. Karena memahami al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah adalah kewajiban; sementara kita tidak akan bisa memahami keduanya dengan baik kecuali dengan bahasa arab, maka mempelajari ilmu bahasa arab menjadi sebuah kewajiban yang sangat mulia.</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya akan dipahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu&#8217;awiyah <i>radhiyallahu&#8217;anhu</i>)</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> juga menegaskan, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu [agama] maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)</p>
<p><b>Cita-Cita Tinggi</b></p>
<p>Mempelajari bahasa arab bukanlah kebutuhan yang bersifat pribadi semata, bahkan ini adalah kebutuhan umat Islam dan umat manusia. Karena dengan memahami bahasa arab dan menggunakannya untuk memahami al-Kitab dan as-Sunnah seorang muslim akan bisa mengajak manusia ke jalan Allah di atas landasan ilmu/bashirah.</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku. Aku mengajak [kalian] kepada [agama] Allah di atas bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan maha suci Allah, aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa pengikut sejati Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> adalah orang yang berdakwah kepada Islam/tauhid di atas ilmu. Bukan berdakwah di atas kebodohan. Bukan berdakwah dengan semangat belaka tanpa modal ilmu. Ia berdakwah dengan ikhlas; mengajak manusia untuk menghamba kepada Allah saja, bukan menghamba kepada kepentingan dunia, kepentingan kelompok atau individu tertentu.</p>
<p><b>Mengatur Waktu</b></p>
<p>Waktu adalah nikmat yang sering dilalaikan. Banyak orang yang gagal dan binasa gara-gara tidak pandai memanfaatkan waktu. Kesempatan yang Allah berikan kepada seorang hamba di alam dunia ini semestinya digunakan sebaik-baiknya. Sebab hidup di dunia hanya sekali. Setelah itu akan ada kematian dan hari kebangkitan serta pembalasan amal.</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Dua buah kenikmatan yang banyak orang tertipu karenanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari dari Ibnu &#8216;Abbas <i>radhiyallahu&#8217;anhuma</i>)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> bahkan telah mengingatkan (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. Al-&#8217;Ashr: 1-3)</p>
<p>Surat yang ringkas ini menggambarkan kepada kita bahwa kerugian di alam dunia ini dialami oleh orang yang tidak membekali dirinya dengan keimanan, amal salih, dakwah, dan kesabaran. Orang yang tenggelam dalam kekafiran, syirik, kemaksiatan, kebid&#8217;ahan, dan hawa nafsu adalah barisan orang-orang yang merugi.</p>
<p>Oleh karenanya, seorang penuntut ilmu yang berusaha untuk memahami bahasa kitab sucinya untuk memanfaatkan waktu dan kesempatan yang Allah berikan kepadanya sebaik-baiknya. Mungkin anda punya waktu luang satu jam atau setengah jam setiap harinya yang bisa anda gunakan untuk membaca pelajaran dan mengulang-ulang materi yang telah diberikan. Sungguh itu adalah amalan yang sangat berharga bagi anda.</p>
<p><b>Fokus Terhadap Pelajaran dan Belajar Secara Bertahap</b></p>
<p>Terkadang dijumpai sebagian orang yang telah lama mengikuti pengajian dan bahkan sempat belajar bahasa arab berkali-kali akan tetapi masih saja belum bisa membaca kitab. Diantara sebab utama yang banyak terjadi di lapangan adalah dikarenakan tidak fokusnya mereka dalam belajar. Mereka bersemangat akan tetapi tidak mengerti bagaimana menyalurkan semangatnya. Sehingga mereka aktif pengajian kesana kemari namun ilmu bahasa arab dan kemampuan baca kitabnya tidak kunjung bertambah.</p>
<p>Tentu saja, yang kita maksudkan di sini adalah orang-orang yang masih memiliki kemampuan untuk belajar. Bukan orang yang sudah pikun yang sering lupa atau orang gila yang tidak sadar apa yang dia ucapkan atau lakukan. Sebab mereka adalah para pemuda dan belum memasuki jenjang lansia. Tidak jarang pula kita dapati mereka adalah orang yang aktif mengurus kajian dan menggerakkan berbagai kegiatan islam dan dakwah.</p>
<p>Ini merupakan fenomena memprihatinkan. Terlebih lagi jika kita cermati berbagai kasus berbau fanatisme golongan; tidak sedikit diantaranya yang dipicu oleh orang-orang yang tidak paham tentang ilmu-ilmu Islam yang mendasar, dan juga tidak paham bahasa arab. Mereka ikut andil dalam pergolakan dan perseteruan yang seolah tak berkesudahan.</p>
<p>Semata-mata karena sosok [baca: ustadz atau da'i] yang mereka ikuti berlainan. Padahal, ulamanya sama, kitabnya sama, dan aqidahnya pun sama. Mereka ingin menyelesaikan pertikaian dengan kebodohan dan semangat berapi-api yang tidak bisa membedakan antara berjihad dengan lisan dan berbuat jahat dengan ucapan.</p>
<p>Padahal, sebagaimana telah diungkapkan oleh Imam Bukhari <i>rahimahullah</i> dalam Sahihnya, ketika beliau menukil sebagian ucapan ulama salaf tentang makna istilah robbani. Beliau berkata, “Robbani adalah orang yang membina manusia dengan ilmu-ilmu yang kecil/dasar sebelum ilmu-ilmu yang besar.” Lantas, apakah kenyataan yang kita saksikan sama seperti apa yang digambarkan di dalam riwayat ini?</p>
<p>Para penimba ilmu yang dirahmati Allah, agama kita yang mulia ini sangat menghargai kehormatan para ulama. Seperti yang digambarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal <i>rahimahullah</i> di mukadimahnya dalam kitab ar-Radd &#8216;ala al-Jahmiyah; bahwa para ulama lah yang &#8216;menghidupkan&#8217; orang-orang yang telah mati [hatinya] dengan Kitabullah, mereka lah yang mengajak orang sesat kepada hidayah, mereka lah yang memberikan pencerahan kepada mereka yang buta [mata hatinya] dengan cahaya [ilmu] dari Allah. Mereka lah yang membersihkan Kitabullah dari ta&#8217;wil/penyelewengan orang-orang jahil, kedustaan para pembohong, dan menyingkirkan tahrif/penyimpangan orang-orang ekstrim.</p>
<p>Salah satu bentuk pemuliaan kita terhadap ilmu yang mereka bawa adalah dengan fokus dalam belajar dan bertahap dalam mempelajarinya. Sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat <i>radhiyallahu&#8217;anhum</i>. Mereka mempelajari sepuluh ayat al-Qur&#8217;an dan berusaha memahami ilmu, keimanan dan amal yang terdapat di dalamnya. Sehingga hidup mereka penuh dengan keberkahan. Ucapan dan amalan mereka pun menjadi teladan bagi generasi yang datang sesudahnya. Padahal, sebelumnya mereka terbenam dalam kejahiliyahan dan keburukan. Kemudian dengan Islam lah mereka dimuliakan.</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian orang dan akan merendahkan sebagian yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim dari &#8216;Umar bin al-Khaththab <i>radhiyallahu&#8217;anhu</i>)</p>
<p><b>Bacalah al-Qur&#8217;an!</b></p>
<p>Sebagaimana sudah ditegaskan di awal, bahwa tujuan belajar membaca kitab gundul adalah untuk memahami al-Kitab dan as-Sunnah. Oleh sebab itu sangat tidak pantas bagi seorang penuntut ilmu -yang mengharapkan kedekatan diri di sisi Rabbnya- untuk kemudian mengosongkan hari-harinya dari kegiatan membaca al-Qur&#8217;an dan men-tadabburinya.</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> telah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dari &#8216;Utsman bin &#8216;Affan <i>radhiyallahu&#8217;anhu</i>)</p>
<p>Membaca al-Qur&#8217;an adalah termasuk dzikir kepada Allah. Sementara dzikir kepada Allah akan menambah keimanan dan sebab datangnya pertolongan, hidayah dan keselamatan.</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Hanyalah orang-orang beriman itu adalah yang apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfaal: 2)</p>
<p>Allah <i>ta&#8217;ala</i> juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Bacalah Hadits!</b></p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> -sebagaimana kita yakini- adalah manusia yang menyampaikan wahyu Allah kepada kita. Beliau lah sebaik-baik manusia yang memahami tafsir al-Qur&#8217;an dan hukum-hukum Allah. Allah <i>ta&#8217;ala</i> berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati rasul, sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisaa&#8217;: 80)</p>
<p>Oleh sebab itu para ulama menerangkan, bahwa makna keimanan beliau sebagai rasul adalah; membenarkan beritanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, beribadah dengan tata-cara yang diajarkannya, dan berhukum dengan hukum-hukumnya.</p>
<p>Dengan demikian sudah semestinya seorang penuntut ilmu untuk meluangkan waktu membaca sabda-sabda manusia terbaik sepanjang masa. Menelaah lembaran-lembaran nasehat dan pelajaran yang beliau wariskan kepada kita umatnya. Bagaimana mungkin seorang penuntut ilmu -yang berusaha untuk memahami Kalam Rabbnya- kemudian berpaling dari memetik hikmah dan faidah dari hadits-hadits Nabi akhir zaman yang membawa rahmat bagi segenap alam? Semoga salawat dan salam tercurah kepadanya, para sahabat, dan segenap pengikut setia mereka.</p>
<p><b>Koleksi Kitab Ulama</b></p>
<p>Penimba ilmu al-Kitab dan as-Sunnah sangat memerlukan keterangan dari para ulama. Apakah ulama tafsir, hadits maupun fiqih. Terlebih lagi dalam masalah aqidah atau tauhid. Karena itulah mengumpulkan karya-karya mereka dalam bentuk kitab atau file di dalam komputer adalah metode yang sangat tepat dan bermanfaat. Sehingga sewaktu-waktu kita butuhkan, dengan mudah kita akan bisa menemukan apa yang kita inginkan.</p>
<p>Kitab para ulama tentu sangat banyak jumlahnya. Terkadang satu judul kitab saja sudah kita temukan berjilid-jilid dan tiap jilidnya terdiri dari beratus-ratus halaman. Oleh sebab itu seorang penimba ilmu harus mengenal berbagai tipe kitab para ulama. Ada diantara kitab ulama itu yang ditulis berdasarkan susunan ayat sehingga jadilah ia kitab tafsir. Ada diantara kitab ulama yang disusun berdasarkan susunan hadits sehingga jadilah ia kitab syarah hadits. Ada pula kitab ulama yang khusus membahas bidang ilmu tertentu semacam aqidah, tauhid, fikih, adab, akhlak, siroh, dan lain sebagainya.</p>
<p>Untuk bisa mengetahui tingkatan buku atau kitab ulama seorang penuntut ilmu mesti mencari keterangan buku-buku apakah yang semestinya dibaca bagi pemula dan buku-buku apa yang sifatnya sebagai rujukan dan buku-buku apa yang memang ditulis bagi yang ilmunya sudah mapan dan mendalam. Diantara kitab yang bisa dibaca dalam hal ini misalnya Kitab al-&#8217;Ilmi karya Syaikh al-&#8217;Utsaimin <i>rahimahullah</i> atau Ma&#8217;alim fi Thariq Thalab al-&#8217;Ilmi karya Syaikh Abdul &#8216;Aziz as-Sad-han <i>hafizhahullah.</i></p>
<p><b>Kitab Matan dan Kitab Syarah</b></p>
<p>Diantara istilah yang perlu diketahui oleh para penimba ilmu adalah matan dan syarah. Matan adalah teks asli tanpa uraian penjelasan. Sepeti misalnya matan Sahih Bukhari, matan Sahih Muslim, matan &#8216;Umdatul Ahkam, matan Hadits Arba&#8217;in, matan Kitab Tauhid, dsb. Adapun yang dimaksud dengan syarah adalah penjelasan terhadap matan-matan tersebut. Sehingga bisa kita temukan kitab-kitab yang berisi syarah terhadap Sahih Bukhari, Sahih Muslim, &#8216;Umdatul Ahkam, Hadits Arba&#8217;in, ataupun Kitab Tauhid.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kitab syarah ini pun beraneka ragam. Ada diantara kitab syarah ini yang ringkas, dan biasa disebut dengan istilah ta&#8217;liq/komentar atau hasyiyah/catatan pinggir. Misalnya Ta&#8217;liq terhadap Matan al-&#8217;Aqidah ath-Thohawiyah oleh Syaikh al-Albani <i>rahimahullah</i> dan kitab Hasyiyah Tsalatsatul Ushul karya Syaikh Abdurrahman bin Qosim <i>rahimahullah</i>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada lagi yang berupa uraian panjang lebar, dan inilah yang sering disebut dengan istilah syarah. Semacam kitab syarah Sahih al-Bukhari yang berjudul Fat-hul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolani <i>rahimahullah</i> atau kitab syarah &#8216;Umdatul Ahkam yang berjudul Taisir al-&#8217;Allam karya Syaikh Abdullah al-Bassam <i>rahimahullah</i>.   <b> </b></p>
<p><b>Koleksi Audio Ceramah Ulama</b></p>
<p>Tidaklah samar bagi kita di masa sekarang ini pesatnya kemajuan teknologi informasi. Diantaranya adalah berupa kemudahan untuk mendapatkan rekaman kajian dan ceramah/muhadharah para ulama dari berbagai negeri, baik yang disediakan di website mereka atau website dakwah lainnya. Mendengarkan ceramah mereka -yang notabene berbahasa arab- tentu akan sangat membantu kita dalam memperkaya kosakata dan membiasakan diri mendengar keterangan berbahasa arab dari para ulama.</p>
<p>Hal ini akan sangat efektif apabila kita juga telah memiliki kitab atau materi yang dibahas dalam kajian atau ceramah mereka. Tidak jarang juga ceramah mereka yang telah ditranskrip atau dibukukan dalam bentuk tulisan. Hal ini sangat membantu para penimba ilmu pemula yang belum terbiasa menyimak penjelasan berbahasa arab, sebab mereka bisa membandingkan suara yang didengarkan dengan hasil transkrip yang dibaca.</p>
<p>Apabila kita cermati, sebagian ulama lebih banyak menyampaikan ceramah daripada menulis kitab. Meskipun demikian ternyata kita dapati banyak kitab karya beliau. Bagaimana bisa demikian? Tentu saja ini adalah hasil buah pena murid-muridnya yang menuliskan ulang penjelasan guru mereka kemudian diterbitkan dalam bentuk kitab. Salah satu contoh yang populer dalam hal ini adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-&#8217;Utsaimin <i>rahimahullah</i>. Banyak kitab beliau yang asalnya adalah pelajaran secara lisan yang kemudian dibukukan.</p>
<p>Contoh lain -yang sekarang masih hidup- adalah Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <i>hafizhahullah</i> dengan sejumlah kitab yang merupakan hasil transkrip dari pelajaran lisan yang beliau berikan. Misalnya, kitab al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad. Begitu pula kitab Durus fi Syarhi Nawaqidhil Islam, I&#8217;anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid, dsb.</p>
<p>Contoh lainnya juga -yang sekarang masih hidup dan bisa diperoleh transkrip ceramah-ceramahnya di internet- adalah Syaikh Dr. Shalih bin Sa&#8217;ad as-Suhaimi <i>hafizhahullah</i>. Diantara pembahasan sangat bermanfaat -dalam bab keimanan- yang beliau sampaikan adalah kajian kitab at-Taudhih wal Bayan li Syajarat al-Iman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <i>rahimahullah; </i>penulis kitab tafsir Taisir al-Karim ar-Rahman. Dan diantara pembahasan paling berharga lainnya yang dibawakan oleh Syaikh Shalih as-Suhaimi adalah kajian kitab Taisir al-Karim ar-Rahman karya Syaikh as-Sa&#8217;di yang juga bisa didownload di internet. Hanya saja untuk pembahasan kedua kitab ini kami belum menemukan transkripnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/langkah-langkah-untuk-bisa-membaca-kitab.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
