TAFSIR AL-FATIHAH (8)

Faidah Ayat Kedua

Di dalam ayat ar-Rahmanir Rahim terkandung penetapan salah satu sifat Allah, yaitu sifat rahmat/kasih sayang. Rahmat Allah itu maha luas, baik rahmat yang meliputi semua makhluk maupun rahmat yang hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa (lihat al-Majmu’ah al-Kamilah [1/33])

Allah ta’ala menyebutkan ar-Rahmanir Rahim setelah al-Hamdu lillahi Rabbil ‘alamin. Hikmahnya adalah untuk mengiringi tarhib (peringatan) yang terkandung dalam nama ar-Rabb dengan targhib (motivasi) yang terkandung dalam nama ar-Rahman dan ar-Rahim (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/32], at-Tas-hil li Ta’wil at-Tanzil, [1/44-45]).

Ayat ar-Rahmanir Rahim juga menunjukkan bahwa rububiyah (kekuasaan dan pengaturan) Allah dilandasi dengan sifat kasih sayang yang sangat luas, bukan rububiyah yang dibangun di atas kekejaman, suka menyiksa atau menghukum (lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal. 10)

Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa suatu ketika ada serombongan tawanan perang yang didatangkan ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah-tengah mereka ada seorang perempuan yang mengambil susu dari kedua payudaranya. Saat berhasil menemukan bayinya di antara rombongan tawanan itu dia pun segera mengambil anak itu lalu didekapnya dengan erat ke tubuhnya. Kemudian dia menyusuinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”. Kami menjawab, “Tentu saja tidak, sedangkan dia mampu mencegah dari melemparkannya.” Lalu beliau bersabda, “Sungguh, Allah jauh lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari no. 5999 dan Muslim no. 2754)

Konsekuensi Kasih Sayang Allah

Konsekuensi dari sifat rahmat ini adalah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk membimbing manusia menuju kebahagiaan hidup mereka. Perhatian Allah terhadapnya lebih besar daripada perhatian-Nya untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanam-tanaman dan biji-bijian di atas muka bumi ini. Siraman hujan membuahkan kehidupan tubuh jasmani. Adapun wahyu yang dibawa oleh para rasul dan terkandung di dalam kitab-kitab merupakan sebab hidupnya hati (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 8).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih menyukai pujian kepada dirinya melebihi Allah. Oleh sebab itu Allah memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada yang lebih pencemburu melebihi kecemburuan Allah. Oleh sebab itu Allah mengharamkan berbagai perbuatan keji.” Dalam salah satu riwayat juga disebutkan, “Dan tidak ada yang lebih suka memberikan udzur/toleransi melebihi Allah. Oleh sebab itu Allah menurunkan kitab dan mengutus para rasul.” (HR. Bukhari no. 4634 dan Muslim no. 2760).

Tauhid Asma’ wa Shifat

Ayat ar-Rahmanir Rahim mengandung penetapan tauhid asma’ wa shifat. ar-Rahman dan ar-Rahim adalah dua nama Allah yang mengandung sifat rahmah/kasih sayang (lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 57)

Oleh sebab itu kita wajib mengimani sifat rahmat yang terkandung pada nama ar-Rahman dan ar-Rahim serta tidak menyelewengkan maknanya menjadi irodatul in’am/kehendak untuk memberikan nikmat sebagaimana yang dilakukan oleh kaum ahli bid’ah (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 15, Syarh ‘Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 65)

Tauhid asma’ wa shifat adalah kita mengimani nama-nama atau sifat-sifat yang ditetapkan Allah atas diri-Nya sendiri ataupun yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan Allah, tanpa menyerupakan/tamtsil dan tanpa membagaimanakan/takyif, tanpa menyimpangkan/tahrif dan tanpa penolakan/ta’thil (lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 56)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sebagaimana yang dikehendaki Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang datang dari Rasulullah sebagaimana yang dikehendaki oleh Rasulullah.” (lihat Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 36)

Tauhid asma’ wa shifat ini memiliki dua pilar utama; yaitu itsbat dan nafi. Itsbat artinya menetapkan. Yaitu dengan kita menetapkan segala nama dan sifat Allah yang diterangkan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Adapun nafi artinya menolak. Maksudnya adalah kita menolak adanya keserupaan antara nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk. Hal ini sebagaimana telah difirmankan Allah (yang artinya), “Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/8])

Dalil tauhid asma’ wa shifat diantaranya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Milik Allah semata nama-nama yang terindah/asma’ul husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu.” (QS. al-A’raaf: 180). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), Dan milik Allah lah sifat-sifat yang tertinggi.” (QS. an-Nahl: 60).

Perbedaan ar-Rahman dan ar-Rahim

Nama ar-Rahman bermakna Allah pemilik rahmat yang maha luas mencakup seluruh makhluk di dunia dan bagi kaum beriman di akherat. Adapun nama ar-Rahim bermakna Allah pemilik rahmat bagi kaum beriman kelak pada hari kiamat (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 15). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah berkata, “ar-Rahman artinya Dzat yang melekat pada dirinya sifat kasih sayang (rahmat), sedangkan ar-Rahim artinya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya.” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 99-100).

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata, “ar-Rahman yaitu apabila dimintai pasti memberi. Adapun ar-Rahim adalah jika tidak dimintai maka dia marah.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/27], Fath al-Bari [8/180]).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah maka Allah pasti murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi no. 3373 dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani). Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah maka Allah marah kepadanya.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 1857)

Kandungan Pilar Ibadah

Di dalam ayat ar-Rahmanir Rahim terkandung salah satu pilar ubudiyah yaitu roja’/harapan. Dengan merenungkan ayat ini seorang hamba akan senantiasa mengharapkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tentu saja kasih sayang-Nya sangatlah diharapkan (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 18)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas kepada dirinya; Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala macam dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar: 53)

Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla senantiasa membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu siang dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim no. 2759).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari arah tenggelamnya niscaya Allah masih menerima taubatnya.” (HR. Muslim no. 2703)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu di kalangan Bani Isra’il ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 jiwa manusia. Kemudian dia pun keluar dan mendatangi seorang rahib, lalu dia bertanya kepada rahib itu. Dia mengatakan, “Apakah aku masih bisa bertaubat?”. Rahib itu menjawab, “Tidak.” Maka lelaki itu pun membunuhnya. Setelah itu, ada seseorang yang memberikan saran kepadanya, “Datanglah ke kota ini dan itu.” Kemudian di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba ajal menjemputnya. Dia meninggal dalam keadaan dadanya condong ke arah kota tujuannya. Terjadilah pertengkaran antara Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Allah pun mewahyukan kepada kota yang satu, “Mendekatlah.” Dan Allah  mewahyukan kepada kota yang lainnya, “Menjauhlah.” Lalu Allah memerintahkan, “Ukurlah berapa jarak antara keduanya.” Ternyata didapati bahwa lelaki tersebut lebih dekat sejengkal dengan kota yang baik; maka diampunilah dia.” (HR. Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2766, ini lafal Bukhari)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah jauh lebih bergembira terhadap taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang dari kalian yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di padang yang luas namun tiba-tiba hewan itu lepas darinya. Padahal di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Dia pun berputus asa untuk bisa mendapatkannya kembali. Lalu dia mendatangi sebuah pohon kemudian berbaring di bawah naungannya dengan perasaan putus asa dari memperoleh tunggangannya tadi. Ketika dia sedang larut dalam perasaan semacam itu, tiba-tiba hewan tadi telah berdiri di sisinya. Lalu dia pun meraih tali pengikat hewan tadi. Karena saking gembiranya dia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu.’ Dia salah berucap gara-gara terlampau gembira.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747, lafal milik Muslim)

Bagi anda yang belum membaca seri tafsir berikutnya silahkan buka:

Bagian 7: http://abumushlih.com/tafsir-al-fatihah-7.html/

Bagian 6: http://abumushlih.com/tafsir-al-fatihah-6.html/

Bagian 5: http://abumushlih.com/tafsir-al-fatihah-5.html/

Bagian 4: http://abumushlih.com/tafsir-al-fatihah-4.html/

Bagian 3: http://abumushlih.com/tafsir-al-fatihah-3.html/

Bagian 2: http://abumushlih.com/tafsir-al-fatihah-2.html/

Bagian 1: http://abumushlih.com/tafsir-al-fatihah-1.html/

Semoga bermanfaat.

This entry was posted in Penjabaran, Tafsir and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *