<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/hadits/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Orang Terbaik Sesudah Nabi</title>
		<link>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 05:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Utsman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2459</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari menuturkan: Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Jami&#8217; bin Abi Rasyid menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Ya&#8217;la menuturkan kepada kami dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: Aku bertanya kepada &#8230; <a href="http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-terbaik-sesudah-nabi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-terbaik-sesudah-nabi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div id="_mcePaste">
<div id="_mcePaste">Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Jami&#8217; bin Abi Rasyid menuturkan kepada kami. Dia berkata:</div>
<div><span id="more-2459"></span></div>
<div>Abu Ya&#8217;la menuturkan kepada kami dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: Aku bertanya kepada bapakku -Ali bin Abi Thalib-, <em>“Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?”</em>. Beliau menjawab,<em> “Abu Bakar.”</em> Lalu aku katakan, <em>“Kemudian siapa?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Kemudian Umar.”</em> Aku khawatir kalau-kalau beliau akan menyebutkan Utsman -setelah itu-, maka aku katakan, <em>“Kemudian anda?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku hanyalah salah seorang lelaki di antara kaum muslimin.” </em>(Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3671] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/37])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Adam bin Abi Iyas menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu&#8217;bah menuturkan kepada kami dari al-A&#8217;masy. Dia berkata: Aku mendengar Dzakwan menuturkan dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri radhiyallahu&#8217;anhu, dia berkata: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tidak akan bisa menandingi infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, tidak pula setengahnya.”</em> Riwayat ini diperkuat oleh riwayat Jarir, Abdullah bin Dawud, dan Muhadhir dari al-A&#8217;masy (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3673] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/38])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Muhammad bin Basyar menuturkan kepadaku. Dia berkata: Yahya menuturkan kepada kami dari Sa&#8217;id dari Qotadah, bahwa Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> pernah menuturkan kepada mereka: Suatu ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman naik di atas gunung Uhud, tiba-tiba gunung itu bergetar (terjadi gempa). Beliau pun bersabda, <em>“Tenanglah wahai Uhud. Sesungguhnya yang di atasmu ini adalah seorang Nabi, seorang yang Shiddiq/jujur, dan dua orang yang akan mati Syahid.”</em> (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3675] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/44])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>al-Humaidi dan Muhammad bin Abdullah menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata: Ibrahim bin Sa&#8217;ad menuturkan kepada kami dari bapaknya, dari Muhammad bin Jubair bin Muth&#8217;im, dari bapaknya, dia berkata: Suatu saat datang seorang perempuan menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka beliau memerintahkannya untuk kembali lagi menemuinya. Perempuan itu berkata, <em>“Bagaimana jika nanti saya datang dan tidak bertemu dengan anda -seolah-olah perempuan itu bermaksud kematiannya-?”</em>. Maka beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila kamu tidak berhasil menemuiku, maka temuilah Abu Bakar.”</em> (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3659] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/22])</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Abu Bakar</title>
		<link>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 22:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2457</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah [Fath al-Bari Juz 7 hal. 15] dengan judul &#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat bab di dalam <em>Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [<em>Fath al-Bari</em> Juz 7 hal. 15] dengan judul <em>&#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” </em>Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturan Imam Bukhari tersebut.</p>
<p><span id="more-2457"></span></p>
<p>Imam Bukhari berkata:</p>
<p><strong>Abdullah bin Muhammad</strong> menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: <strong>Abu &#8216;Amir</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Fulaih</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Salim Abu Nazhar</strong> menuturkan kepadaku dari <strong>Busr bin Sa&#8217;id</strong> dari <strong>Abu Sa&#8217;id al-Khudri</strong> <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkhutbah kepada orang-orang (para sahabat). Beliau mengatakan, <em>“Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”</em></p>
<p>Beliau -Abu Sa&#8217;id- berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Memang, Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.”</em></p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di <em>Kitab</em> <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> (lihat <em>Syarh Nawawi</em> Juz 8 hal. 7-8)</p>
<p>Berikut ini pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas. Kami sarikan dari keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi. Semoga bermanfaat.</p>
<ol>
<li>Hadits      ini mengandung keistimewaan yang sangat jelas pada diri Abu Bakar      ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>yang tidak ditandingi oleh siapapun -di      antara para sahabat-. Hal itu disebabkan beliau berhak mendapat predikat <em>Khalil</em> -kekasih terdekat- bagi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kalaulah      bukan karena faktor penghalang yang disebutkan oleh Nabi di atas (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [7/17 dan 19])</li>
<li>Abu      Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengetahui bahwa seorang hamba yang      diberikan tawaran tersebut adalah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.      Oleh sebab itu beliau pun menangis karena sedih akan berpisah dengannya,      terputusnya wahyu, dan akibat lain yang akan muncul setelahnya (lihat <em>Syarh      Nawawi</em> [8/7])</li>
<li>Hadits      ini menunjukkan bahwa semestinya masjid dijaga agar tidak menjadi seperti      jalan tempat berlalu-lalangnya manusia kecuali dalam kondisi darurat yang      sangat penting (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Para      ulama itu memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat. Setiap orang yang      lebih tinggi pemahamannya maka ia layak untuk disebut sebagai<em> a&#8217;lam</em> (orang yang lebih tahu) (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hadits      ini mengandung motivasi untuk lebih memilih pahala akhirat daripada perkara-perkara      dunia (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hendaknya      seorang berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik      kepadanya dan menyebutkan keutamaannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
</ol>
<p>Saudaraku&#8230; Kita bisa melihat bersama bagaimana zuhudnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap dunia. Kecintaan kepada akhirat dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah jauh lebih beliau utamakan daripada kesenangan dunia.</p>
<p>Kita juga bisa melihat bersama bagaimana kedalaman ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> terhadap hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ilmu itupun terserap dengan cepat ke dalam hatinya dan membuat air matanya meleleh. Beliau sangat menyadari bahwa kehadiran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah para sahabat laksana lentera yang menerangi perjalanan hidup mereka. Nikmat hidayah yang dicurahkan kepada mereka melalui bimbingan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah di atas segala-galanya.</p>
<p>Kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa dakwah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berjalan dengan bantuan dan dukungan para sahabatnya. Beliau -dengan kedudukan beliau yang sangat agung- tidaklah berdakwah sendirian. Terbukti pengakuan beliau terhadap jasa-jasa Abu Bakar yang sangat besar kepadanya. Tentu saja yang beliau maksud bukan semata-mata bantuan Abu Bakar untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi demi kemaslahatan umat yang itu tak lain adalah dalam rangka dakwah dan berjihad di jalan Allah.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan Abu Bakar di mata Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang melebihi sahabat-sahabat yang lain. Sehingga sangat keliru pemahaman sekte Syi&#8217;ah yang menjelek-jelekkan bahkan sampai mengkafirkan beliau.</p>
<p>Hadits ini pun menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap para sahabatnya. Bagaimana beliau dengan tanpa malu-malu mengakui keutamaan Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Padahal, kedudukan Abu Bakar tentu saja berada di bawah kedudukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Meskipun demikian, beliau menyebutkan jasanya dan menyanjungnya di hadapan para sahabat yang lain.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa memuji orang di hadapannya diperbolehkan selama orang tersebut tidak dikhawatirkan <em>ujub</em> karenanya. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar dari sisi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap memujinya di hadapannya dan di hadapan para sahabat yang lain. Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa Abu Bakar bukanlah termasuk kategori orang yang dikhawatirkan merasa ujub setelah mendengar pujian tersebut.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecintaan yang terpendam di dalam hati pasti akan membuahkan pengaruh pada gerak-gerik fisik manusia. Kecintaan yang sangat dalam pada diri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap Abu Bakar pun tampak dari ucapan dan perbuatan beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka konsekuensinya kita pun mencintai orang yang beliau cintai. Dan di antara orang yang beliau cintai, bahkan yang paling beliau cintai adalah Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Kecintaan yang berlandaskan Islam dan persaudaraan seagama. Lantas ajaran apakah yang justru mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, kalau bukan ajaran kesesatan?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Unik Abu Hurairah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 06:41:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2423</guid>
		<description><![CDATA[Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati... *** Imam Muslim rahimahullah menuturkan sebuah kisah menarik di &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-hurairah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-hurairah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati.</em><em>..</em></p>
<p><span id="more-2423"></span></p>
<p>***</p>
<p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> menuturkan sebuah kisah menarik di dalam kitabnya Shahih Muslim. Beliau berkata: Zuhair bin Harb menuturkan kepada saya: [Dia berkata] Umar bin Yunus al-Hanafi menuturkan kepada kami: [Dia berkata] Ikrimah bin &#8216;Ammar menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Hurairah menuturkan kepadaku.</p>
<p>Abu Hurairah berkata:</p>
<p>Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ketika itu ada juga bersama kami Abu Bakar dan Umar dalam sebuah rombongan [para sahabat]. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bangkit meninggalkan rombongan kami. Akhirnya, beliau pun tertinggal di belakang kami. Kami khawatir kalau ada apa-apa yang menimpa beliau sehingga tertinggal dari rombongan. Kami pun merasa khawatir dan berusaha mencari tahu keberadaan beliau. Saat itu, aku adalah orang pertama yang dirundung cemas, jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa beliau.</p>
<p>Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati. Ternyata pintu itu tidak ada. Yang aku temukan hanyalah sebuah sungai kecil yang menuju bagian dalam kebun. Sungai itu bersumber dari sebuah mata air di luar kebun. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala.</p>
<p>Di dalam kebun itu, aku bertemu dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau berkata, <em>“Abu Hurairah?”</em>. Kujawab, <em>“Benar ya Rasulullah”.</em> Beliau mengatakan, <em>“Ada apa denganmu?”</em>. Aku  berkata, <em>“Sebelum ini anda berada di tengah-tengah kami, kemudian anda pergi sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa khawatir ada apa-apa yang terjadi padamu sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa was-was, dan akulah orang pertama yang merasa cemas. Oleh sebab itu aku datangi kebun ini. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala. Sementara para sahabat yang lain tetap berada di belakang.”</em></p>
<p>Beliau pun bersabda -seraya memberikan sepasang sandalnya kepadaku-, <em>“Pergilah dengan membawa kedua sandalku ini. <strong>Siapa saja yang kamu temui di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka berikanlah kabar gembira surga untuknya</strong>.”</em></p>
<p>Setelah keluar, ternyata orang pertama yang aku jumpai adalah Umar. Umar pun bertanya, <em>“Ada apa dengan kedua sandal ini wahai Abu Hurairah?”</em>. Aku berkata, <em>“Ini adalah sandal Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau mengutusku dengannya seraya berpesan: Barangsiapa yang  aku jumpai di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka akan aku berikan kabar gembira surga untuknya.”</em></p>
<p>Umar pun memukul dadaku dengan tangannya. Aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar berkata, <em>“Kembalilah wahai Abu Hurairah.”</em> Aku pun kembali menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seraya menahan tangis aku adukan hal ini kepada beliau. Umar pun ternyata berjalan mengikutiku dari belakang.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepadaku, <em>“Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Hurairah?”</em>. Aku menjawab, “Aku tadi bertemu dengan Umar. Kemudian kukabarkan kepadanya berita yang anda perintahkan. Tiba-tiba Umar mendaratkan sebuah pukulan ke dadaku sehingga aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar justru berkata kepadaku, <em>“Kembalilah.”</em></p>
<p>Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepada Umar, <em>“Wahai Umar. Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?”</em>. Umar menjawab, <em>“Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Benarkah anda telah mengutus Abu Hurairah dengan membawa kedua sandalmu untuk mengatakan kepada orang yang dia temui; barangsiapa yang dia temui sedangkan dia telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya bahwa dia mendapatkan kabar gembira surga?”</em>.</p>
<p>Beliau pun menjawab, <em>“Benar”</em>. Umar pun menimpali, <em>“<strong>Jangan anda lakukan itu. Saya khawatir orang-orang menjadi bersandar kepadanya. Biarkan saja mereka sibuk dengan amalnya</strong>.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ya, biarkan saja mereka.”</em></p>
<p>[Diterjemahkan dari <em>Shahih Muslim</em> bersama Syarah Nawawi, juz 2 hal. 77-82]</p>
<p>Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kisah ini menyimpan segudang pelajaran berharga. Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> telah menyebutkan sebagian pelajaran yang terkandung di dalam hadits ini sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Tatkala memberitakan rombongan para sahabat yang ada saat itu,      Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Ketika itu ada juga      bersama kami Abu Bakar dan Umar&#8230;”</em>. Ini merupakan cara pemberitaan      yang bagus. Yaitu apabila bermaksud menceritakan serombongan orang namun      dirasa terlalu banyak jika harus disebutkan seluruhnya, maka cukuplah      disebutkan tokoh-tokohnya. Adapun yang lain cukup disebutkan secara umum      (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/77])</li>
<li>Di dalam hadits di atas Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebutkan bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang      mengucapkan la ilaha illallah dengan disertai keyakinan hati. Hal ini      menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan kalimat syahadat tanpa disertai      keyakinan terhadap kandungannya tidaklah bermanfaat. Demikian pula, keyakinan      tauhid yang tidak diucapkan juga tidak berguna. Oleh sebab itu keduanya      harus dipadukan; yaitu keyakinan tauhid dan ucapan/syahadat (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/79]). Hal ini tentu saja dengan catatan ucapan dan keyakinan      itu juga diiringi dengan amalan; yaitu seorang beribadah kepada Allah      semata dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana hal itu      telah dipahami&#8230;</li>
<li>Perbuatan Umar ketika memukul Abu Hurairah bukanlah dalam      rangka menjatuhkan atau menyakitinya, akan tetapi demi mencegahnya dari      apa yang hendak dia lakukan dan supaya dia benar-benar menahan diri      darinya. Sebab, menurut pandangan Umar menyembunyikan berita itu untuk      sementara jauh lebih mendatangkan kebaikan daripada menyebarkannya. Karena      dengan menyebarkannya membuat orang hanya bersandar dengan tauhid dan      meninggalkan amalannya. Tatkala pandangan itu disampaikan Umar kepada Nabi      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ternyata beliau pun menyetujui      pendapatnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/80])</li>
<li>Hal ini menunjukkan bahwa apabila seorang pemimpin atau orang      yang lebih senior memilih suatu pendapat kemudian orang-orang yang      mengikutinya memiliki pendapat yang berlainan, semestinya bagi pengikut      untuk menyampaikan pendapat itu kepada pemimpin atau seniornya. Apabila      tampak baginya bahwa yang benar adalah pendapat si pengikut maka      selayaknya pemimpin itu pun rujuk kepadanya. Apabila ternyata sebaliknya      -pendapat mereka yang salah-, hendaknya dia menjawab kerancuan yang mereka      tanyakan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/80])</li>
<li>Seorang yang berilmu hendaknya menyempatkan diri untuk      duduk-duduk bersama murid-murid atau orang-orang yang bertanya kepadanya      dalam rangka menyampaikan ilmu atau faidah serta melayani      pertanyaan-pertanyaan mereka (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Kisah di atas menunjukkan betapa besar penghormatan dan sopan      santun para sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> dalam menunaikan hak-hak      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em> dalam memuliakan beliau      dan menaruh rasa kasih sayang yang sangat besar kepada beliau (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Kisah ini juga memberikan pelajaran hendaknya para murid atau      pengikut memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang yang mereka      ikuti. Hendaknya mereka juga memikirkan tentang kemaslahatan untuknya dan      berusaha menyingkirkan mafsadat yang ditemuinya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Bolehnya memasuki suatu daerah/tempat milik orang lain      -termasuk juga menggunakan barang-barang yang ada di dalamnya- walaupun      tanpa ijin darinya selama dia mengetahui bahwa orang tersebut [pemiliknya]      tidak mempermasalahkan hal itu dikarenakan kedekatan hubungan yang      terjalin di antara mereka berdua. Inilah pendapat yang dianut oleh      mayoritas ulama salaf maupun ulama belakangan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Hendaknya seorang pemimpin mengirimkan suatu tanda yang bisa      dikenali oleh para pengikutnya demi mendatangkan ketenangan di hati mereka      (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81]). Sebagaimana halnya Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> mengutus Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> dengan membawa sandal beliau agar para sahabat merasa yakin tentang      keselamatan beliau dan tidak perlu lagi mencemaskan keadaannya</li>
<li>Bolehnya menahan penyebaran sebagian ilmu yang dirasa kurang      perlu dalam rangka  kemaslahatan      yang lebih besar atau dikhawatirkan timbulnya mafsadat (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/81]). Pelajaran serupa juga bisa kita petik dari hadits      Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> tatkala berboncengan dengan Nabi      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Ketika itu Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah seorang hamba yang bersaksi      bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah      hamba dan utusan-Nya -dengan penuh kejujuran- kecuali pasti Allah haramkan      dia masuk neraka.” </em>Mu&#8217;adz berkata, <em>“Wahai Rasulullah, tidakkah      sebaiknya saya kabarkan hadits ini kepada orang-orang sehinga mereka      merasa senang?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Kalau kamu lakukan hal itu,      niscaya mereka akan bersandar (menyepelekan amal).” M</em>enjelang akhir      hayatnya barulah Mu&#8217;adz bin Jabal menyampaikan hadits ini karena ia      khawatir terjatuh dalam perbuatan dosa -yaitu menyembunyikan ilmu- (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/83])</li>
</ol>
<p>Demikianlah secuplik kisah unik yang dialami oleh sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Mudah-mudahan menjadi bahan pelajaran bagi kita. Dari sini kita juga bisa memetik pelajaran tentang kedalaman ilmu para ulama salaf dan kepahaman mereka tentang kondisi umat manusia.</p>
<p>Para ulama salaf bukanlah kaum tekstualis yang hanya berkutat pada teks dalil tanpa menganalisa hal-hal lain yang terkait dengannya -sebagaimana tuduhan kaum Liberal-, bahkan mereka pun menyelami dampak dan pengaruh dari suatu dalil terhadap pendengarnya. Mereka menggunakan akalnya demi memahami dan menerapkan dalil, bukan untuk menghakimi dan menyelewengkannya.</p>
<p>Wahai kaum muslimin&#8230; Ketahuilah, bahwa kejayaan umat ini hanya akan diraih bersama manhaj salaf. Bukankah Imam Malik <em>rahimahullah</em> telah mengatakan, <em>“Tidak akan memperbaiki kondisi akhir umat ini kecuali sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.” </em>Imam al-Auza&#8217;i <em>rahimahullah</em> juga berpesan, <em>“Hendaklah kamu setia dengan jejak para salaf meskipun orang-orang menolakmu. Dan waspadalah dari pendapat akal manusia, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ungkapan yang indah.” </em>Akankah kita membuang ucapan emas para ulama salaf dan kita telan ucapan kotor kaum sekuler dan pluralis? <em>Kallaa tsumma kallaa</em> -sekali-kali tidak-&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Pemenang Lomba Penulisan Naskah Kultum Ramadhan 1432 H</title>
		<link>http://abumushlih.com/pengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 04:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Naskah]]></category>
		<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2365</guid>
		<description><![CDATA[Kepada: Segenap peserta Lomba Penulisan Naskah Kultum Tingkat Nasional -semoga mendapatkan curahan rahmat-Nya- Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh Bismillah, alhamdulillah&#8230; Atas nikmat dan anugrah dari Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, maka Lomba Penulisan Naskah Kultum Ramadhan 1432 H dapat terlaksana. Kami ucapkan jazakumullahu khairanatas partisipasi para &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<p>Kepada:<br />
Segenap peserta Lomba<br />
Penulisan Naskah Kultum Tingkat Nasional<br />
<em>-semoga mendapatkan curahan rahmat-Nya-</em></p>
<p><span id="more-2365"></span></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Bismillah, alhamdulillah&#8230; Atas nikmat dan anugrah dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, maka Lomba Penulisan Naskah Kultum Ramadhan 1432 H dapat terlaksana. Kami ucapkan <em>jazakumullahu khairan</em>atas partisipasi para kaum muslimin yang telah mengirimkan naskah, dan telah dilakukan penilaian terhadap naskah yang diterima. <strong>Kami mohon ma&#8217;af sebesar-besarnya atas keterlambatan pengumuman ini</strong>.</p>
<p>Dengan ini, kami sampaikan pengumuman untuk hadiah utama dan  hadiah hiburan. Sebagaimana pengumuman yang telah disampaikan pada website muslim.or.id, bahwa ada 5 kategori yang akan didapatkan juara utamanya. Yaitu kategori: aqidah, tafsir, hadits, fiqh, dan akhlaq.</p>
<p><strong>Pemenang Hadiah Utama</strong></p>
<p>Pemenang untuk hadiah utama untuk masing-masing kategori</p>
<p>1. Kategori Aqidah:<br />
Johan Saputra asal Lombok Barat, NTB dengan judul tulisan <strong>Manajemen Pahala di Bulan Ramadhan Yang Mulia</strong>.</p>
<p>2. Kategori Tafsir:<br />
Tomo Abu Yunus asal Sukoharjo, Jawa Tengah dengan judul <strong>Menggapai Surga di Malam Lailatul Qadr</strong>.</p>
<p>3. Kategori Hadits:<br />
Muhammad Cholid Abdurrohman asal Bojong Rawalumbu, Bekasi dengan judul <strong>Ramadhan Kau Mengalihkan Duniaku</strong></p>
<p>4. Kategori Fiqh:<br />
Imroatul Azizah asal Kota Gede, Yogyakarta dengan judul tulisan <strong>Mengingat Kembali Hadits-Hadits Sifat Sahur Nabi Untuk Meraih Surga di Bulan Mulia</strong> .</p>
<p>5. Kategori Akhlaq:<br />
Muhammad Julianto asal Wonogiri dengan judul tulisan <strong>Profil Waladun Sholihun</strong></p>
<p><strong>Pemenang Hadiah Hiburan:</strong></p>
<p>Selain pemenang hadiah utama, juga ada pemenang hadiah hiburan. Pada pengumuman yang sudah disampaikan bahwa ada 5 pemenang hadiah hiburan untuk masing-masing kategori (jadi, total pemenang hadiah hiburan seharusnya <strong>25 orang</strong>). Tapi, dengan pertimbangan dari juri dan penentuan kadar minimal kecukupan, <strong>hanya ada 17 pemenang untuk hadiah hiburan</strong>. Berikut ini nama pemenang dan judul naskahnya.</p>
<p>1. Mustafa Kamal judul naskah <em>Menggapai Surga di Bulan Mulia</em><br />
2. Lina Hidayatun Nisak judul naskah <em>Syukuri Ramadhan dengan Kesederhanaan</em><br />
3. Yhouga Ariesta M dengan judul <em>Tiga Sifat Orang Bertakwa</em><br />
4. Sunardi judul naskah <em>Syariat Puasa</em><br />
5. Muhammad Iqbal judul naskah <em>Empat Kelompok Manusia Penghuni Dunia</em><br />
6. Zaky Karami judul naskah <em>Menggapai Surga dengan Amalan-Amalan Mulia</em><br />
7. Himyar Bahalawan judul naskah <em>Menggapai Surga di Bulan Mulia</em><br />
8. Didin Abidin judul naskah <em>Menggapai Surga di Bulan Mulia</em><br />
9. Hedi Sumantri judul naskah <em>4 Amal Pembuka Pintu Surga</em><br />
10. Frendy Ahmad Afandi judul naskah <em>Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Ibadah</em><br />
11. Harrys Pratama Teguh judul naskah <em>Ramadhan Momentum Tepat untuk Taubat</em><br />
12. Hanifudin judul naskah <em>Bersihkan Ibadah, Murnikan Ibadah, dan Raihlah Berkah</em><br />
13. Minanurrohman judul naskah <em>Kita Belum Bertaqwa Setelah Ramadhan</em><br />
14. Shofa Robbani judul naskah <em>Menggapai Surga Dengan Akhlak Karimah di Bulan Penuh   Berkah</em><br />
15. Irwan Syaputra L judul naskah <em>Ramadhan Momentum Untuk Menempa Akhlak Mulia</em><br />
16. Sukahar Ahmad Syafii judul naskah <em>Ramadhan, Bulan membentuk Akhlak dan Meraih Rahmat</em><br />
17. Abu Ibrahim Haris Hananto judul naskah <em>Puasa Mendidik Hawa Nafsu</em></p>
<p><strong>Pengambilan Hadiah</strong></p>
<p>Pemenang lomba telah kami hubungi langsung melalui ponsel, dan sudah kami beritahu mengenai tata cara pengambilan hadiah.</p>
<p><strong>Permohonan Maaf</strong></p>
<p>Kami juga menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dan kekhilafan yang secara sengaja atau tidak sengaja telah dilakukan oleh panitia/penyelenggara Lomba Penulisan Naskah Kultum Ramadhan 1432 H.</p>
<p>Saran dan kritik dari para pembaca akan kami terima sebagai perbaikan berkelanjutan bagi panitia pada khususnya dan bagi kita semua pada umumnya.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Yogyakarta, 15 Ramadhan 1432 H/15 Agustus 2011</p>
<p><strong>Pantia</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Pendusta</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 02:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[Sum'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2326</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pendusta.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pendusta.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dalam Kitab <em>al-Imarah</em> Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, &#8216;Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.&#8217; Allah berkata, &#8216;<strong>Dusta kamu</strong>. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.&#8217; Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian, ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur&#8217;an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, &#8216;Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?&#8217;. Di menjawab, &#8216;Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur&#8217;an untuk-Mu.&#8217; Allah mengatakan, &#8216;<strong>Dusta kamu</strong>. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur&#8217;an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur&#8217;an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.&#8217; Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya, seorang lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, &#8216;Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.&#8217; Allah berkata, &#8216;<strong>Dusta kamu</strong>. Sebenarnya kamu lakukan itu agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim [1905]</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [6/531-532])</p>
<p><span id="more-2326"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini menerangkan kepada kita nasib malang yang menimpa tiga pendusta. <em>Pertama</em>, orang yang  berjihad akan tetapi tidak ikhlas. <em>Kedua</em>, orang yang bergelut dengan ilmu dan mendakwahkannya akan tetapi tidak ikhlas. <em>Ketiga</em>, orang yang berderma dengan hartanya akan tetapi tidak ikhlas. Mereka bertiga celaka akibat tidak pandai menjaga hatinya dari riya&#8217; dan sum&#8217;ah. Mereka beramal bukan karena Allah, tapi karena manusia, mengharapkan pujian dan sanjungan mereka. Itulah niat yang tersimpan di dalam hatinya, yang Allah tampakkan pada hari kiamat, pada hari tidak akan ada orang yang bisa berbohong dan menyembunyikan kedustaannya.</p>
<p>Dalam Kitab <em>az-Zuhd</em>, Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>tabaraka wa ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang dia mempersekutukan diriku dengan selain Aku maka Aku tinggalkan dia bersama dengan kesyirikannya.”</em> (<strong>HR. Muslim [2985]</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [9/232])</p>
<p>Abu Ishaq al-Fazari berkata, <em>“Sesungguhnya ada di antara manusia orang yang menyukai pujian kepada dirinya padahal dirinya tidak lebih berharga di sisi Allah daripada sehelai sayap nyamuk.”</em> (<em>Ta&#8217;thir al-Anfas</em>, hal. 573). Ibnu Taimiyah berkata, <em>“Barangsiapa yang mencintai seseorang tapi bukan karena Allah, maka bahaya teman-temannya lebih besar daripada bahaya musuh-musuhnya.”</em> (<em>Ta&#8217;thir al-Anfas</em>, hal. 575). <em>Semoga Allah melindungi kita dari syirik dan segala hal yang menjerumuskan ke dalamnya&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senang Mendengarkan Bacaan al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 07:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2320</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.” Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”. Beliau &#8230; <a href="http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadaku, <em>“Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.”</em> Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, <em>“Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku.”</em> Maka aku pun membacakan surat an-Nisaa&#8217;, ketika sampai pada ayat [yang artinya], <em>“Bagaimanakah jika [pada hari kiamat nanti] Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka.&#8221;</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 41</strong>). Aku angkat kepalaku, atau ada seseorang dari samping yang memegangku sehingga aku pun mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat air mata beliau mengalir (<strong>HR. Bukhari [4582] dan Muslim [800]</strong>)</p>
<p><span id="more-2320"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki rasa senang dan menikmati bacaan al-Qur&#8217;an yang dibacakan oleh orang lain. Oleh sebab itu Imam Bukhari juga mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Orang yang senang mendengarkan al-Qur&#8217;an dari selain dirinya&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/107]). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ada beberapa pelajaran dari hadits Ibnu Mas&#8217;ud ini, di antaranya; anjuran untuk mendengarkan bacaan [al-Qur'an] serta memperhatikannya dengan seksama, menangis ketika mendengarkannya, merenungi kandungannya. Selain itu, hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya meminta orang lain untuk membacanya untuk didengarkan, dalam keadaan seperti ini akan lebih memungkinkan baginya dalam mendalami dan merenungkan isinya daripada apabila dia membacanya sendiri. Hadits ini juga menunjukkan sifat rendah hati seorang ulama dan pemilik kemuliaan meskipun bersama dengan para pengikutnya.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/117])</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri orang soleh adalah bisa menangis ketika mendengar bacaan al-Qur&#8217;an. Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/112]). Lantas, apakah yang mendorong Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menangis ketika mendengar ayat di atas? Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang tampak bagi saya, bahwasanya beliau [Nabi] menangis karena sayangnya kepada umatnya. Sebab beliau mengetahui bahwa kelak beliau pasti menjadi saksi atas amal mereka semua, sedangkan amal-amal mereka bisa jadi tidak lurus (amalan yang tidak baik) sehingga membuat mereka berhak untuk mendapatkan siksaan, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [9/114])</p>
<p>Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an harus dilandasi dengan keikhlasan. Bukan karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan. Oleh sebab itu, Imam Bukhari mengiringi bab tadi [menangis tatkala membaca al-Qur'an] dengan bab &#8216;Dosa orang yang membaca al-Qur&#8217;an untuk mencari pujian (riya&#8217;), mencari makan, atau menyalah gunakannya untuk berbuat jahat/dosa&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/114]).</p>
<p>Dan yang lebih utama lagi adalah menangis tatkala sendirian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang menceritakan 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, yang salah satunya adalah, <em>“Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lantas berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [660] dan Muslim [1031]</strong>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hadits ini menunjukkan keutamaan menangis karena takut kepada Allah ta&#8217;ala dan keutamaan amal ketaatan yang rahasia/tersembunyi karena kesempurnaan ikhlas padanya, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/354])</p>
<p>Satu pelajaran lagi yang mungkin bisa ditambahkan di sini, adalah keutamaan belajar bahasa arab. Karena dengan memahami bahasa arab akan lebih memudahkan dalam menghayati kandungan al-Qur&#8217;an. Oleh sebab itu hendaknya kita lebih bersemangat lagi dalam mempelajari bahasa arab dan mengkaji tafsir al-Qur&#8217;an. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mohonlah Kepada-Nya&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 03:24:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wirid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2310</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada siapa pun di samping doamu kepada Allah.” (QS. al-Jin: 18) Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang berdoa kepada sesembahan yang lain &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmohonlah-kepada-nya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmohonlah-kepada-nya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada siapa pun di samping doamu kepada Allah.”</em> (<strong>QS. al-Jin: 18</strong>)</p>
<p><span id="more-2310"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan barangsiapa yang berdoa kepada sesembahan yang lain di samping doanya kepada Allah, yang jelas tidak ada bukti yang melandasinya, maka sesungguhnya hisabnya adalah di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kamu berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, mereka itu pasti akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>)</p>
<p>Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah berfirman; &#8216;Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku, dan Aku akan senantiasa bersama-Nya jika dia berdoa kepada-Ku.&#8217;.”</em> (<strong>HR. Bukhari [7405] dan Muslim [2675]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Rabb kita -tabaraka wa ta&#8217;ala- pada setiap malam turun ke langit terendah yaitu ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Allah mengatakan: Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta sesuatu kepada-Ku niscaya akan Aku beri, dan siapakah yang mau memohon ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.”</em> (<strong>HR. Muslim [758]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Musa <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah -&#8217;azza wa jalla- membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya.”</em> (<strong>HR. Muslim [2759]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya pada setiap malam ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim menepati waktu itu dalam keadaan memohon kepada Allah kebaikan dalam urusan dunia dan akhirat kecuali Allah pasti akan memberikan apa yang dia minta kepadanya, dan hal itu terjadi setiap malam.”</em> (<strong>HR. Muslim [757]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjenguk salah seorang di antara kaum muslimin yang menderita sakit hingga badannya menjadi sangat lemah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata, <em>“Apakah kamu pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah sebelum ini?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya. Dahulu aku pernah berdoa; Ya Allah, hukuman apa yang Kau tetapkan untukku di akhirat mohon Kau segerakan saja untukku di dunia ini [daripada nanti di akhirat, pent].&#8217;.”</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Subhanallah! Kamu tidak akan sanggup menanggungnya -atau kamu tidak akan mampu menerimanya-, mengapa kamu tidak berdoa; &#8216;Ya Allah, berikanlah kepadaku kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah aku dari siksa neraka.&#8217;?.”</em> Anas berkata: Lalu Nabi  mendoakan orang itu kemudian dia pun sembuh (<strong>HR. Muslim [2688]</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dzatu Anwath</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 17:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kekafiran]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tabarruk]]></category>
		<category><![CDATA[Tasyabbuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2308</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu&#8217;anhu, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dzatu-anwath.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dzatu-anwath.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Waqid al-Laitsi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri&#8217;tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath. Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata, <em>“Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, <em>“Allahu akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telag mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra&#8217;il kepada Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 138</strong>). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong> dan beliau mensahihkannya, disahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam takhrij <em>as-Sunnah</em> karya Ibnu Abi &#8216;Ashim, lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/126])</p>
<p><span id="more-2308"></span> Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik di kala itu memiliki keyakinan yang keliru terhadap Dzatu Anwath, yang hal itu mencakup tiga perkara: [1] Mereka mengagung-agungkan pohon tersebut, [2] Mereka melakukan i&#8217;tikaf (berdiam dalam rangka ibadah) di sisinya, [3] Mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dalam rangka mengharapkan keberkahan pohon tersebut mengalir kepada senjata-senjata mereka sehingga diharapkan senjata itu menjadi lebih tajam dan mendatangkan kebaikan yang lebih bagi orang yang membawa senjata tersebut (lihat <em>at-Tam-hid</em>, hal. 132).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa mencari berkah kepada pohon adalah terlarang -bahkan termasuk syirik-, dan hal itu merupakan salah satu kebiasaan buruk umat-umat terdahulu yang sesat (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/126 dan 128]). Larangan ini berlaku juga untuk hal yang lain seperti mencari berkah kepada batu, kubur, atau yang lainnya. Termasuk yang terlarang adalah mencari berkah dengan keringat orang soleh, bersentuhan dengan tubuh mereka, atau menyentuh pakaian mereka dan yang semacamnya (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 103). Dari sini kita mengetahui bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang di sisi kubur para wali atau orang soleh berupa mencari berkah dengan menyentuhkan pakaian atau bagian tubuh padanya merupakan perbuatan syirik kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa jahiliyah itu tidak khusus berlaku bagi orang-orang yang hidup di masa sebelum Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Akan tetapi siapa pun yang tidak mengetahui kebenaran dan melakukan perbuatan-perbuatan orang jahil maka dia tergolong <em>ahlul jahiliyah</em> (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/130]). Hadits ini juga menunjukkan terlarangnya meniru-niru kebiasaan jahiliyah (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 102). Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang berpindah dari suatu kebatilan yang sudah terbiasa melekat dalam hatinya maka terkadang masih ada saja sisa-sisa kebatilan itu pada dirinya. Terkadang butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghilangkan sisa keburukan itu (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/132])</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan disunnahkannya mengucapkan takbir [<em>Allahu akbar</em>] ketika mengingkari atau heran terhadap sesuatu, demikian juga halnya ucapan tasbih [<em>Subhanallah</em>]. Hadits ini juga menunjukkan bahwa yang menjadi pegangan -dalam menyikapi- adalah hakikat sesuatu bukan nama atau istilahnya. Kalau itu kebatilan maka tetap batil meskipun nama dan istilahnya berganti (lihat <em>Syarh Kitab Tauhid</em> Syaikh Bin Baz, hal. 66-67)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luasnya Rahmat Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/luasnya-rahmat-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/luasnya-rahmat-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 03:43:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmat]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2296</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala Allah menciptakan seluruh makhluk, Allah tuliskan di dalam kitab-Nya, yang kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arsy, yang isinya adalah: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari [3194] dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/luasnya-rahmat-allah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fluasnya-rahmat-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fluasnya-rahmat-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tatkala Allah menciptakan seluruh makhluk, Allah tuliskan di dalam kitab-Nya, yang kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arsy, yang isinya adalah: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.”</em> (<strong>HR. Bukhari [3194] dan Muslim [2751]</strong>)</p>
<p><span id="more-2296"></span></p>
<p>Dari Umar bin al-Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau menuturkan: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepada kami, <em>“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”</em>. Kami menjawab, <em>“Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [5999] dan Muslim [2754]</strong>)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kalau seandainya seorang mukmin mengetahui segala bentuk hukuman yang ada di sisi Allah niscaya tidak akan ada seorang pun yang masih berhasrat untuk mendapatkan surga-Nya. Dan kalau seandainya seorang kafir mengetahui segala bentuk rahmat yang ada di sisi Allah niscaya tidak akan ada seorang pun yang berputus asa untuk meraih surga-Nya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [6469] dan Muslim [2755]</strong>)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dahulu ada seorang lelaki yang belum pernah melakukan satu kebaikan pun, dia berpesan kepada anak-anaknya, &#8216;Kalau dirinya telah meninggal maka bakarlah jenazahnya, kemudian tebarkanlah setengah abunya di daratan dan setengahnya lagi di lautan. Demi Allah, seandainya Allah mampu membangkitkannya niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang belum pernah diberikan kepada siapa pun di antara umat manusia ini.&#8217; Tatkala lelaki itu meninggal anak-anaknya melaksanakan apa yang dia pesankan kepada mereka. Kemudian, Allah perintahkan daratan untuk mengumpulkan abunya yang tersebar di sana, dan Allah perintahkan lautan untuk mengumpulkan abunya yang tersebar di sana, lantas Allah bertanya kepadanya, &#8216;Mengapa kamu lakukan hal ini?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Karena takut kepada-Mu ya Rabb. Sedangkan Engkau Maha mengetahui.&#8217; Maka Allah pun mengampuninya.” </em>(<strong>HR. Bukhari [3481] dan Muslim [2756]</strong>)<em> </em></p>
<p>Dari<em> </em>Abu<em> </em>Musa <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, sampai tiba saatnya matahari terbit dari arah tenggelamnya.”</em> (<strong>HR. Muslim [2759]</strong>)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan seorang mukmin pun cemburu. Allah akan merasa cemburu ketika seorang mukmin melakukan perkara yang diharamkan kepadanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [5222] dan Muslim [2761]</strong>)</p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230; kalau rahmat Allah sedemikian luas, maka janganlah kita berputus asa dari menggapainya.  Namun, hal itu bukan berarti kita boleh merasa aman dari siksaan-Nya&#8230; Karena tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah kecuali orang-orang yang merugi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/luasnya-rahmat-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sosok Teladan Dalam Kebaikan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 16:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2280</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. Kita mungkin pernah mendengar istilah &#8216;multi-talenta&#8217;. Ya, orang yang digelari dengan istilah ini artinya orang tersebut memiliki bakat dan keahlian yang beraneka-ragam, bukan satu keahlian saja. Bicara &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsosok-teladan-dalam-kebaikan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsosok-teladan-dalam-kebaikan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Kita mungkin pernah mendengar istilah &#8216;multi-talenta&#8217;. Ya, orang yang digelari dengan istilah ini artinya orang tersebut memiliki bakat dan keahlian yang beraneka-ragam, bukan satu keahlian saja. Bicara soal bakat, mungkin masing-masing orang memang berlainan. Namun, jika berbicara soal amal kebaikan, tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan berbagai pintu kebaikan yang dibukakan untuknya. Karena dengan memanfaatkan berbagai pintu kebaikan yang ada, maka seorang hamba akan bisa meraih keutamaan yang sangat agung di akherat kelak, yaitu dipanggil masuk surga dari semua pintu surga&#8230; Sungguh, sebuah harapan yang sangat mulia!</p>
<p><span id="more-2280"></span>Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Shahih mereka berdua hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menginfakkan &#8216;sepasang hartanya&#8217; di jalan Allah maka dia akan dipanggil -oleh malaikat- dari pintu-pintu surga, &#8216;Wahai hamba Allah! Inilah kebaikan -yang akan kamu peroleh-.&#8217; Barangsiapa yang tergolong ahli sholat, maka dia akan dipanggil dari pintu sholat. Barangsiapa yang tergolong ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa yang tergolong ahli puasa, maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan.”</em> Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, <em>“Wahai Rasulullah, bahaya apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Lantas, apakah ada orang yang dipanggil dari kesemua pintu itu?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, <em>“Ada. Dan aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya.” </em>(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di beberapa tempat; [1] Kitab <em>ash-Shaum</em> [hadits no. 1897], [2] Kitab <em>al-Jihad wa as-Siyar</em> [hadits no. 2841], [3] Kitab <em>Bad&#8217;u al-Khalq</em> [hadits no. 3216], [4] Kitab <em>Fadhail ash-Shahabah</em> [hadits no. 3666], dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim di Kitab <em>az-Zakah</em> [hadits no. 1027], lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/132] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/351])</p>
<p><strong>Makna &#8216;Sepasang Harta&#8217;</strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;sepasang harta&#8217; di dalam hadits di atas adalah dua buah harta yang serupa dari jenis apa saja (<em>Fath al-Bari</em> [4/132]). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menukil keterangan al-Harawi, bahwa tafsiran dari sepasang harta itu misalnya; dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor unta (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/351]).</p>
<p>Ibnu Baththal <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa yang dimaksud dengan &#8216;sepasang harta&#8217; adalah dua buah [harta benda], seperti misalnya dua keping dinar, dua helai pakaian, dan semacamnya (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal</em> [4/15]). Lalu, apa maksudnya? an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menyimpulkan bahwa ungkapan &#8216;sepasang harta&#8217; ini menunjukkan keutamaan bersedekah dan membelanjakan harta untuk ketaatan serta [kita] dianjurkan untuk memperbanyak hal itu (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/352]). Dengan kata lain, apabila kita bersedekah maka jangan pelit-pelit&#8230;</p>
<p><strong>Pintu ar-Rayyan Bagi Ahli Shaum</strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan salah satu keutamaan ibadah puasa, yaitu bahwasanya orang-orang yang tekun mengerjakan ibadah yang agung ini kelak di akherat akan dipanggil untuk masuk surga melalui pintu ar-Rayyan. Oleh sebab itu, Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> memasukkan hadits ini dalam Kitab ash-Shaum dengan judul bab<em> &#8216;ar-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa&#8217;</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/131]).</p>
<p>Selain hadits di atas, di dalam bab tersebut Imam Bukhari juga membawakan hadits dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu, yang disebut dengan ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk [surga] dari pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang memasuki pintu itu selain mereka. Akan ada panggilan, &#8216;Dimanakah orang-orang yang berpuasa?&#8217;. Maka mereka pun berdiri. Tidak ada yang melewatinya selain mereka. Apabila mereka telah masuk [semua] maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang melewatinya.”</em> (HR. Bukhari di Kitab <em>ash-Shaum</em> [hadits no. 1896] dan di Kitab <em>Bad&#8217;u al-Khalq</em> [hadits no. 3257], dan Muslim di Kitab <em>ash-Shiyam</em> [hadits no. 1152], lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/131] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/485])</p>
<p><strong>Keutamaan Infaq fi Sabilillah</strong></p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan yang besar pada amalan infaq -membelanjakan harta- fi sabilillah. Yang dimaksud dengan fi sabilillah di sini tidak terbatas pada jihad saja. Berdasarkan riwayat yang dibawakan oleh Imam Ahmad yang artinya, <em>“Bagi setiap ahli amalan akan dipanggil dari pintu amalan tersebut.”</em> maka al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, <em>“Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan fi sabilillah lebih luas daripada jihad dan amal-amal salih lainnya.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [6/57]). Qadhi &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud fi sabilillah di sini  mencakup seluruh perkara kebaikan, sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/352]). Meskipun, kata-kata fi sabilillah jika disebutkan tanpa kaitan maka secara umum maksudnya adalah jihad sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [6/55])</p>
<p>Walaupun, tentu saja membelanjakan harta demi keperluan jihad fi sabilillah merupakan amalan yang juga sangat utama. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Zaid bin Khalid al-Juhani <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau bersabda, <em>“Barangsiapa yang mempersiapkan perbekalan untuk seorang pasukan fi sabilillah maka sesungguhnya dia telah ikut berperang. Dan barangsiapa yang membantu sanak kerabatnya yang ditinggal perang maka sesungguhnya dia juga telah ikut berperang.”</em> (HR. Bukhari di Kitab <em>al-Jihad wa as-Siyar</em> [hadits no. 2843] dan Muslim di Kitab <em>al-Imarah</em> [hadits no. 1895], lihat <em>Fath al-Bari</em> [6/58] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [6/522])</p>
<p>Ada sebuah pelajaran menarik dari hadits ini. an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hadits ini mengandung dorongan untuk berbuat baik/ihsan kepada orang-orang yang menunaikan tugas-tugas kemaslahatan bagi kaum muslimin atau orang-orang yang menegakkan urusan-urusan penting bagi mereka/kaum muslimin.”</em> (<em>Syarh Shahih Muslim</em> [6/522]). <em>Hal jazaa&#8217;ul ihsan illal ihsan&#8230;</em></p>
<p><strong>Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan tentang beliau, “<em>Aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya.” </em>Yaitu<em> </em>golongan orang-orang yang dipanggil dari semua pintu surga. Hal itu karena harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi, sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/31] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/353]).</p>
<p>Perlu diperhatikan pula di sini, bahwa yang dimaksud dengan ahli shaum, ahli sholat, ahli sedekah, maupun ahli jihad -yang layak untuk dipanggil dari semua pintu surga itu- bukanlah orang yang semata-mata telah menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut. Namun, yang dimaksud adalah orang-orang yang selain menunaikan yang wajib-wajib maka ia juga melakukan amal-amal yang sunnah dan konsisten dalam melaksanakannya. Abdul Wahid berkata: Seandainya ada yang bertanya, <em>“Apakah tergolong di dalamnya orang yang [sekedar] menunaikan puasa Ramadhan, menzakati hartanya, dan melaksanakan sholat-sholat wajibnya?”</em>. Jawabnya adalah:  Bahwa yang dimaksudkan oleh hadits ini adalah ibadah-ibadah sunnah yang dilakukan secara terus-menerus dan diusahakan untuk diperbanyak. Itulah orang yang layak untuk dipanggil dari pintu-pintu surga (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal</em> [4/18], lihat juga <em>Fath al-Bari</em> [7/30])</p>
<p>Hadits ini juga mengandung pelajaran bolehnya memuji seseorang di hadapannya selama tidak dikhawatirkan orang tersebut terjerumus dalam fitnah/dosa seperti ujub dan semacamnya (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/353]). Namun, perlu kita ingat bahwa orang seperti Abu Bakar -dalam hal ilmu maupun amalan- adalah sosok yang sangat jarang ditemukan&#8230; Bahkan, di masa para sahabat sekalipun&#8230;!</p>
<p>Dalam hal amalan, beliau adalah sosok yang sangat unggul dibandingkan yang lainnya. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam hadits pintu ar-Rayyan di atas; tatkala beliau menjadi orang yang dipanggil masuk surga dari semua pintu amalan. Selain itu, juga sebagaimana tercermin dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepada para sahabat, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini berpuasa?”</em>. Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menjawab, <em>“Saya.”</em> Beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah memberi makan orang miskin?”</em>. Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menjawab, <em>“Saya.”</em> Beliau kembali bertanya, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit?”</em>. Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> kembali menjawab, <em>“Saya.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah itu semua terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti masuk surga.”</em> (HR. Muslim di Kitab <em>az-Zakah</em> dan Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [hadits no. 1028], lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/353] dan [8/12])</p>
<p>Begitu pula dalam hal ilmu, beliau adalah orang yang paling alim di antara para sahabat. Hal itu sebagaimana tergambar dengan jelas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu saat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> duduk berceramah di atas mimbar. Beliau mengatakan, <em>“Seorang hamba yang telah diberikan pilihan oleh Allah untuk mendapatkan segala perhiasan dunia ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Maka hamba tersebut lebih memilih apa yang ada di sisi-Nya.”</em> Abu Bakar pun menangis dan menangis. Lalu dia berkata, <em>“Kami rela untuk menebus anda dengan bapak-bapak dan anak-anak kami (ya Rasulullah).”</em> Dia -Abu Bakar- berkata, <em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam itulah hamba yang diberi pilihan tersebut.”</em> Ternyata Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami tentangnya&#8230; (HR. Bukhari di beberapa tempat; [1] di Kitab <em>ash-Shalah</em> [hadits no. 466], [2] di Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [hadits no. 3654], [3] di Kitab <em>Manaqib al-Anshar</em> [hadits no. 3904] dan Muslim di Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [hadits no. 2382], lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [8/7])</p>
<p><strong>Jadilah Kunci Kebaikan!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya, begitu pula Ibnu Abi &#8216;Ashim di dalam <em>as-Sunnah</em> hadits dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya ada di antara manusia, orang-orang yang menjadi kunci-kunci kebaikan, penutup-penutup keburukan. Dan ada juga sebagian orang yang menjadi kunci-kunci keburukan, penutup-penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu kebaikan, dan sungguh celakalah orang yang Allah jadikan dia sebagai pembuka pintu keburukan.”</em> (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em> [1332], diambil dari <em>&#8216;Kaifa Takunu Miftahan Lil Khair&#8217;</em>, karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr <em>hafizhahullah</em>, hal. 5). Semoga Allah menjadikan kita&#8230; sebagai kunci kebaikan&#8230;! <em>Amin ya Mujiibas saa&#8217;iliin</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

