<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Ahlus Sunnah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/ahlus-sunnah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>PENERIMAAN SANTRI BARU MA’HAD AL-‘ILMI  PERIODE 1433/1434 H</title>
		<link>http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi-periode-14331434-h.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi-periode-14331434-h.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 09:53:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'had]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2464</guid>
		<description><![CDATA[Ma’had al-‘Ilmi Yogyakarta insya Allah akan kembali membuka pendaftaran santri baru untuk tahun ajaran 1433/1434 H (2012/2013 M). Untuk tahun ajaran baru ini direncanakan Ma’had al-‘Ilmi akan membuka 1 program saja, baik putra maupun putri. Pembukaan penerimaan santri baru ini &#8230; <a href="http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi-periode-14331434-h.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenerimaan-santri-baru-ma%25e2%2580%2599had-al-%25e2%2580%2598ilmi-periode-14331434-h.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenerimaan-santri-baru-ma%25e2%2580%2599had-al-%25e2%2580%2598ilmi-periode-14331434-h.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ma’had al-‘Ilmi Yogyakarta insya Allah akan kembali membuka pendaftaran santri baru untuk tahun ajaran 1433/1434 H (2012/2013 M). Untuk tahun ajaran baru ini direncanakan Ma’had al-‘Ilmi akan membuka 1 program saja, baik putra maupun putri. Pembukaan penerimaan santri baru ini akan dimulai sekitar bulan Mei/Juni 2012.</p>
<p><span id="more-2464"></span></p>
<p>Pelajaran yang diberikan antara lain; tauhid, aqidah, fikih, hadits, ushul tafsir, tafsir. Jumlah pelajaran wajib per pekan –untuk putra- adalah 6 mata pelajaran tersebut. Selain itu juga ada pelajaran tambahan yaitu praktek membaca kitab dan latihan penerjemahan. Dengan program ini diharapkan santri bisa memahami dasar-dasar ilmu agama islam dan memiliki kemampuan dasar untuk mengembangkan diri sebagai penggerak dakwah di masa depan.</p>
<p>Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Ma’had al-‘Ilmi tahun ini hanya memakan waktu 1 tahun. Hal ini dipilih dengan asumsi kondisi kegiatan perkuliahan mahasiswa di kampus yang sudah semakin padat dan selesai dalam waktu cepat. Idealnya, seorang mahasiswa baru telah mengikuti program bahasa arab –sebagai persiapan sebelum Ma’had al-’Ilmi- di Ma’had Umar Bin Khattab selama 1 tahun dengan menempuh 3 jenjang pendidikan; pemula, menengah, dan lanjutan. Ketiga jenjang pendidikan ini bisa ditempuh dalam 2 semester reguler dan 1 daurah liburan semester ganjil/genap.</p>
<p>Pada gilirannya, di tahun ke-2 perkuliahan yang dijalaninya, mahasiswa tersebut sudah bergabung dengan program Ma’had al-‘Ilmi. Sehingga santri yang mengikuti pelajaran-pelajaran di Ma’had al-‘Ilmi memang sudah menguasai kaidah-kaidah dasar bahasa arab (nahwu dan shorof) dan mampu membaca kitab gundul. Hal ini sangat perlu diperhatikan, karena rata-rata kegagalan yang dialami banyak orang –penuntut ilmu- adalah akibat lemahnya kemampuan membaca kitab gundul ini.</p>
<p>Dalam waktu 1 tahun pelajaran, Ma’had al-‘Ilmi memiliki 4 agenda utama, yaitu; kegiatan belajar mengajar semester 1, daurah liburan semester ganjil, kegiatan belajar mengajar semester 2, dan daurah liburan semester genap. Setiap santri diharuskan mengikuti alur pendidikan tersebut demi tercapainya tujuan pembelajaran.</p>
<p>Dengan masa pendidikan yang cukup singkat ini -yaitu 1 tahun- maka para mahasiswa yang telah menempuh perkuliahan selama 2 tahun pun –alias sudah menginjak semester 4- masih berkesempatan untuk mengikuti program Ma’had al-‘Ilmi pada tahun ke-3 masa kuliah mereka. Hal ini sangat menguntungkan bagi para mahasiswa, karena dalam waktu 1 tahun mereka akan mendapatkan pembelajaran ilmu diniyah dasar secara sistematis dan ilmiah yang jarang ditemukan di tempat-tempat lain.</p>
<p>Memang, waktu 1 tahun sangatlah singkat untuk memberikan pemahaman agama secara mendalam kepada peserta didik. Oleh sebab itu diharapkan para alumni Ma’had ini nantinya bisa mengembangkan kemampuan dirinya lebih lanjut sesuai dengan potensi dan bakat mereka masing-masing. Dunia dakwah ini sangat luas, sehingga membutuhkan tangan-tangan kaum intelektual yang menguasai teknologi informasi dan memiliki strategi yang bagus dalam melancarkan dakwah di era global ini.</p>
<p>Pergerakan mahasiswa dari masa ke masa memang sarat dengan semangat perubahan. Akan tetapi satu hal yang sangat-sangat disayangkan adalah ketika semangat itu miskin ilmu. Itulah yang dapat kita rasakan selama ini. Aduhai, tidakkah mereka menyadari?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi-periode-14331434-h.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah Islam Di Indonesia</title>
		<link>http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 23:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2451</guid>
		<description><![CDATA[*Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala. Dan Islam itulah yang mempersatukan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwajah-islam-di-indonesia.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwajah-islam-di-indonesia.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><span style="color: #000000;"><strong>*</strong><em>Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan</em></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala. Dan Islam itulah yang mempersatukan umat manusia sebelum mereka berselisih dan menyempal ke dalam berbagai jalan yang menyimpang.</p>
<p><span id="more-2451"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 213</strong>)</p>
<p>Dalam sebuah riwayat dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya, ketika menjelaskan makna ayat <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat.” </em>Ibnu Abbas berkata, <em>“Mereka semuanya dahulu berada di atas Islam.”</em> Demikian juga al-Bazzar dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, <em>“Rentang waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh kurun/abad. Mereka semuanya berada di atas syari&#8217;at yang benar, kemudian mereka pun berselisih. Setelah itu Allah pun mengutus nabi-nabi.”</em> (lihat <em>Nashihah ila Jama&#8217;ah al-Ikhwan al-Muslimin</em> oleh Syaikh Abdullah al-Ubailan, hal. 1)</p>
<p>Itulah wajah Islam di awal mula sejarah umat manusia di atas muka bumi ini beribu-ribu tahun yang silam. Demikian pula halnya seluruh para nabi yang Allah utus, mereka sepakat dalam asas ajaran Islam yaitu tauhid; mengesakan Allah dalam beribadah. Meskipun dalam tataran syari&#8217;at bisa jadi berlainan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya&#8217;: 25</strong>).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagi masing-masing umat Kami jadikan syari&#8217;at dan jalan.”</em> (<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 48</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kami segenap para nabi adalah anak-anak sebapak -dengan ibu yang berbeda-, sedangkan agama kami ini adalah sama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh nabi adalah sama yaitu tauhid, meskipun syari&#8217;atnya berlainan (lihat <em>Nashihah ila Jama&#8217;ah al-Ikhwan al-Muslimin</em>, hal. 2)</p>
<p>Orang-orang musyrik pun memahami bahwa maksud dari dakwah para rasul itu adalah supaya masyarakat mengesakan Allah dalam beribadah. Yaitu tidak boleh menujukan ibadah kepada selain Allah, atau mempersekutukan selain-Nya dalam hal ibadah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> menceritakan tanggapan mereka (yang artinya), <em>“Apakah dia -Muhammad-  hendak menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja?!”</em> (<strong>QS. Shaad: 5</strong>). Demikian pula reaksi kaum &#8216;Aad terhadap dakwah Nabi Hud<em> &#8216;alaihis salam</em>. Mereka berkata (yang artinya), <em>“Apakah kamu datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa-apa yang disembah -secara turun temurun- oleh nenek moyang kami?!”</em> (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 70</strong>)</p>
<p>Ayat-ayat di atas menggambarkan kepada kita dengan jelas bahwa reaksi masyarakat yang menentang dakwah para rasul adalah realita di dalam sejarah internasional. Di antara alasan yang kerapkali dibawakan adalah demi mempertahankan warisan budaya nenek moyang [!]. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apabila dikatakan kepada mereka, &#8216;Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah&#8217;. Mereka menjawab, &#8216;(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).&#8217; Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 170</strong>)</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang menggelitik pikiran kita adalah; lalu bagaimana dengan konteks Indonesia? Apakah realita semacam ini juga yang terjadi? Supaya ruang lingkup pembicaraan ini tidak melebar kemana-mana maka marilah kita fokuskan dalam masalah tauhid saja; yang kita semua mengetahui bahwa ini merupakan asas ajaran agama kita.</p>
<p>Adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri bahwa kebudayaan berhala telah berkembang di negeri ini semenjak dahulu kala. Tidak terhitung tempat-tempat yang dianggap keramat, dijadikan sebagai tempat sesaji, demikian pula patung-patung dan candi-candi yang menandai gaya hidup paganisme yang telah mengakar di sebagian masyarakat. Tidak sedikit sosok mistis yang diagung-agungkan dan dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan. Benda-benda &#8216;sakti&#8217; dan pusaka pun dikeramatkan. Berbagai ritual persembahan pun dilakukan. Entah yang berlokasi di atas gunung, di tengah kota, di pedesaan, sampai pun di pesisir pantai. Tradisi yang erat dengan keyakinan nenek moyang, yang terwarnai oleh kesyirikan (silahkan baca sebuah buku menarik berjudul <em>Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita</em> tulisan H. Willyuddin A.R. Dhani, S.Pd)</p>
<p>Sayangnya, sebagian kalangan yang disebut-sebut sebagai intelektual muslim -sadar ataupun tidak- &#8216;menutup-nutupi&#8217; realita pahit ini dengan kedok menjaga kebhinekaan bangsa [?!] Dengan cara-cara yang halus dan samar mereka menolak arus pemurnian yang diserukan oleh para da&#8217;i -di antaranya dipelopori oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, Tuanku Imam Bonjol, dan tokoh yang lainnya- untuk membersihkan kehidupan masyarakat dari berbagai bentuk takhayul, bid&#8217;ah dan churafat (TBC). Yang dalam bahasa kita sekarang bisa diungkapkan dengan slogan <em>&#8216;Memurnikan Aqidah dan Menebarkan Sunnah&#8217;</em>&#8230; Seolah-olah perjuangan yang dilakukan oleh para kyai dan da&#8217;i tersebut adalah gerakan ekstrem yang <strong>agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian</strong> (lihat tuduhan ini dalam kata pengantar KH. Abdurrahman Wahid; <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 20)</p>
<p>Tidak berhenti di situ saja, mereka -kaum liberal- pun menuduh gerakan dakwah tauhid sebagai proyek Wahabisasi global. Yang kita bicarakan di sini, bukanlah gerakan tarbiyah yang diusung oleh kader-kader salah satu partai politik di negeri ini (tidak perlu kami sebutkan karena sudah sangat populer). Bukan pula gerakan politik ala kelompok dakwah yang senantiasa mendengung-dengungkan khilafah sebagai solusi atas segala problematika umat. Bukan pula sekelompok rakyat sipil yang gemar melakukan penggrebekan tempat-tempat maksiat dengan dalih amar ma&#8217;ruf nahi mungkar. Bukan itu yang kita maksudkan. Pembicaraan mengenai ketiga kelompok itu ada tempatnya tersendiri.</p>
<p>Sesungguhnya yang menjadi sasaran utama serangan propaganda ini adalah dakwah tauhid yang mereka gelari dengan sebutan <strong>Wahabi</strong>. Orang awam tentu akan merasa ngeri dengan istilah-istilah menakutkan yang dimunculkan oleh para pengusung pemikiran liberal ini. Di antara istilah yang sering dipakai adalah istilah <strong>kelompok garis keras</strong>. Gus Dur berkata, <em>“&#8230;Kami berpedoman pada paham Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, sementara mereka -kelompok garis keras- mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 21-22). Di bagian lain dari buku ini pun mereka mengamini penyebutan Wahabi sebagai <strong>reinkarnasi <em>Khawarij</em></strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 100)</p>
<p>Bukan itu saja tuduhan yang mereka lemparkan. Dengan begitu berapi-apinya mereka menjauhkan umat dari dakwah tauhid ini dengan dalih menyelamatkan umat dari cengkeraman <strong>Wahabisasi Global</strong> dan dalam rangka mengembalikan kemuliaan dan kehormatan Islam yang telah ternodai. Gus Dur kembali melemparkan fitnahnya, <em>“&#8230; Arus dana Wahabi yang tidak hanya membiayai terorisme tetapi juga penyebaran ideologi dalam usaha wahabisasi global juga nyaris luput dari perhatian publik. Selama ini, arus dana Wahabi ke Indonesia tidak mendapat perhatian publik secara serius, padahal dari sinilah fenomena infiltrasi -penyusupan- paham garis keras memperoleh dukungan dan dorongan yang luar biasa kuat sehingga menjadi bisnis yang menguntungkan banyak agennya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 36)</p>
<p>Di dalam catatan kaki buku tersebut pun disebutkan sebuah &#8216;berita&#8217; yang terkesan sangat mengerikan dan mengancam umat Islam di berbagai belahan penjuru dunia. Dalam hal ini mereka telah berterus terang bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi itu adalah Arab Saudi. Mereka berkata, <em>“Aktivitas Saudi di Indonesia hanya merupakan bagian kecil dari kampanye senilai US $ 70.000.000.000,- selama kurun waktu antara 1979-2003 untuk menyebarkan sekte fundamentalis Wahabi di seluruh dunia. Usaha-usaha dakwah Wahabi yang terus meningkat ini merupakan “kampanye propaganda terbesar di seluruh dunia yang pernah dilakukan -anggaran propaganda Soviet pada puncak Perang Dingin menjadi sangat kecil dibandingkan belanja propaganda Wahabi ini.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Tidak aneh jika mereka terkesan menyejajarkan &#8216;bahaya&#8217; Wahabi ini dengan bahaya laten Komunis! Gus Dur menyebut Wahabisasi sebagai gerakan yang merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun, dan mengubah Indonesia sesuai dengan ilusi mereka tentang negara Islam yang di Timur Tengah pun tidak ada [?] (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39).</p>
<p>Gus Dur juga berkata, <em>“Dengan balutan jubah dan jenggot Arab yang ditampilkan, yang oleh beberapa pihak telah dipandang lebih tampak seperti preman berjubah, mereka ingin menunjukkan seolah-olah pandangan ekstrem yang mereka teriakkan dan paksakan memang benar-benar merupakan pesan Islam yang harus diperjuangkan. Padahal, mereka merusak agama Islam dan bertanggung jawab atas banyaknya kekerasan yang mereka lakukan atas nama Islam di Indonesia dan seluruh dunia. Dan kita sebagai umat Islam harus menanggung malu atas perbuatan mereka.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Semakin lengkap sudah gelaran buruk yang disematkan oleh mereka kepada Wahabi agar umat benar-benar menjauhi dakwah mereka&#8230;</p>
<p>Para peneliti yang menulis buku tersebut ingin menjelaskan kepada kita apa sesungguhnya yang mereka maksud dengan istilah Wahabi. Coba kita simak propaganda mereka! Dengan fasihnya mereka berkata, <em>“Wahabi adalah sebuah sekte keras dan kaku pengikut Muhammad ibn &#8216;Abdul Wahhab.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 62). Di bagian lain buku ini, mereka semakin mempertegas bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi tidak lain adalah <strong>Salafi</strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 95). Apa yang tertanam dalam pikiran orang yang membaca definisi di atas? Ya&#8230; Wahabi itu keras dan kaku&#8230; Betapa keji tuduhan yang mereka lemparkan! Mereka juga mengatakan, <em>“Islam yang sangat apresiatif dan penuh perasaan dalam merespon permasalahan umat, di tangan Ibn &#8216;Abdul Wahhab berubah menjadi tak peduli, keras, dan tak berperasaan.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 63)</p>
<p>Demikianlah, kedustaan seolah-olah telah menjadi sedemikian murah-meriah bagi para pengusung pemikiran liberal ini. Dengan entengnya mereka mengatakan tentang Wahabi, <em>“Setiap Muslim yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik ajaran Islam yang persis seperti Wahabi dianggap murtad, karenanya perang dibolehkan, atau bahkan diwajibkan, terhadap mereka&#8230;”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 67). <em>Maha suci Allah, sungguh ini adalah kedustaan yang sangat besar!</em></p>
<p>Sudah banyak bantahan ilmiah dan santun untuk tuduhan-tuduhan &#8216;emosional&#8217; semacam ini. Padahal, dakwah salafiyah beserta para ulamanya -yang dijuluki &#8216;Wahabi&#8217; dalam rangka membuat orang lari darinya- berlepas diri dari segala tuduhan keji tersebut. Salafiyah itu sendiri adalah ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya. Sebuah ajaran yang menebarkan rahmat bagi semesta alam. Ajaran yang memberikan bimbingan bagi umat manusia dalam segala sudut kehidupan. Ajaran yang sempurna, yang diturunkan oleh Rabb penguasa alam semesta.</p>
<p>Erat kaitannya dengan tema awal tulisan ini, yaitu menyoroti dakwah tauhid sebagai seruan yang mendapatkan penentangan dari umat para rasul, dan apakah fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Maka, perkenankanlah kami untuk menunjukkan kepada segenap pembaca sebuah penafsiran aneh bin ajaib yang dilakukan oleh para penyusun buku <em>Ilusi</em> yang telah berulang kali kita singgung dalam tulisan ini. Sebuah penafsiran yang lebih tepat disebut sebagai pemerkosaan terhadap dalil agama yang suci dan suatu kekeliruan fatal dalam memahami maksud firman Allah dan sabda Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Satu bukti ini saja sudah cukup membuktikan kepada kita seperti apa sebenarnya pemahaman mereka tentang aqidah Islam. <em>Allahul musta&#8217;aan</em>&#8230;</p>
<p>Mereka -dengan tanpa rasa malu- memberikan penjelasan sebagai berikut: “Dalam hubungannya dengan agama-agama lain, dengan indah Nabi -<em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, pen</em>- menuturkan, <em>“Nahnu abna&#8217;u &#8216;allat, abuna wahid wa ummuna syatta”</em> (Kami [para rasul] adalah anak-anak para istri dari seorang laki-laki, ayah kami satu namun ibu kami banyak). Dalam keluarga umat manusia, para rasul mempunyai ayah (agama) yang sama yakni Islam (dalam arti berserah diri kepada Tuhan), namun mempunyai ibu (<em>syi&#8217;rah wa minhaj</em>) yang banyak/berbeda-beda.” Kemudian mereka menyimpulkan hadits itu dengan licik, <em>“Ini adalah pengakuan atas pluralisme, dan inilah yang ditolak oleh kelompok garis keras.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 102-103)</p>
<p>Penjelasan di atas mengandung banyak kontradiksi dan kerancuan, di antaranya:</p>
<p><strong>Kerancuan Pertama:</strong></p>
<p>Mereka membawakan hadits tersebut dalam konteks hubungan Islam dengan agama-agama lain. Padahal, sebagaimana bisa kita saksikan bersama bahwa sesungguhnya hadits tersebut tidak membicarakan hubungan antara Islam dengan agama-agama lain. Karena sebagaimana disebutkan dalam hadits ini -mungkin mereka enggan untuk menampilkannya secara tegas dan lengkap- bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Agama kami -para rasul- adalah satu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Dari sini kita mengetahui bahwa hadits ini berbicara mengenai agama para nabi itu adalah Islam, walaupun syari&#8217;atnya berlainan, namun pokoknya adalah sama yaitu tauhid (silahkan baca juga <strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Jadi, hadits ini bukan berbicara tentang agama selain Islam.</p>
<p><strong>Kerancuan Kedua:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Penyelewengan penafsiran di atas tidak lain muncul dari kerancuan mereka dalam memahami makna Islam. Oleh sebab itu mereka memberikan penjelasan di dalam tanda kurung tentang Islam yang menjadi agama para rasul itu, dalam pandangan mereka. Islam, dalam arti <strong>berserah diri kepada Tuhan</strong>, demikian penafsiran mereka. Inilah kebiasaan buruk para pemuja pemikiran liberal! Mereka menuduh orang lain kaku dan tekstualis dalam menafsirkan dalil. Sementara dalam kasus-kasus tertentu, mereka justru lebih tekstualis dan lebih kaku dalam memahami dalil.</p>
<p>Lihatlah, dalam memaknai Islam di sini mereka mencukupkan diri dengan makna bahasanya saja. Yaitu Islam dengan pengertian berserah diri kepada Tuhan, sebuah penafsiran yang teramat sempit dan bahkan tidak jelas. Konsekuensi dari penafsiran mereka ini adalah pemeluk agama apa pun adalah muslim, selama mereka berserah diri kepada Tuhan. Padahal, kalau kita mau sedikit saja membuka cakrawala, menelaah ayat-ayat dan hadits-hadits lain, atau kalau sempat <em>ya</em> membaca tafsir para ulama kita terdahulu, akan tampak dengan jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan Islam di sini bukan sekedar berserah diri kepada Tuhan!</p>
<p>Dalam al-Qur&#8217;an, ayat semacam itu banyak kita temukan. Di antaranya sudah kami sebutkan di depan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya&#8217;: 25</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat, seorang rasul -yang mengajak-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima, dan dia di akhirat akan termasuk orang-orang yang merugi.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>)</p>
<p>Demikian pula di dalam hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, akan kita temukan penjelasan-penjelasan yang gamblang tentang apa hakikat dari Islam yang sekarang ini diwajibkan -bukan dipaksakan- oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada umat manusia. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah dia beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaran [Islam] yang aku bawa, kecuali dia pasti termasuk penghuni Neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi kemudian menanyakan tentang makna Islam, Iman, dan Ihsan. Semuanya telah diterangkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan gamblang. Sudah selayaknya para cendekiawan itu kembali merenungi perkataan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan lebih mempercayainya daripada ucapan kaum Orientalis dan para pakar filsafat yang senantiasa dirundung oleh keragu-raguan.</p>
<p>Demikian pula di dalam tafsir para ulama tentang <em>Shirathal Mustaqim</em> (jalan yang lurus). Akan kita dapati bahwa hakikat jalan yang lurus itu -pada zaman kita sekarang ini- hanya ada pada agama Islam yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Di antara penafsiran <em>Shirathul Mustaqim</em> yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir adalah: [1] Mengikuti Allah dan Rasul, [2] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah Kitabullah (al-Qur&#8217;an), [3] Ibnu Abbas, Ibnu Mas&#8217;ud dan para sahabat yang lain mengatakan bahwa maksudnya adalah agama Islam, [4] Mujahid menafsirkan jalan yang lurus itu dengan kebenaran, [5] Menurut Abul &#8216;Aliyah, maksudnya adalah jalan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan kedua sahabatnya -Abu Bakar dan Umar-. Semua penafsiran ini adalah benar dan tidak bertentangan. Bahkan, di dalam hadits yang sahih telah ditegaskan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa Yahudi sebagai golongan yang dimurkai/<em>al-maghdhubi &#8216;alaihim</em>, sedangkan Nasrani sebagai golongan yang sesat/<em>adh-dhallin</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/36-39])</p>
<p><strong>Kerancuan Ketiga:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mereka -setelah terjatuh dalam berbagai kerancuan- akhirnya menarik sebuah kesimpulan yang merupakan komplikasi akibat kerancuan-kerancuan yang mengendap sebelumnya, bahwa hadits tersebut -para nabi itu saudara seayah dan berbeda ibu- menjadi sebuah pengakuan (pembenaran) atas pluralisme yang mereka gembar-gemborkan dengan segala pengorbanan. Sungguh memalukan, sekaligus realita yang teramat pahit dan memilukan! Lalu siapakah sebenarnya orang yang rela menjual agamanya kalau demikian kenyataannya?</p>
<p>Sebagai penutup, ada sedikit pesan untuk para pemuda yang begitu bersemangat membela Islam dan bertekad untuk menerapkannya di segala lini kehidupan namun tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih dalam dakwahnya. Ketahuilah, bahwa kesan negatif yang muncul mengenai dakwah Islam itu -berupa kekerasan dan sikap-sikap yang tidak bijak- adalah realita yang tidak bisa kita pungkiri muncul dari sebagian kaum muslimin yang tidak paham terhadap ajaran agamanya. Padahal, jika kita tulus dan serius mengikuti jalan tauhid ini niscaya kita akan menemukan wajah Islam yang sesungguhnya. Wajah yang mulia dan membuat bangga pemeluknya. <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (1)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 17:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2439</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56) Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-1.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-1.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>)</p>
<p><span id="more-2439"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan: Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb-mu memerintahkan kepadamu: Janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan  sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Marilah akan aku bacakan kepada kalian apa saja yang diharamkan Rabb kalian atas kalian; Janganlah kalian mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 151</strong>)</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud -<em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>- berkata: Barangsiapa yang ingin melihat wasiat yang dicap oleh Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bacalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Katakanlah: Marilah akan aku bacakan kepada kalian apa saja yang diharamkan Rabb kalian atas kalian; Janganlah kalian mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> Sampai firman-Nya, <em>“Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, ikutilah ia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan selainnya.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 151-153</strong>)</p>
<p>Dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Dahulu aku membonceng Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di atas seekor keledai. Beliau bertanya kepadaku, <em>“Wahai Mu&#8217;adz, tahukah kamu apakah hak Allah atas hamba, dan apakah hak hamba atas Allah?”</em>. Aku menjawab, <em>“Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.”</em> Beliau bersabda, <em>“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya. Adapun hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> Aku katakan, <em>“Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya saya menyebarkan kabar gembira ini kepada orang-orang?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Jangan kamu sebarkan kabar gembira ini, karena hal itu akan menyebabkan mereka bersandar (menyepelekan amal).”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Hikmah penciptaan jin dan manusia</li>
<li>Hakikat ibadah adalah tauhid, karena pertikaian antara para      rasul dengan umatnya adalah dalam hal tersebut</li>
<li>Barangsiapa yang tidak melaksanakan tauhid pada hakikatnya dia      belum beribadah kepada Allah. Hal ini semakna dengan firman-Nya (yang      artinya), <em>“Dan kalian tidaklah beribadah kepada apa yang aku ibadahi.”</em> (<strong>QS. al-Kafirun: 3</strong>)</li>
<li>Hikmah diutusnya para rasul</li>
<li>Ajaran para rasul itu mencakup semua umat</li>
<li>Agama para nabi adalah sama (tauhid)</li>
<li>Sebuah perkara yang sangat agung, bahwasanya ibadah kepada      Allah tidak tercapai tanpa mengingkari <em>thaghut</em> (sesembahan selain      Allah). Hal ini semakna dengan firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Barangsiapa      yang ingkar kepada thaghut.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 256</strong>)</li>
<li>Thaghut itu luas, meliputi segala yang disembah selain Allah</li>
<li>Agungnya kedudukan tiga buah ayat yang <em>muhkam</em>/sangat      tegas dan jelas di dalam surat al-An&#8217;aam [151-153] dalam pandangan salaf.      Di dalamnya terkandung sepuluh perkara, yang diawali dengan larangan      berbuat syirik</li>
<li>Ayat-ayat yang muhkam di dalam surat al-Israa&#8217;. Di dalamnya      terdapat delapn belas perkara. Allah memulainya dengan firman-Nya (yang      artinya), <em>“Janganlah kamu jadikan sesembahan lain bersama Allah,      sehingga akan membuatmu berada dalam keadaan dicela dan dihinakan.”</em> (<strong>QS.      al-Israa&#8217;: 22</strong>). Kemudian, Allah menutupnya dengan firman-Nya (yang      artinya), <em>“Janganlah kamu jadikan sesembahan lain bersama Allah,      sehingga hal itu akan menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam Jahannam dalam      keadaan dicela dan dijauhkan (dari rahmat Allah).”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;:      39</strong>). Allah mengingatkan kita tentang keagungan perkara-perkara ini      dengan firman-Nya (yang artinya), <em>“Demikian itulah sebagian hikmah yang      telah diwahyukan Rabb-mu kepadamu.”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;: 39</strong>)</li>
<li>Ayat di dalam surat an-Nisaa&#8217; yang disebut dengan ayat <em>al-Huquq      al-&#8217;Asyrah</em> (sepuluh kewajiban). Allah memulainya dengan firman-Nya      (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan      sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</li>
<li>Peringatan tentang wasiat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em> sebelum wafatnya</li>
<li>Mengetahui apa hak Allah atas kita</li>
<li>Mengetahui apa hak hamba atas-Nya tatkala mereka menunaikan      hak-Nya</li>
<li>Perkara ini -hak hamba atas Allah- tidak diketahui oleh      kebanyakan para sahabat</li>
<li>Diperbolehkan menyembunyikan ilmu demi kemaslahatan</li>
<li>Dianjurkan menyampaikan kabar gembira kepada sesama muslim</li>
<li>Kekhawatiran dari sikap bersandar kepada keluasan rahmat Allah</li>
<li>Seorang yang ditanya memberikan jawaban <em>“Allah dan rasul-Nya      yang lebih mengetahui”</em>, ketika dia tidak mengetahui jawabannya</li>
<li>Boleh mengkhususkan mengajarkan suatu ilmu tertentu kepada      sebagian orang, dan tidak kepada selain mereka</li>
<li>Kerendahan hati Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> karena beliau mau mengendarai keledai dan memboncengkan orang di atasnya</li>
<li>Boleh membonceng di atas hewan tunggangan</li>
<li>Berita ini -yang diterima Mu&#8217;adz- mengandung perkara yang      sangat agung</li>
<li>Keutamaan Mu&#8217;adz bin Jabal</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solidaritas Umat Islam Untuk Yaman</title>
		<link>http://abumushlih.com/solidaritas-umat-islam-untuk-yaman.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/solidaritas-umat-islam-untuk-yaman.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 03:58:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Blokade]]></category>
		<category><![CDATA[Dammaj]]></category>
		<category><![CDATA[Houtsi]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Perang]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Yaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2435</guid>
		<description><![CDATA[Kajian Umum dan Penggalangan Bantuan Solidaritas Umat Islam Bantulah Dammaj, Wahai Saudaraku! :: Mengenal Hakikat Syi’ah dan Bahayanya Bersama: Ust. Abu Qotadah (alumni Yaman) :: Perkembangan Terkini Blokade Syi’ah Terhadap Dammaj Bersama: Syaikh Ahmad Manshur al-‘Udaini (murid Syaikh Shalih al-Fauzan, Yaman) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/solidaritas-umat-islam-untuk-yaman.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsolidaritas-umat-islam-untuk-yaman.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsolidaritas-umat-islam-untuk-yaman.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kajian Umum dan Penggalangan Bantuan</p>
<p><strong>Solidaritas Umat Islam</strong><br />
Bantulah Dammaj, Wahai Saudaraku!</p>
<p><em> </em></p>
<p><span id="more-2435"></span></p>
<p>::<em> Mengenal Hakikat Syi’ah dan Bahayanya</em></p>
<p>Bersama:<br />
<strong>Ust. Abu Qotadah</strong> (alumni Yaman)</p>
<p>:: <em>Perkembangan Terkini Blokade Syi’ah Terhadap Dammaj</em></p>
<p>Bersama:<br />
<strong>Syaikh Ahmad Manshur al-‘Udaini</strong> (murid Syaikh Shalih al-Fauzan, Yaman)<br />
<strong>Syaikh Abdurrahman al-‘Arrumi</strong> (murid Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, Yaman)<br />
&#8211; Komunikasi Jarak Jauh &#8211;</p>
<p>Tempat:<br />
<strong>Masjid Pogung Raya, Pogung Dalangan</strong><br />
(samping SD Sinduadi Timur, utara Fakultas Teknik UGM)</p>
<p>Waktu:<br />
<strong>Sabtu, 17 Desember 2011</strong><br />
<strong>Pkl. 08.00 &#8211; selesai</strong></p>
<p><strong>Terbuka Untuk Umum</strong><br />
Putra-Putri</p>
<p>Gratis!</p>
<p><em>Jangan Lupa Membawa Infak</em></p>
<p>Penyelenggara:<br />
<strong>Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</strong><br />
www.muslim.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/solidaritas-umat-islam-untuk-yaman.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian al-Qur’an (1-20 Ramadhan 1431 H)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 02:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Pogung]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1909</guid>
		<description><![CDATA[Menggali Makna Al-Qur’an di Bulan Ramadhan (Seri Kajian Tafsir Masjid Al-Ashri) Panduan: Kitab Durus minal Qur’an Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullah- Kitab Rujukan: Durus Minal Qur’an, Syaikh Shalih Al-Fauzan Peserta tidak diharuskan bisa membaca kitab gundul (tanpa harokat). Pemateri: Ustadz Aris &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-al-qur%25e2%2580%2599an-1-20-ramadhan-1431-h.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-al-qur%25e2%2580%2599an-1-20-ramadhan-1431-h.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>Menggali Makna Al-Qur’an di Bulan Ramadhan</strong></p>
<p><strong>(Seri Kajian Tafsir Masjid Al-Ashri)</strong></p>
<p><span id="more-1909"></span>Panduan: Kitab Durus minal Qur’an Syaikh Shalih Al-Fauzan -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<ul>
<li><img title="القرآن الكريم" src="http://www.islamacademy.net/UserFiles/quran.jpg" alt="" width="113" height="109" />Kitab Rujukan: <strong>Durus Minal Qur’an</strong>, Syaikh Shalih Al-Fauzan</li>
</ul>
<blockquote><p>Peserta tidak diharuskan bisa membaca kitab gundul (tanpa harokat).</p></blockquote>
<ul>
<li>Pemateri: <strong>Ustadz Aris Munandar</strong> (<a href="http://ustadzaris.com/" target="_blank">ustadzaris.com</a>)</li>
</ul>
<ul>
<li>Hari: <strong>1-20 Ramadhan 1431 H</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Waktu: <strong>05.30 – 07.15 WIB</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Tempat: <strong>Masjid Al-Ashri Pogung Rejo, Sinduadi Mlati Sleman, Yogyakarta<br />
</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Informasi: Takmir Masjid Al-Ashri (<a href="http://al-ashree.com/" target="_blank">al-ashree.com</a>)</li>
</ul>
<ul>
<li>Harga Kitab: <strong>Rp 78.000,00</strong> (bagi yang memesan kitab)</li>
</ul>
<ul>
<li>Insya Allah, kajian ini akan disiarkan <em><strong>LIVE</strong></em><em><strong> </strong></em> via <a href="http://radiomuslim.com/" target="_blank"><strong>radiomuslim.com</strong></a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabligh Akbar Ust. Abdul Hakim (Jakarta)</title>
		<link>http://abumushlih.com/tabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 06:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Abdul Hakim]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Jadwal Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1888</guid>
		<description><![CDATA[Tabligh Akbar, Masjid Akbar Kemayoran (Jakarta Pusat, 25 Juli 2010) Hadirilah…!!! Tabligh Akbar &#38; Kajian Ilmiyah Islam (Gratis!!!Untuk Umum) Tema: ” Dampak Maksiat Bagi Kehidupan Masyarakat “ Pembicara: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Insya Allah akan diselenggarakan pada hari: &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Tabligh Akbar, Masjid Akbar Kemayoran (Jakarta Pusat,  25 Juli 2010)</p>
<p><span id="more-1888"></span><br />
<strong>Hadirilah…!!!<br />
Tabligh Akbar &amp; Kajian Ilmiyah  Islam</strong> (Gratis!!!Untuk Umum)</p>
<p>Tema:<br />
” Dampak Maksiat Bagi  Kehidupan Masyarakat “</p>
<p>Pembicara:<br />
Al-Ustadz Abdul Hakim bin  Amir Abdat</p>
<p>Insya Allah akan diselenggarakan pada hari:<br />
Ahad,  25 Juli 2010 / 23 Sya’ban 1431.<br />
Jam 09.00 Wib – Selesai</p>
<p>Tempat:  Masjid Akbar Kemayoran dekat (PRJ), Jakarta.</p>
<p>Informasi:<br />
Ikhwan:  (021) 7042. 5406 – 0856. 792. 7818 – 0858. 8188. 5694<br />
Akhwat : (021)  9250. 8514</p>
<p>Penyelenggara:<br />
Pustaka Imam Adz -Dzahabi<br />
bekerjasama  dengan<br />
DKM Masjid Akbar Kemayoran.</p>
<p>Sumber: http://moslemsunnah.wordpress.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengajian Umum (Yogyakarta)</title>
		<link>http://abumushlih.com/pengajian-umum-yogyakarta.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pengajian-umum-yogyakarta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 13:09:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajian Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1839</guid>
		<description><![CDATA[Ikutilah Kajian Umum bersama Ustadz Abu Yahya Badrussalam, Lc. dengan tema: &#8220;RAHASIA KEUTAMAAN AMAL&#8221; Ahad, 18 Juli 2010 Pukul 08.00 WIB &#8211; Dhuhur Di Masjid Ma&#8217;had Jamilurrahman (Sawo, Wirokerten, Banguntapan, Bantul [selatan Terminal Bus Giwangan Yogyakarta]) Gratis, untuk semua kalangan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pengajian-umum-yogyakarta.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpengajian-umum-yogyakarta.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpengajian-umum-yogyakarta.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ikutilah Kajian Umum bersama Ustadz Abu Yahya Badrussalam, Lc. dengan tema:</p>
<p><strong>&#8220;RAHASIA KEUTAMAAN AMAL&#8221;</strong></p>
<p><strong>Ahad, 18 Juli 2010</strong></p>
<p>Pukul 08.00 WIB &#8211; Dhuhur</p>
<p><span id="more-1839"></span>Di Masjid Ma&#8217;had Jamilurrahman<br />
(Sawo, Wirokerten, Banguntapan, Bantul [selatan Terminal Bus Giwangan Yogyakarta])</p>
<p>Gratis, untuk semua kalangan</p>
<p>PUTRA &amp; PUTRI</p>
<p>Informasi:<br />
085.6789.4678 (Iman)</p>
<p>Kunjungi:<br />
www.muslim.or.id<br />
www.muslimah.or.id</p>
<p>==========================<br />
===========================</p>
<p>Ikuti juga kajian beliau dengan tema:</p>
<p><strong>&#8220;BERBAKTI KEPADA ORANG TUA&#8221;</strong></p>
<p><strong>Sabtu, 17 Juli 2010</strong></p>
<p>Ba&#8217;da Maghrib &#8211; Isya&#8217;</p>
<p>Di Masjid Baiturrahman<br />
(Jalan Veteran Komplek Polri Gowok, Blok B/2-49, Caturtunggal, Sleman, Yogyakarta )</p>
<p>Gratis, untuk semua kalangan<br />
KHUSUS PUTRA</p>
<p>Informasi:<br />
0813.7483.4651 (Fikri)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pengajian-umum-yogyakarta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Ahlus Sunnah di Indonesia</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 04:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhtilaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ishlah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Perpecahan]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Muhammad al Imam hafizhahullah (Muhadharah Via Telepon) بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Syaikh Muhammad al Imam</strong> <em>hafizhahullah</em><br />
(Muhadharah Via Telepon)</p>
<p><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan  yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi  bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -shallallahu ‘alaihi wa  salam-. Amma ba’du:</p>
<p><span id="more-1812"></span></p>
<p>Aku memuji Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mampu, Rabb Al-’Arsy Al-Karim  yang telah memudahkan kami untuk berhubungan dengan saudara-saudara  kami. Maka ini merupakan keutamaan dari Allah Ta’ala untuk kita dan  untuk manusia, hanya saja kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Hal  ini merupakan nikmat yang besar disaat kita bisa saling berhubungan,  kita tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, kita bersama-sama  memerangi hawa nafsu, menghadap kepada peribadatan kepada Al-Maula  (Allah Ta’ala).</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah -barakallahu fiikum-. Sesungguhnya  Allah telah memilih umat islam di antara sekian umat, dan memilih  Muhammad sebagai seorang rasul dan nabi di antara sekian banyak orang  dan di antara sekian banyak pahlawan, dan memilih ahlus sunnah wal  jama’ah, ahlu ittaba’ wal atsar, ahlul hadits wal khabar di antara  sekian banyak sempalan dan kelompok. Pemilihan dari Allah Ta’ala ini  adalah setelah pemilihan, pengkhususan, penyaringan dan taufiq dari  Allah Ta’ala. Dan pengkhususan yang kedua ini adalah pengkhususan ahlul  atsar wal khabar diantara sekian banyak kelompok sempalan dan kesesatan.  Dan ini adalah pengkhususan, pemilihan, taufiq dan penyaringan yang  sempurna, yang dengannya akan sempurna kehidupan seorang muslim dalam  segi agama, lurus dengannya agama ini, dan akan baik dunianya dengannya.</p>
<p>Dan sebagaimana kalian ketahui bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan  kitab-Nya yang mulia dan sunnah nabi-Nya penjagaan dari kesalahan bagi  siapa saja yang berpegang teguh dengan keduanya, sebagai nikmat bagi  yang diberi taufiq mengamalkan keduanya, dan sebagai rahmat bagi siapa  saja yang menjadi sebab ketaatan kepada keduanya. Maka seorang muslim  yang meniti jalan rasul bukan pelaku bid’ah, yang berpegang teguh <strong>bukan  bercerai berai</strong>, yang mengarah kepada al-haq bukan berpaling, yng  mengamalkan syari’at bukan berpaling, menunaikan al-haq bukan mengubah  dan bukan mengganti, yang seperti ini Allah Ta’ala telah menjamin  baginya adanya dukungan dan pertolongan yang khusus beserta perlindungan  dan penjagaan yang dikhususkan baginya dari sekian banyak manusia.</p>
<p>Allah Rabb semesta alam berfirman kepada nabi-Nya,</p>
<p><strong>إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ  كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ  لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ  سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ  كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ  الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ<br />
</strong><br />
“Jika kalian enggan menolongnya (Muhammad) maka sungguh Allah telah  menolongnya, ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah  satu dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam goa, ketika dia  mengatakan kepada temannya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya  Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan dari-Nya atasnya,  dan Allah mengkokohkaan mereka dengan tentara yang kalian belum  melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu hina. Dan  seruan Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha  Bijaksana.” (At-Taubah: 40)</p>
<p>Maka seorang muslim yang berpegang teguh jika dihinakan manusia dan jika  dimusuhi manusia maka sesungguhnya bersamanya ada penolong yang paling  baik (yaitu Allah Ta’ala). Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>إِن يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika Allah menolong kalian maka tiada yang bisa mengalahkan kalian.”</p>
<p>Mak seorang muslim jika meminta bantuan kepada Allah tidak akan  merugikannya hinaan para penghina dan tidak akan terealisasikan padanya  makarnya pembuat makar. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla mengawasi mereka  semua.</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, yang dituntut adalah agar kita <strong>memperkuat  hubungan kita dengan pencipta kita</strong>, pemelihara kita, dan yang memiliki  perkara kita semua. Kita memperkuat hubungan kita dengan Rabb kita.  Dengan penuh rasa takut mereka diawasi oleh-Nya, takut kepada-Nya,  berharap kepada-Nya, mengejar apa yang ada di sisi-Nya, menjauhi apa  yang menjadi ancaman-Nya Maha Suci Allah dan Maha Tinggi.</p>
<p>Kapan kalbu-kalbu itu dihidupkan dengan dzikir kepada Allah Ta’ala,  penuh dengan pengagungan kepada Allah Ta’ala dan rasa takut kepada Allah  Ta’ala serta merasa di awasi oleh Allah Ta’ala, maka akan mudah bagi  anggota badan untuk melahirkan ucapan dan amalan yang baik, yang shalih.  Hati-hatilah engkau dari kelalaian untuk memperbaiki kalbumu karena  <strong>perbaikan kalbu-kalbu kita ini lebih berat dari pada perbaikan  bendungan, lebih berat dari pembangunan pabrik, lebih berat dari  pembuatan kapal</strong>. Jangan engkau lalai untuk memperbaiki kalbumu. Jika  baik kalbumu maka akan baik keadaanmu, jika lemah kalbumu akan lemah  keadaanmu, dan jika rusak kalbumu akan rusak keadaanmu. Dan jika kalbumu  menjauh dari Allah Ta’ala maka Allah akan menjauh dari hamba. Dan  balasan itu sesuai dengan amalannya.</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya berpegang teguh dengan manhaj  nubuwah benar-benar wujud kelurusan dan hakekat petunjuk, penegak amalan  hamba di atas sebaik-baik perbekalan. Hendaknya semua semangat untuk  berada di atas titian ini, titian di atas manhaj nubuwah. Syaikhul Islam  -rahimahullah- berkata: “Al-haq itu perputar bersama Rasul kemana dia  mengarah, dan bersama para shahabatnya tanpa yang lainnya kemana mereka  mengarah”. Maka merupakan kaidah yang sangat agung yang bertolak darinya  ahlus sunnah dan mereka membangun pegangan teguh mereka di atasnya:  “Bahwa mereka bersama al-haq di manapun berada, berputar bersama mereka  kemanapun mereka mengarah”. Sungguh pemimpin orang terpilih dan  orang-orang terbaik telah mengajarkan pada kita agar kita mengatakan  pada do’a istikharah:</p>
<p><strong>وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ</strong></p>
<p>“Dan taqdirkan bagiku kebaikan di manapun berada, kemudian jadikan aku  ridha padanya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan lainnya.</p>
<p>Lafazh: “Kemudian jadikan aku ridha padanya”, sesorang terkadang  mengetahui al-haq, ditampakkan oleh Allah Ta’ala al-haq padanya tapi dia  enggan menerimanya, jika dia menerimanya tidak bisa jujur dalam  menerimanya dan tidak ikhlas dalam menunaikannya. Tidaklah setiap orang  yang menerima al-haq terus menjadi al-haq.</p>
<p>Maka kita butuh untuk memahami bagaimana bisa berpegang teguh dengan  agama Allah Ta’ala dan menegakkan syari’at Allah Ta’ala, berhenti pada  batasan-batasan Allah Ta’ala. Jika Allah Ta’ala merizkikan kepadamu  sikap berpegang teguh dengan al-kitab dan as-sunnah maka engkau akan  puas tenang dengan keduanya dan engkau tidak akan menginginkan  selainnya, dan tidak menginginkan gantinya. Maka ketahuilah bahwa Allah  Ta’ala telah memuliakan dengan sesuatu yang mencukupkan engkau dari adat  manusia dan pandangan manusia serta aturan manusia. Engkau tidak  membutuhkan sedikitpun apa yang mereka miliki, sesungguhnya kita ini  butuh untuk mempelajari dan mendalami syari’at islam, mengamalkannya dan  medakwahkannya serta membelanya. Kita butuh akan itu semua.</p>
<p>Maka setiap kita hendaknya memuji Allah Ta’ala akan anugerah-Nya dan  akan apa yang dikhususkan dengannya dan dia dimuliakan dengannya. Ingat  dan ingatlah jangan sampai syaithan mendatangi kita dari pintu  kelalaian. Syaithan itu musuh manusia dan makhluk yang paling keras  gangguannya terhadap orang-orang beriman dan terhadap orang yang  berpegang teguh, dan orang yang baik dan shalih. Sesungguhnya gangguan  untuk golongan orang ini sangatlah besar. Allah Ta’ala berfirman  mengabarkan tetntang syaithan,</p>
<p><strong>لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p>“Benar-benar aku akan duduk (merintangi) bagi mereka jalan-Mu yang  lurus.”</p>
<p>Syaithan tidaklah duduk merintangi di jalannya orang-orang yang  menyimpang, dan jalannya orang sesat dan kafir. Hanyalah dia duduk  (melazimi) merintangi jalan kebenaran dan jalan istiqamah. Sebagaimana  yang dikabarkan, siapa yang ingin istiqamah dan memperbaiki hubungan dia  dengan Allah Ta’ala, dan ingin kokoh dalam syari’at Allah Ta’ala  bertindaklah syaithan dengan makrnya dan tipu dayanya, dengan was-wasnya  dan tipuan hiasannya, dengan hinaannya dan manakut-nakuti beserta  pemecah-belahannya. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa salam- telah benar  dalam sabadanya,</p>
<p><strong>إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى  الجَزِيرَةِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk bisa diibadahi orang yang  shalat di jazirah. <strong>Akan tetapi (dia merusak) dengan memecah belah antara  mereka</strong>.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir -radhiyallahu ‘anhu-.</p>
<p>Maka syaithan memecah belah antara orang-orang yang beriman, bahkan  antara orang yang bajik dan shalih. Maka siapa diantara kita yang tidak  waspada dan sadar akan pemecah belahannya syaithan akan menjerumuskannya  dalam pergulatan dan pertarungan terhadap saudaranya sesama muslim  untuk bisa menyingkirkan keduanya. Oleh karena itu, waspadalah dari  datangnya syaithan melalui kelalaian kita. Dan kita semangat sebatas  kemampuan kita melakukan segala perkara sehingga kita bisa membendung  pintunya dan bisa memotong jalannya bi idznillah. Kita semangat untuk  saling menasehati antara kita, karena tujuan perbaikan bukan tujuan yang  lain dari keinginan-keinginan yang menjauhkan keikhlasan dan kejujuran.  Dan juga kita semangat untuk saling menasehati antara kita ketika telah  terjadi perselisihan antara si fulan dan yang lain, dan kita harus  berhias, bersenang-senang dan bernikmat-nikmat dengan sifat sabar demi  terjaganya ukhuwah dalam agama ini, dan demi dakwah kepada Allah Rabb  semesta alam, serta demi tambahnya kebaikan dan saling tolong-menolong  dalam kebaikan.</p>
<p>Rabb kita jalla sya’nuhu menguji dan memberi cobaan pada kita dengan  sebagian kita, agar bisa diketahui adanya kesabaran kita atau tidak  adanya, dan agar diketahui mana yang jujur dalam ta’awun dalam kebaikan  dan ketakwaan dan yang tidak seperti itu. Rabb kita berfirman dan Dia  adalah yang paling benar ucapannya,</p>
<p><strong>وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ  بَصِيرًا</strong></p>
<p>“Dan Kami jadikan sebagian kalian bagi yang lainnya fitnah (ujian),  apakah kalian akan bersabar? Dan adalah Rabbmu itu Maha Melihat.”</p>
<p>Subhanallah, betapa banyak saudara kita yang lalai dari ayat ini. Ketika  timbul dari saudaranya sesuatu dia berusaha bagaimana bisa  menyingkirkannya, bagaimana bisa mengalahkannya, dan bagaimana bisa  memaksakan pendapatnya -kecuali orang yang dirahmati Allah Ta’ala-.</p>
<p>Rabb kita mengajak kita kepada pemberian yang paling luas yang Dia  berikan kepada hamba, memuliakan dengannya hamba. Al-Bukhary dan Muslim  telah meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id bahwa Rasulullah -shallallahu  ‘alaihi wa salam- bersabda,</p>
<p><strong>وَمَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدًا مِنْ عَطَاءٍ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ</strong></p>
<p>“Tidaklah seorangpun diberi pemberian lebih baik daan lebih luas dari  kesabaran.”</p>
<p>Wahai saudara sekalian, aku ingakan kalian akan atsar yang sangat agung,  yaitu atsar yang hasan dari Ibnu Mas’ud dia berkata ditujukan kepada  shahabat di saat itu, pada saat terjadinya sedikit perselisihan:  <strong>“Sesungguhnya apa yang kalian benci selama dalam jama’ah itu lebih baik  dari apa yang kalian cintai dalam perpecahan”.</strong></p>
<p>Maka tetap bersamanya kalian dengan saudaramu ahlus sunnah lebih baik  bagimu, wallahi, meskipun ada sedikit perselisihan, meski terjadi  perselisihan antara engkau dan saudaramu, yang ini keterlaluan dalam  bicara tentangnya atau tentang saudaranya. <strong>Kesabaran, perbaikan dan  nasehat dan yang semisalnya adalah obat, penyembuh</strong>, dan terapinya semua  perkara ini. Maka <strong>janganlah kalian ceburkan diri kalian dalam  perselisihan</strong>, dan jadilah sebagaimana yaang kalian diperintah Allah  ta’ala, merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka, apa yang harus  diperbuat, bagaimana sikapnya bersama ini atau bersama orang-orang yang  terjadi dari mereka ini.</p>
<p>Maka kita memuji Allah Ta’ala bahwa dakwah ahlus sunnah di Yaman  berjalan di atas kebaikan demikian pula di tempat lain. Dikarenakan  orang-orangnya mengikuti arahan para ulama yang mana mereka lebih tahu  akan peristiwa perselisihan, yang mana mereka berusaha untuk  memperbaikinya dan <strong>menutup pintu-pintu fitnah</strong>. Maka merujuk kepada  mereka inilah yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala, dan ialah yaang  dibutuhkan oleh setiap orang yang memikul dakwah di manapun berada, dia  butuh akan hal itu. Maka merujuk kepada ulama hadits ulama sunnah adalah  diantara sebab yang paling besar untuk memperbaiki keadaan, untuk  berlangsungnya kebaikan dan persatuan. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ  أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاء وَاللَّهُ سَمِيعٌ  عَلِيمٌ</strong></p>
<p>“Kalau bukanlah keutamaan Allah atas kalian dan rahmat-Nya tidaklah Dia  akn mensucikan seorang dari kalian selamanya, akan tetapi Allah  mensucikan siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Mendengar lagi Maha  Tahu.”</p>
<p>Dan Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ  وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ  لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ  عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً</strong></p>
<p>“Dan jika datang suatu perkara keamanan atau ketakutan serta merta  mereka menyebarkannya, kalau saja mereka mengembalikannya kepada Rasul  dan ulil amri dari mereka niscaya akan mengetahui orang jeli  memandangnya dari mereka. Dan kalau bukan karena keutamaan Allah atas  kalian niscaya kalian benar-benar mengikuti syaithan kecuali sedikit.”</p>
<p>Kapan kita bisa menjadi pengikut syaithan? Jika kita meninggalkan  merujuk kepada ulama ketika terjadi perselisihan dan fitnah. Maka kami  mewasiatkan kepada saudara kami -hafizhahumullah- dengan kelurusan,  petunjuk dan kesabaran dan mengikuti bimbingan ulama sehingga daerah  perselisihan tidak meluas, sehingga tidak terjadi saling hajr dan  menghizbikan dengan cara yang tergesa-gesa, buru-buru dan tidak tahu  hakekat masalah dengan batasan-batasannya. Maka terjadilah antara dulu  dan sekarang si fulan berbeda dengan si fulan tapi apa itu kelurusan?  Kelurusan adalah bahwa manusia tidak merujuk kepada yang berselisih atau  salah satunya, namun merujuk kepada ulama yang mengetahui perselisihan  ini, yang hidup atau mengetahui perselisihan ini.</p>
<p>Jika sikap merujuk ini terjadi, maka bergembiralah dengan tetapnya  keadaan lurus, dan terus-menerusnya kebaikan, lestarinya ta’awun,  persaudaraan, saling mendukung, dan saling menolong. Dan inilah yang  terjadi -bihamdillah- pada diri kami di Yaman, mereka menempuh jalan  merujuk kepada ulama dan mendengarkan bimbingannya dan apa yang mereka  katakan. Maka kebaikan terjaga dan dakwah ahlus sunnah tetap berlangsung   -bi idznillah-, juga tertolong dengan pertolongan Allah Ta’ala,  terjaga dengan penjagaan Allah Ta’ala sampai hari kiamat. <strong>Entah dakwah  itu akan tertolong dengan kita entah dengan selain kita, entah akan  tersebar dengan sebab kita atau dengan selain kita</strong>. Allah Ta’ala telah  berfirman,</p>
<p><strong>وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا  أَمْثَالَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain  kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”</p>
<p>Barang siapa bukan orang yang berhak mengampu dakwah ini, namun dia  menjadikan dakwah ini untuk meraih kepentingan dunia, maka perbuatan  seperti ini tidak akan langgeng. Karena Allah Ta’ala itu lebih  pencemburu dari pada kita akan agama-Nya, akan dakwah rasul-Nya  -shallallahu ‘alaihi wa salam-. Jika saudar-saudara kita ahlus sunnah  berada di atas bimbingan para ulama, akan tetap ada kebaikan ini,  ukhuwah akan langgeng, dakwah kepada Allah akan kuat.</p>
<p>Yang penting, <strong>dakwah ahlus sunnah akan tertolong dengan kita atau selain  kita</strong>. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا  أَمْثَالَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain  kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”</p>
<p>Sepantasnya bagi kita untuk menjihadi diri-diri kita dengan kejujuran  terhadap Allah, keikhlasan kepada Allah, ridha terhadp al-haq dan  menerimanya. Jika ini terwujudkan akan lestari kebaikan ini biidznillah.  Berusahalah dengan sunguh-sungguh, maka berbekallah dengan ilmu syar’i  dan mengamaalkan konsekuensinya.</p>
<p>Aku memohon kepada Allah dengan anugerah-Nya dan kemurahan-Nya, dengan  keutamaan-Nya dan kebaikan-Nya agar mengkokohkan kita semua di atas  al-haq sampai kita bertemu dengan-Nya. Tiada daya dan upaya kecuali  dengan pertolongan Allah Ta’ala.</p>
<p>Ditranskrip dan diterjemahkan oleh:<br />
‘Umar Al-Indunisy<br />
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman</p>
<p>Sumber: darussalaf.com</p>
<p>Dikutip dengan editing ulang dari:<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this),  &quot;d40cdL4PtKGOP8mFj2SrrVg5NbQ&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/06/15/nasehat-asy-syaikh-muhammad-al-imam-untuk-salafiyin-indonesia/" target="_blank"><span> http://salafiyunpad.wordpr</span><span>ess.com</span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Menakjubkan Tentang Sabar dan Syukur Kepada Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 14:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[WEB USTADZ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc. Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc.</strong></p>
<p>Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama<strong> Abu Qilabah </strong>bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.</p>
<p><span id="more-1775"></span>Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu &#8216;anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, <strong>&#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;</strong>&#8221;</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.</p>
<p>Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, &#8220;Aku mendengar engkau berkata &#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;, maka nikmat manakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut??, dan kelebihan apakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu hingga engkau menysukurinya??&#8221;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8220;Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku?, demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya maka tolonglah engkau mencari kabar tentangya –semoga Allah merahmati engkau-&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau&#8221;.</p>
<p>Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gudukan pasir, tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan di makan oleh binatang buas, akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun. Aku berkata, &#8220;Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??&#8221;.</p>
<p>Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Tatkala aku menemui orang tersbut maka akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?&#8221;, aku berkata, &#8220;Benar&#8221;. Ia berkata, &#8220;Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?&#8221;.</p>
<p>Akupun berkata kepadanya, &#8220;Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihissalam?&#8221;, ia berkata, &#8220;Tentu Nabi Ayyub ‘alaihissalam &#8220;, aku berkata, &#8220;Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?&#8221;, orang itu berkata, &#8220;Tentu aku tahu&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?&#8221;, ia berkata, &#8220;Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikapnya?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?&#8221;, ia berkata, &#8220;Iya&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, lagsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau&#8221;. Orang itu berkata, <strong>&#8220;Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka&#8221;</strong>, kemudian ia berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.  Aku berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[1]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis. Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku &#8220;Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?&#8221;.</p>
<p>Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu  mereka berkata, &#8220;Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!&#8221;, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, &#8220;Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!&#8221;.</p>
<p>Aku bertanya kepada mereka, &#8220;Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?&#8221;, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu &#8216;Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan. Tatkala tiba malam hari akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah</p>
<h5>}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ{ (الرعد:24)</h5>
<p>&#8220;Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.&#8221; (QS. 13:24)</p>
<p>Lalu aku berkata kepadanya, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua&#8221;, ia berkata, &#8220;<strong>Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai</strong>&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>[1] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Sumber: situs pribadi guru kami Ustadz Firanda -<em>hafizhahullah</em>- <a href="http://firanda.com" target="_blank">http://firanda.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Akbar (Sragen)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kajian-akbar-sragen.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kajian-akbar-sragen.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 07:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[sragen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1767</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah..!!! Kajian Akbar Untuk Umum Putra &#38; Putri Tema: MENGAPA AKU BANGGA BERMANHAJ SALAF? Pemateri: Al Ustadz Arifin Ridin, Lc. -hafizhahullah- (Dari Yogyakarta) Insya Allah akan diselenggarakan pada: Hari/ tanggal: Ahad, 23 Mei 2010 Waktu: Pukul 08.00 WIB s.d. Selesai &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kajian-akbar-sragen.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-akbar-sragen.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-akbar-sragen.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Hadirilah..!!!</p>
<p>Kajian Akbar</p>
<p>Untuk Umum Putra &amp; Putri</p>
<p>Tema: <strong>MENGAPA AKU BANGGA BERMANHAJ SALAF?</strong></p>
<p>Pemateri:</p>
<p><strong>Al Ustadz Arifin Ridin, Lc.</strong> -hafizhahullah-</p>
<p>(Dari Yogyakarta)</p>
<p>Insya Allah akan diselenggarakan pada:</p>
<p><span id="more-1767"></span>Hari/ tanggal: <strong>Ahad, 23 Mei 2010</strong></p>
<p>Waktu: <strong>Pukul 08.00 WIB s.d. Selesai</strong></p>
<p>Tempat: Masjid An-Nur, SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen</p>
<p>Jl. Citrosancakan, Gemolong, Sragen</p>
<p>Hadiri pula kajian menarik pada hari sebelumnya bersama beliau  hafizhahullah:</p>
<p>Tema: <strong>MULIA DENGAN AKHLAK SALAF</strong> (Khusus Putra)</p>
<p>Hari/ tanggal: <strong>Sabtu, 22 Mei 2010</strong></p>
<p>Waktu: <strong>Pukul 18.00 s.d. 20.30 WIb</strong></p>
<p>Tempat: Masjid Al Falah, Karangasem, Banaran, Kalijambe, Sragen (  Jl. Sangiran Km 0,5 atau 50 meter timur Kantor Kecamatan Kalijambe)</p>
<p>Informasi: 089 994 994 64 (Abu Zaid)</p>
<p>Penyelenggara:</p>
<p>Forum Kajian Masyarakat (FKM) Gemolong &amp; Kalijambe</p>
<p>Takmir Masjid Al Falah, Karangasem, Banaran, Kalijambe</p>
<p>Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muhammadiyah Kalijambe, Sragen</p>
<p>Didukung oleh:</p>
<p>Radio Suara Quran 94.4 FM</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kajian-akbar-sragen.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

