Jangan berbaring seperti itu!

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada manusia terbaik sepanjang masa Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi, teladan bagi umat dan hamba pilihan-Nya, semoga keselamatan pun tercurah kepada para pengikutnya yang setia mengamalkan sunnahnya hingga akhir masa. Amma ba’du.

Sesungguhnya Sunnah/ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum muslimin merupakan harta paling berharga dan rambu-rambu kehidupan yang paling menakjubkan dalam sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Bagaimana tidak? Sedangkan segala perkara mulai dari sejak bangun tidur hingga tidur kembali telah diajarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Kemudian para sahabat pun mentransfer ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Nabi kepada generasi sesudahnya demikian seterusnya dilanjutkan oleh para tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta para imam ahlul hadits di setiap generasi. Hingga akhirnya ajaran Islam itu bisa sampai kepada kita melalui literatur-literatur ulama hadits yang berkhidmat kepada agama, semoga Allah membalas jasa-jasa mereka.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. al-Maa’idah : 3). Inilah sebuah ayat yang senantiasa terngiang-ngiang di telinga kaum muslimin ketika mengingat keagungan dan kesempurnaan ajaran Islam ini. Sampai-sampai dikisahkan di dalam Shahih Bukhari [hadits no 7268] di dalam Kitab al-I’tisham bi al-Kitab wa as-Snunnah dari penuturan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu bahwa orang Yahudi pun turut mempersaksikan peristiwa agung dan bersejarah ini -yaitu turunnya ayat tersebut al-Maa’idah : 3- sebagai sebuah anugerah yang tiada tara bagi umat Islam, sampai-sampai dia mengatakan kepada Umar, “Seandainya ayat ini turun kepada Yahudi niscaya mereka menjadikan hari turunnya ayat itu sebagai hari raya.” (lihat Shahih al-Bukhari cet. Maktabah al-Iman hal. 1450). Subhanallah! Sungguh besar anugerah Allah kepada kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan kita. Beliau berbicara, memerintah, melarang, memuji dan mencela berdasarkan wahyu dari Rabb-nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya akan tetapi dia hanya menyampaikan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm : 3-4). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Apa saja yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr : 7). Setiap keputusan dan penilaian syari’at yang dinyatakan oleh beliau merupakan garis tegas yang akan memisahkan antara keinginan Allah subhanahu wata’ala dan hawa nafsu manusia. Sementara ketetapan Allah pasti bijaksana, adapun keinginan manusia senantiasa dilandasi oleh sifat bodoh dan aniaya. Oleh sebab itu tidak selayaknya bagi laki-laki yang beriman maupun kaum perempuannya untuk mencari alternatif solusi lain selain kembali tunduk dan pasrah kepada syari’at dan adab-adab Islam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak pantas bagi orang yang beriman baik lelaki ataupun perempuan apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan lain dalam mengatasi urusan mereka, barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab : 36).

Saudaraku sekalian -para pemuda yang semoga dirahmati Allah- sesungguhnya kita hidup di masa kemungkaran begitu merajalela di masyarakat. Media-media informasi dan tayangan-tayangan televisi telah berubah menjadi racun yang mengotori hati dan penyakit yang menggerogoti akhlak anak negeri. Sedangkan syari’at Islam yang suci ini tentu saja tidak membuka celah bagi para perusak agama untuk menghancurkan aset umat yang sangat berharga ini -yaitu generasi muda-. Oleh sebab itu, di antara tipu daya Iblis yang patut untuk kita waspadai adalah berbagai sarana dan kebiasaan buruk yang kini banyak bertebaran di dalam kehidupan sehari-hari kaum muslimin.

Di dalam sebuah syair dikatakan, “Aku mengenali keburukan bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menjaga diri dari bahayanya. Sebab barangsiapa yang tidak bisa membedakan baik dan buruk, sangat dikhawatirkan ia pasti terjerumus dalam keburukan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mewanti-wanti kita untuk menghindari perkara-perkara yang samar demi terbebas dari perkara yang haram. Beliau bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan yang haram juga jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar, banyak orang yang tidak mengetahuinya, maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara yang samar itu tentu dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terperosok dalam perkara syubhat/samar-samar itu niscaya akan terseret ke dalam perkara yang haram.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599]).

Anas bin Malik radhiyallahhu’anhu menceritakan -sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dalam Kitab ar-Riqaq [hadits no. 6492] -yang mengisahkan tentang betapa besar kehati-hatian generasi sahabat demi menjaga diri dari keharaman-, “Sesungguhnya kelak kalian akan melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan kalian hal itu lebih ringan daripada rambut, namun dalam pandangan kami yang hidup di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hal itu kami anggap termasuk perkara yang menghancurkan.” (lihat Shahih al-Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 1318).

Oleh sebab itulah generasi sahabat dan kaum salaf pada umumnya sangat dikenal sebagai manusia-manusia yang sangat wara’ dan bertakwa kepada Allah. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian yang ingin mencari panutan, maka ikutilah orang yang sudah meninggal, karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah/penyimpangan. Mereka itulah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka itu adalah orang-orang yang paling bersih hatinya di antara umat ini, paling dalam ilmunya serta paling sedikit membeban-bebani diri [dengan sesuatu yang bukan ajaran agama]…” (lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah fi Tauhid Asma’ wa Shifat, hal. 59).

Para sahabat begitu mengagungkan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada di antara mereka yang marah besar kepada temannya gara-gara temannya tidak mau mendengar/menuruti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai dia berkata kepada sahabatnya itu, “Aku tidak akan berbicara denganmu selama-lamanya, aku telah sampaikan kepadamu hadits Nabi namun kamu enggan mengikutinya.” Begitulah maknanya. Bahkan ada pula di antara mereka yang mencaci maki anaknya dengan cacian yang sangat keras gara-gara sang anak menentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitulah para pendahulu kita yang shalih. Mereka hidup, bertindak dan bersikap dengan senantiasa menjadikan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai undang-undang kehidupan mereka. Sami’na wa atha’na, itulah semboyan hidup mereka.

Nah, sangatlah jauh berbeda apabila kita coba membandingkan apa yang terjadi di masa silam dengan apa yang sering muncul di masa kini. Bukan saja di kalangan masyarakat awam yang jauh dari ilmu -sebagaimana bisa disaksikan dalam iklan di televisi dan di media periklanan yang lain-, bahkan juga di kalangan orang-orang yang menampakkan batang hidungnya di dalam majelis ilmu. Sebagian di antara mereka begitu mudah melakukan hal-hal yang merusak kehormatan dan bahkan memalukan di hadapan orang banyak. Subhanallah, seolah-olah kehormatan dan harga diri pada jaman sekarang ini sudah tidak ada lagi harganya! Terdorong oleh kewajiban memberikan nasehat kepada sesama kaum muslimin, saya ingin mengingatkan kepada diri saya dan para pembaca yang mulia tentang sebuah syari’at yang mulia, sebuah sunnah yang telah diabaikan oleh banyak orang, sunnah tarkiyah [perkara yang seharusnya ditinggalkan] yang diwariskan oleh al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita.

Imam at-Tirmidzi membuat bab di dalam Sunannya dengan judul ‘Dibenci/makruh berbaring di atas perut (tengkurap)’. Beliau mengatakan; Abu Kuraib menuturkan kepada kami; Abdah bin Sulaiman dan Abdurrahim menuturkan kepada kami dari Muhammad bin Amr; Abu Salamah menuturkan kepada kami riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada seseorang yang berbaring di atas perutnya (tidur tengkurap), maka beliau berkata, “Sesungguhnya cara berbaring seperti ini tidak dicintai oleh Allah.” (HR. Tirmidzi : 2692, disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Takhrij Misykat al-Mashabih, 4718 [12], dan dinilainya ‘hasan shahih’ dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi, 2768. asy-Syamilah. Diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad [1187] dari jalan Thikhfah bin Qais al-Ghifari, disahihkan al-Albani dengan teks “Bangkitlah, sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci Allah”, lihat Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad, 3/307 oleh Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah hafizhahullah).

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa tidak selayaknya bagi seorang tidur dengan posisi di atas perutnya [tengkurap]. Terlebih lagi jika dia berada di tempat-tempat yang dikelilingi banyak orang. Sebab apabila orang-orang melihatnya dalam posisi seperti ini maka hal itu adalah pemandangan yang dibenci. Akan tetapi apabila ada orang yang perutnya sedang sakit dan dia ingin berbaring dengan posisi seperti ini dikarenakan hal itu lebih terasa enak baginya maka hal ini tidak mengapa, sebab -saat itu- hal ini dibutuhkan.” (Syarh Riyadh ash-Shalihin, 2/659).

Imam Ibnu Majah menuturkan kepada kita; Ya’qub bin Humaid bin Kasib menuturkan kepada kami; Isma’il bin Abdullah menuturkan kepada kami; Muhammad bin Nu’aim bin Abdullah al-Mujammir meriwayatkan dari ayahnya, dari Ibnu Thikhfah al-Ghifari, dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan, “Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan melewatiku sedangkan ketika itu aku berbaring di atas perutku (tengkurap). Maka beliau pun membangunkanku dengan menggunakan kakinya seraya berkata, “Hai Junaidib (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya cara berbaring seperti ini [tengkurap] adalah cara berbaring penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah: 3724, disahihkan oleh al-Muhaddits al-Albani di dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibni Majah. asy-Syamilah).

Lihatlah saudaraku, mungkin bagi sebagian orang perkara ini dinilai sepele dan remeh. Atau ada yang akan mengatakan, “Perkara kecil kok dibesar-besarkan!”. Atau yang lain mengatakan, “Ini kan cuma makruh saja. Jadi ya gakpapa.” Padahal, sebagian ulama menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya tidur/berbaring dengan cara tengkurap (lihatlah Rasy al-Barad Syarh al-Adab al-Mufrad, hal. 636).

Pendapat ini -pengharaman tidur tengkurap- merupakan pendapat yang cukup kuat. Hal itu didukung oleh sebuah riwayat dalam al-Mu’jam al-Kabir oleh Imam ath-Thabrani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Thikhfah al-Ghifari -dia adalah salah seorang ahlush shuffah- yang pada suatu malam tidur/berbaring dengan posisi tengkurap, “Janganlah kamu tidur dengan cara seperti itu, karena itu adalah cara berbaring penduduk neraka.” (HR. Thabrani [8148] asy-Syamilah). Di dalam riwayat ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas melarang perbuatan itu. Sedangkan menurut kaidah ushul bahwa hukum asal larangan itu menunjukkan keharaman perbuatan yang dilarang kecuali apabila terdapat dalil lain yang menunjukkan bahwa hukumnya adalah makruh (lihat Jam’ al-Mahshul fi Syarh Risalah Ibni Sa’di fi al-Ushul, hal. 52 oleh Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan). Oleh sebab itu di dalam Aun al-Ma’bud [11/80, asy-Syamilah] disebutkan, “Di dalam hadits tersebut terkandung keterangan hukum yang menunjukkan bahwa tidur dengan posisi di atas perut/tengkurap adalah tidak boleh, dan posisi itu adalah posisi tidur syaitan.” Camkanlah hal ini baik-baik wahai saudaraku!

Apakah sesuatu yang tidak dicintai Allah, sesuatu yang dibenci oleh Allah dengan seenaknya akan kita katakan sebagai perkara yang ringan dan sepele?! Apakah dengan mental semacam ini kita akan maju berperang melawan tank dan rudal al-Yahud wa an-Nashara? Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Padahal, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d : 11).

Semoga Allah menyejukkan hati kita dengan ketundukan kita dan saudara-saudara kita kepada kebenaran. Ya Allah, tambahkanlah kepada Kami keyakinan kepada-Mu dan ketakwaan lahir maupun batin, sesungguhnya Engkau Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Ya Allah ampunilah kesalahan dan dosa-dosa kami, sesungguhnya Engkau Maha pengampun lagi Maha penyayang. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, 16 Muharram 1430 H
Ditulis oleh hamba yang membutuhkan Rabbnya

Abu Mushlih Ari Wahyudi
Semoga Allah mengampuninya dan kaum muslimin semua

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Bersih Jiwa and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Jangan berbaring seperti itu!

  1. bilal says:

    apa di hadis ada mas? aku baru tw sekarang….
    lha ak klo didepan komp berbaringnya model gitu……sekarang jadi duduk dah.
    trims….ntr tak liat di hadist, bab apa tuh mas?
    ass… wr.wb

  2. Ichwan Palongengi says:

    Wah… Ana sering sekali melakukan hal ini, kebanyakan waktu di internet…
    Minta izin untuk di-share dengan teman2 ana
    Terima Kasih sekali lagi utk ilmunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>