Irodah Kauniyah dan Irodah Syar’iyah

Irodah artinya kehendak. Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah menerangkan, bahwa kehendak (irodah) Allah terbagi menjadi dua macam:

Irodah Kauniyah yaitu kehendak Allah yang mencakup segala hal yang terjadi di alam semesta. Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa pun yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Bisa jadi hal itu dicintai dan diridhai oleh-Nya, atau justru sebaliknya; hal itu adalah perkara yang tidak dicintai dan tidak diridhai-Nya.

Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), “Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan hidayah maka Allah akan lapangkan dadanya untuk menerima Islam, dan barangsiapa yang Allah kehendaki untuk disesatkan maka Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak; seolah-olah dia sedang mendaki ke atas langit.” (QS. al-An’am: 125)

Irodah syar’iyah; yaitu kehendak Allah yang terkandung dalam perintah-Nya, di dalamnya tercermin kecintaan dan keridhaan-Nya. Namun, apa yang dikehendaki-Nya menurut syari’at belum tentu terjadi kecuali apabila dikehendaki oleh-Nya secara kauni/irodah kauniyah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. al-Baqarah: 185).

Segala bentuk ketaatan adalah sesuatu yang Allah kehendaki secara syar’i (irodah syar’iyah), akan tetapi tidak setiap hamba menjadi pelaku ketaatan. Ada diantara mereka yang bermaksiat. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang taat bisa melakukan ketaatan dengan terkumpulnya kedua macam kehendak tersebut. Adapun orang yang bermaksiat, maka pada dirinya hanya terwujud irodah kauniyah. Allah -dengan hikmah-Nya- menghendakinya terjadi walaupun hal itu bukan perkara yang Allah cintai [1]

Referensi:

[1] al-Mukhtashar fi ‘Aqidati Ahlis Sunnah fi al-Qadar, hal. 55-58

This entry was posted in Kaidah Penting and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *