Suami Terjerat LDII (Konsultasi)

Oleh: al-Ustadz Abu Saad, MA -hafizhahullah-

Tanya:

Ustadz, perkenalkan saya adalah seorang istri dari seorang pria yang menjadi anggota kelompok LDII. Dulu pun saya termasuk anggota. Kini saya bingung dengan posisi saya, karena dalam keyakinan LDII kelompok diluarnya adalah kafir.

Dalam kesendirian saya di tengah perkampungan komunitas LDII saya khawatir akan terseret lagi. Untuk itu saya mohon advisnya. Jazakallahu khairan. (Akhwat , Yogyakarta)

Jawab:

Sebelum saya menjawab pertanyaan ukhti, sebaiknya kita runut terlebih dahulu beberapa penyimpangan kelompok yang disebut Islam jama’ah atau LDII. Semoga juga bermanfaat bagi saudara-saudara kaum Muslimin yang lainnya:

A. Sikap mereka terhadap kaum Muslimin diluar jama’ah mereka. Orang Islam diluar kelompok mereka dianggap kafir. Dalil mereka adalah:

Mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun, mengabarkan kepada kami Baqiyah, mengabarkan kepadaku Shafwan bin Rustum dari Abdur-Rahman bin Maisarah dari Tamim al-Dari, ia berkata; ‘Di zaman Umar kebanyakan orang berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan rumah. Berkatalah Umar; ‘Wahai golongan Arab! Ingatlah tanah..tanah! Sesungguhnya tidak ada Islam tanpa jama’ah (persatuan) dan tidak ada jama’ah tanpa Imarah (kepemimpinan) dan tidak ada Imarah/kepemimpinan tanpa ketaatan (kepatuhan). Barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya karena ilmunya/pemahamannya maka akan menjadi kehidupan bagi dirinya sendiri dan juga bagi mereka, dan barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya tanpa memiliki ilmu/pemahaman, maka akan menjadi kebinasaan bagi dirinya dan juga bagi mereka.”

Ucapan Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu tersebut bila ditinjau dari segi ilmu hadits (maka) sanad-nya lemah, dengan dua sebab:

  1. Shafwan bin Rustum adalah majhul (tidak diketahui kredibilitasnya). Hal ini dinyatakan oleh al-Dzahabi dalam kitabnya Lisanul Mizan 3/191, dan disetujui oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Mizanul-I’itidal 3/433.
  2. Inqitha’ antara Abdur-Rahman bin Maisarah dengan sahabat Tamim ad-Dari yang meriwayatkan ucapan sahabat Umar bin Khatthab ini.

Seandainya hadits itu shahih, justru ucapan Umar ini menjadi hujjah (alasan) atas (argumentasi yang melemahkan / mengoreksi) orang-orang LDII yang telah mem-bai’at orang yang tidak berilmu, bahkan banyak salah paham atau bahkan sengaja salah paham. La haula wala quwwata illa billah.

Oleh Nur Hasan Ubaidah, pendiri embrio LDII, (hadits ini) ditafsirkan secara terbalik; “Jika tidak taat kepada amir, maka lepas bai’atnya, jika lepas bai’atnya, maka tidak punya amir, kalau tidak punya amir, maka bukan jama’ah, jika bukan jama’ah, maka bukan Islam, kalau bukan Islam, apa namanya kalau tidak kafir.

Bahkan kalau bicara tentang pentingnya jama’ah, mereka mengatakan; “Saudara-saudara sekalian, kalau diantara saudara ada yang punya pikiran, ada yang punya sangkaan bahwa diluar kita (diluar jama’ah Ubaidah) masih ada yang masuk Surga tanpa mengikuti kita, maka sebelum berdiri, saudara sudah faroqol-jama’ah (memisahkan diri dari jama’ah), sudah kafir, dia harus tobat dan bai’at kembali, jika tidak, maka dia akan masuk neraka selama-lamanya.

Itulah bukti kebohongannya yang amat dahsyat, hingga mengkafirkan hanya berlandaskan manqul bikinan dan dikuatkan dengan ucapan Umar yang dari sisi sanad-nya dha’if, padahal hadits ini tidak bisa dijadikan dalil apalagi untuk mengkafirkan orang. Dari sinilah mereka memiliki keyakinan yang menyimpang dan menyesatkan terhadap orang-orang di luar jama’ah mereka, di antaranya:

  • Orang Islam diluar kelompok mereka dianggap najis, meski orangtua sendiri pun. Kalau ada orang diluar kelompok shalat di masjid mereka, bekas shalat orang tersebut harus dicuci kembali. Kalau ada orang diluar kelompok bertamu, bekas tempat duduk tamu tersebut harus dicuci karena najis. Pakaian mereka yang dijemur dan diangkat oleh orangtua mereka yang bukan kelompoknya harus dicuci kembali karena dianggap terkena najis.
  • Wajib bai’at dan taat pada amir/imam mereka.
  • Mati dalam keadaan belum di-bai’at oleh imam/amir, dianggap mati jahiliyah.
  • Haram memberikan daging qurban atau zakat fithri kepada orang diluar kelompok.
  • Harta benda diluar kelompok halal untuk diambil walau dengan cara apapun (asal tidak tertangkap saja).
  • Haram shalat di belakang orang yang bukan kelompok mereka, kalaupun ikut shalat tidak usah berwudhu karena toh shalatnya harus diulangi.
  • Haram kawin dengan orang di luar kelompok mereka.

B. Sistem manqul

LDII memiliki sistem manqul. Manqul menurut Ubaidah Lubis adalah; “Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru; telinga harus mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat. Terhalang dinding atau lewat buku tidak sah. Murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun menguasai ilmu tersebut, kecuali telah mendapat ijazah dari guru, baru boleh mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu.

Di Indonesia ini satu-satunya ulama yang ilmu agamanya manqul hanyalah Nur Hasan Ubaidah Lubis. Hal ini bertentangan dengan ajaran nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan agar siapa saja yang mendengarkan ucapannya hendaklah memeliharanya, kemudian disampaikan kepada orang lain, dan Nabi tidak pernah memberikan ijazah kepada para Sahabat radhiyallahu ‘anhuma.

Semoga Allah membaguskan orang yang mendengarkan ucapan lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sebagaimana apa yang didengar.” (Syafi’i dan Baihaqi)

Dalam hadist ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan orang yang menyampaikan sabdanya kepada orang lain seperti yang didengarnya. Adapun cara atau alat yang dipakai untuk mempelajari dan menyampaikan hadits-haditsnya tidaklah ditentukan. Jadi bisa disampaikan dengan lisan, dengan tulisan, audio, video, dan lain-lain.

Ajaran manqul Nur Hasan ini terlalu mengada-ada. Tujuannya membuat pengikutnya fanatik, tidak dipengaruhi oleh pikiran orang lain, sehingga sangat tergantung dan terikat dengan apa yang digariskan oleh amir-nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala menghargai hamba-hamba-Nya yang mau mendengar ucapan, lalu menyeleksinya mana yang lebih baik untuk diikutinya.

Berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang diberi Allah petunjuk, dan mereka itulah orang yang mempunyai akal.” (QS. az-Zumar : 17-18)

C. Dosa-dosa bisa ditebus lewat sang amir/imam, besar tebusan tergantung dari besarnya dosa yang diperbuat yang (mana tebusan ini) ditentukan oleh amir/imam.

D. Wajib membayar infak 10% dari penghasilan per bulan, sedekah, dan zakat kepada amir/imam. Haram membayarkannya pada pihak lain.

E. Harta, uang, infaq, sedekah yang sudah diberikan kepada amir/imam tidak boleh ditanyakan kembali catatannya atau digunakan untuk apa saja. Sebab kalau menanyakan kembali harta, zakat, infak dan sedekah yang pernah dikeluarkan dianggap sama dengan menelan kembali ludah yang sudah dikeluarkan.

F. Kesimpulan.

LDII adalah nama lain dari kelompok yang menamakan diri sebagai Darul-Hadits, Islam Jama’ah, atau Lemkari yang didirikan oleh Madigol alias Nur Hasan Ubaidah Lubis (Luar Biasa). Setelah Madigol meninggal pada hari Sabtu tanggal 12 Maret 1982, tahta kerajaan LDII diwarisi oleh putranya yang tertua yaitu Abduzh-Zhahir Nur Hasan sebagai imam/amir dan di-bai’at di hadapan jenazah mendiang ayahnya sebelum dikuburkan dengan disaksikan seluruh amir/imam daerah. Hasyim Rifa’i yang pernah ditugaskan oleh pihak IJ (Islam Jama’ah) untuk keliling ke berbagai wilayah di dalam dan di luar negeri menyebutkan bukti-bukti bahwa mereka menganggap golongan selain IJ/LEMKARI/LDII adalah kafir.

  1. Mereka menganggap orang Islam di luar golongan adalah ahli kitab, sedang yang lain kafir.
  2. Dalam menanamkan keyakinan pada murid-murid mereka mengatakan:
    1. Kalau saudara-saudara mengira di luar kita masih ada orang yang bisa masuk surga maka sebelum berdiri, saudara sudah kafir (faroqol-jama’ah/memisahkan diri dari jama’ah), sudah murtad harus tobat dan di-bai’at kembali.
    2. Orang keluar dari jama’ah kok masih ngaji, shalat dan puasa, itu lebih bodoh daripada orang kafir, sebab orang-orang kafir tahu kalau akan masuk neraka, maka mereka hidup bebas.

Pengunggulan kelompok sendiri dan memastikan Muslimin selain kelompoknya masuk neraka seperti itu jelas sifat Iblis yang telah dijabarkan al-Qur’an yang telah menipu Adam dan Hawa. Sedang rangkaian kerjanya, bisa dilihat bahwa mereka sangat berat menghadapi orang alim agama, sebagaimana setan pun berat menghadapi orang alim agama.

Itulah kenyataan yang dikemukakan oleh Hasyim Rifa’i dan para petinggi Islam Jama’ah/LEMKARI/LDII yang telah keluar dari kungkungan aliran yang pernah dilarang tersebut.

Kalau setan yang dinyatakan Allah sebagai musuh manusia itu telah mengajari manusia untuk menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal alias mengadakan syari’at, IJ/LEMKARI/LDII pun begitu. Sang amir mewajibkan pengikutnya setor penghasilan masing-masing 10% (usyur) untuk amir tanpa boleh menanyakan untuk apa.

Lebih parah lagi dari penuturan para mantan anggota Islam Jama’ah diketahui bahwa sang amir menjamin anggota jama’ah masuk surga. Padahal hanya Dajjal-lah yang berani membuat pernyataan sedahsyat itu. Akhlak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak tercermin dalam tingkah laku amir pendiri IJ. Riwayat hidupnya penuh mistik dan perdukunan, melarikan perempuan, menceraikan tiga belas istrinya –menurut penelitian Litbang Depag RI– memungut upeti 10% dari masing-masing jama’ah dengan sertifikat atas nama pribadi, diketahui pula bahwa dia punya ilmu pelet untuk menggaet wanita, baik yang lajang maupun berstatus istri orang.

Terhadap Allah mereka berani membuat syari’at sendiri (seperti mewajibkan jama’ahnya setor sepuluh persen penghasilan kepadanya), terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dia) menyelisihi akhlak Beliau namun mengklaim dirinya sebagai amir yang harus ditaati jama’ah, kepada para ulama ia mencaci–maki dengan amat keji dan kotor, dan kepada umat Islam ia menajiskan dan mengkafirkan, serta memvonis masuk neraka. Sedang kepada wanita ia amat berhasrat, hingga dengan ilmu-ilmu yang dilarang Allah, yakni sihir pelet pun ditempuh.

Itulah jenis kemunafikan dan kesesatan yang nyata, yang dia sebarkan sejak tahun 1941, dan alhamdulillah telah dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971. Namun dengan liciknya ia bersama pengikutnya berganti–ganti nama dan bernaung di bawah Golkar, maka kesesatan itu justru lebih mekar dan melembaga sampai kini ke desa–desa hampir seluruh wilayah Indonesia bahkan ke negara–negara lain dengan nama LDII. Begitulah berbagai penyimpangan dalam kelompok tersebut. Memang beberapa waktu terakhir mereka kelihatan mulai membuka diri terhadap kaum Muslimin lainnya. Tetapi hakikatnya keyakinan-keyakinan tersebut masih ada pada diri mereka dan mereka sembunyikan untuk mengelabui orang-orang diluar kelompok mereka.

Nasehat saya kepada ukhti penanya, yang pertama memohon kepada Allah untuk memberikan hidayah kebenaran kepada suaminya dan orang-orang yang tertipu dengan jama’ah ini dan mengembalikannya kepada jalan kebenaran.

Yang kedua, untuk selalu dan tidak letih-letihnya memberikan nasehat kepada suaminya dengan cara yang hikmah dan kalau harus berdiskusi atau berdebat, maka dengan cara dan jalan yang terbaik, baik dengan dalil-dalil dari al-Qur’an ataupun as-Sunnah atau dengan logika yang tepat dan bisa diterima oleh akal sehat.

Yang ketiga, berkhidmatlah kepada suami dengan sepenuh hati, tampakkan kepadanya akhlak yang mulia, patuhlah kepadanya dalam perkara-perkara yang ma’ruf adapun bila ia mengajak pada perkara maksiat atau penyimpangan maka tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah, dan jagalah keharmonisan rumah tanggamu dengan berbuat ihsan kepadanya dan jangan meminta cerai kepadanya karena ini akan membuka pintu setan untuk menghancurkan rumah tanggamu.

Yang terakhir, belajar dan belajarlah ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan yang dipahami generasi yang terbaik dari umat ini, yaitu para sahabat dan para Imam yang mulia dari kalangan ulama umat ini. Dengan ini semua, dirimu akan terjaga dari berbagai fitnah dan syubhat yang ada di sekitarmu, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Wallahu Waliyyut-Taufiq.

Sumber : Majalah Fatawa, volume III, nomor 11, Nopember 2007 M/Dzulqa’dah 1428 H, halaman 52-54.

Dinukil dari: http://ibnuramadan.wordpress.com

This entry was posted in Fatwa and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Suami Terjerat LDII (Konsultasi)

  1. Subkhan says:

    Assalamu’alaikum

    Sangat menarik kupasannya, jazakallah khoir.

    Apakah sang istri yang khawatir dilingkungan LDII tersebut tidak disyareatkan untuk menjaga agamanya dengan berhijrah atau dengan kata lain menghajer kaumnya dengan tujuan menjaga kemurnian agamanya?

    Apakah ketersesatan suami di lembah kebid’ahan terutama yang dakui pemerintah tersebut dapat menjadi alasan syar’i bagi sang istri untuk mengajukan hak khulu’ kepada hakim syar’i ?…………… Maaf tadz bukan bermaksud menganjurkan para istri LDII mengajukan khulu’, tapi hanya sekedar bertanya.

    Jazakumullah.

  2. Ummu Hanifah says:

    assalamualaykum warahmatulahi wabarakatuh

    alhamdulillah sdh 8 tahun saya keluar dari LDII,semoga Allah Subhanahu wa ta ala tetap memberikan hidayah buat saya dan keluarga untuk tetap mempelajari agama Islam yang sesuai syari`i.

    wassalamualaykum warahmatulahi wabarakatuh
    Ummu Hanifah

  3. fadli says:

    jazakallahu khayr ustadz abu mushlih, telah berkenan menunjukkan artikel ini kepada kami. semoga Allah memberi kita penjagaan dan perlindungan dari ‘aqidah yang menyimpang. rabbighfir warham, wa anta khairurrahimin..

  4. andy cecaria says:

    assalamu alaikum wrb. saya skrng sementara ikut dalam pengajian ldii tapi selama ini saya belum lihat ajaran2 yang menyimpang tuh……

  5. Abu Mushlih says:

    @ andy; wa ‘alaikumussalam… ya mungkin karena ldii nya sudah tobat, atau anda belum tahu saja. dengan standar apa anda menilai?

  6. santoz says:

    Pada tahun 1931 nurhasan ini diberitakan pergi ke tanah suci mekkah. Mari kita lihat situasi kondisi tahun 1931 di tanah suci mekkah. Pada tahun 1931 para ikwah salaf muwahhid sukses menyebarkan dakwah ahlusunnah wal jamaah (salafiyyin) ke seluruh antero jazirah arab. Tidak hanya itu saja. Para ikwah ini juga sukses secara politis dengan berdirinya daulah wal wilayaah dibawah keimamahan Malik Abdul Aziz as-Saud. Kemudian dikenalah menjadi Mamlakah Arab Saudi. Imamah Abdul Aziz ini syah menurut syariat. Karena Diseluruh jazirah Saudi, Abdul Aziz As-Saud ini adalah penguasa tertinggi diwilayah itu, berdaulat dan mempunyai wilayah al hukam (geopolitik) yang jelas, masyur dan alhamdulillah bisa melaksanakan hukum syariat islam. Mari bandingkan dengan imamahnya Nurhasan ini. Punya daulah?punya kekuasaan?mu’tabar? mashur? Diakui oleh kaum musliminin di Indonesia? Tidak. Jauh api dari panggang. Imamah nurhasan dan pengikutnyanya rahasia. Misterius, ditutup-tutupi, apalagi wilayah dan daulah. Imamah seperti itu tidak dikenal dalam ahlusunnah wal jama’ah. Imamah seperti itu hanya dimiliki dan dikenal oleh syiah Imamiah atau gaya kepausan katolik roma. Imamah 354 punya utopia”sebelum imamah kami berjaya menjokamkan indonesia, kami menggunakan gaya imamah bitonah dulu,nanti kalau sebagian besar orang indonesia jadi orang jokam barulah imamah kami tidak bitonah”. Itulah mimpi disiang hari bolong. Atau bitonah ini adalah langkah agar kerajaan gelap 354 aman dari kritisi syariat . Tidak, kebatilan akan selalu diungkap dan terungkap. Nurhasan itu malik Abdul Aziz wanna be. Berspekulasi melakukan petualangan politik mewujudkan mamlakah seperti Malik Abdul Aziz, namun kandas. Jadilah ‘imamah abal-abal’ seperti yang kita lihat sekarang. Kemafiaan akidah. Nurhasan juga mengalami historical coincidental yaitu ketika nurhasan kembali ke Indoneisa tahun 1941. Masa-masa itu Diindonesia memang sedang mengalami era revolusi. Muso, Syarifuddin prawiranegra, Kahar muzakar, Andi Aziz,
    kartosuwiryo, Daud Beureuh mengusung konsep daulah masing-masing. Di jawa barat, kartosuwiyo mendirikan Imamah wa daulah dan memproklamirkan Negara islam indonesia, namun dapat ditumpas oleh gerakan pagar betis Divisi Siliwangi. Amir Fattah dan Jamaah Muslimin juga mengusung kekhalifahan dan beat dimana nurhasan juga sempat bergabung dibawahnya. Semua peristiwa itu mengilhami pada Nurhasan untuk bersikap latah “ah gue juga mau jadi khalifah” “gue mau kayak malik Abdul Aziz” “gue punya konsep yang lebih baik dari Amir fattah dan Kartosuwiryo”. Maka mulailah Nurhasan melakukan petualangan dan spekulasi politiknya. Terjadilah beat Al hukam tahun 1962 di lapangan Gading. Nurhasan lalu membuat basis “wilayah” pertama di gading mangu. Oleh karena itu jokam 354 asal gading dinamakan “muhajir’ dikalangan 354. bahkan muhajir ini ada pengajian khususnya.(gading ini diibaratkan kota madinah oleh nurhasan, yang merupakan wilayah dari daulah islamiyah Rasulullah SAW) Di Teks Cai bahkan disebut Nurhasan berkata “jadinya muhajir ini adalah jadinya jamaah, gagalnya muhajir ini adalah gagalnya jamaah’. Jadi sebenarnya Nurhasan tahu, kalau Imamah Alhukam yang syariat harus ada daulah wal wilayah. Maka gadingmangu dijadikan “negara” awal jokam 354. Hal ini yang luput dari pengetahuan para pengikutnya. Pengikutnya memang tetap dikondisikan tidak tahu, agar ambisi ini dapat terwujud. Nurhasan ingin mewujudkan sebuah tatanan masyarakat ideal, namun maen tabrak sana-sini dalam upayanya. Bahkan sampai menyimpangkan syariat. Akhirnya kepenyimpangan kian jauh dan kian mengkristal.tujuan yang awalnya idealisme akhirnya menjadi metamorfosis menjadi kepentingan pragmatisme karena memang tidak didirikan dilandasan dan ushul yang benar. Salah di pondasi. Seperti bikin rumah tingkat megah, udah berdiri tapi pondasinya rapuh. Hanya kelihatan besar tapi sebenarnya rapuh. Petinggi 354 pun bingung. Parapakubumi yang belajar ditanah sucipun sebanarnya tahu bahwa konsep jamaah ala 354 itu menyimpang, tapi disatu sisi mereka merasa sayang untuk melakukan pembenahan karena melihat jamaah yang terlihat besar dengan segala asetnya. Akhirnya munculah teori-teori baru pembenaran dari KH dan AZ pakubumi walaupun mereka harus menentang ilmu yang didapat,amanat dari gurunya dan mungkin hatikecilnya. Mereka takut kalau pembenahan akan mengakibatkan larinya pengikut dan lepasnya loyalitas. Mereka menggunakan logika sederhana, padahal apabila rujuilal haq, insyaAllah yang didapat mereka adalah kebarokahan. Sengaja atau tak sengaja, ini malah ngepasi dengan kelakuan para Rabi-rabi yahudi, yang sebenarnya tahu kebenaran, tapi ketika disampaikan ke pengikutnya, para rabi ini justru menyimpangkan kebenaran. Para pengikut Yahudipun lebih memilih rabi-rabi itu, bahkan para nabi Allah yang bertugas untuk membenahi bani Israil justru banyak yang dibunuh.Rabi-rabi yahudi jugalah yang mengobrak-ngabrik syariat Allah. Mirip gaya 354 dengan menggunakan istilah ‘ijtihad imam’.Inilah yang dimaksud Rasulullah menthogutkan pembesar-pembesarnya dan tidak mengembalikan kebenaran dengan pemahaman yang benar.(tapi apa kata imam dan pakubumi aja deh)

  7. plentis'e mbah man says:

    dipengajian desa ditempatku oleh mubaligh daerah disampaikan bahwa orang yang keluar dari jamaah (maksudnya jamaah 354) maka darahnya halal (untuk dibunuh) seperti halalnya darah orang zina yang muhson (pernah menikah) atau qishas orang yang membunuh.

    cuma kalau orang 354 tidak membunuh orang lain, itu karena ada ijtihad imam “budiluhur’. ajaran ini menyimpan potensi yang sangat bahaya walaupun orang ldii belum sampai taraf menumpahkan darah pada orang muslim yang diluar golongan mereka, tapi kalau ini diajarkan ke wong cilik (dimana orang jokam ldii itu rata2 wong cilik/grassroot) akan menjerumuskan rukyah jamaah 354 pada pemikiran dan keyakinan yang kuat bahwa ” membunuh orang-luar itu adalah tidak dosa” (mereka 354 bilang ini berdasarkan dalil, tapi sayang dalil dengan pemahaman yang disimpangkan dan sesat).

    realistis aja, orang LDII/ jamaah 354 tidak berani membunuh para anggotanya yang keluar dari jamaahnya atau orang islam diluar golongannya sebab 1. Takut dengan Aparatur Negara yaitu Kepolisian RI dan TNI 2.Akan mendapatkan sangsi sosial yaitu kecaman masyararakat luas (bisa jadi LDII akan bernasib seperti ahmadiyyah)

    kalau LDII / jamaah 354 itu tidak membunuh para mantan anggotanya (keluar dari jamaah 354 oleh jamaah 354 dihukumi murtad dan syah untuk dibunuh) atau tidak membunuh kaum muslim diluar golongannya itu bukan karena LDII takut pada perintah Allah mengenai larangan membunuh orang islam. tapi karena

    1. mematuhi ijtihad imamnya (atau nabi-nya?)
    2. Realistis, bahwa LDII itu kecil dalam peta keislaman di indonesia, apalagi dunia
    3.takut akan hukum RI
    4.Takut diamuk masyarakat
    5.sedang berusaha bermain cantik agar mendapatkan simpati masyarakat

    ingat LDII/jamaah354 sekarang langsung diawasi dari dalam (metode observasi partisipatif) . jadi semua kebohongan elit LDII / jamaah 354 pada publik atau bahkan publiknya sendiri (yang ngga sadar ditipu oleh keluarga nurhasan dan para dajjal burengan macam kasmudi)akan segera terdeteksi -biidznillah-

    semoga Allah memberikan pengampunan dan petujuk pada warga jamaah 354 dari pembohongan-pembohongan akidah imam dan para elitnya. karena elit2 merekalah yang mengambil keuntungan besar dari fenomena penyesatan ini.(sebenarnya kasihan rukyah 354)pengikut/rukyah354 setor uang tiap bulan (untuk dapat surga,padahal surganya nurhasan)dan elit2 mereka bergembiraria dengan aliran milyaran ke kantongnya

  8. batosai says:

    Kita semua tahu bahwa LDII/jamaah 354 mengusung dalil atsar Umar Bin Khatab yang berbunyi : laa islama ila bil jamaah wala jamaah ila bi imaroh (Tidaklah iIslam kecuali dengan Al Jamaah, dan tidaklah Al Jamaah kecuali dengan Imaroh). Konyolnya, oleh imam dan jamaah 354 kata-kata dan lafaldz ‘al jamaah’ dan ‘imaroh’ pada dalil tersebut dinisbatkan pada imam dan golongan mereka. Sehingga jamaah 354 mengartikan atsar umat tersebut sebagai modal untuk mengkafiri orang islam diluar golongan mereka. Seakan mereka berkata “ tidak berbeat pada Imam kami, maka kalian tidak berjamaah, kalau kalian tidak berjamaah berarti kalian tidak islam, kalau kalian tidak islam berarti kalian kafir, dan siapa saja anggota kami yang keluar maka hukumnya murtad. Masya Allah. Itulah orang jahil dalam menafsirkan atsar. Diperburuk dengan pucuk pimpinan mereka yang ambisius untuk berkuasa dan terus menguasai pengikutnya. Patut diketahui, bahwasannya tidak ada ulama muktabar yang menjadikan atsar tersebut sebagai dasar untuk pengkafiran sesama muslim. Apalagi atsar tersebut lemah secara sanad. Apabila ditegur jamaah 354 mengenai kedudukan atsar tersebut, maka jamaah 354 selalu menuding seolah orang yang mengkoreksi meragukan kredibilitas Umar Bin Khatab. Padahal tidak begitu maksudnya. Umar Bin Khatab sudah mahfum sebagai khalifaturosyidin almahdiyyin panutan umat Islam. Hanya saja atsar umar itu bukan pada tempatnya dijadikan patokan dan modal dasar pengkafiran umat islam seperti apa yang telah dilakukan dan diyakini oleh jamaah 354. Mungkin mereka 354 sengaja melakukan pembelokan ini karena apabila atsar ini dipahami dengan benar oleh jamaah 354, para petinggi jamaah 354 akan khawatir akan kehilangan pengikut. Oleh karena itu pucuk pimpinan mereka terus melakukan penyesatan dan syabhat-syubhat pada para rukyahnya. Rukyah terus dibrainwashing agar bisa terus dikuasai oleh imam mereka (dan para menteri khayalannya)

    Baru-baru ini petinggi LDII/jamaah 354 telah mengeluarkan buku ‘ilmiyah’ yang isinya adalah pembelaan mengenai eksistensi Imamah dan Jamaah 354. Buku itu sekan menjadi pembenaran akan tindakan takfiri dan hizbiyyun ala jamaah 354. bagi pembaca yang berminat menelaahnya dan melakukan analisa, pembaca bisa mengunduhnya di
    http://www.4shared.com/document/Lftufa25/konsep_jamaah_wal_imamah_354_l.html

    dengan menelaah buku itu, kita akan mengetahui cara mereka berpikir sehingga itu akan memudahkan kita untuk melakukan pencegahan dan radd atas pemikiran sesat mereka dengan cara yang ilmiah dan berhujjah.

    Buku itu nampaknya sengaja untuk tidak dicantumkan siapa pengarangnya dan Siapa penulisnya . Buku itu sengaja untuk tidak menampilkan identitas penyusunnya. Hal ini bisa dikarenakan:
    1 Pihak penulis buku tersebut /LDII/jamaah bersiap-siap sembunyi dan lempar batu sembunyi tangan apabila dikemudian hari karyanya mendapatkan “masalah”, kritik, permintaan pertanggungjawaban. Ini memang jauh dari etika sebuah pemaparan dan hujjah. Apabila ada pihak yang ingin melakukan recheck buku tersebut pada pihak LDII, maka itu akan memudahkan LDII mengeles dan berkata “ bukan kami yang menulis buku tersebut’.

    2 Penulis buku tsb secara tidak disadari, mengindikasikan bahwa sebenarnya ia melakukan penulisan itu dengan emosional, parsial, prematur, hawa nafsu sekaligus disatu sisi: tidak pede dan tidak merasa tidak punya kapasitas keilmuan dalam melakukan pembelaan resmi .(takut menghadapi kritik dan pertanggungjawaban sehingga ia memilih tabrak lari)

    Tapi maklum aja, memang begitu gaya dan style mereka.

    Saya merekomendasikan agar buku ini (format pdf) dapat diteruskan dan disebar ke seluruh elemen umat islam, pemerintah, ormas-ormas dan MUI. Karena dengan memahami doktrin-doktrin dan ajaran mereka, kita akan semakin tahu jatidiri mereka sesungguhnya, membuat kita bisa lebih berhati-hati menghadapi 354 dengan segala praktek bitonahnya dan ‘budiluhur’nya, dan bisa menyuguhkan hujjah bantahan aliran 354 langsung pada jantung masalah.

    Mari kita belajar dari pengalaman dan modus operandi LDII/jamaah 354 yang senantiasa mengusung bitonah sebagai pembenaran untuk berbohong demi keselamatan sekte mereka serta praktek double standar LDII /jamaah 354 sehingga kita tidak mudah percaya dan terbuai pada tulisan-tulisan mereka, argumen mereka, mulut manis mereka. Sudah dimaklumi bahwa ketika jamaah 354/LDII bicara dengan ‘orang-luar’ maka teori mereka tidak sama dengan praktek mereka di lapangan (lain di mulut lain di hati)

  9. Muallaf LDII says:

    mengutip pendapat Bpk Abu Muslih “… ya mungkin karena ldii nya sudah tobat, atau anda belum tahu saja…”
    jadi inget lagunya Ebit G. Ade “apa memang bila terlanjur salah, akan selalu dianggap salah, tak ada waktu lagi untuk benahi diri … ”
    LDII sedang membangun paradigma baru, apa tidak ada kesempatan untuk LDII berbenah, dan anda semua tetap masih akan menghujatnya. “kemanakah perginya nurani embun pagi ?? (lyric Ebit G Ade)”

    oh ya, mondok di LDII itu semua fasilitas free lho, itu berlaku disemua pondok LDII (ada yang sifatnya personal tapi hanya bayar makannya saja), darimana dana nya ya dari infaq jamaah, jadi su’udzon infaq itu “dimakan” LDII.

  10. Muallaf LDII says:

    maksudnya : jadi jangan su’udzon infaq itu “dimakan” ellite LDII.
    🙂

  11. zukhra says:

    ada indikasi di jamaah 354 sekarang pengikutnya sedang diindoktrinasi untuk membenci saudi arabia. Dikarenakan ajaran LDII/ jamaah 354 banyak dikoreksi oleh thulab/ustad yang berguru di tanah al haramain.

    bahkan di jamaah 354 (oleh mubaligh jakartabarat) disiarkan bahwa kota mekkah mengalami desakralisasi dengan menyebut kota mekkah sudah menjadi kota pariwisata. itulah jahatnya 354, mereka menggiring pengikutnya untuk tidak mengakui ulama alharamain dan mencela mekkah. Kalau mekkah saja dicela oleh 354, lantas mana lagi kota suci umat islam? Kediri? Gading? Kertosono?. apa burengan kediri mau dijadikan sebagai kota-sucinya islam jamaah 354. kalau ulama mu’tabar mekkah-madinah mulai dideskreditkan oleh ulama 354 dan petingginya, kepada siapa 354 menimba ilmu yang shahih? kepada kholil?,aziz?ihsan muhyiddin? pakubumi? kasmudi? atau bandit-bandit akidah di ring 1 sana?

    di jamaah 354 sedang disiarkan bahwa kebenaran di tanah suci juga ditampilkan sembunyi-sembunyi gaya bitonah 354. ini lelucon macam apa? ini pengelabuan dan pembohongan macam apalagi? ditanah suci mekkah agama ditampilkan justru dengan cara syiar dan terbuka karena kebenaran harus diketahui oleh siapapun juga. bukan konsep kebenaran ala 354 yang disetting sembunyi-sembunyi sehingga mereka 354 berkata “beruntung yang bisa bergabung dengan jamaah 354” (karena kebenaran itu sulit dan tersembunyi). Nampak kian hari pembodohan yang dilakukan pengurus 354/petinggi 354 pada pengikutnya semakin menjadi-jadi. Semuanya agar pengikut 354 terus berada didalam genggaman pengaruh dan kekuasaan mereka.

  12. Abu Mushlih says:

    Mohon maaf untuk Muallaf LDII, kami tidak pake lagu2

  13. risyad says:

    kalau anda baru bergabung dengan jamaah 354 ( dengan kedoknya bernama LDII), maka predikat ‘mualaf’ akan disematkan pada anda

    lucu’kan?. Jagad islam mahfum kalau mualaf itu adalah orang yang baru memeluk islam dari alam kekafiran. tapi kalau di LDII, kata mualaf menjadi siapa saja yang baru bergabung dengan jamaah 354, maka disebutnya mualaf. Pengertian menyimpang ala 354 ini jelas sekali bahwasannya di jamaah 354 orang islam diluar golongannya adalah kafir walaupun orang itu melaksanakan 5 rukun islam dan 6 rukun iman serta menjalankan syariat yang sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah.

    kalau kita pahami mengapa orang jamaah 354 menyebut seseorang yang baru beat dengan imam 354 dan jamaah 354 disebut mualaf…maka kita akan mengerti mengapa mereka 354 menyebut seseorang yang keluar dari jamaah mereka disebut oleh 354 sebagai orang MURTAD.

    itulah akidah takfiri, hizbiyy dan khawarij-nya mereka. berhati-hatilah kaum muslimin dengan sekte ini. Sebab RAsulullah sudah bersabda al khawarij hum kilabunnar ( khawarij itu anjing-anjing neraka. Rw Ahmad). Pengikut jamaah 354 memang sulit melihat tipuan ajaran nurhasan ini karena ajarannya mencampurkan ayat-ayat dan sabda RAsulullah (hadits) dengan kebatilannya.

  14. wong cilik says:

    ga usah bingung sesuai hadis saja jamaah surga,firqah neraka,gampang kan

  15. Azwir, Krwg says:

    Ikut jamaah ldii yg jelas saya rasakan cari ilmu agama islam mudah, murah, banyak, sering/rutin, teratur, “terurus/diurusi” wktu masih hidup n ketika mati .dimana saja dan kapan saja, lagipula memang ada dalil2nya yang mengarah dan mengharuskan berjamaah, mempunyai pemimpin terutama urusan agama, dan bai’at. carilah kebenaran islam dg tulus kalau dirasakan ada salahnya patahkan dengan dalil lagi, bukan dg pendapat/ktmya. mentaati dalil lebih aman daripada menganalisanya apalagi harus berdebat, kalaupun salah, Allah SWT Maha tau siapa yang harus bertanggungjawab yang penting kita berniat tulus mentaati hukum2 Allah, dg ketulusan itu Pertolongan dan hidayah/petunjuk akan datang hingga kita harus mengambil keputusan apa kata hati atau hidayah , bukan keputusan atas dasar katanya2 . BERHATI-HATILAH DALAM MEMPENGARUHI HIDAYAH DAN PEMIKIRAN ORANG LAIN dalam Hal AGAMA. HANYA ALLAH SWT YANG MAHA MENGETAHUI. LDII ibarat mobil berharga, bermanfaat, di dambakan setiap orang tpi susah untuk mendaptknnya terutama untuk orang2 yg malas dlm hal ibadah, klau niatnya mau cari buruknya maka akn kamu dptkn niat kamu itu …… Karna Hanya Para Nabi yang paling sempurna dalm beragama. umur siapa orang yg tau Agama untuk ditaati bukan diAnalisa. Jzkmlhhr

  16. Panji 313 says:

    Kematian lah yang akan menjawad semua itu. Tidak ada replay setelahnya, berhati hatilah.

  17. anto says:

    paradigma baru di LDII yang mana? tetap aja ga ada perubahan..

    saya baru 2 hari kemaren me-yakinkan diri saya utk tdk masuk LDII.

    berdasarkan pengalaman saya ikut mengaji slama 1,5th di LDII, tepatnya di surabaya.
    dalam pengajian tiap 2-3 hr dlm seminggu, scara berulang, paradigma lama masi di pake, sperti menyebut pemula seperti saya Muallaf, keluar LDII=Murtad, dan tdk diperbolehkan ngaji/belajar di tempat lain, bai’at=wajib, nikah harus sesama LDII, dll

    setelah ngaji hadist/al-qur’an ada nasehat dr sesepuh/imam daerah LDII, dalam nasehat tetap menggunakan pemahaman LDII/Islam jamaah lama, bahkan sesekali merendahkan golongan lain.

    tapi berbeda drastis saat pengajian umum di hari minggu, saat ada perwakilan dari MUI jawa timur mengisi ceramah agama di masjid LDII.
    paradigma lama/istilah yg saya sebut di atas/faham imamah,mankul,dll, “Lenyap” entah kemana.

    dr yg saya ceritakan, mana yg di bilang bahwa LDII ada paradigma baru dan murni menegakkan syariat islam?
    di LDII, menikah harus sesama LDII, dan sebelum di nikahkan KUA, harus NIKAH DALAM(di nikahkan org LDII dan di masjid LDII)
    bukankah hal itu jelas merupakan Bid’ah?

    dan yg saya herankan, dasar/dalil yg di gunakan utk mewajibkan bai’at atau aturan2 lain di LDII tidaklah tepat.

    setau saya, zaman sekarang belum ada jama’atul muslimin, yg ada adalah jamaah minal muslimin, jadi tdk haram/murtad seseorang kluar dari jamaah minal muslimin, sedang mengikuti jamaah minal muslimin adalah anjuran, bukan wajib.
    (CMIIW)

  18. syah rizal says:

    semua nya saling jatuh menjatuh kan gimana kita ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *