<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Doa</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/doa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (5)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 17:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2449</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.” (QS. Yusuf: 108) Dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>)</p>
<p><span id="more-2449"></span></p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika hendak mengutus Mu&#8217;adz ke Yaman bersabda kepadanya, <em>“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum Ahlil Kitab, hendaklah yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallaah.”</em> Dalam riwayat lain disebutkan, <em>“Supaya mereka mentauhidkan Allah.”</em> <em>“Kemudian, apabila mereka mematuhimu untuk itu maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam. Lalu apabila mereka telah mematuhimu untuk itu, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sedekah/zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan untuk orang-orang miskin di antara mereka. Lalu apabila mereka mematuhimu untuk itu, maka jauhilah harta-harta terbaik mereka dan berhati-hatilah dari doanya orang yang terzalimi; karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda pada peperangan Khaibar, <em>“Sungguh besok akan aku berikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan rasul-Nya. Melalui kedua tangannyalah Allah akan berikan kemenangan.”</em> Maka orang-orang pun memperbincangkan hal itu semalaman. Siapakah kira-kira yang akan mendapatkan bendera itu. Di pagi harinya mereka bergegas menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka semua ingin mendapatkan bendera itu. Beliau pun bersabda, <em>“Dimana Ali bin Abi Thalib?”</em>. Ada yang menjawab, <em>“Kedua matanya sedang sakit.”</em> Maka mereka pun mengutus orang untuk menjemputnya. Ketika dia sudah datang maka Nabi pun meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya. Setelah itu dia pun sembuh, seolah-olah sebelumnya dia tidak menderita sakit sama sekali. Kemudian Nabi memberikan bendera itu kepadanya. Beliau berpesan, <em>“Berangkatlah dengan tenang sampai kamu tiba di medan perang mereka. Kemudian ajaklah mereka untuk memeluk Islam. Sampaikan kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah ta&#8217;ala di dalam Islam. Demi Allah, apabila Allah memberikan petunjuk kepada seorang saja dengan perantara dirimu maka itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”</em> Mereka &#8216;memperbincangkan&#8217;, maksudnya &#8216;mendiskusikan&#8217; hal itu.</p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Dakwah -mengajak orang- kepada [agama] Allah merupakan jalan      pengikut Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Peringatan untuk senantiasa memperhatikan keikhlasan; karena      banyak orang yang berdakwah kepada kebenaran, akan tetapi sebenarnya dia      mengajak demi kepentingan dirinya sendiri</li>
<li><em>Bashirah</em>/ilmu -dalam dakwah-      merupakan sesuatu yang wajib dimiliki</li>
<li>Salah satu pertanda keindahan tauhid tatkala tauhid itu menjaga      kesucian Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari segala bentuk celaan</li>
<li>Salah satu bukti keburukan syirik adalah karena ia merupakan      bentuk celaan kepada Allah</li>
<li>Salah satu pelajaran terpenting, bahwa harus menjauhkan orang      muslim dari golongan orang-orang musyrik; agar dia tidak ikut menjadi      bagian dari mereka, meskipun dia tidak sampai berbuat kesyirikan</li>
<li>Tauhid merupakan kewajiban yang paling pertama</li>
<li>Tauhid lebih didahulukan dari segalanya, termasuk sholat      sekalipun</li>
<li>Makna &#8216;supaya mereka mentauhidkan Allah&#8217; sama dengan makna      syahadat laa ilaaha illallaah</li>
<li>Bisa jadi seorang termasuk kalangan orang yang memiliki suatu      kitab suci akan tetapi dia sendiri tidak memahami kitabnya, atau dia      mengetahui ajarannya akan tetapi tidak mengamalkannya</li>
<li>Perlu diperhatikan bahwa hendaknya bertahap dalam melakukan      pengajaran</li>
<li>Memulai sesuatu dengan yang terpenting sebelum yang lain</li>
<li>Sasaran pembagian zakat</li>
<li>Seorang yang berilmu menyingkap kerancuan (syubhat) yang ada      pada pelajar</li>
<li>Larangan memungut zakat dari jenis harta yang terbaik</li>
<li>Hendaknya menjauhi doanya orang yang terzalimi</li>
<li>Berita bahwa doa orang yang terzalimi itu tidak terhalang</li>
<li>Salah satu pertanda -beratnya perjuangan- tauhid adalah      kesusahan, kelaparan, dan musibah yang menimpa pemimpin para rasul dan      wali-wali Allah</li>
<li>Sabda beliau &#8216;Aku akan memberikan bendera ini&#8217; dst merupakan      salah satu tanda kenabian</li>
<li>Beliau meludahi kedua mata Ali, ini juga termasuk      tanda/mukjizat kenabian</li>
<li>Keutamaan Ali <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></li>
<li>Keutamaan para sahabat yang mendiskusikan hal itu semalaman      sampai-sampai mereka hampir tidak peduli dengan berita kemenangan perang</li>
<li>Iman kepada takdir, karena bendera itu diperoleh orang yang      tidak berupaya mendapatkannya sedangkan orang yang berupaya justru tidak      mendapatkannya</li>
<li>Hendaknya menjaga adab, sebagaimana disebutkan dalam hadits <em>&#8216;berangkatlah      dengan tenang&#8217;</em></li>
<li>Dakwah kepada Islam didahulukan sebelum perang</li>
<li>Hal itu [dakwah] disyariatkan bagi kaum yang telah didakwahi      sebelumnya dan diperangi</li>
<li>Berdakwah dengan hikmah, berdasarkan sabda beliau, <em>“Sampaikan      kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan.”</em></li>
<li>Mengetahui hak Allah yang harus ditunaikan di dalam Islam</li>
<li>Pahala -yang besar- bagi orang yang menjadi perantara orang      lain -walaupun hanya satu- sehingga mendapatkan hidayah</li>
<li>Bolehnya bersumpah tatkala berfatwa (bukan karena diminta      bersumpah)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (4)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 17:50:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2447</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Takut Terjerumus Syirik Allah &#8216;azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisaa&#8217;: 116) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-4.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-4.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Takut Terjerumus Syirik</strong></p>
<p>Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 116</strong>)</p>
<p><span id="more-2447"></span></p>
<p><em>al-Khalil</em> (Kekasih Allah, Ibrahim)<em> &#8216;alaihis salam</em> berkata (yang artinya), <em>“(Ya Allah) Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada berhala.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 35</strong>)</p>
<p>Di dalam sebuah hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”</em> Beliau pun ditanya apa maksudnya. Maka beliau menjawab, <em>“Riya&#8217;.”</em></p>
<p>Dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mati dalam keadaan berdoa kepada sesembahan selain Allah maka dia masuk Neraka.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim, dari Jabir, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya niscaya dia masuk Surga. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya niscaya dia akan masuk Neraka.”</em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Takut terjerumus syirik</li>
<li>Riya&#8217; termasuk syirik</li>
<li>Riya&#8217; itu termasuk syirik kecil</li>
<li>Syirik kecil ini sangat dikhawatirkan menimpa orang-orang salih</li>
<li>Dekatnya Surga dan Neraka</li>
<li>Penggabungan kedekatan jarak antara keduanya (Surga dan Neraka)      di dalam hadits yang sama</li>
<li>Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik      maka dia masuk Neraka, meskipun dia adalah orang yang paling rajin      beribadah</li>
<li>Perkara yang sangat agung yaitu permintaan/doa al-Khalil (Nabi      Ibrahim) demi keselamatan dirinya dan anak keturunannya agar terjaga dari      penyembahan kepada berhala</li>
<li>Ibrahim pun mempertimbangkan kondisi kebanyakan orang -yang      bisa mengancam keselamatan dirinya- sebagaimana disebutkan dalam doanya      (yang artinya), <em>“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah      menyesatkan banyak manusia.” </em>(<strong>QS. Ibrahim: 35</strong>)</li>
<li>Di dalamnya terkandung tafsiran laa ilaaha illallaah,      sebagaimana disebutkan oleh Bukhari</li>
<li>Keutamaan orang yang selamat dari syirik</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mohonlah Kepada-Nya&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 03:24:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wirid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2310</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada siapa pun di samping doamu kepada Allah.” (QS. al-Jin: 18) Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang berdoa kepada sesembahan yang lain &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmohonlah-kepada-nya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmohonlah-kepada-nya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada siapa pun di samping doamu kepada Allah.”</em> (<strong>QS. al-Jin: 18</strong>)</p>
<p><span id="more-2310"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan barangsiapa yang berdoa kepada sesembahan yang lain di samping doanya kepada Allah, yang jelas tidak ada bukti yang melandasinya, maka sesungguhnya hisabnya adalah di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kamu berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, mereka itu pasti akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>)</p>
<p>Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah berfirman; &#8216;Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku, dan Aku akan senantiasa bersama-Nya jika dia berdoa kepada-Ku.&#8217;.”</em> (<strong>HR. Bukhari [7405] dan Muslim [2675]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Rabb kita -tabaraka wa ta&#8217;ala- pada setiap malam turun ke langit terendah yaitu ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Allah mengatakan: Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta sesuatu kepada-Ku niscaya akan Aku beri, dan siapakah yang mau memohon ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.”</em> (<strong>HR. Muslim [758]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Musa <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah -&#8217;azza wa jalla- membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya.”</em> (<strong>HR. Muslim [2759]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya pada setiap malam ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim menepati waktu itu dalam keadaan memohon kepada Allah kebaikan dalam urusan dunia dan akhirat kecuali Allah pasti akan memberikan apa yang dia minta kepadanya, dan hal itu terjadi setiap malam.”</em> (<strong>HR. Muslim [757]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjenguk salah seorang di antara kaum muslimin yang menderita sakit hingga badannya menjadi sangat lemah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata, <em>“Apakah kamu pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah sebelum ini?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya. Dahulu aku pernah berdoa; Ya Allah, hukuman apa yang Kau tetapkan untukku di akhirat mohon Kau segerakan saja untukku di dunia ini [daripada nanti di akhirat, pent].&#8217;.”</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Subhanallah! Kamu tidak akan sanggup menanggungnya -atau kamu tidak akan mampu menerimanya-, mengapa kamu tidak berdoa; &#8216;Ya Allah, berikanlah kepadaku kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah aku dari siksa neraka.&#8217;?.”</em> Anas berkata: Lalu Nabi  mendoakan orang itu kemudian dia pun sembuh (<strong>HR. Muslim [2688]</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Amalan Harian Muslim Sejati</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 22:16:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim&#8230; Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri. Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-amalan-harian-muslim-sejati.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-amalan-harian-muslim-sejati.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Saudaraku</em>, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim&#8230; Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri.</p>
<p><span id="more-2207"></span></p>
<p>Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, amalan yang dicintai-Nya, amalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya, amalan yang akan menentramkan hatimu dimanapun kau berada, amalan yang akan menjadi tabunganmu menyambut hari esok setelah ditiupnya sangkakala dan hancurnya dunia beserta segenap isinya&#8230;</p>
<p>Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih di dalam surga-Nya&#8230;, <em>Allahumma amin</em>.</p>
<p><strong>[1] Perbanyaklah berdzikir kepada-Nya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 41</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.”</em> (<strong>QS. al-Munafiqun: 9</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah suatu kaum berkumpul seraya mengingat Allah, melainkan pasti malaikat akan menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang di sisi-Nya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>[2] Tetaplah berdoa kepada-Nya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” </em>(<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tiada suatu urusan yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.”</em> (<strong>HR. al-Hakim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah subhanah, maka Allah murka kepada dirinya.” </em>(<strong>HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Rabb kita tabaraka wa ta&#8217;ala setiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir turun ke langit terendah dan berfirman, &#8216;Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang mau meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)<em> </em></p>
<p><strong>[3] Mohon ampunlah kepada-Nya</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Allah akan menyiksa mereka sementara kamu berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka selalu beristighfar/meminta ampunan.” </em>(<strong>QS. al-Anfal: 33</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Allah, sesungguhnya aku setiap hari meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p><em>Saudaraku</em>,&#8230; perjalanan waktu menggiring kita semakin mendekati kematian&#8230; Oleh sebab itu marilah kita isi umur kita dengan dzikir, doa, dan taubat kepada-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya, diampuni oleh-Nya, dan mendapatkan rahmat dari-Nya&#8230;</p>
<p>Sumber:<br />
<em>Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a</em> karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentara Pun Bersujud Kepada-Nya</title>
		<link>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2010 11:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Pengungsi]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2144</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari ini, musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo kedatangan jama&#8217;ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara, prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi Merapi. Kehilangan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentara-pun-bersujud-kepada-nya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentara-pun-bersujud-kepada-nya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<div>
<p>Beberapa hari ini,  musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo  kedatangan jama&#8217;ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara,  prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk  membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi  Merapi. Kehilangan rumah, kehilangan harta, kehilangan sanak saudara,  kehilangan usaha, kehilangan ternak, bahkan kehilangan cita-cita&#8230;  Inilah mendung yang menggelayuti alam pikiran banyak pengungsi.</p>
<p><span id="more-2144"></span><em>&#8220;Saya mau pulang kemana?&#8221;</em>. <em>&#8220;Saya mau kerja apa?&#8221;</em>.<em> &#8220;Saya mau makan apa?&#8221;</em>. <em>&#8220;Anak saya bagaimana?&#8221;</em>.  Itulah sebagian tanda tanya besar yang merasuk dalam hati mereka,  mengusik pikiran dan terkadang harus memecahkan tangisan dan lelehan air  mata&#8230; Hanya Allah tempat kami meminta pertolongan dari segala  keburukan dan kesusahan yang terpampang di depan mata&#8230;  Oleh sebab itu  wajarlah apabila banyak sekali pihak yang menangkap kesedihan mereka  dan mewujudkannya dalam berbagai bentuk kepedulian dan bantuan. Dan para  tentara itu, saya rasa juga memiliki empati yanag dalam terhadap  penderitaan yang sedang dialami oleh saudara-saudara mereka. Tidak  tanggung-tanggung, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) hari ini datang ke  Maguwo meninjau kinerja anak buahnya dalam menjalankan tugas-tugas  mereka dalam program rehabilitasi dan recovery pasca bencana ini.  Sesuatu yang layak untuk dihargai dan mendapatkan perhatian dari  anak-anak negeri.</p>
<p>Tatkala waktu sholat Zhuhur tiba, mereka  pun berdatangan menghadiri sholat jama&#8217;ah dengan seragam mereka yang  khas, baju loreng dan sepatu tentara yang kemudian mereka lepas di depan  musholla. Mereka ganti sepatu itu dengan sandal jepit yang disediakan  di sana -yang bahkan kanan dan kirinya tidak serasi-, melangkah ke  tempat wudhu dan bersuci untuk menghadap Rabb langit dan bumi,  menunaikan kewajiban sholat 5 waktu, sesuatu yang lebih mereka cintai  daripada jabatan yang mereka miliki. Tak lama kemudian, mereka telah  larut dalam ibadah agung yang mencerminkan keimanan seorang mukmin di  hadapan Rabbnya. Sebuah ibadah -yang kalau dikerjakan dengan sepenuh  hati- tentu akan menahan diri pelakunya dari perbuatan keji dan  mungkar&#8230;</p>
<p>Selepas sholat dan berdzikir, mereka pun  beranjak pergi meninggalkan musholla ini. Namun, di tengah langkah  mereka datanglah sosok da&#8217;i sederhana yang menawarkan buletin dakwah  kepada mereka. Bukan itu saja yang ditawarkannya, akan tetapi buku ushul  tsalatsah (tiga landasan utama), hadits arba&#8217;in, panduan dzikir dan  doa, bahkan tak lupa beberapa butir korma dan air minum pun ditawarkan  olehnya. Sungguh, pemandangan yang menyejukkan sekaligus mencerminkan  kejernihan sikap seorang da&#8217;i. Bukan hanya pengungsi atau korban erupsi  merapi yang butuh dakwah, bahkan bapak-bapak tentara ini pun semestinya  diperhatikan. Jangan sia-siakan kesempatan ini&#8230; <em>&#8220;Sungguh, apabila Allah menunjuki seorang saja dengan perantara dirimu, itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.&#8221;</em></p>
<p>Melalui  kepedulian semacam inilah, disertai kesadaran yang tertancap kuat di  dalam hati, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, keinginan yang kuat  untuk membantu sesama, segala beban berat dan penderitaan para pengungsi  dan korban erupsi -dengan izin Allah- akan sedikit demi sedikit  terkurangi. Apalagi mereka adalah saudara kita, yang bersujud kepada  Rabb yang sama, mengikuti Nabi yang sama, dan memegang teguh agama yang  sama. Walaupun dalam beberapa perkara mereka tergelincir -itupun karena  ketidakpahaman mereka-, namun mereka adalah saudara kita, yang  barangkali hati mereka jauh lebih bersih daripada hati kita, mereka  lebih sabar dan ikhlas daripada kita, bahkan mungkin lebih banyak  perjuangan dan pengorbanannya untuk membela agama&#8230;</p>
<p>Oleh  sebab itulah, kepedulian kita kepada mereka merupakan konsekuensi dari  perasaan cinta karena Allah (baca: aqidah) yang tertanam dalam hati  setiap mukmin. <em>Laa yu&#8217;minu ahadukum hatta yuhibba li akihi maa yuhibbu li nafsihi</em>, <em>&#8220;Tidak  sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai dia menyukai  kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia sukai bagi dirinya  sendiri.&#8221;</em></p>
<p>Sekarang, marilah kita bertanya sejauh mana bukti kesempurnaan iman itu ada dan tertancap di dalam hati kita? <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. </em></p>
<p>Yogyakarta, 8 Muharram 1432 H/ 14 Desember 2010</p>
<p>Bantuan dapat disalurkan ke:</p>
<p><strong>Rekening BNI UGM Yogyakarta </strong><strong> </strong><br />
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti</p>
<p><strong>Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta</strong><br />
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro</p>
<p><strong>Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705</strong><br />
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro</p>
<p><strong>Rekening BCA</strong><br />
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi</p>
<p>Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri    kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:<br />
<strong>Nama</strong><strong>/Alamat</strong><strong>/TanggalKirim</strong><strong>/JumlahUang</strong><strong>/RekeningTujuan</strong><strong>/Merapi</strong></p>
<p>Ke nomor :<br />
<strong>0852</strong><strong> 5205</strong><strong> 2345</strong> (Wiwit Hardi P.)<br />
atau<br />
<strong>0856</strong><strong> 4305</strong><strong> 2159</strong> (Nizamul Adli)</p>
<p>YM: ypiapeduli@yahoo.com</p>
<p>Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan <em>jazaakumullahu    khairaa</em>n.</p>
<p>Laporan Pemasukan per 12 Desember 2010<br />
<a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html" target="_blank">http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html</a></p>
<p>Profesor Simon Pimpin Rapat Rehabilitasi Masjid Pasca Bencana<br />
<a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html" target="_blank">http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html</a></p>
<p>Susunan Tim Rehabilitasi<br />
<a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html" target="_blank">http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Membaca &#8216;Amin&#8217;?</title>
		<link>http://abumushlih.com/kapan-membaca-amin.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kapan-membaca-amin.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 02:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2133</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Apabila dia ruku’ maka ruku’lah kalian, dan apabila dia sujud maka sujudlah kalian. dan apabila dia membaca ‘amin’ maka bacalah amin.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lalu apakah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kapan-membaca-amin.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkapan-membaca-amin.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkapan-membaca-amin.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya  imam itu diangkat untuk diikuti. Apabila dia ruku’ maka ruku’lah  kalian, dan apabila dia sujud maka sujudlah kalian. dan apabila dia  membaca ‘amin’ maka bacalah amin.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Lalu apakah makna sabda Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Apabila dia membaca amin, maka bacalah amin.”</em>?</p>
<p><span id="more-2133"></span></p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Maknanya  adalah apabila dia (imam) sudah mulai membaca amin, atau apabila dia  telah sampai tempat bacaan amin maka bacalah amin, sebab terdapat  riwayat yang sah dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah -<em>radhiyallahu’anhu</em>-, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa makna sabda beliau <em>‘apabila dia membaca amin’</em> yaitu apabila dia telah selesai membaca amin, akan tetapi bukan seperti  itu yang benar. Namun, maksudnya adalah apabila dia sudah sampai tempat  bacaan amin, maka bacalah amin oleh kalian. Hadits Abu Hurairah di  dalam Shahih Muslim menjelaskan hal itu, <em>“Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.’.”</em></p>
<p>(Ibnu Utsaimin –<em>rahimahullah</em>-)</p>
<p>Diterjemahkan dari:<br />
<em>Fatawa Tata’allaqu Bi Syarhi Ba’dhil Ahadits</em>,<br />
Penyusun Dakhilullah bin Bakhit,<br />
Penerbit Dar Ibnu Khuzaimah<br />
Cet ke-1 1422 H.<br />
Halaman 19-20</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kapan-membaca-amin.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalani Hidupmu Seperti Yang Diperintahkan Rabbmu</title>
		<link>http://abumushlih.com/jalani-hidupmu-seperti-yang-diperintahkan-rabbmu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jalani-hidupmu-seperti-yang-diperintahkan-rabbmu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 06:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2125</guid>
		<description><![CDATA[Hidup Bukan Sebuah Kesia-siaan Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha tinggi Allah Raja Yang Maha benar. Tiada sesembahan -yang benar- kecuali Dia, Rabb Yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jalani-hidupmu-seperti-yang-diperintahkan-rabbmu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjalani-hidupmu-seperti-yang-diperintahkan-rabbmu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjalani-hidupmu-seperti-yang-diperintahkan-rabbmu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hidup Bukan Sebuah Kesia-siaan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha tinggi Allah Raja Yang Maha benar. Tiada sesembahan -yang benar- kecuali Dia, Rabb Yang memiliki Arsy yang mulia.”</em> (<strong>QS. al-Mu&#8217;minun: 115-116</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya ini untuk kesia-siaan. Itu adalah persangkaan orang-orang kafir saja, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk ke dalam neraka.”</em> (<strong>QS. Shaad: 27</strong>)</p>
<p><em> </em></p>
<p><span id="more-2125"></span><strong>Untuk Apa Kita Hidup?</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah;  Sesungguhnya sholat dan sembelihanku, hidup dan matiku, adalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang yang pertama-tama pasrah.” </em>(<strong>QS. al-An&#8217;am: 162-163</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.”</em> (<strong>QS. al-Mulk: 2</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya, dalam keadaan mentauhidkan-Nya, agar mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan itulah agama yang lurus.” </em>(<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>)</p>
<p><strong>Apa Balasan Bagi Orang Yang Taat Beribadah?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan meraih keberuntungan yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 71</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang beramal salih dari kalangan lelaki ataupun perempuan sedangkan dia beriman, niscaya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan Kami sempurnakan balasan untuk mereka dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang telah mereka lakukan.” </em>(<strong>QS. an-Nahl: 97</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan bagi mereka adalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah balasan bagi orang-orang yang takut kepada Rabbnya.” </em>(<strong>QS. al-Bayyinah: 7-8</strong>)</p>
<p><strong>Apakah Kita Wajib Beragama Islam?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya agama yang sah di sisi Allah hanyalah Islam.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 19</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan kelak di akherat dia pasti menjadi termasuk orang-orang yang merugi.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah beragama Yahudi atau Nasrani lalu dia meninggal dalam keadaan tidak mau beriman terhadap ajaranku, niscaya dia termasuk golongan penghuni neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 102</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberikan al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum yang ummi/buta huruf (yaitu orang-orang musyrik); &#8216;Apakah kalian mau masuk Islam?&#8217;. Apabila mereka masuk Islam, sungguh mereka mendapatkan petunjuk, dan apabila mereka justru berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha melihat semua hamba.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 20</strong>).</p>
<p><strong>Bagaimana Beribadah Kepada Allah?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaknya dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman; Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. al-Mukmin: 16</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Di antara manusia ada yang mengangkat selain Allah sebagai sekutu-sekutu, mereka mencintainya sebagaimana cintanya kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 165</strong>).</p>
<p><strong>Bolehkah Kita Berdoa Kepada Selain Allah?</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada sesuatu yang lain bersama Allah siapapun juga.”</em> (<strong>QS. al-Jin: 18</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berdoa kepada suatu sesembahan yang lain bersama Allah yang jelas tidak ada keterangan atasnya maka sesungguhnya perhitungan atasnya ada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak memperoleh keberuntungan.” </em>(<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Intisari ibadah itu adalah doa.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi dan lain-lain</strong>). Karena doa adalah ibadah maka tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Barangsiapa menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia telah melakukan dosa syirik dan kekafiran, yang pelakunya diancam kekal di dalam neraka, <em>na&#8217;udzu billahi min dzalik! </em></p>
<p><strong>Apa Akibat Dosa Syirik?</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan masih akan mengampuni dosa-dosa yang lain di bawahnya bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah haramkan atasnya surga dan tempat kembalinya kelak adalah neraka, dan sama sekali tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim itu.” </em>(<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 72</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang kafir yaitu dari kalangan ahli kitab dan orang musyrik akan menempati neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” </em>(<strong>QS. al-Bayyinah: 6</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Apa Saja Keutamaan Tauhid?</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dan dia menghasankannya).</p>
<p><strong>Kepada Siapa Kita Mencontoh?</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 80</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri rasulullah suri teladan yang baik, bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 21</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun pasti ridha kepada-Nya, dan Allah telah persiapkan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, itulah keberuntungan yang sangat-sangat besar.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 100</strong>)</p>
<p><strong>Apakah Nabi Muhammad Nabi Terakhir?</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, akan tetapi dia adalah seorang utusan Allah dan penutup nabi-nabi.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 40</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda, <em>“&#8230;Dahulu para nabi itu diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada segenap umat manusia.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).  Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda, <em>“Perumpamaan diriku dengan para nabi seperti perumpamaan seorang lelaki yang membangun sebuah rumah lalu dia berusaha menyempurnakan dan melengkapinya kecuali tersisa satu tempat yang belum terisi batu-bata. Maka orang-orang pun mulai memasukinya dan terkagum-kagum terhadapnya, namun mereka berkata, &#8216;Seandainya satu tempat batu-bata ini terisi sungguh sempurna!&#8217;.” </em>Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akulah yang menempati tempat batu-bata itu, aku datang lalu menutup nabi-nabi.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Apakah Kita Boleh Menyelisihi Ajaran Nabi?</strong></p>
<p>Allah<em> ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan/tuntunan rasul itu, karena mereka akan tertimpa bencana atau siksaan yang sangat pedih.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 63</strong>). Allah<em> ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas petunjuk baginya dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, maka Kami akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesesatan yang dipilihnya, dan kelak Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 115</strong>). Allah<em> ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidak layak bagi seorang mukmin lelaki dan perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali yang enggan.”&#8230; “Barangsiapa yang taat kepadaku niscaya masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dialah orang yang enggan.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jalani-hidupmu-seperti-yang-diperintahkan-rabbmu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanya Kepada-Mu Kami Berlindung</title>
		<link>http://abumushlih.com/hanya-kepada-mu-kami-berlindung.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/hanya-kepada-mu-kami-berlindung.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 19:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Isti'adzah]]></category>
		<category><![CDATA[Isti'anah]]></category>
		<category><![CDATA[Istighotsah]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2105</guid>
		<description><![CDATA[Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan. Sebab hanya Allah satu-satunya tempat berlindung, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan. Allah, Rabb yang menguasai segenap langit dan bumi, tidak ada satupun makhluk yang luput dari kekuasaan dan ilmu-Nya. Segala &#8230; <a href="http://abumushlih.com/hanya-kepada-mu-kami-berlindung.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhanya-kepada-mu-kami-berlindung.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhanya-kepada-mu-kami-berlindung.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan  ditelantarkan. Sebab hanya Allah satu-satunya tempat berlindung, meminta  keselamatan, dan tumpuan harapan. Allah, Rabb yang menguasai segenap  langit dan bumi, tidak ada satupun makhluk yang luput dari kekuasaan dan  ilmu-Nya. Segala manfaat dan madharat berada di tangan-Nya. Maka  sungguh mengherankan apabila manusia yang lemah bersandar kepada sesama  makhluk yang lemah pula, mengapa dia tidak menyandarkan urusannya kepada  Allah <em>ta&#8217;ala </em>yang maha kuasa<em> </em>?</p>
<p><span id="more-2105"></span></p>
<p>Bukankah setiap hari, di setiap kali sholat, bahkan dalam setiap raka&#8217;at sholat kita selalu membaca ayat yang mulia,<em> &#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217;</em>;  hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami  meminta pertolongan&#8230; Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat  menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan  selain-Nya. Kepada Allah lah kita serahkan seluruh urusan kita&#8230; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.”</em> (<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong>).  Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menggantungkan hati  semata-mata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Tawakal adalah  ibadah. Barangsiapa menujukan ibadah itu kepada selain Allah maka dia  telah melakukan kemusyrikan (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 256)</p>
<p>Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi kebutuhannya. Allah<em> ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia pasti akan mencukupinya&#8230;”</em> (<strong>QS. ath-Thalaq: 3</strong>).  Ayat yang agung ini menunjukkan bahwasanya tawakal merupakan salah satu  sebab utama untuk bisa mendapatkan kemanfaatan maupun menolak  kemadharatan. Tawakal adalah kewajiban dan ibadah. Barangsiapa yang  menujukan ibadah ini kepada selain Allah maka dia telah berbuat  kemusyrikan (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 260)</p>
<p>Salah  satu bentuk perbuatan bergantung kepada selain Allah adalah dengan  meminta perlindungan dan keselamatan hidup kepada selain Allah, entah  itu jin, penghuni kubur ataupun yang lainnya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Janganlah  kamu menyeru kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak menjamin  manfaat maupun madharat kepadamu, apabila kamu tetap melakukannya  niscaya kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim.”</em> (<strong>QS. Yunus: 106</strong>).  Mendatangkan manfaat dan menolak madharat adalah kekhususan yang  dimiliki Allah. Barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah dan dia  meyakini bahwasanya yang dia seru itu menguasai kemanfaatan dan  kemadharatan sebagai sekutu bagi Allah, maka sesungguhnya dia telah  berbuat kemusyrikan (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 104)</p>
<p>Allah<em> ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan  apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa  menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu  maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan  musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha  Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (<strong>QS. Yunus: 107</strong>). Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa menyingkap keburukan/bahaya dan mendatangkan manfaat merupakan kekhususan Allah <em>&#8216;azza wa jalla.</em> Barangsiapa yang mencari hal itu dari selain Allah sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 105)</p>
<p>Ini  semua menunjukkan kepada kita bahwa kesempurnaan iman dan tauhid  seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan hatinya kepada  Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan tempat  berlindung selain-Nya. Kalau Allah yang menguasai hidup dan mati kita,  lalu mengapa kita gantungkan hati kita kepada jin dan benda-benda mati  yang tidak menguasai apa-apa?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/hanya-kepada-mu-kami-berlindung.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelezatan Ubudiyah di Bulan Penuh Berkah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 04:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1921</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya keimanan, orang yang merasa ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu&#8217;anhu) Bulan Ramadhan adalah musim kebaikan, tatkala pintu-pintu surga &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan lezatnya keimanan, orang yang merasa ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari al-Abbas bin Abdul Muthallib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><span id="more-1921"></span></p>
<p>Bulan Ramadhan adalah musim kebaikan, tatkala pintu-pintu surga dibuka dan semua pintu neraka ditutup. Di bulan ini Allah mewajibkan <em>shaum</em> atau <em>shiyam</em> Ramadhan. Sebuah ibadah yang sangat dicintai oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Dengan menjalani puasa selama sebulan ini seorang hamba dididik untuk mengendalikan dirinya, meninggalkan hal-hal yang disukai oleh nafsunya demi menggapai kecintaan dan keridhaan Rabbnya. Sebuah bentuk ibadah yang mencakup tiga sisi kesabaran; sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menerima takdir yang terasa menyakitkan. Dengan menahan lapar dan dahaga, semenjak terbit fajar di pagi buta hingga terbenamnya matahari di kala senja.</p>
<p>Dengan berpuasa Ramadhan, maka seorang hamba berupaya menegakkan agamanya, melengkapi keimanannya, menggapai ampunan dan pahala dari Tuhannya, dan menempa diri untuk menjadi pribadi yang bertakwa; pribadi yang patuh kepada Rabbnya. Disamping itu, ternyata pada bulan Ramadhan masih terdapat ibadah-ibadah lainnya yang tidak khusus diperintahkan pada bulan ini saja, namun ia bersifat umum -di bulan apa pun- selama seorang hamba masih diberi usia dan mampu untuk menjalankannya.</p>
<p><strong>Berpuasa, berarti menunaikan tugas hidup kita</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Puasa adalah ibadah yang kita diperintahkan untuk menunaikannya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian mudah-mudahan kalian menjadi orang yang bertakwa.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 183</strong>)</p>
<p><strong>Puasa, ibadah yang sangat dicintai-Nya</strong></p>
<p>Puasa Ramadhan adalah ibadah yang wajib ditunaikan, sedangkan ibadah yang wajib lebih dicintai daripada ibadah sunnah, apalagi puasa Ramadhan merupakan rukun Islam. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman dalam hadits qudsi, <em>“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu ibadah yang lebih Aku cintai daripada ibadah yang Aku wajibkan kepadanya&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima pilar; syahadat bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>)</p>
<p><strong>Puasa, sebuah ketetapan yang harus diterima</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah pantas bagi seorang yang beriman lelaki atau perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas ada bagi mereka alternatif yang lainnya. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>).</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Puasa, dapat menggugurkan dosa</strong></p>
<p>Manusia bergelimang dengan salah dan dosa, maka berkat rahmat dari-Nya Allah menjadikan ibadah yang agung ini sebagai salah satu sebab penghapusan dosa, namun hal ini khusus diberikan kepada hamba-Nya yang ikhlas dan mengikuti tuntunan dalam menjalankannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena dorongan iman dan mencari pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Shalat lima waktu, jum&#8217;at yang satu menuju jum&#8217;at yang lain, Ramadhan yang satu menuju Ramadhan yang lain, merupakan penghapus dosa yang terjadi di antaranya, selama perbuatan dosa-dosa besar dijauhi.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Puasa, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Puasa itu bukan sekedar menahan dari makan dan minum, akan tetapi puasa yang sebenarnya ialah dengan menahan diri dari kesia-siaan dan perbuatan kotor.”</em> (<strong>HR. Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim</strong>, sanadnya sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Betapa banyak orang yang berpuasa namun yang didapatkannya hanyalah lapar dan dahaga.”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad, al-Baihaqi</strong>, sanadnya sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda mengenai ihsan, <em>“Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak sanggup -beribadah seolah-olah- melihat-Nya maka sesungguhnya Dia maha melihat dirimu.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Harus ikhlas dan sesuai tuntunan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seluruh amalan dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang diniatkannya. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Namun, barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, niscaya hijrahnya hanya akan memperoleh apa yang diniatkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang membuat-buat dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, niscaya hal itu tertolak.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>)</p>
<p><strong>Berpuasa dan berhari raya dengan patokan hilal</strong></p>
<p>Hilal adalah bulan sabit kecil yang tampak di awal bulan hijriyah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Berpuasalah karena melihatnya -hilal- dan berhari rayalah karena melihatnya. Apabila ia -hilal Ramadhan- tertutup mendung maka genapkanlah bulan -sebelumnya, yaitu Sya&#8217;ban- menjadi tiga puluh hari.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Apabila hilal sudah tampak dengan persaksian minimal satu orang kemudian diterima dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang di suatu negara, maka saat itulah kaum muslimin memulai puasa. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Puasa ialah tatkala kalian bersama-sama puasa, demikian juga hari raya ialah ketika kalian bersama-sama berhari raya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, sahih). Adapun untuk penetapan hari raya dibutuhkan minimal dua saksi.</p>
<p><strong>Tidak berpuasa di hari yang diragukan</strong></p>
<p>Hari yang diragukan adalah tanggal tiga puluh bulan Sya&#8217;ban, dan terkadang ketika itu sudah tersebar berita tampaknya hilal di sebagian tempat namun belum ditetapkan oleh pihak yang berwenang bahwa  hari tersebut adalah awal puasa. Maka berpuasa pada hari itu adalah terlarang. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan itu maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim -yaitu Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-.”</em> (<strong>HR. As-habus Sunan</strong> dengan <em>sanad sahih</em> dan <strong>Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dari &#8216;Ammar bin Yasir <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>).</p>
<p><strong>Musafir dan orang sakit</strong></p>
<p>Apabila orang sakit -yang masih bisa diharapkan kesembuhannya- dan musafir tidak mendapati kesusahan dengan berpuasa maka puasa lebih utama, namun apabila ternyata dengan puasa justru semakin menyusahkan maka tidak puasa lebih utama. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa di antara kalian yang menderita sakit atau sedang menempuh perjalanan/safar hendaknya dia menggantinya di hari-hari yang lain.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 184</strong>). Suatu ketika Hamzah bin Amr al-Aslami pernah bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengenai hukum puasa ketika safar, maka beliau menjawab, <em>“Kalau kamu mau silahkan puasa, dan kalau kamu mau maka silahkan berbuka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>). Berbuka ketika safar adalah keringanan/<em>rukhshah</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya hal itu adalah keringanan dari Allah, barangsiapa yang mengambilnya maka itu baik, dan barangsiapa yang ingin untuk berpuasa maka tidak ada dosa atasnya.” </em>(<strong>HR. Muslim</strong> dari Hamzah bin Amr al-Aslami <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Puasa boleh saja selama hal itu tidak memberatkan si musafir. Karena apabila justru memberatkan maka semestinya dia berbuka. Oleh sebab itu di kesempatan yang lain Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah bersabda, <em>“Bukan termasuk kebaikan berpuasa ketika safar.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Jabir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>).</p>
<p><strong>Perempuan haidh dan nifas</strong></p>
<p>Apabila seorang perempuan mendapati haidh atau nifas pada suatu waktu dalam suatu hari, entah di awal siang atau di akhirnya maka dia harus berbuka -tidak meneruskan puasa- dan mengganti puasa di hari yang lain. Seandainya dia tetap berpuasa, maka puasanya tidak sah. Mu&#8217;adzah pernah bertanya kepada Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>, <em>“Mengapa perempuan haidh mengqadha&#8217; puasa namun tidak mengqadha&#8217; sholat?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Apakah kamu penganut Haruriyah (Khawarij)?!”</em>. Aku berkata, <em>“Bukan, aku hanya ingin bertanya.”</em> Maka beliau berkata, <em>“Dahulu kami mengalami hal itu dan kami hanya diperintahkan untuk mengqadha&#8217; puasa namun kami tidak diperintahkan mengqadha&#8217; sholat.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Ibu hamil dan menyusui</strong></p>
<p>Ibu hamil dan menyusui apabila tidak sanggup/tidak kuat berpuasa atau mengkhawatirkan kesehatan bayi atau janinnya maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah berupa makanan yang cukup mengenyangkan untuk satu orang miskin sebagai ganti setiap hari yang ditinggalkannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla menggugurkan kewajiban puasa dan separuh sholat bagi musafir, dan juga menggugurkan kewajiban puasa bagi ibu hamil dan menyusui.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa&#8217;i, Ibnu Majah</strong>, dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, hasan). Suatu ketika, Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> ditanya mengenai ibu hamil yang mengkhawatirkan kondisi janinnya jika dia tetap berpuasa, maka beliau menjawab, <em>“Hendaknya dia berbuka dan memberi makan (fidyah) kepada orang miskin setiap harinya sebanyak satu mud gandum.”</em> (<strong>HR. al-Baihaqi</strong> dengan sanad sahih). Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> juga berkata, <em>“Ibu hamil dan menyusui berbuka dan tidak perlu mengqadha&#8217;.”</em> (<strong>HR. ad-Daruquthni</strong>, sahih)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kakek-kakek dan nenek-nenek </strong></p>
<p>Kakek-kakek dan nenek-nenek atau orang yang menderita sakit parah dan sulit diharapkan sembuh maka tidak perlu puasa dan cukup memberikan makan bagi satu orang miskin sebagai ganti setiap hari puasa yang ditinggalkannya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagi orang-orang yang tidak mampu melakukan puasa itu hendaknya membayar fidyah berupa makanan bagi orang miskin.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 184</strong>). Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Ayat ini tidak dihapus hukumnya, akan tetapi ia masih berlaku bagi lelaki dan perempuan yang sudah tua renta dan tidak mampu lagi berpuasa sehingga mereka hanya perlu memberikan makan untuk satu orang miskin demi mengganti setiap hari yang ditinggalkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p><strong>Anak kecil dan orang gila</strong></p>
<p>Kewajiban puasa ini pun gugur bagi anak kecil yang belum baligh ataupun orang gila. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pena diangkat dari tiga golongan; dari orang gila sampai dia sembuh, dari orang yang tertidur sampai dia bangun, dan dari anak kecil sampai dia ihtilam/mimpi basah.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong>, sahih dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>)</p>
<p><strong>Pembatal puasa</strong></p>
<p>Makan, minum, muntah, dan berhubungan suami istri secara sengaja membatalkan puasa. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang lupa padahal dia sedang puasa kemudian makan dan minum maka hendaknya dia menyempurnakan puasanya, karena Allah lah yang memberi makan dan minum kepadanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Dalam lafal yang lain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang membatalkan puasa pada suatu hari di bulan Ramadhan dalam keadaan lupa maka tidak ada qadha&#8217; baginya dan tidak pula kaffarah/tebusan.”</em> (<strong>HR. ad-Daruquthni, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim</strong>, sanadnya sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang muntah secara tidak sengaja maka tidak ada qadha&#8217; baginya, namun barangsiapa yang secara sengaja muntah maka hendaknya dia mengqadha&#8217;/menggantinya di hari yang lain.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni</strong> sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kaffarah berhubungan suami istri</strong></p>
<p>Apabila seorang lelaki dengan sengaja melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan maka dia wajib membayar <em>kaffarah</em>/tebusan dengan ketentuan sebagaimana dalam hadits berikut. Dikisahkan oleh Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan melapor, <em>“Wahai Rasulullah, aku binasa.”</em> Beliau berkata, <em>“Apa yang membuatmu binasa?”</em>. Dia menjawab, <em>“Aku telah berhubungan dengan istriku di -siang hari- bulan Ramadhan.”</em> Maka Nabi mengatakan, <em>“Apakah kamu mampu untuk memerdekakan seorang budak.”</em> Dia menjawab, <em>“Tidak.”</em> Lalu beliau berkata, <em>“Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”</em>. Maka dia menjawab, <em>“Tidak.”</em> Lalu beliau berkata, <em>“Apakah kamu mampu memberikan makanan untuk enam puluh orang miskin?”</em>. Dia menjawab, <em>“Tidak.”</em> Lantas beliau berkata,<em> “Duduklah.”</em> Kemudian dia duduk. Lalu setelah itu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mendapat pemberian sekeranjang kurma. Kemudian Nabi bersabda, <em>“Bersedekahlah dengannya!”</em>. Maka lelaki itu menjawab, <em>“Tidak ada orang di antara kedua lembah ini yang lebih miskin daripada kami.”</em> Maka Nabi pun tertawa sampai tampak gigi taringnya, lalu beliau bersabda, <em>“Ambil ini, dan beri makan keluargamu dengannya.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bertekad puasa di malam harinya</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak membulatkan tekad untuk berpuasa sebelum fajar/subuh maka tiada puasa baginya.”</em> (<strong>HR. As-habus Sunan, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban</strong>, sanadnya sahih). Sementara, tekad atau niat itu tempatnya di dalam hati, sehingga tidak perlu diucapkan. Seandainya apa yang diucapkan menyelisihi apa yang di dalam hati, maka yang menjadi patokan adalah apa yang di dalam hati. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mengajarkan untuk mengucapkan niat maka kita pun tidak usah mengucapkannya. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sedangkan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan di dalam urusan agama.</p>
<p><strong>Jauhilah penyimpangan!</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintah/urusan rasul itu, sebab mereka nanti akan tertimpa fitnah/bencana atau menimpa mereka azab yang sangat pedih.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 63</strong>). Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang menciptakan suatu bid&#8217;ah yang dia pandang sebagai kebaikan, maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- telah mengkhianati risalah&#8230;”</em></p>
<p><strong>Menuai berkah dengan makan sahur</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Makan sahurlah, karena sesungguhnya di dalam santap sahur itu terkandung berkah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pemisah antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik hidangan sahur seorang mukmin adalah kurma.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Baihaqi</strong> dengan sanad sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Makan sahurlah, meskipun hanya dengan seteguk air.”</em> (<strong>HR. Abu Ya&#8217;la</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, hasan)</p>
<p><strong>Mengakhirkan sahur</strong></p>
<p>Hendaknya menunaikan sahur beberapa saat menjelang adzan dikumandangkan. Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dia berkata, <em>“Dahulu kami pernah sahur bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kemudian setelah itu beliau pun bangkit menuju sholat -Subuh berjama&#8217;ah, pent-.”</em> Aku -Anas- berkata, <em>“Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?”</em>. Dia (Zaid) menjawab, <em>“Sekitar -lamanya waktu membaca- lima puluh ayat.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Batas akhir santap sahur</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Silahkan makan dan minum sampai jelas bagimu perbedaan antara benang putih dengan benang hitam, yaitu terbitnya fajar.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 187</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menafsirkan, <em>“Yang dimaksud dengannya adalah hitamnya malam dan putihnya siang.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Adi bin Hatim <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Fajar itu ada dua. Adapun yang pertama, maka ia tidak menyebabkan tidak bolehnya makan (sahur) dan tidak menyebabkan bolehnya sholat (subuh). Sedangkan yang kedua menyebabkan tidak boleh lagi makan (sahur) dan membolehkan sholat (subuh).”</em> (<strong>HR. Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi</strong>, sanadnya sahih dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila salah seorang dari kalian sudah mendengar adzan sementara bejana (gelas atau sendok, pent) masih di tangannya maka janganlah dia letakkan sampai dia selesai menunaikan kebutuhannya dari bejana tersebut.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Ibnu Jarir, al-Hakim, al-Baihaqi, Ahmad</strong> dengan <em>sanad hasan</em> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Dalil-dalil ini menunjukkan dengan jelas bahwa batas akhir makan sahur adalah pada saat berkumandangnya adzan, yaitu ketika terbit fajar shodiq, bukan sepuluh menit sebelum adzan!</p>
<p><strong>Dua raka&#8217;at qabliyah subuh</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dua raka&#8217;at fajar -yaitu sebelum subuh, pent- adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak sempat melakukan sholat dua raka&#8217;at fajar maka hendaknya dia menunaikannya setelah matahari terbit.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban</strong>, sahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menceritakan, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam biasanya membaca dalam dua raka&#8217;at fajar (qabliyah subuh) &#8216;Qul yaa ayyuhal kafirun&#8217; dan &#8216;Qul huwallahu ahad&#8217;.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Sholat subuh berjama&#8217;ah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sholat yang paling berat bagi kaum munafikin adalah sholat &#8216;isyak dan subuh -berjama&#8217;ah-, seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun harus sambil merangkak.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mendengar seruan adzan lantas tidak mendatanginya -sholat jama&#8217;ah- maka tiada sholat baginya, kecuali karena ada udzur yang menghalanginya.”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi</strong>, sahih dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian larang istri-istri kalian untuk berangkat ke masjid, namun sebenarnya rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka -untuk sholat di sana, pent-.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Ahmad</strong>, sahih dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>).</p>
<p><strong>Luruskan shof!</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Luruskan shof-shof kalian, sesungguhnya lurusnya shof adalah bagian dari kesempurnaan sholat.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Dzikir setelah subuh</strong></p>
<p>Ummu Salamah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> menceritakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>biasa mengucapkan doa setelah salam dari menunaikan sholat Subuh, <em>&#8216;Allahumma inni as&#8217;aluka &#8216;ilman nafi&#8217;an wa rizqan thayyiban wa &#8216;amalan mutabbalan&#8217; (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amal yang diterima)</em> (<strong>HR. Ibnu Majah dan Ahmad</strong>, sahih)</p>
<p><strong>Manfaatkan waktu sebaik mungkin</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi waktu, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua buah nikmat yang banyak orang tertipu dalam menyikapinya; yaitu kesehatan dan waktu luang.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Perbanyak dzikir</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku serta janganlah kalian kufur/ingkar.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 41-42</strong>). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan, maka apakah yang terjadi pada seekor ikan tatkala ia dipisahkan dari air?”</em></p>
<p><strong>Jangan tinggalkan sholat!</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Jabir bin Abdullah <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah sholat, barangsiapa yang meninggalkannya sungguh dia telah kafir.”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, Nasa&#8217;i, Tirmidzi</strong>, sahih dari Buraidah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jaga lisan dan anggota badan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata baik atau diam saja.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Salah satu ciri kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, hasan). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila pada suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah dia berkata-kata kotor, berteriak-teriak ataupun betindak dungu. Kalaupun ada orang yang mencaci-maki dirinya hendaklah dia katakan kepadanya; Saya ini sedang puasa.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Tetap jaga pandangan!</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawabannya.”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;: 36</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah kepada para lelaki yang beriman; Hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka serta menjaga kemaluan mereka, hal itu pasti lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha teliti terhadap apa pun yang mereka lakukan.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 30</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman kepada kaum perempuan (yang artinya), <em>“Hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berdandan -mengumbar aurat, pent- seperti halnya cara dandan kaum jahiliyah yang pertama&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 33</strong>)</p>
<p><strong>Jauhi musik dan nyanyian!</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya akan ada di antara umatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr, dan ma&#8217;azif (alat-alat musik).”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em> dengan nada tegas, sahih dari Abu Amir atau Abu Malik al-Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Saatnya untuk menghentikan rokok</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia menyukai bagi saudaranya apa (kebaikan) yang disukainya bagi dirinya sendiri.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak boleh mendatangkan bahaya, secara sengaja ataupun tidak sengaja.”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, ad-Daruquthni</strong>, sahih dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Jangan pelit!</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Tidaklah seorang hamba memaafkan melainkan Allah akan tambahkan kemuliaan baginya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap tawadhu&#8217;/rendah hati melainkan pasti akan ditinggikan kedudukannya oleh Allah ta&#8217;ala.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Segera<em> </em>berbuka jika sudah tiba saatnya</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang-orang -umat Islam- akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka senantiasa menyegerakan berbuka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila malam telah datang dari arah sana dan siang telah pergi dari arah sana dan matahari pun sudah tenggelam maka orang yang berpuasa sudah -boleh- berbuka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Doa sebelum berbuka</strong></p>
<p>Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> menceritakan bahwa, <em>“Dahulu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam apabila hendak berbuka maka beliau membaca doa, &#8216;Dzahabadh dhama&#8217;u wabtallatil &#8216;uruqu wa tsabatal ajru insya Allah&#8217; (akan hilang dahaga, terbasahi kerongkongan, dan pahala pun didapatkan dengan izin Allah).”</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong>, hasan)</p>
<p><strong>Makan dengan tangan kanan</strong></p>
<p>Umar bin Abu Salamah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata: Dahulu sewaktu kecil aku diasuh oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, suatu saat tanganku berkeliaran di atas tempat hidangan, maka beliau berkata kepadaku, <em>“Hai nak! Sebutlah nama Allah (baca bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu.”</em> Umar berkata, <em>“Semenjak itu maka cara makanku adalah selalu seperti itu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Menirukan bacaan mu&#8217;adzin</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila kalian mendengar seruan (adzan) maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan mu&#8217;adzin.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Adapun bacaan <em>al-Hai&#8217;alatain</em> -yaitu <em>hayya &#8216;alash sholah</em> dan <em>hayya &#8216;alal falah</em>- maka diganti dengan <em>laa haula wa laa quwwata illa billaah</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Sholat tahiyyatul masjid</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid maka janganlah dia duduk sampai dia melakukan sholat dua raka&#8217;at.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Qatadah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Sholat sunnah di antara adzan dan iqomah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap di antara dua adzan -maksudnya antara adzan dan iqomah- ada sholat. Setiap di antara dua adzan ada sholat.”</em> Kemudian pada ketiga kalinya beliau berkata, <em>“Bagi yang mau melakukannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abdullah bin Mughaffal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Namun, apabila iqomah sudah dikumandangkan dan imam pun sudah siap maka sholat sunnah tersebut hendaknya segera diselesaikan jika tinggal sedikit atau diputus. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila sholat sudah akan didirikan (iqomah sudah dikumandangkan) maka tidak ada lagi sholat selain sholat wajib.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Shalat sunnah rawatib</strong></p>
<p>Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Aku menghafal dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sepuluh raka&#8217;at; dua raka&#8217;at sebelum zhuhur, dua raka&#8217;at sesudahnya, dua raka&#8217;at setelah maghrib, dua raka&#8217;at setelah &#8216;isyak, dan dua raka&#8217;at sebelum sholat subuh&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sholat empat raka&#8217;at sebelum zhuhur dan dua raka&#8217;at sebelum subuh.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang melakukan sholat-sunnah- dua belas raka&#8217;at setiap sehari semalam niscaya akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Ummu Habibah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Berdoa antara adzan dan iqomah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak akan tertolak doa yang dipanjatkan di antara adzan dan iqomah.”</em> (<strong>HR. Nasa&#8217;i</strong> dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Jangan tergesa-gesa </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila kalian telah mendengar iqomah maka berjalanlah menuju sholat dan tetaplah kalian bersikap tenang dan sopan. Jangan terburu-buru, apa yang kalian dapati maka sholatlah -sebagaimana imam- dan apa yang terluput maka sempurnakanlah -sesudah imam selesai-.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila hidangan sore telah tersaji maka dahulukan menikmatinya sebelum kalian sholat maghrib.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Doa keluar masjid</strong></p>
<p>Fathimah menceritakan bahwa dahulu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> apabila akan masuk masjid maka beliau membaca doa, <em>&#8216;Bismillah, wassalamu &#8216;ala rasulillah. Allahummaghfirli dzunubi, waftahli abwaba rahmatik&#8217;</em> (<em>dengan menyebut nama Allah dan semoga keselamatan tercurah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakan untukku pintu-pintu rahmat-Mu</em>). Adapun apabila hendak keluar maka beliau membaca <em>&#8216;Bismillah, wassalamu &#8216;ala rasulillah. Allahummaghfirli dzunubi, waftahli abwaba fadhlik&#8217;</em> (<em>dengan menyebut nama Allah dan semoga keselamatan tercurah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakan untukku pintu-pintu karunia-Mu</em>) (<strong>HR. Ibnu Majah</strong>, sahih)</p>
<p><strong>Doa masuk masjid</strong></p>
<p>Abdullah bin Amr bin al-Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Kebiasaan beliau -Nabi- apabila hendak masuk masjid maka beliau membaca A&#8217;uudzu billaahil &#8216;azhim wa biwajhihil kariim wa sulthanihil qadiim minasy syaithaanir rajiim (Aku berlindung kepada Allah yang maha agung dan dengan wajah-Nya yang mulia serta kekuasaan-Nya yang ada semenjak dulu kala, dari godaan syaithan yang terkutuk).”</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong>, sahih)</p>
<p><strong>Apabila terlambat sholat jama&#8217;ah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi sholat -berjama&#8217;ah- sedangkan imam sedang berada dalam suatu keadaan/posisi maka lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh sang imam.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi </strong>dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu,</em> sahih)</p>
<p><strong>Sholat Tarawih</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menegakkan sholat malam di bulan Ramadhan karena dorongan iman dan mencari pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> berkata, <em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah menambah di bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lainnya lebih dari sebelas raka&#8217;at&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sholat malam itu dua-dua (salam setiap 2 roka&#8217;at, pent)&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya apabila seseorang sholat -tarawih, pent- bersama imam sampai selesai maka dihitung baginya pahala sholat semalam suntuk.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Nasa&#8217;i</strong> dari Abu Dzarr <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, sahih)</p>
<p><strong>Perbanyak membaca al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> dari Utsman bin Affan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum karena Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain karena Kitab ini pula.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Pahami kandungan al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki menjadi baik oleh Allah, maka akan dipahamkan dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Mu&#8217;awiyah bin Abu Sufyan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>Hisablah dirimu</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengerjakannya. Amat besar kemurkaan di sisi Allah kalian mengucapkan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengerjakannya.”</em> (<strong>QS. ash-Shaff: 2-3</strong>). Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak akan bergeser dua telapak kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ditanyakan kepadanya mengenai empat perkara..” Salah satunya beliau sebutkan, “Tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan dengannya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dari Abu Barzah al-Aslami <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> <em>hasan sahih</em>)</p>
<p><strong>Dzikir sebelum tidur</strong></p>
<p>Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menceritakan bahwa suatu ketika istrinya Fathimah -<em>radhiyallahu&#8217;anha</em>- meminta diberikan pembantu kepada ayahnya yaitu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Maka beliau bersabda, <em>“Maukah ku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik bagimu daripada pembantu. Apabila kamu hendak berbaring ke tempat tidur bacalah tasbih -Subhanallah- tiga puluh tiga kali, bacalah tahmid -Alhamdulillah- tiga puluh tiga kali, dan bacalah takbir -Allahu akbar- tiga puluh tiga kali.”</em> Ali pun berkata, <em>“Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Perjuangan di sepuluh hari terakhir</strong></p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersungguh-sungguh -dalam beribadah- pada sepuluh hari terakhir -Ramadhan- lebih daripada kesungguhan beliau pada hari-hari yang lainnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Carilah lailatul qadar (malam kemuliaan) pada [malam ganjil] sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em>)</p>
<p><strong>Tunaikan zakat fithri di akhir Ramadhan</strong></p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menunaikan zakat Ramadhan seukuran satu sho&#8217; makanan, dari anak kecil, orang tua, orang merdeka maupun budak.”</em> (<strong>HR. Ibnu Khuzaimah</strong>, sahih). Abdul Warits bertanya kepada Ayyub<em> </em>[salah seorang murid Ibnu Umar], <em>“Kapan Ibnu Umar biasa menyerahkan sho&#8217; -zakatnya-?”</em>. Dia -Ayyub- menjawab, <em>“Ketika amil (petugas khusus) sudah duduk -membuka layanan-.”</em> Aku -Abdul Warits- berkata, <em>“Lalu kapan amil itu mulai bertugas?”</em>. Ayyub menjawab, <em>“Sebelum -iedul- fithri sehari atau dua hari.”</em> (<strong>HR. Ibnu Khuzaimah</strong>). Dan zakat ini disalurkan kepada orang-orang miskin, karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“&#8230; ia merupakan bahan makanan untuk orang-orang miskin&#8230;”</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, Abu Dawud</strong> dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, hasan)</p>
<p>Demikianlah sebagian rangkaian ibadah wajib maupun sunnah yang bisa ditunaikan di bulan Ramadhan. Semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melimpahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya, dan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh-berkah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ringan Tapi Agung</title>
		<link>http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 05:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1891</guid>
		<description><![CDATA[At Tauhid edisi VI/30 Oleh: al-Akh Yulian Purnama -hafizhahullah- Nampaknya, banyak diantara kita belum merenungkan secara mendalam, ayat Qur’an, dzikir dan doa yang hampir setiap hari terucap dari lisan kita, yang sebenarnya sangat lugas mengikrarkan konsep Tauhid yang benar. Ya, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fringan-tapi-agung.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fringan-tapi-agung.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>At Tauhid edisi VI/30</strong></p>
<p><strong>Oleh: al-Akh Yulian Purnama -</strong><em>hafizhahullah</em><strong>-<br />
</strong></p>
<p>Nampaknya, banyak diantara kita belum  merenungkan secara mendalam, ayat Qur’an, dzikir dan doa yang hampir  setiap hari terucap dari lisan kita, yang sebenarnya sangat lugas  mengikrarkan konsep Tauhid yang benar.</p>
<p><span id="more-1891"></span>Ya, konsep Tauhid yang diajarkan  Islam sesungguhnya sangat bisa dipahami dari dzikir, doa dan ayat-ayat  sederhana yang sering dibaca oleh kebanyakan kita. Beberapa diantaranya  akan dibahas pada tulisan ini.</p>
<p><em><strong>Laa Ilaaha Illallah</strong></em></p>
<p>Kalimat ini tentu tidak asing lagi bagi  kita, sering kita ucapkan di dalam maupun di luar shalat, banyak  terdapat di dalam Al Qur’an dan merupakan rukun pertama dari rukun  Islam. Kalimat ini merupakan pondasi dari agama seorang muslim. Karena  dengan mengucapkan kalimat ini, seorang muslim telah mengikrarkan konsep  Tauhid. Secara bahasa arab, dan menurut penafsiran pada ulama, makna  dari ‘<em>Laa Ilaaha Illallah</em>‘ adalah ‘tidak ada sesembahan yang  berhak disembah selain Allah’. Dengan kata lain, ‘walaupun sesuai  realita sesembahan lain itu memang ada, namun satu-satunya yang berhak  disembah adalah Allah semata’. Jika demikian, orang yang mengucapkan ‘<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>‘ konsekuensinya ia tidak boleh sujud, berdoa,  shalat, tawakkal dan mempersembahkan bentuk ibadah yang lain kepada  selain Allah. Tidak kepada berhala, tidak kepada pohon, tidak kepada  batu, tidak kepada kyai, tidak kepada kuburan, melainkan hanya kepada  Allah semata.</p>
<p>Oleh karena itulah kaum Qura’isy  bersikeras enggan mengucapkan kalimat ini, padahal mereka juga menyembah  Allah dan mengakui Allah sebagai satu-satunya Rabb pencipta alam  semesta.</p>
<p>“<em>Katakanlah: “Siapakah yang memberi  rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa  (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang  mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari  yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka (kaum  musyrikin) akan menjawab: “Allah” </em>“ (QS. Yunus: 31)</p>
<p>Namun ketika diseru untuk mengucapkan ‘<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>‘, mereka berkata:</p>
<p>“<em>Mengapa Muhammad menjadikan  sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja? Sesungguhnya ini  benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan</em>” (QS. Shaad: 5)</p>
<p>Tidak hanya itu, bahkan marah dan  memerangi Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Padahal  sesembahan-sesembahan yang mereka sembah itu hanya sebagai perantara  untuk mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>“<em>Dan mereka menyembah selain  daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada  mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu  adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”</em> ” (QS. Yunus:  18)</p>
<p>Jika konsep Tauhid itu semata-mata  mengakui Allah sebagai satu-satunya Rabb pencipta alam semesta, tentu  kaum musyrikin ketika itu dengan senang hati mengucapkan ‘<em>Laa Ilaaha  Illallah</em>‘ dan tidak perlu marah serta memerangi Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em>.</p>
<p>Namun sungguh sangat disayangkan, banyak  orang yang bersemangat dalam dzikir ‘<em>Laa Ilaaha Illallah</em>‘  namun justru berbuat kesyirikan dengan mempersembahkan bentuk-bentuk  ibadah kepada selain Allah.  Renungkanlah..</p>
<p><em><strong>Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka  Nasta’in</strong></em></p>
<p>Kalimat di atas adalah sebuah ayat dari  surat Al Fatihah, yang tentunya sering kita baca lebih dari 17 kali  dalam sehari dan dihafal hampir oleh semua muslim diseluruh dunia. Yang  artinya:</p>
<p>“<em>Hanya kepada Engkaulah kami  beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan</em>”  (QS. Al Fatihah: 5)</p>
<p>Secara bahasa arab, gaya bahasa ayat ini  mengandung makna pembatasan. Sehingga maknanya ‘<em>Hanya kepadaMu lah  satu-satunya kami beribadah, hanya kepadaMu lah satu-satunya kami  memohon pertolongan</em>‘. Ayat ini menegaskan konsep Tauhid, bahwa  peribadatan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta menggantungkan  pertolongan hanya kepada Allah.</p>
<p>Meminta dan menggantungkan pertolongan  kepada selain Allah, semisal dukun, kyai, jin, atau menggunakan jimat,  rajah, jampi-jampi, berarti telah berbuat yang bertentangan dengan surat  Al Fatihah ayat 5 ini.</p>
<p><em><strong>Laa Haula Wa Laa Quwwata  Illa Billah</strong></em></p>
<p>Kalimat ini adalah dzikir yang sudah  tidak asing lagi di telinga dan lisan kita, dikenal dengan istilah <em>hauqolah</em>.  Biasa kita baca ketika mendengar adzan, ketika setelah shalat, atau  ketika melihat sesuatu yang menakjubkan. Arti dari kalimat ini adalah ‘<em>Tiada  daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah Ta’ala</em>‘.  Begitu agungnya kalimat ini sampai-sampai oleh Rasulullah <em>Shallalahu’alaihi  Wasallam</em> dikatakan sebagai tabungan surgawi.</p>
<p>Makna dari kalimat ini adalah, bahwa  tercapainya sesuatu, perubahan kondisi menjadi lebih baik, adalah  semata-mata karena kehendak Allah dan pertolongan dari-Nya. Bukan karena  pertolongan dukun, bantuan jin, keajaiban jimat atau kesaktian kyai.  Sama sekali bukan.</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan sesuatu  kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya  kecuali Dia</em>” (QS. Yunus: 107)</p>
<p>Konsekuensinya, memohon kebaikan,  memohon tercapainya sesuatu, menggantungkan pertolongan hanyalah  ditujukan kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Inilah konsep Tauhid.</p>
<p>“<em>Dan jika setan mengganggumu dengan  suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya  Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</em>” (QS. Fushilat: 36)</p>
<p><strong>Surat</strong><strong> Yaasin</strong></p>
<p>Konsep Tauhid dalam surat Yasin  sangatlah kental, terutama dalam ayat tentang seorang lelaki yang mau  mengikuti dakwah utusan Allah yang menyerukan Tauhid, di tengah  masyarakat yang berbuat kesyirikan. Lelaki tersebut berkata :</p>
<p>“<em>Faktor apa yang bisa sampai  membuatku tidak menyembah Rabb yang telah menciptakanku dan yang hanya  kepada-Nya-lah kamu semua akan dikembalikan? Untuk apa aku menyembah  sesembahan-sesembahan selain-Nya padahal jika Allah Yang Maha Pemurah  menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at dari para  sesembahan itu tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka  tidak pula dapat menyelamatkanku?</em>” (QS. Yaasin: 22-23)</p>
<p>Ayat ini menggelitik nalar manusia,  yaitu bahwa telah jelas Allah lah semata yang menciptakan alam beserta  isinya dan seluruh manusia. Lalu mengapa mempersembahkan ritual-ritual  ibadah kepada selain Allah? Sungguh kemusyrikan telah melempar jatuh  akal sehat manusia.</p>
<p>Ayat ini juga membantah telak orang yang  meminta-minta pertolongan kepada selain Allah. Karena pertolongan dari  sesembahan selain Allah, tidak bermanfaat jika Allah tidak  menghendakinya terjadi. Begitu juga keburukan  dari sesembahan selain  Allah, tidak membahayakan jika Allah tidak menghendakinya terjadi.</p>
<p>Namun sangat disayangkan, sebagian orang  bersemangat untuk selalu membaca surat Yasin setiap pekannya, namun  belum meresap dalam hati mereka konsep Tauhid yang terkandung di  dalamnya.</p>
<p><strong>Ayat Kursi</strong></p>
<p>Di negeri kita, hampir semua orang  menghapal ayat kursi, yaitu surat Al Baqarah ayat 255. Orang yang  merenungkan ayat kursi akan mendapati di dalamnya sarat akan konsep  Tauhid. Semisal firman Allah <em>Ta’ala</em> (yang artinya): “<em>Tiada  yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya</em>” (QS. Al  Baqarah: 255)</p>
<p>Berkaitan dengan ayat ini, Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya):</p>
<p>“<em>Katakanlah (wahai Muhammad): “Hanya  kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit  dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” </em>“ (QS. Az  Zumar: 44)</p>
<p>Ayat-ayat ini memberi pengajaran bahwa  syafa’at itu sepenuhnya milik Allah <em>Ta’ala</em>. Dan syafa’at dapat  diberikan semata-mata atas izin Allah Ta’ala. Memang benar bahwa  sebagian makhluk Allah ada yang dapat memberi syafa’at, itupun terbatas  pada orang-orang yang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at.  Sehingga tidak boleh sembarang kita mengklaim kyai Fulan, habib Fulan, <em>mbah </em>Fulan bisa memberi syafa’at padahal tidak ada keterangan bahwa  Allah <em>Ta’ala</em> mengizinkan mereka untuk memberi syafa’at.</p>
<p>Pengajaran lain, baginda Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam </em>memang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at. Namun  syafa’at dari Baginda Nabi tidak dapat diberikan kepada salah seorang  di antara kita tanpa izin Allah <em>Ta’ala</em>. Seseorang tidak akan  mendapatkan syafa’at jika Allah tidak me-ridhai dia untuk  mendapatkannya, walau orang tersebut telah memintanya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam </em>ribuan kali. Jika demikian, bukankah seharusnya kita  memohon syafa’at tersebut kepada Allah dan bukan memohonnya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em>? Terlebih lagi berdoa memohon syafa’at kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em> bertentangan dengan konsep Tauhid bahwa doa hanya  ditujukan kepada Allah semata.</p>
<p><strong>Dzikir Setelah Shalat</strong></p>
<p>Doa yang sering kita baca setelah shalat  ini berbunyi:</p>
<p><em>Allahumma, laa maani’a limaa  a’thaita, wa laa mu’thia limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal  jaddu</em></p>
<p>“<em>Ya Allah, tidak ada yang dapat  menghalangi jika Engkau memberikan sesuatu, dan tidak ada yang dapat  memberi jika Engkau telah menghalanginya. Tidak berguna kekayaan  seseorang dihadapun-Mu wahai Dzat Yang Maha Kaya</em>”  (HR. Bukhari  no.6615, Muslim no.477)</p>
<p>Dzikir ini menegaskan bahwa doa hanyalah  ditujukan kepada Allah bukan kepada selain-Nya. Karena Allah-lah yang  memiliki hak veto untuk memberi kebaikan dan keburukan atau tidak  memberinya.</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan sesuatu  kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya  kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada  yang dapat menolak kurnia-Nya</em>” (QS. Yunus: 107)</p>
<p>Dzikir yang diajarkan oleh Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em> ini berisi puji-pujian terhadap Allah terutama memuji  kebesaran Allah dalam hal kekuasaan-Nya untuk memberi kebaikan atau  keburukan. Berkaitan dengan hal tersebut, digunakannya lafadz ‘<em>Allahumma</em>‘  di sini memberikan pengajaran bahwa permintaan kita kepada Allah  disampaikan langsung kepada Allah tanpa melalui perantara siapapun.</p>
<p>“<em>Dan Allah berfirman: “Berdoalah  (langsung) kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan</em>” (QS. Al Mu’min: 60)</p>
<p>Demikian, semoga kita dan seluruh umat  muslim berhenti sejenak saja untuk merenungkan kalimat-kalimat di atas  yang senantiasa meluncur deras dari lisan kita, sehingga dapat kita  resapi hakikat ajaran Tauhid yang agung yang merupakan modal utama untuk  mengharap secercah rahmat dari Allah <em>Ta’ala</em> di hari akhir  kelak. [Yulian Purnama]</p>
<p>Sumber: http://buletin.muslim.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

