SALAFI BUKAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH?

Sebuah kritik atas kedustaan website al-ikhwan.net

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek-sejelek perkara adalah bid’ah, setiap bid’ah pasti sesat. Amma ba’du.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki untuk kalian amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. al-Ahzab : 70-71).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk baginya dan dia mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’ : 115).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah (hai Muhammad); Inilah jalanku! Aku berdakwah mengajak [manusia] menuju Allah di atas landasan bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, dan Maha suci Allah aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat/ketulusan.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Untuk Allah, rasul-Nya, Kitab-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk segenap rakyatnya.” (HR. Muslim).

Sesungguhnya para ulama salaf [baca: ulama terdahulu] –semoga Allah menjadikan kita sebagai pengikut mereka yang sejati- telah mengajarkan kepada kita untuk bersikap lapang dada menerima kebenaran. Sudah sangat akrab dalam telinga kita ucapan mereka, “Apabila suatu hadits terbukti sahih maka itulah madzhabku.” Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah mengatakan, “Barangsiapa menentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berada di tepi jurang kehancuran.” Imam asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya untuk meninggakan hal itu gara-gara mengikuti pendapat siapa saja.” (bacalah atsar-atsar ini dalam mukadimah Shifat Sholat Nabi karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah).

Oleh sebab itulah sebagai bentuk nasehat kepada saudara kami sesama kaum muslimin yang merindukan kebenaran dan keridhaan ar-Rahman, dalam kesempatan ini kami ‘terpaksa’ menyajikan tulisan yang cukup pedas ini kepada khalayak. Salah seorang tokoh gerakan dakwah –semoga Allah menunjukinya- pernah mengatakan ungkapan yang tidak layak untuk kita ingkari, “Maka tidak ada seorang pun yang boleh merasa lebih tinggi sehingga tak boleh untuk dibantah… dan tidak ada seorang pun yang boleh menyombongkan diri terhadap kebenaran [yang datang]…” (Ucapan Salman al-Audah, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullah dalam Mukadimah Su’al wa Jawab haula Fiqh al-Waqi’, hal. 15).

Saudaraku sekalian –semoga Allah melapangkan dada kita untuk mengikuti kebenaran- sesungguhnya kadzib atau dusta adalah salah satu akhlak tercela yang diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga mempertahankan kebodohan adalah salah satu karakter jahiliyah yang tidak pantas untuk dilestarikan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apayang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al-Israa’ : 36). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan perkara-perkara yang keji yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang sama sekali tidak Allah turunkan bukti atasnya, dan [Allah juga mengharamkan] kalian berbicara tentang Allah apa yang kalian tidak ketahui ilmunya.” (QS. al-A’raaf : 33).

Sebuah perkara yang sudah demikian jelas bagi umat Islam dan para ulamanya bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, baik dalam hal aqidah, akhlaq, ibadah, jihad, maupun dalam hal dakwah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama berjasa bagi umat Islam yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah keberuntungan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah : 100). Salaf adalah generasi terdahulu umat ini dari kalangan Muhajirin dan Anshar, para tabi’in dan juga tabi’ut tabi’in. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di jamanku [para sahabat], kemudian sesudahnya [tabi’in], kemudian sesudahnya lagi [tabi’ut tabi’in].” (HR. Bukhari dan Muslim). Suatu ketika beliau juga bersabda kepada Fathimah radhiyallahu’anha, “Sesungguhnya sebaik-baik salaf/pendahulu untukmu adalah aku.” (HR. Muslim).

Imam al-Auza’i rahimahullah mengatakan, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti jejak para salaf (sahabat), dan jauhilah pendapat akal orang-orang itu meskipun mereka menghias-hiasinya di hadapanmu dengan ucapan yang indah.” Imam adz-Dzahabi rahimahullah ketika memuji Imam ad-Daruquthni rahimahullah yang enggan untuk mendalami filsafat, beliau berkata, “Beliau [ad-Daruquthni] adalah seorang salafi.” Maka salafi adalah penisbatan kepada generasi terbaik umat ini. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Bukanlah suatu aib bagi orang yang menampakkan madzhab salaf [secara terang-terangan] dan merasa mulia dengannya. Bahkan pernyataannya itu wajib diterima, dikarenakan madzhab salaf itu tidak lain merupakan kebenaran itu sendiri.” (bacalah Limadza ikhtartul manhaj salafy karya Syaikh Salim al-Hilali). ash-Shabuni rahimahullah –seorang ulama yang sangat terkenal- pun telah menulis kitabnya yang sangat masyhur dalam hal aqidah yaitu Aqidah Salaf Ash-habul Hadits. Bahkan, salah seorang tokoh gerakan Ikhwanul Muslimin di negeri ini pun mengakui bahwa salafi merupakan penisbatan yang terpuji, sebuah upaya merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salafush shalih, itulah salafi, sebagaimana yang ditegaskan di dalam pernyataan ittijah fiqih Dewan Syari’ah Partai Keadilan [ataukah mereka mengatakan bahwa dalam hal fiqih ittijah mereka salafi namun dalam hal aqidah tidak salafi?].

Oleh sebab itu, sungguh perkara yang aneh bin ajaib dan sangat memprihatinkan ketika salah satu penulis mereka mengatakan dengan tanpa malu di dalam artikelnya yang mengupas tentang aqidah dan mengungkapkan nama lain dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, saudaraku tersebut [yang tidak menyebutkan nama aslinya] –semoga Allah menyadarkannya- mengatakan, “Adapun istilah yang sekarang coba dipopulerkan oleh sebagian orang, yaitu istilah Salaf ataupun Salafi, maka itu tidak aku temukan dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, maka tidak perlu dihiraukan sedikitpun.” (Dirasat Fi Al-Aqidah Al-Islamiyyah, rubrik Tsaqafah Islamiyah, oleh: Abi AbduLLAAH. Dipublikasikan pada 29/1/2007 / 10 Muharram 1428 H).

Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. Ini jelas merupakan kedustaan atas nama al-Kitab, as-Sunnah, dan kitab-kitab ulama salaf. Allah lah yang menjadi saksi, sebelum mempublikasikan tulisan ini kepada khalayak saya telah mengirimkan minimal dua kali kritik dan komentar kepada mereka untuk meluruskan hal ini [komentar saya yang pertama sudah pernah saya kirimkan sejak beberapa waktu yang silam, dan saya berharap setelah itu terdapat kemajuan, namun dengan takdir Allah beberapa waktu lamanya saya tidak lagi membukanya dan kini dengan tampilan barunya ternyata tulisan itu tidak berubah satu kata pun!]. Namun kiranya tanggapan saya tidak mereka perhatikan. Maka dari itu, saya harus mengemukakan kekeliruan ini kepada para pembaca sekalian agar saudara-saudara kita yang lain tidak ikut terpedaya oleh kepalsuan dan kekeliruan yang diserukan oleh sebagian manusia. Saya berharap dengan sangat agar penulis artikel tersebut meralat ucapannya yang sangat fatal dan bahkan bertentangan dengan pernyataan tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri, dan yang lebih menyedihkan adalah ternyata apa yang ditulisnya bertentangan dengan al-Kitab, as-Sunnah dan perkataan para a’immah! Laa haula wa laa quwwata illa billaah!

Sadarlah wahai para pemuda! Islam tidak mengenal prinsip tujuan menghalalkan segala cara. Di dalam Islam dusta adalah perbuatan dosa yang sangat besar. Oleh sebab itu para ulama hadits masih tetap menerima riwayat ahlu bid’ah selama dia tidak mengajak kepada bid’ahnya dan tidak dikenal berdusta. Bahkan, para pendusta itu lebih hina dalam pandangan mereka [ulama ahli hadits] daripada kaum ahlu bid’ah. Maka mereka tidak segan-segan untuk menggelari para tukang dusta itu dengan ‘Kadzdzab’,’ Dajjal’ dan lain sebagainya demi terpeliharanya keutuhan dan kemurnian hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ajaran Islam dari berbagai kotoran penyimpangan.

Oleh sebab itu wahai saudaraku, tegakkanlah keadilan yang sering kalian dengung-dengungkan itu, belalah kebenaran dan kejujuran yang sering kalian serukan itu, bersikaplah terbuka dan jangan taklid buta, berpikirlah dengan jernih, “Apakah kalian perintahkan manusia untuk mengerjakan kebaikan sementara kalian melupakan diri kalian sendiri?”. Janganlah seperi ahli kitab yang ‘ngotot’ menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya. Aduhai, tidakkah kalian ingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah dusta, sesungguhnya dusta akan menyeret kepada perbuatan fajir, dan sesungguhnya perbuatan fajir akan menyeret menuju neraka. Sesungguhnya apabila seseorang selalu berbuat dusta maka di sisi Allah orang itu akan tercatat sebagai seorang pendusta. ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Silakan anda menilai -wahai saudaraku yang bijak- siapakah yang layak untuk kita hiraukan? Hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan ucapan para ulama ataukah perkataan tanpa dasar yang sangat arogan semacam itu, “Adapun istilah yang sekarang coba dipopulerkan oleh sebagian orang, yaitu istilah Salaf ataupun Salafi, maka itu tidak aku temukan dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, maka tidak perlu dihiraukan sedikitpun.” (Dirasat Fi Al-Aqidah Al-Islamiyyah, rubrik Tsaqafah Islamiyah, oleh: Abi AbduLLAAH. Dipublikasikan pada 29/1/2007 / 10 Muharram 1428 H). Ini adalah ucapan yang sangat arogan, belum pernah kita dengar ada di antara ulama salaf yang mengatakan demikian.

Kalau hadits Nabi dan keterangan para ulama tidak perlu dihiraukan, maka ucapan siapa lagi yang akan kita ikuti wahai saudaraku? Benarlah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Katakanlah; Maukah aku kabarkan kepada kalian orang-orang yang paling merugi amalnya; yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dalam kehidupan dunia sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi : 103-104). Sungguh benar ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya.”

Sebagai nasehat terakhir, renungkanlah kandungan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki untuk kalian amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. al-Ahzab : 70-71). Semoga lisan-lisan kita terjaga dari dusta, demikian pula pena yang kita goreskan, ingatlah bahwa semuanya dicatat oleh malaikat dan setiap kita akan ditanya tentang apa yang telah diperbuatnya di alam dunia. “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu batil serta karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.” “Ya Allah, janganlah Kau sesatkan hati kami setelah Kau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha pemberi karunia.” Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.

Selesai disusun di Yogyakarta, 15 Muharram 1430 H
Hamba yang fakir kepada Rabbnya

Abu Mushlih Ari Wahyudi
Semoga Allah menerima amalnya

This entry was posted in Pemurnian Ajaran and tagged , , . Bookmark the permalink.

32 Responses to SALAFI BUKAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH?

  1. ammar sholahuddin says:

    Assalamu’alaikum
    pertama saya sangat berterimakasih atas tulisan-tulisan yang ada, selanjutnya saya mohon izin untuk mengikutkannya dalam blog saya.

    wassalamu’alaikum

  2. elvin says:

    Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh
    mohon penjelasannya…sejak kapan istilah salafi itu di pakai utk satu kelompok atau golongan tertentu ?? Karena hari ini begitu banyak website orang-orang yang merasa salafi…atau paling salaf di antara orang2 yang ingin menegakkan sunnah. Ada yang memakai nama panggilannya dengan tambahan seperti anto-salafi…fulan salafi…dll Apakah ini di contohkan oleh Rasulullah dan para shahabat ?? Yang lebih parah…saya lihat kebanyakan orang-orang seperti ini tidak bisa bergaul di masyarakat. Hadir di suatu masjid tidak pernah bertegur sapa dengan jama’ah masjid yang lain. Dan kalau kita tanyakan kepada sesama jama’ah masjid..tidak ada yang tau nama mereka…padahal mereka tinggal di situ bertahun-tahun ? Apakah ini manhaj Salaf ??

  3. ahmad says:

    Ya Allah persatukanlah umat ini dalam Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Jangan Engkau cerai beraikan Wahai Dzat yang menguasai seluruh makhlukNYA. Semoga kalian yang berselisih diberi petunjuk dan hidayah, begitu pula saya. Ingat lah umat ini terpecah 72 golongan. Semuanya ahlul naar kecuali satu. Semuanya mengangap paling benar. Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat-NYA dan memberi petunjuk serta hidayah dalam mengapai kebahagian di dunia dan akhirat.

  4. Terima kasih Atas Keterangannya ,Jazzakallah

  5. Abu Ammar says:

    Bahkan ana pernah tidak sengaja mendengar kajian di sebuah radio ponpes nadhliyyin di kota Gresik dengan materi kitab “risalah ahlussunnah wal jama’ah” berbahasa arab karya K.H. Hasyim Asy’ari, di kitab itu (kalo tidak salah di fasal tentang bagaimana orang jawa bermazhab) disebutkan bahwa Salafiyyin itu adalah ahlul haq. Ana belum lihat kitab aslinya, namun begitulah yang disebutkan oleh pemateri (pengajar ponpes), barangkali ada ikhwan yang memiliki serta mengecek kitab aslinya.

  6. abduh says:

    Barakallahu fiik akhi
    Inni uhibbuka fillah

  7. Ari Wahyudi says:

    Untuk Akh Elvin, wa’alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh
    Sesungguhnya istilah salafi sudah ada sejak jaman dulu, sebagaimana sudah dicontohkan ucapan adz-Dzahabi ketika memuji ad-Daruquthni. Jadi istilah salafi tidak dibatasi pada individu atau kelompok tertentu. Menggunakan nisbat salafi sebenarnya hal yang tidak mengapa bahkan boleh. Namun hendaknya tidak diiringi dengan kesombongan atau merasa paling benar sendiri, sebab tidak semua orang yang menyandarkan diri kepada manhaj salaf itu pasti seperti apa yang dia inginkan. Bisa saja karena minimnya ilmu atau karena salah paham seorang salafi terjatu dalam kesalahan. Sebagaimana para ulama yang juga tergelincir dalam kesalahan namun mereka tetap dihormati dan tidak dikeluarkan dari Ahlu Sunnah. Adapun perorangan maka hal ini dikembalikan kepada dalil apakah orang yang mengaku mengikuti manhaj salaf itu sesuai dengan dalil ataukah tidak, dan tidak selayaknya kita menilai manhaj dengan melihat perbuatan sebagian orang saja yang sebenarnya mereka bukanlah ulama, sebab pegangan kita adalah dalil bukan perbuatan atau ucapan sebagian orang. Semoga Allah memperbaiki keadaan kita semua. Terima kasih atas kritikannya.

  8. Adi says:

    Istilah salafy bukan hanya dari lisan tapi juga perbuatan,ucapan,dengan diamalkan

  9. bambang astrajingga says:

    terima kasih atas keteranga semoga dapat diterima saudara – saudara kita

  10. endi says:

    ohhh begitu ihwalnya ,semoga kita dapat petunjyk dr Allah SWT

  11. farijan says:

    sesungguhnya salafi/ wahabi itu benar…………………..

  12. abu yusuf says:

    semoga janji Alloh, untuk memberikan balasan pahala bagi yang mengajarkan kebenaran, kan tercurah kepada antum…amiin.

  13. very says:

    syukron jazakumullahu khoiron katsiro……………..? semoga Allah memudahkan kita dalam berda’wah, Amiin

  14. UMMU ALLYSA says:

    Assalamualaikum, marilah kita tuntut ilmu Sepanjang bersumber pada ALQUR’AN dan HADIST shahih,lalu praktekkan dalam diri dan tebarkan pada lingkungan sekitar kita,lalu lebih luas dan luas lagi.Semoga ALLOH selalu melindungi kita dari AdzabNya di dunia,kubur dan akhirat.AMiiin

  15. Syamsul says:

    “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki untuk kalian amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. al-Ahzab : 70-71). Semoga lisan-lisan kita terjaga dari dusta, demikian pula pena yang kita goreskan, ingatlah bahwa semuanya dicatat oleh malaikat dan setiap kita akan ditanya tentang apa yang telah diperbuatnya di alam dunia. “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu batil serta karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.” “Ya Allah, janganlah Kau sesatkan hati kami setelah Kau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha pemberi karunia”

  16. Anto says:

    kalo bisa via facebook juga
    saya ingin belajar islam yang lurus, bidah dikit saya mundur

  17. Ricky W says:

    “Adapun istilah yang sekarang coba dipopulerkan oleh sebagian orang, yaitu istilah Salaf ataupun Salafi, maka itu tidak aku temukan dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, maka tidak perlu dihiraukan sedikitpun.”

    Bisakah antum menunjukkannya dalam Al Kitab dan As Sunnah ? Barangkali si fulan butuh bantuan orang-orang yang menemukannya dalam As Sunnah dan Al Kitab. Sehingga ia dengan jujur mengatakan atas nama dirinya sendiri, bahwa ia belum mendapatkannya.

  18. Abu Mushlih says:

    Adapun istilah Salaf bisa dibaca dalam hadits di atas riwayat Muslim. Adapun secara makna bisa dibaca dalam QS at-Taubah ayat 100 di atas. Sesungguhnya hal ini sudah sangat jelas. Orang yang mengkaji prinsip-prinsip akidah islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentu mengenal kitab Aqidah Salaf ashabul Hadits karya ash-Shabuni rahimahullah, dan banyak kitab lain yang secara jelas menyebutkan istilah ini.

  19. Ricky W says:

    Hm… :), Afwan Ustadz, ana ingin bertanya, bukankah hadits yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim (4487, 4488) untuk kata salaf tersebut adalah bermakna terlebih dahulu wafatnya Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wa salam dari Fathimah radhiallahu ‘anha dimana dalam lanjutan hadits tersebut, dikatakan bahwa kemudian Fathimah radhiallahu ‘anha bersedih dan menangis ? Lantas adakah hal tersebut bermakna suatu golongan atau kelompok tertentu yang menamakan dirinya itu salafiy ?

    Jazakallaahu khoyron atas penjelasannya.

  20. Abu Mushlih says:

    salafy itu memang bukan kelompok tertentu, salafy itu semua orang yang mengkuti pemahaman salaf (pendahulu) yaitu Rasul shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat

  21. oca says:

    as.wr.wb..
    Saya sering dengar kalimat ” mengikut salaf”. yang saya tanyal; yang diikuti itu pendapat ulama salaf atau manhajnya ?
    Kalo mengikuti pendapat mereka; yah mereka juga berbeda pendapat dalam banyak hal. Kalo mengikuti manhajnya; apa sih manhaj salaf ? Coba dong masuk ke wilayah yang lebih dalam ! Apakah yang dimaksud manhaj nsalaf itu metode memahami nash ? Kalo betul begitu, loh Imam Syafi’i dengan Imam Malik saja beda pendapat dalam metode memahami nash….
    Tolong dong orang-orang salafi jawab;
    1. Kalo para sahabat berbeda pendapat; mereka semua adalah salaf; yang mana yang kita ikuti.
    2. kalo manhaj para ulama salaf berbeda dalam memahami nash; seperti menurut Imam Malik amal ahlu madinah adalah hujjah sementara menurut Imam Syafi’i bukan hujjah; mana yang diikuti…
    Coba tolong jelasin dong; isi manhaj salaf itu apa//jangan cuma bilang ikut salaf ikut salaf ! MAKASIH SEBELUMNYA

  22. Abu Mushlih says:

    terima kasih atas tanggapannya. wassalamu’alaikum warahmatullah, kami harap anda tidak lagi menyingkat salam. Silahkan cermati QS at-Taubah ayat 100 di sana diterangkan mengenai keutamaan manhaj salaf. Manhaj artinya jalan/metode, sedangkan salaf artinya generasi sahabat. Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, coba terangkan apa yang anda pahami dari ayat tersebut, syukran..

  23. izar says:

    Artikel ini terlalu berlebihan menyikapi tulisan tersebut, bukankah kutipannya berbunyi “Adapun istilah yang sekarang coba dipopulerkan oleh sebagian orang, yaitu istilah Salaf ataupun Salafi, maka itu tidak aku temukan dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, maka tidak perlu dihiraukan sedikitpun.” (Dirasat Fi Al-Aqidah Al-Islamiyyah, rubrik Tsaqafah Islamiyah, oleh: Abi AbduLLAAH. Dipublikasikan pada 29/1/2007 / 10 Muharram 1428 H).

    Dari situ yg kita tangkap yg tidak perlu dihiraukan bukan hadis maupun firman Allah, tetapi istilah salaf ataupun salafi yang dipopulerkan secara sepihak (mengaku-aku sebagai satu-satunya yang bermanhaj salaf dan menanggap yg lain tidak bermanhaj salaf). Saya sepakat dengan hal itu, karena dengan klaim mengaku-aku sedang menganggap yang lain tidak bermanhaj salaf akan mengurai dan memecah persatuan ummat… coba telaah lagi jgan terpancing emosi, kemarahan itu datangnya dari syetan … Wallahu’alam…

  24. Abu Mushlih says:

    @ izar, semoga kita terhindar dari godaan syetan, ya memang ini ndak berlebihan, lha wong pernyataannya sudah jelas; dia tidak mengakui bahwa istilah salaf ataupun salafi ada dalam al-Kitab dan as-Sunnah (secara makna maupun lafaznya), Ya ini jelas kekeliruan… masa mau dibiarkan to mas? Marah itu ada yang terpuji yaitu marah karena Allah, sebagaimana nabi marah terhadap kemngkaran. Allahu a’lam wa ahkam…

  25. syahruji noor says:

    Jauhkanlah dari buruk sangka dan janganlah merasa kebenaran itu milik kita, karena hakikat kebenaran itu hanyalah milik Allah. Dimanakah posisi hati kita ketika menyalahkan oranglain yang tidak sama dengan kita disitulah sebenarnya kedudukan kita disisi Allah, renungkanlah,,,

  26. Abu Mushlih says:

    Benar, kita harus menjauhi buruk sangka, kecuali apabila buruk sangka itu ada dasarnya. Apakah kalau ada maling datang, kita tidak berburuk sangka padanya? Apakah kalau ada pencopet mampir kita tidak boleh berburuk sangka padanya? Renungkanlah… agama ini lebih mahal daripada harta kita; maka siapa saja yang mengacaukan agama lebih layak untuk dicurigai dan diwaspadai… Terima kasih…

  27. assalamu’alaikum

    salafi itu bukan harokah, tidak ada kartu anggota, baiat, gatungan kunci, kaos berlogo salafy, jaket atau rompi berlogo salafy….dan lain – lain…….salafy bukan ditandai dengan semua itu……………

    salafy juga bukan ditandai dengan banyak hafalan…..jidat berwarna hitam……janggut panjang….pake jubah putih atau cadar bagi akhwatnya..(meski ini sunnah)….tapi tetap tolok ukurnya buka dari itu saja………….

    ke-salafy-an seseorang tidak di ukur apakah ia ta’lim dengan ustadz ini dan ustadz itu….atau tidak…….

    ke-salafy-an seseorang diukur dari aqidah, amal dan akhlaq yang shohih………….meski mungkin semua orang membencinya…..menjauhinya….dan menganggapnya aneh…

    dan tidak perlu pusing jika diri kita dinilai bukan “salafy” oleh manusia lain…toh hanya Allah yang tau siapa amal hamba-Nya yang terbaik…………

    kita hanya berusaha untuk menuju ridho-Nya dengan mengikuti manhaj salaf semampu kita…bukan di standarkan kepada amal orang lain…tapi semampu kita…yang ikhlas dan terus menerus….

    mudah-mudahan kita tidak menjadi orang yang angkuh . .. . . .

  28. masrizal says:

    asssaya pernah jg ikut taklim salafi dan jt .kalo salafi berapa kamu dapat duit tapi kalo jt berapa kamu mengabiskan duit yg mana yg benar???????????????

  29. Uzzurr says:

    Banyaknya manusia itu lalai berarti sedikit yg ingat…… banyaknya manusia kufur berarti sedikit yg bersukur…… Banyaknya manusia tdk mengetahui berati sedikit yg mengetahui ,,,,,,,banyaknya manusia bercerai berai bagai buih yg banyak rapuh meski hanya terbentur karang….ini berarti sedikit yg bersatu….ya ALLAH engkau telah berjanji akan memenuhi neraka dg jin dan manusia ,,,,,,aku berlindung kepadamu ya allah..emas perak zamrud semua berkilau karna tempaan yg hebat ……semoga engkau golongkan kami kedalam penduduk janah yg keluasan singgasananya meliputi langit dan bumi yang keindahannya belum terlintas oleh mata,terdengar olehtelinga,terbetik dlm hati …..amin.

  30. eko says:

    assalamualaikum.saya tidak terlalu paham dg agama . tp kl mendengar salafi terus terang yang tergambar dlm pikiran saya adalah islam yang keras, arogan, paling benar sendiri dan mudah mengklafirkan golongan lain. tapi sebagian hati kecil saya mengakui juga ada kbenaran yg dibawanya. yg jelas gua bingung..

  31. Abu Mushlih says:

    wa’alaikumussalam, teruslah belajar saudaraku, semoga Allah berikan taufik-Nya kepadamu…

  32. eko says:

    bolehkah saya belajar lebih banyak dari anda?mlalui email misalnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *