<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Cobaan</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/cobaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Dahsyatnya Fitnah Menggoncang Keimanan</title>
		<link>http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 09:49:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1508</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah melakukan amal-amal (ketaatan) sebelum datangnya fitnah-fitnah (cobaan) yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari masih beriman dan di sore harinya telah menjadi kafir. Atau &#8230; <a href="http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><span style="font-weight: normal;">Dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bersegeralah melakukan amal-amal (ketaatan) sebelum datangnya fitnah-fitnah (cobaan) yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari masih beriman dan di sore harinya telah menjadi kafir. Atau di sore hari beriman, lalu di pagi harinya menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan di dunia.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/198])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1508"></span></span>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini berisi anjuran untuk bersegera beramal salih sebelum tiba 	saat-saat sulit melakukannya karena disibukkan oleh berbagai bentuk 	fitnah yang melanda dan bertumpuk-tumpuk sebagaimana lapisan-lapisan 	malam yang gelap tanpa ada cahaya rembulan yang menyinarinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/198])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Suatu 	terpaan fitnah yang bertubi-tubi bisa menggoyahkan keimanan 	seseorang, sampai-sampai dalam rentang waktu yang tidak lama hal itu 	membuat keimanannya mengalami perubahan yang sangat drastis. Hal ini 	menunjukkan betapa keras fitnah yang menerpa dirinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/198]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Fenomena 	semacam ini semestinya menumbuhkan rasa takut dalam diri setiap 	hamba. Karena tidak ada jaminan kalau dirinya bisa selamat tatkala 	menghadapi terpaan fitnah yang ada. Ibnu Abi Mulaikah mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Saya bertemu dengan 	tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam 	sementara mereka semua merasa takut kemunafikan bercokol di dalam 	dirinya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (Diriwayatkan oleh Bukhari secara </span><em><span style="font-weight: normal;">mu&#8217;allaq</span></em><span style="font-weight: normal;">). 	Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> menceritakan doa Nabi Ibrahim dalam ayat-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“-Wahai 	Rabbku- jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah 	patung-patung.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. 	Ibrahim: 35). Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa 	Ibrahim at-Taimi mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Lantas, 	siapakah yang bisa merasa aman dari bencana setelah Ibrahim?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (dinukil dari </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Majid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 72). 	Kalau mereka saja -orang-orang yang telah jelas kesalihannya- merasa 	takut akan fitnah yang menimpa, maka bagaimanakah lagi dengan kita 	dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang ada pada diri kita 	ini? </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-weight: normal;">. </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasa 	takut terhadap dampak dari fitnah yang melanda itulah yang 	seharusnya memacu seorang hamba untuk lebih mendekatkan diri dan 	bergantung kepada Rabbnya. Karena tidak ada yang menguasai segala 	urusan, manfaat dan madharat, keselamatan dan kecelakaan, kecuali 	Dia Yang di tangan-Nya segenap kerajaan langit dan bumi. Oleh sebab 	itu, Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> memerintahkan kepada para sahabatnya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Berlindunglah 	kalian kepada Allah dari fitnah-fitnah, yang tampak ataupun yang 	tersembunyi.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka 	mereka -para sahabat- mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kami 	berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah, yang tampak ataupun yang 	tersembunyi.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. 	Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [9/133])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan bahwa rasa takut yang terpuji adalah yang menuntun 	pemiliknya menuju ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Bukan rasa 	takut yang menyeret pemiliknya ke dalam sikap putus asa dari rahmat 	Allah.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan bahwa setiap hamba diperintahkan untuk menempuh sebab 	agar dirinya bisa terselamatkan dari berbagai bentuk fitnah yang 	melanda umat manusia.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan keutamaan bersegera dalam beramal dan tidak 	menunda-nunda amalan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hendaknya 	setiap orang pandai-pandai memanfaatkan waktunya dan tidak 	menyia-nyiakannya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Orang yang 	selamat dari fitnah adalah orang yang tetap memegang teguh ajaran 	agamanya dan tidak tertipu oleh dunia. Oleh sebab itu Nabi 	menyebutkan ciri orang yang binasa akibat fitnah adalah yang rela 	menjual agamanya demi mendapatkan dunia.</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku [Sangat] Membutuhkan-Mu</title>
		<link>http://abumushlih.com/aku-sangat-membutuhkan-mu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/aku-sangat-membutuhkan-mu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 07:32:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hawa Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1435</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji untuk Allah, Yang menciptakan manusia dan tidak membutuhkan mereka, Yang menciptakan mereka agar mau tunduk dan mengagungkan-Nya, Yang segala manfaat dan madharat ada di tangan-Nya. Semoga pujian dan keselamatan terlimpah kepada Nabi pilihan, sang kekasih ar-Rahman, pembawa berita &#8230; <a href="http://abumushlih.com/aku-sangat-membutuhkan-mu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Faku-sangat-membutuhkan-mu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Faku-sangat-membutuhkan-mu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji untuk Allah, Yang menciptakan manusia dan tidak membutuhkan mereka, Yang menciptakan mereka agar mau tunduk dan mengagungkan-Nya, Yang segala manfaat dan madharat ada di tangan-Nya. Semoga pujian dan keselamatan terlimpah kepada Nabi pilihan, sang kekasih ar-Rahman, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Amma ba’du.</p>
<p><span id="more-1435"></span>Saudaraku, menjalani kehidupan di alam dunia adalah sebuah cobaan dari Rabbul ‘alamin. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2). Untuk itulah, sebaik-baik insan adalah yang senantiasa menghadirkan perasaan bahwa Rabbnya sedang mengujinya, dengan apapun yang sedang dialaminya; kesenangan, musibah, ataupun terjerembab dalam dosa.</p>
<p>Apakah dia bisa menjadi seorang hamba yang merendahkan diri dan mengagungkan Rabbnya dengan penuh rasa cinta kepada-Nya, yaitu dengan mempersembahkan ibadahnya hanya untuk Dia semata. Sebagaimana ayat yang selalu kita baca setiap harinya, di setiap raka’at sholat yang kita lakukan. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. ‘Hanya kepada-Mu –ya Allah- kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.’ Dari situlah, maka segala bentuk kejadian yang menimpanya semestinya dapat menjadi sarana untuk menggapai ridha dan cinta-Nya.</p>
<p>Tatkala kenikmatan menyapa, maka segenap rasa syukur pun dia panjatkan kepada-Nya. Tatkala musibah melanda dan menyayat hati, maka ridha dengan takdir dan bersabar menerima kenyataan adalah ibadah yang akan menghiasi hati, lisan, dan anggota badannya. Demikian pula, ketika hawa nafsu dan bujukan syaitan memperdaya dirinya sehingga dia pun menerjang larangan atau melalaikan kewajibannya, maka kesejukan taubat dan air mata penyesalan akan menghampiri jiwanya.</p>
<p>Saudaraku, berapa banyak kenikmatan yang telah dicurahkan Rabbul ‘alamin kepada kita? Entah berapa banyak, tak ada seorang profesor pun yang yang bisa menjawabnya.  Namun, lihatlah keadaan dan tingkah laku kita&#8230; Betapa sedikit rasa syukur kita kepada-Nya, dan betapa banyak kemaksiatan yang kita lakukan kepada-Nya. Orang bilang, ‘air susu dibalas air tuba’. Alangkah buruknya, akhlak kita kepada-Nya&#8230; Kita mengaku muslim (orang yang pasrah), namun betapa sering kita membantah aturan dan kebijaksanaan-Nya. Kita mengaku beriman, namun betapa sering perintah dan larangan-Nya kita ingkari serta berita-Nya yang kita abaikan. Aduhai, apakah kita merasa mampu membahayakan Rabb yang menguasai jagad raya, dengan kedurhakaan kita kepada-Nya? Demi Allah, hal itu tidaklah bisa membahayakan-Nya! Kamu ini hidup untuk apa?!</p>
<p>Allah berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)</p>
<p>Saudaraku, banyak orang mengira dengan maksiat mereka akan meraih bahagia. Padahal, sebaliknya. Kebahagiaan sejati tak pernah bisa diraih dengan kedurhakaan kepada-Nya. Seorang profesor yang mulia Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah beberapa waktu lalu –dalam ceramahnya di Masjid Istiqlal Jakarta- menyampaikan nasehat yang sangat indah untuk kaum muslimin di Indonesia. Beliau berkata, ‘as-Sa’aadah biyadillah, wa laa tunaalu illa bi thaa’atillah’. Kebahagiaan itu ada di tangan Allah, dan ia tak akan diraih kecuali dengan taat kepada Allah. Sebuah kalimat yang ringkas, namun sarat akan makna! Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan atas nasehat dan arahannya untuk kita&#8230;</p>
<p>Saudaraku, demikianlah kenyataannya. Tak ada setetes pun kebahagiaan yang hakiki yang akan diperoleh seorang hamba yang lemah dan penuh dengan kekurangan kecuali dengan cara tunduk dan taat kepada Rabb yang menciptakannya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan segenap insan di alam dunia ini bahwa keberuntungan dan kebahagiaan hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar taat dan mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3). Allah juga mengingatkan (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan binasa.” (QS. Thaha: 123).</p>
<p>Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya dia telah beruntung/sukses. Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sekedar kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185). Allah ‘azza wa jalla juga menyatakan (yang artinya), “Adapun barangsiapa yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya dan menahan dirinya dari memperturutkan hawa nafsunya, maka surgalah tempat kembalinya.” (QS. an-Naazi’aat: 40-41)</p>
<p>Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Tidak ada kehidupan bagi hati, tidak juga kesenangan dan ketenangan, kecuali dengan cara mengenal Rabb, sesembahan, dan pencipta dirinya. Yaitu dengan mengenal nama-nama, sifat-sifat, serta perbuatan-perbuatan-Nya. Di samping itu semua, dia menjadikan Allah sebagai sesuatu yang lebih dicintainya di atas segala-galanya. Oleh sebab itulah, usaha yang dilakukannya –di alam dunia ini – adalah untuk melakukan perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya yang mereka itu semua adalah makhluk-Nya.” (Syarh Aqidah Thahawiyah)</p>
<p>Maka berbahagialah orang yang diberikan taufik oleh Allah untuk mengenal Islam dan mencintainya, mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti ajarannya, serta menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan tempat bergantungnya hati baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan lezatnya iman, yaitu orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, ridha Islam sebagai agama, dan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu).</p>
<p>Lezatnya keimanan, bukan diraih dengan mencicipi berbagai macam resep masakan di berbagai restoran dan rumah makan. Apalagi dengan melakukan perkara-perkara yang mengundang murka Allah yang sangat keras hukumannya. Hal ini menunjukkan kepada kita –wahai saudaraku yang mulia, semoga Allah menyelamatkan kita dari pedihnya neraka- bahwa kebahagiaan yang bersemayam di dalam dada dalam bentuk ridha kepada takdir-Nya, selalu merasa di bawah pengawasan-Nya, ingin menggapai cinta dan ridha-Nya, berharap dan takut kepada-Nya, merupakan kelezatan tiada tara yang menghiasi hati orang-orang yang mengenal keagungan Rabbnya. Kelezatan yang bisa diraih dengan taat kepada-Nya. Mereka itulah sesungguhnya orang yang benar-benar hidup di alam dunia ini, dengan cahaya iman dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.</p>
<p>Adapun orang-orang ‘tampak berbahagia’ di alam dunia yang fana ini, sementara mereka adalah para pembangkang dan pembantah aturan-Nya, maka sesungguhnya kebahagiaan mereka adalah kesenangan yang semu dan akan berakhir dengan kesengsaraan yang tiada tara. Aduhai, betapa malang orang yang menjual kebahagiaan hakiki dan abadi dengan kesenangan yang semu dan sementara!</p>
<p>Mereka tersenyum, tertawa, dan penuh keceriaan, padahal mereka bergelimang dengan dosa dan kemaksiatan kepada Rabbnya. Mereka tampakkan kepada manusia seolah-olah mereka bahagia dengan kemaksiatannya. Mereka gambarkan kepada manusia bahwa dengan meninggalkan perintah Allah dan rasul-Nya akan memberikan jalan pintas bagi siapa saja untuk meraih kepuasan dan kenikmatan yang luar biasa. Subhanallah, Maha suci Allah&#8230; alangkah buruk perbuatan mereka. Mereka rela menjual agamanya demi mendapatkan secuil kenikmatan dunia. Yang dunia itu di sisi Allah tidak lebih berharga daripada sehelai sayap nyamuk! Allahu akbar!</p>
<p>Maka ingatlah selalu wahai saudaraku –semoga Allah meneguhkan diriku dan dirimu di jalan-Nya- kehidupan kita di dunia ini akan berakhir dengan kematian dan bersambung di alam kubur dan hari kebangkitan. Akan ditanyakan kepada kita ‘siapakah sesembahanmu, apa agamamu, siapakah nabimu’. Apakah akan kita jawab nanti bahwa sesembahan kita adalah hawa nafsu, agama kita adalah kebebasan ala binatang, dan nabi kita adalah para wali-wali syaitan? Ya Allah, lindungilah kami dari pedihnya hukuman-Mu&#8230;</p>
<p>Lantas, pada saat ini ketika kaki kita masih menginjakkan bumi yang Allah ciptakan, paru-paru kita masih menghirup udara yang Allah ciptakan, tenggorokan kita masih terbasahi dengan air yang Allah alirkan, kulit kita masih merasakan hangatnya sinar matahari yang Allah ciptakan, mata kita masih bisa memandang berkat adanya cahaya yang Allah ciptakan, jantung kita pun masih berdegup mengalirkan darah yang Allah ciptakan, lidah kita masih bisa bergerak dan melontarkan kata-kata yang semuanya pasti Allah dengarkan, maka adakah di antara kita yang membusungkan dadanya di hadapan manusia dan berkata, “Ya Allah, aku tidak membutuhkan-Mu selama-lamanya!”?</p>
<p>Tentu saja, tidak ada orang sebodoh itu yang mampu melakukannya. Namun, kenyataannya tingkah laku dan perbuatan kita menunjukkan betapa cueknya kita terhadap aturan dan bimbingan-Nya. Seolah-olah tidak ada gunanya Allah mengutus rasul-Nya, tidak ada gunanya Allah turunkan kitab-Nya, dan tidak ada gunanya Allah ciptakan surga dan neraka&#8230; Karena kita telah disibukkan dan tenggelam dalam kedurhakaan kepada-Nya&#8230;. Dan kita jadikan umur kita habis untuknya, cinta dan benci bukan karena-Nya, memberi dan tidak bukan karena-Nya, diam dan bergerak juga bukan karena-Nya. Bahkan, yang lebih jelek lagi&#8230; kita telah memandang keburukan dan dosa kita sebagai kebaikan dan jasa, na’udzu billahi min dzaalik. Afaman zuyyina lahu suu’u ‘amalihi fa ra’aahu hasana..</p>
<p>Maka ketahuilah saudaraku, bahwa kita –tanpa terkecuali- sangat membutuhkan-Nya, di mana saja dan kapan saja kita berada. Karena sesungguhnya langit dan bumi serta segala sesuatu yang di dalamnya adalah berada di bawah kekuasaan dan aturan-Nya. Apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apapun yang tidak Allah kehendaki tidak akan pernah terjadi. Karenanya taufik adalah di tangan-Nya, bukan di tangan kita&#8230; maka mintalah kepada-Nya semoga Allah mencurahkan taufik dan bimbingan-Nya kepada kita dan tidak menelantarkan kita dalam kebingungan dan dibiarkan hidup tanpa bantuan dari-Nya. Apakah engkau wahai raja, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai orang kaya, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai tentara, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai orang yang rupawan dan berparas jelita merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai para da’i, merasa tidak butuh kepada-Nya?</p>
<p>Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/aku-sangat-membutuhkan-mu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Putus Asa!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-putus-asa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-putus-asa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 21:55:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Problematika]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1306</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dan memberikan kesempatan yang lebar kepada mereka untuk bertaubat dan taat kepada-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada manusia teladan yang memberikan motivasi kepada umatnya untuk tegar dalam menghadapi kehidupan. Amma ba&#8217;du. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jangan-putus-asa.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-putus-asa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-putus-asa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dan memberikan kesempatan yang lebar kepada mereka untuk bertaubat dan taat kepada-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada manusia teladan yang memberikan motivasi kepada umatnya untuk tegar dalam menghadapi kehidupan. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Saudaraku, perjalanan waktu tak terasa telah melindas lembaran sejarah kehidupan kita. Pahit getirnya hidup mewarnai lembaran-lembaran itu sehingga terkadang membuat pemiliknya diselimuti sikap pesimis dan ragu-ragu untuk melanjutkan langkah perjuangannya untuk menggapai kebahagiaan. Padahal kita telah tahu, sesungguhnya perjalanan waktu inilah yang akan membuktikan siapa di antara manusia yang beruntung dan siapa yang celaka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya dia telah beruntung, dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.”</em> (QS. Ali Imran: 185)</p>
<p><span id="more-1306"></span></p>
<p>Oleh sebab itu, menunda-nunda amal merupakan sebab utama kebinasaan. Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Jadilah kalian anak-anak akherat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal dan belum ada hisab, sedangkan besok yang ada adalah hisab dan tidak ada lagi waktu untuk beramal.”</em> (HR. Bukhari secara <em>mu&#8217;allaq</em> dalam Kitab <em>ar-Riqaq</em>, lihat Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman hal. 1307). Ini artinya, selama udara masih bisa kita hirup dan akal masih berfungsi, maka tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Umur yang senja bukan penghalang untuk menggapai kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Tidakkah kita ingat, cuplikan-cuplikan kisah menakjubkan para ulama salaf yang melukiskan ketinggian semangat mereka untuk mengejar keutamaan ini? Nu&#8217;aim bin Hamad menceritakan: Aku mendengar Abdullah bin Mubarak <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> -ketika itu sebagian orang telah mencelanya karena terlalu sering mencari hadits sehingga mereka pun berkata kepadanya, <em>“Sampai kapan kamu mau terus mendengar hadits?”</em>- maka beliau menjawab, <em>“Sampai mati!”</em> Abdullah bin Muhammad al-Baghawi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>berkata, <em>“Sesungguhnya aku akan menuntut ilmu sampai masuk kubur.”</em> al-Hasan pernah ditanya perihal seorang lelaki yang sudah berusia delapan puluh tahun, apakah dia masih layak untuk menuntut ilmu. Maka beliau menjawab, <em>“Apabila dia masih layak hidup -maka masih layak-.”</em> (atsar-atsar ini dikutip dari <em>al-&#8217;Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu</em>, hal. 77). Kalau kakek-kakek berumur 80 tahun saja masih pantas menjadi <em>thalibul ilmi</em> (penuntut ilmu), lalu apa alasan pemuda-pemuda yang gagah perkasa untuk bermalas-malasan menimba ilmu agama?!</p>
<p>Saudaraku, lupakah dirimu akan kata-kata emas yang disampaikan oleh Amirul mukminin fil hadits Muhammad bin Isma&#8217;il al-Bukhari yang terkenal itu? <em>al-&#8217;Ilmu qablal qauli wa &#8216;amali</em>, ilmu sebelum berkata dan berbuat. Lalu apa yang akan kita katakan dan kita perbuat di sisa perjalanan hidup kita yang singkat ini kalau kita tidak membekali dan mempersenjatai diri dengan ilmu? Bukankah Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah keluar suatu ucapan melainkan di sisinya ada malaikat yang dekat dan senantiasa mencatat.”</em> (QS. Qaaf: ). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar akan mengutarakan suatu ucapan yang diridhai Allah sementara dia tidak mempedulikannya namun mengangkat kedudukannya beberapa tingkatan. Dan sesungguhnya ada pula seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang membuat murka Allah sedangkan dia tidak mempedulikannya sehingga hal itu membuatnya terjerumus ke dalam Jahannam.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab <em>ar-Riqaq</em>, lihat <em>Shahih Bukhari</em> hal. 1316)</p>
<p>Kesempatan hidup di dunia merupakan medan perjuangan untuk menyambut datangnya hari pembalasan. Menyia-nyiakan waktu di dunia akan menyebabkan penyesalan di akherat. Ingatlah kisah mengerikan yang diceritakan oleh Nabimu <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Pada hari kiamat nanti orang kafir akan didatangkan lalu ditanyakan kepadanya, “Bagaimanakah menurutmu, seandainya kamu memiliki emas sepenuh bumi, maukah kamu menebus siksa dengannya?” maka dia menjawab, “Mau.” Maka dikatakan kepadanya, “Dahulu kamu telah diminta untuk melakukan sesuatu yang lebih mudah daripada itu.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, lihat <em>Shahih Bukhari</em> hal. 1325).</p>
<p>Di saat itulah -di hari kiamat- harta kekayaan tidak lagi bernilai, tumpukan-tumpukan uang, tabungan di bank yang mencapai milyaran, <em>bodyguard</em> dan pengawal yang perkasa pun tak sanggup untuk mencegah malaikat dari menunaikan titah Rabbnya untuk melemparkan makhluk-makhluk yang sombong ke dalam api neraka&#8230; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri darinya maka tidak akan dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke dalam lubang jarum. Demikian itulah Kami akan membalas orang-orang yang berdosa/kafir itu.”</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 40)</p>
<p>Pada saat itulah, rasa haus penduduk neraka tidak lagi bisa terobati. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka penduduk neraka pun memanggil penduduk surga: &#8216;Berikanlah kepada kami air minum atau -makanan- apa saja yang diberikan Allah kepada kalian.&#8217; Maka mereka menjawab, &#8216;Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir&#8217;, yaitu orang-orang yang telah menjadikan agama mereka sebagai bahan senda gurau dan permainan dan tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini Kami lupakan mereka, sebagaimana dulu -ketika di dunia- mereka telah melupakan hari pertemuan mereka ini dan juga karena dahulu mereka senantiasa menentang ayat-ayat Kami.”</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 50-51). Saat itulah Allah akan berkata kepada orang-orang yang tidak meyakini perjumpaan dengan Rabbnya, <em>“Maka pada hari ini Aku melupakanmu, sebagaimana dahulu kamu telah melupakan-Ku.”</em> (HR. Muslim dalam Kitab <em>az-Zuhd</em>, lihat Tafsir Ibnu Katsir [3/305])</p>
<p>Saudaraku, hari ini kau memang belum bisa bertemu dengan-Nya, sehingga kau hanya bisa berharap untuk menjumpai-Nya kelak dalam suasana gembira. Namun ingatlah, bahwasanya orang yang akan bergembira di saat berjumpa dengan-Nya adalah orang yang tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Orang-orang yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, bukan hawa nafsu, pangkat, harta, ataupun ketenaran. Orang-orang yang menjadikan Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai satu-satunya panutan dan pemandu perjalanan. Orang-orang yang mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menjalankan puasa karena dorongan iman dan ingin mendapatkan ganjaran. Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan. Sebuah kegembiraan ketika berbuka/berhari raya, dan sebuah kegembiraan lagi ketika berjumpa dengan Rabbnya.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu -hari kiamat- akan memutih/berseri wajah-wajah dan menghitam/muram wajah-wajah yang lain.”</em> (QS. Ali Imran: 106). Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Yaitu akan memutih wajah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah (orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah), dan akan menghitam wajah Ahlul Bid&#8217;ah wal Furqah (orang-orang yang menebar bid&#8217;ah dan perpecahan).”</em> (dikutip dari <em>Kun Salafiyan &#8216;alal Jaddah</em>, hal. 57)</p>
<p>Hari ini, harapan itu masih terbuka lebar di hadapanmu. Selama nyawa masih belum sampai ke tenggorokan. Sebelum datangnya hari penyesalan, ketika kematian mengalami kematian. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan didatangkan kematian dalam bentuk seekor domba putih kehitam-hitaman. Lalu ada yang berseru, &#8216;Wahai penduduk surga&#8217; maka mereka pun mendongakkan kepala seraya memandanginya. Lalu ditanyakan kepada mereka, &#8216;Apakah kalian mengenalinya?&#8217;. Maka mereka menjawab, &#8216;Iya. Ini adalah kematian.&#8217; Dan mereka semua pun telah melihatnya. Lalu diserukan lagi, &#8216;Wahai penduduk neraka.&#8217; maka mereka pun mendongakkan kepalanya seraya memandanginya. Lalu ditanyakan, &#8216;Apakah kalian mengenalinya?&#8217;. Mereka menjawab, &#8216;Iya. Ini adalah kematian&#8217;. Dan mereka semua pun telah ikut melihatnya. Kemudian domba (kematian) pun disembelih, dan dikatakan, &#8216;Wahai penduduk surga, kekallah. Tiada lagi kematian&#8217;, &#8216;Wahai penduduk neraka, kekallah. Tiada lagi kematian.&#8217; Kemudian Nabi membaca ayat -yang artinya-, &#8216;Dan berikanlah peringatan kepada mereka akan hari penyesalan ketika keputusan itu sudah ditetapkan sementara mereka tenggelam dalam kelalaian.&#8217; dan mereka memang berada dalam kelalaian; yaitu para pemuja dunia, &#8216;dan mereka pun tidak beriman&#8217;.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab <em>Tafsir al-Qur&#8217;an</em>, lihat <em>Shahih Bukhari</em>, hal. 990)</p>
<p>Kalau engkau jujur ingin berjumpa Rabbmu, maka marilah kita laksanakan perintah-Nya (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, lakukanlah amal salih dan janganlah mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Inilah jalan yang akan membawa hamba-hamba Allah menuju kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati; mengikuti Sunnah/ajaran Nabi dan memurnikan tauhid di dalam diri. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih bagi mereka itu surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang sangat besar&#8230;”</em> (QS. al-Buruj: 11).</p>
<p>Harapan masih terbuka lebar&#8230;, bekali diri dengan keyakinan, sabar, dan tawakal. Karena orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab adalah orang-orang yang bertawakal hanya kepada Rabb mereka, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka, <em>amin yaa Rabbal &#8216;alamin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-putus-asa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk apa kita hidup?</title>
		<link>http://abumushlih.com/untuk-apa-kita-hidup.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/untuk-apa-kita-hidup.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 15:18:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=704</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang Merajai pada hari pembalasan. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman, da&#8217;i yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yang menerangkan kepada umat manusia &#8230; <a href="http://abumushlih.com/untuk-apa-kita-hidup.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Funtuk-apa-kita-hidup.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Funtuk-apa-kita-hidup.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang Merajai pada hari pembalasan. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman, da&#8217;i yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yang menerangkan kepada umat manusia wahyu yang diturunkan kepada mereka, dan sosok teladan terbaik bagi segenap umat manusia. Amma ba&#8217;du.</p>
<p><span id="more-704"></span>Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Hai umat manusia sembahlah Rabb kalian, Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.&#8221; (QS. al-Baqarah : 21). Beribadah kepada Allah merupakan sebuah amanah agung yang diletakkan di atas pundak segenap keturunan Adam alaihis salam dan juga saudara-saudara mereka dari bangsa jin. Inilah kewajiban terbesar umat manusia yang harus mereka tunaikan kepada Rabb mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.&#8221; (QS. ad-Dzariyat : 56). Allah ta&#8217;ala memerintah dan melarang (yang artinya), &#8220;Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217; : 36).</p>
<p><strong>Apa yang dimaksud dengan ibadah?</strong><br />
Setiap muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tentu mengetahui hal ini; bahwa mereka hidup adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Namun, banyak orang yang terjerumus dalam kekeliruan dalam memaknai ibadah di dalam kehidupan mereka. Sebagian orang menganggap bahwa ibadah hanya terkait dengan urusan masjid dan ibadah ritual belaka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang lebih penting adalah menjalin hubungan baik dengan sesama manusia tanpa memperdulikan agama mereka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang paling penting saat ini adalah terjun di dalam pertarungan di panggung politik untuk mendapatkan kekuasaan bagi kemenangan kaum muslimin.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menerangkan hakikat ibadah ini dalam salah satu karyanya al-&#8217;Ubudiyah bahwa ibadah merupakan istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tidak. Sebagian ulama lainnya mengungkapkan bahwa ibadah ialah menaati Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Ibadah dibangun di atas dua pondasi utama; yaitu pengagungan kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya. Segala bentuk ibadah tidak akan diterima kecuali apabila murni untuk Allah dan dilakukan dengan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Ibadah seperti itulah yang akan mengantarkan seorang muslim berjumpa dengan Rabbnya dengan penuh suka cita. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabbnya, hendaklah dia beramal salih dan tidak mempersekutukan Rabbnya dengan apa pun dalam beribadah kepada-Nya.&#8221; (QS. al-Kahfi : 110).</p>
<p><strong>Amal salih, bekal mengarungi kehidupan</strong><br />
Banyak orang mengira bahwa dengan harta dan jabatan maka seorang akan bisa hidup dengan penuh kenikmatan di alam dunia ini. Oleh sebab itu mereka mengejar-ngejar dunia bahkan lebih mengutamakannya daripada mengejar akhirat. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa dunia ini hanyalah sementara. Hari ini kita masih bernafas, boleh jadi esok atau lusa tubuh kita sudah bermandikan tanah alias mati. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Setiap jiwa pasti merasakan kematian, sesungguhnya pahala atas amal-amal kalian hanya akan disempurnakan pada hari kiamat kelak. Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung, sedangkan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.&#8221; (QS. Ali Imran : 185). Allah juga berfirman (yang artinya), &#8220;Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sekedar permainan dan kesia-siaan, dan sungguh negeri akhirat itu pasti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, mengapa kalian tidak mau memikirkan?&#8221; (QS. al-An&#8217;aam : 32).</p>
<p>Hanya dengan iman dan amal salih seorang manusia bisa merasakan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang tidak hanya berlangsung sesaat di muka bumi, akan tetapi terus berlanjut hingga di negeri akhirat nanti. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak akan merasa takut dan tidak pula merasa sedih; yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa menjaga ketakwaan. Bagi mereka kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan terhadap ketetapan Allah, itulah kemenangan yang sangat besar.&#8221; (QS. Yunus : 10). Barangsiapa yang menjadikan kesenangan dunia sebagai puncak cita-cita dan angan-angan hidupnya maka Allah akan berikan itu semua kepada mereka, dan di akhirat mereka tidak akan mendapatkan apa-apa selain siksa. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Barangsiapa yang mengingkan kehidupan dunia beserta perhiasannya, maka Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan atas amal mereka di dunia dan mereka sama sekali tidak dirugikan, mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh bagian di akhirat melainkan neraka, dan lenyaplah sudah apa yang mereka perbuat dan sia-sialah amal yang mereka lakukan di sana.&#8221; (QS. Huud : 15).</p>
<p><strong>Hanya orang beriman sajalah yang kokoh</strong><br />
Cobaan hidup merupakan perkara yang wajar dan pasti dirasakan oleh umat manusia. Sakit dan sehat, miskin dan kaya, susah dan senang, sedih dan gembira, sempit dan lapang, merupakan bagian dari pernik hidup yang memaksa manusia untuk menentukan sikap dalam menyikapi semuanya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.&#8221; (QS. al-Mulk : 2). Ketika umat manusia mencoba berpaling dari tuntunan Rabb mereka dalam mengatasi problematika hidup ini maka manusia akan sengsara. Sebaliknya, apabila mereka mau taat dan tunduk kepada syari&#8217;at Rabb mereka maka kesejatian hidup dan ketenangan dalam menerima cobaan akan senantiasa mereka dapatkan. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat&#8230;&#8221; (QS. Ibrahim : 27). Allah juga berfirman (yang artinya), &#8220;Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) maka mereka itu sajalah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang benar-benar mendapat petunjuk.&#8221; (QS. al-An&#8217;aam : 82).</p>
<p>Hanya ada satu jalan!<br />
Setiap orang menyangka bahwa apa yang mereka yakini adalah kebenaran dan setiap golongan merasa bahwa keberuntungan ada di pihak mereka, namun semua dakwaan membutuhkan pembuktian. Hanya ada satu jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan yang sejati di dunia dan di akhirat. Itulah jalan yang setiap kali sholat diminta oleh seorang mukmin kepada Rabbnya, &#8220;Ya Allah tunjukilah kepada kami jalan yang lurus.&#8221; Inilah jalan yang mengantarkan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para pejuang yang mati syahid serta orang-orang salih. Sebuah jalan yang telah ditetapkan oleh Rabbul &#8216;alamin. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Dan tidaklah pantas bagi seorang beriman, laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat nyata.&#8221; (QS. al-Ahzab : 36).</p>
<p>Bahkan Allah menafikan keimanan dari diri orang-orang yang tidak mau melapangkan dadanya menerima keputusan utusan ar-Rahman al-Hakim. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Maka demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikan engkau (wahai Muhammad) sebagai hakim atas segala perselisihan yang terjadi di antara mereka kemudian mereka tidak menemui di dalam hati mereka rasa sempit atas apa yang kamu tetapkan dan mereka pun menerimanya dengan sepenuh hati.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217; : 65). Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena hal itu akan mencerai-beraikan dari jalan-Nya. Itulah yang diwasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa.&#8221; (QS. al-An&#8217;aam : 153). Inilah jalannya kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti perjalanan hidup mereka di dalam hal aqidah, akhlak, ibadah, maupun mu&#8217;amalah dengan baik dan benar. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Orang-orang yang terlebih dulu dan pertama-tama berjasa kepada Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, dan Allah siapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.&#8221; (QS. at-Taubah : 100). Maka barangsiapa yang menyimpang dari jalan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam akan merugi di dunia dan di akhirat. Mereka mengira telah melakukan sesuatu yang terbaik, namun sebenarnya amal mereka sia-sia. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Katakanlah (hai Muhammad); Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai oranag-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia usahanyaa di dunia sementara mereka mengira telah melakukan yang terbaik.&#8221; (QS. al-Kahfi : 103-104).</p>
<p>Jauhilah sang pemusnah kebahagiaan!<br />
Tatkala seorang hamba menyadari bahwa perjalanannya menuju Rabbnya merupakan perjalanan yang dipenuhi dengan onak dan duri di kanan dan kiri jalan ini. Tatkala dia mengerti bahwa untuk mendapatkan kenikmatan surga yang abadi dibutuhkan perjuangan dan ketabahan dalam menghadapi ujian yang bertubi-tubi. Maka ketika itulah seorang mukmin harus berupaya keras untuk menjaga mutiara keimanan dan modal kebahagiaan yang ada di dalam dirinya. Hanya hamba-hamba bertauhid sajalah yang dapat menjaga dirinya dari terseret ke dalam ombak syirik dan kekafiran. Sebuah ombak dahsyat dan angin topan yang sangat kencang yang akan menyeret orang-orang yang ragu dan menyimpan kekafiran ke dalam jurang neraka Jahannam. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Barangsiapa yang menentang Rasul setelah petunjuk jelas baginya dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan biarkan dia terombang-ambing di dalam kesesatannya dan kelak Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217; : 115).</p>
<p>Sedangkan perkara paling pokok yang membuat mereka yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya itu adalah kesyirikan yang membuat pelakunya tidak lagi diampuni dosa-dosanya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan dia akan mengampuni dosa lain di bawahnya bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217; : 116). Inilah faktor utama yang akan menendang barisan kaum pecundang ke dalam gerombolan tentara Iblis yang bersama-sama bahu membahu untuk menjerumuskan manusia ke dalam lembah kebinasaan. Inilah dosa syirik yang mengharamkan pelakunya untuk menikmati keindahan surga dan bidadari yang ada di sana. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan baginya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan bagi orang-orang zalim itu  tidak ada seorang penolongpun untuk mereka.&#8221; (QS. al-Maa&#8217;idah : 72). Allah ta&#8217;ala berfirman mengisahkan tentang kengerian di hari kiamat. ketika manusia bermusuhan satu sama lain, mereka yang diikuti berlepas diri dan membenci orang-orang yang mengikutinya dan mereka sama-sama melihat pedihnya azab, mereka yang dulunya saling bekerjasama di atas kebatilan pun saat itu harus merasakan penyesalan yang teramat dalam, &#8220;Pada hari itu orang-orang yang berteman dekat pun berubah menjadi musuh satu dengan yang lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa.&#8221; (QS. az-Zukhruf : 67).</p>
<p>Sang musyrik tidak akan mendapatkan apa yang dia dambakan<br />
Ketahuilah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- bahwa berbagai macam jalan dimanfaatkan oleh syaitan dan bala tentaranya untuk menyesatkan bani Adam. Oleh sebab itu wajib bagimu untuk mengenali dan menjauhi tipu daya dan makar mereka, agar engkau tidak ikut terseret hancur binasa sebagaimana mereka. Ingatlah bahwasanya hanya dengan tauhid yang benar seorang hamba akan menemukan kebahagiaan hidup yang dicita-citakannya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Seandainya para penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi&#8230;&#8221; (QS. al-A&#8217;raaf : 96). Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada di dalam kerugia, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.&#8221; (QS. al-&#8217;Ashr : 1-3).</p>
<p>Maka kalau seorang manusia mengharapkan keselamatan dengan jimat yang dikenakannya, atau mengharapkan kebahagiaan dengan datang kepada dukun dan paranormal serta mempercayai ocehan mereka, yakinlah bahwasanya orang-orang yang bergantung kepada selain-Nya tidak akan mendapatkan apa-apa, bahkan hati mereka tersiksa karenanaya, dan yang lebih mengerikan adalah Allah meninggalkan mereka dan tidak mau peduli lagi dengan nasib mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka baginya penghidupan yang sempit, dan kelak pada hari kiamat Kami akan mengumpulkannya dalam keadaan buta. Dia mengatakan; wahai Rabbku, mengapa kau bangkitkan aku dalam keadaan buta sementara dahulu aku bisa melihat. Allah menjawab; Demikianlah yang layak kamu dapatkan, dahulu datang kepadamu ayat-ayat-Kami tapi kemudian kamu melupakannya, maka sekarang pun kamu dilupakan.&#8221; (QS.Thaha : 124-126). Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk.&#8221; (QS. al-Bayyinah : 6).</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan membersihkan semua ketergantungan hati kita dari segala sesembahan selain-Nya. Yang dengan itulah maka hidup kita akan menjadi berarti, bukan sekedar membuat hidup menjadi lebih hidup, namun membuat orang benar-benar hidup. Itulah yang kita inginkan. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/untuk-apa-kita-hidup.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

