Mutiara Hikmah Surat al-Fatihah [Syaikh al-Utsaimin] Bagian 2

Kandungan Ayat Kedua

Allah ta’ala berfirman,

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.”

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan beberapa faidah ilmu dan hikmah yang bisa kita ambil dari ayat yang mulia ini:

  1. Penetapan sifat rahmat/kasih sayang. Rahmat adalah salah satu sifat Allah ‘azza wa jalla. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Rabbmu Maha Kaya, Sang Pemiliki Rahmat/kasih sayang.” (QS. Al-An’am: 133). Rahmat berbeda dengan irodah/kehendak ataupun ihsan/berbuat baik. Sifat rahmat adalah sifat tersendiri yang muncul darinya kehendak untuk melimpahkan kebaikan/ihsan kepada makhluk
  2. Penyebutan sifat rahman dan rahim pada diri Allah setelah penyebutan rububiyah Allah -pada ayat sebelumnya- menunjukkan bahwa rububiyah Allah adalah rububiyah yang dilandasi dengan rahmat dan ihsan/kebaikan bagi makhluk; yaitu dengan mendatangkan manfaat dan menolak madharat. Hal itu seperti ditunjukkan oleh firman Allah (yang artinya), “Apa pun nikmat yang ada pada kalian adalah berasal dari Allah. Kemudian apabila menimpa kalian bahaya maka kepada-Nya lah kalian kembali/berlindung.” (QS. An-Nahl: 53)
  3. Dalam penyebutan sifat rahman dan rahim terkandung dalil bahwa rahmat Allah itu maha luas. Hal ini bisa dipetik dari nama ar-Rahman, sebab kata ar-Rahman -dalam bahasa arab- memiliki rumus ‘fa’lan’ yang menunjukkan makna dipenuhi oleh sesuatu dan luas, seperti halnya kata ‘ghodhban’ yang artinya dipenuhi kemarahan, dsb.
  4. Dalam nama ar-Rahim terkandung penetapan bahwa Allah menyampaikan rahmat-Nya kepada siapa saja diantara hamba yang dikehendaki-Nya. Rahmat Allah terbagi dua; ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Rahmat yang bersifat umum dicurahkan kepada segenap makhluk; yaitu kasih sayang Allah dalam hal kehidupan dunia dan kebutuhan fisik mereka. Adapun rahmat yang bersifat khusus diberikan hanya untuk orang beriman; yang kasih sayang ini terus mereka dapatkan di dunia dan di akhirat berupa penjagaan diri dan agama mereka
  5. Dalam ar-Rahman dan ar-Rahim terkandung bantahan bagi orang-orang yang menolak mensifati Allah dengan rahmat. Mereka mengatakan bahwa rahmat bukanlah sifat sebenarnya bagi Allah, menurut mereka maksud rahmat adalah irodatul ihsan/menghendaki kebaikan atau ihsan itu sendiri. Padahal, hukum asal pemaknaan sifat adalah secara hakiki. Sehingga nama ar-Rahman maknanya adalah yang memiliki sifat rahmat. Dan tidaklah melazimkan apabila Allah disifati dengan rahmat kemudian Allah serupa dengan makhluk. Rahmat Allah maha sempurna, sehingga penetapan sifat rahmat pada diri-Nya tidaklah menunjukkan kekurangan sebagaimana sifat rahmat pada makhluk/manusia yang terkadang muncul dari hikmah/kebijaksanaan dan terkadang bukan didasari hikmah [lihat Ahkam min al-Qur’an al-Karim, hal. 14-16]

This entry was posted in Penjabaran, Tafsir and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *