Haba’ib Serukan Tinggalkan Perayaan Maulid!

Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawanafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara yang menyelisih syari’at,yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah penyimpangan, dan tidak sesuai dengan Maqasidu asy-Syar’I al-Muthahhar (tujuan-tujuan syari’at yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah)mereka.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir ” Islam Today “, para Habaib berkata, “Bahwa Kewajiban Ahlul Bait (Keturunan Rasulullah) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan cinta yang hakiki pasti akan menyeru Ittiba’ yang benar.”

Mereka (Para Habaib) menambahkan, “Di antara fenomena yang menyakitkan adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (AhlulBait) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habibal-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di antara syiar-syiar tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta.

Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hal itu dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya:

Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam. (HR. al-Bukhari)

Sedangkan seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan,

“Bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Baityang mulia, seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali ZainalAbidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam “Radhiyallahu ‘anhum ajma’in-begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in.

Para Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait,

Wahai Tuan-tuan Yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam:

Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berikut ini adalah teks pernyataannya:

Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang Peringatan/ perayaan Maulid Nabi.

Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syari’at yang beliau bawa adalah syari’at yang paling sempurna, Allah Ta’alaberfirman:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkankepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. Al Ma’idah:3)

Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan keyakinan atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia. (HR. al-Bukhari & Muslim)

Beliau adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja anak-cucu Adam, Imam Para Nabijika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si empu Tempat yang Mulia, Telaga yang akan dikerumuni (oleh manusia), si empu bendera pujian, pemberi syafa’at manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) harikiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzab: 21)

Dan di antara kecintaan kepadabeliau adalah mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku. (HR. Muslim).

Maka Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu’alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu’alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman:

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’: 65)

Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru Ittiba’ yang benar. Allah Ta’ala berfirman:

Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31)

Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlulbait) haruslah sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan tidak menyalahi atau menyelisinya.

Dan di antara fenomena menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah Ta’ala pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan Maqasidu asy-Syar’Ial-Muthahhar (tujuan-tujuan syari’at yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikapdan perbuatan (ibadah) mereka.

Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan ittiba’ (mengikuti) beliau Shallalllahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mengikuti (ittiba’) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah komitmen dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syari’at Islam.

Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan seperti ini, dengan sabdanya:

Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam. (HR. al-Bukhari)

Maka bagaimana dengan faktanya,sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi dengan lafazh-lafazh bid’ah,dan istighatsah-istighatsah syirik.

Dan perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ajma’in—begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.

Jika ini tidak dikatakan bid’ah,lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa pengecualian di dalamnya:

Semua bid’ah itu sesat. (HR. Muslim).

Wahai Tuan-tuan Yang terhormat!

Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asalusul/ nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan),yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam,dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya.

Dan karena mengikuti apa yangtidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)!

Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak mengajarkan petunjuk beliau!

DemiAllah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata karena kedekatan kalian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah lelulur kalian dengan meninggalkan bid’ah dan seluruh yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda:

Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut. (HR. Muslim).

Yang menanda tangan risalah di atas yaitu:

1. Habib Syaikh Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial Adhdhamir al-Khairiyah di Traim)

2. Habib Syaikh Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu ‘Uraisy)

3. Habib Syaikh Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.

4. Habib Syaikh Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum ‘Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima’I di Ghail Bawazir)

5.Habib Syaikh Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktabat-Ta’awuni Li ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).

6.Habib Syaikh Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmahal-Khairiyah, dan Imam serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).

7.Habib Syaikh DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).

8. Habib Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar as-Saniyah)

9. Habib Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).

10.Habib Syaikh Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajrial-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala).

11. Habib Syaikh Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)

12.Habib Syaikh DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas UmmulQurra’ di Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah LiGhairi an-Nathiqin Biha).

sumber: Milis As-Sunnah

Dikutip dari note fb Surya Noor Rahmatullah, jazahullahu khairan

This entry was posted in Hukum and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Haba’ib Serukan Tinggalkan Perayaan Maulid!

  1. anto says:

    masyaAllah… semoga kalian mendapat hidayah..

    jika Semua bid’ah itu sesat. (HR. Muslim), bagaimana dengan bus, rumahsakit, televisi, ceramah jumat dgn bhs indonesia, bukan dgn bhs arab, Alquran bentuk buku spt saat ini, seharusnya dlm bentuk lembaran mushaf di daun/ pelepah daun, atau mungkin harusnya mushaf qur’an msh terukir di dinding2, bukankah itu termasuk bidah juga krn rasul tidak pernah memerintahkan quran di bukukan?

    jujur saya dahulunya ini, mengikuti seperti kalian! yang suka mem bidah dan mengkafirkan muslim lain yang melakukan tahlil maulud, dll, sungguh saya telah sadar dan saya sangat takut lidah ini di pertanggungjawabkan kelak..(ampuni aku Ya Robb…), sy skg mendapatkan hidayah yang luar biasa, mendapat ketenangan yang luar biasa bersama majelis zikir dan sholawat, daripada hanya suka membidah orang lain, bilang ini sesat, itu sesat, ente kafir, n bla bla bla… lebih baik saya perbaiki iman dan akidah saya.

    Sabda Rasulullah saw :
    “Sungguh sebesar besar kejahatan diantara muslimin adalah orang yg mempermasalahkan hal yg tidak diharamkan, namun menjadi diharamkan sebab ia mempermasalahkannya” (Shahih Bukhari)

    untuk masalah syirik, Rasul saw sendiri tak merisaukan syirik akan menimpa ummatnya, beliau bersabda : “dan aku Demi Allah tidak merisaukan kalian akan musyrik setelah aku wafat, tapi yg kutakutkan adalah keluasan duniawi atas kalian” (Shahih muslim hadits no.2296, shahih Bukhari hadits no.1297, 3401, 3816) dan masih banyak lagi hadits semakna bahwa Rasul saw tidak merisaukan syirik atas ummatnya, tanda bahwa kerisauan sebagian muslimin masa kini akan hal hal yg musyrik bertentangan dg hadits Nabi saw.

    syirik disini bukan menyekutukan Allah dan bukan di luar islam, syirik yg dimaksud adalah syirik nya yang ada di dalam hati kalian ttg tawasul, tahlil maulid.. yang sungguh Rasul SAW telah mengetahuinya akan terjadi di masa mendatang dan akan menjadi pertentangan diantara sesama ummat belau SAW. hingga beliau bersabda “dan aku Demi Allah tidak merisaukan kalian akan musyrik setelah aku wafat, tapi yg kutakutkan adalah keluasan duniawi atas kalian”.

  2. Abu Mushlih says:

    @ anto; mas anda salah paham tentang makna bid’ah. Bid’ah adalah segala sesuatu dalam urusan agama yang tidak ada tuntunannya, adapun apa yang anda sebutkan bus, pswat dsb, itu bukan urusan agama. Kami tidak sembarangan memvonis, yang memvonis adalah Allah dan rasul-Nya. Dan para ulama sekedar menerangkan saja. Kalau memang bid’ah baik, ya silahkan mas anto sholat subuh sambil joget-joget kan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ndak melarang to? Terus anda juga salah paham tentang makna syirik. Kalau anda mau baca soal syirik silahkan buka: http://abumushlih.com/dosa-terbesar-di-sisi-al-jabbar.html/

  3. ternyata Habaib yang Ahlussunnah itu banyak..
    tapi yang lebih banyak lagi habaib yang ahlul bid’ah, sufi. bahkan syi’ah.. Na’udzubillah..

  4. khanza says:

    asw. ana sepakat dg pendapat ustdz tentang bid’ah bahwa memang bidah yg d maksud oleh rasulullah saw adalah dlm hal ibadah sedangkan dlm bentuk teknologi hanya sekedar madaniah yg bisa bebas di adpsi, namun yg mengganggu pikiran saya adlh mengenai artikel ustdz yang berjudul penting mana tauhid atau khilafah?
    sepemahaman saya semua itu satu paket pertama kita kuatkan aqidh sbagai pondasi nafsiah dan penanaman tsaqofah islam agar pemahaman seorang muslim mentajasad dalam jiwa-jiwa kita sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pehaman” uang sesat n utk mengopinikan kpda penguasa n masyrkt adlh knsekuensi ats pmhmn kt tntng syri’ah secara kaffah yg menuntut pemerintah mengurusi urusan umat melalui penerapan hk islam yg d trunkn olehdzat yg memang berhak menbuat hk yaitu allah swt, n bukankah allah swt dan rasulullah saw telah berjanji bahwa pada akhir masa akan berdiri kembali khilafah sesuai manhaj kenabian insyaallah ustdz pasti sdha mmbaca hadist shahih ini.
    n bukankah d pesantren pada bab- bab akhir kitab d pelajari tentang khilafah?
    mhon penjelasannya ustdz krna menurut ana keduanya seiring sejalan n tak bisa di pisahkan….
    wallah’alam bishawab

  5. Abu Mushlih says:

    @ Khanza: khilafah dan jihad itu syari’ah, kita sepakat. Namun bukankah ada aturan dan caranya untuk menerapkan syari’ah itu. Di antaranya adalah masalah kemampuan, mampu tidak kita melakukannya? Kalau kaum muslimin lemah, maka yang disyariatkan adalah sabar, bukan berarti menolak jihad dan khilafah. Coba kita lihat perjuangan para sahabat, apakah mereka menjadikan khilafah sebagai tujuan? Tujuan dakwah adalah tauhid dan agar manusia taat kepada Allah. Memang ini satu paket, namun apakah anda bisa membayangkan satu orang saja bisa melaksanakan semua paket itu sekaligus tanpa mempertimbangkan kemampuan? Satu orang saja sudah tidak bisa maka apalagi satu negara? Marilah kita lihat bagaimana al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk merubah negara… Baca ar-Ra’d: 11. Yaitu dengan merubah individu-individunya, alias dengan tarbiyah dan da’wah, dan ini pun termasuk jihad. Allahu a’lam

  6. abu zulfa says:

    pesan untuk mas anto….semoga allah menunjukimu
    cobalah untuk menggunakan akal yang dianugerahkan oleh Allah, supaya tdk menyesal di hari ahir seperti yg di khabarkan oleh al-quran keadaan org2 yg tdk mau menggunakannya: al-mulk:10,al-ahzab:66-68…

  7. azis says:

    Hanya Allah SWT yang maha mengetahui setiap amalan hambanya baik atau tidak,
    Perayaan Maulid tidak ada mudhorat didalamnya bahkan mulia.

    Adakah hadist yang melarang perayaan maulid ini???

    Saya kwatir postingan ini palsu dan dipotong2 oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, wallahu ‘alam.

  8. Abu Mushlih says:

    @ aziz; kalau begitu dengan standar apa kita menilai amalan? kaidah dalam hal ibadah adalah tidak boleh kecuali ada dalilnya, adapun dalam hal adat adalah sebaliknya, jadi kaidah anda terbalik.

  9. Azlan says:

    kalo Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak naik mobil atau pesawat, itu karena pada jaman beliau belum ada 2 jenis kendaraan tsb.
    Adapun jika Rasulullah shallallahu alaihi wassallam tidak memerintahkan maulid, itu karena beliau tidak menganggapnya sebagai perbuatan baik. Padahal mudah sekali bagi beliau utk memerintahkan para sahabat utk merayakannya.

    Sudah ratusan tahun orang Islam merayakan maulid, tapi kok kejayaan Islam yg mereka katakan bisa didapat dari perayaan maulid belum nampak juga???

  10. gilroy says:

    al-Habibal-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam?
    maafkan kebodohan ana, tapi benarkah ada gelar semacam ini untuk Rosulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.mohon penjelasannya, syukron.

  11. Abu says:

    Aslmualaikum.
    Saya cuma sdikit memberi masukan. Tdk ingin menjelekkan anda. Jdi, Anda cari tahu dan renungkanlah sendiri.
    Rasulullah jelas tdk ingin umatnya mengagungkan beliau seperti Nasrani mengagungkan Isa. Coba kita lihat. Nasrani mengagungkan Isa, dg menjadikan sebagai tuhan. Tlong jgn disamakan dg mereka yg melakukan maulid.
    Coba lihat Qs Ibrahim: ayat 5. N coba cari TAFSIR dr Lafadz “bi ayyamillah / hari2 allah”. Apakah kelahiran nabi bkn trmasuk nikmat/anugrah bagi umat islam?
    N pahami juga Qs Hud ayat 120. Lalu anda coba dulu cari tahu, apakah isi bacaan maulid itu ada kesesuaian dg tujuan dri Qs Hud 12? (ttg kisah rasul).
    Ataukah maulid menuhankan nabi, seperti nasrani?
    Sangat Banyak keterangan, dalil, ataupun riwayat/kisah yg membenarkan maulid. Tpi saya kira 2 ayat tsbt sudah bisa mewakili.

  12. Abu Mushlih says:

    @ abu; wa’alaikumussalam, anda ini namanya siapa? mohon memberikan identitas yang jelas. Mengenai alasan anda membolehkan perayaan maulid, saya hanya ingin bertanya kepada anda; siapakah sahabat yang mencontohkan perayaan maulid? Bukankah kalau kita ingin mendapat ridha Allah kita harus mengikuti manhaj mereka, anda bisa baca QS at-Taubah; 100. Dalil-dalil yang lain banyak. Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya…

  13. yono says:

    Bismillah,subhanallah sngt bermanfaat ustad,sudh seharusny dlm beribdh kita ittiba dg apa yg Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dn pr sahabat Rodhiallahu anhuma ajma’in cntohkan. Ternyta banyk habaib2 ahlusunnah,tp knp kbnykn dr manusia mlh mengikuti yg ahlul bid’ah? Semoga Allah ta’ala memberi petunjuk pd kita,membebskn hati2 kita dr mengikuti hawa nafsu dn syubhat2 yg dihembuskn syaitan…ijin copas ustad,jazakallah khair.

  14. rohana says:

    Saya sgt setuju artikle ustd ini. Memang kita sudah di suruh mencontohi amalan2, akhlak 3 generasi dahulu iaitu zaman nabi kita , zaman sahabat2 dan zaman tabi tabiin. mereka lebih cintakan nabi dari kta. siapa lah kita jika dibandingkan dgn mereka dari segi akhlak, amalan,ibadah dan akidah nya. Jadi mengapa kah kta repot2 mau buat perayaan maulid, sedang tanggal kelahiran nya pun belum ada ulama yg dpt pastikan bila. lagipun mereka yg mengendalikan perayaan maulid belum tentu mengikut sunnah2 nya nabi. kalai kita benar2 cintakan nabi saw ikut lah jalan2 org2 salaf, lebih selamat. sahabat2 nabi sudah dijamin shurga, mereka tidakpun merayakan maulid..kita belum tentu lagi di tempatkan di mana.
    Ana harap ustd bersabar & berpegang tegoh dgn pendirian nya. memang di akhir zaman, org yg memegang pd Al-Quran dan Sunnah akan di anggap aneh dan di asingkan. bnyk cemohan.
    semoga Allah swt memberi kemudahan pd ustd. Ameen.

  15. muhibbin says:

    ini mah artikel yang gak benar. kalo memang habaib mengharamkan perayaan maulid Nabi SAAW, penulis artikel ini berani gak menyebutkan nama habaib itu? tapi ane yakin, si abu mushlih penulis artikel ini gak bakalan berani! hehehe….

  16. Abu Mushlih says:

    mas.. makanya baca dulu tulisannya, yang nulis artikel bukan saya, dan juga nama2 haba’ib itu sudah ditulis di situ dengan jelas…

  17. Abu Aisyah says:

    Sabar Pa Ustadz,
    Tanggapi semua komen dengan kepala dingin, antum sudah menyampaikan hujjah, salah satu kewajiban kita sebagai muslim sudah terlaksana, tinggal apakah Allah Subhanau Wa Ta’ala memberikan hidayah kepada saudara-saudara kita yang masih “tersesat”.
    Islam awalnya asing, dan akan menjadi asing, maka berbahagialah orang-orang yang asing.

  18. miftah says:

    he he he, Sabar Ust… dalam menanggapi koment2 orang awam.

  19. hasan says:

    “ya silahkan mas anto sholat subuh sambil joget-joget kan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ndak melarang to?” MOHON dijelaskan saudaraku….??

  20. joseph says:

    dr pengertian ustad di atas. Bid’ah adalah segala sesuatu dalam urusan agama yang tidak ada tuntunannya,,,,

    ustad sy mau tanya mohon jwbanya sy orang awam yang ingin pemahaman
    1. jwban aquran bentuk buku ? bkanya itu urusan agama?
    2. mendengarkan qur’an digital ( bknya ini urusan agama namun gak ada tuntunanya?
    3.

  21. Abu Mushlih says:

    membukukan alquran adalah dituntunkan, demikian juga mendengarkan alqur’an, adapun pencetakan dan penerbitannya dalam bentuk tulisan dan audio/digital maka itu urusan di luar agama/ibadah. Memang urusan di luar agama/ibadah -yang hukumnya mubah- bisa bernilai ibadah jika diniatkan ibadah. Allahu a’lam

  22. assalamualaikum…
    sebelumnya saya ini ialah orang non muslim..tp skrg saya mendapat hidayah utk masuk kedalam islam..
    menurut hemat saya apakah ustad seperti anda itu seharusnya tidak mengurusi hal ihwal orang lain..jika anda berstatement bahwa maulid itu bid’ah atau tahlil itu bid’ah yaa mestinya utk sekelas orang yg berilmu anda tidak perlu bersikeras utk menggunjingnya mestinya anda memahami bahwa anda dalam pendirian anda…yakni membid’ahkan maulid dan tahlil,,,tidak perlu menjelekkan suatu kaum ataupun mengajak orang lain utk menjelek2an..makasi

  23. Ahmad Raafi says:

    @jack_anderson: yang memerintahkan untuk berhati – hati terhadap bid’ah adalah Rasul sendiri. Hampir disetiap majelisnya, Rasul membuka dengan khutbatul hajat, yg didalam ada pernyataan dari Rasul sbb, “.. Seburuk-buruk perkara adalah perkara baru (dalam agama), dan setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. Mohon kepada Saudaraku, bacalah kitab para ulama yg menjelaskan ttg bahaya bid’ah. Bagaimana mungkin kita mau menanggap remeh hal ini padahal Rasul sangat sering menasihati kita utk senantiasa berhati-hati thd perkara bid’ah.
    والله أعلم بالصواب

  24. budi anto says:

    pak, ust…adakah dalil yang menjelaskan tentg pembukuan alqur,an…terima kasih…ni aq yg blm tahu…

  25. ZULKIFLI says:

    Imam Malik رحمه الله telah berkata : كُلُّ خَيْرٍ فِي إتِباَعِ مَنْ سَلَف وَ كُلُّ شَرٍّ فِي إبْتِداَعِ مَنْ خَلَفِ

    “Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)” dan “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali kembali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertamaa.
    Berkata Muhammad bin Sirin رحمه الله لَمْ يَكُوْنُوْا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا سَمّوْا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ

    “Sebutkanlah kepada kami rawi-rawi kalian maka dilihatlah kepada Ahlus Sunnah lalu diambil hadits mereka dan dilihat kepada Ahlil bid’ah dan tidak diambil hadits mereka”.
    Sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Salallahu ’Alaihi Wasalam. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

  26. Abu Mushlih says:

    inna ‘alaina jam’ahu wa qur’anah….

  27. Moh. Isa Anshory Hasby says:

    Apa saja boleh kita lakukan, asal tidak ada larangannya, dan apa saja tidak boleh dilakukan kalau tidak ada perintahnya.
    Adakah perayaan maulid Nabi itu dilarang? jawabnya tidak ada larangannya, namun perintah untuk merayakan juga tidak ada. Jadi kalau melakukan kegiatan yang tak ada perintahnya tentu sia-sia, habis tenaga dan biaya tak memperoleh pahala.
    Jika dengan alasan cinta rosul SAW dan Syi’ar Islam, masih banyak cara yang bisa dilakukan dan ada perintahnya serta ada pahalanya. Misal, memberikan bea siswa pada anak yatim/miskin, membimbing para lansia agar imannya tetap dalam Islam, dan masih banyak lagi.
    Yuk kita beramal yang ada perintah dan contoh dari Allah dan Rosulnya
    Yuk kita tidak usa mengerjakan sesuatu yang dilarang dan tak ada contohnya dari Rosululloh SAW.
    Katakanlah Laa Ilaaha Illa Alloh, Pasti Selamat

  28. Abu Mushlih says:

    Perlu dibedakan bahwa: dalam bab adat hukum asal segala sesuatu boleh kecuali ada larangan, adapun dalam bab ibadat segala sesuatu terlarang kecuali ada dalil yang memerintahkan.

  29. fitri says:

    Alhamdulillah,,, ada habaib dari Indonesia juga,,,, semoga bisa mencerahkan para habaib lain di seluruh indonesia, Amiiiin

    Saya izin share artikelnya di blog ana ya ustadz,,,

  30. sibodoh says:

    sudah bodoh tidak mau dianggap bodoh. Kalo kita tdk tahu sesuatu ya baca artikelnya dgn cara cermat n pahami apa maksud ditulisnya sebuah artikel. Lebih2 yg menulis adl dr kalnagan yg bermanhaj lurus. Hendaklah kita tdk su’udzon thd penulis sbg penyampai kabar baik dr para ulama. Agar kita td membabi buta dlm berkomentar hendaknya kt td hanya membaca judul lalu panas dada dan menulis komentar. Kalo tdk mau baca dg cermat dri isi artikel dan koment2 lainnya lebih baik tdk berkoment krn akan dpt menimbulkan kesan negatif thd diri kita. Saya sbg org awam tkdg juga berbuat dmk, tapi stl sadar bhw tdk mungkin org berilmu (ulama) mengajak sesat. lebih2 mengajaknya berdasar dalil2 yg mudah dicerna akal.
    Marilah kita ikuti saja nasehatnya yg mengajak utk mengidupkan Sunnah dan MEMATIKAN BIDAH.
    Dmk koment sibodoh yg selalu berusaha mengikuti ajaran Islam yg berdasarkan dalil2 dr al-quran dan hadits2 yg shahih DAN BENAR DALAM PENGAMBILAN DALILnya yg sesuai dgn pemahaman salafush shaleh.

  31. agoes says:

    Subhanallah… banyak orang sekarang membenarkan apa yang telah mereka buat…tentang hukum jadi dinomer duakan masya Allah…, walau sebenarnya gamblang tentang hukumnya melaksnakan maulid tapi kenapa tetap dilaksanakan,,,dalih cinta Rasul namun apa yang didapat dari peringatan tersebut.keikhlsan sdh tipis pada sisi manusia sekarang yang terlihat hanya RIAKnya saja…,namun semua kembali kehati kita masing2 jika iman kepada Allah dan Rasul jgn membuat hal tiada diadakan…sbb alasan dan dalih apapun,,,,PErbanyaklah baca kisah Rasul Muhammad SAW pahami dan rasakan…bukankah kita mencintai Beliau????????? jadi dengarkan dan amalkan semua perkataannya…itu yang utama dari pada membuat sebuah peringatan yang mendekati BID’ah…. Subhanallah.
    Wassalam…………

  32. nasr says:

    ass wrwb, semoga Allah swt memberi petunjuk kpd kita semua , artikel ini sudah benar sudah dimuat dibanyak buku , ceramah dll dalilnya pun sangat jelas dan valid. Setahu saya kita dilarang mencontoh umat nasrani dalam berulang tahun… krn memang Isa AS menjadi nabi sejak lahir sedangkan nabi kita Muhammad SAW diangkat sebagai nabi setelah berumur 40 Thn. Jadi kalau kita benar2 mengaku umat Muhammad maka ikutilah apa yang di contohkan beliau.dan saya sepakat bahwa mencetak alqur’an , naik mobil, pasawat dll bukan di golongkan bid’ah krn itu menyangkut teknologi dan Mus’af alqur’an awalnya pun di tulis ( di kulit, kulit kayu di kumpulkan juga, dihafalkan dll) lalu di tulis di kertas sekarang bisa berbentuk digital dihafalkan juga,sehingga mudah di pelajari, disebarkan dan terjaga …., sekali lagi jika mau membantah … sebagai orang yg berilmu hrs dgn dalil yang sahih dan ilmiah kalau tidak… ya sama dgn obrolan orang tidka berilmu di pinggiran jalan. maaf bagi yg tidak berkenan.

  33. Abu Saamy says:

    Ana cuma mau menambahkan sedikit di forum ini,

    Lau kana khairan, Lasabakuna alaihi.. Jika perkara tersebut (maulid/tahlilan dll) adalah kebaikan, niscaya mereka (para Sahabat/Tabi’in/Tabiut Tabi’ien) akan lebih dahulu melakukannya. Karana mereka adalah generasi paling haus akan kecintaan Rasulullah, yang akan memanfaatkan dan mengabdikan setiap detik dalam hidupnya untuk mencari ridho Allah dan memuliakan Rasul-Nya.

    Intinya adalah, tidak ada suatu generasi yang kecintaannya terhadap Rasulullah SAW lebih tinggi, lebih hebat, lebih dahsyat daripada generasi di zaman Rasulullah itu sendiri (para Sahabat & Sahabiyah), karena pada generasi itu mereka lebih dekat dengan Rasulullah SAW, mereka duduk di majlis beliau, mereka mendirikan sholat bersama beliau, mereka melihat mukjizat beliau, mereka berjihad bersama beliau..

    Adapun generasi berikutnya (Tabi’ien) yang masih bertemu dengan para Sahabat Rasulullah, dimana kemurnian akidah masih begitu jernih tak ternoda, mereka bertemu langsung dg sosok yang telah mendapatkan jaminan Jannah langsung dari Rasulullah SAW, dan juga generasi berikutnya yang masih mereguk kemurnian Islam dari pendahulunya yang shalih..

    Bagaimana mungkin kita yang hidup di generasi yang sangat jauh dari kemurnian akidah, yang hina dan penuh dg kemaksiatan dimana-mana dapat mengungguli kecintaan thd Rasulullah SAW dibandingkan dg 3 Generasi diatas? Beranikah kalian bersumpah bahwa kecintaan kalian terhadap Rasulullah SAW adalah tulus dengan menggelar Maulid Nabi, dimana ketiga generasi mulia yang PALING CINTA DG RASULULLAH SAW tadi tak satupun melakukannya??

    Beranikah kalian mengaku bahwa KALIAN LEBIH BAIK dibanding ketiga generasi tersebut karena kalian melakukan sesuatu yg LEBIH yg tidak dilakukan para Sahabat/Tabi’ien dan Tabiut Tabi’ien?? Sehingga kualitas kecintaan kalian terhadap Rasulullah SAW LEBIH TINGGI dibandingkan dg ketiga generasi tsb?

    Janganlah kita kembali kepada sang Kholik dg keadaan yang bangkrut karena tertipu dg amalan-amalan yang hanya didasari Syahwat hawa nafsu dan pemikiran sempit kita. Kalau kita mau PLAY SAVE dalam beribadah, ya beribadahlah hanya dengan apa2 yang dituntunkan oleh sang pembawa risalah Islam. Islam ini Rasulullah yg membawa, jadi apa2 yang baik dalam Islam sudah diajarkan SEMUANYA oleh Rasulullah, tidak ada setitik kebaikanpun yang tidak diajarkan oleh beliau. Jadi kalau ada yang baik (atau kalian anggap baik) tetapi tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah itu berarti sama aja kalian menuduh Rasulullah telah berkhianat atas risalah Islam, ada yang baik kok ngga diajarkan.. Naudhubillahi min dzalik

    Kalau kita mau baca buku Hisnul Muslim, disana ada amalan berupa kumpulan doa2 yang telah diajarkan dan dituntunkan oleh Rasulullah dari mulai kita membuka mata hingga kita pejamkan mata kita. Saya yakin dengan aktifitas yang kita jalani sehari2, waktu 1 x 24 Jam tidak akan cukup untuk melakukan amalan2 yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Jadi kalo anda bisa melakukan 10% s/d 15% saja amalan ibadah harian yang biasa dilakukan Rasulullah itu artinya kita sudah cukup sibuk melaksanakannya, dari mulai Dziki Pagi/Petang Sholat Sunnah, Dzikir ba’da Sholah, Doa melakukan ini, Doa melakukan itu dll dll, bahkan doa mau tidurpun yang dituntunkan Rasulullah SAW bila diamalkan secara utuh baru hanya akan selesai dilafadzkan dlm 30 menitan.. LHA TERUS KENAPA MASIH CARI KESIBUKAN YANG NGGA DICONTOHKAN OLEH BELIAU??? TDK PULA OLEH GENERASI TERBAIK STLHNYA, TDK PULA OLEH GENERASI HEBAT STLHNYA, TDK PULA STLHNYA, BAHKAN KESIBUKAN YG KALIAN LAKUKAN TSB MASIH DIPERTENTANGKAN, BAHKAN DICAP BID’AH DAN BERBAHAYA BAGI KITA UNTUK BERSPEKULASI KELAK DIAKHIRAT??? MENGAPAAA??

    Mudah-mudahan pencerahan ini bermanfaat. Yang benar datangnya dari Allah Ta’ala dan yg salah datangnya dari kebodohan ana semata, wallahu t’ala a’lam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *