<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Bid&#8217;ah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/bidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2468</guid>
		<description><![CDATA[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah [al-Fatawa Juz 14/295-296] menjelaskan : Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>[<em>al-Fatawa</em> Juz 14/295-296] menjelaskan :</p>
<p><span id="more-2468"></span></p>
<p>Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah <em>ilah</em>/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.</p>
<p>(<em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em> karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 35)</p>
<p>Dari keterangan Syaikhul Islam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya sumber kebahagiaan umat manusia adalah<strong> ikhlas</strong> -yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya- dan <strong><em>ittiba&#8217;</em></strong> -yaitu konsisten dengan ajaran dan petunjuk Rasulullah-, inilah rahasia kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Kedua hal ini pula lah yang terkandung dalam dua kalimat syahadat yang senantiasa kita ucapkan. Dua kalimat yang juga selalu diserukan oleh para mu&#8217;adzin kaum muslimin di berbagai belahan bumi.</p>
<p>Dasar kaidah yang agung ini adalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabb-nya, hendaklah dia melakukan amal salih, dan janganlah dia mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Amal yang salih adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah/tuntunan Nabi. Adapun amalan yang ikhlas adalah yang semata-mata dipersembahkan untuk Allah. Sebagaimana diterangkan oleh Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Dari sinilah kita mengetahui mengapa perhatian para ulama salaf terhadap tauhid dan sunnah sangatlah besar; karena memang kedua hal itulah asas Islam. Dengan memahami tauhid dengan benar maka seorang hamba akan mengerti jalan untuk menggapai ikhlas. Dan dengan memahami sunnah dengan baik maka seorang hamba akan mengerti cara untuk <em>ittiba&#8217;</em> kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Apabila tauhid dan sunnah itu merupakan perkara yang paling mendasar, maka memahami lawan-lawannya pun menjadi perkara yang sangat penting. Karena tidak mungkin seorang mengenal tauhid dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu syirik. Demikian pula, tidak mungkin seorang mengenal sunnah dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu bid&#8217;ah.</p>
<p>Maka sungguh sangat aneh jika ada orang yang mengaku muslim akan tetapi sangat alergi membahas tentang syirik dan bid&#8217;ah?! Bahkan, yang lebih aneh lagi adalah sikap sebagian orang yang mencemooh dakwah tauhid dan menjauhkan umat Islam darinya. Dengan bangganya dia menikmati amalan-amalan bid&#8217;ah dan melecehkan dakwah tauhid dengan bahasa-bahasa yang merendahkan para ulama. <em>Subhanallah</em>, tidakkah kita takut akan hukuman-Nya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kau Tolak Bencana Dengan Bencana!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 09:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[Muwahid]]></category>
		<category><![CDATA[Sembelihan]]></category>
		<category><![CDATA[Sesaji]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tolak Bala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2433</guid>
		<description><![CDATA[Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat. Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p><span id="more-2433"></span></p>
<p>Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang berupaya untuk menghindar dan menyelamatkan diri dari bencana. Akan tetapi, yang menjadi masalah -bahkan sumber petaka- adalah ketika sebagian orang justru menolak bencana dengan bencana, bahkan bencana yang lebih dahsyat!</p>
<p><strong>Musibah adalah Takdir Allah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saudaraku, musibah dan bencana merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Sebagai seorang muslim, kita wajib mengimani takdir. Suatu ketika, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya tentang iman, maka di antara jawaban beliau adalah, <em>“Hendaknya kamu beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Iman kepada takdir adalah harga mati, tidak bisa ditawar-tawar. Sahabat Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata tentang orang-orang yang mengingkari takdir di masanya, <em>“Sampaikanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun tidak punya urusan denganku. Demi Allah, yang jiwa Ibnu Umar di tangan-Nya, seandainya mereka punya emas sebesar gunung Uhud kemudian mereka infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir.”</em> (lihat Kitab <em>al-Iman</em>, <em>Shahih Muslim</em>). Ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari takdir bukan termasuk orang beriman.</p>
<p><strong>Berlindunglah Kepada Allah</strong></p>
<p>Seorang hamba yang ingin selamat dari berbagai macam musibah dan bencana hendaknya hanya berlindung dan berdoa kepada Allah. Karena hanya Allah yang menguasai segala urusan di langit dan di bumi. Dia lah yang menguasai segala manfaat dan madharat.</p>
<p><em>Isti&#8217;adzah</em>/meminta perlindungan merupakan salah satu bentuk doa. Sementara doa adalah ibadah; sehingga tidak boleh ia ditujukan kepada selain Allah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Doa itu adalah [intisari] ibadah.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, hasan sahih). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah saja, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</p>
<p>Seorang yang berdoa dan memohon perlindungan kepada selain Allah telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai sesembahan yang diseru selain-Nya (yang artinya), <em>“Sesembahan-sesembahan yang kalian seru selain-Nya sama sekali tidak menguasai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”</em> (<strong>QS. Fathir: 13</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Janganlah kamu menyeru/berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak kuasa memberikan manfaat dan madharat kepadamu. Kalau kamu tetap melakukannya maka kamu benar-benar kamu termasuk orang yang berbuat zalim.”</em> (<strong>QS. Yunus: 106</strong>)</p>
<p><strong>Syirik Kezaliman Terbesar</strong></p>
<p>Menujukan doa dan ibadah kepada selain Allah merupakan kekafiran, kemusyrikan, dan kezaliman. Kekafiran orang yang berdoa kepada selain Allah merupakan ketetapan al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menyeru/berdoa kepada sesembahan lain selain [berdoa] Allah, yang sama sekali tidak ada dalil yang membenarkannya, maka sesungguhnya perhitungannya ada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>).</p>
<p>Berdoa kepada selain Allah pun termasuk kezaliman, bahkan kezaliman yang terbesar. Karena ibadah adalah hak Allah. Barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah berarti dia telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya, dan itulah kezaliman. Hak Allah adalah hak pertama dan paling agung yang harus dipenuhi, sehingga tidak menunaikan hak Allah merupakan kezaliman yang paling besar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. Luqman: 13</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dari sini anda bisa mengetahui bahwa slogan-slogan penegakan keadilan yang kerapkali didengungkan oleh sebagian kalangan namun dengan meminggirkan agenda tauhid dan pemberantasan syirik sesungguhnya merupakan seruan yang tidak adil dan tidak proporsional. Bagaimana mereka begitu geram tatkala melihat kezaliman kepada makhluk, sementara kezaliman terhadap hak Sang Khaliq justru dianggap remeh dan biasa-biasa saja?! Sungguh mengherankan&#8230;</p>
<p><strong>Orang Musyrik Pun Berdoa Kepada Allah</strong></p>
<p>Jangan anda kira bahwa orang-orang musyrik tidak pernah berdoa kepada Allah. Bahkan, mereka berdoa kepada Allah siang dan malam. Hanya saja mereka mempersekutukan Allah di dalam doanya. Mereka berdoa kepada Allah, namun mereka juga berdoa kepada selain Allah. Apalagi dalam kondisi genting dan terjepit, mereka mengikhlaskan doanya untuk Allah semata. Walaupun tatkala Allah selamatkan mereka, mereka pun kembali berbuat syirik.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> menceritakan hal itu dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Maka apabila mereka menaiki perahu -di lautan dan diterpa badai- mereka pun berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/doa kepada-Nya. Namun, tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka pun kembali berbuat syirik.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ankabut: 65</strong>).</p>
<p>Hal ini menunjukkan bagaimana keyakinan orang-orang musyrik di kala itu. Mereka meyakini bahwa dalam keadaan terjepit tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan mereka kecuali Allah. Oleh sebab itu mereka berdoa hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang pada masa sekarang ini yang berdoa, memohon perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah, baik ketika lapang maupun sempit. Aduhai, alangkah bodohnya perbuatan mereka itu&#8230; Melebihi kebodohan orang-orang musyrik masa silam.</p>
<p><strong>Mempersembahkan Sembelihan Adalah Ibadah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tidak boleh mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah, karena hal itu merupakan kemusyrikan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Boleh saja menyembelih untuk selain Allah kalau bukan dalam rangka ritual persembahan. Seperti halnya menyembelih kambing untuk <em>walimah</em>/resepsi, untuk hidangan tamu, untuk makan-makan/pesta dan lain sebagainya. Dalil-dalil tentang hal itu sudah sangat jelas dalam al-Qur&#8217;an maupun as-Sunnah. Adapun sembelihan dalam rangka <em>taqarrub</em>/pendekatan diri kepada Allah sudah ditentukan bentuk-bentuknya, seperti halnya qurban pada hari raya Iedul Adha.</p>
<p>Hukum asal perkara ibadah/ritual adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, pasti akan tetolak.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga memperingatkan, <em>“Waspadalah dari perkara-perkara yang diada-adakan -dalam urusan agama-. Karena setiap yang diada-adakan itu adalah bid&#8217;ah.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Tirmidzi</strong>, Tirmidzi berkata: <em>hasan sahih</em>)</p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa menyembelih binatang -kerbau atau apapun jenisnya- kemudian menanam kepala atau bagian tubuhnya yang lain di tempat tertentu dengan alasan/niat untuk memohon keselamatan kepada Allah jelas termasuk perbuatan yang mengada-ada dan tidak ada tuntunannya. Karena tidak ada satupun dalil yang memerintahkan perbuatan semacam itu, baik di dalam al-Qur&#8217;an maupun di dalam as-Sunnah, tidak pula diamalkan oleh para Sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>. Lantas, ajaran siapakah ini?!</p>
<p>Belum lagi, jika kita telusuri lebih dalam. Ternyata perbuatan semacam ini biasanya dilandasi keyakinan adanya jin atau sosok makhluk gaib tertentu -selain Allah, yang mereka sebut dengan istilah gendruwo, kuntilanak, simbah, dhemit, lelembut, dsb- yang menguasai alam ini -entah itu di laut selatan, gunung tertentu, jembatan yang akan dibangun, sungai tertentu, pohon besar, dsb- yang mereka khawatirkan akan mendatangkan bahaya dan bencana apabila tidak diberikan persembahan (sesaji) kepadanya. Takut kuwalat, takut tertimpa malapetaka, itulah alasan mereka. Kalau seperti ini, jelas syirik hukumnya. Apabila pelakunya meninggal dan belum bertaubat darinya, di akhirat dia kekal tersiksa di dalam neraka, <em>na&#8217;udzu billahi min dzalik</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu.”</em> (<strong>QS. al-Maa&#8217;idah: 72</strong>)</p>
<p>Sebagian orang -<em>semoga Allah menunjuki mereka</em>- mungkin akan berdalih bahwa hal itu mereka lakukan semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur dan demi mengekspresikan rasa syukur. Aduhai, apakah ayat dan hadits akan kita tolak dengan tradisi leluhur? Apakah syukur itu diwujudkan dengan mempersekutukan Allah dan berbuat kekafiran kepada-Nya?</p>
<p><em>“Anda terlalu kaku, kita harus mengenal kearifan lokal dan menghargai budaya nenek moyang.”</em> Sebagian orang bisa jadi berkomentar demikian. Siapakah yang kaku sesungguhnya? Orang yang setia kepada bimbingan al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah ataukah orang yang bersikukuh mempertahankan pendapatnya yang bertentangan dengan agama? Siapkah yang arif? Orang yang mengikuti hawa nafsu dan perasaannya sembari membuang ayat dan hadits, ataukah orang yang menundukkan jiwa dan raganya kepada ajaran agama Allah yang hanif ini? <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Utama Perpecahan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 16:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Ishlah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2284</guid>
		<description><![CDATA[Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103) Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 103</strong>) <span id="more-2284"></span></p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali Allah&#8217; di sini adalah <em>al-Jama&#8217;ah</em>/persatuan, atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya. Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud, tatkala menceritakan golongan yang selamat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Yaitu al-Jama&#8217;ah.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah fi Bayani Manhaj as-Salaf fi at-Tarbiyah wa al-Ishlah</em> karya Syaikh Abdullah bin Shalih al-Ubailan, hal. 79)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Apabila umat manusia kembali kepada al-Kitab dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam niscaya persatuan itu akan terwujud. Sebagaimana hal itu telah terjadi pada generasi awal umat ini, padahal mereka dahulu -sebelumnya- berpecah-belah&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82). Beliau menekankan, <em>“Tidak akan bisa menyatukan hati dan mempersatukan umat manusia kecuali dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Kalau tanpa itu maka tidak mungkin mereka bisa bersatu&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Dengan tiga perkara berikut ini, maka persatuan itu akan terlaksana; [1] aqidah yang sahihah, [2] kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah ketika berselisih, [3] taat kepada ulil amri (umara/ulama) serta selalu menginginkan kebaikan bagi mereka dan menasehati dengan cara yang bijak&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 84).</p>
<p><strong>Apa Sebab Perpecahan?</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Mereka -Ahlus Sunnah- meyakini bahwa sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama&#8217;ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 85)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 159</strong>).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, dan agama ini melarang tindak perpecah-belahan dan persengketaan bagi segenap pemeluk agama (Islam), dalam seluruh persoalan agama; yang pokok maupun yang cabang&#8230;”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 285)</p>
<p>Suatu ketika, Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> ditanya, <em>“Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Bahkan, saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 86)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Para sahabat dahulu biasa meninggalkan pendapat pribadi mereka, meskipun pendapat itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka meninggalkannya apabila hal itu menyebabkan tercerai-berainya persatuan. Lihatlah, bagaimana sikap Abdullah bin Mas&#8217;ud seorang sahabat yang mulia -semoga Allah meridhainya- tatkala Amirul Mukminin Utsman radhiyallahu&#8217;anhu menyempurnakan sholat (tidak mengqashar) di Mina. Padahal, Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu berpendapat qashar di Mina. Meskipun demikian, apabila beliau sholat di belakang Utsman radhiyallahu&#8217;anhu maka beliau menyempurnakan (tidak qashar). Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, <strong>&#8216;Wahai putraku, perselisihan itu buruk.&#8217;</strong> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 97). Lihatlah, bagaimana Ibnu Mas&#8217;ud mengalah dan mengikuti pendapat Amirul Mukminin demi mempertahankan kesatuan umat&#8230;</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Memang terkadang sesuatu yang lebih utama ditinggalkan kepada sesuatu yang kurang utama, hal itu apabila dengan sesuatu yang kurang utama itu akan membuahkan persatuan. Di saat semacam itu, wajib baginya untuk mengalah dari menginginkan sesuatu yang lebih utama menuju sesuatu yang kurang utama. Hal itu perlu dilakukan demi utuhnya kesatuan dan persatuan kaum muslimin&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Beliau menambahkan, <em>“Hal itu -dianjurkan untuk mengalah- berlaku dengan catatan selama tidak merusak agama. Adapun apabila menimbulkan kerusakan agama, maka tidak boleh. Oleh karenanya wajib bagi seorang muslim mengalah dari memaksakan pendapat dan ijtihadnya, meskipun menurutnya apa yang dia yakini itulah yang lebih utama. Lantas, bagaimana lagi apabila ternyata apa yang dianut oleh jama&#8217;ah (mayoritas umat/ulama) adalah sesuatu yang lebih utama, sedangkan apa yang diyakini oleh orang yang menyelisihi ini adalah sesuatu yang kurang utama, atau bahkan sesuatu yang tidak benar?!.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu seharusnya para penuntut ilmu dan orang-orang yang menyandarkan diri kepada ilmu mencamkan baik-baik kaidah ini; yaitu <strong>apabila seseorang muslim memiliki pendapat dan ijtihad yang seandainya ditampakkan kepada orang banyak menimbulkan kekacauan dan persengketaan, maka semestinya dia tidak perlu menampakkannya</strong>. Cukuplah dia mengikuti apa yang dianut oleh mayoritas umat Islam. Sebab hal itu lebih menjamin -kebaikan- baginya dan lebih mendekati kebenaran.” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan mengomentari ucapan terakhir Syaikh Fauzan di atas, <em>“Benar, hal ini tidak ragu lagi sangat diperlukan. Apalagi dalam kondisi berkecamuknya fitnah.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p><strong>Kesimpulan dan Pelajaran</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari paparan ringkas di atas, dapat kita petik kesimpulan dan faedah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Berpegang      teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan benar -sebagaimana dipahami      Nabi dan para sahabat- membuahkan persatuan yang sejati, bukan justru      mengobarkan perpecahan di tengah-tengah umat, terlebih lagi di kalangan para      da&#8217;i&#8230;!</li>
<li>Apabila      perpecahan itu telah terjadi, maka sebabnya adalah tidak mewujudkan salah      satu di antara ketiga hal di atas. Bisa jadi karena perbedaan aqidah, atau      tidak mau merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah, atau karena tidak merujuk      kepada ulil amri (ulama dan umara) dan menasehati mereka dengan cara yang      bijak.</li>
<li>Seorang      muslim hendaknya tidak segan untuk mengalah, menjaga persatuan, dan lebih      mengutamakan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi dan golongan.</li>
<li>Seorang      muslim -apalagi penuntut ilmu dan da&#8217;i- semestinya memperhitungkan dampak      dari pendapat atau ucapan yang dilontarkannya di hadapan manusia, apakah      hal itu menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka ataukah tidak.</li>
<li>Sebuah      pelajaran berharga, bahwa perpecahan tidak akan teratasi dengan perpecahan      pula. Perpecahan hanya bisa diatasi dengan persatuan yang sejati.      Barangsiapa mengira bahwa perpecahan bisa diatasi dengan sikap <em>ta&#8217;ashub</em> kepada sosok tertentu selain Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,      maka sungguh dia telah keliru!</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goresan Pesan Untuk Pembela Kebenaran</title>
		<link>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 19:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2218</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. Istilah dakwah salafiyah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suka atau tidak suka semua kelompok -kecuali Syi&#8217;ah dan bala tentaranya- pada akhirnya tentu akan sepakat jika &#8230; <a href="http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgoresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgoresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2218"></span></p>
<p>Istilah dakwah salafiyah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suka atau tidak suka semua kelompok -kecuali Syi&#8217;ah dan bala tentaranya- pada akhirnya tentu akan sepakat jika kita ajak untuk mengikuti para sahabat secara umum, walaupun dalam prakteknya mereka banyak menyelisihi generasi terbaik tersebut. Mereka -secara umum- bahkan mengklaim apa yang mereka yakini sebagai pemahaman para Sahabat, walaupun klaim mereka tidak dilandasi dengan bukti yang memadai. Yang memprihatinkan adalah, tatkala terbukti secara ilmiah bahwa apa yang mereka yakini atau amalkan ternyata bertentangan dengan pemahaman Sahabat mulailah muncul sikap permusuhan dan aksi penolakan. Terkadang penolakan itu sekedar dipendam di dalam hati, terkadang diucapkan dengan lisan, dan tidak jarang berakhir dengan peperangan, <em>Allahul musta&#8217;an</em>&#8230;</p>
<p>Saudaraku, sesungguhnya penisbatan kepada salafus shalih adalah penisbatan yang mulia dan terpuji, bukan perkara yang tercela sama sekali. Hal itu berulang kali kita dengar dari nukilan para ulama, di antaranya Syaikhul Islam Abul Abbas al-Harrani <em>rahimahullah</em>. Namun, yang menjadi persoalan sekarang ini adalah tatkala penisbatan ini dirancukan dengan sikap golongan atau kelompok tertentu yang mempersempit makna salafiyah. Kita memang tidak ingin memasukkan perusak dakwah ke dalam jajaran Salafi. Demikian pula sebaliknya. Kita juga tidak ingin menjatuhkan orang-orang yang masih bisa diperhitungkan perannya dalam dakwah yang agung ini dari kedudukan yang semestinya.</p>
<p>Oleh sebab itu wahai saudaraku, sudah semestinya kita bisa bersikap bijak dan adil dalam menilai dan bersikap, baik kepada diri kita sendiri ataupun kepada orang lain; yang mungkin kita anggap berseberangan dengan kita dalam banyak hal. Perhatikanlah bagaimana para Sahabat -teladan kita semua- dalam menilai diri mereka sendiri dan dalam memposisikan orang lain sebagaimana mestinya. Kita masih ingat, penuturan Ibnu Abi Mulaikah yang sangat masyhur dan dikutip oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, <em>“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan ternyata mereka semuanya khawatir dirinya terjangkit kemunafikan.”</em> Ini adalah salah satu bukti kerendahan hati para Sahabat bersama dengan segala kebesaran yang mereka miliki. Amat jauh dengan keadaan sebagian kita pada hari ini, yang terkadang -secara tak terasa- telah menobatkan diri sendiri sebagai juru bicara kafilah dakwah yang mulia ini; sehingga siapapun yang berseberangan dengannya dianggap sebagai musuh dakwah salafiyah, <em>laa haula wa laa quwwata illa billah!</em></p>
<p>Dari situlah, alangkah tepat apa yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> tatkala menggambarkan sosok manusia yang bijak. Beliau menjelaskan, <em>“Orang yang paling bijak itu adalah yang menjadikan keluhannya kepada Allah -atas musibah</em><em>/cobaan yang menimpanya- dikarenakan kesalahan dirinya sendiri, bukan malah dengan mengambinghitamkan orang lain.” </em>Di satu sisi, seorang Salafi memang dituntut untuk merasa mulia dan bergembira dengan kelurusan manhaj yang telah mereka pilih dan jalani. Akan tetapi, jangan dilupakan pula bahwa salah satu bagian dari kelurusan manhaj ini adalah tidak meremehkan orang lain atau menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang atau kelompok lain. Tentu saja kita ingat, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan bahwa hal itu merupakan bentuk kesombongan.</p>
<p>Memang, kita harus angkat bicara untuk mengoreksi berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh sekte-sekte sesat. Itu merupakan bagian dari nasehat. Bahkan, tidak akan tegak agama ini tanpanya. Namun, sekali lagi kita harus bisa membedakan antara pengusung manhaj dengan manhaj itu sendiri. Kita semua tahu bahwa para Sahabat itu secara individu tidaklah ma&#8217;shum, kita tentu saja jauh berada di bawah mereka. Apabila -misalnya- ada salah seorang Sahabat -yang karena ketidaksengajaan darinya atau ketidaktahuan- sedikit melenceng dari Sunnah, kemudian kita tidak mengeluarkannya dari jajaran para Sahabat. Maka demikian pula semestinya, apabila kita melihat ada sebagian saudara kita yang dengan sebab yang sama terjerumus dalam bentuk penyimpangan terhadap sebagian cabang Sunnah tanpa dia sadari. Tentu tidaklah bijak apabila dengan serta merta dan tanpa <em>tabayyun</em> lantas kita pun mencoret namanya dari jajaran pengikut generasi utama; apalagi sampai membid&#8217;ahkan atau mengkafirkannya tanpa alasan yang kuat.</p>
<p>Banyak hal yang harus kita ukur dan kaji jika kita hendak menjatuhkan vonis berat semacam itu, apalagi pada hakekatnya itu bukanlah wilayah kewenangan kita para pemula yang mencium aroma pengajian belum berapa lama. Di antara poin paling pokok yang harus kita garis bawahi adalah pondasi keikhlasan. Tidak ada yang mengingkari bahwa poin ini merupakan intisari dari agama Islam yang hanif ini. Inilah standar utama dalam menilai dan menyikapi. Memang, ikhlas adalah amalan hati. Namun, itu bukan berarti keikhlasan itu tidak bisa dideteksi. Seorang yang jujur dengan keikhlasannya tentu akan sangat tidak menyukai ketenaran. Selain itu, seorang yang ikhlas tidak beramal atau berdakwah untuk mengejar target-target duniawi. Inilah sebabnya mengapa para Sahabat senantiasa berusaha mengoreksi dirinya sendiri sebelum jauh berbicara mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh orang lain. Kita tentu masih ingat ucapan emas Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, <em>“Seorang mukmin sejati itu selalu memandang dosa-dosanya seakan-akan dia duduk di bawah gunung dan khawatir kalau-kalau gunung itu akan runtuh menjatuhi dirinya. Adapun seorang fajir akan memandang dosa-dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya kemudian dia pun menghalaunya dengan begini -upaya yang ringan sekali- (meremehkannya, pen).”</em></p>
<p>Benar, pembicaraan mengenai sesuai atau tidak dengan Sunnah adalah pembicaraan mengenai cara, bukan niatnya. Akan tetapi ingatlah, bahwa yang kita nilai dengan timbangan syari&#8217;at adalah manusia seperti kita; yang sarat dengan kekurangan dan ketidaktahuan. Kita harus memandang mereka tidak hanya dengan kaca mata syari&#8217;at, namun juga dengan kaca mata takdir; kaca mata kasih sayang dan belas kasihan. Mungkin hujjah belum sampai kepada mereka, mungkin mereka salah paham, mungkin ada perilaku kita yang justru menjauhkan mereka dari dakwah ini, mungkin&#8230; mungkin&#8230; Ada banyak sekali kemungkinan yang mengharuskan kita bersikap hati-hati dan tidak sembarangan menjatuhkan vonis sesat kepada sebagian saudara kita yang berbeda pandangan dengan kita. Inilah mungkin yang selama ini jarang kita praktekkan. Kita justru sering mengambil sikap dan tindakan seolah-olah kita adalah manhaj salaf itu sendiri. Sehingga kita tidak pernah mengenal istilah kompromi dan toleransi. Hantam sana-sini tak peduli, <em>toh</em> ini kan bagian dari nasehat, begitu tipu daya setan yang kerap menghampiri telinga kita -yang penuh dengan &#8216;kotoran&#8217;- ini.</p>
<p>Tidakkah kita ingat wahai saudaraku, bagaimana kelembutan dan kebijakan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam berdakwah kepada orang-orang munafik. Padahal, kita juga mengetahui bersama bahwa Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun diperintahkan oleh Allah untuk berjihad melawan mereka dan bersikap keras kepada mereka. Apakah ini artinya beliau tidak taat atau mengkhianati tugasnya; atau akan kita katakan bahwa beliau bersikap plin-plan, sama sekali tidak! Hal ini justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita bahwa terkadang orang yang paling keras permusuhannya kepada kita itulah yang berhak untuk kita perlakukan dengan lemah lembut, bukan dengan sikap keras. Inilah kandungan pesan yang pernah dinasehatkan oleh Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> kepada segenap penyeru dakwah salafiyah yang mulia ini&#8230;</p>
<p>Sederhananya; seorang Salafi memang dituntut untuk membela manhaj yang haq ini selama-lamanya. Namun, di sisi lain dia juga harus mengingat bahwa dirinya -atau gurunya sekalipun- adalah manusia biasa yang berusaha meniti manhaj ini dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya. Dengan kesadaran semacam inilah akan lenyap segala bentuk fanatisme buta&#8230; <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Seorang Kyai</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 07:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>&#8220;Terus  terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang  tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga  bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya  untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap  keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan  atau baca barzanji, diba&#8217;an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah  berbau kesyirikan&#8221; </em></p>
<p><span id="more-1988"></span></p>
<p><em>&#8220;Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya&#8221; </em>(Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Kita  biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan  kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar  kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala  masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan  kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali,  yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang  yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga  saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.&#8221;</em> (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)</p>
<p>Beliau  adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok  pesantren &#8220;Rahmatullah&#8221;. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh  teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh  teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.</p>
<p>Keberanian  beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak sejalan dengan  Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat berakar dalam  lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau terhadap arus kyai itu  bukan  berlandaskan apriori belaka, bukan pula didasari oleh rasa  kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam, namun merupakan  Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Kyai  Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang  mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil.  namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap ajaran  Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari keanggotaan  NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu kepada  beliau.</p>
<p>Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan  dirinya dari keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para  tetangga dan kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak  hanya mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau  mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan  kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan  permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang  shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat  pada umumnya.</p>
<p>Seandainya para Kyai itu mau mengkaji  kembali ajaran dan tradisi budaya yang berurat berakar yang telah  dikritisi dan digugat oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi  sendiri, namun juga dari para ulama tanah haram juga telah menggugat dan  mengkritisi penyakit kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar  mengurat kepada para santri dan masyarakat. Jika mereka itu mau  mendengarkan perkataan para ulama itu, tentunya penyakit-penyakit kronis  yang ada dalam tubuh NU akan bisa terobati. Aqidah umatnya akan  terselamatkan dari penyakit TBC (Tahayul, Bid&#8217;ah, Churofat). Sehingga  Kyai-kyai NU, habib, Gus serta asatidznya lebih dewasa jika ada orang  yang mau dengan ikhlas menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU  dan yang telah banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para  sahabatnya. Maka, Insya Allah, NU khususnya dan para &#8216;alim NU pada  umumnya akan menjadi barometer keagamaan dan keilmuan. &#8216;Alimnya yang  berbasis kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan  misi NU itu sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, sehingga para &#8216;alim  serta Kyai yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat  sebagai pewaris para Nabi.</p>
<p>Namun sayang, dakwah yang  disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang sebelah mata  oleh para Kyai NU  setempat. Mereka juga meragukan keloyalan beliau terhadap ajaran NU.  Dengan demikian, beliau harus menerima konsekuensi berupa pemecatan dari  kepengurusan keanggotaannya sebagai a&#8217;wan NU Kandangan, Kediri,  sekaligus dikucilkan dari lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren.  Mereka semua memboikot aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.</p>
<p>Walaupun  beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap menyikapinya  dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam dirinya.</p>
<p>Siapakah  yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh Kyai  Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin senasib  dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya karena  meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan syari&#8217;at  Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan karena  pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.</p>
<p>Kyai  Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus orang-orang yang  bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat banyak para Kyai  yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid&#8217;ahan dan tradisi-tradisi yang  tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat itulah beliau  tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup yang penuh  cobaan dan ujian.</p>
<p>Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan  dan penghormatan tersandang, harta melimpah serta jabatan terpikul,  namun murka Allah dekat dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di  hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan  keselamatan dengan meninggalkan tradisi yang selama ini beliau  gandrungi.</p>
<p>Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat  kepada Allah dari ajaran-ajaran syirik, bid&#8217;ah dan kufur. Walaupun Kyai  Afrokhi ditinggalkan oleh para kyai ahli bid&#8217;ah, jama&#8217;ah serta santri  beliau, ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup  begitu nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu&#8217; serta penuh tawakkal  kepada Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.</p>
<p>Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:</p>
<p><em>&#8220;Untuk  itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas kekeliruan yang  saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf saya kepada warga  Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa saya sesatkan dalam  kebid&#8217;ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba&#8217;an, maulidan, haul dan  selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau kesyirikan dan juga  sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah senantiasa menerima taubat  dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang lalu (Amin ya robbal &#8216;alamin)&#8221;</em></p>
<p>(Dinukil  dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku &#8220;Buku Putih Kyai  NU&#8221; oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh Ponpes  Rohmatulloh-Kediri-, mantan A&#8217;wan Syuriah MWC NU Kandangan Kediri)</p>
<p>catatan:  Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan karena ada  alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok. Silahkan nukil  dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah ilalloh.</p>
<p>-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 20:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1962</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid&#8217;ah. Dan [3] ketaatan, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid&#8217;ah. Dan [3] ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan [ketaatan kepada] Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 104)</p>
<p><span id="more-1962"></span><strong>Tauhid mengantarkan menuju bahagia</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Abdullah Ibnu Mubarak <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat (yang ikhlas), dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niat (yang tidak ikhlas).”</em></p>
<p><strong>Syirik mengantarkan menuju sengsara</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim itu.”</em> (<strong>QS. al-Maa&#8217;idah: 72</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p><strong>Sunnah mengantarkan menuju bahagia</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah (Muhammad); Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sunnah adalah [laksana] bahtera Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal akan tenggelam.”</em></p>
<p><strong>Bid&#8217;ah mengantarkan menuju sengsara</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya akan Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 115</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan -dalam agama-, [dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid'ah] dan setiap bid&#8217;ah pasti sesat [dan setiap kesesatan di neraka].”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>, tambahan dalam kurung dalam riwayat <strong>Nasa&#8217;i</strong>)</p>
<p><strong>Ketaatan mengantarkan menuju bahagia</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 71</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Semua umatku pasti masuk surga, kecuali yang enggan.”</em> Para sahabat pun bertanya, <em>“Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Barangsiapa mentaatiku masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan itu.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat.”</em></p>
<p><strong>Kemaksiatan mengantarkan menuju sengsara</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi nafsu (ketaatan) sedangkan neraka diliputi dengan perkara-perkara yang disenangi nafsu (kemaksiatan).”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Hilangnya harapan dan rasa takut</strong></p>
<p>Sementara ketiga hal di atas -tauhid, sunnah, dan ketaatan- memiliki satu musuh yang sama yaitu ketiadaan rasa harap dan rasa takut. Yaitu ketika seorang hamba tidak lagi menaruh harapan atas apa yang Allah janjikan dan tidak menyimpan rasa takut terhadap ancaman yang Allah berikan. Akibat ketiadaan harap dan takut ini maka timbul berbagai dampak yang membahayakan. Di antara dampaknya adalah; [1] terlena dengan curahan nikmat sehingga lalai dari mensyukurinya, [2] sibuk mengumpulkan ilmu namun lalai dari mengamalkannya, [3] cepat terseret dalam dosa namun lambat dalam bertaubat, [4] terlena dengan persahabatan dengan orang-orang saleh namun lalai dari meneladani mereka, [5] dunia pergi meninggalkan mereka namun mereka justru senantiasa mengejarnya, [6] akherat datang menghampiri mereka namun mereka justru tidak bersiap-siap untuk menyambutnya. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa ketiadaan rasa harap dan takut ini bersumber dari lemahnya keyakinan. Lemahnya keyakinan itu timbul akibat lemahnya <em>bashirah</em>/pemahaman. Dan lemahnya <em>bashirah</em> itu sendiri timbul karena <strong>jiwa yang kerdil dan rendah</strong> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 170).</p>
<p><strong>Bersihkan jiwamu!</strong></p>
<p>Jiwa yang kerdil dan rendah akan merasa puas dengan perkara-perkara yang hina, sementara jiwa yang besar dan mulia tentu hanya akan puas dengan perkara-perkara yang mulia (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 170). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”</em> (<strong>QS. asy-Syams: 9-10</strong>). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yaitu orang yang menyucikan jiwanya dari dosa-dosa dan membersihkannya dari aib-aib, lalu dia meninggikannnya dengan ketaatan kepada Allah serta memuliakannya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 926). Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang dimaksud penyucian di sini ialah dia menyucikan dirinya dengan cara membebaskannya dari syirik dan noda-noda maksiat, sehingga jiwanya menjadi suci dan bersih.”</em> (<em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em>, hal. 165)</p>
<p>Dari sinilah, kita menyadari betapa besar peran ilmu yang diamalkan. Oleh sebab itu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa seusai sholat Subuh dengan doa yang sangat indah, <em>Allahumma inni as&#8217;aluka &#8216;ilman nafi&#8217;an wa rizqan thayyiban wa &#8216;amalan mutaqabbalan</em>. Yang artinya; <em>“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amalan yang diterima.”</em> (<strong>HR. Ahmad dan Ibnu Majah</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya akan dipahamkan dalam urusan agamanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Sedangkan ilmu dan pemahaman seorang hamba tentang agamanya diukur dengan rasa takutnya kepada Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”</em> (<strong>QS. Fathir: 28</strong>). Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti ilmu -seseorang-.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haba&#8217;ib Serukan Tinggalkan Perayaan Maulid!</title>
		<link>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 07:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Haba'ib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasululllah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1957</guid>
		<description><![CDATA[Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawanafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara yang menyelisih syari&#8217;at,yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhabaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhabaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah  untuk tidak memperturuti hawanafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka  sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara  yang menyelisih syari&#8217;at,yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati  oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah  penyimpangan, dan tidak sesuai dengan <em>Maqasidu asy-Syar&#8217;I al-Muthahhar</em> (tujuan-tujuan syari&#8217;at yang suci) untuk menjadikan ittiba&#8217; (mengikuti)  kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sebagai standar utama yang  dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan  (ibadah)mereka.</p>
<p><span id="more-1957"></span></p>
<p>Dalam sebuah pernyataan yang dilansir &#8221;  Islam Today &#8220;, para Habaib berkata, &#8220;Bahwa Kewajiban Ahlul Bait  (Keturunan Rasulullah) adalah <strong>hendaklah mereka menjadi orang yang paling  yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em></strong>,  mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta  yang sebenarnya (terhadap beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, red.),  serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari&#8217;at  Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan <strong>cinta yang  hakiki pasti akan menyeru Ittiba&#8217; yang benar</strong>.&#8221;</p>
<p>Mereka (Para  Habaib) menambahkan, &#8220;Di antara fenomena yang menyakitkan adalah  terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang mulia (AhlulBait) dalam berbagai macam penyimpangan syari&#8217;at, dan  pengagungan terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang tidak pernah dibawa oleh  al-Habibal-Mushtafa <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Dan di antara  syiar-syiar tersebut adalah <strong>bid&#8217;ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih  cinta</strong>.</p>
<p>Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa  yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> adalah karena hal itu dapat menyebabkan  pengkultusan terhadap beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang beliau  sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan  lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits  yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu  <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang  berlebihin seperti ini, dengan sabdanya:</p>
<p><em>Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam</em>. (HR. al-Bukhari)</p>
<p>Sedangkan  seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada  as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan,</p>
<p>&#8220;Bahwa  <strong>perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah  dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan  tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Baityang  mulia</strong>, seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali ZainalAbidin,  Ja&#8217;far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat  Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam &#8220;Radhiyallahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>-begitu  pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi&#8217;in.</p>
<p>Para  Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait,</p>
<p>Wahai Tuan-tuan Yang  terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya  kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif  (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em>, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah  sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang  dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari&#8217;at  tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang  ditolak oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihiwasallam</em>:</p>
<p><em>Barangsiapa mengada-adakan sesuatu  yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di  dalamnya, maka ia tertolak</em>. (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berikut  ini adalah teks pernyataannya:</p>
<p><strong>Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu  Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>) tentang Peringatan/ perayaan  Maulid Nabi.</strong></p>
<p>Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di  atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini  (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syari&#8217;at yang beliau bawa  adalah syari&#8217;at yang paling sempurna, Allah <em>Ta&#8217;ala</em>berfirman:</p>
<p><em>Pada hari  ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah  Ku-cukupkankepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi  agamamu.</em> (QS. Al Ma&#8217;idah:3)</p>
<p>Dan meyakini (mengimani) bahwa  mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> merupakan keyakinan  atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah  <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p><em>Tidak sempurna iman salah  seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya,  anaknya, dan semua manusia</em>. (HR. al-Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Beliau  adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja  anak-cucu Adam, Imam Para Nabijika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka  jika mereka diutus, si empu Tempat yang Mulia, Telaga yang akan  dikerumuni (oleh manusia), si empu bendera pujian, pemberi syafa&#8217;at  manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya  menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri  teladan yang baik bagimu(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah  dan (kedatangan) harikiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>. (QS.  al-Ahzab: 21)</p>
<p>Dan di antara kecintaan kepadabeliau adalah  mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p><em>Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Maka  Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah <strong>hendaklah  mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah  Beliau</strong> <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>, mengikuti petunjuknya, dan wajib  atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau  <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>, red.), serta menjadi manusia yang paling  menjauhi hawa nafsu. Karena Syari&#8217;at datang untuk menyelisihi penyeru  hawa nafsu, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Maka demi Rabbmu, mereka (pada  hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam  perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa  keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan  mereka menerima dengan sepenuhnya</em>. (QS. An-Nisa&#8217;: 65)</p>
<p>Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru Ittiba&#8217; yang benar. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Katakanlah:&#8221;Jika kamu  (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi  dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang</em>.  (QS. Ali &#8216;Imran: 31)</p>
<p>Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi  kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlulbait) haruslah  sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan  tidak menyalahi atau menyelisinya.</p>
<p>Dan di antara fenomena  menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> pandangannya  dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang  kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk  keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya  sebagian anak-cucu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang mulia  (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari&#8217;at, dan  pengagungan terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang tidak pernah dibawa oleh  <em>al-Habib al-Mushtafa Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Dan di  antara syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk  moyang kami Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> tersebut adalah <strong>bid&#8217;ah  peringatan Maulid Nabi</strong> dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan  sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan  <em>Maqasidu asy-Syar&#8217;Ial-Muthahhar</em> (tujuan-tujuan syari&#8217;at yang suci)  untuk menjadikan <em>ittiba&#8217;</em> (mengikuti) Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam  segala sikapdan perbuatan (ibadah) mereka.</p>
<p>Karena  kecintaan kepada beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> mengharuskan  ittiba&#8217; (mengikuti) beliau <em>Shallalllahu &#8216;alaihi wasallam</em> secara lahir dan  batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan  mengikuti beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, bahkan mengikuti  (ittiba&#8217;) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan  orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba&#8217;) adalah komitmen  dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan  hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian  terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta  menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syari&#8217;at Islam.</p>
<p>Dan  di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi  adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang beliau sendiri tidak membolehkannya,  bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa  peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan  aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan  seperti ini, dengan sabdanya:</p>
<p><em>Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.</em> (HR. al-Bukhari)</p>
<p>Maka  bagaimana dengan faktanya,sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi  dengan lafazh-lafazh bid&#8217;ah,dan istighatsah-istighatsah syirik.</p>
<p>Dan  <strong>perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah  dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi</strong> <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan  tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait  yang mulia, seperti &#8216;Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal  Abidin, Ja&#8217;far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para  Sahabat Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam –Radhiyallahu &#8216;anhum  ajma&#8217;in</em>—begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para  tabi&#8217;in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun  dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.</p>
<p>Jika  ini tidak dikatakan bid&#8217;ah,lalu apa bid&#8217;ah itu sebenarnya? Dan  Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan  terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa  pengecualian di dalamnya:</p>
<p><em>Semua bid&#8217;ah itu sesat</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Wahai Tuan-tuan Yang terhormat!</p>
<p>Wahai  sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asalusul/  nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan <em>taklif</em> (pembebanan),yakni  melaksanakan sunnah Rasululullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>,dan  berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan  menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya.</p>
<p>Dan karena  mengikuti apa yangtidak dibolehkan oleh syari&#8217;at tidak mendatangkan  kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah  <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wasallam</em>:</p>
<p><em>Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam  urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia  tertolak</em>. (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)!</p>
<p>Jangan  kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan  kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak  mengajarkan petunjuk beliau!</p>
<p>DemiAllah, tidak seorangpun  di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata  karena kedekatan kalian dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p><strong>Ini  merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan  kebaikan bagi kalian</strong>, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah  lelulur kalian dengan meninggalkan bid&#8217;ah dan seluruh yang tidak  diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan  agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda:</p>
<p><em>Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Yang menanda tangan risalah di atas yaitu:</p>
<p>1. <em>Habib Syaikh</em> Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial Adhdhamir al-Khairiyah di Traim)</p>
<p>2. <em>Habib Syaikh</em> Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari&#8217;ah di SMP dan Khatib di Abu &#8216;Uraisy)</p>
<p>3. <em>Habib Syaikh</em> Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.</p>
<p>4. <em>Habib Syaikh</em> Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum &#8216;Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima&#8217;I di Ghail Bawazir)</p>
<p>5.<em>Habib  Syaikh</em> Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing  al-Maktabat-Ta&#8217;awuni Li ad-Da&#8217;wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan  Imam serta Khatib di Kharj).</p>
<p>6.<em>Habib Syaikh</em> Abdullah bin Faishal  al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmahal-Khairiyah, dan Imam serta Khatib  Jami&#8217; ar-Rahmah di Syahr).</p>
<p>7.<em>Habib Syaikh</em> DR. &#8216;Ishom bin Hasyim  al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari&#8217;ah Jurusan Ekonomi Islam di  Universitas Ummu al-Qurra&#8217;, Imam dan Khotib di Mekkah).</p>
<p>8. <em>Habib Syaikh</em> &#8216;Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi&#8217; ad-Durar as-Saniyah)</p>
<p>9. <em>Habib Syaikh</em> Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi&#8217; ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).</p>
<p>10.<em>Habib Syaikh</em> Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajrial-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami&#8217; ar-Rahman di al-Mukala).</p>
<p>11. <em>Habib Syaikh</em> Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)</p>
<p>12.<em>Habib  Syaikh</em> DR. Hasyim bin &#8216;Ali al-Ahdal (Prof di Universitas UmmulQurra&#8217; di  Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta&#8217;limu al-Lughah al-&#8217;Arabiyah LiGhairi  an-Nathiqin Biha).</p>
<p>sumber: Milis As-Sunnah</p>
<p>Dikutip dari note fb <strong>Surya Noor Rahmatullah</strong>, <em>jazahullahu khairan</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Meraih Ampunan</title>
		<link>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 04:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1907</guid>
		<description><![CDATA[Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat. Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat.</p>
<p><span id="more-1907"></span></p>
<p>Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ditemui. Sehingga hal itu menyebabkan seorang hamba harus waspada, karena tatkala dia telah merasa taubatnya diterima, kemudian -pada akhirnya- perasaan itu justru menyeret dirinya terjerumus ke dalam lembah dosa yang lainnya, <em>wal &#8216;iyadzu billah!</em></p>
<p>Ketahuilah saudaraku, bahwa tauhid yang bersih merupakan kunci untuk meraih ampunan. Namun, hal ini tidaklah sesederhana dan semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut:</p>
<p>[1] Orang yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar atau tidak bertaubat darinya maka dia pasti masuk neraka.</p>
<p>[2] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih terkotori dengan syirik kecil sementara kebaikan-kebaikannya ternyata lebih berat daripada timbangan keburukannya maka dia pasti masuk surga.</p>
<p>[3] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih memiliki syirik kecil sedangkan keburukan/dosanya justru lebih berat dalam timbangan maka orang itu berhak masuk neraka namun tidak kekal di sana (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 44)</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dan dia menghasankannya)</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan syarat untuk bisa meraih ampunan Allah<em> ta&#8217;ala</em>. Syaikh Abdurrahman bin Hasan <em>rahimahullah</em> berkata mengomentari hal ini, <em>“Ini adalah <strong>syarat yang berat</strong> untuk bisa mendapatkan janji itu yaitu curahan ampunan. Syaratnya adalah <strong>harus bersih dari kesyirikan, banyak maupun sedikit</strong>. Sementara tidak ada yang bisa selamat/bersih darinya kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah ta&#8217;ala. Itulah hati yang selamat sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), “Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara: 88-89</strong>).”</em> (<em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 53-54)</p>
<p>Namun -sebagaimana sudah disinggung di atas- keutamaan ini hanya akan bisa diperoleh bagi orang yang bersih tauhidnya. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“&#8230;Seandainya ada seorang yang bertauhid dan sama sekali tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa hampir seisi bumi, maka Allah pun akan menemuinya dengan ampunan sepenuh itu pula. Namun <strong>hal itu tidak akan bisa diperoleh bagi orang yang cacat tauhidnya</strong>. Karena sesungguhnya tauhid yang murni yaitu yang tidak tercemari oleh kesyirikan apapun maka ia tidak akan menyisakan lagi dosa. Karena ketauhidan semacam itu telah memadukan antara kecintaan kepada Allah, pemuliaan dan pengagungan kepada-Nya serta rasa takut dan harap kepada-Nya semata, yang hal itu menyebabkan <strong>tercucinya dosa-dosa, meskipun dosanya hampir memenuhi isi bumi</strong>. Najis yang datang sekedar menodai, sedangkan faktor yang menolaknya sangat kuat.”</em> (Dinukil dari <em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 54-55)</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung keterangan bahwa kandungan makna <em>la ilaha illallah</em> yang bisa lebih berat timbangannya daripada semua makhluk dan semua dosa. Kandungan maknanya yaitu <strong>wajib meninggalkan syirik dalam jumlah banyak maupun sedikit</strong>. Hal itu pasti membuahkan ketauhidan yang sempurna. <strong>Tidak mungkin bisa bersih dari syirik kecuali bagi orang yang benar-benar merealisasikan tauhidnya</strong> serta mewujudkan konsekuensi dari kalimat ikhlas (syahadat) yang berupa ilmu, keyakinan, kejujuran, keikhlasan, rasa cinta, menerima, tunduk patuh dan lain sebagainya yang menjadi konsekuensi kalimat yang agung itu (lihat<em> Qurrat al-&#8217;Uyun al-Muwahhidin</em>, hal. 22).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang mengucapkannya -la ilaha illallah- dengan penuh keikhlasan dan kejujuran maka dia <strong>tidak akan terus-menerus berkubang dalam kemaksiatan-kemaksiatan</strong>. Karena keimanan dan keikhlasannya yang sempurna menghalangi dirinya dari terus-menerus berkubang dalam maksiat. Oleh sebab itu dia akan bisa masuk surga sejak awal bersama dengan rombongan orang-orang yang langsung masuk surga.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21)</p>
<p>Hadits di atas juga menunjukkan bahwa tauhid <strong>tidak cukup di lisan</strong>. Namun tauhid juga menuntut seorang hamba untuk <strong>menunaikan kewajiban serta meninggalkan kemaksiatan</strong>. Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa barangsiapa yang mempersaksikannya -kalimat tauhid- namun dia mencemarinya dengan perbuatan dosa dan kemaksiatan, atau dia sekedar mengucapkannya dengan lisan sementara hati atau amalannya berbuat syirik seperti halnya orang-orang munafik maka orang semacam ini ucapan syahadatnya tidak bermanfaat. Akan tetapi yang semestinya dia lakukan adalah mengucapkannya kemudian meyakininya dengan kuat, melaksanakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan serta mengikuti tuntunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 20).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang dilarang maka itu berarti dia telah berani menawarkan dirinya untuk menerima hukuman Allah ta&#8217;ala meskipun dia mengucapkan kalimat ini dan meyakininya. Apabila dia melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya maka berubahlah dia menjadi orang yang murtad dan kafir. Syahadat ini tidak lagi bermanfaat untuknya. Oleh sebab itu kalimat ini <strong>harus diwujudkan dalam kenyataan</strong> dan mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya, kalau tidak demikian maka dia berada dalam bahaya besar seandainya dia tidak kunjung bertaubat.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 26).</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung motivasi (<em>targhib</em>) dan peringatan (<em>tarhib</em>). Ini merupakan motivasi agar orang mau <strong>berjuang keras membersihkan tauhidnya dari kotoran syirik dan kemaksiatan</strong>, karena Allah menjanjikan ampunan yang demikian besar bagi orang yang murni tauhidnya. Dan ini sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang selama ini tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan agar waspada dan takut kalau-kalau ternyata di akhir hidupnya mereka tidak tergolong orang yang bersih tauhidnya.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Seandainya Allah mau menyiksa manusia -di dunia- sebagai hukuman atas dosa yang mereka perbuat niscaya tidak akan Allah sisakan di atas muka bumi ini seekor binatang melatapun. Akan tetapi Allah menunda hukuman itu untuk mereka hingga waktu yang telah ditentukan. Maka apabila telah datang saatnya sesungguhnya Allah Maha melihat semua hamba-Nya.”</em> (<strong>QS. Fathir: 45</strong>). Imam Ibnu Katsir<em> rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya adalah seandainya Allah menyiksa mereka sebagai hukuman atas semua dosa yang mereka perbuat niscaya Allah akan menghancurkan semua penduduk bumi dan segala binatang dan rezeki yang mereka miliki.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/362])</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwasanya para pelaku maksiat itu sangat berresiko dijatuhi ancaman siksa dan mereka akan masuk ke neraka lalu mereka akan dikeluarkan darinya dengan syafa&#8217;at para nabi dan yang lainnya. Hal itu dikarenakan mereka telah melemahkan tauhid mereka dan mencemarinya dengan kemaksiatan-kemaksiatan.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan <strong>membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid&#8217;ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan</strong>. Hal itu akan tercapai dengan cara menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah.”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 20)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa <strong>merealisasikan <em>la ilaha illallah</em> adalah sesuatu  yang sangat sulit</strong>. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata: <strong><em>&#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;</em></strong>. Sebagian salaf juga mengatakan: <em>&#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;</em>. Dan tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, maka dia tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai keikhlasan.</p>
<p>Oleh sebab itu, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, <em>&#8216;Orang-orang Yahudi mengatakan: Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat&#8217;</em>. Maka beliau menjawab: <em>&#8216;Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?&#8217;</em> Setan tidak akan repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur -dengan iman-.</p>
<p>Oleh sebab itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang terasa berat dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, <em>&#8216;Benarkah kalian merasakan hal itu?&#8217;</em>. Mereka menjawab, <em>&#8216;Benar&#8217;</em>. Beliau pun bersabda, <em>&#8216;Itulah kejelasan iman&#8217;</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Artinya hal itu merupakan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan keimanan kalian, karena perasaan itu muncul dalam dirinya sementara hal itu tidak akan muncul kecuali pada hati yang lurus dan bersih (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/38])</p>
<p>Keikhlasan -yang hal ini merupakan intisari dari ajaran tauhid- merupakan sesuatu yang membutuhkan <strong>perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu</strong>. Sahl bin Abdullah berkata, <em>“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 26).</p>
<p>Dan sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 143).</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Binasalah hamba Dinar! Celakalah hamba Dirham! Celakalah hamba khamisah (sejenis kain)! Celakalah hamba khamilah (sejenis model pakaian)! Apabila diberi dia merasa senang, dan apabila tidak diberi maka dia murka. Celaka dan merugilah dia!”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa sebagian manusia ada yang <strong>cita-cita hidupnya hanya untuk mendapatkan dunia</strong> dan perkara itulah yang paling dikejar olehnya. Itulah tujuan pertama dan terakhir yang dicarinya. Maka kalau ada orang semacam ini niscaya akhir perjalanan hidupnya adalah kebinasaan dan kerugian (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 331).</p>
<p>Itulah sosok pengejar dunia, yang rasa senang dan bencinya dikendalikan oleh hawa nafsunya (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 241). Maka barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai puncak urusan dan akhir cita-citanya pada hakekatnya dia telah mengangkatnya sebagai sesembahan tandingan bagi Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 332)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagaimanakah pendapatmu mengenai orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan?” </em>(<strong>QS. al-Furqan: 43</strong>).</p>
<p>Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali <em>hafizhahullah</em> memberikan keterangan bahwa sesungguhnya <strong>tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah melainkan dia condong menujukan ibadahnya kepada selain Allah</strong>. Memang, bisa jadi dia tidak tampak memuja/menyembah patung atau berhala. Atau juga tidak tampak dia menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi, sebenarnya dia telah menyembah hawa nafsu yang telah menjajah hatinya dan memalingkan dirinya sehingga tidak mau tunduk beribadah kepada Allah (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 147)</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Pokok munculnya kesyirikan kepada Allah adalah kesyirikan dalam hal cinta. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), &#8216;Sebagian manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.&#8217; (<strong>QS. al-Baqarah: 165</strong>)&#8230;”</em> (<em>ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</em>, hal. 212). Orang yang mencintai selain Allah -apa pun bentuknya- sebagaimana kecintaannya kepada Allah, atau orang yang lebih mendahulukan ketaatan kepada selain Allah daripada ketaatan kepada Allah maka sesungguhnya orang tersebut telah terjerumus dalam syirik besar yang tidak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya tidak bertaubat darinya (lihat<em> al-Qaul as-Sadid</em>, hal. 96, lihat juga <em>al-Jadid</em>, hal. 278)</p>
<p>Bahkan, karena terlalu berlebihan kecintaannya kepada dunia maka sebagian orang tega menjadikan amal akherat sebagai alat untuk menggapai ambisi-ambisi dunia semata! <strong>Secara fisik mereka tampak mengejar pahala akherat</strong>, namun hatinya dipenuhi dengan kecintaan kepada kesenangan dunia yang hanya sesaat. <em>Subhanallah</em>&#8230; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya),<em>“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan untuk mereka balasan atas amal-amal mereka di dalamnya sedangkan mereka tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak akan mendapatkan balasan apa-apa di akherat selain neraka dan akan hapuslah semua amal yang mereka kerjakan dan sia-sialah apa yang dahulu mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. Huud: 15-16</strong>).</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa beramal soleh semata-mata untuk menggapai kesenangan dunia -tanpa ada keinginan untuk memperoleh balasan akherat atau balasan yang dijanjikan Allah- termasuk kategori kesyirikan, bertentangan dengan kesempurnaan tauhid, bahkan menyebabkan terhapusnya pahala amalan (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 238)</p>
<p><em>Nas&#8217;alullahat taufiq was salamah</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suami Terjerat LDII (Konsultasi)</title>
		<link>http://abumushlih.com/suami-terjerat-ldii-konsultasi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/suami-terjerat-ldii-konsultasi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 23:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Harokah]]></category>
		<category><![CDATA[Hizbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[LDII]]></category>
		<category><![CDATA[Lemkari]]></category>
		<category><![CDATA[Manqul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1826</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: al-Ustadz Abu Saad, MA -hafizhahullah- Tanya: Ustadz, perkenalkan saya adalah seorang istri dari seorang pria yang menjadi anggota kelompok LDII. Dulu pun saya termasuk anggota. Kini saya bingung dengan posisi saya, karena dalam keyakinan LDII kelompok diluarnya adalah kafir. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/suami-terjerat-ldii-konsultasi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsuami-terjerat-ldii-konsultasi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsuami-terjerat-ldii-konsultasi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<p><strong>Oleh: al-Ustadz Abu Saad, MA </strong><em>-hafizhahullah-</em><strong><br />
</strong></p>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm; text-align: justify } 		P.western { font-family: "Bookman Old Style", serif; font-size: 10pt; font-weight: light } --><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Ustadz, perkenalkan saya adalah seorang istri dari seorang pria yang  menjadi anggota kelompok LDII. Dulu pun saya termasuk anggota. Kini saya  bingung dengan posisi saya, karena dalam keyakinan LDII kelompok  diluarnya adalah kafir.</p>
<p><span id="more-1826"></span><strong></strong></p>
<p>Dalam kesendirian saya di tengah perkampungan  komunitas LDII saya  khawatir akan terseret lagi. Untuk itu saya mohon  advisnya. <em>Jazakallahu  khairan.</em> (Akhwat , Yogyakarta)</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Sebelum saya menjawab pertanyaan ukhti,  sebaiknya kita runut terlebih dahulu beberapa penyimpangan kelompok yang  disebut Islam jama’ah atau LDII. Semoga juga bermanfaat bagi  saudara-saudara kaum Muslimin yang lainnya:</p>
<p><strong>A.</strong> Sikap mereka terhadap kaum Muslimin diluar  jama’ah mereka. Orang Islam diluar kelompok mereka dianggap kafir. Dalil  mereka adalah:</p>
<p>“<em>Mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun, mengabarkan kepada kami  Baqiyah, mengabarkan kepadaku Shafwan bin Rustum dari Abdur-Rahman bin  Maisarah dari Tamim al-Dari, ia berkata; ‘Di zaman Umar kebanyakan orang  berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan rumah. Berkatalah Umar;  ‘Wahai golongan Arab! Ingatlah tanah..tanah! <strong>Sesungguhnya tidak ada  Islam tanpa jama’ah (persatuan) dan tidak ada jama’ah tanpa Imarah  (kepemimpinan) dan tidak ada Imarah/kepemimpinan tanpa ketaatan  (kepatuhan)</strong>. Barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya karena  ilmunya/pemahamannya maka akan menjadi kehidupan bagi dirinya sendiri  dan juga bagi mereka, dan barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh  kaumnya tanpa memiliki ilmu/pemahaman, maka akan menjadi kebinasaan bagi  dirinya dan juga bagi mereka.”</em>”</p>
<p>Ucapan Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> tersebut bila  ditinjau dari segi ilmu hadits (maka) <em>sanad</em>-nya lemah, dengan  dua sebab:</p>
<ol>
<li>Shafwan bin Rustum adalah <em>majhul</em> (tidak diketahui  kredibilitasnya). Hal ini dinyatakan oleh 	al-Dzahabi dalam kitabnya <em>Lisanul  Mizan</em> 3/191, dan disetujui 	oleh <em>al-Hafizh</em> Ibnu Hajar  dalam kitab <em>Mizanul-I’itidal</em> 3/433.</li>
<li><em>Inqitha’</em> antara Abdur-Rahman bin 	Maisarah dengan sahabat  Tamim ad-Dari yang meriwayatkan ucapan 	sahabat Umar bin Khatthab ini.</li>
</ol>
<p>Seandainya hadits itu shahih, justru ucapan Umar ini menjadi <em>hujjah</em> (alasan) atas (argumentasi yang melemahkan / mengoreksi) orang-orang  LDII yang telah mem-<em>bai’at</em> <strong>orang yang tidak berilmu</strong>, bahkan  banyak salah paham atau bahkan sengaja salah paham. <em>La haula wala  quwwata illa billah.</em></p>
<p>Oleh Nur Hasan Ubaidah, pendiri embrio LDII, (hadits ini) ditafsirkan  secara terbalik; “<em>Jika tidak taat kepada amir, maka lepas  bai’atnya, jika lepas bai’atnya, maka tidak punya amir, kalau tidak  punya amir, maka bukan jama’ah, jika bukan jama’ah, maka bukan Islam,  kalau bukan Islam, apa namanya kalau tidak kafir.</em>”</p>
<p>Bahkan kalau bicara tentang pentingnya jama’ah, mereka mengatakan; “<em>Saudara-saudara  sekalian, <strong>kalau diantara saudara ada yang punya pikiran, ada yang punya  sangkaan bahwa diluar kita (diluar jama’ah Ubaidah) masih ada yang  masuk Surga tanpa mengikuti kita, maka sebelum berdiri, saudara sudah  faroqol-jama’ah (memisahkan diri dari jama’ah), sudah kafir</strong>, dia harus  tobat dan bai’at kembali, jika tidak, maka dia akan masuk neraka  selama-lamanya.</em>”</p>
<p>Itulah bukti kebohongannya yang amat dahsyat, hingga mengkafirkan  hanya berlandaskan <em>manqul</em> bikinan dan dikuatkan dengan ucapan  Umar yang dari sisi <em>sanad</em>-nya <em>dha’if</em>, padahal hadits  ini tidak bisa dijadikan dalil apalagi untuk mengkafirkan orang. <strong>Dari  sinilah mereka memiliki keyakinan yang menyimpang dan menyesatkan  terhadap orang-orang di luar jama’ah mereka, di antaranya:</strong></p>
<ul>
<li>Orang Islam diluar kelompok mereka dianggap najis, meski orangtua  sendiri pun. Kalau ada orang diluar kelompok shalat di masjid mereka,  bekas shalat orang tersebut harus dicuci kembali. Kalau ada orang diluar  kelompok bertamu, bekas tempat duduk tamu tersebut harus dicuci karena  najis. Pakaian mereka yang dijemur dan diangkat oleh orangtua mereka  yang bukan kelompoknya harus dicuci kembali karena dianggap terkena  najis.</li>
<li>Wajib <em>bai’at</em> dan taat pada <em>amir</em>/imam 	mereka.</li>
<li>Mati dalam keadaan belum di-<em>bai’at</em> oleh imam/<em>amir</em>,  dianggap mati jahiliyah.</li>
<li>Haram memberikan daging qurban atau zakat 	fithri kepada orang  diluar kelompok.</li>
<li>Harta benda diluar kelompok halal untuk 	diambil walau dengan cara  apapun (asal tidak tertangkap saja).</li>
<li>Haram shalat di belakang orang yang bukan 	kelompok mereka, kalaupun  ikut shalat tidak usah berwudhu karena <em>toh</em> shalatnya harus  diulangi.</li>
<li>Haram kawin dengan orang di luar kelompok 	mereka.</li>
</ul>
<p><strong>B. Sistem <em>manqul</em></strong></p>
<p>LDII memiliki sistem <em>manqul</em>. <em>Manqul</em> menurut Ubaidah  Lubis adalah; “<em>Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru;  telinga harus mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat.  Terhalang dinding atau lewat buku tidak sah. Murid tidak dibenarkan  mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun menguasai ilmu  tersebut, kecuali telah mendapat ijazah dari guru, baru boleh  mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu.</em>”</p>
<p>Di Indonesia ini satu-satunya ulama yang ilmu agamanya <em>manqul</em> hanyalah Nur Hasan Ubaidah Lubis. Hal ini bertentangan dengan ajaran  nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang memerintahkan  agar siapa saja yang mendengarkan ucapannya hendaklah memeliharanya,  kemudian disampaikan kepada orang lain, dan Nabi tidak pernah memberikan  ijazah kepada para Sahabat <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p>“<em>Semoga Allah membaguskan orang yang mendengarkan ucapan lalu  menyampaikannya (kepada orang lain) sebagaimana apa yang didengar.</em>”  (Syafi’i dan Baihaqi)</p>
<p>Dalam hadist ini Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendoakan orang yang menyampaikan sabdanya kepada orang lain seperti  yang didengarnya. Adapun cara atau alat yang dipakai untuk mempelajari  dan menyampaikan hadits-haditsnya tidaklah ditentukan. Jadi bisa  disampaikan dengan lisan, dengan tulisan, audio, video, dan lain-lain.</p>
<p>Ajaran <em>manqul</em> Nur Hasan ini terlalu mengada-ada. Tujuannya  membuat pengikutnya fanatik, tidak dipengaruhi oleh pikiran orang lain,  sehingga sangat tergantung dan terikat dengan apa yang digariskan oleh <em>amir</em>-nya.  Padahal Allah  <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menghargai hamba-hamba-Nya  yang mau mendengar ucapan, lalu menyeleksinya mana yang lebih baik untuk  diikutinya.</p>
<p>“<em>Berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengar  perkataan lalu mengikuti apa yang diberi Allah petunjuk, dan mereka  itulah orang yang mempunyai akal.</em>” (QS. az-Zumar : 17-18)</p>
<p><strong>C.</strong> Dosa-dosa bisa ditebus lewat sang <em>amir</em>/imam,  besar tebusan tergantung dari besarnya dosa yang diperbuat yang (mana  tebusan ini) ditentukan oleh <em>amir</em>/imam.</p>
<p><strong>D.</strong> Wajib membayar infak 10% dari penghasilan per  bulan, sedekah, dan zakat kepada <em>amir</em>/imam. Haram <strong>membayarkannya  pada pihak lain.</strong></p>
<p>E. Harta, uang, infaq, sedekah yang sudah diberikan kepada <em>amir</em>/imam  tidak boleh ditanyakan kembali catatannya atau digunakan untuk apa  saja. Sebab kalau menanyakan kembali harta, zakat, infak dan sedekah  yang pernah dikeluarkan dianggap sama dengan menelan kembali ludah yang  sudah dikeluarkan.</p>
<p><strong>F.</strong> Kesimpulan.</p>
<p>LDII adalah nama lain dari kelompok yang menamakan diri sebagai <em>Darul-Hadits</em>,  Islam Jama’ah, atau Lemkari yang didirikan oleh Madigol alias Nur Hasan  Ubaidah Lubis (Luar Biasa). Setelah Madigol meninggal pada hari Sabtu  tanggal 12 Maret 1982, tahta kerajaan LDII diwarisi oleh putranya yang  tertua yaitu Abduzh-Zhahir Nur Hasan sebagai imam/<em>amir</em> dan di-<em>bai’at</em> di hadapan jenazah mendiang ayahnya sebelum dikuburkan dengan  disaksikan seluruh <em>amir</em>/imam daerah. Hasyim Rifa’i yang pernah  ditugaskan oleh pihak IJ (Islam Jama’ah) untuk keliling ke berbagai  wilayah di dalam dan di luar negeri menyebutkan bukti-bukti bahwa mereka  menganggap golongan selain IJ/LEMKARI/LDII adalah kafir.</p>
<ol>
<li>Mereka menganggap orang Islam di luar 	golongan adalah ahli kitab,  sedang yang lain kafir.</li>
<li>Dalam menanamkan keyakinan pada murid-murid 	mereka mengatakan:
<ol>
<li>Kalau saudara-saudara mengira di luar kita 		masih ada orang yang  bisa masuk surga maka sebelum berdiri, saudara 		sudah kafir (<em>faroqol-jama’ah</em>/memisahkan  diri dari jama’ah), 		sudah murtad harus tobat dan di-<em>bai’at</em> kembali.</li>
<li>Orang keluar dari jama’ah kok masih ngaji, shalat dan puasa, itu  lebih bodoh daripada orang kafir, sebab orang-orang kafir tahu kalau  akan masuk neraka, maka mereka hidup bebas.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Pengunggulan kelompok sendiri dan memastikan Muslimin selain  kelompoknya masuk neraka seperti itu jelas sifat Iblis yang telah  dijabarkan al-Qur’an yang telah menipu Adam dan Hawa. Sedang rangkaian  kerjanya, bisa dilihat bahwa mereka sangat berat menghadapi orang alim  agama, sebagaimana setan pun berat menghadapi orang alim agama.</p>
<p>Itulah kenyataan yang dikemukakan oleh Hasyim Rifa’i dan para  petinggi Islam Jama’ah/LEMKARI/LDII yang telah keluar dari kungkungan  aliran yang pernah dilarang tersebut.</p>
<p>Kalau setan yang dinyatakan Allah sebagai musuh manusia itu telah  mengajari manusia untuk menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang  halal alias mengadakan syari’at, IJ/LEMKARI/LDII pun begitu. Sang <em>amir</em> mewajibkan pengikutnya setor penghasilan masing-masing 10% (<em>usyur</em>)  untuk <em>amir</em> tanpa boleh menanyakan untuk apa.</p>
<p>Lebih parah lagi dari penuturan para mantan anggota Islam Jama’ah  diketahui bahwa sang <em>amir</em> <strong>menjamin anggota jama’ah masuk surga</strong>.  Padahal hanya Dajjal-lah yang berani membuat pernyataan sedahsyat itu.  Akhlak Nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sama sekali  tidak tercermin dalam tingkah laku <em>amir</em> pendiri IJ. Riwayat  hidupnya penuh <strong>mistik dan perdukunan</strong>, melarikan perempuan, menceraikan  tiga belas istrinya –menurut penelitian Litbang Depag RI– memungut upeti  10% dari masing-masing jama’ah dengan sertifikat atas nama pribadi,  diketahui pula bahwa dia punya ilmu pelet untuk menggaet wanita, baik  yang lajang maupun berstatus istri orang.</p>
<p>Terhadap Allah mereka berani membuat syari’at sendiri (seperti  mewajibkan jama’ahnya setor sepuluh persen penghasilan kepadanya),  terhadap Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (dia)  menyelisihi akhlak Beliau namun mengklaim dirinya sebagai <em>amir</em> yang harus ditaati jama’ah, kepada para ulama ia mencaci–maki dengan  amat keji dan kotor, dan kepada umat Islam ia menajiskan dan  mengkafirkan, serta memvonis masuk neraka. Sedang kepada wanita ia amat  berhasrat, hingga dengan ilmu-ilmu yang dilarang Allah, yakni sihir  pelet pun ditempuh.</p>
<p>Itulah jenis kemunafikan dan kesesatan yang nyata, yang dia sebarkan  sejak tahun 1941, dan <em>alhamdulillah</em> telah dilarang oleh  Kejaksaan Agung tahun 1971. Namun dengan liciknya ia bersama pengikutnya  berganti–ganti nama dan bernaung di bawah Golkar, maka kesesatan itu  justru lebih mekar dan melembaga sampai kini ke desa–desa hampir seluruh  wilayah Indonesia bahkan ke negara–negara lain dengan nama LDII.  Begitulah berbagai penyimpangan dalam kelompok tersebut. Memang beberapa  waktu terakhir mereka kelihatan mulai membuka diri terhadap kaum  Muslimin lainnya. Tetapi hakikatnya keyakinan-keyakinan tersebut masih  ada pada diri mereka dan mereka sembunyikan untuk mengelabui orang-orang  diluar kelompok mereka.</p>
<p>Nasehat saya kepada <em>ukhti</em> penanya, <strong>yang pertama</strong> memohon kepada Allah untuk memberikan hidayah kebenaran kepada suaminya  dan orang-orang yang tertipu dengan jama’ah ini dan mengembalikannya  kepada jalan kebenaran.</p>
<p><strong>Yang kedua</strong>, untuk selalu dan tidak letih-letihnya  memberikan nasehat kepada suaminya dengan cara yang hikmah dan kalau  harus berdiskusi atau berdebat, maka dengan cara dan jalan yang terbaik,  baik dengan dalil-dalil dari al-Qur’an ataupun as-Sunnah atau dengan  logika yang tepat dan bisa diterima oleh akal sehat.</p>
<p><strong>Yang ketiga</strong>, berkhidmatlah kepada suami dengan  sepenuh hati, tampakkan kepadanya akhlak yang mulia, patuhlah kepadanya  dalam perkara-perkara yang <em>ma’ruf</em> adapun bila ia mengajak pada  perkara maksiat atau penyimpangan maka tidak ada ketaatan kepada makhluk  dalam maksiat kepada Allah, dan jagalah keharmonisan rumah tanggamu  dengan berbuat <em>ihsan</em> kepadanya dan jangan meminta cerai  kepadanya karena ini akan membuka pintu setan untuk menghancurkan rumah  tanggamu.</p>
<p><strong>Yang terakhir</strong>, belajar dan belajarlah ilmu yang  bermanfaat yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan  yang dipahami generasi yang terbaik dari umat ini, yaitu para sahabat  dan para Imam yang mulia dari kalangan ulama umat ini. Dengan ini semua,  dirimu akan terjaga dari berbagai fitnah dan <em>syubhat</em> yang ada  di sekitarmu, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah <em>Ta’ala</em>.<em> Wallahu Waliyyut-Taufiq.</em></p>
<p>Sumber : <strong>Majalah Fatawa</strong>, volume III, nomor 11,  Nopember 2007 M/Dzulqa’dah 1428 H, halaman 52-54.</p>
<p>Dinukil dari: <a href="http://ibnuramadan.wordpress.com" target="_blank">http://ibnuramadan.wordpress.com</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/suami-terjerat-ldii-konsultasi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Mudah Mempelajari Aqidah Ahlus Sunnah (1)</title>
		<link>http://abumushlih.com/cara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-1.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/cara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-1.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 18:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1756</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Bab 1. Pengantar Aqidah Ahlus Sunnah Bab ini mencakup tujuh pembahasan: Makna Aqidah Urgensi Aqidah Makna as-Sunnah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah Nama Lain Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah Makna Salaf Kewajiban &#8230; <a href="http://abumushlih.com/cara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-1.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-1.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-1.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="CENTER">Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>Bab 1. Pengantar Aqidah Ahlus Sunnah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Bab ini mencakup tujuh pembahasan:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Makna 	Aqidah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Urgensi 	Aqidah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Makna 	as-Sunnah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Ahlus 	Sunnah wal Jama&#8217;ah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Nama 	Lain Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Makna 	Salaf</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Kewajiban 	Mengikuti Manhaj Salaf</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT"><span id="more-1756"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[1] Makna Aqidah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Secara bahasa aqidah berarti mengikatkan sesuatu. Kalau dikatakan bahwa seseorang </span><em><span style="font-weight: normal;">meng-i&#8217;tiqadkan sesuatu</span></em><span style="font-weight: normal;"> maka itu maknanya dia telah mengikatkan keyakinan itu di dalam hatinya. Yang dimaksud dengan istilah aqidah adalah segala sesuatu yang menjadi ideologi bagi seseorang. Aqidah adalah amalan hati yang berupa keimanan di dalam hati terhadap sesuatu dan pembenaran/</span><em><span style="font-weight: normal;">tashdiq</span></em><span style="font-weight: normal;"> tentangnya. Pokok-pokok aqidah Islam biasa dikenal dengan istilah rukun Islam, yaitu mencakup: iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan iman kepada takdir (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 9). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[2] Urgensi Aqidah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Berikut ini beberapa dalil yang menunjukkan betapa penting kedudukan aqidah:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa 	yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah dia 	melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatupun dalam 	beribadah kepada Rabbnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Kahfi: 110</strong><span style="font-weight: normal;">). 	Ayat ini menunjukkan bahwa aqidah yang benar merupakan asas tegaknya 	agama dan syarat diterimanya amalan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tauhid 	li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 9). Hal ini semakin jelas dengan ayat berikut ini&#8230;</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh 	telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, 	seandainya kamu berbuat syirik niscaya akan lenyap seluruh amalmu 	dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. az-Zumar: 65</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh 	Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan 	sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. an-Nahl: 36</strong><span style="font-weight: normal;">). 	Ayat ini menunjukkan bahwa fokus dakwah para rasul yang paling utama 	adalah untuk memperbaiki aqidah; agar umat menyembah Allah semata 	dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tauhid 	li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 10). Hal ini semakin jelas dengan ayat berikut ini&#8230;</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman mengenai seruan para rasul kepada kaumnya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sembahlah Allah saja, 	tidak ada bagi kalian satupun sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 59,65,73,85</strong><span style="font-weight: normal;">). 	Ucapan ini dikatakan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu&#8217;aib dan segenap 	nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;alaihimush sholatu 	was salam</span></em><span style="font-weight: normal;"> kepada 	kaumnya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tauhid 	li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 10). </span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[3] Makna as-Sunnah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Secara bahasa as-Sunnah bermakna jalan atau perjalanan. Menurut istilah ahli hadits Sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, sifat fisik atau sifat perilaku baik hal itu terjadi sebelum beliau diutus sebagai nabi ataupun sesudahnya. Menurut istilah ahli ushul Sunnah adalah hukum yang ditetapkan oleh Nabi</span><em><span style="font-weight: normal;"> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> yang tidak disebutkan secara tegas di dalam al-Qur&#8217;an, baik hal itu merupakan penjelas ayat ataupun bukan. Adapun menurut ulama fikih maka Sunnah diartikan sebagai perkara yang bukan wajib, yaitu apabila dikerjakan berpahala dan kalau ditinggalkan tidak berdosa. Namun yang dimaksud dengan istilah Sunnah oleh para ulama salaf adalah lebih luas cakupannya daripada itu semua. Menurut mereka Sunnah itu adalah: </span><strong>kesesuaian dengan al-Kitab dan Sunnah Rasulullah </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</strong></em><strong> serta pemahaman para sahabatnya</strong><span style="font-weight: normal;">, baik hal itu mencakup perkara aqidah maupun perkara ibadah. Lawan dari istilah Sunnah itu adalah bid&#8217;ah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 25-26).</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[4] Makna Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Istilah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah telah dikenal oleh para sahabat. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengenai tafsir firman Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Pada hari itu -kiamat- maka akan memutih berseri wajah-wajah dan akan menghitam legam wajah-wajah yang lain.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Ali Imran: 106</strong><span style="font-weight: normal;">). Ibnu Abbas berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Yaitu akan memutih wajah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, dan akan menghitam legam wajah Ahlul Bid&#8217;ah wal Furqah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir Ibnu Katsir</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/390] sebagaimana dinukil dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlus Sunnah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 63) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah itu adalah: </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam serta segala sesuatu yang telah disepakati oleh para pendahulu yang pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Majmu&#8217; Fatawa</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/375] sebagaimana dinukil dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 32).</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[5] Nama lain Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Para ulama menyebut Ahlus Sunnah dengan nama yang beraneka ragam, di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>Ahlul Hadits</strong><span style="font-weight: normal;">; 	penamaan ini dapat kita temukan dalam kitab-kitab aqidah salaf 	semacam karya Ibnu Taimiyah, ash-Shabuni dan lain-lain. Yang mereka 	maksud dengan ahlul hadits adalah Ahlus Sunnah itu sendiri. Ibnu 	Taimiyah</span><em><span style="font-weight: normal;"> rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kami 	tidaklah memaksudkan bahwa yang disebut ahli hadits itu adalah 	sekedar orang-orang yang rajin mendengarkannya, menulisnya, atau 	meriwayatkannya. Akan tetapi yang kami maksud ahlul hadits itu 	adalah semua orang yang lebih berhak -mendapatkan julukan itu- 	karena penjagaan mereka terhadapnya, pemahaman mereka tentangnya 	secara lahir dan batin serta berupaya untuk terus mengikutinya 	secara batin dan lahir, demikian pula yang kami maksud dengan ahlul 	qur&#8217;an.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Majmu&#8217; 	Fatawa</span></em><span style="font-weight: normal;"> [4/95] 	sebagaimana dinukil dari </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun 	Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 33)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>al-Atsariyah</strong><span style="font-weight: normal;"> atau </span><strong>Ahlul Atsar</strong><span style="font-weight: normal;">. 	Sebagaimana ucapan Ibnu Abi Hatim ar-Razi yang sangat terkenal, 	beliau </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Salah satu 	karakter ahlul bid&#8217;ah adalah suka mencela ahlul atsar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Ushul I&#8217;tiqad 	Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/179] sebagaimana dinukil dari </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun 	Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 33) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>al-Firqah 	an-Najiyah</strong><span style="font-weight: normal;">. Hal ini 	sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> di 	dalam hadits perpecahan umat,</span><em><span style="font-weight: normal;"> “Semua golongan itu di neraka kecuali satu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dan 	satu golongan/firqah yang selamat</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">itu 	dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash sebagai, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang 	yang beragama sebagaimana aku dan para sahabatku.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Abu Dawud, 	Tirmidzi, Ibnu Majah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	sahih. Lihat hadits-hadits tentang hal ini dalam </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Limadza 	Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> karya Syaikh Sa</span></span><span style="font-weight: normal;">lim 	al-Hilali, hal. 39-40, lihat juga</span><em><span style="font-weight: normal;"> Kun Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 20 dan 34)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>ath-Tha&#8217;ifah 	al-Manshurah</strong><span style="font-weight: normal;">. Penamaan ini 	diambil dari kandungan hadits tatkala Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> menyatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Akan 	senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menang -di 	atas kebenaran- sampai datang kepada mereka ketetapan Allah 	sedangkan mereka tetap dalam keadaan menang.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>Muttafaq &#8216;alaih</strong><span style="font-weight: normal;">). 	Dan sungguh telah salah orang yang membedakan antara ath-Tha&#8217;ifah 	al-Manshurah dengan al-Firqah an-Najiyah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun 	Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 35, lihat juga </span><em><span style="font-weight: normal;">Limadza 	Ikhtartu al-manhaj as-Salafi</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 40-42). Bahkan, Syaikh Salim al-Hilali mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Secara 	keseluruhan, maka hadits-hadits mengenai ath-Tha&#8217;ifah al-Manshurah 	adalah mencapai derajat mutawatir, sebagaimana telah ditegaskan oleh 	sekelompok ulama, di antara mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu 	Taimiyah dalam kitabnya Iqtidha&#8217; Shirathil Mustaqim [hal. 6], 	as-Suyuthi dalam al-Azhar al-Mutanatsirah [93] dan guru kami 	al-Albani -semoga Allah menjaganya- dalam Sholat Iedain [hal. 39-40] 	dan para ulama yang lain.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Limadza Ikhtartu 	al-Manhaj as-Salafi</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 42)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>as-Salafiyah atau 	as-Salafiyun</strong><span style="font-weight: normal;">. Yaitu 	penyandaran kepada kaum salaf -akan dijelaskan siapa yang dimaksud 	dengan istilah salaf- (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun 	Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 35). Apabila ditinjau dari sisi bahasa, istilah salaf itu dapat 	disimpulkan sebagai istilah yang mewakili sekelompok orang yang 	terdahulu dalam hal ilmu, keimanan, keutamaan, atau kebaikan/jasa 	(lihat</span><em><span style="font-weight: normal;"> Limadza Ikhtartu 	al-Manhaj as-Salafi</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 30) </span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[6] Makna Salaf</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Sebagaimana sudah disinggung di muka bahwa secara bahasa kata salaf itu menunjukkan kepada orang-orang yang terdahulu atau yang mendahului. Seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> kepada putrinya Fathimah, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya aku adalah sebaik-baik salaf/pendahulu bagimu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">) (lihat</span><em><span style="font-weight: normal;"> Limadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 30). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Adapun secara istilah, para ulama memiliki perbedaan pendapat dalam memaknai istilah salaf:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Sebagian 	ulama menyatakan bahwa yang dimaksud salaf itu adalah para sahabat 	saja</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Sebagian 	lagi berpendapat bahwa salaf itu mencakup sahabat dan tabi&#8217;in (murid 	para sahabat)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Sebagian 	lagi berpandangan bahwa salaf itu mencakup sahabat, tabi&#8217;in dan 	tabi&#8217;ut tabi&#8217;in (murid para tabi&#8217;in) (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun 	Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 36 dan </span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad 	Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa Shifat</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 54). </span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Pendapat yang populer yang dipegang oleh mayoritas ulama ahlus Sunnah adalah memaknakan istilah salaf dengan tiga generasi utama yang telah dipersaksikan kebaikannya oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> dalam sabdanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sebaik-baik generasi adalah di masaku, kemudian sesudahnya, dan kemudian yang berikutnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>Muttafaq &#8216;alaih</strong><span style="font-weight: normal;">). Istilah salaf ini kemudian lebih dikenal dengan ungkapan salafus shalih (pendahulu yang baik). Sehingga salafus shalih itu mencakup; para sahabat, tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Dan semua orang yang meniti jalan mereka -dalam beragama- dan mengikuti manhaj/metode beragama mereka disebut sebagai salafi sebagai bentuk penyandaran/penisbatan kepada mereka (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa Shifat</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 54).</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Dengan demikian, </span><strong>menisbatkan diri sebagai salafi bukanlah tergolong perbuatan bid&#8217;ah</strong><span style="font-weight: normal;">. Sebab istilah salaf itu sama artinya dengan ahlus sunnah wal jama&#8217;ah. Para sahabat itu adalah salaf, sementara mereka jugalah orang-orang yang pertama kali layak untuk disebut sebagai ahlus sunnah wal jama&#8217;ah. Sebagaimana tidak salah apabila kita menyebut Sunni sebagai penisbatan kepada Ahlus Sunnah, maka demikian pula tidak ada salahnya apabila kita menyebut Salafi sebagai penisbatan kepada generasi salaf (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 38) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak tercela sama sekali atas orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya serta merasa mulia dengannya, bahkan wajib menerima pernyataan itu darinya, karena sesungguhnya madzhab salaf itu tidak lain dan tidak bukan adalah kebenaran itu sendiri.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Majmu&#8217; Fatawa</span></em><span style="font-weight: normal;"> [4/149] sebagaimana dinukil dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 42) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[7] Kewajiban Mengikuti Manhaj Salaf</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Berikut ini sebagian dalil yang menunjukkan wajibnya mengikuti manhaj salaf -secara umum- terlebih lagi dalam perkara aqidah, karena sebagaimana sudah disinggung di depan bahwa aqidah merupakan asas tegaknya agama dan syarat diterimanya amalan (lihat sebuah faedah yang sangat indah yang disebutkan oleh Syaikh Zaid bin Muhammad al-Madkhali dalam kitabnya </span><em><span style="font-weight: normal;">Abraz al-Fawa&#8217;id min al-Arba&#8217; al-Qawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 27). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Di antara dalil-dalil tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Firman 	Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang 	yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar 	serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha 	kepada mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Allah 	persiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya 	sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah 	keberuntungan yang sangat besar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. at-Taubah: 100</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Firman 	Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa 	yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia 	mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan 	membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya, dan Kami akan 	memasukkan mereka ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu 	adalah seburuk-buruk tempat kembali.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 	115</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Firman 	Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ikutilah 	jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Luqman: 15</strong><span style="font-weight: normal;">). 	Imam Ibnul Qayyim</span><em><span style="font-weight: normal;"> rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Setiap para sahabat 	adalah orang yang munib/kembali kepada Allah, oleh sebab itu wajib 	mengikuti jalannya&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">I&#8217;lam al-Muwaqqi&#8217;in</span></em><span style="font-weight: normal;"> [4/120] sebagaimana dinukil dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Kun 	Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 37)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi 	wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sebaik-baik 	manusia adalah di jamanku, kemudian sesudahnya, dan kemudian 	generasi yang berikutnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">). 	Syaikh Prof. Dr. Muhammad Khalifah at-Tamimi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Predikat 	baik yang dipersaksikan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ini 	terhadap tiga generasi utama menunjukkan keutamaan mereka dan 	keterdahuluan mereka serta kemuliaan kedudukan mereka dan keluasan 	ilmu mereka terhadap syari&#8217;at Allah dan betapa kuatnya komitmen 	mereka dalam berpegang teguh dengan Sunnah rasul-Nya shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlus Sunnah</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 57)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi 	wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Yahudi 	berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, Nasrani berpecah menjadi 	tujuh puluh dua golongan, sedangkan umat ini -umat Islam- akan 	berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya terancam neraka 	kecuali satu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Ada yang bertanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Siapakah 	golongan itu wahai Rasulullah?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Maka beliau menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Yaitu 	orang-orang yang berpegang dengan pemahamanku dan para sahabatku 	pada hari ini.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Abu Dawud, 	Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	dihasankan Syaikh Salim al-Hilali lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Limadza 	Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 39).</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	orang yang masih hidup sepeninggalku akan melihat banyak 	perselisihan. Oleh sebab itu wajib bagi kalian untuk mengikuti 	Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang lurus dan berpetunjuk 	setelahku. Berpegang teguhlah dengannya &#8230;” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. 	Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Darimi, Ahmad</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	sahih. Lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Kun 	Salafiyan &#8216;alal Jaddah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 39). Syaikh Salim al-Hilali menyimpulkan keterangan para ulama 	tentang makna Sunnah Khulafa&#8217;ur Rasyidin, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	yang dimaksud dengan Sunnah Khulafa&#8217;ur Rasyidin tidak lain adalah 	pemahaman para sahabat radhiyallahu&#8217;anhum&#8230;”.</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Hal itu sebagaimana telah diterangkan oleh Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dalam teks hadits yang lain mengenai golongan yang selamat, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang 	yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman para sahabatku pada hari 	ini.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Limadza Ikhtartu 	al-Manhaj as-Salafi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 75)</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/cara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-1.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

