<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Dzikir</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/dzikir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Nasehat, Teguran, dan Pelajaran</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[[1] Istighfar Palsu Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun &#8230; <a href="http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-teguran-dan-pelajaran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-teguran-dan-pelajaran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>[1] Istighfar Palsu</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.”</em> Kemudian beliau menjelaskan, <em>“Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, karya al-Khathib al-Baghdadi, hal. 69)</p>
<p><span id="more-2476"></span></p>
<p><strong>[2] Niat Menimba Ilmu</strong></p>
<p>Abu Abdillah ar-Rudzabari <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 71)</p>
<p><strong>[3] Guru Terbaik</strong></p>
<p>Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, <em>“Kepada siapakah aku duduk/berteman dan belajar?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasehatimu dengan ucapannya semata.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 71-72)</p>
<p><strong>[4] Rusaknya Hati</strong></p>
<p>Muhammad bin Ya&#8217;qub <em>rahimahullah</em> berkata: Suatu saat aku mendengar al-Junaid ditanya mengenai hati; faktor apa yang merusak hati seorang pemuda? Maka beliau menjawab, <em>“Rasa tamak/hawa nafsu dan ambisi.”</em> Lalu beliau ditanya, <em>“Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Sikap wara&#8217;/menjaga diri dari yang diharamkan.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 72)</p>
<p><strong>[5] Kenali Dirimu!</strong></p>
<p>Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar, <em>“Wahai orang yang riya&#8217;!”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 93)</p>
<p><strong>[6] Antara Wajah dan Perbuatan</strong></p>
<p>Sebagian orang bijak mengatakan, <em>“Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 105)</p>
<p><strong>[7] Amalan Setelah Berbuat Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Seorang lelaki menemui seorang ahli ibadah. Ahli ibadah itu bertanya kepadanya, <em>“Apakah kamu pernah melakukan suatu perbuatan dosa?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya.”</em> Ahli ibadah itu pun berkata, <em>“Itu artinya kamu sudah mengetahui bahwa Allah menetapkan hal itu menimpamu?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya.”</em> Lalu ahli ibadah itu berpesan, <em>“Maka sekarang beramallah sampai kamu mengetahui bahwa Allah &#8216;azza wa jalla benar-benar telah menghapus dosa itu darimu.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 124)</p>
<p><strong>[8] Kiat Menghafal Hadits</strong></p>
<p>Waki&#8217; <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.”</em> (lihat mukadimah <em>az-Zuhd</em> karya Imam Waki&#8217;, hal. 91)</p>
<p>Waki&#8217; <em>rahimahullah</em> juga berpesan, <em>“Mintalah pertolongan -kepada Allah- untuk menguatkan hafalan dengan cara mempersedikit dosa.”</em> (mukadimah <em>az-Zuhd</em>, hal. 91)</p>
<p><strong>[9] Nikmat dan Adzab</strong></p>
<p>Abud Darda&#8217; <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 48)</p>
<p><strong>[10] Larut Dalam Pujian dan Celaan</strong></p>
<p>Wahb bin Munabbih <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 51)</p>
<p><strong>[11] Pembersihan Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Sirin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Aku pernah mendapat berita bahwa ada salah seorang dari kaum Anshar yang apabila datang waktu sholat maka dia mengatakan -kepada teman-temannya-: “Berwudhulah kalian, sesungguhnya sebagian ucapan yang tadi kalian katakan lebih kotor daripada hadats.”.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 53)</p>
<p><strong>[12] Hakikat Syukur</strong></p>
<p>Muhammad bin Ka&#8217;ab <em>rahimahullah</em> mengatakan tentang maksud ayat (yang artinya), <em>“Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.”</em> (<strong>QS. Saba&#8217;: 13</strong>). Kata beliau, <em>“Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 65)</p>
<p><strong>[13] Godaan Perempuan</strong></p>
<p>Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sungguh apabila aku dititipi untuk menjaga sebuah rumah dari permata itu jauh lebih aku senangi daripada harus dititipi seorang perempuan cantik.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 67)</p>
<p><strong>[14] Menimba Ilmu Atau Bekerja</strong></p>
<p>Abdurrahim bin Sulaiman ar-Razi <em>rahimahullah</em> berkata: Dahulu kami belajar kepada Sufyan ats-Tsauri. Apabila datang kepadanya seorang lelaki dalam rangka menimba ilmu, maka beliau pun bertanya kepadanya, <em>“Apakah kamu memiliki jalan penghasilan?”</em>. Apabila orang itu mengabarkan bahwa dia dalam keadaan cukup, maka beliau memerintahkannya untuk menimba ilmu. Dan apabila ternyata orang itu belum berkecukupan maka beliau memerintahkannya untuk mencari pekerjaan (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 69-10)</p>
<p><strong>[15] Jangan Sebarkan Kekejian!</strong></p>
<p>Khalid bin Ma&#8217;dan <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk “Orang-orang yang menyukai tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 19</strong>).” (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 71)</p>
<p><strong>[16] Sambutan Yang Indah</strong></p>
<p>Tsabit al-Bunani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dahulu apabila kami datang menemui Anas bin Malik, tatkala beliau melihat kedatangan kami maka beliau minta diambilkan minyak wangi. Kemudian beliau mengusap minyak wangi itu dengan kedua telapak tangannya lalu menyalami saudara-saudaranya yang datang.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 81)</p>
<p><strong>[17] Catat, Hafalkan, dan Sampaikan!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yahya bin Khalid al-Barmaki <em>rahimahullah</em> berkata kepada anaknya, <em>“Dahulu mereka -pendahulu yang salih- mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka dengar. Mereka menghafalkan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka catat. Kemudian mereka menyampaikan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka hafalkan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 126)</p>
<p><strong>[18] Bukan Amal Biasa-Biasa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara&#8217;/menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 133)</p>
<p><strong>[19] Apalah Artinya Dunia</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Seandainya seluruh isi dunia ini dijadikan halal bagiku, niscaya aku akan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 144)</p>
<p><strong>[20] Puncak Syukur</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Muhammad bin al-Hasan <em>rahimahullah</em> menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, <em>“Apakah puncak syukur itu?”</em>. Aku menjawab, <em>“Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.”</em> Lalu dia mengatakan, <em>“Jawabanmu tepat, wahai anak muda.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 144)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tujuh Faidah Dzikir</title>
		<link>http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 04:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2408</guid>
		<description><![CDATA[Mengingat Allah (baca: dzikir) merupakan pokok daripada syukur. Manfaat yang besar dapat diperoleh dengan mengerjakan amalan ini. Namun, sayang sekali kebanyakan orang melupakan dan melalaikannya. Padahal, faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah: [1] Mendatangkan pertolongan Allah Allah ta&#8217;ala &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftujuh-faidah-dzikir.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftujuh-faidah-dzikir.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Mengingat Allah (baca: dzikir) merupakan pokok daripada syukur. Manfaat yang besar dapat diperoleh dengan mengerjakan amalan ini. Namun, sayang sekali kebanyakan orang melupakan dan melalaikannya. Padahal, faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah:</p>
<p><span id="more-2408"></span></p>
<p><strong>[1] Mendatangkan pertolongan Allah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan mengingat kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>)</p>
<p><strong>[2] Mendatangkan ampunan dan pahala yang besar</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, lelaki maupun perempuan, maka Allah sediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 35</strong>)</p>
<p><strong>[3] Sebab hidupnya hati</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya (Allah) dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya, seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p><strong>[4] Mendatangkan ketentraman jiwa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 28</strong>)</p>
<p><strong>[5] Jauh dari perangkap setan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman maka akan Kami jadikan setan sebagai pendamping yang selalu menemaninya.” </em>(<strong>QS. az-Zukhruf: 36</strong>)</p>
<p><strong>[6] Jalan menuju keikhlasan</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berusaha mengelabui Allah, sedangkan Allah justru mengelabui mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat maka mereka berdiri dengan penuh kemalasan, mereka mencari-cari pujian manusia, dan mereka sama sekali tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 142</strong>)</p>
<p><strong>[7] Perlindungan Allah pada hari kiamat</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat&#8230; di antaranya adalah seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sepi, kemudian meneteslah air matanya.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dan yang perlu diingat bahwasanya dzikir yang benar adalah yang dilandasi keikhlasan niat dan dikerjakan dengan mengikuti Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lezatnya Buah Dzikir</title>
		<link>http://abumushlih.com/lezatnya-buah-dzikir.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/lezatnya-buah-dzikir.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 17:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Buah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2399</guid>
		<description><![CDATA[Pernah merasakan buah mangga, buah apel, buah nanas, atau buah semangka? Wah&#8230; tentu nikmat dan lezat ya&#8230; Usut punya usut, ternyata ada buah lain yang lebih manis, lebih lezat dan lebih menyenangkan daripada itu semua. Masa? Iya, itulah buah dzikir &#8230; <a href="http://abumushlih.com/lezatnya-buah-dzikir.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flezatnya-buah-dzikir.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flezatnya-buah-dzikir.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Pernah merasakan buah mangga, buah apel, buah nanas, atau buah semangka? Wah&#8230; tentu nikmat dan lezat ya&#8230; Usut punya usut, ternyata ada buah lain yang lebih manis, lebih lezat dan lebih menyenangkan daripada itu semua. Masa? Iya, itulah buah dzikir kepada Allah ta&#8217;ala&#8230;</em></p>
<p><em><span id="more-2399"></span></em></p>
<p><em>Eit</em>, tunggu dulu&#8230; jangan dikira dzikir itu terbatas kepada tasbih (ucapan <em>Subhanallah</em>), tahlil (ucapan <em>la ilaha illallah</em>), tahmid (ucapan <em>alhamdulillah</em>) dan takbir (ucapan <em>Allahu akbar</em>) saja.. Sebagaimana dipaparkan oleh Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> di kitabnya <em>al-Adzkar</em>, bahwa pengertian dzikir itu luas, mencakup berbagai bentuk ketaatan kepada Allah. Bukan hanya bacaan dzikir atau wirid yang biasa kita kenal&#8230; Membaca al-Qur&#8217;an, menunaikan sholat, menunaikan perintah dan menjauhi larangan Allah, itu semua tercakup dalam pengertian dzikir&#8230;</p>
<p>Di dalam <em>Syarah Riyadhus Shalihin </em>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan, dzikir itu terbagi menjadi 3; dzikir dengan hati, dzikir dengan lisan, dan dzikir dengan anggota badan. Yang termasuk dalam dzikir dengan hati seperti dengan merenungkan keagungan nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyelami kesempurnaan hukum-hukum dan kebesaran ayat-ayat-Nya. Adapun dzikir dengan lisan sudah sangat kita kenal; semisal membaca tasbih, tahlil, takbir, adzan, membaca al-Qur&#8217;an, amar ma&#8217;ruf nahi mungkar, membaca hadits, membaca kitab para ulama dan lain-lain.</p>
<p>Lalu, apa yang dimaksud dengan dzikir menggunakan anggota badan? Syaikh Utsaimin menerangkan, maksudnya adalah segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah; seperti mendirikan sholat, ruku&#8217;, sujud, dan lain sebagainya. Walaupun, memang kebiasaan orang kalau mendengar istilah dzikir maka yang tergambar di benak mereka adalah ucapan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan yang semacamnya (silahkan buka <em>Syarh Riyadhus Shalihin</em> [3/444]).</p>
<p><strong>Ingatlah Allah, niscaya Dia Mengingatmu</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Di antara buah dzikir yang sangat menyenangkan adalah tatkala seorang hamba senantiasa mengingat Allah, maka Allah pun memberikan balasan serupa. Yaitu Allah akan senantiasa mengingat dirinya, membantunya di kala dia membutuhkan bantuan. Allah akan mengampuni dan merahmatinya.</p>
<p>Adakah sesuatu yang lebih menyenangkan dan membahagiakan seorang hamba melebihi curahan ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada dirinya? Bukankah setiap kali sholat kita terus mengikrarkan, <em>“Hanya kepada-Mu -ya Allah- kami beribadah, dan hanya kepada-Mu, kami meminta pertolongan&#8230;”</em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka ingatlah kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingatmu.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>)</p>
<p>Di dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, dari Said bin Jubair, beliau menafsirkan bahwa maksud ayat ini adalah, <em>“Ingatlah kepada-Ku dengan taat kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan ampunan-Ku.”</em> Dalam riwayat lain disebutkan, <em>“Dengan rahmat-Ku.”</em> (lihat: islamweb.net)</p>
<p>Di dalam Tafsir al-Qurthubi, Said bin Jubair juga menjelaskan bahwa hakikat mengingat Allah adalah dengan taat kepada-Nya. Sehingga barangsiapa yang tidak taat kepada-Nya itu artinya dia tidak sedang mengingat-Nya, meskipun dia banyak mengucapkan tasbih dan tahlil serta rajin membaca al-Qur&#8217;an. Muadz bin Jabal pun menandaskan, <em>“Tidaklah anak Adam mengerjakan suatu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari siksa Allah daripada dzikir kepada Allah.”</em> (lihat: islamweb.net).</p>
<p>Oleh sebab itu dzikir kepada Allah dan menjalani ketaatan merupakan sumber kebahagiaan hakiki. Sebagaimana perkataan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr yang masih terngiang-ngiang di telinga kita, bahwa <em>as-sa&#8217;aadah bi yadillaah, wa laa tunaalu illa bi thaa&#8217;atillah</em>&#8230; <em>“Kebahagiaan itu di tangan Allah, dan tak akan bisa diraih kecuali dengan taat kepada Allah.” </em>Betapa indahnya hidup seorang hamba jika hati, lisan dan anggota badannya senantiasa dihiasi dengan dzikir kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>&#8230;</p>
<p>Bahagia tidaklah diukur dengan luasnya pekarangan, rumah megah, mobil mewah, harta melimpah, atau perabotan yang serba <em>wah</em>&#8230; Betapa banyak, orang yang bermandikan uang, berselimutkan emas dan terlelap di dalam istana&#8230; akan tetapi hatinya hancur oleh dosa, hatinya gelap oleh maksiat, hatinya  sempit oleh sifat hasad, dan matanya dibutakan oleh hawa nafsu&#8230;.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat-Ku, maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkan dia kelak di hari kiamat dalam kondisi buta. Dia berkata, &#8216;Wahai Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku bisa melihat.&#8217; Allah menjawab, &#8216;Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami akan tetapi kamu justru melupakannya, maka pada hari ini kamu pula dilupakan.”</em> (<strong>QS. Thaha: 124-126</strong>)</p>
<p>&#8216;<em>Balasan serupa dengan amalan</em>&#8216;, itu kata para ulama&#8230; Kalau kita ingat Allah, Allah pun akan mengingat kita. Akan tetapi kalau kita justru melupakan-Nya, jangan kaget kalau ternyata di saat-saat kita membutuhkan-Nya –<em>padahal setiap detik kita sangat membutuhkan-Nya</em>&#8211; maka Allah pun melupakan kita&#8230; Inilah bencana dan musibah terbesar yang akan menghancurkan dunia dan akhirat kita.. <em>Na&#8217;udzu billaahi min dzaalik!</em></p>
<p>Betapa bijak ungkapan Ibnu Taimiyah, tatkala beliau berkata, <em>“Dzikir bagi hati, laksana air bagi ikan. Lantas, bagaimana yang terjadi seandainya ikan dikeluarkan dari air?”</em></p>
<p>Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahkan telah bersabda, <em>“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak pernah mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Pada hari kiamat nanti, tatkala matahari didekatkan sejarak 1 mil, dan manusia bersimbah peluh, ada di antara mereka yang ditenggelamkan oleh keringatnya sampai lututnya, ada yang sampai pinggangnya, ada yang sampai lehernya, bahkan ada pula yang seluruh tubuhnya ditenggelamkan oleh keringat&#8230; karena saking panasnya hari itu&#8230; kira-kira siapakah yang bisa memayungi anda selain Allah <em>ta&#8217;ala</em>?</p>
<p>Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat tiada naungan kecuali naungan-Nya&#8230;”</em> Di antaranya, <em>“Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lantas berlinanglah kedua matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dzikir merupakan bagian pokok dari syukur. Dzikir yang paling utama adalah yang bersesuaian antara yang diucapkan oleh lisan dengan apa yang ada di dalam hati. Itulah jenis dzikir yang menumbuhkan <em>ma&#8217;rifatullah</em>, <em>mahabbah</em>/cinta kepada-Nya dan curahan pahala yang melimpah ruah dari-Nya (lihat Tafsir as-Sa&#8217;di, hal. 74)</p>
<p><em>Ya Allah, bantulah kami dalam mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan membaguskan ibadah untuk-Mu</em>&#8230; <em>laa haula wa laa quwwata illa billaah</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/lezatnya-buah-dzikir.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Artinya?</title>
		<link>http://abumushlih.com/apa-artinya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/apa-artinya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 00:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2331</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Kalau kita cermati akan banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian menjawab, bahwa kehidupan adalah uang. Sehingga setiap detik hidup ini yang dicari adalah uang. Artinya apabila dia tidak memiliki uang, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/apa-artinya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapa-artinya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapa-artinya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Sebagian orang mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Kalau kita cermati akan banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian menjawab, bahwa kehidupan adalah uang. Sehingga setiap detik hidup ini yang dicari adalah uang. Artinya apabila dia tidak memiliki uang, seolah-olah kehidupannya telah hilang. Sebagian lagi menjawab, bahwa kehidupan adalah kedudukan. Sehingga setiap detik yang dicari adalah kedudukan. Sebagian lagi memandang bahwa kehidupan adalah kesempatan untuk bersenang-senang. Maka bagi golongan ini kesenangan duniawi adalah tujuan utama yang dicari-cari.</p>
<p><span id="more-2331"></span></p>
<p>Saudaraku -<em>semoga Allah merahmatimu</em>- kehidupan ini adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga untuk kita. Jangan sampai kita sia-siakan kehidupan di dunia ini untuk sesuatu yang tidak jelas dan akan sirna. Kenikmatan dunia ini pun kalau mau kita pikirkan dengan baik, maka tidaklah lama. Sebentar saja, bukankah demikian? Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Seolah-olah tatkala  melihat hari kiamat itu, mereka tidaklah hidup (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di waktu siang atau sesaat di waktu dhuha.”</em> (<strong>QS. an-Nazi&#8217;at: 46</strong>)</p>
<p>Lalu apa yang harus kita lakukan di dunia ini? Sebuah pertanyaan menarik. Sebuah pertanyaan yang akan kita temukan jawabannya di dalam al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Jangan salah paham dulu&#8230; Jangan dikira bahwa itu artinya setiap detik kita harus berada di masjid, atau setiap detik kita harus membaca al-Qur&#8217;an, atau setiap hari kita harus berpuasa, sama sekali bukan demikian&#8230; Ibadah, mencakup segala ucapan dan perbuatan yang dicintai oleh Allah. Allah tidak menghendaki kita setiap detik berada di masjid. Allah juga tidak menghendaki kita setiap detik membaca al-Qur&#8217;an. Semua ibadah itu ada waktunya. Yang terpenting bagi kita adalah melakukan apa yang Allah cintai bagaimana pun keadaan kita dan di mana pun kita berada.</p>
<p>Di antara perkara yang dituntut pada diri kita adalah senantiasa mengingat Allah, sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang yang banyak berdzikir dan mengingat Allah dalam segala kondisi. Ibnu Taimiyah pernah mengungkapkan, <em>“Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas apa yang akan terjadi pada seekor ikan jika ia dikeluarkan dari air?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahkan mengatakan, <em>“Perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat Allah adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dengan mengingat Allah, maka kita akan berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Karena Allah senantiasa mengawasi kita dan mengetahui apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan, di mana pun dan kapan pun. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya perkara sekecil apapun. Inilah yang semestinya senantiasa kita tanamkan di dalam hati kita. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpesan, <em>“Bertakwalah kepada Allah dimana pun kamu berada.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>). Kita harus bertakwa kepada Allah baik ketika berada di rumah, di jalan, di kampus, di pasar atau di mana pun kita berada, ketika bersama orang maupun ketika bersendirian.</p>
<p>Menjadi orang yang bertakwa itu bagaimana? Saudaraku -<em>semoga Allah menunjuki kita</em>- ketakwaan itu akan diraih manakala kita senantiasa mengingat adanya hari pembalasan dan bersiap-siap untuk menghadapinya dengan menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> bahwa takwa adalah, <em>“Rasa takut kepada Allah, beramal dengan wahyu yang diturunkan, dan bersiap-siap menyambut hari kiamat.”</em> <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/apa-artinya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senang Mendengarkan Bacaan al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 07:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2320</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.” Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”. Beliau &#8230; <a href="http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadaku, <em>“Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.”</em> Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, <em>“Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku.”</em> Maka aku pun membacakan surat an-Nisaa&#8217;, ketika sampai pada ayat [yang artinya], <em>“Bagaimanakah jika [pada hari kiamat nanti] Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka.&#8221;</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 41</strong>). Aku angkat kepalaku, atau ada seseorang dari samping yang memegangku sehingga aku pun mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat air mata beliau mengalir (<strong>HR. Bukhari [4582] dan Muslim [800]</strong>)</p>
<p><span id="more-2320"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki rasa senang dan menikmati bacaan al-Qur&#8217;an yang dibacakan oleh orang lain. Oleh sebab itu Imam Bukhari juga mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Orang yang senang mendengarkan al-Qur&#8217;an dari selain dirinya&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/107]). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ada beberapa pelajaran dari hadits Ibnu Mas&#8217;ud ini, di antaranya; anjuran untuk mendengarkan bacaan [al-Qur'an] serta memperhatikannya dengan seksama, menangis ketika mendengarkannya, merenungi kandungannya. Selain itu, hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya meminta orang lain untuk membacanya untuk didengarkan, dalam keadaan seperti ini akan lebih memungkinkan baginya dalam mendalami dan merenungkan isinya daripada apabila dia membacanya sendiri. Hadits ini juga menunjukkan sifat rendah hati seorang ulama dan pemilik kemuliaan meskipun bersama dengan para pengikutnya.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/117])</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri orang soleh adalah bisa menangis ketika mendengar bacaan al-Qur&#8217;an. Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/112]). Lantas, apakah yang mendorong Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menangis ketika mendengar ayat di atas? Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang tampak bagi saya, bahwasanya beliau [Nabi] menangis karena sayangnya kepada umatnya. Sebab beliau mengetahui bahwa kelak beliau pasti menjadi saksi atas amal mereka semua, sedangkan amal-amal mereka bisa jadi tidak lurus (amalan yang tidak baik) sehingga membuat mereka berhak untuk mendapatkan siksaan, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [9/114])</p>
<p>Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an harus dilandasi dengan keikhlasan. Bukan karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan. Oleh sebab itu, Imam Bukhari mengiringi bab tadi [menangis tatkala membaca al-Qur'an] dengan bab &#8216;Dosa orang yang membaca al-Qur&#8217;an untuk mencari pujian (riya&#8217;), mencari makan, atau menyalah gunakannya untuk berbuat jahat/dosa&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/114]).</p>
<p>Dan yang lebih utama lagi adalah menangis tatkala sendirian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang menceritakan 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, yang salah satunya adalah, <em>“Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lantas berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [660] dan Muslim [1031]</strong>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hadits ini menunjukkan keutamaan menangis karena takut kepada Allah ta&#8217;ala dan keutamaan amal ketaatan yang rahasia/tersembunyi karena kesempurnaan ikhlas padanya, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/354])</p>
<p>Satu pelajaran lagi yang mungkin bisa ditambahkan di sini, adalah keutamaan belajar bahasa arab. Karena dengan memahami bahasa arab akan lebih memudahkan dalam menghayati kandungan al-Qur&#8217;an. Oleh sebab itu hendaknya kita lebih bersemangat lagi dalam mempelajari bahasa arab dan mengkaji tafsir al-Qur&#8217;an. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Amalan Harian Muslim Sejati</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 22:16:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim&#8230; Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri. Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-amalan-harian-muslim-sejati.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-amalan-harian-muslim-sejati.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Saudaraku</em>, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim&#8230; Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri.</p>
<p><span id="more-2207"></span></p>
<p>Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, amalan yang dicintai-Nya, amalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya, amalan yang akan menentramkan hatimu dimanapun kau berada, amalan yang akan menjadi tabunganmu menyambut hari esok setelah ditiupnya sangkakala dan hancurnya dunia beserta segenap isinya&#8230;</p>
<p>Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih di dalam surga-Nya&#8230;, <em>Allahumma amin</em>.</p>
<p><strong>[1] Perbanyaklah berdzikir kepada-Nya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 41</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.”</em> (<strong>QS. al-Munafiqun: 9</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah suatu kaum berkumpul seraya mengingat Allah, melainkan pasti malaikat akan menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang di sisi-Nya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>[2] Tetaplah berdoa kepada-Nya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” </em>(<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tiada suatu urusan yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.”</em> (<strong>HR. al-Hakim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah subhanah, maka Allah murka kepada dirinya.” </em>(<strong>HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Rabb kita tabaraka wa ta&#8217;ala setiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir turun ke langit terendah dan berfirman, &#8216;Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang mau meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)<em> </em></p>
<p><strong>[3] Mohon ampunlah kepada-Nya</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Allah akan menyiksa mereka sementara kamu berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka selalu beristighfar/meminta ampunan.” </em>(<strong>QS. al-Anfal: 33</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Allah, sesungguhnya aku setiap hari meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p><em>Saudaraku</em>,&#8230; perjalanan waktu menggiring kita semakin mendekati kematian&#8230; Oleh sebab itu marilah kita isi umur kita dengan dzikir, doa, dan taubat kepada-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya, diampuni oleh-Nya, dan mendapatkan rahmat dari-Nya&#8230;</p>
<p>Sumber:<br />
<em>Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a</em> karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Di Sekitar UAD Jogja</title>
		<link>http://abumushlih.com/kajian-di-sekitar-uad-jogja.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kajian-di-sekitar-uad-jogja.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Jan 2011 22:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[UAD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2180</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Abdurrohman Shiddiq Bismillah&#8230; Untuk antum yang berdomilisi di Warungboto [Umbulharjo] dan sekitarnya, untuk antum mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dan kampus sekitarnya. Berikut ini kami informasikan KAJIAN RUTIN TEMATIK. Waktu Setiap Senin (malam selasa) Ba&#8217;da Maghrib &#8211; Isya &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kajian-di-sekitar-uad-jogja.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-di-sekitar-uad-jogja.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-di-sekitar-uad-jogja.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<div>
<p>oleh: Abdurrohman Shiddiq</p>
<p>Bismillah&#8230;</p>
<p>Untuk  antum yang berdomilisi di Warungboto [Umbulharjo] dan sekitarnya, untuk  antum mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dan kampus  sekitarnya. Berikut ini kami informasikan KAJIAN RUTIN TEMATIK.</p>
<p><span id="more-2180"></span></p>
<p><strong>Waktu</strong><br />
Setiap Senin (malam selasa)<br />
Ba&#8217;da Maghrib &#8211; Isya</p>
<p><strong>Pemateri</strong></p>
<p>Pekan 1,2<br />
Ustadz Abu Zahro<br />
Tema: Hadits</p>
<p>Pekan 3,4<br />
Ustadz Abu Yasir<br />
Tema: Aqidah</p>
<p>Pekan 5<br />
Ustadz Abu Fawwaz<br />
Tema: Fiqih</p>
<p><strong>Tempat</strong><br />
Masjid AL JAMI&#8217;<br />
Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta<br />
Jl. Veteran</p>
<p><strong>Penyelenggara</strong><br />
Takmir Masjid AL JAMI&#8217;<br />
CP: 085643907143 / 081227737873</p>
<p><strong>Terbuka untuk umum: putra dan putri</strong></p>
<p>Rute:<br />
Jl.  Veteran. Sekitar situs peninggalan bersejarah (timur jalan)/depan  Gapura Warungboto Kampung Muhammadiyah, ke selatan -+ 200m, sampai  tikungan. Timur jalan ada Cozzy Warnet, sampingnya ada gang kecil ke  timur. Masuk, lurus pas masjid Al Jami. Atau hubungi CP di atas.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kajian-di-sekitar-uad-jogja.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perniagaan Yang Tidak Pernah Merugi</title>
		<link>http://abumushlih.com/perniagaan-yang-tidak-pernah-merugi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/perniagaan-yang-tidak-pernah-merugi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 22:57:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2151</guid>
		<description><![CDATA[Hadiri Kajian Motvasi (Penggalangan Dana Renovasi Masjid) Umum (Putra-Putri) Bersama Ustadz ABDULLAH TASLIM, M.A. Tema: “Perniagaan yang Tidak Pernah Merugi” Waktu: Ahad, 26 Desember 2010 Pukul 08.30 – 11.30 WIB Di MASJID POGUNG RAYA (Pogung Dalangan, Utara Fakultas Teknik UGM) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/perniagaan-yang-tidak-pernah-merugi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperniagaan-yang-tidak-pernah-merugi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperniagaan-yang-tidak-pernah-merugi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Hadiri Kajian Motvasi<br />
(Penggalangan Dana Renovasi Masjid)</p>
<p>Umum (Putra-Putri)</p>
<p><span id="more-2151"></span>Bersama<br />
<strong>Ustadz ABDULLAH TASLIM, M.A.</strong></p>
<p>Tema:<br />
“Perniagaan yang Tidak Pernah Merugi”</p>
<p>Waktu:<br />
<strong>Ahad, 26 Desember 2010<br />
Pukul 08.30 – 11.30 WIB</strong></p>
<p>Di MASJID POGUNG RAYA<br />
(Pogung Dalangan, Utara Fakultas Teknik UGM)</p>
<p>Disediakan Makalah<br />
CP : 085265222500 / 0274 7490294</p>
<p><em>“Perumpamaan  orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah  adalah serupa  dengan sebutir benih yang menumbuhkan 7 bulir, pada  tiap-tiap bulir  seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia  kehendaki dan  Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui” </em>(<strong>Al Baqarah : 261</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/perniagaan-yang-tidak-pernah-merugi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Membaca &#8216;Amin&#8217;?</title>
		<link>http://abumushlih.com/kapan-membaca-amin.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kapan-membaca-amin.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 02:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2133</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Apabila dia ruku’ maka ruku’lah kalian, dan apabila dia sujud maka sujudlah kalian. dan apabila dia membaca ‘amin’ maka bacalah amin.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lalu apakah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kapan-membaca-amin.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkapan-membaca-amin.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkapan-membaca-amin.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya  imam itu diangkat untuk diikuti. Apabila dia ruku’ maka ruku’lah  kalian, dan apabila dia sujud maka sujudlah kalian. dan apabila dia  membaca ‘amin’ maka bacalah amin.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Lalu apakah makna sabda Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Apabila dia membaca amin, maka bacalah amin.”</em>?</p>
<p><span id="more-2133"></span></p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Maknanya  adalah apabila dia (imam) sudah mulai membaca amin, atau apabila dia  telah sampai tempat bacaan amin maka bacalah amin, sebab terdapat  riwayat yang sah dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah -<em>radhiyallahu’anhu</em>-, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa makna sabda beliau <em>‘apabila dia membaca amin’</em> yaitu apabila dia telah selesai membaca amin, akan tetapi bukan seperti  itu yang benar. Namun, maksudnya adalah apabila dia sudah sampai tempat  bacaan amin, maka bacalah amin oleh kalian. Hadits Abu Hurairah di  dalam Shahih Muslim menjelaskan hal itu, <em>“Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.’.”</em></p>
<p>(Ibnu Utsaimin –<em>rahimahullah</em>-)</p>
<p>Diterjemahkan dari:<br />
<em>Fatawa Tata’allaqu Bi Syarhi Ba’dhil Ahadits</em>,<br />
Penyusun Dakhilullah bin Bakhit,<br />
Penerbit Dar Ibnu Khuzaimah<br />
Cet ke-1 1422 H.<br />
Halaman 19-20</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kapan-membaca-amin.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukuman Terberat</title>
		<link>http://abumushlih.com/hukuman-terberat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/hukuman-terberat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Oct 2010 05:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hawa Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2052</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, yang membentangkan tangan-Nya untuk menerima taubat hamba-hamba-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya, teladan bagi segenap manusia, yang menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus menuju ampunan dan ridha-Nya. Amma ba&#8217;du. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidaklah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/hukuman-terberat.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhukuman-terberat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhukuman-terberat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, yang membentangkan tangan-Nya untuk menerima taubat hamba-hamba-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya, teladan bagi segenap manusia, yang menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus menuju ampunan dan ridha-Nya. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2052"></span> Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidaklah seorang hamba mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras dan jauh dari Allah.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 95).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh celaka orang-orang yang berhati keras dari mengingat Allah, mereka itu berada dalam kesesatan yang amat nyata.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 22</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, <em>“Maksudnya, hati mereka tidak menjadi lunak dengan membaca Kitab-Nya, tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya, dan tidak merasa tenang dengan berzikir kepada-Nya. Akan tetapi hati mereka itu berpaling dari Rabbnya dan condong kepada selain-Nya&#8230;”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 722).</p>
<p><strong>Ciri-Ciri Orang Berhati Keras</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa ciri orang yang berhati keras itu adalah tidak lagi merespon larangan dan peringatan, tidak mau memahami apa maksud Allah dan rasul-Nya karena <em>saking</em> kerasnya hatinya. Sehingga tatkala setan melontarkan bisikan-bisikannya dengan serta-merta hal itu dijadikan oleh mereka sebagai argumen untuk mempertahankan kebatilan mereka, mereka pun menggunakannya sebagai senjata untuk berdebat dan membangkang kepada Allah dan rasul-Nya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 542)</p>
<p>Orang yang berhati keras itu tidak bisa memetik pelajaran dari nasehat-nasehat yang didengarnya, tidak bisa mengambil faedah dari ayat maupun peringatan-peringatan, tidak tertarik meskipun diberi motivasi dan dorongan, tidak merasa takut meskipun ditakut-takuti. Inilah salah satu bentuk hukuman terberat yang menimpa seorang hamba, yang mengakibatkan tidak ada petunjuk dan kebaikan yang disampaikan kepadanya kecuali justru memperburuk keadaannya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 225).</p>
<p>Orang yang memiliki hati semacam ini, tidaklah dia menambah kesungguhannya dalam menuntut ilmu melainkan hal itu semakin mengeraskan hatinya&#8230; <em>Wal &#8216;iyadzu billah</em> (kita berlindung kepada Allah darinya)&#8230; Maka sangat wajar, apabila sahabat yang mulia Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengingatkan kita semua, <em>“Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi hakekat ilmu itu adalah rasa takut.”</em> Abdullah anak Imam Ahmad pernah bertanya kepada bapaknya, <em>“Apakah Ma&#8217;ruf al-Kurkhi itu memiliki ilmu?!”</em>. Imam Ahmad menjawab, <em>“Wahai putraku, sesungguhnya dia memiliki pokok ilmu!! Yaitu rasa takut kepada Allah.”</em> (lihat <em>Kaifa Tatahammasu</em>, hal. 12).</p>
<p><strong>Sebab Hati Menjadi Keras</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sebab utama hati menjadi keras adalah kemusyrikan. Oleh sebab itu Ibnu Juraij <em>rahimahullah</em> menafsirkan &#8216;orang-orang yang berhati keras&#8217; dalam surat al-Hajj ayat 53 sebagai orang-orang musyrik (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [5/326]). Demikian pula orang-orang yang bersikeras meninggalkan perintah-perintah Allah dan orang-orang yang memutarbalikkan ayat-ayat Allah (baca: ahlul bid&#8217;ah); mereka menyelewengkan maksud ayat-ayat agar cocok dengan hawa nafsunya. Orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang berhati keras (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 225). Selain itu,  faktor lain yang menyebabkan hati menjadi keras adalah berlebih-lebihan dalam makan, tidur, berbicara dan bergaul (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 95)</p>
<p><strong>Lembut dan Kuatkan Hatimu!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sudah semestinya seorang muslim -apalagi seorang penuntut ilmu!- berupaya untuk memelihara keadaan hatinya agar tidak menjadi hati yang keras membatu. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa hati seorang hamba akan menjadi sehat dan kuat apabila pemiliknya menempuh tiga tindakan:</p>
<ol>
<li>Menjaga      kekuatan hati. Kekuatan hati akan terjaga dengan iman dan wirid-wirid      ketaatan.</li>
<li>Melindunginya      dari segala gangguan/bahaya. Perkara yang membahayakan itu adalah dosa,      kemaksiatan dan segala bentuk penyimpangan.</li>
<li>Mengeluarkan      zat-zat perusak yang mengendap di dalam dirinya. Yaitu dengan senantiasa      melakukan taubat nasuha dan istighfar untuk menghapuskan dosa-dosa yang      telah dilakukannya (lihat <em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 25-26)</li>
</ol>
<p>Sungguh indah perkataan Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em>, <em>“Setiap hamba pasti membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk menyendiri dalam memanjatkan doa, berzikir, sholat, merenung, berintrospeksi diri dan memperbaiki hatinya.”</em> (dinukil dari <em>Kaifa Tatahammasu</em>, hal. 13). Ibnu Taimiyah juga berkata, <em>“Dzikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Maka apakah yang akan terjadi apabila seekor ikan telah dipisahkan dari dalam air?”</em> (lihat <em>al-Wabil ash-Shayyib</em>). Ada seseorang yang mengadu kepada Hasan al-Bashri, <em>“Aku mengadukan kepadamu tentang kerasnya hatiku.” </em>Maka beliau menasehatinya, <em>“Lembutkanlah ia dengan berdzikir.”</em></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada menuruti berbagai keinginan hawa nafsunya. Hati yang terkungkung oleh syahwat akan terhalang dari Allah sesuai dengan kadar kebergantungannya kepada syahwat. Hancurnya hati disebabkan perasaan aman dari hukuman Allah dan terbuai oleh kelalaian. Sebaliknya, hati akan menjadi baik dan kuat karena rasa takut kepada Allah dan ketekunan berdzikir kepada-Nya.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 95)</p>
<p><strong>Langkah Selanjutnya?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari keterangan-keterangan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa untuk menjaga hati kita agar tidak keras dan membatu adalah dengan cara:</p>
<ol>
<li>Beriman      kepada Allah dan segala sesuatu yang harus kita imani</li>
<li>Mentauhidkan-Nya,      yaitu dengan mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya dan membebaskan      diri dari segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya</li>
<li>Melaksanakan      ketaatan kepada-Nya dan taat kepada rasul-Nya</li>
<li>Meninggalkan      perbuatan dosa, maksiat dan penyimpangan</li>
<li>Banyak      mengingat Allah, ketika berada di keramaian maupun ketika bersendirian</li>
<li>Banyak      bertaubat dan beristighfar kepada Allah untuk menghapus dosa-dosa kita</li>
<li>Menanamkan      perasaan takut kepada Allah dan berusaha untuk senantiasa menghadirkannya      dimana pun kita berada</li>
<li>Merenungi      maksud ayat-ayat al-Qur&#8217;an dan hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em></li>
<li>Selalu      bermuhasabah/berintrospeksi diri untuk memperbaiki diri dan menjaga diri      dari kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu</li>
<li>Bergantung      kepada Allah dan mendahulukan Allah di atas segala-galanya</li>
</ol>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Ya Allah, lunakkanlah hati kami dengan mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/hukuman-terberat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

