<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Fitnah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/fitnah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Dimanakah Para Pemuda?</title>
		<link>http://abumushlih.com/dimanakah-para-pemuda.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dimanakah-para-pemuda.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 11:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Perang]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1843</guid>
		<description><![CDATA[Para pemuda -semoga Allah merahmati kalian- bukanlah sesuatu yang asing bagi kita bahwa kaum muda adalah pelopor berbagai perubahan di berbagai penjuru dunia. Namun, yang menjadi pertanyaan ialah ke arah mana perubahan itu hendak dijalankan; kepada kebaikan ataukah keburukan? Sementara kita semua menyadari kandungan firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdimanakah-para-pemuda.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdimanakah-para-pemuda.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Para pemuda -<em>semoga Allah merahmati kalian</em>- bukanlah sesuatu yang asing bagi kita bahwa kaum muda adalah pelopor berbagai perubahan di berbagai penjuru dunia.</p>
<p><span id="more-1843"></span>Namun, yang menjadi pertanyaan ialah ke arah mana perubahan itu hendak dijalankan; kepada kebaikan ataukah keburukan? Sementara kita semua menyadari kandungan firman Allah (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”</em> (<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 11</strong>).</p>
<p>Dari situlah, maka kesadaran generasi muda untuk menjadi garda terdepan perjuangan umat Islam merupakan modal besar perubahan ini. Para pemuda yang tidak terlalaikan oleh kesenangan dunia yang fana dan tidak terpedaya oleh tipu daya Iblis dan bala tentaranya yang kian hari kian menggoda. Para pemuda yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Yang dengan kecintaan itu mereka rela berjuang di jalan-Nya, dengan harta mereka, ilmu, bahkan kalau perlu nyawa mereka. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak pernah berperang atau tidak pernah terbersit di dalam hatinya keinginan untuk berperang maka dia meninggal di atas salah satu cabang kemunafikan.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Seorang mujahid itu adalah yang berjuang menundukkan hawa nafsunya dalam rangka ketaatan kepada Allah.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>).</p>
<p>Para pemuda -<em>semoga Allah menambahkan kepada kita ilmu dan kesabaran</em>- sesungguhnya kondisi akhir zaman yang dipenuhi dengan fitnah dan kekacauan membutuhkan kehadiran sosok para pemuda yang <em>&#8216;tumbuh di atas komitmen untuk tetap beribadah kepada Allah</em>&#8216;, para pemuda yang <em>&#8216;hatinya bergantung di masjid&#8217;</em>, para pemuda <em>&#8216;yang memiliki rasa takut yang dalam kepada Rabbnya&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;apabila diingatkan tentang Allah maka muncullah rasa takut dan khusyu&#8217; di dalam hati mereka&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;apabila dibacakan ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman mereka&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;bertakwa kepada Allah di mana saja mereka berada&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;berdakwah kepada tauhid di atas ilmu yang nyata&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar&#8217;</em>, para pemuda yang menjadi <em>&#8216;teladan dalam kebaikan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada kebenaran dan berlepas diri dari segala praktik kemusyrikan&#8217;</em>, para pemuda <em>&#8216;yang senantiasa mengembalikan perselisihan mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;senantiasa menghormati kedudukan para ulama dan penguasa umat Islam&#8217;</em>, para pemuda yang <em>&#8216;mengisi hari-harinya dengan dzikrullah&#8217;</em> dan ketaatan serta <em>&#8216;menjauhi nyanyian setan&#8217;</em> dan <em>&#8216;menjauhkan diri dari pintu-pintu kemaksiatan&#8217;</em>.</p>
<p>Pada hari ini, <em>wahai para pemuda</em>&#8230; manusia-manusia yang tidak mau mengenal agama -<em>bahkan membencinya</em>- tak ubahnya seperti <strong>srigala berbulu &#8216;biduanita&#8217;</strong>. Mereka menjual agama demi mendapatkan fatamorgana, mereka menggiring para pemuda untuk sedikit demi sedikit meninggalkan <em>benteng-benteng agama</em> (yaitu majelis ilmu dan kitab para ulama) menuju <em>&#8216;kamp-kamp pembantaian&#8217;</em> yang telah merusak agama, harga diri dan kehormatan ribuan para pemuda. Para pemuda yang telah menjadi tawanan Iblis, para pemuda yang lalai akan tujuan hidupnya, para pemuda yang tercipta seolah-olah hanya untuk dunia, para pemuda yang tidak mengenal masjid kecuali hari Jum&#8217;at saja, para pemuda yang tidak mengenal al-Qur&#8217;an kecuali di saat Yasinan pula, para pemuda yang tidak mengenal salawat kecuali di sela-sela antara adzan dan iqomat -itupun salawat yang dibuat-buat-, para pemuda yang silau oleh kebudayaan barat dan lupa akan keteladanan kaum salaf kebanggaan umat. Aduhai, para pemuda&#8230; dimanakah kalian berada? Musuh berada di hadapan, sementara kalian terbirit-birit meninggalkan benteng pertahanan!! <em>Allahul musta&#8217;aan</em>&#8230;</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dimanakah-para-pemuda.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Ahlus Sunnah di Indonesia</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 04:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhtilaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ishlah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Perpecahan]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Muhammad al Imam hafizhahullah (Muhadharah Via Telepon) بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -shallallahu ‘alaihi wa salam-. Amma ba’du: Aku memuji Allah Yang Maha Tinggi dan Maha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Syaikh Muhammad al Imam</strong> <em>hafizhahullah</em><br />
(Muhadharah Via Telepon)</p>
<p><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan  yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi  bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -shallallahu ‘alaihi wa  salam-. Amma ba’du:</p>
<p><span id="more-1812"></span></p>
<p>Aku memuji Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mampu, Rabb Al-’Arsy Al-Karim  yang telah memudahkan kami untuk berhubungan dengan saudara-saudara  kami. Maka ini merupakan keutamaan dari Allah Ta’ala untuk kita dan  untuk manusia, hanya saja kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Hal  ini merupakan nikmat yang besar disaat kita bisa saling berhubungan,  kita tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, kita bersama-sama  memerangi hawa nafsu, menghadap kepada peribadatan kepada Al-Maula  (Allah Ta’ala).</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah -barakallahu fiikum-. Sesungguhnya  Allah telah memilih umat islam di antara sekian umat, dan memilih  Muhammad sebagai seorang rasul dan nabi di antara sekian banyak orang  dan di antara sekian banyak pahlawan, dan memilih ahlus sunnah wal  jama’ah, ahlu ittaba’ wal atsar, ahlul hadits wal khabar di antara  sekian banyak sempalan dan kelompok. Pemilihan dari Allah Ta’ala ini  adalah setelah pemilihan, pengkhususan, penyaringan dan taufiq dari  Allah Ta’ala. Dan pengkhususan yang kedua ini adalah pengkhususan ahlul  atsar wal khabar diantara sekian banyak kelompok sempalan dan kesesatan.  Dan ini adalah pengkhususan, pemilihan, taufiq dan penyaringan yang  sempurna, yang dengannya akan sempurna kehidupan seorang muslim dalam  segi agama, lurus dengannya agama ini, dan akan baik dunianya dengannya.</p>
<p>Dan sebagaimana kalian ketahui bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan  kitab-Nya yang mulia dan sunnah nabi-Nya penjagaan dari kesalahan bagi  siapa saja yang berpegang teguh dengan keduanya, sebagai nikmat bagi  yang diberi taufiq mengamalkan keduanya, dan sebagai rahmat bagi siapa  saja yang menjadi sebab ketaatan kepada keduanya. Maka seorang muslim  yang meniti jalan rasul bukan pelaku bid’ah, yang berpegang teguh <strong>bukan  bercerai berai</strong>, yang mengarah kepada al-haq bukan berpaling, yng  mengamalkan syari’at bukan berpaling, menunaikan al-haq bukan mengubah  dan bukan mengganti, yang seperti ini Allah Ta’ala telah menjamin  baginya adanya dukungan dan pertolongan yang khusus beserta perlindungan  dan penjagaan yang dikhususkan baginya dari sekian banyak manusia.</p>
<p>Allah Rabb semesta alam berfirman kepada nabi-Nya,</p>
<p><strong>إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ  كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ  لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ  سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ  كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ  الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ<br />
</strong><br />
“Jika kalian enggan menolongnya (Muhammad) maka sungguh Allah telah  menolongnya, ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah  satu dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam goa, ketika dia  mengatakan kepada temannya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya  Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan dari-Nya atasnya,  dan Allah mengkokohkaan mereka dengan tentara yang kalian belum  melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu hina. Dan  seruan Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha  Bijaksana.” (At-Taubah: 40)</p>
<p>Maka seorang muslim yang berpegang teguh jika dihinakan manusia dan jika  dimusuhi manusia maka sesungguhnya bersamanya ada penolong yang paling  baik (yaitu Allah Ta’ala). Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>إِن يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika Allah menolong kalian maka tiada yang bisa mengalahkan kalian.”</p>
<p>Mak seorang muslim jika meminta bantuan kepada Allah tidak akan  merugikannya hinaan para penghina dan tidak akan terealisasikan padanya  makarnya pembuat makar. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla mengawasi mereka  semua.</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, yang dituntut adalah agar kita <strong>memperkuat  hubungan kita dengan pencipta kita</strong>, pemelihara kita, dan yang memiliki  perkara kita semua. Kita memperkuat hubungan kita dengan Rabb kita.  Dengan penuh rasa takut mereka diawasi oleh-Nya, takut kepada-Nya,  berharap kepada-Nya, mengejar apa yang ada di sisi-Nya, menjauhi apa  yang menjadi ancaman-Nya Maha Suci Allah dan Maha Tinggi.</p>
<p>Kapan kalbu-kalbu itu dihidupkan dengan dzikir kepada Allah Ta’ala,  penuh dengan pengagungan kepada Allah Ta’ala dan rasa takut kepada Allah  Ta’ala serta merasa di awasi oleh Allah Ta’ala, maka akan mudah bagi  anggota badan untuk melahirkan ucapan dan amalan yang baik, yang shalih.  Hati-hatilah engkau dari kelalaian untuk memperbaiki kalbumu karena  <strong>perbaikan kalbu-kalbu kita ini lebih berat dari pada perbaikan  bendungan, lebih berat dari pembangunan pabrik, lebih berat dari  pembuatan kapal</strong>. Jangan engkau lalai untuk memperbaiki kalbumu. Jika  baik kalbumu maka akan baik keadaanmu, jika lemah kalbumu akan lemah  keadaanmu, dan jika rusak kalbumu akan rusak keadaanmu. Dan jika kalbumu  menjauh dari Allah Ta’ala maka Allah akan menjauh dari hamba. Dan  balasan itu sesuai dengan amalannya.</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya berpegang teguh dengan manhaj  nubuwah benar-benar wujud kelurusan dan hakekat petunjuk, penegak amalan  hamba di atas sebaik-baik perbekalan. Hendaknya semua semangat untuk  berada di atas titian ini, titian di atas manhaj nubuwah. Syaikhul Islam  -rahimahullah- berkata: “Al-haq itu perputar bersama Rasul kemana dia  mengarah, dan bersama para shahabatnya tanpa yang lainnya kemana mereka  mengarah”. Maka merupakan kaidah yang sangat agung yang bertolak darinya  ahlus sunnah dan mereka membangun pegangan teguh mereka di atasnya:  “Bahwa mereka bersama al-haq di manapun berada, berputar bersama mereka  kemanapun mereka mengarah”. Sungguh pemimpin orang terpilih dan  orang-orang terbaik telah mengajarkan pada kita agar kita mengatakan  pada do’a istikharah:</p>
<p><strong>وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ</strong></p>
<p>“Dan taqdirkan bagiku kebaikan di manapun berada, kemudian jadikan aku  ridha padanya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan lainnya.</p>
<p>Lafazh: “Kemudian jadikan aku ridha padanya”, sesorang terkadang  mengetahui al-haq, ditampakkan oleh Allah Ta’ala al-haq padanya tapi dia  enggan menerimanya, jika dia menerimanya tidak bisa jujur dalam  menerimanya dan tidak ikhlas dalam menunaikannya. Tidaklah setiap orang  yang menerima al-haq terus menjadi al-haq.</p>
<p>Maka kita butuh untuk memahami bagaimana bisa berpegang teguh dengan  agama Allah Ta’ala dan menegakkan syari’at Allah Ta’ala, berhenti pada  batasan-batasan Allah Ta’ala. Jika Allah Ta’ala merizkikan kepadamu  sikap berpegang teguh dengan al-kitab dan as-sunnah maka engkau akan  puas tenang dengan keduanya dan engkau tidak akan menginginkan  selainnya, dan tidak menginginkan gantinya. Maka ketahuilah bahwa Allah  Ta’ala telah memuliakan dengan sesuatu yang mencukupkan engkau dari adat  manusia dan pandangan manusia serta aturan manusia. Engkau tidak  membutuhkan sedikitpun apa yang mereka miliki, sesungguhnya kita ini  butuh untuk mempelajari dan mendalami syari’at islam, mengamalkannya dan  medakwahkannya serta membelanya. Kita butuh akan itu semua.</p>
<p>Maka setiap kita hendaknya memuji Allah Ta’ala akan anugerah-Nya dan  akan apa yang dikhususkan dengannya dan dia dimuliakan dengannya. Ingat  dan ingatlah jangan sampai syaithan mendatangi kita dari pintu  kelalaian. Syaithan itu musuh manusia dan makhluk yang paling keras  gangguannya terhadap orang-orang beriman dan terhadap orang yang  berpegang teguh, dan orang yang baik dan shalih. Sesungguhnya gangguan  untuk golongan orang ini sangatlah besar. Allah Ta’ala berfirman  mengabarkan tetntang syaithan,</p>
<p><strong>لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p>“Benar-benar aku akan duduk (merintangi) bagi mereka jalan-Mu yang  lurus.”</p>
<p>Syaithan tidaklah duduk merintangi di jalannya orang-orang yang  menyimpang, dan jalannya orang sesat dan kafir. Hanyalah dia duduk  (melazimi) merintangi jalan kebenaran dan jalan istiqamah. Sebagaimana  yang dikabarkan, siapa yang ingin istiqamah dan memperbaiki hubungan dia  dengan Allah Ta’ala, dan ingin kokoh dalam syari’at Allah Ta’ala  bertindaklah syaithan dengan makrnya dan tipu dayanya, dengan was-wasnya  dan tipuan hiasannya, dengan hinaannya dan manakut-nakuti beserta  pemecah-belahannya. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa salam- telah benar  dalam sabadanya,</p>
<p><strong>إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى  الجَزِيرَةِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk bisa diibadahi orang yang  shalat di jazirah. <strong>Akan tetapi (dia merusak) dengan memecah belah antara  mereka</strong>.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir -radhiyallahu ‘anhu-.</p>
<p>Maka syaithan memecah belah antara orang-orang yang beriman, bahkan  antara orang yang bajik dan shalih. Maka siapa diantara kita yang tidak  waspada dan sadar akan pemecah belahannya syaithan akan menjerumuskannya  dalam pergulatan dan pertarungan terhadap saudaranya sesama muslim  untuk bisa menyingkirkan keduanya. Oleh karena itu, waspadalah dari  datangnya syaithan melalui kelalaian kita. Dan kita semangat sebatas  kemampuan kita melakukan segala perkara sehingga kita bisa membendung  pintunya dan bisa memotong jalannya bi idznillah. Kita semangat untuk  saling menasehati antara kita, karena tujuan perbaikan bukan tujuan yang  lain dari keinginan-keinginan yang menjauhkan keikhlasan dan kejujuran.  Dan juga kita semangat untuk saling menasehati antara kita ketika telah  terjadi perselisihan antara si fulan dan yang lain, dan kita harus  berhias, bersenang-senang dan bernikmat-nikmat dengan sifat sabar demi  terjaganya ukhuwah dalam agama ini, dan demi dakwah kepada Allah Rabb  semesta alam, serta demi tambahnya kebaikan dan saling tolong-menolong  dalam kebaikan.</p>
<p>Rabb kita jalla sya’nuhu menguji dan memberi cobaan pada kita dengan  sebagian kita, agar bisa diketahui adanya kesabaran kita atau tidak  adanya, dan agar diketahui mana yang jujur dalam ta’awun dalam kebaikan  dan ketakwaan dan yang tidak seperti itu. Rabb kita berfirman dan Dia  adalah yang paling benar ucapannya,</p>
<p><strong>وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ  بَصِيرًا</strong></p>
<p>“Dan Kami jadikan sebagian kalian bagi yang lainnya fitnah (ujian),  apakah kalian akan bersabar? Dan adalah Rabbmu itu Maha Melihat.”</p>
<p>Subhanallah, betapa banyak saudara kita yang lalai dari ayat ini. Ketika  timbul dari saudaranya sesuatu dia berusaha bagaimana bisa  menyingkirkannya, bagaimana bisa mengalahkannya, dan bagaimana bisa  memaksakan pendapatnya -kecuali orang yang dirahmati Allah Ta’ala-.</p>
<p>Rabb kita mengajak kita kepada pemberian yang paling luas yang Dia  berikan kepada hamba, memuliakan dengannya hamba. Al-Bukhary dan Muslim  telah meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id bahwa Rasulullah -shallallahu  ‘alaihi wa salam- bersabda,</p>
<p><strong>وَمَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدًا مِنْ عَطَاءٍ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ</strong></p>
<p>“Tidaklah seorangpun diberi pemberian lebih baik daan lebih luas dari  kesabaran.”</p>
<p>Wahai saudara sekalian, aku ingakan kalian akan atsar yang sangat agung,  yaitu atsar yang hasan dari Ibnu Mas’ud dia berkata ditujukan kepada  shahabat di saat itu, pada saat terjadinya sedikit perselisihan:  <strong>“Sesungguhnya apa yang kalian benci selama dalam jama’ah itu lebih baik  dari apa yang kalian cintai dalam perpecahan”.</strong></p>
<p>Maka tetap bersamanya kalian dengan saudaramu ahlus sunnah lebih baik  bagimu, wallahi, meskipun ada sedikit perselisihan, meski terjadi  perselisihan antara engkau dan saudaramu, yang ini keterlaluan dalam  bicara tentangnya atau tentang saudaranya. <strong>Kesabaran, perbaikan dan  nasehat dan yang semisalnya adalah obat, penyembuh</strong>, dan terapinya semua  perkara ini. Maka <strong>janganlah kalian ceburkan diri kalian dalam  perselisihan</strong>, dan jadilah sebagaimana yaang kalian diperintah Allah  ta’ala, merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka, apa yang harus  diperbuat, bagaimana sikapnya bersama ini atau bersama orang-orang yang  terjadi dari mereka ini.</p>
<p>Maka kita memuji Allah Ta’ala bahwa dakwah ahlus sunnah di Yaman  berjalan di atas kebaikan demikian pula di tempat lain. Dikarenakan  orang-orangnya mengikuti arahan para ulama yang mana mereka lebih tahu  akan peristiwa perselisihan, yang mana mereka berusaha untuk  memperbaikinya dan <strong>menutup pintu-pintu fitnah</strong>. Maka merujuk kepada  mereka inilah yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala, dan ialah yaang  dibutuhkan oleh setiap orang yang memikul dakwah di manapun berada, dia  butuh akan hal itu. Maka merujuk kepada ulama hadits ulama sunnah adalah  diantara sebab yang paling besar untuk memperbaiki keadaan, untuk  berlangsungnya kebaikan dan persatuan. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ  أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاء وَاللَّهُ سَمِيعٌ  عَلِيمٌ</strong></p>
<p>“Kalau bukanlah keutamaan Allah atas kalian dan rahmat-Nya tidaklah Dia  akn mensucikan seorang dari kalian selamanya, akan tetapi Allah  mensucikan siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Mendengar lagi Maha  Tahu.”</p>
<p>Dan Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ  وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ  لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ  عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً</strong></p>
<p>“Dan jika datang suatu perkara keamanan atau ketakutan serta merta  mereka menyebarkannya, kalau saja mereka mengembalikannya kepada Rasul  dan ulil amri dari mereka niscaya akan mengetahui orang jeli  memandangnya dari mereka. Dan kalau bukan karena keutamaan Allah atas  kalian niscaya kalian benar-benar mengikuti syaithan kecuali sedikit.”</p>
<p>Kapan kita bisa menjadi pengikut syaithan? Jika kita meninggalkan  merujuk kepada ulama ketika terjadi perselisihan dan fitnah. Maka kami  mewasiatkan kepada saudara kami -hafizhahumullah- dengan kelurusan,  petunjuk dan kesabaran dan mengikuti bimbingan ulama sehingga daerah  perselisihan tidak meluas, sehingga tidak terjadi saling hajr dan  menghizbikan dengan cara yang tergesa-gesa, buru-buru dan tidak tahu  hakekat masalah dengan batasan-batasannya. Maka terjadilah antara dulu  dan sekarang si fulan berbeda dengan si fulan tapi apa itu kelurusan?  Kelurusan adalah bahwa manusia tidak merujuk kepada yang berselisih atau  salah satunya, namun merujuk kepada ulama yang mengetahui perselisihan  ini, yang hidup atau mengetahui perselisihan ini.</p>
<p>Jika sikap merujuk ini terjadi, maka bergembiralah dengan tetapnya  keadaan lurus, dan terus-menerusnya kebaikan, lestarinya ta’awun,  persaudaraan, saling mendukung, dan saling menolong. Dan inilah yang  terjadi -bihamdillah- pada diri kami di Yaman, mereka menempuh jalan  merujuk kepada ulama dan mendengarkan bimbingannya dan apa yang mereka  katakan. Maka kebaikan terjaga dan dakwah ahlus sunnah tetap berlangsung   -bi idznillah-, juga tertolong dengan pertolongan Allah Ta’ala,  terjaga dengan penjagaan Allah Ta’ala sampai hari kiamat. <strong>Entah dakwah  itu akan tertolong dengan kita entah dengan selain kita, entah akan  tersebar dengan sebab kita atau dengan selain kita</strong>. Allah Ta’ala telah  berfirman,</p>
<p><strong>وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا  أَمْثَالَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain  kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”</p>
<p>Barang siapa bukan orang yang berhak mengampu dakwah ini, namun dia  menjadikan dakwah ini untuk meraih kepentingan dunia, maka perbuatan  seperti ini tidak akan langgeng. Karena Allah Ta’ala itu lebih  pencemburu dari pada kita akan agama-Nya, akan dakwah rasul-Nya  -shallallahu ‘alaihi wa salam-. Jika saudar-saudara kita ahlus sunnah  berada di atas bimbingan para ulama, akan tetap ada kebaikan ini,  ukhuwah akan langgeng, dakwah kepada Allah akan kuat.</p>
<p>Yang penting, <strong>dakwah ahlus sunnah akan tertolong dengan kita atau selain  kita</strong>. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا  أَمْثَالَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain  kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”</p>
<p>Sepantasnya bagi kita untuk menjihadi diri-diri kita dengan kejujuran  terhadap Allah, keikhlasan kepada Allah, ridha terhadp al-haq dan  menerimanya. Jika ini terwujudkan akan lestari kebaikan ini biidznillah.  Berusahalah dengan sunguh-sungguh, maka berbekallah dengan ilmu syar’i  dan mengamaalkan konsekuensinya.</p>
<p>Aku memohon kepada Allah dengan anugerah-Nya dan kemurahan-Nya, dengan  keutamaan-Nya dan kebaikan-Nya agar mengkokohkan kita semua di atas  al-haq sampai kita bertemu dengan-Nya. Tiada daya dan upaya kecuali  dengan pertolongan Allah Ta’ala.</p>
<p>Ditranskrip dan diterjemahkan oleh:<br />
‘Umar Al-Indunisy<br />
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman</p>
<p>Sumber: darussalaf.com</p>
<p>Dikutip dengan editing ulang dari:<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this),  &quot;d40cdL4PtKGOP8mFj2SrrVg5NbQ&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/06/15/nasehat-asy-syaikh-muhammad-al-imam-untuk-salafiyin-indonesia/" target="_blank"><span> http://salafiyunpad.wordpr</span><span>ess.com</span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lezatnya Ketaatan Yang Dipertanyakan</title>
		<link>http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 22:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Munafiq]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Surga Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1781</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Banyak orang mengira bahwa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya merupakan sebuah upaya yang sama sekali tidak menyenangkan, apatah lagi mendatangkan kelezatan. Namun, sebenarnya hal ini adalah sebuah perkara yang sudah dijelaskan oleh agama. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Banyak orang mengira bahwa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya merupakan sebuah upaya yang sama sekali tidak menyenangkan, apatah lagi mendatangkan kelezatan. Namun, sebenarnya hal ini adalah sebuah perkara yang sudah dijelaskan oleh agama. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan manisnya iman, orang yang merasa ridha Allah sebagai rabbnya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Jelas sekali dari hadits yang mulia ini bahwa dengan sebab ketaatan seorang hamba akan bisa merasakan kenikmatan berupa manisnya keimanan.</p>
<p><span id="more-1781"></span></p>
<p>Mengapa anggapan negatif semacam itu muncul, sehingga mengesankan bahwa jalan agama merupakan jalan yang tidak menjanjikan kenikmatan apa-apa? Banyak faktor yang mengelabui manusia sehingga membuat mereka memiliki persepsi yang salah semacam itu. Di antaranya adalah unsur kecintaan kepada dunia -yang notabene sementara dan fana- dan melupakan akherat -padahal akherat itu kekal dan abadi-. Dunia, dengan segenap perhiasannya telah banyak menipu orang. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. Huud: 15-16</strong>)</p>
<p>Gara-gara dunia, sebagian orang pun rela menjual agamanya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Berbicara soal cinta dunia, tak bisa lepas dari godaan harta, wanita, ataupun tahta. Iblis dan bala tentaranya telah sekian lama berkecimpung dalam dunia &#8216;fitnah&#8217; ini untuk menjebak manusia ke jurang-jurang kebinasaan, melalui pintu harta, wanita, atau tahta. Soal harta, bukanlah perkara yang ringan. Sampai-sampai seorang sahabat yang mulia sekelas Umar bin Khattab pun mengakui dalam sebuah ucapannya, <em>“Ya Allah, kami tidak mampu melainkan merasakan gembira terhadap sesuatu yang Kamu hiasi/jadikan indah bagi kami -yaitu harta, wanita, dan anak-anak-. Ya Allah, maka aku memohon kepada-Mu agar dapat menginfakkannya di jalannya yang benar.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em>).</p>
<p>Karena banyaknya orang yang tertipu oleh harta, maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun mengingatkan kepada mereka. Beliau bersabda, <em>“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p>Siapa yang mengatakan bahwa dengan dua atau tiga lembah emas manusia akan merasa cukup, dengan gaji dua atau tiga ratus juta per bulan orang akan merasa puas, siapa yang mengatakan&#8230;? Sementara Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sendiri telah mempersaksikan, <em>“Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Di sisi lain, orang-orang yang berpeluh keringat dan pusing tujuh keliling di atas jalan ketaatan merasakan bahwa apa yang mereka lakukan tidak mendatangkan keuntungan duniawi apa-apa. Waktu mereka &#8216;terbuang&#8217;, harta mereka &#8216;berkurang&#8217;, keinginan mereka terkekang; seolah-olah dunia ini telah menjadi sebuah penjara besar yang memasung segala keinginan dan harapan mereka untuk mencapai kenikmatan.</p>
<p>Janganlah anda heran, sebab memang demikianlah keadaan orang-orang yang belum mengenali karakter kehidupan dunia dan kebahagiaan sejati yang akan dirasakan oleh setiap mukmin di dalamnya. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Dunia ini laksana seorang wanita pelacur yang tak pernah mau setia kepada satu suamipun melainkan sebatas harga transaksi pelacuran&#8230;”</em> Maka orang yang tertipu oleh dunia adalah orang yang rela menjual agama dan kehormatannya demi meraih kenikmatan semu yang berakhir dengan siksa, kepedihan, dan penyesalan.</p>
<p>Padahal, para ulama salaf kita mengatakan, <em>“Sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, barangsiapa yang tidak memasukinya niscaya dia tidak akan memasuki surga di akherat.”</em> Sebagian mereka juga berkata, <em>“Banyak para penghuni dunia yang keluar dari alam dunia sementara mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di dalamnya.” </em>Kenikmatan itu tiada lain adalah mengenal Allah dan merasa tentram dengan segala keputusan-Nya.</p>
<p>Itulah orang yang bisa merasakan kelezatan iman, apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah, apabila dia membenci maka bencinya karena Allah, apabila dia memberi maka pemberiannya juga karena Allah, demikian pula apabila tidak memberi maka hal itu pun karena Allah.. Oleh sebab itu, Allah <em>ta&#8217;ala</em> mensifati orang-orang beriman dengan sifat-sifat yang menggambarkan kelapangan dada mereka terhadap apa yang ditetapkan-Nya. Allah menggambarkan bahwa hati mereka tidak merasa sempit atas apa yang diputuskan oleh Rasul-Nya. Hati mereka bergetar saat teringat kepada-Nya, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka, dan mereka tidak menggantungkan harapan kecuali kepada-Nya semata.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki ataupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka alternatif lain dalam urusan mereka&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>). Allah<em> ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi Rabbmu, sekali-kali mereka itu tidaklah beriman, sampai mereka menjadikanmu -Muhammad- sebagai hakim atas segala yang mereka perselisihkan di antara mereka, lalu mereka tidak mendapati rasa sempit di dalam hati mereka atas keputusan yang kamu berikan, dan mereka pun pasrah dengan sepenuhnya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 65</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetar/takutlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka semakin bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabbnya.”</em> (<strong>QS. al-Anfaal: 2</strong>)</p>
<p>Dan mereka -kaum beriman- adalah orang-orang yang tidak menyimpan keraguan terhadap apa yang dijanjikan oleh Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ketika orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu -untuk menghancurkan pasukan Islam- maka mereka berkata, &#8216;Inilah yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya, dan Maha benar Allah dan rasul-Nya.&#8217; Dan tidaklah hal itu melainkan menambahkan kepada mereka keimanan dan kepasrahan.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 22</strong>). Sebaliknya, kalau kita perhatikan sosok orang-orang kafir dan munafik, maka Allah mensifati mereka dengan keragu-raguan terhadap janji Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ingatlah ketika orang-orang munafik serta orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit itu mengatakan: Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 12</strong>). Maka di posisi mana kita berada?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jauhilah Sifat-Sifat Munafik!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 06:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Munafik]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1760</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al-Ustadz Abu Abdurrahman Mubarak Sumber: http://akhwat.web.id Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjauhilah-sifat-sifat-munafik.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjauhilah-sifat-sifat-munafik.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Penulis  : <strong>Al-Ustadz Abu Abdurrahman Mubarak</strong><br />
Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;6e240&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://akhwat.web.id/" target="_blank">http://akhwat.web.id</a></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna  menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian  dan cobaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p><strong>الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ  عَمَلًا</strong></p>
<p>“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di  antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)</p>
<p><span id="more-1760"></span><br />
<strong>الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ  لَا يُفْتَنُونَ</strong></p>
<p>“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan  (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji  lagi?” (Al-’Ankabut: 1-2)</p>
<p>Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmah-Nya memberitahukan  kepada hamba-hamba-Nya hikmah dihadapkannya mereka kepada berbagai ujian  dan cobaan itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ  الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ<br />
</strong><br />
“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka,  maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan  sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 3)</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu menyatakan  dalam tafsirnya: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang  hikmah-Nya yang sempurna. Di mana sifat hikmah-Nya mengharuskan setiap  orang yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja dengan  pengakuannya. Pasti dia akan dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan.  Bila tidak demikian, niscaya tidak bisa terbedakan antara orang yang  benar dan jujur dengan orang yang dusta. Tidak bisa terbedakan pula  antara orang yang berbuat kebenaran dengan orang yang berbuat kebatilan.  Sudah merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia menguji  (manusia) dengan kelapangan dan kesempitan, kemudahan dan kesulitan,  kesenangan dan kesedihan, serta kekayaan dan kemiskinan.”</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya: “(Agar  terbedakan) orang-orang yang benar dalam pengakuannya dari orang-orang  yang dusta dalam ucapan dan pengakuannya. Sedangkan Allah Subhanahu wa  Ta’ala Maha mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan  yang akan terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengetahui cara  terjadinya sesuatu bila hal itu terjadi. Hal ini adalah prinsip yang  telah disepakati (ijma’) oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.”</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan telah mengabarkan:</p>
<p><strong>وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ  بَصِيرًا</strong></p>
<p>“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah  kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha melihat.” (Al-Furqan: 20)</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan maksud ayat di  atas dalam tafsirnya: “Seorang rasul adalah ujian bagi umatnya, yang  akan memisahkan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang durhaka  terhadap rasul tersebut. Maka Kami jadikan para rasul sebagai ujian dan  cobaan untuk mendakwahi kaum mereka. Seorang yang kaya adalah ujian bagi  yang miskin. Demikian pula sebaliknya. Orang miskin adalah ujian bagi  orang kaya. Semua jenis tingkatan makhluk (merupakan ujian dan cobaan  bagi yang sebaliknya) di dunia ini. Dunia yang fana ini adalah medan  yang penuh ujian dan cobaan.”</p>
<p>Dari penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu di atas,  kita dapatkan faedah bahwa: seorang istri adalah ujian bagi suaminya,  anak adalah ujian bagi kedua orangtuanya, pembantu adalah ujian bagi  tuannya, tetangga adalah ujian bagi tetangga yang lainnya, rakyat adalah  ujian bagi pemerintahnya, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Selanjutnya, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan:  “Tujuannya adalah apakah kalian mau bersabar, kemudian menegakkan  berbagai perkara yang diwajibkan atas kalian, sehingga Allah Subhanahu  wa Ta’ala akan membalas amalan kebaikan kalian. Ataukah kalian tidak mau  bersabar yang dengan sebab itu kalian berhak mendapatkan kemurkaan  (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan siksaan?! Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:</p>
<p><strong>زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ  وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ  الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ  الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ</strong></p>
<p>“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang  diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis  emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang.  Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali  yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa kecintaan terhadap  kenikmatan dan kesenangan dunia akan ditampakkan indah dan menarik di  mata manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan hal-hal ini  secara khusus karena hal-hal tersebut adalah ujian yang paling dahsyat,  sedangkan hal-hal lain hanyalah mengikuti. Maka, tatkala hal-hal ini  ditampakkan indah dan menarik kepada mereka, disertai faktor-faktor yang  menguatkannya, maka jiwa-jiwa mereka akan bergantung dengannya.  Hati-hati mereka akan cenderung kepadanya.” (Taisir Al-Karimirrahman,  hal. 124)</p>
<p><strong>Fitnah (godaan) wanita</strong></p>
<p>Betapa banyak lelaki yang menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa  Ta’ala karena godaan wanita. Betapa banyak pula seorang suami terjatuh  dalam berbagai kezaliman dan kemaksiatan disebabkan istrinya. Sehingga  Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman  dengan firman-Nya:</p>
<p><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ  عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ</strong></p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu  dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu  terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)</p>
<p>Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata: “Yakni akan menyeret orangtua  atau suaminya untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat  kepada Rabbnya, maka karena kecintaan kepadanya, suami atau orangtuanya  tidak bisa kecuali menaatinya (anak atau istri tersebut).”</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ  ضِلْعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ  تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ،  فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ</strong></p>
<p>“Berniat dan berbuat baiklah kalian kepada para wanita. Karena seorang  wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya  rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka apabila kamu  berusaha dengan keras meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya.  Sedangkan bila kamu membiarkannya niscaya akan tetap bengkok. Maka  berwasiatlah kalian kepada para istri (dengan wasiat yang baik).”  (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<p><strong>مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنََ  النِّسَاءِ</strong></p>
<p>“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian/godaan) yang lebih  dahsyat bagi para lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih dari  Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)</p>
<p>Al-Mubarakfuri rahimahullahu berkata: “(Sisi berbahayanya fitnah wanita  bagi lelaki) adalah karena keumuman tabiat seorang lelaki adalah sangat  mencintai wanita. Bahkan banyak terjadi perkara yang haram (zina,  perselingkuhan, pacaran, dan pemerkosaan, yang dipicu [daya tarik]  wanita). Bahkan banyak pula terjadi permusuhan dan peperangan disebabkan  wanita. Minimalnya, wanita atau istri bisa menyebabkan seorang suami  atau seorang lelaki ambisius terhadap dunia. Maka ujian apalagi yang  lebih dahsyat darinya?</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan godaan wanita itu  seperti setan, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu  ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang  wanita. Kemudian beliau mendatangi Zainab istrinya, yang waktu itu  sedang menyamak kulit hewan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu  menunaikan hajatnya (menggaulinya dalam rangka menyalurkan syahwatnya  karena melihat wanita itu). Setelah itu, beliau keluar menuju para  sahabat dan bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ  شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ  فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan berlalu dalam  bentuk setan pula. Apabila salah seorang kalian melihat seorang wanita  (dan bangkit syahwatnya) maka hendaknya dia mendatangi istrinya  (menggaulinya), karena hal itu akan mengembalikan apa yang ada pada  dirinya (meredakan syahwatnya).” (HR. Muslim)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Syarah Shahih Muslim  (8/187): “Para ulama mengatakan, makna hadits itu adalah bahwa  penampilan wanita membangkitkan syahwat dan mengajak kepada fitnah.  Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan adanya kecenderungan  atau kecintaan kepada wanita dalam hati para lelaki, merasa nikmat  melihat kecantikannya berikut segala sesuatu yang terkait dengannya.  Sehingga seorang wanita ada sisi keserupaan dengan setan dalam hal  mengajak kepada kejelekan atau kemaksiatan melalui was-was serta  ditampakkan bagus dan indahnya kemaksiatan itu kepadanya.</p>
<p>Dapat diambil pula faedah hukum dari hadits ini bahwa sepantasnya  seorang wanita tidak keluar dari rumahnya, (berada) di antara lelaki,  kecuali karena sebuah keperluan (darurat) yang mengharuskan dia keluar.</p>
<p>Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu  ‘alaihi wa sallam melarang segala sesuatu yang akan menyebabkan  hamba-hamba-Nya terfitnah dengan wanita, seperti memandang, berkhalwat  (berduaan dengan wanita yang bukan mahram), ikhtilath (campur-baur  lelaki dan perempuan yang bukan mahram). Bahkan mendengarkan suara  wanita yang bisa membangkitkan syahwat pun dilarang.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا  فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ</strong></p>
<p>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka  menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Yang demikian itu  adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa  yang mereka perbuat. (An-Nur: 30)</p>
<p><strong>فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ  وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا</strong></p>
<p>“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah  orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang  baik.” (Al-Ahzab: 32)</p>
<p><strong>وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا</strong></p>
<p>“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu  perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda:<br />
<strong><br />
لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ</strong></p>
<p>“Janganlah salah seorang kalian berduaan dengan seorang wanita kecuali  bersama mahramnya.” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ  الْأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ</strong></p>
<p>“Jauhi oleh kalian masuk kepada para wanita.” Seorang lelaki Anshar  bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang ipar?” Beliau Shallallahu  ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ipar itu berarti kebinasaan (banyak terjadi  zina antara seorang lelaki dengan iparnya).” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Agar hamba-hamba-Nya selamat dari godaan wanita, Allah Subhanahu wa  Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk  menikah dengan wanita shalihah, yang akan saling membantu dengan dirinya  untuk menyempurnakan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu  wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ</strong></p>
<p>“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka  beriman.” (Al-Baqarah: 221)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا  وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ</strong></p>
<p>“Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya,  kebaikan nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita  yang bagus agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih  dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p><strong>Godaan dunia dan harta</strong></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهُ مُسْتَخْلِفُكُمْ  فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا  النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي  النِّسَاءِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) dan hijau (menyenangkan  dilihat). Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan  sebagian kalian dengan sebagian yang lain di dalamnya, maka Dia akan  melihat bagaimana kalian beramal dengan dunia tersebut. Oleh karena itu,  takutlah kalian terhadap godaan dunia (yang menggelincirkan kalian dari  jalan-Nya) dan takutlah kalian dari godaan wanita, karena ujian yang  pertama kali menimpa Bani Israil adalah godaan wanita.” (HR. Muslim dari  Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)<br />
<strong><br />
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang  terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah  harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Harta dan dunia bukanlah tolok ukur seseorang itu dimuliakan atau  dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><strong>فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ  وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ  فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ</strong></p>
<p>Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan  diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku.”  Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia  berkata: “Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 15-16)</p>
<p>Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Maksud ayat-ayat tersebut  adalah tidak setiap orang yang Aku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) beri  kedudukan dan limpahan nikmat di dunia berarti Aku limpahkan  keridhaan-Ku kepadanya. Hal itu hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari-Ku  untuknya. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, Aku  beri sekadar kebutuhan hidupnya tanpa ada kelebihan, berarti Aku  menghinakannya. Namun Aku menguji hamba-Ku dengan kenikmatan-kenikmatan  sebagaimana Aku mengujinya dengan berbagai musibah.” (Ijtima’ul Juyusy,  hal. 9)</p>
<p>Sehingga, dunia dan harta bisa menyebabkan pemiliknya selamat serta  mulia di dunia dan akhirat, apabila dia mendapatkannya dengan cara yang  diperbolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Dia juga mensyukurinya serta menunaikan hak-haknya  sehingga tidak diperbudak oleh dunia dan harta tersebut. Sebagaimana  sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><strong>لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا  فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ  حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا</strong></p>
<p>“Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan: Orang yang Allah Subhanahu  wa Ta’ala karuniakan harta kepadanya lalu dia infakkan di jalan yang  benar, serta orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan ilmu  kepadanya lalu dia menunaikan konsekuensinya (mengamalkannya) dan  mengajarkannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Dan demikianlah keadaan para sahabat dahulu. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu  menceritakan: Beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><strong>يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ  كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ  أَمْوَالِهِمْ</strong></p>
<p>“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendahului kami untuk  mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka juga  berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka bersedekah dengan  kelebihan harta mereka.” (HR. Muslim)</p>
<p>Sebaliknya, orang yang tertipu dengan harta dan dunia sehingga dia  diperbudak olehnya, dia akan celaka dan binasa di dunia maupun akhirat.  Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa  Ta’ala dari hal tersebut). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah  memperingatkan tentang hakikat harta dan dunia itu dalam firman-Nya:</p>
<p><strong>وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ</strong></p>
<p>“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”  (Ali Imran: 185)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ  عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ  فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ</strong></p>
<p>“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir  akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan  kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba  mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian, maka dunia  itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan  orang-orang yang sebelum kalian.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Amr bin ‘Auf  radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p><strong>تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ،  إِنْ أُعْطِيَ رَضِي وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ</strong></p>
<p>“Celaka hamba dinar, dirham, qathifah, dan khamishah (keduanya adalah  jenis pakaian). Bila dia diberi maka dia ridha. Namun bila tidak diberi  dia tidak ridha.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kejahatan orang yang berilmu dan  ahli ibadah dari kalangan ahli kitab yang telah diperbudak oleh harta  dan dunia dalam firman-Nya:</p>
<p><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ  وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ  وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ</strong></p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari  orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan  harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi  (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya: “Yang  dimaksud ayat tersebut adalah peringatan dari para ulama su’ (orang yang  berilmu tapi jahat) dan ahli ibadah yang sesat. Sebagaimana ucapan  Suyfan ibnu Uyainah rahimahullahu: ‘Barangsiapa yang jahat dari kalangan  orang yang berilmu di antara kita, berarti ada keserupaan dengan para  pemuka Yahudi. Sedangkan barangsiapa yang sesat dari kalangan ahli  ibadah kita, berarti ada keserupaan dengan para pendeta Nasrani. Di mana  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits  yang shahih: ‘Sungguh-sungguh ada di antara kalian perbuatan-perbuatan  generasi sebelum kalian. Seperti bulu anak panah menyerupai bulu anak  panah lainnya.’ Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya: ‘Apakah  mereka orang Yahudi dan Nasrani?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab: ‘Siapa lagi?’</p>
<p>Dalam riwayat yang lain mereka bertanya: ‘Apakah mereka Persia dan  Romawi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi  kalau bukan mereka?’</p>
<p>Intinya adalah peringatan dari tasyabbuh (menyerupai) ucapan maupun  perbuatan mereka. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:</p>
<p><strong>لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ  اللهِ</strong></p>
<p>“(Mereka) benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan  mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)</p>
<p>Hal itu karena mereka memakan harta orang lain dengan kedok agama.  Mereka mendapat keuntungan dan kedudukan di sisi umat, sebagaimana para  pendeta Yahudi dan Nasrani mendapatkan hal-hal tersebut dari umatnya di  masa jahiliah. Hingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus  Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun tetap  berkeras di atas kejahatan, kesesatan, kekafiran, dan permusuhannya,  disebabkan ambisi mereka terhadap kedudukan tersebut. Maka Allah  Subhanahu wa Ta’ala memadamkan kesesatan itu dengan cahaya kenabian  sekaligus menggantikan kedudukan mereka degan kehinaan serta kerendahan.  Dan mereka akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa  kemurkaan-Nya.”</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Sungguh, ambisi  terhadap dunia termasuk sebab yang menimbulkan berbagai macam fitnah  pada generasi pertama. Telah terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Umar  radhiyallahu ‘anhuma, dalam Masa’il Al-Imam Ahmad (2/171), bahwa beliau  radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang dari Anshar datang kepadaku pada  masa khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dia berbicara denganku.  Tiba-tiba dia menyuruhku untuk mencela Utsman radhiyallahu ‘anhu. Maka  aku katakan: ‘Sungguh, demi Allah, kita tidak mengetahui bahwa Utsman  membunuh suatu jiwa tanpa alasan yang benar. Dia juga tidak pernah  melakukan dosa besar (zina) sedikitpun. Namun inti masalahnya adalah  harta. Apabila dia memberikan harta tersebut kepadamu, niscaya engkau  akan ridha. Sedangkan bila dia memberikan harta kepada  saudara/kerabatnya, maka kalian marah.”</p>
<p>Selanjutnya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Bila  kalian arahkan pandangan ke tengah-tengah kaum muslimin, baik di zaman  yang telah lalu maupun sekarang, niscaya engkau akan saksikan kebanyakan  orang yang tergelincir dari jalan ini (al-haq) adalah karena tamak  terhadap dunia dan kedudukan. Maka barangsiapa yang membuka pintu ini  untuk dirinya niscaya dia akan berbolak-balik. Berubah-ubah prinsip  agamanya dan akan menganggap remeh/ringan urusan agamanya. (Bidayatul  Inhiraf, hal. 141)</p>
<p>Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Setiap orang dari kalangan  orang yang berilmu yang lebih memilih dunia dan berambisi untuk  mendapatkannya, pasti dia akan berdusta atas nama Allah Subhanahu wa  Ta’ala dalam fatwanya, dalam hukum yang dia tetapkan, berita-berita yang  dia sebarkan, serta konsekuensi-konsekuensi yang dia nyatakan. Karena  hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala mayoritasnya menyelisihi ambisi  manusia. Lebih-lebih ambisi orang yang tamak terhadap kedudukan dan  orang yang diperbudak hawa nafsunya. Ambisi mereka tidak akan bisa  mereka dapatkan dengan sempurna kecuali dengan menyelisihi kebenaran dan  sering menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim berambisi  terhadap jabatan dan mempertuhankan hawa nafsunya, maka ambisi tersebut  tidak akan didapatkan dengan sempurna kecuali dengan menolak kebenaran…</p>
<p>Mereka pasti akan membuat-buat perkara yang baru dalam agama, disertai  kejahatan-kejahatan dalam bermuamalah. Maka terkumpullah pada diri  mereka dua perkara tersebut (kedustaan dan kejahatan).</p>
<p>Sungguh, mengikuti hawa nafsu itu akan membutakan hati, sehingga tidak  lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Bahkan bisa terbalik,  dia lihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah.  Inilah penyakit para ulama bila mereka lebih memilih dunia dan  diperbudak oleh hawa nafsunya.” (Al-Fawaid, hal 243-244)</p>
<p><strong>اللَهُّمَ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا  الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ</strong></p>
<p>“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan  karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kebatilan itu  sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.” Wallahu  ‘alam bish-shawab.</p>
<p>Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;6e240&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=931" target="_blank"><span>http://asysyariah.com/syar</span><span>iah.php?menu=detil&amp;id_onli</span>ne=931</a><br />
<input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" />
<input name="fb_dtsg" type="hidden" value="ld20M" />
<input id="feedback_params" name="feedback_params" type="hidden" value="{&quot;actor&quot;:&quot;1292568681&quot;,&quot;target_fbid&quot;:&quot;392438151122&quot;,&quot;target_profile_id&quot;:&quot;1292568681&quot;,&quot;type_id&quot;:&quot;14&quot;,&quot;source&quot;:&quot;2&quot;,&quot;assoc_obj_id&quot;:&quot;&quot;,&quot;source_app_id&quot;:&quot;&quot;,&quot;extra_story_params&quot;:[],&quot;check_hash&quot;:&quot;793550fb6f7067ae&quot;}" />
<input id="post_form_id" name="post_form_id" type="hidden" value="b9089613221d317db3798880d2b6ba46" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekedar Untuk Mengingat</title>
		<link>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 04:35:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Sykur]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1723</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka dahulunya, adalah para pemuda yang rajin mengikuti majelis ilmu dan duduk mendengarkan ceramah agama. Bahkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka dahulunya, adalah para pemuda yang rajin mengikuti majelis ilmu dan duduk mendengarkan ceramah agama. Bahkan, beberapa di antara mereka adalah mantan tokoh-tokoh penggerak kegiatan dakwah di kampusnya. Tragis, gelar aktifis yang dulu mereka sandang kini telah berubah drastis. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1723"></span><span style="font-weight: normal;">Jenggot di dagu terpangkas habis, celana yang dulu diangkat di atas mata kaki -yang menandakan pengagungan terhadap Sunnah Nabi- kini telah terjurai menyentuh bumi, sosok yang dulunya sangat menjaga hubungan dengan perempuan non mahram kini telah terseret dalam aktifitas pacaran -bahkan dengan perempuan beda agama [!]-, pemuda yang sebelumnya akrab dengan majelis ilmu agama kini telah hanyut dalam dunia lain yang melalaikan dirinya dari tujuan hidupnya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Aduhai, semoga Allah mengembalikan mereka ke jalan-Nya&#8230;</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku, mengingat akan nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita merupakan perkara yang sangat penting dan banyak dilalaikan oleh manusia. Padahal, kita tahu bahwa semua kebaikan yang ada pada diri kita pada hakekatnya adalah anugerah dan karunia dari Allah ta&#8217;ala, sebuah nikmat yang harus kita syukuri dan kita senantiasa mohon kepada Allah agar meneguhkan kita di atas petunjuk dan bimbingan-Nya. Bukannya membuat kita malah menjadi sombong dan berubah menjadi hamba yang tidak bisa berterima kasih kepada Rabbnya. Perkara ini sudah sangat jelas sehingga semua orang niscaya bisa memahaminya dengan izin Allah. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan senantiasa mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur/ingkar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Baqarah</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengingatkan kita untuk senantiasa meminta tambahan petunjuk dan keteguhan agar kita bisa menjalani kehidupan dunia yang penuh dengan coba ini di atas rel yang semestinya. </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dalam sehari semalam tujuh belas kali kalimat ini kita ucapkan, yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita terhadap pancaran cahaya petunjuk dan bimbingan-Nya. Kalaulah Allah tidak menunjuki kita, maka kita akan tenggelam dalam berbagai kegelapan yang berlapis-lapis. Kegelapan dosa, kegelapan bid&#8217;ah, kegelapan syirik, atau bahkan kegelapan kemunafikan yang menjalar ke berbagai sikap dan perilaku hidup kita. Sehingga dengan kegelapan yang demikian pekat itu, kita tidak bisa melihat kebenaran sebagaimana mestinya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah keluarkan mereka dari bebagai kegelapam menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang akan mengeluarkan mereka dari cahaya menuju berbagai kegelapan.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Baqarah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span><em><span style="font-weight: normal;">. </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Maka tidak ada orang yang selamat dari kegelapan-kegelapan ini kecuali orang yang diberi taufik oleh Allah untuk tegar dalam menghadapi ujian, tidak tergoda dan terlena oleh kepalsuan dunia, tidak goyah oleh gemerlap kemewahan, dan senantiasa mengingat bahwa hidupnya di alam dunia ini hanyalah sejenak. Yang digambarkan oleh Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> layaknya seorang pengendara yang singgah di bawah sebatang pohon kemudian pergi meninggalkannya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang cerdas tentu tidak akan menjadikan pohon yang akan tumbang itu sebagai tempat tinggalnya, dia akan melanjutkan perjalanannya dan tidak terlena oleh sejuknya angin maupun rindangnya dedaunan. Karena perjalanannya masih jauh dan membutuhkan perbekalan yang cukup untuk mencapai tujuan dalam keadaan selamat. Saudaraku, cukuplah bagi kita firman Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Siapkanlah bekalmu wahai saudaraku, sebelum mulut terkunci dan sekujur tubuhmu menjadi kaku&#8230; </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pijakan Seorang Muslim Di Tengah Gelombang Fitnah</title>
		<link>http://abumushlih.com/pijakan-seorang-muslim-di-tengah-gelombang-fitnah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pijakan-seorang-muslim-di-tengah-gelombang-fitnah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 19:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ijtihad]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhtilaf]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1667</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi -hafizhahullah- PERTANYAAN Derasnya gelombang fitnah yang melanda kaum muslimin saat ini membuat sekian banyak kebingungan di tengah umat dan bahkan terbawa oleh arus fitnah tersebut. Sehingga wajarlah kalau timbul berbagai macam kerusakan dan menambah volume fitnah. Mohon terangkan bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapi fitnah menurut syariat Islam! JAWABAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpijakan-seorang-muslim-di-tengah-gelombang-fitnah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpijakan-seorang-muslim-di-tengah-gelombang-fitnah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: <strong>Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi</strong> -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p><strong> PERTANYAAN </strong></p>
<p>Derasnya gelombang fitnah yang melanda kaum muslimin saat ini  membuat sekian banyak kebingungan di tengah umat dan bahkan terbawa oleh  arus fitnah tersebut. Sehingga wajarlah kalau timbul berbagai macam  kerusakan dan menambah volume fitnah. Mohon terangkan bagaimana sikap  seorang muslim dalam menghadapi fitnah menurut syariat Islam!</p>
<p><span id="more-1667"></span><strong>JAWABAN </strong></p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman dalam Al-Qur`an  Al-Karim,</p>
<p><em> “Takutlah kalian kepada fitnah yang tidak hanya menimpa  orang-orang yang zhalim diantara kalian secara khusus.”</em> [<strong> Al-Anfal: 25</strong> ]</p>
<p>Ayat ini merupakan pokok penjelasan dalam fitnah. Karena itu Imam  Al-Bukhary dalam <strong><em> Shahih</em></strong> -nya memulai <em>Kitabul  Fitan</em> (kitab penjelasan tentang fitnah-fitnah) dengan penyebutan  ayat ini.</p>
<p>Firman Allah <em>Ta’ala</em>, <em>“Takutlah kalian kepada fitnah …,”</em> menunjukkan kewajiban seorang muslim untuk berhati-hati menghadapi  fitnah dan menjauhinya dan tentunya seseorang tidak bisa menjauhi fitnah  itu kecuali dengan mengetahui dua perkara:</p>
<ol>
<li> Apa-apa saja yang dianggap fitnah di dalam syariat Islam.</li>
<li> Pijakan, cara atau langkah dalam meredam atau menjauhi fitnah  tersebut.</li>
</ol>
<p>Kemudian Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>berkata dalam menafsirkan  ayat ini, “Ayat ini, walaupun merupakan pembicaraan yang ditujukan  kepada para shahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa  sallam</em>, akan tetapi ayat ini berlaku umum pada setiap muslim karena  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> men-<em>tahdzir</em> (memperingatkan) dari fitnah.”</p>
<p>Kata <em>fitnah</em> dalam konteks ayat datang dalam bentuk <em>nakirah</em> (umum), sehingga mempunyai makna yang umum, menyangkut segala sesuatu  yang merupakan fitnah bagi manusia.</p>
<p>Imam Al-Alusy, ketika menafsirkan kata <em>fitnah</em> dalam ayat  ini, berkata, “Fitnah ditafsirkan (oleh para ulama salaf) dengan  beberapa perkara, di antaranya <em>Mudahanah</em> dalam amar ma’ruf dan  nahi mungkar, dan diantaranya perselisihan dan perpecahan, dan  diantaranya meninggalkan pengingkaran terhadap bid’ah-bid’ah yang muncul  dan lain-lainnya.” Kemudian beliau berkata, “Setiap makna tergantung  dari konsekuensi keadaannya.”</p>
<p>Dan dikatakan di dalam ayat, <em>“takutlah kalian …,”</em> menunjukkan bahwa fitnah itu buta dan tuli, tidak pandang bulu, serta  dapat menimpa siapa saja. Berkata Imam Asy-Syaukany dalam <strong><em> Tafsir</em></strong> -nya, “Yaitu takutlah kalian kepada fitnah yang  melampaui orang-orang yang zhalim sehingga menimpa orang shalih dan  orang <em>thalih</em> ‘tidak shalih’ dan timpahan fitnah itu tidak  khusus bagi orang yang langsung berbuat kezhaliman tersebut di antara  kalian.”</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Definisi Fitnah </span></strong></p>
<p>Fitnah dalam syariat Islam mempunyai beberapa makna:</p>
<p><strong> Pertama, </strong> Bermakna syirik, seperti dalam firman  Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p><em> “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah dan sampai  agama semuanya untuk Allah.”</em> [<strong> Al-Baqarah: 193</strong> ]</p>
<p>Yaitu hingga tidak ada lagi kesyirikan.</p>
<p>Juga Allah berfirman,</p>
<p align="center"><em> “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya)  daripada membunuh.” </em> [<strong> Al-Baqarah: 217</strong> ]</p>
<p><strong> Kedua, </strong> Bermakna siksaan dan adzab, seperti dalam  firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p><em> “</em><em> (Dikatakan kepada mereka), </em><em> ‘</em><em> Rasakanlah fitnahmu itu. Inilah fitnah yang dahulu kamu minta supaya  disegerakan.</em><em> ’.”</em> [<strong> Adz-Dzariyat: 14</strong> ]</p>
<p>Dan Allah <em>Jalla Jalaluhu</em> berfirman,</p>
<p><em> “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada  orang-orang yang mu</em><em> k</em><em> min laki-laki dan perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka adzab Jahannam dan  bagi mereka adzab (neraka) yang membakar.”</em> [<strong> Al-Buruj: 10</strong> ]</p>
<p>Makna fitnah dalam dua ayat ini adalah siksaan dan adzab.</p>
<p><strong> Ketiga</strong> , Bermakna ujian dan cobaan, seperti dalam  firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p><em> “Dan kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan  sebagai fitnah (yang sebenar-benarnya).”</em> [<strong> Al-Anbiya`: 35</strong> ]</p>
<p>Allah <em>Jalla</em><em> Wa ’ Ala</em> menyatakan pula dalam  firman-Nya,</p>
<p><em> “Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu  hanyalah merupakan fitnah.”</em> [<strong> Al-Anfal: 28</strong> ]<strong></strong></p>
<p><strong> Keempat</strong> , Bermakna musibah dan balasan, sebagaimana  tafsiran para ulama dalam surah Al-Anfal ayat 25 di atas,</p>
<p><em> “Takutlah kalian kepada fitnah yang tidak hanya menimpa  orang-orang yang zhalim diantara kalian secara khusus.” </em></p>
<p>(Lihat <strong><em> Mauqiful Mu’min Minal Fitan</em></strong> Karya  Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dan <strong><em> Mufradat Al-Qur`an</em></strong> karya Ar-Raghib Al-Ashbahany)</p>
<p>Demikianlah def i nisi fitnah, tetapi harus diketahui oleh setiap  muslim bahwa fitnah yang ditimpakan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> itu mempunyai hikmah di belakangnya. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p><em> “</em> Alif Lam Mim<em>.</em><em> Apakah manusia itu mengira  bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang  mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang  yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang  yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”</em> [<strong> Al-‘Ankabut: 1-3</strong> ]</p>
<p>Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa kaidah-kaidah pokok yang  harus dipegang oleh setiap muslim dalam menghadapi fitnah.</p>
<p><strong> Kaidah Pertama, </strong> Pada setiap perselisihan merujuk  pada Al-Qur`an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para ulama salaf.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu Wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><em> “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul  (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan  pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur`an)  dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan  hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik  akibatnya.”</em> [<strong> An-Nisa`: 59</strong> ]</p>
<p>Dan Allah <em>Jalla Tsana`uhu</em> berfirman,</p>
<p><em> “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan  janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah  kamu mengambil pelajaran (darinya).”</em> [<strong> Al-A’raf: 3</strong> ]</p>
<p>Kemudian di dalam hadits Abu Hurairah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wa alihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا  كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِيْ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan  sesat di belakang keduanya, (yaitu) kitab Allah dan Sunnahku.”</em> (HR. Malik dan Al-Hakim<strong></strong> dan dihasankan oleh Syaikh  Al-Albany dalam <strong><em> Al-Misykah</em></strong> )</p>
<p>Kemudian Allah <em>Ta’ala </em>menyatakan,</p>
<p><em> “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman  hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka  perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka  terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan  sepenuhnya”.</em> [<strong> An-Nisa`: 65</strong> ]</p>
<p>Ingatlah bahwa menentang Allah dan Rasul-Nya adalah sebab kehinaan.  Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><em> “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,  mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.”</em> [<strong> Al-Mujadilah: 20</strong> ]</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> juga  mengingatkan dalam hadits Ibnu ‘Umar,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِذَا  تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ  وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ  عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara </em> `inah<em> ‘menjual barang dengan cara kredit kepada seseorang kemudian ia kembali  membelinya dari orang itu dengan harga kontan lebih murah dari harga  kredit tadi-pent’ dan kalian telah ridha dengan perkebunan dan kalian  telah mengambil ekor-ekor (sibuk beternak?) sapi dan kalian meninggalkan  jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang  tidak akan diangkat sampai kalian kembali kepada agama kalian.”</em> (HR. Abu Dawud<strong></strong>dan lain-lainnya dan dishahihkan oleh  Syaikh Al-Albany dalam <strong><em> Ash-Shahihah</em></strong><strong></strong> no. 11)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> juga  mengingatkan dalam hadits beliau,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">وَجُعِلَ</span></strong><span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;"><strong> الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ</strong></span><strong></strong></span></p>
<p><em> “Dan telah dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang  menyelisihi perintahku.”</em> (Hadits hasan dari seluruh jalan-jalannya.  Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam <strong><em> Al-Irwa`</em></strong> no. 1269)</p>
<p>Ketahuilah bahwa menyelisihi Allah dan Rasul-Nya adalah sebab  turunnya musibah dan siksaan dan sebab kehancuran dan kesesatan. Allah <em>Al-Wahid  Al-Qahhar</em> menegaskan dalam firman-Nya,</p>
<p><em> “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut  akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”</em> [<strong> An-Nur: 63</strong> ]</p>
<p>Juga dalam hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim, Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> menyatakan,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَا  نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ  فَافْعَلُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ  مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى  أَنْبِيَائِهِمْ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Apapun yang saya melarang kalian darinya maka jauhilah hal  tersebut dan apapun yang saya perintahkan kepada kalian maka  laksanakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang menghancurkan  orang-orang sebelum kalian hanyalah banyaknya pertanyaan mereka dan  penyelisihan mereka terhadap para Nabinya.” </em></p>
<p>Kemudian Abu Bakr Ash-Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu </em>berkata,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">لَسْتُ  تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَعْمَلُ بِهِ إِلاَّ عَمِلْتُ بِهِ إِنِّيْ أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا  مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Tidaklah saya meninggalkan sesuatu apapun yang Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wa sallam mengerjakannya kecuali saya  kerjakan karena saya takut kalau saya meninggalkan sesuatu dari perintah  beliau saya akan menyimpang.” </em> (HSR. Bukhary-Muslim)</p>
<p>Memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah harus dengan pemahaman para ulama  Salaf. Allah <em>Jalla Fi ‘Ulahu</em> berfirman,</p>
<p><em> “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran  baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami  biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan  Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk  tempat kembali”.</em> [<strong> An-Nisa`: 115</strong> ]</p>
<p>Juga dalam hadits yang mutawatir, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa alihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">خَيْرُ  النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ  يَلُوْنَهُمْ </span></strong></span></p>
<p align="center"><em> “Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian  zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya.” </em></p>
<p>Beliau menyatakan pula,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">افْتَرَقَتِ  الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ  النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ  سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ  إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu </em> firqah <em> ‘</em><em> golongan</em><em> ’</em><em> dan telah terpecah  orang-orang Nashara menjadi tujuh puluh dua </em> firqah<em> dan  sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga </em>firqah.<em> Semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah </em>Al-Jama’ah.”  (Hadits shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam <strong><em> Zhilalul Jannah</em></strong> dan Syaikh Muqbil dalam <strong><em> Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shahihain</em></strong> -<em>rahimahumallahu</em>-)</p>
<p>Karena itulah, Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> berkata, “Pokok  sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh di atas apa yang para  shahabat berada di atasnya dan mengikuti mereka.” Lihat <strong><em> Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah</em></strong> 1/176.<strong></strong></p>
<p>Allahu Akbar …! Betapa kuatnya pijakan seorang muslim bila ia  berpegang teguh dengan Al Qur`an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para  ulama salaf. Ini merupakan senjata yang paling ampuh dan tameng yang  paling kuat dalam menghadapi dan menangkis setiap fitnah yang datang.  Sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang yang berpegang teguh  kepada Al Qur`an dan Sunnah selamat dari fitnah dan mereka tetap kokoh  di atas jalan yang lurus.<strong></strong></p>
<p>Lihatlah kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq <em> radhiyallahu ‘anhu</em> ,  ketika Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> mengirim Usamah bin Zaid untuk memimpin 700 orang dalam menggempur  kerajaan Rum. Ketika pasukan tersebut tiba di suatu tempat yang bernama  Dzu Khasyab, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> meninggal. Maka mulailah orang-orang Arab di sekitar Madinah murtad dari  agama sehingga para shahabat mengkhawatirkan keadaan kota Madinah. Lalu  para shahabat berkata kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, kembalikan  pasukan yang dikirim ke kerajaan Rum itu, apakah mereka diarahkan ke Rum  sedang orang-orang Arab di sekitar Madinah telah murtad?” Maka Abu  Bakar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Demi yang tidak ada  sesembahan yang berhak selain-Nya, andaikata anjing-anjing telah berlari  di kaki-kaki para istri Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa alihi wa  sallam</em> , saya tidak akan menarik suatu pasukan pun yang dikirim  oleh Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> dan  saya tidak akan melepaskan bendera yang diikat oleh Rasulullah.”</p>
<p>Lihat bagaimana gigihnya Abu Bakar Ash-Shiddiq <em> radhiyallahu  ‘anhu</em> berpegang dengan sunnah Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi  wa alihi wa sallam</em> dalam kondisi yang sangat genting seperti ini  dan betapa kuatnya keyakinan beliau akan kemenangan orang yang  menjalankan perintah-Nya.</p>
<p>Maka yang terjadi setelah itu, setiap kali pasukan Usamah bin Zaid  melewati suatu suku yang murtad, suku yang murtad itu berkata,  “Andaikata mereka itu tidak mempunyai kekuatan, tentu tidak akan keluar  pasukan sekuat ini dari mereka. Tetapi kita tunggu sampai mereka  bertempur melawan kerajaan Rum.” Lalu bertempurlah pasukan Usamah bin  Zaid menghadapi kerajaan Rum dan pasukan Usamah berhasil mengalahkan dan  membunuh mereka. Kemudian kembalilah pasukan Usamah dengan selamat dan  orang-orang yang akan murtad itu tadi tetap di atas Islam.</p>
<p>(Baca kisah ini dalam <strong><em> Madarik An-Nazhar</em></strong> hal. 51-52 cet. kedua)</p>
<p>Maka lihatlah, wahai orang-orang yang menghendaki keselamatan!  Peganglah kaidah pertama ini dengan baik, niscaya engkau akan selamat  dari fitnah di dunia dan di akhirat.</p>
<p><strong> Kaidah Kedua,</strong> merujuk kepada para ulama.</p>
<p>Allah <em>Al-Hakim Al-‘Alim</em> mengisahkan tentang Qarun dalam  firman-Nya,</p>
<p><em> “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya.  Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Moga-moga  kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun;  sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’  Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, ‘Celakalah kalian, pahala  Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal  shalih, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang  sabar.’ Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka  tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap adzab  Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela  (dirinya).”</em> [<strong> Al-Qashash: 79-81</strong> ]</p>
<p>Karena itulah Imam Hasan Al-Bashry berkata, “Sesungguhnya bila  fitnah itu datang, diketahui oleh setiap ‘alim (ulama), dan apabila  telah terjadi (lewat), maka baru diketahui oleh orang-orang yang jahil.”</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> bersabda  pula dalam hadits ‘Ubadah bin Shamit riwayat Imam Ahmad dan lain-lain,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">لَيْسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ لَمْ يُجِلَّ</span></strong><span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;"><strong> كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ  صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفُ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ </strong></span></span></p>
<p><em> “Bukan dari ummatku siapa yang tidak menghormati orang yang  besar dari kami dan tidak merahmati orang yang kecil dari kami dan tidak  mengetahui hak orang yang alim dari kami.”</em> (Dihasankan oleh Syaikh  Al Albany dalam <strong><em> Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir</em></strong> )</p>
<p>Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> juga  bersabda dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim,  Ibnu Hibban dan lain-lain,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ </span></strong></span></p>
<p><em> “Berkah itu bersama orang-orang besarnya kalian.”</em> (Dishahihkan oleh Syaikh Al Albany dalam <strong><em> Silsilah Ahadits  Ash Shahihah</em></strong> no. 1778)</p>
<p>Fitnah akan bermunculan apabila para ulama sudah tidak lagi  dijadikan sebagai rujukan, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah riwayat  Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa  alihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">سَيَأْتِيْ  عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ  وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ  وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الْأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ  قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِيْ  أَمْرِ الْعَامَّةِ</span></strong></span></p>
<p><em> “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, akan  dipercaya/dibenarkan padanya orang yang berdusta dan dianggap berdusta  orang yang jujur, orang yang berkhianat dianggap amanah dan orang yang  amanah dianggap berkhianat dan akan berbicara </em> Ar-Ruwaibidhah<em>.  Ditanyakan, </em><em> ‘</em><em> Siapakah </em> Ar-Ruwaibidhah<em> itu?</em><em> ’</em><em> Beliau berkata, </em><em> ‘</em><em> Orang yang bodoh  berbicara dalam perkara umum.” </em> (Dishahihkan oleh Syaikh Muqbil  dalam <strong><em> Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shahihain</em></strong> )</p>
<p>Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> juga  bersabda dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash riwayat  Bukhary-Muslim,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّ  اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ  وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ  يُبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا  فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari  para hamba akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut (mewafatkan)  para ulama sampai bila tidak tersisa lagi seorang alim maka manusia pun  mengambil para pemimpin yang bodoh maka mereka pun ditanya lalu mereka  memberi fatwa tanpa ilmu maka sesatlah mereka lagi menyesatkan.” </em></p>
<p>Berkata pula ‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">لاَ  يَزَالُ النَّاسُ صَالِحِيْنَ مُتَمَاسِكِيْنَ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ  مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ  أَكَابِرِهِمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ هَلَكُوْا </span></strong></span></p>
<p><em> “Manusia masih akan senantiasa sebagai orang yang shalih lagi  berpegang teguh sepanjang ilmu datang kepada mereka dari para shahabat  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa</em><em> sallam dan orang-orang  besar mereka. Maka apabila (ilmu) datang kepada mereka dari orang-orang  kecil, binasalah mereka.”</em> (Lihat takhrijnya dalam kitab <strong><em> Madarik An-Nazhar</em></strong> hal. 161)</p>
<p><strong> Kaidah Ketiga</strong> , tidak boleh berkomentar dalam  perkara-perkara <em>nawazil</em> kecuali para ulama besar ahli ijtihad.</p>
<p><em> Nawazil</em> adalah kata jamak dari <em>nazilah</em>, maksudnya  yaitu kejadian-kejadian atau masalah-masalah kontemporer yang terjadi  pada kaum muslimin. <em>Nawazil </em>ini dikenal juga dengan istilah <em>hawadits</em>.</p>
<p><strong> Ukuran Ulama Besar Ahli Ijtihad </strong></p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim dalam <strong><em> I’l­am Al-Muwaqqi’in</em></strong> 4/212, “Orang yang alim terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan  perkataan para shahabat, maka dialah <em>mujtahid</em> (ahli ijtihad)  pada perkara-perkara <em>nawazil</em>.”</p>
<p>Berkata imam Asy-Syatiby dalam <strong><em> Al I’tisham</em></strong><em> ,</em> “Bahkan apabila dihadapkan kepadanya perkara-perkara <em>nawazil</em> kemudian dia mengembalikan pada <em>ushul</em>-nya, ia mendapatkan  (penyelesaiannya) di dalamnya, dan hal tersebut tidak didapatkan oleh  orang yang bukan <em>mujtahid, </em>tetapi hanyalah didapatkan oleh para  <em>mujtahid</em> yang disifatkan dalam ilmu ushul fiqih.”</p>
<p>Ibnu Rajab mencontohkannya seperti Imam Ahmad, kemudian beliau  menjelaskan sisi kepantasan Imam Ahmad untuk berfatwa dalam <em>nawazil</em>.  Di antara kriteria Imam Ahmad yang disebutkan oleh Ibnu Rajab yaitu  beliau telah mencapai puncak pengetahuan tentang Al-Qur`an, As-Sunnah  dan <em>Al-Atsar</em>. Ilmu Al-Qur`an di antaranya tentang <em>An-Nasikh  Wal Mansukh</em>, <em>Al-Mutaqaddim Wal Muta`akhkhir</em> serta tafsir  para shahabat dan tabi’in. Ilmu As-Sunnah di antaranya hafalan beliau  terhadap hadits, pengetahuan tentang shahih dan dhaif suatu hadits,  pengetahuan tentang rawi-rawi yang <em>tsiqah</em> dan <em>majruh</em>,  serta pengetahuan tentang jalan-jalan hadits dan cacat-cacatnya.  Kemudian Ibnu Rajab berkata, “Telah dimaklumi, siapa pun yang memahami  semua ilmu ini dan sangat menguasainya, adalah suatu hal yang sangat  mudah baginya untuk mengetahui <em>Hawadits</em> dan memberikan  jawabannya.”</p>
<p>Dalil kaidah ketiga ini adalah firman Allah <em>Subhanahu Wa Ta’ala</em>,</p>
<p><em> “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan  ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka  menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah  akan diketahui hal tersebut oleh orang-orang yang ber-</em> istinbath <em>di  antara mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalaulah bukan karena karunia dan  rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti syaitan, kecuali  sebahagian kecil saja (di antara kalian).”</em> [<strong> An-Nisa`: 83</strong> ]</p>
<p>Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy menafsirkan ayat  ini, “Ini adalah pelajaran adab dari Allah kepada para hamba-Nya tentang  perbuatan mereka ini yang tidak layak. Dan yang pantas bagi mereka  apabila datang kepada mereka suatu perkara dari perkara-perkara yang  penting dan maslahat-maslahat umum yang berkaitan dengan keamanan dan  kebahagiaan kaum mukminin atau (berkaitan) dengan ketakutan yang di  dalamnya terdapat musibah, maka wajib atas mereka untuk ber-<em>tatsabbut </em>(mencari kejelasan) dan jangan tergesa-gesa menyebarkan berita  tersebut bahkan hendaknya mereka mengembalikannya kepada Rasul dan  kepada Ulil Amri di antara mereka, yaitu <em>Ahli ra’yi wal ilmi wan  nushhi wal aqli war razanah </em>(para ahli dalam menilai/menimbang,  mengilmui, menasihati, berfikir, dan mereka memiliki ketenangan) yang  mengetahui berbagai perkara dan apapun yang merupakan maslahat dan  kebalikannya. Kalau mereka melihat penyebaran berita tersebut sebagai  maslahat, menambah semangat kaum mukminin, kegembiraan bagi mereka dan  benteng dari musuh-musuh mereka maka mereka mengerjakannya  (menyebarkannya). Dan kalau mereka melihat tidak ada maslahat padanya  atau ada maslahat tapi bahayanya melebihi maslahatnya maka tidaklah  mereka sebarkan, karena itulah (Allah <em>Subhanahu Wa Ta ’ala</em>)  berfirman, <em> ‘</em><em> Maka akan diketahui hal tersebut oleh  orang-orang yang ber-</em> istinbath <em>dari mereka,</em><em> ’</em> yaitu mereka akan mengeluarkan hal tersebut dengan pemikiran mereka dan  pendapat-pendapat mereka yang lurus dan ilmu mereka yang berada di atas  petunjuk.”</p>
<p>Allahu Akbar! Betapa sempurnanya tuntunan Islam. Andaikata kaum  muslimin beramal dengan kaidah ini, niscaya mereka akan terjaga dari  fitnah. Sungguh berbagai macam fitnah yang melanda kaum muslimin  disebabkan oleh kekurangajaran sebagian orang yang tidak tahu kadar  dirinya dan merasa bangga dengan kemampuannya, atau dengan segala titel  yang mereka sandang, sehingga dengan sangat lancangnya berani  berkomentar dalam perkara-perkara <em>nawazil</em> yang terjadi pada  kaum muslimin. Maka wajarlah jika muncul berbagai macam kerusakan dan  fitnah yang lebih besar karena ulah segelintir orang yang tidak tahu  diri ini. Cukuplah hal tersebut sebagai dosa yang sangat besar bagi  orang yang menyelisihi perintah dalam surah An-Nisa` di atas dan juga  dia tergolong orang-orang yang tidak menempatkan amanah pada tempatnya,  yang amanah itu harusnya diserahkan kepada ahlinya, yaitu para <em>ulul  amri</em>: para ulama besar dan penguasa. Tidak menempatkan amanah pada  tempatnya adalah pelanggaran terhadap perintah Allah <em>Subhanahu Wa  Ta’ala</em> dan merupakan salah satu tanda hari kiamat.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu Wa Ta ’ala</em> berfirman,</p>
<p><em> “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada  yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum  di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil. Sesungguhnya  Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya  Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”</em> [<strong> An-Nisa`: 58</strong> ]</p>
<p>Selain itu, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em>,  ketika ditanya tentang kapan terjadinya hari kiamat, bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">فَإِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ  قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ  أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Apabila amanah telah ditelantarkan maka tunggulah hari kiamat.”  Maka orang itu kembali bertanya, “Kapan ditelantarkannya?” Beliau  menjawab, “Apabila perkara telah diserahkan kepada selain ahlinya maka  tunggulah hari kiamat.” </em> (HSR. Bukhary dari shahabat Abu Hurairah)</p>
<p>Menyerahkan perkara <em>nawazil</em> kepada <em>ulil amri</em> merupakan <em>ushul</em> ‘ pokok ’ syariat Islam yang dipegang oleh para  imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah dari zaman ke zaman.</p>
<p>Berkata Abu Hatim Ar-Razy, “Madzhab dan pilihan kami adalah  mengikuti Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam</em> dan  para shahabat beliau, para tabi’in dan orang-orang setelah mereka (yang  mengikuti mereka) dengan baik … . Dan komitmen terhadap <em>Al-Kitab</em> dan <em>As-Sunnah</em> dan membela para imam yang mengikuti jejak para  ulama salaf. Dan pilihan kami (adalah) apa yang dipilih oleh <em>Ahlus  Sunnah</em> dari para imam di berbagai negeri, seperti Malik bin Anas di  Madinah dan Al-Auza’iy di Syam dan Al-Laits bin Sa’ad di Mesir dan  Sufyan Ats-Tsaury serta Hammad bin Zaid di Iraq pada <em>hawadits </em>yang  tidak diketemukan tentangnya riwayat dari Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi  wa alihi wasallam</em>, para shahabat dan tabi’in. Dan meninggalkan  pendapat-pendapat <em>Al-Mulabbisin </em> ‘ orang-orang yang  menyamar-nyamarkan perkara ’ , <em>Al-Mumawwihin </em> ‘ orang-orang  yang mengaburkan perkara ’ , <em>Al-Muzakhrifin </em> ‘ orang-orang yang  menghias-hiasi/memperindah perkara dari yang sebenarnya ’ , <em>Al-Mumakhriqin </em> ‘ para pembohong ’ lagi <em>Al-Kadzdzabin </em> ‘ para pendusta ’  .” Lihat <strong><em> Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah</em></strong> jilid 1 hal. 202 karya Al-Lalika`i.</p>
<p>Berkata pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam <strong><em> Minhajus Sunnah</em></strong> jilid 4 hal. 404, di tengah pembicaraan  beliau terhadap masalah jihad, “Secara global, pembahasan tentang  perkara-perkara sedetil ini merupakan pekerjaan orang khusus dari para  ulama.”</p>
<p>(Lihat rincian kaidah ketiga secara lengkap dalam kitab <strong><em> Madarik An-Nazhar Baina At-Tathbiqat Asy-Syar’iyah wa Al-Infi’alat  Al-Hamasiyah.</em></strong> Kitab ini telah direkomendasikan oleh dua  ulama besar di zaman ini yaitu Syaikh <em>Al-‘Allamah Al-Muhaddits</em> Muhammad Nashiruddin Al-Albany <em>rahimahullah</em> dan Syaikh <em>Al-‘Allamah  Al-Muhaddits </em>‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad <em>hafizhahullah</em>)</p>
<p><strong>Kaidah Keempat,</strong> dalam setiap sesuatu hendaknya  bersikap lemah lembut, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menarik  kesimpulan atau memberikan hukum.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman pada Nabi-Nya,</p>
<p><em> “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut  terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,  tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”</em> [<strong> Ali </strong><strong> ‘</strong><strong> Imran: 159</strong> ]</p>
<p>Juga dalam hadits ‘Aisyah, Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa  alihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ  وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya tidaklah lemah lembut itu berada pada sesuatu  apapun kecuali akan menghiasinya dan tidaklah dicabut dari sesuatu  kecuali akan membuatnya jelek.”</em> (HSR. Muslim)</p>
<p>Dalam hadits Jarir bin ‘Abdillah, beliau juga menegaskan,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقُ يُحْرَمُ الْخَيْرُ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Siapa yang diharamkan dari sifat lemah lembut maka diharamkan  (untuknya) kebaikan.”</em> (HSR. Muslim)</p>
<p>Kemudian dalam hadits ‘Aisyah riwayat Bukhary-Muslim, beliau  menyatakan,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p align="center"><em> “Sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan  dalam segala perkara.” </em></p>
<p>Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> bersabda  pula kepada Al-Asyajj ‘Abdul Qais,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّ فِيْكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ الْحِلْمُ  وَالْأَنَاةُ </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya pada engkau ada dua sifat yang dicintai oleh  Allah, (yaitu) </em> Al-Hilm<em> (kebijaksanaan) dan </em>Al Anah<em> (tidak tergesa-gesa).”</em> (HSR. Muslim dari Ibnu ‘Abbas dan Abu Sa ’id  Al Khudry)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam </em>juga  bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">التَّأَنِّيْ مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ </span></strong></span></p>
<p><em> “(Sikap) pelan-pelan (tidak tergesa-gesa) itu dari Allah dan  (sikap) tergesa-gesa itu dari syaithan.” </em> (Dihasankan oleh Syaikh  Al-Albany dalam <strong><em> Ash-Shahihah</em></strong> no. 1795).</p>
<p><strong>Kaidah Kelima,</strong> bersikap adil dalam setiap sesuatu.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><em> “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat  kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari  perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran  kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.”</em> [<strong> An-Nahl: 90</strong> ]</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta ’ala</em> juga memerintahkan hamba-Nya  dalam firman-Nya,</p>
<p><em> “Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil  kendatipun dia adalah kerabat (kalian)</em> .<em>”</em> [<strong> Al  An’am: 152</strong> ]</p>
<p>Allah <em> Subhanahu wa Ta’ala</em> menegaskan pula dalam  firman-Nya,</p>
<p><em> “Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum,  mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil  itu lebih dekat kepada takwa.”</em> [<strong> Al-Maidah: 8</strong> ]</p>
<p>Ayat-ayat di atas sangat jelas menunjukkan keharusan berlaku adil  pada segala sesuatu, dan tentunya hal tersebut lebih ditekankan pada  kondisi fitnah. Hendaknya setiap orang berlaku adil dalam berucap,  berbuat, bersikap dan memberikan hukum. Ukuran suatu keadilan tentunya  ditimbang menurut tuntunan Al-Qur`an dan Sunnah.</p>
<p><strong>Kaidah Keenam,</strong> tidak boleh menghukumi suatu  permasalahan kecuali setelah mengetahui gambaran yang jelas tentang  permasalahan tersebut.</p>
<p>Lafazh arab kaidah ini berbunyi,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">الْحُكْمُ عَلَى الشَّيْئِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ </span></strong></span></p>
<p align="center"><em> “Hukum atas sesuatu cabang dari penggambarannya.” </em></p>
<p>Kaidah ini mempunyai dasar yang sangat banyak dari Al Qur`an dan  Sunnah.</p>
<p>Allah <em> Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><em> “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai  pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,  semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”</em> [<strong> Al-Isra`: 36</strong> ]</p>
<p>Allah <em>Jalla wa ’ Ala</em> juga berfirman,</p>
<p><em> “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang  fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kalian  tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui  keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.”</em> [<strong> Al-Hujurat: 6</strong> ]</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا  يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يُهْوَى بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ  الْمَشْرِقِ وَالْمَغُرِبِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang  ia tidak mencari kepastian apa yang ada di dalamnya, maka disebabkan hal  itu ia dilemparkan ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”</em> (Diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim dari Abu Hurairah)</p>
<p>Ini adalah kaidah yang sangat bermanfaat dan membantu dalam segala  bentuk fitnah yang terjadi. Camkanlah baik-baik kaidah ini dan warnailah  gerak-gerikmu dengannya, niscaya engkau akan selamat. <em>Wallahul  Muwaffiq</em>.</p>
<p><strong> Kaidah Ketujuh,</strong> pada kondisi fitnah, segala sesuatu  yang diketahui tidak harus diucapkan.</p>
<p>Perkataan dan perbuatan, dalam kondisi fitnah, mempunyai ketentuan  dan aturan. Tidak semua perkara yang dipandang baik harus dinampakkan  dan dikerjakan, karena perkataan dan perbuatan dalam kondisi fitnah akan  melahirkan suatu akibat di belakangnya.</p>
<p>Dalam hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Nabi <em> shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ قَوْمُكِ حَدِيْثٌ عَهْدُهُمْ  بِكُفْرٍ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ فَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنَ بَابٌ  يَدْخُلُ النَّاسُ وَبَابٌ يَخْرُجُوْنَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Wahai ‘Aisyah, andaikata kaummu (penduduk Makkah) bukan orang  yang baru (meninggalkan) kekufuran, niscaya saya merobohkan Ka’bah  kemudian saya akan menjadikannya dua pintu: pintu tempat manusia masuk  dan pintu mereka keluar</em> .<em>”</em> (Diriwayatkan oleh  Bukhary-Muslim)</p>
<p>Lihatlah, wahai orang-orang yang berfikir! Mengapa Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> tidak melakukan apa yang beliau  kehendaki? Bukankah itu sunnahnya dan syariat yang beliau bawa?  Jawabannya jelas, karena orang-orang Makkah baru masuk islam dan mereka  sangat mengagungkan Ka’bah, maka Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa  alihi wa sallam</em> takut, kalau merubah bangunan Ka’bah, beliau  dianggap orang sombong terhadap mereka, sehingga hal tersebut bisa  menyebabkan mereka lari dari Islam dan kembali kepada kekufuran. Karena  itulah, ketika menyebutkan hadits ini, Imam Bukhary menyebutkannya  dengan judul bab “Orang yang meninggalkan sebagian pilihan karena takut  sebagian orang kurang memahaminya lalu terjatuhlah mereka ke dalam  perkara yang lebih besar.”</p>
<p>‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> juga berkata,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ أَتُحِبُّوْنَ أَنْ  يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Berceritalah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui.  Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”</em> (Diriwayatkan  oleh Bukhary)</p>
<p>‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata pula,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيْثًا لاَ تَبْلُغُهُ  عُقُوْلُهُمْ إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p>“<em>Tidaklah engkau berbicara kepada suatu kaum dengan suatu  pembicaraan yang tidak bisa dicerna oleh akal mereka kecuali akan  menjadikan fitnah pada sebagian dari mereka.”</em> (Diriwayatkan oleh  Muslim dalam <strong><em> Muqaddimah Shahih</em></strong> -nya dengan  sanad yang terputus)</p>
<p>Kemudian dalam hadits riwayat Bukhary, Abu Hurairah <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> berkata,</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ  وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ وَأَمَّا  الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُوْمُ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Saya menghafal (hadits) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  alihi wa sallam (sebanyak) dua kantong. Adapun salah satu (kantong)nya  telah saya sebarkan, dan adapun (kantong) yang lainnya, kalau saya  sebarkan, maka akan diputus leher ini.” </em></p>
<p>Berkata Imam Adz-Dzahaby, dalam <strong><em> Siyar A’lam An-Nubala`</em></strong> jilid 2 hal. 597-598, “Ini menunjukkan bolehnya menyembunyikan sebagian  hadits-hadits yang bisa menggerakkan fitnah, (baik hadits-hadits) dalam  <em>Al-Ushul</em> (masalah-masalah pokok) maupun <em>Al-Furu’</em> (masalah-masalah cabang), atau dalam (hadits-hadits tentang) pujian dan  celaan. Adapun hadits yang berkaitan dengan halal dan haram, maka tidak  halal untuk disembunyikan dalam bentuk bagaimanapun, karena itu dari  kejelasan dan petunjuk.” Kemudian beliau menyebutkan perkataan ‘Ali bin  Abi Thalib di atas lalu berkata, “Dan demikian pula Abu Hurairah.  Andaikata beliau menyebarkan kantong itu, niscaya dia akan disakiti,  bahkan akan dibunuh. Akan tetapi, ijtihad seorang alim kadang-kadang  mendorongnya untuk menyebarkan suatu hadits dalam rangka menghidupkan  sunnah, maka baginya apa yang ia niatkan, dan ia mendapatkan pahala  walaupun ia salah dalam ijtihadnya.”</p>
<p>Selain itu, Al-Hafizh Ibnu Hajar, di dalam <strong><em> Fathul Bary</em></strong> jilid 1 hal. 225, ketika menjelaskan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib,  berkata, “Didalamnya ada dalil bahwa perkara yang <em>mutasyabih </em>‘yang  mengandung beberapa pengertian’ tidak pantas disebutkan pada khalayak  umum.” Kemudian beliau menyebutkan perkataan Ibnu Mas’ud lalu berkata,  “Di antara orang-orang yang tidak senang memberikan hadits pada sebagian  orang adalah Imam Ahmad dalam hadits-hadits yang zhahirnya membolehkan <em>khuruj</em> ‘kudeta’ terhadap pemerintah, dan Imam Malik dalam hadits-hadits  tentang sifat-sifat (Allah), dan Abu Yusuf tentang hadits-hadits yang <em>gharib </em>(aneh dari sisi makna maupun lafazh-pen.) … . Dan Dari Al-Hasan  (Al-Bashry-pen.), ia mengingkari Anas (<em>radhiyallahu ‘anhu</em>) yang  bercerita kepada Hajjaj tentang kisah <em>Al-Uraniyyin </em>karena  Hajjaj akan menjadikannya sebagai wasilah, yang selama ini dipegang oleh  Hajjaj dalam menumpahkan darah secara berlebihan, dengan <em>ta`wil</em> yang lemah.</p>
<p>Dan ukuran hal tersebut (tentang bolehnya menyembunyikan sebagian  hadits) yaitu hendaknya zhahir suatu hadits menguatkan suatu bid’ah dan  yang zhahir tersebut pada asalnya bukan zhahir yang diinginkan. Maka  menahannya (menyembunyikannya), dari orang yang ditakutkan ia akan  mengambil zhahirnya, adalah perkara yang <em>mathlub</em> (dicari dan  diinginkan).”</p>
<p>Demikian tujuh kaidah ini secara ringkas kami sarikan dari beberapa  sumber, utamanya kitab <strong><em> Adh-Dhawabith Asy-Syar’iyah Li  Mauqif Al-Muslim Fil Fitan</em></strong> karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul  ‘Aziz Alu Asy-Syakh dan <strong><em> Madarik An-Nazhar</em></strong> karya Syaikh ‘Abdul Malik Ramadhany. Selain itu, banyak lagi  kaidah-kaidah lainnya. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. <em>Wallahu  Ta ’ala A’lam</em>. <em>Wa Fauqa Kulli Dzi ‘Ilmin ‘Alim.</em></p>
<p><em>Sumber: </em><a href="http://an-nashihah.com/?p=46" target="_blank">http://an-nashihah.com/?p=46</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pijakan-seorang-muslim-di-tengah-gelombang-fitnah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat di Tengah Malam</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-di-tengah-malam.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-di-tengah-malam.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 15:42:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Poligami]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1522</guid>
		<description><![CDATA[Dari Ummu Salamah radhiyallahu&#8217;anha -salah seorang isteri Nabi-, beliau berkata: Suatu malam, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bangun dari tidur -dalam keadaan terkejut- lalu berkata, “Subhanallah! Fitnah apa yang diturunkan pada malam ini, dan perbendaharaan apakah yang sedang dibukakan. Bangunkanlah para wanita yang tinggal di bilik-bilik itu (isteri-isteri beliau) -untuk mendirikan sholat-. Betapa banyak wanita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-di-tengah-malam.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-di-tengah-malam.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Ummu Salamah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anha -</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">salah seorang isteri Nabi-</span></span><span style="font-weight: normal;">, beliau berkata: Suatu malam, Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bangun dari tidur -dalam keadaan terkejut- lalu berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Subhanallah! Fitnah apa yang diturunkan pada malam ini, dan perbendaharaan apakah yang sedang dibukakan. Bangunkanlah para wanita yang tinggal di bilik-bilik itu (isteri-isteri beliau) -untuk mendirikan sholat-. Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akherat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Bukhari, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/255])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1522"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits yang mulia ini banyak mengandung pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa yang dimaksud larangan berbicara (ngobrol) 	selepas sholat Isyak -sebagaimana dalam hadits lainnya- adalah 	pembicaraan yang tidak dalam kebaikan. Dan hadits ini juga 	menunjukkan bolehnya melakukan ta&#8217;lim (pelajaran/kajian) atau 	mau&#8217;izhah (nasehat) di waktu malam (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/255]). Oleh 	sebab itu suatu ketika Umar bersama dengan Abu Musa al-Asy&#8217;ari 	pernah berbincang-bincang seputar permasalahan agama hingga larut 	malam, sehingga Abu Musa mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ini 	adalah saat sholat malam.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka Umar pun menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	kita juga sedang sholat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (dinukil dari </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/259])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bolehnya mengucapkan </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;Subhanallah&#8217;</span></em><span style="font-weight: normal;"> ketika merasa heran/takjub kepada sesuatu, entah sesuatu yang 	diherankan itu dominan membawa dampak buruk (semacam fitnah) ataupun 	yang tidak selalu memberikan dampak buruk (semacam 	perbendaharaan/harta) (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/256], lihat 	juga Shahih Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Adab</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1272)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk berdzikir kepada Allah setelah bangun dari tidur (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/256])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	bagi seorang suami untuk membangunkan isterinya di malam hari dalam 	rangka menunaikan ibadah, terlebih lagi di saat melihat atau 	mengalami kejadian yang menakjubkan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/256]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	mengerjakan sholat malam (lihat Shahih Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	at-Tahajjud</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 234)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk bersegera mengerjakan sholat -sunnah- di saat-saat muncul 	kekhawatiran terhadap suatu keburukan yang akan menimpa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/257])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	bertasbih -membaca subhanallah- ketika menjumpai keadaan yang 	mengerikan atau menimbulkan kegoncangan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/257])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Semestinya 	seorang yang berilmu memberikan peringatan kepada orang-orang yang 	belajar kepadanya dari segala kondisi yang akan mereka hadapi dan 	pasti akan terjadi. Kemudian, ia semestinya juga membimbing mereka 	bagaimana cara mengatasi perkara yang membahayakan tersebut (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/257])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan salah satu bukti kenabian Muhammad </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	dimana beliau bisa mengetahui turunnya fitnah dan terbukanya 	perbendaharaan di malam tersebut (lihat Shahih Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Manaqib</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 752)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan betapa melekat ingatan Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengenai Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> serta kampung akherat, dan hal itu mencerminkan ketekunan beliau 	dalam berdzikir kepada-Nya</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Tidak 	semestinya kenikmatan dunia ini melalaikan manusia dari beribadah 	kepada Rabbnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Tolong 	menolong dalam kebaikan dan takwa, terutama di dalam lingkungan 	internal keluarga sangat dibutuhkan demi terwujudnya keluarga yang 	sakinah, mawaddah wa rahmah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	mengisyaratkan bolehnya berpoligami dan hendaknya sang suami berlaku 	adil kepada isteri-isterinya, di antaranya adalah dalam hal tempat 	tinggal dan waktu bermalam</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Kedudukan 	sebagai isteri Nabi tidak boleh melalaikan kaum wanita dari 	beribadah kepada Allah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/256]). Kalau 	isteri Nabi saja demikian, maka bagaimana lagi dengan selain mereka, 	seperti isteri pak kyai, ustadz, ataupun da&#8217;i&#8230; </span></p>
</li>
</ol>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--><br />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-di-tengah-malam.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dahsyatnya Fitnah Menggoncang Keimanan</title>
		<link>http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 09:49:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1508</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah melakukan amal-amal (ketaatan) sebelum datangnya fitnah-fitnah (cobaan) yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari masih beriman dan di sore harinya telah menjadi kafir. Atau di sore hari beriman, lalu di pagi harinya menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><span style="font-weight: normal;">Dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bersegeralah melakukan amal-amal (ketaatan) sebelum datangnya fitnah-fitnah (cobaan) yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari masih beriman dan di sore harinya telah menjadi kafir. Atau di sore hari beriman, lalu di pagi harinya menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan di dunia.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/198])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1508"></span></span>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini berisi anjuran untuk bersegera beramal salih sebelum tiba 	saat-saat sulit melakukannya karena disibukkan oleh berbagai bentuk 	fitnah yang melanda dan bertumpuk-tumpuk sebagaimana lapisan-lapisan 	malam yang gelap tanpa ada cahaya rembulan yang menyinarinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/198])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Suatu 	terpaan fitnah yang bertubi-tubi bisa menggoyahkan keimanan 	seseorang, sampai-sampai dalam rentang waktu yang tidak lama hal itu 	membuat keimanannya mengalami perubahan yang sangat drastis. Hal ini 	menunjukkan betapa keras fitnah yang menerpa dirinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/198]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Fenomena 	semacam ini semestinya menumbuhkan rasa takut dalam diri setiap 	hamba. Karena tidak ada jaminan kalau dirinya bisa selamat tatkala 	menghadapi terpaan fitnah yang ada. Ibnu Abi Mulaikah mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Saya bertemu dengan 	tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam 	sementara mereka semua merasa takut kemunafikan bercokol di dalam 	dirinya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (Diriwayatkan oleh Bukhari secara </span><em><span style="font-weight: normal;">mu&#8217;allaq</span></em><span style="font-weight: normal;">). 	Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> menceritakan doa Nabi Ibrahim dalam ayat-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“-Wahai 	Rabbku- jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah 	patung-patung.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. 	Ibrahim: 35). Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa 	Ibrahim at-Taimi mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Lantas, 	siapakah yang bisa merasa aman dari bencana setelah Ibrahim?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (dinukil dari </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Majid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 72). 	Kalau mereka saja -orang-orang yang telah jelas kesalihannya- merasa 	takut akan fitnah yang menimpa, maka bagaimanakah lagi dengan kita 	dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang ada pada diri kita 	ini? </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-weight: normal;">. </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasa 	takut terhadap dampak dari fitnah yang melanda itulah yang 	seharusnya memacu seorang hamba untuk lebih mendekatkan diri dan 	bergantung kepada Rabbnya. Karena tidak ada yang menguasai segala 	urusan, manfaat dan madharat, keselamatan dan kecelakaan, kecuali 	Dia Yang di tangan-Nya segenap kerajaan langit dan bumi. Oleh sebab 	itu, Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> memerintahkan kepada para sahabatnya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Berlindunglah 	kalian kepada Allah dari fitnah-fitnah, yang tampak ataupun yang 	tersembunyi.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka 	mereka -para sahabat- mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kami 	berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah, yang tampak ataupun yang 	tersembunyi.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. 	Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [9/133])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan bahwa rasa takut yang terpuji adalah yang menuntun 	pemiliknya menuju ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Bukan rasa 	takut yang menyeret pemiliknya ke dalam sikap putus asa dari rahmat 	Allah.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan bahwa setiap hamba diperintahkan untuk menempuh sebab 	agar dirinya bisa terselamatkan dari berbagai bentuk fitnah yang 	melanda umat manusia.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan keutamaan bersegera dalam beramal dan tidak 	menunda-nunda amalan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hendaknya 	setiap orang pandai-pandai memanfaatkan waktunya dan tidak 	menyia-nyiakannya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Orang yang 	selamat dari fitnah adalah orang yang tetap memegang teguh ajaran 	agamanya dan tidak tertipu oleh dunia. Oleh sebab itu Nabi 	menyebutkan ciri orang yang binasa akibat fitnah adalah yang rela 	menjual agamanya demi mendapatkan dunia.</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dahsyatnya-fitnah-menggoncang-keimanan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Hakiki</title>
		<link>http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 03:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1477</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Firanda Andirja Abidin, Lc.* -hafizhahullah- Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu dengan mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua meskipun ia berada di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tenggelam dalam lautan kemaksiatan. Ini adalah suatu kemuliaan karena ia bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fujian-hakiki.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fujian-hakiki.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Ustadz Firanda Andirja Abidin, Lc.*</strong> -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p>Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu dengan  mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk menegakkan amar  ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua meskipun ia  berada di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tenggelam dalam lautan  kemaksiatan. Ini adalah suatu kemuliaan karena ia bisa menghadapi ujian  dengan baik sehingga terhindar dari kemaksiatan. Namun ingat  sesungguhnya bukan ini ujian yang sebenarnya.</p>
<p><span id="more-1477"></span><br />
Allah telah  melarang para hambanya untuk bermaksiat kepadanya baik  secara terang-terangan atau tatkala ia bersendirian tatkala tidak ada  orang lain yang melihatnya. Seseorang yang mencegah dirinya dari  melakukan kemaksiatan dihadapan khalayak tentunya berbeda dengan orang  yang mencegah dirinya dari melakukan kemaksiatan tatkala ia  bersendirian. Sesungguhnya ujian yang hakiki adalah ujian yang dihadapi  seorang hamba tatkala ia sedang bersendirian kemudian tersedia  dihadapannya sarana dan prasarana serta kemudahan baginya untuk  melakukan kemaksiatan, apakah ia mampu mencegah dirinya dari kemaksiatan  tersebut??. Inilah ujian yang hakiki, ujian yang sangat berat,  beruntunglah bagi mereka yang bisa selamat dari ujian ini.</p>
<p>Ketahuliah…, orang yang mampu menghindarkan dirinya dari kemaksiatan  tatkala dihadapan orang lain namun ia terjerumus dalam kemaksiatan  tatkala ia sedang bersendirian merupakan orang yang tercela.</p>
<p>Rasulullah salallah wa&#8217;alaihi wasallam pernah bersabda</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لألفين أقواما من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة فيجعلها  الله هباء منثورا فقالوا يا رسول الله صفهم لنا لكي لا نكون منهم ونحن لا  نعلم فقال أما إنهم من إخوانكم ولكنهم أقوام إذا خلوا بمحارم الله انتهكوها<br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku yang datang pada hari  kiamat dengan membawa kebaikan yang banyak seperti[1] bukit Tihamah kemudian Allah menjadikannya seperti debu yang beterbangan.&#8221;</em> Maka mereka -sahabat- bertanya, <em>&#8220;Wahai Rasulullah, berikanlah ciri mereka kepada kami agar kami tidak termasuk golongan mereka dalam keadaan tidak sadar.&#8221;</em> Maka beliau menjawab, <em>&#8220;Adapun, mereka itu adalah saudara-saudara kalian, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang apabila bersepi-sepi dengan apa yang diharamkan Allah maka mereka pun menerjangnya.&#8221;</em></p>
<p>Allah telah menguji orang-orang yahudi dengan ikan,<br />
Allah berfirman</p>
<p style="text-align: right;"><strong>}وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ  يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ  شُرَّعاً وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ  بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ| (لأعراف:163)</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di  dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu  datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka  terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan  itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka  disebabkan mereka berlaku fasik&#8221;</em>. (QS. 7:163)</p>
<p>Lihatlah…Allah memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk melakukan  kemaksiatan. Namun mereka (orang-orang Yahudi) tersebut tidak sabar  dengan ujian Allah padahal mereka yakin bahwa Allah mengawasi  gerak-gerik mereka, oleh karena itu mereka tidak melanggar perintah  Allah secara langsung tetapi mereka melakukan hilah yang akhirnya Allah  merubah mereka menjadi kera-kera yang hina.</p>
<p>Allahpun telah menguji para sahabat Nabi, Allah berfirman</p>
<p style="text-align: right;"><strong>}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِنَ  الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ  يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ  أَلِيمٌ| (المائدة:94)<br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu  dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan  tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia  tidak dapat melihat-Nya. Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu,  maka baginya azab yang pedih&#8221;</em> (Al-Maidah : 94)</p>
<p>Dari Muqotil bin Hayyan, bahwasanya ayat ini turun tatkala umroh  Hudaibiyah, tatkala itu muncul banyak sekali zebra, burung, dan  hewan-hewan buruan yang lain di tengah perjalanan para sahabat (yang  sedang dalam keadaan berihram umroh), mereka tidak pernah menjumpai yang  seperti ini sebelumnya, namun Allah melarang mereka untuk berburu  hewan-hewan tersebut.[2] Sampai-sampai saking terlalu jinaknya  hewan-hewan tersebut maka mereka bisa mengambil langsung hewan-hewan  buruan yang kecil dengan tangan-tangan mereka, adapun hewan-hewan buruan  yang besar maka mereka bisa dengan mudah menombaknya[3]</p>
<p>Dalam ayat ini | لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ } Allah menta&#8217;kid  (menekankan) dengan sumpah[4] untuk menunjukan bahwa apa yang sedang  mereka hadapi berupa jinaknya hewan-hewan buruan, tidaklah Allah  menjadikan hewan-hewan tersebut jinak kecuali karena untuk menguji  mereka.[5]</p>
<p>Adapun nakiroh pada kalimat | بِشَيْءٍ } menunjukan bahwa cobaan yang  Allah turunkan pada mereka bukanlah cobaan yang sangat mengerikan yang  menyebabkan terbunuhnya nyawa dan rusaknya harta benda, namun cobaan  yang Allah berikan kepada para sahabat pada ayat ini adalah semisal  cobaan yang Allah berikan kepada penduduk negeri Ailah (orang-orang  yahudi) berupa ikan-ikan yang banyak mengapung di permukaan laut namun  Allah melarang mereka untuk menangkapnya[6]. Dan faedah dari cobaan yang  tergolong &#8220;ringan&#8221; ini adalah untuk mengingatkan mereka bahwa  barangsiapa yang tidak bisa tegar menghadapi seperti cobaan ini maka  bagaimana ia bisa tegar jika menghadapi cobaan yang sangat berat. Oleh  karena itu huruf | مِنَ } dalam ayat ini | مِنَ الصَّيْدِ } ini jelas  adalah bayaniah dan bukan  tab&#8217;idhiyah.[7]</p>
<p>Jika seorang hamba merasakan bahwa dirinya dimudahkan untuk melakukan  kemaksiatan, jalan-jalan menuju kemaksiatan terbuka lapang baginya maka  ketahuilah bahwa ia sedang diuji oleh Allah…ingatlah bahwa Allah yang  sedang mengujinya juga sedang mengawasinya, maka takutlah ia kepada  Allah. Inilah ujian yang hakiki, dan Allah akan memberikan ganjaran yang  besar baginya karena kekuatan imannya. Barangsiapa yang meninggalkan  kemaksiatan padahal sangat mudah baginya untuk melakukannya maka  ketahuilah bahwa itu adalah kabar gembira baginya karena hal itu  merupakan indikasi imannya yang kuat. Barangsiapa yang bermaksiat kepada  Allah dalam keadaan bersendirian maka ketahuliah bahwa imannya ternyata  lemah, dan hendaknya ia takut kepada adzab yang Allah janjikan kepada  orang-orang yang melanggar perintahNya.</p>
<p>Oleh karena itu di akhir ayat Allah berfirman | لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ  يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ }, inilah hikmah dari ujian yang Allah berikan  kepada para sahabat yang sebagian mereka bisa saja mengambil hewan-hewan  buruan tersebut dengan mudahnya baik secara terang-terangan maupun  secara sembunyi-sembunyi. Dengan ujian ini akan nampak siapakah dari  hamba-hamba Allah yang takut dan bertakwa kepada Allah baik secara  terang-terangan maupun tatkala bersendirian.</p>
<p>Hal ini sebagaimana firman Allah</p>
<p style="text-align: right;"><strong>}إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ  وَأَجْرٌ كَبِيرٌ| (الملك:12</strong>(</p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak  oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar&#8221;</em>. (QS.  67:12)[8]</p>
<p>Ujian yang diberikan oleh Allah agar terbedakan hamba Allah yang karena  keimanannya yang kuat maka takut kepada adzab Allah di akhirat yang  meyakini bahwasanya Allah senantiasa mengawasinya meskipun ia tidak  melihatNya, agar terbedakan dari hamba yang lemah imannya sehingga  berani melanggar perintah Allah…[9], sehingga Allah memberinya ganjaran  yang besar…adapun menampakan rasa takut kepada Allah dihadapan khalayak  maka bisa jadi ia melakukannya karena takut kepada Allah maka ia tidak  mendapatkan ganjaran…[10].</p>
<p style="text-align: left;">*<strong>Penulis</strong> adalah mahasiswa S2 Universitas Islam Madinah</p>
<p style="text-align: left;">____</p>
<p style="text-align: left;">Catatan Kaki</p>
<p style="text-align: left;">[1] HR Ibnu Majah II/1418 no 4245 dan At-Thobroni dalam Al-Mu’jam  Ash-Shogir I/396 no 662 (dan ini adalah lafalnya) dan Al-Mu’jam  Al-Awshoth V/46 no 4632. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih  Sunan Ibnu Majah, dan As-Shahihah II/32  no 505</p>
<p style="text-align: left;">[2] Ad-Dur Al-Mantsur, karya As-Suyuthi (3/185)</p>
<p>[3] Tafsir Ibnu Katsir (2/98)</p>
<p>[4] Karena huruf lam dalam ayat ini adalh Al-Lam Al-Waqi&#8217;ah lijawabil  qosam</p>
<p>[5] Tafsir Abi As-Sa&#8217;ud  (3/78)</p>
<p>[6] Lihat juga Fathul Qodir (2/77), At-Tafsir Al-Kabir (12/71)</p>
<p>[7] Tafsir Abi As-Sa&#8217;ud  (3/78), Tafsir As-Sa&#8217;di (1/244),  karena jika  kita mengatakan bahwa مِن  dalam ayat ini adalah tab&#8217;idhyah (sebagaimana  hal ini adalah pendapat yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya  (2/98)) maka sesuatu yang ringan yang difahami dari kalimat بِشَيْءٍ  bukanlah jika dibandingkan dengan cobaan-cobaan yang berat namun jika  dibandingkan dengan seluruh hewan</p>
<p>[8] Tafsir Ibnu Katsir (2/99)</p>
<p>[9] Tafsir Abi As-Saud (3/78)</p>
<p>[10] Tafsir As-Sa&#8217;di (1/244)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Yang Berjiwa Besar</title>
		<link>http://abumushlih.com/orang-yang-berjiwa-besar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/orang-yang-berjiwa-besar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 22:12:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[Tawadhu']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1463</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu&#8217;) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-yang-berjiwa-besar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-yang-berjiwa-besar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu&#8217;) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [8/194])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1463"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits yang mulia ini memberikan berbagai pelajaran penting bagi kita, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menganjurkan kita untuk bersikap ihsan/suka berbuat baik kepada 	orang lain, entah dengan harta, dengan memaafkan kesalahan mereka, 	ataupun dengan bersikap tawadhu&#8217; kepada mereka (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat 	al-Qulub al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 	110)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Anjuran 	untuk banyak bersedekah. Karena dengan sedekah itu akan membuat 	hartanya berbarokah dan terhindar dari bahaya. Terlebih lagi dengan 	bersedekah akan didapatkan balasan pahala yang berlipat ganda (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [8/194]). Selain itu, sedekah juga menjadi sebab terbukanya 	pintu-pintu rezeki (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat 	al-Qulub al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 	109)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Anjuran untuk 	menjauhi sifat bakhil/kikir.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Kebakhilan 	tidak akan menghasilkan keberuntungan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan keutamaan bersedekah dengan harta</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Sedekah 	adalah ibadah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Allah 	mencintai orang yang suka bersedekah -dengan ikhlas tentunya-</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Terkadang 	manusia menyangka bahwa sesuatu bermanfaat baginya, namun apabila 	dicermati dari sudut pandang syari&#8217;at maka hal itu justru tidak 	bermanfaat. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak 	bijak orang yang menjadikan hawa nafsu, perasaan, ataupun akal 	pikirannya yang terbatas sebagai standar baik tidaknya sesuatu. 	Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Manusia itu, 	sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada 	dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, 	tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, 	tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar 	untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan 	tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah 	pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan 	larangan-Nya&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 89) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan disyari&#8217;atkannya menepis keragu-raguan dan menyingkap 	kesalahpahaman yang bercokol di dalam hati manusia</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Memberikan </span><em><span style="font-weight: normal;">targhib</span></em><span style="font-weight: normal;">/motivasi 	merupakan salah satu metode pengajaran yang diajarkan Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits ini juga menunjukkan pentingnya memotivasi orang lain untuk 	beramal salih</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Anjuran 	untuk memberikan maaf kepada orang lain yang bersalah kepada kita 	-secara pribadi-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka 	kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, 	kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika 	orang tersebut memiliki sifat pemaaf (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [8/194]).</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Di 	antara hikmah memaafkan kesalahan orang adalah akan bisa merubah 	musuh menjadi teman -sehingga hal ini bisa menjadi salah satu cara 	untuk membuka jalan dakwah-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain 	mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya 	(lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat al-Qulub 	al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 109) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Allah 	mencintai orang yang pemaaf.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Anjuran 	untuk bersikap tawadhu&#8217;/rendah hati. Karena dengan kerendahan hati 	itulah seorang hamba akan bisa memperoleh ketinggian derajat dan 	kemuliaan, ketika di dunia maupun di akherat kelak (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [8/194]).</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hakekat 	orang yang tawadhu&#8217; adalah orang yang tunduk kepada kebenaran, patuh 	kepada perintah dan larangan Allah dan rasul-Nya serta bersikap 	rendah hati kepada sesama manusia, baik kepada yang masih muda 	ataupun yang sudah tua. Lawan dari tawadhu&#8217; adalah takabur/sombong 	(lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat al-Qulub 	al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 110)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Allah 	mencintai orang yang tawadhu&#8217;</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Larangan 	bersikap takabur; yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Tawadhu&#8217; 	yang terpuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan, bukan yang 	dibuat-buat; yaitu yang timbul karena ada kepentingan dunia yang 	bersembunyi di baliknya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat 	al-Qulub al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 	110)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	menjadi penyempurna dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah niat 	yang ikhlas dalam beramal karena Allah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat 	al-Qulub al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 	110)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ketawadhu&#8217;an 	merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi 	Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; keimanan -dan itu yang 	paling pokok- serta ilmu yang dimilikinya. Bahkan, ketawadhu&#8217;an itu 	sendiri merupakan buah agung dari iman dan ilmu yang tertanam dalam 	diri seorang hamba (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat 	al-Qulub al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 	110)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mencari ketinggian dan 	kemuliaan derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang paling mulia di 	sisi-Nya adalah yang paling bertakwa (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan 	salah satu kunci ketakwaan adalah kemampuan untuk mengekang hawa 	nafsu, sehingga orang tidak akan bakhil dengan hartanya, akan mudah 	memaafkan, dan tidak bersikap arogan ataupun bersikap sombong di 	hadapan manusia.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan keutamaan mengekang hawa nafsu dan keharusan untuk 	menundukkannya kepada syari&#8217;at </span><em><span style="font-weight: normal;">Rabbul 	&#8216;alamin</span></em></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hendaknya 	menjauhi sebab-sebab yang menyeret kepada sifat-sifat tercela 	-misalnya; kikir dan sombong- dan berusaha untuk mengikisnya jika 	seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Kemuliaan 	derajat yang hakiki adalah di sisi Allah (diukur dengan syari&#8217;at), 	tidak diukur dengan pandangan kebanyakan manusia</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Bisa jadi 	orang itu tidak dikenal atau rendah dalam pandangan manusia -secara 	umum-, akan tetapi di sisi Allah dia adalah sosok yang sangat mulia 	dan dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang 	tabi&#8217;in terbaik namun tidak dikenal orang, diremehkan, dan tidak 	menyukai popularitas?</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Pujian 	dan sanjungan orang lain kepada kita bukanlah standar apalagi 	jaminan. Sebab ketinggian derajat yang hakiki adalah di sisi-Nya. 	Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya 	mengenai pujian orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai 	Abu Bakar -nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah 	mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (pujian) 	orang lain terhadapnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim fi Thariq 	Thalabil Ilm</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 22). 	Ini adalah Imam Ahmad, seorang yang telah hafal satu juta hadits dan 	rela mempertaruhkan nyawanya demi menegakkan Sunnah dan membasmi 	bid&#8217;ah. Demikianlah akhlak salaf, aduhai&#8230; di manakah posisi kita 	bila dibandingkan dengan mereka? Jangan-jangan kita ini tergolong 	orang yang </span><em><span style="font-weight: normal;">maghrur</span></em><span style="font-weight: normal;">/tertipu 	dengan pujian orang lain kepada kita. Orang lain mungkin menyebut 	kita sebagai &#8216;anak ngaji&#8217;, orang alim, orang soleh, atau bahkan 	aktifis dakwah. Namun, sesungguhnya kita sendiri mengetahui tentang 	jati diri kita yang sebenarnya, segala puji hanya bagi Allah yang 	telah menutupi aib-aib kita di hadapan manusia&#8230; </span><em><span style="font-weight: normal;">Ya 	Allah, ampunilah dosa-dosa kami</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Islam menyeru 	kepada akhlak yang mulia</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Islam 	mengajarkan sikap peduli kepada sesama dan agar tidak bersikap masa 	bodoh terhadap nasib atau keadaan mereka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sesungguhnya 	ketaatan itu -meskipun terasa sulit atau berat bagi jiwa- pasti akan 	membuahkan manfaat besar yang kembali kepada pelakunya sendiri. 	Sebaliknya, kedurhakaan/maksiat itu -meskipun terasa menyenangkan 	dan enak- maka pasti akan berdampak jelek bagi dirinya sendiri. 	Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Perkara 	paling bermanfaat secara mutlak adalah ketaatan manusia kepada 	Rabbnya secara lahir maupun batin. Adapun perkara paling berbahaya 	baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya secara lahir 	ataupun batin.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 89). Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah menegaskan (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bisa 	jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa 	jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu adalah buruk bagi kalian. 	Allah Maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui -segala 	sesuatu-.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. 	al-Baqarah: 216)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Pahala besar 	bagi orang yang berjiwa besar; yaitu orang yang tidak segan-segan 	untuk menyisihkan sesuatu yang dicintainya -yaitu harta- guna 	berinfak di jalan Allah, mau melapangkan dadanya untuk memaafkan 	kesalahan orang lain kepadanya, serta bersikap tawadhu&#8217; dan tidak 	meremehkan orang lain.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ketiga 	macam amal soleh ini -dengan izin Allah- bisa terkumpul dalam diri 	seseorang. Dia menjadi orang yang dermawan, suka memaafkan, dan juga 	rendah hati. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, niscaya ketiga 	sifat ini akan kita temukan dalam diri beliau. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh 	telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik, yaitu 	bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak 	mengingat Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Ahzab: 21)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Di 	samping menyeru kepada persatuan umat Islam -di atas kebenaran- maka 	Islam juga menyerukan perkara-perkara yang menjadi perantara atau 	sebab terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan menganjurkan 3 	hal di atas: suka bersedekah -yang wajib ataupun yang sunnah-, suka 	memaafkan, dan bersikap rendah hati/tawadhu&#8217;. Sesungguhnya, kalau 	kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan 	kekacauan serta fitnah yang timbul di medan dakwah-, akan kita 	dapati bahwa kebanyakan di antara kita -barangkali- amat sangat 	kurang dalam menerapkan ketiga hal tadi. Akibat tidak suka 	bersedekah, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah- yang tidak 	terurus dengan baik. Akibat sulit memaafkan, permusuhan yang tadinya 	hanya bersifat personal pun akhirnya melebar menjadi permusuhan 	kelompok. Akibat perasaan lebih tinggi dan gengsi, jalinan ukhuwah 	yang terkoyak pun seolah tak bisa dijalin kembali. Masing-masing 	pihak ingin menang sendiri dan berat mendengarkan pandangan atau 	argumentasi saudaranya. Maka yang terjadi adalah sikap saling 	menyalahkan, dan kalau perlu menjatuhkan kehormatan saudaranya tanpa 	alasan yang dibenarkan. Kalau seperti itu caranya, </span><em><span style="font-weight: normal;">ya</span></em><span style="font-weight: normal;"> tidak akan pernah </span><em><span style="font-weight: normal;">ketemu</span></em><span style="font-weight: normal;">&#8230; 	Bisa jadi ini hanya sekedar analisa, namun tidak kecil 	kemungkinannya itu merupakan realita yang ada, </span><em><span style="font-weight: normal;">wallahul 	musta&#8217;an</span></em><span style="font-weight: normal;">. Sebagian 	orang, setelah selesai mendengar kritikan dari saudaranya seketika 	itu pula ia memberikan &#8216;serangan balik&#8217; kepada sang pengkritik. 	Padahal, nasehat yang didengarnya belum lagi meresap ke dalam akal 	sehatnya. Karena merasa dirinya telah &#8216;dilecehkan&#8217; dia pun berkata 	kepada temannya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Saya 	juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama 	berlatih untuk menerima kritik dan nasehat dengan lapang dada (lihat 	wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim 	fi Thariq Thalabil &#8216;Ilm</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika 	berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi 	-</span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">- 	dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul 	Yogyakarta, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada 	seorang insanpun melainkan pasti pernah terjatuh dalam kekeliruan&#8230; 	Namun, yang tercela adalah orang yang tetap bersikukuh 	mempertahankan kesalahannya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berjiwa besar, </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahumma amin.</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span><em><span style="font-weight: normal;">Rabbanaghfirlana wa li 	ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj&#8217;al fi qulubina 	ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra&#8217;ufur rahim.</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
</ol>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--></p>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--></p>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/orang-yang-berjiwa-besar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
