Iman Terhadap Rububiyah Allah

oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Iman terhadap Rububiyah Allah, artinya mengimani bahwa Allah semata sebagai Rabb, tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya. Rabb artinya adalah yang mencipta, menguasai, dan memerintah. Itu artinya tidak ada pencipta selain Allah. Tidak ada penguasa selain Dia. Tidak ada perintah kecuali wewenang-Nya. Allah ta’ala berfirman,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah, segala penciptaan dan urusan adalah menjadi hak-Nya.” (QS. al-A’raaf: 54).

Allah berfirman,

ذٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

“Yang berbuat demikian itu adalah Allah Rabb kalian, milik-Nya lah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain-Nya tidak memiliki apa-apa walaupun hanya setipis kulit ari.” (QS. Fathir: 13)

Tidak pernah diketahui ada seorang pun di antara manusia ini yang mengingkari rububiyah Allah Yang Maha Suci kecuali karena faktor kesombongan dan tidak dilandaskan dengan keyakinan atas apa yang diucapkannya. Hal itu sebaagaimana yang terjadi pada diri Fir’aun ketika dia berkata kepada kaumnya,

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi.” (QS. an-Nazi’at: 24).

Dan dia mengatakan,

يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرِي

“Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui bagimu ada sesembahan selain diri-Ku.” (QS. al-Qashash: 38).

Akan tetapi apa yang diucapkannya itu bukan muncul dari keyakinan hatinya. Allah ta’ala berfirman,

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا

“Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.” (QS. an-Naml: 14).

Musa berkata kepada Fir’aun, sebagaimana dikisahkan oleh Allah tentang ucapannya itu,

لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

“Sungguh kamu telah mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi. Dan sesungguhnya aku menduga bahwa dirimu benar-benar akan binasa, wahai Fir’aun.” (QS. al-Isra’: 102)

Oleh sebab itulah orang-orang musyrik dahulu telah mengakui rububiyah Allah ta’ala padahal mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam hal uluhiyah-Nya. Allah ta’ala berfirman,

قُل لِّمَنِ الْأَرْضُ وَمَن فِيهَا إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ

“Katakanlah (Muhammad): Milik siapakah bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya jika kalian mengetahui? Niscaya mereka akan menjawab: Milik Allah. Katakanlah: Apakah kalian tidak ingat? Katakanlah: Siapakah Rabb yang menguasai langit yang tujuh dan Rabb yang memiliki Arsy yang agung. Niscaya mereka akan menjawab: Itu adalah milik Allah. Katakanlah: Lalu mengapa kalian tidak mau bertakwa? Katakanlah: Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedangkan Dia yang Maha melindungi dan tidak ada yang dapat terlindungi dari siksa-Nya, jika kalian mengetahui? Niscaya mereka akan menjawab: Itu semua adalah milik Allah. Katakanlah: Maka bagaimana kalian bisa tertipu?” (QS. al-Mukminun: 84-89).

Allah ta’ala berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi, maka niscaya mereka akan menjawab: Yang menciptakan itu semua adalah  Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 9).

Allah berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).” (QS. az-Zukhruf: 87)

Urusan Allah Yang Maha Suci meliputi urusan kauni (alam) dan urusan syar’i (syari’at). Sebagaimana Allah adalah pengatur alam semesta dan pemutus perkara di dalamnya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya dan menurut ketetapan hikmah-Nya. Maka demikian pula Allah menjadi hakim/pemutus urusan di dalamnya dengan mensyari’atkan berbagai macam ibadah dan hukum mu’amalah sesuai dengan tuntutan hikmah/kebijaksanaan-Nya. Barangsiapa yang mengangkat selain Allah sebagai pembuat syari’at bersama-Nya dalam perkara ibadah, atau menjadikannya sebagai hakim/pemutus urusan dalam hal mu’amalah, maka sesungguhnya dia telah mempersekutukan Allah dan belum dianggap mewujudkan keimanan

(diterjemahkan dari Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 84-85 cet. Dar ats-Tsurayya tahun 1417 H)

Dari penjelasan beliau di atas kita dapat memetik banyak pelajaran, di antaranya:

  1. Iman terhadap rububiyah Allah belum memasukkan pemiliknya dalam golongan orang-orang yang beriman. Hal ini ditunjukkan oleh ayat-ayat yang mengingkari orang-orang musyrik dan mencela mereka karena tidak konsisten dengan keyakinan mereka. Kalau mereka sudah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang mencipta, menguasai dan mengatur segala urusan lalu mengapa mereka beribadah kepada selain Allah ta’ala. Maka hal ini menunjukkan ketidakkonsistenan mereka dalam mengimani rububiyah Allah. Kalau mereka konsisten tentunya mereka juga harus beribadah hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya.
  2. Iman terhadap rububiyah itu meliputi keyakinan bahwa Allah adalah yang mencipta segala sesuatu, yang menguasai dan memilikinya, serta Allah satu-satunya yang mengatur segala urusan. Dan ini semua telah diyakini oleh orang-orang musyrik jaman dulu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dikafirkan dan diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena masalah ini, akan tetapi karena faktor yang lain yaitu karena mereka mempersekutukan Allah dalam hal ibadah.
  3. Secara fitrah, semua manusia telah mengakui keesaan rububiyah Allah, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang telah rusak fitrahnya atau karena faktor kesombongan dan kezaliman dirinya.
  4. Segala bentuk sesembahan selain Allah adalah lemah dan tidak menguasai apa-apa oleh sebab itu sangat tidak layak untuk dijadikan sebagai sesembahan atau tempat bergantungnya hati manusia.
  5. Perilaku Fi’aun dan pengikutnya memberikan pelajaran kepada kita bagaimana fitnah/ujian yang berupa kekuasaan dan kedudukan dapat menyeret pemiliknya ke dalam jurang dosa dan lembah kemaksiatan. Banyak orang yang bisa bersabar dengan kemiskinan dan rendahnya status sosialnya,  dan ternyata tidak sedikit juga orang yang terseret ke dalam lembah maksiat gara-gara fitnah harta dan kedudukan/jabatan. Nas’alullahas salamah
  6. Terkadang orang mengucapkan sesuatu yang tidak diyakininya, bisa jadi karena sombong, karena kezaliman atau karena faktor yang lainnya.
  7. Keyakinan terhadap kebenaran tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan ketundukan kepadanya. Oleh sebab itu para ulama memasukkan ketaatan dalam unsur pokok keislaman. Mereka biasa mendefinisikan Islam sebagai, “Kepasarahan kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, dan berlepas diri dari kemusyrikan dan pelakunya.” Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyatakan bahwa orang yang masuk surga adalah yang menaatinya. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku dia akan masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dialah orang yang enggan -masuk ke sana-.” (HR. Bukhari). Namun, perlu dipahami juga bahwa ketaatan ini bertingkat-tingkat, ada perkara yang wajib dan ada perkara yang sunnah. Dengan melakukan yang wajib maka seorang hamba selamat dari dosa, sedangkan dengan melakukan yang sunnah setelah yang wajib ditunaikan akan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah dan membuatnya semakin dicintai oleh-Nya, semoga Allah memasukkan kita dalam golongan hamba-hamba yang dicintai-Nya…
  8. Orang musyrik adalah orang-orang yang tidak ingat/berdzikir kepada Allah. Dalam artian mereka tidak konsekuen dengan keyakinan mereka bahwa langit dan bumi serta segala yang ada adalah milik-Nya. Mereka lupa (lalai) untuk beribadah semata-mata kepada-Nya yang itu merupakan konsekuensi atas rububiyah-Nya. Benarlah ucapan Syaikh Muhammad Musa alu Nashr -hafizhahullah- yang menyatakan, “Tauhid itu adalah dzikir yang paling agung.” (Ucapan ini beliau sampaikan dalam daurah syar’iyah yang diadakan oleh Ma’had al-Irsyad Surabaya tahun 2006, berupa file rekaman audio). Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ahli dzikir yang dipuji oleh ayat ataupun hadits bukanlah semata-mata orang yang banyak berkomat-kamit membaca tasbih, tahlil, tahmid, ataupun takbir, namun yang lebih utama dan lebih penting adalah berdzikir kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya dalam segala kondisi, dengan hati, ucapan maupun perbuatan anggota badan. Inilah dzikir paling agung, yang seandainya tidak ada dzikir ini maka semua bacaan dzikir yang lain tidak akan ada harganya di akherat kelak. La haula wa la quwwata illa billah
  9. Orang-orang musyrik bukan orang yang bertakwa, meskipun setiap hari mulutnya komat-kamit membaca wirid, kesana kemari membawa tasbih, dan dahinya hitam karena bekas sujud. Karena hakekat ketakwaan adalah menunaikan perintah dengan mengharap ridha dan pahala-Nya serta menjauhi larangan karena khawatiir akan murka dan siksa-Nya. Maka dimanakah letak ketakwaan orang yang menyia-nyiakan perintah Allah yang paling agung yaitu tauhid dan justru tenggelam dalam larangan Allah yang paling besar yaitu syirik?
  10. Allah memiliki sifat perkasa/’izzah dan ilmu. Dan kedua sifat ini telah diimani oleh orang-orang musyrik Quraisy. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian nama dan sifat Allah telah diimani oleh orang-orang kafir, meskipun demikian hal itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang beriman.
  11. Allah Maha pencipta, dan hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Kalau Allah bisa menciptakan alam semesta yang begitu tertata dan besar ini maka pastilah Allah itu maha perkasa lagi maha mengetahui. Karena tidak mungkin alam yang sedemikian luas ini diciptakan tanpa keperkasaan dan ilmu dari yang menciptakannya
  12. al-Qur’an menggugah kesadaran akal manusia, agar mereka mau memikirkan kebesaran ayat-ayat-Nya
  13. Tauhid uluhiyah merupakan konsekuensi dari tauhid rububiyah. Orang yang mentauhidkan Allah dalam perkara rububiyah namun tidak mentauhidkan-Nya dalam perkara uluhiyah/ibadah maka tidak disebut sebagai orang yang bertauhid. Orang yang bertauhid rububiyah tapi tidak bertauhid uluhiyah adalah orang yang tidak konsekuen.
  14. Tauhid yang didakwahkan oleh para nabi dan rasul adalah tauhid uluhiyah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.” (QS. an-Nahl: 36)
  15. Hendaknya berargumentasi kepada orang lain dengan sesuatu yang sudah mereka pahami dan mereka yakini kebenarannya.
  16. Bolehnya mengambil ucapan orang kafir yang benar dan dijadikan sebagai argumen untuk membantah kekeliruan mereka sendiri
  17. Tauhid mulkiyah -yang dimunculkan oleh sebagian kalangan- sudah tercakup di dalam tauhid rububiyah, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk memisahkan tauhid mulkiyah dari tauhid rububiyah. Demikian pula tauhid hakimiyah -mejadikan Allah sebagai satu-satunya penentu hukum- adalah bagian dari tauhid uluhiyah. Oleh sebab itu tidak ada alasan pula bagi mereka untuk memisahkan tauhid hakimiyah di luar tauhid uluhiyah. Tauhid mulkiyah dimasukkan dalam tauhid rububiyah karena hal itu tercakup dalam perbuatan Allah, sementara tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Adapun tauhid hakimiyah dimasukkan dalam tauhid uluhiyah karena hal itu tercakup dalam perbuatan hamba, sementara tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan hamba. Wallahu a’lam
  18. Membuat syari’at adalah hak Allah. Karena hanya Allah Yang menciptakan, maka Allah semata yang paling mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi hamba-hamba-Nya.
  19. Allah maha bijaksana, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan yang berhak menentukan hukum bagi semua makhluk-Nya.
  20. Kekafiran akan menyeret pelakunya ke dalam kebinasaan. Cepat ataupun lambat!
  21. Tidak ada yang bisa menyelamatkan manusia dari ancaman siksa Allah jika Allah sudah menetapkan hal itu menimpa mereka.
  22. Iman kepada takdir merupakan bagian dari iman kepada rububiyah Allah.
  23. Perbuatan atau keyakinan yang syirik menyebabkan batalnya keimanan
  24. Iman bukan sekedar tashdiq/pembenaran
  25. Iman tidak cukup hanya dengan keyakinan di dalam hati tanpa diiringi dengan amalan lahir
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Kaidah Penting and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Iman Terhadap Rububiyah Allah

  1. Moh. Isa Anshory Hasby says:

    Inilah ilmu keimanan yang menjawab kebesaran Allah Swt, iman seperti ini harus kita amalkan secara konsisten dan konsekuen jika kita ingin menjadi hamba Allah Swt yang terpilih masuk kedalam surga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>