Tafsir Al-Fatihah (5)

Mukadimah Kelima

Dalam bagian ini, akan diterangkan mengenai keutamaan surat al-Fatihah:

–        Surat paling agung

–        Rukun dalam sholat

–        Bacaan untuk meruqyah

–        Induk ayat-ayat al-Qur’an

–        Rahasia ajaran al-Qur’an

[1] Surat Paling Agung

Dari Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung di dalam al-Qur’an, sebelum kamu keluar masjid?”. Lalu beliau menggandeng tanganku, ketika kami hendak keluar aku berkata, “Wahai Rasulullah! Tadi anda berkata: Aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam al-Qur’an?”. Beliau pun bersabda, “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (surat al-Fatihah), itulah tujuh ayat yang diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani) dan bacaan yang agung (al-Qur’an al-‘Azhim) yang diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an [5006])

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan di dalam Taurat, Injil, maupun al-Qur’an, sesuatu yang menyamai Ummul Kitab; yaitu as-Sab’u al-Matsani.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Kitab ash-Sholah [501] sanadnya sahih)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengaruniakan kepadamu (Muhammad) as-Sab’u al-Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan al-Qur’an al-‘Azhim (bacaan yang agung).” (QS. al-Hijr: 87)

Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas, Ibrahim an-Nakha’i, Ibnu Abi Mulaikah, Hasan al-Bashri, Mujahid, Qotadah, Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Hajar, dan lain-lain menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan as-Sab’u al-Matsani adalah surat al-Fatihah (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/382], al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an [1/293], Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal [10/245], Fath al-Bari [8/184], Syarh as-Sunnah [3/50])

[2] Rukun Sholat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan sholat dan tidak membaca Ummul Qur’an (surat al-Fatihah) di dalamnya maka sholat itu pincang.” Beliau mengatakannya tiga kali. Pincang artinya tidak sempurna (HR. Muslim dalam Kitab ash-Sholah [395])

Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah sholat orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (surat al-Fatihah).” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Adzan [756] dan Muslim dalam Kitab ash-Sholah [394]). Dalam riwayat Muslim juga diriwayatkan dengan lafal, “Tidak sah sholat orang yang tidak membaca Ummul Qur’an.”

Syaikh Abdullah al-Bassam rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan wajibnya membaca surat al-Fatihah dalam sholat, dan bahwasanya ia termasuk rukun; sholat tidak sah tanpanya. Dan menurut pendapat yang benar ia wajib dibaca dalam setiap raka’at, berdasarkan hadits orang yang keliru sholatnya dimana Nabi bersabda, “Kemudian lakukanlah itu dalam semua sholatmu.” (HR. Bukhari [724] dan Muslim [397]).” (lihat Taudhih al-Ahkam [1/664], lihat juga keterangan Syaikh al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti’ [2/82-85] atau Shifat ash-Sholah hal. 70, dan keterangan Syaikh al-Albani dalam Talkhish Shifat Sholat Nabi, hal. 17)

[3] Bacaan Untuk Meruqyah

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa suatu ketika sekelompok Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam perjalanan. Kemudian mereka melewati sebuah kabilah arab. Mereka meminta disambut seperti layaknya tamu, tetapi permintaan itu ditolak oleh kabilah tersebut. Namun, setelah itu mereka bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang pandai meruqyah? Karena pemimpin kabilah terkena sengatan binatang berbisa atau tertimpa musibah.” Salah seorang lelaki diantara rombongan pun berkata, “Iya.” Dia pun mendatanginya dan meruqyahnya dengan Fatihatul Kitab hingga sembuh. Setelah itu diberikanlah sejumlah kambing sebagai upah atasnya, tetapi orang itu enggan menerimanya. Dia mengatakan, “Tidak, sampai aku ceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dia pun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan hal itu kepada beliau. Dia berkata, “Wahai Rasulullah! Demi Allah, aku tidak meruqyah kecuali dengan Fatihatul Kitab (surat al-Fatihah) saja.” Beliau pun tersenyum seraya bersabda, “Darimana kamu tahu bahwa ia adalah ruqyah?”. Kemudian beliau memerintahkan, “Ambillah pemberian mereka, dan sisihkan juga jatahku bersama kalian.” (HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an [5007] dan Muslim dalam Kitab as-Salam [2201])

Ibnu Hajar menukil penjelasan Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim berkata, “Apabila terbukti bahwa sebagian ucapan memiliki keistimewaan dan manfaat maka bagaimana lagi dengan ucapan Rabbul ‘alamin. Apalagi al-Fatihah; yang tidaklah diturunkan di dalam al-Qur’an maupun kitab-kitab yang lain suatu surat yang semisal dengannya. Sebab surat ini telah mengandung segala kandungan makna kitab suci. Ia mengandung penyebutan pokok-pokok nama Allah dan simpul utamanya. Ia juga mengandung penetapan adanya negeri akherat, penyebutan tauhid dan kebutuhan yang sangat besar terhadap Rabb (Allah) untuk memberikan pertolongan dan hidayah kepadanya. Ia juga menyebutkan doa yang paling utama yaitu permintaan hidayah menuju jalan yang lurus; yang merangkum kesempurnaan ma’rifat kepada-Nya, pengesaan kepada-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya serta istiqomah di atasnya. Surat ini pun bercerita tentang berbagai kelompok manusia dan pengklasifikasian mereka menjadi: Golongan yang diberikan nikmat yaitu yang mengenali kebenaran dan mengamalkannya, Golongan yang dimurkai karena mereka berpaling dari kebenaran setelah mengetahuinya, dan Golongan yang tersesat karena tidak mengetahui kebenaran. Selain itu surat ini juga mengandung penetapan takdir, syari’at, nama-nama Allah, hari kiamat, taubat, penyucian jiwa, perbaikan hati, dan bantahan bagi semua kelompok ahlul bid’ah. Maka sangatlah pantas bagi sebuah surat yang sebagian  keutamaannya saja sudah semacam ini untuk digunakan sebagai obat bagi segala macam penyakit, wallahu a’lam.” (lihat Fath al-Bari [10/224] cet. Dar al-Hadits)

[4] Induk Ayat-Ayat al-Qur’an

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ummul Qur’an itu adalah tujuh ayat yang sering diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani) dan al-Qur’an al-‘Azhim (bacaan yang agung).” (HR. Bukhari dalam Kitab Tafsir al-Qur’an [4704]) (lihat juga Tafsir al-Imam asy-Syafi’i [1/188-189,192] cet. Dar at-Tadmuriyah, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/382] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ia juga disebut dengan Ummul Qur’an/Induk al-Qur’an; sebab induk dari sesuatu itu adalah pokok/sumber yang menjadi tempat kembali/rujukan sesuatu tersebut. Makna-makna ayat al-Qur’an semuanya kembali kepada apa yang terkandung di dalam surat ini.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 6 cet. Dar al-Imam Ahmad, lihat juga Fath al-Bari [8/181] cet. Dar al-Hadits)

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “al-Fatihah adalah Ummul Qur’an; dikarenakan seluruh maksud ajaran al-Qur’an terkandung di dalamnya. Ia telah mencakup tiga macam tauhid. Ia juga mencakup penetapan risalah, hari akhir, jalan para rasul dan jalan orang-orang yang menyelisihi mereka. Segala perkara yang terkait dengan pokok-pokok syari’at telah terkandung di dalam surat ini. Oleh karena itu ia disebut dengan Ummul Qur’an.” (lihat Syarh al-Mumti’ [2/82])

Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menerangkan, bahwa dakwah seluruh para nabi ‘alaihimus salam memiliki tiga pokok landasan yang serupa dan ketiga hal itu pun menjadi fokus perhatian al-Qur’an serta maksud utama yang tersimpan di dalamnya. Ketiga hal itu adalah: tauhid, nubuwwat/kenabian, dan al-Ma’aad/hari kebangkitan setelah kematian atau mengimani hari pembalasan (lihat Manhaj al-Anbiyaa’ fi ad-Da’wah ila Allah, hal. 38-39)

[5] Menyimpan Rahasia Ajaran al-Qur’an

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf bahwa al-Fatihah menyimpan rahasia [ajaran] al-Qur’an, sedangkan rahasia surat ini adalah kalimat ‘Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in’. Bagian yang pertama (Iyyaka na’budu) adalah pernyataan sikap berlepas diri dari syirik. Adapun bagian yang kedua (Iyyaka nasta’in) adalah pernyataan sikap berlepas diri dari [kemandirian] daya dan kekuatan, serta menyerahkan [segala urusan] kepada Allah ‘azza wa jalla. Makna semacam ini dapat ditemukan dalam banyak ayat al-Qur’an.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/34] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa tawakal adalah separuh agama. Oleh sebab itu kita biasa mengucapkan dalam sholat kita Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Kita memohon kepada Allah pertolongan dengan menyandarkan hati kepada-Nya bahwa Dia akan membantu kita dalam beribadah kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya aku akan kembali.” (QS. Hud: 88). Tidak mungkin merealisasikan ibadah tanpa tawakal (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/28])

Kesimpulan:

  1. Al-Fatihah merupakan surat paling agung dalam al-Qur’an
  2. Al-Fatihah wajib dibaca setiap kali sholat, tidak sah sholat tanpanya
  3. Al-Fatihah bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit
  4. Al-Fatihah mengandung intisari kandungan ajaran para nabi yaitu tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan
  5. Al-Fatihah menyimpan rahasia ajaran Islam yaitu ibadah dan tawakal

This entry was posted in Tafsir and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *