<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Aqidah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/aqidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 07:31:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Perbaiki Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 09:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2474</guid>
		<description><![CDATA[Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16) Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p><span id="more-2474"></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari an-Nu&#8217;man bin Basyir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu para da&#8217;i yang menyerukan tauhid adalah da&#8217;i-da&#8217;i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (<strong>HR. Muslim </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 109</strong>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang-cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara di akhirat. Demikian pula syirik, dusta dan riya&#8217; seperti sebatang pohon, yang buah-buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 14)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat -di dalam tanah- sedangkan cabangnya menjulang ke langit.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 24</strong>). Yang dimaksud &#8216;kalimat yang baik&#8217; di dalam ayat ini adalah syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 425)</p>
<p>Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak? Sementara inilah hak Allah Rabb penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul<em> &#8216;alaihimush sholatu was salam</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” </em>(<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162-163</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya; Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(<strong>QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” </em>(<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri.” </em>(<strong>QS. al-Hasyr: 19</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 28</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang paling berbahagia dengan syafa&#8217;atku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah laa ilaha illallaah niscaya dia akan masuk surga.” </em>(<strong>HR. Abu Dawud </strong>dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 17)</p>
<p>Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, <em>“Di mana pun bumi dipijak, maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!”</em>. Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Terbaik Sesudah Nabi</title>
		<link>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 05:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Utsman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2459</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari menuturkan: Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Jami&#8217; bin Abi Rasyid menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Ya&#8217;la menuturkan kepada kami dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: Aku bertanya kepada &#8230; <a href="http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-terbaik-sesudah-nabi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-terbaik-sesudah-nabi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div id="_mcePaste">
<div id="_mcePaste">Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Jami&#8217; bin Abi Rasyid menuturkan kepada kami. Dia berkata:</div>
<div><span id="more-2459"></span></div>
<div>Abu Ya&#8217;la menuturkan kepada kami dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: Aku bertanya kepada bapakku -Ali bin Abi Thalib-, <em>“Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?”</em>. Beliau menjawab,<em> “Abu Bakar.”</em> Lalu aku katakan, <em>“Kemudian siapa?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Kemudian Umar.”</em> Aku khawatir kalau-kalau beliau akan menyebutkan Utsman -setelah itu-, maka aku katakan, <em>“Kemudian anda?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku hanyalah salah seorang lelaki di antara kaum muslimin.” </em>(Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3671] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/37])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Adam bin Abi Iyas menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu&#8217;bah menuturkan kepada kami dari al-A&#8217;masy. Dia berkata: Aku mendengar Dzakwan menuturkan dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri radhiyallahu&#8217;anhu, dia berkata: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tidak akan bisa menandingi infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, tidak pula setengahnya.”</em> Riwayat ini diperkuat oleh riwayat Jarir, Abdullah bin Dawud, dan Muhadhir dari al-A&#8217;masy (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3673] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/38])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Muhammad bin Basyar menuturkan kepadaku. Dia berkata: Yahya menuturkan kepada kami dari Sa&#8217;id dari Qotadah, bahwa Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> pernah menuturkan kepada mereka: Suatu ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman naik di atas gunung Uhud, tiba-tiba gunung itu bergetar (terjadi gempa). Beliau pun bersabda, <em>“Tenanglah wahai Uhud. Sesungguhnya yang di atasmu ini adalah seorang Nabi, seorang yang Shiddiq/jujur, dan dua orang yang akan mati Syahid.”</em> (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3675] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/44])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>al-Humaidi dan Muhammad bin Abdullah menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata: Ibrahim bin Sa&#8217;ad menuturkan kepada kami dari bapaknya, dari Muhammad bin Jubair bin Muth&#8217;im, dari bapaknya, dia berkata: Suatu saat datang seorang perempuan menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka beliau memerintahkannya untuk kembali lagi menemuinya. Perempuan itu berkata, <em>“Bagaimana jika nanti saya datang dan tidak bertemu dengan anda -seolah-olah perempuan itu bermaksud kematiannya-?”</em>. Maka beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila kamu tidak berhasil menemuiku, maka temuilah Abu Bakar.”</em> (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3659] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/22])</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Abu Bakar</title>
		<link>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 22:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2457</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah [Fath al-Bari Juz 7 hal. 15] dengan judul &#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat bab di dalam <em>Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [<em>Fath al-Bari</em> Juz 7 hal. 15] dengan judul <em>&#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” </em>Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturan Imam Bukhari tersebut.</p>
<p><span id="more-2457"></span></p>
<p>Imam Bukhari berkata:</p>
<p><strong>Abdullah bin Muhammad</strong> menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: <strong>Abu &#8216;Amir</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Fulaih</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Salim Abu Nazhar</strong> menuturkan kepadaku dari <strong>Busr bin Sa&#8217;id</strong> dari <strong>Abu Sa&#8217;id al-Khudri</strong> <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkhutbah kepada orang-orang (para sahabat). Beliau mengatakan, <em>“Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”</em></p>
<p>Beliau -Abu Sa&#8217;id- berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Memang, Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.”</em></p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di <em>Kitab</em> <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> (lihat <em>Syarh Nawawi</em> Juz 8 hal. 7-8)</p>
<p>Berikut ini pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas. Kami sarikan dari keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi. Semoga bermanfaat.</p>
<ol>
<li>Hadits      ini mengandung keistimewaan yang sangat jelas pada diri Abu Bakar      ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>yang tidak ditandingi oleh siapapun -di      antara para sahabat-. Hal itu disebabkan beliau berhak mendapat predikat <em>Khalil</em> -kekasih terdekat- bagi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kalaulah      bukan karena faktor penghalang yang disebutkan oleh Nabi di atas (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [7/17 dan 19])</li>
<li>Abu      Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengetahui bahwa seorang hamba yang      diberikan tawaran tersebut adalah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.      Oleh sebab itu beliau pun menangis karena sedih akan berpisah dengannya,      terputusnya wahyu, dan akibat lain yang akan muncul setelahnya (lihat <em>Syarh      Nawawi</em> [8/7])</li>
<li>Hadits      ini menunjukkan bahwa semestinya masjid dijaga agar tidak menjadi seperti      jalan tempat berlalu-lalangnya manusia kecuali dalam kondisi darurat yang      sangat penting (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Para      ulama itu memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat. Setiap orang yang      lebih tinggi pemahamannya maka ia layak untuk disebut sebagai<em> a&#8217;lam</em> (orang yang lebih tahu) (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hadits      ini mengandung motivasi untuk lebih memilih pahala akhirat daripada perkara-perkara      dunia (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hendaknya      seorang berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik      kepadanya dan menyebutkan keutamaannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
</ol>
<p>Saudaraku&#8230; Kita bisa melihat bersama bagaimana zuhudnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap dunia. Kecintaan kepada akhirat dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah jauh lebih beliau utamakan daripada kesenangan dunia.</p>
<p>Kita juga bisa melihat bersama bagaimana kedalaman ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> terhadap hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ilmu itupun terserap dengan cepat ke dalam hatinya dan membuat air matanya meleleh. Beliau sangat menyadari bahwa kehadiran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah para sahabat laksana lentera yang menerangi perjalanan hidup mereka. Nikmat hidayah yang dicurahkan kepada mereka melalui bimbingan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah di atas segala-galanya.</p>
<p>Kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa dakwah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berjalan dengan bantuan dan dukungan para sahabatnya. Beliau -dengan kedudukan beliau yang sangat agung- tidaklah berdakwah sendirian. Terbukti pengakuan beliau terhadap jasa-jasa Abu Bakar yang sangat besar kepadanya. Tentu saja yang beliau maksud bukan semata-mata bantuan Abu Bakar untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi demi kemaslahatan umat yang itu tak lain adalah dalam rangka dakwah dan berjihad di jalan Allah.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan Abu Bakar di mata Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang melebihi sahabat-sahabat yang lain. Sehingga sangat keliru pemahaman sekte Syi&#8217;ah yang menjelek-jelekkan bahkan sampai mengkafirkan beliau.</p>
<p>Hadits ini pun menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap para sahabatnya. Bagaimana beliau dengan tanpa malu-malu mengakui keutamaan Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Padahal, kedudukan Abu Bakar tentu saja berada di bawah kedudukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Meskipun demikian, beliau menyebutkan jasanya dan menyanjungnya di hadapan para sahabat yang lain.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa memuji orang di hadapannya diperbolehkan selama orang tersebut tidak dikhawatirkan <em>ujub</em> karenanya. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar dari sisi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap memujinya di hadapannya dan di hadapan para sahabat yang lain. Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa Abu Bakar bukanlah termasuk kategori orang yang dikhawatirkan merasa ujub setelah mendengar pujian tersebut.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecintaan yang terpendam di dalam hati pasti akan membuahkan pengaruh pada gerak-gerik fisik manusia. Kecintaan yang sangat dalam pada diri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap Abu Bakar pun tampak dari ucapan dan perbuatan beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka konsekuensinya kita pun mencintai orang yang beliau cintai. Dan di antara orang yang beliau cintai, bahkan yang paling beliau cintai adalah Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Kecintaan yang berlandaskan Islam dan persaudaraan seagama. Lantas ajaran apakah yang justru mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, kalau bukan ajaran kesesatan?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (5)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 17:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2449</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.” (QS. Yusuf: 108) Dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>)</p>
<p><span id="more-2449"></span></p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika hendak mengutus Mu&#8217;adz ke Yaman bersabda kepadanya, <em>“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum Ahlil Kitab, hendaklah yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallaah.”</em> Dalam riwayat lain disebutkan, <em>“Supaya mereka mentauhidkan Allah.”</em> <em>“Kemudian, apabila mereka mematuhimu untuk itu maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam. Lalu apabila mereka telah mematuhimu untuk itu, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sedekah/zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan untuk orang-orang miskin di antara mereka. Lalu apabila mereka mematuhimu untuk itu, maka jauhilah harta-harta terbaik mereka dan berhati-hatilah dari doanya orang yang terzalimi; karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda pada peperangan Khaibar, <em>“Sungguh besok akan aku berikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan rasul-Nya. Melalui kedua tangannyalah Allah akan berikan kemenangan.”</em> Maka orang-orang pun memperbincangkan hal itu semalaman. Siapakah kira-kira yang akan mendapatkan bendera itu. Di pagi harinya mereka bergegas menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka semua ingin mendapatkan bendera itu. Beliau pun bersabda, <em>“Dimana Ali bin Abi Thalib?”</em>. Ada yang menjawab, <em>“Kedua matanya sedang sakit.”</em> Maka mereka pun mengutus orang untuk menjemputnya. Ketika dia sudah datang maka Nabi pun meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya. Setelah itu dia pun sembuh, seolah-olah sebelumnya dia tidak menderita sakit sama sekali. Kemudian Nabi memberikan bendera itu kepadanya. Beliau berpesan, <em>“Berangkatlah dengan tenang sampai kamu tiba di medan perang mereka. Kemudian ajaklah mereka untuk memeluk Islam. Sampaikan kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah ta&#8217;ala di dalam Islam. Demi Allah, apabila Allah memberikan petunjuk kepada seorang saja dengan perantara dirimu maka itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”</em> Mereka &#8216;memperbincangkan&#8217;, maksudnya &#8216;mendiskusikan&#8217; hal itu.</p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Dakwah -mengajak orang- kepada [agama] Allah merupakan jalan      pengikut Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Peringatan untuk senantiasa memperhatikan keikhlasan; karena      banyak orang yang berdakwah kepada kebenaran, akan tetapi sebenarnya dia      mengajak demi kepentingan dirinya sendiri</li>
<li><em>Bashirah</em>/ilmu -dalam dakwah-      merupakan sesuatu yang wajib dimiliki</li>
<li>Salah satu pertanda keindahan tauhid tatkala tauhid itu menjaga      kesucian Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari segala bentuk celaan</li>
<li>Salah satu bukti keburukan syirik adalah karena ia merupakan      bentuk celaan kepada Allah</li>
<li>Salah satu pelajaran terpenting, bahwa harus menjauhkan orang      muslim dari golongan orang-orang musyrik; agar dia tidak ikut menjadi      bagian dari mereka, meskipun dia tidak sampai berbuat kesyirikan</li>
<li>Tauhid merupakan kewajiban yang paling pertama</li>
<li>Tauhid lebih didahulukan dari segalanya, termasuk sholat      sekalipun</li>
<li>Makna &#8216;supaya mereka mentauhidkan Allah&#8217; sama dengan makna      syahadat laa ilaaha illallaah</li>
<li>Bisa jadi seorang termasuk kalangan orang yang memiliki suatu      kitab suci akan tetapi dia sendiri tidak memahami kitabnya, atau dia      mengetahui ajarannya akan tetapi tidak mengamalkannya</li>
<li>Perlu diperhatikan bahwa hendaknya bertahap dalam melakukan      pengajaran</li>
<li>Memulai sesuatu dengan yang terpenting sebelum yang lain</li>
<li>Sasaran pembagian zakat</li>
<li>Seorang yang berilmu menyingkap kerancuan (syubhat) yang ada      pada pelajar</li>
<li>Larangan memungut zakat dari jenis harta yang terbaik</li>
<li>Hendaknya menjauhi doanya orang yang terzalimi</li>
<li>Berita bahwa doa orang yang terzalimi itu tidak terhalang</li>
<li>Salah satu pertanda -beratnya perjuangan- tauhid adalah      kesusahan, kelaparan, dan musibah yang menimpa pemimpin para rasul dan      wali-wali Allah</li>
<li>Sabda beliau &#8216;Aku akan memberikan bendera ini&#8217; dst merupakan      salah satu tanda kenabian</li>
<li>Beliau meludahi kedua mata Ali, ini juga termasuk      tanda/mukjizat kenabian</li>
<li>Keutamaan Ali <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></li>
<li>Keutamaan para sahabat yang mendiskusikan hal itu semalaman      sampai-sampai mereka hampir tidak peduli dengan berita kemenangan perang</li>
<li>Iman kepada takdir, karena bendera itu diperoleh orang yang      tidak berupaya mendapatkannya sedangkan orang yang berupaya justru tidak      mendapatkannya</li>
<li>Hendaknya menjaga adab, sebagaimana disebutkan dalam hadits <em>&#8216;berangkatlah      dengan tenang&#8217;</em></li>
<li>Dakwah kepada Islam didahulukan sebelum perang</li>
<li>Hal itu [dakwah] disyariatkan bagi kaum yang telah didakwahi      sebelumnya dan diperangi</li>
<li>Berdakwah dengan hikmah, berdasarkan sabda beliau, <em>“Sampaikan      kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan.”</em></li>
<li>Mengetahui hak Allah yang harus ditunaikan di dalam Islam</li>
<li>Pahala -yang besar- bagi orang yang menjadi perantara orang      lain -walaupun hanya satu- sehingga mendapatkan hidayah</li>
<li>Bolehnya bersumpah tatkala berfatwa (bukan karena diminta      bersumpah)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (4)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 17:50:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2447</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Takut Terjerumus Syirik Allah &#8216;azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisaa&#8217;: 116) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-4.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-4.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Takut Terjerumus Syirik</strong></p>
<p>Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 116</strong>)</p>
<p><span id="more-2447"></span></p>
<p><em>al-Khalil</em> (Kekasih Allah, Ibrahim)<em> &#8216;alaihis salam</em> berkata (yang artinya), <em>“(Ya Allah) Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada berhala.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 35</strong>)</p>
<p>Di dalam sebuah hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”</em> Beliau pun ditanya apa maksudnya. Maka beliau menjawab, <em>“Riya&#8217;.”</em></p>
<p>Dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mati dalam keadaan berdoa kepada sesembahan selain Allah maka dia masuk Neraka.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim, dari Jabir, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya niscaya dia masuk Surga. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya niscaya dia akan masuk Neraka.”</em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Takut terjerumus syirik</li>
<li>Riya&#8217; termasuk syirik</li>
<li>Riya&#8217; itu termasuk syirik kecil</li>
<li>Syirik kecil ini sangat dikhawatirkan menimpa orang-orang salih</li>
<li>Dekatnya Surga dan Neraka</li>
<li>Penggabungan kedekatan jarak antara keduanya (Surga dan Neraka)      di dalam hadits yang sama</li>
<li>Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik      maka dia masuk Neraka, meskipun dia adalah orang yang paling rajin      beribadah</li>
<li>Perkara yang sangat agung yaitu permintaan/doa al-Khalil (Nabi      Ibrahim) demi keselamatan dirinya dan anak keturunannya agar terjaga dari      penyembahan kepada berhala</li>
<li>Ibrahim pun mempertimbangkan kondisi kebanyakan orang -yang      bisa mengancam keselamatan dirinya- sebagaimana disebutkan dalam doanya      (yang artinya), <em>“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah      menyesatkan banyak manusia.” </em>(<strong>QS. Ibrahim: 35</strong>)</li>
<li>Di dalamnya terkandung tafsiran laa ilaaha illallaah,      sebagaimana disebutkan oleh Bukhari</li>
<li>Keutamaan orang yang selamat dari syirik</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (3)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 17:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2445</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 120</strong>)</p>
<p><span id="more-2445"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang kepada Rabb mereka, mereka itu tidaklah mempersekutukan.”</em> (<strong>QS. al-Mu&#8217;minun: 59</strong>)</p>
<p>Dari Hushain bin Abdurrahman. Dia berkata: Suatu ketika aku bersama Sa&#8217;id bin Jubair, dia berkata, <em>“Siapakah di antara kalian yang tadi malam melihat ada bintang jatuh?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku.”</em> Lalu aku katakan, <em>“Adapun aku, ketika itu aku bangun bukan karena sedang sholat. Akan tetapi aku tersengat binatang berbisa.”</em> Dia bertanya, <em>“Lalu apa yang kamu lakukan?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku meminta ruqyah.” Dia bertanya, “Apa yang mendasari kamu melakukan hal itu?”</em>. Aku jawab, <em>“Ada sebuah hadits yang disampaikan kepadaku oleh asy-Sya&#8217;bi.”</em> Dia bertanya, <em>“Hadits apa yang dia sampaikan kepada kalian?”</em>. Aku menjawab: Dia menuturkan kepada hadits dari Buraidah bin al-Hushaib, bahwa Nabi bersabda, <em>“Tidak ada ruqyah -yang lebih manjur- daripada untuk mengobati &#8216;ain/mata jahat atau tersengat binatang berbisa.”</em> Dia -Sa&#8217;id bin Jubair- berkata: “Sungguh baik orang yang telah mengikuti dalil yang telah dia dengar. Akan tetapi, Ibnu &#8216;Abbas telah menuturkan hadits kepada kami dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda: “Ditampakkan kepadaku umat-umat. Di sana aku melihat ada seorang nabi bersama dengan sekelompok orang pengikut. Ada pula seorang nabi yang disertai oleh satu atau dua orang. Bahkan, ada nabi yang tidak disertai oleh seorang pengikut pun. Kemudian tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok besar manusia. Aku menyangka bahwa mereka itu adalah umatku. Dikatakan kepadaku, <em>“Ini adalah Musa bersama dengan kaumnya.”</em> Kemudian aku memandang lagi, ternyata ada sekelompok besar manusia. Dikatakan kepadaku, <em>“Inilah umatmu. Bersama dengan mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”</em> Kemudian beliau -Nabi- bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang pun membicarakan hal itu. Sebagian mereka berkata, <em>“Barangkali mereka itu adalah para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> Sebagian lagi mengatakan, <em>“Barangkali mereka itu adalah orang-orang yang dilahirkan di lingkungan Islam dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah sama sekali.”</em> Mereka pun menyebutkan kemungkinan sebab-sebab yang lain. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun keluar menemui mereka. Mereka menyampaikan masalah itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, <em>“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak minta diobati dengan kay/besi panas, tidak beranggapan sial/tathayyur, dan bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” </em>Bangkitlah &#8216;Ukkasyah bin Mihshan, dia berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau menjawab, <em>“Ya, kamu termasuk golongan itu.”</em> Lalu ada seorang lelaki yang bangkit dan berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau pun menjawab, <em>“Kamu sudah didahului oleh &#8216;Ukkasyah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Mengetahui berbagai tingkatan orang dalam bertauhid</li>
<li>Maksud dari merealisasikan tauhid</li>
<li>Pujian Allah kepada Ibrahim sebagai sosok yang tidak termasuk      golongan orang musyrik</li>
<li>Pujian Allah kepada para pemimpin wali-wali Allah yang bersih      dari syirik</li>
<li>Tidak meminta ruqyah dan tidak berobat dengan kay merupakan      bentuk perealisasian tauhid</li>
<li>Karakter utama yang memadukan ciri-ciri tersebut adalah tawakal</li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat, karena mereka mengerti bahwa      kemuliaan itu tidak akan bisa dicapai tanpa amal</li>
<li>Besarnya semangat para sahabat terhadap kebaikan</li>
<li>Keutamaan umat ini dari sisi kuantitas maupun kualitas</li>
<li>Keutamaan para sahabat Musa</li>
<li>Ditampakkannya umat-umat kepada Nabi <em>&#8216;alaihish sholatu was      salam</em></li>
<li>Setiap umat akan dikumpulkan -di hari kiamat- bersama nabinya      masing-masing</li>
<li>Sedikitnya jumlah orang yang menerima dakwah nabi-nabi</li>
<li>Nabi yang tidak memiliki pengikut maka dia akan datang      sendirian pada hari kiamat</li>
<li>Buah ilmu ini, yaitu tidak perlu terpedaya dengan jumlah yang      banyak, dan tidak perlu merasa kecewa akibat jumlah yang sedikit</li>
<li>Keringanan untuk ruqyah dalam rangka penyembuhan &#8216;ain dan      tersengat binatang berbisa</li>
<li>Kedalaman ilmu salaf, hal itu tampak dari ucapannya, <em>“Sungguh      baik orang yang mengikuti dalil yang dia dengar. Akan tetapi demikian&#8230;” </em>Beliau      -Sa&#8217;id bin Jubair- mengetahui bahwa hadits yang pertama tidaklah      bertentangan dengan hadits yang kedua</li>
<li>Jauhnya salaf dari memuji orang dengan sesuatu yang tidak ada      pada dirinya</li>
<li>Dalam<em> </em>sabda beliau, <em>“Kamu termasuk dalam golongan      itu.”</em> merupakan salah satu tanda kenabian</li>
<li>Keutamaan &#8216;Ukkasyah</li>
<li>Penggunaan sindiran</li>
<li>Keluhuran akhlak Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (2)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-2.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-2.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 17:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2442</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Keutamaan Tauhid dan Pengampunan Dosa Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik).” (QS. al-An&#8217;aam: 82) Dari &#8216;Ubadah bin Shamit radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-2.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-2.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-2.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Keutamaan Tauhid dan Pengampunan Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik).”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>)</p>
<p><span id="more-2442"></span></p>
<p>Dari &#8216;Ubadah bin Shamit <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Bersaksi pula bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, serta kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam dan merupakan ruh ciptaan-Nya. Bersaksi bahwa Surga adalah benar, Neraka adalah benar. Barangsiapa yang mempersaksikan itu semua maka Allah akan memasukkan dia ke dalam Surga bagaimana pun keadaan amalnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim pula, dari hadits &#8216;Itban. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah mengharamkan Neraka kepada orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah demi mengharapkan wajah Allah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “Musa <em>&#8216;alaihis salam</em> pernah berkata: <em>“Wahai Rabb-ku! Ajarkan kepadaku sesuatu yang bisa kugunakan untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu.”</em> Allah menjawab: <em>“Katakanlah, wahai Musa: laa ilaaha illallaah.”</em> Musa berkata: <em>“Wahai Rabb-ku! Semua hamba-Mu mengatakan ucapan ini?”</em>. Allah berkata: <em>“Wahai Musa! Seandainya langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya selain Aku, demikian pula bumi yang tujuh diletakkan di atas daun timbangan, kemudian laa ilaaha illallaah di atas daun timbangan yang satu, niscaya yang lebih berat adalah timbangan laa ilaaha illallaah.”</em> (<strong>HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim</strong>. al-Hakim menyatakan hadits ini sahih)</p>
<p>Dalam riwayat Tirmdzi -beliau pun menyatakan hadits ini hasan- dari Anas. Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku, maka Aku akan datang kepada-Mu dengan ampunan sepenuh itu pula.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Betapa luasnya karunia Allah</li>
<li>Pahala/balasan atas tauhid yang sedemikian melimpah di sisi      Allah</li>
<li>Tauhid menyebabkan dosa-dosa terampuni</li>
<li>Tafsiran ayat yang terdapat dalam surat al-An&#8217;aam [82]</li>
<li>Cermatilah dengan baik kelima perkara yang disebutkan dalam      hadits &#8216;Ubadah</li>
<li>Apabila kamu padukan antara hal tersebut [no 5] dengan      kandungan hadits &#8216;Itban dan yang sesudahnya, maka akan jelas bagimu apa      makna laa ilaaha illallaah, dan akan jelas pula bagimu kekeliruan      orang-orang yang <em>maghrur</em>/tertipu</li>
<li>Perhatikan syarat yang dijelaskan di dalam hadits &#8216;Itban</li>
<li>Para Nabi pun butuh untuk diberikan penegasan kembali mengenai      besarnya keutamaan laa ilaaha illallaah</li>
<li>Timbangan laa ilaaha illallaah ini sebenarnya lebih berat      daripada seluruh makhluk, walaupun kebanyakan orang yang mengucapkannya      memiliki timbangan kalimat ini yang ringan</li>
<li>Penegasan bahwa bumi ini tujuh, sebagaimana langit</li>
<li>Langit memiliki penghuni</li>
<li>Penetapan sifat-sifat Allah, berbeda dengan kaum Asy&#8217;ariyah</li>
<li>Apabila kamu memahami kandungan hadits Anas, maka kamu akan      paham maksud sabda Nabi dalam hadits &#8216;Itban: <em>“Sesungguhnya Allah      mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah demi      mengharapkan wajah Allah.”</em> Bahwa yang dimaksud adalah meninggalkan      syirik, jadi tidak cukup hanya dengan ucapan di lisan saja</li>
<li>Perhatikan kesamaan yang ada pada &#8216;Isa dan Muhammad sebagai      hamba Allah dan utusan-Nya</li>
<li>Keistimewaan Isa yang tercipta dengan kalimat Allah</li>
<li>Mengetahui kejadian Isa dari ruh ciptaan-Nya</li>
<li>Mengetahui besarnya keutamaan beriman kepada Surga dan Neraka</li>
<li>Mengetahui maksud dari sabda Nabi <em>“Bagaimana pun keadaan      amalnya.”</em></li>
<li>Mengetahui bahwa timbangan amal itu memiliki dua daun timbangan</li>
<li>Mengetahui bahwa Allah memiliki wajah</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-2.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (1)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 17:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2439</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56) Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-1.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-1.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>)</p>
<p><span id="more-2439"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan: Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb-mu memerintahkan kepadamu: Janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan  sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Marilah akan aku bacakan kepada kalian apa saja yang diharamkan Rabb kalian atas kalian; Janganlah kalian mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 151</strong>)</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud -<em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>- berkata: Barangsiapa yang ingin melihat wasiat yang dicap oleh Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bacalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Katakanlah: Marilah akan aku bacakan kepada kalian apa saja yang diharamkan Rabb kalian atas kalian; Janganlah kalian mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> Sampai firman-Nya, <em>“Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, ikutilah ia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan selainnya.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 151-153</strong>)</p>
<p>Dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Dahulu aku membonceng Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di atas seekor keledai. Beliau bertanya kepadaku, <em>“Wahai Mu&#8217;adz, tahukah kamu apakah hak Allah atas hamba, dan apakah hak hamba atas Allah?”</em>. Aku menjawab, <em>“Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.”</em> Beliau bersabda, <em>“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya. Adapun hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> Aku katakan, <em>“Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya saya menyebarkan kabar gembira ini kepada orang-orang?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Jangan kamu sebarkan kabar gembira ini, karena hal itu akan menyebabkan mereka bersandar (menyepelekan amal).”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Hikmah penciptaan jin dan manusia</li>
<li>Hakikat ibadah adalah tauhid, karena pertikaian antara para      rasul dengan umatnya adalah dalam hal tersebut</li>
<li>Barangsiapa yang tidak melaksanakan tauhid pada hakikatnya dia      belum beribadah kepada Allah. Hal ini semakna dengan firman-Nya (yang      artinya), <em>“Dan kalian tidaklah beribadah kepada apa yang aku ibadahi.”</em> (<strong>QS. al-Kafirun: 3</strong>)</li>
<li>Hikmah diutusnya para rasul</li>
<li>Ajaran para rasul itu mencakup semua umat</li>
<li>Agama para nabi adalah sama (tauhid)</li>
<li>Sebuah perkara yang sangat agung, bahwasanya ibadah kepada      Allah tidak tercapai tanpa mengingkari <em>thaghut</em> (sesembahan selain      Allah). Hal ini semakna dengan firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Barangsiapa      yang ingkar kepada thaghut.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 256</strong>)</li>
<li>Thaghut itu luas, meliputi segala yang disembah selain Allah</li>
<li>Agungnya kedudukan tiga buah ayat yang <em>muhkam</em>/sangat      tegas dan jelas di dalam surat al-An&#8217;aam [151-153] dalam pandangan salaf.      Di dalamnya terkandung sepuluh perkara, yang diawali dengan larangan      berbuat syirik</li>
<li>Ayat-ayat yang muhkam di dalam surat al-Israa&#8217;. Di dalamnya      terdapat delapn belas perkara. Allah memulainya dengan firman-Nya (yang      artinya), <em>“Janganlah kamu jadikan sesembahan lain bersama Allah,      sehingga akan membuatmu berada dalam keadaan dicela dan dihinakan.”</em> (<strong>QS.      al-Israa&#8217;: 22</strong>). Kemudian, Allah menutupnya dengan firman-Nya (yang      artinya), <em>“Janganlah kamu jadikan sesembahan lain bersama Allah,      sehingga hal itu akan menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam Jahannam dalam      keadaan dicela dan dijauhkan (dari rahmat Allah).”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;:      39</strong>). Allah mengingatkan kita tentang keagungan perkara-perkara ini      dengan firman-Nya (yang artinya), <em>“Demikian itulah sebagian hikmah yang      telah diwahyukan Rabb-mu kepadamu.”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;: 39</strong>)</li>
<li>Ayat di dalam surat an-Nisaa&#8217; yang disebut dengan ayat <em>al-Huquq      al-&#8217;Asyrah</em> (sepuluh kewajiban). Allah memulainya dengan firman-Nya      (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan      sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</li>
<li>Peringatan tentang wasiat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em> sebelum wafatnya</li>
<li>Mengetahui apa hak Allah atas kita</li>
<li>Mengetahui apa hak hamba atas-Nya tatkala mereka menunaikan      hak-Nya</li>
<li>Perkara ini -hak hamba atas Allah- tidak diketahui oleh      kebanyakan para sahabat</li>
<li>Diperbolehkan menyembunyikan ilmu demi kemaslahatan</li>
<li>Dianjurkan menyampaikan kabar gembira kepada sesama muslim</li>
<li>Kekhawatiran dari sikap bersandar kepada keluasan rahmat Allah</li>
<li>Seorang yang ditanya memberikan jawaban <em>“Allah dan rasul-Nya      yang lebih mengetahui”</em>, ketika dia tidak mengetahui jawabannya</li>
<li>Boleh mengkhususkan mengajarkan suatu ilmu tertentu kepada      sebagian orang, dan tidak kepada selain mereka</li>
<li>Kerendahan hati Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> karena beliau mau mengendarai keledai dan memboncengkan orang di atasnya</li>
<li>Boleh membonceng di atas hewan tunggangan</li>
<li>Berita ini -yang diterima Mu&#8217;adz- mengandung perkara yang      sangat agung</li>
<li>Keutamaan Mu&#8217;adz bin Jabal</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kau Tolak Bencana Dengan Bencana!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 09:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[Muwahid]]></category>
		<category><![CDATA[Sembelihan]]></category>
		<category><![CDATA[Sesaji]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tolak Bala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2433</guid>
		<description><![CDATA[Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat. Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p><span id="more-2433"></span></p>
<p>Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang berupaya untuk menghindar dan menyelamatkan diri dari bencana. Akan tetapi, yang menjadi masalah -bahkan sumber petaka- adalah ketika sebagian orang justru menolak bencana dengan bencana, bahkan bencana yang lebih dahsyat!</p>
<p><strong>Musibah adalah Takdir Allah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saudaraku, musibah dan bencana merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Sebagai seorang muslim, kita wajib mengimani takdir. Suatu ketika, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya tentang iman, maka di antara jawaban beliau adalah, <em>“Hendaknya kamu beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Iman kepada takdir adalah harga mati, tidak bisa ditawar-tawar. Sahabat Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata tentang orang-orang yang mengingkari takdir di masanya, <em>“Sampaikanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun tidak punya urusan denganku. Demi Allah, yang jiwa Ibnu Umar di tangan-Nya, seandainya mereka punya emas sebesar gunung Uhud kemudian mereka infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir.”</em> (lihat Kitab <em>al-Iman</em>, <em>Shahih Muslim</em>). Ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari takdir bukan termasuk orang beriman.</p>
<p><strong>Berlindunglah Kepada Allah</strong></p>
<p>Seorang hamba yang ingin selamat dari berbagai macam musibah dan bencana hendaknya hanya berlindung dan berdoa kepada Allah. Karena hanya Allah yang menguasai segala urusan di langit dan di bumi. Dia lah yang menguasai segala manfaat dan madharat.</p>
<p><em>Isti&#8217;adzah</em>/meminta perlindungan merupakan salah satu bentuk doa. Sementara doa adalah ibadah; sehingga tidak boleh ia ditujukan kepada selain Allah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Doa itu adalah [intisari] ibadah.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, hasan sahih). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah saja, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</p>
<p>Seorang yang berdoa dan memohon perlindungan kepada selain Allah telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai sesembahan yang diseru selain-Nya (yang artinya), <em>“Sesembahan-sesembahan yang kalian seru selain-Nya sama sekali tidak menguasai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”</em> (<strong>QS. Fathir: 13</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Janganlah kamu menyeru/berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak kuasa memberikan manfaat dan madharat kepadamu. Kalau kamu tetap melakukannya maka kamu benar-benar kamu termasuk orang yang berbuat zalim.”</em> (<strong>QS. Yunus: 106</strong>)</p>
<p><strong>Syirik Kezaliman Terbesar</strong></p>
<p>Menujukan doa dan ibadah kepada selain Allah merupakan kekafiran, kemusyrikan, dan kezaliman. Kekafiran orang yang berdoa kepada selain Allah merupakan ketetapan al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menyeru/berdoa kepada sesembahan lain selain [berdoa] Allah, yang sama sekali tidak ada dalil yang membenarkannya, maka sesungguhnya perhitungannya ada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>).</p>
<p>Berdoa kepada selain Allah pun termasuk kezaliman, bahkan kezaliman yang terbesar. Karena ibadah adalah hak Allah. Barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah berarti dia telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya, dan itulah kezaliman. Hak Allah adalah hak pertama dan paling agung yang harus dipenuhi, sehingga tidak menunaikan hak Allah merupakan kezaliman yang paling besar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. Luqman: 13</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dari sini anda bisa mengetahui bahwa slogan-slogan penegakan keadilan yang kerapkali didengungkan oleh sebagian kalangan namun dengan meminggirkan agenda tauhid dan pemberantasan syirik sesungguhnya merupakan seruan yang tidak adil dan tidak proporsional. Bagaimana mereka begitu geram tatkala melihat kezaliman kepada makhluk, sementara kezaliman terhadap hak Sang Khaliq justru dianggap remeh dan biasa-biasa saja?! Sungguh mengherankan&#8230;</p>
<p><strong>Orang Musyrik Pun Berdoa Kepada Allah</strong></p>
<p>Jangan anda kira bahwa orang-orang musyrik tidak pernah berdoa kepada Allah. Bahkan, mereka berdoa kepada Allah siang dan malam. Hanya saja mereka mempersekutukan Allah di dalam doanya. Mereka berdoa kepada Allah, namun mereka juga berdoa kepada selain Allah. Apalagi dalam kondisi genting dan terjepit, mereka mengikhlaskan doanya untuk Allah semata. Walaupun tatkala Allah selamatkan mereka, mereka pun kembali berbuat syirik.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> menceritakan hal itu dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Maka apabila mereka menaiki perahu -di lautan dan diterpa badai- mereka pun berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/doa kepada-Nya. Namun, tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka pun kembali berbuat syirik.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ankabut: 65</strong>).</p>
<p>Hal ini menunjukkan bagaimana keyakinan orang-orang musyrik di kala itu. Mereka meyakini bahwa dalam keadaan terjepit tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan mereka kecuali Allah. Oleh sebab itu mereka berdoa hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang pada masa sekarang ini yang berdoa, memohon perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah, baik ketika lapang maupun sempit. Aduhai, alangkah bodohnya perbuatan mereka itu&#8230; Melebihi kebodohan orang-orang musyrik masa silam.</p>
<p><strong>Mempersembahkan Sembelihan Adalah Ibadah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tidak boleh mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah, karena hal itu merupakan kemusyrikan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Boleh saja menyembelih untuk selain Allah kalau bukan dalam rangka ritual persembahan. Seperti halnya menyembelih kambing untuk <em>walimah</em>/resepsi, untuk hidangan tamu, untuk makan-makan/pesta dan lain sebagainya. Dalil-dalil tentang hal itu sudah sangat jelas dalam al-Qur&#8217;an maupun as-Sunnah. Adapun sembelihan dalam rangka <em>taqarrub</em>/pendekatan diri kepada Allah sudah ditentukan bentuk-bentuknya, seperti halnya qurban pada hari raya Iedul Adha.</p>
<p>Hukum asal perkara ibadah/ritual adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, pasti akan tetolak.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga memperingatkan, <em>“Waspadalah dari perkara-perkara yang diada-adakan -dalam urusan agama-. Karena setiap yang diada-adakan itu adalah bid&#8217;ah.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Tirmidzi</strong>, Tirmidzi berkata: <em>hasan sahih</em>)</p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa menyembelih binatang -kerbau atau apapun jenisnya- kemudian menanam kepala atau bagian tubuhnya yang lain di tempat tertentu dengan alasan/niat untuk memohon keselamatan kepada Allah jelas termasuk perbuatan yang mengada-ada dan tidak ada tuntunannya. Karena tidak ada satupun dalil yang memerintahkan perbuatan semacam itu, baik di dalam al-Qur&#8217;an maupun di dalam as-Sunnah, tidak pula diamalkan oleh para Sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>. Lantas, ajaran siapakah ini?!</p>
<p>Belum lagi, jika kita telusuri lebih dalam. Ternyata perbuatan semacam ini biasanya dilandasi keyakinan adanya jin atau sosok makhluk gaib tertentu -selain Allah, yang mereka sebut dengan istilah gendruwo, kuntilanak, simbah, dhemit, lelembut, dsb- yang menguasai alam ini -entah itu di laut selatan, gunung tertentu, jembatan yang akan dibangun, sungai tertentu, pohon besar, dsb- yang mereka khawatirkan akan mendatangkan bahaya dan bencana apabila tidak diberikan persembahan (sesaji) kepadanya. Takut kuwalat, takut tertimpa malapetaka, itulah alasan mereka. Kalau seperti ini, jelas syirik hukumnya. Apabila pelakunya meninggal dan belum bertaubat darinya, di akhirat dia kekal tersiksa di dalam neraka, <em>na&#8217;udzu billahi min dzalik</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu.”</em> (<strong>QS. al-Maa&#8217;idah: 72</strong>)</p>
<p>Sebagian orang -<em>semoga Allah menunjuki mereka</em>- mungkin akan berdalih bahwa hal itu mereka lakukan semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur dan demi mengekspresikan rasa syukur. Aduhai, apakah ayat dan hadits akan kita tolak dengan tradisi leluhur? Apakah syukur itu diwujudkan dengan mempersekutukan Allah dan berbuat kekafiran kepada-Nya?</p>
<p><em>“Anda terlalu kaku, kita harus mengenal kearifan lokal dan menghargai budaya nenek moyang.”</em> Sebagian orang bisa jadi berkomentar demikian. Siapakah yang kaku sesungguhnya? Orang yang setia kepada bimbingan al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah ataukah orang yang bersikukuh mempertahankan pendapatnya yang bertentangan dengan agama? Siapkah yang arif? Orang yang mengikuti hawa nafsu dan perasaannya sembari membuang ayat dan hadits, ataukah orang yang menundukkan jiwa dan raganya kepada ajaran agama Allah yang hanif ini? <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberkas Ikhlas</title>
		<link>http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 00:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Nawawi]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Riyadhus Shalihin]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2421</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahir rahmanir rahim Ikhlas, tentu semua orang menginginkannya. Karena dengan ikhlas lah seorang hamba bisa mewujudkan perintah Tuhannya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan untuk-Nya agama dengan hanif/bertauhid&#8230;&#8221; (QS. al-Bayyinah: 5) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseberkas-ikhlas.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseberkas-ikhlas.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillahir rahmanir rahim</p>
<p>Ikhlas, tentu semua orang menginginkannya. Karena dengan ikhlas lah seorang hamba bisa mewujudkan perintah Tuhannya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan untuk-Nya agama dengan hanif/bertauhid&#8230;&#8221;</em> (<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>)</p>
<p><span id="more-2421"></span>Keikhlasan di dalam dada, itulah yang akan sampai kepada-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya, tidak juga darahnya, akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.&#8221;</em> (<strong>QS. al-Hajj: 37</strong>)</p>
<p>Allah mengetahui apakah seorang hamba benar-benar ikhlas dalam mengabdi kepada-Nya, ataukah sebenarnya dia sedang mengejar kepentingan dunia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Katakanlah: Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada kalian atau kalian menampakkannya maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.&#8221;</em> (<strong>QS. Ali Imran: 29</strong>)</p>
<p>Dengan ketiga ayat itulah, Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> memulai kitabnya yang sangat populer, <em>Riyadhus Shalihin</em>. Sebuah kitab yang boleh dikatakan menghiasi perpustakaan-perpustakaan umat Islam di berbagai penjuru negeri. Sebuah karya yang mendapatkan pujian para ulama, yang menjadi pertanda keikhlasan penulisnya&#8230;</p>
<p>Padahal, kalau orang mencermati apa yang beliau lakukan di dalam kitab ini, tidak lebih dari &#8216;sekedar&#8217; mengumpulkan ayat-ayat dan hadits-hadits. Suatu perbuatan yang sangat mudah dilakukan, terlebih lagi di masa kecanggihan teknologi semacam sekarang ini&#8230;</p>
<p>Namun demikianlah&#8230; Tidak kita dapati di masa ini tulisan ulama yang sedemikian tersebar dan dimanfaatkan dengan luas di tengah-tengah manusia -sepengetahuan kami-, selain <em>Riyadhus Shalihin</em>.</p>
<p>Hal ini kembali mengingatkan kita tentang pentingnya ikhlas dalam menghadapi berbagai corak kehidupan dan problematika umat. Betapa sering kita mendengar, membaca, mengucapkan, atau bahkan menulis dan menyampaikan tenang masalah ini, namun sudahkah ikhlas itu terpatri dan menjadi warna kehidupan kita sehari-hari?</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

