Perintah Yang Paling Agung

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Allah ta’ala berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Rabbmu memerintahkan: Janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan kepada kedua orang tua hendaklah kalian berbuat baik.” (QS. Al-Israa’: 23)

Pelajaran Yang Bisa Dipetik:

[1] Ayat yang mulia ini menunjukkan perintah untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak menyembah selain-Nya. Ini pula yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah. Ayat di atas mengandung penafian dan penetapan sebagaimana yang terdapat di dalam kalimat laa ilaha illlallah (lihat ad-Durr an-Nadhidh ‘ala Abwab at-Tauhid, hal. 11)

[2] Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mensyari’atkan untuk beribadah kepada Allah bukan kepada selain Allah apapun bentuknya; apakah beribadah kepada berhala, wali, orang salih, tempat keramat, kuburan, atau batu dan pohon. Segala bentuk peribadahan kepada selain Allah adalah syari’at setan (lihat I’anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/38])

[3] Ayat ini juga menunjukkan bahwa tauhid adalah hak yang paling utama dan kewajiban yang paling besar sebab Allah memulai perintah di dalam ayat ini dengannya, dan tidaklah dimulai suatu hal kecuali dengan mendahulukan yang terpenting kemudian perkara penting berikutnya (lihat al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 13)

[4] Ayat di atas menunjukkan betapa besar hak kedua orang tua karena Allah menyandingkan hak mereka setelah hak-Nya. Sehingga ayat ini pun menunjukkan wajibnya untuk berbuat ihsan/kebaikan kepada mereka berdua dengan segala macam bentuknya. Selain itu, ia juga mengandung larangan berbuat durhaka kepada mereka (lihat al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 14)

[5] Ayat ini serupa dengan firman Allah yang lain (yang artinya), “Tidak ada hukum kecuali milik Allah. Allah memerintahkan supaya kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Itulah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40) (lihat Fath al-Hamid fi Syarh at-Tauhid [1/205])     

[6] Ayat ini menunjukkan bahwa dosa yang terbesar adalah mempersekutukan Allah, kemudian termasuk jajaran dosa yang terbesar berikutnya adalah durhaka kepada kedua orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa besar yang paling besar?”. Kami -para sahabat- menjawab, “Tentu saja mau wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Yaitu berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 11)

This entry was posted in Dakwah, Kaidah Penting, Keutamaan and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *