<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Al-Qur&#8217;an</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/al-quran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Senang Mendengarkan Bacaan al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 07:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2320</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.” Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”. Beliau &#8230; <a href="http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadaku, <em>“Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.”</em> Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, <em>“Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku.”</em> Maka aku pun membacakan surat an-Nisaa&#8217;, ketika sampai pada ayat [yang artinya], <em>“Bagaimanakah jika [pada hari kiamat nanti] Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka.&#8221;</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 41</strong>). Aku angkat kepalaku, atau ada seseorang dari samping yang memegangku sehingga aku pun mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat air mata beliau mengalir (<strong>HR. Bukhari [4582] dan Muslim [800]</strong>)</p>
<p><span id="more-2320"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki rasa senang dan menikmati bacaan al-Qur&#8217;an yang dibacakan oleh orang lain. Oleh sebab itu Imam Bukhari juga mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Orang yang senang mendengarkan al-Qur&#8217;an dari selain dirinya&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/107]). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ada beberapa pelajaran dari hadits Ibnu Mas&#8217;ud ini, di antaranya; anjuran untuk mendengarkan bacaan [al-Qur'an] serta memperhatikannya dengan seksama, menangis ketika mendengarkannya, merenungi kandungannya. Selain itu, hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya meminta orang lain untuk membacanya untuk didengarkan, dalam keadaan seperti ini akan lebih memungkinkan baginya dalam mendalami dan merenungkan isinya daripada apabila dia membacanya sendiri. Hadits ini juga menunjukkan sifat rendah hati seorang ulama dan pemilik kemuliaan meskipun bersama dengan para pengikutnya.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/117])</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri orang soleh adalah bisa menangis ketika mendengar bacaan al-Qur&#8217;an. Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/112]). Lantas, apakah yang mendorong Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menangis ketika mendengar ayat di atas? Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang tampak bagi saya, bahwasanya beliau [Nabi] menangis karena sayangnya kepada umatnya. Sebab beliau mengetahui bahwa kelak beliau pasti menjadi saksi atas amal mereka semua, sedangkan amal-amal mereka bisa jadi tidak lurus (amalan yang tidak baik) sehingga membuat mereka berhak untuk mendapatkan siksaan, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [9/114])</p>
<p>Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an harus dilandasi dengan keikhlasan. Bukan karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan. Oleh sebab itu, Imam Bukhari mengiringi bab tadi [menangis tatkala membaca al-Qur'an] dengan bab &#8216;Dosa orang yang membaca al-Qur&#8217;an untuk mencari pujian (riya&#8217;), mencari makan, atau menyalah gunakannya untuk berbuat jahat/dosa&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/114]).</p>
<p>Dan yang lebih utama lagi adalah menangis tatkala sendirian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang menceritakan 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, yang salah satunya adalah, <em>“Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lantas berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [660] dan Muslim [1031]</strong>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hadits ini menunjukkan keutamaan menangis karena takut kepada Allah ta&#8217;ala dan keutamaan amal ketaatan yang rahasia/tersembunyi karena kesempurnaan ikhlas padanya, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/354])</p>
<p>Satu pelajaran lagi yang mungkin bisa ditambahkan di sini, adalah keutamaan belajar bahasa arab. Karena dengan memahami bahasa arab akan lebih memudahkan dalam menghayati kandungan al-Qur&#8217;an. Oleh sebab itu hendaknya kita lebih bersemangat lagi dalam mempelajari bahasa arab dan mengkaji tafsir al-Qur&#8217;an. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Dari Surat al-Fatihah</title>
		<link>http://abumushlih.com/pelajaran-dari-surat-al-fatihah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pelajaran-dari-surat-al-fatihah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 05:42:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[faedah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2293</guid>
		<description><![CDATA[[1] Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang [2] Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam [3] Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang [4] Yang Menguasai Hari Pembalasan [5] Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pelajaran-dari-surat-al-fatihah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpelajaran-dari-surat-al-fatihah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpelajaran-dari-surat-al-fatihah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>[1] Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>[2] Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam</p>
<p>[3] Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>[4] Yang Menguasai Hari Pembalasan</p>
<p>[5] Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan</p>
<p>[6] Tunjukilah kami jalan yang lurus</p>
<p>[7] Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat</p>
<p><span id="more-2293"></span></p>
<p><strong>Pelajaran:</strong></p>
<p>Di dalam surat ini, Allah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah Maha Pengasih, yang kasih sayangnya amat luas, meliputi siapa saja. Dan Allah Maha Penyayang, yang menyayangi siapa pun yang Dia Kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Allah maha terpuji karena keagungan rububiyah-Nya; Allah sebagai satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.</p>
<p>Allah yang mentarbiyah (memelihara) manusia dengan tarbiyah umum maupun yang khusus. Tarbiyah umum mencakup segala perkara yang menunjang kehidupan umat manusia di atas muka bumi ini, diberikan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya. Adapun tarbiyah khusus berupa bimbingan dan petunjuk menggapai kebaikan dunia dan akherat, yang diberikan kepada hamba-hamba yang beriman dan tunduk kepada-Nya.</p>
<p>Maka Allah berhak untuk mendapatkan sanjungan yang diiringi dengan kecintaan dan pengagungan. Inilah pujian seorang hamba kepada Rabbnya, dia memuji-Nya dengan penuh rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya. Pujian yang tertuju kepada Dzat yang menciptakan dirinya dan melimpahkan segala macam nikmat lahir dan batin kepada segenap makhluk-Nya.</p>
<p>Allah adalah penguasa yang memiliki sifat kasih sayang, bukan penguasa yang kejam dan tidak juga mengabaikan keadilan. Dengan kemurahan dari-Nya, Allah berikan balasan berlipat ganda bagi orang-orang yang beriman dan beramal salih serta mengampuni dosa-dosa mereka, yang pada akhirnya mengantarkan mereka ke dalam surga, yang kenikmatannya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati manusia. Namun, Allah juga maha adil sehingga tidak membiarkan orang-orang yang durhaka dan kufur kepada-Nya tanpa hukuman yang setimpal dengan kezaliman mereka. Maka Allah tetap terpuji bagaimana pun keadaan dan balasan yang diterima oleh seorang hamba. Kalaulah mereka celaka, hal itu bukan karena Allah menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang telah menganiaya diri mereka sendiri.</p>
<p>Sehingga, pada hari kiamat kelak, Allah akan tampakkan kekuasaan-Nya yang mutlak atas seluruh makhluk-Nya. Pada hari itu tiada lagi raja dan penguasa yang bisa tampil menekan dan memaksa manusia dengan kebengisan dan kekejamannya. Pada hari itu Allah lah yang berkuasa, yang akan memberikan balasan atas amal-amal manusia selama hidup di dunia. Apabila mengingat kejadian pada hari itu, niscaya seorang muslim akan bersiap-siap menyambut kedatangannya dengan bekal takwa. Karena hidup di dunia adalah perjalanan yang akan mengantarkan manusia menuju surga atau neraka. Sementara surga Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.</p>
<p>Barangsiapa yang ingin selamat di akherat maka dia wajib menempuh sebab-sebabnya, yaitu dengan bertakwa kepada-Nya. Ketakwaan yang ditegakkan di atas nilai-nilai tauhid. Yaitu penghambaan secara total kepada Rabb alam semesta dengan menujukan segala bentuk ibadah kepada-Nya, dan tidak memalingkan ibadah sekecil apapun kepada selain-Nya. Inilah tujuan diciptakan jin dan manusia, agar mereka tunduk beribadah kepada-Nya, dengan penuh rasa cinta, harap dan takut kepada-Nya.</p>
<p>Kepada Allah lah seorang hamba mengharap bantuan dan pertolongan karena di tangan-Nya lah kerajaan langit dan bumi dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan guna menguji manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya; yaitu orang-orang yang ikhlas dan setia dengan ajaran Nabi-Nya. Inilah ruh agama Islam, mempersembahkan segala bentuk ibadah dan ketaatan untuk Allah semata, bukan untuk selain-Nya. Sehingga seorang hamba tidak perlu mencari-cari pujian dan kedudukan di mata manusia dengan ibadahnya. Dan juga seorang hamba akan senantiasa menyadari bahwa kekuatan yang dia dapatkan untuk melakukan itu semua semata-mata berasal dari anugerah Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada dirinya, sehingga dia pun tidak merasa ujub dengan amalnya. Maka tidak ada lagi tempat menggantungkan hati selain kepada-Nya. Hanya Allah yang pantas untuk disembah dan dipuja-puja. Adapun selain Allah adalah makhluk yang senantiasa membutuhkan-Nya. Sementara Allah sama sekali tidak membutuhkan apa-apa dari seluruh makhluk-Nya.</p>
<p>Oleh sebab itu, seorang hamba yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan semestinya senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan kepada-Nya. Petunjuk berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang salih. Bimbingan mengenal agama Islam dan mendalami ajaran-ajarannya. Sehingga seorang hamba akan bisa mengenali kebenaran dan melaksanakannya. Petunjuk itulah yang lebih dia butuhkan daripada sekedar makanan dan minuman, air maupun udara. Karena tanpa petunjuk ini seorang hamba akan kebingungan dalam menjalani hidupnya. Hidup dalam ketidakpastian, hidup tanpa tujuan, hidup bagaikan binatang, hidup yang penuh dengan kegelapan dan ketidakjelasan.</p>
<p>Karena hidup di dunia membutuhkan kesabaran; sabar dalam menjalankan ibadah, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menghindarkan diri dari maksiat. Kalau tanpa petunjuk dan bimbingan Allah niscaya manusia akan celaka. Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kita beragama Islam dan melunakkan hati kita untuk melaksanakan ajaran-ajarannya dengan penuh kepasrahan dan tanpa penolakan. Hanya dengan meniti jalan yang lurus inilah manusia akan selamat dunia dan akherat. Dengan senantiasa mentauhidkan-Nya dan patuh kepada rasul-Nya. Siapa saja yang taat kepada Allah dan rasul-Nya niscaya dia akan mendapatkan keberuntungan yang amat besar di sisi-Nya. Jalan yang lurus itu adalah jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih. Jalan Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>.</p>
<p>Inilah jalan yang akan mengantarkan menuju surga-Nya. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dari kalangan Yahudi dan semacamnya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat dari kalangan Nasrani dan semacamnya. Jalan yang lurus adalah jalan Islam. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberi kenikmatan hidayah dari Allah karena ketulusan hati mereka dalam mengabdi kepada-Nya dan mencari kebenaran. Allah sudah terangkan jalan itu kepada manusia, akan tetapi tidak semua manusia mau mengikutinya. Allah utus para rasul untuk mengajak mereka menyembah-Nya dan menjauhi thaghut (sesembahan selain-Nya). Akan tetapi sebagian mereka enggan, maka pantaslah jika orang-orang seperti mereka ditetapkan tenggelam dalam kesesatan. Tatkala hati mereka berpaling maka Allah pun simpangkan hati mereka. Mereka lebih suka dengan kesesatan daripada mengikuti bimbingan ar-Rahman. Hati mereka keras membatu, atau bahkan lebih keras daripada itu. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan dan penyimpangan, dengan karunia dan kemurahan dari-Nya. Sesungguhnya Allah maha kuasa lagi mampu untuk melakukannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pelajaran-dari-surat-al-fatihah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari, Pengajar Tahfizh!</title>
		<link>http://abumushlih.com/dicari-pengajar-tahfizh.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dicari-pengajar-tahfizh.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 10:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Balikpapan]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Lowongan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Tahfizh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2262</guid>
		<description><![CDATA[Ma&#8217;had Tahfidz Alqur&#8217;an Imam Ats-Tsauri Balikpapan Kalimantan Timur membutuhkan tenaga pengajar untuk menempati posisi sebagai Guru Tahfidz. Memiliki hafalan Al-Quran minimal 10 juz. Lulusan dari pondok pesantren atau lembaga bahasa Arab. Mampu berbahasa Arab, minimal pasif. Diutamakan telah berpengalaman mengajar &#8230; <a href="http://abumushlih.com/dicari-pengajar-tahfizh.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdicari-pengajar-tahfizh.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdicari-pengajar-tahfizh.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ma&#8217;had  Tahfidz Alqur&#8217;an Imam Ats-Tsauri Balikpapan Kalimantan Timur   membutuhkan tenaga pengajar untuk menempati posisi sebagai Guru  Tahfidz.</p>
<p><span id="more-2262"></span></p>
<ul>
<li>Memiliki hafalan Al-Quran minimal 10 juz.</li>
<li>Lulusan dari pondok pesantren atau lembaga bahasa Arab.</li>
<li>Mampu berbahasa Arab, minimal pasif.</li>
<li>Diutamakan telah berpengalaman mengajar minimal 1 tahun.</li>
<li>Diutamakan mampu mengoperasikan komputer minimal MS Office.</li>
<li>Mencintai dunia anak dan pendidikan.</li>
<li>Bermanhaj salaf.</li>
<li>Bersedia tinggal di rumah tahfidz.</li>
<li>Belum menikah / Menikah.</li>
<li>Jenis kelamin laki-laki.</li>
</ul>
<p>Tulis lamaran lengkap dengan melampirkan:</p>
<ul>
<li>Daftar riwayat hidup (Curriculum Vitae)</li>
<li>Fotocopy ijazah terakhir</li>
<li>Fotocopy transkrip nilai</li>
<li>Fotocopy KTP</li>
<li>Fotocopy dokumen lainnya yang mendukung dan relevan dengan dunia pendidikan.</li>
</ul>
<p>Lamaran dapat ditujukan ke:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Rumah Tahfidz Imam Ats-Tsauri</strong></p>
<p><strong>Jln Siaga dalam, Rt.17, No.20, kelurahan damai Balikpapan, Kalimantan Timur.</strong></p>
<p>Atau kirim ke E-Mail :<strong> </strong>imam_atstsauri@yahoo.co.id</p>
<p><strong>No telepon kami yang dapat di hubungi : 082157109760</strong></p>
<p>Mohon   cantumkan telepon/email yang dapat dihubungi untuk mempercepat proses   pemanggilan untuk seleksi serta gaji yang diinginkan.</p>
<p>Bagi pelamar yang memenuhi persyaratan akan dipanggil untuk tahap seleksi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dicari-pengajar-tahfizh.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Kita Sudah Bertaqwa?</title>
		<link>http://abumushlih.com/apakah-kita-sudah-bertaqwa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/apakah-kita-sudah-bertaqwa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 23:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2022</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Dzat yang paling berhak untuk kita takuti dan tempat kita memohon ampunan. Salawat dan keselamatan semoga terus tercurah kepada teladan terbaik, seorang hamba yang telah diampuni dosa-dosanya namun senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada-Nya minimal tujuh puluh &#8230; <a href="http://abumushlih.com/apakah-kita-sudah-bertaqwa.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapakah-kita-sudah-bertaqwa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapakah-kita-sudah-bertaqwa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, Dzat yang paling berhak untuk kita takuti dan tempat kita memohon ampunan. Salawat dan keselamatan semoga terus tercurah kepada teladan terbaik, seorang hamba yang telah diampuni dosa-dosanya namun senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada-Nya minimal tujuh puluh kali setiap harinya, semoga keselamatan juga terlimpah kepada para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2022"></span>Taqwa merupakan sebab keberuntungan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bertaqwalah kalian kepada Allah, mudah-mudahan kalian beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 189 </strong>lihat juga <strong>QS. Ali Imran: 130 </strong>dan <strong>200</strong>). Ini artinya, barangsiapa yang tidak bertaqwa kepada Allah maka dia tidak menempuh jalan yang akan mengantarkan dirinya menuju keberuntungan (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 88).</p>
<p>Hal ini -keberuntungan bagi orang yang bertaqwa- adalah sesuatu yang sangat wajar dan mudah dipahami, karena orang yang bertaqwa akan mendapatkan pertolongan dan pembelaan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang suka berbuat ihsan/kebaikan.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 128</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan senantiasa bersama dengan orang-orang yang bertaqwa.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 194</strong>). Yang dimaksud dengan kebersamaan Allah di sini adalah pertolongan dan pembelaan serta taufik dari-Nya, sebuah kebersamaan yang khusus bagi para rasul dan pengikut setia mereka (lihat <em>Mudzakkirah &#8216;ala al-Aqidah al-Wasithiyah</em> oleh Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>, hal. 38, lihat juga <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 90)</p>
<p>Orang paling faqih/paham agama dalam pandangan ulama salaf adalah orang yang paling bertaqwa. Suatu ketika, Sa&#8217;ad bin Ibrahim <em>rahimahullah</em> ditanya mengenai siapakah orang yang paling faqih di antara penduduk Madinah? Maka beliau menjawab, <em>“Yaitu orang yang paling bertaqwa di antara mereka.”</em> Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayim dalam <em>Miftah Dar as-Sa&#8217;adah</em> (lihat <em>Ta&#8217;liqat Risalah Lathifah</em> oleh Abul Harits at-Ta&#8217;muri, hal. 44). Lalu apakah pengertian taqwa? Thalq bin Habib <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Taqwa adalah kamu mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah disertai rasa takut akan siksaan dari Allah.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/222])</p>
<p>Namun, mewujudkan ketaqwaan tak semudah mengucapkannya. Karena ia membutuhkan ketekunan dan kesabaran serta ketelitian dalam mengoreksi diri dan berjuang untuk memperbaikinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, <em>“Tidaklah seseorang itu bisa menjadi orang yang bertaqwa sampai dia menjadi orang yang sangat perhitungan terhadap dirinya sendiri melebihi ketelitian seorang pengusaha terhadap rekan usahanya, dan juga sampai dia bisa mengetahui darimanakah pakaiannya (halal atau haram), tempat makan dan minumnya.”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim fi Thariq Thalab al-&#8217;Ilm</em>, oleh Syaikh Abdul Aziz as-Sad-han <em>hafizhahullah</em>, hal. 117).</p>
<p>Oleh sebab itu juga, tidak semestinya seorang larut dengan pujian yang dialamatkan orang lain kepada dirinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, <em>“Orang yang berakal adalah yang mengenali jati dirinya sendiri dan tidak tertipu oleh pujian orang-orang yang tidak mengerti seluk-beluk -kekurangan- dirinya.”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim fi Thariq Thalab al-&#8217;Ilm</em>, hal. 118). Perhatikanlah apa yang diucapkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> tatkala mendengar orang-orang memuji-muji dirinya. Beliau justru berdoa, <em>“Ya Allah, sesungguhnya Engkau lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri, dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka, maka ya Allah jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangka, dan jangan Engkau hukum aku gara-gara ucapan mereka, dan dengan rahmat-Mu maka ampunilah keburukan yang tidak mereka ketahui -pada diriku-.”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim fi Thariq Thalab al-&#8217;Ilm</em>, hal. 119).</p>
<p>Salah satu cara untuk mengoreksi diri adalah dengan mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang menimpa orang lain, yaitu dengan mencari tahu sebab-sebab yang mengantarkan mereka terjatuh ke dalam kesalahan tersebut (lihat <em>Ma&#8217;alim fi Thariq Thalab al-&#8217;Ilm</em>, hal. 120). Sehingga, orang yang berbahagia adalah yang bisa memetik pelajaran dari kejadian yang menimpa orang lain, bukan justru dia sendiri yang menjadi bahan pelajaran bagi orang-orang di sekelilingnya akibat kekeliruan yang dilakukannya. Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Sesungguhnya orang yang berbahagia itu adalah yang bisa memetik nasehat dari kejadian yang menimpa orang lain.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 140)</p>
<p>Salah seorang pembesar tabi&#8217;in serta tokoh ahli ibadah bernama Mutharrif bin Abdullah bin asy-Syikhkhir <em>rahimahullah</em> berdoa kepada Allah, <em>“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar jangan sampai ada orang lain yang lebih berbahagia dengan ilmu yang Kau ajarkan kepadaku daripada diriku sendiri, dan aku berlindung kepada-Mu agar jangan sampai aku menjadi bahan pelajaran bagi orang selain diriku.”</em> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengomentari doa ini, <em>“Ini adalah termasuk doa yang paling bagus.”</em> (lihat <em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amalu</em> oleh Syaikh Prof. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr <em>hafizhahullah</em>, hal. 20)</p>
<p>Dari sini, kita bisa mengetahui betapa besar peran <em>muhasabah</em>/introspeksi diri dalam mewujudkan ketaqwaan di dalam diri kita. Tidak mengherankan jika Allah <em>ta&#8217;ala</em> menyebutkan kedua perkara ini secara beriringan untuk mengingatkan kita tentang keterkaitan yang erat antara keduanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang sudah dia persiapkan untuk menyambut hari esok (hari kiamat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap segala amalan yang kalian kerjakan.”</em> (<strong>QS. al-Hasyr: 18</strong>)</p>
<p>Sementara, kita semua tahu bahwasanya pada hari kiamat kelak banyaknya harta dan keturunan tidak akan memberikan manfaat sama sekali, kecuali bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat dari gelapnya syubhat dan kotornya syahwat. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada  hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>). Maka ketaqwaan yang hakiki adalah ketaqwaan yang berakar dari dalam lubuk hati, bukan sekedar ucapan yang indah dan penampilan yang mengagumkan. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ketaqwaan yang hakiki adalah ketaqwaan dari dalam hati bukan semata-mata ketaqwaan dengan anggota badan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 136). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan perintah-perintah Allah, sesungguhnya hal itu lahir dari ketaqwaan di dalam hati.”</em> (<strong>QS. al-Hajj: 32</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak akan sampai kepada Allah daging maupun darahnya (kurban), akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan dari kalian.”</em> (<strong>QS. al-Hajj: 37</strong>).</p>
<p>Pertanyaan paling mendasar bagi kita sekarang adalah, <em>“Apakah kita masih memiliki hati?”</em>. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Carilah hatimu pada tiga tempat; ketika mendengarkan bacaan al-Qur&#8217;an, pada saat berada di majelis-majelis dzikir/ilmu, dan saat-saat bersendirian. Apabila kamu tidak berhasil menemukannya pada tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah untuk mengaruniakan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati -yang hidup- lagi.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 143). <em>Allahul musta&#8217;aan&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/apakah-kita-sudah-bertaqwa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Yang Lurus Itu</title>
		<link>http://abumushlih.com/jalan-yang-lurus-itu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jalan-yang-lurus-itu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 00:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Shirothol Mustaqim]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1964</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus dan mengangkat hamba terkasih-Nya sebagai pemandu menuju-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad sebaik-baik nabi dan utusan, dan juga bagi para sahabat serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jalan-yang-lurus-itu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjalan-yang-lurus-itu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjalan-yang-lurus-itu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus dan mengangkat hamba terkasih-Nya sebagai pemandu menuju-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad sebaik-baik nabi dan utusan, dan juga bagi para sahabat serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-1964"></span></p>
<p>Ayat-ayat al-Qur&#8217;an yang begitu indah dan menakjubkan, memberikan kepada kita gambaran yang jelas mengenai karakter dan hakekat jalan yang lurus. Jalan yang setiap hari kita mohon kepada Allah untuk ditunjuki kepadanya. Jalan yang akan mengantarkan penempuhnya menuju surga dan kebahagiaan, serta melemparkan orang yang melenceng darinya menuju neraka dan kesengsaraan.</p>
<p><strong>Memadukan antara ilmu dan amal</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”</em> (<strong>QS. al-Fatihah: 7</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa hakekat jalan yang lurus itu akan diperoleh dengan cara mengenali kebenaran dan mengamalkannya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 39). Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dengan ucapan anda &#8216;Ihdinash shirathal mustaqim&#8217; itu artinya anda telah meminta kepada Allah ta&#8217;ala ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.”</em> (<em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em>, hal. 12).</p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Maka orang yang diberi nikmat atas mereka yaitu orang yang berilmu sekaligus beramal. Adapun orang-orang yang dimurkai yaitu orang-orang yang berilmu namun tidak beramal. Sedangkan orang-orang yang tersesat ialah orang-orang yang beramal tanpa landasan ilmu.”</em> (<em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amalu</em>, hal. 14). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa penyebab orang terjerumus dalam kesesatan ialah rusaknya ilmu dan keyakinan. Sedangkan penyebab orang terjerumus dalam kemurkaan ialah rusaknya niat dan amalan (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 21)</p>
<p><strong>Memadukan antara tauhid dan ketaatan </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman memberitakan ucapan Nabi &#8216;Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> (yang artinya), <em>“Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatilah aku. Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 50-51, </strong>lihat juga<strong> QS. Az-Zukhruf: 63-64</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Inilah, yaitu penyembahan kepada Allah, ketakwaan kepada-Nya, serta ketaatan kepada rasul-Nya merupakan &#8216;jalan lurus&#8217; yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya, adapun yang selain jalan itu maka itu adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke neraka.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 132). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“&#8230;Sesungguhnya kebenaran itu hanya satu, yaitu jalan Allah yang lurus, tiada jalan yang mengantarkan kepada-Nya selain jalan itu. Yaitu beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun, dengan cara menjalankan syari&#8217;at yang ditetapkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bukan dengan [landasan] hawa nafsu maupun bid&#8217;ah-bid&#8217;ah&#8230;”</em> (<em>at-Tafsir al-Qayyim</em>, hal. 116-117)</p>
<p>Dalam surat Maryam, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga memberitakan ucapan Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> tersebut (yang artinya), <em>“Dan sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”</em> (<strong>QS. Maryam: 36</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa makna <em>&#8216;sembahlah Dia&#8217;</em> adalah: ikhlaskan ibadah kepada-Nya, bersungguh-sungguhlah dalam <em>inabah</em> (taubat dan semakin taat) kepada-Nya. Di dalam ungkapan <em>&#8216;Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian maka sembahlah Dia&#8217;</em> terkandung penetapan <em>tauhid rububiyah</em> dan <em>tauhid uluhiyah</em>, serta berargumentasi dengan tauhid yang pertama (rububiyah) untuk mewajibkan tauhid yang kedua (uluhiyah) (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 493)</p>
<p>Bahkan, Allah sendiri telah menegaskan bahwa tauhid dan ketaatan kepada-Nya inilah jalan yang lurus itu, bukan penyembahan dan ketaatan kepada syaitan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bukankah Aku telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam; Janganlah kalian menyembah syaitan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”</em> (<strong>QS. Yasin: 60-61</strong>). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa yang dimaksud &#8216;mentaati syaitan&#8217; itu mencakup segala bentuk kekafiran dan kemaksiatan. Adapun jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allah, taat kepada-Nya, dan mendurhakai syaitan (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 698)</p>
<p>Perlu diingat, bahwa ketaatan kepada Rasul pada hakekatnya merupakan ketaatan kepada Allah, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul itu, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 80</strong>). Ayat ini menunjukkan bahwa semua orang yang taat kepada Rasulullah dalam hal perintah dan larangannya sesungguhnya telah taat kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Karena rasul tidaklah memerintah dan melarang kecuali dengan perintah dari Allah, dengan syari&#8217;at dan wahyu dari-Nya. Sehingga hal ini menunjukkan <em>&#8216;ishmah</em>/keterpeliharaan diri Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena Allah memerintahkan taat kepada beliau secara mutlak (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 189)</p>
<p><strong>Kata Kunci</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada empat kata kunci agar seorang hamba bisa berjalan di atas jalan yang lurus, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Ilmu</strong>,      karena dengan ilmu ini maka dia akan bisa membedakan mana yang benar dan      mana yang salah, mana tauhid mana syirik, mana sunnah mana bid&#8217;ah, mana      taat mana maksiat, dst.</li>
<li><strong>Amal</strong>,      karena dengan mengamalkan ilmunya dia akan terbebas dari kemurkaan Allah,      bahkan dia akan mendapatkan tambahan petunjuk karenanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang mengikuti petunjuk itu,      maka Allah akan menambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah berikan      kepada mereka ketakwaan mereka.”</em> (<strong>QS. Muhammad: 17</strong>). Di dalam      ayat yang mulia ini Allah menjanjikan dua balasan bagi orang yang      mengikuti petunjuk (baca: mengamalkan ilmunya), yaitu: ilmu yang      bermanfaat dan amal yang saleh (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>,      hal. 787)</li>
<li><strong>Tauhid</strong>,      karena dengan memahami dan melaksanakan tauhid maka seorang hamba telah mewujudkan      tujuan hidupnya dan berada di atas jalan yang akan mengantarkannya ke      surga, jika dia istiqomah di atasnya hingga ajal tiba.</li>
<li><strong>Taat</strong>,      karena dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan berarti dia telah      menunjukkan penghambaannya kepada Allah dan kepatuhannya kepada      Rasulullah, sehingga dia akan mendapatkan keberuntungan -di dunia maupun      di akherat- sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya      yang taat kepada-Nya. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jalan-yang-lurus-itu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaminan Dari Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 15:17:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1948</guid>
		<description><![CDATA[Bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya sangat banyak. Di antaranya adalah berupa jaminan dari-Nya bagi siapa saja yang mau benar-benar mengikuti petunjuk-Nya bahwa mereka tidak akan sesat dan tidak pula celaka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjaminan-dari-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjaminan-dari-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya sangat banyak. Di antaranya adalah berupa jaminan dari-Nya bagi siapa saja yang mau benar-benar mengikuti petunjuk-Nya bahwa mereka tidak akan sesat dan tidak pula celaka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.”</em> (<strong>QS. Thaha: 123</strong>)</p>
<p><span id="more-1948"></span></p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.”</em> Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat <em>Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah </em>karya<em> </em>Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).</p>
<p>Lalu apa yang dimaksud dengan mengikuti petunjuk Allah? Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah: [1] Membenarkan berita yang datang dari-Nya, [2] Tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman, [3] Mematuhi perintah, [4] Tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 515)</p>
<p><strong>[1] Membenarkan berita</strong></p>
<p>Demikianlah sikap seorang mukmin. Karena dia meyakini bahwa apa yang dikatakan oleh Allah adalah kebenaran di atas kebenaran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah mengatakan yang benar dan Dia juga menunjukkan jalan -yang benar-.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 4</strong>). Maka seluruh ucapan Allah dan syari&#8217;at yang ditetapkan-Nya adalah kebenaran. Adapun ucapan dan perbuatan yang batil sama sekali tidak layak disandarkan kepada-Nya dari sisi mana pun. Ucapan dan perbuatan yang batil -dengan segala bentuknya- bukan termasuk petunjuk-Nya. Karena Allah tidak akan menunjukkan kecuali kepada jalan yang lurus (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 658)</p>
<p>Termasuk di dalam hal ini adalah membenarkan sabda-sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya, akan tetapi itu merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya.”</em> (<strong>QS. an-Najm: 3-4</strong>). Apa yang disampaikan oleh Nabi merupakan penjelas bagi ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kami turunkan kepadamu adz-Dzikra (al-Qur&#8217;an) supaya kamu menjelaskannya kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka itu, dan mudah-mudahan mereka berpikir.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 44</strong>). Oleh sebab itu terdapat ucapan yang masyhur dari Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, <em>“Barangsiapa menolak hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka dia berada di tepi jurang kehancuran.” </em>Imam asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya Sunnah/hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya gara-gara mengikuti pendapat seseorang.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[2] Menepis syubhat</strong></p>
<p>Syubhat adalah kesamaran-kesamaran yang dibuat oleh musuh-musuh agama dalam rangka mengelabui manusia dari jalan yang lurus. Sehingga kebenaran tampak sebagai kebatilan, dan sebaliknya kebatilan tampak sebagai kebenaran. Timbulnya pembangkangan terhadap ketetapan Allah dan penolakan terhadap berita yang datang dari-Nya muncul dari pintu ini selain dari pintu syahwat. Padahal, kita semua tahu bahwasanya keberuntungan dan kebahagiaan hanya akan dicapai dengan taat dan tunduk kepada Allah dan rasul-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 71</strong>). Allah<em> ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak pantas bagi lelaki dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka, barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu berhati-hati dalam mengambil ilmu adalah jalan untuk menyelamatkan diri dari terpaan syubhat. Ibnu Sirin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah  dari siapa kalian mengambil agama kalian.” </em>Kemudian juga dengan bertanya kepada para ulama mengenai permasalahan yang tidak dipahami. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 43</strong>). Dengan senantiasa merujuk kepada al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah sebagai pemutus perselisihan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir&#8230;”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 59</strong>). Dan juga selalu berusaha mengikuti metode pemahaman salafus shalih. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 100</strong>). Imam al-Auza&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wajib bagimu untuk mengikuti jejak para salaf/pendahulu, meskipun orang-orang menolak dirimu. Dan jauhilah pendapat akal-akal manusia, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[3] Mematuhi perintah</strong></p>
<p>Menyimpang dari perintah rasul adalah kehancuran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 80</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyimpang dari perintah rasul itu, karena mereka akan ditimpa dengan fitnah/malapetaka atau siksaan yang sangat pedih.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 63</strong>). Memang terkadang apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya terasa berat atau tidak disukai oleh hawa nafsu manusia. Ini merupakan ujian dari Allah untuk menampakkan siapakah di antara hamba-Nya yang mendahulukan ketaatan kepada-Nya daripada keinginan hawa nafsunya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu jelek bagi kalian. Allah yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 216</strong>).</p>
<p><strong>[4] Menundukkan hawa nafsu</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman menukil ucapan Nabi Yusuf<em> &#8216;alaihis salam</em> (yang artinya), <em>“Sesungguhnya hawa nafsu itu sangat mengajak kepada keburukan kecuali yang dirahmati oleh Rabbku.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 53</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Adapun barangsiapa yang merasa takut terhadap kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari memperturutkan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal untuknya.”</em> (<strong>QS. an-Nazi&#8217;at: 40-41</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang mujahid adalah orang yang berjuang menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi -hawa nafsu- dan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan -bagi nafsu-.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>).</p>
<p>Keempat hal di atas telah tercakup dalam ucapan Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, <em>“Orang yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.”</em> Inilah bukti kedalaman ilmu salafus shalih. Semoga Allah membimbing kita untuk mengikuti jejak mereka. <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Bersama Salafus Shalih (Kajian Umum)</title>
		<link>http://abumushlih.com/ramadhan-bersama-salafus-shalih-kajian-umum.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ramadhan-bersama-salafus-shalih-kajian-umum.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 01:35:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pogung]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1935</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah Rangkaian Kajian Tematik Ramadhan &#8220;RAMADHAN BERSAMA PARA SALAF&#8221; Setiap Sabtu dan Ahad 14 &#8211; 22 Agustus 2010 Pukul 08.30 &#8211; 11.00 WIB Di Masjid Al-Ashri, Pogungrejo (utara Fak. Teknik UGM) Kajian 1: Sabtu, 14 Agustus 2010 Tema: &#8220;Ramadhan Bersama &#8230; <a href="http://abumushlih.com/ramadhan-bersama-salafus-shalih-kajian-umum.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Framadhan-bersama-salafus-shalih-kajian-umum.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Framadhan-bersama-salafus-shalih-kajian-umum.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Hadirilah Rangkaian Kajian Tematik Ramadhan</p>
<p><strong>&#8220;RAMADHAN BERSAMA PARA SALAF&#8221;</strong></p>
<p><span id="more-1935"></span><br />
<strong>Setiap Sabtu dan Ahad<br />
14 &#8211; 22 Agustus 2010<br />
Pukul 08.30 &#8211; 11.00 WIB<br />
</strong></p>
<p><strong>Di Masjid Al-Ashri, Pogungrejo (utara Fak. Teknik UGM)</strong></p>
<p><strong>Kajian 1:<br />
Sabtu, 14 Agustus 2010</strong><br />
Tema: &#8220;Ramadhan Bersama Salafus Shalih&#8221;<br />
Pemateri: Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.</p>
<p><strong>Kajian 2:<br />
Ahad, 15 Agustus 2010</strong><br />
Tema: &#8220;Qiyamul Lail Bersama Salafus Shalih&#8221;<br />
Pemateri: Ustadz Afifi Abdul Wadud</p>
<p><strong>Kajian 3:<br />
Sabtu, 21 Agustus 2010</strong><br />
Tema: &#8220;Berinteraksi dengan Al-Qur&#8217;an Bersama Salafus Shalih&#8221;<br />
Pemateri: Ustadz Abu Ali Noor Akhmad Setiawan, Ph.D.</p>
<p><strong>Kajian 4:<br />
Ahad, 22 Agustus 2010</strong><br />
Tema: &#8220;Berburu Lailatul Qadr&#8221;<br />
Pemateri: Ustadz Arifin Ridin, Lc.</p>
<p>Informasi:<br />
<strong>0813.2426.1341 (Faisal)</strong></p>
<p>Penyelenggara:<br />
<strong>Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta</strong></p>
<p>Selengkapnya:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;2e6f8&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://infokajian.com/kajian-umum/kajian-umum-ramadhan-bersama-para-salaf-yogyakarta-14-22-agustus-2010/" target="_blank">http://infokajian.com/kajian-umum/kajian-umum-ramadhan-bersama-para-salaf-yogyakarta-14-22-agustus-2010/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ramadhan-bersama-salafus-shalih-kajian-umum.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian al-Qur’an (1-20 Ramadhan 1431 H)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 02:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Pogung]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1909</guid>
		<description><![CDATA[Menggali Makna Al-Qur’an di Bulan Ramadhan (Seri Kajian Tafsir Masjid Al-Ashri) Panduan: Kitab Durus minal Qur’an Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullah- Kitab Rujukan: Durus Minal Qur’an, Syaikh Shalih Al-Fauzan Peserta tidak diharuskan bisa membaca kitab gundul (tanpa harokat). Pemateri: Ustadz Aris &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-al-qur%25e2%2580%2599an-1-20-ramadhan-1431-h.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-al-qur%25e2%2580%2599an-1-20-ramadhan-1431-h.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>Menggali Makna Al-Qur’an di Bulan Ramadhan</strong></p>
<p><strong>(Seri Kajian Tafsir Masjid Al-Ashri)</strong></p>
<p><span id="more-1909"></span>Panduan: Kitab Durus minal Qur’an Syaikh Shalih Al-Fauzan -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<ul>
<li><img title="القرآن الكريم" src="http://www.islamacademy.net/UserFiles/quran.jpg" alt="" width="113" height="109" />Kitab Rujukan: <strong>Durus Minal Qur’an</strong>, Syaikh Shalih Al-Fauzan</li>
</ul>
<blockquote><p>Peserta tidak diharuskan bisa membaca kitab gundul (tanpa harokat).</p></blockquote>
<ul>
<li>Pemateri: <strong>Ustadz Aris Munandar</strong> (<a href="http://ustadzaris.com/" target="_blank">ustadzaris.com</a>)</li>
</ul>
<ul>
<li>Hari: <strong>1-20 Ramadhan 1431 H</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Waktu: <strong>05.30 – 07.15 WIB</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Tempat: <strong>Masjid Al-Ashri Pogung Rejo, Sinduadi Mlati Sleman, Yogyakarta<br />
</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Informasi: Takmir Masjid Al-Ashri (<a href="http://al-ashree.com/" target="_blank">al-ashree.com</a>)</li>
</ul>
<ul>
<li>Harga Kitab: <strong>Rp 78.000,00</strong> (bagi yang memesan kitab)</li>
</ul>
<ul>
<li>Insya Allah, kajian ini akan disiarkan <em><strong>LIVE</strong></em><em><strong> </strong></em> via <a href="http://radiomuslim.com/" target="_blank"><strong>radiomuslim.com</strong></a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gema Ramadhan 1431 H Masjid Pogung Raya</title>
		<link>http://abumushlih.com/gema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/gema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 13:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Buka Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Intensif]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[Pogung Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1864</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan dengan amal-amal ketaatan maka Takmir Masjid Pogung Raya insya Allah akan mengadakan serangkaian kegiatan spesial di bulan Ramadhan 1431 H. Bahasa Arab Sifat : Khusus putra Materi : Dasar-dasar ilmu nahwu Buku rujukan : Al &#8230; <a href="http://abumushlih.com/gema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan dengan amal-amal ketaatan maka Takmir Masjid Pogung Raya insya Allah akan mengadakan serangkaian kegiatan spesial di bulan Ramadhan 1431 H.</p>
<p><span id="more-1864"></span><strong>Bahasa Arab</strong></p>
<p>Sifat                 : Khusus putra<br />
Materi              : Dasar-dasar ilmu nahwu<br />
Buku rujukan   : Al Muyassar fi ilmin nahwi<br />
Pengajar           : Staf pengajar ma’had MPR<br />
Waktu              : 1 s.d. 20 Ramadhan<br />
Pukul               : 05.30 s.d. 06.30<br />
Biaya               : Rp 20.000,00<br />
Fasilitas            : Buku Panduan<br />
Batas pendaftaran        : Sabtu, 7 Agustus 2010<br />
Briefing                        : Ahad, 8 Agustus 2010 (pukul 16.00 di Masjid Pogung Raya)</p>
<p><strong>Kajian Intensif Ramadhan (KIR)</strong></p>
<p>Sifat                 : Terbuka untuk umum, putra dan putri<br />
Materi              : Tauhid, Tazkiyatun Nufus, Akhlak, Fiqih Puasa, Amalan di Bulan Ramadhan, Tuntunan Hari Raya<br />
Pemateri          : Ustadz Afifi Abdul Wadud, Ustadz Abdussalam Busyro, dll<br />
Waktu              : 1 s.d. 20 Ramadhan<br />
Pukul               : 16.00 s.d. 17.00<br />
Biaya               : Rp 10.000,00<br />
Fasilitas            : CD Kajian, Buku Panduan Ramadhan<br />
Batas pendaftaran        :Ahad, 8 Agustus 2010</p>
<p><strong>Program Bimbingan Membaca Iqro’ dan Al Quran</strong></p>
<p>Sifat                 : Khusus putra, semua umur<br />
Materi              : Iqro dan Al Quran<br />
Pengajar           : Staf pengajar ma’had MPR<br />
Waktu              : 1 s.d. 20 Ramadhan ( jadwal hari sesuai kesepakatan)<br />
Pukul               : Ba’da tarawih<br />
Biaya               : Gratis<br />
Batas pendaftaran        : Sabtu, 7 Agustus 2010<br />
Briefing                        : Ahad, 8 Agustus 2010 (pukul 16.00 di Masjid Pogung Raya)</p>
<p><strong>I’tikaf</strong></p>
<p>Kegiatan           : Tausiyah, Qiyamul lail 1 juz per malam (pukul 01.00 s.d. 03.00)<br />
Waktu              : 21 s.d. 30 Ramadhan<br />
Biaya               : Rp 20.000,00<br />
Fasilitas            : Makan sahur, buka, perpustakaan MPR buka 24 jam<br />
Batas pendaftaran        : Sabtu, 30 Agustus 2010<br />
Briefing                        : Sabtu, 30 Agustus 2010 (pukul 20.30/ba’da tarawih di Masjid Pogung Raya)</p>
<p>Pendaftaran</p>
<p>Tempat pendaftaran:<br />
Putra, Masjid Pogung Raya, Pogung Dalangan<br />
Putri, Toko Ihya’, Karang Bendo (Utara Fakultas Kehutanan UGM)</p>
<p>Via sms, format:<br />
Daftar_Program yang ingin diikuti_Nama_Jenis kelamin_Umur_Alamat<br />
dikirim ke Contact Person (CP Panitia)</p>
<p>CP:<br />
Riki (085643489042),<br />
Asa (0274-9178872)</p>
<p>Penyelenggara:<br />
Panitia Gema Ramadhan 1431 H Masjid Pogung Raya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/gema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjalan Di Tengah Kegelapan</title>
		<link>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 17:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1792</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah orang yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberjalan-di-tengah-kegelapan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberjalan-di-tengah-kegelapan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p>Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 122</strong>)</p>
<p><span id="more-1792"></span></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata mengenai tafsiran ayat ini, <em>“Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.”</em> (<em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 35)</p>
<p>Orang-orang yang beriman, mendapat anugerah bimbingan dari Allah untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir yang jelas-jelas menentang ayat-ayat-Nya dan berpaling dari petunjuk Rabbnya, maka &#8216;pembimbing&#8217; mereka adalah thoghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju gelap gulita. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 257</strong>)</p>
<p>Begitu pula orang-orang munafik, yang sengaja meninggalkan kebenaran dan mencampakkannya, maka Allah <em>ta&#8217;ala</em> membiarkan mereka berjalan di atas kegelapan yang mereka pilih atas kehendak hawa nafsunya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Perumpamaan mereka -orang munafik- seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 17-18</strong>)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Katsir menukil riwayat dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengenai tafsiran dari ayat ini. Beliau berkata, <em>“Ini adalah sifat orang-orang munafik. Dahulu mereka beriman sehingga iman itu menyinari hati mereka sebagaimana api yang menyinari orang-orang yang menyalakan api. Kemudian mereka justru kufur maka Allah pun menghilangkan cahaya yang menyinari mereka dan mencabutnya sebagaimana lenyapnya cahaya dari api tersebut sehingga Allah membiarkan mereka berada dalam kegelapan, tidak dapat melihat.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-Azhim</em> [1/67])</p>
<p>Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur&#8217;an dan cahaya iman. Yang keduanya telah dipadukan oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.”</em> (<strong>QS. asy-Syura: 52</strong>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“&#8230;Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur&#8217;an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.”</em> (<em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 38)</p>
<p>Oleh sebab itu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengaitkan antara kemuliaan dan kejayaan suatu kaum dengan komitmen mereka terhadap ajaran al-Qur&#8217;an. Beliau bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian kaum dengan sebab Kitab ini, dan akan menghinakan sebagian yang lain dengan sebab Kitab ini pula.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Sebagaimana Allah <em>ta&#8217;ala</em> menjadikan iman dan ilmu sebagai sebab pengangkatan derajat sebagian dari hamba-hamba-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat.”</em> (<strong>QS. al-Mujadilah: 11</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga mengaitkan antara kebaikan seseorang dengan kepahamannya terhadap al-Qur&#8217;an dan komitmennya untuk mendakwahkannya. Beliau bersabda, <em>“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dengan bahasa lain, kepahaman terhadap agama itulah yang akan menggiring manusia menuju kesuksesan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka niscaya akan dipahamkan dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Di sisi lain, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga mengaitkan antara kekuatan iman yang ada dalam hati seseorang dengan perhatiannya yang serius terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Anfaal: 2</strong>)</p>
<p>Sementara, kaum Khawarij -meskipun mereka pandai membaca al-Qur&#8217;an- namun dicela oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> -bahkan disebut sebagai <em>Syarrul khalqi wal khaliqah</em>/sejelek-jelek manusia- akibat bacaan mereka tidak diiringi dengan kepahaman hati dan tidak bisa memetik pelajaran yang semestinya dari apa yang mereka baca -sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat/salafus shalih-. Beliau bersabda, <em>“Mereka itu -yaitu Khawarij- pandai membaca al-Qur&#8217;an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> mengutip salah satu penafsiran hadits ini bahwa maksudnya adalah, <em>“&#8230;Maknanya hati mereka tidak memahaminya dan mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang mereka baca&#8230;”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [4/349])</p>
<p>Dari sinilah, kita dapat menarik pelajaran bahwa untuk membebaskan diri dari kegelapan seorang hamba harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu untuk menghidupkan hati yang telah mati dan gersang menjadi hati yang hidup dan subur dengan keimanan. Sementara harapan itu tidak akan terwujud kecuali dengan cara mentadabburi al-Qur&#8217;an dan memahaminya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Betapa indah ucapan al-Imam Nashir as-Sunnah Muhammad bin Idris asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Lum&#8217;at al-I&#8217;tiqad</em>-nya, <em>“Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sesuai dengan keinginan Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang datang dari Rasulullah sesuai dengan keinginan Rasulullah.” </em></p>
<p>Dan<em> </em>hal itu tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali jika dilandaskan pada kepasrahan total terhadap dalil-dalil syari&#8217;at yang disampaikan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sehingga tidak ada jalan keluar dari kegelapan yang meliputi langit kehidupan kita kecuali dengan kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

