<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Da&#8217;i</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/dai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Laksana Pohon Yang Tak Berbuah</title>
		<link>http://abumushlih.com/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 04:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Siksa]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2239</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab Bad’i al-Khalq dalam sahihnya, beliau berkata; حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيلَ لِأُسَامَةَ لَوْ أَتَيْتَ فُلَانًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي &#8230; <a href="http://abumushlih.com/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flaksana-pohon-yang-tak-berbuah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flaksana-pohon-yang-tak-berbuah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Kitab Bad’i al-Khalq dalam sahihnya, beliau berkata;</p>
<p><span id="more-2239"></span></p>
<p><strong>حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ  عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيلَ لِأُسَامَةَ لَوْ  أَتَيْتَ فُلَانًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا  أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ دُونَ  أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لَا أَكُونُ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ وَلَا أَقُولُ  لِرَجُلٍ أَنْ كَانَ عَلَيَّ أَمِيرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ  شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالُوا وَمَا سَمِعْتَهُ يَقُولُ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ يُجَاءُ  بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ  أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ  فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا  شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ  الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ  وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ  عَنْ الْأَعْمَشِ</strong></p>
<p>Ali menuturkan kepada kami, Sufyan menuturkan kepada kami dari  al-A’masy dari Abu Wa’il dia berkata;ada orang yang berkata kepada  <strong>Usamah</strong>, <em>“Seandainya saja engkau mau mendatangi si fulan dan berbicara  menasihatinya.”</em> Maka dia menjawab, “Apakah menurut kalian aku tidak  berbicara dengannya melainkan aku harus menceritakannya kepada kalian.  Aku sudah menasihatinya secara rahasia. Aku tidak ingin membuka pintu  yang menjadikan aku sebagai orang pertama yang membuka pintu fitnah itu  -menasihati penguasa dengan terang-terangan-. Aku pun tidak akan  mengatakan kepada seseorang sebagai orang yang terbaik -walaupun dia  adalah pemimpinku- setelah aku mendengar sabda Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>.” Mereka bertanya, <em>“Apa yang kamu dengar dari beliau  itu?”</em>. Dia menjawab; Aku mendengar beliau bersabda, <em>“Akan didatangkan  seorang lelaki pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka  dan <strong>terburailah isi perutnya di neraka sebagaimana seekor keledai yang  berputar mengelilingi penggilingan</strong>. Maka berkumpullah para penduduk  neraka di sekitarnya. Mereka bertanya, “Wahai fulan, apa yang terjadi  padamu, bukankah dahulu kamu memerintahkan yang ma’ruf kepada kami dan  melarang kami dari kemungkaran?”. Lelaki itu menjawab, “<strong>Dahulu aku  memerintahkan kalian mengerjakan yang ma’ruf sedangkan aku tidak  melakukannya. Dan aku melarang kalian dari kemungkaran namun aku justru  melakukannya</strong>.”</em> Hadits ini diriwayatkan oleh Ghundar dari Syu’bah dari  al-A’masy (<strong>HR. Bukhari</strong> [3027] , disebutkan pula oleh Bukhari dalam Kitab  <em>al-Fitan</em> [6569] as-Syamilah).</p>
<p>Hasan Al Bashri <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Orang alim adalah orang  yang merasa takut kepada Ar Rahman walaupun dia tidak menyaksikan-Nya,  ia sangat menginginkan apa yang Allah iming-imingkan kepada dirinya, dan  ia bersikap zuhud terhadap sesuatu yang akan membuat murka Allah.”</em> Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em> bahwa hakikat  orang yang benar-benar mengenal Ar Rahman (Allah) adalah : [1] orang  yang tidak mempersekutukan apapun dengan Allah, [2] menghalalkan sesuatu  yang dihalalkan-Nya, [3] mengharamkan sesuatu yang diharamkan-Nya, [4]  senantiasa menjaga pesan/wasiat-Nya, dan [5] meyakini dirinya pasti akan  berjumpa dengan-Nya serta amalnya akan dihisab (<em>Tafsir Al Qur’an Al  ‘Azhim</em>, 6/349).</p>
<p>Sufyan Ats Tsauri menukil dari Abu Hayyan At Tamimi ucapan seorang  lelaki, <em>“Dahulu dikatakan bahwa ulama itu ada tiga macam; [1] Orang yang  alim terhadap Allah dan alim tentang aturan Allah, [2] Orang yang alim  tentang Allah namun tidak alim tentang aturan Allah, [3] Orang yang alim  tentang aturan Allah namun tidak alim terhadap Allah. Orang yang alim  terhadap Allah dan alim tentang aturan Allah adalah orang yang takut  kepada Allah serta mengetahui batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban.  Sedangkan Orang yang alim tentang Allah namun tidak alim tentang aturan  Allah adalah orang yang takut kepada Allah namun tidak mengerti seluk  beluk batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban. Adapun Orang yang alim  tentang aturan Allah namun tidak alim terhadap Allah adalah orang yang  mengerti seluk beluk batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban namun tidak  merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.”</em> (<em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>,  6/350).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Qasim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “<strong>Amal adalah buah  dari ilmu</strong>. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang lainnya. Ilmu  diibaratkan seperti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah seperti  buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus  menyertainya dengan amalan. Sebab <strong>orang yang berilmu akan tetapi tidak  beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh</strong>. Di dalam  hadits disebutkan, <em>“Orang yang paling keras siksanya adalah seorang  berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya”</em>. Orang  semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang dijadikan  sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam sebuah  sya’ir dikatakan,</p>
<p><em>Orang alim yang tidak mau<br />
Mengamalkan ilmunya<br />
Mereka akan disiksa sebelum<br />
Disiksanya para penyembah berhala</em></p>
<p>(<em>Hasyiyah Tsalatsatul Ushul</em>, hal. 12)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hendaknya  diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka <strong>ilmunya  itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya</strong>. Hal ini sebagaimana  terdapat dalam hadits Abu Barzah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kedua telapak kaki  seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan  ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah <strong>tentang ilmunya, apa  yang sudah diamalkannya</strong>” (<strong>HR. Tirmidzi</strong> 2341). Hal ini bukan berlaku bagi  para ulama saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua  orang yang mengetahui suatu perkara agama maka itu berarti telah tegak  padanya hujjah. Apabila seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah  pengajian atau khutbah Jum’at yang di dalamnya dia mendapatkan  peringatan dari suatu kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun  mengetahui bahwa kemaksiatan yang dilakukannya itu adalah haram maka ini  juga ilmu. Sehingga hujjah juga sudah tegak dengan apa yang didengarnya  tersebut. Dan terdapat hadits yang sah dari Abu Musa Al Asy’ari  radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Al Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk  menjatuhkan dirimu” (<strong>HR. Muslim</strong>)”</em> (<em>Hushulul Ma’mul</em>, hal. 18)</p>
<p><em>Allahumma na&#8217;udzu bika min &#8216;ilmin laa yanfa&#8217;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Di Lereng Merapi Belum Berhenti!</title>
		<link>http://abumushlih.com/dakwah-di-lereng-merapi-belum-berhenti.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dakwah-di-lereng-merapi-belum-berhenti.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Feb 2011 05:49:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[al-Atsari]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Recovery]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2210</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du Kaum muslimin, semoga senantiasa dilindungi dan dirahmati Allah&#8230; Sebuah perkara yang menyenangkan dan menggembirakan hati kami, bahwasanya Program Pemulihan Pasca Bencana Erupsi Merapi &#8230; <a href="http://abumushlih.com/dakwah-di-lereng-merapi-belum-berhenti.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-di-lereng-merapi-belum-berhenti.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-di-lereng-merapi-belum-berhenti.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah.</p>
<p><em>Amma ba&#8217;du</em></p>
<p><span id="more-2210"></span></p>
<p><em>Kaum muslimin, semoga senantiasa dilindungi dan dirahmati Allah&#8230;</em></p>
<p>Sebuah perkara yang menyenangkan dan menggembirakan hati kami, bahwasanya <strong>Program Pemulihan Pasca Bencana Erupsi Merapi</strong> yang selama ini telah digulirkan oleh para ustadz, da&#8217;i dan penggerak  dakwah Islam di Jogjakarta ini mendapatkan sambutan yang cukup besar  dari pemerintah daerah, masyarakat di pengungsian dan di lereng Merapi  pada umumnya dan umat Islam dari berbagai penjuru bumi. Semuanya tentu  saja berkat anugrah dan taufik dari Allah<em> ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Tidak terasa, program Tanggap Merapi YPIA -sebagaimana dikemukakan oleh guru kami Ust. Abu Sa&#8217;ad <em>hafizhahullah</em>-  telah menginjak bulan keempat. Ketika orang lain telah kehabisan nafas,  -alhamdulillah- kita masih bisa berjalan dan menggerakkan dakwah yang  mulia ini demi membantu meringankan derita yang ditanggung oleh  saudara-saudara kita yang terkena bencana.</p>
<p>Berdasarkan data <strong>BNPB</strong>, kerugian dan kerusakan yang timbul akibat erupsi Merapi ini -belum ditambah dampak banjir lahar dingin- mencapai angka <strong>Rp. 4,23 Trilyun</strong>. Dalam bidang <strong>agama</strong> saja, kerugian yang ditimbulkan mencapai angka <strong>Rp. 34 Milyar</strong> (data selengkapnya bisa dibaca di: <a rel="nofollow" href="http://www.bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=247" target="_blank">http://www.bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=247</a>). Inilah angka-angka yang menjadi saksi besarnya musibah yang melanda saudara-saudara kita di lereng Merapi&#8230;</p>
<p>Belum lagi,  jika kita mau melebarkan pandangan ke sisi ruhani dan mental pengungsi dan korban erupsi secara umum. Fenomena <strong>pendangkalan akidah</strong> -bahkan disinyalir berujung pada pemurtadan- telah merambah di berbagai  wilayah. Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, bahwa  kebanyakan umat Islam hanya giat dan aktif memberikan bantuan dan  dukungan di awal-awal bencana saja. Satu-dua bulan sesudahnya terjadi  penurunan drastis &#8216;kepedulian&#8217; kepada korban bencana, hal ini fenomena  yang sering dijumpai dalam banyak episode bencana yang menimpa negeri  ini.</p>
<p>Memang, banyak bantuan materi yang mengalir, akan tetapi <strong>bantuan yang bersifat ruhani dan menjaga ketahanan iman bisa dikatakan sedikit sekali</strong>.  Masih lekat dalam ingatan kita, berbagai pentas musik bersama para  biduanita yang disajikan di halaman Stadion Maguwoharjo beberapa bulan  yang lalu dengan niat menghibur pengungsi&#8230; Ini adalah salah satu  contoh niat baik yang tidak diiringi dengan metode yang benar. Demikian  pula, aksi labuhan dan sesaji kepala kerbau untuk penunggu Merapi,  kejadian yang telah mempertebal catatan kelam penyimpangan akidah di  negeri ini. Padahal, mereka semua memiliki niat yang baik dalam  mengerjakan apa yang mereka sukai tersebut&#8230; Namun, sebagaimana sudah  kita pahami, bahwa niat baik tidak cukup jika tidak diiringi dengan cara  yang benar&#8230; Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> pernah berkata, <em>&#8220;Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, akana tetapi tidak berhasil mendapatkannya.&#8221;</em></p>
<p>Oleh  sebab itulah -bersama dengan aparat pemerintah, pemuka agama, dan umat  Islam di mana saja berada- Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari berupaya  menggerakan sedikit upaya pembenahan dan pemulihan pasca bencana ini. <strong>Kami memang tidak sendirian</strong>,  banyak teman-teman kami di lapangan yang telah mencurahkan waktu,  pikiran dan tenaganya untuk menjalankan kegiatan dakwah yang agung ini.  Mereka sedih sebagaimana sedihnya pengungsi, dan mereka pun turut  bergembira tatkala para pengungsi bergembira. Mereka berjuang bukan  mencari popularitas, mereka berjuang bukan mencari kedudukan dan harta  apalagi untuk mengumpulkan suara&#8230; <em>Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dengan balasan yang terbaik di sisi-Nya&#8230;</em></p>
<p>Berikut ini, kami laporkan juga bahwa donasi program recovery Merapi YPIA per <strong>4 Februari 2011</strong> -terhitung sejak 1 Januari 2011- adalah sebesar: <strong>Rp.35.571.350,-</strong>. Adapun besar pengeluaran per 4 Februari 2011 adalah sebesar: <strong>Rp.24.601.450,-</strong>.  Kami sangat bersyukur kepada Allah atas kemudahan dan pertolongan  dari-Nya sehingga bantuan dari kaum muslimin masih senantiasa mendukung  kegiatan kami.</p>
<p>Perlu juga kami sebutkan di sini bahwasanya jumlah donasi tanggap merapi dalam proses tanggap darurat hingga akhir bulan <strong>Desember 2010</strong> mencapai angka <strong>200 juta</strong> lebih. Semoga Allah memberikan balasan terbaik bagi para dermawan yang  telah mempercayakan donasinya melalui kami. Semoga kerjasama ini bisa  dilanjutkan dan tidak terhenti sampai di sini.</p>
<p>Bagi anda  yang ingin membaca lebih lengkap rincian laporan pemasukan dan  pengeluaran donasi program recovery, silahkan mengunduhnya di tautan  berikut ini:</p>
<p><strong>Laporan Pemasukan:</strong><br />
<a rel="nofollow" href="http://www.archive.org/download/LaporanDonasiRecoveryMerapiYpia4Febr2011/LaporanDonasiProgramRecoveryBencanaMerapiYpia-4Feb2011.pdf" target="_blank">http://www.archive.org/download/LaporanDonasiRecoveryMerapiYpia4Febr2011/LaporanDonasiProgramRecoveryBencanaMerapiYpia-4Feb2011.pdf</a></p>
<p><strong>Laporan Pengeluaran:</strong><br />
<a rel="nofollow" href="http://www.archive.org/download/LaporanPengeluaranDonasiRecoveryMerapiYpia4Febr2011/PengeluaranProgramRecoveryBencanaMerapiYpia.pdf" target="_blank">http://www.archive.org/download/LaporanPengeluaranDonasiRecoveryMerapiYpia4Febr2011/PengeluaranProgramRecoveryBencanaMerapiYpia.pdf</a></p>
<p>Kami  juga mengucapkan terima kasih kepada segenap panitia recovery Merapi  atas bantuan dan kerjasama yang mereka berikan untuk kegiatan ini.  Semoga sedikit yang kita lakukan ini bisa memperberat timbangan amal  kita di akherat nanti.</p>
<p><em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
<p><strong>Yogyakarta, 3 Rabi&#8217;ul Awwal 1432 H/6 Februari 2011</strong><br />
Di markas Posko Dakwah dan Sosial Al-Atsari<br />
Hasil kerjasama YPIA dengan Islamic Centre Bin Baz dan Ponpes Jamliurrahman</p>
<p>Atas nama segenap panitia</p>
<p>Ari Wahyudi<br />
<em>-semoga Allah mengampuni dosa-dosanya-</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dakwah-di-lereng-merapi-belum-berhenti.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Dari Garis Depan</title>
		<link>http://abumushlih.com/surat-dari-garis-depan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/surat-dari-garis-depan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 17:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Erupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Jamilurrahman]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengungsi]]></category>
		<category><![CDATA[Rehabilitasi]]></category>
		<category><![CDATA[Relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2138</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, malam ini ada sebuah surat istimewa singgah di atas pintu markaz Tim Tanggap Merapi YPIA. Sebuah surat yang ditulis di atas selembar kertas kardus dari seorang pemberani yang berada di garis depan medan dakwah pengungsian di Stadion Maguwoharjo. Surat &#8230; <a href="http://abumushlih.com/surat-dari-garis-depan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsurat-dari-garis-depan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsurat-dari-garis-depan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Bismillah</em>, malam ini ada sebuah surat istimewa singgah di  atas pintu markaz Tim Tanggap Merapi YPIA. Sebuah surat yang ditulis di  atas selembar kertas kardus dari seorang pemberani yang berada di garis  depan medan dakwah pengungsian di Stadion Maguwoharjo. Surat ini pun  diberi judul yang unik oleh penulisnya <strong>&#8216;POSKO Rumah Sakit TAUHID&#8217;</strong> yang mewakili masukan dari sebuah posko relawan dakwah di TPS (Tempat  Pengungsian Sementara) Stadion Maguwoharjo, Sleman Yogyakarta.</p>
<p><span id="more-2138"></span></p>
<p>Sebuah  posko yang lebih tepat disebut sebagai musholla darurat peduli  pengungsi. Sebuah posko yang sarat dengan jama&#8217;ah di waktu-waktu sholat  terutama di saat jama&#8217;ah sholat maghrib dan &#8216;isyak. Di sela-sela itulah  siraman rohani diberikan oleh para da&#8217;i utusan warga kompleks Ma&#8217;had  Jamilurrahman Bantul dan da&#8217;i-da&#8217;i lain yang ikut berperan serta. Sudah  cukup lama posko ini berdiri dan menjalani aktifitas dakwahnya di tengah  berbagai komunitas manusia yang ingin berperan serta dalam meringankan  duka para pengungsi.</p>
<p>Apabila banyak orang sangat perhatian  dengan urusan perut dan ekonomi, maka posko ini lebih menitikberatkan  pada sisi pembinaan rohani bagi para pengungsi. Berbagai bentuk motivasi  dan arahan diberikan dalam rangka membentengi kaum muslimin dari  kerusakan aqidah dan kelunturan mental akibat deraan musibah yang  bertubi-tubi.</p>
<p>Apabila anda berkunjung ke pengungsian ini  di kala-kala waktu sholat, maka anda akan melihat sosok seorang  pemberani yang mengajak kaum muslimin di pengungsian untuk segera  menghadiri sholat jama&#8217;ah, demi menyambut kehidupan yang lebih kekal dan  abadi. Musibah di dunia ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan  siksa neraka di akherat nanti. Itu kurang lebih pesan yang ingin beliau  sampaikan kepada para pengungsi dan juga mungkin sebagian relawan yang  lalai akan hal ini. Penampilan yang sederhana dan wajah yang ramah serta  sikap mudah bergaul membuat beliau dikenal oleh banyak orang di  pengungsian ini. Bahkan, Pak Camat Cangkringan pun &#8216;tunduk&#8217; ketika  berhadapan dengan diplomasi via telepon untuk pengadaan kajian umum bagi  pengungsi. Begitu pula Bupati yang tidak segan-segan untuk beliau temui  demi mengurus pengadaan Sholat Jum&#8217;at di lapangan utama namun pada  akhirnya keinginan itu tidak terpenuhi.</p>
<p>Sering beliau sampaikan, <em>&#8220;Nggawe posko ki gampang&#8230; Sing angel kuwi njogo posko ne&#8221;</em>.  Membuat posko itu mudah, yang sulit adalah memelihara keberlangsungan  kegiatan posko. Demikian katanya dengan bahasa yang santai. Inilah  ucapan yang dilandasi dengan realita. Betapa banyak orang membuat posko  dan memasang spanduk akan tetapi tidaklah berlangsung kegiatannya  kecuali sehari atau dua hari saja. Sehingga yang tersisa hanyalah tenda  dan bentangan spanduk di sana-sini. Istiqomah dan kontinyu dalam  beramal, itulah pesan agung yang tersimpan dalam ungkapan yang beliau  sampaikan.</p>
<p>Beliau juga pernah mengatakan, <em>&#8220;Kalau ustadznya datang dan pergi [artinya tidak siap di tempat] ya kasihan mad&#8217;unya bingung yang mana sih ustadznya?&#8221;</em>.  Maksudnya adalah ustadz yang bisa mengatasi permasalahan mereka  sehari-hari, ustadz yang turun ke lapangan dan memberikan solusi dan  motivasi bagi para pengungsi. Memang tidak semua ustadz harus demikian,  namun keberadaan seorang yang memiliki kapasitas keilmuan yang cukup dan  siap di lapangan tentunya sangat dibutuhkan. Inilah yang sulit untuk  ditemukan. Sebagian orang punya semangat, tapi minim ilmu. Sebagian lagi  banyak ilmu, tapi kurang semangat atau tidak sempat.</p>
<p>Anda  boleh percaya boleh tidak, hampir setiap malam di Maguwo ada pentas  musik yang digelar untuk menghibur para pengungsi. Namun, sebagian  pengungsi sendiri justru menyayangkan kegiatan ini. <strong>Pertama</strong>, karena hiburan ini tidak ada artinya, alias tidak memberikan solusi atas masalah yang mereka hadapi. <strong>Yang kedua</strong>,  karena yang banyak &#8216;menikmati&#8217; hiburan itu sebenarnya bukan para  pengungsi, akan tetapi orang-orang luar selain pengungsi. Belum lagi  jika kita tinjau dari sisi syari&#8217;at, bahwa hiburan semacam ini justru  masuk dalam kategori maksiat yang semakin lama akan mengotori dan  merusak hati nurani. Oleh sebab itu sang pemberani tadi, kerap  menyatakan bahwa kegiatan tersebut sebagai pengganggu ketenangan para  pengungsi. Tidak jauh dari kenyataan, karena memang penenang hati insan  beriman adalah dengan mengingat dan mengabdi kepada ar-Rahman. <em>Ala bidzikrillahi tathma&#8217;innul quluub</em>&#8230; <em>&#8220;Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.&#8221;</em></p>
<p>Akhirnya,  kami pun bisa mengerti mengapa sang pemberani di garis depan itu  menuliskan surat unik ini, dan di dalamnya beliau menuliskan kebutuhan  para pengungsi, sebagai berikut:<br />
- Plastik hijab yang tebal<br />
- Kurma<br />
- Banyak jama&#8217;ah yang minta; 1. Jilbab, 2. Sarung, 3. Mukena, 4. Al-Qur&#8217;an terjemah<br />
- Hadits Arba&#8217;in (yang kecil)<br />
- Galon Air<br />
- Nasi plus air minum diperbaiki menunya (konsumsi kajian ba&#8217;da maghrib, pen)<br />
- Pinjaman (buku) Riyadhus Shalihin</p>
<p>Ini  artinya, perjuangan belum berhenti [!] Masih panjang jalan yang harus  ditempuh demi menebarkan dakwah yang haq ini ke relung-relung kehidupan  para pengungsi dan korban bencana erupsi Merapi. Insya Allah dalam  beberapa hari ke depan ini Tim Tanggap Merapi akan kembali berkoordinasi  untuk memasuki tahap rehabilitasi pasa bencana erupsi Merapi. Apakah  anda tidak prihatin, tatkala masjid-masjid kaum muslimin di lereng  Merapi telah &#8216;digarap&#8217; oleh para aktifis umat lain, sementara sebagian  kaum muslimin belum bisa berbuat apa-apa untuk mengurusi nasib tempat  ibadah saudara-saudara mereka sendiri&#8230;? Lalu dimanakah <em>ukhuwwah</em> dan kecintaan itu?</p>
<p>Di  sisi lain, ada kabar yang cukup menggembirakan, bahwa pagi hari tadi  (Sabtu, 4 Des&#8217; 2010) kami diundang oleh Prof. Hasanu Simon (mantan dekan  Fak. Kehutanan UGM, ketua takmir Masjid Al-Kautsar Pogung Baru) di  Masjid Al-Kautsar untuk membicarakan rencana program rehabilitasi ini.  Di saat itu kami dipertemukan dengan Ustadz Lasiman (yang biasa  dipanggil dengan Pak Willy) yang mengasuh sebuah Pondok Diklat keagamaan  di Desa Wukirsari Cangkringan (salah satu daerah yang terlanda  bencana). Sebuah momen yang tidak kami duga sebelumnya, dan ternyata  dari pertemuan ini ada celah baru yang bisa kami masuki.<em> Semuanya berkat taufik dari Allah&#8230;</em></p>
<p>Ke  depan, bersama tim ini -Masjid Al-Kautsar dan Pondok Diklat  Al-Hawariyyun asuhan Bapak Lasiman, kami -walaupun tidak secara resmi  tertulis dalam program kerjasama ini- akan ikut memikirkan proses  rehabilitasi masjid dan masyarakat pasca bencana erupsi Merapi, di desa  Wukirsari kecamatan Cangkringan pada khususnya dan semoga bisa  berkembang ke wilayah yang lainnya. Kami telah sepakat, bahwa kami tidak  akan menggunakan bendera partai atau kelompok tertentu yang justru akan  mengacaukan proses pembangkitan keadaan umat ini.</p>
<p>Bimbingan  dan dukungan dari para asatidz jelas kami butuhkan. Selain itu, bantuan  pikiran dan nasehat dari segenap relawan serta dukungan dana dari para  dermawan tidak bisa disepelekan. Kita masih ingat ucapan emas Abdullah  Ibnul Mubarak <em>rahimahullah</em>, <em>&#8216;Rubba &#8216;amalin shaghirin tu&#8217;azhzhimuhun niyyah, wa rubba &#8216;amalin kabiirin tushaghghiruhun niyyah&#8217;</em> artinya; <em>&#8220;Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niatnya.&#8221;</em></p>
<p>Semoga  upaya ini bisa menjadi ladang pahala dan menjadi sarana bagi  tersebarnya dakwah tauhid dan sunnah kepada saudara-saudara kita di  lereng Merapi yang konon katanya dulu adalah daerah binaan komunis dan  masih kurang tersentuh oleh tangan para da&#8217;i. Beberapa hari yang lalu  sempat saya bertanya kepada seorang anak kecil di barak pengungsian  Maguwoharjo, <em>&#8220;Apa agamamu?&#8221;</em>. Apa jawabnya?&#8230; Ternyata dia menjawab, <em>&#8220;Tidak tahu.&#8221; Allahul musta&#8217;aan&#8230;. </em></p>
<p>Uluran  tangan dan kepedulian anda sangatlah berarti bagi keberlanjutan hidup  generasi penerus perjuangan umat ini. <em>In tanshurullaaha yanshurkum wa  yutsabbit aqdaamakum</em>. Apabila kalian membela agama Allah, niscaya Allah  akan membela kalian dan mengokohkan kaki-kaki kalian. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>Menjelang tengah malam, di markaz Tim Tanggap Merapi<br />
<strong>Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</strong><br />
- <em>semoga Allah membimbing kami di atas jalan pendahulu kami yang salih</em> -</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.muslim.or.id/" target="_blank">www.muslim.or.id</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://www.muslimah.or.id/" target="_blank">www.muslimah.or.id</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://www.ypia.or.id/" target="_blank">www.ypia.or.id</a></p>
<p>Bantuan dapat disalurkan ke:</p>
<p><strong>Rekening BNI UGM Yogyakarta </strong><strong> </strong><br />
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti</p>
<p><strong>Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta</strong><br />
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro</p>
<p><strong>Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705</strong><br />
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro</p>
<p><strong>Rekening BCA</strong><br />
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi</p>
<p>Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri   kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:<br />
<strong>Nama</strong><strong>/Alamat</strong><strong>/TanggalKirim</strong><strong>/JumlahUang</strong><strong>/RekeningTujuan</strong><strong>/Merapi</strong></p>
<p>Ke nomor :<br />
<strong>0852</strong><strong> 5205</strong><strong> 2345</strong> (Wiwit Hardi P.)<br />
atau<br />
<strong>0856</strong><strong> 4305</strong><strong> 2159</strong> (Nizamul Adli)</p>
<p>YM: ypiapeduli@yahoo.com</p>
<p>Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan <em>jazaakumullahu   khairaa</em>n.﻿</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/surat-dari-garis-depan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rekrutmen Relawan Dakwah Pasca Bencana Merapi 2010</title>
		<link>http://abumushlih.com/rekrutmen-relawan-dakwah-pasca-bencana-merapi-2010.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/rekrutmen-relawan-dakwah-pasca-bencana-merapi-2010.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 03:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2122</guid>
		<description><![CDATA[Sifat: Khusus ikhwan/putra (di Jogja) Jenis Kegiatan: 1. Pengadaan pengajian atau kultum 2. Penyaluran bantuan buku, majalah atau buletin gratis Waktu Kegiatan (penempatan personel menyesuaikan waktu kosong relawan): 1. Ba’da zhuhur &#8211; ‘ashar (konfirmasi ustadz dan jadwal antar-jemput) 2. Ba’da &#8230; <a href="http://abumushlih.com/rekrutmen-relawan-dakwah-pasca-bencana-merapi-2010.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Frekrutmen-relawan-dakwah-pasca-bencana-merapi-2010.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Frekrutmen-relawan-dakwah-pasca-bencana-merapi-2010.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Sifat: Khusus<em> ikhwan</em>/putra (di Jogja)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jenis Kegiatan:<br />
1. Pengadaan pengajian atau kultum<br />
2. Penyaluran bantuan buku, majalah atau buletin gratis</p>
<p><span id="more-2122"></span>Waktu Kegiatan (penempatan personel menyesuaikan waktu kosong relawan):<br />
1. Ba’da zhuhur &#8211; ‘ashar (konfirmasi ustadz dan jadwal antar-jemput)<br />
2. Ba’da ‘ashar &#8211; maghrib (transportasi, persiapan konsumsi)<br />
3. Ba’da maghrib &#8211; ‘isyak (pelaksanaan pengajian, pembagian buku)</p>
<p>Waktu Pengajian:<br />
1. Ba’da maghrib – isyak<br />
2. Ba’da isyak</p>
<p>Bidang tugas yang ditawarkan:<br />
1. Membantu pelaksanaan kajian di pengungsian (Relawan Pengajian/RP)<br />
2. Transportasi antar-jemput ustadz/pemateri (Relawan Transpor/RT)<br />
3. Membantu penyiapan konsumsi acara kajian (Relawan Konsumsi/RK)<br />
4. Membeli dan mengatur alokasi bantuan buku gratis (Relawan Bantuan/RB)<br />
5. Tugas lain-lain (Relawan Umum/RU)</p>
<p>Jumlah tenaga yang dibutuhkan:<br />
1. Relawan Pengajian: 12 orang<br />
2. Relawan Transpor: 10 orang<br />
3. Relawan Konsumsi: 5 orang<br />
4. Relawan Umum: 3 orang</p>
<p>Koordinator Tim Relawan:<br />
1. Relawan Pengajian: Muhammad Azhar (0852 1546 1593)<br />
2. Relawan Transpor: Gezag Akbar (0857 2942 9499)<br />
3. Relawan Konsumsi: Ridwan Aji Budi P (0813 1651 3383)<br />
4. Relawan Umum: Ari Wahyudi (0812 279 209 11)</p>
<p>Sasaran:<br />
Beberapa posko pengungsian di Yogyakarta;<br />
1. Posko Pengungsian di Stadion Maguwoharjo<br />
2. Posko Pengungsian di Balai Desa Sariharjo<br />
3. Posko Pengungsian di STIE YKPN</p>
<p>Jadwal Kajian:<br />
1. Maguwoharjo: Tiap hari ba&#8217;da maghrib<br />
2. Balai Desa Sariharjo: Tiap kamis malam ba&#8217;da isyak, sepekan sekali<br />
3. STIE YKPN: Tiap hari ba&#8217;da maghrib kecuali kamis, mulai 26 November</p>
<p>Bagi <em>ikhwah</em> -di Jogja- yang berkenan untuk bergabung silahkan mendaftarkan diri  secara langsung dengan mengisi tabel berikut ini -isian bisa dikirim via  email ke ypiapeduli@yahoo.com atau fb Berita Altsari-. Adapun bagi yang  belum sempat datang bisa konfirmasi dulu via sms ke nomor <strong>0274 66 44 862</strong> dengan menyebutkan nama lengkap, alamat, bidang tugas yang dipilih, waktu kosongnya, punya kendaraan atau tidak.</p>
<p><strong>FORM PENDAFTARAN RELAWAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Nama: </strong><br />
<strong>Alamat: </strong><br />
<strong>No HP:</strong><br />
<strong>Bidang Tugas Yang Dipilih:</strong><br />
<strong>Waktu Kosong:</strong><br />
<strong>Punya Kendaraan/Tidak:</strong></p>
<p>Sekian informasi semoga menjadi perhatian, atas kerjasama dan bantuannya kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>Yogyakarta, 25 November 2010<br />
<strong>Panitia Pemulihan Pasca Bencana Merapi 2010</strong><br />
<strong>Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/rekrutmen-relawan-dakwah-pasca-bencana-merapi-2010.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdakwah Dengan Sentuhan Hati</title>
		<link>http://abumushlih.com/berdakwah-dengan-sentuhan-hati.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/berdakwah-dengan-sentuhan-hati.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 14:28:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2117</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah Kajian Umum dengan tema. “BERDAKWAH DENGAN SENTUHAN HATI” Pemateri: Ustadz Abdullah Zein, M.A. (lulusan Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia) Insya Allah dilaksanakan pada: Ahad, 28 November 2010 Pukul 08.30 &#8211; 11.00 WIB Di Masjid Ma’had Jamilurrahman, Sawo, Wirokerten, Banguntapan, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/berdakwah-dengan-sentuhan-hati.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberdakwah-dengan-sentuhan-hati.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberdakwah-dengan-sentuhan-hati.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Hadirilah Kajian Umum dengan tema.<br />
“BERDAKWAH DENGAN SENTUHAN HATI”</p>
<p>Pemateri:<br />
Ustadz Abdullah Zein, M.A. (lulusan Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia)</p>
<p><span id="more-2117"></span><br />
Insya Allah dilaksanakan pada:</p>
<p>Ahad, 28 November 2010<br />
Pukul 08.30 &#8211;  11.00 WIB</p>
<p>Di  Masjid Ma’had Jamilurrahman, Sawo, Wirokerten, Banguntapan, Bantul  (sekitar 750 meter selatan Terminal Bus Giwangan Yogyakarta)</p>
<p>Gratis, terbuka untuk Umum<br />
Putra &amp; Putri</p>
<p>Informasi:<br />
0838.6937.5344 (Abu Yahya)</p>
<p>Penyelenggara:<br />
Halaqoh Keluarga Salafiyyin Yogyakarta<br />
Bekerjasama dengan:<br />
Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA) Yogyakarta</p>
<p>Kunjungi pula:<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.muslim.or.id/" target="_blank">www.muslim.or.id</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://www.muslimah.or.id/" target="_blank">www.muslimah.or.id</a></p>
<p>Selengkapnya:<br />
<a rel="nofollow" href="http://infokajian.com/kajian-umum/berdakwah-dengan-sentuhan-hati-yogyakarta-november-2010/" target="_blank">http://infokajian.com/kajian-umum/berdakwah-dengan-sentuhan-hati-yogyakarta-november-2010/</a></p>
<p>*NB: Dimohon untuk menyebarkan informasi kajian ini di Facebook, Twitter, dan Website ikhwan yang bersangkutan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/berdakwah-dengan-sentuhan-hati.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Para Nabi dan Rasul</title>
		<link>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 17:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1762</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Berikut ini gambaran sekilas mengenai seruan para nabi dan rasul kepada kaumnya. Allah ta&#8217;ala telah mengisahkan sejarah perjuangan dakwah mereka di dalam kitab-Nya, mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa memetik &#8230; <a href="http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-para-nabi-dan-rasul.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-para-nabi-dan-rasul.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Berikut ini gambaran sekilas mengenai seruan para nabi dan rasul kepada kaumnya. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengisahkan sejarah perjuangan dakwah mereka di dalam kitab-Nya, mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa memetik pelajaran darinya, </span><em><span style="font-weight: normal;">amin</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1762"></span><strong>[1] Dakwah Nabi Nuh </strong><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 59</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Nuh adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[2] Dakwah Nabi Hud </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum &#8216;Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 65</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Hud adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[3] Dakwah Nabi Shalih </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 73</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Shalih adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[4] Dakwah Nabi Syu&#8217;aib </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu&#8217;aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 85</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Syu&#8217;aib adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[5] Dakwah Nabi Ibrahim</strong></span><em><strong> &#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Mumtahanah: 4</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">).  Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Ibrahim adalah dakwah tauhid. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[6] Dakwah Segenap Rasul </strong></span><em><strong>&#8216;alaihimus salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nahl: 36</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Lalu apa yang dimaksud dengan tauhid itu?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Tauhid, sebagaimana telah dijelaskan di dalam ayat-ayat di atas adalah menyembah/beribadah semata-mata kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Inilah tauhid yang senantiasa didengung-dengungkan oleh para nabi dan rasul kepada kaumnya dan yang menjadi tujuan utama dakwah mereka (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Majid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 15, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/7]).</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hakekat perintah tauhid ini sering diulang-ulang oleh Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> di dalam al-Qur&#8217;an dalam konteks yang beraneka ragam. Di antaranya adalah:</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[1] Ketika menjelaskan tujuan hidup jin dan manusia</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[2] Ketika menjelaskan muatan dakwah Nabi Ibrahim </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah kecuali dari Yang menciptakan diriku.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. az-Zukhruf: 26-27</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[3] Ketika menjelaskan &#8216;motto hidup&#8217; seorang mukmin</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku dan sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya milik Allah Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-An&#8217;am: 162-163</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[4] Ketika melarang berdoa kepada selain-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang tidak menjamin manfaat dan madharat kepadamu. Apabila kamu melakukannya, maka sungguh kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Apabila Allah timpakan kepadamu suatu bahaya, niscaya tidak ada yang bisa menyngkapnya kecuali Dia.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Yunus: 106-107</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[5] Ketika menjelaskan kesesatan orang yang berdoa kepada selain-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak akan bisa memenuhi permintaannya sampai kiamat tiba.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ahqaf: 5</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[6] Ketika menjelaskan lemahnya sesembahan selain Allah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apakah mereka itu mau mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak bisa menciptakan apa-apa, sementara mereka itu sendiri juga diciptakan, bahkan mereka juga tidak mampu untuk memberikan pertolongan kepada mereka/pemujanya&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 191-192</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[7] Ketika mencela sesembahan selain Allah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Segala sesuatu yang kalian seru selain-Nya itu sama sekali tidak menguasai meskipun setipis kulit ari.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Fathir: 13</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[8] Ketika menjelaskan kecintaan orang kafir kepada sesembahan mereka</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Di antara manusia ada yang mengangkat selain Allah sebagai sesembahan tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Baqarah: 165</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[9] Ketika memerintahkan untuk bertawakal kepada-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan hendaknya kalian bertawakal kepada Allah saja, jika kalian benar-benar beriman.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[10] Ketika melarang tindakan menyelisihi Rasul-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau siksa yang sangat pedih.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nuur: 63</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud &#8216;fitnah&#8217; dalam ayat ini adalah syirik.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Keutamaan Tauhid</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Berikut ini sebagian keutamaan tauhid yang disebutkan oleh para ulama, semoga semakin mendorong kita untuk mendalami, mengamalkan, serta mendakwahkannya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[1] Tauhid adalah rahasia al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">al-Hafizh Ibnu Katsir </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230; Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh sebagian ulama salaf bahwa al-Fatihah merupakan rahasia al-Qur&#8217;an, sedangkan rahasia surat ini terkandung dalam kalimat &#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217; -hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong-&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/36] cet. Dar al-Fikr)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“al-Qur&#8217;an itu seluruhnya berbicara mengenai tauhid, hak-hak serta balasannya, dan juga berbicara mengenai syirik serta pelaku dan balasan/hukuman bagi mereka&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Aqidah ath-Thahawiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 89 cet. al-Maktab al-Islami)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[2] Tauhid adalah syarat keamanan dan hidayah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah yang akan diberikan petunjuk.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-An&#8217;am: 82</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[3] Tauhid adalah syarat diterimanya amalan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Kahfi: 110</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[4] Tauhid adalah sebab keberuntungan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[5] Tauhid adalah kunci surga</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah telah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolongpun.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 72</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Setelah membaca dalil-dalil di atas, dapat kita simpulkan bahwa:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah tauhid</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hakekat tauhid itu adalah beribadah kepada Allah semata dan berlepas 	diri dari segala sesembahan selain-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Tauhid tidak akan terwujud tanpa mengenal syirik dan macam-macamnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Tauhid memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah; tauhid 	merupakan rahasia al-Qur&#8217;an, syarat untuk mendapatkan keamanan dan 	hidayah, syarat diterimanya amalan, sebab keberuntungan, dan kunci 	untuk bisa masuk ke dalam surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan demikian, sudah semestinya setiap da&#8217;i Islam menjadikan 	dakwah tauhid sebagai prioritas utama dakwah yang dilakukannya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dan 	bagi para orang tua, hendaknya mereka menjadikan pendidikan tauhid 	sebagai pembinaan yang paling dititikberatkan kepada putra-putri 	mereka. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu 	a&#8217;lam bis shawab</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span></p>
</li>
</ol>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Mendakwahkan Tauhid!</title>
		<link>http://abumushlih.com/mari-mendakwahkan-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mari-mendakwahkan-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 06:07:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[Muballigh]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1729</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: al-Akh dr. Abu &#8216;Athifah Adika Mianoki -hafizhahullah- Tidak diragukan lagi bahwa tauhid merupakan permasalahan yang paling penting dalam agama ini. Maka mendakwahkannya juga merupakan perkara yang penting yang tidak boleh disepelekan. Namun sangat disayangkan, banyak di antara para dai &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mari-mendakwahkan-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmari-mendakwahkan-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmari-mendakwahkan-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: <strong>al-Akh dr. Abu &#8216;Athifah Adika Mianoki</strong> -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa tauhid merupakan permasalahan yang paling  penting dalam agama ini. Maka mendakwahkannya juga merupakan<span style="text-decoration: underline;"> perkara yang penting yang tidak  boleh disepelekan</span>. Namun sangat disayangkan, banyak di antara  para dai yang meremehkan dakwah tauhid, mereka justru disibukkan dengan  permasalahan lainnya tanpa mempedulikan dakwah yang satu ini. Sementara  orang yang berkonsentrasi mendakwahkan tauhid dianggap ketinggalan zaman  dan memecah belah umat. Padahal inilah inti dakwah para rasul <em>‘alaihimus  salam. </em></p>
<p><em><span id="more-1729"></span></em><span style="color: #ff0000;"><strong>Bukti Benarnya Tauhid  Seseorang</strong></span></p>
<p>Setelah sesorang bertauhid dengan benar dan berusaha untuk  menyempurnakan tauhidnya, kewajiban selanjutnya adalah <span style="text-decoration: underline;">berusaha untuk mendakwahkan tauhid</span>.  Karena keimanan seseorang tidak akan sempurna kecuali jika disertai  ajakan dakwah kepada tauhid. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong>وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ  الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا  الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}</strong></p>
<p>“<em>Demi masa(1). Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam  kerugian(2). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh  dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati  supaya menetapi kesabaran(3)</em>.” (QS. Al Ashri :1-3)</p>
<p>Di samping menyempurnakan tauhid juga harus ada ajakan kepada tauhid.  Jika tidak, maka ada yang kurang dalam tauhid tersebut. Tidak diragukan  lagi bahwa orang yang meniti jalan tauhid disebabkan dia mengetahui  bahwa jalan tauhid adalah jalan yang terbaik. Kalau memang dia benar  dalam keyakinannya, maka dia juga harus mendakwahkan tauhid. Mengajak  kepada seruan tauhid <em>Laa ilaaha ilallah</em> adalah termasuk  kesempurnaan tauhid seseorang, dan tidak akan sempurna tauhid seseorang  kecuali dia berusaha untuk mendakwahkan tauhid tersebut. (Lihat <em>Al  Qoulul Mufiid</em> I/ 82, Syaikh ‘Utsaimin, cet. Darul ‘Aqidah)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwahnya Pengikut Nabi <em>Shalallahu  ‘alaihi wa salam</em></strong></span></p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ  عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا  مِنَ الْمُشْرِكِينَ {108}</strong></p>
<p>“<em>Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang  mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha  Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”</em>.” (QS.  Yusuf:108)</p>
<p>Dalam ayat ini Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan Nabi-Nya untuk  memberitahukan kepada manusia tentang penjelasan manhaj (metode  berdakwah) para nabi dan pengikutnya, yakni berdakwah kepada Allah di  atas dasar ilmu.  Hal ini menunjukkan barang siapa yang tidak mengajak  kepada Allah di atas ilmu maka dia bukanlah pengikut Nabi yang sejati  walupun dia seorang fakih yang berilmu.</p>
<p>Yang dimaksud dengan firman Allah <strong>أَدْعُوا إِلَى اللهِ</strong> (menyeru kepada Allah) adalah <span style="text-decoration: underline;">berdakwah  kepada tauhidullah <em>‘Azza wa Jallla</em> </span>yaitu dengan   beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya,  serta berdakwah terhadap perkara syariat agama yang lainnya. Sehingga  dakwah berlaku untuk orang kafir agar masuk ke dalam Islam dan juga  dakwah kepada kaum muslimn yang bermaksiat kepada Allah agar kembali  bertaubat kepada Allah, mau melaksanakan perintah, memperingatkan mereka  dari syirik dan meninggalkan maksiat. Dakwah tidak hanya terbatas pada  mendakwahi orang kafir, bahkan kaum muslimin juga membutukan dakwah.  Dakwah bersifat umum, yakni dakwah untuk mengenal tauhid dan lawannya  yaitu syirik. (Lihat <em>I’aanatul Mustafiid</em> I/93-94, Syaikh Shalih  Fauzan, cet. Markaz Fajr)</p>
<p>Ayat di atas mengandung dua faedah penting :</p>
<p><strong>Pertama</strong>. Bahwa yang dimaksud dakwah kepada Allah  adalah <span style="text-decoration: underline;">dakwah kepada tauhid</span>.  Inilah yang dipraktekkan Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> ketika mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ke  Yaman.</p>
<p><strong>Kedua</strong>. Peringatan untuk senantiasa <span style="text-decoration: underline;">ikhlas dalam berdakwah</span> .  Seseorang yang berdakwah harus ikhlas dalam berdakwah, sebagaimana  firman Allah <strong>أَدْعُوا إِلَى اللهِ</strong> (menyeru kepada  Allah), karena kebanyakan juru dakwah sekarang mengajak kepada dirinya  dan kelompoknya. (Lihat <em>At Tamhiid </em>hal 65, Syaikh Shalih Alu  Syaikh, cet. Daarut Tauhid)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Para Nabi Mendakwahkan  Tauhid</strong></span></p>
<p>Setiap Rasul yang diutus oleh Allah <em>Ta’ala</em> pasti semua  mendakwahkan tauhid dan memperingatkan tentang syirik. Hal ini  sebagaimana dijelaskan Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ  رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ …{36}</strong></p>
<p>“<em>Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat  (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu</em>”  (QS. An Nahl:36).</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan tentang ayat  ini, “Seluruh para rasul menyeru untuk beribadah hanya kepada Allah dan  melarang untuk menujukan ibadah kepada selain-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> tidak mengutus seorang rasul pun sejak terjadinya kesyirikan pada kaum  Nuh yang diutus rasul kepada mereka kecuali untuk tujuan tersebut (hanya  beribadah kepada Allah semata). Rasul yang pertama diutus ke muka bumi  sampai penutup para Rasul, Muhammad <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em>,  semuanya mendakwahkan sebagaimana yang Allah perintahkan,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن  رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ  {25}</strong></p>
<p>“<em>Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan  Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak)  melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” </em>(QS. Al  Anbiya’:25)”( Fathul Majiid hal 24. Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu  Syaikh, cet. Muasasah al Mukhtar.)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى  بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ  إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ  وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَاتَدْعُوهُمْ  إِلَيْهِ اللهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن  يُنِيبُ {13}</strong></p>
<p>“<em>Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah  diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan  apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu :  Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat  berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya.  Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi  petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).</em> “ (QS.  Asy Syura’:13)</p>
<p>Inilah dakwah seluruh para Nabi, di antara mereka adalah para <em>Ulul  ‘Azmi</em>. Mereka berjalan di atas manhaj dakwah yang satu yaitu  tauhid. Inilah kewajiban paling agung yang merupakan materi dakwah yang  diusung oleh para nabi kepada bani adam apaun kondisi yang mereka hadapi  walaupun mereka menghadapi kondisi kaum, negeri, dan waktu yang  berbeda-beda. Materi dakwah yang mereka sampaiakn satu yang merupakan  kewajiban yang harus ditempuh ketika mengajak manusia kepada Allah <em>‘Azza  wa Jalla</em>. Dan ini juga merupakan jalan dakwah yang ditempuh para  penerus dakwah rasul. Tidak boleh mengganti dan berpaling dari jalan  dakwah ini. (<em>Usus Manhaj Salaf fii Da’wah ilallah</em> hal 86,  Syaikh Fawwaz bin Haliil as Suhaimi, cet. Daar Ibnul Qayyim )</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tauhid Asas Perbaikan  Umat</strong></span></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “Barangsiapa yang ingin  meninggikan suatu bangunan, hendaklah ia memantapkan pondasinya,  menguatkannya, dan harus lebih memperhatikannya. Karena sesungguhnya  tingginya bangunan itu sesuai dengan kuatnya pondasi dan kemantapannya.  Amal perbuatan serta derajat kemuliaan manusia adalah sebuah bangunan,  sedangkan  pondasinya adalah iman. Semakin kokoh suatu pondasi akan  menghasilkan bangunan yang tinggi dan kuat. Jika suatu bangunan roboh  mudah untuk memperbaikinya. Namun jika pondasinya tidak kokoh, bangunan  itu tidak akan tinggi dan kuat. Jika suatu pondasi telah hancur, maka  bangunannya pun akan roboh . Orang yang bijaksana akan lebih  memperhatikan perbaikan pondasi. Sedangkan orang yang bodoh akan  meninggikan bangunan tanpa memperhatikan kondisi pondasinya, sehingga  tidak berapa lama lagi bangunan itu akan hancur”.</p>
<p>Beliau melanjutkan : “Maka buatlah bangunanmu di atas pondasi iman  yang kokoh. Jika rusak bagian dari bangunan yang tinggi  maka  memperbaikinya lebih mudah bagimu daripada hancurnya suatu pondasi.  Pondasi ini terdiri dari dua macam. Pondasi pertama yaitu benarnya  pengenalan terhadap Allah, perintah-perintah-Nya serta nama-nama dan  sifat-sifat-Nya. Yang kedua adalah ketundukan dan ketaatan hanya kepada  Allah dan rasul-Nya dengan sebenar-benarnya. Inilah pondasi terkuat yang  bisa digunakan oleh seseorang untuk menegakkan bangunannya dan ia bisa  meninggikan bangunannya sesuka dia. Oleh karena itu, perkokohlah pondasi  bangunan kalian, jagalah kekuatannya dan senantiasalah memeliharanya” (<em>Al  Fawaaid</em> hal 149-150, Ibnul Qayyim al Juziyah, cet. Daarul ‘Aqidah)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Contohlah Dakwah Nabi  Kita</strong></span></p>
<p>Barangsiapa yang mau meneliti sejarah Rasulullah <em>shalaallahu  ‘alaihi wa salam</em>, dia akan dapat mengambil pelajaran manhaj  berdakwah kepada Allah. Bahwasanya yang pertama kali yang diserukan  kepada manusia adalah aqidah tentang beribdaha hanya kepada Allah semata  dan tidak menyekutukannya serta meninggalkan peribadatan kepada  selain-Nya, sebagaimana ini merupakan makna dari kalimat <em>Laa ilaaha  ilallah</em>.</p>
<p>Sesungguhnya Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salaam</em> adalah  uswah dalm segala hal . termasuk dalam melaksankan dakwah.  Beliau   tinggal di Mekah selama tiga belas tahun setelah diutus menjadi rasul,  menyeru kepada manusia untuk memperbaiki aqidah dengan menyembah Allah  semata dan meninggalakan peribadatan kepada berhala. Seruan ini beliau  lakukan sebelum memerintahkan mereka untuk sholat, zakat, puasa, haji,  dan meninggalkan kemaksiatan seperti riba, zina, meminum khomer, dan  perjudian.</p>
<p>Hal ini menunjukkan dengan jelas kesalahan sebgian jamaah dakwah pada  zaman ini yang tidak memprioritaskan aqidah dan hanya mementingkan  dakwah terhadap perbaikan akhlak (dengan mengenyampingkan dakwah tauhid,  ed). Mereka melihat kebanyakan manusia  melakukan perbuatan syirik  akbar  di sekitar kuburan di negeri-negeri Islam namun tidak  mengingkarinya, tidak melarang darinya, baik dengan perkataan, pada saat  ceramah, atau dengan tulisan, kecuali hanya sebagian kecil saja. Bahkan  terkadang mereka berada di antara barisan orang-orang yang melakukan  syirik, bersatu dengan orang-orang yang menyimpang, tidak melarang dan  memperingatkan mereka! (<em>Al Irsyaad ilaa shahiihil I’tiqad</em> hal  15, Syaikh Shalih Fauzan, cet. Maktabah Salsabil)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tauhid Prioritas Utama</strong></span></p>
<p>Bukti bahwa dakwah tauhid yang seharusnya jadi prioritas adalah sabda  Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> ,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما  تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ  فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم  وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من  أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق  دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab,  maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak  disembah) selain Allah –dalam riwayat lain: kepada tauhidullah-. Jika  mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka  bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap  siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka  beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka  zakat yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada  orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal  tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap  doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan  Allah</em>” (H.R Bukhari 1395 dan Muslim 19)</p>
<p>Dalam hadist ini terdapat pelajaran tentang tahapan dalam berdakwah,  yakni memulai dari yang paling penting kemudian baru yang lainnya.  Inilah jalan dakwah para rasul, mereka memulainya dengan dakwah kepada  kalimat <em>Laa ilaaha ilallah</em>, karena hal ini merupakan pokok dan  asas bangunan agama seseorang. Jika telah kokoh syahadat <em>Laa ilaaha  ilallah</em>, maka memungkinkan dibangun di atasanya perkara yang  lainnya. Adapun jika syahadatnya belum kokoh, maka tidak bermanfaat amal  yang lainnya. Tidak mungkin Engkau memerintahkan manusia shalat  sementara mereka masih musyrik, Engkau juga tidak bisa memerintahkan  puasa, shodaqoh, menyambung silaturahmi sementara mereka masih  menyekutukan Allah, karena Engkau tidak meletakkan asas yang pertama.</p>
<p>Hal ini berbeda dengan kondisi para dai hari ini yang tidak  memperhatikan tentang dakwah terhadap syahadat <em>Laa ilaaha ilallah</em>.  Mereka mengajak manusia untuk meninggalkan riba, bergaul dengan baik  sesama manusia, berhukum dengan hukum yang Allah turunkan, dan  permasalaha yang lain, namun mereka tidak mengingatkan tentang perkara  tauhid dan tidak memperhatikannya seolah-olah ini bukan sesuatu yang  wajib. Bagaimana pun mereka susah payah berjuang namun amalan mereka  tidak bermanfaat sehingga mereka memperkokoh pondasi dan pokok yang  mendasari  perkara-perkara agama yang lain berupa hukum-hukum, sholat,  zakat, haji, dan sebaginya. Inilah manjahj para Nabi  sebagaimana firman  Allah,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ  رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ …{</strong>36}</p>
<p>“<em>Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat  (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu</em>”  (An Nahl:36).(<em>I’aanatul Mustafiid</em> I/ 99-100)</p>
<p>Mengapa para juru dakwah sekarang justru meremehkan hak Allah ini?!  Bukankah hak Allah lebih pantas untuk didahulukan? Bukankah dakwah  tauhid merupakan kunci dakwahnya para rasul, sebagaimana yang telah  Allah abadikan dalam banyak ayat-Nya?</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwah Tauhid Dari Awal  Sampai Akhir</strong></span></p>
<p>’Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> menceritakan,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه  وسلم- فِى مَرَضِهِ الَّذِى لَمْ يَقُمْ مِنْهُ « لَعَنَ اللَّهُ  الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ».  قَالَتْ فَلَوْلاَ ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خُشِىَ أَنْ  يُتَّخَذَ مَسْجِدًا. وَفِى رِوَايَةِ ابْنِ أَبِى شَيْبَةَ وَلَوْلاَ  ذَاكَ لَمْ يَذْكُرْ قَالَتْ</strong></p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda ketika  sakit yang menyebabkan beliau tidak bisa bangkit lagi, ‘<em>Allah  melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para nabi  mereka sebagai masjid’</em>.” Aisyah berkata, “Kalau bukan karena itu,  niscaya kuburan beliau dipertontonkan, padahal tindakan itu  dikhawatirkan akan dijadikannya kuburan beliau sebagai masjid.”(H.R  Muslim 529)</p>
<p>Demikianlah Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> memulai  dakwahnya dengan tauhid, mengiringi dengan tauhid dan mengakhiri pula  dengan tauhid. Dan beliau <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> senantiasa mewasiatkan umatnya dengan tauhid di akhir hidup  beliau.Wasiat merupakan pesan terakhir dalam kehidupan seseorang.  Tentunya yang akan disampaikan adalah perkara yang paling utama dan  paling penting karena ia tidak akan sempat lagi menyampaikan sesuatu  apapun setelah itu. Dari sini dapat terlihat apa yang dianggap paling  penting oleh seseorang dalam hidupnya. Demikian pula  wasiat para nabi  adalah tauhid, yang menunjukkan bahwa yang paling penting bagi mereka  adalah tauhid. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَوَصَّى بِهَآإِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ  وَيَعْقُوبَ يَابَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ  تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ {</strong>132}</p>
<p><em>“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya,  demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya  Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali  dalam (keadaan) Islam”</em> (Al Baqarah: 132)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Metode Mendakwahkan  Tauhid</strong></span></p>
<p>Syaikh Shalih Alu Syaikh <em>hafidzahullah</em> menjelaskan bahwa  dakwah kepada syahadat <em>Laa ilaaha ilallah</em> adalah dakwah yang  terperinci. Ini adalah satu hal yang penting. Banyak orang yang berilmu  menyerukan dakwah tauhid secara global. Namun jika datang penjelasan  rinci tentang permasalahan tauhid atau syirik mereka menyelisihinya.  Demikianlah seharusnya penerapan dakwah tauhid, yakni dakwah yang  terperinci, bukan hanya secara global. Adapun kebanyakan orang mereka  menyeru dakwah tauhid secara global. Mereka mengatakan :” Kami berpegang  teguh dengan tauhid dan berlepas diri dari syirik”, namun tidak  menyebutkannya secara terperinci. (Lihat <em>At Tamhiid</em> hal 63)</p>
<p>Inilah yang diterapkan oleh para ulama <em>robbani</em> dalam  mendakwahkan tauhid. Contohnya adalah dakwah yang dilakukan oleh Syaikh  Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em>. Dapat kita lihat dalam  kitab beliau yang sangat bagus yaitu Kitab Tauhid. Dalam kitab ini  beliau menjelasakan permasalahan tauhid dan syirik secara terperinci.  Kitab ini diangggap oleh para ulama sebagai kitab yang paling bagus dan  paling lengkap menjelasakan semua permasalahan tauhid. Oleh karena itu,  kaum muslimin, khususnya para dai dan penuntut ilmu, hendaknya  mempelajari kitab ini beserta penjelasan para ulama dengan benar dan  mengajarkannya kepada umat.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwah Tauhid Memecah  Belah Umat?</strong></span></p>
<p>Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan <em>hafidzahullah</em> ditanya : Sungguh telah menyebar -<em>Alhamdulillah</em>- seruan kepada  manhaj salaf dan berpegang teguh dengannya, akan tetapi ada orang yang  mengatakan: “Sesungguhnya dakwah ini (dakwah salafiyah) tidak lain  hanyalah akan memecah belah barisan (kaum muslimin, pent) dan  mengkoyak-koyakkan, serta menjadikan sebagian mereka memerangi sebagian  yang lain. Sehingga mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan  meninggalkan (memerangi, pent) musuh-musuh mereka yang hakiki. Apakah  ini benar, dan apa nasehat Syaikh?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Jawaban</span> :</p>
<p>Ini adalah pemutarbalikan hakekat (fakta), karena sesungguhnya  berdakwah kepada tauhid dan manhaj <em>salafus shalih</em> itulah yang  mampu menyatukan kalimat, dan menyatukan barisan (kaum muslimin)  sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا  وَلاَ تَفَرَّقُوا … </strong>{103}</p>
<p>“<em>Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah secara keseluruhan, dan  jangan kalian berpecah-belah.</em>” [Ali-Imran: 103]</p>
<p>Dan firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً  وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ </strong>{92}</p>
<p>” <em>Sesungguhnya ini adadalah agama kamu semua, agama yang satu dan  Aku adalah Rabbmu, maka beribadahlah kepadaKu.</em>” [Al-Anbiya: 92]</p>
<p>Maka tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu kecuali di atas kalimat  tauhid dan manhaj salaf, karena apabila mereka dibolehkan memilih  manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf maka bercerai berai dan  berselisihlah mereka, sebagaimana kenyataannya demikian.Siapa yang  menyeru kepada tauhid dan manhaj salaf, itulah orang yang menyeru kepada  persatuan, sedangkan orang yang menyeru (umat) untuk menyelisihi manhaj  salaf maka dialah yang menyeru kepada perpecahan dan perselisihan.  Apabila kaum muslimin di atas tauhid dan manhaj salaf, maka mereka  berdiri di depan musuh, dalam satu barisan. Dan apabila mereka  berpecah-belah dalam berbagai manhaj maka mereka tidak akan mampu  menghadapi musuh mereka.<br />
[Disalin dari kitab al Ajwibatu al Mufidah ‘an As-ilah al Manahij al  Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, Pengumpul  Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin,  Penerbit Yayasan Al-Madinah]</p>
<p>Demikian pembahasan singkat tentang pentingnya dakwah tauhid. Semoga  Allah senantiasa membimbing kita di atas jalan tauhid, mempelajari dan  mengamalkan serta berusaha semampu kita untuk mendakwahkannya. Khususnya  kepada para pengemban tugas dakwah, marilah kita memprioritaaskan  dakwah tauhid yang merupakan inti dakwah para nabi dan merupakan poros  perbaikan umat. <em>Wallahul musta’an</em>.</p>
<p>Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mari-mendakwahkan-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah Kejujuran</title>
		<link>http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 01:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jujur]]></category>
		<category><![CDATA[Kendaraan]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1538</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu, beliau mengisahkan bahwa suatu saat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memboncengkan Mu&#8217;adz di atas seekor binatang tunggangan (keledai bernama &#8216;Ufair). Nabi berkata, “Hai Mu&#8217;adz.” Mu&#8217;adz menjawab, “Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.” Lalu Nabi &#8230; <a href="http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbuah-kejujuran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbuah-kejujuran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><span style="font-weight: normal;">Dari Anas bin Malik </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau mengisahkan bahwa suatu saat Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> memboncengkan Mu&#8217;adz di atas seekor binatang tunggangan (keledai bernama &#8216;Ufair). Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hai Mu&#8217;adz.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mu&#8217;adz menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Lalu Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hai Mu&#8217;adz.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mu&#8217;adz menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Sampai tiga kali. Nabi pun bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada seorang pun yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah secara jujur dari dalam hatinya kecuali Allah pasti akan mengharamkan dia dari tersentuh api neraka.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mu&#8217;adz berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya menyampaikan kabar ini kepada orang-orang agar mereka bergembira?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kalau hal itu disampaikan, nantinya mereka justru bersandar kepadanya (malas beramal)?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Menjelang kematiannya, Mu&#8217;adz pun menyampaikan hadits ini karena khawatir terjerumus dalam dosa (menyembunyikan ilmu) (HR. Bukhari dan Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/273] dan </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/73-76], ini adalah lafaz Bukhari)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1538"></span></span>Hadits yang agung ini menyimpan pelajaran penting, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Diperbolehkan 	mengkhususkan suatu bagian dari ilmu kepada sekelompok orang tanpa 	memberitahukannya kepada kepada kelompok lainnya karena 	dikhawatirkan mereka tidak bisa memahaminya yang mengakibatkan 	mereka terjatuh dalam kekeliruan (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-&#8217;Ilm</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 43)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk memberi nama pada binatang tunggangan atau kendaraan yang 	dimiliki (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Jihad wa as-Siyar</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 601)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Diperbolehkan 	seseorang untuk membonceng kepada orang lain -berdua- di atas seekor 	keledai  atau kendaraannya, dengan syarat tidak menyulitkan bagi 	hewan atau kendaraan tersebut (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Libas</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1233, </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384], </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/33])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	dimaksud dengan bersaksi &#8216;secara jujur dari dalam hatinya&#8217; adalah 	dia mengucapkan syahadat tersebut dengan tulus, tidak sebagaimana 	syahadatnya kaum munafikin yang dilandasi dengan kedustaan dan 	kepura-puraan. Artinya orang tersebut mengucapkan syahadat itu 	dengan lisannya dan hatinya pun membenarkan isinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/274])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa salah satu syarat diterimanya syahadat adalah 	harus diucapkan dengan jujur, bukan pura-pura atau dilandasi dengan 	keudustaan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tanbihat 	al-Mukhtasharah Syarh al-Wajibat</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 51-52) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan ketawadhu&#8217;an Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan keutamaan Mu&#8217;adz bin Jabal dan kelembutan adabnya 	dalam bertutur kata (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan kedekatan hubungan antara Mu&#8217;adz dengan Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan kedalaman ilmu Mu&#8217;adz bin Jabal yang mana Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengkhususkan 	ilmu -yang membawa resiko berat- ini kepada dirinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk mengulangi ucapan -ketika mengajar- dalam rangka memberikan 	penegasan dan menanamkan pemahaman dengan sebaik-baiknya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian 	ulama menjelaskan bahwa dari hadits ini juga bisa dipetik pelajaran 	tidak bolehnya mempopulerkan hadits-hadits tentang 	rukhshah/keringanan kepada masyarakat umum karena dikhawatirkan akan 	menimbulkan kesalahpahaman dalam diri mereka (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/384])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa intisari dakwah Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> kepada umatnya adalah mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">tabaraka wa ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat Shahih al-Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1467)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan dianjurkan untuk menyampaikan sesuatu yang bisa 	menggembirakan hati sesama muslim (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/31])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Larangan 	bersandar kepada keluasan rahmat Allah yang menyebabkan tumbuhnya 	perasaan aman dari makar Allah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/31])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan wajibnya menyampaikan ilmu dan menyembunyikannya 	merupakan perbuatan dosa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa seorang murid boleh meminta penjelasan 	tambahan kepada gurunya akan sesuatu yang terasa meragukan atau 	belum mapan di dalam pikirannya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan semestinya seorang murid meminta ijin kepada 	gurunya yang telah mengajarkan kepadanya suatu ilmu khusus yang 	tidak diberikan kepada selainnya apabila akan menyebarkan ilmu 	tersebut (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Tindakan 	Mu&#8217;adz menyampaikan hadits ini menjelang kematiannya setelah adanya 	larangan dari Nabi</span><em><span style="font-weight: normal;"> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> menunjukkan bahwa Mu&#8217;adz memahami larangan tersebut bukan mengandung 	hukum haram, akan tetapi dalam rangka menyelamatkan sebagian orang 	dari kesalahpahaman (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/275])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> kepada umatnya. Beliau berusaha keras untuk menutup segala celah 	yang mungkin mengantarkan mereka menuju kehancuran. Di antaranya 	adalah upaya beliau agar umatnya tidak salah paham dalam menyikapi 	hadits-hadits yang menceritakan keutamaan tauhid.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	juga -secara tidak langsung- menunjukkan keutamaan ilmu agama dan 	kepahaman di dalamnya. Karena dengan pemahaman yang benar akan 	membentengi seseorang dari kekeliruan bersikap dan mengambil 	tindakan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa pemahaman tauhid yang benar tidak akan membawa 	pemiliknya untuk bersandar kepada rahmat Allah semata dan merasa 	aman dari makar-Nya. Justru sebaliknya, kita temukan bahwa 	orang-orang yang telah diakui ketauhidannya dan menjadi teladan di 	dalamnya adalah sosok manusia yang sangat khawatir terjerumus ke 	dalam kemusyrikan dan kemunafikan. Lihatlah doa yang dipanjatkan 	oleh Nabi Ibrahim</span><em><span style="font-weight: normal;"> &#8216;alaihis salam</span></em><span style="font-weight: normal;">! </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya 	Allah jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah 	patung-patung.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(QS. 	Ibrahim: 35). Dan lihatlah para sahabat yang merasa khawatir dirinya 	terjangkit kemunafikan&#8230; Lalu bagaimanakah lagi dengan keadaan kita 	yang baru belajar tauhid kemarin sore?! </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Nas&#8217;alullahas 	salamah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits ini juga menunjukkan betapa besar semangat generasi salaf 	dalam menyebarkan ilmu, bahkan meskipun di saat-saat menjelang 	kematian mereka!</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hendaknya seorang da&#8217;i memperhitungkan maslahat dan madharat dari 	metode dakwah yang dia jalankan. Tidak semua kebenaran harus 	disampaikan dalam satu waktu dan kesempatan. Bisa jadi yang terbaik 	adalah menunda penyampaiannya di waktu yang lain demi mengantisipasi 	madharat yang lebih besar</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Pemahaman 	tauhid yang benar akan mengantarkan seseorang untuk bersemangat 	dalam beramal demi menggapai kedekatan diri dengan-Nya dan agar 	dirinya bisa menjadi seorang hamba yang pandai mensyukuri 	nikmat-Nya. Tidakkah kita ingat keteladanan Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> -manusia terhebat dalam mewujudkan tauhid-? Ternyata, beliau tidak 	bermalas-malasan, bahkan beliau sholat malam sampai telapak kakinya 	pecah-pecah!! Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita di hari ini </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ayyuhal ikhwah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">! </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahumma arinal 	haqqa haqqa warzuqnat tiba&#8217;ah, wa arinal bathila bathila warzuqna 	jtinabah&#8230;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Aduhai, 	betapa sering muncul anggapan bahwa kita telah paham tauhid, namun 	kenyataannya kita adalah orang yang paling bodoh tentangnya. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Wallahul 	muwaffiq</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/buah-kejujuran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertakwalah, Wahai Para Da&#8217;i!</title>
		<link>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 23:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Ghibah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh wa Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1175</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka yang mengajak ke jalan Allah dengan ucapan dan perbuatan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbertakwalah-wahai-para-dai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbertakwalah-wahai-para-dai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka yang mengajak ke jalan Allah dengan ucapan dan perbuatan mereka. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Sesungguhnya tugas dakwah merupakan tugas mulia yang diembankan di pundak para da&#8217;i. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan siapakah orang yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal soleh, dan dia mengatakan, &#8216;sesungguhnya saya ini tergolong di antara kaum muslimin&#8217;.”</em> (QS. Fushshilat: 33).</p>
<p><span id="more-1175"></span>Dakwah merupakan sebab keberuntungan dan keselamatan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal soleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3). Berdasarkan ayat ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwasanya dakwah merupakan perkara yang wajib untuk dipelajari dan diamalkan oleh setiap muslim.</p>
<p>Terlebih lagi, dakwah merupakan jalan hidup manusia terbaik dan orang-orang yang setia mengikutinya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah -hai Muhammad-; Inilah jalanku, aku mengajak -manusia- menuju Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, Maha suci Allah dan sama sekali aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Yusuf: 108).</p>
<p>Maka dari itulah, pekerjaan dan tugas yang sangat mulia ini harus ditunaikan dengan cara yang benar dan niat yang ikhlas karena Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Bagaimana pun juga dakwah merupakan ibadah, dan ibadah tidak akan diterima kecuali apabila memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti tuntunan nabi-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Kahfi: 110).</p>
<p>Niat yang ikhlas tanpa diiringi dengan cara yang benar tidak akan bermanfaat. Bukankah Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai nasib malang orang-orang yang menyimpang dari jalan-Nya semacam kaum Khawarij dan saudara-saudaranya dari kalangan ahli bid&#8217;ah perusak ajaran agama (yang artinya), <em>“Katakanlah: maukah kuberitakan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia upaya mereka dalam kehidupan dunia sementara mereka mengira bahwa mereka telah melakukan suatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.”</em> (QS. al-Kahfi: 103-104). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun demikian, ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang beribadah kepada Allah akan tetapi tidak berada di atas jalan yang diridhai oleh Allah, sebagaimana disimpulkan oleh Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> (silahkan baca tafsir Ibnu Katsir)</p>
<p>Keikhlasan tanpa dibarengi dengan metode yang benar tidak akan diterima. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amal itu pasti tertolak.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim). Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan -dalam agama-&#8230;”</em> (HR. Bukhari). al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam <em>Fath al-Bari</em> (13/288), <em>“Yang dimaksud perkara baru ini adalah perkara yang diada-adakan dan tidak memiliki sumber/dalil dari syari&#8217;at. Dalam istilah syari&#8217;at hal itu dinamakan sebagai bid&#8217;ah. Adapun suatu perkara -baru- yang memiliki landasan hukum dari syari&#8217;at maka tidak bisa disebut sebagai bid&#8217;ah. Sehingga dalam istilah syari&#8217;at -semua jenis- bid&#8217;ah adalah tercela&#8230;”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sesungguhnya tugas yang mulia ini akan mendatangkan pahala yang melimpah ruah jika dilakukan sebagaimana mestinya. Dan sebaliknya, dakwah akan bisa menimbulkan malapetaka jika tidak dilakukan dengan sebagaimana mestinya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang diperoleh orang yang mengikutinya tanpa sedikitpun mengurangi pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikuti kesesatannya tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa mereka.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Untuk itulah -<em>ikhwah</em> sekalian, semoga Allah membimbing kita semua- mengetahui jalan yang lurus yaitu Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah kunci keselamatan dan keberhasilan dakwah. Sebaliknya, kebodohan terhadap Sunnah Nabi merupakan sebab utama kehancuran dakwah kita -selain ketidakikhlasan dalam beramal-, <em>Allahul musta&#8217;aan</em>. Imam Malik<em> rahimahullah</em> berkata, <em>“as-Sunnah adalah bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya niscaya dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia pasti tenggelam.”</em> (lihat kitab <em>al-Hujaj al-Qawiyyah &#8216;ala Anna Wasa&#8217;il ad-da&#8217;wah tauqifiyah</em> karya Syaikh Abdussalam Burjis <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Perselisihan manusia itu semuanya kembali kepada tiga sumber utama. Masing-masing memiliki lawan. Barangsiapa yang jatuh dari satu urusan niscaya dia akan terperosok kepada lawannya. Tauhid, lawannya syirik. Sunnah, lawannya adalah bid&#8217;ah. Dan taat, yang lawannya adalah maksiat.”</em> (<em>al-I&#8217;tisham </em>[1/91] dinukil dari <em>Ilmu Ushul Bida&#8217;</em> karya Syaikh Ali al-Halabi <em>hafizhahullah</em>, hal. 39).</p>
<p>Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.”</em> (Disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wan Nahyu &#8216;anil munkar</em>, hal. 77 cet Dar al-Mujtama&#8217;). Ibrahim an-Nakha&#8217;i<em> rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Seandainya para sahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mencukupkan diri dengan mengusap kuku niscaya akupun tidak akan membasuhnya untuk mencari keutamaan dalam mengikuti mereka.”</em> (Diriwayatkan oleh ad-Darimi dan Ibnu Batthah, dinukil dari <em>Ilmu Ushul Bida&#8217;</em>, hal. 57)</p>
<p>Apabila demikian kenyataannya, maka memperingatkan umat dari bahaya bid&#8217;ah dan tokoh-tokoh yang menyebarkannya merupakan kewajiban yang berada di pundak para ulama dan da&#8217;i di sepanjang masa. Tidakkah kita ingat, dulu di masa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika beliau memperingatkan umat ini dari bahaya laten Khawarij yang akan muncul dan membara semenjak kepergiannya? Tidakkah kita ingat, dulu di masa sahabat ketika Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> dengan lantang menyatakan permusuhan dan sikap berlepas diri beliau dari kesesatan Ma&#8217;bad al-Juhani dan teman-temannya para penganut aliran Qadariyah di Bashrah? Tidakkah kita ingat, dulu di masa Imam asy-Sayfi&#8217;i <em>rahimahullah</em> tatkala beliau dengan tegas dan keras menyatakan sikapnya mengenai hukuman yang akan beliau jatuhkan kepada orang-orang yang menggeluti ilmu kalam/filsafat dan mencampakkan Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya -yaitu dengan dipukuli dengan sandal dan diarak mengelilingi perkampungan dan di pasar-pasar-? Dan atsar/riwayat serupa yang lainnya masih banyak&#8230;</p>
<p>Maka <em>subhanallah</em> sedemikian banyak riwayat yang sudah sangat-sangat populer itu seolah-olah lenyap dari ingatan sebagian manusia, sehingga dengan entengnya mereka menuduh para ulama dan da&#8217;i yang memperingatkan manusia dari kesesatan dan ketergelinciran sebagian tokoh-tokoh mereka -akibat kebid&#8217;ahan atau penyimpangannya- adalah orang-orang yang maunya menang sendiri, merasa dirinya paling benar, bersikap angkuh, dan meremehkan jasa para pejuang agama?! Wahai orang yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, di manakah penghormatan kalian kepada Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan Sunnah para sahabatnya? Kalau anda diam, mereka diam, dan semua orang diam terhadap kemungkaran, lalu siapakah yang akan memperingatkan manusia dari kesesatan dan penyimpangan? Renungkanlah -dengan akal sehat dan pikiran yang jernih- betapa besar bahaya dan kerusakan yang timbul apabila para ulama dan da&#8217;i tidak memperingatkan kaum muslimin dari penyimpangan yang diserukan dan disebarluaskan di antara mereka? Sangggupkah anda menanggung dosa-dosa orang yang mengikuti kesesatan itu dan mengajarkannya kepada anak didik dan masyarakatnya? Jawablah, wahai saudaraku&#8230; Tegakah <em>antum</em> (anda) menyaksikan tokoh pujaan<em> antum</em> memikul dosa yang begitu banyak akibat telah mengajarkan kesesatan kepada umat manusia, dan umat manusia pun menularkan ajaran sesatnya kepada anak cucu mereka? Jawablah, wahai saudaraku&#8230; Apakah sikap semacam itu merupakan suatu keangkuhan ataukah justru sebuah bukti nyata rasa kasih sayang seorang mukmin kepada sesama saudaranya? Jawablah, wahai saudaraku dari lubuk hatimu yang paling dalam!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia, kalian memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar, dan kalian beriman kepada Allah.”</em> (QS. Ali Imran: 110). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Lelaki yang beriman dan perempuan yang beriman, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar.”</em> (QS. at-Taubah: 71). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Isra&#8217;il melalui lisan Dawud dan Isa bin Maryam. Hal itu disebabkan kemaksiatan mereka dan kebiasaan mereka melampaui batas. Mereka pun biasa tidak saling melarang kemungkaran yang dilakukan di antara mereka. Sungguh jelek perbuatan yang mereka lakukan itu.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 78-79).</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Berbicara dalam bentuk kritik/celaan kepada orang-orang/tokoh (periwayat hadits atau yang semacamnya, pent) dalam rangka menunaikan nasehat untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untuk kitab-Nya, dan untuk kaum mukminin itu tidak dikategorikan dalam perbuatan ghibah/menggunjing, bahkan dia akan mendapatkan pahala dengan tindakan yang dilakukannya itu selama dia benar-benar tulus berniat untuk itu (memberikan nasehat bukan semata-mata mencela, pent).”</em> (<em>al-Ba&#8217;its al-Hatsits Syarh Ikhtishar Ulum al-Hadits</em> karya Ahmad Syakir, hal. 228)</p>
<p>Maka bertakwalah, wahai para da&#8217;i dengan lisan-lisan kita dan anggota badan kita&#8230; Sesungguhnya kita akan ditanya di hadapan Allah dan harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan selama hidup di dunia. Apakah nasehat yang kita berikan benar-benar ikhlas karena-Nya? Apakah kita termasuk orang yang berlapang dada ketika diberi nasehat? Apakah kita termasuk orang yang menganggap bahwa nasehat saudara kita merupakan bukti cinta dan kasih sayangnya kepada kita? Apakah selama ini kita mau menelaah ucapan dan perbuatan kita; sudahkah itu semua sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ataukah sebenarnya menyelisihi Sunnah namun kita berkeras mempertahankannya?</p>
<p>Ingatlah ucapan emas seorang tabi&#8217;in yang mulia salah satu murid senior Abdullah bin Abbas yaitu Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em>. Beliau mengatakan, <em>“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.”</em> (Disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wan Nahyu &#8216;anil munkar</em>, hal. 77).</p>
<p>Marilah kita memohon kepada Allah hidayah untuk berjalan di atas jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberikan anugerah ilmu dan amal salih dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada&#8217; dan orang-orang soleh. Dan semoga Allah menjauhkan kita dari jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun tidak mau tunduk kepadanya. Sebagaimana pula kita berlindung kepada Allah agar tidak tergolong orang-orang yang sesat, yaitu orang yang bersemangat dalam beribadah dan berdakwah namun tanpa bimbingan ilmu yang benar. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah.</p>
<p>Yogyakarta, awal bulan Dzulqo&#8217;dah 1430 H<br />
Yang mengharapkan luasnya ampunan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas, Bahaya Ruwaibidhah!</title>
		<link>http://abumushlih.com/awas-bahaya-ruwaibidhah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/awas-bahaya-ruwaibidhah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 03:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Problematika Umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=848</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya : حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ &#8230; <a href="http://abumushlih.com/awas-bahaya-ruwaibidhah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fawas-bahaya-ruwaibidhah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fawas-bahaya-ruwaibidhah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya :</p>
<p style="text-align:right;">حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ</p>
<p><span id="more-848"></span></p>
<p>Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu&#8217;anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.&#8221; Ada yang bertanya, &#8220;Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.&#8221; (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).</p>
<p>Hadits yang agung ini menerangkan kepada kita:</p>
<ol>
<li>Peringatan akan bahaya berbicara tanpa landasan ilmu. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawabannya.&#8221; (QS. al-Israa&#8217; : 36). Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang artinya), &#8220;Hai umat manusia, makanlah sebagian yang ada di bumi ini yang halal dan baik, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya dia hanya akan menyuruh kalian kepada perbuatan dosa dan kekejian, dan agar kalian berkata-kata atas nama Allah dalam sesuatu yang tidak kalian ketahui ilmunya.&#8221; (QS. al-Baqarah : 168-169). Maka barangsiapa yang gemar berbicara mengatasnamakan agama tanpa ilmu, sesungguhnya dia adalah antek-antek Syaitan, bukan Hizbullah dan bukan pula pembela keadilan atau penegak Syari&#8217;at Islam!</li>
<li> Hadits ini menunjukkan pentingnya kejujuran dan mengandung peringatan dari bahaya kedustaan. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke surga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berjuang keras untuk senantiasa jujur maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang shiddiq. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu akan menyeret kepada kefajiran, dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.&#8221; (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu).</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan memperingatkan dari bahaya mengkhianati amanah. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat.&#8221; Lalu ada yang bertanya, &#8220;Bagaimana amanah itu disia-siakan?&#8221;. Maka beliau menjawab, &#8220;Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kiamatnya.&#8221; (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu). Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersabda, &#8220;Tidak lengkap iman pada diri orang yang tidak memiliki sifat amanah.&#8221; (HR. al-Baihaqi dalam Syu&#8217;abul Iman dari Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu, dihasankan al-Albani dalam Takhrij Misykat al-Mashabih [35] as-Syamilah)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa jalan keluar ketika menghadapi situasi kacau semacam itu adalah dengan kembali kepada ilmu dan ulama. Yang dimaksud ilmu adalah al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Dan yang dimaksud ulama adalah ahli ilmu yang mengikuti perjalanan Nabi dan para sahabat dalam hal ilmu, amal, dakwah, maupun jihad.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/awas-bahaya-ruwaibidhah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

