Memahami Ucapan Salaf Tentang Iman

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan maksud beberapa ungkapan yang diriwayatkan dari para ulama salaf tentang makna iman.

Pertama: Sebagian salaf mengatakan bahwa iman adalah ucapan dan amalan. Maka yang mereka maksud dengan ucapan itu adalah ucapan hati dan ucapan lisan. Sedangkan yang mereka maksud dengan amalan adalah amal hati dan amal anggota badan.

Kedua: Sebagian salaf mengatakan bahwa iman adalah ucapan, amalan dan keyakinan. Maka yang mereka maksud dengan ucapan adalah ucapan lisan -sebagaimana yang banyak dipahami orang- oleh sebab itu keyakinan disebutkan secara khusus. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa yang mereka maksud dengan amalan adalah amalan hati dan amal anggota badan.

Ketiga: Sebagian salaf mengatakan bahwa iman adalah ucapan, amalan, dan niat. Maka yang mereka maksudkan dengan ucapan adalah ucapan hati (keyakinan) dan ucapan lisan. Adapun maksud dari amalan terkadang hanya dipahami oleh banyak orang sebagai amalan lahiriyah. Oleh sebab itu mereka menambahkan niat pada pengertian iman.

Keempat: Sebagian salaf menambahkan pada pengertian iman selain apa yang sudah disebutkan di atas dengan kata-kata ‘ittiba’ kepada sunnah’. Karena perkara-perkara tersebut -ucapan, amalan, keyakinan, dan niat- tidaklah menjadi suatu hal yang dicintai Allah kecuali dengan mengikuti/ittiba’ kepada Sunnah.

Perlu diperhatikan pula, bahwa yang mereka maksudkan dengan ucapan dan amalan bukanlah semua ucapan dan amalan manusia, akan tetapi yang mereka maksud adalah ucapan dan amalan yang disyari’atkan. Lantas mengapa para salaf memakai ungkapan-ungakapan semacam itu? Jawabnya adalah dalam rangka membantah sekte Murji’ah yang hanya menjadikan iman sebagai ucapan. Oleh sebab itu Ahlus Sunnah menegaskan, bahwa iman itu ucapan dan amalan.

Adapun para ulama yang membagi hakikat iman menjadi empat, maka maksud mereka adalah seperti jawaban Sahl bin Abdullah at-Tasturi rahimahullah ketika ditanya tentang iman. Beliau mengatakan bahwa iman itu adalah, “Ucapan, amalan, niat (ikhlas), dan sunnah. Karena iman apabila hanya berupa ucapan tanpa amalan adalah kekafiran. Apabila ia hanya berupa ucapan dan amalan tanpa niat (ikhlas) maka itu adalah kemunafikan. Apabila ia berupa ucapan, amalan, dan niat (ikhlas) namun tidak disertai dengan Sunnah, maka itu adalah bid’ah.”

Sumber: al-Muntakhab min Kutub Syaikhil Islam Ibni Taimiyah hal. 39 karya Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf hafizhahullah. Penerbit: Darul Hijrah lin Nasyr wat Tauzi’ cet. 1419 H

This entry was posted in Kaidah Penting and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *