<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Ghibah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/ghibah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Bertakwalah, Wahai Para Da&#8217;i!</title>
		<link>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 23:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Ghibah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh wa Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1175</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka yang mengajak ke jalan Allah dengan ucapan dan perbuatan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbertakwalah-wahai-para-dai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbertakwalah-wahai-para-dai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka yang mengajak ke jalan Allah dengan ucapan dan perbuatan mereka. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Sesungguhnya tugas dakwah merupakan tugas mulia yang diembankan di pundak para da&#8217;i. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan siapakah orang yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal soleh, dan dia mengatakan, &#8216;sesungguhnya saya ini tergolong di antara kaum muslimin&#8217;.”</em> (QS. Fushshilat: 33).</p>
<p><span id="more-1175"></span>Dakwah merupakan sebab keberuntungan dan keselamatan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal soleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3). Berdasarkan ayat ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwasanya dakwah merupakan perkara yang wajib untuk dipelajari dan diamalkan oleh setiap muslim.</p>
<p>Terlebih lagi, dakwah merupakan jalan hidup manusia terbaik dan orang-orang yang setia mengikutinya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah -hai Muhammad-; Inilah jalanku, aku mengajak -manusia- menuju Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, Maha suci Allah dan sama sekali aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Yusuf: 108).</p>
<p>Maka dari itulah, pekerjaan dan tugas yang sangat mulia ini harus ditunaikan dengan cara yang benar dan niat yang ikhlas karena Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Bagaimana pun juga dakwah merupakan ibadah, dan ibadah tidak akan diterima kecuali apabila memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti tuntunan nabi-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Kahfi: 110).</p>
<p>Niat yang ikhlas tanpa diiringi dengan cara yang benar tidak akan bermanfaat. Bukankah Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai nasib malang orang-orang yang menyimpang dari jalan-Nya semacam kaum Khawarij dan saudara-saudaranya dari kalangan ahli bid&#8217;ah perusak ajaran agama (yang artinya), <em>“Katakanlah: maukah kuberitakan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia upaya mereka dalam kehidupan dunia sementara mereka mengira bahwa mereka telah melakukan suatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.”</em> (QS. al-Kahfi: 103-104). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun demikian, ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang beribadah kepada Allah akan tetapi tidak berada di atas jalan yang diridhai oleh Allah, sebagaimana disimpulkan oleh Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> (silahkan baca tafsir Ibnu Katsir)</p>
<p>Keikhlasan tanpa dibarengi dengan metode yang benar tidak akan diterima. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amal itu pasti tertolak.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim). Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan -dalam agama-&#8230;”</em> (HR. Bukhari). al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam <em>Fath al-Bari</em> (13/288), <em>“Yang dimaksud perkara baru ini adalah perkara yang diada-adakan dan tidak memiliki sumber/dalil dari syari&#8217;at. Dalam istilah syari&#8217;at hal itu dinamakan sebagai bid&#8217;ah. Adapun suatu perkara -baru- yang memiliki landasan hukum dari syari&#8217;at maka tidak bisa disebut sebagai bid&#8217;ah. Sehingga dalam istilah syari&#8217;at -semua jenis- bid&#8217;ah adalah tercela&#8230;”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sesungguhnya tugas yang mulia ini akan mendatangkan pahala yang melimpah ruah jika dilakukan sebagaimana mestinya. Dan sebaliknya, dakwah akan bisa menimbulkan malapetaka jika tidak dilakukan dengan sebagaimana mestinya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang diperoleh orang yang mengikutinya tanpa sedikitpun mengurangi pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikuti kesesatannya tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa mereka.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Untuk itulah -<em>ikhwah</em> sekalian, semoga Allah membimbing kita semua- mengetahui jalan yang lurus yaitu Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah kunci keselamatan dan keberhasilan dakwah. Sebaliknya, kebodohan terhadap Sunnah Nabi merupakan sebab utama kehancuran dakwah kita -selain ketidakikhlasan dalam beramal-, <em>Allahul musta&#8217;aan</em>. Imam Malik<em> rahimahullah</em> berkata, <em>“as-Sunnah adalah bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya niscaya dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia pasti tenggelam.”</em> (lihat kitab <em>al-Hujaj al-Qawiyyah &#8216;ala Anna Wasa&#8217;il ad-da&#8217;wah tauqifiyah</em> karya Syaikh Abdussalam Burjis <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Perselisihan manusia itu semuanya kembali kepada tiga sumber utama. Masing-masing memiliki lawan. Barangsiapa yang jatuh dari satu urusan niscaya dia akan terperosok kepada lawannya. Tauhid, lawannya syirik. Sunnah, lawannya adalah bid&#8217;ah. Dan taat, yang lawannya adalah maksiat.”</em> (<em>al-I&#8217;tisham </em>[1/91] dinukil dari <em>Ilmu Ushul Bida&#8217;</em> karya Syaikh Ali al-Halabi <em>hafizhahullah</em>, hal. 39).</p>
<p>Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.”</em> (Disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wan Nahyu &#8216;anil munkar</em>, hal. 77 cet Dar al-Mujtama&#8217;). Ibrahim an-Nakha&#8217;i<em> rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Seandainya para sahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mencukupkan diri dengan mengusap kuku niscaya akupun tidak akan membasuhnya untuk mencari keutamaan dalam mengikuti mereka.”</em> (Diriwayatkan oleh ad-Darimi dan Ibnu Batthah, dinukil dari <em>Ilmu Ushul Bida&#8217;</em>, hal. 57)</p>
<p>Apabila demikian kenyataannya, maka memperingatkan umat dari bahaya bid&#8217;ah dan tokoh-tokoh yang menyebarkannya merupakan kewajiban yang berada di pundak para ulama dan da&#8217;i di sepanjang masa. Tidakkah kita ingat, dulu di masa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika beliau memperingatkan umat ini dari bahaya laten Khawarij yang akan muncul dan membara semenjak kepergiannya? Tidakkah kita ingat, dulu di masa sahabat ketika Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> dengan lantang menyatakan permusuhan dan sikap berlepas diri beliau dari kesesatan Ma&#8217;bad al-Juhani dan teman-temannya para penganut aliran Qadariyah di Bashrah? Tidakkah kita ingat, dulu di masa Imam asy-Sayfi&#8217;i <em>rahimahullah</em> tatkala beliau dengan tegas dan keras menyatakan sikapnya mengenai hukuman yang akan beliau jatuhkan kepada orang-orang yang menggeluti ilmu kalam/filsafat dan mencampakkan Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya -yaitu dengan dipukuli dengan sandal dan diarak mengelilingi perkampungan dan di pasar-pasar-? Dan atsar/riwayat serupa yang lainnya masih banyak&#8230;</p>
<p>Maka <em>subhanallah</em> sedemikian banyak riwayat yang sudah sangat-sangat populer itu seolah-olah lenyap dari ingatan sebagian manusia, sehingga dengan entengnya mereka menuduh para ulama dan da&#8217;i yang memperingatkan manusia dari kesesatan dan ketergelinciran sebagian tokoh-tokoh mereka -akibat kebid&#8217;ahan atau penyimpangannya- adalah orang-orang yang maunya menang sendiri, merasa dirinya paling benar, bersikap angkuh, dan meremehkan jasa para pejuang agama?! Wahai orang yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, di manakah penghormatan kalian kepada Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan Sunnah para sahabatnya? Kalau anda diam, mereka diam, dan semua orang diam terhadap kemungkaran, lalu siapakah yang akan memperingatkan manusia dari kesesatan dan penyimpangan? Renungkanlah -dengan akal sehat dan pikiran yang jernih- betapa besar bahaya dan kerusakan yang timbul apabila para ulama dan da&#8217;i tidak memperingatkan kaum muslimin dari penyimpangan yang diserukan dan disebarluaskan di antara mereka? Sangggupkah anda menanggung dosa-dosa orang yang mengikuti kesesatan itu dan mengajarkannya kepada anak didik dan masyarakatnya? Jawablah, wahai saudaraku&#8230; Tegakah <em>antum</em> (anda) menyaksikan tokoh pujaan<em> antum</em> memikul dosa yang begitu banyak akibat telah mengajarkan kesesatan kepada umat manusia, dan umat manusia pun menularkan ajaran sesatnya kepada anak cucu mereka? Jawablah, wahai saudaraku&#8230; Apakah sikap semacam itu merupakan suatu keangkuhan ataukah justru sebuah bukti nyata rasa kasih sayang seorang mukmin kepada sesama saudaranya? Jawablah, wahai saudaraku dari lubuk hatimu yang paling dalam!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia, kalian memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar, dan kalian beriman kepada Allah.”</em> (QS. Ali Imran: 110). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Lelaki yang beriman dan perempuan yang beriman, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar.”</em> (QS. at-Taubah: 71). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Isra&#8217;il melalui lisan Dawud dan Isa bin Maryam. Hal itu disebabkan kemaksiatan mereka dan kebiasaan mereka melampaui batas. Mereka pun biasa tidak saling melarang kemungkaran yang dilakukan di antara mereka. Sungguh jelek perbuatan yang mereka lakukan itu.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 78-79).</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Berbicara dalam bentuk kritik/celaan kepada orang-orang/tokoh (periwayat hadits atau yang semacamnya, pent) dalam rangka menunaikan nasehat untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untuk kitab-Nya, dan untuk kaum mukminin itu tidak dikategorikan dalam perbuatan ghibah/menggunjing, bahkan dia akan mendapatkan pahala dengan tindakan yang dilakukannya itu selama dia benar-benar tulus berniat untuk itu (memberikan nasehat bukan semata-mata mencela, pent).”</em> (<em>al-Ba&#8217;its al-Hatsits Syarh Ikhtishar Ulum al-Hadits</em> karya Ahmad Syakir, hal. 228)</p>
<p>Maka bertakwalah, wahai para da&#8217;i dengan lisan-lisan kita dan anggota badan kita&#8230; Sesungguhnya kita akan ditanya di hadapan Allah dan harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan selama hidup di dunia. Apakah nasehat yang kita berikan benar-benar ikhlas karena-Nya? Apakah kita termasuk orang yang berlapang dada ketika diberi nasehat? Apakah kita termasuk orang yang menganggap bahwa nasehat saudara kita merupakan bukti cinta dan kasih sayangnya kepada kita? Apakah selama ini kita mau menelaah ucapan dan perbuatan kita; sudahkah itu semua sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ataukah sebenarnya menyelisihi Sunnah namun kita berkeras mempertahankannya?</p>
<p>Ingatlah ucapan emas seorang tabi&#8217;in yang mulia salah satu murid senior Abdullah bin Abbas yaitu Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em>. Beliau mengatakan, <em>“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.”</em> (Disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wan Nahyu &#8216;anil munkar</em>, hal. 77).</p>
<p>Marilah kita memohon kepada Allah hidayah untuk berjalan di atas jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberikan anugerah ilmu dan amal salih dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada&#8217; dan orang-orang soleh. Dan semoga Allah menjauhkan kita dari jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun tidak mau tunduk kepadanya. Sebagaimana pula kita berlindung kepada Allah agar tidak tergolong orang-orang yang sesat, yaitu orang yang bersemangat dalam beribadah dan berdakwah namun tanpa bimbingan ilmu yang benar. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah.</p>
<p>Yogyakarta, awal bulan Dzulqo&#8217;dah 1430 H<br />
Yang mengharapkan luasnya ampunan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia &#039;pemakan bangkai&#039;</title>
		<link>http://abumushlih.com/manusia-pemakan-bangkai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/manusia-pemakan-bangkai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 02:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Ghibah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=774</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman, وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ &#8220;Dan janganlah kalian menggunjing satu dengan yang lain. Apakah salah seorang dari kalian senang apabila dia memakan daging bangkai &#8230; <a href="http://abumushlih.com/manusia-pemakan-bangkai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmanusia-pemakan-bangkai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmanusia-pemakan-bangkai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ</p>
<p>&#8220;Dan janganlah kalian menggunjing satu dengan yang lain. Apakah salah seorang dari kalian senang apabila dia memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, maka tentunya kalian membencinya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&#8221; (QS. al-Hujurat : 12).</p>
<p><span id="more-774"></span></p>
<p>Ayat yang mulia ini memberikan pelajaran penting kepada kita, bahwa :</p>
<ol>
<li> Menggunjing atau ghibah merupakan dosa besar. Hal itu dikarenakan Allah menyerupakan perbuatan ghibah itu dengan memakan daging bangkai manusia sementara perbuatan itu termasuk dosa besar. Demikian papar Syaikh as-Sa&#8217;di rahimahullah (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 802)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa apabila seseorang menyebutkan kejelekan saudaranya ketika dia tidak hadir maka itu adalah perbuatan ghibah. Sebagaimana telah dijelaskan sendiri oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Apakah kalian tahu apa yang dimaksud dengan ghibah?&#8221;. Maka mereka menjawab, &#8220;Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.&#8221; Beliau mengatakan, &#8220;Yaitu kamu menceritakan tentang saudaramu yang dia tidak senangi.&#8221; Lalu ada yang bertanya, &#8220;Bagaimana kalau apa yang saya katakan itu benar ada pada diri saudaraku?&#8221;. Maka beliau menjawab, &#8220;Kalau padanya terdapat apa yang kau katakan maka sungguh kamu telah menggunjingnya. Dan apabila tidak ada seperti yang kamu katakan maka itu berarti kamu telah berdusta atas namanya.&#8221; (HR. Muslim dalam Kitab al-Birr wa as-Shilah wa al-Aadab, dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu). Sedangkan apabila dia menyebutkan kejelekan itu di depannya secara langsung maka itu berarti dia telah mencelanya. Namun, apabila ghibah itu dilakukan dalam rangka nasehat -misalnya menyebutkan kejelekan periwayat hadits- atau menerangkan keadaan orang ketika diperlukan -misal ketika dimintai pendapat sebelum menjalin pernikahan dengan seseorang- maka hal itu tidak mengapa (lihat Syarh Riyadhus Shalihin [4/79]).</li>
<li>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa menjaga lisan agar tidak menggunjing merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Dan ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang tidak bisa menjaga lisannya dari ucapan-ucapan yang jelek &#8211; salah satunya adalah ghibah- menunjukkan bahwa ketakwaannya rendah (lihat Syarh Riyadhus Shalihin [4/79]). Dan ketakwaan yang muncul secara lahir, dengan ucapan atau perbuatan itu pada hakikatnya merupakan cerminan apa yang ada di dalam hati. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Demikian itu, karena barangsiapa yang mengagungkan syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, maka sesungguhnya hal itu muncul dari ketakwaan di dalam hati.&#8221; (QS. al-Hajj : 32). Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata-kata baik atau diam.&#8221; (HR. Bukhari dalam Kitab al-Adab dan Muslim dalam Kitab al-Iman dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, &#8220;..pokok keimanan itu tertanam di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan hati. Ia mencakup pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan ketundukan. Sedangkan apa yang ada di dalam hati pastilah akan tampak konsekuensinya dalam perbuatan anggota-anggota badan. Apabila dia tidak melakukan konsekuensinya maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak ada atau lemah. Oleh karena itu maka amal-amal lahir itu merupakan konsekuensi dari keimanan di dalam hati. Ia merupakan pembuktian atas apa yang ada di dalam hati, tanda dan saksi baginya. Ia merupakan cabang dari totalitas keimanan dan bagian dari kesatuannya. Walaupun demikian, apa yang ada di dalam hati itulah yang menjadi pokok/sumber bagi apa-apa yang muncul pada anggota-anggota badan…&#8221; (Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah).</li>
<li>Dan pelajaran lainnya yang belum saya ketahui. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/manusia-pemakan-bangkai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

