<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Hidayah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/hidayah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Membutuhkan Hidayah?</title>
		<link>http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 11:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2494</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa besarkah kebutuhan kita kepada hidayah? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan setidaknya ada 10 alasan yang melatarbelakangi doa yang senantiasa kita panjatkan dalam sholat kita. Yaitu doa meminta hidayah. Beliau memaparkan: Barangsiapa yang mencermati segala kerusakan yang menimpa alam semesta &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Seberapa besarkah kebutuhan kita kepada hidayah? Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan setidaknya ada 10 alasan yang melatarbelakangi doa yang senantiasa kita panjatkan dalam sholat kita. Yaitu doa meminta hidayah. Beliau memaparkan:</p>
<p><span id="more-2494"></span></p>
<p>Barangsiapa yang mencermati segala kerusakan yang menimpa alam semesta secara umum maupun khusus, niscaya dia akan menemukan bahwa itu semua muncul dari dua sumber utama ini (yaitu akibat kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, pent).</p>
<p>Adapun kelalaian, maka ia akan menghalangi seorang hamba dari mengetahui kebenaran sehingga membuatnya tergolong orang yang sesat. Adapun memperturutkan hawa nafsu akan memalingkannya dari mengikuti kebenaran sehingga membuatnya termasuk golongan orang yang dimurkai. Sedangkan orang yang dikaruniai nikmat itu adalah orang-orang yang diberi anugerah ilmu tentang kebenaran dan ketundukan untuk melaksanakannya serta mendahulukan hal itu di atas selainnya. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas jalan keselamatan. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang berada di atas jalan kehancuran.</p>
<p>Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk mengucapkan setiap sehari semalam berkali-kali, <em>“Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladzina an&#8217;amta &#8216;alaihim ghairil maghdhubi &#8216;alaihim wa lad dhaalliin.”</em> Artinya: <em>“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.”</em> (QS. al-Fatihah: 5-7)</p>
<p>Karena sesungguhnya seorang hamba sangat-sangat membutuhkan pengetahuan terhadap apa saja yang bermanfaat baginya dalam kehidupan dunia dan akheratnya. Sebagaimana dia juga sangat-sangat membutuhkan keinginan yang kuat sehingga bisa mendahulukan urusan yang bermanfaat baginya itu serta sebisa mungkin menjauhi segala hal yang membahayakan dirinya.</p>
<p>Dengan terkumpulnya kedua perkara ini maka sungguh dia telah mendapat petunjuk menuju jalan yang lurus itu. Apabila dia kehilangan ilmu tentangnya maka dia akan menempuh jalan orang-orang yang sesat. Dan apabila dia kehilangan tekad dan keinginan untuk mengikutinya maka dia telah menempuh jalan orang-orang yang dimurkai. Dengan begitu bisa diketahui betapa agung kedudukan doa ini dan betapa besar kebutuhan hamba terhadapnya, karena kebahagiaan hidup di dunia dan akherat semuanya tergantung pada hal ini.</p>
<p>Setiap hamba senantiasa membutuhkan hidayah dalam setiap waktu dan tarikan nafas, dalam segala urusan yang dia lakukan atau pun dia tinggalkan, karena sesungguhnya dia berada di antara berbagai keadaan yang dia pasti diliputi olehnya:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, hal-hal yang telah dia lakukan akan tetapi tidak mengikuti petunjuk akibat kebodohannya, maka dalam keadaan ini dia butuh untuk mencari hidayah kepada kebenaran dalam hal itu.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, dia sudah mengetahui hidayah dalam masalah itu, akan tetapi dia sengaja melanggarnya, maka dalam keadaan ini dia butuh untuk bertaubat dari kesalahannya.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, hal-hal yang memang tidak diketahuinya baik ilmu maupun amalan yang benar padanya, sehingga dia pun kehilangan hidayah untuk mengilmui sekaligus mengamalkannya.</p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong>, hal-hal yang memang dia telah memperoleh sebagian hidayah dalam urusan itu akan tetapi belum sempurna, maka dia butuh untuk mendapatkan hidayah yang sempurna padanya.</p>
<p><strong><em>Kelima</em></strong>, hal-hal yang dia telah mendapatkan hidayah terhadap pokok kebenaran dalam hal itu secara global saja, maka dia pun masih membutuhkan hidayah terhadap rincian-rinciannya.</p>
<p><strong><em>Keenam</em></strong>, dia telah mendapatkan hidayah &#8216;menuju&#8217; jalan yang lurus itu, maka dia pun masih membutuhkan hidayah untuk bisa berjalan &#8216;di atasnya&#8217;. Karena hidayah &#8216;menuju&#8217; jalan itu lain, sedangkan hidayah &#8216;di atas&#8217; jalan itu sesuatu yang lain lagi. Bukankah anda bisa melihat bahwasanya  seseorang bisa jadi telah mengetahui bahwa jalan menuju negeri anu adalah jalan ini dan itu. Meskipun demikian dia tidak sanggup untuk menempuhnya. Karena untuk bisa menempuh jalan itu masih memerlukan hidayah yang lebih khusus lagi untuk bisa berjalan di atasnya. Seperti misalnya dengan melakukan perjalanan di waktu ini bukan di waktu yang itu, kemudian mengambil air di jarak sekian dengan jumlah sekian, lalu singgah di tempat ini bukan di tempat yang itu. Inilah hidayah yang dibutuhkan untuk bisa menempuh jalan itu yang terkadang diabaikan oleh orang yang sudah mengetahui jalan tersebut, sehingga dia pun gagal dan tidak berhasil mencapai tujuan.</p>
<p><strong><em>Ketujuh</em></strong>, dia juga membutuhkan hidayah untuk hal-hal yang terkait dengan masa depannya sebagaimana yang dia dapatkan pada waktu yang telah berlalu.</p>
<p><strong><em>Kedelapan</em></strong>, perkara-perkara yang dia tidak bisa meyakini apa yang benar dan batil dalam hal itu, oleh sebab itu dia masih membutuhkan hidayah kepada keyakinan yang benar di dalamnya.</p>
<p><strong><em>Kesembilan</em></strong>, perkara-perkara yang telah diyakini olehnya bahwa dia berada di atas petunjuk akan tetapi sebenarnya dia berada di atas kesesatan dalam keadaan tidak menyadarinya. Dengan demikian dia membutuhkan hidayah dari Allah untuk bisa meninggalkan keyakinan tersebut.</p>
<p><strong><em>Kesepuluh</em></strong>, hal-hal yang telah dia lakukan sebagaimana hidayah yang sebenarnya, maka dia pun masih membutuhkan hidayah untuk bisa berbagi hidayah itu kepada selainnya, agar bisa membimbing dan mengarahkannya. Karena apabila dia melalaikan hal itu niscaya dia akan kehilangan hidayah sekadar dengan kelalaiannya tadi. Sesungguhnya balasan itu serupa dengan jenis amalan. Semakin dia berjuang dalam memberikan hidayah dan ilmu kepada orang lain maka semakin besar perhatian Allah dalam memberikan hidayah dan ilmu kepada dirinya, sehingga dia akan bisa menjadi orang yang mendapat hidayah dan menyebarkannya.</p>
<p>Hal itu sebagaimana dalam doa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan selainnya, <em>“Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman, dan jadikanlah kami orang yang memberikan hidayah dan terus diberi hidayah, tidak sesat dan tidak pula menyesatkan. Mendatangkan keselamatan kepada wali-wali-Mu dan memerangi musuh-musuh-Mu. Dengan cinta-Mu Kami mencintai orang yang mencintai-Mu. Dengan permusuhan-Mu kami akan memusuhi siapa saja yang menentang-Mu.” </em>(HR. Tirmidzi dalam <em>Kitab ad-Da&#8217;awat </em>sanadnya dilemahkan Syaikh al-Albani, tetapi sisi pendalilan dari hadits ini didukung oleh hadits yang lain)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Diterjemahkan secara bebas dari:<br />
<em>Risalah Ibnul Qayyim ila Ahadi Ikhwanihi</em> (hal. 5-10)<br />
Penerbit Dar &#8216;Alam al-Fawa&#8217;id<br />
<em>tahqiq</em> Abdullah bin Muhammad al-Mudaifir<br />
<em>isyraf</em> Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2468</guid>
		<description><![CDATA[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah [al-Fatawa Juz 14/295-296] menjelaskan : Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>[<em>al-Fatawa</em> Juz 14/295-296] menjelaskan :</p>
<p><span id="more-2468"></span></p>
<p>Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah <em>ilah</em>/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.</p>
<p>(<em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em> karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 35)</p>
<p>Dari keterangan Syaikhul Islam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya sumber kebahagiaan umat manusia adalah<strong> ikhlas</strong> -yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya- dan <strong><em>ittiba&#8217;</em></strong> -yaitu konsisten dengan ajaran dan petunjuk Rasulullah-, inilah rahasia kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Kedua hal ini pula lah yang terkandung dalam dua kalimat syahadat yang senantiasa kita ucapkan. Dua kalimat yang juga selalu diserukan oleh para mu&#8217;adzin kaum muslimin di berbagai belahan bumi.</p>
<p>Dasar kaidah yang agung ini adalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabb-nya, hendaklah dia melakukan amal salih, dan janganlah dia mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Amal yang salih adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah/tuntunan Nabi. Adapun amalan yang ikhlas adalah yang semata-mata dipersembahkan untuk Allah. Sebagaimana diterangkan oleh Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Dari sinilah kita mengetahui mengapa perhatian para ulama salaf terhadap tauhid dan sunnah sangatlah besar; karena memang kedua hal itulah asas Islam. Dengan memahami tauhid dengan benar maka seorang hamba akan mengerti jalan untuk menggapai ikhlas. Dan dengan memahami sunnah dengan baik maka seorang hamba akan mengerti cara untuk <em>ittiba&#8217;</em> kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Apabila tauhid dan sunnah itu merupakan perkara yang paling mendasar, maka memahami lawan-lawannya pun menjadi perkara yang sangat penting. Karena tidak mungkin seorang mengenal tauhid dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu syirik. Demikian pula, tidak mungkin seorang mengenal sunnah dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu bid&#8217;ah.</p>
<p>Maka sungguh sangat aneh jika ada orang yang mengaku muslim akan tetapi sangat alergi membahas tentang syirik dan bid&#8217;ah?! Bahkan, yang lebih aneh lagi adalah sikap sebagian orang yang mencemooh dakwah tauhid dan menjauhkan umat Islam darinya. Dengan bangganya dia menikmati amalan-amalan bid&#8217;ah dan melecehkan dakwah tauhid dengan bahasa-bahasa yang merendahkan para ulama. <em>Subhanallah</em>, tidakkah kita takut akan hukuman-Nya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Dari Surat al-Fatihah</title>
		<link>http://abumushlih.com/pelajaran-dari-surat-al-fatihah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pelajaran-dari-surat-al-fatihah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 05:42:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[faedah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2293</guid>
		<description><![CDATA[[1] Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang [2] Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam [3] Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang [4] Yang Menguasai Hari Pembalasan [5] Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pelajaran-dari-surat-al-fatihah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpelajaran-dari-surat-al-fatihah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpelajaran-dari-surat-al-fatihah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>[1] Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>[2] Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam</p>
<p>[3] Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>[4] Yang Menguasai Hari Pembalasan</p>
<p>[5] Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan</p>
<p>[6] Tunjukilah kami jalan yang lurus</p>
<p>[7] Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat</p>
<p><span id="more-2293"></span></p>
<p><strong>Pelajaran:</strong></p>
<p>Di dalam surat ini, Allah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah Maha Pengasih, yang kasih sayangnya amat luas, meliputi siapa saja. Dan Allah Maha Penyayang, yang menyayangi siapa pun yang Dia Kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Allah maha terpuji karena keagungan rububiyah-Nya; Allah sebagai satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.</p>
<p>Allah yang mentarbiyah (memelihara) manusia dengan tarbiyah umum maupun yang khusus. Tarbiyah umum mencakup segala perkara yang menunjang kehidupan umat manusia di atas muka bumi ini, diberikan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya. Adapun tarbiyah khusus berupa bimbingan dan petunjuk menggapai kebaikan dunia dan akherat, yang diberikan kepada hamba-hamba yang beriman dan tunduk kepada-Nya.</p>
<p>Maka Allah berhak untuk mendapatkan sanjungan yang diiringi dengan kecintaan dan pengagungan. Inilah pujian seorang hamba kepada Rabbnya, dia memuji-Nya dengan penuh rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya. Pujian yang tertuju kepada Dzat yang menciptakan dirinya dan melimpahkan segala macam nikmat lahir dan batin kepada segenap makhluk-Nya.</p>
<p>Allah adalah penguasa yang memiliki sifat kasih sayang, bukan penguasa yang kejam dan tidak juga mengabaikan keadilan. Dengan kemurahan dari-Nya, Allah berikan balasan berlipat ganda bagi orang-orang yang beriman dan beramal salih serta mengampuni dosa-dosa mereka, yang pada akhirnya mengantarkan mereka ke dalam surga, yang kenikmatannya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati manusia. Namun, Allah juga maha adil sehingga tidak membiarkan orang-orang yang durhaka dan kufur kepada-Nya tanpa hukuman yang setimpal dengan kezaliman mereka. Maka Allah tetap terpuji bagaimana pun keadaan dan balasan yang diterima oleh seorang hamba. Kalaulah mereka celaka, hal itu bukan karena Allah menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang telah menganiaya diri mereka sendiri.</p>
<p>Sehingga, pada hari kiamat kelak, Allah akan tampakkan kekuasaan-Nya yang mutlak atas seluruh makhluk-Nya. Pada hari itu tiada lagi raja dan penguasa yang bisa tampil menekan dan memaksa manusia dengan kebengisan dan kekejamannya. Pada hari itu Allah lah yang berkuasa, yang akan memberikan balasan atas amal-amal manusia selama hidup di dunia. Apabila mengingat kejadian pada hari itu, niscaya seorang muslim akan bersiap-siap menyambut kedatangannya dengan bekal takwa. Karena hidup di dunia adalah perjalanan yang akan mengantarkan manusia menuju surga atau neraka. Sementara surga Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.</p>
<p>Barangsiapa yang ingin selamat di akherat maka dia wajib menempuh sebab-sebabnya, yaitu dengan bertakwa kepada-Nya. Ketakwaan yang ditegakkan di atas nilai-nilai tauhid. Yaitu penghambaan secara total kepada Rabb alam semesta dengan menujukan segala bentuk ibadah kepada-Nya, dan tidak memalingkan ibadah sekecil apapun kepada selain-Nya. Inilah tujuan diciptakan jin dan manusia, agar mereka tunduk beribadah kepada-Nya, dengan penuh rasa cinta, harap dan takut kepada-Nya.</p>
<p>Kepada Allah lah seorang hamba mengharap bantuan dan pertolongan karena di tangan-Nya lah kerajaan langit dan bumi dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan guna menguji manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya; yaitu orang-orang yang ikhlas dan setia dengan ajaran Nabi-Nya. Inilah ruh agama Islam, mempersembahkan segala bentuk ibadah dan ketaatan untuk Allah semata, bukan untuk selain-Nya. Sehingga seorang hamba tidak perlu mencari-cari pujian dan kedudukan di mata manusia dengan ibadahnya. Dan juga seorang hamba akan senantiasa menyadari bahwa kekuatan yang dia dapatkan untuk melakukan itu semua semata-mata berasal dari anugerah Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada dirinya, sehingga dia pun tidak merasa ujub dengan amalnya. Maka tidak ada lagi tempat menggantungkan hati selain kepada-Nya. Hanya Allah yang pantas untuk disembah dan dipuja-puja. Adapun selain Allah adalah makhluk yang senantiasa membutuhkan-Nya. Sementara Allah sama sekali tidak membutuhkan apa-apa dari seluruh makhluk-Nya.</p>
<p>Oleh sebab itu, seorang hamba yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan semestinya senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan kepada-Nya. Petunjuk berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang salih. Bimbingan mengenal agama Islam dan mendalami ajaran-ajarannya. Sehingga seorang hamba akan bisa mengenali kebenaran dan melaksanakannya. Petunjuk itulah yang lebih dia butuhkan daripada sekedar makanan dan minuman, air maupun udara. Karena tanpa petunjuk ini seorang hamba akan kebingungan dalam menjalani hidupnya. Hidup dalam ketidakpastian, hidup tanpa tujuan, hidup bagaikan binatang, hidup yang penuh dengan kegelapan dan ketidakjelasan.</p>
<p>Karena hidup di dunia membutuhkan kesabaran; sabar dalam menjalankan ibadah, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menghindarkan diri dari maksiat. Kalau tanpa petunjuk dan bimbingan Allah niscaya manusia akan celaka. Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kita beragama Islam dan melunakkan hati kita untuk melaksanakan ajaran-ajarannya dengan penuh kepasrahan dan tanpa penolakan. Hanya dengan meniti jalan yang lurus inilah manusia akan selamat dunia dan akherat. Dengan senantiasa mentauhidkan-Nya dan patuh kepada rasul-Nya. Siapa saja yang taat kepada Allah dan rasul-Nya niscaya dia akan mendapatkan keberuntungan yang amat besar di sisi-Nya. Jalan yang lurus itu adalah jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih. Jalan Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>.</p>
<p>Inilah jalan yang akan mengantarkan menuju surga-Nya. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dari kalangan Yahudi dan semacamnya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat dari kalangan Nasrani dan semacamnya. Jalan yang lurus adalah jalan Islam. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberi kenikmatan hidayah dari Allah karena ketulusan hati mereka dalam mengabdi kepada-Nya dan mencari kebenaran. Allah sudah terangkan jalan itu kepada manusia, akan tetapi tidak semua manusia mau mengikutinya. Allah utus para rasul untuk mengajak mereka menyembah-Nya dan menjauhi thaghut (sesembahan selain-Nya). Akan tetapi sebagian mereka enggan, maka pantaslah jika orang-orang seperti mereka ditetapkan tenggelam dalam kesesatan. Tatkala hati mereka berpaling maka Allah pun simpangkan hati mereka. Mereka lebih suka dengan kesesatan daripada mengikuti bimbingan ar-Rahman. Hati mereka keras membatu, atau bahkan lebih keras daripada itu. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan dan penyimpangan, dengan karunia dan kemurahan dari-Nya. Sesungguhnya Allah maha kuasa lagi mampu untuk melakukannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pelajaran-dari-surat-al-fatihah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesabaran Seorang Da&#8217;i</title>
		<link>http://abumushlih.com/kesabaran-seorang-dai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kesabaran-seorang-dai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 07:12:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2014</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Raja yang menguasai langit dan bumi, Penguasa yang berhak mengatur dan mengendalikan jagat raya sebagaimana yang Dia ingini. Salawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi penebar rahmah, Sang penutup nabi dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kesabaran-seorang-dai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkesabaran-seorang-dai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkesabaran-seorang-dai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Raja yang menguasai langit dan bumi, Penguasa yang berhak mengatur dan mengendalikan jagat raya sebagaimana yang Dia ingini. Salawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi penebar rahmah, Sang penutup nabi dan rasul, yang meninggalkan umatnya di atas ajaran yang terang-benderang. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2014"></span></p>
<p>Saudaraku, semoga Allah membimbing langkah kita untuk berjalan di atas jalan-Nya, … berlalunya waktu dan pergantian generasi dari sejak masa kenabian berlalu senantiasa diwarnai dengan gelombang yang menerpa bahtera dakwah agama yang hanif ini. Gelombang yang menghempaskan hati dan tubuh para penyeru kebenaran di tepi-tepi kesabaran dan terkadang menggiring sebagian mereka mendekati garis keputus-asaan&#8230;</p>
<p><em>Subhanallah! </em>Betapa beruntung, orang-orang yang tetap teguh di atas kesabaran, mengharapkan ridha Allah atas dakwahnya, dan memiliki harapan yang panjang bagi masyarakat yang didakwahinya. Memang, kesabaran ini menjadi salah satu kunci keberuntungan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“.. Sesungguhnya tidaklah ada seorang da&#8217;i pun yang mengajak manusia kepada apa yang didakwahkan oleh para rasul kecuali dia pasti akan menghadapi orang-orang yang berupaya menghalang-halangi dakwahnya, sebagaimana halnya rintangan yang dihadapai oleh para rasul dan nabi-nabi dari kaum mereka. Oleh sebab itu semestinya dia bersabar. Artinya dia harus berpegang teguh dengan kesabaran yang hal itu termasuk salah satu karakter terbaik yang dimiliki oleh ahli iman dan merupakan sebaik-baik bekal bagi seorang da&#8217;i yang mengajak kepada Allah tabaraka wa ta&#8217;ala, sama saja apakah dakwahnya itu ditujukan kepada orang-orang yang dekat dengannya atau selain mereka, dia haruslah menjadi orang yang penyabar.”</em> (<em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 13)</p>
<p>Bahkan, Allah pun mengingatkan kekasih-Nya, yaitu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk bersabar, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para nabi dan rasul sebelum beliau. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah didustakan para rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan yang ditujukan kepada mereka, dan mereka pun tetap mendapatkan gangguan, sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 34</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Bersabarlah, sebagaimana ulul azmi dari kalangan rasul pun bersabar&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahqaf: 35</strong>)</p>
<p>Inilah akhlak seorang da&#8217;i kepada Rabbnya dan dalam berinteraksi dengan orang yang didakwahinya. Meniru keteladanan yang ada pada baginda nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan salafus shalih yang mendahului kita. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada bagi kalian, pada diri Rasulullah suatu teladan yang bagus, bagi orang-orang yang mengharap kepada Allah dan hari akhir.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 21</strong>)</p>
<p>Dari Urwah, suatu ketika &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> -istri Nabi- menceritakan kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Pernahkah anda menemui suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku telah mendapatkan tanggapan dari kaummu sebagaimana apa yang aku temui. Tanggapan paling berat yang pernah aku dapatkan adalah pada hari &#8216;Aqabah, ketika itu aku tawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, akan tetapi dia tidak menerima tawaranku sebagaimana yang aku kehendaki. Aku pun kembali dengan perasaan sedih mewarnai wajahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku sudah berada di Qarn Tsa&#8217;alib. Aku angkat kepalaku ke atas, ternyata ada awan yang sedang menaungi diriku. Aku pun memperhatikan, ternyata di sana ada Jibril, lalu dia pun memanggilku. Dia berkata, &#8216;Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan yang mereka lakukan terhadapmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, agar kamu perintahkan kepadanya apa yang ingin kau timpakan kepada mereka.&#8217; Maka malaikat penjaga gunung itu pun menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu dia berkata, &#8216;Wahai Muhammad&#8217;. Dia berkata, &#8216;Apabila kamu menginginkan hal itu, niscaya akan aku timpakan kepada mereka dua bukit besar itu.&#8217;.”</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> justru menjawab, <em>“Tidak, sesungguhnya aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari [3231]</strong>)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terkandung keterangan mengenai besarnya rasa kasih sayang Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada umatnya dan betapa kuat kesabaran dan kelembutan sikapnya. Hal itu selaras dengan firman Allah ta&#8217;ala (yang artinya), &#8216;Dengan rahmat Allah maka kamupun bersikap lembut kepada mereka&#8217;. Dan juga firman-Nya (yang artinya), &#8216;Tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.&#8217;.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [6/353])</p>
<p>Saudaraku, barisan pembela dakwah al-Haq akan senantiasa dihadang oleh barisan serdadu Iblis&#8230; akankah kau mundur ke belakang dan terlempar ke jurang kehancuran, atau kau memilih maju ke depan untuk meraih kemenangan dan berjumpa dengan Allah dengan membawa amalan? Apabila hari ini engkau merintih dan mengeluh karena banyaknya rintangan dan hambatan yang engkau temui di atas jalan yang mulia ini -seolah-olah engkau telah kehilangan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa atas segalanya-, maka pilihlah jalan manapun yang kamu sukai -kalau engkau memang ingin memisahkan diri dari jalan dakwah ini- dan Allah pun tidak segan-segan untuk menimpakan hukuman-Nya kepada orang-orang yang durhaka!!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Apabila bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, sanak kerabat kalian, harta-harta yang kalian kumpulkan dan perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian senangi, itu lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai datangnya keputusan Allah, dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 24</strong>) (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 332)</p>
<p>Saudaraku, … inilah jalanku dan jalanmu, jalan yang dibentangkan oleh Allah dan dipimpin oleh nabimu, jalan yang akan mengantarkan kepada kemuliaan dan ampunan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, dan Maha suci Allah, aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>).</p>
<p>Semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> memberikan taufik kepada kita, untuk istiqomah di atas jalan dakwah ini hingga ajal tiba. Sungguh, satu orang yang mendapatkan hidayah -dari Allah- dengan perantara dakwah kita itu jauh lebih berharga bagi masa depan kita daripada gerombolan onta merah ataupun simpanan harta-benda yang dibangga-banggakan oleh manusia. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammad, wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kesabaran-seorang-dai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Seorang Kyai</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 07:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>&#8220;Terus  terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid&#8217;ah yang  tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga  bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya  untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap  keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan  atau baca barzanji, diba&#8217;an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah  berbau kesyirikan&#8221; </em></p>
<p><span id="more-1988"></span></p>
<p><em>&#8220;Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya&#8221; </em>(Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Kita  biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan  kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar  kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala  masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan  kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali,  yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang  yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga  saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.&#8221;</em> (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)</p>
<p>Beliau  adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok  pesantren &#8220;Rahmatullah&#8221;. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh  teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh  teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.</p>
<p>Keberanian  beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak sejalan dengan  Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat berakar dalam  lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau terhadap arus kyai itu  bukan  berlandaskan apriori belaka, bukan pula didasari oleh rasa  kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam, namun merupakan  Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Kyai  Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang  mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil.  namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap ajaran  Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari keanggotaan  NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu kepada  beliau.</p>
<p>Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan  dirinya dari keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para  tetangga dan kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak  hanya mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau  mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan  kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan  permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang  shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat  pada umumnya.</p>
<p>Seandainya para Kyai itu mau mengkaji  kembali ajaran dan tradisi budaya yang berurat berakar yang telah  dikritisi dan digugat oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi  sendiri, namun juga dari para ulama tanah haram juga telah menggugat dan  mengkritisi penyakit kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar  mengurat kepada para santri dan masyarakat. Jika mereka itu mau  mendengarkan perkataan para ulama itu, tentunya penyakit-penyakit kronis  yang ada dalam tubuh NU akan bisa terobati. Aqidah umatnya akan  terselamatkan dari penyakit TBC (Tahayul, Bid&#8217;ah, Churofat). Sehingga  Kyai-kyai NU, habib, Gus serta asatidznya lebih dewasa jika ada orang  yang mau dengan ikhlas menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU  dan yang telah banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para  sahabatnya. Maka, Insya Allah, NU khususnya dan para &#8216;alim NU pada  umumnya akan menjadi barometer keagamaan dan keilmuan. &#8216;Alimnya yang  berbasis kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan  misi NU itu sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, sehingga para &#8216;alim  serta Kyai yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat  sebagai pewaris para Nabi.</p>
<p>Namun sayang, dakwah yang  disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang sebelah mata  oleh para Kyai NU  setempat. Mereka juga meragukan keloyalan beliau terhadap ajaran NU.  Dengan demikian, beliau harus menerima konsekuensi berupa pemecatan dari  kepengurusan keanggotaannya sebagai a&#8217;wan NU Kandangan, Kediri,  sekaligus dikucilkan dari lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren.  Mereka semua memboikot aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.</p>
<p>Walaupun  beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap menyikapinya  dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam dirinya.</p>
<p>Siapakah  yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh Kyai  Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin senasib  dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya karena  meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan syari&#8217;at  Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan karena  pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.</p>
<p>Kyai  Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus orang-orang yang  bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat banyak para Kyai  yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid&#8217;ahan dan tradisi-tradisi yang  tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat itulah beliau  tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup yang penuh  cobaan dan ujian.</p>
<p>Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan  dan penghormatan tersandang, harta melimpah serta jabatan terpikul,  namun murka Allah dekat dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di  hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan  keselamatan dengan meninggalkan tradisi yang selama ini beliau  gandrungi.</p>
<p>Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat  kepada Allah dari ajaran-ajaran syirik, bid&#8217;ah dan kufur. Walaupun Kyai  Afrokhi ditinggalkan oleh para kyai ahli bid&#8217;ah, jama&#8217;ah serta santri  beliau, ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup  begitu nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu&#8217; serta penuh tawakkal  kepada Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.</p>
<p>Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:</p>
<p><em>&#8220;Untuk  itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas kekeliruan yang  saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf saya kepada warga  Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa saya sesatkan dalam  kebid&#8217;ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba&#8217;an, maulidan, haul dan  selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau kesyirikan dan juga  sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah senantiasa menerima taubat  dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang lalu (Amin ya robbal &#8216;alamin)&#8221;</em></p>
<p>(Dinukil  dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku &#8220;Buku Putih Kyai  NU&#8221; oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh Ponpes  Rohmatulloh-Kediri-, mantan A&#8217;wan Syuriah MWC NU Kandangan Kediri)</p>
<p>catatan:  Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan karena ada  alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok. Silahkan nukil  dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah ilalloh.</p>
<p>-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-taubat-seorang-kyai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Yang Lurus Itu</title>
		<link>http://abumushlih.com/jalan-yang-lurus-itu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jalan-yang-lurus-itu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 00:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Shirothol Mustaqim]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1964</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus dan mengangkat hamba terkasih-Nya sebagai pemandu menuju-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad sebaik-baik nabi dan utusan, dan juga bagi para sahabat serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jalan-yang-lurus-itu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjalan-yang-lurus-itu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjalan-yang-lurus-itu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus dan mengangkat hamba terkasih-Nya sebagai pemandu menuju-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad sebaik-baik nabi dan utusan, dan juga bagi para sahabat serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-1964"></span></p>
<p>Ayat-ayat al-Qur&#8217;an yang begitu indah dan menakjubkan, memberikan kepada kita gambaran yang jelas mengenai karakter dan hakekat jalan yang lurus. Jalan yang setiap hari kita mohon kepada Allah untuk ditunjuki kepadanya. Jalan yang akan mengantarkan penempuhnya menuju surga dan kebahagiaan, serta melemparkan orang yang melenceng darinya menuju neraka dan kesengsaraan.</p>
<p><strong>Memadukan antara ilmu dan amal</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”</em> (<strong>QS. al-Fatihah: 7</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa hakekat jalan yang lurus itu akan diperoleh dengan cara mengenali kebenaran dan mengamalkannya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 39). Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dengan ucapan anda &#8216;Ihdinash shirathal mustaqim&#8217; itu artinya anda telah meminta kepada Allah ta&#8217;ala ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.”</em> (<em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em>, hal. 12).</p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Maka orang yang diberi nikmat atas mereka yaitu orang yang berilmu sekaligus beramal. Adapun orang-orang yang dimurkai yaitu orang-orang yang berilmu namun tidak beramal. Sedangkan orang-orang yang tersesat ialah orang-orang yang beramal tanpa landasan ilmu.”</em> (<em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amalu</em>, hal. 14). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa penyebab orang terjerumus dalam kesesatan ialah rusaknya ilmu dan keyakinan. Sedangkan penyebab orang terjerumus dalam kemurkaan ialah rusaknya niat dan amalan (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 21)</p>
<p><strong>Memadukan antara tauhid dan ketaatan </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman memberitakan ucapan Nabi &#8216;Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> (yang artinya), <em>“Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatilah aku. Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 50-51, </strong>lihat juga<strong> QS. Az-Zukhruf: 63-64</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Inilah, yaitu penyembahan kepada Allah, ketakwaan kepada-Nya, serta ketaatan kepada rasul-Nya merupakan &#8216;jalan lurus&#8217; yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya, adapun yang selain jalan itu maka itu adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke neraka.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 132). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“&#8230;Sesungguhnya kebenaran itu hanya satu, yaitu jalan Allah yang lurus, tiada jalan yang mengantarkan kepada-Nya selain jalan itu. Yaitu beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun, dengan cara menjalankan syari&#8217;at yang ditetapkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bukan dengan [landasan] hawa nafsu maupun bid&#8217;ah-bid&#8217;ah&#8230;”</em> (<em>at-Tafsir al-Qayyim</em>, hal. 116-117)</p>
<p>Dalam surat Maryam, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga memberitakan ucapan Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> tersebut (yang artinya), <em>“Dan sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”</em> (<strong>QS. Maryam: 36</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa makna <em>&#8216;sembahlah Dia&#8217;</em> adalah: ikhlaskan ibadah kepada-Nya, bersungguh-sungguhlah dalam <em>inabah</em> (taubat dan semakin taat) kepada-Nya. Di dalam ungkapan <em>&#8216;Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian maka sembahlah Dia&#8217;</em> terkandung penetapan <em>tauhid rububiyah</em> dan <em>tauhid uluhiyah</em>, serta berargumentasi dengan tauhid yang pertama (rububiyah) untuk mewajibkan tauhid yang kedua (uluhiyah) (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 493)</p>
<p>Bahkan, Allah sendiri telah menegaskan bahwa tauhid dan ketaatan kepada-Nya inilah jalan yang lurus itu, bukan penyembahan dan ketaatan kepada syaitan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bukankah Aku telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam; Janganlah kalian menyembah syaitan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”</em> (<strong>QS. Yasin: 60-61</strong>). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa yang dimaksud &#8216;mentaati syaitan&#8217; itu mencakup segala bentuk kekafiran dan kemaksiatan. Adapun jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allah, taat kepada-Nya, dan mendurhakai syaitan (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 698)</p>
<p>Perlu diingat, bahwa ketaatan kepada Rasul pada hakekatnya merupakan ketaatan kepada Allah, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul itu, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 80</strong>). Ayat ini menunjukkan bahwa semua orang yang taat kepada Rasulullah dalam hal perintah dan larangannya sesungguhnya telah taat kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Karena rasul tidaklah memerintah dan melarang kecuali dengan perintah dari Allah, dengan syari&#8217;at dan wahyu dari-Nya. Sehingga hal ini menunjukkan <em>&#8216;ishmah</em>/keterpeliharaan diri Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena Allah memerintahkan taat kepada beliau secara mutlak (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 189)</p>
<p><strong>Kata Kunci</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada empat kata kunci agar seorang hamba bisa berjalan di atas jalan yang lurus, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Ilmu</strong>,      karena dengan ilmu ini maka dia akan bisa membedakan mana yang benar dan      mana yang salah, mana tauhid mana syirik, mana sunnah mana bid&#8217;ah, mana      taat mana maksiat, dst.</li>
<li><strong>Amal</strong>,      karena dengan mengamalkan ilmunya dia akan terbebas dari kemurkaan Allah,      bahkan dia akan mendapatkan tambahan petunjuk karenanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang mengikuti petunjuk itu,      maka Allah akan menambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah berikan      kepada mereka ketakwaan mereka.”</em> (<strong>QS. Muhammad: 17</strong>). Di dalam      ayat yang mulia ini Allah menjanjikan dua balasan bagi orang yang      mengikuti petunjuk (baca: mengamalkan ilmunya), yaitu: ilmu yang      bermanfaat dan amal yang saleh (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>,      hal. 787)</li>
<li><strong>Tauhid</strong>,      karena dengan memahami dan melaksanakan tauhid maka seorang hamba telah mewujudkan      tujuan hidupnya dan berada di atas jalan yang akan mengantarkannya ke      surga, jika dia istiqomah di atasnya hingga ajal tiba.</li>
<li><strong>Taat</strong>,      karena dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan berarti dia telah      menunjukkan penghambaannya kepada Allah dan kepatuhannya kepada      Rasulullah, sehingga dia akan mendapatkan keberuntungan -di dunia maupun      di akherat- sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya      yang taat kepada-Nya. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jalan-yang-lurus-itu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaminan Dari Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 15:17:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1948</guid>
		<description><![CDATA[Bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya sangat banyak. Di antaranya adalah berupa jaminan dari-Nya bagi siapa saja yang mau benar-benar mengikuti petunjuk-Nya bahwa mereka tidak akan sesat dan tidak pula celaka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjaminan-dari-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjaminan-dari-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya sangat banyak. Di antaranya adalah berupa jaminan dari-Nya bagi siapa saja yang mau benar-benar mengikuti petunjuk-Nya bahwa mereka tidak akan sesat dan tidak pula celaka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.”</em> (<strong>QS. Thaha: 123</strong>)</p>
<p><span id="more-1948"></span></p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.”</em> Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat <em>Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah </em>karya<em> </em>Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).</p>
<p>Lalu apa yang dimaksud dengan mengikuti petunjuk Allah? Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah: [1] Membenarkan berita yang datang dari-Nya, [2] Tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman, [3] Mematuhi perintah, [4] Tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 515)</p>
<p><strong>[1] Membenarkan berita</strong></p>
<p>Demikianlah sikap seorang mukmin. Karena dia meyakini bahwa apa yang dikatakan oleh Allah adalah kebenaran di atas kebenaran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah mengatakan yang benar dan Dia juga menunjukkan jalan -yang benar-.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 4</strong>). Maka seluruh ucapan Allah dan syari&#8217;at yang ditetapkan-Nya adalah kebenaran. Adapun ucapan dan perbuatan yang batil sama sekali tidak layak disandarkan kepada-Nya dari sisi mana pun. Ucapan dan perbuatan yang batil -dengan segala bentuknya- bukan termasuk petunjuk-Nya. Karena Allah tidak akan menunjukkan kecuali kepada jalan yang lurus (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 658)</p>
<p>Termasuk di dalam hal ini adalah membenarkan sabda-sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya, akan tetapi itu merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya.”</em> (<strong>QS. an-Najm: 3-4</strong>). Apa yang disampaikan oleh Nabi merupakan penjelas bagi ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kami turunkan kepadamu adz-Dzikra (al-Qur&#8217;an) supaya kamu menjelaskannya kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka itu, dan mudah-mudahan mereka berpikir.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 44</strong>). Oleh sebab itu terdapat ucapan yang masyhur dari Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, <em>“Barangsiapa menolak hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka dia berada di tepi jurang kehancuran.” </em>Imam asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya Sunnah/hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya gara-gara mengikuti pendapat seseorang.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[2] Menepis syubhat</strong></p>
<p>Syubhat adalah kesamaran-kesamaran yang dibuat oleh musuh-musuh agama dalam rangka mengelabui manusia dari jalan yang lurus. Sehingga kebenaran tampak sebagai kebatilan, dan sebaliknya kebatilan tampak sebagai kebenaran. Timbulnya pembangkangan terhadap ketetapan Allah dan penolakan terhadap berita yang datang dari-Nya muncul dari pintu ini selain dari pintu syahwat. Padahal, kita semua tahu bahwasanya keberuntungan dan kebahagiaan hanya akan dicapai dengan taat dan tunduk kepada Allah dan rasul-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 71</strong>). Allah<em> ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak pantas bagi lelaki dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka, barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu berhati-hati dalam mengambil ilmu adalah jalan untuk menyelamatkan diri dari terpaan syubhat. Ibnu Sirin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah  dari siapa kalian mengambil agama kalian.” </em>Kemudian juga dengan bertanya kepada para ulama mengenai permasalahan yang tidak dipahami. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 43</strong>). Dengan senantiasa merujuk kepada al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah sebagai pemutus perselisihan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir&#8230;”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 59</strong>). Dan juga selalu berusaha mengikuti metode pemahaman salafus shalih. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 100</strong>). Imam al-Auza&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wajib bagimu untuk mengikuti jejak para salaf/pendahulu, meskipun orang-orang menolak dirimu. Dan jauhilah pendapat akal-akal manusia, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[3] Mematuhi perintah</strong></p>
<p>Menyimpang dari perintah rasul adalah kehancuran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 80</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyimpang dari perintah rasul itu, karena mereka akan ditimpa dengan fitnah/malapetaka atau siksaan yang sangat pedih.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 63</strong>). Memang terkadang apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya terasa berat atau tidak disukai oleh hawa nafsu manusia. Ini merupakan ujian dari Allah untuk menampakkan siapakah di antara hamba-Nya yang mendahulukan ketaatan kepada-Nya daripada keinginan hawa nafsunya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu jelek bagi kalian. Allah yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 216</strong>).</p>
<p><strong>[4] Menundukkan hawa nafsu</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman menukil ucapan Nabi Yusuf<em> &#8216;alaihis salam</em> (yang artinya), <em>“Sesungguhnya hawa nafsu itu sangat mengajak kepada keburukan kecuali yang dirahmati oleh Rabbku.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 53</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Adapun barangsiapa yang merasa takut terhadap kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari memperturutkan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal untuknya.”</em> (<strong>QS. an-Nazi&#8217;at: 40-41</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang mujahid adalah orang yang berjuang menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi -hawa nafsu- dan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan -bagi nafsu-.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>).</p>
<p>Keempat hal di atas telah tercakup dalam ucapan Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, <em>“Orang yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.”</em> Inilah bukti kedalaman ilmu salafus shalih. Semoga Allah membimbing kita untuk mengikuti jejak mereka. <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jaminan-dari-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjalan Di Tengah Kegelapan</title>
		<link>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 17:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1792</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah orang yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberjalan-di-tengah-kegelapan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberjalan-di-tengah-kegelapan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p>Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 122</strong>)</p>
<p><span id="more-1792"></span></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata mengenai tafsiran ayat ini, <em>“Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.”</em> (<em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 35)</p>
<p>Orang-orang yang beriman, mendapat anugerah bimbingan dari Allah untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir yang jelas-jelas menentang ayat-ayat-Nya dan berpaling dari petunjuk Rabbnya, maka &#8216;pembimbing&#8217; mereka adalah thoghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju gelap gulita. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 257</strong>)</p>
<p>Begitu pula orang-orang munafik, yang sengaja meninggalkan kebenaran dan mencampakkannya, maka Allah <em>ta&#8217;ala</em> membiarkan mereka berjalan di atas kegelapan yang mereka pilih atas kehendak hawa nafsunya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Perumpamaan mereka -orang munafik- seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 17-18</strong>)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Katsir menukil riwayat dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengenai tafsiran dari ayat ini. Beliau berkata, <em>“Ini adalah sifat orang-orang munafik. Dahulu mereka beriman sehingga iman itu menyinari hati mereka sebagaimana api yang menyinari orang-orang yang menyalakan api. Kemudian mereka justru kufur maka Allah pun menghilangkan cahaya yang menyinari mereka dan mencabutnya sebagaimana lenyapnya cahaya dari api tersebut sehingga Allah membiarkan mereka berada dalam kegelapan, tidak dapat melihat.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-Azhim</em> [1/67])</p>
<p>Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur&#8217;an dan cahaya iman. Yang keduanya telah dipadukan oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.”</em> (<strong>QS. asy-Syura: 52</strong>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“&#8230;Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur&#8217;an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.”</em> (<em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 38)</p>
<p>Oleh sebab itu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengaitkan antara kemuliaan dan kejayaan suatu kaum dengan komitmen mereka terhadap ajaran al-Qur&#8217;an. Beliau bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian kaum dengan sebab Kitab ini, dan akan menghinakan sebagian yang lain dengan sebab Kitab ini pula.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Sebagaimana Allah <em>ta&#8217;ala</em> menjadikan iman dan ilmu sebagai sebab pengangkatan derajat sebagian dari hamba-hamba-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat.”</em> (<strong>QS. al-Mujadilah: 11</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga mengaitkan antara kebaikan seseorang dengan kepahamannya terhadap al-Qur&#8217;an dan komitmennya untuk mendakwahkannya. Beliau bersabda, <em>“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dengan bahasa lain, kepahaman terhadap agama itulah yang akan menggiring manusia menuju kesuksesan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka niscaya akan dipahamkan dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Di sisi lain, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga mengaitkan antara kekuatan iman yang ada dalam hati seseorang dengan perhatiannya yang serius terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Anfaal: 2</strong>)</p>
<p>Sementara, kaum Khawarij -meskipun mereka pandai membaca al-Qur&#8217;an- namun dicela oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> -bahkan disebut sebagai <em>Syarrul khalqi wal khaliqah</em>/sejelek-jelek manusia- akibat bacaan mereka tidak diiringi dengan kepahaman hati dan tidak bisa memetik pelajaran yang semestinya dari apa yang mereka baca -sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat/salafus shalih-. Beliau bersabda, <em>“Mereka itu -yaitu Khawarij- pandai membaca al-Qur&#8217;an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> mengutip salah satu penafsiran hadits ini bahwa maksudnya adalah, <em>“&#8230;Maknanya hati mereka tidak memahaminya dan mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang mereka baca&#8230;”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [4/349])</p>
<p>Dari sinilah, kita dapat menarik pelajaran bahwa untuk membebaskan diri dari kegelapan seorang hamba harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu untuk menghidupkan hati yang telah mati dan gersang menjadi hati yang hidup dan subur dengan keimanan. Sementara harapan itu tidak akan terwujud kecuali dengan cara mentadabburi al-Qur&#8217;an dan memahaminya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Betapa indah ucapan al-Imam Nashir as-Sunnah Muhammad bin Idris asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Lum&#8217;at al-I&#8217;tiqad</em>-nya, <em>“Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sesuai dengan keinginan Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang datang dari Rasulullah sesuai dengan keinginan Rasulullah.” </em></p>
<p>Dan<em> </em>hal itu tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali jika dilandaskan pada kepasrahan total terhadap dalil-dalil syari&#8217;at yang disampaikan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sehingga tidak ada jalan keluar dari kegelapan yang meliputi langit kehidupan kita kecuali dengan kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Para Nabi dan Rasul</title>
		<link>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 17:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1762</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Berikut ini gambaran sekilas mengenai seruan para nabi dan rasul kepada kaumnya. Allah ta&#8217;ala telah mengisahkan sejarah perjuangan dakwah mereka di dalam kitab-Nya, mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa memetik &#8230; <a href="http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-para-nabi-dan-rasul.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-para-nabi-dan-rasul.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Berikut ini gambaran sekilas mengenai seruan para nabi dan rasul kepada kaumnya. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengisahkan sejarah perjuangan dakwah mereka di dalam kitab-Nya, mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa memetik pelajaran darinya, </span><em><span style="font-weight: normal;">amin</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1762"></span><strong>[1] Dakwah Nabi Nuh </strong><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 59</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Nuh adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[2] Dakwah Nabi Hud </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum &#8216;Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 65</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Hud adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[3] Dakwah Nabi Shalih </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 73</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Shalih adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[4] Dakwah Nabi Syu&#8217;aib </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu&#8217;aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 85</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Syu&#8217;aib adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[5] Dakwah Nabi Ibrahim</strong></span><em><strong> &#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Mumtahanah: 4</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">).  Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Ibrahim adalah dakwah tauhid. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[6] Dakwah Segenap Rasul </strong></span><em><strong>&#8216;alaihimus salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nahl: 36</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Lalu apa yang dimaksud dengan tauhid itu?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Tauhid, sebagaimana telah dijelaskan di dalam ayat-ayat di atas adalah menyembah/beribadah semata-mata kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Inilah tauhid yang senantiasa didengung-dengungkan oleh para nabi dan rasul kepada kaumnya dan yang menjadi tujuan utama dakwah mereka (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Majid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 15, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/7]).</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hakekat perintah tauhid ini sering diulang-ulang oleh Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> di dalam al-Qur&#8217;an dalam konteks yang beraneka ragam. Di antaranya adalah:</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[1] Ketika menjelaskan tujuan hidup jin dan manusia</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[2] Ketika menjelaskan muatan dakwah Nabi Ibrahim </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah kecuali dari Yang menciptakan diriku.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. az-Zukhruf: 26-27</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[3] Ketika menjelaskan &#8216;motto hidup&#8217; seorang mukmin</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku dan sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya milik Allah Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-An&#8217;am: 162-163</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[4] Ketika melarang berdoa kepada selain-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang tidak menjamin manfaat dan madharat kepadamu. Apabila kamu melakukannya, maka sungguh kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Apabila Allah timpakan kepadamu suatu bahaya, niscaya tidak ada yang bisa menyngkapnya kecuali Dia.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Yunus: 106-107</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[5] Ketika menjelaskan kesesatan orang yang berdoa kepada selain-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak akan bisa memenuhi permintaannya sampai kiamat tiba.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ahqaf: 5</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[6] Ketika menjelaskan lemahnya sesembahan selain Allah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apakah mereka itu mau mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak bisa menciptakan apa-apa, sementara mereka itu sendiri juga diciptakan, bahkan mereka juga tidak mampu untuk memberikan pertolongan kepada mereka/pemujanya&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 191-192</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[7] Ketika mencela sesembahan selain Allah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Segala sesuatu yang kalian seru selain-Nya itu sama sekali tidak menguasai meskipun setipis kulit ari.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Fathir: 13</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[8] Ketika menjelaskan kecintaan orang kafir kepada sesembahan mereka</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Di antara manusia ada yang mengangkat selain Allah sebagai sesembahan tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Baqarah: 165</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[9] Ketika memerintahkan untuk bertawakal kepada-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan hendaknya kalian bertawakal kepada Allah saja, jika kalian benar-benar beriman.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[10] Ketika melarang tindakan menyelisihi Rasul-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau siksa yang sangat pedih.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nuur: 63</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud &#8216;fitnah&#8217; dalam ayat ini adalah syirik.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Keutamaan Tauhid</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Berikut ini sebagian keutamaan tauhid yang disebutkan oleh para ulama, semoga semakin mendorong kita untuk mendalami, mengamalkan, serta mendakwahkannya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[1] Tauhid adalah rahasia al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">al-Hafizh Ibnu Katsir </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230; Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh sebagian ulama salaf bahwa al-Fatihah merupakan rahasia al-Qur&#8217;an, sedangkan rahasia surat ini terkandung dalam kalimat &#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217; -hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong-&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/36] cet. Dar al-Fikr)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“al-Qur&#8217;an itu seluruhnya berbicara mengenai tauhid, hak-hak serta balasannya, dan juga berbicara mengenai syirik serta pelaku dan balasan/hukuman bagi mereka&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Aqidah ath-Thahawiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 89 cet. al-Maktab al-Islami)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[2] Tauhid adalah syarat keamanan dan hidayah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah yang akan diberikan petunjuk.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-An&#8217;am: 82</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[3] Tauhid adalah syarat diterimanya amalan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Kahfi: 110</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[4] Tauhid adalah sebab keberuntungan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[5] Tauhid adalah kunci surga</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah telah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolongpun.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 72</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Setelah membaca dalil-dalil di atas, dapat kita simpulkan bahwa:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah tauhid</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hakekat tauhid itu adalah beribadah kepada Allah semata dan berlepas 	diri dari segala sesembahan selain-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Tauhid tidak akan terwujud tanpa mengenal syirik dan macam-macamnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Tauhid memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah; tauhid 	merupakan rahasia al-Qur&#8217;an, syarat untuk mendapatkan keamanan dan 	hidayah, syarat diterimanya amalan, sebab keberuntungan, dan kunci 	untuk bisa masuk ke dalam surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan demikian, sudah semestinya setiap da&#8217;i Islam menjadikan 	dakwah tauhid sebagai prioritas utama dakwah yang dilakukannya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dan 	bagi para orang tua, hendaknya mereka menjadikan pendidikan tauhid 	sebagai pembinaan yang paling dititikberatkan kepada putra-putri 	mereka. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu 	a&#8217;lam bis shawab</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span></p>
</li>
</ol>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekedar Untuk Mengingat</title>
		<link>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 04:35:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Sykur]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1723</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka dahulunya, adalah para pemuda yang rajin mengikuti majelis ilmu dan duduk mendengarkan ceramah agama. Bahkan, beberapa di antara mereka adalah mantan tokoh-tokoh penggerak kegiatan dakwah di kampusnya. Tragis, gelar aktifis yang dulu mereka sandang kini telah berubah drastis. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1723"></span><span style="font-weight: normal;">Jenggot di dagu terpangkas habis, celana yang dulu diangkat di atas mata kaki -yang menandakan pengagungan terhadap Sunnah Nabi- kini telah terjurai menyentuh bumi, sosok yang dulunya sangat menjaga hubungan dengan perempuan non mahram kini telah terseret dalam aktifitas pacaran -bahkan dengan perempuan beda agama [!]-, pemuda yang sebelumnya akrab dengan majelis ilmu agama kini telah hanyut dalam dunia lain yang melalaikan dirinya dari tujuan hidupnya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Aduhai, semoga Allah mengembalikan mereka ke jalan-Nya&#8230;</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku, mengingat akan nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita merupakan perkara yang sangat penting dan banyak dilalaikan oleh manusia. Padahal, kita tahu bahwa semua kebaikan yang ada pada diri kita pada hakekatnya adalah anugerah dan karunia dari Allah ta&#8217;ala, sebuah nikmat yang harus kita syukuri dan kita senantiasa mohon kepada Allah agar meneguhkan kita di atas petunjuk dan bimbingan-Nya. Bukannya membuat kita malah menjadi sombong dan berubah menjadi hamba yang tidak bisa berterima kasih kepada Rabbnya. Perkara ini sudah sangat jelas sehingga semua orang niscaya bisa memahaminya dengan izin Allah. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan senantiasa mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur/ingkar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Baqarah</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengingatkan kita untuk senantiasa meminta tambahan petunjuk dan keteguhan agar kita bisa menjalani kehidupan dunia yang penuh dengan coba ini di atas rel yang semestinya. </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dalam sehari semalam tujuh belas kali kalimat ini kita ucapkan, yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita terhadap pancaran cahaya petunjuk dan bimbingan-Nya. Kalaulah Allah tidak menunjuki kita, maka kita akan tenggelam dalam berbagai kegelapan yang berlapis-lapis. Kegelapan dosa, kegelapan bid&#8217;ah, kegelapan syirik, atau bahkan kegelapan kemunafikan yang menjalar ke berbagai sikap dan perilaku hidup kita. Sehingga dengan kegelapan yang demikian pekat itu, kita tidak bisa melihat kebenaran sebagaimana mestinya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah keluarkan mereka dari bebagai kegelapam menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang akan mengeluarkan mereka dari cahaya menuju berbagai kegelapan.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Baqarah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span><em><span style="font-weight: normal;">. </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Maka tidak ada orang yang selamat dari kegelapan-kegelapan ini kecuali orang yang diberi taufik oleh Allah untuk tegar dalam menghadapi ujian, tidak tergoda dan terlena oleh kepalsuan dunia, tidak goyah oleh gemerlap kemewahan, dan senantiasa mengingat bahwa hidupnya di alam dunia ini hanyalah sejenak. Yang digambarkan oleh Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> layaknya seorang pengendara yang singgah di bawah sebatang pohon kemudian pergi meninggalkannya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang cerdas tentu tidak akan menjadikan pohon yang akan tumbang itu sebagai tempat tinggalnya, dia akan melanjutkan perjalanannya dan tidak terlena oleh sejuknya angin maupun rindangnya dedaunan. Karena perjalanannya masih jauh dan membutuhkan perbekalan yang cukup untuk mencapai tujuan dalam keadaan selamat. Saudaraku, cukuplah bagi kita firman Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Siapkanlah bekalmu wahai saudaraku, sebelum mulut terkunci dan sekujur tubuhmu menjadi kaku&#8230; </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

