Kembali Kepada al-Kitab dan as-Sunnah

Saudaraku -semoga Allah menuntun kita kepada rahmat dan ampunan-Nya- agama Islam yang kita cintai ini telah memberikan pedoman hidup bagi umat manusia.

Allah ta’ala berfirman,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang suatu perkara, hendaklah kalian kembalikan hal itu kepada Allah dan Rasul; jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisaa’: 59)

Imam al-Baghawi rahimahullah (wafat 516 H) menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan ‘kembali kepada Allah dan Rasul’ adalah; kembali kepada kitab Allah dan kepada Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di saat beliau masih hidup dan kepada Sunnahnya di saat beliau telah meninggal (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 313)

Demikianlah penafsiran ‘kembali kepada Allah dan Rasul’ yang dinukilkan dari Mujahid, Qotadah, serta mayoritas ulama tafsir; sebagaimana diungkap oleh Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat 597 H) dalam tafsirnya (lihat Zaad al-Masir fi ‘Ilmi at-Tafsir, hal. 295)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat 751 H) mengatakan, “Telah sepakat para ulama terdahulu [salaf] dan belakangan [kholaf] bahwasanya maksud dari kembali kepada Allah adalah dengan mengembalikan kepada Kitab-Nya, sedangkan kembali kepada Rasul adalah dengan mengembalikan kepada beliau semasa hidupnya dan kepada Sunnahnya setelah beliau wafat.” (lihat dalam adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir yang dikumpulkan oleh Syaikh ‘Ali ash-Shalihi rahimahullah [2/236])

Imam al-Qurthubi rahimahullah (wafat 671 H) berkata, “Barangsiapa yang tidak memandang sebagaimana hal ini -wajibnya merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah, pent- maka sungguh telah cacat keimanannya berdasarkan firman Allah ta’ala ‘Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir’.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [6/433])

Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H) mengomentari ayat di atas, “Hal ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak mau berhukum dalam hal-hal yang diperselisihkan kepada al-Kitab dan as-Sunnah serta tidak merujuk kepada keduanya dalam menyelesaikan masalah itu, maka pada hakikatnya dia bukanlah orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [2/346])

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) berkata, “Hal itu menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak mengembalikan hal-hal yang diperselisihkan kepada keduanya -al-Qur’an dan as-Sunnah- maka dia bukanlah seorang mukmin yang sebenarnya; bahkan dia adalah orang yang beriman kepada thoghut, sebagaimana disebutkan pada ayat sesudahnya.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 184)

Saudaraku -semoga Allah menambahkan taufik-Nya kepada kami dan anda- dari keterangan-keterangan para ulama di atas, jelaslah bagi kita urgensi memahami al-Kitab dan as-Sunnah. Sebab dengan memahami keduanya dengan baik akan menjadi solusi atas segala persengketaan dan perselisihan umat manusia. Di samping itu, keimanan seorang hamba akan menjadi sempurna dan lurus dengan mengembalikan segala masalah agama kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Memetik Hidayah Dengan Bahasa Arab

Allah ta’ala menurunkan al-Qur’an kepada kita agar kita memetik hidayah yang terkandung di dalamnya sehingga dengan sebab itulah orang-orang beriman akan dapat meraih kebahagiaan dan keselamatan, di dunia dan di akhirat.

Allah ta’ala berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Apabila datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku itu niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)

 

Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mengikuti ajaran yang terdapat di dalamnya, maka Allah akan tunjuki dirinya dari kesesatan dan Allah akan menjaganya pada hari kiamat dari hisab yang buruk.” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 829 oleh Imam al-Baghawi rahimahullah)

Mengikuti ajaran al-Qur’an dengan baik dan sempurna akan terwujud apabila seorang muslim memahami bahasa al-Qur’an; yaitu bahasa arab. Ustadz Aceng Zakaria -semoga Allah membalas kebaikannya- mengatakan, “Sesungguhnya kebutuhan setiap muslim untuk mengenali kaidah-kaidah bahasa arab adalah sangat mendesak. Sebab, ilmu itulah yang menjadi ‘jembatan’ untuk memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan keduanya dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. Sementara tidak mungkin kita bisa memahami keduanya dengan pemahaman yang sempurna kecuali setelah mengetahui kaidah-kaidah bahasa arab.” (lihat mukadimah beliau terhadap kitabnya al-Muyassar fi ‘Ilmi an-Nahwi)

Ilmu bahasa arab ini -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah termasuk kategori ilmu yang bermanfaat. Beliau berkata, “Adapun ilmu nafi’/ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa mensucikan hati dan ruh yang pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ilmu itu adalah ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meliputi ilmu tafsir, hadits, dan fiqih serta segala ilmu yang menopang atau membantunya semacam ilmu-ilmu bahasa arab…” (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 42)

‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu berkata, “Pelajarilah bahasa arab, sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian dan pelajarilah fara’idh/ilmu waris sesungguhnya ia juga termasuk bagian dari agama kalian.” (lihat at-Ta’liqat al-Jaliyyah ‘ala Syarh al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah, hal. 34)

This entry was posted in Dakwah, Keutamaan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *