<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dakwah Tauhid &#187; Cerita</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/cerita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 May 2013 00:46:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Wahai Putraku, Naiklah Bersama Kami&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/wahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/wahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 07:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Nuh]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2300</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi umat manusia dengan kisah-kisah umat terdahulu sebelum mereka. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad dan pengikut setia ajarannya hingga kiamat tiba. Amma ba&#8217;du. Di antara kisah yang menyentuh &#8230; <a href="http://abumushlih.com/wahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi umat manusia dengan kisah-kisah umat terdahulu sebelum mereka. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad dan pengikut setia ajarannya hingga kiamat tiba. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2300"></span></p>
<p>Di antara kisah yang menyentuh hati adalah kisah dakwah Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em>. Sebuah kisah yang amat menakjubkan. Kisah perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang mengajak kaumnya untuk taat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, akan tetapi kebanyakan mereka justru mencemooh dan menolak ajakannya.</p>
<p>Sebuah kisah yang mencerminkan kesabaran pembela kebenaran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, agar kamu -wahai Nuh- memperingatkan kaummu sebelum siksaan yang pedih menimpa mereka. Nuh berkata, &#8216;Wahai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian. Hendaklah kalian beribadah kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dan taat kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan menangguhkan  kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya ketentuan ajal dari Allah itu apabila telah datang maka tidak bisa lagi ditangguhkan seandainya kalian mengetahui&#8217;. Nuh berkata, &#8216;Wahai Rabbku, sungguh aku telah mendakwahi kaumku siang dan malam. Ternyata dakwahku tidak menambah apa-apa selain mereka justru semakin bertambah lari&#8230;”</em> (<strong>QS. Nuh: 1-6</strong>)</p>
<p>Kisah tentang dakwah yang mendapatkan rintangan dan cemoohan.. Dakwah yang mengajak kepada keselamatan, namun disambut dengan tanggapan yang sangat menyakitkan! Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), &#8216;Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, &#8216;Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) orang biasa seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” </em>(<strong>QS. Hud: 25-27</strong>)<em> </em></p>
<p>Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> mengajak kaumnya untuk bertauhid, akan tetapi mereka justru menolak ajakannya. Mereka tetap bersikeras mempertahankan budaya syirik yang telah mendarah daging dalam kehidupannya. Allah menceritakan keluhan Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> (yang artinya), <em>“Nuh berkata, &#8216;Wahai Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku dan justru mengikuti orang-orang yang tidak mendatangkan apa-apa dengan harta dan anak-anaknya selain kerugian. Mereka pun melakukan makar yang besar. Mereka berkata: Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan sampai kalian tinggalkan Wadd, Suwa&#8217;, Yaghuts, Ya&#8217;uq, dan Nasr&#8230;”</em> (<strong>QS. Nuh: 21-23</strong>).</p>
<p>Adakah kezaliman dan kedurhakaan yang lebih besar daripada syirik? Adakah ajakan yang lebih sesat daripada ajakan untuk menolak tauhid dan melestarikan syirik? Maha suci Allah&#8230; Sungguh, Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> telah menunaikan tugasnya untuk berdakwah tauhid kepada kaumnya. Sebagaimana yang Allah tugaskan kepada segenap rasul yang diutus-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah).”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>)</p>
<p>Hingga, tibalah saatnya Allah memerintahkan Nabi Nuh<em> &#8216;alaihis salam</em> untuk membuat perahu sebelum datangnya banjir maha dahsyat yang akan menenggelamkan orang-orang yang durhaka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia pun tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh (950 tahun), sehingga banjir besar pun menelan mereka sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbuat kezaliman. Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang menaiki bahtera itu, dan Kami jadikan ia sebagai bahan pelajaran bagi semua manusia.”</em> (<strong>QS. al-Ankabut: 14</strong>)</p>
<p>Proyek bahtera keselamatan ini justru membuat Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> diejek oleh para pembesar kaumnya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Buatlah bahtera dengan pengawasan dan wahyu dari Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku mengenai nasib orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan dia [Nuh] pun membuat bahtera itu, dan setiap kali para pembesar kaumnya melewatinya, mereka pun mencemooh perbuatannya. Nuh pun berkata, &#8216;Jika kalian mengejek kami sekarang maka kelak kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami. Kalian pun kelak akan tahu siapakah yang akan mendapati siksaan yang menghinakan dirinya dan siapakah yang akan tertimpa azab yang kekal&#8217;.”</em> (<strong>QS. Hud: 37-39</strong>)</p>
<p>Dan, ketika banjir besar itu datang, Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> telah menaikkan para pengikutnya yang setia ke atas bahtera. Memang tidak ada yang beriman kepada beliau kecuali segelintir orang saja. Sebagai seorang ayah, Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> tentu sangat ingin menyelamatkan putranya &#8211;yang bernama Yam, anaknya yang keempat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> [2/468]&#8211; dari timpaan azab.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan bahtera itu pun berlayar membawa mereka (Nuh dan pengikutnya) di tengah gelombang  yang datang laksana gunung. Dan Nuh memanggil putranya yang berada di tempat yang jauh terpencil, &#8216;Wahai putraku, naiklah bersama kami. Janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.&#8217;.”</em> (<strong>QS. Hud: 42</strong>)</p>
<p>Lihatlah kasih sayang seorang ayah yang salih ini kepada putranya&#8230; Kasih sayang sejati seorang ayah yang menginginkan putranya selamat dari siksaan Allah. Kasih sayang yang menuntut sang ayah untuk mengajak putranya kepada kebenaran. Bukan kasih sayang palsu yang membiarkan sang anak larut dalam kebatilan&#8230; Seorang ayah yang menghendaki putranya menjadi hamba yang taat kepada Allah dan mengagungkan perintah-perintah-Nya..</p>
<p>Akan tetapi, sungguh disayangkan ternyata ajakan yang tulus ini disambut dengan pembangkangan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> menceritakan (yang artinya), <em>“Dia [anaknya] berkata, &#8216;Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari terpaan air.&#8217; Nuh berkata, &#8216;Tidak ada yang selamat pada hari ini dari hukuman Allah kecuali orang yang dirahmati.&#8217; Gelombang itu pun memisahkan mereka berdua, dan putranya termasuk golongan yang ditenggelamkan.”</em> (<strong>QS. Hud: 43</strong>)</p>
<p>Sang anak yang kafir ini mengira bahwa dengan lari ke puncak gunung bisa menyelamatkan dirinya dari ditenggelamkan oleh air bah yang sangat besar itu. Padahal, pada hari itu hanya orang-orang yang taat kepada rasul saja yang selamat, karena mereka telah menempuh jalan menuju rahmat Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Adapun orang-orang yang dengan sengaja menentang rasul setelah tampak jelas petunjuk bagi mereka, maka kehancuran itulah kesudahan yang akan mereka temukan.</p>
<p>Semoga kisah ini bisa menjadi pendorong bagi kita untuk bersabar dalam mendakwahkan kebenaran, terus berusaha menyebarkan dakwah walaupun harus mendapatkan cemoohan. Hidayah di tangan Allah, adapun kita sekedar menyampaikan saja. Kita pun harus meyakini bahwa taat kepada rasul adalah sumber kebahagiaan dan keselamatan, meskipun sebagian orang (baca: orang kafir dan munafik) menganggapnya sebagai kebodohan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/wahai-putraku-naiklah-bersama-kami.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Seorang Kyai</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 07:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Terus  terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang  tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga  bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya  untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap  keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan  atau baca barzanji, diba&#8217;an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah  berbau kesyirikan&#8221; </em></p>
<p><span id="more-1988"></span></p>
<p><em>&#8220;Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya&#8221; </em>(Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Kita  biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan  kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar  kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala  masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan  kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali,  yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang  yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga  saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.&#8221;</em> (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)</p>
<p>Beliau  adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok  pesantren &#8220;Rahmatullah&#8221;. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh  teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh  teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.</p>
<p>Keberanian  beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak sejalan dengan  Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat berakar dalam  lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau terhadap arus kyai itu  bukan  berlandaskan apriori belaka, bukan pula didasari oleh rasa  kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam, namun merupakan  Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Kyai  Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang  mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil.  namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap ajaran  Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari keanggotaan  NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu kepada  beliau.</p>
<p>Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan  dirinya dari keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para  tetangga dan kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak  hanya mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau  mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan  kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan  permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang  shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat  pada umumnya.</p>
<p>Seandainya para Kyai itu mau mengkaji  kembali ajaran dan tradisi budaya yang berurat berakar yang telah  dikritisi dan digugat oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi  sendiri, namun juga dari para ulama tanah haram juga telah menggugat dan  mengkritisi penyakit kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar  mengurat kepada para santri dan masyarakat. Jika mereka itu mau  mendengarkan perkataan para ulama itu, tentunya penyakit-penyakit kronis  yang ada dalam tubuh NU akan bisa terobati. Aqidah umatnya akan  terselamatkan dari penyakit TBC (Tahayul, Bid&#8217;ah, Churofat). Sehingga  Kyai-kyai NU, habib, Gus serta asatidznya lebih dewasa jika ada orang  yang mau dengan ikhlas menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU  dan yang telah banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para  sahabatnya. Maka, Insya Allah, NU khususnya dan para &#8216;alim NU pada  umumnya akan menjadi barometer keagamaan dan keilmuan. &#8216;Alimnya yang  berbasis kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan  misi NU itu sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, sehingga para &#8216;alim  serta Kyai yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat  sebagai pewaris para Nabi.</p>
<p>Namun sayang, dakwah yang  disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang sebelah mata  oleh para Kyai NU  setempat. Mereka juga meragukan keloyalan beliau terhadap ajaran NU.  Dengan demikian, beliau harus menerima konsekuensi berupa pemecatan dari  kepengurusan keanggotaannya sebagai a&#8217;wan NU Kandangan, Kediri,  sekaligus dikucilkan dari lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren.  Mereka semua memboikot aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.</p>
<p>Walaupun  beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap menyikapinya  dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam dirinya.</p>
<p>Siapakah  yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh Kyai  Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin senasib  dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya karena  meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan syari&#8217;at  Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan karena  pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.</p>
<p>Kyai  Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus orang-orang yang  bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat banyak para Kyai  yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid&#8217;ahan dan tradisi-tradisi yang  tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat itulah beliau  tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup yang penuh  cobaan dan ujian.</p>
<p>Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan  dan penghormatan tersandang, harta melimpah serta jabatan terpikul,  namun murka Allah dekat dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di  hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan  keselamatan dengan meninggalkan tradisi yang selama ini beliau  gandrungi.</p>
<p>Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat  kepada Allah dari ajaran-ajaran syirik, bid&#8217;ah dan kufur. Walaupun Kyai  Afrokhi ditinggalkan oleh para kyai ahli bid&#8217;ah, jama&#8217;ah serta santri  beliau, ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup  begitu nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu&#8217; serta penuh tawakkal  kepada Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.</p>
<p>Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:</p>
<p><em>&#8220;Untuk  itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas kekeliruan yang  saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf saya kepada warga  Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa saya sesatkan dalam  kebid&#8217;ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba&#8217;an, maulidan, haul dan  selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau kesyirikan dan juga  sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah senantiasa menerima taubat  dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang lalu (Amin ya robbal &#8216;alamin)&#8221;</em></p>
<p>(Dinukil  dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku &#8220;Buku Putih Kyai  NU&#8221; oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh Ponpes  Rohmatulloh-Kediri-, mantan A&#8217;wan Syuriah MWC NU Kandangan Kediri)</p>
<p>catatan:  Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan karena ada  alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok. Silahkan nukil  dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah ilalloh.</p>
<p>-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
