<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Cinta</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>&#8216;Menembus&#8217; Pintu Surga</title>
		<link>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 06:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1885</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut   Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya   pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221;</em></p>
<p><span id="more-1885"></span>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ  الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا  يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ  فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا  أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut  Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya  pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka.  Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’.  Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain  golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu  dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…”</em> (HR.  Bukhari [1896] dari Sahl <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah  orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab  orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya  (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum  muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar  melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki  surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat <em>Syarh  Riyadhush Shalihin</em> oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).</p>
<p>Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana  dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,</p>
<p><strong>مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ  اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا  خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ  وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ  كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ  مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو  بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ  مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ  يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو  أَنْ تَكُونَ مِنْهُم</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah  maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah  kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan  dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad  akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa  akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan  ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”</em></p>
<p>Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, <em>“Ayah dan ibuku  sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu  dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah  ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.</em></p>
<p>Maka beliau pun menjawab, <em>“Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk  golongan mereka.”</em> (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang  hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang  harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta  (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351).</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan  berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala  bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan  dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits  dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara  tegas, Nabi bersabda,</p>
<p><strong>لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب  الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل</strong></p>
<p><em>“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga  yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah  dilakukannya.”</em> (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih,  demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, <em>“Dan aku  berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari  semua pintu surga-.” </em>Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau  Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas  termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit  orang yang bisa <strong>mengumpulkan berbagai amal kebaikan</strong> di dalam dirinya  (Fath Al-Bari, 7/31).</p>
<p>Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan  ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.</p>
<p><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو  بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ  أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya (kepada para  sahabat), <em>“Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”</em>. Abu  Bakar berkata, <em>“Saya.”</em> Beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian  yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”</em>. Maka Abu Bakar berkata,  <em>“Saya.”</em> Beliau kembali bertanya, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari  ini memberi makan orang miskin?”</em>. Maka Abu Bakar mengatakan, <em>“Saya.”</em> Lalu beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini  sudah mengunjungi orang sakit.”</em> Abu Bakar kembali mengatakan, <em>“Saya.”</em> Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, <em>“Tidaklah  ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan  masuk surga.”</em> (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq  <em>radhiyallahu’anhu</em>, <em>”Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya)  mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang  bersemayam di dalam hatinya.”</em> Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut,  Ibnu ‘Aliyah mengatakan, <em>”Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya  adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap  (sesama) makhluk-Nya.”</em> (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab,  hal. 102).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا  صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ  كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ</strong></p>
<p><em>”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging.  Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia  rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging  itu adalah jantung.” </em>(HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat  An-Nu’man bin Basyir <em>radhiyallahu’anhuma</em>).</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ”Di dalam hadits ini terdapat  isyarat yang menunjukkan bahwa <span style="text-decoration: underline;">kebaikan gerak-gerik anggota badan  manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan,  kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat  (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya</span>.  Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain  kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai  Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal  yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik  seluruh anggota badannya. Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala  macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat  untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-‘Ulum  wa Al-Hikam, hal. 93).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar   bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari  kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108).</p>
<p>Maka dari arah pintu manakah kita -dengan segala kekurangan yang ada- akan berusaha -dengan taufik Allah tentunya- bisa menembus pintu surga? Dari satu pintu, ataukah dari banyak pintu&#8230; <em>Allahul muwaffiq</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Semudah Yang Dibayangkan!</title>
		<link>http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 22:09:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Salafus Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1778</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “&#8230;Merealisasikan la ilaha illallah adalah suatu hal yang sangat sulit. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata: &#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;. Sebagian salaf juga mengatakan: &#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftak-semudah-yang-dibayangkan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftak-semudah-yang-dibayangkan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230;<strong>Merealisasikan la ilaha illallah adalah suatu hal yang sangat sulit</strong>. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata:<em> &#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;</em>. Sebagian salaf juga mengatakan: <em>&#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;</em>. Dan tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, maka dia tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai keikhlasan.</p>
<p><span id="more-1778"></span></p>
<p>Oleh sebab itu, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, <em>&#8216;Orang-orang Yahudi mengatakan: Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat&#8217;</em>. Maka beliau menjawab: <em>&#8216;Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?&#8217;</em> Setan tidak akan repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur -dengan iman-.</p>
<p>Oleh sebab itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang terasa berat dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, <em>&#8216;Benarkah kalian merasakan hal itu?</em>&#8216;. Mereka menjawab, <em>&#8216;Benar&#8217;</em>.  Beliau pun bersabda, <em>&#8216;Itulah kejelasan iman</em>&#8216; (<strong>HR. Muslim</strong>). Artinya hal itu merupakan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan keimanan kalian, karena perasaan itu muncul dalam dirinya sementara hal itu tidak akan muncul kecuali pada hati yang lurus dan bersih.” (<em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/38] cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p><strong>Apa yang dimaksud dengan merealisasikan la ilaha illallah?</strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid&#8217;ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan. Hal itu akan tercapai dengan cara <strong>menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan</strong>, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 20 cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p><strong>Benarkah sesulit itu merealisasikan la ilaha illallah?</strong></p>
<p>Ibnu Abi Mulaikah <em>rahimahullah </em>-seorang tabi&#8217;in- mengatakan,</p>
<p><em>“Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Mereka semua merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa imannya sebagaimana iman Jibril dan Mika&#8217;il.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dan dimaushulkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah di dalam Tarikhnya tanpa menyebutkan jumlah sahabat yang ditemui, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/136-137] cet. Dar al-Hadits)</p>
<p>Ibrahim at-Taimi <em>rahimahullah</em> -seorang fuqaha&#8217; dan ahli ibadah di kalangan tabi&#8217;in- berkata,</p>
<p><em>“Tidaklah aku hadapkan ucapanku kepada amalanku melainkan aku khawatir termasuk orang yang didustakan/tidak dipercayai nasehatnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dan dimaushulkan oleh beliau dalam Tarikhnya, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/136-137] cet. Dar. al-Hadits)</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata -menjelaskan maksud ucapan di atas-,</p>
<p>“Maksudnya; aku merasa takut orang akan mendustakan diriku karena melihat amalanku yang menyelisihi ucapanku, sehingga dia akan berkata, <em>&#8216;Seandainya kamu jujur niscaya kamu tidak akan melakukan sesuatu yang menyelisihi ucapanmu&#8217;</em>. Beliau mengucapkan hal itu karena beliau sering memberikan nasehat/wejangan kepada orang-orang -sementara beliau mengkhawatirkan amalannya, pent-&#8230;” (<em>Fath al-Bari</em> [1/136])</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahulllah</em> berkata,</p>
<p><em>“&#8230; Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 34 cet. Dar al-&#8217;Aqidah)</p>
<p><strong>Lalu bagaimana langkah mewujudkannya?</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230;Tauhid (la ilaha illallah) itu tidak akan terwujud kecuali dengan tiga perkara:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, ilmu; karena kamu tidak mungkin mewujudkan sesuatu sebelum mengetahui/memahaminya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8216;Ketahuilah, bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah.&#8217;</em> (<strong>QS. Muhammad: 19</strong>).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, i&#8217;tiqad/keyakinan, apabila kamu telah mengetahui namun tidak meyakini dan justru menyombongkan diri/angkuh maka itu artinya kamu belum merealisasikan tauhid. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai orang-orang kafir (yang artinya), <em>&#8216;Apakah dia -Muhammad- hendak menjadikan sesembahan-sesembahan -yang banyak- itu menjadi satu sesembahan saja, sungguh ini merupakan perkara yang sangat mengherankan.&#8217;</em> (<strong>QS. Shaad: 5</strong>). Mereka -orang kafir- tidak meyakini keesaan Allah dalam hal peribadahan -meskipun mereka memahami seruan Nabi tersebut, pent-.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, inqiyad/ketundukan, apabila kamu telah mengetahui dan meyakini namun tidak tunduk maka itu artinya kamu belum mewujudkan tauhid. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8216;Sesungguhnya mereka itu dahulu apabila dikatakan kepada mereka bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah maka mereka pun menyombongkan diri/bersikap angkuh dan mengatakan; apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya gara-gara seorang penyair gila?&#8217;</em> (<strong>QS. ash-Shaffat: 35-36</strong>)&#8230;” (<em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/55] cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p><strong>Ilmu tentang la ilaha illallah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“&#8230; La ilaha illallah tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya kecuali apabila dia telah mewujudkan syarat-syaratnya yang jumlahnya ada delapan:</p>
<ol>
<li><strong>Ilmu</strong> -tentang makna la ilaha illallah, pent- yang menepis kebodohan</li>
<li><strong>Keyakinan</strong> yang menepis adanya keragu-raguan</li>
<li><strong>Keikhlasan</strong> yang menepis kemusyrikan</li>
<li><strong>Kejujuran</strong> yang menepis dusta/kepura-puraan</li>
<li><strong>Kecintaan</strong> yang menepis kebencian</li>
<li><strong>Ketundukan</strong> yang menepis sikap meninggalkan</li>
<li>Sikap <strong>menerima</strong> yang menepis penolakan</li>
<li><strong>Mengingkari</strong> segala sesembahan selain Allah&#8230;” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 15)</li>
</ol>
<p><strong>Makna la ilaha illallah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“&#8230;Maknanya: <strong>Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah</strong>.</p>
<p>Makna lain yang keliru adalah:</p>
<p>[1] Tidak ada sesembahan selain Allah.</p>
<p>Ini keliru, sebab makna(konsekuensi)nya: segala yang disembah benar atau salah adalah Allah.</p>
<p>[2] Tidak ada pencipta selain Allah.</p>
<p>Ini memang sebagian dari maknanya, akan tetapi bukan itu yang dimaksudkan; sebab seandainya itu merupakan makna la ilaha illallah niscaya tidak akan terjadi persengketaan antara Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kaumnya, sebab mereka mengakui hal ini -yaitu keesaan Allah dalam hal mencipta, dsb. Pent-.</p>
<p>[3] Tidak ada penetapan hukum selain oleh Allah.</p>
<p>Ini juga sebagian saja dari maknanya, akan tetapi hal ini belum mencukupi dan bukan maksud utamanya. Sebab seandainya Allah dieesakan dalam perkara hukum namun tetap ada selain-Nya yang disembah/diibadahi -oleh seorang hamba- maka tauhid belum dianggap terwujud.” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 13)</p>
<p><strong>Apa konsekuensi la ilaha illallah?</strong></p>
<p>Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230; (konsekuensinya) adalah <strong>meninggalkan peribadahan kepada segala sesuatu selain Allah</strong>, hal ini ditunjukkan oleh ungkapan penolakan yaitu dalam ucapan kita &#8216;la ilaha&#8217;, dan <strong>beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya</strong>, yang hal ini ditunjukkan oleh penetapan yaitu dalam ucapan kita &#8216;illallah&#8217;&#8230;” (<em>at-Tauhid li as-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 50)</p>
<p><strong>Apa itu ibadah?</strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“Pengertiannya: Secara bahasa artinya perendahan diri dan ketundukan. Adapun menurut syari&#8217;at adalah sebuah ungkapan yang mewakili segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang tersembunyi/batin maupun yang tampak/lahir.” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53)</p>
<p><strong>Apa saja pilar-pilar ibadah?</strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“Pilar-pilar ibadah:</p>
<ol>
<li>Kecintaan      (mahabbah)</li>
<li>Rasa      takut (khauf)</li>
<li>Harapan      (raja&#8217;).” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53)</li>
</ol>
<p><strong>Ada apa antara cinta dengan ibadah?</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230;<strong>Pokok semua amalan adalah kecintaan</strong>. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu; maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan <strong>ia merupakan hakekat/inti daripada ibadah</strong>. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa tak ada ruhnya sama sekali padanya&#8230;” (<em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [2/3] cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230; Tidak akan sempurna tauhid seorang hamba sampai sempurna kecintaan hamba tersebut kepada Rabbnya dan kecintaan kepada-Nya <strong>harus lebih didahulukan</strong> di atas semua perkara yang dicintainya dan mengalahkan itu semua serta kecintaan kepada Allah itulah yang menghakimi semua kecintaan yang lain sehingga semua yang dicintai oleh hamba tersebut senantiasa mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan meraih kebahagiaan dan keberuntungan dirinya.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 95)</p>
<p><strong>Menggapai manisnya iman dengan cinta</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>,</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tiga perkara yang barangsiapa ketiganya terdapat dalam dirinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman. [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya. [2] Tidaklah dia mencintai seseorang kecuali karena Allah. [3] Dia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dirinya darinya sebagaimana orang yang tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Kamu ini memang aneh!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Sungguh sebuah perkara yang amat mengherankan tatkala kamu telah mengenal-Nya lantas kamu justru tidak mencintai-Nya. Kamu mendengar da&#8217;i yang menyeru kepada-Nya namun kamu justru berlambat-lambat dalam memenuhi seruan-Nya. Kamu menyadari betapa besar keuntungan yang akan dicapai dengan bermuamalah dengan-Nya namun kamu justru memilih bermuamalah dengan selain-Nya. Kamu mengerti betapa berat resiko kemurkaan-Nya namun kamu justru nekat membangkang kepada-Nya. Kamu bisa merasakan betapa pedih kegalauan yang muncul dengan bermaksiat kepada-Nya namun kamu justru tidak mau mencari ketentraman dengan cara taat kepada-Nya. Kamu bisa merasakan betapa sempitnya hati tatkala menyibukkan diri dengan selain ucapan-Nya atau pembicaraan tentang-Nya namun kemudian kamu justru tidak merindukan kelapangan hati dengan cara berdzikir dan bermunajat kepada-Nya. Kamu pun bisa merasakan betapa tersiksanya hatimu tatkala bergantung kepada selain-Nya namun kamu justru tidak meninggalkan hal itu menuju kenikmatan yang ada dalam pengabdian serta kembali bertaubat dan taat kepada-Nya. Dan yang lebih aneh lagi daripada ini semua adalah kesadaranmu bahwa kamu pasti membutuhkan-Nya dan bahwa Dia merupakan sosok yang paling kamu perlukan, akan tetapi kamu justru berpaling dari-Nya dan mencari-cari sesuatu yang menjauhkan dirimu dari-Nya.” (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 45)</p>
<p><strong>Mana bukti cintamu?</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya),</p>
<p><em>“Katakanlah (Muhammad): &#8216;Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.&#8217; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>). <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segala Puji Hanya Untuk-Mu</title>
		<link>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 22:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hamdalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1680</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Segala puji untuk Allah Rabb seru sekalian alam.” (QS. al-Fatihah: 1) Ayat yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, diantaranya: Penetapan bahwasanya hanya Allah ta&#8217;ala yang berhak mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan al dalam kata alhamdu menunjukkan makna mencakup keseluruhan bagiannya (lihat Tafsir Juz &#8216;Amma Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsegala-puji-hanya-untuk-mu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsegala-puji-hanya-untuk-mu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Segala puji untuk Allah Rabb seru sekalian alam.”</em> (<strong>QS. al-Fatihah: 1</strong>)</p>
<p><span id="more-1680"></span></p>
<p>Ayat yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Penetapan bahwasanya hanya Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang berhak      mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan <em>al</em> dalam kata <em>alhamdu</em> menunjukkan makna mencakup keseluruhan bagiannya (lihat <em>Tafsir Juz      &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9)</li>
<li>Dalam segala kondisi maka Allah berhak mendapatkan pujian. Oleh      sebab itu apabila Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merasakan sesuatu      yang menyenangkan beliau maka beliau pun berdzikir,<em> &#8216;Alhamdulillahilladzi bi ni&#8217;matihi tatimmush shalihaat&#8217;</em> artinya:      Segala puji bagi Allah yang dengan curahan nikmat-Nyalah maka segala      kebaikan menjadi sempurna. Demikian juga apabila beliau menjumpai keadaan      yang sebaliknya (tidak menyenangkan) maka beliau berdzikir, <em>&#8216;Alhamdulillahi      &#8216;ala kulli haal&#8217;</em> artinya: Segala puji bagi Allah dalam kondisi apapun      (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9).</li>
<li>Yang dimaksud pujian -<em>alhamdu</em>- di sini adalah sanjungan      yang diiringi dengan rasa cinta dan pengagungan (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 8 )</li>
<li>Allah senantiasa dipuji dikarenakan kesempurnaan dzat-Nya,      keindahan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta keagungan      perbuatan-perbuatan-Nya. Selain itu Allah juga dipuji karena anugerah      nikmat yang dicurahkan oleh-Nya kepada seluruh makhluk-Nya (lihat <em>Syarh      Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 12). Karena Allah adalah <em>al-Mu&#8217;thi</em> -yang maha pemberi- dan <em>al-Mun&#8217;im</em> -yang mengaruniakan nikmat- maka      dialah yang patut untuk selalu dipuji..</li>
<li>Allah juga terpuji karena ketetapan hukum-Nya, yaitu <strong>hukum      kauni</strong> -hukum yang berlaku bagi semua ciptaan-Nya di dalam dunia ini-      demikian juga <strong>hukum syar&#8217;i</strong> -yang berupa ketetapan hukum ilmiah dan      amaliah bagi mukallaf/orang yang dibebani syari&#8217;at- begitu pula dalam hal <strong>hukum      ukhrawi</strong> yang ditetapkan oleh-Nya berupa balasan dan hukuman bagi      hamba-Nya di alam akherat (lihat <em>Jam&#8217;ul Mahshul fi Syarh Risalah Ibnu      Sa&#8217;di fi al-Ushul</em>, hal. 13-14)</li>
<li>Di dalam ayat tersebut Allah lebih mendahulukan sifat      uluhiyah/sesembahan -yaitu yang terkandung dalam kata Allah- daripada      sifat rububiyah/pemeliharaan -yaitu yang terkandung dalam kata Rabb-, hal      ini dimungkinkan karena 2 alasan: Pertama, karena kata Allah itu adalah      nama khusus bagi-Nya yang disifati oleh semua nama/Asma&#8217;ul Husna yang lain      sehingga dikedepankan. Atau yang kedua, karena orang-orang yang didakwahi      oleh para rasul adalah golongan orang-orang yang menolak keesaan Allah dalam      hal uluhiyah-Nya, artinya mereka membagi-bagi ibadah mereka tidak hanya      untuk Allah tapi juga untuk selain-Nya (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9)</li>
<li>Karena Allah satu-satunya pemelihara seluruh alam semesta ini      maka hanya Allah pula yang berhak untuk diibadahi, tidak ada yang menerima      ibadah selain Allah (lihat <em>Risalah Tsalatsat al-Ushul</em> yang dicetak      dalam <em>Majmu&#8217;ah at-Tauhid</em>, hal. 20)</li>
<li>Rububiyah atau pemeliharaan Allah itu berlaku mencakup semua      makhluk (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9).      Sehingga ayat ini menunjukkan keesaan Allah dalam hal rububiyah-Nya (lihat      <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 8). Rububiyah Allah itu      mencakup tiga hal pokok, yaitu: mencipta, menguasai, dan mengatur alam      semesta (lihat lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal.      9).</li>
<li>Ayat ini mengandung pilar ibadah yang sangat agung yaitu <em>al-Mahabbah</em>/rasa      cinta. Karena Allah adalah <em>al-Muhsin</em> -yang melimpahkan segala      kebaikan- dan Dia juga <em>al-Mun&#8217;im</em> -yang mencurahkan semua nikmat-      maka sebagai konsekuensinya adalah hanya Allah yang layak dicintai dengan      puncak kecintaan yang tertinggi dan tidak boleh ditandingi dengan      kecintaan kepada apapun juga (lihat <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah      al-Fatihah</em>, hal. 12)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obat Penenang Jiwa</title>
		<link>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 16:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jabatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketenangan]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'rifatullah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1630</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. Amma ba&#8217;du. Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fobat-penenang-jiwa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fobat-penenang-jiwa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Amma ba&#8217;du</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan kalau perlu mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, ada sebuah fenomena memprihatinkan yang sulit sekali dilepaskan dari upaya ini. Seringkali kita jumpai manusia memakai cara-cara yang dibenci oleh Allah demi mencapai keinginan mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1630"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat wanita. Ada yang terjebak dalam hiburan yang tidak halal. Ada pula yang terjebak dalam aksi-aksi brutal atau tindak kriminal. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Padahal, Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. ar-Ra&#8217;d: 28). Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna &#8216;mengingat Allah&#8217; di sini adalah mengingat al-Qur&#8217;an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur&#8217;an (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir al-Qayyim</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 324) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Dzikir merupakan sebuah kelezatan bagi hati orang-orang yang mengerti.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Demikian juga Malik bin Dinar mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 562). Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah; mengapa banyak di antara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama salaf. Sehingga kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada ikut pengajian, atau lebih suka menikmati telenovela daripada merenungkan ayat-ayat-Nya, atau lebih suka berkunjung ke lokasi wisata daripada memakmurkan rumah-Nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Perhatikanlah ucapan Rabi&#8217; bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi&#8217; bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula &#8216;kemampuannya&#8217; untuk bisa mengingat Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriyahnya tampak baik-baik saja. Aduhai, betapa sedikit orang yang memperhatikannya! Ternyata, inilah yang selama ini hilang dan menipis dalam diri kita; yaitu rasa cinta kepada Allah&#8230; </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Syaikh as-Sa&#8217;di </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakekat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 95)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam al-Qur&#8217;an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu merupakan cabang dari pengenalan terhadapnya. Maka manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling cinta kepada-Nya. Dan setiap orang yang mengenal Allah pastilah akan mencintai-Nya. Dan tidak ada jalan untuk menggapai ma&#8217;rifat ini kecuali melalui pintu ilmu mengenai nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma&#8217;rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur&#8217;an maupun as-Sunnah&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa as-Shifat</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 16) </span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa as-Shifat</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 21). Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;,</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> hal. 261)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Hal itu bermula, tatkala kecintaan kepada dunia telah meresap ke dalam relung-relung hatinya. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi &#8216;didukung&#8217; suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk al-Qur&#8217;an, apatah lagi pengenalan terhadap keagungan nama-nama dan sifat-Nya. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Sholat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna, dan al-Qur&#8217;an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangannya. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Wahai saudaraku</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230; apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-A&#8217;la: 16-17). Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. Ghafir: 38-39) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 260)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Apabila engkau menangis karena ludesnya hartamu, atau karena hilangnya jabatanmu, atau karena orang yang pergi meninggalkanmu, maka sekaranglah saatnya engkau menangisi rusaknya hatimu&#8230; </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan wa &#8216;alaihit tuklaan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Yang Paling Disukai</title>
		<link>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ Qutaibah menuturkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah -radhiyallahu’anha-, dia berkata, “Amal yang paling disukai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ  هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ  أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ</strong></p>
<p>Qutaibah menuturkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya  dari Aisyah -<em>radhiyallahu’anha</em>-, dia berkata, <em>“Amal yang paling disukai  oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan  secara terus menerus oleh pelakunya.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p><span id="more-1555"></span>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ  حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ  عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى  اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ  الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ</strong></p>
<p>Muhammad bin Ar’arah menuturkan kepadaku. Dia berkata; Syu’bah  menuturkan kepada kami dari Sa’d bin Ibrahim dari Abu Salamah dari  Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>, dia berkata, <em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam pernah ditanya, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’</em>. Maka  beliau menjawab,<em>”Yaitu yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.”</em> Beliau juga bersabda, <em>“Bebanilah diri kalian dengan amal-amal yang mampu  untuk kalian kerjakan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p>Kedua hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa :</p>
<ol>
<li> Penetapan sifat mahabbah bagi Allah</li>
<li>Amalan satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan keutamaan di sisi  Allah</li>
<li>Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang dikerjakan secara  kontinyu</li>
<li>Apa yang dicintai oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> -dalam pandangan syari’at- maka hal itu menunjukkan bahwa Allah <em>ta’ala</em> juga mencintai perkara tersebut</li>
<li>Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mengerjakan  amalan</li>
<li>Dalam memilih amalan -sunnah- maka hendaknya seorang memperhatikan  kemampuannya agar bisa kontinyu dalam mengerjakannya, lebih baik sedikit  tapi kontinyu daripada banyak namun terhenti.</li>
<li>Hadits ini menganjurkan agar seorang hamba istiqomah dalam beramal  dan mengikhlaskan amalnya karena Allah dan sesuai dengan tuntunan  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></li>
<li>Amal salih merupakan sebab datangnya kecintaan Allah</li>
<li>Seorang mukmin hendaknya mencitai apa yang dicintai oleh Allah dan  Rasul-Nya, sebagaimana dia juga harus membenci segala perkara yang  dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan sabar di dalam ketaatan</li>
<li>Hadits ini menunjukkan pentingnya menjaga motivasi dan semangat  dalam beramal supaya bias kontinyu</li>
<li>Hadits ini menunjukkan perlunya <em>targhib</em>/dorongan dan <em>tarhib</em>/ancaman  dalam menjaga stabilitas keimanan</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa amal termasuk bagian dari iman</li>
<li>Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya melainkan sesuai  dengan batas kemampuannya</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, <em>wallahu a’lam. Wa  shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sallam. Walhamdu  lillahi Rabbil ‘alamin.</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersama Sang Kekasih</title>
		<link>http://abumushlih.com/bersama-sang-kekasih.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bersama-sang-kekasih.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 08:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1458</guid>
		<description><![CDATA[Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu menceritakan bahwa suatu ketika -dia bersama Nabi sedang keluar dari Masjid- ada seorang Arab Badui -di depan pintu masjid- yang berkata kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Kapankah hari kiamat terjadi?”. Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata kepadanya, “[Celaka kamu] Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapinya?”. Ia menjawab, “Kecintaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbersama-sang-kekasih.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbersama-sang-kekasih.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menceritakan bahwa suatu ketika -dia bersama Nabi sedang keluar dari Masjid- ada seorang Arab Badui -di depan pintu masjid- yang berkata kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Kapankah hari kiamat terjadi?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadanya, <em>“[Celaka kamu] Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapinya?”</em>. Ia menjawab, <em>“Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Nabi bersabda, “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.”</em> Anas berkata, <em>“Tidaklah kami merasa sangat bergembira setelah masuk Islam dengan kegembiraan yang lebih besar selain tatkala mendengar sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” Maka aku mencintai Allah, cinta Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar. Aku pun berharap akan bersama mereka -di akherat- meskipun aku tidak bisa beramal seperti amal-amal mereka.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/234-235], kata-kata dalam tanda kurung diambil dari riwayat Bukhari)</p>
<p><span id="more-1458"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini menyimpan berbagai pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan cinta kepada Allah dan      Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/234]).</li>
<li>Bolehnya memberikan jawaban tidak sebagaimana yang diinginkan      oleh penanya, apabila jawaban yang diinginkan itu kurang bermanfaat/tidak      penting bagi si penanya</li>
<li>Keutamaan beriman kepada hari akhir, bahwa hal itu akan      mendorong manusia untuk mempersiapkan diri sebelum menghadapinya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah      kepada Allah dan hendaknya setiap jiwa memperhatikan apa yang sudah      dipersiapkannya untuk menyambut hari esok.”</em> (QS. Al-Hasyr: 18). Di      antara buah keimanan kepada hari akhir adalah: menumbuhkan semangat      berbuat taat karena mengharapkan pahala di akherat serta memunculkan rasa      takut berbuat maksiat karena khawatir tertimpa siksaan di akherat (lihat <em>Nubdzatun      fil &#8216;Aqidah</em>, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>, hal. 46)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan besarnya semangat Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk menunjukkan kebaikan kepada umatnya, sehingga      hal itu mendorong beliau untuk mengalihkan jawaban pertanyaan itu kepada      sesuatu yang jauh lebih bermanfaat bagi si penanya</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa terkadang seseorang memandang      bahwa sesuatu itu penting baginya padahal sebenarnya bila dilihat dengan      kacamata syari&#8217;at maka tidak seperti yang dia sangka</li>
<li>Seorang yang memberikan jawaban atas pertanyaan hendaknya      mempertimbangkan maslahat dari jawaban yang diberikan olehnya bagi si      penanya</li>
<li>Bekal untuk menghadapi hari kiamat adalah keimanan, bukan      dengan semata-mata banyaknya harta, ketinggian pangkat, dan banyaknya      keturunan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu      tidak berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah      dengan hati yang selamat.”</em> (QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89)</li>
<li>Kegembiraan yang dirasakan para sahabat dengan mendengar Sunnah      Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Kebahagiaan yang hakiki itu akan diperoleh bersama dengan Islam      dan Sunnah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka      barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak      akan celaka.”</em> (QS. Thaha: 123)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami kalau      kemuliaan derajat manusia tidak diukur dengan materi atau parameter      duniawi yang lainnya, namun dengan iman dan amalnya. Oleh sebab itu Anas      bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menjadikan Abu Bakar dan Umar -dua      orang terbaik setelah Nabi- <em>radhiyallahu&#8217;anhuma </em>sebagai sosok yang      lebih dicintainya daripada yang selainnya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat mencintai sahabat      yang lainnya karena keimanan dan amal soleh mereka</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa lafaz <em>&#8216;man&#8217;</em> (<em>isim      maushul</em>/kata sambung yang berarti &#8216;orang yang&#8217;) menunjukkan makna      umum, mencakup siapa saja yang tercakup di dalamnya (lihat <em>al-Qawa&#8217;id      al-Fiqhiyah</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 46, <em>Syarh      Ushul min Ilmi Ushul</em> Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>, hal.      196-197). Demikianlah yang dipahami oleh para sahabat sebagai orang Arab.      Hal itu sudah bisa mereka pahami sebelum adanya bidang ilmu khusus yang      disebut dengan ilmu ushul atau qawa&#8217;id fiqhiyah. Dan ini merupakan salah      satu pedoman berharga dalam madzhab salaf (lihat <em>Ma&#8217;alim Ushul Fiqh      &#8216;inda Ahlis Sunnah</em>, Muhammad Husain al-Jizani, hal. 422). Oleh sebab      itu Anas bin Malik menanggapi sabda Nabi <em>“Kamu bersama dengan orang      yang kamu cintai”</em> dengan ungkapan, “<em>Maka aku mencintai Allah, cinta      Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar.” </em>Beliau tidak membatasinya kepada      Allah dan Rasul saja</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa cinta yang sejati adalah kecintaan      yang dilandasi kecintaan karena Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan yang bermanfaat itu      meliputi: [1] cinta kepada Allah -yang benar, bukan sekedar klaim-, [2]      mencintai apa yang Allah cintai, [3] cinta karena Allah (<em>hubb lillah wa      fillah</em>) artinya mencintai orang karena ketaatannya (lihat <em>al-Qaul      as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 97 dan <em>ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</em>,      hal. 214). Ibnul Qayyim berkata, <em>“Cinta yang terpuji adalah cinta yang      bermanfaat, yaitu kecintaan yang mendatangkan manfaat bagi pemiliknya di      dunia dan di akheratnya. Cinta semacam inilah yang menjadi sinyal      kebahagiaan. Adapun cinta yang berbahaya adalah yang mendatangkan bahaya      baginya di dunia dan di akheratnya, dan itu merupakan sinyal kebinasaan      dirinya.”</em> (<em>ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</em>, hal. 229).</li>
<li>Bolehnya mengatakan <em>&#8216;Celaka kamu&#8217;</em> sebagai bentuk teguran      (lihat Kitab al-Adab dalam <em>Shahih Bukhari</em> hal. 1263-1264)</li>
<li>Keutamaan Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> (lihat      Kitab Manaqib Umar bin Khattab dalam <em>Shahih Bukhari</em> hal. 768-769).      Hadits ini demikian juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Bakar dan Umar -<em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>-      adalah orang-orang yang wajib dicintai, bukan dibenci atau bahkan dicaci      maki! Sehingga hadits ini merupakan salah satu bantahan bagi kaum Syi&#8217;ah      yang mencela para sahabat Nabi -terutama Abu Bakar dan Umar- bahkan sampai      mengkafirkan mereka&#8230; Maha Suci Allah dari kotornya akidah mereka&#8230;</li>
<li>Orang yang bijak adalah yang bisa mengakui keutamaan orang lain      atas dirinya. Sebagaimana Anas bin Malik mengakui keutamaan Abu Bakar dan      Umar, semoga Allah meridhai mereka semua.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan tidak adanya rasa hasad/dengki pada diri      para sahabat satu dengan yang lainnya, bahkan mereka adalah orang-orang      yang saling mencintai karena Allah.</li>
<li>Bukti kecintaan kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang      artinya), <em>“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka      ikutilah aku.”</em> (QS. Ali Imran: 31) (lihat Kitab al-Adab dalam <em>Shahih      Bukhari</em> hal. 1265)</li>
<li>Bolehnya memberikan keputusan hukum atau fatwa ketika sedang      berada di tengah jalan (lihat Kitab al-Ahkam dalam <em>Shahih Bukhari</em> hal. 1428)</li>
<li>Kehidupan di alam dunia ini adalah perjalanan menuju kematian,      maka semestinya setiap orang mempersiapkan bekalnya untuk menghadapi      kehidupan setelah kematian. Dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. Oleh      sebab itu Allah siapkan surga bagi hamba yang bertakwa.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bersama-sang-kekasih.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Cinta Sejati??</title>
		<link>http://abumushlih.com/adakah-cinta-sejati.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/adakah-cinta-sejati.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 04:45:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Valentine]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1454</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA hafizhahullah Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos &#8220;cinta sejati&#8221;, dan dibuai oleh impian &#8220;cinta suci&#8217;. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta &#8220;valentine&#8217;s day&#8221;. Pada kesempatan ini, saya tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fadakah-cinta-sejati.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fadakah-cinta-sejati.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh : <strong>Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA</strong> <em>hafizhahullah</em></p>
<p>Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</p>
<p>Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos <strong>&#8220;cinta sejati&#8221;</strong>, dan dibuai oleh impian &#8220;cinta suci&#8217;. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta <strong>&#8220;valentine&#8217;s day&#8221;</strong>.</p>
<p>Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menulusi sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: <strong>apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang yang selama ini menghiasi hati anda?</strong></p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-1454"></span><br />
Seorang peneliti dari <strong>Researchers at National Autonomous University of Mexico</strong> mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis.</p>
<p>Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.</p>
<p>Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).</p>
<p>Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari. <em>Kasihan deeh</em>.</p>
<p>Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya ? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagiannya mencintai pasangan anda?</p>
<p>Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.</p>
<p>Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.</p>
<p>Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.</p>
<p>Saudaraku! bila anda terlanjut terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan <strong>ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot</strong>. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?</p>
<p>Para ulama&#8217; sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama <strong>Laila bintu Al Judi</strong>. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghunjam hati Abdurrahman bin Abi Bakar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Maka sejak hari itu, Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut diantara bait-bait syair yang pernah ia rangkai :</p>
<p><em>Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negri Samawah<br />
duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?<br />
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita<br />
paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.<br />
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,<br />
semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.<br />
</em><br />
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Dan <em>Subhanallah</em>, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>.</p>
<p>Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada &#8216;Aisyah istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang merupakan saudari kandungnya. Mensikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata:</p>
<p><em>&#8220;Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima.?&#8221;<br />
</em><br />
Akan tetapi tidak begitu lama, Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya <strong>&#8220;memble&#8221;</strong> (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada &#8216;Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>. Mendapat pengaduan laila ini, maka &#8216;Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها</strong>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya.</em> (Tarikh Damaskus oleh Ibnu &#8216;Asakir 35/34 &amp; Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)</p>
<p>Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>?([1])</p>
<p>Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik:</p>
<p><em>Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.<br />
</em><br />
Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?</p>
<p>Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>(الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ) رواه الترمذي وغيره</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).&#8221;</em> Riwayat At Tirmizy dan lainnya</p>
<p>Orang-orang arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).</em></p>
<p>Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan : <strong>Cinta itu buta</strong>. Dalam pepatah arab dinyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.</em></p>
<p>Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka sepontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:</p>
<p style="text-align: right;">(<strong>فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ) البقرة 102</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.&#8221;</em> Al Baqarah 102.</p>
<p>Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?</p>
<p>Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa <strong>gunakan nalar sehat dan hati nurani</strong> anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.</p>
<p>Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?</p>
<p>Simaklah jawabannya dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</p>
<p style="text-align: right;">(<strong>تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ) متفق عليه</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.&#8221;</em> Muttafaqun &#8216;alaih.</p>
<p>Dan pada hadits lain beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">(<strong>إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ) رواه الترمذي وغيره.</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.&#8221;</em> Riwayat At Tirmizy dan lainnya.</p>
<p>Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tudak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput .</p>
<p style="text-align: right;">(<strong>الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ) الزخرف 67</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.&#8221;</em> Az Zukhruf 67</p>
<p>Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari qiyamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>(ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ) متفق عليه</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan kedalam kobaran api.&#8221;</em> Muttafaqun &#8216;alaih</p>
<p>Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.</p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;az berkata: <em>&#8220;Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.&#8221;</em> Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya <strong>iman, amal sholeh dan akhlaq mulia</strong>, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.</p>
<p>Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: <em>Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati?</em> Buktikan saudaraku.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;alam bisshowab</em>, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.</p>
<p>Oleh : Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA<br />
Artikel : <a href="http://pengusahamuslim.com/" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
<p><span> &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<div><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span>&#8212;-</p>
<p>[1] ) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kehilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Walaupun, amal kebajikan para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. <strong>Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang</strong> apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama&#8217; terdahulu):</div>
<div style="text-align: right;">مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ</div>
<div style="text-align: left;"></div>
<div style="text-align: left;"><em>&#8220;Barang siapa mencela -menghina, ed- saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.&#8221;</em></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/adakah-cinta-sejati.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudaraku, Kemanakah Engkau Yang Dahulu?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 22:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1446</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -hafizhahullah- * [ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ] Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah subhaanahu wa ta’ala menunjuki seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -<em>hafizhahullah</em>- *</p>
<p><strong><em>[ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ]</em></strong></p>
<p><em>Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam</em></p>
<p>Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah <em>subhaanahu wa ta’ala</em> menunjuki seorang hamba untuk dapat mengenal Islam.<span id="more-116"> </span> Allah <em>ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (آل عمران )</strong></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman, tatkala (Allah) mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari golongan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka (dari kesyirikan, kebid’ahan, dan akhlak buruk lainnya [</em>Lihat <em>Taisir Karimirrahman]), dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah, meskipun sebelumnya, mereka dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran : 164)</em></p>
<p><em><span id="more-1446"></span></em></p>
<p>Bahkan nikmat hidayah Islam merupakan nikmat terbesar yang diterima seorang manusia dari Allah. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu </em>mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong> فالمهتدي هو العامل بالحق المريد له وهي اعظم نعمة لله على العبد</strong></p>
<p>“<em>Orang yang mendapatkan hidayah adalah orang yang beramal dengan kebenaran, dia menginginkan hidayah tersebut ada pada dirinya, dan <strong>ini</strong> <strong>merupakan anugerah Allah yang paling besar kepada seorang hamba</strong>.”(</em> <em>Miftah Dar As Sa’adah, Asy Syamilah)</em></p>
<p>Hidayah Islam akan membimbing hamba mengetahui kedudukan dirinya di hadapan Allah <em>ta’ala</em>. Hidayah Islam akan memahamkan hamba akan hakikat keberadaan dirinya di dunia. Hidayah Islam akan membawa hamba untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Rabbul ‘Alamin dan menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Sungguh… beruntunglah orang-orang yang berjalan di atas bumi ini, dengan bimbingan dan naungan hidayah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p><strong>[ Allah Perintahkan Manusia Meminta Hidayah ]</strong></p>
<p>Di setiap rakaat dalam sholat-sholat kita, bukankah Allah perintahkan kepada kita untuk membaca surat Al Fatihah??? Bukankah dalam salah satu ayat, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p><em>“(Ya Allah), berikanlah kepada kami hidayah menuju jalan yang lurus” (Al Fatihah : 6)</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun adalah orang yang senantiasa berdoa kepada Allah <em>ta’ala </em>memohong hidayah. Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca doa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى</strong></p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya <strong>aku meminta kepada-Mu hidayah</strong>, ketaqwaan, penjagaan diri, dan hati yang merasa cukup”(HR. Muslim, no. 2721)</em></p>
<p>Lihatlah bagaimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya meminta hidayah. Dan beliau adalah beliau, yang telah diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, dijamin oleh Allah <em>ta’ala</em> dengan jaminan surga. Lantas kita… ??? Di manakah kita dibandingkan dengan Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[ Akhi…Hargailah Nikmat yang Agung Ini ]</strong></p>
<p>Tatkala Allah <em>ta’ala </em>melunakkan hati seorang hamba untuk dapat menerima <em>al haq</em>, yang ketika itu mayoritas manusia menolaknya, maka sungguh…inilah anugerah terbesar dari Allah kepada hamba. Tidaklah kenikmatan ini didapatkan oleh semua manusia, Allah (dengan segala hikmah dan pengetahuan-Nya) hanyalah menunjuki hamba tertentu saja diantara hamba-hamba-Nya. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ</strong></p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Allah menyesatkan orang-orang yang Dia kehendaki dan Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki” (Fathir : </em></p>
<p>Namun terkadang banyak manusia lalai akan nikmat yang agung ini, lalai dan menyia-nyiakannya. Benih-benih hidayah yang dahulu pernah tumbuh dalam hatinya, benih hidayah yang dahulu seseorang bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah karenanya, merasakan manisnya hidup di atas sunnah… Ada sebagian manusia menelantarkan kenikmatan ini, seakan-akan mereka adalah orang yang belum pernah mengenal hidayah, kembali menjadi <em>awwam</em>.</p>
<p>Sungguh sangat dikhawatirkan apa yang menimpa kaum Yahudi, menimpa pula kepada mereka. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ</strong></p>
<p><em>“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah akan memalingkan hati mereka (dari kebenaran). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (As Shof : 5) </em></p>
<p>Saudaraku… Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun tidak mau mengikutinya. Merekalah orang yang dimurkai oleh Allah <em>‘azza wa jalla.</em></p>
<p>Syaikh As Sa’diy <em>rahimahullahu </em>mengatakan, <em>“Salah satu puncak kelancangan dan kesesatan adalah tatkala seorang manusia mengetahui kebenaran, lantas meninggalkannya. Mereka berpaling dari kebenaran dengan maksud dan keinginan mereka. Maka Allah ta’ala akan semakin memalingkan hati mereka dari kebenaran, sebagai hukuman bagi mereka, atas kesesatan yang mereka pilih. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka, karena mereka tidaklah pantas untuk menerima kebaikan, tidak pantas bagi mereka melainkan kebinasaan. </em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Beliau melanjutkan, <em>“Ayat ini, yaitu As Shof ayat 5, menunjukkan bahwa ketika Allah ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik, bukanlah berarti Allah dzolim kepada mereka. Tetapi, semua ini hanyalah disebabkan karena perbuatan mereka. Mereka sendirilah lah yang menutup pintu-pintu hidayah, setelah mereka mengilmuinya.”</em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Allah ta’ala telah berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ</strong></p>
<p><em> “Kami palingkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana pada awalnya mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran), dan Kami biarkan mereka bimbang dalam kesesatan” (Al An’am : 110)</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> [Akhi…Kemanakah Engkau yang Dahulu…???]</strong></p>
<p>Kita saksikan realita dengan mata kita, sebagaian saudara-saudara kita yang dahulu bersama kita mempelajari sunnah, yang dahulu sangat semangat mengamalkan sunnah, menggebu-gebu mendakwahkan sunnah, saat ini hanyut tertelan gelombang <em>fitnah</em>.</p>
<p>Jenggot yang dahulu menjadi kebanggaan, sekarang tinggallah menjadi kenangan. Pakaian syar’i yang dahulu engkau kenakan, celanamu yang dahulu di atas mata kaki, seiring berlalunya zaman, semakin memanjang, hingga menyapu jalanan.</p>
<p>Lupakah engkau, wahai saudaraku… bahwa kita dahulu pernah berlomba-lomba memenuhi seruan adzan? Lupakah engkau… bahwa kita dahulu sangat semangat menghadiri kajian-kajian? Bukankah engkau dahulu terhadap teman-teman perempuan selalu menjaga pandangan?</p>
<p>Saudariku, kemana jilbabmu yang engkau kenakan? Jilbabmu yang dahulu engkau banggakan, jilbab yang menutup sempurna, kini semakin mengecil, lantas menghilang. <strong>Saudaraku, kemanakah dirimu yang dahulu…?</strong></p>
<p>Sungguh, kita saksikan saat ini, betapa ganasnya fitnah yang melanda orang-orang yang beriman. Fitnah yang menyerang kaum muslimin.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا</strong></p>
<p><em>“Bersegeralah dalam beramal ketika datangnya fitnah, fitnah yang bagaikan potongan gelapnya malam, seorang yang beriman di pagi hari, menjadi kafir di sore hari atau seorang yang beriman di sore hari, menjadi kafir di pagi harinya, dia menukar agamanya dengan sebagian dari perhiasan dunia.”(HR. Muslim, no 328)</em></p>
<p>Tidaklah selamat dari fitnah ini melainkan dia yang ditunjuki oleh Allah untuk tegar menapak jalan kebenaran. <em>Fitnah</em> <em>syubhat</em> dan <em>fitnah</em> <em>syahwat</em>. Hanyalah kepada Allah, seorang hamba memohon hidayah. Allahu musta’an.</p>
<p>Allah <em>subhaanahu wa ta’ala </em>adalah Dzat yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Orang yang dahulu sangat semangat menyerukan sunnah, saat ini telah berubah menjadi seorang yang membenci sunnah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdoa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>“يا مقلب القلوب ! ثبت قلبي على دينك” . فقيل له في ذلك .فقال : إنه ليس آدمي إلا و قلبه بين إصبعين من أصابع الله ، فمن شاء أقام و من شاء أزاغ</strong><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Ya Allah, Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu”, kemudian ada yang bertanya tentang doa tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah anak Adam melainkan hatinya berada diantara dua jari dari jemari-jemari Allah. Siapa yang dikehendaki, Allah akan luruskan dia, dan siapa yang dikehendaki, Allah akan simpangkan dia.”(HR. Tirmidzi no. 3517, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini : Sanadnya Shahih)</em></p>
<p><em>Saudaraku…</em></p>
<p><em>Ini adalah sebatas nasehat … </em></p>
<p><em>Bagi kami…sebagai motivator supaya tegar berjalan melawan fitnah syubhat dan syahwat… </em></p>
<p><em>Bagi saudara-saudara kami… sebagai pengingat agar tetap istiqomah, hingga berjumpa Allah kelak di akhirat…</em></p>
<p><em>Terkhusus bagi saudara-saudara lama kami… yang dahulu kita pernah bersama…</em></p>
<p><em>Ini sebatas nasehat…</em></p>
<p><em>Karena agama tidaklah tegak melainkan dengan nasehat….</em></p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ad Dinnu An Nashihat”</em></p>
<p><em>Washolallahu ‘ala Nabiyina Muhammad…</em></p>
<p><em>***</em></p>
<p><em>Al Faqir ‘ila Maghfirati Rabbihi ‘Azza wa Jalla</em></p>
<p><a href="http://hanifnurfauzi.wordpress.com/" target="_blank"><em>Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi</em></a></p>
<p><em>______________________________________</em></p>
<p><em>Wisma Darus Shalihin, 16 Shafar 1431 H</em></p>
<p><em>*</em>Penulis adalah salah seorang mahasiswa UGM (Teknik Kimia) yang sekarang ini banyak berkecimpung dalam kegiatan keislaman, di antara aktivitasnya adalah: menjadi mudir/direktur Ma&#8217;had Bahasa Arab Umar bin Khattab yang dibina oleh <a href="http://ypia.or.id" target="_blank">Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</a>. Semoga Allah menjaga kami dan beliau dan memberikan keistiqomahan kepada kami dan beliau.   <em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bila Cinta Menyapa</title>
		<link>http://abumushlih.com/bila-cinta-menyapa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bila-cinta-menyapa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 02:56:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=904</guid>
		<description><![CDATA[‘Cinta bikin orang gila’, begitu kata sebagian orang. Barangkali ada benarnya. Buktinya, banyak kita saksikan para pemuda atau pemudi yang rela melanggar aturan-aturan agama demi mencari keridhaan pacarnya. Alasan mereka, ‘cinta itu membutuhkan pengorbanan’. Kalau berkorban harta atau bahkan nyawa untuk membela agama Allah, tentu tidak kita ingkari. Namun, bagaimana jika yang dikorbankan adalah syariat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbila-cinta-menyapa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbila-cinta-menyapa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>‘Cinta bikin orang gila’, begitu kata sebagian orang. Barangkali ada benarnya. Buktinya, banyak kita saksikan para pemuda atau pemudi yang rela melanggar aturan-aturan agama demi mencari keridhaan pacarnya. Alasan mereka, ‘cinta itu membutuhkan pengorbanan’. Kalau berkorban harta atau bahkan nyawa untuk membela agama Allah, tentu tidak kita ingkari. Namun, bagaimana jika yang dikorbankan adalah syariat Islam dan yang dicari bukan keridhaan Ar-Rahman? Semoga tulisan yang ringkas ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita bersama, agar cinta yang mengalir di peredaran darah kita tidak berubah menjadi bencana.</p>
<p><span id="more-904"></span>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Diantara manusia ada yang mencintai sekutu-sekutu selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah, adapun orang-orang yang beiman lebih dalam cintanya kepada Allah. Seandainya orang-orang yang zhalim itu menyaksikan tatkala mereka melihat adzab (pada hari kiamat) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah : 165)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “Allah menceritakan bahwa mereka (orang musyrik) mencintai pujaan-pujaan mereka/sesembahan tandingan itu sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Maka hal itu menunjukkan bahwa mereka juga mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar. Akan tetapi hal itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam. Lalu bagaimana jadinya orang yang mencintai pujaan (selain Allah) dengan rasa cinta yang lebih besar daripada kecintaan kepada Allah? Lalu apa jadinya orang yang hanya mencintai pujaan tandingan itu dan sama sekali tidak mencintai Allah?” (sebagaimana dinukil dalam Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 7. islamspirit.com).</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan : “Allah ta’ala menyebutkan tentang kondisi orang-orang musyrik ketika hidup di dunia dan ketika berada di akhirat. Mereka itu telah mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah yaitu [sesembahan-sesembahan] tandingan. Mereka menyembahnya disamping menyembah Allah. Dan mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dia itu adalah Allah yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia, tidak ada yang sanggup menentang-Nya, tidak ada yang bisa menandingi-Nya dan tiada sekutu bersama-Nya. Di dalam Ash-Shahihain [Sahih Bukhari dan Muslim] dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu’anhu-, dia berkata : Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang terbesar.” Beliau menjawab : “Yaitu engkau mengangkat selain Allah sebagai sekutu bagi-Nya padahal Dialah yang menciptakanmu.” Sedangkan firman Allah, “adapun orang-orang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” Hal itu dikarenakan kecintaan mereka (orang yang beriman) ikhlas untuk Allah dan karena kesempurnaan mereka dalam mengenali-Nya, penghormatan dan tauhid mereka kepada-Nya. Mereka tidak mempersekutukan apapun dengan-Nya. Akan tetapi mereka hanya menyembah-Nya semata, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, I/262)</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Allah ta’ala mengabarkan bahwasanya barangsiapa yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana mencintai Allah ta’ala maka dia termasuk kategori orang yang telah menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Syirik ini terjadi dalam hal kecintaan bukan dalam hal penciptaan dan rububiyah… Karena sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).</p>
<p>Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah menjelaskan : “Orang-orang musyrik itu menyetarakan sesembahan mereka dengan Allah dalam hal kecintaan dan pengagungan. Inilah pemaknaan ayat tersebut sebagaimana dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah…” (Ibthaalu Tandiid, hal. 180).</p>
<p>Syaikhul Islam mengatakan : “Penyetaraan semacam itulah yang disebutkan di dalam firman Allah ta’ala tatkala menceritakan penyesalan mereka di akhirat ketika berada di neraka. Mereka berkata kepada sesembahan-sesembahan dan sekutu-sekutu mereka dalam keadaan mereka sama-sama mendapatkan adzab (yang artinya) : “Demi Allah, dahulu kami di dunia berada dalam kesesatan yang nyata, karena kami mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 97-98). Telah dimaklumi bersama, bahwasanya mereka bukan mensejajarkan sesembahan mereka dengan Rabbul ‘alamin dalam hal penciptaan dan rububiyah. Namun mereka hanya mensejejajarkan pujaan-pujaan itu dengan Allah dalam hal cinta dan pengagungan…” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320-321)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Kecintaan orang-orang yang beriman lebih dalam dikarenakan kecintaan tersebut adalah kecintaan yang murni yang tidak terdapat noda syirik di dalamnya. Sehingga kecintaan orang-orang yang beriman menjadi lebih dalam daripada kecintaan mereka (orang-orang kafir) kepada Allah.” (Al-Qaul Al-Mufid, II/4-5).</p>
<p>Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa makna ‘orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah’ yaitu apabila dibandingkan dengan kecintaan para pengangkat tandingan itu terhadap sekutu-sekutu mereka. Karena orang-orang yang beriman itu memurnikan cinta untuk Allah, sedangkan mereka mempersekutukan-Nya. Selain itu, mereka juga mencintai sesuatu yang memang layak untuk dicintai, dan kecintaan kepada-Nya merupakan sumber kebaikan, kebahagiaan dan kemenangan hamba. Adapun orang-orang musyrik itu telah mencintai sesuatu yang pada hakikatnya tidak berhak sama sekali untuk dicintai. Dan mencintai tandingan-tandingan itu justru menjadi sumber kebinasaan dan kehancuran hamba serta tercerai-cerainya urusannya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 80).</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Sumber terjadinya kesyirikan terhadap Allah adalah syirik dalam perkara cinta. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)…” Beliau menegaskan : “Maksud dari pembicaraan ini adalah bahwasanya hakikat penghambaan tidak akan bisa diraih apabila diiringi dengan kesyirikan kepada Allah dalam urusan cinta. Lain halnya dengan mahabbah lillah. Karena sesungguhnya kecintaan tersebut merupakan salah satu koneskuensi dan tuntutan dari penghambaan kepada Allah. Karena sesungguhnya kecintaan kepada rasul –bahkan harus mendahulukan kecintaan kepadanya daripada kepada diri sendiri, orang tua dan anak-anak- merupakan perkara yang menentukan kesempurnaan iman. Sebab mencintai beliau termasuk bagian dari mencintai Allah. Demikian pula halnya pada kecintaan fillah dan lillah…” (Ad-Daa’ wad-Dawaa’, hal. 212-213)</p>
<p>Buktikan cintamu!</p>
<p>Dari Anas radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sampai dia menjadikan aku lebih dicintainya daripada anak, orang tua dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata : “Maka keimanan tidak menjadi sempurna sampai Rasul lebih dicintainya daripada seluruh makhluk. Kalau demikian halnya yang seharusnya diterapkan dalam kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimanakah lagi dengan kecintaan kepada Allah ta’ala?!!…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/6).</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah : Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku.” (QS. Ali-’Imraan : 31). Syaikhul Islam berkata : “Maka tidaklah seseorang menjadi pecinta Allah hingga dia mau tunduk mengikuti Rasulullah.” (lihat Al-’Ubudiyah)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Pokok dari seluruh amal perbuatan adalah rasa suka (cinta). Karena seorang manusia tidaklah melakukan sesuatu kecuali apa yang disukainya, baik dalam rangka mendapatkan manfaat atau untuk menolak madharat. Maka apabila dia melakukan sesuatu tentulah karena dia menyukainya, mungkin karena dzat sesuatu itu sendiri (sebab internal) seperti halnya makanan atau karena sebab eksternal seperti halnya meminum obat. Ibadah kepada Allah itu dibangun di atas pondasi kecintaan. Bahkan rasa cinta itulah hakikat dari ibadah. Sebab apabila anda beribadah tanpa memiliki rasa cinta maka ibadah yang anda perbuat akan terasa hambar dan tidak ada ruhnya. Karena sesungguhnya apabila di dalam hati seorang insan masih terdapat rasa cinta kepada Allah dan keinginan untuk menikmati surga-Nya maka tentunya dia akan menempuh jalan untuk menggapainya…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/3)</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang pada dirinya terdapat ketiganya niscaya akan merasakan manisnya iman; [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, [2] dia mencintai orang lain tidak lain disebabkan cinta karena Allah, [3] dan dia tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari [15,20,5581,6428] dan Muslim [60,61] dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [92] dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu disahihkan Al-Albani dalam takhrij Kitabul Iman karya Ibnu Taimiyah).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tanda kebenaran cinta itu ialah apabila seseorang dihadapkan kepadanya dua perkara, salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya sementara di dalam dirinya tidak ada keinginan (nafsu) untuk itu, sedangkan perkara yang lain adalah sesuatu yang disukai dan diinginkan oleh nafsunya akan tetapi hal itu akan menghilangkan atau mengurangi perkara yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Apabila ternyata dia lebih memprioritaskan apa yang diinginkan oleh nafsunya di atas apa yang dicintai Allah ini berarti dia telah berbuat zalim dan meninggalkan kewajiban yang seharusnya dilakukannya” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 332).</p>
<p>Maka perhatikanlah wahai saudaraku kecenderungan dan gerak-gerik hatimu, jangan-jangan selama ini engkau telah menobatkan sesembahan selain Allah jauh di dalam lubuk hatimu; entah itu harta, kedudukan, jabatan, benda, atau sesosok manusia. Engkau mengharapkannya, menggantungkan cita-citamu kepadanya, takut kehilangan dirinya sebagaimana rasa takutmu kehilangan bantuan dari Allah ta’ala, sehingga keridhaannya pun menjadi tujuan segala perbuatan dan tingkah lakumu. Halal dan haram tidak lagi kau pedulikan, aturan Allah pun kau lupakan. Aduhai, betapa malang orang-orang yang telah menjadikan makhluk yang lemah dan tak berdaya sebagai tumpuan harapan hidupnya. Sungguh benar Ibnul Qayyim rahimahullah yang mengatakan, “Sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).</p>
<p>Semoga Allah menyelamatkan hati kita dari tipu daya Iblis dan bala tentaranya, dan semoga Allah meneguhkan hati kita untuk menjunjung tinggi kecintaan kepada-Nya di atas segala-galanya. Sebab tidak ada lagi yang lebih melegakan hati dan perasaan kita selain tatkala Allah ta’ala telah menetapkan cinta-Nya untuk kita, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi-Nya, segala puji bagi Allah Rabb penguasa seluruh alam semesta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bila-cinta-menyapa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamu bersama siapa?</title>
		<link>http://abumushlih.com/kamu-bersama-siapa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kamu-bersama-siapa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 15:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkamu-bersama-siapa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkamu-bersama-siapa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align:right;">حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ</p>
<p><span id="more-783"></span>Sulaiman bin Harb menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hammad bin Zaid menuturkan kepada kami dari Tsabit dari Anas radhiyallahu&#8217;anhu bahwa dulu ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengenai hari kiamat. Dia berkata, &#8220;Kapankah hari kiamat tiba?&#8221;. Nabi bersabda, &#8220;Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menyambutnya?&#8221;. Dia menjawab, &#8220;Tidak ada melainkan hanya saja saya mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.&#8221; Maka Nabi bersabda, &#8220;Kamu kelak akan bersama dengan orang yang kamu cintai.&#8221; Anas pun mengatakan, &#8220;Tidaklah kami pernah merasa gembira melebihi kegembiraan kami ketika mendengar sabda beliau, &#8216;Kamu kelak akan bersama dengan orang yang kamu cintai&#8217;.&#8221; Maka Anas mengatakan,&#8221;Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar. Dan aku berharap agar kelak bisa bersama mereka dengan kecintaanku kepada mereka meskipun aku tidak bisa beramal seperti amal-amal mereka.&#8221; (HR. Bukhari dalam Kitab al-Manaqib)</p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran di antaranya :</p>
<ol>
<li>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib</li>
<li> Hendaknya seseorang menanyakan sesuatu yang bermanfaat baginya</li>
<li>Seorang pengajar atau mufti hendaknya mengalihkan jawaban kepada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi penanya jika pertanyaannya kurang bagus dan tidak penting baginya</li>
<li>Cinta Allah dan Rasul merupakan bagian dari iman, bahkan itu merupakan pokoknya</li>
<li>Cinta kepada Allah dan Rasul merupakan sebab utama untuk masuk ke dalam surga</li>
<li>Tidak ada keimanan pada diri orang yang tidak cinta kepada Allah dan Rasul</li>
<li>Dianjurkan menyampaikan kabar gembira kepada saudara sesama muslim</li>
<li>Besarnya pengagungan para sahabat terhadap sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</li>
<li>Keutamaan Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu</li>
<li>Kejujuran dan kerendahan hati para sahabat dan sikap saling mencintai satu sama lain dan saling menghormati di antara mereka</li>
<li>Keutamaan Abu Bakar dan Umar</li>
<li>Orang masuk surga dengan sebab amal-amal mereka, meskipun amal bukanlah harga yang seimbang untuk mendapatkan segala kenikmatan surga</li>
<li>Kewajiban mengikuti pemahaman sahabat terutama Abu Bakar dan Umar dan mendahulukan mereka di atas yang lainnya</li>
<li>Perintah untuk mempersiapkan diri dengan iman dan amal salih untuk menghadapi dahsyatnya hari kiamat</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya amalan hati dan besarnya peran amal hati dalam meningkatkan kualitas amalan</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui. Wallahu a&#8217;lam. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kamu-bersama-siapa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
