<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/hadits/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Mutiara Faedah Hadits Jibril</title>
		<link>http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 05:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Taqdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1899</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan: Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku. [Dia berkata]: Waki&#8217; menuturkan kepada kami dari Kahmas dari Abdullah bin Buraidah, dari Yahya bin Ya&#8217;mar. Ubaidullah bin Mu&#8217;adz al-Anbari menuturkan kepada kami: dan ini merupakan haditsnya. [Dia berkata]: Ayahku menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: Kahmas menuturkan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, dari Yahya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-faedah-hadits-jibril.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-faedah-hadits-jibril.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> meriwayatkan:</p>
<p>Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku. [Dia berkata]: Waki&#8217; menuturkan kepada kami dari Kahmas dari Abdullah bin Buraidah, dari <strong>Yahya bin Ya&#8217;mar</strong>.</p>
<p><span id="more-1899"></span></p>
<p>Ubaidullah bin Mu&#8217;adz al-Anbari menuturkan kepada kami: dan ini merupakan haditsnya. [Dia berkata]: Ayahku menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: Kahmas menuturkan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, dari <strong>Yahya bin Ya&#8217;mar</strong>, dia berkata:</p>
<p>Dahulu, yang pertama kali mempersoalkan masalah takdir di Bashrah adalah Ma&#8217;bad al-Juhani. Maka suatu ketika, aku beserta Humaid bin Abdurrahman al-Himyari memutuskan untuk bersama-sama berangkat menunaikan haji atau umrah, kami berkata, <em>“Seandainya kita bisa dipertemukan dengan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lalu kita tanyakan kepadanya mengenai apa yang dilontarkan oleh orang-orang itu seputar masalah takdir.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Maka kamipun bisa bertemu dengan Abdullah bin Umar bin al-Khaththab tatkala masuk ke dalam masjid. Kemudian aku dan temanku memeluknya. Seorang dari kami memeluk dari sebelah kanan, sementara yang lain dari sebelah kiri. Aku pun mengira bahwa temanku akan menyuruh diriku untuk berbicara. Maka aku pun berkata, <em>“Wahai Abu Abdirrahman -panggilan Ibnu Umar-, sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang suka membaca/menghafal al-Qur&#8217;an dan gemar mengumpulkan ilmu -lalu dia menceritakan keadaan mereka- akan tetapi mereka mengklaim bahwa takdir itu tidak ada, dan semua urusan itu terjadi begitu saja/tidak ditakdirkan sebelumnya.”</em></p>
<p>Maka dia -Ibnu Umar- berkata, <em>“Apabila kamu bertemu dengan mereka, sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka juga berlepas diri dariku. Demi tuhan yang dengannya Abdullah bin Umar bersumpah, seandainya salah seorang di antara mereka mempunyai emas sebesar gunung Uhud lalu dia infakkan niscaya Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman terhadap takdir.”</em></p>
<p>Lalu dia -Ibnu Umar- berkata:</p>
<p>Ayahku Umar bin al-Khaththab menuturkan kepadaku, dia berkata:</p>
<p>Pada suatu hari, ketika kami sedang duduk-duduk bersama dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Tiba-tiba muncul seseorang dengan pakaian yang sangat putih dan memiliki rambut yang sangat hitam. Tidak tampak padanya bekas menempuh perjalanan. Namun, tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenali identitasnya. Sampai akhirnya dia duduk di depan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kemudian meletakkan kedua lututnya di depan lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Lalu dia berkata, <em>“Wahai Muhammad, beritakan kepadaku tentang Islam.”</em></p>
<p>Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam itu adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan menunaikan haji jika kamu mampu melakukan perjalanan ke sana.”</em> Maka dia -lelaki asing itu- berkata, <em>“Kamu benar.”</em></p>
<p>Dia -Umar- berkata, <em>“Kami pun terheran-heran terhadap ulahnya. Dia yang bertanya kepada beliau, namun di saat yang sama dia juga yang membenarkan jawabannya.” </em></p>
<p>Lalu dia -orang itu- bertanya, <em>“Beritakan kepadaku tentang Iman.”</em> Beliau -Nabi- menjawab, <em>“Yaitu kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu juga harus beriman kepada takdir yang baik ataupun yang buruk.”</em> Dia berkata, <em>“Kamu benar.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Lalu dia berkata, <em>“Beritakan kepadaku tentang Ihsan.”</em> Beliau menjawab, <em>“Yaitu kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Kalau kamu tidak bisa seolah-olah melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Lalu dia berkata, <em>“Beritakan kepadaku tentang waktu hari kiamat.”</em> Beliau pun menjawab, <em>“Orang yang ditanyai tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” </em>Maka dia berkata, <em>“Kalau begitu beritakan kepadaku tentang tanda-tandanya?”</em></p>
<p>Maka beliau menjawab, <em>“Yaitu ketika seorang budak perempuan melahirkan tuannya. Dan ketika kamu melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian, yang miskin dan pekerjaannya menggembalakan kambing sudah berlomba-lomba meninggikan bangunan.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dia -Umar- berkata: Lalu dia pergi, dan aku diam di situ selama beberapa waktu. Kemudian beliau -Nabi- berkata kepadaku, <em>“Wahai Umar, tahukah kamu siapakah yang bertanya itu?”</em>. Aku jawab, <em>“Allah dan rasul-Nya lebih tahu.” </em>Beliau berkata, <em>“Sesungguhnya dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang agama kalian.” </em>(<strong>HR. Muslim no. 8</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/5-17])</p>
<p><strong>Faedah Hadits</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hadits Jibril yang agung ini menyimpan banyak sekali faedah, di antaranya -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Yahya al-Hajuri <em>hafizhahullah</em>- adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Orang yang pertama kali mempersoalkan -mengingkari- takdir di      Bashrah adalah Ma&#8217;bad al-Juhani</li>
<li>Hendaknya bertanya untuk mengatasi masalah yang dihadapi, atau      bertanya untuk memberikan pengajaran kepada orang-orang</li>
<li>Semestinya seorang penanya bersikap lembut dalam mengajukan      pertanyaannya</li>
<li>Terkadang seseorang pandai membaca al-Qur&#8217;an sementara dia      bodoh tentangnya, terutama apabila dia tidak terdidik oleh para ulama Sunnah</li>
<li>Boleh mengumumkan sikap <em>hajr</em>/boikot terhadap penebar      kebid&#8217;ahan</li>
<li>Penuntut ilmu yang tidak berpedoman kepada Sunnah niscaya tidak      akan bermanfaat bagi dirinya, bahkan justru mendatangkan bahaya bagi      dirinya sendiri dalam hal agamanya</li>
<li>Kewajiban untuk menjaga rukun-rukun yang disebutkan di dalam      hadits ini dikarenakan itu semua merupakan pokok-pokok ajaran agama</li>
<li>Semestinya untuk merujuk kepada para ulama dalam mengatasi      persoalan yang menimpa</li>
<li>Keutamaan para ulama, dan bahwasanya mereka senantiasa melihat      dan memperhatikan dalil-dalil yang ada demi menyikapi permasalahan</li>
<li>Boleh melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu dengan diiringi      niat untuk sekaligus menunaikan haji dan umrah</li>
<li>Semestinya yang berbicara dalam urusan-urusan penting adalah      orang yang paling senior atau yang paling pandai menjelaskan di antara      mereka</li>
<li>Orang-orang Qadariyah/penolak takdir itu dihukumi kafir, sebab      mereka telah mengingkari  ilmu      Allah, namun madzhab mereka yang ini sekarang sudah punah</li>
<li>Hendaknya memberikan perhatian yang besar dalam mengajarkan      agama yang Allah telah menciptakan kita untuk menjalankannya</li>
<li>Hendaknya berlepas diri dari kebid&#8217;ahan dan penganutnya</li>
<li>Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berpendapat tentang      kafirnya kelompok <em>Qadariyah</em> tersebut</li>
<li>Kelompok Qadariyah yang diceritakan di dalam hadits ini adalah      penuntut ilmu dan tidak termasuk golongan para ulama</li>
<li>Hendaknya seorang murid/penuntut ilmu tidak tergesa-gesa      melakukan tindak pengingkaran terhadap perkara-perkara yang belum merebak      selama para ulama masih ada, sampai mereka memutuskan hukum terhadap      perkara tersebut, meskipun menurut seorang murid hal itu memang selayaknya      diingkari. Pelajaran serupa dengan ini adalah yang terdapat dalam      kisah  jama&#8217;ah Masjid Bani Hanifah      beserta keadaan Abu Musa dengan mereka dan Ibnu Mas&#8217;ud -ketika mengingkari      sekelompok orang yang berkumpul untuk dzikir jama&#8217;i, pent-.</li>
<li>Keutamaan para sahabat dan keutamaan ilmu mereka</li>
<li>Sedekah dari orang kafir -yang wajib ataupun sunnah- tidak      diterima</li>
<li>Iman terhadap takdir adalah wajib, tidak sah keimanan tanpanya</li>
<li>Ucapan <em>&#8216;seandainya&#8217;</em> tidak sepenuhnya dibenci kecuali      apabila dalam rangka memprotes takdir, hal ini dapat dipetik dari      perkataan, <em>“Seandainya kita dipertemukan&#8230;”</em></li>
<li>Pengajaran mengenai adab menuntut ilmu</li>
<li>Bertanya dalam rangka memberikan pengajaran bagi orang lain.      Oleh sebab itu, para Sahabat itu sangat merasa senang jika ada orang arab      badui yang bertanya tentang suatu perkara</li>
<li>Keutamaan menggabungkan berbagai macam niat baik dalam satu      perbuatan</li>
<li>Keutamaan mengenakan pakaian putih, dan seyogyanya seorang alim      dan penuntut ilmu untuk berhias diri dengannya lebih daripada yang lainnya</li>
<li>Dalil keabsahan <em>dilalah iqtiran</em>, hal itu bisa dipetik      dari ucapan, <em>“Tidak tampak padanya bekas menempuh perjalanan.” </em>(<em>dilalah      iqtiran</em> adalah suatu kata bisa memiliki makna yang lain tatkala      diiringkan dengan kata yang lain, pent)</li>
<li>Hendaknya menyebutkan dalil atas suatu hukum</li>
<li>Penetapan keberadaan malaikat, salah satunya adalah Jibril <em>&#8216;alaihis      salam</em></li>
<li>Penetapan sebagian sifat/ciri malaikat</li>
<li>Pengenalan tentang rukun-rukun Islam, rukun-rukun Iman, dan      rukun Ihsan</li>
<li>Agama ini terdiri dari tiga tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan</li>
<li>Semestinya membenarkan orang yang benar atau cocok dengan      kebenaran</li>
<li><em>Muraqabah</em>/merasa diawasi oleh Allah      adalah bentuk dari ihsan</li>
<li>Penetapan bahwa Allah melihat hamba-hamba-Nya dan senantiasa      mengawasi mereka</li>
<li>Penetapan adanya hari kiamat beserta tanda-tandanya</li>
<li>Tidak boleh berkata-kata tanpa landasan ilmu. Orang yang tidak      tahu hendaknya berkata, <em>“Allahu a&#8217;lam.”</em></li>
<li>Hanya Allah yang mengetahui kapan terjadinya kiamat, maka orang      yang mengaku-ngaku mengetahuinya adalah pembohong dan pendusta</li>
<li>Takdir ada yang tampak baik dan ada pula yang tampak buruk      dalam pandangan hamba</li>
<li>Salah satu ciri kiamat kecil adalah banyaknya budak perempuan,      sehingga seorang budak perempuan pun melahirkan majikannya</li>
<li>Penjelasan tentang Islam dan Iman terhadap orang banyak. Banyak      ulama yang secara khusus membuat tulisan dengan urutan semacam ini      sebagaimana yang disebutkan dalam hadits</li>
<li>Takdir itu ada yang baik dan ada yang buruk. Adapun hadits yang      artinya, <em>“Kejelekan tidak diarahkan kepada-Mu.”</em> Maka hadits itu      sudah dijelaskan oleh an-Nawawi bahwa maksudnya meliputi lima kandungan      makna: [1] Tidak boleh mendekatkan diri dengan keburukan kepada-Mu. [2]      Keburukan tidak disandarkan kepada-Mu. [3] Keburukan tidak terangkat      kepada-Mu. [4] Hal itu tidak buruk apabila disandarkan kepada-Mu. [5]      Keburukan itu secara mandiri tidak boleh disandarkan sebagai ciptaan-Mu.      Namun, pendapat yang terakhir ini perlu dikaji kembali.</li>
<li>Kata <em>Rabb</em> bisa bermakna <em>&#8216;tuan&#8217;</em>, dan terkadang      bisa juga bermakna <em>&#8216;pemilik&#8217;</em></li>
<li>Ciri banyaknya harta -di masyarakat- adalah tatkala orang-orang      miskin sudah berlomba-lomba       meninggikan bangunan, sebab hal itu tidak mungkin terjadi kecuali      karena begitu melimpahnya harta di saat itu</li>
<li>Sekedar pemberitaan tentang suatu kaum bukan berarti pelecehan      terhadap mereka</li>
<li>Bolehnya bertanya dengan maksud menguji, diambil dari sabda      Nabi, <em>“Tahukah kamu siapakah yang bertanya itu?”</em></li>
<li>Terkadang ta&#8217;lim/pengajaran itu bisa dilakukan dengan      peragaan/perbuatan</li>
<li>Dahulu para sahabat biasa mengucapkan, <em>“Allahu wa rasuluhu      a&#8217;lam.”</em> Namun ucapan ini khusus ketika beliau/Nabi masih hidup saja</li>
<li>Mempersekutukan dua kata ganti -Allah dengan rasul- tidak      sepenuhnya dibenci, adapun hadits <em>“Sejelek-jelek khatib adalah kamu      dst.”</em> Maka hal itu dikarenakan pada saat berkhutbah yang semestinya      dipakai adalah ungkapan-ungkapan yang jelas dan gamblang</li>
<li>Kompromi antara hadits ini dengan hadits Ibnu Abbas yang      menceritakan kedatangan utusan Abdul Qais -yang di sana rukun Islam      disebut dengan iman, pent- ialah; hadits ini menunjukkan bahwa amal-amal      batin termasuk iman, sedangkan hadits tersebut menunjukkan bahwa amal-amal      lahiriyah juga termasuk iman</li>
<li>Boleh menggembalakan kambing sambil berjalan tanpa alas kaki,      namun memakai alas kaki itu lebih utama sebagaimana disebutkan dalam      hadits, <em>“Orang yang memakai alas kaki itu laksana orang yang menunggang      kendaraan maka sering-seringlah kamu memakai alas kaki.”</em></li>
<li>Berlomba meninggikan bangunan biasanya terjadi dalam rangka      berbangga-bangga</li>
<li>Orang-orang akan merasa heran terhadap sesuatu yang mengundang      keheranan</li>
<li>Pada asalnya pertanyaan itu disampaikan untuk meminta      keterangan/<em>istifadah </em></li>
<li>Di antara para malaikat juga terdapat utusan/rasul dan      pengajar-pengajar</li>
<li>Allah memberikan kekuatan kepada para malaikat untuk bisa      menjelma dalam bentuk lain</li>
<li>Agama Allah yang benar adalah agama kita. Ia bisa disebut      dengan agama Allah; karena Dia lah yang mensyari&#8217;atkannya. Bisa juga      disebut dengan agama kita, karena kita beragama kepada Allah dengannya.      Hal ini dipetik dari ucapan beliau, <em>“Dia mengajarkan kepada kalian      tentang agama kalian.”</em></li>
<li>Keutamaan seorang yang berilmu, dan penjelasan bahwa Jibril      tatkala itu berperan sebagai pengajar bagi mereka sementara -ketika itu-      dia bertanya kepada Nabi, walaupun pendapat yang lebih kuat menyatakan      bahwa orang-orang salih dari kalangan manusia itu kedudukannya lebih utama      daripada malaikat</li>
<li>Semua kitab Allah itu harus diimani, yaitu mencakup: al-Qur&#8217;an,      Taurat, Injil, Zabur dan Suhuf Ibrahim dan Musa</li>
<li>Beradab dalam berbicara, ini terkandung dalam ucapan mereka, <em>“Ketika      itu kami duduk-duduk bersama di sisi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> Mereka tidak menggunakan ungkapan, <em>“Beliau duduk-duduk di sisi kami.”</em></li>
<li>Indahnya adab para sahabat -<em>semoga Allah meridhai mereka-</em> ketika berada di dalam majelis ilmu dengan bersikap tenang/diam -tidak      ribut- dan lain sebagainya</li>
<li>Hendaknya bersikap lembut terhadap orang yang bertanya</li>
<li>Seorang murid mengajarkan adab bersama gurunya, hal ini bisa      dipetik dari ucapannya, <em>“Bolehkah saya mendekat, wahai Muhammad.”</em></li>
<li>Hendaknya penanya mengajukan pertanyaannya dengan jelas dan      lemah lembut</li>
<li>Berhias diri adalah perkara yang dituntut, bukan tergolong      perbuatan sombong/angkuh</li>
<li>Penuntut ilmu lebih utama untuk memakai pakaian putih karena      Jibril datang berperan sebagai guru yang mengajarkan agama -dan dia      mencontohkan demikian-</li>
<li>Hendaknya seorang guru berpenampilan yang bagus</li>
<li>Hendaknya meninggalkan sikap berlebih-lebihan di dalam memuji,      karena dia -Yahya bin Ya&#8217;mar- cukup mengatakan -kepada Ibnu Umar, salah      seorang ulama di kalangan Sahabat-, <em>“Wahai Abu Abdirrahman.”</em></li>
<li>Orang yang baru masuk hendaknya mendahului mengucapkan salam,      hal ini diitunjukkan oleh riwayat lain hadits ini dari jalur Abu Hurairah      -dalam riwayat Bukhari no. 50 dan Muslim no. 9- dan Abu Dzar yang di dalamnya      terdapat keterangan tambahan bahwa ketika masuk Jibril berkata, <em>“Assalamu&#8217;alaikum,      wahai Muhammad.”</em> lalu dia berkata, <em>“Bolehkah saya mendekat, wahai      Muhammad.”</em></li>
<li>Hendaknya membawa teman ketika bepergian jauh</li>
<li>Sesuatu yang wajar, bahwa mayoritas orang yang mau      memperhatikan urusan dakwah di suatu daerah adalah penduduk aslinya (lihat      <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em> oleh Syaikh Yahya al-Hajuri, hal.      38-42)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam, Anda Sudah Paham?</title>
		<link>http://abumushlih.com/islam-anda-sudah-paham.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/islam-anda-sudah-paham.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 12:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralis]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1897</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah nama bagi sebuah din/agama yang haq, agama yang diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya. Islam bukan sekedar kepercayaan yang mengandung sikap pasrah semata tanpa ada rambu-rambu khusus -seperti syari&#8217;at yang diajarkan Nabi kepada kita- sebagaimana yang diklaim oleh kaum liberal dan pluralis. Buktinya, di dalam hadits Jibril Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjelaskan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fislam-anda-sudah-paham.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fislam-anda-sudah-paham.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Islam adalah nama bagi sebuah <em>din</em>/agama yang haq, agama yang diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya. Islam bukan sekedar kepercayaan yang mengandung sikap pasrah semata tanpa ada rambu-rambu khusus -seperti syari&#8217;at yang diajarkan Nabi kepada kita- sebagaimana yang diklaim oleh kaum liberal dan pluralis.</p>
<p><span id="more-1897"></span></p>
<p>Buktinya, di dalam hadits Jibril Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan bahwa Islam itu meliputi; <em>syahadat</em>/persaksian bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji. Lalu, dimanakan bisa ditemukan ajaran-ajaran ini kalau bukan dalam agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>?</p>
<p>Di dalam hadits yang lain, dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga menegaskan, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: kewajiban untuk mentauhidkan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.”</em> (<strong>HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16</strong>, ini lafal Muslim, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/63] dan <em>Syarh Muslim</em> [2/31]). Berdasarkan riwayat hadits ini dapat kita ketahui juga bahwasanya istilah &#8216;tauhid&#8217; bukanlah istilah baru yang tidak dikenal di masa Nabi, bahkan Nabi sendirilah yang mengajarkannya kepada kita!</p>
<p>Dalam jalur riwayat lain -di dalam Shahih Muslim- masih dari Ibnu Umar juga disebutkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: kewajiban beribadah kepada Allah -semata- dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/32])</p>
<p>Berdasarkan dalil-dalil semacam itulah para ulama -di antaranya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em>- mendefinisikan bahwa islam adalah: <em>&#8216;Kepasrahan kepada Allah dengan bertauhid, bersikap tunduk kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, dan berlepas diri dari kemusyrikan beserta segenap penganutnya&#8217;</em> (lihat <em>Hushul al-Ma&#8217;mul</em>, hal. 104). Apabila kita cermati maka pengertian ini sangat bersesuaian dengan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas.</p>
<p>Ada satu hal yang patut untuk digarisbawahi di sini adalah bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menggunakan beberapa ungkapan untuk menyebutkan syahadat, yaitu:</p>
<ol>
<li>Kewajiban mentauhidkan Allah</li>
<li>Kewajiban beribadah kepada Allah -semata- dan mengingkari      segala sesembahan selain-Nya</li>
<li>Bersaksi bahwa tiada sesembahan -yang benar- selain Allah dan      Muhammad utusan Allah</li>
</ol>
<p>Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa barangsiapa yang tidak memenuhi ketiga hal di atas maka tidak bisa disebut sebagai seorang muslim. Artinya, orang yang bukan muslim itu bisa mencakup:</p>
<ol>
<li>Orang yang tidak mentauhidkan Allah, dan ini mencakup semua      orang selain pemeluk Islam, bahkan mencakup kaum munafikin walaupun mereka      &#8216;berbaju&#8217; Islam, dan juga tercakup di dalamnya kaum atheis yang tidak      meyakini adanya tuhan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman tentang orang-orang      munafikin (yang artinya), <em>“Di antara manusia ada yang mengatakan, &#8216;Kami      beriman kepada Allah dan hari akhir&#8217; padahal mereka itu bukan orang-orang      yang beriman.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 8</strong>)</li>
<li>Orang yang beribadah kepada Allah namun tidak mengingkari      sesembahan selain-Nya, yaitu orang-orang musyrik yang mempersekutukan      Allah dalam ibadah. Mereka beribadah kepada Allah dan juga beribadah      kepada selain Allah, kelompok ini pun sebenarnya sudah tercakup dalam      kategori yang pertama di atas. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman tentang      mereka (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan      Allah, maka Allah haramkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah      neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang zalim itu.”</em> (<strong>QS.      al-Ma&#8217;idah: 72</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman mengenai status      sesembahan selain-Nya (yang artinya), <em>“Yang demikian itu, karena Allah      adalah satu-satunya [sesembahan] yang benar sedangkan segala sesuatu yang      mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Hajj: 62</strong>)</li>
<li>Orang yang beribadah kepada Allah semata dan mengingkari      sesembahan selain-Nya namun tidak mau mengikuti ajaran Nabi Muhammad <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> setelah beliau diutus kepada mereka, seperti halnya      kaum ahli kitab di Yaman yang didakwahi oleh Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>.      Oleh karenanya, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> -yang      beliau itu diutus oleh Allah untuk mengajarkan agama Islam kepada segenap      manusia- telah menegaskan dalam sabdanya, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>,      beliau bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya.      Tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku di antara umat ini entah      dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan      risalah/ajaran yang aku bawa melainkan dia pasti termasuk golongan      penduduk neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim no. 153</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/243]). Oleh sebab itu an-Nawawi <em>rahimahullah</em> memberi judul bab      untuk hadits ini dengan judul &#8216;Kewajiban beriman terhadap risalah Nabi      kita Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang berlaku bagi      segenap manusia dan dihapusnya semua agama dengan agamanya&#8217; (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/242])</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/islam-anda-sudah-paham.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Menembus&#8217; Pintu Surga</title>
		<link>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 06:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1885</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut   Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya   pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221;</em></p>
<p><span id="more-1885"></span>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ  الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا  يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ  فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا  أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut  Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya  pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka.  Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’.  Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain  golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu  dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…”</em> (HR.  Bukhari [1896] dari Sahl <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah  orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab  orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya  (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum  muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar  melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki  surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat <em>Syarh  Riyadhush Shalihin</em> oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).</p>
<p>Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana  dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,</p>
<p><strong>مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ  اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا  خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ  وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ  كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ  مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو  بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ  مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ  يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو  أَنْ تَكُونَ مِنْهُم</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah  maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah  kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan  dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad  akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa  akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan  ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”</em></p>
<p>Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, <em>“Ayah dan ibuku  sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu  dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah  ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.</em></p>
<p>Maka beliau pun menjawab, <em>“Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk  golongan mereka.”</em> (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang  hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang  harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta  (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351).</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan  berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala  bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan  dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits  dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara  tegas, Nabi bersabda,</p>
<p><strong>لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب  الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل</strong></p>
<p><em>“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga  yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah  dilakukannya.”</em> (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih,  demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, <em>“Dan aku  berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari  semua pintu surga-.” </em>Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau  Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas  termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit  orang yang bisa <strong>mengumpulkan berbagai amal kebaikan</strong> di dalam dirinya  (Fath Al-Bari, 7/31).</p>
<p>Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan  ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.</p>
<p><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو  بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ  أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya (kepada para  sahabat), <em>“Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”</em>. Abu  Bakar berkata, <em>“Saya.”</em> Beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian  yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”</em>. Maka Abu Bakar berkata,  <em>“Saya.”</em> Beliau kembali bertanya, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari  ini memberi makan orang miskin?”</em>. Maka Abu Bakar mengatakan, <em>“Saya.”</em> Lalu beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini  sudah mengunjungi orang sakit.”</em> Abu Bakar kembali mengatakan, <em>“Saya.”</em> Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, <em>“Tidaklah  ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan  masuk surga.”</em> (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq  <em>radhiyallahu’anhu</em>, <em>”Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya)  mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang  bersemayam di dalam hatinya.”</em> Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut,  Ibnu ‘Aliyah mengatakan, <em>”Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya  adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap  (sesama) makhluk-Nya.”</em> (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab,  hal. 102).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا  صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ  كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ</strong></p>
<p><em>”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging.  Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia  rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging  itu adalah jantung.” </em>(HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat  An-Nu’man bin Basyir <em>radhiyallahu’anhuma</em>).</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ”Di dalam hadits ini terdapat  isyarat yang menunjukkan bahwa <span style="text-decoration: underline;">kebaikan gerak-gerik anggota badan  manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan,  kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat  (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya</span>.  Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain  kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai  Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal  yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik  seluruh anggota badannya. Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala  macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat  untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-‘Ulum  wa Al-Hikam, hal. 93).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar   bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari  kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108).</p>
<p>Maka dari arah pintu manakah kita -dengan segala kekurangan yang ada- akan berusaha -dengan taufik Allah tentunya- bisa menembus pintu surga? Dari satu pintu, ataukah dari banyak pintu&#8230; <em>Allahul muwaffiq</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Ulama Bagi Penuntut Ilmu</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-ulama-bagi-penuntut-ilmu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-ulama-bagi-penuntut-ilmu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 22:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Adab Penuntut Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tolabul Ilmi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1846</guid>
		<description><![CDATA[Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah sampai kepadaku suatu hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melainkan aku pasti beramal dengannya.” Amr bin Qais al-Mala&#8217;i rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam maka beramallah dengannya meskipun hanya sekali agar kamu termasuk penganutnya.” Syaikh Abdurrazzaq berkata, “Maksud ucapan beliau; beramallah dengannya meskipun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-ulama-bagi-penuntut-ilmu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-ulama-bagi-penuntut-ilmu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sufyan ats-Tsauri <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidaklah sampai kepadaku suatu hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melainkan aku pasti beramal dengannya.” </em></p>
<p><span id="more-1846"></span>Amr bin Qais al-Mala&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila sampai kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam maka beramallah dengannya meskipun hanya sekali agar kamu termasuk penganutnya.”</em> Syaikh Abdurrazzaq berkata, <em>“Maksud ucapan beliau; beramallah dengannya meskipun hanya sekali, adalah dalam perkara sunnah dan amalan yang dianjurkan sedangkan dalam perkara wajib maka tidak cukup mengamalkannya sekali kemudian bisa disebut sebagai penganutnya.”</em> (lihat <em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amal </em>karya Syaikh Dr. Abdurrazzaq al-Badr, hal. 27)</p>
<p><strong>Jangan tertipu dengan amalmu!</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ingatlah tatkala Ibrahim membangun pondasi Ka&#8217;bah dan juga Isma&#8217;il, mereka berdua berdoa; &#8216;Wahai Rabb kami terimalah amal kami&#8217;.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 127</strong>). Wuhaib bin al-Ward <em>rahimahullah</em> ketika membaca ayat ini maka ia pun menangis dan berkata, <em>“Wahai kekasih ar-Rahman! Engkau bersusah payah mendirikan pondasi rumah ar-Rahman, meskipun demikian engkau merasa khawatir amalmu tidak diterima!”</em> (lihat <em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amal</em>, hal. 17)</p>
<p><strong>Jadilah contoh yang baik!</strong></p>
<p>Malik bin Dinar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya seorang alim/ahli ilmu apabila tidak mengamalkan ilmunya maka nasehatnya akan luntur dari hati sebagaimana aliran air hujan yang melintasi bongkahan batu.” </em>al-Ma&#8217;mun pernah berkata, <em>“Kami lebih membutuhkan nasehat dengan perbuatan daripada nasehat dengan ucapan.” </em>Syaikh Abdurrazzaq menceritakan: Suatu saat aku mengunjungi salah seorang bapak yang rajin beribadah di suatu masjid yang dia biasa sholat di sana. Beliau adalah orang yang sangat rajin beribadah. Ketika itu dia sedang duduk di masjid -menunggu tibanya waktu sholat setelah sholat sebelumnya- maka akupun mengucapkan salam kepadanya dan berbincang-bincang dengannya. Aku pun berkata kepadanya, <em>“Masya Allah, di daerah kalian ini banyak terdapat para penuntut ilmu.”</em> Dia berkata, <em>“Daerah kami ini!”</em>. Kukatakan, <em>“Iya benar, di daerah kalian ini masya Allah banyak penuntut ilmu.” </em>Dia berkata, <em>“Daerah kami ini!”</em>. Dia mengulangi perkataannya kepadaku dengan nada mengingkari. <em>“Daerah kami ini?!”</em>. Kukatakan, <em>“Iya, benar.”</em> Maka dia berkata, <em>“Wahai puteraku! Orang yang tidak menjaga sholat berjama&#8217;ah tidak layak disebut sebagai seorang penuntut ilmu.”</em> (lihat <em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amal</em>, hal. 36-37). Alangkah benar perkataan bapak tua tersebut, Ibnu Umar mengatakan, <em>“Dahulu kami -para sahabat- apabila tidak menjumpai seseorang pada jama&#8217;ah sholat subuh dan isyak maka kamipun menaruh prasangka buruk kepadanya -jangan-jangan dia munafik, pent-.”</em> (<strong>HR. Thabrani</strong> dalam <em>al-Mu&#8217;jam al-Kabir</em> dll, lihat <em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amal</em>, hal. 37).</p>
<p><strong>Bukankah tolabul ilmi amalan yang utama?</strong></p>
<p>Abdullah bin al-Mu&#8217;taz <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ilmu seorang munafik itu terletak pada ucapannya, sedangkan ilmunya seorang mukmin terletak pada amalnya.” </em>Sufyan <em>rahimahullah</em> pernah ditanya, <em>“Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan kau tinggalkan menuntut ilmu dengan alasan beramal, dan jangan kau tinggalkan amal dengan alasan menuntut ilmu.”</em> (lihat <em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amal</em>, hal. 44-45).</p>
<p><em>Ya Allah, jadikanlah ilmu kami hujjah untuk membela kami, bukan hujjah yang menjatuhkan kami&#8230;.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-ulama-bagi-penuntut-ilmu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Menakjubkan Tentang Sabar dan Syukur Kepada Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 14:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[WEB USTADZ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc. Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc.</strong></p>
<p>Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama<strong> Abu Qilabah </strong>bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.</p>
<p><span id="more-1775"></span>Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu &#8216;anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, <strong>&#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;</strong>&#8221;</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.</p>
<p>Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, &#8220;Aku mendengar engkau berkata &#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;, maka nikmat manakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut??, dan kelebihan apakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu hingga engkau menysukurinya??&#8221;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8220;Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku?, demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya maka tolonglah engkau mencari kabar tentangya –semoga Allah merahmati engkau-&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau&#8221;.</p>
<p>Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gudukan pasir, tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan di makan oleh binatang buas, akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun. Aku berkata, &#8220;Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??&#8221;.</p>
<p>Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Tatkala aku menemui orang tersbut maka akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?&#8221;, aku berkata, &#8220;Benar&#8221;. Ia berkata, &#8220;Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?&#8221;.</p>
<p>Akupun berkata kepadanya, &#8220;Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihissalam?&#8221;, ia berkata, &#8220;Tentu Nabi Ayyub ‘alaihissalam &#8220;, aku berkata, &#8220;Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?&#8221;, orang itu berkata, &#8220;Tentu aku tahu&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?&#8221;, ia berkata, &#8220;Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikapnya?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?&#8221;, ia berkata, &#8220;Iya&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, lagsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau&#8221;. Orang itu berkata, <strong>&#8220;Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka&#8221;</strong>, kemudian ia berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.  Aku berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[1]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis. Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku &#8220;Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?&#8221;.</p>
<p>Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu  mereka berkata, &#8220;Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!&#8221;, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, &#8220;Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!&#8221;.</p>
<p>Aku bertanya kepada mereka, &#8220;Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?&#8221;, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu &#8216;Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan. Tatkala tiba malam hari akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah</p>
<h5>}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ{ (الرعد:24)</h5>
<p>&#8220;Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.&#8221; (QS. 13:24)</p>
<p>Lalu aku berkata kepadanya, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua&#8221;, ia berkata, &#8220;<strong>Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai</strong>&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>[1] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Sumber: situs pribadi guru kami Ustadz Firanda -<em>hafizhahullah</em>- <a href="http://firanda.com" target="_blank">http://firanda.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Mudah Mempelajari Aqidah Ahlus Sunnah (2)</title>
		<link>http://abumushlih.com/cara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-2.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/cara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-2.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 17:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1758</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Bab 2. Metode Salafus Shalih Dalam Penetapan Aqidah Bab ini mencakup lima pembahasan: Sumber Aqidah as-Sunnah Merupakan Wahyu Yang Terjaga as-Sunnah Merupakan Hujjah as-Sunnah Merupakan Hujjah Yang Mandiri Hadits Ahad Hujjah dalam Aqidah [1] Sumber Aqidah Aqidah adalah perkara tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-2.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fcara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-2.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="CENTER">Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>Bab 2. Metode Salafus Shalih Dalam Penetapan Aqidah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Bab ini mencakup lima pembahasan:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Sumber 	Aqidah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">as-Sunnah 	Merupakan Wahyu Yang Terjaga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">as-Sunnah 	Merupakan Hujjah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">as-Sunnah 	Merupakan Hujjah Yang Mandiri</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT">Hadits 	Ahad Hujjah dalam Aqidah</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;" align="LEFT"><span id="more-1758"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[1] Sumber Aqidah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Aqidah adalah perkara tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali apabila dilandasi dengan dalil dari Sang pembuat syari&#8217;at. Aqidah bukanlah medan pemikiran dan ruang untuk berijtihad. Oleh sebab itu sumber aqidah itu hanya terbatas pada apa yang dijelaskan di dalam al-Kitab maupun as-Sunnah. Sebab, tidak ada yang lebih mengetahui tentang Allah dan apa yang wajib baginya serta perkara-perkara yang Allah tersucikan darinya selain Allah sendiri. Dan tidak ada selain Allah orang yang lebih mengerti tentang hal itu selain Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">. Oleh sebab itu manhaj/metode salafus shalih dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam mengambil aqidah adalah terbatas pada al-Kitab dan as-Sunnah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab at-Tauhid li as-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 11)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[2] as-Sunnah Merupakan Wahyu</strong><span style="font-weight: normal;"> </span><strong>Yang Terjaga</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Yang dimaksud dengan Sunnah di sini adalah segala sesuatu yang ditetapkan oleh Rasul </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> selain daripada apa yang telah disebutkan di dalam al-Qur&#8217;an. Apa saja yang beliau sampaikan -dalam urusan agama ini- pada hakekatnya merupakan wahyu dari Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;">, bukan hasil rekayasa pemikiran beliau. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya, akan tetapi itu semata-mata wahyu yang diwahyukan kepadanya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. an-Najm: 3-4</strong><span style="font-weight: normal;">). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Dan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah berjanji untuk menjaga wahyu yang diturunkan kepada Nabi-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh-Nya dalam ayat (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kami pula yang akan menjaganya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Hijr: 9</strong><span style="font-weight: normal;">) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 71-72)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><strong>Syubhat: </strong><span style="font-weight: normal;">Sebagian orang beranggapan bahwa kita tidak mungkin berpegang dengan as-Sunnah/hadits karena hadits itu baru dituliskan beberapa ratus tahun setelah meninggalnya Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">?</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><strong>Jawaban</strong><span style="font-weight: normal;">: Tuduhan bahwa hadits Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> baru dituliskan beberapa ratus tahun setelah wafatnya adalah dugaan yang keliru dan ucapan tanpa bukti. Di antara dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa suatu ketika seorang penduduk Yaman bernama Abu Syah meminta kepada Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> untuk dituliskan apa yang dia dengar dari khutbah Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> pada tahun penaklukan kota Mekah, maka Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tuliskanlah -isi khutbahku- untuk Abu Syah.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/250-251], </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [5/256-257]). </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada seorang pun sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang lebih banyak haditsnya daripada aku kecuali apa yang ada pada Abdullah bin Amr, karena dia selalu mencatat sedangkan aku tidak mencatat.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/251]) </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dalil lainnya, adalah hadits yang riwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim dll dari Abdullah bin Amr </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya senantiasa mendengar apa yang anda sampaikan kemudian saya pun mencatatnya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Beliau menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Iya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Abdullah berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dalam keadaan -anda- murka ataupun ridha?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Maka beliau </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Iya. Karena sesungguhnya aku tidak mengucapkan kecuali kebenaran.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat   hadits yang lainnya dalam </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Hadits an-Nabawi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> oleh Dr. Muhammad Luthfi, hal. 42-43)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[3] as-Sunnah Merupakan Hujjah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sunnah dalam terminologi ahli ushul merupakan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> selain al-Qur&#8217;an. Maka dalam pengertian ini, sunnah itu mencakup ucapan beliau </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, perbuatannya, persetujuannya, tulisan yang beliau tinggalkan, isyarat yang beliau berikan, tekad dan juga sikap beliau dalam meninggalkan sesuatu. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dalam makna ini maka sunnah itu bisa disamakan dengan istilah al-Hikmah yang sering disebutkan beriringan dengan al-Kitab di dalam ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Seperti misalnya, Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah, dan Allah mengajarkan kepadamu apa-apa yang kamu tidak ketahui, dan karunia Allah atas dirimu sungguh sangat besar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 113</strong><span style="font-weight: normal;">). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Oleh sebab itu Imam asy-Syafi&#8217;i </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> menukil keterangan ulama ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan al-Hikmah di sini adalah Sunnah Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 122)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Kaum muslimin telah sepakat mengenai wajibnya taat kepada Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> dan keharusan untuk mengikuti Sunnahnya. Ibnu Taimiyah </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Adapun Sunnah ini, apabila ia telah terbukti keabsahannya maka segenap kaum muslimin telah sepakat mengenai kewajiban untuk mengikutinya.” </span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Di antara dalil-dalil yang melandasinya adalah firman Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Katakanlah: taatilah Allah dan taatilah Rasul, apabila kalian berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir itu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Ali Imran: 32</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> juga berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau merasakan siksaan yang sangat pedih.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nur: 63</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> juga berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak pantas bagi seorang beriman lelaki ataupun perempuan apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian ternyata masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam menyelesaikan urusan mereka.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ahzab: 36</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang perkara apa saja maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 59</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan al-Kitab dan yang semisal dengannya bersama hal itu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Abu Dawud, dll</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Beliau juga bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah itu sama kedudukannya dengan apa yang diharamkan oleh Allah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Ibnu Majah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 124-125) </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[4] as-Sunnah Merupakan Hujjah Yang Mandiri</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sunnah dapat dibagi menjadi tiga bagian apabila ditinjau dari keterkaitannya dengan dalil-dalil al-Qur&#8217;an. </span><strong>Pertama</strong><span style="font-weight: normal;">: Sunnah yang menjadi penegas; yaitu Sunnah yang sama persis kandungannya dengan kandungan dalil atau ayat al-Qur&#8217;an dari segala sisi. </span><strong>Kedua</strong><span style="font-weight: normal;">: Sunnah yang menjadi penjelas atau penafsir terhadap perkara-perkara yang disebutkan secara global saja oleh ayat al-Qur&#8217;an. </span><strong>Ketiga</strong><span style="font-weight: normal;">: Sunnah yang bersifat mandiri atau menambahkan sesuatu yang memang tidak disinggung di dalam al-Qur&#8217;an. Sunnah semacam ini bisa berupa keterangan mengenai wajibnya sesuatu yang hukumnya didiamkan oleh al-Qur&#8217;an, artinya al-Qur&#8217;an tidak membicarakan mengenai wajibnya hal itu. Atau bisa juga berupa keterangan mengenai haramnya sesuatu yang hukumnya didiamkan oleh al-Qur&#8217;an, artinya al-Qur&#8217;an tidak membicarakan mengenai haramnya hal itu (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 123) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Yang dimaksud di sini adalah hadits-hadits Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> yang berbicara tentang suatu perkara yang tidak disebutkan oleh al-Qur&#8217;an. Hadits-hadits semacam itu biasa disebut para ulama dengan istilah </span><em><span style="font-weight: normal;">Sunnah Istiqlaliyah</span></em><span style="font-weight: normal;"> atau </span><em><span style="font-weight: normal;">Sunnah Za&#8217;idah</span></em><span style="font-weight: normal;">. Kaum salaf telah sepakat bahwasanya wajib mengikuti Sunnah Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, entah itu yang sifatnya memberikan keterangan yang serupa, menafsirkan, atau yang memberikan keterangan tambahan yang tidak ada di dalam al-Qur&#8217;an. Dalilnya adalah dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban berhujjah dengan as-Sunnah, karena dalil-dalil itu bersifat umum dan tanpa pembatasan. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang menaati rasul sesungguhnya dia telah menaati Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 80</strong><span style="font-weight: normal;">). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Ibnu Abdil Barr berkata, “Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">jalla wa &#8216;azza</span></em><span style="font-weight: normal;"> memerintahkan untuk taat kepada-Nya -yaitu rasul </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">- serta mengikutinya dengan perintah yang mutlak dan global tanpa memberikan batasan apapun, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk mengikuti Kitabullah, sementara Allah juga tidak mengatakan; &#8216;Cocokkan dulu dengan Kitabullah&#8217; sebagaimana pendapat sebagian kelompok menyimpang.” </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="font-weight: normal;">Adapun sebuah hadits yang disandarkan kepada Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> yang bunyinya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa saja yang datang dariku kepada kalian hendaklah kalian hadapkan kepada Kitab Allah. Kalau sesuai dengan Kitab Allah maka itu berarti aku memang mengucapkannya, dan apabila ternyata menyelisihi Kitab Allah maka aku tidak pernah mengucapkannya&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Ini adalah hadits palsu yang dibuat-buat oleh kaum Zindiq dan Khawarij sebagaimana ditegaskan oleh Abdurrahman bin Mahdi (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 126) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><strong>[5] Hadits Ahad Hujjah Dalam Aqidah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits/khabar ahad dalam istilah ahil ushul adalah selain mutawatir -hadits mutawatir ialah yang banyak jalur periwayatannya-, sehingga yang disebut khabar ahad adalah semua khabar/hadits yang tidak memenuhi syarat mutawatir. Sesungguhnya </span><strong>khabar ahad itu merupakan hujjah/landasan dalam hal hukum maupun akidah tanpa ada pembedaan di antara keduanya, dan hal ini merupakan perkara yang disepakati oleh para ulama salaf</strong><span style="font-weight: normal;">. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dalil yang menunjukkan wajibnya menerima khabar ahad dalam persoalan-persoalan akidah adalah dalil-dalil yang mewajibkan beramal dengan khabar ahad, sebab dalil-dalil tersebut bersifat umum dan mutlak tanpa membeda-bedakan antara satu persoalan (bidang ilmu) dengan persoalan yang lain. Kemudian, selain itu pendapat yang menyatakan bahwa khabar ahad tidak diterima dalam masalah akidah akan melahirkan konsekuensi tertolaknya banyak sekali akidah sahihah. Pembedaan perlakuan terhadap hadits yang berbicara masalah hukum dengan hadits yang berbicara masalah akidah adalah perkara baru yang tidak diajarkan oleh agama, dikarenakan pembedaan ini tidak berasal dari salah seorang sahabat pun, demikian juga tidak dibawa oleh para tabi&#8217;in atau pengikut mereka, dan hal itu juga tidak dibawakan oleh para imam Islam, akan tetapi </span><strong>pembedaan ini hanyalah muncul dari para pemuka ahli bid&#8217;ah dan orang-orang yang mengikuti mereka </strong><span style="font-weight: normal;">(diringkas dari </span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">hal. 148-149)</span></span><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Imam Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengatakan di dalam kitabnya </span><em><span style="font-weight: normal;">Muhtashar Shawa&#8217;iq</span></em><span style="font-weight: normal;"> (2/412) sebagaimana dinukil oleh Syaikh al-Albani </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Pembedaan ini -antara masalah akidah dan amal dalam hal keabsahan berhujjah dengan hadits ahad- adalah </span></em><em><strong>batil dengan kesepakatan umat</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">. Karena hadits-hadits semacam ini senantiasa dipakai sebagai hujjah dalam perkara khabar ilmiah -yaitu akidah- sebagaimana ia dipakai untuk berhujjah dalam perkara thalab/tuntutan dan urusan amaliah&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Muntaha al-Amani</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 117, baca pula keterangan Syaikh Abdullah al-Fauzan dalam kitabnya </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh al-Waraqat</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 214) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Betapa indah ucapan Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“</span></em><em><strong>Semua</strong></em><em><span style="font-weight: normal;"> yang datang di dalam al-Qur&#8217;an atau </span></em><em><strong>sahih</strong></em><em><span style="font-weight: normal;"> dari al-Mushthafa -yaitu Nabi Muhammad- &#8216;alaihis salam yang berbicara tentang sifat-sifat ar-rahman maka </span></em><em><strong>wajib beriman dengannya dan menerimanya dengan kepasrahan dan penuh penerimaan</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Lum&#8217;at al-I&#8217;tiqad</span></em><span style="font-weight: normal;">, yang dicetak bersama Syarh Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> dengan </span><em><span style="font-weight: normal;">tahqiq</span></em><span style="font-weight: normal;"> Asyraf bin Abdul Maqshud, hal. 31) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><strong>Catatan:</strong><span style="font-weight: normal;"> Apabila kita cermati ucapan emas Ibnu Qudamah di atas, maka akan teranglah bagi kita bahwa keyakinan bahwa hadits sahih -termasuk di dalamnya hadits sahih yang berstatus ahad- merupakan hujjah dalam hal aqidah merupakan keyakinan para imam ahlus Sunnah di sepanjang jaman, bukan hasil ijtihad pemikiran Ibnu Taimiyah atau Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahumallah</span></em><span style="font-weight: normal;"> -sebagaimana disangka oleh sebagian orang-. Dari mana bisa kita simpulkan demikian? Perhatikanlah&#8230; </span><strong>Ibnu Qudamah</strong><span style="font-weight: normal;"> hidup antara tahun </span><strong>541-612 H</strong><span style="font-weight: normal;">. Adapun </span><strong>Ibnu Taimiyah</strong><span style="font-weight: normal;"> hidup antara tahun </span><strong>661-728 H</strong><span style="font-weight: normal;">. Demikian pula </span><strong>Ibnul Qayyim</strong><span style="font-weight: normal;"> hidup antara tahun </span><strong>691-751 H</strong><span style="font-weight: normal;">. Ini artinya Ibnu Qudamah lebih dahulu hidup dan lebih dahulu meninggal daripada Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Apakah kita akan mengatakan bahwa Ibnu Qudamah telah mengekor kepada Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim?! </span><em><span style="font-weight: normal;">Subhanallah</span></em><span style="font-weight: normal;">&#8230; betapa aneh dan ganjilnya logika berpikir semacam itu.. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Lebih daripada itu semua kalau kita mau cermati sebuah ungkapan yang sangat populer dari para imam yang empat -yang notabene mereka ada sebelum Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim- </span><em><span style="font-weight: normal;">“</span></em><em><strong>Apabila hadits itu sahih</strong></em><em><span style="font-weight: normal;"> maka itulah madzhab/pandanganku.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Aduhai, apakah kita akan mengatakan bahwa yang mereka maksud dengan ucapan itu hanya dalam masalah fiqih/hukum saja? Sejak kapan mereka berkata demikian dan mana buktinya? Lalu apakah kita juga akan mengatakan bahwa imam yang empat mengekor kepada Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim?! </span><em><span style="font-weight: normal;">Subhanallah, keajaiban apalagi yang ingin mereka ciptakan?! Allahul musta&#8217;aan. </span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/cara-mudah-mempelajari-aqidah-ahlus-sunnah-2.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 02:25:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh wa Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1718</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya. Lawan dari nasehat adalah melakukan penipuan. Sementara menipu merupakan dosa besar yang merusak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya. Lawan dari nasehat adalah melakukan penipuan. Sementara menipu merupakan dosa besar yang merusak keimanan seorang hamba. Maka sudah semestinya setiap muslim bersemangat untuk menunaikan nasehat kepada sesama saudaranya demi terjaganya iman di dalam dirinya dan demi kebaikan saudaranya.</p>
<p><span id="more-1718"></span></p>
<p><strong>عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ</strong><strong> </strong><strong>بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari  Jarir bin Abdillah <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata: <em>“Aku berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan nasehat (menghendaki kebaikan) bagi setiap muslim.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” </em>Lalu ada yang bertanya, <em>“Apa itu ya Rasulullah.”</em> Maka beliau menjawab,<em> “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia -dengan bacaan yarhamukallah-, apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْك النَّصِيحَة ، فَعَلَيْك أَنْ تَنْصَحهُ ، وَلَا تُدَاهِنهُ ، وَلَا تَغُشّهُ ، وَلَا تُمْسِك عَنْ بَيَان النَّصِيحَة</strong></p>
<p><em>“Maknanya: -apabila- dia meminta nasehat darimu, maka wajib bagimu untuk menasehatinya, jangan hanya mencari muka di hadapannya, jangan pula menipunya, dan janganlah kamu menahan diri untuk menerangkan nasehat –kepadanya-.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [7/295] asy-Syamilah)</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ</strong><strong> </strong><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى الْمُؤْمِنِ سِتُّ خِصَالٍ يَعُودُهُ إِذَا مَرِضَ وَيَشْهَدُهُ إِذَا مَاتَ وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ وَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيَهُ وَيُشَمِّتُهُ إِذَا عَطَسَ وَيَنْصَحُ لَهُ إِذَا غَابَ أَوْ شَهِدَ</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada enam kewajiban seorang muslim kepada mukmin yang lain. Apabila saudaranya sakit hendaknya dia jenguk. Apabila dia akan meninggal hendaknya dia ikut menyaksikannya. Apabila bertemu maka hendaknya dia ucapkan salam kepadanya. Apabila dia bersin hendaknya mendoakannya. Dan apabila dia pergi/tidak ada atau sedang hadir -ada di hadapannya- maka hendaknya dia bersikap nasehat kepadanya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, beliau berkata hadits hasan sahih)</p>
<p>al-Mubarakfuri <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ يُرِيدُ خَيْرَهُ فِي حُضُورِهِ وَغَيْبَتِهِ ، فَلَا يَتَمَلَّقُ فِي حُضُورِهِ وَيَغْتَابُ فِي غَيْبَتِهِ فَإِنَّ هَذَا صِفَةُ الْمُنَافِقِينَ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Kesimpulannya adalah hendaknya seorang muslim senantiasa menginginkan kebaikan bagi saudaranya, baik ketika dia ada ataupun tidak ada, dan janganlah dia hanya senang mencari muka ketika berada di hadapannya dan menggunjingnya apabila saudaranya itu tidak ada di hadapannya, karena sesungguhnyahal  ini termasuk ciri orang-orang munafik.”</em> (<em>Tuhfat al-Ahwadzi</em> [7/44] asy-Syamilah) <strong></strong></p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> suatu ketika melalui setumpuk makanan -yang dijual- kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalamnya lalu jari beliau menemukan basah-basah di dalamnya. Maka beliau berkata, <em>“Wahai pemilik/penjual makanan, kenapa ini?”</em>. Dia menjawab, <em>“Terkena air hujan ya Rasulullah.”</em> Maka Nabi berkata, <em>“Mengapa kamu tidak meletakkannya di atas tumpukan makanan itu supaya orang-orang bisa melihatnya. Barangsiapa yang menipu maka dia bukan termasuk golongan kami.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>ash-Shan’ani <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>وَالْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْغِشِّ وَهُوَ مُجْمَعٌ عَلَى تَحْرِيمِهِ شَرْعًا مَذْمُومٌ فَاعِلُهُ عَقْلًا</strong></p>
<p><em>“Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya penipuan, dan hal itu adalah perkara yang telah disepakati keharamannya berdasarkan syari’at dan dicela pelakunya menurut logika.”</em> (<em>as-Subul as-Salam</em> [4/134] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>ومن حقوق المسلم على المسلم أن تنصحه إذا استنصحك ، فتشير عليه بما تحبه لنفسك ، فإن من غش فليس منا ، فإذا شاورك في معاملة شخص أو في تزويجه أو غيره ، فإن كنت تعلم منه خيرا فأرشده إليه ، وإن كنت تعلم منه شرا ، فحذره ، وإن كنت لا تدري عنه ، فقل له : لا أدري عنه ، وإن طلب أن تبين له شيئا من الأمور التي تقتضي البعد عنه ، فبينه له</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Di antara kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain adalah kamu harus menasehatinya jika dia meminta nasehat kepadamu, sehingga kamu akan menunjukkan kepadanya apa yang kamu senangi untuk dirimu sendiri, karena orang yang menipu bukan termasuk golongan kita. Apabila dia bermusyawarah kepadamu -meminta saran- ketika berhubungan dengan seseorang atau dalam urusan pernikahannya atau urusan yang lain, maka apabila kamu mengetahui kebaikan darinya maka arahkanlah ia kepadanya. Apabila kamu mengetahui keburukan darinya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila kamu tidak mengetahui tentangnya maka katakanlah kepadanya; aku tidak tahu tentangnya. Apabila dia meminta kamu untuk menerangkan sesuatu perkara yang semestinya dia menjauh darinya maka terangkanlah hal itu kepadanya.”</em> (<em>adh-Dhiya’ al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’</em> [1/233] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Jarullah berkata:</p>
<p><strong>وإذا استنصحك فانصح له أي إذا استشارك في عمل من الأعمال هل يعمله أم لا ؟ فانصح له بما تحب لنفسك فإن كان العمل نافعا من كل وجه فحثه على فعله وإن كان مضرا فحذره منه وإن احتوى على نفع وضر فاشرح له ذلك ووازن بين المنافع والمضار والمصالح والمفاسد وكذلك إذا شاورك في معاملة أحد من الناس أو التزوج منه أو تزويجه فأظهر له محض نصحك واعمل له من الرأي ما تعمله لنفسك وإياك أن تغشه في شيء من ذلك فمن غش المسلمين فليس منهم وقد ترك واجب النصيحة ، وهذه النصيحة واجبة على كل حال ولكنها تتأكد إذا استنصحك وطلب منك الرأي النافع</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, artinya apabila dia meminta masukan kepadamu mengenai suatu pekerjaan apakah dia sebaiknya melakukannya atau tidak? Maka nasehatilah dia dengan sesuatu yang kamu sukai bagi dirimu. Apabila pekerjaan itu bermanfaat dari berbagai sisi maka doronglah dia untuk melakukannya. Apabila hal itu berbahaya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila hal itu mengandung manfaat dan madharat maka jelaskanlah kepadanya hal itu, dan bandingkanlah untuknya antara manfaat dan madharat, atau maslahat dan mafsadat yang ada. Demikian juga apabila dia meminta saran kepadamu dalam urusan muamalah dengan seseorang atau hendak menikah dengannya maka tunjukkanlah kepadanya sikap tulusmu dalam memberikan nasehat. Gunakanlah pendapat dalam menasehatinya dengan pendapat yang kamu sukai bagi dirimu. Janganlah kamu menipunya dalam perkara itu. Karena barangsiapa yang menipu kaum muslimin maka dia bukan termasuk golongan mereka dan dia telah meninggalkan kewajiban nasehat. Nasehat ini hukumnya wajib -secara mutlak- dalam kondisi apapun, akan tetapi kewajiban ini semakin ditekankan tatkala dia meminta nasehat kepadamu dan meminta saran yang bermanfaat kepadamu.” (Kamal ad-Din al-Islami wa Haqiqatuhu wa Mazayahu</em>, hal 77. lihat juga <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar</em>, hal 114 asy-Syamilah)  <strong></strong></p>
<p><strong>عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ</strong><strong> </strong><strong>أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَأَبَا جَهْمٍ خَطَبَانِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ انْكِحِي أُسَامَةَ فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا </strong></p>
<p>Dari Fathimah binti Qais <em>radhiyallahu’anha</em>, dia menuturkan bahwa suatu ketika Mu’waiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm ingin melamarku, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Adapun Abu Jahm, dia itu tidak pernah meletakkan tongkatnya dari  bahunya. Adapun Mu’awiyah adalah orang yang miskin, tak berharta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.”</em> Namun aku tidak menyukainya. Lalu beliau bersabda, <em>“Menikahlah dengan Usamah.” </em>Maka akupun menikah dengannya sehingga Allah menjadikan kebaikan padanya (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>وَفِيهِ دَلِيل عَلَى جَوَاز ذِكْر الْإِنْسَان بِمَا فِيهِ عِنْد الْمُشَاوَرَة وَطَلَب النَّصِيحَة وَلَا يَكُون هَذَا مِنْ الْغِيبَة الْمُحَرَّمَة بَلْ مِنْ النَّصِيحَة الْوَاجِبَة . وَقَدْ قَالَ الْعُلَمَاء إِنَّ الْغِيبَة تُبَاح فِي سِتَّة مَوَاضِع أَحَدهَا الِاسْتِنْصَاح</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menyebutkan apa-apa yang terdapat pada diri seseorang ketika bermusyawarah dan meminta nasehat, dan hal ini tidak termasuk dalam perbuatan ghibah/menggunjing yang diharamkan, bahkan hal ini adalah nasehat yang wajib. Para ulama mengatakan bahwa ghibah diperbolehkan pada enam keadaan, salah satunya adalah ketika dimintai nasehat  -pendapat tentang orang lain yang hendak dinikahi atau menjadi rekan bisnis dan semacamnya, pent-.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [5/240] asy-Syamilah)<strong></strong></p>
<p><strong>وقد سمع أبو تراب النخشبي أحمد بن حنبل وهو يتكلم في بعض الرواة فقال له: أتغتاب العلماء؟! فقال له: ويحك! هذا نصيحة، ليس هذا غيبة.</strong></p>
<p>Abu Turab an-Nakhasyabi pernah mendengar Ahmad bin Hanbal ketika dia sedang membicarakan/mengkritik sebagian periwayat. Maka dia berkata kepadanya, <em>“Apakah kamu menggunjing para ulama?!”</em>. Maka beliau berkata kepadanya, <em>“Celaka kamu! Ini adalah nasehat, ini bukan ghibah.”</em> (disebutkan dalam <em>al-Ba’its al-Hatsits</em>, hal. 36 asy-Syamilah)</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang bisa menunaikan kewajiban yang agung ini dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang saling memberikan nasehat dengan ikhlas karena-Nya. <em>Wallahul muwaffiq. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dhimam bin Tsa&#8217;labah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 21:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Ahad]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sanad]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1714</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu, beliau mengatakan: Suatu saat ketika kami sedang duduk-duduk bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di masjid, kemudian ada seorang lelaki yang datang dengan mengendarai seekor onta, lantas dia berhentikan ontanya itu di masjid lalu mengikatnya. Kemudian dia berkata, “Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?”. Ketika itu Nabi shallallahu &#8216;alaihi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dhimam-bin-tsalabah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dhimam-bin-tsalabah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><span style="font-weight: normal;">Dari Anas bin Malik </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau mengatakan: Suatu saat ketika kami sedang duduk-duduk bersama Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> di masjid, kemudian ada seorang lelaki yang datang dengan mengendarai seekor onta, lantas dia berhentikan ontanya itu di masjid lalu mengikatnya. Kemudian dia berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Ketika itu Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> sedang duduk sandaran di  antara mereka. Maka kami katakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ini orangnya, lelaki yang berkulit putih dan sedang bersandar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Lalu lelaki itu pun berkata kepada beliau, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Ibnu Abdil Muthallib?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya, aku akan menyambut keinginanmu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kemudian lelaki itu berkata kepada Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku akan bertanya kepadamu yang mungkin terlalu mengusik dirimu dalam menjawab pertanyaan itu. Maka janganlah engkau menyimpan kemarahan kepadaku disebabkan hal itu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Nabi berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tanyakanlah apa yang kira-kira tampak perlu bagimu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia bertanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku bertanya kepadamu dengan menyebut nama Rabbmu dan Rabb orang-orang sebelummu, apakah benar Allah mengutusmu kepada semua umat manusia?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Beliau menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allahumma, hal itu memang benar.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah yang memerintahkanmu supaya kami menunaikan sholat lima waktu dalam sehari semalam?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Nabi menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allahumma, hal itu memang benar.” Lalu dia berkata, “Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah memerintahkanmu agar kami berpuasa pada bulan -Ramadhan- ini dalam setiap tahunnya?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Nabi menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allahumma, hal itu memang benar.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Lalu dia berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah memerintahkanmu untuk memungut sedekah/zakat ini dari kalangan orang kaya di antara kami lalu kamu bagikan kepada orang miskin di antara kami?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Maka Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menjawab, “</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahumma, benar apa yang kamu ucapkan.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">lelaki itu berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku telah beriman kepada semua ajaran yang kamu bawa. Dan aku adalah utusan dari kaumku yang ada di belakangku. Namaku Dhimam bin Tsa&#8217;labah, salah seorang kerabat Bani Sa&#8217;d bin Bakr.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Bukhari [63] dan Muslim [12]</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/182-183] dan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/25-26])</span></span></p>
<p><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1714"></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Kisah ini mengandung faedah, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	seorang pemimpin duduk sambil bersandar di antara para pengikutnya. 	Kisah di atas menunjukkan kerendahan hati Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> yang tidak bersikap sombong sehingga mau untuk duduk-duduk bersama 	para sahabatnya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/183]). Maka sudah semestinya bagi seorang pemimpin untuk 	duduk-duduk bersama bawahannya untuk mendengar permasalahan dan 	keluhan mereka. Aduhai, alangkah indah adab dan akhlak yang 	dicontohkan oleh Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230; </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	dimaksud memberhentikan onta di masjid di dalam riwayat di atas 	adalah meletakkannya di pelataran masjid. Hal itu sebagaimana 	disebutkan dengan jelas dalam riwayat Ahmad dan al-Hakim dari Ibnu 	Abbas yang bunyinya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Maka 	dia pun memberhentikan ontanya di dekat pintu masjid dan mengikatnya 	lalu dia masuk -masjid-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/184]). Hal ini -</span></span><em><span style="font-weight: normal;">wallahu 	a&#8217;lam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">- 	mengisyaratkan bolehnya membuat tempat parkir kendaraan di halaman 	masjid. Bahkan, hal itu bisa jadi diperintahkan apabila ternyata 	dengan tidak adanya lahan khusus untuk parkir menyebabkan gangguan 	bagi masyarakat yang berlalu-lalang di sekitar masjid. Maka alangkah 	bijaknya para pembangun masjid yang tidak melupakan adanya tempat 	parkir khusus jama&#8217;ah di seputar masjid&#8230;</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hendaknya 	seorang murid atau penuntut ilmu mengajukan pertanyaan kepada 	gurunya dengan cara yang baik dan santun. Hal itu sebagaimana yang 	dicontohkan oleh Dhimam yang dengan santun mengajukan permohonan 	maafnya sebelum bertanya perkara yang bisa jadi mengusik perasaan 	Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Dan hendaknya sang murid mengajukan pertanyaan tanpa terlalu 	berpanjang lebar. Umar bin Khattab </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkomentar mengenai kisah ini, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku 	belum pernah melihat orang yang lebih bagus dalam mengajukan 	pertanyaan dan lebih ringkas dalam menyampaikannya daripada Dhimam.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/184])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini dijadikan dalil oleh al-Hakim untuk menegaskan anjuran untuk 	mencari sanad yang lebih tinggi dalam istilah ilmu hadits. Karena 	Dhimam bin Tsa&#8217;labah dalam kisah ini sebenarnya sedang menanyakan 	apa-apa yang telah disampaikan kepadanya oleh utusan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> yang beliau kirim kepada kaumnya, sebagaimana disebutkan dalam 	riwayat Muslim. Maka Dhimam sangat ingin mendengar hal itu secara 	lagsung dari lisan Rasul </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> demi lebih memperkuat keyakinannya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/185] dan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/25]). Yang dimaksud sanad yang lebih tinggi adalah yang lebih 	dekat dengan Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	atau lebih pendek jalurnya. Sanad yang lebih tinggi lebih utama 	karena lebih jauh dari kekeliruan dan kesalahpahaman. Imam Ahmad bin 	Hanbal berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sanad 	yang tinggi merupakan sunnah orang-orang yang terdahulu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Bahkan beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Mencari 	ketinggian sanad itu merupakan bagian dari agama.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Hadits 	an-Nabawi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 150-152). Saya katakan: Hal ini mengisyaratkan bahwa hendaknya 	kita berusaha untuk sebisa mungkin dekat dengan para ulama dan 	bimbingan mereka. Termasuk di dalamnya adalah dengan cara menggali 	ilmu dari murid-murid para ulama. Lihatlah, betapa banyak 	penyimpangan dan perselisihan yang timbul tatkala para penimba ilmu 	yang masih pemula tidak menggubris bimbingan para ulama besar 	mereka&#8230; </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul 	musta&#8217;aan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga merupakan hujjah/argumen yang sangat kuat untuk beramal 	dengan hadits ahad (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/186], </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/27]). Hadits ini juga menunjukkan wajibnya menerima hadits ahad 	dalam masalah akidah. Mengkhususkan bolehnya berhujjah dengan hadits 	ahad dalam masalah hukum saja -bukan untuk akidah- merupakan 	tindakan tanpa dalil dan perkara yang batil (lihat lebih lengkap 	dalam </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Muntaha 	al-Amani bi Fawa&#8217;id Mushtholah Hadits li al-Albani</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 83 dan sesudahnya)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	menisbatkan seseorang kepada kakeknya apabila kakeknya memang lebih 	terkenal daripada bapaknya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/187]). Yang dimaksud adalah sebutan Ibnu Abdil Muthallib yang 	diucapkan oleh Dhimam kepada Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Padahal, Abdul Muthallib adalah kakek Nabi bukan ayahnya. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	meminta orang lain untuk bersumpah dalam rangka menambah keyakinan 	dan untuk memperkuat penegasan suatu perkara (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/187])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini merupakan dalil yang menunjukkan bolehnya bersandar kepada 	bacaan seorang murid di hadapan gurunya yang biasa disebut dalam 	ilmu hadits sebagai </span></span><em><span style="font-weight: normal;">qiro&#8217;ah 	&#8216;alal alim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> atau </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-&#8217;ardh</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Orang yang membaca di hadapan gurunya sedangkan gurunya membenarkan 	atau mendiamkannya itu sama hukumnya dengan orang mendengar hal itu 	langsung dari penuturan gurunya. Sufyan berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apabila 	dibacakan kepada seorang muhaddits maka tidak mengapa kamu katakan, 	&#8216;haddatsani&#8217; -telah menuturkan kepadaku-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Imam Malik dan Sufyan ats-Tsauri berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Membaca 	di depan seorang alim dengan bacaan orang alim itu sendiri adalah 	sama.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/181-182], </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Hadits 	an-Nabawi</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 200-201)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa wajibnya mengerjakan sholat lima waktu itu 	berlaku secara berulang-ulang untuk setiap sehari semalam. Demikian 	pula, hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban menjalankan puasa 	Ramadhan itu berlaku di setiap tahun (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/26])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga dijadikan dalil oleh para ulama untuk menyatakan bahwa 	orang-orang awam yang taklid adalah termasuk kaum beriman yang 	diterima keimanannya, selama mereka meyakini kebenaran tanpa 	tercampur dengan keragu-raguan (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/27]). Secara umum hukum taklid itu adalah boleh. Karena hal ini 	merupakan konsekuensi dari firman Allah (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Bertanyalah 	kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. </span></span><span style="font-style: normal;"><strong>an-Nahl: 43</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). 	Taklid diperbolehkan bagi orang yang tidak punya kemampuan untuk 	menggali kesimpulan hukum dari dalil. Adapun apabila dirinci, maka 	ada juga jenis taklid yang terlarang (lebih lengkap baca </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Ma&#8217;alim 	Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 496 dst)     </span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-dhimam-bin-tsalabah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamu Dusta!</title>
		<link>http://abumushlih.com/kamu-dusta.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kamu-dusta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 18:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dajjal]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Shodaqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1710</guid>
		<description><![CDATA[Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah -radhiyallahu&#8217;anhu-, maka Natil -salah seorang penduduk Syam- (beliau ini adalah seorang tabi&#8217;in yang tinggal di Palestina, pent) berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.” Abu Hurairah menjawab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkamu-dusta.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkamu-dusta.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah -</span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">-, maka Natil -salah seorang penduduk Syam- (beliau ini adalah seorang tabi&#8217;in yang tinggal di Palestina, pent) berkata kepadanya, </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">“Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">.”</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1710"></span></span></span>Abu Hurairah menjawab,</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">“<span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda: </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">“<span style="font-weight: normal;">Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: [</span><strong>Yang pertama</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.”</strong></em><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">hingga akhirnya dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dilemparkan ke dalam api neraka. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">[</span><strong>Yang kedua</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur&#8217;an. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur&#8217;an di jalan-Mu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur&#8217;an agar disebut sebagai qari&#8217;. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>Yang ketiga</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah bertanya kepadanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1903], lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/529-530])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini memberikan faedah bagi kita, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dosa 	riya&#8217; -yaitu beramal karena dilihat orang dan demi mendapatkan 	sanjungan- adalah dosa yang sangat diharamkan dan sangat berat 	hukumannya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531]). Riya&#8217; merupakan bahaya yang lebih dikhawatirkan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menimpa orang-orang salih sekelas para sahabat. Beliau bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Maukah 	kukabarkan kepada kalian mengenai sesuatu yang lebih aku takutkan 	menyerang kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Para sahabat menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Mau 	ya Rasulullah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Yaitu 	syirik yang samar. Tatkala seorang berdiri menunaikan sholat lantas 	membagus-baguskan sholatnya karena merasa dirinya diperhatikan oleh 	orang lain.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Ahmad dan 	Ibnu Majah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	al-Bushiri berkata sanadnya hasan) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tam-hid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 397, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/55]). Kalau para sahabat saja demikian, maka bagaimana lagi 	dengan orang seperti kita? </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul 	musta&#8217;aan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230;</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dorongan 	agar menunaikan kewajiban ikhlas dalam beramal. Hal ini sebagaimana 	yang telah Allah perintahkan dalam ayat (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah 	mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan 	mengikhlaskan amal untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Bayyinah: 	5</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) 	(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531]) </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa dalil-dalil lain yang bersifat umum yang 	menyebutkan keutamaan jihad itu hanyalah berlaku bagi orang-orang 	yang berjihad secara ikhlas. Demikian pula pujian-pujian yang 	ditujukan kepada ulama dan orang-orang yang gemar berinfak dalam 	kebaikan hanyalah dimaksudkan bagi orang-orang yang melakukannya 	ikhlas karena Allah (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531-532])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Sesungguhnya 	ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat 	rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak 	akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap 	pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh 	manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau 	dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 143)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Keikhlasan 	merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan 	kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah 	berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak 	ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada 	ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk 	memuaskan hawa nafsunya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum 	wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 26). Sebagian salaf berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah 	aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat 	daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul 	al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/53])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Tercela 	dan diharamkannya orang yang menimba ilmu agama tidak ikhlas karena 	Allah. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa 	yang menuntut ilmu yang semestinya dipelajari demi mencari wajah 	Allah akan tetapi dia tidak menuntutnya melainkan untuk menggapai 	kesenangan dunia maka dia pasti tidak akan mendapatkan bau -harum- 	surga pada hari kiamat kelak.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Abu Dawud</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan disahihkan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; 	al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 22)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Amalan 	yang tercampuri syirik -contohnya riya&#8217;- tidak diterima oleh Allah. 	Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah 	ta&#8217;ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan 	sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang dia 	mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Kutinggalkan dia 	bersama kesyirikannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) 	(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; 	al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 23)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Sebesar 	apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang 	ikhlas. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan 	demi mencari wajah-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Nasa&#8217;i</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan dihasankan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; 	al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 21)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Amalan 	yang  besar bisa berubah menjadi kecil gara-gara niat, sebagaimana 	amal yang kecil bisa menjadi bernilai besar karena niat. Ibnu 	Mubarak berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Betapa 	banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa 	banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; 	al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 19) </span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kamu-dusta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koreksi Kesalahan Seputar Wudhu</title>
		<link>http://abumushlih.com/koreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/koreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 00:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[Wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1698</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi -hafizhahullah- PERTANYAAN Berwudhu, suatu kegiatan yang sudah akrab dengan kaum muslimin. Seorang muslim yang ingin beramal ibadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah tentunya juga ingin mengetahui kesalahan-kesalahan yang terjadi yang dilakukan orang dalam praktik berwudhu, agar dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan tersebut. Oleh sebab itu, harap diterangkan kesalahan-kesalahan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkoreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkoreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong>Oleh:<strong> al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi -<em>hafizhahullah-</em><br />
</strong></p>
<p><strong>PERTANYAAN </strong></p>
<p>Berwudhu, suatu kegiatan yang sudah akrab dengan kaum muslimin.  Seorang muslim yang ingin beramal ibadah dengan benar sesuai dengan  tuntunan Rasulullah tentunya juga ingin mengetahui kesalahan-kesalahan  yang terjadi yang dilakukan orang dalam praktik berwudhu, agar dapat  terhindar dari kesalahan-kesalahan tersebut. Oleh sebab itu, harap  diterangkan kesalahan-kesalahan yang sering terjadi!</p>
<p><span id="more-1698"></span><strong>JAWABAN</strong></p>
<p>Ada beberapa kesalahan dalam praktek berwudhu di tengah masyarakat.  Berikut ini kami akan menerangkan beberapa kesalahan tersebut.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Memisahkan Antara  Kumur-Kumur dan Menghirup Air </span></strong></p>
<p>Memisahkan antara kumur-kumur dengan menghirup air, dengan cara  mengambil air tersendiri untuk dihirup selain dari air untuk  berkumur-kumur, merupakan kesalahan yang hampir merata di tengah  masyarakat. Perlu kami terangkan bahwa memisahkan antara kumur-kumur  dengan menghirup air tidak dilandasi tuntunan yang benar dari Rasulullah  <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> .</p>
<p>Orang yang melakukan hal tersebut sandarannya hanyalah dibangun di  atas hadits yang lemah. Berikut ini penjelasannya.</p>
<p>Hadits Thalhah bin Musharrif dari ayahnya, dari kakeknya, beliau  berkata,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ وَالْمَاءُ يَسِيْلُ  مِنْ وَجْهِهِ وَلِحْيَتِهِ عَلَى صَدْرِهِ فَرَأَيْتُهُ يَفْصِلُ بَيْنَ  الْمَضْمَضَةِ وَالْإِسْتِنْشَاقِ</span></strong><strong> </strong></span></p>
<p><em> “Saya masuk menemui Nabi shallallahu</em><em> ‘</em><em> alaihi  wa alihi wa sallam dan beliau sedang berwudhu. Air mengucur dari wajah  dan jenggot beliau di atas dadanya. Saya melihat beliau memisahkan  antara kumur-kumur dengan menghirup air ke hidung.” </em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam <strong><em> Sunan</em></strong> -nya no. 139, Al-Baihaqy dalam <strong><em> Sunan</em></strong> -nya  1/51, dan Ath-Thabarany jilid 19 no. 409-410. Semuanya dari jalan  Al-Laits bin Abi Sulaim dari Thalhah bin Musharrif, dari ayahnya, dari  kakeknya. Lalu dalam salah satu riwayat Ath-Thabarany dengan lafazh,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَتَمَضْمَضَ ثَلاَثًا وَاسْتَنْشَقَ  ثَلاَثًا يَأْخُذُ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مَاءً جَدِيْدًا … </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi  wa alihi wa sallam berwudhu lalu berkumur-kumur tiga kali dan menghirup  air tiga kali. Beliau mengambil air baru (baca: tersendiri) untuk  setiap anggota ….” </em></p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang lemah sebagaimana yang dikatakan oleh  Abu Hatim dalam <strong><em> Al-‘Ilal </em></strong> 1/53 karya anaknya.  Ada dua kelemahan dalam sanadnya:</p>
<p><strong> Pertama</strong> , terdapat rawi yang bernama Al-Laits bin  Abi Sulaim<strong></strong>dan ia telah dilemahkan oleh Ibnu Mahdy,  Yahya Al-Qaththan, Ibnu ‘Uyyainah, Ibnu Ma’in, Ahmad, Abu Hatim, Abu  Zur’ah, Ya’qub Al-Fasawy, An-Nasa`i dan lain-lainnya, bahkan Imam  An-Nawawy, dalam <strong><em> Tahdzib Al-Asma` Wa Al-Lughat </em></strong> 1/2/75, menukil kesepakatan para ulama atas lemah dan goncangnya hadits  Al-Laits bin Abi Sulaim.</p>
<p><strong> Kedua</strong> , ayah Thalhah bin Musharrif adalah rawi yang  <em>majhul</em> ‘tidak dikenal’.</p>
<p>Baca <strong><em> Tahdzibut Tahdzib</em></strong> , <strong><em> Al-Badrul Munir</em></strong> 3/277-286, <strong><em> At-Talkhish  Al-Habir</em></strong> 1/133-134, dan <strong><em> Nashbur Rayah</em></strong> 1/17.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam <strong><em> At-Talkhish</em></strong> ,  menyebutkan bahwa Ibnus Sakan menyebut dalam <strong><em> Shahih</em></strong> -nya satu hadits dari jalan Abu Wa`il Syaqiq bin Salamah, bahwa beliau  berkata,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">شَهِدْتُ عَلِيَّ بْنَ أَبِيْ طَالِبٍ  وَعُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ تَوَضَّأَ ثَلاَثًا ثَلاَثًا فَأَفْرَدَا  الْمَضْمَضَةَ مِنَ الْإِسْتِنْشَاقِ ثُمَّ قَالاَ : هَكَذَا رَأَيْنَا  رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Saya menyaksikan ‘Ali bin Abi Thalib dan ‘Utsman bin ‘Affan  berwudhu tiga kali-tiga kali, lalu keduanya menyendirikan (baca:  memisahkan) kumur-kumur dari menghirup air. Kemudian keduanya berkata,  ‘Demikianlah kami melihat Rasulullah shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam berwudhu.’.” </em></p>
<p><strong> Saya berkata</strong> , “Al-Hafizh Ibnu Hajar tidak  menyebutkan sanad hadits ini, tapi bisa dipastikan bahwa hadits ini  lemah karena ‘Utsman bin ‘Affan, dalam riwayat Bukhary-Muslim dan  selainnya, telah memeragakan cara Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam </em> berwudhu dan beliau tidak memisahkan  antara kumur-kumur dan menghirup air. Demikian pula ‘Ali bin Abi Thalib,  dalam riwayat yang shahih dari beliau, memeragakan cara Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam </em> berwudhu, tetapi  tidak memisahkan antara kumur-kumur dan menghirup air.</p>
<p>Kemudian saya menemukan sanad hadits Abu Wa`il Syaqiq bin Salamah  yang disebutkan oleh <em>Al-Hafizh</em> Ibnu Hajar tersebut, yaitu  diriwayatkan oleh Ibnul Ja’d sebagaimana dalam <strong><em> Al-Ja’diyyat</em></strong> no. 3406 dan dari jalannya diriwayatkan oleh Al-Maqdasy dalam <strong><em> Al-Mukhtarah</em></strong> no. 347 dari jalan ‘Abdurrahman bin Tsabit  bin Tsauban, dari ‘Abdah bin Abi Lubabah, dari Syaqiq bin Salamah, sama  dengan lafazh yang disebut oleh <em>Al-Hafizh</em> Ibnu Hajar tapi ‘Ali  bin Abi Thalib tidak disebutkan.</p>
<p>Adapun ‘Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban, yang ada di dalam sanad,  adalah rawi yang dha’if maka hadits ini adalah <strong>mungkar</strong> karena menyelisihi riwayat para rawi yang <em>tsiqah</em> ‘terpercaya’  yang tidak menyebutkan lafazh ini.”</p>
<p>Maka sebagai kesimpulan, seluruh hadits, yang menjelaskan bahwa  kumur-kumur dipisah dari menghirup air, adalah lemah.</p>
<p>Berkata Imam An-Nawawy dalam <strong><em> Al-Majmu’ Syarh  Al-Muhadzdzab</em></strong> 1/398, “Adapun memisah (antara kumur-kumur  dan menghirup air-pent.), tidak ada sama sekali hadits yang <em>tsabit</em> ‘kuat, sah’. Yang ada hanyalah hadits Thalhah bin Musharrif dan ia  adalah (rawi yang) lemah.”</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim dalam <strong><em> Zadul Ma’ad</em></strong> 1/192-193, “Dan tidaklah datang (keterangan tentang) memisah antara  kumur-kumur dan menghirup air dalam hadits yang shahih sama sekali.”</p>
<p>Setelah membaca uraian lemahnya hadits yang menjelaskan  disyariatkannya memisahkan antara kumur-kumur dan menghirup air, mungkin  akan muncul pertanyaan di dalam benak, “Kalau cara memisah antara  kumur-kumur dan menghirup air itu salah, lalu bagaimana cara yang  benarnya?”</p>
<p>Jawabannya dari dua sisi:</p>
<p><strong> Secara global</strong> , kami menetapkan bahwa  berkumur-kumur dan menghirup air adalah menggabungkannya dengan cara  mengambil air lalu digunakan untuk berkumur-kumur sekaligus menghirup  air.</p>
<p><strong> Secara rinci</strong> , dalam hadits Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> diterangkan tiga <em>kaifiyah</em> ‘cara’ dalam berkumur-kumur dan menghirup air.</p>
<ul>
<li><strong> Pertama</strong> ,<strong></strong>berkumur-kumur dan  menghirup air secara bersamaan dari satu telapak tangan sebanyak tiga  kali cidukan. Hal ini diterangkan dalam beberapa hadits, di antaranya  hadits ‘Abdullah bin Zaid riwayat Bukhary-Muslim,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">فَتَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ  وَاحِدَةٍ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثًا </span></strong></span></p>
<p><em> “Maka beliau berkumur-kumur dan menghirup air dari satu telapak  tangan. Beliau mengerjakan itu sebanyak tiga kali.” </em></p>
<ul>
<li><strong> Kedua</strong> ,<strong></strong>berkumur-kumur dan  menghirup air secara bersamaan<strong></strong>sebanyak tiga kali dari  satu kali cidukan air dengan satu telapak tangan. Cara ini, walaupun  agak sulit diterapkan, tetapi memungkinkan dan bisa dilakukan, sebab <em>kaifiyah</em> ini telah diterangkan dalam hadits ‘Abdullah bin Zaid riwayat Bukhary,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ  مِنْ غُرْفَةٍ وَاحِدَةٍ </span></strong></span></p>
<p><em> “Maka beliau berkumur-kumur dan (menghirup air lalu)  mengeluarkannya sebanyak tiga kali dari satu cidukan.” </em></p>
<ul>
<li><strong> Ketiga</strong> ,<strong></strong>berkumur-kumur tiga kali  lalu menghirup air tiga kali dari satu kali cidukan dengan satu telapak  tangan. Hal ini dijelaskan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى فِي  الْإِنَاءِ فَمَضْمَضَ ثَلاَثًا وَاسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا </span></strong></span></p>
<p><em> “Kemudian beliau memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana lalu  berkumur-kumur tiga kali dan menghirup air tiga kali.” </em> (diriwayatkan oleh<strong></strong>Abu Daud, An-Nasa`i<strong></strong>dan  lain-lain, dan dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam <strong><em> Jami’  Ash-Shahih</em></strong> dan Al-Hafizh, dalam <strong><em> At-Talkhish</em></strong> , menyebutkan jalan-jalan yang banyak dari hadits ini)</p>
<p>Walaupun hadits ini mengandung <em>ihtimal</em> ‘kemungkinan’, tetapi  zhahirnya menunjukkan <em>kaifiyah</em> tersendiri. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Baca <strong><em> Ikhtiyarat Ibnu Qudamah</em></strong><strong></strong> 1/158, <strong><em> Al-Mughny</em></strong> 1/170-171, dan <strong></strong><strong><em> Al-Majmu’</em></strong><strong></strong><strong></strong> 1/397-398.</p>
<p><strong> <span style="text-decoration: underline;">Lalai Dalam  Menyempurnakan Wudhu </span></strong></p>
<p>Lalai dalam menyempurnakan wudhu, sehingga menyebabkan ada bagian  dari anggota wudhu (anggota badan dalam berwudhu) yang terluput dari  basuhan air, adalah kesalahan besar, apalagi kalau yang terluput dari  basuhan air itu adalah anggota yang merupakan rukun wudhu, maka wudhu  dianggap batal. Dimaklumi bersama, bahwa anggota yang merupakan rukun  wudhu adalah yang tertera dalam ayat 5 surah Al-Maidah,</p>
<p><em> “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian berdiri hendak  mengerjakan shalat, maka cucilah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan  kalian sampai ke siku, lalu usaplah kepala-kepala kalian dan cucilah  kaki-kaki kalian sampai ke mata kaki.” </em></p>
<p>Berikut ini beberapa dalil yang menunjukkan kewajiban dan keutamaan  menyempurnakan wudhu.</p>
<p><strong> Pertama</strong> ,<strong></strong>hadits Abu Hurairah,  bahwa Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> mengajar seseorang yang jelek shalatnya,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ  الْوُضُوْءَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Jika kamu hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu.”</em> (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim)</p>
<p><strong> Kedua</strong> ,<strong></strong>hadits Laqith bin Saburah,  bahwa Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">أَسْبِغِ الْوُضُوْءَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Sempurnakanlah wudhu.”</em><strong></strong></p>
<p>(Diriwayatkan oleh Asy-Syafi’iy dalam <strong><em> Al-Umm</em></strong> 1/52, Ahmad 4/32-33, ‘Abdurrazzaq no. 79, Abu ‘Ubaid dalam <strong><em> Ath-Thahur</em></strong> no. 284, Ath-Thayalisy no. 171, Al-Bukhary  dalam <strong><em> Al-Adab Al-Mufrad</em></strong> no. 166, Abu Daud no.  141, Tirmidzy no. 788, Ibnu Majah no. 407, An-Nasa`i 1/66,79, Ibnul  Mundzir dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> 1/406-407, Ibnu  Khuzaimah no. 150 168, Ibnu Hibban no. 1053, 1087, Al-Hakim 1/247-248  dan 4/123, Al-Baihaqy 1/50, 51, 76 dan 7/303, Ath-Thabarany 19/no. 281,  dan Ibnu ‘Abdil Barr 18/223. Dishahihkan oleh <em>Syaikhuna</em> Muqbil  dalam <strong><em> Al-Jami’ Ash-Shahih</em></strong> )</p>
<p><strong> Ketiga</strong> , hadits Abu Hurairah dan ‘Abdullah bin ‘Amr  bin ‘Ash riwayat Bukhary-Muslim dan hadits ‘Aisyah riwayat Muslim,  bahwa Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> bersabda,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Celakalah tumit-tumit dari api neraka.” </em></p>
<p>Sebab <em>wurud</em> (pengucapan) hadits adalah karena sebagian dari  para shahabat yang berwudhu dan hanya mengusap di atas kakinya, maka  Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> menegur mereka dengan hadits di atas.</p>
<p><strong> Keempat</strong> , hadits ‘Utsman bin ‘Affan, Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَطَهَّرُ فَيُتِمُّ  الطُّهُوْرَ الَّذِيْ كَتَبَ اللهُ عَلَيْهِ فَيُصَلِّيْ هَذِهِ  الصَّلَوَاتَ الْخَمْسَ إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَاتٍ لِمَا بَيْنَهُمَا </span></strong></span></p>
<p><em> “Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhu  yang Allah tetapkan atasnya kemudian dia mengerjakan shalat lima waktu,  kecuali ia menjadi kaffarah (penggugur dosa) di antara kelimanya.”</em> (diriwayatkan oleh Muslim)</p>
<p><strong> Kelima</strong> , hadits ‘Utsman bin ‘Affan riwayat Muslim,  Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> menyatakan,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ  الْوُضُوْءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ فَصَلاَّهَا  مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ  لَهُ ذَُنُوْبَهُ </span></strong></span></p>
<p><em> “Barangsiapa yang berwudhu untuk shalat, lalu ia menyempurnakan  wudhunya kemudian melangkah untuk mengerjakan shalat wajib sehingga ia  shalat wajib bersama orang-orang atau bersama jamaah atau di mesjid,  maka Allah mengampuni untuk dosa-dosanya.” </em></p>
<p><strong> </strong><strong>Mencuci Anggota Wudhu Lebih Dari Tiga Kali </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> , dalam mencuci anggota wudhu, mencontohkan beberapa <em>kaifiyah</em>.</p>
<p>Kadang beliau mencuci anggota wudhunya <strong>tiga-tiga kali</strong>,<strong></strong>sebagaimana  yang diterangkan dalam hadits yang sangat banyak, seperti hadits  ‘Utsman bin ‘Affan riwayat Bukhary-Muslim dan hadits ‘Abdullah bin Zaid  riwayat Bukhary-Muslim.</p>
<p>Kadang pula beliau mencuci anggota wudhunya <strong>dua-dua kali</strong>,<strong></strong>sebagaimana  dalam hadits ‘Abdullah bin Zaid riwayat Bukhary,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya Nabi shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa  alihi wa sallam berwudhu 2 kali 2 kali.” </em></p>
<p>Kadang beliau juga mencuci anggota wudhunya <strong>satu-satu kali</strong>,<strong></strong>dan  ini merupakan batasan wajibnya. Hal ini diterangkan oleh Ibnu ‘Abbas  dalam riwayat Bukhary,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً مَرَّةً </span></strong></span></p>
<p><em> “Nabi shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam  berwudhu satu kali satu kali.” </em></p>
<p>Selain itu, kadang beliau berselang-seling dalam mencucinya dengan  cara mencuci sebagiannya tiga kali, sebagian lain dua dan satu kali,  sebagaimana praktik wudhu Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> yang diperagakan oleh ‘Abdullah bin  Zaid,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">فَأَكْفَأَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا  ثَلاَثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهُمَا فَمَضْمَضَ  وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثًا ثُمَّ  أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهُمَا فَغَسَلَ وَجَهَهُ ثَلاَثُا ثُمَّ  أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهُمَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى  الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهُمَا  فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ثُمَّ غَسَلَ  رَجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ. </span></strong></span></p>
<p><em> “Maka beliau menuangkan air di atas telapak tangannya kemudian  mencucinya tiga kali kemudian beliau memasukkan tangannya (ke dalam  bejana) lalu mengeluarkannya kemudian beliau berkumur-kumur dan  menghirup air dari satu telapak tangan, beliau lakukan itu tiga kali.  Kemudian beliau memasukkan tangannya lalu mengeluarkannya kemudian  mencuci wajahnya tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya lalu  mengeluarkan kemudian mencuci kedua tangannya sampai ke siku dua kali  dua kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya lalu mengeluarkannya  kemudian mengusap kepalanya; menggerakkan kedua tangannya ke belakang  dan mengedepankannya. Kemudian beliau mencuci kedua kakinya sampai ke  mata kaki.” </em> (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim, dan lafazh ini  milik Muslim)</p>
<p>Ini tuntunan Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi  wa alihi wa sallam</em> dalam mencuci anggota wudhunya, tidak dinukil  beliau mencuci anggota wudhunya lebih dari tiga kali, bahkan yang ada  adalah larangan melebihi tiga kali sebagaimana yang diterangkan dalam  hadits dari jalan ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ عَنِ  الْوُضُوْءِ فَأَرَاهُ ثَلاَثًا ثَلاَثُا فَقَالَ : هَذَا الْوُضُوْءُ  فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ </span></strong></span></p>
<p><em> “Datang seorang A’raby kepada Rasulullah shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam bertanya kepadanya tentang wudhu. Maka beliau  memperlihatkan wudhu tiga-tiga kali lalu beliau berkata, ‘Inilah wudhu,  siapa yang menambah di atas ini maka ia telah berbuat jelek, melampaui  batas dan berbuat zhalim.’.”</em> (Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 135,  Ibnu Majah no. 422, An-Nasa`i no. 140, Ahmad 2/180, Ibnul Jarud dalam <strong><em> Al-Muntaqa</em></strong> no. 75, Ibnu Khuzaimah no. 174, Ath-Thahawy  dalam <strong><em> Syarh Musykil Al-Âtsar</em></strong><strong></strong> 1/36 , Ibnul Mundzir dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> 1/361  no. 329, dan Al-Baihaqy 1/79 dengan sanad yang <strong>hasan</strong>)</p>
<p>Para ulama menyebutkan bahwa dikatakan ia berbuat jelek karena  meninggalkan yang lebih utama dan dikatakan melampaui batas karena  melampaui batasan sunnahnya dan dikatakan berbuat zhalim karena  menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.</p>
<p>Tapi, perlu diingat, bahwa larangan mencuci anggota wudhu lebih dari  tiga kali ini berlaku kalau anggota wudhunya dengan tiga kali telah  terbasuh sempurna dengan air, adapun seperti orang yang berada di terik  matahari atau semisalnya kemudian tatkala dia membasuh anggota wudhunya  tiga kali dan ternyata setelah itu masih ada bagian yang belum tersentuh  oleh air maka di sini ia boleh menambah dan membasuh bagian yang belum  tersentuh air tersebut berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan di  atas tentang kewajiban menyempurnakan wudhu.</p>
<p>Selain itu, para ulama berbeda pendapat tentang larangan melebihkan  cucian dari tiga kali, apakah larangan itu bersifat makruh atau haram.</p>
<p>Imam Syafi’i dan mayoritas ulama syafi’iyah menganggap hal tersebut  makruh <em>karahah tanzih </em>‘makruh yang tidak sampai haram’.</p>
<p>Ibnul Mubarak berkata, “Saya tidak menjamin seseorang yang melebihkan  wudhunya lebih dari tiga kali bahwa ia tidak berdosa.”</p>
<p>Berkata Ahmad dan Ishaq, “Tidak ada yang menambah lebih dari tiga  kali kecuali orang yang tertimpa musibah/malapetaka.”</p>
<p>Imam Al-Bukhary berkata, “Dan Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> menerangkan bahwa kewajiban wudhu adalah  satu-satu kali dan beliau juga berwudhu dua-dua kali dan tiga-tiga kali  dan beliau tidak menambah di atas tiga kali, dan para ulama menganggap  makruh berlebihan di dalamnya dan melewati perbuatan Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> .”</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Itu juga adalah bid’ah dan  kesesatan menurut kesepakatan kaum muslimin. Bukanlah sunnah dan bukan  ketaatan dan <em>qurbah</em> ‘pendekatan diri’ dan siapa yang  mengerjakannya di atas dasar itu sebagai ibadah dan ketaatan maka  hendaknya dilarang dari hal tersebut. Kalau tidak mau, maka diberi <em>ta’zir</em> ‘hukuman pelajaran’ untuknya karena itu.”</p>
<p>Baca <strong><em> Al-Mughny</em></strong> 1/193-194, <strong><em> Shahih Al-Bukhary</em></strong><strong></strong> bersama<strong></strong><strong><em> Fathul Bary</em></strong> 1/232-234, <strong><em> Al-Majmu’</em></strong> 1/466-468, <strong><em> Al-Fatawa</em></strong> 21/168, <strong><em> Nailul Authar</em></strong> 1/218, dan lain-lain.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Mengusap Kepala  Tiga Kali</span></strong><strong></strong></p>
<p>Mengusap kepala tiga kali juga termasuk kesalahan-kesalahan dalam  wudhu karena hal tersebut tidak dibangun di atas landasan yang kuat.</p>
<p>Untuk mengetahui tidak kuatnya landasan pendapat ini simak uraian  pendapat para ulama dalam masalah ini.</p>
<p><strong> Pendapat pertama</strong> , disunnahkan mengusap kepala tiga  kali. Ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan pengikutnya, pendapat Imam  Ahmad dalam satu riwayat, dan Daud Azh-Zhahiry. Dalilnya sebagai  berikut:</p>
<ol>
<li> Hadits-hadits yang disebutkan di atas bahwa Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> berwudhu tiga kali-tiga kali.  Masuk di dalamnya tiga kali-tiga kali.</li>
<li> Mereka juga berdalilkan dengan hadits ‘Utsman bin ‘Affan dalam  sebagian riwayat dengan lafazh,</li>
</ol>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">وَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا </span></strong></span></p>
<p><em> “Dan beliau mengusap kepalanya tiga kali.”</em></p>
<p><strong> Pendapat kedua</strong> , tidak disyariatkan mengusap kepala  kecuali satu kali. Ini merupakan pendapat jumhur ulama seperti Abu  Hanifah, Malik, Ahmad yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Salim bin  ‘Abdillah, An-Nakha’iy, Mujahid, Thalhah bin Musharrif dan Al-Hakam bin  ‘Utaibah.</p>
<p>Dalil akan kuatnya pendapat ini sangat banyak, di antaranya:</p>
<ul>
<li> Hadits ‘Abdullah bin Zaid riwayat Bukhary-Muslim,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ  وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Kemudian beliau mengusap kepalanya mengedepankan dan  mengebelakangkannya satu kali.”</em></p>
<ul>
<li> Hadits ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ketika  beliau mencontohkan wudhu Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> ,</li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً </span></strong></span></p>
<p><em> “</em><em> Kemudian beliau mengusap kepalanya satu kali</em><em> .”</em></p>
<p>Riwayat Abu Daud no. 111, Tirmidzy no. 48, An-Nasa`i no. 92, Ahmad  1/154, Al-Baihaqy 1/68, Al-Maqdasy no. 642, dan lain-lain. Dishahihkan  oleh <em>Syaikhuna</em> Muqbil dalam <strong><em> Al-Jami’ Ash-Shahih</em></strong> .</p>
<ul>
<li> Hadits-hadits yang sangat banyak yang menjelaskan sifat wudhu  Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> , yang hadits-hadits tersebut menyebutkan seluruh anggota  wudhu dicuci tiga kali kecuali kepala tidak disebutkan berapa kali  diusap. Ini menunjukkan bahwa jumlah usapan kepala tidaklah sama dengan  anggota yang lainnya.</li>
</ul>
<p>Adapun dalil-dalil pendapat pertama di jawab sebagai berikut,</p>
<ol>
<li> Konteks hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> mencuci anggota wudhunya tiga  kali-tiga kali adalah riwayat yang global/mutlak dan riwayat global ini  telah diterangkan secara rinci dalam hadits-hadits yang telah  disebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa  alihi wa sallam</em> mengusap kepala satu kali.</li>
<li> Seluruh hadits-hadits yang menerangkan bahwa Nabi <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> mengusap kepala lebih dari  satu kali adalah hadits-hadits yang lemah.</li>
</ol>
<p>Berikut penjelasan hadits-hadits lemah (yang dimaksud pada poin di  atas) tersebut.</p>
<p><strong>Hadits Pertama </strong></p>
<p>Hadits Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">وَمَسَحَ رَأْسَهُ مَرَّتَيْنِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Dan beliau mengusap kepalanya dua kali.” </em></p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam <strong><em> Al-Mushannaf</em></strong> no. 11, Abu Daud no. 126, At-Tirmidzy no. 33,  Ibnu Majah no. 438, Ahmad 6/359, Ath-Thabarany 24/no. 675, 681, 686,  687 dan dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> no. 939, dan  Al-Baihaqy 1/64. Semuanya dari jalan ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil  dan dia ini adalah rawi yang diperselisihkan oleh para ulama apakah bisa  diterima haditsnya atau tidak. Dan saya lebih condong ke pendapat  syeikh Muqbil <em>rahimahullah</em> yang menguatkan akan lemahnya  riwayatnya, apalagi dalam hadits ini dia telah goncang dalam  meriwayatkannya. Kegoncangan tersebut karena di dalam riwayat lain, yang  dikeluarkan oleh Abu Daud no. 129, At-Tirmidzy no. 34, Ibnu Abi Syaibah  no. 59, Al-Baihaqy 1/58-60, Ath-Thabarany 24/no. 689 dan dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> no. 2388, 6100 dan dalam <strong><em> Ash-Shaghir</em></strong> no. 1167, dan Ibnul Jauzy dalam <strong><em> At-Tahqiq</em></strong> no. 144, ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil  menyebutkan mengusap kepala satu kali bukan dua kali. Maka ini  memperkuat akan lemahnya hadits ini, <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p><strong>Hadits Kedua </strong></p>
<p>Hadits ‘Utsman bin ‘Affan.</p>
<p>Berkata Imam Al-Baihaqy dalam <strong><em> As-Sunan Al-Kubra</em></strong> 1/62, “Telah diriwayatkan dari riwayat-riwayat yang aneh dari ‘Utsman <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> pengulangan dalam mengusap kepala, akan tetapi  riwayat-riwayat tersebut -bersamaan dengan menyelisihi riwayat para <em>huffazh</em> ‘ahli hafalan’ yang <em>tsiqah</em>- bukanlah hujjah di kalangan <em>Ahli  Ma’rifat</em> ‘para ulama’ walaupun sebagian <em>Ashhab</em> ‘orang-orang Syafi’iyah’ berhujjah dengannya.”</p>
<p>Berkata Abu Daud dalam <strong><em> As-Sunan</em></strong> 1/64 (cet.  Dar Ibnu Hazm), “Hadits-hadits ‘Utsman yang shahih semuanya menunjukkan  bahwa mengusap kepala itu hanya sekali saja.”</p>
<p>Ini kesimpulan secara global tentang kelemahan riwayat mengusap  kepala tiga kali dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan.</p>
<p>Adapun penjelasan lemahnya secara rinci adalah sebagai berikut.</p>
<p>Penyebutan kepala diusap tiga kali dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan  datang dalam lima jalan:</p>
<p><strong> Pertama</strong> , dari jalan ‘Abdurrahman bin Wardan, dari  Abu Salamah, dari Humran, dari ‘Utsman bin ‘Affan.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 107, Al-Bazzar no. 418, Ad-Daraquthny  1/91, Al-Maqdasy dalam <strong><em> Al-Mukhtarah</em></strong> no. 328,  dan Al-Baihaqy 1/62.</p>
<p>‘Abdurrahman bin Wardan ini rawi yang lemah di tingkatan <em>syawahid</em> ‘pendukung’.</p>
<p><strong> Kedua</strong> , dari jalan ‘Âmir bin Syaqiq bin Jamrah,  dari Syaqiq bin Salamah, dari ‘Utsman.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 110, Ad-Daraquthny 1/91 dan Al-Baihaqy  1/63. Di dalam sanad hadits ini ada dua cacat:</p>
<ol>
<li> ‘Âmir bin Syaqiq adalah <em>layyinul hadits</em> ‘lembek haditsnya’  sebagaimana yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam <strong><em> At-Taqrib</em></strong> .</li>
<li> ‘Amir bin Syaqiq telah goncang dalam meriwayatkan hadits ini  karena, dalam <strong><em> Sunan Abu Daud</em></strong> , <strong><em> Musnad Al-Bazzar</em></strong> no. 393, dan <strong><em> Shahih Ibnu  Khuzaimah</em></strong> , dia meriwayatkan hadits yang sama dan tidak  menyebutkan bahwa kepala diusap tiga kali.</li>
</ol>
<p><strong> Ketiga</strong> , dari jalan Muhammad bin ‘Abdillah bin Abi  Maryam, dari Ibnu Darah Maula ‘Utsman, dari ‘Utsman.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Ahmad 1/61, Ad-Daraquthny 1/91-92, Al-Baihaqy 1/62,  Al-Maqdasy no. 364, dan Ibnu Jauzy dalam <strong><em> At-Tahqiq</em></strong> no. 136. Ibnu Darah ini <em>majhulul hal</em> ‘tidak dikenal’  sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam <strong><em> At-Talkhis</em></strong> 1/146 (cet. Mu’assah Qurthubah), dan ada kemungkinan dia goncang dalam  meriwayatkan hadits ini, sebab dalam riwayat Al-Bazzar no. 409 tidak  disebutkan mengusap kepala tiga kali.</p>
<p><strong> Kempat</strong> , dari jalan Ishaq bin Yahya, dari Mu’awiyah  bin ‘Abdillah bin Ja’far bin Abi Thalib, dari ayahnya, dari ‘Utsman.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Imam Ad-Daraquthny dan Al-Baihaqy 1/63. Ishaq bin  Yahya ini <em>matrukul hadits</em> ‘ditinggalkan haditsnya’.</p>
<p><strong> Kelima</strong> , dari jalan Shalih bin Abdul Jabbar, dari  Ibnu Bailamany, dari ayahnya, dari ‘Utsman bin ‘Affan.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ad-Daraquthny 1/92 dan di dalam sanadnya ada  tiga kelemahan:</p>
<ol>
<li> Shalih bin ‘Abdul Jabbar meriwayatkan hadits-hadits yang mungkar  dari Ibnul Bailamany. Demikian komentar Al-‘Uqaily.</li>
<li> Ibnul Bailamany, namanya adalah Muhammad bin Abdurrahman. Ia ini  rawi yang <em>mungkarul hadits</em>, bahwa dianggap <em>Muttaham</em> ‘dicurigai berdusta’, oleh Ibnu ‘Ady dan Ibnu Hibban.</li>
<li> Ayah Ibnul Bailamany, yaitu ‘Abdurrahman, dha’if sebagaimana yang  dikatakan oleh <em>Al-Hafidz</em> Ibnu Hajar.</li>
</ol>
<p>Lihat <strong><em> Mizanul I’tidal</em></strong><strong><em> , </em></strong><strong><em> Lisanul Mizan</em></strong><strong><em> , </em></strong><strong><em> Taqribut Tahdzib</em></strong><strong></strong> dan lain-lain.</p>
<p><strong> Catatan</strong></p>
<p>ada beberapa jalan lain yang disebutkan oleh Ibnul Mulaqqin dalam <em>Al-Badru  Al-Munir</em>, tapi setelah saya merujuk keasalnya, ternyata tidak ada  lafazh mengusap kepala tiga kali. Karena itu, kami tidak menyebutkannya.</p>
<p><strong>Hadits Ketiga</strong></p>
<p>Hadits ‘Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Iman Az-Zaila’iy dalam kitabnya, <strong><em> Nashbur Rayah</em></strong> 1/32-33, menyebutkan bahwa ada tiga jalan dalam hadits ‘Ali bin Abi  Thalib yang menyebutkan bahwa kepala diusap tiga kali. Berikut ini  uraian jalan-jalan tersebut.</p>
<p><strong> Pertama</strong> , dari jalan Abu Hanifah meriwayatkan dari  Khalid bin ‘Alqamah, dari ‘Abdul Khair, dari Aly.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Hanifah sebagaimana dalam <strong><em> Musnad</em></strong> -nya, Abu Yusuf dalam <strong><em> Kitabul Âtsar</em></strong> no. 4,<strong></strong>dan  Al-Baihaqy 1/63<strong><em>.</em></strong></p>
<p>Di dalamnya ada dua kelemahan:</p>
<ol>
<li> Abu Hanifah dha’if menurut jumhur ulama <em>Al-Jarh Wat-Ta’dil</em>.  Baca <strong><em> Nasyru Ash-Shahifah</em></strong> karya <em>Syaikhuna</em> Muqbil <em>rahimahullah.</em></li>
<li> Imam Ad-Daraquthny menyebutkan bahwa Abu Hanifah telah menyelisihi  sekelompok ulama <em>Al-Huffadz</em> ‘ahli hafalan’ seperti Zaidah bin  Qudamah, Sufyan Ats-Tsaury, Syu’bah, Abu ‘Awanah, Syarik, Ja’far bin  Harits, Harun bin Sa’d, Ja’far bin Muhammad, Hajjaj bin Artha`ah, Aban  bin Taghlib, Aly bin Shalih, Hazim bin Ibrahim, Hasan bin Shalih dan  Ja’far Al-Ahmar. Semua menyebutkan bahwa kepala hanya diusap satu kali,  bukan tiga kali. Demikian dinukil Az-Zaila’iy dalam <strong><em> Nashbur  Rayah</em></strong> dan lihat juga <strong><em>‘</em></strong><strong><em> Ilal Ad-Daraquthny</em></strong> 4\48-31.</li>
</ol>
<p><strong>Kedua</strong> , diriwayatkan oleh Imam Al-Bazzar dalam <strong><em> Musnad</em></strong> -nya no. 736 dari jalan Abu Daud Ath-Thayalisi,  dari Sallam bin Sulaim Abul Ahwash, dari Abu Ishaq, dari Abu Hayyah bin  Qais, dari ‘Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dan disebutkan bahwa beliau  mengusap kepalanya tiga kali.</p>
<p>Demikian riwayat Al-Bazzar. Tetapi riwayatnya ini diselisihi oleh  para imam lainnya seperti Abu Daud dalam <strong><em> Sunan</em></strong> -nya, At-Tirmidzy, An-Nasa`i , Ibnu Majah no. 436, 456, Al-Bukhary  dalam <strong><em> Al-Kuna</em></strong> hal. 24, Abdullah bin Ahmad  dalam <strong><em> Zawa’id Al-Musnad</em></strong> 1/127,157, Abu Ya’la,  Al-Maqdasy dalam <strong><em> Al-Mukhtarah</em></strong> no. 795-798,  dan Al-Baihaqy 1/75.</p>
<p>Maka jelaslah dari sini ada kesalahan dalam riwayat Al-Bazzar.  Tetapi, dari mana asal kesalahan ini, sedangkan seluruh rawi Al-Bazzar <em>Muhtajun  Bihim</em> ‘dipakai berhujjah’?</p>
<p>Penulis lebih condong menitikberatkan kesalahan pada Al-Bazzar karena  beliau memiliki kelemahan dari sisi hafalannya. <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p><strong> Ketiga</strong> , diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarany dalam  <strong><em> Musnad Asy-Syamiyyin</em></strong><strong></strong> no.  1336. Di dalam sanadnya terdapat rawi-rawi yang saya tidak temukan  biografinya, dan ada rawi yang bernama Sulaiman bin Abdurrahman dha’if  dan rawi lain bernama ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Ubaidillah Al-Himsyi dha’if  kadang-kadang meriwayatkan hadits mungkar.</p>
<p><strong>Hadits Keempat </strong></p>
<p>Hadits Abu Hurairah.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarany dalam <strong><em> Al-Ausath</em></strong> no. 5912 dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> beliau berkata,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَمَضْمَضْ ثَلاَثًا وَاسْتَنْشَقَ  ثَلاَثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلاَثُا وَمَسَحَ  بِرَأْسِهِ ثَلاَثًا وَغَسَلَ قَدَمَيْهِ ثَلاَثًا </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya Rasulullah berwudhu maka beliau berkumur-kumur  tiga kali dan menghirup air tiga kali dan mencuci wajahnya tiga kali dan  mencuci kedua tangannya tiga kali mengusap kepalanya tiga kali dan  mencuci kedua kakinya tiga kali.” </em></p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat dua cacat:</p>
<ol>
<li> Guru Imam Ath-Thabarany, Muhammad bin Yahya bin Al-Mundzir  Al-Qazzaz Al-Bashry, tidak disebutkan padanya <em>jarh</em> dan <em>ta’dil</em>.</li>
<li> ‘Amir bin ‘Abdul Wahid Al-Ahwal disimpulkan oleh Al-Hafizh Ibnu  Hajar dalam <strong><em> Taqribut Tahdzib</em></strong> bahwa beliau  adalah <em>shaduqun yukhti`u</em>, berarti ia menurut penilaian  Al-Hafizh hanyalah dipakai sebagai pendukung. Kemudian tidak pantas ia  bersendirian dari ‘Atha` bin Abi Rabah dalam meriwayatkan hadits yang  seperti ini karena ‘Atha` adalah seorang rawi yang terkenal mempunyai  banyak murid lalu dimana murid-muridnya yang lain yang lebih senior?  Kenapa mereka tidak meriwayatkan hadits ini? <em>Wallahu A’lam</em>.</li>
</ol>
<p>Dari uraian di atas jelaslah lemah pendapat bahwa kepala boleh diusap  lebih dari satu kali. Berarti dengan hal ini nampak kuat pendapat bahwa  kepala hanya diusap satu kali.</p>
<p>Pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, Syaikh  Muqbil, dan lain-lain. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Baca <strong><em> Al-Mughny</em></strong><strong></strong> 1/178-180,  <strong><em> Al-Majmu’</em></strong><strong></strong> 1/460-465, <strong><em> Al-Fatawa</em></strong><strong></strong> 21/125-127.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Mengusap Telinga  Dengan Air Tersendiri </span></strong></p>
<p>Dalam praktik wudhu di tengah masyarakat, kebanyakan dari mereka  ketika mengusap kepala mengambil air kemudian setelah itu mengambil air  lagi untuk mengusap telinga. Ini juga merupakan kesalahan dalam wudhu.</p>
<p>Kami tegaskan demikian karena dua alasan:</p>
<p><strong> Alasan pertama</strong> , dalil-dalil yang dipakai tentang  disyariatkannya mengambil air baru untuk telinga bersumber dari hadits  yang lemah, yakni hadits ‘Abdullah bin Zaid,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّهُ رَأَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ فَأَخَذَ لِأُذُنَيْهِ مَاءً  خِلاَفَ الَّذِيْ أَخَذَ لِرَأْسِهِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya ia melihat Rasulullah shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam berwudhu lalu beliau mengambil untuk kedua  telinganya air selain dari air yang dia ambil untuk kepalanya.” </em></p>
<p>Hadits dengan lafazh ini diiriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy dari  jalan Al-Haitsam bin Kharijah dari Ibnu Wahb dari ‘Âmir bin Harits dari  ‘Itban bin Waqi’ Al-Anshary dari ayahnya dari ‘Abdullah bin Zaid. Imam  Al-Baihaqy juga menyebutkan bahwa ada rawi lain juga meriwayatkan hal  yang sama dari Ibnu Wahb yaitu ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Imran bin Miqlash dan  Harmalah bin Yahya.</p>
<p>Hadits ini <em>syadz</em> ‘lemah’ sebagaimana yang diisyaratkan oleh  Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <strong><em> Bulughul Maram</em></strong> .  Kami menetapkan <em>syadz</em>-nya hadits ini karena tiga sebab:</p>
<ol>
<li> Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dari jalan Ibnu Wahb tetapi  dengan lafazh,</li>
</ol>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ  يَدِهِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Dan beliau mengusap kepalanya dengan air bukan sisa (air untuk  mencuci) tangannya.” </em></p>
<ol>
<li> Imam Ibnu Turkumany, dalam <strong><em> Al-Jauhar An-Naqy</em></strong> , menyebutkan bahwa Ibnu Daqiq Al-Ied melihat dalam riwayat Ibnul  Muqri’ dari Harmalah dari Ibnu Wahb bukan seperti lafazh Al-Baihaqy  tetapi seperti lafazh Muslim.</li>
<li> Enam orang rawi semua meriwayatkan dari Ibnu Wahb dan mereka  menyebutkan hadits dengan lafazh riwayat Muslim. Enam rawi itu adalah:  Harun bin Ma’ruf, Harun bin Sa’id, Abu Ath-Thahir, Hajjaj bin Ibrahim  Al-Azraq, Ahmad bin ‘Abdirrahman bin Wahb, dan Syuraij bin Nu’man. Lihat  riwayat mereka dalam <strong><em> Shahih Muslim</em></strong><strong></strong> no. 236, <strong><em> Musnad Abu ‘Awanah</em></strong> , dan <strong><em> Musnad Ahmad</em></strong> 4/41.</li>
</ol>
<p>Nampaklah dari sini kesalahan riwayat Al-Baihaqy yang menetapkan  bahwa telinga diusap dengan air tersendiri, sehingga riwayat ini tidak  bisa dipakai berhujjah.</p>
<p><strong> Alasan kedua</strong> , mengambil air tersendiri untuk kedua  telinga adalah menyelisihi sunnah Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> , sebab dalam satu hadits yang shahih,  Rasulullah <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> menyatakan,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">الْأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Kedua telinga itu bagian dari kepala.” </em> (Dishahihkan oleh  Syaikh Al-Albany dalam <strong><em> Ash-Shahihah</em></strong><strong></strong> no. 36)</p>
<p>Maksud hadits ini bahwa telinga itu bagian dari kepala dan hukumnya  sama dengan kepala. Karena bagian dari kepala, maka kedua telinga diusap  dengan air yang diambil untuk kepala.</p>
<p>Sebagai kesimpulan bahwa kedua telinga diusap dengan air lebih dari  kepala setelah mengusap kepala dan tidak disyaratkan mengambil air  tersendiri untuk telinga. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Dan cara wudhu yang pasti dari  beliau <em>shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> , dalam riwayat <em>Ash-Shahihain</em> (Bukhary-Muslim) dan  lain-lainnya dari beberapa jalan, tidak ada padanya (keterangan)  mengambil air baru bagi telinga.” Lihat <strong><em> Al-Fatawa</em></strong> 11/279.</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim, “Dan tidak <em>tsabit</em> ‘tetap/shahih’ dari  beliau bahwa beliau mengambil untuk kedua (telinga)nya air baru.” Lihat <strong><em> Zadul Ma’ad</em></strong> 1/195.</p>
<p>Pendapat yang kami kuatkan ini adalah pendapat Jumhur ulama.</p>
<p>Baca <strong><em> Al-Mughny</em></strong> 1/183-184, <strong><em> Al-Majmu’</em></strong> 1/424-426, <strong><em> Nailul Authar</em></strong><strong></strong> 1/204 dan lain-lainnya.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Mengusap Leher dan  Tengkuk </span></strong></p>
<p>Ternasuk kesalahan dalam berwudhu adalah mengusap leher atau sebagian  darinya seperti tengkuk. Kesalahan perkara tersebut adalah jelas karena  tidak ada hadits yang shahih yang menunjukkan hal tersebut. Yang ada  hanyalah hadits-hadits yang lemah ataupun palsu, di antaranya:</p>
<p>Hadits Laits bin Abi Sulaim dari Thalhah bin Musharrif, dari ayahnya,  dari kakeknya,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">إِنَّهُ رَأَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ رَأْسَهُ حَتَّى بَلَغَ  القَذَالَ وَمَا يَلِيْهِ مِنْ مُقَدَّمِ الْعُنُقِ</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “</em><em> Sesungguhnya beliau melihat Rasulullah </em><em> shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em><em> mengusap kepalanya hingga ke belakang kepala (tengkuk) dan yang  setelahnya dari permulaan batang leher</em><em> .”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad 3/481, Abu Daud no. 132,  Al-Baihaqy 1/60, Ath-Thahawy dalam <strong><em> Syarh Ma’an y Al-Âtsar</em></strong> 1/30, Ath-Thabarany 19/180/407, dan Al-Khatib dalam <strong><em> Tarikh  Baghdad</em></strong> 6/169. Di dalam sanadnya ada rawi yang bernama  Laits bin Abi Sulaim dan ia adalah seorang rawi yang lemah. Juga riwayat  Thalhah bin Musharrif dari ayahnya dari kakeknya ada kelemahan  sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan memisah antara  kumur-kumur dan menghirup air.</p>
<p>Mungkin karena itulah Imam An-Nawawy, dalam <strong><em> Al-Majmu’</em></strong> 1/488, berkata , “ Ia adalah hadits yang lemah menurut kesepakatan  (para ulama-pent.) .”</p>
<p>Demikian pula hadits yang berbunyi,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَسَحُ الرَّقَبَةِ أَمَانٌ مِنَ الْغُلِّ </span></strong></span></p>
<p><em> “</em><em> Mengusap leher adalah pengaman dari </em> Al-Ghill <em> ‘</em><em> dengki, iri hati, benci</em><em> ’ .”</em></p>
<p>Juga hadits yang berbunyi,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">مَنْ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عُنُقَهُ لَمْ  يُغَلَّ بِالْأَغْلاَلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ </span></strong></span></p>
<p><em> “</em><em> Siapa yang berwudhu dan mengusap lehernya, ia tidak  akan dibelenggu dengan (rantai) belengguan hari kiamat</em><em> .”</em></p>
<p>Kedua hadits ini adalah hadits palsu sebagaimana yang diterangkan  oleh Imam Al-Albany dalam <strong><em> Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah wal  Maudhu’ah</em></strong> no. 69 dan 744.</p>
<p>Berkata Imam An-Nawawy , “ Tidak ada sama sekali (hadits) yang shahih  dari Nabi <em> shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa  sallam</em> dalamnya (yakni dalam masalah mengusap leher/tengkuk-pent.)  .”</p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam <strong><em> Al-Fatawa</em></strong> 21/127-128, “Tidak benar dari Nabi <em> shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> bahwa beliau mengusap lehernya dalam  wudhu, bahkan tidak diriwayatkan hal tersebut dari beliau dalam hadits  yang shahih. Bahkan hadits-hadits shahih, yang di dalamnya ada  (penjelasan) sifat wudhu Nabi <em> shallallahu </em><em> ‘</em><em> alaihi wa alihi wa sallam</em> , (menerangkan bahwa) beliau tidak  mengusap lehernya. Karena itulah, hal tersebut tidak dianggap sunnah  oleh Jumhur Ulama seperti Malik, Ahmad dan Syafi ’ iy dalam zhahir  madzhab mereka …, dan siapa yang meninggalkan mengusap leher, maka  wudhunya adalah benar menurut kesepakatan para ulama .”</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim, “Tidak ada satu hadits pun yang shahih dari  beliau tentang mengusap leher .” Lihat <strong><em> Zadul Ma’ad</em></strong> 1/195.</p>
<p>Baca <strong><em>Al-Majmu’</em></strong> 1/488 dan <strong><em> Nailul Authar</em></strong> 1/206-207.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Berdoa Setiap Kali  Mencuci Anggota Wudhu </span></strong></p>
<p>Tidak jarang kita melihat ada orang yang berwudhu, ketika  berkumur-kumur, membaca,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيَّكَ  كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدُا</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang  saya tidak akan haus selama-lamanya.” </em></p>
<p>Lalu ketika mencuci wajah, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ  تَسْوَدُّ الْوُجُوْهُ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi  hitam.” </em></p>
<p>Kemudian ketika mencuci tangan, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ  بِيَمِيْنِيْ وَلاَ تُعْطِنِيْ بِشِمَالِيْ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah  engkau berikan di tangan kiriku.” </em></p>
<p>Selanjutnya ketika mengusap kepala, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ  عَلَى النَّارِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, haramkanlah rambut dan kulitku dari api neraka.” </em></p>
<p>Lalu ketika mengusap telinga, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ الَّذِيْنَ  يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, jadikanlah saya dari orang-orang yang mendengarkan  perkataan lalu mengikuti yang terbaiknya.” </em></p>
<p>Terakhir ketika mencuci kaki, dia membaca ,</p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong> <span style="font-family: Times New Roman,Times,serif;">اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ عَلَى  الصِّرَاطِ </span></strong></span></p>
<p><em> “Ya Allah, kokohkanlah kedua kakiku di atas jembatan (hari  kiamat).” </em></p>
<p>Doa ini banyak disebutkan oleh orang-orang belakangan di kalangan  Syafi’iyah, dan ini adalah perkara yang aneh karena tidak ada sama  sekali landasan dalilnya. Bahkan Imam Besar ulama Syafi’iyah, yang  dikenal dengan nama Imam An-Nawawy, menegaskan bahwa doa ini tidak ada  asalnya dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di  kalangan Syafi’iyah.</p>
<p>Maka, dengan ini, tidak diragukan bahwa doa ini termasuk bid’ah sesat  dalam wudhu yang harus ditinggalkan.</p>
<p>Lihat <strong><em> Al-Majmu’</em></strong><strong></strong> 1/487-489.</p>
<p><em> Wallahu Ta’ala A’lam Wa Fauqa Kulli Dzi ‘Ilmin ‘Alim</em> .</p>
<p>Sumber: <a href="http://an-nashihah.com/?p=81" target="_blank">http://an-nashihah.com/?p=81</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/koreksi-kesalahan-seputar-wudhu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
