Nasehat Untuk Ahlus Sunnah di Indonesia

Oleh Syaikh Muhammad al Imam hafizhahullah
(Muhadharah Via Telepon)

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -shallallahu ‘alaihi wa salam-. Amma ba’du:

Aku memuji Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mampu, Rabb Al-’Arsy Al-Karim yang telah memudahkan kami untuk berhubungan dengan saudara-saudara kami. Maka ini merupakan keutamaan dari Allah Ta’ala untuk kita dan untuk manusia, hanya saja kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Hal ini merupakan nikmat yang besar disaat kita bisa saling berhubungan, kita tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, kita bersama-sama memerangi hawa nafsu, menghadap kepada peribadatan kepada Al-Maula (Allah Ta’ala).

Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah -barakallahu fiikum-. Sesungguhnya Allah telah memilih umat islam di antara sekian umat, dan memilih Muhammad sebagai seorang rasul dan nabi di antara sekian banyak orang dan di antara sekian banyak pahlawan, dan memilih ahlus sunnah wal jama’ah, ahlu ittaba’ wal atsar, ahlul hadits wal khabar di antara sekian banyak sempalan dan kelompok. Pemilihan dari Allah Ta’ala ini adalah setelah pemilihan, pengkhususan, penyaringan dan taufiq dari Allah Ta’ala. Dan pengkhususan yang kedua ini adalah pengkhususan ahlul atsar wal khabar diantara sekian banyak kelompok sempalan dan kesesatan. Dan ini adalah pengkhususan, pemilihan, taufiq dan penyaringan yang sempurna, yang dengannya akan sempurna kehidupan seorang muslim dalam segi agama, lurus dengannya agama ini, dan akan baik dunianya dengannya.

Dan sebagaimana kalian ketahui bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan kitab-Nya yang mulia dan sunnah nabi-Nya penjagaan dari kesalahan bagi siapa saja yang berpegang teguh dengan keduanya, sebagai nikmat bagi yang diberi taufiq mengamalkan keduanya, dan sebagai rahmat bagi siapa saja yang menjadi sebab ketaatan kepada keduanya. Maka seorang muslim yang meniti jalan rasul bukan pelaku bid’ah, yang berpegang teguh bukan bercerai berai, yang mengarah kepada al-haq bukan berpaling, yng mengamalkan syari’at bukan berpaling, menunaikan al-haq bukan mengubah dan bukan mengganti, yang seperti ini Allah Ta’ala telah menjamin baginya adanya dukungan dan pertolongan yang khusus beserta perlindungan dan penjagaan yang dikhususkan baginya dari sekian banyak manusia.

Allah Rabb semesta alam berfirman kepada nabi-Nya,

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jika kalian enggan menolongnya (Muhammad) maka sungguh Allah telah menolongnya, ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam goa, ketika dia mengatakan kepada temannya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan dari-Nya atasnya, dan Allah mengkokohkaan mereka dengan tentara yang kalian belum melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu hina. Dan seruan Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 40)

Maka seorang muslim yang berpegang teguh jika dihinakan manusia dan jika dimusuhi manusia maka sesungguhnya bersamanya ada penolong yang paling baik (yaitu Allah Ta’ala). Allah Ta’ala berfirman,

إِن يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ

“Jika Allah menolong kalian maka tiada yang bisa mengalahkan kalian.”

Mak seorang muslim jika meminta bantuan kepada Allah tidak akan merugikannya hinaan para penghina dan tidak akan terealisasikan padanya makarnya pembuat makar. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla mengawasi mereka semua.

Wahai saudaraku sekalian, yang dituntut adalah agar kita memperkuat hubungan kita dengan pencipta kita, pemelihara kita, dan yang memiliki perkara kita semua. Kita memperkuat hubungan kita dengan Rabb kita. Dengan penuh rasa takut mereka diawasi oleh-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, mengejar apa yang ada di sisi-Nya, menjauhi apa yang menjadi ancaman-Nya Maha Suci Allah dan Maha Tinggi.

Kapan kalbu-kalbu itu dihidupkan dengan dzikir kepada Allah Ta’ala, penuh dengan pengagungan kepada Allah Ta’ala dan rasa takut kepada Allah Ta’ala serta merasa di awasi oleh Allah Ta’ala, maka akan mudah bagi anggota badan untuk melahirkan ucapan dan amalan yang baik, yang shalih. Hati-hatilah engkau dari kelalaian untuk memperbaiki kalbumu karena perbaikan kalbu-kalbu kita ini lebih berat dari pada perbaikan bendungan, lebih berat dari pembangunan pabrik, lebih berat dari pembuatan kapal. Jangan engkau lalai untuk memperbaiki kalbumu. Jika baik kalbumu maka akan baik keadaanmu, jika lemah kalbumu akan lemah keadaanmu, dan jika rusak kalbumu akan rusak keadaanmu. Dan jika kalbumu menjauh dari Allah Ta’ala maka Allah akan menjauh dari hamba. Dan balasan itu sesuai dengan amalannya.

Wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya berpegang teguh dengan manhaj nubuwah benar-benar wujud kelurusan dan hakekat petunjuk, penegak amalan hamba di atas sebaik-baik perbekalan. Hendaknya semua semangat untuk berada di atas titian ini, titian di atas manhaj nubuwah. Syaikhul Islam -rahimahullah- berkata: “Al-haq itu perputar bersama Rasul kemana dia mengarah, dan bersama para shahabatnya tanpa yang lainnya kemana mereka mengarah”. Maka merupakan kaidah yang sangat agung yang bertolak darinya ahlus sunnah dan mereka membangun pegangan teguh mereka di atasnya: “Bahwa mereka bersama al-haq di manapun berada, berputar bersama mereka kemanapun mereka mengarah”. Sungguh pemimpin orang terpilih dan orang-orang terbaik telah mengajarkan pada kita agar kita mengatakan pada do’a istikharah:

وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

“Dan taqdirkan bagiku kebaikan di manapun berada, kemudian jadikan aku ridha padanya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan lainnya.

Lafazh: “Kemudian jadikan aku ridha padanya”, sesorang terkadang mengetahui al-haq, ditampakkan oleh Allah Ta’ala al-haq padanya tapi dia enggan menerimanya, jika dia menerimanya tidak bisa jujur dalam menerimanya dan tidak ikhlas dalam menunaikannya. Tidaklah setiap orang yang menerima al-haq terus menjadi al-haq.

Maka kita butuh untuk memahami bagaimana bisa berpegang teguh dengan agama Allah Ta’ala dan menegakkan syari’at Allah Ta’ala, berhenti pada batasan-batasan Allah Ta’ala. Jika Allah Ta’ala merizkikan kepadamu sikap berpegang teguh dengan al-kitab dan as-sunnah maka engkau akan puas tenang dengan keduanya dan engkau tidak akan menginginkan selainnya, dan tidak menginginkan gantinya. Maka ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah memuliakan dengan sesuatu yang mencukupkan engkau dari adat manusia dan pandangan manusia serta aturan manusia. Engkau tidak membutuhkan sedikitpun apa yang mereka miliki, sesungguhnya kita ini butuh untuk mempelajari dan mendalami syari’at islam, mengamalkannya dan medakwahkannya serta membelanya. Kita butuh akan itu semua.

Maka setiap kita hendaknya memuji Allah Ta’ala akan anugerah-Nya dan akan apa yang dikhususkan dengannya dan dia dimuliakan dengannya. Ingat dan ingatlah jangan sampai syaithan mendatangi kita dari pintu kelalaian. Syaithan itu musuh manusia dan makhluk yang paling keras gangguannya terhadap orang-orang beriman dan terhadap orang yang berpegang teguh, dan orang yang baik dan shalih. Sesungguhnya gangguan untuk golongan orang ini sangatlah besar. Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tetntang syaithan,

لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Benar-benar aku akan duduk (merintangi) bagi mereka jalan-Mu yang lurus.”

Syaithan tidaklah duduk merintangi di jalannya orang-orang yang menyimpang, dan jalannya orang sesat dan kafir. Hanyalah dia duduk (melazimi) merintangi jalan kebenaran dan jalan istiqamah. Sebagaimana yang dikabarkan, siapa yang ingin istiqamah dan memperbaiki hubungan dia dengan Allah Ta’ala, dan ingin kokoh dalam syari’at Allah Ta’ala bertindaklah syaithan dengan makrnya dan tipu dayanya, dengan was-wasnya dan tipuan hiasannya, dengan hinaannya dan manakut-nakuti beserta pemecah-belahannya. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa salam- telah benar dalam sabadanya,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى الجَزِيرَةِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk bisa diibadahi orang yang shalat di jazirah. Akan tetapi (dia merusak) dengan memecah belah antara mereka.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir -radhiyallahu ‘anhu-.

Maka syaithan memecah belah antara orang-orang yang beriman, bahkan antara orang yang bajik dan shalih. Maka siapa diantara kita yang tidak waspada dan sadar akan pemecah belahannya syaithan akan menjerumuskannya dalam pergulatan dan pertarungan terhadap saudaranya sesama muslim untuk bisa menyingkirkan keduanya. Oleh karena itu, waspadalah dari datangnya syaithan melalui kelalaian kita. Dan kita semangat sebatas kemampuan kita melakukan segala perkara sehingga kita bisa membendung pintunya dan bisa memotong jalannya bi idznillah. Kita semangat untuk saling menasehati antara kita, karena tujuan perbaikan bukan tujuan yang lain dari keinginan-keinginan yang menjauhkan keikhlasan dan kejujuran. Dan juga kita semangat untuk saling menasehati antara kita ketika telah terjadi perselisihan antara si fulan dan yang lain, dan kita harus berhias, bersenang-senang dan bernikmat-nikmat dengan sifat sabar demi terjaganya ukhuwah dalam agama ini, dan demi dakwah kepada Allah Rabb semesta alam, serta demi tambahnya kebaikan dan saling tolong-menolong dalam kebaikan.

Rabb kita jalla sya’nuhu menguji dan memberi cobaan pada kita dengan sebagian kita, agar bisa diketahui adanya kesabaran kita atau tidak adanya, dan agar diketahui mana yang jujur dalam ta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan dan yang tidak seperti itu. Rabb kita berfirman dan Dia adalah yang paling benar ucapannya,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagian kalian bagi yang lainnya fitnah (ujian), apakah kalian akan bersabar? Dan adalah Rabbmu itu Maha Melihat.”

Subhanallah, betapa banyak saudara kita yang lalai dari ayat ini. Ketika timbul dari saudaranya sesuatu dia berusaha bagaimana bisa menyingkirkannya, bagaimana bisa mengalahkannya, dan bagaimana bisa memaksakan pendapatnya -kecuali orang yang dirahmati Allah Ta’ala-.

Rabb kita mengajak kita kepada pemberian yang paling luas yang Dia berikan kepada hamba, memuliakan dengannya hamba. Al-Bukhary dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa salam- bersabda,

وَمَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدًا مِنْ عَطَاءٍ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidaklah seorangpun diberi pemberian lebih baik daan lebih luas dari kesabaran.”

Wahai saudara sekalian, aku ingakan kalian akan atsar yang sangat agung, yaitu atsar yang hasan dari Ibnu Mas’ud dia berkata ditujukan kepada shahabat di saat itu, pada saat terjadinya sedikit perselisihan: “Sesungguhnya apa yang kalian benci selama dalam jama’ah itu lebih baik dari apa yang kalian cintai dalam perpecahan”.

Maka tetap bersamanya kalian dengan saudaramu ahlus sunnah lebih baik bagimu, wallahi, meskipun ada sedikit perselisihan, meski terjadi perselisihan antara engkau dan saudaramu, yang ini keterlaluan dalam bicara tentangnya atau tentang saudaranya. Kesabaran, perbaikan dan nasehat dan yang semisalnya adalah obat, penyembuh, dan terapinya semua perkara ini. Maka janganlah kalian ceburkan diri kalian dalam perselisihan, dan jadilah sebagaimana yaang kalian diperintah Allah ta’ala, merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka, apa yang harus diperbuat, bagaimana sikapnya bersama ini atau bersama orang-orang yang terjadi dari mereka ini.

Maka kita memuji Allah Ta’ala bahwa dakwah ahlus sunnah di Yaman berjalan di atas kebaikan demikian pula di tempat lain. Dikarenakan orang-orangnya mengikuti arahan para ulama yang mana mereka lebih tahu akan peristiwa perselisihan, yang mana mereka berusaha untuk memperbaikinya dan menutup pintu-pintu fitnah. Maka merujuk kepada mereka inilah yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala, dan ialah yaang dibutuhkan oleh setiap orang yang memikul dakwah di manapun berada, dia butuh akan hal itu. Maka merujuk kepada ulama hadits ulama sunnah adalah diantara sebab yang paling besar untuk memperbaiki keadaan, untuk berlangsungnya kebaikan dan persatuan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاء وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Kalau bukanlah keutamaan Allah atas kalian dan rahmat-Nya tidaklah Dia akn mensucikan seorang dari kalian selamanya, akan tetapi Allah mensucikan siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Mendengar lagi Maha Tahu.”

Dan Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan jika datang suatu perkara keamanan atau ketakutan serta merta mereka menyebarkannya, kalau saja mereka mengembalikannya kepada Rasul dan ulil amri dari mereka niscaya akan mengetahui orang jeli memandangnya dari mereka. Dan kalau bukan karena keutamaan Allah atas kalian niscaya kalian benar-benar mengikuti syaithan kecuali sedikit.”

Kapan kita bisa menjadi pengikut syaithan? Jika kita meninggalkan merujuk kepada ulama ketika terjadi perselisihan dan fitnah. Maka kami mewasiatkan kepada saudara kami -hafizhahumullah- dengan kelurusan, petunjuk dan kesabaran dan mengikuti bimbingan ulama sehingga daerah perselisihan tidak meluas, sehingga tidak terjadi saling hajr dan menghizbikan dengan cara yang tergesa-gesa, buru-buru dan tidak tahu hakekat masalah dengan batasan-batasannya. Maka terjadilah antara dulu dan sekarang si fulan berbeda dengan si fulan tapi apa itu kelurusan? Kelurusan adalah bahwa manusia tidak merujuk kepada yang berselisih atau salah satunya, namun merujuk kepada ulama yang mengetahui perselisihan ini, yang hidup atau mengetahui perselisihan ini.

Jika sikap merujuk ini terjadi, maka bergembiralah dengan tetapnya keadaan lurus, dan terus-menerusnya kebaikan, lestarinya ta’awun, persaudaraan, saling mendukung, dan saling menolong. Dan inilah yang terjadi -bihamdillah- pada diri kami di Yaman, mereka menempuh jalan merujuk kepada ulama dan mendengarkan bimbingannya dan apa yang mereka katakan. Maka kebaikan terjaga dan dakwah ahlus sunnah tetap berlangsung -bi idznillah-, juga tertolong dengan pertolongan Allah Ta’ala, terjaga dengan penjagaan Allah Ta’ala sampai hari kiamat. Entah dakwah itu akan tertolong dengan kita entah dengan selain kita, entah akan tersebar dengan sebab kita atau dengan selain kita. Allah Ta’ala telah berfirman,

وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”

Barang siapa bukan orang yang berhak mengampu dakwah ini, namun dia menjadikan dakwah ini untuk meraih kepentingan dunia, maka perbuatan seperti ini tidak akan langgeng. Karena Allah Ta’ala itu lebih pencemburu dari pada kita akan agama-Nya, akan dakwah rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa salam-. Jika saudar-saudara kita ahlus sunnah berada di atas bimbingan para ulama, akan tetap ada kebaikan ini, ukhuwah akan langgeng, dakwah kepada Allah akan kuat.

Yang penting, dakwah ahlus sunnah akan tertolong dengan kita atau selain kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”

Sepantasnya bagi kita untuk menjihadi diri-diri kita dengan kejujuran terhadap Allah, keikhlasan kepada Allah, ridha terhadp al-haq dan menerimanya. Jika ini terwujudkan akan lestari kebaikan ini biidznillah. Berusahalah dengan sunguh-sungguh, maka berbekallah dengan ilmu syar’i dan mengamaalkan konsekuensinya.

Aku memohon kepada Allah dengan anugerah-Nya dan kemurahan-Nya, dengan keutamaan-Nya dan kebaikan-Nya agar mengkokohkan kita semua di atas al-haq sampai kita bertemu dengan-Nya. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.

Ditranskrip dan diterjemahkan oleh:
‘Umar Al-Indunisy
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman

Sumber: darussalaf.com

Dikutip dengan editing ulang dari: http://salafiyunpad.wordpress.com

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Jalan Lurus and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Nasehat Untuk Ahlus Sunnah di Indonesia

  1. ibnu ahmad s says:

    ass,, mohon izin untuk share ya… jakillahu khairan…

  2. alia sarifah says:

    salamu Alaykum, Subhanallah nasehat yang indah mengingatkan kita untuk kembali berpegang teguh pada Kuran dan Sunnah. izin share pak ustadz.. saya lahir dari keluarga NU, Kiyai, dan tradisi yang begitu kental. tetapi ketika menginjakkan kaki di eropa, saya mulai menemukan apa yang selama ini tidak saya pahami tentang islam karena terbentur dengan tradisi. Kini setelah saya paham dan merasa Alhamdulillah puas dan bahagia secara batiniyah hidup berpegang pada sunnah, kemudian saya hendak menikah dengan seorang muallaf jerman yang juga ahlussunnah dan inschaAllah sholeh, keluarga masih belum merestui dengan alasan yang tidak jelas. Saya ingin sekali keluar dari tradisi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan islam, tetapi bagaimanapun juga saya butuh restu keluarga (wali). mungkin saudara bisa memberikan nasehat atau saran apa yang harus saya lakukan, syukron
    Wassalam

  3. Abu Mushlih says:

    Berdoalah kepada Allah, mudah-mudahan Allah mudahkan urusan anda….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>