<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Cinta</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Mengenal Hakikat Ibadah</title>
		<link>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 20:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2484</guid>
		<description><![CDATA[Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17, at-Tauhid al-Muyassar, hal. 53). Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah thariq mu&#8217;abbad (Lihat Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [1/34])). &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17, <em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53).</p>
<p><span id="more-2484"></span></p>
<p>Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah <em>thariq mu&#8217;abbad </em>(Lihat<em> Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim </em>[1/34])). Yaitu jalan yang telah dihinakan, karena telah banyak diinjak-injak oleh telapak kaki manusia (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34). Sehingga, ibadah bisa diartikan dengan perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan (Lihat <em>at-Tanbihat al-Mukhtasharah Syarh al-Wajibat</em>, hal. 28).</p>
<p>Secara terminologi, ada beberapa definisi yang diberikan oleh para ulama tentang makna ibadah, yang pada hakikatnya semua definsi itu saling melengkapi. Di antaranya mereka menjelaskan bahwa ibadah adalah ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya yang disampaikan melalui lisan para rasul-Nya (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> juga menerangkan bahwa ibadah itu mencakup ketundukan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta membenarkan berita yang dikabarkan-Nya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 45)</p>
<p>Ibnu Juraij <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa ibadah kepada Allah artinya adalah mengenal Allah (Lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [7/327]). Yang dimaksud mengenal Allah di sini adalah mentauhidkan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat tentang perintah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada Mu&#8217;adz sebelum keberangkatannya ke Yaman. Beliau bersabda, <em>“.. Hendaklah yang pertama kali kamu ajak kepada mereka adalah supaya mereka beribadah kepada Allah &#8216;azza wa jalla -dalam riwayat lain disebutkan untuk mentauhidkan Allah-, kemudian apabila mereka sudah mengenal Allah&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Nawawi</em> [2/49] cet. Dar Ibnul Haitsam, lihat pula <em>Shahih Bukhari</em> cet. Maktabah al-Iman, tahun 1423 H, hal. 203 dan 1467. Lihat juga <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 80 cet. Dar al-Hadits tahun 1423 H)</p>
<p>Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ibadah adalah puncak perendahan diri yang dibarengi dengan puncak kecintaan. Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Menurut pengertian syari&#8217;at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/34]). Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, <em>“Sebagian ulama mendefinisikan ibadah sebagai kesempurnaan rasa cinta yang disertai kesempurnaan sikap tunduk.”</em> (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menegaskan, <em>“Ibadah yang diperintahkan itu harus mengandung unsur perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini mengandung tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satu unsur saja maka dia belum dianggap beribadah kepada Allah dengan sebenarnya. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja, maka ini adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan modal rasa harap semata, maka ini adalah metode kaum Murji&#8217;ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka, maka ini adalah jalannya kaum Khawarij.”</em> (<em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 35)</p>
<p>Ibadah juga diartikan dengan tauhid. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> mengenai maksud firman Allah (yang artinya), <em>“Wahai umat manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 21</strong>). Beliau menjelaskan, <em>“Artinya tauhidkanlah Rabb kalian&#8230;”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/75])</p>
<p>Di dalam kitabnya <em>al-&#8217;Ubudiyah </em>(Lihat<em> al-&#8217;Ubudiyah, </em>hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh, tahun 1425 H), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi (Lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 54 cet. al-Maktab al-Islami tahun 1423 H). Dari sini, maka ibadah itu mencakup perkara hati/batin dan juga perkara lahiriyah. Sehingga seluruh ajaran agama itu telah tercakup dalam istilah ibadah (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> menerangkan di dalam <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul </em>(Lihat<em> Syarh Tsalatsat al-Ushul, </em>hal. 23 cet. Dar al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah tahun 1424 H) bahwa pengertian ibadah bisa dirangkum sebagai berikut; suatu bentuk perendahan diri kepada Allah yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari&#8217;at-Nya.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.”</em> (lihat <em>asy-Syarh al-Mumti&#8217; &#8216;ala Zaad al-Mustaqni&#8217;</em> [1/9] cet. Mu&#8217;assasah Aasam, tahun 1416 H).</p>
<p>Dari pengertian-pengertian di atas paling tidak kita dapat menarik satu kesimpulan penting bahwa sesungguhnya ibadah itu ditegakkan di atas rasa cinta dan pengagungan. Rasa cinta akan melahirkan harapan dan tunduk kepada perintah-Nya, sedangkan pengagungan akan menumbuhkan rasa takut dan mematuhi larangan-larangan-Nya. Selain itu, kita juga bisa mengerti bahwa pelaksanaan ibadah tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus mengikuti tuntunan para rasul <em>&#8216;alaihimush sholatu was salam</em>. Dalam konteks sekarang, maka kita semua harus mengikuti petunjuk dan ajaran Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, nabi dan rasul yang terakhir.</p>
<p>Ibadah/amalan akan menjadi benar dan diterima di sisi Allah jika memenuhi 2 syarat; ikhlas dan ittiba&#8217; (Lihat <em>Mazhahiru Dha&#8217;fil &#8216;Aqidah fi Hadzal &#8216;Ashr wa Thuruqu &#8216;Ilajiha</em>, oleh Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>, hal. 10 cet. Kunuz Isybiliya, tahun 1430 H. Sebagian ulama menambahkan syarat ketiga yaitu aqidah yang benar, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali dalam <em>Abraz al-Fawa&#8217;id Syarh Arba&#8217; al-Qawaid</em>).</p>
<p>Ikhlas artinya ibadah itu hanya diperuntukkan kepada Allah dan tidak dipersekutukan dengan selain-Nya. Ini merupakan kandungan dari syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em>. Lawan dari ikhlas adalah syirik, riya&#8217; dan sum&#8217;ah. <em>Riya&#8217;</em> adalah beribadah karena ingin dilihat orang, sedangkan <em>sum&#8217;ah</em> adalah beribadah karena ingin didengar orang. Ittiba&#8217; maksudnya adalah setia dengan tuntunan/sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak mereka-reka tata cara ibadah yang tidak ada tuntunannya. Ini merupakan kandungan dari <em>syahadat anna Muhammadar rasulullah</em>. Lawan dari <em>ittiba&#8217;</em> adalah <em>ibtida&#8217;</em> atau membuat bid&#8217;ah (Silahkan baca <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, oleh Syaikh Dr. Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi <em>hafizhahullah</em>, cet. Jami&#8217;ah al-Islamiyah bil Madinah al-Munawwarah).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai dengan syari&#8217;at Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan yang diniatkan untuk mencari wajah Allah, inilah dua rukun amal yang akan diterima di sisi-Nya (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [5/154] Baca juga <em>al-Qawa&#8217;id wa al-Ushul aj-Jami&#8217;ah wa al-Furuq wa at-Taqasim al-Badi&#8217;ah an-Nafi&#8217;ah</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 40-42 cet. Dar al-Wathan tahun 1422 H).</p>
<p>Sebagaimana orang yang tidak ikhlas amalannya tidak diterima, demikian pula orang yang tidak ittiba&#8217; -alias berbuat bid&#8217;ah- maka amalannya pun tidak diterima. Apalagi orang yang beribadah tanpa keikhlasan dan tanpa ittiba&#8217; (Lihat <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar wa Qurratu &#8216;Uyun al-Akhyar Syarh Jawami&#8217; al-Akhbar</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 14 cet. Darul Kutub al-Ilmiyah, tahun 1423 H). Oleh sebab itu para ulama, di antaranya Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> menafsirkan bahwa yang dimaksud <em>ahsanu &#8216;amalan</em> (amal yang terbaik) dalam surat al-Mulk [ayat 2] sebagai amalan yang paling ikhlas dan paling benar (Lihat <em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 93).</p>
<p>Ikhlas jika dikerjakan karena Allah, sedangkan benar jika dikerjakan dengan mengikuti sunnah/ajaran Nabi (Lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, karya Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits, tahun 1418 H). Bukan dengan cara-cara bid&#8217;ah. Bid&#8217;ah adalah tata cara beragama yang diada-adakan dan menyaingi syari&#8217;at, dimaksudkan dengannya untuk berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, hal. 13). Hal ini memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa syari&#8217;at Islam ini mengatur niat dan cara. Niat yang baik juga harus diwujudkan dengan cara dan sarana yang baik pula (Lihat pula <em>Ighatsat al-Lahfan min Masha&#8217;id asy-Syaithan</em>, karya Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>, hal. 16 cet. Dar Thaibah, tahun 1426 H). Islam tidak mengenal kaidah ala Yahudi; &#8216;tujuan menghalalkan segala cara&#8217;.</p>
<p>Dengan demikian untuk beribadah dengan baik, seorang muslim harus memadukan antara <em>shihhatil irodah</em> (ketulusan niat) dengan <em>shihhatul fahm</em> (kelurusan pemahaman). Oleh sebab itu Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwa kedua hal tadi -<em>shihhatul irodah</em> dan <em>shihhatul fahm</em>- merupakan anugrah dan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Ketulusan niat terwujud di dalam tauhid dan keikhlasan, sedangkan kelurusan pemahaman terwujud dalam ittiba&#8217; kepada sunnah. Sehingga amat wajar jika para ulama sangat menekankan kedua pokok yang agung ini. Sampai-sampai diriwayatkan bahwa Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> pernah berdoa, <em>“Allahumma ahyinaa &#8216;alal islam, wa amitnaa &#8216;alas sunnah.”</em> Artinya: <em>“Ya Allah, hidupkanlah kami di atas islam (tauhid), dan matikanlah kami di atas Sunnah.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Abu Bakar</title>
		<link>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 22:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2457</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah [Fath al-Bari Juz 7 hal. 15] dengan judul &#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat bab di dalam <em>Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [<em>Fath al-Bari</em> Juz 7 hal. 15] dengan judul <em>&#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” </em>Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturan Imam Bukhari tersebut.</p>
<p><span id="more-2457"></span></p>
<p>Imam Bukhari berkata:</p>
<p><strong>Abdullah bin Muhammad</strong> menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: <strong>Abu &#8216;Amir</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Fulaih</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Salim Abu Nazhar</strong> menuturkan kepadaku dari <strong>Busr bin Sa&#8217;id</strong> dari <strong>Abu Sa&#8217;id al-Khudri</strong> <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkhutbah kepada orang-orang (para sahabat). Beliau mengatakan, <em>“Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”</em></p>
<p>Beliau -Abu Sa&#8217;id- berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Memang, Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.”</em></p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di <em>Kitab</em> <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> (lihat <em>Syarh Nawawi</em> Juz 8 hal. 7-8)</p>
<p>Berikut ini pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas. Kami sarikan dari keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi. Semoga bermanfaat.</p>
<ol>
<li>Hadits      ini mengandung keistimewaan yang sangat jelas pada diri Abu Bakar      ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>yang tidak ditandingi oleh siapapun -di      antara para sahabat-. Hal itu disebabkan beliau berhak mendapat predikat <em>Khalil</em> -kekasih terdekat- bagi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kalaulah      bukan karena faktor penghalang yang disebutkan oleh Nabi di atas (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [7/17 dan 19])</li>
<li>Abu      Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengetahui bahwa seorang hamba yang      diberikan tawaran tersebut adalah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.      Oleh sebab itu beliau pun menangis karena sedih akan berpisah dengannya,      terputusnya wahyu, dan akibat lain yang akan muncul setelahnya (lihat <em>Syarh      Nawawi</em> [8/7])</li>
<li>Hadits      ini menunjukkan bahwa semestinya masjid dijaga agar tidak menjadi seperti      jalan tempat berlalu-lalangnya manusia kecuali dalam kondisi darurat yang      sangat penting (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Para      ulama itu memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat. Setiap orang yang      lebih tinggi pemahamannya maka ia layak untuk disebut sebagai<em> a&#8217;lam</em> (orang yang lebih tahu) (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hadits      ini mengandung motivasi untuk lebih memilih pahala akhirat daripada perkara-perkara      dunia (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hendaknya      seorang berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik      kepadanya dan menyebutkan keutamaannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
</ol>
<p>Saudaraku&#8230; Kita bisa melihat bersama bagaimana zuhudnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap dunia. Kecintaan kepada akhirat dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah jauh lebih beliau utamakan daripada kesenangan dunia.</p>
<p>Kita juga bisa melihat bersama bagaimana kedalaman ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> terhadap hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ilmu itupun terserap dengan cepat ke dalam hatinya dan membuat air matanya meleleh. Beliau sangat menyadari bahwa kehadiran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah para sahabat laksana lentera yang menerangi perjalanan hidup mereka. Nikmat hidayah yang dicurahkan kepada mereka melalui bimbingan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah di atas segala-galanya.</p>
<p>Kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa dakwah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berjalan dengan bantuan dan dukungan para sahabatnya. Beliau -dengan kedudukan beliau yang sangat agung- tidaklah berdakwah sendirian. Terbukti pengakuan beliau terhadap jasa-jasa Abu Bakar yang sangat besar kepadanya. Tentu saja yang beliau maksud bukan semata-mata bantuan Abu Bakar untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi demi kemaslahatan umat yang itu tak lain adalah dalam rangka dakwah dan berjihad di jalan Allah.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan Abu Bakar di mata Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang melebihi sahabat-sahabat yang lain. Sehingga sangat keliru pemahaman sekte Syi&#8217;ah yang menjelek-jelekkan bahkan sampai mengkafirkan beliau.</p>
<p>Hadits ini pun menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap para sahabatnya. Bagaimana beliau dengan tanpa malu-malu mengakui keutamaan Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Padahal, kedudukan Abu Bakar tentu saja berada di bawah kedudukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Meskipun demikian, beliau menyebutkan jasanya dan menyanjungnya di hadapan para sahabat yang lain.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa memuji orang di hadapannya diperbolehkan selama orang tersebut tidak dikhawatirkan <em>ujub</em> karenanya. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar dari sisi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap memujinya di hadapannya dan di hadapan para sahabat yang lain. Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa Abu Bakar bukanlah termasuk kategori orang yang dikhawatirkan merasa ujub setelah mendengar pujian tersebut.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecintaan yang terpendam di dalam hati pasti akan membuahkan pengaruh pada gerak-gerik fisik manusia. Kecintaan yang sangat dalam pada diri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap Abu Bakar pun tampak dari ucapan dan perbuatan beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka konsekuensinya kita pun mencintai orang yang beliau cintai. Dan di antara orang yang beliau cintai, bahkan yang paling beliau cintai adalah Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Kecintaan yang berlandaskan Islam dan persaudaraan seagama. Lantas ajaran apakah yang justru mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, kalau bukan ajaran kesesatan?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Artinya?</title>
		<link>http://abumushlih.com/apa-artinya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/apa-artinya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 00:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2331</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Kalau kita cermati akan banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian menjawab, bahwa kehidupan adalah uang. Sehingga setiap detik hidup ini yang dicari adalah uang. Artinya apabila dia tidak memiliki uang, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/apa-artinya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapa-artinya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapa-artinya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Sebagian orang mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Kalau kita cermati akan banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian menjawab, bahwa kehidupan adalah uang. Sehingga setiap detik hidup ini yang dicari adalah uang. Artinya apabila dia tidak memiliki uang, seolah-olah kehidupannya telah hilang. Sebagian lagi menjawab, bahwa kehidupan adalah kedudukan. Sehingga setiap detik yang dicari adalah kedudukan. Sebagian lagi memandang bahwa kehidupan adalah kesempatan untuk bersenang-senang. Maka bagi golongan ini kesenangan duniawi adalah tujuan utama yang dicari-cari.</p>
<p><span id="more-2331"></span></p>
<p>Saudaraku -<em>semoga Allah merahmatimu</em>- kehidupan ini adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga untuk kita. Jangan sampai kita sia-siakan kehidupan di dunia ini untuk sesuatu yang tidak jelas dan akan sirna. Kenikmatan dunia ini pun kalau mau kita pikirkan dengan baik, maka tidaklah lama. Sebentar saja, bukankah demikian? Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Seolah-olah tatkala  melihat hari kiamat itu, mereka tidaklah hidup (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di waktu siang atau sesaat di waktu dhuha.”</em> (<strong>QS. an-Nazi&#8217;at: 46</strong>)</p>
<p>Lalu apa yang harus kita lakukan di dunia ini? Sebuah pertanyaan menarik. Sebuah pertanyaan yang akan kita temukan jawabannya di dalam al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Jangan salah paham dulu&#8230; Jangan dikira bahwa itu artinya setiap detik kita harus berada di masjid, atau setiap detik kita harus membaca al-Qur&#8217;an, atau setiap hari kita harus berpuasa, sama sekali bukan demikian&#8230; Ibadah, mencakup segala ucapan dan perbuatan yang dicintai oleh Allah. Allah tidak menghendaki kita setiap detik berada di masjid. Allah juga tidak menghendaki kita setiap detik membaca al-Qur&#8217;an. Semua ibadah itu ada waktunya. Yang terpenting bagi kita adalah melakukan apa yang Allah cintai bagaimana pun keadaan kita dan di mana pun kita berada.</p>
<p>Di antara perkara yang dituntut pada diri kita adalah senantiasa mengingat Allah, sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang yang banyak berdzikir dan mengingat Allah dalam segala kondisi. Ibnu Taimiyah pernah mengungkapkan, <em>“Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas apa yang akan terjadi pada seekor ikan jika ia dikeluarkan dari air?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahkan mengatakan, <em>“Perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat Allah adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dengan mengingat Allah, maka kita akan berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Karena Allah senantiasa mengawasi kita dan mengetahui apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan, di mana pun dan kapan pun. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya perkara sekecil apapun. Inilah yang semestinya senantiasa kita tanamkan di dalam hati kita. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpesan, <em>“Bertakwalah kepada Allah dimana pun kamu berada.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>). Kita harus bertakwa kepada Allah baik ketika berada di rumah, di jalan, di kampus, di pasar atau di mana pun kita berada, ketika bersama orang maupun ketika bersendirian.</p>
<p>Menjadi orang yang bertakwa itu bagaimana? Saudaraku -<em>semoga Allah menunjuki kita</em>- ketakwaan itu akan diraih manakala kita senantiasa mengingat adanya hari pembalasan dan bersiap-siap untuk menghadapinya dengan menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> bahwa takwa adalah, <em>“Rasa takut kepada Allah, beramal dengan wahyu yang diturunkan, dan bersiap-siap menyambut hari kiamat.”</em> <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/apa-artinya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laksana Setetes Air Di Tengah Samudera</title>
		<link>http://abumushlih.com/laksana-setetes-air-di-tengah-samudera.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/laksana-setetes-air-di-tengah-samudera.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 03:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2072</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kelezatan mengikuti rasa cinta. Ia akan menguat mengikuti menguatnya cinta dan melemah pula seiring dengan melemahnya cinta. Setiap kali keinginan terhadap al-mahbub (sosok yang dicintai) serta kerinduan kepadanya menguat maka semakin sempurna pula kelezatan yang akan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/laksana-setetes-air-di-tengah-samudera.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flaksana-setetes-air-di-tengah-samudera.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flaksana-setetes-air-di-tengah-samudera.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Kelezatan mengikuti rasa cinta. Ia akan menguat mengikuti menguatnya cinta dan melemah pula seiring dengan melemahnya cinta. Setiap kali keinginan terhadap al-mahbub (sosok yang dicintai) serta kerinduan kepadanya menguat maka semakin sempurna pula kelezatan yang akan dirasakan tatkala sampai kepada tujuannya tersebut. Sementara rasa cinta dan kerinduan itu sangat tergantung kepada ma&#8217;rifah/pengenalan dan ilmu tentang sosok yang dicintai. Setiap kali ilmu yang dimiliki tentangnya bertambah sempurna maka niscaya kecintaan kepadanya pun semakin sempurna. Apabila kenikmatan yang sempurna di akherat serta kelezatan yang sempurna berporos kepada ilmu dan kecintaan, maka itu artinya barangsiapa yang lebih dalam pengenalannya dalam beriman kepada Allah, nama-nama, sifat-sifat-Nya serta -betul-betul meyakini- agama-Nya niscaya kelezatan yang akan dia rasakan tatkala berjumpa, bercengkerama, memandang wajah-Nya dan mendengar ucapan-ucapan-Nya juga semakin sempurna. Adapun segala kelezatan, kenikmatan, kegembiraan, dan kesenangan -duniawi yang dirasakan oleh manusia- apabila dibandingkan dengan itu semua laksana setetes air di tengah-tengah samudera. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin orang yang berakal lebih mengutamakan kelezatan yang amat sedikit dan sebentar bahkan tercampur dengan berbagai rasa sakit di atas kelezatan yang maha agung, terus-menerus dan abadi. Kesempurnaan  seorang hamba sangat tergantung pada dua buah kekuatan ini; kekuatan ilmu dan rasa cinta. Ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang Allah, sedangkan kecintaan yang paling tinggi adalah kecintaan kepada-Nya. Sementara itu kelezatan yang paling sempurna akan bisa digapai berbanding lurus dengan dua hal ini [ilmu dan cinta], Allahul musta&#8217;aan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 52)</p>
<p><span id="more-2072"></span></p>
<p>Dari ucapan beliau ini, kita dapat mengetahui betapa besar peran ilmu tentang Allah dalam membentuk jati diri seorang muslim. Karena seorang muslim yang ideal adalah yang senantiasa mendahulukan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya di atas segalanya. Sosok muslim seperti itulah yang dikabarkan akan bisa mengecap manisnya iman. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman&#8230;” Di antaranya, “Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).</p>
<p>Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud lezatnya iman ini antara lain adalah berupa kenikmatan yang dirasakan ketika menjalani ketaatan. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga menggambarkan bahwa sosok manusia yang mampu mencapat derajat manisnya iman ini adalah orang yang di dalam hatinya tidak menyimpan perasaan tidak suka dan benci kepada agama yang suci ini. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan bisa merasakan lezatnya iman orang-orang yang ridha kepada Rabbnya, ridha Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Ketiga hal inilah -sebagaimana diungkapkan oleh Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em>- merupakan pokok-pokok ajaran agama. Ini artinya, bangunan agama yang ada pada diri seseorang akan menjadi kuat atau lemah tergantung kepada ilmu tentang ketiganya; mengenal Allah, mengenal agama Islam dan mengenal Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Maka wajarlah, apabila Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> kemudian menulis sebuah risalah kecil <em>&#8216;Tsalatsatul Ushul&#8217;</em> untuk mengenalkan pokok-pokok yang agung ini kepada segenap kaum muslimin.</p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita bagaimana para ulama salaf sedemikian mengenal karakter jiwa dan perangai manusia. Mereka itu -sebagaimana digambarkan oleh Imam Ahmad di dalam mukadimah kitabnya <em>ar-Radd &#8216;alal Jahmiyah</em> dan dinukil oleh Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Kitab Tauhidnya- merupakan sosok &#8216;pahlawan&#8217; yang telah menghidupkan hati-hati manusia yang telah binasa dan terjajah oleh Iblis melalui ayat-ayat Kitabullah yang mereka baca dan mereka terangkan isinya kepada umat manusia. Sehingga hati manusia yang sebelumnya gersang, tandus dan kering kerontang pun tersirami dengan tetes demi tetes bimbingan wahyu ilahi sehingga memunculkan tanda-tanda kehidupan kembali&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/laksana-setetes-air-di-tengah-samudera.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Menembus&#8217; Pintu Surga</title>
		<link>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 06:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1885</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ &#8230; <a href="http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut   Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya   pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221;</em></p>
<p><span id="more-1885"></span>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ  الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا  يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ  فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا  أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut  Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya  pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka.  Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’.  Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain  golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu  dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…”</em> (HR.  Bukhari [1896] dari Sahl <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah  orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab  orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya  (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum  muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar  melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki  surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat <em>Syarh  Riyadhush Shalihin</em> oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).</p>
<p>Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana  dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,</p>
<p><strong>مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ  اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا  خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ  وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ  كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ  مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو  بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ  مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ  يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو  أَنْ تَكُونَ مِنْهُم</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah  maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah  kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan  dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad  akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa  akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan  ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”</em></p>
<p>Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, <em>“Ayah dan ibuku  sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu  dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah  ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.</em></p>
<p>Maka beliau pun menjawab, <em>“Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk  golongan mereka.”</em> (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang  hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang  harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta  (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351).</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan  berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala  bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan  dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits  dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara  tegas, Nabi bersabda,</p>
<p><strong>لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب  الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل</strong></p>
<p><em>“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga  yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah  dilakukannya.”</em> (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih,  demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, <em>“Dan aku  berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari  semua pintu surga-.” </em>Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau  Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas  termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit  orang yang bisa <strong>mengumpulkan berbagai amal kebaikan</strong> di dalam dirinya  (Fath Al-Bari, 7/31).</p>
<p>Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan  ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.</p>
<p><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو  بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ  أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya (kepada para  sahabat), <em>“Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”</em>. Abu  Bakar berkata, <em>“Saya.”</em> Beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian  yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”</em>. Maka Abu Bakar berkata,  <em>“Saya.”</em> Beliau kembali bertanya, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari  ini memberi makan orang miskin?”</em>. Maka Abu Bakar mengatakan, <em>“Saya.”</em> Lalu beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini  sudah mengunjungi orang sakit.”</em> Abu Bakar kembali mengatakan, <em>“Saya.”</em> Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, <em>“Tidaklah  ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan  masuk surga.”</em> (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq  <em>radhiyallahu’anhu</em>, <em>”Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya)  mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang  bersemayam di dalam hatinya.”</em> Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut,  Ibnu ‘Aliyah mengatakan, <em>”Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya  adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap  (sesama) makhluk-Nya.”</em> (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab,  hal. 102).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا  صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ  كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ</strong></p>
<p><em>”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging.  Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia  rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging  itu adalah jantung.” </em>(HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat  An-Nu’man bin Basyir <em>radhiyallahu’anhuma</em>).</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ”Di dalam hadits ini terdapat  isyarat yang menunjukkan bahwa <span style="text-decoration: underline;">kebaikan gerak-gerik anggota badan  manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan,  kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat  (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya</span>.  Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain  kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai  Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal  yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik  seluruh anggota badannya. Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala  macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat  untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-‘Ulum  wa Al-Hikam, hal. 93).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar   bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari  kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108).</p>
<p>Maka dari arah pintu manakah kita -dengan segala kekurangan yang ada- akan berusaha -dengan taufik Allah tentunya- bisa menembus pintu surga? Dari satu pintu, ataukah dari banyak pintu&#8230; <em>Allahul muwaffiq</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Semudah Yang Dibayangkan!</title>
		<link>http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 22:09:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Salafus Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1778</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “&#8230;Merealisasikan la ilaha illallah adalah suatu hal yang sangat sulit. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata: &#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;. Sebagian salaf &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftak-semudah-yang-dibayangkan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftak-semudah-yang-dibayangkan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230;<strong>Merealisasikan la ilaha illallah adalah suatu hal yang sangat sulit</strong>. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata:<em> &#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;</em>. Sebagian salaf juga mengatakan: <em>&#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;</em>. Dan tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, maka dia tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai keikhlasan.</p>
<p><span id="more-1778"></span></p>
<p>Oleh sebab itu, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, <em>&#8216;Orang-orang Yahudi mengatakan: Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat&#8217;</em>. Maka beliau menjawab: <em>&#8216;Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?&#8217;</em> Setan tidak akan repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur -dengan iman-.</p>
<p>Oleh sebab itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang terasa berat dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, <em>&#8216;Benarkah kalian merasakan hal itu?</em>&#8216;. Mereka menjawab, <em>&#8216;Benar&#8217;</em>.  Beliau pun bersabda, <em>&#8216;Itulah kejelasan iman</em>&#8216; (<strong>HR. Muslim</strong>). Artinya hal itu merupakan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan keimanan kalian, karena perasaan itu muncul dalam dirinya sementara hal itu tidak akan muncul kecuali pada hati yang lurus dan bersih.” (<em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/38] cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p><strong>Apa yang dimaksud dengan merealisasikan la ilaha illallah?</strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid&#8217;ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan. Hal itu akan tercapai dengan cara <strong>menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan</strong>, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 20 cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p><strong>Benarkah sesulit itu merealisasikan la ilaha illallah?</strong></p>
<p>Ibnu Abi Mulaikah <em>rahimahullah </em>-seorang tabi&#8217;in- mengatakan,</p>
<p><em>“Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Mereka semua merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa imannya sebagaimana iman Jibril dan Mika&#8217;il.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dan dimaushulkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah di dalam Tarikhnya tanpa menyebutkan jumlah sahabat yang ditemui, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/136-137] cet. Dar al-Hadits)</p>
<p>Ibrahim at-Taimi <em>rahimahullah</em> -seorang fuqaha&#8217; dan ahli ibadah di kalangan tabi&#8217;in- berkata,</p>
<p><em>“Tidaklah aku hadapkan ucapanku kepada amalanku melainkan aku khawatir termasuk orang yang didustakan/tidak dipercayai nasehatnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dan dimaushulkan oleh beliau dalam Tarikhnya, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/136-137] cet. Dar. al-Hadits)</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata -menjelaskan maksud ucapan di atas-,</p>
<p>“Maksudnya; aku merasa takut orang akan mendustakan diriku karena melihat amalanku yang menyelisihi ucapanku, sehingga dia akan berkata, <em>&#8216;Seandainya kamu jujur niscaya kamu tidak akan melakukan sesuatu yang menyelisihi ucapanmu&#8217;</em>. Beliau mengucapkan hal itu karena beliau sering memberikan nasehat/wejangan kepada orang-orang -sementara beliau mengkhawatirkan amalannya, pent-&#8230;” (<em>Fath al-Bari</em> [1/136])</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahulllah</em> berkata,</p>
<p><em>“&#8230; Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 34 cet. Dar al-&#8217;Aqidah)</p>
<p><strong>Lalu bagaimana langkah mewujudkannya?</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230;Tauhid (la ilaha illallah) itu tidak akan terwujud kecuali dengan tiga perkara:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, ilmu; karena kamu tidak mungkin mewujudkan sesuatu sebelum mengetahui/memahaminya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8216;Ketahuilah, bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah.&#8217;</em> (<strong>QS. Muhammad: 19</strong>).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, i&#8217;tiqad/keyakinan, apabila kamu telah mengetahui namun tidak meyakini dan justru menyombongkan diri/angkuh maka itu artinya kamu belum merealisasikan tauhid. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai orang-orang kafir (yang artinya), <em>&#8216;Apakah dia -Muhammad- hendak menjadikan sesembahan-sesembahan -yang banyak- itu menjadi satu sesembahan saja, sungguh ini merupakan perkara yang sangat mengherankan.&#8217;</em> (<strong>QS. Shaad: 5</strong>). Mereka -orang kafir- tidak meyakini keesaan Allah dalam hal peribadahan -meskipun mereka memahami seruan Nabi tersebut, pent-.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, inqiyad/ketundukan, apabila kamu telah mengetahui dan meyakini namun tidak tunduk maka itu artinya kamu belum mewujudkan tauhid. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8216;Sesungguhnya mereka itu dahulu apabila dikatakan kepada mereka bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah maka mereka pun menyombongkan diri/bersikap angkuh dan mengatakan; apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya gara-gara seorang penyair gila?&#8217;</em> (<strong>QS. ash-Shaffat: 35-36</strong>)&#8230;” (<em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/55] cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p><strong>Ilmu tentang la ilaha illallah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“&#8230; La ilaha illallah tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya kecuali apabila dia telah mewujudkan syarat-syaratnya yang jumlahnya ada delapan:</p>
<ol>
<li><strong>Ilmu</strong> -tentang makna la ilaha illallah, pent- yang menepis kebodohan</li>
<li><strong>Keyakinan</strong> yang menepis adanya keragu-raguan</li>
<li><strong>Keikhlasan</strong> yang menepis kemusyrikan</li>
<li><strong>Kejujuran</strong> yang menepis dusta/kepura-puraan</li>
<li><strong>Kecintaan</strong> yang menepis kebencian</li>
<li><strong>Ketundukan</strong> yang menepis sikap meninggalkan</li>
<li>Sikap <strong>menerima</strong> yang menepis penolakan</li>
<li><strong>Mengingkari</strong> segala sesembahan selain Allah&#8230;” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 15)</li>
</ol>
<p><strong>Makna la ilaha illallah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“&#8230;Maknanya: <strong>Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah</strong>.</p>
<p>Makna lain yang keliru adalah:</p>
<p>[1] Tidak ada sesembahan selain Allah.</p>
<p>Ini keliru, sebab makna(konsekuensi)nya: segala yang disembah benar atau salah adalah Allah.</p>
<p>[2] Tidak ada pencipta selain Allah.</p>
<p>Ini memang sebagian dari maknanya, akan tetapi bukan itu yang dimaksudkan; sebab seandainya itu merupakan makna la ilaha illallah niscaya tidak akan terjadi persengketaan antara Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kaumnya, sebab mereka mengakui hal ini -yaitu keesaan Allah dalam hal mencipta, dsb. Pent-.</p>
<p>[3] Tidak ada penetapan hukum selain oleh Allah.</p>
<p>Ini juga sebagian saja dari maknanya, akan tetapi hal ini belum mencukupi dan bukan maksud utamanya. Sebab seandainya Allah dieesakan dalam perkara hukum namun tetap ada selain-Nya yang disembah/diibadahi -oleh seorang hamba- maka tauhid belum dianggap terwujud.” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 13)</p>
<p><strong>Apa konsekuensi la ilaha illallah?</strong></p>
<p>Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230; (konsekuensinya) adalah <strong>meninggalkan peribadahan kepada segala sesuatu selain Allah</strong>, hal ini ditunjukkan oleh ungkapan penolakan yaitu dalam ucapan kita &#8216;la ilaha&#8217;, dan <strong>beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya</strong>, yang hal ini ditunjukkan oleh penetapan yaitu dalam ucapan kita &#8216;illallah&#8217;&#8230;” (<em>at-Tauhid li as-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 50)</p>
<p><strong>Apa itu ibadah?</strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“Pengertiannya: Secara bahasa artinya perendahan diri dan ketundukan. Adapun menurut syari&#8217;at adalah sebuah ungkapan yang mewakili segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang tersembunyi/batin maupun yang tampak/lahir.” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53)</p>
<p><strong>Apa saja pilar-pilar ibadah?</strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata,</p>
<p>“Pilar-pilar ibadah:</p>
<ol>
<li>Kecintaan      (mahabbah)</li>
<li>Rasa      takut (khauf)</li>
<li>Harapan      (raja&#8217;).” (<em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53)</li>
</ol>
<p><strong>Ada apa antara cinta dengan ibadah?</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230;<strong>Pokok semua amalan adalah kecintaan</strong>. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu; maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan <strong>ia merupakan hakekat/inti daripada ibadah</strong>. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa tak ada ruhnya sama sekali padanya&#8230;” (<em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [2/3] cet. Makt. al-&#8217;Ilmu)</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“&#8230; Tidak akan sempurna tauhid seorang hamba sampai sempurna kecintaan hamba tersebut kepada Rabbnya dan kecintaan kepada-Nya <strong>harus lebih didahulukan</strong> di atas semua perkara yang dicintainya dan mengalahkan itu semua serta kecintaan kepada Allah itulah yang menghakimi semua kecintaan yang lain sehingga semua yang dicintai oleh hamba tersebut senantiasa mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan meraih kebahagiaan dan keberuntungan dirinya.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 95)</p>
<p><strong>Menggapai manisnya iman dengan cinta</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>,</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tiga perkara yang barangsiapa ketiganya terdapat dalam dirinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman. [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya. [2] Tidaklah dia mencintai seseorang kecuali karena Allah. [3] Dia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dirinya darinya sebagaimana orang yang tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Kamu ini memang aneh!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Sungguh sebuah perkara yang amat mengherankan tatkala kamu telah mengenal-Nya lantas kamu justru tidak mencintai-Nya. Kamu mendengar da&#8217;i yang menyeru kepada-Nya namun kamu justru berlambat-lambat dalam memenuhi seruan-Nya. Kamu menyadari betapa besar keuntungan yang akan dicapai dengan bermuamalah dengan-Nya namun kamu justru memilih bermuamalah dengan selain-Nya. Kamu mengerti betapa berat resiko kemurkaan-Nya namun kamu justru nekat membangkang kepada-Nya. Kamu bisa merasakan betapa pedih kegalauan yang muncul dengan bermaksiat kepada-Nya namun kamu justru tidak mau mencari ketentraman dengan cara taat kepada-Nya. Kamu bisa merasakan betapa sempitnya hati tatkala menyibukkan diri dengan selain ucapan-Nya atau pembicaraan tentang-Nya namun kemudian kamu justru tidak merindukan kelapangan hati dengan cara berdzikir dan bermunajat kepada-Nya. Kamu pun bisa merasakan betapa tersiksanya hatimu tatkala bergantung kepada selain-Nya namun kamu justru tidak meninggalkan hal itu menuju kenikmatan yang ada dalam pengabdian serta kembali bertaubat dan taat kepada-Nya. Dan yang lebih aneh lagi daripada ini semua adalah kesadaranmu bahwa kamu pasti membutuhkan-Nya dan bahwa Dia merupakan sosok yang paling kamu perlukan, akan tetapi kamu justru berpaling dari-Nya dan mencari-cari sesuatu yang menjauhkan dirimu dari-Nya.” (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 45)</p>
<p><strong>Mana bukti cintamu?</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya),</p>
<p><em>“Katakanlah (Muhammad): &#8216;Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.&#8217; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>). <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tak-semudah-yang-dibayangkan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segala Puji Hanya Untuk-Mu</title>
		<link>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 22:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hamdalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1680</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Segala puji untuk Allah Rabb seru sekalian alam.” (QS. al-Fatihah: 1) Ayat yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, diantaranya: Penetapan bahwasanya hanya Allah ta&#8217;ala yang berhak mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan al dalam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsegala-puji-hanya-untuk-mu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsegala-puji-hanya-untuk-mu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Segala puji untuk Allah Rabb seru sekalian alam.”</em> (<strong>QS. al-Fatihah: 1</strong>)</p>
<p><span id="more-1680"></span></p>
<p>Ayat yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Penetapan bahwasanya hanya Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang berhak      mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan <em>al</em> dalam kata <em>alhamdu</em> menunjukkan makna mencakup keseluruhan bagiannya (lihat <em>Tafsir Juz      &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9)</li>
<li>Dalam segala kondisi maka Allah berhak mendapatkan pujian. Oleh      sebab itu apabila Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merasakan sesuatu      yang menyenangkan beliau maka beliau pun berdzikir,<em> &#8216;Alhamdulillahilladzi bi ni&#8217;matihi tatimmush shalihaat&#8217;</em> artinya:      Segala puji bagi Allah yang dengan curahan nikmat-Nyalah maka segala      kebaikan menjadi sempurna. Demikian juga apabila beliau menjumpai keadaan      yang sebaliknya (tidak menyenangkan) maka beliau berdzikir, <em>&#8216;Alhamdulillahi      &#8216;ala kulli haal&#8217;</em> artinya: Segala puji bagi Allah dalam kondisi apapun      (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9).</li>
<li>Yang dimaksud pujian -<em>alhamdu</em>- di sini adalah sanjungan      yang diiringi dengan rasa cinta dan pengagungan (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 8 )</li>
<li>Allah senantiasa dipuji dikarenakan kesempurnaan dzat-Nya,      keindahan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta keagungan      perbuatan-perbuatan-Nya. Selain itu Allah juga dipuji karena anugerah      nikmat yang dicurahkan oleh-Nya kepada seluruh makhluk-Nya (lihat <em>Syarh      Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 12). Karena Allah adalah <em>al-Mu&#8217;thi</em> -yang maha pemberi- dan <em>al-Mun&#8217;im</em> -yang mengaruniakan nikmat- maka      dialah yang patut untuk selalu dipuji..</li>
<li>Allah juga terpuji karena ketetapan hukum-Nya, yaitu <strong>hukum      kauni</strong> -hukum yang berlaku bagi semua ciptaan-Nya di dalam dunia ini-      demikian juga <strong>hukum syar&#8217;i</strong> -yang berupa ketetapan hukum ilmiah dan      amaliah bagi mukallaf/orang yang dibebani syari&#8217;at- begitu pula dalam hal <strong>hukum      ukhrawi</strong> yang ditetapkan oleh-Nya berupa balasan dan hukuman bagi      hamba-Nya di alam akherat (lihat <em>Jam&#8217;ul Mahshul fi Syarh Risalah Ibnu      Sa&#8217;di fi al-Ushul</em>, hal. 13-14)</li>
<li>Di dalam ayat tersebut Allah lebih mendahulukan sifat      uluhiyah/sesembahan -yaitu yang terkandung dalam kata Allah- daripada      sifat rububiyah/pemeliharaan -yaitu yang terkandung dalam kata Rabb-, hal      ini dimungkinkan karena 2 alasan: Pertama, karena kata Allah itu adalah      nama khusus bagi-Nya yang disifati oleh semua nama/Asma&#8217;ul Husna yang lain      sehingga dikedepankan. Atau yang kedua, karena orang-orang yang didakwahi      oleh para rasul adalah golongan orang-orang yang menolak keesaan Allah dalam      hal uluhiyah-Nya, artinya mereka membagi-bagi ibadah mereka tidak hanya      untuk Allah tapi juga untuk selain-Nya (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9)</li>
<li>Karena Allah satu-satunya pemelihara seluruh alam semesta ini      maka hanya Allah pula yang berhak untuk diibadahi, tidak ada yang menerima      ibadah selain Allah (lihat <em>Risalah Tsalatsat al-Ushul</em> yang dicetak      dalam <em>Majmu&#8217;ah at-Tauhid</em>, hal. 20)</li>
<li>Rububiyah atau pemeliharaan Allah itu berlaku mencakup semua      makhluk (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 9).      Sehingga ayat ini menunjukkan keesaan Allah dalam hal rububiyah-Nya (lihat      <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 8). Rububiyah Allah itu      mencakup tiga hal pokok, yaitu: mencipta, menguasai, dan mengatur alam      semesta (lihat lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin, hal.      9).</li>
<li>Ayat ini mengandung pilar ibadah yang sangat agung yaitu <em>al-Mahabbah</em>/rasa      cinta. Karena Allah adalah <em>al-Muhsin</em> -yang melimpahkan segala      kebaikan- dan Dia juga <em>al-Mun&#8217;im</em> -yang mencurahkan semua nikmat-      maka sebagai konsekuensinya adalah hanya Allah yang layak dicintai dengan      puncak kecintaan yang tertinggi dan tidak boleh ditandingi dengan      kecintaan kepada apapun juga (lihat <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah      al-Fatihah</em>, hal. 12)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/segala-puji-hanya-untuk-mu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obat Penenang Jiwa</title>
		<link>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 16:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jabatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketenangan]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'rifatullah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1630</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. Amma ba&#8217;du. Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia &#8230; <a href="http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fobat-penenang-jiwa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fobat-penenang-jiwa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Amma ba&#8217;du</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan kalau perlu mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, ada sebuah fenomena memprihatinkan yang sulit sekali dilepaskan dari upaya ini. Seringkali kita jumpai manusia memakai cara-cara yang dibenci oleh Allah demi mencapai keinginan mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1630"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat wanita. Ada yang terjebak dalam hiburan yang tidak halal. Ada pula yang terjebak dalam aksi-aksi brutal atau tindak kriminal. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Padahal, Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. ar-Ra&#8217;d: 28). Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna &#8216;mengingat Allah&#8217; di sini adalah mengingat al-Qur&#8217;an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur&#8217;an (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir al-Qayyim</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 324) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Dzikir merupakan sebuah kelezatan bagi hati orang-orang yang mengerti.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Demikian juga Malik bin Dinar mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 562). Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah; mengapa banyak di antara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama salaf. Sehingga kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada ikut pengajian, atau lebih suka menikmati telenovela daripada merenungkan ayat-ayat-Nya, atau lebih suka berkunjung ke lokasi wisata daripada memakmurkan rumah-Nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Perhatikanlah ucapan Rabi&#8217; bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi&#8217; bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula &#8216;kemampuannya&#8217; untuk bisa mengingat Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriyahnya tampak baik-baik saja. Aduhai, betapa sedikit orang yang memperhatikannya! Ternyata, inilah yang selama ini hilang dan menipis dalam diri kita; yaitu rasa cinta kepada Allah&#8230; </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Syaikh as-Sa&#8217;di </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakekat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 95)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam al-Qur&#8217;an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu merupakan cabang dari pengenalan terhadapnya. Maka manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling cinta kepada-Nya. Dan setiap orang yang mengenal Allah pastilah akan mencintai-Nya. Dan tidak ada jalan untuk menggapai ma&#8217;rifat ini kecuali melalui pintu ilmu mengenai nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma&#8217;rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur&#8217;an maupun as-Sunnah&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa as-Shifat</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 16) </span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa as-Shifat</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 21). Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;,</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> hal. 261)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Hal itu bermula, tatkala kecintaan kepada dunia telah meresap ke dalam relung-relung hatinya. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi &#8216;didukung&#8217; suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk al-Qur&#8217;an, apatah lagi pengenalan terhadap keagungan nama-nama dan sifat-Nya. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Sholat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna, dan al-Qur&#8217;an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangannya. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Wahai saudaraku</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230; apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-A&#8217;la: 16-17). Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. Ghafir: 38-39) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 260)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Apabila engkau menangis karena ludesnya hartamu, atau karena hilangnya jabatanmu, atau karena orang yang pergi meninggalkanmu, maka sekaranglah saatnya engkau menangisi rusaknya hatimu&#8230; </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan wa &#8216;alaihit tuklaan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Yang Paling Disukai</title>
		<link>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ Qutaibah menuturkan kepada kami &#8230; <a href="http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ  هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ  أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ</strong></p>
<p>Qutaibah menuturkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya  dari Aisyah -<em>radhiyallahu’anha</em>-, dia berkata, <em>“Amal yang paling disukai  oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan  secara terus menerus oleh pelakunya.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p><span id="more-1555"></span>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ  حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ  عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى  اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ  الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ</strong></p>
<p>Muhammad bin Ar’arah menuturkan kepadaku. Dia berkata; Syu’bah  menuturkan kepada kami dari Sa’d bin Ibrahim dari Abu Salamah dari  Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>, dia berkata, <em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam pernah ditanya, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’</em>. Maka  beliau menjawab,<em>”Yaitu yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.”</em> Beliau juga bersabda, <em>“Bebanilah diri kalian dengan amal-amal yang mampu  untuk kalian kerjakan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p>Kedua hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa :</p>
<ol>
<li> Penetapan sifat mahabbah bagi Allah</li>
<li>Amalan satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan keutamaan di sisi  Allah</li>
<li>Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang dikerjakan secara  kontinyu</li>
<li>Apa yang dicintai oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> -dalam pandangan syari’at- maka hal itu menunjukkan bahwa Allah <em>ta’ala</em> juga mencintai perkara tersebut</li>
<li>Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mengerjakan  amalan</li>
<li>Dalam memilih amalan -sunnah- maka hendaknya seorang memperhatikan  kemampuannya agar bisa kontinyu dalam mengerjakannya, lebih baik sedikit  tapi kontinyu daripada banyak namun terhenti.</li>
<li>Hadits ini menganjurkan agar seorang hamba istiqomah dalam beramal  dan mengikhlaskan amalnya karena Allah dan sesuai dengan tuntunan  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></li>
<li>Amal salih merupakan sebab datangnya kecintaan Allah</li>
<li>Seorang mukmin hendaknya mencitai apa yang dicintai oleh Allah dan  Rasul-Nya, sebagaimana dia juga harus membenci segala perkara yang  dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan sabar di dalam ketaatan</li>
<li>Hadits ini menunjukkan pentingnya menjaga motivasi dan semangat  dalam beramal supaya bias kontinyu</li>
<li>Hadits ini menunjukkan perlunya <em>targhib</em>/dorongan dan <em>tarhib</em>/ancaman  dalam menjaga stabilitas keimanan</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa amal termasuk bagian dari iman</li>
<li>Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya melainkan sesuai  dengan batas kemampuannya</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, <em>wallahu a’lam. Wa  shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sallam. Walhamdu  lillahi Rabbil ‘alamin.</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersama Sang Kekasih</title>
		<link>http://abumushlih.com/bersama-sang-kekasih.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bersama-sang-kekasih.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 08:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1458</guid>
		<description><![CDATA[Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu menceritakan bahwa suatu ketika -dia bersama Nabi sedang keluar dari Masjid- ada seorang Arab Badui -di depan pintu masjid- yang berkata kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Kapankah hari kiamat terjadi?”. Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa &#8230; <a href="http://abumushlih.com/bersama-sang-kekasih.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbersama-sang-kekasih.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbersama-sang-kekasih.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menceritakan bahwa suatu ketika -dia bersama Nabi sedang keluar dari Masjid- ada seorang Arab Badui -di depan pintu masjid- yang berkata kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Kapankah hari kiamat terjadi?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadanya, <em>“[Celaka kamu] Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapinya?”</em>. Ia menjawab, <em>“Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Nabi bersabda, “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.”</em> Anas berkata, <em>“Tidaklah kami merasa sangat bergembira setelah masuk Islam dengan kegembiraan yang lebih besar selain tatkala mendengar sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” Maka aku mencintai Allah, cinta Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar. Aku pun berharap akan bersama mereka -di akherat- meskipun aku tidak bisa beramal seperti amal-amal mereka.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/234-235], kata-kata dalam tanda kurung diambil dari riwayat Bukhari)</p>
<p><span id="more-1458"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini menyimpan berbagai pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan cinta kepada Allah dan      Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/234]).</li>
<li>Bolehnya memberikan jawaban tidak sebagaimana yang diinginkan      oleh penanya, apabila jawaban yang diinginkan itu kurang bermanfaat/tidak      penting bagi si penanya</li>
<li>Keutamaan beriman kepada hari akhir, bahwa hal itu akan      mendorong manusia untuk mempersiapkan diri sebelum menghadapinya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah      kepada Allah dan hendaknya setiap jiwa memperhatikan apa yang sudah      dipersiapkannya untuk menyambut hari esok.”</em> (QS. Al-Hasyr: 18). Di      antara buah keimanan kepada hari akhir adalah: menumbuhkan semangat      berbuat taat karena mengharapkan pahala di akherat serta memunculkan rasa      takut berbuat maksiat karena khawatir tertimpa siksaan di akherat (lihat <em>Nubdzatun      fil &#8216;Aqidah</em>, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>, hal. 46)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan besarnya semangat Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk menunjukkan kebaikan kepada umatnya, sehingga      hal itu mendorong beliau untuk mengalihkan jawaban pertanyaan itu kepada      sesuatu yang jauh lebih bermanfaat bagi si penanya</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa terkadang seseorang memandang      bahwa sesuatu itu penting baginya padahal sebenarnya bila dilihat dengan      kacamata syari&#8217;at maka tidak seperti yang dia sangka</li>
<li>Seorang yang memberikan jawaban atas pertanyaan hendaknya      mempertimbangkan maslahat dari jawaban yang diberikan olehnya bagi si      penanya</li>
<li>Bekal untuk menghadapi hari kiamat adalah keimanan, bukan      dengan semata-mata banyaknya harta, ketinggian pangkat, dan banyaknya      keturunan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu      tidak berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah      dengan hati yang selamat.”</em> (QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89)</li>
<li>Kegembiraan yang dirasakan para sahabat dengan mendengar Sunnah      Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Kebahagiaan yang hakiki itu akan diperoleh bersama dengan Islam      dan Sunnah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka      barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak      akan celaka.”</em> (QS. Thaha: 123)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami kalau      kemuliaan derajat manusia tidak diukur dengan materi atau parameter      duniawi yang lainnya, namun dengan iman dan amalnya. Oleh sebab itu Anas      bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menjadikan Abu Bakar dan Umar -dua      orang terbaik setelah Nabi- <em>radhiyallahu&#8217;anhuma </em>sebagai sosok yang      lebih dicintainya daripada yang selainnya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat mencintai sahabat      yang lainnya karena keimanan dan amal soleh mereka</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa lafaz <em>&#8216;man&#8217;</em> (<em>isim      maushul</em>/kata sambung yang berarti &#8216;orang yang&#8217;) menunjukkan makna      umum, mencakup siapa saja yang tercakup di dalamnya (lihat <em>al-Qawa&#8217;id      al-Fiqhiyah</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 46, <em>Syarh      Ushul min Ilmi Ushul</em> Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>, hal.      196-197). Demikianlah yang dipahami oleh para sahabat sebagai orang Arab.      Hal itu sudah bisa mereka pahami sebelum adanya bidang ilmu khusus yang      disebut dengan ilmu ushul atau qawa&#8217;id fiqhiyah. Dan ini merupakan salah      satu pedoman berharga dalam madzhab salaf (lihat <em>Ma&#8217;alim Ushul Fiqh      &#8216;inda Ahlis Sunnah</em>, Muhammad Husain al-Jizani, hal. 422). Oleh sebab      itu Anas bin Malik menanggapi sabda Nabi <em>“Kamu bersama dengan orang      yang kamu cintai”</em> dengan ungkapan, “<em>Maka aku mencintai Allah, cinta      Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar.” </em>Beliau tidak membatasinya kepada      Allah dan Rasul saja</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa cinta yang sejati adalah kecintaan      yang dilandasi kecintaan karena Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan yang bermanfaat itu      meliputi: [1] cinta kepada Allah -yang benar, bukan sekedar klaim-, [2]      mencintai apa yang Allah cintai, [3] cinta karena Allah (<em>hubb lillah wa      fillah</em>) artinya mencintai orang karena ketaatannya (lihat <em>al-Qaul      as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 97 dan <em>ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</em>,      hal. 214). Ibnul Qayyim berkata, <em>“Cinta yang terpuji adalah cinta yang      bermanfaat, yaitu kecintaan yang mendatangkan manfaat bagi pemiliknya di      dunia dan di akheratnya. Cinta semacam inilah yang menjadi sinyal      kebahagiaan. Adapun cinta yang berbahaya adalah yang mendatangkan bahaya      baginya di dunia dan di akheratnya, dan itu merupakan sinyal kebinasaan      dirinya.”</em> (<em>ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</em>, hal. 229).</li>
<li>Bolehnya mengatakan <em>&#8216;Celaka kamu&#8217;</em> sebagai bentuk teguran      (lihat Kitab al-Adab dalam <em>Shahih Bukhari</em> hal. 1263-1264)</li>
<li>Keutamaan Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> (lihat      Kitab Manaqib Umar bin Khattab dalam <em>Shahih Bukhari</em> hal. 768-769).      Hadits ini demikian juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Bakar dan Umar -<em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>-      adalah orang-orang yang wajib dicintai, bukan dibenci atau bahkan dicaci      maki! Sehingga hadits ini merupakan salah satu bantahan bagi kaum Syi&#8217;ah      yang mencela para sahabat Nabi -terutama Abu Bakar dan Umar- bahkan sampai      mengkafirkan mereka&#8230; Maha Suci Allah dari kotornya akidah mereka&#8230;</li>
<li>Orang yang bijak adalah yang bisa mengakui keutamaan orang lain      atas dirinya. Sebagaimana Anas bin Malik mengakui keutamaan Abu Bakar dan      Umar, semoga Allah meridhai mereka semua.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan tidak adanya rasa hasad/dengki pada diri      para sahabat satu dengan yang lainnya, bahkan mereka adalah orang-orang      yang saling mencintai karena Allah.</li>
<li>Bukti kecintaan kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang      artinya), <em>“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka      ikutilah aku.”</em> (QS. Ali Imran: 31) (lihat Kitab al-Adab dalam <em>Shahih      Bukhari</em> hal. 1265)</li>
<li>Bolehnya memberikan keputusan hukum atau fatwa ketika sedang      berada di tengah jalan (lihat Kitab al-Ahkam dalam <em>Shahih Bukhari</em> hal. 1428)</li>
<li>Kehidupan di alam dunia ini adalah perjalanan menuju kematian,      maka semestinya setiap orang mempersiapkan bekalnya untuk menghadapi      kehidupan setelah kematian. Dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. Oleh      sebab itu Allah siapkan surga bagi hamba yang bertakwa.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bersama-sang-kekasih.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

