<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Ahli Hadits</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/ahli-hadits/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tuduhlah Akal Kalian!</title>
		<link>http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 09:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1613</guid>
		<description><![CDATA[Yazid al-Faqir (si bungkuk, tabi&#8217;in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan: Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftuduhlah-akal-kalian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftuduhlah-akal-kalian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yazid <em>al-Faqir</em> (si bungkuk, tabi&#8217;in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan:</p>
<p>Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang banyak berangkat menunaikan ibadah haji.  Kemudian, kamipun keluar di hadapan orang-orang -sembari menyerukan pemikiran Khawarij dan menghasut orang-orang untuk mengikutinya-.</p>
<p><span id="more-1613"></span></p>
<p>Ketika kami melewati Madinah, kami bertemu di sana dengan Jabir bin Abdullah -seorang sahabat Nabi- yang sedang menuturkan hadits dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada sekelompok orang sambil dia duduk bersandar kepada sebuah tiang. Ketika itu, dia menyebutkan hadits tentang <em>al-Jahannamiyun</em> (yaitu orang-orang yang dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke surga).</p>
<p>Aku pun (Yazid) berkata kepadanya,</p>
<p><em>“Wahai Sahabat Rasulullah, apa-apaan yang kalian ceritakan ini? Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka Engkau benar-benar telah menghinakannya.” (QS. Ali Imran: 192). Allah juga menyatakan (yang artinya), “Setiap kali mereka -penduduk neraka- ingin keluar darinya maka mereka pun dikembalikan lagi ke dalamnya.” (QS. as-Sajdah: 20). Lalu apa-apaan yang kalian ucapkan tadi?”. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Jabir pun menjawab, <em>“Apakah Engkau membaca al-Qur&#8217;an?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.”</em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Apakah kamu pernah mendengar (di dalam al-Qur&#8217;an) mengenai maqam/kedudukan agung yang dimiliki oleh Muhammad &#8216;alaihis salam, yaitu yang beliau dibangkitkan oleh Allah di atasnya (maksudnya adalah syafa&#8217;at Nabi kepada umatnya kelak di akherat)?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.” </em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Sesungguhnya hal itu -yang aku sampaikan- merupakan kedudukan terhormat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang dengan sebab itu Allah berkenan mengeluarkan siapa saja yang ingin dikeluarkan-Nya -yaitu semua orang beriman-.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yazid berkata:</p>
<p>Kemudian Jabir menceritakan kejadian diletakkannya jembatan/shirath -di atas neraka- dan bagaimana keadaan orang-orang yang berjalan di atasnya, namun aku khawatir tidak hafal dengan baik rentetan ceritanya. Yang jelas, dia menceritakan bahwa <strong>ada suatu kaum yang keluar dari neraka yang sebelumnya mereka berada di dalamnya</strong>.</p>
<p>Dia -Jabir- berkisah, <em>“Mereka itu keluar darinya dalam keadaan seperti pucuk-pucuk benih tanaman wijen -yang menghitam karena tersengat sinar matahari- (hal iti disebabkan tubuh mereka terbakar di dalam neraka, sebagaimana diceritakan dalam sebagian riwayat). Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah sungai di antara sungai-sungai yang ada di surga dan mandi di dalamnya. Kemudian mereka pun keluar -dalam keadaan putih bersih- seperti lembaran-lembaran kertas.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Setelah mendengar -hadits- itu, maka kami pun rujuk -dari pendapat kami-. Kami berkata, <em>“Sungguh celaka kalian ini -maksudnya adalah diri mereka sendiri- apakah kalian mengira orang tua ini (yaitu Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?”</em>.</p>
<p>Setelah itu, kamipun  kembali pulang -seusai menunaikan ibadah haji-. Demi Allah, tidak ada di antara kami yang tetap berkeras untuk keluar (memberontak sebagaimana Khawarij) kecuali hanya satu orang.</p>
<p>Demikianlah isi kisah itu, atau sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Nu&#8217;aim -seorang guru dari gurunya Imam Muslim yang meriwayatkan hadits ini-.</p>
<p>(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/323-324])</p>
<p>Kisah ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Kewajiban mengimani adanya neraka dan siksaan pedih yang ada di      dalamnya. Sehingga hal itu akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah      kemudian berupaya senantiasa menjauhkan diri dari meninggalkan kewajiban      atau menerjang larangan-Nya.</li>
<li>Semua orang yang beriman pasti masuk ke dalam surga, meskipun      di antara mereka ada juga yang terlebih dahulu &#8216;mampir&#8217; ke neraka untuk      dibersihkan dosa-dosanya, <em>semoga Allah menyelamatkan kita dari      siksanya&#8230;</em></li>
<li>Keutamaan tauhid yang sangat agung, karena tidak mungkin orang      bisa masuk surga tanpa tauhid di dalam dirinya. Orang yang beriman tidak      dikatakan beriman jika dia tidak mengikhlaskan (memurnikan ibadahnya)      untuk Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Oleh sebab itu Allah      berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni      dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang di bawahnya bagi siapa      saja yang dikehendaki-Nya.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 48)</li>
<li>Keadilan para sahabat. Artinya mereka adalah penukil berita dan      hadits-hadits yang terpercaya. Oleh sebab itu para tabi&#8217;in tidak meragukan      kejujuran mereka dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dakwah yang dikumandangkan oleh para sahabat adalah seruan      untuk berpegang teguh dengan Sunnah. Oleh sebab itu mereka adalah      orang-orang yang paling giat menyebarkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah manusia, bahkan mereka itulah      narasumber  kunci periwayatan      hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada      generasi-generasi lain sesudah mereka, <em>semoga Allah membalas jasa-jasa      mereka dengan sebaik-baik balasan</em>.       Oleh sebab itu barangsiapa yang berupaya untuk mendiskreditkan para      sahabat dan menjatuhkan kehormatan mereka di mata kaum muslimin -apalagi      sampai mengkafirkan mereka- maka pada hakekatnya dia ingin menghancurkan      agama Islam yang mulia ini dengan cara menolak riwayat-riwayat mereka! <em>Maha      suci Allah dari perbuatan keji yang mereka lakukan..</em></li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>. Dimana      mereka senantiasa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-Qur&#8217;an kepada      Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (hadits). Karena mereka      meyakini bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah manusia      yang paling paham tentang al-Qur&#8217;an. Dan juga mereka memahami bahwa apa      yang disabdakan oleh Rasul tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur&#8217;an.      Karena kewajiban Rasul adalah menyampaikan apa yang diturunkan oleh Allah.      Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan Kami telah turunkan      kepadamu adz-Dzikra (al-Qur&#8217;an) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa      yang diturunkan kepada mereka dan mudah-mudahan mereka mau memikirkannya.”</em> (QS. An-Nahl: 44). Oleh sebab itu siapapun juga yang meninggalkan manhaj      para sahabat dalam memahami al-Qur&#8217;an dan menerapkannya pasti akan      tersesat&#8230; Kisah ini sebagai salah satu buktinya!</li>
<li>Menyimpang dari manhaj (metode beragama) para sahabat akan      berujung kepada kesesatan. Bagaimana tidak? Sementara Allah <em>&#8216;azza wa      jalla</em> sendiri telah merekomendasikan mereka di hadapan segenap umat      manusia di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Orang-orang      yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta      orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada      mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Allah telah persiapkan      untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka      kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.”</em> (QS.      at-Taubah: 100)</li>
<li>Bantahan bagi Khawarij yang berpemahaman bahwa pelaku dosa      besar kekal di neraka dan tidak mungkin keluar darinya. Dan pembuktian      kepada mereka bahwa kesalahan yang mereka lakukan <strong>bukan terletak pada      dalil</strong> (sumber hukum) yang mereka pakai, akan tetapi <strong>letak kesalahan      mereka adalah dalam hal istidlal</strong> (cara penyimpulan hukum) dari dalil      yang ada,  entah itu ayat-ayat      al-Qur&#8217;an maupun hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Oleh      sebab itu untuk mengikuti kebenaran tidak cukup dengan membawakan dalil      tanpa disertai dengan cara pemahaman terhadap dalil yang benar! Dan betapa      banyak orang yang tersesat  melalui      pintu ini -istidlal yang salah-, <em>maka ambillah pelajaran wahai      saudaraku!</em></li>
<li>Sebab utama sekte Khawarij menyimpang dari jalan yang lurus      adalah karena mereka terlalu kagum dengan hasil pikiran mereka dan tidak      mau mengikuti cara pemahaman para sahabat <em>radhiyallahu ta&#8217;ala &#8216;anhum.</em> Mereka ahli membaca al-Qur&#8217;an, namun mereka tidak memahaminya sebagaimana      yang dipahami oleh Rasul dan para sahabat. Oleh sebab itulah mereka itu      sesat dan menyesatkan. Bukankah ketika mengkafirkan Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mereka juga berdalil dengan ayat al-Qur&#8217;an, namun ternyata mereka sendiri      yang tidak paham tentang tafsirannya?!</li>
<li>Tidak boleh mempertentangkan antara dalil al-Qur&#8217;an dengan      dalil Hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sebab keduanya      adalah wahyu yang bersumber dari Allah <em>ta&#8217;ala. </em>Adapun sebuah hadits      yang disandarkan kepada Nabi yang bunyinya, <em>“Apa saja datang kepada      kalian dariku maka bandingkanlah ia dengan apa yang ada dalam Kitabullah.      Apabila ia cocok dengan Kitabullah maka itu berarti aku benar-benar mengucapkannya.      Akan tetapi jika ia bertentangan dengan Kitabullah maka itu artinya aku      tidak mengucapkannya&#8230;”</em> maka ini adalah hadits yang <strong>tidak sahih</strong> yang dibuat-buat oleh kaum Zindiq dan Khawarij, sebagiamana yang      diungkapkan oleh Abdurrahman bin Mahdi dan dikutip oleh Ibnu Abdil Barr      (lihat kutipannya dalam <em>Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal      Jama&#8217;ah</em>, Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani hal. 126) <em> </em></li>
<li>Meninggalkan bimbingan para ulama Rabbani -dan para sahabat      adalah tokoh terdepan dalam barisan mereka- akan menjerumuskan umat ke      dalam jurang kehancuran. Salah satu penyebab utama terjadinya hal itu      -baik di masa dahulu maupun sekarang- adalah <strong>rasa percaya diri yang      berlebihan dan kekaguman terhadap pendapat pribadi atau kelompoknya</strong> sehingga menganggap diri telah paham perkara agama tanpa terlebih dulu      berkonsultasi kepada para ulama. <em>Maka camkanlah hal ini baik-baik,      wahai para pemuda!</em> Dan ketika ulama sudah ditinggalkan, maka yang      diangkat adalah sosok <em>Ruwaibidhah</em> yaitu orang-orang yang bodoh      -meskipun dijuluki dengan Kiyai, Ustadz, atau Cendekiawan- yang nekad      berbicara soal urusan orang banyak.. <em>Laa haula wa laa quwwata illa      billaah</em></li>
<li>Syafa&#8217;at Nabi bagi para pelaku dosa besar agar dikeluarkan dari      neraka adalah benar adanya. Hal itu sebagaimana yang dikisahkan oleh      Hammad bin Zaid ketika dia bertanya kepada Amr bin Dinar, <em>“Apakah kamu      pernah mendengar Jabir bin Abdullah -radhiyallahu&#8217;anhuma- menyampaikan      hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang isinya:      Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan sekelompok orang dari neraka dengan      sebab syafa&#8217;at?”</em>. Maka dia menjawab, <em>“Benar.”</em> (lihat Sahih      Muslim yang dicetak bersama <em>Syarh Muslim</em> [2/322])</li>
<li>Keutamaan ahlul hadits, yaitu orang-orang yang berpegang teguh      dengan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ada di      antara ulama salaf dahulu yang mengatakan, <em>“Para malaikat adalah      penjaga-penjaga langit, sedangkan ahlul hadits adalah penjaga-penjaga      bumi.” Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dan meneguhan kita untuk      berada di dalam rombongan mereka, Allahul musta&#8217;an&#8230; </em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Berdusta Atas Nama Nabi</title>
		<link>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 19:35:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1573</guid>
		<description><![CDATA[Dari Samurah bin Jundub dan al-Mughirah bin Syu&#8217;bah radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.” (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-berdusta-atas-nama-nabi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-berdusta-atas-nama-nabi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Samurah bin Jundub dan al-Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.”</em> (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p><span id="more-1573"></span>Dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian berdusta atas namaku. Sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka dia akan masuk neraka.”</em> Dalam riwayat Bukhari, <em>“Hendaknya dia masuk ke neraka.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-&#8217;Ilm</em>, dan Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p>Dari Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.”</em> (HR. Bukhari, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)</p>
<p>Dari al-Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama orang lain. Maka barangsiapa yang berdusta secara sengaja atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)<em> </em></p>
<p>Dari Salamah bin al-Akwa&#8217; <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berkata-kata atas namaku padahal aku sendiri tidak mengucapkannya</em> <em>maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)<em> </em></p>
<p>Hadits-hadits di atas mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>Tidak boleh berdusta atas nama Nabi</li>
<li>Berdusta atas nama Nabi lebih besar dosanya daripada berdusta      atas nama selainnya</li>
<li>Berdusta atas nama Nabi termasuk dosa besar</li>
<li>Wajib berhati-hati dalam menyampaikan hadits yang disandarkan      kepada Nabi, oleh sebab itu harus diteliti kebenarannya</li>
<li>Yang dimaksud berdusta atas nama Nabi adalah mengatakan bahwa      Nabi mengatakan sesutau padahal beliau tidak mengatakannya</li>
<li>Istilah hadits untuk menyebut sabda Nabi adalah istilah yang      syar&#8217;i dan sudah ada sejak jaman Nabi, bahkan beliau sendiri yang pertama      kali menyebutkannya</li>
<li>Wajibnya mempelajari ilmu hadits, untuk membedakan hadits yang      sahih dan yang bukan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Download Kitab Dr. Muhammad Sa&#8217;id Ruslan -hafizhahullah-</title>
		<link>http://abumushlih.com/download-kitab-dr-muhammad-said-ruslan-hafizhahullah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/download-kitab-dr-muhammad-said-ruslan-hafizhahullah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 23:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Mesir]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Sa'id Ruslan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1229</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Allah akan berikan kepahaman kepadanya dalam urusan agama.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim) Bismillah, berikut ini link download beberapa kitab -berbahasa Arab- karya Syaikh Dr. Muhammad Sa&#8217;id Ruslan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/download-kitab-dr-muhammad-said-ruslan-hafizhahullah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdownload-kitab-dr-muhammad-said-ruslan-hafizhahullah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdownload-kitab-dr-muhammad-said-ruslan-hafizhahullah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Allah akan berikan kepahaman kepadanya dalam urusan agama.&#8221; </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><em>Bismillah</em>, berikut ini link download beberapa kitab -berbahasa Arab- karya Syaikh <a href="http://www.rslan.com/targma.php" target="_blank">Dr. Muhammad Sa&#8217;id Ruslan</a> dan kitab yang beliau beri tahqiq atasnya. Semoga bermanfaat bagi ikhwan maupun akhwat sekalian.</p>
<p><span id="more-1229"></span><a href="http://www.rslan.com/book/view-12.html http://www.rslan.org/kotob/Wageb.pdf" target="_blank"><em>Syarh Risalah Wajibul &#8216;Abdi idza Amarallahu bi Amrin</em></a> karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><a href="http://www.rslan.org/kotob/Algam3.pdf" target="_blank"><em>Syarh al-Jami&#8217; li &#8216;Ibadatillahi Wahdah</em></a> karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><a href="http://www.rslan.org/kotob/Ma3roof.pdf" target="_blank"><em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wa an-Nahyu &#8216;anil Munkar</em></a> karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em></p>
<p><em><a href="http://www.rslan.org/kotob/MataTa3ood.pdf" target="_blank">Mata Ta&#8217;udu ilaina Falasthin</a> </em>karya Syaikh Dr. Muhammad Sa&#8217;id Ruslan <em>hafizhahullah</em></p>
<p><a href="http://www.rslan.org/kotob/Sha2en.pdf" target="_blank"><em>Sya&#8217;nul Kalimah fil Islam</em></a> <em></em>karya Syaikh Dr. Muhammad Sa&#8217;id Ruslan <em>hafizhahullah</em></p>
<p><em><a href="http://www.rslan.org/kotob/Ta9feya.pdf" target="_blank">at-Tashfiyyah wa at-Tarbiyyah</a> </em><em></em>karya Syaikh Dr. Muhammad Sa&#8217;id Ruslan <em>hafizhahullah</em></p>
<p><em><a href="http://www.rslan.org/kotob/Azkar.pdf" target="_blank">Adzkar Shabah wal Masaa&#8217;</a> </em><em></em><em></em>karya Syaikh Dr. Muhammad Sa&#8217;id Ruslan <em>hafizhahullah</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/download-kitab-dr-muhammad-said-ruslan-hafizhahullah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Ilmi dalam Shahih Bukhari [bagian 2]</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitabul-ilmi-dalam-shahih-bukhari-bagian-2.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitabul-ilmi-dalam-shahih-bukhari-bagian-2.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 00:44:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Adab Penuntut Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Mursal]]></category>
		<category><![CDATA[Kuis]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1085</guid>
		<description><![CDATA[Dilengkapi penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolani بسم الله الرحمن الرحيم Bab 3. Orang yang mengangkat suaranya untuk menyampaikan ilmu حدثنا أبو النعمان عارم بن الفضل قال حدثنا أبو عوانة عن أبي بشر عن يوسف بن ماهك عن عبد الله بن &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitabul-ilmi-dalam-shahih-bukhari-bagian-2.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitabul-ilmi-dalam-shahih-bukhari-bagian-2.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitabul-ilmi-dalam-shahih-bukhari-bagian-2.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dilengkapi penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolani</p>
<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p><strong>Bab 3. Orang yang mengangkat suaranya untuk menyampaikan ilmu</strong></p>
<p style="text-align:right;">حدثنا أبو النعمان عارم بن الفضل قال حدثنا أبو عوانة عن أبي بشر عن يوسف بن ماهك عن عبد الله بن عمرو قال  : تخلف عنا النبي صلى الله عليه و سلم في سفرة سفرناها فأدركنا &#8211; وقد أرهقتنا الصلاة &#8211; ونحن نتوضأ فجعلنا نمسح على أرجلنا فنادى بأعلى صوته ( ويل للأعقاب من النار ) . مرتين أو ثلاثا</p>
<p>Abu an-Nu&#8217;man &#8216;Arim bin al-Fadhl menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Awanah menuturkan kepada kami dari Abu Bisyr dari Yusuf bin Mahak dari Abdullah bin Amr radhiyallahu&#8217;anhu. Dia berkata: Suatu ketika Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tertinggal dari rombongan dalam sebuah perjalanan yang kami lakukan. Lalu beliaupun berhasil menyusul kami namun waktu sholat sudah demikian sempit. Kami pun segera berwudhu seolah-olah hanya dengan mengusap kaki kami. Maka beliau pun berseru dengan suara keras, “Celakalah tumit-tumit -yang tidak terbasuh air- oleh jilatan api neraka.” Beliau mengucapkannya dua atau tiga kali (Hadits no. 60, disebutkan secara berulang pada hadits no. 96 dan 163)</p>
<p><span id="more-1085"></span></p>
<p>Keterangan:</p>
<ol>
<li> Penulis -yaitu Imam Bukhari- berdalil dengan hadits ini untuk menyatakan bolehnya mengangkat suara demi menyampaikan ilmu. Tentu saja penarikan kesimpulan ini akan lengkap apabila disertai dengan alasan untuk melakukannya seperti karena tempat yang berjauhan, banyaknya orang yang berkumpul, atau alasan lainnya. Terlebih lagi jika itu berupa nasehat dan peringatan. Hal itu sebagaimana dikisahkan dalam hadits Jabir, “Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam apabila berkhutbah yang menceritakan tentang hari kiamat maka kemurkaan beliau memuncak dan suaranya pun meninggi&#8230;” (HR. Muslim)</li>
<li> Hadits ini juga menjadi dalil disyari&#8217;atkannya mengulangi pembicaraan demi memahamkan orang yang sedang diajak bicara (Silahkan periksa Fathul Bari [Juz 1 halaman 175] penerbit Darul Hadits cet. 1424 H).</li>
</ol>
<p><strong>Bab 4. Ucapan Muhaddits (ahli hadits), &#8216;haddatsana&#8217; (menuturkan kepada kami), atau &#8216;akhbarana&#8217; (mengabarkan kepada kami) dan &#8216;anba&#8217;ana&#8217; (memberitakan kepada kami)</strong></p>
<p style="text-align:right;">وقال لنا الحميدي كان عند ابن عيينة حدثنا وأخبرنا وأنبأنا وسمعت واحدا . وقال ابن مسعود حدثنا رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو الصادق المصدوق . وقال شقيق عن عبد الله سمعت النبي صلى الله عليه و سلم كلمة . وقال حذيفة حدثنا رسول الله صلى الله عليه و سلم حديثين . وقال أبو العالية عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم فيما يروي عن ربه . وقال أنس عن النبي صلى الله عليه و سلم يرويه عن ربه عز و جل . وقال أبو هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم يرويه عن ربكم عز و جل</p>
<p>al-Humaidi mengatakan kepada kami bahwa menurut Ibnu Uyainah ungkapan &#8216;haddatsana&#8217; (menuturkan kepada kami), &#8216;akhbarana&#8217; (mengabarkan kepada kami),  &#8216;anba&#8217;ana&#8217; (memberitakan kepada kami) , dan &#8216;sami&#8217;tu&#8217; (saya mendengar) itu sama status hukumnya. Ibnu Mas&#8217;ud mengatakan: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menuturkan kepada kami sementara beliau adalah orang yang benar lagi dibenarkan. Syaqiq mengatakan dari Abdullah -bin Mas&#8217;ud-, beliau berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengucapkan suatu kalimat. Hudzaifah berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah menuturkan kepada kami dua buah hadits. Abul &#8216;Aliyah mengatakan dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam apa-apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya. Anas berkata: Dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang meriwayatkan dari Rabbnya &#8216;azza wa jalla. Abu Hurairah berkata: dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang meriwayatkan dari Rabb kalian &#8216;azza wa jalla.</p>
<p>Keterangan:</p>
<ol>
<li> Potongan-potongan riwayat ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak membeda-bedakan ungkapan penuturan hadits. Terkadang mereka mengatakan &#8216;haddatsana&#8217;, dan terkadang mengatakan &#8216;sami&#8217;tu&#8217;. Dan menurut mereka itu semua sama saja. Hal itu dapat diketahui dari perbedaan lafazh hadits Ibnu Umar -yang akan disebutkan sesudah ini- melalui berbagai jalur periwayatannya. Di sebagian riwayat Nabi mengatakan, &#8216;Hadditsuni&#8217; (tuturkan kepadaku), seperti dalam bab ini. Dalam riwayat lain dalam Kitab Tafsir dikatakan &#8216;akhbiruni&#8217; (kabarkan kepadaku). Dalam riwayat lainnya melalui jalan al-Isma&#8217;ili dikatakan &#8216;anbi&#8217;uni&#8217; (beritakan kepadaku). Bahkan di dalam riwayat lainnya dengan ungkapan dari para sahabat &#8216;akhbirna&#8217; (kabarkan kepada kami). Ini semua menunjukkan bahwa  dalam pandangan para sahabat tahdits (perkataan haddatsana), ikhbar (perkataan akhbarana), dan inba&#8217; (perkataan anba&#8217;ana) sama saja status hukumnya yaitu bersambung riwayatnya sampai kepada Nabi. Hal itu dengan syarat memang benar-benar telah terjadi perjumpaan antara orang yang meriwayatkan (baca: sahabat) dengan sumbernya (baca: Nabi). Mereka tidak mengkhususkan misalnya: ungkapan haddatsani dipakai apabila seorang murid mendapatkan hadits seorang diri dari gurunya, haddatsana apabila dia mendapatkannya bersama dengan sekumpulan orang. Atau ungkapan akhbarani dipakai apabila dia membaca sendiri di depan gurunya, sedangkan apabila dia mendengar  bacaan orang lain di depan gurunya maka dipakai ungkapan akhbarana. Pembedaan semacam itu dimunculkan oleh para ulama setelah masa sahabat dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan kondisi ketika hadits itu diterima periwayatannya (proses tahammul). Bagi mereka pun pembedaan ini adalah perkara yang dianjurkan, bukan sesuatu yang wajib dilakukan.</li>
<li> Keabsahan riwayat dengan redaksi yang berlainan ini -dengan syarat keberadaan sahabat yang menyampaikan hadits, bukan tingkatan di bawah sahabat, pen- menunjukkan bolehnya berargumentasi/berhujjah dengan hadits-hadits yang dikategorikan sebagai mursal [1] shahabi. Namun hal ini khusus berlaku untuk hadits-hadits hukum saja, bukan untuk selainnya disebabkan ada sebagian sahabat yang justru mengambil riwayat dari sebagian tabi&#8217;in seperti Ka&#8217;ab al-Ahbar, demikian papar al-Hafizh Ibnu Hajar (Silahkan periksa Fathul Bari [Juz 1 halaman 176-177] penerbit Darul Hadits cet. 1424 H).</li>
</ol>
<p style="text-align:right;">حدثنا قتيبة حدثنا إسماعيل بن جعفر عن عبد الله بن دينار عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( إن من الشجر شجرة لا يسقط ورقها وإنها مثل المسلم فحدثوني ما هي ) . فوقع الناس في شجر البوادي قال عبد الله ووقع في نفسي أنها النخلة فاستحييت ثم قالوا حدثنا ما هي يا رسول الله ؟ قال ( هي النخلة )</p>
<p>Qutaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Isma&#8217;il bin Ja&#8217;far menuturkan kepada kami dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar radhiyallahu&#8217;anhuma, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara berbagai jenis pohon ada sebuah jenis pohon yang tidak gugur daun-daunnya. Pohon itu merupakan perumpamaan sosok seorang muslim. Tuturkanlah kepadaku apa gerangan pohon itu.” Maka pikiran orang-orang pun melayang ke berbagai jenis pohon yang tumbuh di padang pasir. Abdullah -yaitu Ibnu Umar sendiri- berkata: Di dalam pikiranku terbetik bahwa pohon itu adalah kurma, namun aku malu untuk mengatakannya. Maka mereka pun bertanya, “Tuturkanlah kepada kami apa gerangan pohon itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Itu adalah pohon kurma.” (Hadits no. 61, disebutkan secara berulang pada hadits no. 62,72,131,2209,4698,5444,5448,6132,6144)</p>
<p>Keterangan:</p>
<ol>
<li> Hadits ini menunjukkan dianjurkannya mengadakan kuis/ujian dalam proses pembelajaran. Sudah semestinya orang yang memberikan pertanyaan (baca: penguji) berusaha sedemikian rupa untuk menyamarkan jawaban agar tidak tersisa celah sedikit pun bagi orang lain untuk mengetahuinya  berdasarkan teks ucapan atau pertanyaannya. Adapun bagi orang yang ditanya maka seharusnya dia pandai-pandai menangkap maksud si penanya dengan memperhatikan indikasi-indikasi yang ada. Hal itu sebagaimana kecerdikan Ibnu Umar yang bisa menebak jawaban pertanyaan Nabi dengan melihat kondisi beliau ketika memberikan pertanyaan. Ketika itu beliau sedang memakan beberapa butir kurma yang belum benar-benar matang, sebagaimana disebutkan oleh Abu Awanah dalam Shahihnya dari jalur Mujahid dari Ibnu Umar</li>
<li> Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits ini antara lain adalah: [1] Seyogyanya seorang alim/ahli ilmu menguji murid-muridnya dengan sesuatu yang samar kemudian disertai penjelasan jawabannya kepada mereka apabila mereka tidak bisa memahaminya. [2] Anjuran untuk meningkatkan pemahaman dalam menimba ilmu. [3] Dianjurkan memiliki sifat malu selama hal itu tidak menyebabkan hilangnya kemaslahatan. [4] Hadits di atas juga menunjukkan keberkahan yang ada pada pohon kurma dan apa saja yang tumbuh darinya. [5] Hadits ini menunjukkan bolehnya berjual-beli kurma yang ketika dipetik belum matang benar, sebab apa pun yang boleh dimakan maka boleh pula diperjual-belikan. [6] Hadits ini menunjukkan bolehnya mengumpulkan buah kurma yang belum matang untuk dimatangkan bukan di pohonnya (diimbu, bahasa Jawa). [7] Letak keserupaan pribadi muslim dengan kurma adalah segala kemanfaatan yang bisa diperoleh dari dirinya, sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti pohon kurma, apa saja yang datang kepadamu darinya niscaya bermanfaat untukmu.” (HR. al-Bazzar dari Ibnu Umar, dinyatakan sahih sanadnya oleh Ibnu Hajar). [8] Dianjurkan memberikan perumpamaan dan contoh perkara lain yang mirip dalam rangka memperdalam pemahaman dan mengokohkan gambaran makna suatu perkara di dalam pikiran. [9] Hadits ini mengisyaratkan bahwa penyerupaan tidak mengharuskan adanya kesamaan dari segala sisi. [10] Anjuran untuk menghormati orang yang lebih tua/senior. [11] Hendaknya seorang anak mendahulukan orang tuanya dalam berbicara. Dasar kedua hal ini adalah sikap yang dipilih oleh Ibnu Umar dengan tidak angkat bicara sementara beliau melihat Abu Bakar dan Umar (bapaknya) tidak menjawab pertanyaan Nabi tersebut. [12] Terkadang seorang alim yang sudah senior tidak mengerti sebagian perkara yang ternyata bisa dimengerti oleh orang lain yang lebih muda darinya/yunior (Silahkan periksa Fathul Bari [Juz 1 halaman 178-179] penerbit Darul Hadits cet. 1424 H).</li>
</ol>
<p><strong>Bab 5. Seorang imam/pemimpin melontarkan pertanyaan kepada murid-muridnya untuk menguji ilmu yang mereka miliki</strong></p>
<p style="text-align:right;">حدثنا خالد بن مخلد حدثنا سليمان حدثنا عبد الله بن دينار عن ابن عمر : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( إن من الشجر شجرة لا يسقط ورقها وإنها مثل المسلم حدثوني ما هي ) . قال فوقع الناس في شجر البوادي قال عبد الله فوقع في نفسي أنها النخلة ثم قالوا حدثنا ما هي يا رسول الله ؟ قال ( هي النخلة )</p>
<p>Khalid bin Makhlad menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sulaiman menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdullah bin Dinar menuturkan kepada kami dari Ibnu Umar radhiyallahu&#8217;anhuma dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara berbagai jenis pohon ada sejenis pohon yang tidak berguguran daunnya, dan itu merupakan perumpamaan seorang muslim. Tuturkanlah kepadaku apakah itu?”. Ibnu Umar berkata: Pikiran orang-orang pun melayang kepada pohon-pohon yang tumbuh di padang pasir. Abdullah -yaitu Ibnu Umar sendiri- mengatakan: Terbetik dalam pikiranku bahwa yang dimaksud dengan pohon itu adalah pohon kurma. Lalu mereka berkata, “Tuturkanlah kepada kami apakah pohon itu wahai Rasulullah.” Maka beliau menjawab, “Itu adalah pohon kurma.”</p>
<p>Keterangan:</p>
<ol>
<li> Di dalam bab ini Imam Bukhari kembali mencantumkan hadits Ibnu Umar dengan redaksi yang mirip dengan riwayat sebelumnya. Hal ini bukanlah pengulangan yang tidak ada faedahnya. Sebab di dalam riwayat ini beliau menyebutkan jalur periwayatan/sanad yang lain dari sanad sebelumnya. Di dalam riwayat sebelumnya beliau meriwayatkan hadits ini dari Qutaibah dari Isma&#8217;il bin Ja&#8217;far dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar. Adapun dalam riwayat ini beliau meriwayatkannya dari Khalid bin Makhlad dari Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar. Hal ini menunjukkan keunggulan Imam Bukhari dalam hal penyusunan bab dan penyebutan dalil yang mendukungnya.</li>
<li> Bukti yang menunjukkan keunggulan Imam Bukhari -dan beliau bukan sekedar taklid kepada kebiasaan guru-gurunya dalam hal penyusunan bab- dalam menampilkan riwayat ini setelah keberadaan riwayat sebelumnya adalah riwayat hadits ini dari jalur Sulaiman bin Bilal di dalam kitab-kitab hadits tidak bisa ditemukan kecuali di dalam kitab Shahih Bukhari ini (Silahkan periksa Fathul Bari [Juz 1 halaman 180] penerbit Darul Hadits cet. 1424 H. Kami susun ulang penjelasan Ibnu Hajar dengan beberapa perubahan redaksional).</li>
</ol>
<p>Yogyakarta, 5 Syawwal 1430 H/24 September 2009</p>
<p>Penyusun: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel blog http://abumushlih.com</p>
<p><strong>Catatan Kaki</strong>:<br />
[1] Hadits Mursal adalah ucapan seorang tabi&#8217;in: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda. Hadits mursal tergolong hadits lemah. Adapun mursal shahabi maksudnya adalah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh seorang tabi&#8217;in dari seorang sahabat namun dia tidak mendengar langsung hadits tersebut atau tidak menyaksikannya. Hadits mursal jenis ini -mursal shahabi- adalah hadits yang dapat dijadikan sebagai hujjah/argumen (lihat Muntahal Amani bi Fawa&#8217;id Mushtholahil Hadits lil Muhaddits al-Albani, hal. 217 penerbit al-Faruq al-Haditsah cet. 1423 H). Hadits mursal digolongkan dalam hadits lemah disebabkan ketidakjelasan/jahalah pada diri periwayat antara tabi&#8217;in dengan Nabi. Bisa jadi dia adalah seorang sahabat atau tabi&#8217;in. Apabila dia adalah tabi&#8217;in bisa jadi dia adalah periwayat yang lemah, bisa jadi juga periwayat yang tsiqoh/bisa dipercaya. Karena adanya berbagai kemungkinan yang tidak menentu inilah maka hadits mursal dimasukkan dalam kategori hadits mardud/tertolak (lihat an-Nukat &#8216;ala Nuz-hatin Nazhar, hal. 109-110 penerbit Dar Ibnul Jauzi cet. 1413 H)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitabul-ilmi-dalam-shahih-bukhari-bagian-2.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Shahih Muslim</title>
		<link>http://abumushlih.com/kajian-shahih-muslim.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kajian-shahih-muslim.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 23:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Masyhur]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1027</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman -hafizhahullah- Berikut ini link download kajian Shahih Muslim yang disampaikan oleh salah seorang murid senior Syaikh al-Albani rahimahullah yaitu Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, semoga Allah menjaganya. 1. Tentang Penulis dan Mukadimah 2. Kitab &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kajian-shahih-muslim.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-shahih-muslim.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-shahih-muslim.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<p>Oleh: Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman -hafizhahullah-</p>
<p>Berikut ini link download kajian Shahih Muslim yang disampaikan oleh salah seorang murid senior Syaikh al-Albani rahimahullah yaitu Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, semoga Allah menjaganya.</p>
<p><span id="more-1027"></span></p>
<p>1. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%C7%E1%CA%DA%D1%ED%DD%20%C8%C7%E1%E3%C4%E1%DD%20%E6%C7%E1%E3%DE%CF%E3%C9" target="_blank">Tentang Penulis dan Mukadimah</a></p>
<p>2. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%C7%E1%C5%ED%E3%C7%E4" target="_blank">Kitab Iman</a></p>
<p>3. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%C7%E1%D8%E5%C7%D1%C9" target="_blank">Kitab Thaharah</a></p>
<p>4. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%C7%E1%CD%ED%D6" target="_blank">Kitab Haid</a></p>
<p>5. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%C7%E1%D5%E1%C7%C9" target="_blank">Kitab Sholat</a></p>
<p>6. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%C7%E1%E3%D3%C7%CC%CF%20%E6%E3%E6%C7%D6%DA%20%C7%E1%D5%E1%C7%C9" target="_blank">Kitab Masajid wa Mawadhi’ Sholat</a></p>
<p>7. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%D5%E1%C7%C9%20%C7%E1%E3%D3%C7%DD%D1%ED%E4%20%E6%DE%D5%D1%E5%C7" target="_blank">Kitab Shalatul Musafirin wa Qashruha</a></p>
<p>8. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%C7%E1%DF%D3%E6%DD" target="_blank">Kitab Kusuf</a></p>
<p>9. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%C7%E1%D5%ED%C7%E3" target="_blank">Kitab Shaum</a></p>
<p>10. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%C7%E1%CD%CC" target="_blank">Kitab Haji</a></p>
<p>11. <a href="http://www.alathar.net/esound/index.php?page=shtivi&amp;shid=8&amp;bo=%D5%CD%ED%CD%20%E3%D3%E1%E3&amp;ti=%DF%CA%C7%C8%20%C7%E1%C3%D6%C7%CD%ED" target="_blank">Kitab Adhahi</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kajian-shahih-muslim.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imam Muslim, Ahli Hadits dari Naisabur</title>
		<link>http://abumushlih.com/imam-muslim-ahli-hadits-dari-naisabur.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/imam-muslim-ahli-hadits-dari-naisabur.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 20:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=983</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi dinisbatkan kepada leluhurnya an-Naisaburi dinisbatkan kepada tempat tinggalnya. Beliau dilahirkan pada tahun 204 H sebagaimana disebutkan di dalam Khulashat Tahdzib al-Kamal oleh al-Khazraji dan juga menurut Tahdzib at-Tahdzib dan Taqrib &#8230; <a href="http://abumushlih.com/imam-muslim-ahli-hadits-dari-naisabur.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fimam-muslim-ahli-hadits-dari-naisabur.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fimam-muslim-ahli-hadits-dari-naisabur.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Beliau adalah Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi dinisbatkan kepada leluhurnya an-Naisaburi dinisbatkan kepada tempat tinggalnya. Beliau dilahirkan pada tahun 204 H sebagaimana disebutkan di dalam Khulashat Tahdzib al-Kamal oleh al-Khazraji dan juga menurut Tahdzib at-Tahdzib dan Taqrib at-Tahdzib yang keduanya adalah karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, demikian pula yang disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah.</p>
<p><span id="more-983"></span></p>
<p>Ibnu Katsir menceritakan setelah menjelaskan tahun kematiannya yaitu pada tahun 261 H, “Beliau dilahirkan pada tahun yang sama dengan tahun wafatnya as-Syafi’i yaitu pada tahun 204 H. Dan beliau diberi umur 57 tahun, semoga Allah ta’ala merahmatinya.” Namun ada juga yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada tahun 206 H dan wafat dalam usia 55 tahun sebagaimana dinukil oleh Ibnu Khollikan dari kitab Ulama al-Amshar karya Abu Abdillah an-Naisaburi al-Hakim dengan tahun wafat yang sama yaitu tahun 261 H.</p>
<p>Beliau sudah memulai mendengarkan hadits sejak tahun 218 H (berarti usia beliau ketika itu 12 atau 14 tahun, artinya beliau masih remaja) sebagaimana dijelaskan di dalam Tadzkirat al-Hufazh karya adz-Dzahabi. Dan beliau pun mengadakan berbagai perjalanan untuk mencari hadits ke berbagai daerah, di antaranya ke Iraq, Hijaz, Syam, dan Mesir. Beliau meriwayatkan dari banyak guru, di antara sekian banyak gurunya yang paling banyak dia sebutkan riwayat mereka di dalam Kitab Shahihnya ada 10 orang, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam biografi beliau di Tahdzib at-Tahdzib yaitu :</p>
<p>1. Abu Bakr bin Abu Syaibah (1540 hadits)<br />
2. Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb (1281 hadits)<br />
3. Muhammad bin al-Mutsanna yang dijuluki dengan az-Zaman (772 hadits)<br />
4. Qutaibah bin Sa’id (668 hadits)<br />
5. Muhammad bin Abdullah bin Numair (573 hadits)<br />
6. Abu Kuraib Muhammad bin al-’Alla’ bin Kuraib (556 hadits)<br />
7. Muhammad bin Basyar yang dijuluki Bundar (460 hadits)<br />
8. Muhammad bin Rafi’ an-Naisaburi (362 hadits)<br />
9. Muhammad bin Hatim yang dijuluki as-Samin (300 hadits)<br />
10. Ali bin Hujr as-Sa’di (188 hadits)</p>
<p>Sepuluh orang guru Imam Muslim ini juga menjadi narasumber periwayatan Bukhari secara langsung di dalam Shahihnya kecuali satu orang yaitu Muhammad bin Hatim, ini artinya sembilan orang selainnya adalah termasuk guru dari Bukhari dan Muslim. Abu Amr bin Shalah di dalam Ulum al-Hadits mengatakan, “Muslim itu, meskipun dia mengambil ilmu dari Bukhari dan memetik banyak pelajaran darinya namun ternyata dia juga berguru kepada banyak gurunya Bukhari pula.”</p>
<p>Imam Bukhari adalah termasuk guru Imam Muslim yang paling menonjol dan memiliki peran yang besar dalam mengajarkan hadits dan mengokohkan pemahamannya terhadap ilmu ini, dan beliau adalah sosok yang menanamkan untuk senantiasa meneliti kebenaran berita/hadits. Meskipun demikian, di dalam Kitab Shahihnya Muslim sama sekali tidak menyebutkan satupun periwayatan dari Bukhari. Hal itu dilakukan oleh beliau dimungkinkan karena dua alasan :</p>
<p>1. Agar mendapatkan sanad hadits yang lebih tinggi, hal itu dikarenakan memang banyak guru Imam Bukhari yang juga menjadi guru Imam Muslim sehingga kalau seandainya dia juga menyebutkan Bukhari -padahal sebenarnya dia mendengar langsung dari gurunya Bukhari- maka niscaya rantai sanadnya akan semakin bertambah panjang dan semakin bertambah jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab keinginan kedekatan jalur periwayatan dengan Rasulullah inilah maka beliau tidak meriwayatkan dari Bukhari di dalam kitab Shahihnya ini<br />
2. Imam Muslim rahimahullah merasa prihatin dengan sikap sebagian ulama yang mencampuradukkan antara hadits sahih dengan hadits yang lemah dengan tidak membedakan antara keduanya. Oleh karena itulah beliau memfokuskan perhatiannya untuk memisahkan hadits-hadits sahih ini dari hadits-hadits yang lemah, sebagaimana hal itu beliau jelaskan di dalam mukadimahnya. Sehingga apa yang disebutkan oleh Bukhari telah cukup baginya sehingga tidak perlu lagi diulang olehnya, dikarenakan beliau (Imam Bukhari) juga begitu perhatian dalam mengumpulkan hadits-hadits yang sahih dengan kehati-hatian yang sangat ketat dan penelitian yang lebih jeli</p>
<p>Imam Muslim memiliki banyak murid, sebagaimana disebutkan di dalam Tahdzib at-Tahdzib di antara mereka adalah :</p>
<p>1. Abul Fadhl Ahmad bin Salamah<br />
2. Ibrahim bin Abu Thalib<br />
3. Abu Amr al-Khaffaf<br />
4. Husain bin Muhammad al-Qabani<br />
5. Abu Amr al-Mustamli<br />
6. Shalih bin Muhammad al-Hafizh<br />
7. Ali bin al-Hasan al-Hilali (juga termasuk gurunya)<br />
8. Muhammad bin Abdul Wahhab al-Farra’ (juga termasuk gurunya)<br />
9. Ali bin al-Husain bin al-Junaid<br />
10. Ibnu Khuzaimah<br />
11. Ibnu Sho’id<br />
12. Muhammad bin Abdu bin Humaid, dan lain-lain</p>
<p>Imam Tirmidzi meriwayatkan darinya satu hadits saja di dalam kitab Jami’nya yang dikeluarkan di dalam Kitab Shiyam ‘Bab mengenai menghitung hilal bulan Sya’ban untuk menentukan masuknya Ramadhan’, yaitu hadits yang dibawakannya; Muslim bin Hajjaj menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yahya bin Yahya menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Mu’awiyah menuturkan kepada kami dari Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hitunglah hilal masuknya Sya’ban untuk menentukan masuknya bulan Ramadhan nanti.”</p>
<p>al-’Iraqi mengatakan -sebagaimana dinukil oleh al-Mubarakfuri di dalam Tuhfat al-Ahwadzi ketika menjelaskan hadits ini- “Penyusun tidak meriwayatkan di dalam kitabnya ini satu hadits pun dari Muslim sang pemilik kitab Shahih selain hadits ini. Dan ini merupakan periwayatan dari sesama rekan belajar, karena mereka berdua (Muslim dan Tirmdzi) belajar kepada banyak guru yang sama.” Hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Hajar di dalam Tahdzib at-Tahdzib dan al-Khazraji di dalam Khulashat Tahdzib al-Kamal. Oleh sebab itulah Ibnu Hajar dan al-Khazraji memasukkan Muslim dalam kategori perawi hadits Tirmidzi hanya karena satu hadits ini.</p>
<p>Gurunya Muhammad bin Abdul Wahhab al-Farra’ berkata tentang Imam Muslim, “Muslim termasuk ulama kaum muslimin dan penjaga ilmu, aku tidak mengetahui dirinya melainkan dia adalah orang yang baik.” Ibnul Akhram mengatakan, “Sesungguhnya kota kita ini -Naisabur- hanya menghasilkan tiga orang tokoh pemuka periwayatan hadits yaitu; Muhammad bin Yahya, Ibrahim bin Abu Thalib, dan Muslim.” Maslamah bin Qasim mengatakan, “Beliau adalah orang yang terpercaya/tsiqah dan memiliki kedudukan yang sangat mulia, dan tergolong jajaran para imam.” Salah seorang gurunya yaitu Bundar -nama aslinya Muhammad bin Basyar- mengatakan, “Juru penghafal ada empat orang; Abu Zur’ah, Muhammad bin Isma’il, ad-Darimi, dan Muslim.” Ishaq bin Manshur pernah mengatakan, “Tidak akan lenyap kebaikan dari kami selama Allah masih menghidupkan dirimu di kalangan kaum muslimin.” Ahmad bin Salamah mengatakan, “Aku melihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim mengedepankan Muslim bin Hajjaj dalam hal pengetahuannya mengenai hadits-hadits yang shahih dibandingkan para masyayikh yang lain di masa mereka.” adz-Dzahabi mengatakan mengenai beliau, “Abul Husain an-Naisaburi, seorang hafizh dan salah satu pilar penopang hadits.”</p>
<p>Imam Muslim memiliki pekerjaan berdagang pakaian sebagaimana disebutkan di dalam Tahdzib at-Tahdzib. Beliau menulis kitab Shahihnya dari 300 ribu hadits yang pernah didengarnya. Dan beliau menghabiskan waktu selama lima belas tahun untuk menyusun dan meneliti riwayat-riwayatnya. Miki bin Abdan menceritakan; Aku mendengar Muslim mengatakan, “Aku tunjukkan kitabku ini kepada Abu Zur’ah ar-Razi, maka setiap hadits yang dia isyaratkan mengandung ‘illah/cacat hadits maka aku tinggalkan, dan setiap hadits yang dikatakan olehnya sahih dan tidak ada ‘illahnya maka aku cantumkan hadits itu.” Dari satu sisi, hal ini menunjukkan kehati-hatian Imam Muslim yang sangat ketat dalam meriwayatkan hadits. Dan dari sisi yang lain, hal ini juga menunjukkan sikap tawadhu’ beliau dan keinginan yang tulus untuk mencari kebenaran. Miki bin Abdan juga menceritakan; Aku mendengar Muslim bin Hajjaj mengatakan, “Seandainya para ulama hadits menghabiskan waktu mereka selama dua ratus tahun maka inti dari apa yang mereka kumpulkan itu sudah ada di dalam Musnad ini.” Maksudnya adalah kitab Shahihnya tersebut.</p>
<p>Shahih Muslim menempati rangking kedua setelah Shahih Bukhari. Maka kitab ini termasuk satu di antara dua buah kitab yang paling sahih setelah Kitabullah. Jumlah hadits tanpa pengulangan yang terdapat di dalam Shahih Muslim menurut penghitungan an-Nawawi di dalam at-Taqrib adalah sekitar 4000 hadits. Sedangkan menurut Syaikh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi jumlahnya adalah 3033 hadits. Adapun apabila dihitung beserta hadits-hadits serupa dengan berbagai jalur periwayatannya maka jumlah hadits yang ada di dalamnya lebih banyak daripada hadits dalam Shahih Bukhari, jumlah hadits dalam Shahih Muslim menurut penuturan Ahmad bin Salamah (salah seorang rekan sekaligus muridnya) adalah 12 ribu hadits. Berbeda dengan Shahih Bukhari, Shahih Muslim hanya mencantumkan sedikit hadits-hadits mu’allaq, an-Nawawi di dalam Muaqadimah Syarahnya menyebutkan bahwa di dalam Shahihnya ini Muslim hanya menyebutkan hadits mu’allaq di 14 tempat.</p>
<p>Inilah sekilas tentang Imam Muslim dan karyanya, semoga Allah membalas kebaikannya dengan sebaik-baik balasan dan menjadikan kita sebagai penerus perjuangannya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.</p>
<p>Diambil dari al-Imam Muslim wa Shahihuhu<br />
karya Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah<br />
Penerbit Jami’ah Islamiyah Madinah<br />
islamspirit.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/imam-muslim-ahli-hadits-dari-naisabur.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

