<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Agama</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/agama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Merasakan Kelezatan Iman</title>
		<link>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2502</guid>
		<description><![CDATA[Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman [34]) Ridha adalah merasa puas dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [34])</p>
<p><span id="more-2502"></span></p>
<p>Ridha adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu serta tidak mencari lagi sesuatu yang lain bersamanya. Makna hadits ini adalah; orang tersebut tidak mencari dan berharap kecuali kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> semata, tidak mau berusaha kecuali di atas jalan Islam, dan tidak mau menempuh suatu jalan kecuali apabila sesuai dengan syari&#8217;at Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seseorang yang telah merasa ridha dengan sesuatu maka sesuatu itu akan terasa mudah baginya. Demikian pula seorang mukmin apabila iman telah meresap ke dalam hatinya maka akan terasa mudah segala ketaatan kepada Allah dan dia akan merasakan nikmat dengannya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/86] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang bisa merasakan kelezatan iman adalah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Ridha      Allah sebagai Rabb</li>
<li>Ridha      Islam sebagai agama</li>
<li>Ridha      Muhammad sebagai rasul</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Pertama:</strong><br />
<em>Ridha Allah Sebagai Rabb</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Rabb</strong></p>
<p>Imam ar-Raghib al-Ashfahani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Akar kata dari Rabb adalah tarbiyah; yaitu menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.”</em> (lihat <em>al-Mufradat fi Gharib al-Qur&#8217;an</em> [1/245])</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Rabb artinya adalah yang mentarbiyah seluruh alam; dan alam itu adalah segala sesuatu selain Allah. Tarbiyah itu berupa penciptaan mereka, pemberian berbagai sarana yang Allah sediakan untuk mereka, pemberian nikmat kepada mereka dengan kenikmatan yang sangat agung; yang seandainya mereka tidak mendapatkannya niscaya mereka tidak mungkin bertahan hidup di alam dunia. Nikmat apapun yang ada pada diri mereka adalah bersumber dari Allah ta&#8217;ala.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, sebagaimana tercantum dalam <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Rabb menurut bahasa digunakan untuk tiga makna; sayyid/tuan yang dipatuhi, maalik/pemilik atau penguasa, atau sosok yang melakukan ishlah/perbaikan untuk selainnya.”</em> (lihat transkrip ceramah <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul</em> milik beliau)</p>
<p><strong>[2] Tarbiyah Umum dan Tarbiyah Khusus</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Tarbiyah Allah ta&#8217;ala kepada makhluk-Nya ada dua macam: umum dan khusus. Tarbiyah yang bersifat umum adalah berupa penciptaan seluruh makhluk, pemberian rizki dan petunjuk kepada mereka menuju kemaslahatan hidup mereka untuk bisa bertahan hidup di alam dunia. Adapun tarbiyah yang bersifat khusus adalah tarbiyah yang Allah berikan kepada para wali-Nya. Allah mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuk itu dan menyempurnakan iman mereka. Allah singkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang membatasi antara mereka dengan diri-Nya. Hakikat tarbiyah khusus ini adalah pemberian taufik untuk menggapai segala kebaikan dan penjagaan dari segala keburukan. Barangkali inilah rahasia mengapa kebanyakan doa para nabi itu menggunakan kata Rabb, sebab semua cita-cita dan keinginan mereka berada di bawah kendali rububiyah Allah yang khusus ini. Maka firman-Nya &#8216;Rabbul &#8216;alamin&#8217; menunjukkan atas keesaan Allah dalam hal mencipta, mengatur, pemberian nikmat, dan kekayaan-Nya yang maha sempurna. Hal itu sekaligus menggambarkan betapa besarnya kebutuhan seluruh alam ini kepada-Nya, dari segala sisi dan pertimbangan.” </em>(<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, lihat <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34], lihat juga <em>Tafsir Surah al-Fatihah</em>, hal. 12) <em> </em></p>
<p><strong>[3] Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Tauhid rububiyah adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Memberikan Rizki, Yang Mengatur segala urusan, yang  memelihara dan menjaga seluruh makhluk dengan segala bentuk nikmat dan Allah pula yang memelihara dan menjaga makhluk-makhluk pilihan-Nya yaitu para nabi dan pengikut mereka dengan bimbingan akidah yang benar, akhlak yang mulia, ilmu-ilmu yang bermanfaat, maupun amal salih. Inilah bentuk tarbiyah (pemeliharaan dan penjagaan) yang bermanfaat bagi hati dan ruh, yang akan membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akherat (lihat <em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 13)</p>
<p>Allah adalah Rabb alam semesta. Artinya, Allah adalah pencipta dan penguasa alam semesta. Dialah yang melakukan <em>ishlah</em>/perbaikan dan <em>tarbiyah</em>/pemeliharaan dan pembinaan kepada mereka dengan nikmat-nikmat-Nya. Diantara kenikmatan itu -bahkan yang paling agung- adalah diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab. Kemudian Allah pula yang akan memberikan balasan kepada hamba atas amal-amal mereka. Konsekuensi rububiyah Allah adalah berupa perintah dan larangan kepada hamba, balasan atas kebaikan mereka, dan hukuman atas kejahatan mereka. Inilah hakikat rububiyah (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 26)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara ringkas, tauhid rububiyah bisa didefinisikan dengan mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah ada pencipta selain Allah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?”</em> (QS. Fathir: 3). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan milik Allah lah kekuasaan atas langit dan bumi.”</em> (QS. Ali &#8216;Imran: 189). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, Lalu mengapa kalian tidak bertakwa.” </em>(QS. Yunus: 31) (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/5-6] cet. Maktabah al-&#8217;Ilmu, lihat juga <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em> hal. 34)</p>
<p>Apabila diringkas lagi, bisa disimpulkan bahwa tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17 karya Syaikh Muhammad bin &#8216;Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi, lihat juga <em>Qathfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani</em>, hal. 56 karya Syaikh al-Muhaddits Abdul Muhsin al-&#8217;Abbad al-Badr, dan <em>at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 6 karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh <em>hafizhahumullahu</em>)</p>
<p><strong>[4] Orang Musyrik Pun Mengakui Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Para rasul mereka pun mengatakan, “Apakah ada keraguan terhadap Allah; padahal Dia lah yang menciptakan langit dan bumi.”.” </em>(QS. Ibrahim: 10). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, &#8216;Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui&#8217;.” </em>(QS. az-Zukhruf: 9)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).”</em> (QS. az-Zukhruf: 87). Imam Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya orang-orang musyrik arab dahulu telah mengakui tauhid rububiyah. Mereka pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi ini hanya satu.”</em> (lihat <em>Syarh al-&#8217;Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 81, lihat juga <em>Fath al-Majid</em>, hal. 16, <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/201] [7/167])</p>
<p><strong>[5] Konsekuensi Mengimani Allah Sebagai Rabb</strong></p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, <em>“Sebagaimana pula wajib diketahui bahwa pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidaklah mencukupi dan tidak bermanfaat kecuali apabila disertai pengakuan terhadap tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam beribadah) dan benar-benar merealisasikannya dengan ucapan, amalan, dan keyakinan&#8230;”</em> (lihat <em>Syarh Kasyf asy-Syubuhat</em>, hal. 24-25).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” </em>(QS. Yusuf: 107). Ikrimah berkata, <em>“Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, &#8216;Allah&#8217;. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [13/556])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Kemudian, sesungguhnya keimanan seorang hamba kepada Allah sebagai Rabb memiliki konsekuensi mengikhlaskan ibadah kepada-Nya serta kesempurnaan perendahan diri di hadapan-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiya&#8217;: 92). Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. al-Baqarah: 21). Keberadaan Allah sebagai Rabb seluruh alam memiliki konsekuensi bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan sia-sia atau dibiarkan begitu saja tanpa ada perintah dan larangan untuk mereka. Akan tetapi Allah menciptakan mereka untuk mematuhi-Nya dan Allah mengadakan mereka supaya beribadah kepada-Nya. Maka orang yang berbahagia diantara mereka adalah yang taat dan beribadah kepada-Nya. Adapun orang yang celaka adalah yang durhaka kepada-Nya dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya. Barangsiapa yang beriman terhadap rububiyah Allah dan ridha Allah sebagai Rabb maka dia akan ridha terhadap perintah-Nya, ridha terhadap larangan-Nya, ridha terhadap apa yang dibagikan kepadanya, ridha terhadap takdir yang menimpanya, ridha terhadap pemberian Allah kepadanya, dan tetap ridha kepada-Nya tatkala Allah tidak memberikan kepadanya apa yang dia inginkan.”</em> (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 97)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 89)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Allah Sebagai Rabb&#8217; </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari keterangan-keterangan para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Allah sebagai Rabb mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini      bahwa seluruh kenikmatan -jasmani maupun ruhani- adalah bersumber dari      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa segala sesuatu yang ada di alam dunia ini adalah ciptaan dari-Nya</li>
<li>Meyakini      bahwa segala kejadian yang ada di alam dunia ini adalah terjadi dengan      kehendak-Nya. Allah lah yang mengatur segalanya dan Allah yang paling      mengetahui tentangnya.</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah adalah penguasa tunggal alam semesta, Dia lah yang berhak      memerintah dan melarang atas hamba-hamba-Nya, dan Dia lah yang akan      memberikan balasan dan hukuman atas amal perbuatan mereka</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul yang      menjadi pembimbing umat manusia untuk menggapai kebahagiaan hidup yang      sejati</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah semata yang berhak untuk diibadahi, yang menjadi tumpuan      harapan, dan tempat bergantungnya hati. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam      hal itu semua</li>
<li>Memurnikan      segala macam bentuk ibadah kepada-Nya serta meninggalkan dan mengingkari      segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya</li>
<li>Menaati      perintah dan larangan-Nya serta mengimani pahala dan siksa yang      diberikan-Nya</li>
<li>Merasa      ridha dengan takdir dan musibah yang ditetapkan oleh-Nya</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Kedua:</strong><br />
<em>Ridha Islam Sebagai Agama</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara bahasa islam artinya adalah menyerahkan diri. Adapun menurut syari&#8217;at, islam adalah sikap pasrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan melaksanakan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 62)</p>
<p>Dari Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah &#8211;dalam riwayat lain syahadat diungkapkan dengan kata-kata: mentauhidkan Allah, dalam riwayat lain lagi disebutkan: beribadah kepada Allah dan mengingkari sesembahan selain-Nya&#8211;, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa Ramadhan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [8] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [16])</p>
<p><strong>[2] Pokok Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Islam ditegakkan di atas dua prinsip pokok. Pertama; beribadah kepada Allah semata. Kedua; beribadah kepada Allah hanya dengan syari&#8217;at-Nya. Kedua hal ini telah tercakup di dalam dua kalimat syahadat yang kita ucapkan: <em>asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah</em>. <em>“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” </em></p>
<p>Kalimat <em>laa ilaha illallah</em> bermakna tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka seluruh sesembahan yang diibadahi oleh manusia selain Allah adalah sesembahan yang batil. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demikian itulah, karena sesungguhnya Allah itu adalah -sesembahan- yang benar. Adapun segala yang mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil.”</em> (QS. al-Hajj: 62). Adapun kalimat <em>Muhammadur rasulullah</em> bermakna tidak ada orang yang menjadi pedoman dalam hal syari&#8217;at selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80)</p>
<p>Oleh karena itu amalan yang diterima di sisi Allah adalah yang memenuhi dua syarat: ikhlas (tidak syirik) dan <em>ittiba&#8217;</em>/mengikuti tuntunan (bukan bid&#8217;ah). Kedua hal inilah yang dimaksud oleh firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Fudhail bin Iyadh <em>rahimahullah </em>berkata, <em>“Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits).</p>
<p><strong>[3] Pondasi Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [9] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [35], lafal ini milik Muslim). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” </em>(lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (QS. at-Taubah: 109)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p><strong>[4] Agama Para Nabi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/bertauhid dan seorang muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 67). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“&#8230; Maka ikutilah millah Ibrahim yang lurus, dan tidaklah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 95). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian Kami wahyukan kepadamu; hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim yang lurus itu, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. an-Nahl: 123). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah (Muhammad), &#8216;Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama/millah Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.&#8217;.” </em>(QS. al-An&#8217;am: 161).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada teladan yang baik untuk kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah saja&#8230;” </em>(QS. al-Mumtahanah: 4).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” </em>(QS. an-Nahl: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus seorang pun rasul sebelum engkau -wahai Muhammad- melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25).</p>
<p><strong>[5] Islam Telah Sempurna</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 3). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ini adalah nikmat terbesar dari Allah ta&#8217;ala untuk umat ini. Dimana Allah ta&#8217;ala telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan lagi agama selainnya, dan juga tidak butuh nabi selain nabi mereka -semoga salawat dan keselamatan terus terlimpah kepada beliau-. Oleh sebab itulah Allah ta&#8217;ala menjadikan beliau sebagai penutup nabi-nabi dan diutus kepada segenap jin dan manusia&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [3/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya, dan kelak di akherat dia akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.”</em> (QS. Ali Imran: 85). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya, siapa pun yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam padahal Islam itu jelas-jelas telah diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, maka amalannya pasti tertolak dan tidak akan diterima. Agama Islam itulah ajaran yang mengandung sikap kepasrahan/istislam kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada rasul-rasul-Nya. Oleh sebab itu, selama seorang hamba tidak memeluk agama ini maka dia belum memiliki sebab keselamatan dari azab Allah dan tidak memiliki sebab untuk meraih kejayaan berupa limpahan pahala dari-Nya. Dan semua agama selainnya adalah batil.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 137)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.”</em> (QS. Ali Imran: 19). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Ini adalah berita dari Allah ta&#8217;ala bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya dari siapa pun selain agama Islam. Hakikat  Islam adalah mengikuti para rasul dengan menjalankan ajaran yang diturunkan Allah kepada mereka di setiap masa sampai akhirnya mereka -para rasul- ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju-Nya kecuali jalan Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam keadaan memeluk agama selain yang disyari&#8217;atkan oleh beliau maka tidak diterima&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/19] cet. Maktabah at-Taufiqiyah)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberikan al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum yang ummi/buta huruf (yaitu orang-orang musyrik); ”Maukah kalian masuk Islam?”. Apabila mereka masuk Islam, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk. Namun apabila mereka justru berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha melihat semua hamba.”</em> (QS. Ali Imran: 20). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat ini dan juga ayat-ayat lain yang serupa merupakan penunjukan yang sangat tegas mengenai keumuman pengutusan beliau -semoga salawat dan keselamatan tercurah kepadanya- kepada semua manusia sebagaimana hal itu telah diketahui sebagai bagian dari agama secara pasti, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil al-Kitab maupun as-Sunnah dalam banyak ayat dan hadits.”</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Muhammad itu adalah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi.”</em> (QS. al-Ahzab: 40). Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku dari kalangan umat ini, entah dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia tidak mau beriman terhadap ajaran yang aku bawa melainkan kelak dia pasti termasuk penduduk neraka.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [153]). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terdapat kandungan hukum bahwasanya semua agama telah dihapuskan pemberlakuannya dengan adanya risalah Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/245])</p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Islam Sebagai Agama&#8217;</strong></p>
<p>Dari keterangan-keterangan di atas kita dapat menyimpulkan bersama bahwa yang dimaksud dengan ridha Islam sebagai agama itu meliputi hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Beribadah      hanya kepada Allah dan mengingkari segala bentuk peribadahan kepada selain      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah utusan Allah</li>
<li>Meyakini      wajibnya rukun Islam, yaitu: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji</li>
<li>Meyakini      bahwa ibadah tidak akan diterima apabila tidak ikhlas atau tidak mengikuti      tuntunan</li>
<li>Meyakini      tauhid sebagai pondasi agama Islam yang tidak akan sah amal apapun      tanpanya</li>
<li>Meyakini      bahwa agama para nabi adalah satu -yaitu islam- meskipun syari&#8217;atnya      berlainan</li>
<li>Meyakini      bahwa asas agama para nabi adalah tauhid</li>
<li>Meyakini      bahwa seluruh agama yang ada telah dihapuskan dengan ajaran Islam yang      dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini      kesempurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ia tidak memerlukan penambahan atau      koreksi</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Ketiga:</strong><br />
<em>Ridha Muhammad Sebagai Rasul</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Anugerah Risalah</strong></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, <em>“Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah ilah/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan. Kedua; Allah ta&#8217;ala telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.”</em> (lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, hal. 35)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, yang mensucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), sementara sebelumnya mereka berada di dalam kesesatan yang amat nyata.”</em> (QS. Ali Imran: 164)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Risalah adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi hamba. Mereka benar-benar membutuhkannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh di atas segala jenis kebutuhan. Risalah adalah ruh, cahaya, dan kehidupan alam semesta. Maka kebaikan seperti apa yang ada pada alam tanpa ruh, tanpa cahaya, dan tanpa kehidupan?”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim Ushul al-Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wa al-Jama&#8217;ah</em>, hal. 78 karya Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani)</p>
<p><strong>[2] Sumber Kehidupan Hakiki</strong></p>
<p>Allah<em> ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.”</em> (QS. al-Anfal: 24)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanya bisa digapai dengan merespon seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak merespon seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun dia memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka hidup. Oleh karena itu orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang kehilangan sebagian darinya maka dia kehilangan sebagian unsur kehidupan, bisa jadi di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sekadar dengan responnya terhadap ajakan Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 85-86 cet. Dar al-&#8217;Aqidah)</p>
<p><strong>[3] Kasih Sayang Rasul Kepada Umatnya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian. Terasa berat baginya apa yang menyusahkan kalian. Dia sangat bersemangat memberikan kebaikan kepada kalian. Dan terhadap orang-orang yang beriman dia sangat lembut dan penyayang.”</em> (QS. at-Taubah: 128)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang mustajab, maka semua Nabi bersegera mengajukan doanya itu. Adapun aku menunda doaku itu sebagai syafa&#8217;at bagi umatku kelak di hari kiamat. Doa -syafa&#8217;at- itu -dengan kehendak Allah- akan diperoleh setiap orang di antara umatku yang meninggal dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [199])</p>
<p>Dari Urwah, suatu ketika &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> -istri Nabi- menceritakan kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Pernahkah anda menemui suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku telah mendapatkan tanggapan dari kaummu sebagaimana apa yang aku temui. Tanggapan paling berat yang pernah aku dapatkan adalah pada hari &#8216;Aqabah, ketika itu aku tawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, akan tetapi dia tidak menerima tawaranku sebagaimana yang aku kehendaki. Aku pun kembali dengan perasaan sedih mewarnai wajahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku sudah berada di Qarn Tsa&#8217;alib. Aku angkat kepalaku ke atas, ternyata ada awan yang sedang menaungi diriku. Aku pun memperhatikan, ternyata di sana ada Jibril, lalu dia pun memanggilku. Dia berkata, &#8216;Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan yang mereka lakukan terhadapmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, agar kamu perintahkan kepadanya apa yang ingin kau timpakan kepada mereka.&#8217; Maka malaikat penjaga gunung itu pun menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu dia berkata, &#8216;Wahai Muhammad&#8217;. Dia berkata, &#8216;Apabila kamu menginginkan hal itu, niscaya akan aku timpakan kepada mereka dua bukit besar itu.&#8217;.”</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> justru menjawab, <em>“Tidak, sesungguhnya aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab Bad&#8217;u al-Khalq</em> [3231])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau menceritakan: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membaca firman Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> mengenai Ibrahim (yang artinya), <em>“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia, barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia adalah termasuk golonganku.”</em> (QS. Ibrahim: 36). &#8216;Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> juga berkata (yang artinya), <em>“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu, dan apabila Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 118). Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, <em>“Ya Allah, umatku, umatku.”</em> Dan beliau pun menangis. Allah<em> &#8216;azza wa jalla</em> berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad -sedangkan Rabbmu tentu lebih mengetahui- lalu tanyakan kepadanya, apa yang membuatmu menangis?”</em>. Maka Jibril <em>&#8216;alaihis sholatu was salam</em> menemui beliau dan bertanya kepadanya, lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan kepadanya tentang apa yang telah diucapkannya -dan Dia (Allah) tentu lebih mengetahuinya-. Kemudian Allah berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad, dan katakan kepadanya, &#8216;Sesungguhnya Kami pasti akan membuatmu ridha berkenaan dengan nasib umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu bersedih.&#8217;.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [202])</p>
<p>Sa&#8217;id bin al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, beliau menceritakan: Ketika kematian hendak menghampiri Abu Thalib, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun datang kepadanya. Di sana beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin al-Mughirah telah berada di sisinya. Kemudian beliau berkata, <em>“Wahai pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untuk membelamu kelak di sisi Allah.”</em> Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan syahadat kepadanya, sedangkan mereka berdua pun terus mengulangi ucapan itu. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>&#8230; (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1360] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [24])</p>
<p><strong>[4] Konsekuensi Iman Kepada Rasul</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Makna syahadat bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah yaitu mentaati segala perintahnya, membenarkan berita yang disampaikannya, menjauhi segala yang dilarang dan dicegah olehnya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari&#8217;atnya.”</em> (lihat <em>Hushul al-Ma&#8217;mul bi Syarh Tsalatsat al-Ushul</em>, hal. 116)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul pun melainkan supaya ditaati dengan izin Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 64). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apa saja yang dibawa oleh rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarang olehnya kepada kalian maka tinggalkanlah.” </em>(QS. al-Hasyr: 7).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya, tidaklah hal itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” </em>(QS. an-Najm: 3-4). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ikutilah dia (rasul) mudah-mudahan kalian mendapatkan petunjuk.” </em>(QS. al-A&#8217;raaf: 158). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apabila mereka tidak mau memenuhi seruanmu (Muhammad), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu mengikuti hawa nafsunya. Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.” </em>(QS. al-Qashash: 50)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau merasakan siksaan yang sangat pedih.”</em> (QS. an-Nur: 63). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak pantas bagi seorang beriman lelaki ataupun perempuan apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian ternyata masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam menyelesaikan urusan mereka.”</em> (QS. al-Ahzab: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang perkara apa saja maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 59).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka demi Rabbmu, mereka sama sekali tidak beriman sampai mereka mau menjadikan kamu sebagai hakim/pemutus perkara dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak lagi mendapati rasa sempit di dalam diri mereka atas apa yang kamu putuskan dan mereka pun pasrah secara sepenuhnya.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 65)</p>
<p><strong>[5] Makna &#8216;Ridha Muhammad Sebagai Rasul&#8217;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Muhammad sebagai rasul adalah mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini bahwa diutusnya      Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> merupakan anugerah dan      karunia terbesar bagi umat manusia</li>
<li>Meyakini bahwa kebutuhan      umat manusia terhadap bimbingan rasul (risalah) adalah di atas segala      kebutuhan mereka</li>
<li>Meyakini bahwa kehidupan      yang sejati dan kebahagiaan yang hakiki hanya bisa digapai dengan  memenuhi seruan Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini betapa besar      kasih sayang Rasul kepada umatnya dan semangat beliau yang begitu besar      dalam rangka memberikan hidayah kepada mereka</li>
<li>Meyakini kebenaran      berita yang disampaikan olehnya</li>
<li>Meyakini wajibnya      menaati perintahnya dan menjauhi larangannya, dan bahwasanya hal itu      termasuk dalam ketaatan kepada Allah</li>
<li>Meyakini bahwa ibadah      kepada Allah -seikhlas apapun- tidak akan diterima oleh-Nya apabila tidak      sesuai dengan syari&#8217;at dan ajaran beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Menerima segala      ketetapan beliau dengan penuh kepasrahan</li>
<li>Menjadikan sabda dan      ketetapan beliau sebagai rujukan dalam menyelesaikan segala macam      perselisihan serta menjunjung tinggi sabda-sabdanya di atas seluruh ucapan      manusia</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbaiki Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 09:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2474</guid>
		<description><![CDATA[Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16) Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p><span id="more-2474"></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari an-Nu&#8217;man bin Basyir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu para da&#8217;i yang menyerukan tauhid adalah da&#8217;i-da&#8217;i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (<strong>HR. Muslim </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 109</strong>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang-cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara di akhirat. Demikian pula syirik, dusta dan riya&#8217; seperti sebatang pohon, yang buah-buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 14)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat -di dalam tanah- sedangkan cabangnya menjulang ke langit.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 24</strong>). Yang dimaksud &#8216;kalimat yang baik&#8217; di dalam ayat ini adalah syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 425)</p>
<p>Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak? Sementara inilah hak Allah Rabb penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul<em> &#8216;alaihimush sholatu was salam</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” </em>(<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162-163</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya; Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(<strong>QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” </em>(<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri.” </em>(<strong>QS. al-Hasyr: 19</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 28</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang paling berbahagia dengan syafa&#8217;atku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah laa ilaha illallaah niscaya dia akan masuk surga.” </em>(<strong>HR. Abu Dawud </strong>dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 17)</p>
<p>Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, <em>“Di mana pun bumi dipijak, maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!”</em>. Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2468</guid>
		<description><![CDATA[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah [al-Fatawa Juz 14/295-296] menjelaskan : Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>[<em>al-Fatawa</em> Juz 14/295-296] menjelaskan :</p>
<p><span id="more-2468"></span></p>
<p>Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah <em>ilah</em>/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.</p>
<p>(<em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em> karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 35)</p>
<p>Dari keterangan Syaikhul Islam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya sumber kebahagiaan umat manusia adalah<strong> ikhlas</strong> -yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya- dan <strong><em>ittiba&#8217;</em></strong> -yaitu konsisten dengan ajaran dan petunjuk Rasulullah-, inilah rahasia kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Kedua hal ini pula lah yang terkandung dalam dua kalimat syahadat yang senantiasa kita ucapkan. Dua kalimat yang juga selalu diserukan oleh para mu&#8217;adzin kaum muslimin di berbagai belahan bumi.</p>
<p>Dasar kaidah yang agung ini adalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabb-nya, hendaklah dia melakukan amal salih, dan janganlah dia mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Amal yang salih adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah/tuntunan Nabi. Adapun amalan yang ikhlas adalah yang semata-mata dipersembahkan untuk Allah. Sebagaimana diterangkan oleh Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Dari sinilah kita mengetahui mengapa perhatian para ulama salaf terhadap tauhid dan sunnah sangatlah besar; karena memang kedua hal itulah asas Islam. Dengan memahami tauhid dengan benar maka seorang hamba akan mengerti jalan untuk menggapai ikhlas. Dan dengan memahami sunnah dengan baik maka seorang hamba akan mengerti cara untuk <em>ittiba&#8217;</em> kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Apabila tauhid dan sunnah itu merupakan perkara yang paling mendasar, maka memahami lawan-lawannya pun menjadi perkara yang sangat penting. Karena tidak mungkin seorang mengenal tauhid dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu syirik. Demikian pula, tidak mungkin seorang mengenal sunnah dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu bid&#8217;ah.</p>
<p>Maka sungguh sangat aneh jika ada orang yang mengaku muslim akan tetapi sangat alergi membahas tentang syirik dan bid&#8217;ah?! Bahkan, yang lebih aneh lagi adalah sikap sebagian orang yang mencemooh dakwah tauhid dan menjauhkan umat Islam darinya. Dengan bangganya dia menikmati amalan-amalan bid&#8217;ah dan melecehkan dakwah tauhid dengan bahasa-bahasa yang merendahkan para ulama. <em>Subhanallah</em>, tidakkah kita takut akan hukuman-Nya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serial E-Book &#8216;Kenali Islam&#8217; Bagian 1</title>
		<link>http://abumushlih.com/serial-e-book-kenali-islam-bagian-1.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/serial-e-book-kenali-islam-bagian-1.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 19:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[e-book]]></category>
		<category><![CDATA[Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2386</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, kaum muslimin yang dirahmati Allah&#8230; Berikut ini kami hadirkan ke tengah pembaca sekalian, sebuah e-book yang berisi nasehat dan pelajaran bagi kita semua, mudah-mudahan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita&#8230; E-book ini berjudul &#8216;Aku dan Kamu [Sangat] Membutuhkan-Nya&#8217; &#8230; <a href="http://abumushlih.com/serial-e-book-kenali-islam-bagian-1.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fserial-e-book-kenali-islam-bagian-1.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fserial-e-book-kenali-islam-bagian-1.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Bismillah</em>, kaum muslimin yang dirahmati Allah&#8230;</p>
<p>Berikut ini kami hadirkan ke tengah pembaca sekalian, sebuah e-book yang berisi nasehat dan pelajaran bagi kita semua, mudah-mudahan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita&#8230; E-book ini berjudul <strong>&#8216;Aku dan Kamu [Sangat] Membutuhkan-Nya&#8217;</strong></p>
<p><span id="more-2386"></span></p>
<p>Silahkan men-download-nya di link/tautan berikut:</p>
<p><a href="http://www.4shared.com/document/p7XiToJF/Aku_dan_Kamu.html">http://www.4shared.com/document/p7XiToJF/Aku_dan_Kamu.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/serial-e-book-kenali-islam-bagian-1.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Bahasa Arab Dasar Kembali Dibuka!</title>
		<link>http://abumushlih.com/program-bahasa-arab-dasar-kembali-dibuka.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/program-bahasa-arab-dasar-kembali-dibuka.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 01:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[BADAR]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Ekstra Kurikuler]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Gundul]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'had Umar bin Khattab]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Shorof]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2379</guid>
		<description><![CDATA[Dibuka kembali, Bahasa Arab Dasar Reguler Semester Ganjil 2011, terbuka untuk putra dan putri Pilihan Kelas : Kelas pemula (Panduan : Kitab Muyassar), Kelas menengah (Panduan  :Kitab Mukhtarot), Kelas Lanjutan (Panduan :Kitab Mulakhos) Pendaftaran Pendaftaran : 15-29 September 2011 Placement &#8230; <a href="http://abumushlih.com/program-bahasa-arab-dasar-kembali-dibuka.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fprogram-bahasa-arab-dasar-kembali-dibuka.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fprogram-bahasa-arab-dasar-kembali-dibuka.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dibuka kembali, Bahasa Arab Dasar Reguler Semester Ganjil 2011, terbuka untuk putra dan putri</p>
<p><span id="more-2379"></span></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Pilihan Kelas :</span></p>
<ol>
<li>Kelas pemula (Panduan : Kitab Muyassar),</li>
<li>Kelas menengah (Panduan  :Kitab Mukhtarot),</li>
<li>Kelas Lanjutan (Panduan :Kitab Mulakhos)</li>
</ol>
<p><strong><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Pendaftaran</span><br />
</strong></p>
<p>Pendaftaran : 15-29 September 2011</p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Placement test (bagi pendaftar kelas menengah dan lanjutan) :</span><br />
Hari : Jum’at, 30 September 2011<br />
Pukul : 16.00-17.00 WIB<br />
Tempat : Masjid Pogung Raya</p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;"><strong>Briefing dan daftar ulang</strong> (wajib bagi seluruh peserta)</span><br />
Hari : Ahad, 2 Oktober<br />
Pukul : 08.00-selesai<br />
Tempat : Masjid Pogung Raya</p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;"><strong>Mulai kegiatan belajar mengajar</strong> : 3 Oktober 2011</span></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Suplemen Kajian Aqidah : 4 Kaidah Dasar Memahani Tauhid</span><br />
<span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Frekuensi belajar : 4 kali sepekan selama 13 pekan (3 kali materi bahasa arab dan 1 kali materi akidah)</span></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;"><strong>Tempat Pendaftaran  langsung:</strong></span></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Putra : Wisma Misfallah Tholabul ‘ilmi/MTI(Pogung Kidul 8c, mlati, sleman) dan Toko Ihya’ (Utara Fakultas Kehutanan UGM)</span></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Putri : Wisma Hilyah(Pogung rejo, SIA XVI Rt 13 rw 51 no.391, Sinduadi, Mlati, Sleman(, Wisma Raudhatul ‘Ilmi (Pogung Dalangan, SIA XVI, No. 40, Rt 10 Rw 50, Sleman), Toko Qonita (Jln. Pandega Marta – Jalan Pintas Jalan Monjali ke perempatan kentungan jalan kaliurang, Ringroad utara)</span></p>
<p>Pendaftaran Via SMS : silahkan SMS contact person di bawah dengan format ;                       <strong>Nama Le</strong><strong>ng</strong><strong>kap_Pilihan Kelas _ Pekerjaan</strong><strong>_Jurusan/Universitas</strong></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Tempat Belajar :Masjid-masjid dan wisma-wisma sekitar UGM<br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Biaya Pendaftaran : Rp. 130.000,00 (tidak termasuk kitab, kitab bisa dipesan di panitia)<br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Pengajar : Staf Pengajar Ma’had ‘Umar bin Khattab<br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">CP (Informasi &amp; pemesanan kitab) : 0857.1564.6011 (putra) &amp;0857.4355.8784(putri)<br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Georgia, 'Bitstream Charter', serif; line-height: 24px;">Penyelenggara : Ma’had ‘Umar bin Khattab dan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari. Sekretariat : Wisma Darut Tauhid, Pogung Kidul 9c, SIA XVI, Mlati, Sleman. Telp :0274-6644862 Website : Muslim.or.id Muslimah.or.id Ypia.or.id</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/program-bahasa-arab-dasar-kembali-dibuka.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dzatu Anwath</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 17:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kekafiran]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tabarruk]]></category>
		<category><![CDATA[Tasyabbuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2308</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu&#8217;anhu, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dzatu-anwath.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dzatu-anwath.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Waqid al-Laitsi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri&#8217;tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath. Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata, <em>“Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, <em>“Allahu akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telag mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra&#8217;il kepada Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 138</strong>). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong> dan beliau mensahihkannya, disahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam takhrij <em>as-Sunnah</em> karya Ibnu Abi &#8216;Ashim, lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/126])</p>
<p><span id="more-2308"></span> Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik di kala itu memiliki keyakinan yang keliru terhadap Dzatu Anwath, yang hal itu mencakup tiga perkara: [1] Mereka mengagung-agungkan pohon tersebut, [2] Mereka melakukan i&#8217;tikaf (berdiam dalam rangka ibadah) di sisinya, [3] Mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dalam rangka mengharapkan keberkahan pohon tersebut mengalir kepada senjata-senjata mereka sehingga diharapkan senjata itu menjadi lebih tajam dan mendatangkan kebaikan yang lebih bagi orang yang membawa senjata tersebut (lihat <em>at-Tam-hid</em>, hal. 132).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa mencari berkah kepada pohon adalah terlarang -bahkan termasuk syirik-, dan hal itu merupakan salah satu kebiasaan buruk umat-umat terdahulu yang sesat (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/126 dan 128]). Larangan ini berlaku juga untuk hal yang lain seperti mencari berkah kepada batu, kubur, atau yang lainnya. Termasuk yang terlarang adalah mencari berkah dengan keringat orang soleh, bersentuhan dengan tubuh mereka, atau menyentuh pakaian mereka dan yang semacamnya (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 103). Dari sini kita mengetahui bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang di sisi kubur para wali atau orang soleh berupa mencari berkah dengan menyentuhkan pakaian atau bagian tubuh padanya merupakan perbuatan syirik kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa jahiliyah itu tidak khusus berlaku bagi orang-orang yang hidup di masa sebelum Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Akan tetapi siapa pun yang tidak mengetahui kebenaran dan melakukan perbuatan-perbuatan orang jahil maka dia tergolong <em>ahlul jahiliyah</em> (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/130]). Hadits ini juga menunjukkan terlarangnya meniru-niru kebiasaan jahiliyah (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 102). Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang berpindah dari suatu kebatilan yang sudah terbiasa melekat dalam hatinya maka terkadang masih ada saja sisa-sisa kebatilan itu pada dirinya. Terkadang butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghilangkan sisa keburukan itu (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/132])</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan disunnahkannya mengucapkan takbir [<em>Allahu akbar</em>] ketika mengingkari atau heran terhadap sesuatu, demikian juga halnya ucapan tasbih [<em>Subhanallah</em>]. Hadits ini juga menunjukkan bahwa yang menjadi pegangan -dalam menyikapi- adalah hakikat sesuatu bukan nama atau istilahnya. Kalau itu kebatilan maka tetap batil meskipun nama dan istilahnya berganti (lihat <em>Syarh Kitab Tauhid</em> Syaikh Bin Baz, hal. 66-67)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Tengah Era Fitnah dan Kelalaian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2286</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. Amma ba&#8217;du. Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2286"></span> Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap insan. Tidakkah kita ingat bersama, <em>wahai saudaraku semoga Allah menjagaku dan menjagamu</em>&#8230; bahwa menjadi orang yang istiqomah di atas ketaatan di kala-kala fitnah merajalela adalah sebuah keutamaan yang sangat besar&#8230;</p>
<p>Dari Ma&#8217;qil bin Yasar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan bahwa mereka itu adalah, <em>“Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.”</em> (<strong>HR. Thabrani</strong>, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)</p>
<p>Ingatkah engkau <em>wahai saudaraku</em>&#8230; bahwa kebaikan paling utama yang saat ini banyak dilalaikan oleh manusia adalah tauhid, iman dan keikhlasan?</p>
<p>Tentang keutamaan tauhid, maka kita semua ingat bahwa tauhid inilah yang menjadi tujuan diciptakannya seluruh jin dan manusia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Para ulama salaf menafsirkan bahwa makna ibadah di sini adalah tauhid&#8230;</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada&#8230; betapa banyak di antara mereka yang melalaikan tauhid! Sehingga mereka terjerumus dalam berbagai perbuatan syirik&#8230; Entah itu syirik besar maupun kecil, entah itu yang tampak maupun yang tersembunyi&#8230; Padahal, kita semua tahu betapa besar bahaya dosa yang satu ini, sampai-sampai Allah mengatakan (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p>Tentang pentingnya keimanan, maka terlalu banyak dalil yang menunjukkan betapa besar peranan iman bagi kehidupan setiap insan. Di antaranya Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada di sekitar kita&#8230; betapa banyak orang yang rela menjual keimanannya demi mendapatkan kesenangan dunia yang hanya sementara! Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah dalam melakukan amalan-amalan sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman namun di pagi harinya dia menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Adapun, tentang keagungan ikhlas&#8230; maka banyak sekali dalil yang menunjukkan hal itu kepada kita. Di antaranya, Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>). Dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu diukur dengan niatnya. Dan setiap orang akan diberi balasan seperti apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena motivasi dunia atau karena keinginan menikahi seorang wanita, maka hijrahnya hanya akan mendapatkan balasan seperti apa yang dia niatkan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Lihatlah, berbagai fenomena yang ada di tengah umat manusia&#8230; Betapa banyak indikasi yang mencerminkan rusaknya nilai-nilai keikhlasan ini di dalam aktifitas hidup mereka. Penyakit riya&#8217; dan ujub seolah telah menjadi wabah yang merambah kemana-mana&#8230; Orang yang sholat, orang yang bersedekah, orang yang berdakwah, orang yang mengajarkan kebaikan&#8230; tidaklah ada satu celah kebaikan kecuali setan berusaha untuk membidikkan anak panah ujub dan riya&#8217; ini kepadanya&#8230;</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca <em>Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in</em> di dalam sholat kita&#8230; Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan -menukil keterangan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- bahwa <em>iyyaka na&#8217;budu</em> merupakan senjata untuk melawan penyakit riya&#8217;, sedangkan <em>iyyaka nasta&#8217;in</em> merupakan senjata untuk melumpuhkan penyakit ujub&#8230;</p>
<p><em>Saudaraku</em>.., semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran.. Tauhid, iman dan keikhlasan inilah yang menjadi perisai hidup seorang muslim. Tidak ada nilainya harta dan keturunan apabila tidak diiringi dengan tauhid, iman dan keikhlasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari -kiamat- tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>)</p>
<p>Tidaklah seorang hamba mendapatkan kemuliaan derajat di sisi Allah kecuali karena tauhid, iman dan keikhlasan yang mewarnai tindak-tanduk dan perilakunya. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah pada hari tiada lagi naungan kecuali naungan dari-Nya: [1] Seorang pemimpin yang adil, [2]  pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, [3] lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak berbuat keji oleh seorang wanita berkedudukan dan cantik namun ia mengatakan, &#8216;Aku takut kepada Allah&#8217;, [6] orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sepi lalu berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Maka di masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian semacam ini setiap muslim harus berjuang mempertahankan tauhid, keimanan dan keikhlasan yang ada di dalam dirinya. Semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> menunjuki kita kepada kebenaran dan meneguhkan kita di atasnya, dan semoga Allah menunjuki kita kebatilan dan menjauhkan kita darinya. <em>Wallahul musta&#8217;an</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Utama Perpecahan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 16:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Ishlah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2284</guid>
		<description><![CDATA[Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103) Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 103</strong>) <span id="more-2284"></span></p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali Allah&#8217; di sini adalah <em>al-Jama&#8217;ah</em>/persatuan, atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya. Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud, tatkala menceritakan golongan yang selamat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Yaitu al-Jama&#8217;ah.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah fi Bayani Manhaj as-Salaf fi at-Tarbiyah wa al-Ishlah</em> karya Syaikh Abdullah bin Shalih al-Ubailan, hal. 79)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Apabila umat manusia kembali kepada al-Kitab dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam niscaya persatuan itu akan terwujud. Sebagaimana hal itu telah terjadi pada generasi awal umat ini, padahal mereka dahulu -sebelumnya- berpecah-belah&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82). Beliau menekankan, <em>“Tidak akan bisa menyatukan hati dan mempersatukan umat manusia kecuali dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Kalau tanpa itu maka tidak mungkin mereka bisa bersatu&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Dengan tiga perkara berikut ini, maka persatuan itu akan terlaksana; [1] aqidah yang sahihah, [2] kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah ketika berselisih, [3] taat kepada ulil amri (umara/ulama) serta selalu menginginkan kebaikan bagi mereka dan menasehati dengan cara yang bijak&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 84).</p>
<p><strong>Apa Sebab Perpecahan?</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Mereka -Ahlus Sunnah- meyakini bahwa sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama&#8217;ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 85)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 159</strong>).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, dan agama ini melarang tindak perpecah-belahan dan persengketaan bagi segenap pemeluk agama (Islam), dalam seluruh persoalan agama; yang pokok maupun yang cabang&#8230;”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 285)</p>
<p>Suatu ketika, Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> ditanya, <em>“Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Bahkan, saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 86)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Para sahabat dahulu biasa meninggalkan pendapat pribadi mereka, meskipun pendapat itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka meninggalkannya apabila hal itu menyebabkan tercerai-berainya persatuan. Lihatlah, bagaimana sikap Abdullah bin Mas&#8217;ud seorang sahabat yang mulia -semoga Allah meridhainya- tatkala Amirul Mukminin Utsman radhiyallahu&#8217;anhu menyempurnakan sholat (tidak mengqashar) di Mina. Padahal, Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu berpendapat qashar di Mina. Meskipun demikian, apabila beliau sholat di belakang Utsman radhiyallahu&#8217;anhu maka beliau menyempurnakan (tidak qashar). Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, <strong>&#8216;Wahai putraku, perselisihan itu buruk.&#8217;</strong> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 97). Lihatlah, bagaimana Ibnu Mas&#8217;ud mengalah dan mengikuti pendapat Amirul Mukminin demi mempertahankan kesatuan umat&#8230;</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Memang terkadang sesuatu yang lebih utama ditinggalkan kepada sesuatu yang kurang utama, hal itu apabila dengan sesuatu yang kurang utama itu akan membuahkan persatuan. Di saat semacam itu, wajib baginya untuk mengalah dari menginginkan sesuatu yang lebih utama menuju sesuatu yang kurang utama. Hal itu perlu dilakukan demi utuhnya kesatuan dan persatuan kaum muslimin&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Beliau menambahkan, <em>“Hal itu -dianjurkan untuk mengalah- berlaku dengan catatan selama tidak merusak agama. Adapun apabila menimbulkan kerusakan agama, maka tidak boleh. Oleh karenanya wajib bagi seorang muslim mengalah dari memaksakan pendapat dan ijtihadnya, meskipun menurutnya apa yang dia yakini itulah yang lebih utama. Lantas, bagaimana lagi apabila ternyata apa yang dianut oleh jama&#8217;ah (mayoritas umat/ulama) adalah sesuatu yang lebih utama, sedangkan apa yang diyakini oleh orang yang menyelisihi ini adalah sesuatu yang kurang utama, atau bahkan sesuatu yang tidak benar?!.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu seharusnya para penuntut ilmu dan orang-orang yang menyandarkan diri kepada ilmu mencamkan baik-baik kaidah ini; yaitu <strong>apabila seseorang muslim memiliki pendapat dan ijtihad yang seandainya ditampakkan kepada orang banyak menimbulkan kekacauan dan persengketaan, maka semestinya dia tidak perlu menampakkannya</strong>. Cukuplah dia mengikuti apa yang dianut oleh mayoritas umat Islam. Sebab hal itu lebih menjamin -kebaikan- baginya dan lebih mendekati kebenaran.” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan mengomentari ucapan terakhir Syaikh Fauzan di atas, <em>“Benar, hal ini tidak ragu lagi sangat diperlukan. Apalagi dalam kondisi berkecamuknya fitnah.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p><strong>Kesimpulan dan Pelajaran</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari paparan ringkas di atas, dapat kita petik kesimpulan dan faedah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Berpegang      teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan benar -sebagaimana dipahami      Nabi dan para sahabat- membuahkan persatuan yang sejati, bukan justru      mengobarkan perpecahan di tengah-tengah umat, terlebih lagi di kalangan para      da&#8217;i&#8230;!</li>
<li>Apabila      perpecahan itu telah terjadi, maka sebabnya adalah tidak mewujudkan salah      satu di antara ketiga hal di atas. Bisa jadi karena perbedaan aqidah, atau      tidak mau merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah, atau karena tidak merujuk      kepada ulil amri (ulama dan umara) dan menasehati mereka dengan cara yang      bijak.</li>
<li>Seorang      muslim hendaknya tidak segan untuk mengalah, menjaga persatuan, dan lebih      mengutamakan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi dan golongan.</li>
<li>Seorang      muslim -apalagi penuntut ilmu dan da&#8217;i- semestinya memperhitungkan dampak      dari pendapat atau ucapan yang dilontarkannya di hadapan manusia, apakah      hal itu menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka ataukah tidak.</li>
<li>Sebuah      pelajaran berharga, bahwa perpecahan tidak akan teratasi dengan perpecahan      pula. Perpecahan hanya bisa diatasi dengan persatuan yang sejati.      Barangsiapa mengira bahwa perpecahan bisa diatasi dengan sikap <em>ta&#8217;ashub</em> kepada sosok tertentu selain Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,      maka sungguh dia telah keliru!</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Perkenalan&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/sebuah-perkenalan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sebuah-perkenalan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 03:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Audio]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>
		<category><![CDATA[Daurah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Publikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Radio]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2277</guid>
		<description><![CDATA[:: Ma&#8217;had al-&#8217;Ilmi Menuntut ilmu adalah amal yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Tanpa keduanya, tidaklah mungkin seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan dari berbagai kebaikan yang begitu banyak. Pentingnya kesabaran dan kesungguhan banyak disinggung baik di dalam Al Qur’an &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sebuah-perkenalan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebuah-perkenalan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebuah-perkenalan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<div>
<p><strong>:: Ma&#8217;had al-&#8217;Ilmi</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Menuntut  ilmu adalah amal yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.  Tanpa  keduanya, tidaklah mungkin seseorang akan mendapatkan apa yang ia   inginkan dari berbagai kebaikan yang begitu banyak. Pentingnya   kesabaran dan kesungguhan banyak disinggung baik di dalam Al Qur’an   maupun As Sunnah. Dalam sebuah sya’ir Imam Syafi’i mengatakan :</p>
<p><span id="more-2277"></span></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Wahai Saudaraku …</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>engkau takkan mendapatkan ilmu</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>kecuali dengan enam perkara</em></p>
<p><em>‘kan ku sebutkan perincian beserta penjelasannya</em></p>
<p><em>Semangat, Sungguh-sungguh dan kecerdasannya</em></p>
<p><em>Modal, bersama pengajar dan panjang waktunya</em></p>
<p>Sumber:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://mahadilmi.wordpress.com/tentang-kami/pengantar/" target="_blank">http://mahadilmi.wordpress.com/tentang-kami/pengantar/</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Jadwal Kajian Rutin: <a rel="nofollow" href="http://mahadilmi.wordpress.com/kegiatan-rutin/" target="_blank">http://mahadilmi.wordpress.com/kegiatan-rutin/</a></p>
<p>Download Rekaman Kajian: <a rel="nofollow" href="http://mahadilmi.wordpress.com/download/download-kajian/" target="_blank">http://mahadilmi.wordpress.com/download/download-kajian/</a></p>
<p><strong>:: Buletin Dakwah</strong></p>
<p><strong> Buletin At-Tauhid</strong> merupakan buletin dakwah yang disebarkan secara rutin setiap pekan.   Materi yang disampaikan difokuskan pada pembenahan aqidah kaum muslimin   dan penanaman Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagaimana  motonya <strong>‘Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah’</strong>.  Buletin  ini disebarkan ke berbagai masjid yang ada di Yogyakarta  (sekitar 70  masjid) setiap hari Jum’at sebanyak 11000 eksemplar. Jumlah  ini masih  terhitung kecil dibandingkan dengan 5000 masjid yang ada di  Yogyakarta.  Alhamdulillah, sekarang ini buletin sudah memasuki tahun  kelima.  Meskipun demikian, masalah klasik masih saja dihadapi yaitu  kendala  pendanaan yang sangat terbatas dikarenakan tidak adanya donatur  tetap  untuk kegiatan ini dan pemasukan infak yang kecil dan tidak  menentu.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://buletin.muslim.or.id/about" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id/about</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Arsip Artikel: <a rel="nofollow" href="http://buletin.muslim.or.id/arsip" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id/arsip</a></p>
<p>Donasi: <a rel="nofollow" href="http://buletin.muslim.or.id/about/donasi-buletin-at-tauhid" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id/about/donasi-buletin-at-tauhid</a></p>
<p><strong>Buletin Muslimah</strong></p>
<p>Bermula  dari buletin muslimah Zuhairoh yang disebarkan di kampus UGM,  UNY, dan  sekitarnya, kami memandang perlu menyebarkan  artikel-artikel  Zuhairoh  ke area yang lebih luas lagi, sehingga muslimah yang tidak  mendapat  versi cetak buletin ini dapat ikut mengambil faidah ilmu syar’i  yang  kami tuangkan ke dalam artikel-artikel Zuhairoh yang telah terbit   melalui blog yang sederhana ini.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://buletinzuhairoh.wordpress.com/about/" target="_blank">http://buletinzuhairoh.wordpress.com/about/</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Bahasan Utama: <a rel="nofollow" href="http://buletinzuhairoh.wordpress.com/category/bahasan-utama/" target="_blank">http://buletinzuhairoh.wordpress.com/category/bahasan-utama/</a></p>
<p>Ziyadah: <a rel="nofollow" href="http://buletinzuhairoh.wordpress.com/category/azziyadah/" target="_blank">http://buletinzuhairoh.wordpress.com/category/azziyadah/</a></p>
<p><strong>:: Website Dakwah</strong></p>
<p><strong>Muslim.or.id</strong> adalah situs yang dikelola oleh mahasiswa dan alumni di  Yogyakarta   dan sekitarnya. Muslim.or.id berusaha menyebarkan dakwah  Islamiyyah  Ahlu Sunah  wal Jama’ah di jagad maya. Moto Muslim.or.id  adalah <strong>“Memurnikan Aqidah,  Menebarkan Sunah”</strong>.</p>
<p>Kami mengambil moto <strong>“Memurnikan Aqidah”</strong> karena  banyaknya  kerancuan-kerancuan yang tersebar di kalangan  masyarakat,  khususnya di negeri  kita tercinta ini, tentang Aqidah  Islamiyyah.  Ibadah yang seharusnya  dipersembahkan hanya kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> telah dipalingkan pada  selain Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>.   Kesyirikan tersebar merajalela, sampai-sampai  orang-orang yang telah   dijuluki dengan sederetan titel dunia pun tidak luput  dari virus yang   sangat ganas ini. Masalah paling besar di balik itu semua adalah  bahwa   kesyirikan akan membuat pelakunya kekal selama-lamanya di dalam  neraka.   Hanya satu hal yang bisa mencegah itu semua yaitu dakwah  dengan  memurnikan  aqidah, menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai   satu-satunya sesembahan dan  tidak memalingkan segala macam ibadah  baik  perbuatan anggota badan, lisan dan  perbuatan hati pada selain  Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>.</p>
<p>Sumber:<a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/tentang-kami" target="_blank">http://muslim.or.id/tentang-kami</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Arsip Artikel: <a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/arsip" target="_blank">http://muslim.or.id/arsip</a></p>
<p>Pemasangan Iklan: <a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/iklan/" target="_blank">http://muslim.or.id/iklan/</a></p>
<p><strong>:: Website Muslimah</strong></p>
<p>Kami  mempersembahkan bingkisan kecil ini untuk  saudariku muslimah,   Bingkisan yang tersaji dalam situs  muslimah.or.id yang terbungkus   cantik dengan motto <strong>Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah</strong>.    Ini Bukan sekedar kata-kata manis yang kami tuliskan untukmu dan  bukan   sekedar pula uraian indah yang menghanyutkan rasa hati untuk  sementara   waktu. Kami bawakan untukmu sesuatu yang lebih manis dari  itu sehingga   engkau dengan seizin Allah ta’ala akan merasakan manisnya  iman,   kebahagiaan melakukan ketaatan dalam syari’at-Nya dan kerinduan    mendapatkan ilmu karena-Nya, baik dalam perkara dunia apalagi  akherat.   Kami berikan untukmu dengan landasan yang kokoh, yaitu  Al-Qur’an dan   As-Sunnah, dan dengan pemahaman dari generasi terbaik  dari umat ini   (salafush sholeh) yang ini telah jelas dalam firman-Nya:<em>“Orang-orang  yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan   muhajirin dan  anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,   Allah ridha  kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.”</em> (QS. At-Taubah: 100)</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://muslimah.or.id/tentang-muslimah" target="_blank">http://muslimah.or.id/tentang-muslimah</a></p>
<p><strong>BADAR On-Line</strong></p>
<p>Nama  BADAR merupakan brand yang kami usung sejak mulainya pembelajaran   bahasa arab di tempat kami, di pogung, utaran Fakultas Teknik UGM. Badar   merupakan singkatan dari Bahasa Arab Dasar. Selama berjalannya program   bahasa arab, kami melihat antusias masyarakat untuk belajar bahasa  arab  sangat tinggi, karena itulah kami pun bertekad supaya bahasa yang  penuh  barakah ini juga bisa dipelajari oleh kaum muslimin di mana pun  dia  berada.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://badaronline.com/tentang-kami" target="_blank">http://badaronline.com/tentang-kami</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Arsip Artikel: <a rel="nofollow" href="http://badaronline.com/arsip" target="_blank">http://badaronline.com/arsip</a></p>
<p>Donasi: <a rel="nofollow" href="http://badaronline.com/dari-redaksi/donasi-pengembangan-web-bahasa-arab-online.html" target="_blank">http://badaronline.com/dari-redaksi/donasi-pengembangan-web-bahasa-arab-online.html</a></p>
<p><strong>:: Radio Muslim</strong></p>
<p><strong>Radio</strong> <strong>Muslim</strong> dikelola oleh teman-teman dari mahasiswa dan pemuda muslim di kota   Yogyakarta yang tergabung dalam Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.   Selain belajar di bangku kuliah, kami juga belajar Ilmu Agama Islam   melalui kajian-kajian yang ada. Begitu banyaknya kajian ilmiah tentang   Agama Islam ini terutama di kota Jogja, menumbuhkan keinginan kami untuk   menyebarluaskan ilmu kepada segenap sahabat muslim di mana pun berada.   Kami melihat saudara-saudara kami; sahabat muslim yang berada jauh  dari  kota Jogja, di luar kota bahkan di luar negeri jumlahnya cukup  banyak  dan mereka berminat sekali untuk bisa mendengarkan kajian-kajian  Islam.  Kami berterima kasih kepada sahabat muslim semua atas dorongan  dan  dukungan bagi kami untuk mendirikan Radio. Berkat Taufik dan  Rahmat-Nya  kemudian usaha rekan-rekan kru <strong>Radio</strong> <strong>Muslim</strong> -semoga Allah membalasnya dengan kebaikan- maka berdirilah Radio ini.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://radiomuslim.com/tentang-kami/" target="_blank">http://radiomuslim.com/tentang-kami/</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Kajian Live Terbaru: <a rel="nofollow" href="http://radiomuslim.com/kajian-live-radiomuslim/" target="_blank">http://radiomuslim.com/kajian-live-radiomuslim/</a></p>
<p>Donasi Radio: <a rel="nofollow" href="http://radiomuslim.com/donasi-dakwah/" target="_blank">http://radiomuslim.com/donasi-dakwah/</a></p>
<p><strong>:: Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</strong></p>
<p>Dalam   perkembangannya yang terakhir, YPIA memiliki 4 bidang konsentrasi    kegiatan, yaitu; pendidikan, dakwah, humas, dan kemuslimahan. Untuk    bidang pendidikan, YPIA membentuk 4 divisi; Ma’had al-‘Ilmi, Ma’had Umar    Bin Khattab (yang dahulu hanya berupa panitia BADAR), Ma’had  Syabaabul   Masjid (untuk mengkader aktifis masjid), dan Wisma Muslim  (untuk   menampung teman-teman mahasiswa yang ingin mendapatkan  lingkungan yang   kondusif untuk belajar dan mengaji). Untuk bidang  dakwah, YPIA membentuk   4 divisi, yaitu; Kajian Umum, Khutbah Jum’at  dan Kultum, FKIM (Forum   Kajian Islam Mahasiswa), dan Ketakmiran.  Adapun untuk bidang humas, YPIA   membentuk 5 divisi; Buletin dakwah,  Web dakwah, Radio muslim,   Pengembangan teknologi informasi (IT), dan  bagian Eksternal. Untuk   bidang kemuslimahan, kegiatan yang ada dibagi  ke dalam 3 divisi; dakwah,   buletin, dan perpustakaan. Khusus untuk  kemuslimahan ini diwadahi  dalam  forum yang disebut dengan FKKA (Forum  Kegiatan Kemuslimahan  Al-Atsari)</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/about/sejarah-ypia" target="_blank">http://ypia.or.id/about/sejarah-ypia</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Struktur Organisasi: <a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/about/struktur-organisasi" target="_blank">http://ypia.or.id/about/struktur-organisasi</a></p>
<p>Program Periode April &#8211; Sept 2011: <a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/about/program-yayasan-pendidikan-al-atsary" target="_blank">http://ypia.or.id/about/program-yayasan-pendidikan-al-atsary</a></p>
<p>Download Proposal: <a rel="nofollow" href="http://www.4shared.com/document/w-kB6YlM/proposal_ypia_bo_web.html" target="_blank">http://www.4shared.com/document/w-kB6YlM/proposal_ypia_bo_web.html</a></p>
<p><strong>Jadwal Kajian Terbaru: </strong></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-tematik-kampus-ugm-yogyakarta-mei-2011.html" target="_blank">http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-tematik-kampus-ugm-yogyakarta-mei-2011.html</a></p>
<p><strong>Daurah Muslimah:</strong></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-untuk-muslimah-%E2%80%9Ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%E2%80%9D-yogyakarta-mei-2011.html" target="_blank">http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-untuk-muslimah-%E2%80%9Ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%E2%80%9D-yogyakarta-mei-2011.html</a></p>
<p><strong>:: SDIT Yaa Bunayya</strong></p>
<p><strong>Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) </strong><strong>Yaa Bun</strong><strong>ayya</strong> adalah bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program    pendidikan enam tahun berdasarkan sistem pendidikan Islam yang benar    yang diperkaya kurikulum nasional sesuai dengan standar DIKDASMEN     KemenDiknas.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/tentang-kami/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/tentang-kami/</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Penerimaan Siswa Baru: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/2011/04/penerimaan-santri-baru/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/2011/04/penerimaan-santri-baru/</a></p>
<p>Pendaftaran: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/form-pendaftaran/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/form-pendaftaran/</a></p>
<p>Peta Lokasi: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/2011/04/peta-lokasi-sdit-yaa-bunayya/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/2011/04/peta-lokasi-sdit-yaa-bunayya/</a></p>
<p>Donasi: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/donasi-sdit-yaa-bunayya/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/donasi-sdit-yaa-bunayya/</a></p>
<p><strong>:: Tautan Bermanfaat</strong></p>
<p>Mesin Pencari:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://yufid.com/" target="_blank">http://yufid.com/</a></p>
<p>Pusat Download Kajian:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://kajian.net/" target="_blank">http://kajian.net/</a></p>
<p>Perpustakaan Digital:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://mufiidah.com/" target="_blank">http://mufiidah.com/</a></p>
<p>Pusat Info Kajian:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://infokajian.com/" target="_blank">http://infokajian.com/</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sebuah-perkenalan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untukmu, Wahai Pemuda! (Kajian Umum, Jogja)</title>
		<link>http://abumushlih.com/untukmu-wahai-pemuda-kajian-umum-jogja.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/untukmu-wahai-pemuda-kajian-umum-jogja.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Apr 2011 03:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Halaqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<category><![CDATA[UAD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2264</guid>
		<description><![CDATA[Kajian Islam Putra dan Putri (Gratis) Untukmu, Wahai Pemuda! Pemateri: Ustadz Afifi Abdul Wadud Waktu: Ahad, 17 April 2011 Pkl. 07.30 &#8211; 11.00 WIB Tempat: Masjid Uzlifatul Jannah, Selatan Kampus UAD 3 Fasilitas: Majalah Islami gratis (jumlah terbatas) Penyelenggara: FKI &#8230; <a href="http://abumushlih.com/untukmu-wahai-pemuda-kajian-umum-jogja.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Funtukmu-wahai-pemuda-kajian-umum-jogja.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Funtukmu-wahai-pemuda-kajian-umum-jogja.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kajian Islam Putra dan Putri</p>
<p>(Gratis)</p>
<p><strong>Untukmu, Wahai Pemuda! </strong></p>
<p><span id="more-2264"></span></p>
<p>Pemateri:</p>
<p><strong>Ustadz Afifi Abdul Wadud </strong></p>
<p>Waktu:</p>
<p><strong>Ahad, 17 April 2011</strong></p>
<p>Pkl. 07.30 &#8211; 11.00 WIB</p>
<p>Tempat:</p>
<p>Masjid Uzlifatul Jannah, Selatan Kampus UAD 3</p>
<p>Fasilitas:</p>
<p>Majalah Islami gratis (jumlah terbatas)</p>
<p>Penyelenggara:</p>
<p><strong>FKI el-Amin</strong></p>
<p>CP: 08170852931</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/untukmu-wahai-pemuda-kajian-umum-jogja.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

