<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Bencana</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/bencana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Keagungan Sabar</title>
		<link>http://abumushlih.com/keagungan-sabar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/keagungan-sabar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 00:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1443</guid>
		<description><![CDATA[Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Ibnu ‘Atha’ rahimahullah berkata, “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeagungan-sabar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeagungan-sabar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ibrahim al-Khawwash <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” </em>(<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Ibnu ‘Atha’ <em>rahimahullah</em> berkata,<em> “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan kesabaran.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7])</p>
<p><span id="more-1443"></span>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan, <em>“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), ‘Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka’. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari’at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. …”</em> (<em>I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid</em> [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Macam-Macam Sabar</strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan…”</em> (<em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 279)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.”</em> Beliau juga mengatakan, <em>“Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan. Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama: [1] membenarkan berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] menjauhi larangan-larangan keduanya…”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 105-106)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar merupakan akhlak para rasul</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelummu maka mereka pun bersabar menghadapi tindakan pendustaan tersebut, dan mereka pun disakiti sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.”</em> (QS. al-An’am: 34)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan kebahagiaan hidup</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.”</em> (QS. al-’Ashr: 1-3)</p>
<p>Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran.”</em> (HR. Bukhari secara <em>mu’allaq</em> dengan nada tegas, dimaushulkan oleh Ahmad dalam <em>az-Zuhd</em> dengan sanad sahih, lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/342] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Sabar </strong><strong>penopang</strong><strong> </strong><strong>ke</strong><strong>iman</strong><strong>an</strong></p>
<p>Dari Shuhaib <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” </em>(HR. Muslim [2999] lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [9/241])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar adalah separuh keimanan.”</em> (HR. Abu Nu’aim dalam <em>al-Hilyah</em> dan al-Baihaqi dalam <em>az-Zuhd</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/62] dan [11/342]). Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>nya [31079] dan al-Baihaqi dalam <em>Syu’ab al-Iman</em> [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam <em>Dha’if al-Jami’</em> [3535], lihat <em>Shahih wa Dha’if al-Jami’ as-Shaghir</em> [17/121] software Maktabah asy-Syamilah).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar penepis fitnah</strong></p>
<p>Dari Abu Malik al-Asy’ari <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“…Dan sabar itu adalah cahaya -yang panas-…”</em> (HR. Muslim [223], lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [3/6] cet. Dar Ibn al-Haitsam tahun 2003). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“… Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan bersabar. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan bekal sabar dan keyakinan itulah akan bisa dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat…”</em> (dikutip dari <em>adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir</em> yang disusun oleh Syaikh Ali ash-Shalihi [5/134], lihat juga <em>Ighatsat al-Lahfan</em> hal. 669)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan hidayah bagi hati</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.”</em> (QS. at-Taghabun: 11)</p>
<p>Ibnu Katsir menukil keterangan al-A’masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata, <em>“Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘<strong>Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya</strong>.”</em> Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, <em>“Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”</em> (<em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p><strong>Hikmah dibalik musibah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.”</em> (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat <em>as-Shahihah</em> [1220])</p>
<p>Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberitakan bahwa ada kalanya Allah <em>ta’ala</em> memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah menahan dari memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi dalam <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid</em>, hal. 275)</p>
<p>Setelah kita mengetahui betapa indahnya sabar, maka sekarang pertanyaannya adalah: sudahkah kita mewujudkan nilai-nilai kesabaran ini dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menjadikan sabar sebagai pilar kebahagiaan kita? Sudahkah sabar mewarnai hati, lisan, dan gerak-gerik anggota badan kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/keagungan-sabar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Sabar</title>
		<link>http://abumushlih.com/indahnya-sabar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/indahnya-sabar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 05:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1301</guid>
		<description><![CDATA[Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Ibnu &#8216;Atha&#8217; rahimahullah berkata, “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Findahnya-sabar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Findahnya-sabar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibrahim al-Khawwash <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” </em>(<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Ibnu &#8216;Atha&#8217; <em>rahimahullah</em> berkata,<em> “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan kesabaran.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7])</p>
<p><span id="more-1301"></span>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan, <em>“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta&#8217;ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), &#8216;Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka&#8217;. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari&#8217;at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. &#8230;”</em> (<em>I&#8217;anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid</em> [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Macam-Macam Sabar</strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan&#8230;”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 279)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.”</em> Beliau juga mengatakan, <em>“Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan. Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama: [1] membenarkan berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] menjauhi larangan-larangan keduanya&#8230;”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 105-106)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar merupakan akhlak para rasul</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelummu maka mereka pun bersabar menghadapi tindakan pendustaan tersebut, dan mereka pun disakiti sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 34)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan kebahagiaan hidup</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3)</p>
<p>Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran.”</em> (HR. Bukhari secara <em>mu&#8217;allaq</em> dengan nada tegas, dimaushulkan oleh Ahmad dalam <em>az-Zuhd</em> dengan sanad sahih, lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/342] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Sabar </strong><strong>penopang</strong><strong> </strong><strong>ke</strong><strong>iman</strong><strong>an</strong></p>
<p>Dari Shuhaib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” </em>(HR. Muslim [2999] lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [9/241])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar adalah separuh keimanan.”</em> (HR. Abu Nu&#8217;aim dalam <em>al-Hilyah</em> dan al-Baihaqi dalam <em>az-Zuhd</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/62] dan [11/342]). Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>nya [31079] dan al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;ab al-Iman</em> [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam <em>Dha&#8217;if al-Jami&#8217;</em> [3535], lihat <em>Shahih wa Dha&#8217;if al-Jami&#8217; as-Shaghir</em> [17/121] software Maktabah asy-Syamilah).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar penepis fitnah</strong></p>
<p>Dari Abu Malik al-Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“&#8230;Dan sabar itu adalah cahaya -yang panas-&#8230;”</em> (HR. Muslim [223], lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [3/6] cet. Dar Ibn al-Haitsam tahun 2003). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“&#8230; Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan bersabar. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan bekal sabar dan keyakinan itulah akan bisa dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-&#8217;Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat&#8230;”</em> (dikutip dari <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir &#8216;ala at-Tafsir</em> yang disusun oleh Syaikh Ali ash-Shalihi [5/134], lihat juga <em>Ighatsat al-Lahfan</em> hal. 669)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan hidayah bagi hati</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.”</em> (QS. at-Taghabun: 11)</p>
<p>Ibnu Katsir menukil keterangan al-A&#8217;masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata, <em>“Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini &#8216;barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya&#8217; dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, &#8216;<strong>Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya</strong>.”</em> Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa&#8217;id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, <em>“Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja&#8217; yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p><strong>Hikmah dibalik musibah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.”</em> (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat <em>as-Shahihah</em> [1220])</p>
<p>Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan bahwa ada kalanya Allah <em>ta&#8217;ala</em> memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi dalam <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid</em>, hal. 275)</p>
<p>Setelah kita mengetahui betapa indahnya sabar, maka sekarang pertanyaannya adalah: sudahkah kita mewujudkan nilai-nilai kesabaran ini dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menjadikan sabar sebagai pilar kebahagiaan kita? Sudahkah sabar mewarnai hati, lisan, dan gerak-gerik anggota badan kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/indahnya-sabar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudariku… Sampai Kapan Kau Terlena?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 16:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Aurat]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1122</guid>
		<description><![CDATA[Diterjemahkan dari kitab Ilaa Mataa Al Ghaflah karya Abu Umar Salim al Ajmi’ oleh Nafisah bintu Abi Salim -semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik- Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi termulia, pemuka para rasul. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudariku%25e2%2580%25a6-sampai-kapan-kau-terlena.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudariku%25e2%2580%25a6-sampai-kapan-kau-terlena.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Diterjemahkan dari kitab <em>Ilaa Mataa Al Ghaflah</em> karya Abu Umar Salim al Ajmi’</p>
<p>oleh Nafisah bintu Abi Salim -semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik-</p>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi termulia, pemuka para rasul. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya.</p>
<p><span id="more-1122"></span></p>
<p>Saudariku muslimah…<br />
Ketahuilah, kesulitan yang menimpa umat Islam saat ini merupakan adzab dari Allah. Adzab tersebut tidaklah turun kecuali disebabkan dosa-dosa para hamba, yang dengan itu diharapkan mereka mau bertaubat kepada Rabb mereka dan mau kembali kepada-Nya.</p>
<p>Dalam tulisan ringkas ini kami ingin menjelaskan sebagian sebab yang menyampaikan kita pada apa yang kita alami sekarang ini, agar kita mengoreksi diri dan memperbaiki kesalahan.</p>
<p><strong>Pertama, dosa-dosa dan kemaksiatan</strong><br />
Tidak diragukan lagi bahwa dosa dan kemaksiatan termasuk sebab terbesar yang menyampaikan umat terdahulu pada kebinasaan. Ali radhiyallahu&#8217;anhu berkata: “Tidaklah turun bala (siksaan) kecuali karena dosa, dan bala tersebut tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”</p>
<p>Ketika bala menimpa suatu kaum, tak ada satupun usaha manusia yang mampu menahannya, meski ada orang-orang shalih ada diantara mereka, adzab tetap meliputi. Sebagaimana ucapan Zainab kepada Nabi: “Apakah kita akan dibinasakan sedangkan ada orang-orang shalih diantara kita?” Nabi bersabda: “Ya, apabila telah banyak kejelekan.” (HR. Bukhari no. 7059 dan Muslim no. 2880)</p>
<p>Pada umat ini pun ada orang-orang shalih, akan tetapi banyak pula tersebar kejelekan. Oleh karena itu hendaknya orang-orang yang memiliki akal menjauhi dosa-dosa dan kemaksiatan agar Allah tidak memasukkan dirinya ke dalam adzab-Nya yang pedih dan tidak menghadapkan dirinya kepada kemurkaan Allah.</p>
<p>Berapa banyak penduduk negeri yang berada dalam keamanan dan ketenangan, mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan kemudian Allah membinasakan dan mengubah keadaan mereka. Allah ganti nikmat tersebut dengan kelaparan dan rasa aman dengan ketakutan disebabkan dosa dan kemaksiatan.</p>
<p>Allah berfirman (yang artinya): “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezeki datang kepada mereka melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nahl:112)</p>
<p>Maka perhatikanlah kelembutan sifat Allah dan perhatikan bagaimana Allah mengubah keadaan mereka. Semua itu disebabkan dosa dan kemaksiatan hamba.</p>
<p><strong>Kedua, lemahnya ketakwaan</strong><br />
Ketahuilah wahai Saudariku, semoga Allah merahmatimu.<br />
Lemahnya takwa dalam hati juga merupakan sebab yang mengantarkan kepada kebinasaan dan hilangnya kenikmatan serta berubahnya keadaan yang paling baik menjadi yang paling buruk. Lemahnya takwa termasuk sebab datangnya murka Allah.</p>
<p>Dia yang Maha Suci berfirman (yang artinya): “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka karena perbuatan mereka itu.” (QS. Al A’raf: 96)</p>
<p><strong>Ketiga, merajalelanya kerusakan</strong><br />
Merajalelanya bermacam-macam perbuatan dosa, seperti wanita menampakkan perhiasan (aurat) nya di depan laki-laki yang bukan mahram, bercampur baurnya laki-laki dan wanita yang buka mahram tanpa hijab yang syar’i, banyaknya perzianaan, ditinggalkannya shalat dan zakat, banyaknya riba, homo seks, dan sebagainya termasuk sebab turunnya bala pada umat ini. Ketika perbuatan tersebut dilakukan terang-terangan dalam suatu kaum dan disiarkan sampai merata di kalangan mereka, maka dipastikan akan turun adzab. Allah berfirman dalam surat Ar-Ruum ayat 41 (yang artinya):  “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka mau kembali.”</p>
<p>Bila Allah ingin membinasakan suatu kaum, Allah jadikan orang-orang yang paling jahat diantara mereka bertambah kefasikan dan kerusakkannya kemudian mereka menyebarkan kerusakkan itu dan menyeru manusia untuk melakukannya. Saat itulah turun adzab, sebagaimana firman Allah (yang artinya): “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya mentaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra:16)</p>
<p><strong>Keempat, merasa aman dari makar Allah.</strong><br />
Orang-orang yang shalih selalu tunduk dalam ketaatan, bertaubat, dan khusyu. Hati mereka bergetar karena takut kepada Allah dan khawatir terhadap adzab-Nya yang pedih. Namun sungguh mengherankan, ada orang yang menampakkan kemaksiatan di hadapan Allah secara terang-terangan. Sungguh mengherankan, ia terus-menerus melakukan dosa besar dan kemaksiatan. Tidaklah ia meninggalkan satu dosa kecuali telah melakukan dosa yang lain.</p>
<p>Sungguh mengherankan, wanita yang keluar dalam keadaan tidak berpakaian kecuali hanya sekedar menutup separuh badannnya, kemudian ia pergi ke pasar dan menimbulkan fitnah di hati hamba-hamba Allah. Betapa mengherankan orang yang lalai padahal ia berada dalam pengawasan Allah. Sungguh sangat mengherankan, bagaimana mereka semua merasa aman dari makar Allah!!</p>
<p>Apakah mereka belum pernah mendengar firman Allah (yang artinya):  “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami pada mereka di malam hari saat mereka tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)?. Tidaklah merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf:97-99)</p>
<p>Orang-orang yang merasa aman dari makar Allah adalah orang-orang yang merugi, karena mereka lengah dari adzab Allah hingga adzab itu sampai kepada mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari. Yang demikian itu disebabkan mereka merasa aman dari makar Allah. Mereka terus-menerus dalam kemaksiatan, tidak menyadari kemurkaan Allah hingga terjadilah apa yang terjadi.</p>
<p>Wahai Saudariku muslimah…sepantasnya seorang muslim yang hakiki mengetahui beberapa perkara penting berikut ini:<br />
<em></em></p>
<p><em>Pertama</em>, hendaknya kita berserah diri dan meyakini bahwa Allah tidak akan mendzalimi siapapun sebagaimana firman-Nya (yang artinya):  “Dan sekali-kali Allah tidak mendzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46)</p>
<p>Sebab turunnya adzab kepada manusia adalah akibat ulah mereka sendiri, sebagai buah dari amalan mereka. Allah berfirman (yang artinya):  “Dan musibah apapun yang menimpa kalian adalah disebabkan perbuatan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan itu).”</p>
<p>“Dan Allah tidaklah mendzalimi mereka, akan tetapi diri-diri mereka sendirilah yang dzalim.” (QS. Ali Imran: 117)</p>
<p><em>Kedua</em>, wajib atas setiap muslim mengetahui bahwa ujian itu datangnya dari Allah. Firman Allah (yang artinya):  “Dan Kami akan memberi kalian cobaan dengan kejelekan dan kebaikan sebagai ujian dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiya: 35)</p>
<p>Hendaknya pula ia mengerti bahwa Allah menguji hamba-hamba-Nya agar dapat dibedakan siapa yang betul-betul beriman kepada Allah dan siapa orang-orang munafik, siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Hal ini adalah sunatullah yang berlaku pada umat-umat terdahulu.  Allah berfirman (yang artinya):  “Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 141-142)</p>
<p><em>Ketiga</em>, wajib bagi kita untuk bersabar, mengharap pahala, dan memuji Allah atas segala yang ditakdirkan-Nya. Hendaknya kita tidak mengeluh atas takdir buruk yang menimpa kita. Kesabaran adalah jalan yang paling selamat dan paling mudah untuk mendapatkan kelapangan dari Allah. Dia berfirman (yang artinya):  “Jika kalian bersabar dan bertakwa maka yang demikian itu sungguh merupakan hal yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186)</p>
<p><em>Keempat</em>, marilah kita bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya atas apa yang telah kita lakukan baik itu perbuatan maksiat dan dosa-dosa ataupun kelemahan dalam menjalankan kewajiban. Kita sadari bahwa taubat adalah satu-satunya cara mencapai jalan keselamatan. Akankah kita sambut seruan Allah tatkala berfirman (yang artinya): “Dan bertaubatlah kamu sekalian wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An Nur: 13)</p>
<p>Ataukah kita akan terus berada dalam kemaksiatan dan dosa dengan meninggalkan shalat, memakan riba, dan lainnya?<br />
Akankah para wanita tetap bertabarruj (bersolek dan dipertontonkan di depan laki-laki bukan mahram) dan safar (bepergian) tanpa mahram? Apakah kita ingin menunda taubat dan melupakan firman Allah (yang artinya):  “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Hujurat: 11)</p>
<p>Wahai Saudariku muslimah…<strong>marilah kita bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuha</strong> (yang tulus):<br />
“Wahai Rabb kami, hilangkanlah adzab dari kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beriman kepada-Mu.” (QS. Ad Dukhan: 12)</p>
<p>Mari kita kembali kepada Allah. Semoga Allah meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad.</p>
<p>Dikutip dari <a href="http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=32" target="_blank">www.asysyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musibah, Antara Pahala dan Dosa</title>
		<link>http://abumushlih.com/musibah-antara-pahala-dan-dosa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/musibah-antara-pahala-dan-dosa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 10:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1119</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Salawat dan salam semoga tercurah kepada teladan kaum beriman Muhammad bin Abdullah, dan juga para pengikutnya yang setia kepada ajaran-ajarannya di saat suka maupun duka. Amma ba&#8217;du. Sesungguhnya musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah ta&#8217;ala berfirman, مَا أَصَابَ مِنْ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmusibah-antara-pahala-dan-dosa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmusibah-antara-pahala-dan-dosa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Salawat dan salam semoga tercurah kepada teladan kaum beriman Muhammad bin Abdullah, dan juga para pengikutnya yang setia kepada ajaran-ajarannya di saat suka maupun duka. Amma ba&#8217;du.</p>
<p>Sesungguhnya musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ</p>
<p>“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (QS. at-Taghabun: 11)</p>
<p><span id="more-1119"></span></p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, pent- yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.” Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya (lihat Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p>Beliau -Ibnu Katsir- juga menukil keterangan al-A&#8217;masy yang meriwayatkan dari Abu Dhabyan, dia berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini &#8216;barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya&#8217; dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, &#8216;Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa&#8217;id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja&#8217; yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un.” (lihat Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas berlaku umum untuk semua musibah, baik yang menimpa jiwa/nyawa, harta, anak, orang-orang yang dicintai, dan lain sebagainya. Maka segala musibah yang menimpa hamba adalah dengan ketentuan qadha&#8217; dan qadar Allah. Ilmu Allah telah mendahuluinya, kejadian itu telah dicatat oleh pena takdir-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana dan hikmah/kebijaksanaan Allah memang menuntut terjadinya hal itu. Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah hamba yang tertimpa musibah itu menunaikan kewajiban dirinya ketika berada dalam kondisi semacam ini ataukah dia tidak menunaikannya? Apabila dia menunaikannya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah di dunia dan di akherat. Apabila dia mengimani bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah sehingga dia merasa ridha atasnya dan menyerahkan segala urusannya -kepada Allah, pent- niscaya Allah akan tunjuki hatinya. Dengan sebab itulah ketika musibah datang hatinya akan tetap tenang dan tidak tergoncang seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang tidak mendapat karunia hidayah Allah di dalam hatinya. Dalam keadaan seperti itu Allah karuniakan kepada dirinya -seorang mukmin- keteguhan ketika terjadinya musibah dan mampu menunaikan kewajiban untuk sabar. Dengan sebab itulah dia akan memperoleh pahala di dunia, di sisi lain ada juga balasan yang Allah simpan untuk-Nya dan akan diberikan kepadanya kelak di akherat. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah ta&#8217;ala (yang artinya), “Sesungguhnya hanya akan disempurnakan balasan bagi orang-orang yang sabar itu dengan tanpa batas hitungan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/867], software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p>Beliau melanjutkan, dari sinilah dapat dimengerti bahwa barang siapa yang tidak beriman terhadap takdir Allah ketika terjadinya musibah dan dia meyakini bahwa apa yang terjadi sekedar mengikuti fenomena alam dan sebab-sebab yang tampak niscaya orang semacam itu akan dibiarkan tanpa petunjuk dan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba disandarkan hanya kepada kekuatan dirinya sendiri maka tidak ada yang diperolehnya melainkan keluhan dan penyesalan yang hal itu merupakan hukuman yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum hukuman di akherat akibat telah melalaikan kewajiban bersabar. Di sisi yang lain, ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya setiap orang yang beriman terhadap segala perkara yang diperintahkan untuk diimani, seperti iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir yang baik dan yang buruk, dan melaksanakan konsekuensi keimanan itu dengan menunaikan berbagai kewajiban, maka sesungguhnya hal ini merupakan sebab paling utama untuk mendapatkan petunjuk Allah dalam menyikapi keadaan yang dialaminya sehingga dia bisa berucap dan bertindak dengan benar. Dia akan mendapatkan petunjuk ilmu maupun amalan. Inilah balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka orang-orang beriman itulah orang yang hatinya paling mendapatkan petunjuk di saat-saat berbagai musibah dan bencana menggoncangkan jiwa kebanyakan manusia. Keteguhan itu ditimbulkan dari kokohnya keimanan yang tertanam di dalam jiwa mereka (dengan sedikit peringkasan dari Taisir al-Karim ar-Rahman [1/867], software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat di atas terkandung beberapa pelajaran yang agung, yaitu:</p>
<ol>
<li> Segala musibah yang menimpa itu terjadi dengan qadha&#8217; dan qadar dari Allah ta&#8217;ala</li>
<li> Merasa ridha terhadap takdir tersebut dan bersabar dalam menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai-nilai keimanan, sebab Allah menamakan sabar di sini dengan iman</li>
<li> Kesabaran itu akan membuahkan hidayah menuju kebaikan di dalam hati dan kekuatan iman dan keyakinan (I&#8217;anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/140] software Maktabah asy-Syamilah)</li>
</ol>
<p><strong>Kedudukan Sabar dan Pengertiannya</strong><br />
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu&#8217;anhu mengatakan,</p>
<p style="text-align:right;">الصَّبْرُ مِنَ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ ، فَإِذَا ذَهَبَ الصَّبْرُ ذَهَبَ الإِيمَانُ.</p>
<p>“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [31079] dan al-Baihaqi dalam Syu&#8217;ab al-Iman [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam Dha&#8217;if al-Jami&#8217; [3535], lihat Shahih wa Dha&#8217;if al-Jami&#8217; as-Shaghir [17/121] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p>Walaupun secara sanad atsar ini dinilai lemah, namun secara makna bisa diterima. Hal itu dikarenakan cakupan sabar yang demikian luas dalam agama Islam. Ia mencakup sikap seorang hamba dalam menghadapi berbagai perintah dan larangan serta berbagai keadaan yang dialami manusia di dalam kehidupan, di saat senang maupun susah. Untuk itu, marilah kita cermati pengertian sabar ini agar jelas bagi kita bahwa hidup tanpa kesabaran pada akhirnya akan menyeret manusia dalam jurang kekafiran.</p>
<p>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,</p>
<p style="text-align:right;">الصبر لغة: الحبْس، قال الله تعالى لنبيه: {وَاصْبرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ} أي: احبسها مع هؤلاء. وأما في الشرع فالصبر هو: حبس النفس على طاعة الله سبحانه وتعالى وترك معصيته. وذكر العلماء: أن الصبر له ثلاثة أنواع: صبرٌ على طاعة الله، وصبرٌ عن محارم الله، وصبرٌ على أقدار الله المؤلِمة.</p>
<p>“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta&#8217;ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), &#8216;Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka&#8217;. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari&#8217;at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. Para ulama menyebutkan bahwa sabar itu ada tiga macam: sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah, dan sabar saat menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan.” (I&#8217;anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p><strong>Ketika kesabaran lenyap</strong><br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">اثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ الطَّعْنُ فِى النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ</p>
<p>“Ada dua buah perkara dalam diri manusia yang merupakan bentuk kekafiran. Mencaci maki garis keturunan dan meratapi mayit.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu)</p>
<p>an-Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud hadits ini adalah kedua perbuatan ini tergolong perbuatan orang-orang kafir (Syarh an-Nawawi &#8216;ala Muslim [2/57] software Maktabah asy-Syamilah). Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menerangkan bahwa hadits ini mencakup dua makna. Yang pertama yang dimaksud kufur di sini adalah kufur nikmat -tidak sampai mengeluarkan dari agama, pent- sedangkan yang kedua yang dimaksud adalah keduanya digolongkan sebagai perbuatan orang-orang kafir (Kaysf al-Musykil min Hadits Shahihain [1/1025] software Maktabah asy-Syamilah).</p>
<p>Di antara pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah:</p>
<ol>
<li> Diharamkannya mencaci maka nasab/garis keturunan dan meratapi mayit</li>
<li> Isyarat yang menunjukkan bahwasanya kedua perbuatan ini akan tetap muncul di dalam umat ini</li>
<li> Bisa jadi di dalam diri seseorang terdapat sifat atau ciri kekafiran namun dia tidak bisa dicap sebagai orang kafir -semata-mata karena hal itu-</li>
<li> Islam melarang segala sesuatu yang mengarah kepada perpecahan (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi, hal. 272)</li>
</ol>
<p><strong>Hikmah di balik derita</strong><br />
Tidaklah kita ragukan barang sedikitpun bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, tidak sedikit pun Allah menganiaya hamba-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ</p>
<p>“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, &#8216;Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya&#8217;. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-Baqarah: 155-157)</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَلَيْهِ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (HR. Muslim)</p>
<p>Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memberitakan bahwa ada kalanya Allah ta&#8217;ala memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi dalam al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275)</p>
<p>Di antara pelajaran berharga bagi kehidupan kita dari hadits yang agung ini adalah:</p>
<ol>
<li> Allah memiliki kehendak yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan diri-Nya</li>
<li> Kebaikan dan keburukan semuanya ditakdirkan oleh Allah ta&#8217;ala</li>
<li> Cobaan/musibah yang menimpa orang-orang yang beriman merupakan salah satu tanda kebaikan baginya selama hal itu tidak menyebabkannya meninggalkan kewajiban atau terjatuh dalam perkara yang diharamkan</li>
<li> Semestinya seseorang merasa khawatir atas kenikmatan dan kesehatan yang selama ini senantiasa dia rasakan. Sebab boleh jadi itu adalah istidraj/bentuk penundaan hukuman baginya, sementara dia tahu betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya, wal &#8216;iyadzu billah.</li>
<li> Wajibnya untuk berprasangka baik kepada Allah atas segala perkara dunia yang tidak mengenakkan yang menimpa diri kita</li>
<li> Hadits ini juga menunjukkan bahwa pemberian Allah kepada hamba-Nya tidak selalu mencerminkan bahwa Allah meridhai hal itu untuknya. Seperti contohnya orang yang setiap kali hendak minum khamr kemudian dia selalu mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya, atau bahkan memperolehnya secara gratis. Maka ini semua bukanlah bukti kalau Allah menyukai hal itu untuknya (diambil dari al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275 dengan sedikit tambahan keterangan dan contoh)</li>
</ol>
<p>Inilah uraian ringkas yang bisa kami sajikan dalam tuisan yang sangat sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</p>
<p>Yogyakarta, Sabtu 14 Syawwal 1430 H<br />
Hamba yang mengharapkan ampunan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>http://abu0muhslih.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/musibah-antara-pahala-dan-dosa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman</title>
		<link>http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-akhir-zaman.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-akhir-zaman.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 19:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : Ishaq bin Manshur menuturkan kepada saya. Dia berkata; Abu Dawud at-Thoyalisi mengabarkan kepada saya. Dia berkata; Ibrahim bin Sa&#8217;d menuturkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah -radhiyallahu&#8217;anhu-, dia berkata; Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Akan terjadi fitnah/gempuran cobaan, orang yang tidur di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdahsyatnya-fitnah-akhir-zaman.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdahsyatnya-fitnah-akhir-zaman.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p><span id="more-621"></span>Ishaq bin Manshur menuturkan kepada saya. Dia berkata; Abu Dawud at-Thoyalisi mengabarkan kepada saya. Dia berkata; Ibrahim bin Sa&#8217;d menuturkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah -radhiyallahu&#8217;anhu-, dia berkata; Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Akan terjadi fitnah/gempuran cobaan, orang yang tidur di saat itu lebih baik daripada orang yang terjaga. Orang yang terjaga lebih baik daripada yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada yang berlari. Maka barangsiapa yang mendapatkan tempat kembali atau untuk berlindung hendaknya dia segera mencari perlindungan dengannya.&#8221; (Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dalam Shahihnya di Kitab al-Fitan, bab maa takuunu fitnatul qa&#8217;id fiha khairun minal qaa&#8217;im [hadits no. 7081], diterjemahkan dari Shahih Muslim cet Darul Kutub Ilmiyah, hal. 1105).</p>
<p>Imam Muslim rahimahullah juga meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p>Qutaibah bin Sa&#8217;id menuturkan kepada kami dari Malik bin Anas di dalam riwayat yang dibacakan di hadapannya dari Abu Zinad dari al-A&#8217;raj dari Abu Hurairah -radhiyallahu&#8217;anhu- bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali sampai pada suatu ketika seorang lelaki melewati kuburan seseorang maka dia pun berkata, &#8216;Aduhai alangkah enaknya kalau aku sekarang berada di tempatnya.&#8217;.&#8221; (Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari di dalam Shahihnya di Kitab al-Fitan, bab laa taquumus sa&#8217;ah hatta yughbatha ahlul qubur [hadits no. 7115], diterjemahkan dari Shahih Muslim cet Darul Kutub Ilmiyah, hal. 1114).</p>
<p>Kedua hadits di atas memberikan banyak pelajaran berharga, di antaranya :</p>
<ol>
<li> Dalam situasi fitnah maka seorang mukmin memerlukan ketegaran iman dan kesabaran ekstra</li>
<li>Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya</li>
<li>Ketika fitnah berkecamuk maka orang yang selamat darinya adalah yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak ikut campur karena hal itu justru semakin memperkeruh suasana</li>
<li>Diperintahkannya kita untuk menghindari tempat-tempat timbulnya fitnah</li>
<li>Yang menjadi ukuran adalah benar dan tidaknya tindakan yang diambil, bukan berapa banyak tindakan atau kegiatan yang dilakukan</li>
<li>Kewajiban mengimani hari kiamat dan tanda-tandanya</li>
<li>Demikian parahnya kondisi fitnah yang terjadi menjelang kiamat</li>
<li>Bolehnya mengangankan kematian bagi orang yang menjumpai fitnah dalam hal agama yang membuatnya khawatir akan keselamatan dirinya</li>
<li>Kewajiban bersabar ketika menghadap fitnah yang ada</li>
<li>Kewajiban untuk membekali diri dengan ilmu dalam mengatasi fitnah-fitnah tersebut</li>
<li>Kewajiban mengimani adanya alam kubur</li>
<li>Seorang yang beriman akan merasakan kebahagiaan di kuburnya</li>
<li>Hendaknya banyak-banyak mengingat kematian</li>
<li>Hendaknya setiap orang berintrospeksi diri dan mengukur kemampuan dirinya dalam menghadapi fitnah yang ada</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, wallahu a&#8217;lam.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-akhir-zaman.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
