<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Bid&#8217;ah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/bidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Merasakan Kelezatan Iman</title>
		<link>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2502</guid>
		<description><![CDATA[Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman [34]) Ridha adalah merasa puas dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [34])</p>
<p><span id="more-2502"></span></p>
<p>Ridha adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu serta tidak mencari lagi sesuatu yang lain bersamanya. Makna hadits ini adalah; orang tersebut tidak mencari dan berharap kecuali kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> semata, tidak mau berusaha kecuali di atas jalan Islam, dan tidak mau menempuh suatu jalan kecuali apabila sesuai dengan syari&#8217;at Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seseorang yang telah merasa ridha dengan sesuatu maka sesuatu itu akan terasa mudah baginya. Demikian pula seorang mukmin apabila iman telah meresap ke dalam hatinya maka akan terasa mudah segala ketaatan kepada Allah dan dia akan merasakan nikmat dengannya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/86] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang bisa merasakan kelezatan iman adalah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Ridha      Allah sebagai Rabb</li>
<li>Ridha      Islam sebagai agama</li>
<li>Ridha      Muhammad sebagai rasul</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Pertama:</strong><br />
<em>Ridha Allah Sebagai Rabb</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Rabb</strong></p>
<p>Imam ar-Raghib al-Ashfahani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Akar kata dari Rabb adalah tarbiyah; yaitu menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.”</em> (lihat <em>al-Mufradat fi Gharib al-Qur&#8217;an</em> [1/245])</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Rabb artinya adalah yang mentarbiyah seluruh alam; dan alam itu adalah segala sesuatu selain Allah. Tarbiyah itu berupa penciptaan mereka, pemberian berbagai sarana yang Allah sediakan untuk mereka, pemberian nikmat kepada mereka dengan kenikmatan yang sangat agung; yang seandainya mereka tidak mendapatkannya niscaya mereka tidak mungkin bertahan hidup di alam dunia. Nikmat apapun yang ada pada diri mereka adalah bersumber dari Allah ta&#8217;ala.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, sebagaimana tercantum dalam <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Rabb menurut bahasa digunakan untuk tiga makna; sayyid/tuan yang dipatuhi, maalik/pemilik atau penguasa, atau sosok yang melakukan ishlah/perbaikan untuk selainnya.”</em> (lihat transkrip ceramah <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul</em> milik beliau)</p>
<p><strong>[2] Tarbiyah Umum dan Tarbiyah Khusus</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Tarbiyah Allah ta&#8217;ala kepada makhluk-Nya ada dua macam: umum dan khusus. Tarbiyah yang bersifat umum adalah berupa penciptaan seluruh makhluk, pemberian rizki dan petunjuk kepada mereka menuju kemaslahatan hidup mereka untuk bisa bertahan hidup di alam dunia. Adapun tarbiyah yang bersifat khusus adalah tarbiyah yang Allah berikan kepada para wali-Nya. Allah mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuk itu dan menyempurnakan iman mereka. Allah singkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang membatasi antara mereka dengan diri-Nya. Hakikat tarbiyah khusus ini adalah pemberian taufik untuk menggapai segala kebaikan dan penjagaan dari segala keburukan. Barangkali inilah rahasia mengapa kebanyakan doa para nabi itu menggunakan kata Rabb, sebab semua cita-cita dan keinginan mereka berada di bawah kendali rububiyah Allah yang khusus ini. Maka firman-Nya &#8216;Rabbul &#8216;alamin&#8217; menunjukkan atas keesaan Allah dalam hal mencipta, mengatur, pemberian nikmat, dan kekayaan-Nya yang maha sempurna. Hal itu sekaligus menggambarkan betapa besarnya kebutuhan seluruh alam ini kepada-Nya, dari segala sisi dan pertimbangan.” </em>(<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, lihat <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34], lihat juga <em>Tafsir Surah al-Fatihah</em>, hal. 12) <em> </em></p>
<p><strong>[3] Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Tauhid rububiyah adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Memberikan Rizki, Yang Mengatur segala urusan, yang  memelihara dan menjaga seluruh makhluk dengan segala bentuk nikmat dan Allah pula yang memelihara dan menjaga makhluk-makhluk pilihan-Nya yaitu para nabi dan pengikut mereka dengan bimbingan akidah yang benar, akhlak yang mulia, ilmu-ilmu yang bermanfaat, maupun amal salih. Inilah bentuk tarbiyah (pemeliharaan dan penjagaan) yang bermanfaat bagi hati dan ruh, yang akan membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akherat (lihat <em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 13)</p>
<p>Allah adalah Rabb alam semesta. Artinya, Allah adalah pencipta dan penguasa alam semesta. Dialah yang melakukan <em>ishlah</em>/perbaikan dan <em>tarbiyah</em>/pemeliharaan dan pembinaan kepada mereka dengan nikmat-nikmat-Nya. Diantara kenikmatan itu -bahkan yang paling agung- adalah diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab. Kemudian Allah pula yang akan memberikan balasan kepada hamba atas amal-amal mereka. Konsekuensi rububiyah Allah adalah berupa perintah dan larangan kepada hamba, balasan atas kebaikan mereka, dan hukuman atas kejahatan mereka. Inilah hakikat rububiyah (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 26)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara ringkas, tauhid rububiyah bisa didefinisikan dengan mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah ada pencipta selain Allah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?”</em> (QS. Fathir: 3). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan milik Allah lah kekuasaan atas langit dan bumi.”</em> (QS. Ali &#8216;Imran: 189). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, Lalu mengapa kalian tidak bertakwa.” </em>(QS. Yunus: 31) (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/5-6] cet. Maktabah al-&#8217;Ilmu, lihat juga <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em> hal. 34)</p>
<p>Apabila diringkas lagi, bisa disimpulkan bahwa tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17 karya Syaikh Muhammad bin &#8216;Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi, lihat juga <em>Qathfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani</em>, hal. 56 karya Syaikh al-Muhaddits Abdul Muhsin al-&#8217;Abbad al-Badr, dan <em>at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 6 karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh <em>hafizhahumullahu</em>)</p>
<p><strong>[4] Orang Musyrik Pun Mengakui Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Para rasul mereka pun mengatakan, “Apakah ada keraguan terhadap Allah; padahal Dia lah yang menciptakan langit dan bumi.”.” </em>(QS. Ibrahim: 10). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, &#8216;Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui&#8217;.” </em>(QS. az-Zukhruf: 9)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).”</em> (QS. az-Zukhruf: 87). Imam Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya orang-orang musyrik arab dahulu telah mengakui tauhid rububiyah. Mereka pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi ini hanya satu.”</em> (lihat <em>Syarh al-&#8217;Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 81, lihat juga <em>Fath al-Majid</em>, hal. 16, <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/201] [7/167])</p>
<p><strong>[5] Konsekuensi Mengimani Allah Sebagai Rabb</strong></p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, <em>“Sebagaimana pula wajib diketahui bahwa pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidaklah mencukupi dan tidak bermanfaat kecuali apabila disertai pengakuan terhadap tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam beribadah) dan benar-benar merealisasikannya dengan ucapan, amalan, dan keyakinan&#8230;”</em> (lihat <em>Syarh Kasyf asy-Syubuhat</em>, hal. 24-25).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” </em>(QS. Yusuf: 107). Ikrimah berkata, <em>“Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, &#8216;Allah&#8217;. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [13/556])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Kemudian, sesungguhnya keimanan seorang hamba kepada Allah sebagai Rabb memiliki konsekuensi mengikhlaskan ibadah kepada-Nya serta kesempurnaan perendahan diri di hadapan-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiya&#8217;: 92). Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. al-Baqarah: 21). Keberadaan Allah sebagai Rabb seluruh alam memiliki konsekuensi bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan sia-sia atau dibiarkan begitu saja tanpa ada perintah dan larangan untuk mereka. Akan tetapi Allah menciptakan mereka untuk mematuhi-Nya dan Allah mengadakan mereka supaya beribadah kepada-Nya. Maka orang yang berbahagia diantara mereka adalah yang taat dan beribadah kepada-Nya. Adapun orang yang celaka adalah yang durhaka kepada-Nya dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya. Barangsiapa yang beriman terhadap rububiyah Allah dan ridha Allah sebagai Rabb maka dia akan ridha terhadap perintah-Nya, ridha terhadap larangan-Nya, ridha terhadap apa yang dibagikan kepadanya, ridha terhadap takdir yang menimpanya, ridha terhadap pemberian Allah kepadanya, dan tetap ridha kepada-Nya tatkala Allah tidak memberikan kepadanya apa yang dia inginkan.”</em> (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 97)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 89)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Allah Sebagai Rabb&#8217; </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari keterangan-keterangan para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Allah sebagai Rabb mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini      bahwa seluruh kenikmatan -jasmani maupun ruhani- adalah bersumber dari      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa segala sesuatu yang ada di alam dunia ini adalah ciptaan dari-Nya</li>
<li>Meyakini      bahwa segala kejadian yang ada di alam dunia ini adalah terjadi dengan      kehendak-Nya. Allah lah yang mengatur segalanya dan Allah yang paling      mengetahui tentangnya.</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah adalah penguasa tunggal alam semesta, Dia lah yang berhak      memerintah dan melarang atas hamba-hamba-Nya, dan Dia lah yang akan      memberikan balasan dan hukuman atas amal perbuatan mereka</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul yang      menjadi pembimbing umat manusia untuk menggapai kebahagiaan hidup yang      sejati</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah semata yang berhak untuk diibadahi, yang menjadi tumpuan      harapan, dan tempat bergantungnya hati. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam      hal itu semua</li>
<li>Memurnikan      segala macam bentuk ibadah kepada-Nya serta meninggalkan dan mengingkari      segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya</li>
<li>Menaati      perintah dan larangan-Nya serta mengimani pahala dan siksa yang      diberikan-Nya</li>
<li>Merasa      ridha dengan takdir dan musibah yang ditetapkan oleh-Nya</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Kedua:</strong><br />
<em>Ridha Islam Sebagai Agama</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara bahasa islam artinya adalah menyerahkan diri. Adapun menurut syari&#8217;at, islam adalah sikap pasrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan melaksanakan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 62)</p>
<p>Dari Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah &#8211;dalam riwayat lain syahadat diungkapkan dengan kata-kata: mentauhidkan Allah, dalam riwayat lain lagi disebutkan: beribadah kepada Allah dan mengingkari sesembahan selain-Nya&#8211;, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa Ramadhan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [8] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [16])</p>
<p><strong>[2] Pokok Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Islam ditegakkan di atas dua prinsip pokok. Pertama; beribadah kepada Allah semata. Kedua; beribadah kepada Allah hanya dengan syari&#8217;at-Nya. Kedua hal ini telah tercakup di dalam dua kalimat syahadat yang kita ucapkan: <em>asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah</em>. <em>“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” </em></p>
<p>Kalimat <em>laa ilaha illallah</em> bermakna tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka seluruh sesembahan yang diibadahi oleh manusia selain Allah adalah sesembahan yang batil. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demikian itulah, karena sesungguhnya Allah itu adalah -sesembahan- yang benar. Adapun segala yang mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil.”</em> (QS. al-Hajj: 62). Adapun kalimat <em>Muhammadur rasulullah</em> bermakna tidak ada orang yang menjadi pedoman dalam hal syari&#8217;at selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80)</p>
<p>Oleh karena itu amalan yang diterima di sisi Allah adalah yang memenuhi dua syarat: ikhlas (tidak syirik) dan <em>ittiba&#8217;</em>/mengikuti tuntunan (bukan bid&#8217;ah). Kedua hal inilah yang dimaksud oleh firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Fudhail bin Iyadh <em>rahimahullah </em>berkata, <em>“Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits).</p>
<p><strong>[3] Pondasi Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [9] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [35], lafal ini milik Muslim). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” </em>(lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (QS. at-Taubah: 109)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p><strong>[4] Agama Para Nabi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/bertauhid dan seorang muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 67). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“&#8230; Maka ikutilah millah Ibrahim yang lurus, dan tidaklah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 95). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian Kami wahyukan kepadamu; hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim yang lurus itu, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. an-Nahl: 123). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah (Muhammad), &#8216;Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama/millah Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.&#8217;.” </em>(QS. al-An&#8217;am: 161).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada teladan yang baik untuk kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah saja&#8230;” </em>(QS. al-Mumtahanah: 4).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” </em>(QS. an-Nahl: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus seorang pun rasul sebelum engkau -wahai Muhammad- melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25).</p>
<p><strong>[5] Islam Telah Sempurna</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 3). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ini adalah nikmat terbesar dari Allah ta&#8217;ala untuk umat ini. Dimana Allah ta&#8217;ala telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan lagi agama selainnya, dan juga tidak butuh nabi selain nabi mereka -semoga salawat dan keselamatan terus terlimpah kepada beliau-. Oleh sebab itulah Allah ta&#8217;ala menjadikan beliau sebagai penutup nabi-nabi dan diutus kepada segenap jin dan manusia&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [3/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya, dan kelak di akherat dia akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.”</em> (QS. Ali Imran: 85). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya, siapa pun yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam padahal Islam itu jelas-jelas telah diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, maka amalannya pasti tertolak dan tidak akan diterima. Agama Islam itulah ajaran yang mengandung sikap kepasrahan/istislam kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada rasul-rasul-Nya. Oleh sebab itu, selama seorang hamba tidak memeluk agama ini maka dia belum memiliki sebab keselamatan dari azab Allah dan tidak memiliki sebab untuk meraih kejayaan berupa limpahan pahala dari-Nya. Dan semua agama selainnya adalah batil.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 137)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.”</em> (QS. Ali Imran: 19). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Ini adalah berita dari Allah ta&#8217;ala bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya dari siapa pun selain agama Islam. Hakikat  Islam adalah mengikuti para rasul dengan menjalankan ajaran yang diturunkan Allah kepada mereka di setiap masa sampai akhirnya mereka -para rasul- ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju-Nya kecuali jalan Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam keadaan memeluk agama selain yang disyari&#8217;atkan oleh beliau maka tidak diterima&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/19] cet. Maktabah at-Taufiqiyah)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberikan al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum yang ummi/buta huruf (yaitu orang-orang musyrik); ”Maukah kalian masuk Islam?”. Apabila mereka masuk Islam, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk. Namun apabila mereka justru berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha melihat semua hamba.”</em> (QS. Ali Imran: 20). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat ini dan juga ayat-ayat lain yang serupa merupakan penunjukan yang sangat tegas mengenai keumuman pengutusan beliau -semoga salawat dan keselamatan tercurah kepadanya- kepada semua manusia sebagaimana hal itu telah diketahui sebagai bagian dari agama secara pasti, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil al-Kitab maupun as-Sunnah dalam banyak ayat dan hadits.”</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Muhammad itu adalah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi.”</em> (QS. al-Ahzab: 40). Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku dari kalangan umat ini, entah dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia tidak mau beriman terhadap ajaran yang aku bawa melainkan kelak dia pasti termasuk penduduk neraka.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [153]). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terdapat kandungan hukum bahwasanya semua agama telah dihapuskan pemberlakuannya dengan adanya risalah Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/245])</p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Islam Sebagai Agama&#8217;</strong></p>
<p>Dari keterangan-keterangan di atas kita dapat menyimpulkan bersama bahwa yang dimaksud dengan ridha Islam sebagai agama itu meliputi hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Beribadah      hanya kepada Allah dan mengingkari segala bentuk peribadahan kepada selain      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah utusan Allah</li>
<li>Meyakini      wajibnya rukun Islam, yaitu: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji</li>
<li>Meyakini      bahwa ibadah tidak akan diterima apabila tidak ikhlas atau tidak mengikuti      tuntunan</li>
<li>Meyakini      tauhid sebagai pondasi agama Islam yang tidak akan sah amal apapun      tanpanya</li>
<li>Meyakini      bahwa agama para nabi adalah satu -yaitu islam- meskipun syari&#8217;atnya      berlainan</li>
<li>Meyakini      bahwa asas agama para nabi adalah tauhid</li>
<li>Meyakini      bahwa seluruh agama yang ada telah dihapuskan dengan ajaran Islam yang      dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini      kesempurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ia tidak memerlukan penambahan atau      koreksi</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Ketiga:</strong><br />
<em>Ridha Muhammad Sebagai Rasul</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Anugerah Risalah</strong></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, <em>“Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah ilah/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan. Kedua; Allah ta&#8217;ala telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.”</em> (lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, hal. 35)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, yang mensucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), sementara sebelumnya mereka berada di dalam kesesatan yang amat nyata.”</em> (QS. Ali Imran: 164)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Risalah adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi hamba. Mereka benar-benar membutuhkannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh di atas segala jenis kebutuhan. Risalah adalah ruh, cahaya, dan kehidupan alam semesta. Maka kebaikan seperti apa yang ada pada alam tanpa ruh, tanpa cahaya, dan tanpa kehidupan?”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim Ushul al-Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wa al-Jama&#8217;ah</em>, hal. 78 karya Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani)</p>
<p><strong>[2] Sumber Kehidupan Hakiki</strong></p>
<p>Allah<em> ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.”</em> (QS. al-Anfal: 24)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanya bisa digapai dengan merespon seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak merespon seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun dia memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka hidup. Oleh karena itu orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang kehilangan sebagian darinya maka dia kehilangan sebagian unsur kehidupan, bisa jadi di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sekadar dengan responnya terhadap ajakan Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 85-86 cet. Dar al-&#8217;Aqidah)</p>
<p><strong>[3] Kasih Sayang Rasul Kepada Umatnya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian. Terasa berat baginya apa yang menyusahkan kalian. Dia sangat bersemangat memberikan kebaikan kepada kalian. Dan terhadap orang-orang yang beriman dia sangat lembut dan penyayang.”</em> (QS. at-Taubah: 128)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang mustajab, maka semua Nabi bersegera mengajukan doanya itu. Adapun aku menunda doaku itu sebagai syafa&#8217;at bagi umatku kelak di hari kiamat. Doa -syafa&#8217;at- itu -dengan kehendak Allah- akan diperoleh setiap orang di antara umatku yang meninggal dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [199])</p>
<p>Dari Urwah, suatu ketika &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> -istri Nabi- menceritakan kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Pernahkah anda menemui suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku telah mendapatkan tanggapan dari kaummu sebagaimana apa yang aku temui. Tanggapan paling berat yang pernah aku dapatkan adalah pada hari &#8216;Aqabah, ketika itu aku tawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, akan tetapi dia tidak menerima tawaranku sebagaimana yang aku kehendaki. Aku pun kembali dengan perasaan sedih mewarnai wajahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku sudah berada di Qarn Tsa&#8217;alib. Aku angkat kepalaku ke atas, ternyata ada awan yang sedang menaungi diriku. Aku pun memperhatikan, ternyata di sana ada Jibril, lalu dia pun memanggilku. Dia berkata, &#8216;Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan yang mereka lakukan terhadapmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, agar kamu perintahkan kepadanya apa yang ingin kau timpakan kepada mereka.&#8217; Maka malaikat penjaga gunung itu pun menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu dia berkata, &#8216;Wahai Muhammad&#8217;. Dia berkata, &#8216;Apabila kamu menginginkan hal itu, niscaya akan aku timpakan kepada mereka dua bukit besar itu.&#8217;.”</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> justru menjawab, <em>“Tidak, sesungguhnya aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab Bad&#8217;u al-Khalq</em> [3231])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau menceritakan: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membaca firman Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> mengenai Ibrahim (yang artinya), <em>“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia, barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia adalah termasuk golonganku.”</em> (QS. Ibrahim: 36). &#8216;Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> juga berkata (yang artinya), <em>“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu, dan apabila Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 118). Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, <em>“Ya Allah, umatku, umatku.”</em> Dan beliau pun menangis. Allah<em> &#8216;azza wa jalla</em> berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad -sedangkan Rabbmu tentu lebih mengetahui- lalu tanyakan kepadanya, apa yang membuatmu menangis?”</em>. Maka Jibril <em>&#8216;alaihis sholatu was salam</em> menemui beliau dan bertanya kepadanya, lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan kepadanya tentang apa yang telah diucapkannya -dan Dia (Allah) tentu lebih mengetahuinya-. Kemudian Allah berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad, dan katakan kepadanya, &#8216;Sesungguhnya Kami pasti akan membuatmu ridha berkenaan dengan nasib umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu bersedih.&#8217;.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [202])</p>
<p>Sa&#8217;id bin al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, beliau menceritakan: Ketika kematian hendak menghampiri Abu Thalib, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun datang kepadanya. Di sana beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin al-Mughirah telah berada di sisinya. Kemudian beliau berkata, <em>“Wahai pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untuk membelamu kelak di sisi Allah.”</em> Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan syahadat kepadanya, sedangkan mereka berdua pun terus mengulangi ucapan itu. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>&#8230; (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1360] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [24])</p>
<p><strong>[4] Konsekuensi Iman Kepada Rasul</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Makna syahadat bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah yaitu mentaati segala perintahnya, membenarkan berita yang disampaikannya, menjauhi segala yang dilarang dan dicegah olehnya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari&#8217;atnya.”</em> (lihat <em>Hushul al-Ma&#8217;mul bi Syarh Tsalatsat al-Ushul</em>, hal. 116)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul pun melainkan supaya ditaati dengan izin Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 64). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apa saja yang dibawa oleh rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarang olehnya kepada kalian maka tinggalkanlah.” </em>(QS. al-Hasyr: 7).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya, tidaklah hal itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” </em>(QS. an-Najm: 3-4). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ikutilah dia (rasul) mudah-mudahan kalian mendapatkan petunjuk.” </em>(QS. al-A&#8217;raaf: 158). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apabila mereka tidak mau memenuhi seruanmu (Muhammad), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu mengikuti hawa nafsunya. Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.” </em>(QS. al-Qashash: 50)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau merasakan siksaan yang sangat pedih.”</em> (QS. an-Nur: 63). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak pantas bagi seorang beriman lelaki ataupun perempuan apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian ternyata masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam menyelesaikan urusan mereka.”</em> (QS. al-Ahzab: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang perkara apa saja maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 59).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka demi Rabbmu, mereka sama sekali tidak beriman sampai mereka mau menjadikan kamu sebagai hakim/pemutus perkara dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak lagi mendapati rasa sempit di dalam diri mereka atas apa yang kamu putuskan dan mereka pun pasrah secara sepenuhnya.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 65)</p>
<p><strong>[5] Makna &#8216;Ridha Muhammad Sebagai Rasul&#8217;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Muhammad sebagai rasul adalah mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini bahwa diutusnya      Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> merupakan anugerah dan      karunia terbesar bagi umat manusia</li>
<li>Meyakini bahwa kebutuhan      umat manusia terhadap bimbingan rasul (risalah) adalah di atas segala      kebutuhan mereka</li>
<li>Meyakini bahwa kehidupan      yang sejati dan kebahagiaan yang hakiki hanya bisa digapai dengan  memenuhi seruan Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini betapa besar      kasih sayang Rasul kepada umatnya dan semangat beliau yang begitu besar      dalam rangka memberikan hidayah kepada mereka</li>
<li>Meyakini kebenaran      berita yang disampaikan olehnya</li>
<li>Meyakini wajibnya      menaati perintahnya dan menjauhi larangannya, dan bahwasanya hal itu      termasuk dalam ketaatan kepada Allah</li>
<li>Meyakini bahwa ibadah      kepada Allah -seikhlas apapun- tidak akan diterima oleh-Nya apabila tidak      sesuai dengan syari&#8217;at dan ajaran beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Menerima segala      ketetapan beliau dengan penuh kepasrahan</li>
<li>Menjadikan sabda dan      ketetapan beliau sebagai rujukan dalam menyelesaikan segala macam      perselisihan serta menjunjung tinggi sabda-sabdanya di atas seluruh ucapan      manusia</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Hakikat Ibadah</title>
		<link>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 20:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2484</guid>
		<description><![CDATA[Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17, at-Tauhid al-Muyassar, hal. 53). Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah thariq mu&#8217;abbad (Lihat Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [1/34])). &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17, <em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53).</p>
<p><span id="more-2484"></span></p>
<p>Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah <em>thariq mu&#8217;abbad </em>(Lihat<em> Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim </em>[1/34])). Yaitu jalan yang telah dihinakan, karena telah banyak diinjak-injak oleh telapak kaki manusia (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34). Sehingga, ibadah bisa diartikan dengan perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan (Lihat <em>at-Tanbihat al-Mukhtasharah Syarh al-Wajibat</em>, hal. 28).</p>
<p>Secara terminologi, ada beberapa definisi yang diberikan oleh para ulama tentang makna ibadah, yang pada hakikatnya semua definsi itu saling melengkapi. Di antaranya mereka menjelaskan bahwa ibadah adalah ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya yang disampaikan melalui lisan para rasul-Nya (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> juga menerangkan bahwa ibadah itu mencakup ketundukan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta membenarkan berita yang dikabarkan-Nya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 45)</p>
<p>Ibnu Juraij <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa ibadah kepada Allah artinya adalah mengenal Allah (Lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [7/327]). Yang dimaksud mengenal Allah di sini adalah mentauhidkan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat tentang perintah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada Mu&#8217;adz sebelum keberangkatannya ke Yaman. Beliau bersabda, <em>“.. Hendaklah yang pertama kali kamu ajak kepada mereka adalah supaya mereka beribadah kepada Allah &#8216;azza wa jalla -dalam riwayat lain disebutkan untuk mentauhidkan Allah-, kemudian apabila mereka sudah mengenal Allah&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Nawawi</em> [2/49] cet. Dar Ibnul Haitsam, lihat pula <em>Shahih Bukhari</em> cet. Maktabah al-Iman, tahun 1423 H, hal. 203 dan 1467. Lihat juga <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 80 cet. Dar al-Hadits tahun 1423 H)</p>
<p>Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ibadah adalah puncak perendahan diri yang dibarengi dengan puncak kecintaan. Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Menurut pengertian syari&#8217;at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/34]). Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, <em>“Sebagian ulama mendefinisikan ibadah sebagai kesempurnaan rasa cinta yang disertai kesempurnaan sikap tunduk.”</em> (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menegaskan, <em>“Ibadah yang diperintahkan itu harus mengandung unsur perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini mengandung tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satu unsur saja maka dia belum dianggap beribadah kepada Allah dengan sebenarnya. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja, maka ini adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan modal rasa harap semata, maka ini adalah metode kaum Murji&#8217;ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka, maka ini adalah jalannya kaum Khawarij.”</em> (<em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 35)</p>
<p>Ibadah juga diartikan dengan tauhid. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> mengenai maksud firman Allah (yang artinya), <em>“Wahai umat manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 21</strong>). Beliau menjelaskan, <em>“Artinya tauhidkanlah Rabb kalian&#8230;”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/75])</p>
<p>Di dalam kitabnya <em>al-&#8217;Ubudiyah </em>(Lihat<em> al-&#8217;Ubudiyah, </em>hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh, tahun 1425 H), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi (Lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 54 cet. al-Maktab al-Islami tahun 1423 H). Dari sini, maka ibadah itu mencakup perkara hati/batin dan juga perkara lahiriyah. Sehingga seluruh ajaran agama itu telah tercakup dalam istilah ibadah (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> menerangkan di dalam <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul </em>(Lihat<em> Syarh Tsalatsat al-Ushul, </em>hal. 23 cet. Dar al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah tahun 1424 H) bahwa pengertian ibadah bisa dirangkum sebagai berikut; suatu bentuk perendahan diri kepada Allah yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari&#8217;at-Nya.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.”</em> (lihat <em>asy-Syarh al-Mumti&#8217; &#8216;ala Zaad al-Mustaqni&#8217;</em> [1/9] cet. Mu&#8217;assasah Aasam, tahun 1416 H).</p>
<p>Dari pengertian-pengertian di atas paling tidak kita dapat menarik satu kesimpulan penting bahwa sesungguhnya ibadah itu ditegakkan di atas rasa cinta dan pengagungan. Rasa cinta akan melahirkan harapan dan tunduk kepada perintah-Nya, sedangkan pengagungan akan menumbuhkan rasa takut dan mematuhi larangan-larangan-Nya. Selain itu, kita juga bisa mengerti bahwa pelaksanaan ibadah tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus mengikuti tuntunan para rasul <em>&#8216;alaihimush sholatu was salam</em>. Dalam konteks sekarang, maka kita semua harus mengikuti petunjuk dan ajaran Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, nabi dan rasul yang terakhir.</p>
<p>Ibadah/amalan akan menjadi benar dan diterima di sisi Allah jika memenuhi 2 syarat; ikhlas dan ittiba&#8217; (Lihat <em>Mazhahiru Dha&#8217;fil &#8216;Aqidah fi Hadzal &#8216;Ashr wa Thuruqu &#8216;Ilajiha</em>, oleh Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>, hal. 10 cet. Kunuz Isybiliya, tahun 1430 H. Sebagian ulama menambahkan syarat ketiga yaitu aqidah yang benar, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali dalam <em>Abraz al-Fawa&#8217;id Syarh Arba&#8217; al-Qawaid</em>).</p>
<p>Ikhlas artinya ibadah itu hanya diperuntukkan kepada Allah dan tidak dipersekutukan dengan selain-Nya. Ini merupakan kandungan dari syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em>. Lawan dari ikhlas adalah syirik, riya&#8217; dan sum&#8217;ah. <em>Riya&#8217;</em> adalah beribadah karena ingin dilihat orang, sedangkan <em>sum&#8217;ah</em> adalah beribadah karena ingin didengar orang. Ittiba&#8217; maksudnya adalah setia dengan tuntunan/sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak mereka-reka tata cara ibadah yang tidak ada tuntunannya. Ini merupakan kandungan dari <em>syahadat anna Muhammadar rasulullah</em>. Lawan dari <em>ittiba&#8217;</em> adalah <em>ibtida&#8217;</em> atau membuat bid&#8217;ah (Silahkan baca <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, oleh Syaikh Dr. Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi <em>hafizhahullah</em>, cet. Jami&#8217;ah al-Islamiyah bil Madinah al-Munawwarah).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai dengan syari&#8217;at Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan yang diniatkan untuk mencari wajah Allah, inilah dua rukun amal yang akan diterima di sisi-Nya (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [5/154] Baca juga <em>al-Qawa&#8217;id wa al-Ushul aj-Jami&#8217;ah wa al-Furuq wa at-Taqasim al-Badi&#8217;ah an-Nafi&#8217;ah</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 40-42 cet. Dar al-Wathan tahun 1422 H).</p>
<p>Sebagaimana orang yang tidak ikhlas amalannya tidak diterima, demikian pula orang yang tidak ittiba&#8217; -alias berbuat bid&#8217;ah- maka amalannya pun tidak diterima. Apalagi orang yang beribadah tanpa keikhlasan dan tanpa ittiba&#8217; (Lihat <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar wa Qurratu &#8216;Uyun al-Akhyar Syarh Jawami&#8217; al-Akhbar</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 14 cet. Darul Kutub al-Ilmiyah, tahun 1423 H). Oleh sebab itu para ulama, di antaranya Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> menafsirkan bahwa yang dimaksud <em>ahsanu &#8216;amalan</em> (amal yang terbaik) dalam surat al-Mulk [ayat 2] sebagai amalan yang paling ikhlas dan paling benar (Lihat <em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 93).</p>
<p>Ikhlas jika dikerjakan karena Allah, sedangkan benar jika dikerjakan dengan mengikuti sunnah/ajaran Nabi (Lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, karya Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits, tahun 1418 H). Bukan dengan cara-cara bid&#8217;ah. Bid&#8217;ah adalah tata cara beragama yang diada-adakan dan menyaingi syari&#8217;at, dimaksudkan dengannya untuk berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, hal. 13). Hal ini memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa syari&#8217;at Islam ini mengatur niat dan cara. Niat yang baik juga harus diwujudkan dengan cara dan sarana yang baik pula (Lihat pula <em>Ighatsat al-Lahfan min Masha&#8217;id asy-Syaithan</em>, karya Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>, hal. 16 cet. Dar Thaibah, tahun 1426 H). Islam tidak mengenal kaidah ala Yahudi; &#8216;tujuan menghalalkan segala cara&#8217;.</p>
<p>Dengan demikian untuk beribadah dengan baik, seorang muslim harus memadukan antara <em>shihhatil irodah</em> (ketulusan niat) dengan <em>shihhatul fahm</em> (kelurusan pemahaman). Oleh sebab itu Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwa kedua hal tadi -<em>shihhatul irodah</em> dan <em>shihhatul fahm</em>- merupakan anugrah dan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Ketulusan niat terwujud di dalam tauhid dan keikhlasan, sedangkan kelurusan pemahaman terwujud dalam ittiba&#8217; kepada sunnah. Sehingga amat wajar jika para ulama sangat menekankan kedua pokok yang agung ini. Sampai-sampai diriwayatkan bahwa Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> pernah berdoa, <em>“Allahumma ahyinaa &#8216;alal islam, wa amitnaa &#8216;alas sunnah.”</em> Artinya: <em>“Ya Allah, hidupkanlah kami di atas islam (tauhid), dan matikanlah kami di atas Sunnah.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2468</guid>
		<description><![CDATA[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah [al-Fatawa Juz 14/295-296] menjelaskan : Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>[<em>al-Fatawa</em> Juz 14/295-296] menjelaskan :</p>
<p><span id="more-2468"></span></p>
<p>Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah <em>ilah</em>/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.</p>
<p>(<em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em> karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 35)</p>
<p>Dari keterangan Syaikhul Islam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya sumber kebahagiaan umat manusia adalah<strong> ikhlas</strong> -yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya- dan <strong><em>ittiba&#8217;</em></strong> -yaitu konsisten dengan ajaran dan petunjuk Rasulullah-, inilah rahasia kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Kedua hal ini pula lah yang terkandung dalam dua kalimat syahadat yang senantiasa kita ucapkan. Dua kalimat yang juga selalu diserukan oleh para mu&#8217;adzin kaum muslimin di berbagai belahan bumi.</p>
<p>Dasar kaidah yang agung ini adalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabb-nya, hendaklah dia melakukan amal salih, dan janganlah dia mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Amal yang salih adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah/tuntunan Nabi. Adapun amalan yang ikhlas adalah yang semata-mata dipersembahkan untuk Allah. Sebagaimana diterangkan oleh Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Dari sinilah kita mengetahui mengapa perhatian para ulama salaf terhadap tauhid dan sunnah sangatlah besar; karena memang kedua hal itulah asas Islam. Dengan memahami tauhid dengan benar maka seorang hamba akan mengerti jalan untuk menggapai ikhlas. Dan dengan memahami sunnah dengan baik maka seorang hamba akan mengerti cara untuk <em>ittiba&#8217;</em> kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Apabila tauhid dan sunnah itu merupakan perkara yang paling mendasar, maka memahami lawan-lawannya pun menjadi perkara yang sangat penting. Karena tidak mungkin seorang mengenal tauhid dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu syirik. Demikian pula, tidak mungkin seorang mengenal sunnah dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu bid&#8217;ah.</p>
<p>Maka sungguh sangat aneh jika ada orang yang mengaku muslim akan tetapi sangat alergi membahas tentang syirik dan bid&#8217;ah?! Bahkan, yang lebih aneh lagi adalah sikap sebagian orang yang mencemooh dakwah tauhid dan menjauhkan umat Islam darinya. Dengan bangganya dia menikmati amalan-amalan bid&#8217;ah dan melecehkan dakwah tauhid dengan bahasa-bahasa yang merendahkan para ulama. <em>Subhanallah</em>, tidakkah kita takut akan hukuman-Nya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kau Tolak Bencana Dengan Bencana!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 09:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[Muwahid]]></category>
		<category><![CDATA[Sembelihan]]></category>
		<category><![CDATA[Sesaji]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tolak Bala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2433</guid>
		<description><![CDATA[Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat. Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p><span id="more-2433"></span></p>
<p>Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang berupaya untuk menghindar dan menyelamatkan diri dari bencana. Akan tetapi, yang menjadi masalah -bahkan sumber petaka- adalah ketika sebagian orang justru menolak bencana dengan bencana, bahkan bencana yang lebih dahsyat!</p>
<p><strong>Musibah adalah Takdir Allah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saudaraku, musibah dan bencana merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Sebagai seorang muslim, kita wajib mengimani takdir. Suatu ketika, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya tentang iman, maka di antara jawaban beliau adalah, <em>“Hendaknya kamu beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Iman kepada takdir adalah harga mati, tidak bisa ditawar-tawar. Sahabat Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata tentang orang-orang yang mengingkari takdir di masanya, <em>“Sampaikanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun tidak punya urusan denganku. Demi Allah, yang jiwa Ibnu Umar di tangan-Nya, seandainya mereka punya emas sebesar gunung Uhud kemudian mereka infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir.”</em> (lihat Kitab <em>al-Iman</em>, <em>Shahih Muslim</em>). Ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari takdir bukan termasuk orang beriman.</p>
<p><strong>Berlindunglah Kepada Allah</strong></p>
<p>Seorang hamba yang ingin selamat dari berbagai macam musibah dan bencana hendaknya hanya berlindung dan berdoa kepada Allah. Karena hanya Allah yang menguasai segala urusan di langit dan di bumi. Dia lah yang menguasai segala manfaat dan madharat.</p>
<p><em>Isti&#8217;adzah</em>/meminta perlindungan merupakan salah satu bentuk doa. Sementara doa adalah ibadah; sehingga tidak boleh ia ditujukan kepada selain Allah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Doa itu adalah [intisari] ibadah.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, hasan sahih). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah saja, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</p>
<p>Seorang yang berdoa dan memohon perlindungan kepada selain Allah telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai sesembahan yang diseru selain-Nya (yang artinya), <em>“Sesembahan-sesembahan yang kalian seru selain-Nya sama sekali tidak menguasai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”</em> (<strong>QS. Fathir: 13</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Janganlah kamu menyeru/berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak kuasa memberikan manfaat dan madharat kepadamu. Kalau kamu tetap melakukannya maka kamu benar-benar kamu termasuk orang yang berbuat zalim.”</em> (<strong>QS. Yunus: 106</strong>)</p>
<p><strong>Syirik Kezaliman Terbesar</strong></p>
<p>Menujukan doa dan ibadah kepada selain Allah merupakan kekafiran, kemusyrikan, dan kezaliman. Kekafiran orang yang berdoa kepada selain Allah merupakan ketetapan al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menyeru/berdoa kepada sesembahan lain selain [berdoa] Allah, yang sama sekali tidak ada dalil yang membenarkannya, maka sesungguhnya perhitungannya ada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>).</p>
<p>Berdoa kepada selain Allah pun termasuk kezaliman, bahkan kezaliman yang terbesar. Karena ibadah adalah hak Allah. Barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah berarti dia telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya, dan itulah kezaliman. Hak Allah adalah hak pertama dan paling agung yang harus dipenuhi, sehingga tidak menunaikan hak Allah merupakan kezaliman yang paling besar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. Luqman: 13</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dari sini anda bisa mengetahui bahwa slogan-slogan penegakan keadilan yang kerapkali didengungkan oleh sebagian kalangan namun dengan meminggirkan agenda tauhid dan pemberantasan syirik sesungguhnya merupakan seruan yang tidak adil dan tidak proporsional. Bagaimana mereka begitu geram tatkala melihat kezaliman kepada makhluk, sementara kezaliman terhadap hak Sang Khaliq justru dianggap remeh dan biasa-biasa saja?! Sungguh mengherankan&#8230;</p>
<p><strong>Orang Musyrik Pun Berdoa Kepada Allah</strong></p>
<p>Jangan anda kira bahwa orang-orang musyrik tidak pernah berdoa kepada Allah. Bahkan, mereka berdoa kepada Allah siang dan malam. Hanya saja mereka mempersekutukan Allah di dalam doanya. Mereka berdoa kepada Allah, namun mereka juga berdoa kepada selain Allah. Apalagi dalam kondisi genting dan terjepit, mereka mengikhlaskan doanya untuk Allah semata. Walaupun tatkala Allah selamatkan mereka, mereka pun kembali berbuat syirik.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> menceritakan hal itu dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Maka apabila mereka menaiki perahu -di lautan dan diterpa badai- mereka pun berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/doa kepada-Nya. Namun, tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka pun kembali berbuat syirik.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ankabut: 65</strong>).</p>
<p>Hal ini menunjukkan bagaimana keyakinan orang-orang musyrik di kala itu. Mereka meyakini bahwa dalam keadaan terjepit tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan mereka kecuali Allah. Oleh sebab itu mereka berdoa hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang pada masa sekarang ini yang berdoa, memohon perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah, baik ketika lapang maupun sempit. Aduhai, alangkah bodohnya perbuatan mereka itu&#8230; Melebihi kebodohan orang-orang musyrik masa silam.</p>
<p><strong>Mempersembahkan Sembelihan Adalah Ibadah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tidak boleh mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah, karena hal itu merupakan kemusyrikan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Boleh saja menyembelih untuk selain Allah kalau bukan dalam rangka ritual persembahan. Seperti halnya menyembelih kambing untuk <em>walimah</em>/resepsi, untuk hidangan tamu, untuk makan-makan/pesta dan lain sebagainya. Dalil-dalil tentang hal itu sudah sangat jelas dalam al-Qur&#8217;an maupun as-Sunnah. Adapun sembelihan dalam rangka <em>taqarrub</em>/pendekatan diri kepada Allah sudah ditentukan bentuk-bentuknya, seperti halnya qurban pada hari raya Iedul Adha.</p>
<p>Hukum asal perkara ibadah/ritual adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, pasti akan tetolak.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga memperingatkan, <em>“Waspadalah dari perkara-perkara yang diada-adakan -dalam urusan agama-. Karena setiap yang diada-adakan itu adalah bid&#8217;ah.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Tirmidzi</strong>, Tirmidzi berkata: <em>hasan sahih</em>)</p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa menyembelih binatang -kerbau atau apapun jenisnya- kemudian menanam kepala atau bagian tubuhnya yang lain di tempat tertentu dengan alasan/niat untuk memohon keselamatan kepada Allah jelas termasuk perbuatan yang mengada-ada dan tidak ada tuntunannya. Karena tidak ada satupun dalil yang memerintahkan perbuatan semacam itu, baik di dalam al-Qur&#8217;an maupun di dalam as-Sunnah, tidak pula diamalkan oleh para Sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>. Lantas, ajaran siapakah ini?!</p>
<p>Belum lagi, jika kita telusuri lebih dalam. Ternyata perbuatan semacam ini biasanya dilandasi keyakinan adanya jin atau sosok makhluk gaib tertentu -selain Allah, yang mereka sebut dengan istilah gendruwo, kuntilanak, simbah, dhemit, lelembut, dsb- yang menguasai alam ini -entah itu di laut selatan, gunung tertentu, jembatan yang akan dibangun, sungai tertentu, pohon besar, dsb- yang mereka khawatirkan akan mendatangkan bahaya dan bencana apabila tidak diberikan persembahan (sesaji) kepadanya. Takut kuwalat, takut tertimpa malapetaka, itulah alasan mereka. Kalau seperti ini, jelas syirik hukumnya. Apabila pelakunya meninggal dan belum bertaubat darinya, di akhirat dia kekal tersiksa di dalam neraka, <em>na&#8217;udzu billahi min dzalik</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu.”</em> (<strong>QS. al-Maa&#8217;idah: 72</strong>)</p>
<p>Sebagian orang -<em>semoga Allah menunjuki mereka</em>- mungkin akan berdalih bahwa hal itu mereka lakukan semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur dan demi mengekspresikan rasa syukur. Aduhai, apakah ayat dan hadits akan kita tolak dengan tradisi leluhur? Apakah syukur itu diwujudkan dengan mempersekutukan Allah dan berbuat kekafiran kepada-Nya?</p>
<p><em>“Anda terlalu kaku, kita harus mengenal kearifan lokal dan menghargai budaya nenek moyang.”</em> Sebagian orang bisa jadi berkomentar demikian. Siapakah yang kaku sesungguhnya? Orang yang setia kepada bimbingan al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah ataukah orang yang bersikukuh mempertahankan pendapatnya yang bertentangan dengan agama? Siapkah yang arif? Orang yang mengikuti hawa nafsu dan perasaannya sembari membuang ayat dan hadits, ataukah orang yang menundukkan jiwa dan raganya kepada ajaran agama Allah yang hanif ini? <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Utama Perpecahan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 16:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Ishlah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2284</guid>
		<description><![CDATA[Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103) Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 103</strong>) <span id="more-2284"></span></p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali Allah&#8217; di sini adalah <em>al-Jama&#8217;ah</em>/persatuan, atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya. Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud, tatkala menceritakan golongan yang selamat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Yaitu al-Jama&#8217;ah.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah fi Bayani Manhaj as-Salaf fi at-Tarbiyah wa al-Ishlah</em> karya Syaikh Abdullah bin Shalih al-Ubailan, hal. 79)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Apabila umat manusia kembali kepada al-Kitab dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam niscaya persatuan itu akan terwujud. Sebagaimana hal itu telah terjadi pada generasi awal umat ini, padahal mereka dahulu -sebelumnya- berpecah-belah&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82). Beliau menekankan, <em>“Tidak akan bisa menyatukan hati dan mempersatukan umat manusia kecuali dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Kalau tanpa itu maka tidak mungkin mereka bisa bersatu&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Dengan tiga perkara berikut ini, maka persatuan itu akan terlaksana; [1] aqidah yang sahihah, [2] kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah ketika berselisih, [3] taat kepada ulil amri (umara/ulama) serta selalu menginginkan kebaikan bagi mereka dan menasehati dengan cara yang bijak&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 84).</p>
<p><strong>Apa Sebab Perpecahan?</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Mereka -Ahlus Sunnah- meyakini bahwa sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama&#8217;ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 85)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 159</strong>).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, dan agama ini melarang tindak perpecah-belahan dan persengketaan bagi segenap pemeluk agama (Islam), dalam seluruh persoalan agama; yang pokok maupun yang cabang&#8230;”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 285)</p>
<p>Suatu ketika, Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> ditanya, <em>“Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Bahkan, saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 86)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Para sahabat dahulu biasa meninggalkan pendapat pribadi mereka, meskipun pendapat itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka meninggalkannya apabila hal itu menyebabkan tercerai-berainya persatuan. Lihatlah, bagaimana sikap Abdullah bin Mas&#8217;ud seorang sahabat yang mulia -semoga Allah meridhainya- tatkala Amirul Mukminin Utsman radhiyallahu&#8217;anhu menyempurnakan sholat (tidak mengqashar) di Mina. Padahal, Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu berpendapat qashar di Mina. Meskipun demikian, apabila beliau sholat di belakang Utsman radhiyallahu&#8217;anhu maka beliau menyempurnakan (tidak qashar). Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, <strong>&#8216;Wahai putraku, perselisihan itu buruk.&#8217;</strong> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 97). Lihatlah, bagaimana Ibnu Mas&#8217;ud mengalah dan mengikuti pendapat Amirul Mukminin demi mempertahankan kesatuan umat&#8230;</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Memang terkadang sesuatu yang lebih utama ditinggalkan kepada sesuatu yang kurang utama, hal itu apabila dengan sesuatu yang kurang utama itu akan membuahkan persatuan. Di saat semacam itu, wajib baginya untuk mengalah dari menginginkan sesuatu yang lebih utama menuju sesuatu yang kurang utama. Hal itu perlu dilakukan demi utuhnya kesatuan dan persatuan kaum muslimin&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Beliau menambahkan, <em>“Hal itu -dianjurkan untuk mengalah- berlaku dengan catatan selama tidak merusak agama. Adapun apabila menimbulkan kerusakan agama, maka tidak boleh. Oleh karenanya wajib bagi seorang muslim mengalah dari memaksakan pendapat dan ijtihadnya, meskipun menurutnya apa yang dia yakini itulah yang lebih utama. Lantas, bagaimana lagi apabila ternyata apa yang dianut oleh jama&#8217;ah (mayoritas umat/ulama) adalah sesuatu yang lebih utama, sedangkan apa yang diyakini oleh orang yang menyelisihi ini adalah sesuatu yang kurang utama, atau bahkan sesuatu yang tidak benar?!.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu seharusnya para penuntut ilmu dan orang-orang yang menyandarkan diri kepada ilmu mencamkan baik-baik kaidah ini; yaitu <strong>apabila seseorang muslim memiliki pendapat dan ijtihad yang seandainya ditampakkan kepada orang banyak menimbulkan kekacauan dan persengketaan, maka semestinya dia tidak perlu menampakkannya</strong>. Cukuplah dia mengikuti apa yang dianut oleh mayoritas umat Islam. Sebab hal itu lebih menjamin -kebaikan- baginya dan lebih mendekati kebenaran.” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan mengomentari ucapan terakhir Syaikh Fauzan di atas, <em>“Benar, hal ini tidak ragu lagi sangat diperlukan. Apalagi dalam kondisi berkecamuknya fitnah.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p><strong>Kesimpulan dan Pelajaran</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari paparan ringkas di atas, dapat kita petik kesimpulan dan faedah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Berpegang      teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan benar -sebagaimana dipahami      Nabi dan para sahabat- membuahkan persatuan yang sejati, bukan justru      mengobarkan perpecahan di tengah-tengah umat, terlebih lagi di kalangan para      da&#8217;i&#8230;!</li>
<li>Apabila      perpecahan itu telah terjadi, maka sebabnya adalah tidak mewujudkan salah      satu di antara ketiga hal di atas. Bisa jadi karena perbedaan aqidah, atau      tidak mau merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah, atau karena tidak merujuk      kepada ulil amri (ulama dan umara) dan menasehati mereka dengan cara yang      bijak.</li>
<li>Seorang      muslim hendaknya tidak segan untuk mengalah, menjaga persatuan, dan lebih      mengutamakan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi dan golongan.</li>
<li>Seorang      muslim -apalagi penuntut ilmu dan da&#8217;i- semestinya memperhitungkan dampak      dari pendapat atau ucapan yang dilontarkannya di hadapan manusia, apakah      hal itu menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka ataukah tidak.</li>
<li>Sebuah      pelajaran berharga, bahwa perpecahan tidak akan teratasi dengan perpecahan      pula. Perpecahan hanya bisa diatasi dengan persatuan yang sejati.      Barangsiapa mengira bahwa perpecahan bisa diatasi dengan sikap <em>ta&#8217;ashub</em> kepada sosok tertentu selain Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,      maka sungguh dia telah keliru!</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goresan Pesan Untuk Pembela Kebenaran</title>
		<link>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 19:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2218</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. Istilah dakwah salafiyah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suka atau tidak suka semua kelompok -kecuali Syi&#8217;ah dan bala tentaranya- pada akhirnya tentu akan sepakat jika &#8230; <a href="http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgoresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgoresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2218"></span></p>
<p>Istilah dakwah salafiyah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suka atau tidak suka semua kelompok -kecuali Syi&#8217;ah dan bala tentaranya- pada akhirnya tentu akan sepakat jika kita ajak untuk mengikuti para sahabat secara umum, walaupun dalam prakteknya mereka banyak menyelisihi generasi terbaik tersebut. Mereka -secara umum- bahkan mengklaim apa yang mereka yakini sebagai pemahaman para Sahabat, walaupun klaim mereka tidak dilandasi dengan bukti yang memadai. Yang memprihatinkan adalah, tatkala terbukti secara ilmiah bahwa apa yang mereka yakini atau amalkan ternyata bertentangan dengan pemahaman Sahabat mulailah muncul sikap permusuhan dan aksi penolakan. Terkadang penolakan itu sekedar dipendam di dalam hati, terkadang diucapkan dengan lisan, dan tidak jarang berakhir dengan peperangan, <em>Allahul musta&#8217;an</em>&#8230;</p>
<p>Saudaraku, sesungguhnya penisbatan kepada salafus shalih adalah penisbatan yang mulia dan terpuji, bukan perkara yang tercela sama sekali. Hal itu berulang kali kita dengar dari nukilan para ulama, di antaranya Syaikhul Islam Abul Abbas al-Harrani <em>rahimahullah</em>. Namun, yang menjadi persoalan sekarang ini adalah tatkala penisbatan ini dirancukan dengan sikap golongan atau kelompok tertentu yang mempersempit makna salafiyah. Kita memang tidak ingin memasukkan perusak dakwah ke dalam jajaran Salafi. Demikian pula sebaliknya. Kita juga tidak ingin menjatuhkan orang-orang yang masih bisa diperhitungkan perannya dalam dakwah yang agung ini dari kedudukan yang semestinya.</p>
<p>Oleh sebab itu wahai saudaraku, sudah semestinya kita bisa bersikap bijak dan adil dalam menilai dan bersikap, baik kepada diri kita sendiri ataupun kepada orang lain; yang mungkin kita anggap berseberangan dengan kita dalam banyak hal. Perhatikanlah bagaimana para Sahabat -teladan kita semua- dalam menilai diri mereka sendiri dan dalam memposisikan orang lain sebagaimana mestinya. Kita masih ingat, penuturan Ibnu Abi Mulaikah yang sangat masyhur dan dikutip oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, <em>“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan ternyata mereka semuanya khawatir dirinya terjangkit kemunafikan.”</em> Ini adalah salah satu bukti kerendahan hati para Sahabat bersama dengan segala kebesaran yang mereka miliki. Amat jauh dengan keadaan sebagian kita pada hari ini, yang terkadang -secara tak terasa- telah menobatkan diri sendiri sebagai juru bicara kafilah dakwah yang mulia ini; sehingga siapapun yang berseberangan dengannya dianggap sebagai musuh dakwah salafiyah, <em>laa haula wa laa quwwata illa billah!</em></p>
<p>Dari situlah, alangkah tepat apa yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> tatkala menggambarkan sosok manusia yang bijak. Beliau menjelaskan, <em>“Orang yang paling bijak itu adalah yang menjadikan keluhannya kepada Allah -atas musibah</em><em>/cobaan yang menimpanya- dikarenakan kesalahan dirinya sendiri, bukan malah dengan mengambinghitamkan orang lain.” </em>Di satu sisi, seorang Salafi memang dituntut untuk merasa mulia dan bergembira dengan kelurusan manhaj yang telah mereka pilih dan jalani. Akan tetapi, jangan dilupakan pula bahwa salah satu bagian dari kelurusan manhaj ini adalah tidak meremehkan orang lain atau menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang atau kelompok lain. Tentu saja kita ingat, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan bahwa hal itu merupakan bentuk kesombongan.</p>
<p>Memang, kita harus angkat bicara untuk mengoreksi berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh sekte-sekte sesat. Itu merupakan bagian dari nasehat. Bahkan, tidak akan tegak agama ini tanpanya. Namun, sekali lagi kita harus bisa membedakan antara pengusung manhaj dengan manhaj itu sendiri. Kita semua tahu bahwa para Sahabat itu secara individu tidaklah ma&#8217;shum, kita tentu saja jauh berada di bawah mereka. Apabila -misalnya- ada salah seorang Sahabat -yang karena ketidaksengajaan darinya atau ketidaktahuan- sedikit melenceng dari Sunnah, kemudian kita tidak mengeluarkannya dari jajaran para Sahabat. Maka demikian pula semestinya, apabila kita melihat ada sebagian saudara kita yang dengan sebab yang sama terjerumus dalam bentuk penyimpangan terhadap sebagian cabang Sunnah tanpa dia sadari. Tentu tidaklah bijak apabila dengan serta merta dan tanpa <em>tabayyun</em> lantas kita pun mencoret namanya dari jajaran pengikut generasi utama; apalagi sampai membid&#8217;ahkan atau mengkafirkannya tanpa alasan yang kuat.</p>
<p>Banyak hal yang harus kita ukur dan kaji jika kita hendak menjatuhkan vonis berat semacam itu, apalagi pada hakekatnya itu bukanlah wilayah kewenangan kita para pemula yang mencium aroma pengajian belum berapa lama. Di antara poin paling pokok yang harus kita garis bawahi adalah pondasi keikhlasan. Tidak ada yang mengingkari bahwa poin ini merupakan intisari dari agama Islam yang hanif ini. Inilah standar utama dalam menilai dan menyikapi. Memang, ikhlas adalah amalan hati. Namun, itu bukan berarti keikhlasan itu tidak bisa dideteksi. Seorang yang jujur dengan keikhlasannya tentu akan sangat tidak menyukai ketenaran. Selain itu, seorang yang ikhlas tidak beramal atau berdakwah untuk mengejar target-target duniawi. Inilah sebabnya mengapa para Sahabat senantiasa berusaha mengoreksi dirinya sendiri sebelum jauh berbicara mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh orang lain. Kita tentu masih ingat ucapan emas Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, <em>“Seorang mukmin sejati itu selalu memandang dosa-dosanya seakan-akan dia duduk di bawah gunung dan khawatir kalau-kalau gunung itu akan runtuh menjatuhi dirinya. Adapun seorang fajir akan memandang dosa-dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya kemudian dia pun menghalaunya dengan begini -upaya yang ringan sekali- (meremehkannya, pen).”</em></p>
<p>Benar, pembicaraan mengenai sesuai atau tidak dengan Sunnah adalah pembicaraan mengenai cara, bukan niatnya. Akan tetapi ingatlah, bahwa yang kita nilai dengan timbangan syari&#8217;at adalah manusia seperti kita; yang sarat dengan kekurangan dan ketidaktahuan. Kita harus memandang mereka tidak hanya dengan kaca mata syari&#8217;at, namun juga dengan kaca mata takdir; kaca mata kasih sayang dan belas kasihan. Mungkin hujjah belum sampai kepada mereka, mungkin mereka salah paham, mungkin ada perilaku kita yang justru menjauhkan mereka dari dakwah ini, mungkin&#8230; mungkin&#8230; Ada banyak sekali kemungkinan yang mengharuskan kita bersikap hati-hati dan tidak sembarangan menjatuhkan vonis sesat kepada sebagian saudara kita yang berbeda pandangan dengan kita. Inilah mungkin yang selama ini jarang kita praktekkan. Kita justru sering mengambil sikap dan tindakan seolah-olah kita adalah manhaj salaf itu sendiri. Sehingga kita tidak pernah mengenal istilah kompromi dan toleransi. Hantam sana-sini tak peduli, <em>toh</em> ini kan bagian dari nasehat, begitu tipu daya setan yang kerap menghampiri telinga kita -yang penuh dengan &#8216;kotoran&#8217;- ini.</p>
<p>Tidakkah kita ingat wahai saudaraku, bagaimana kelembutan dan kebijakan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam berdakwah kepada orang-orang munafik. Padahal, kita juga mengetahui bersama bahwa Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun diperintahkan oleh Allah untuk berjihad melawan mereka dan bersikap keras kepada mereka. Apakah ini artinya beliau tidak taat atau mengkhianati tugasnya; atau akan kita katakan bahwa beliau bersikap plin-plan, sama sekali tidak! Hal ini justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita bahwa terkadang orang yang paling keras permusuhannya kepada kita itulah yang berhak untuk kita perlakukan dengan lemah lembut, bukan dengan sikap keras. Inilah kandungan pesan yang pernah dinasehatkan oleh Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> kepada segenap penyeru dakwah salafiyah yang mulia ini&#8230;</p>
<p>Sederhananya; seorang Salafi memang dituntut untuk membela manhaj yang haq ini selama-lamanya. Namun, di sisi lain dia juga harus mengingat bahwa dirinya -atau gurunya sekalipun- adalah manusia biasa yang berusaha meniti manhaj ini dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya. Dengan kesadaran semacam inilah akan lenyap segala bentuk fanatisme buta&#8230; <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Seorang Kyai</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 07:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>&#8220;Terus  terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang  tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga  bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya  untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap  keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan  atau baca barzanji, diba&#8217;an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah  berbau kesyirikan&#8221; </em></p>
<p><span id="more-1988"></span></p>
<p><em>&#8220;Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya&#8221; </em>(Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Kita  biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan  kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar  kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala  masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan  kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali,  yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang  yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga  saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.&#8221;</em> (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)</p>
<p>Beliau  adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok  pesantren &#8220;Rahmatullah&#8221;. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh  teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh  teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.</p>
<p>Keberanian  beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak sejalan dengan  Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat berakar dalam  lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau terhadap arus kyai itu  bukan  berlandaskan apriori belaka, bukan pula didasari oleh rasa  kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam, namun merupakan  Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Kyai  Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang  mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil.  namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap ajaran  Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari keanggotaan  NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu kepada  beliau.</p>
<p>Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan  dirinya dari keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para  tetangga dan kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak  hanya mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau  mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan  kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan  permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang  shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat  pada umumnya.</p>
<p>Seandainya para Kyai itu mau mengkaji  kembali ajaran dan tradisi budaya yang berurat berakar yang telah  dikritisi dan digugat oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi  sendiri, namun juga dari para ulama tanah haram juga telah menggugat dan  mengkritisi penyakit kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar  mengurat kepada para santri dan masyarakat. Jika mereka itu mau  mendengarkan perkataan para ulama itu, tentunya penyakit-penyakit kronis  yang ada dalam tubuh NU akan bisa terobati. Aqidah umatnya akan  terselamatkan dari penyakit TBC (Tahayul, Bid&#8217;ah, Churofat). Sehingga  Kyai-kyai NU, habib, Gus serta asatidznya lebih dewasa jika ada orang  yang mau dengan ikhlas menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU  dan yang telah banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para  sahabatnya. Maka, Insya Allah, NU khususnya dan para &#8216;alim NU pada  umumnya akan menjadi barometer keagamaan dan keilmuan. &#8216;Alimnya yang  berbasis kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan  misi NU itu sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, sehingga para &#8216;alim  serta Kyai yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat  sebagai pewaris para Nabi.</p>
<p>Namun sayang, dakwah yang  disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang sebelah mata  oleh para Kyai NU  setempat. Mereka juga meragukan keloyalan beliau terhadap ajaran NU.  Dengan demikian, beliau harus menerima konsekuensi berupa pemecatan dari  kepengurusan keanggotaannya sebagai a&#8217;wan NU Kandangan, Kediri,  sekaligus dikucilkan dari lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren.  Mereka semua memboikot aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.</p>
<p>Walaupun  beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap menyikapinya  dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam dirinya.</p>
<p>Siapakah  yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh Kyai  Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin senasib  dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya karena  meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan syari&#8217;at  Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan karena  pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.</p>
<p>Kyai  Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus orang-orang yang  bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat banyak para Kyai  yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid&#8217;ahan dan tradisi-tradisi yang  tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat itulah beliau  tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup yang penuh  cobaan dan ujian.</p>
<p>Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan  dan penghormatan tersandang, harta melimpah serta jabatan terpikul,  namun murka Allah dekat dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di  hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan  keselamatan dengan meninggalkan tradisi yang selama ini beliau  gandrungi.</p>
<p>Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat  kepada Allah dari ajaran-ajaran syirik, bid&#8217;ah dan kufur. Walaupun Kyai  Afrokhi ditinggalkan oleh para kyai ahli bid&#8217;ah, jama&#8217;ah serta santri  beliau, ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup  begitu nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu&#8217; serta penuh tawakkal  kepada Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.</p>
<p>Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:</p>
<p><em>&#8220;Untuk  itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas kekeliruan yang  saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf saya kepada warga  Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa saya sesatkan dalam  kebid&#8217;ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba&#8217;an, maulidan, haul dan  selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau kesyirikan dan juga  sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah senantiasa menerima taubat  dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang lalu (Amin ya robbal &#8216;alamin)&#8221;</em></p>
<p>(Dinukil  dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku &#8220;Buku Putih Kyai  NU&#8221; oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh Ponpes  Rohmatulloh-Kediri-, mantan A&#8217;wan Syuriah MWC NU Kandangan Kediri)</p>
<p>catatan:  Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan karena ada  alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok. Silahkan nukil  dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah ilalloh.</p>
<p>-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 20:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1962</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid&#8217;ah. Dan [3] ketaatan, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid&#8217;ah. Dan [3] ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan [ketaatan kepada] Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 104)</p>
<p><span id="more-1962"></span><strong>Tauhid mengantarkan menuju bahagia</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Abdullah Ibnu Mubarak <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat (yang ikhlas), dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niat (yang tidak ikhlas).”</em></p>
<p><strong>Syirik mengantarkan menuju sengsara</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim itu.”</em> (<strong>QS. al-Maa&#8217;idah: 72</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p><strong>Sunnah mengantarkan menuju bahagia</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah (Muhammad); Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sunnah adalah [laksana] bahtera Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal akan tenggelam.”</em></p>
<p><strong>Bid&#8217;ah mengantarkan menuju sengsara</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya akan Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 115</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan -dalam agama-, [dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid'ah] dan setiap bid&#8217;ah pasti sesat [dan setiap kesesatan di neraka].”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>, tambahan dalam kurung dalam riwayat <strong>Nasa&#8217;i</strong>)</p>
<p><strong>Ketaatan mengantarkan menuju bahagia</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 71</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Semua umatku pasti masuk surga, kecuali yang enggan.”</em> Para sahabat pun bertanya, <em>“Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Barangsiapa mentaatiku masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan itu.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat.”</em></p>
<p><strong>Kemaksiatan mengantarkan menuju sengsara</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi nafsu (ketaatan) sedangkan neraka diliputi dengan perkara-perkara yang disenangi nafsu (kemaksiatan).”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Hilangnya harapan dan rasa takut</strong></p>
<p>Sementara ketiga hal di atas -tauhid, sunnah, dan ketaatan- memiliki satu musuh yang sama yaitu ketiadaan rasa harap dan rasa takut. Yaitu ketika seorang hamba tidak lagi menaruh harapan atas apa yang Allah janjikan dan tidak menyimpan rasa takut terhadap ancaman yang Allah berikan. Akibat ketiadaan harap dan takut ini maka timbul berbagai dampak yang membahayakan. Di antara dampaknya adalah; [1] terlena dengan curahan nikmat sehingga lalai dari mensyukurinya, [2] sibuk mengumpulkan ilmu namun lalai dari mengamalkannya, [3] cepat terseret dalam dosa namun lambat dalam bertaubat, [4] terlena dengan persahabatan dengan orang-orang saleh namun lalai dari meneladani mereka, [5] dunia pergi meninggalkan mereka namun mereka justru senantiasa mengejarnya, [6] akherat datang menghampiri mereka namun mereka justru tidak bersiap-siap untuk menyambutnya. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa ketiadaan rasa harap dan takut ini bersumber dari lemahnya keyakinan. Lemahnya keyakinan itu timbul akibat lemahnya <em>bashirah</em>/pemahaman. Dan lemahnya <em>bashirah</em> itu sendiri timbul karena <strong>jiwa yang kerdil dan rendah</strong> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 170).</p>
<p><strong>Bersihkan jiwamu!</strong></p>
<p>Jiwa yang kerdil dan rendah akan merasa puas dengan perkara-perkara yang hina, sementara jiwa yang besar dan mulia tentu hanya akan puas dengan perkara-perkara yang mulia (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 170). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”</em> (<strong>QS. asy-Syams: 9-10</strong>). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yaitu orang yang menyucikan jiwanya dari dosa-dosa dan membersihkannya dari aib-aib, lalu dia meninggikannnya dengan ketaatan kepada Allah serta memuliakannya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 926). Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang dimaksud penyucian di sini ialah dia menyucikan dirinya dengan cara membebaskannya dari syirik dan noda-noda maksiat, sehingga jiwanya menjadi suci dan bersih.”</em> (<em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em>, hal. 165)</p>
<p>Dari sinilah, kita menyadari betapa besar peran ilmu yang diamalkan. Oleh sebab itu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa seusai sholat Subuh dengan doa yang sangat indah, <em>Allahumma inni as&#8217;aluka &#8216;ilman nafi&#8217;an wa rizqan thayyiban wa &#8216;amalan mutaqabbalan</em>. Yang artinya; <em>“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amalan yang diterima.”</em> (<strong>HR. Ahmad dan Ibnu Majah</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya akan dipahamkan dalam urusan agamanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Sedangkan ilmu dan pemahaman seorang hamba tentang agamanya diukur dengan rasa takutnya kepada Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”</em> (<strong>QS. Fathir: 28</strong>). Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti ilmu -seseorang-.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haba&#8217;ib Serukan Tinggalkan Perayaan Maulid!</title>
		<link>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 07:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Haba'ib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasululllah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1957</guid>
		<description><![CDATA[Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawanafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara yang menyelisih syari&#8217;at,yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhabaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhabaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah  untuk tidak memperturuti hawanafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka  sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara  yang menyelisih syari&#8217;at,yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati  oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah  penyimpangan, dan tidak sesuai dengan <em>Maqasidu asy-Syar&#8217;I al-Muthahhar</em> (tujuan-tujuan syari&#8217;at yang suci) untuk menjadikan ittiba&#8217; (mengikuti)  kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sebagai standar utama yang  dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan  (ibadah)mereka.</p>
<p><span id="more-1957"></span></p>
<p>Dalam sebuah pernyataan yang dilansir &#8221;  Islam Today &#8220;, para Habaib berkata, &#8220;Bahwa Kewajiban Ahlul Bait  (Keturunan Rasulullah) adalah <strong>hendaklah mereka menjadi orang yang paling  yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em></strong>,  mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta  yang sebenarnya (terhadap beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, red.),  serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari&#8217;at  Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan <strong>cinta yang  hakiki pasti akan menyeru Ittiba&#8217; yang benar</strong>.&#8221;</p>
<p>Mereka (Para  Habaib) menambahkan, &#8220;Di antara fenomena yang menyakitkan adalah  terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang mulia (AhlulBait) dalam berbagai macam penyimpangan syari&#8217;at, dan  pengagungan terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang tidak pernah dibawa oleh  al-Habibal-Mushtafa <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Dan di antara  syiar-syiar tersebut adalah <strong>bid&#8217;ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih  cinta</strong>.</p>
<p>Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa  yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> adalah karena hal itu dapat menyebabkan  pengkultusan terhadap beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang beliau  sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan  lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits  yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu  <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang  berlebihin seperti ini, dengan sabdanya:</p>
<p><em>Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam</em>. (HR. al-Bukhari)</p>
<p>Sedangkan  seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada  as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan,</p>
<p>&#8220;Bahwa  <strong>perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah  dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan  tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Baityang  mulia</strong>, seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali ZainalAbidin,  Ja&#8217;far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat  Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam &#8220;Radhiyallahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>-begitu  pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi&#8217;in.</p>
<p>Para  Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait,</p>
<p>Wahai Tuan-tuan Yang  terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya  kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif  (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em>, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah  sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang  dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari&#8217;at  tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang  ditolak oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihiwasallam</em>:</p>
<p><em>Barangsiapa mengada-adakan sesuatu  yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di  dalamnya, maka ia tertolak</em>. (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berikut  ini adalah teks pernyataannya:</p>
<p><strong>Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu  Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>) tentang Peringatan/ perayaan  Maulid Nabi.</strong></p>
<p>Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di  atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini  (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syari&#8217;at yang beliau bawa  adalah syari&#8217;at yang paling sempurna, Allah <em>Ta&#8217;ala</em>berfirman:</p>
<p><em>Pada hari  ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah  Ku-cukupkankepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi  agamamu.</em> (QS. Al Ma&#8217;idah:3)</p>
<p>Dan meyakini (mengimani) bahwa  mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> merupakan keyakinan  atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah  <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p><em>Tidak sempurna iman salah  seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya,  anaknya, dan semua manusia</em>. (HR. al-Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Beliau  adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja  anak-cucu Adam, Imam Para Nabijika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka  jika mereka diutus, si empu Tempat yang Mulia, Telaga yang akan  dikerumuni (oleh manusia), si empu bendera pujian, pemberi syafa&#8217;at  manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya  menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri  teladan yang baik bagimu(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah  dan (kedatangan) harikiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>. (QS.  al-Ahzab: 21)</p>
<p>Dan di antara kecintaan kepadabeliau adalah  mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p><em>Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Maka  Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah <strong>hendaklah  mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah  Beliau</strong> <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>, mengikuti petunjuknya, dan wajib  atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau  <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>, red.), serta menjadi manusia yang paling  menjauhi hawa nafsu. Karena Syari&#8217;at datang untuk menyelisihi penyeru  hawa nafsu, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Maka demi Rabbmu, mereka (pada  hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam  perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa  keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan  mereka menerima dengan sepenuhnya</em>. (QS. An-Nisa&#8217;: 65)</p>
<p>Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru Ittiba&#8217; yang benar. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Katakanlah:&#8221;Jika kamu  (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi  dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang</em>.  (QS. Ali &#8216;Imran: 31)</p>
<p>Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi  kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlulbait) haruslah  sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan  tidak menyalahi atau menyelisinya.</p>
<p>Dan di antara fenomena  menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> pandangannya  dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang  kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk  keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya  sebagian anak-cucu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang mulia  (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari&#8217;at, dan  pengagungan terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang tidak pernah dibawa oleh  <em>al-Habib al-Mushtafa Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Dan di  antara syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk  moyang kami Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> tersebut adalah <strong>bid&#8217;ah  peringatan Maulid Nabi</strong> dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan  sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan  <em>Maqasidu asy-Syar&#8217;Ial-Muthahhar</em> (tujuan-tujuan syari&#8217;at yang suci)  untuk menjadikan <em>ittiba&#8217;</em> (mengikuti) Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam  segala sikapdan perbuatan (ibadah) mereka.</p>
<p>Karena  kecintaan kepada beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> mengharuskan  ittiba&#8217; (mengikuti) beliau <em>Shallalllahu &#8216;alaihi wasallam</em> secara lahir dan  batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan  mengikuti beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, bahkan mengikuti  (ittiba&#8217;) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan  orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba&#8217;) adalah komitmen  dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan  hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian  terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta  menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syari&#8217;at Islam.</p>
<p>Dan  di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi  adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang beliau sendiri tidak membolehkannya,  bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa  peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan  aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan  seperti ini, dengan sabdanya:</p>
<p><em>Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.</em> (HR. al-Bukhari)</p>
<p>Maka  bagaimana dengan faktanya,sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi  dengan lafazh-lafazh bid&#8217;ah,dan istighatsah-istighatsah syirik.</p>
<p>Dan  <strong>perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah  dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi</strong> <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan  tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait  yang mulia, seperti &#8216;Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal  Abidin, Ja&#8217;far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para  Sahabat Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam –Radhiyallahu &#8216;anhum  ajma&#8217;in</em>—begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para  tabi&#8217;in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun  dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.</p>
<p>Jika  ini tidak dikatakan bid&#8217;ah,lalu apa bid&#8217;ah itu sebenarnya? Dan  Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan  terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa  pengecualian di dalamnya:</p>
<p><em>Semua bid&#8217;ah itu sesat</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Wahai Tuan-tuan Yang terhormat!</p>
<p>Wahai  sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asalusul/  nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan <em>taklif</em> (pembebanan),yakni  melaksanakan sunnah Rasululullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>,dan  berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan  menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya.</p>
<p>Dan karena  mengikuti apa yangtidak dibolehkan oleh syari&#8217;at tidak mendatangkan  kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah  <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wasallam</em>:</p>
<p><em>Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam  urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia  tertolak</em>. (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)!</p>
<p>Jangan  kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan  kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak  mengajarkan petunjuk beliau!</p>
<p>DemiAllah, tidak seorangpun  di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata  karena kedekatan kalian dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p><strong>Ini  merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan  kebaikan bagi kalian</strong>, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah  lelulur kalian dengan meninggalkan bid&#8217;ah dan seluruh yang tidak  diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan  agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda:</p>
<p><em>Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Yang menanda tangan risalah di atas yaitu:</p>
<p>1. <em>Habib Syaikh</em> Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial Adhdhamir al-Khairiyah di Traim)</p>
<p>2. <em>Habib Syaikh</em> Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari&#8217;ah di SMP dan Khatib di Abu &#8216;Uraisy)</p>
<p>3. <em>Habib Syaikh</em> Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.</p>
<p>4. <em>Habib Syaikh</em> Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum &#8216;Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima&#8217;I di Ghail Bawazir)</p>
<p>5.<em>Habib  Syaikh</em> Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing  al-Maktabat-Ta&#8217;awuni Li ad-Da&#8217;wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan  Imam serta Khatib di Kharj).</p>
<p>6.<em>Habib Syaikh</em> Abdullah bin Faishal  al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmahal-Khairiyah, dan Imam serta Khatib  Jami&#8217; ar-Rahmah di Syahr).</p>
<p>7.<em>Habib Syaikh</em> DR. &#8216;Ishom bin Hasyim  al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari&#8217;ah Jurusan Ekonomi Islam di  Universitas Ummu al-Qurra&#8217;, Imam dan Khotib di Mekkah).</p>
<p>8. <em>Habib Syaikh</em> &#8216;Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi&#8217; ad-Durar as-Saniyah)</p>
<p>9. <em>Habib Syaikh</em> Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi&#8217; ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).</p>
<p>10.<em>Habib Syaikh</em> Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajrial-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami&#8217; ar-Rahman di al-Mukala).</p>
<p>11. <em>Habib Syaikh</em> Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)</p>
<p>12.<em>Habib  Syaikh</em> DR. Hasyim bin &#8216;Ali al-Ahdal (Prof di Universitas UmmulQurra&#8217; di  Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta&#8217;limu al-Lughah al-&#8217;Arabiyah LiGhairi  an-Nathiqin Biha).</p>
<p>sumber: Milis As-Sunnah</p>
<p>Dikutip dari note fb <strong>Surya Noor Rahmatullah</strong>, <em>jazahullahu khairan</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Meraih Ampunan</title>
		<link>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 04:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1907</guid>
		<description><![CDATA[Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat. Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat.</p>
<p><span id="more-1907"></span></p>
<p>Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ditemui. Sehingga hal itu menyebabkan seorang hamba harus waspada, karena tatkala dia telah merasa taubatnya diterima, kemudian -pada akhirnya- perasaan itu justru menyeret dirinya terjerumus ke dalam lembah dosa yang lainnya, <em>wal &#8216;iyadzu billah!</em></p>
<p>Ketahuilah saudaraku, bahwa tauhid yang bersih merupakan kunci untuk meraih ampunan. Namun, hal ini tidaklah sesederhana dan semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut:</p>
<p>[1] Orang yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar atau tidak bertaubat darinya maka dia pasti masuk neraka.</p>
<p>[2] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih terkotori dengan syirik kecil sementara kebaikan-kebaikannya ternyata lebih berat daripada timbangan keburukannya maka dia pasti masuk surga.</p>
<p>[3] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih memiliki syirik kecil sedangkan keburukan/dosanya justru lebih berat dalam timbangan maka orang itu berhak masuk neraka namun tidak kekal di sana (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 44)</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dan dia menghasankannya)</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan syarat untuk bisa meraih ampunan Allah<em> ta&#8217;ala</em>. Syaikh Abdurrahman bin Hasan <em>rahimahullah</em> berkata mengomentari hal ini, <em>“Ini adalah <strong>syarat yang berat</strong> untuk bisa mendapatkan janji itu yaitu curahan ampunan. Syaratnya adalah <strong>harus bersih dari kesyirikan, banyak maupun sedikit</strong>. Sementara tidak ada yang bisa selamat/bersih darinya kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah ta&#8217;ala. Itulah hati yang selamat sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), “Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara: 88-89</strong>).”</em> (<em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 53-54)</p>
<p>Namun -sebagaimana sudah disinggung di atas- keutamaan ini hanya akan bisa diperoleh bagi orang yang bersih tauhidnya. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“&#8230;Seandainya ada seorang yang bertauhid dan sama sekali tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa hampir seisi bumi, maka Allah pun akan menemuinya dengan ampunan sepenuh itu pula. Namun <strong>hal itu tidak akan bisa diperoleh bagi orang yang cacat tauhidnya</strong>. Karena sesungguhnya tauhid yang murni yaitu yang tidak tercemari oleh kesyirikan apapun maka ia tidak akan menyisakan lagi dosa. Karena ketauhidan semacam itu telah memadukan antara kecintaan kepada Allah, pemuliaan dan pengagungan kepada-Nya serta rasa takut dan harap kepada-Nya semata, yang hal itu menyebabkan <strong>tercucinya dosa-dosa, meskipun dosanya hampir memenuhi isi bumi</strong>. Najis yang datang sekedar menodai, sedangkan faktor yang menolaknya sangat kuat.”</em> (Dinukil dari <em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 54-55)</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung keterangan bahwa kandungan makna <em>la ilaha illallah</em> yang bisa lebih berat timbangannya daripada semua makhluk dan semua dosa. Kandungan maknanya yaitu <strong>wajib meninggalkan syirik dalam jumlah banyak maupun sedikit</strong>. Hal itu pasti membuahkan ketauhidan yang sempurna. <strong>Tidak mungkin bisa bersih dari syirik kecuali bagi orang yang benar-benar merealisasikan tauhidnya</strong> serta mewujudkan konsekuensi dari kalimat ikhlas (syahadat) yang berupa ilmu, keyakinan, kejujuran, keikhlasan, rasa cinta, menerima, tunduk patuh dan lain sebagainya yang menjadi konsekuensi kalimat yang agung itu (lihat<em> Qurrat al-&#8217;Uyun al-Muwahhidin</em>, hal. 22).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang mengucapkannya -la ilaha illallah- dengan penuh keikhlasan dan kejujuran maka dia <strong>tidak akan terus-menerus berkubang dalam kemaksiatan-kemaksiatan</strong>. Karena keimanan dan keikhlasannya yang sempurna menghalangi dirinya dari terus-menerus berkubang dalam maksiat. Oleh sebab itu dia akan bisa masuk surga sejak awal bersama dengan rombongan orang-orang yang langsung masuk surga.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21)</p>
<p>Hadits di atas juga menunjukkan bahwa tauhid <strong>tidak cukup di lisan</strong>. Namun tauhid juga menuntut seorang hamba untuk <strong>menunaikan kewajiban serta meninggalkan kemaksiatan</strong>. Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa barangsiapa yang mempersaksikannya -kalimat tauhid- namun dia mencemarinya dengan perbuatan dosa dan kemaksiatan, atau dia sekedar mengucapkannya dengan lisan sementara hati atau amalannya berbuat syirik seperti halnya orang-orang munafik maka orang semacam ini ucapan syahadatnya tidak bermanfaat. Akan tetapi yang semestinya dia lakukan adalah mengucapkannya kemudian meyakininya dengan kuat, melaksanakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan serta mengikuti tuntunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 20).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang dilarang maka itu berarti dia telah berani menawarkan dirinya untuk menerima hukuman Allah ta&#8217;ala meskipun dia mengucapkan kalimat ini dan meyakininya. Apabila dia melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya maka berubahlah dia menjadi orang yang murtad dan kafir. Syahadat ini tidak lagi bermanfaat untuknya. Oleh sebab itu kalimat ini <strong>harus diwujudkan dalam kenyataan</strong> dan mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya, kalau tidak demikian maka dia berada dalam bahaya besar seandainya dia tidak kunjung bertaubat.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 26).</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung motivasi (<em>targhib</em>) dan peringatan (<em>tarhib</em>). Ini merupakan motivasi agar orang mau <strong>berjuang keras membersihkan tauhidnya dari kotoran syirik dan kemaksiatan</strong>, karena Allah menjanjikan ampunan yang demikian besar bagi orang yang murni tauhidnya. Dan ini sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang selama ini tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan agar waspada dan takut kalau-kalau ternyata di akhir hidupnya mereka tidak tergolong orang yang bersih tauhidnya.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Seandainya Allah mau menyiksa manusia -di dunia- sebagai hukuman atas dosa yang mereka perbuat niscaya tidak akan Allah sisakan di atas muka bumi ini seekor binatang melatapun. Akan tetapi Allah menunda hukuman itu untuk mereka hingga waktu yang telah ditentukan. Maka apabila telah datang saatnya sesungguhnya Allah Maha melihat semua hamba-Nya.”</em> (<strong>QS. Fathir: 45</strong>). Imam Ibnu Katsir<em> rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya adalah seandainya Allah menyiksa mereka sebagai hukuman atas semua dosa yang mereka perbuat niscaya Allah akan menghancurkan semua penduduk bumi dan segala binatang dan rezeki yang mereka miliki.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/362])</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwasanya para pelaku maksiat itu sangat berresiko dijatuhi ancaman siksa dan mereka akan masuk ke neraka lalu mereka akan dikeluarkan darinya dengan syafa&#8217;at para nabi dan yang lainnya. Hal itu dikarenakan mereka telah melemahkan tauhid mereka dan mencemarinya dengan kemaksiatan-kemaksiatan.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan <strong>membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid&#8217;ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan</strong>. Hal itu akan tercapai dengan cara menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah.”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 20)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa <strong>merealisasikan <em>la ilaha illallah</em> adalah sesuatu  yang sangat sulit</strong>. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata: <strong><em>&#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;</em></strong>. Sebagian salaf juga mengatakan: <em>&#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;</em>. Dan tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, maka dia tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai keikhlasan.</p>
<p>Oleh sebab itu, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, <em>&#8216;Orang-orang Yahudi mengatakan: Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat&#8217;</em>. Maka beliau menjawab: <em>&#8216;Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?&#8217;</em> Setan tidak akan repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur -dengan iman-.</p>
<p>Oleh sebab itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang terasa berat dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, <em>&#8216;Benarkah kalian merasakan hal itu?&#8217;</em>. Mereka menjawab, <em>&#8216;Benar&#8217;</em>. Beliau pun bersabda, <em>&#8216;Itulah kejelasan iman&#8217;</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Artinya hal itu merupakan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan keimanan kalian, karena perasaan itu muncul dalam dirinya sementara hal itu tidak akan muncul kecuali pada hati yang lurus dan bersih (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/38])</p>
<p>Keikhlasan -yang hal ini merupakan intisari dari ajaran tauhid- merupakan sesuatu yang membutuhkan <strong>perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu</strong>. Sahl bin Abdullah berkata, <em>“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 26).</p>
<p>Dan sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 143).</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Binasalah hamba Dinar! Celakalah hamba Dirham! Celakalah hamba khamisah (sejenis kain)! Celakalah hamba khamilah (sejenis model pakaian)! Apabila diberi dia merasa senang, dan apabila tidak diberi maka dia murka. Celaka dan merugilah dia!”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa sebagian manusia ada yang <strong>cita-cita hidupnya hanya untuk mendapatkan dunia</strong> dan perkara itulah yang paling dikejar olehnya. Itulah tujuan pertama dan terakhir yang dicarinya. Maka kalau ada orang semacam ini niscaya akhir perjalanan hidupnya adalah kebinasaan dan kerugian (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 331).</p>
<p>Itulah sosok pengejar dunia, yang rasa senang dan bencinya dikendalikan oleh hawa nafsunya (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 241). Maka barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai puncak urusan dan akhir cita-citanya pada hakekatnya dia telah mengangkatnya sebagai sesembahan tandingan bagi Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 332)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagaimanakah pendapatmu mengenai orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan?” </em>(<strong>QS. al-Furqan: 43</strong>).</p>
<p>Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali <em>hafizhahullah</em> memberikan keterangan bahwa sesungguhnya <strong>tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah melainkan dia condong menujukan ibadahnya kepada selain Allah</strong>. Memang, bisa jadi dia tidak tampak memuja/menyembah patung atau berhala. Atau juga tidak tampak dia menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi, sebenarnya dia telah menyembah hawa nafsu yang telah menjajah hatinya dan memalingkan dirinya sehingga tidak mau tunduk beribadah kepada Allah (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 147)</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Pokok munculnya kesyirikan kepada Allah adalah kesyirikan dalam hal cinta. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), &#8216;Sebagian manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.&#8217; (<strong>QS. al-Baqarah: 165</strong>)&#8230;”</em> (<em>ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</em>, hal. 212). Orang yang mencintai selain Allah -apa pun bentuknya- sebagaimana kecintaannya kepada Allah, atau orang yang lebih mendahulukan ketaatan kepada selain Allah daripada ketaatan kepada Allah maka sesungguhnya orang tersebut telah terjerumus dalam syirik besar yang tidak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya tidak bertaubat darinya (lihat<em> al-Qaul as-Sadid</em>, hal. 96, lihat juga <em>al-Jadid</em>, hal. 278)</p>
<p>Bahkan, karena terlalu berlebihan kecintaannya kepada dunia maka sebagian orang tega menjadikan amal akherat sebagai alat untuk menggapai ambisi-ambisi dunia semata! <strong>Secara fisik mereka tampak mengejar pahala akherat</strong>, namun hatinya dipenuhi dengan kecintaan kepada kesenangan dunia yang hanya sesaat. <em>Subhanallah</em>&#8230; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya),<em>“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan untuk mereka balasan atas amal-amal mereka di dalamnya sedangkan mereka tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak akan mendapatkan balasan apa-apa di akherat selain neraka dan akan hapuslah semua amal yang mereka kerjakan dan sia-sialah apa yang dahulu mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. Huud: 15-16</strong>).</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa beramal soleh semata-mata untuk menggapai kesenangan dunia -tanpa ada keinginan untuk memperoleh balasan akherat atau balasan yang dijanjikan Allah- termasuk kategori kesyirikan, bertentangan dengan kesempurnaan tauhid, bahkan menyebabkan terhapusnya pahala amalan (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 238)</p>
<p><em>Nas&#8217;alullahat taufiq was salamah</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

