<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Hidayah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/hidayah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Berjalan Di Tengah Kegelapan</title>
		<link>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 17:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1792</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberjalan-di-tengah-kegelapan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberjalan-di-tengah-kegelapan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p>Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 122</strong>)</p>
<p><span id="more-1792"></span></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata mengenai tafsiran ayat ini, <em>“Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.”</em> (<em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 35)</p>
<p>Orang-orang yang beriman, mendapat anugerah bimbingan dari Allah untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir yang jelas-jelas menentang ayat-ayat-Nya dan berpaling dari petunjuk Rabbnya, maka &#8216;pembimbing&#8217; mereka adalah thoghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju gelap gulita. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 257</strong>)</p>
<p>Begitu pula orang-orang munafik, yang sengaja meninggalkan kebenaran dan mencampakkannya, maka Allah <em>ta&#8217;ala</em> membiarkan mereka berjalan di atas kegelapan yang mereka pilih atas kehendak hawa nafsunya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Perumpamaan mereka -orang munafik- seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 17-18</strong>)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Katsir menukil riwayat dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengenai tafsiran dari ayat ini. Beliau berkata, <em>“Ini adalah sifat orang-orang munafik. Dahulu mereka beriman sehingga iman itu menyinari hati mereka sebagaimana api yang menyinari orang-orang yang menyalakan api. Kemudian mereka justru kufur maka Allah pun menghilangkan cahaya yang menyinari mereka dan mencabutnya sebagaimana lenyapnya cahaya dari api tersebut sehingga Allah membiarkan mereka berada dalam kegelapan, tidak dapat melihat.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-Azhim</em> [1/67])</p>
<p>Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur&#8217;an dan cahaya iman. Yang keduanya telah dipadukan oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.”</em> (<strong>QS. asy-Syura: 52</strong>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“&#8230;Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur&#8217;an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.”</em> (<em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 38)</p>
<p>Oleh sebab itu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengaitkan antara kemuliaan dan kejayaan suatu kaum dengan komitmen mereka terhadap ajaran al-Qur&#8217;an. Beliau bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian kaum dengan sebab Kitab ini, dan akan menghinakan sebagian yang lain dengan sebab Kitab ini pula.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Sebagaimana Allah <em>ta&#8217;ala</em> menjadikan iman dan ilmu sebagai sebab pengangkatan derajat sebagian dari hamba-hamba-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat.”</em> (<strong>QS. al-Mujadilah: 11</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga mengaitkan antara kebaikan seseorang dengan kepahamannya terhadap al-Qur&#8217;an dan komitmennya untuk mendakwahkannya. Beliau bersabda, <em>“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dengan bahasa lain, kepahaman terhadap agama itulah yang akan menggiring manusia menuju kesuksesan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka niscaya akan dipahamkan dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Di sisi lain, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga mengaitkan antara kekuatan iman yang ada dalam hati seseorang dengan perhatiannya yang serius terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Anfaal: 2</strong>)</p>
<p>Sementara, kaum Khawarij -meskipun mereka pandai membaca al-Qur&#8217;an- namun dicela oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> -bahkan disebut sebagai <em>Syarrul khalqi wal khaliqah</em>/sejelek-jelek manusia- akibat bacaan mereka tidak diiringi dengan kepahaman hati dan tidak bisa memetik pelajaran yang semestinya dari apa yang mereka baca -sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat/salafus shalih-. Beliau bersabda, <em>“Mereka itu -yaitu Khawarij- pandai membaca al-Qur&#8217;an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> mengutip salah satu penafsiran hadits ini bahwa maksudnya adalah, <em>“&#8230;Maknanya hati mereka tidak memahaminya dan mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang mereka baca&#8230;”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [4/349])</p>
<p>Dari sinilah, kita dapat menarik pelajaran bahwa untuk membebaskan diri dari kegelapan seorang hamba harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu untuk menghidupkan hati yang telah mati dan gersang menjadi hati yang hidup dan subur dengan keimanan. Sementara harapan itu tidak akan terwujud kecuali dengan cara mentadabburi al-Qur&#8217;an dan memahaminya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Betapa indah ucapan al-Imam Nashir as-Sunnah Muhammad bin Idris asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Lum&#8217;at al-I&#8217;tiqad</em>-nya, <em>“Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sesuai dengan keinginan Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang datang dari Rasulullah sesuai dengan keinginan Rasulullah.” </em></p>
<p>Dan<em> </em>hal itu tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali jika dilandaskan pada kepasrahan total terhadap dalil-dalil syari&#8217;at yang disampaikan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sehingga tidak ada jalan keluar dari kegelapan yang meliputi langit kehidupan kita kecuali dengan kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/berjalan-di-tengah-kegelapan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Para Nabi dan Rasul</title>
		<link>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 17:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1762</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Berikut ini gambaran sekilas mengenai seruan para nabi dan rasul kepada kaumnya. Allah ta&#8217;ala telah mengisahkan sejarah perjuangan dakwah mereka di dalam kitab-Nya, mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa memetik pelajaran darinya, amin. [1] Dakwah Nabi Nuh &#8216;alaihis salam Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sungguh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-para-nabi-dan-rasul.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdakwah-para-nabi-dan-rasul.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Berikut ini gambaran sekilas mengenai seruan para nabi dan rasul kepada kaumnya. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengisahkan sejarah perjuangan dakwah mereka di dalam kitab-Nya, mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa memetik pelajaran darinya, </span><em><span style="font-weight: normal;">amin</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1762"></span><strong>[1] Dakwah Nabi Nuh </strong><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 59</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Nuh adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[2] Dakwah Nabi Hud </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum &#8216;Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 65</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Hud adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[3] Dakwah Nabi Shalih </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 73</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Shalih adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[4] Dakwah Nabi Syu&#8217;aib </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu&#8217;aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 85</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Syu&#8217;aib adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[5] Dakwah Nabi Ibrahim</strong></span><em><strong> &#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Mumtahanah: 4</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">).  Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Ibrahim adalah dakwah tauhid. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[6] Dakwah Segenap Rasul </strong></span><em><strong>&#8216;alaihimus salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nahl: 36</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Lalu apa yang dimaksud dengan tauhid itu?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Tauhid, sebagaimana telah dijelaskan di dalam ayat-ayat di atas adalah menyembah/beribadah semata-mata kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Inilah tauhid yang senantiasa didengung-dengungkan oleh para nabi dan rasul kepada kaumnya dan yang menjadi tujuan utama dakwah mereka (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Majid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 15, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/7]).</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hakekat perintah tauhid ini sering diulang-ulang oleh Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> di dalam al-Qur&#8217;an dalam konteks yang beraneka ragam. Di antaranya adalah:</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[1] Ketika menjelaskan tujuan hidup jin dan manusia</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><strong>[2] Ketika menjelaskan muatan dakwah Nabi Ibrahim </strong></span><em><strong>&#8216;alaihis salam</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah kecuali dari Yang menciptakan diriku.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. az-Zukhruf: 26-27</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[3] Ketika menjelaskan &#8216;motto hidup&#8217; seorang mukmin</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku dan sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya milik Allah Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-An&#8217;am: 162-163</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[4] Ketika melarang berdoa kepada selain-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang tidak menjamin manfaat dan madharat kepadamu. Apabila kamu melakukannya, maka sungguh kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Apabila Allah timpakan kepadamu suatu bahaya, niscaya tidak ada yang bisa menyngkapnya kecuali Dia.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Yunus: 106-107</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[5] Ketika menjelaskan kesesatan orang yang berdoa kepada selain-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak akan bisa memenuhi permintaannya sampai kiamat tiba.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ahqaf: 5</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[6] Ketika menjelaskan lemahnya sesembahan selain Allah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apakah mereka itu mau mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak bisa menciptakan apa-apa, sementara mereka itu sendiri juga diciptakan, bahkan mereka juga tidak mampu untuk memberikan pertolongan kepada mereka/pemujanya&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-A&#8217;raaf: 191-192</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[7] Ketika mencela sesembahan selain Allah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Segala sesuatu yang kalian seru selain-Nya itu sama sekali tidak menguasai meskipun setipis kulit ari.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. Fathir: 13</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[8] Ketika menjelaskan kecintaan orang kafir kepada sesembahan mereka</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Di antara manusia ada yang mengangkat selain Allah sebagai sesembahan tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Baqarah: 165</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[9] Ketika memerintahkan untuk bertawakal kepada-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan hendaknya kalian bertawakal kepada Allah saja, jika kalian benar-benar beriman.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[10] Ketika melarang tindakan menyelisihi Rasul-Nya</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau siksa yang sangat pedih.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. an-Nuur: 63</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">). Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud &#8216;fitnah&#8217; dalam ayat ini adalah syirik.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Keutamaan Tauhid</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Berikut ini sebagian keutamaan tauhid yang disebutkan oleh para ulama, semoga semakin mendorong kita untuk mendalami, mengamalkan, serta mendakwahkannya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[1] Tauhid adalah rahasia al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">al-Hafizh Ibnu Katsir </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230; Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh sebagian ulama salaf bahwa al-Fatihah merupakan rahasia al-Qur&#8217;an, sedangkan rahasia surat ini terkandung dalam kalimat &#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217; -hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong-&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1/36] cet. Dar al-Fikr)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“al-Qur&#8217;an itu seluruhnya berbicara mengenai tauhid, hak-hak serta balasannya, dan juga berbicara mengenai syirik serta pelaku dan balasan/hukuman bagi mereka&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Aqidah ath-Thahawiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 89 cet. al-Maktab al-Islami)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[2] Tauhid adalah syarat keamanan dan hidayah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah yang akan diberikan petunjuk.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-An&#8217;am: 82</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[3] Tauhid adalah syarat diterimanya amalan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Kahfi: 110</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[4] Tauhid adalah sebab keberuntungan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>[5] Tauhid adalah kunci surga</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah telah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolongpun.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 72</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Setelah membaca dalil-dalil di atas, dapat kita simpulkan bahwa:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah tauhid</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Hakekat tauhid itu adalah beribadah kepada Allah semata dan berlepas 	diri dari segala sesembahan selain-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Tauhid tidak akan terwujud tanpa mengenal syirik dan macam-macamnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Tauhid memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah; tauhid 	merupakan rahasia al-Qur&#8217;an, syarat untuk mendapatkan keamanan dan 	hidayah, syarat diterimanya amalan, sebab keberuntungan, dan kunci 	untuk bisa masuk ke dalam surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan demikian, sudah semestinya setiap da&#8217;i Islam menjadikan 	dakwah tauhid sebagai prioritas utama dakwah yang dilakukannya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dan 	bagi para orang tua, hendaknya mereka menjadikan pendidikan tauhid 	sebagai pembinaan yang paling dititikberatkan kepada putra-putri 	mereka. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu 	a&#8217;lam bis shawab</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span></p>
</li>
</ol>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dakwah-para-nabi-dan-rasul.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekedar Untuk Mengingat</title>
		<link>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 04:35:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Sykur]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1723</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka dahulunya, adalah para pemuda yang rajin mengikuti majelis ilmu dan duduk mendengarkan ceramah agama. Bahkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekedar-untuk-mengingat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka dahulunya, adalah para pemuda yang rajin mengikuti majelis ilmu dan duduk mendengarkan ceramah agama. Bahkan, beberapa di antara mereka adalah mantan tokoh-tokoh penggerak kegiatan dakwah di kampusnya. Tragis, gelar aktifis yang dulu mereka sandang kini telah berubah drastis. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1723"></span><span style="font-weight: normal;">Jenggot di dagu terpangkas habis, celana yang dulu diangkat di atas mata kaki -yang menandakan pengagungan terhadap Sunnah Nabi- kini telah terjurai menyentuh bumi, sosok yang dulunya sangat menjaga hubungan dengan perempuan non mahram kini telah terseret dalam aktifitas pacaran -bahkan dengan perempuan beda agama [!]-, pemuda yang sebelumnya akrab dengan majelis ilmu agama kini telah hanyut dalam dunia lain yang melalaikan dirinya dari tujuan hidupnya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Aduhai, semoga Allah mengembalikan mereka ke jalan-Nya&#8230;</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku, mengingat akan nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita merupakan perkara yang sangat penting dan banyak dilalaikan oleh manusia. Padahal, kita tahu bahwa semua kebaikan yang ada pada diri kita pada hakekatnya adalah anugerah dan karunia dari Allah ta&#8217;ala, sebuah nikmat yang harus kita syukuri dan kita senantiasa mohon kepada Allah agar meneguhkan kita di atas petunjuk dan bimbingan-Nya. Bukannya membuat kita malah menjadi sombong dan berubah menjadi hamba yang tidak bisa berterima kasih kepada Rabbnya. Perkara ini sudah sangat jelas sehingga semua orang niscaya bisa memahaminya dengan izin Allah. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan senantiasa mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur/ingkar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Baqarah</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengingatkan kita untuk senantiasa meminta tambahan petunjuk dan keteguhan agar kita bisa menjalani kehidupan dunia yang penuh dengan coba ini di atas rel yang semestinya. </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Dalam sehari semalam tujuh belas kali kalimat ini kita ucapkan, yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita terhadap pancaran cahaya petunjuk dan bimbingan-Nya. Kalaulah Allah tidak menunjuki kita, maka kita akan tenggelam dalam berbagai kegelapan yang berlapis-lapis. Kegelapan dosa, kegelapan bid&#8217;ah, kegelapan syirik, atau bahkan kegelapan kemunafikan yang menjalar ke berbagai sikap dan perilaku hidup kita. Sehingga dengan kegelapan yang demikian pekat itu, kita tidak bisa melihat kebenaran sebagaimana mestinya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah keluarkan mereka dari bebagai kegelapam menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang akan mengeluarkan mereka dari cahaya menuju berbagai kegelapan.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Baqarah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">)</span></span><em><span style="font-weight: normal;">. </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Maka tidak ada orang yang selamat dari kegelapan-kegelapan ini kecuali orang yang diberi taufik oleh Allah untuk tegar dalam menghadapi ujian, tidak tergoda dan terlena oleh kepalsuan dunia, tidak goyah oleh gemerlap kemewahan, dan senantiasa mengingat bahwa hidupnya di alam dunia ini hanyalah sejenak. Yang digambarkan oleh Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> layaknya seorang pengendara yang singgah di bawah sebatang pohon kemudian pergi meninggalkannya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang cerdas tentu tidak akan menjadikan pohon yang akan tumbang itu sebagai tempat tinggalnya, dia akan melanjutkan perjalanannya dan tidak terlena oleh sejuknya angin maupun rindangnya dedaunan. Karena perjalanannya masih jauh dan membutuhkan perbekalan yang cukup untuk mencapai tujuan dalam keadaan selamat. Saudaraku, cukuplah bagi kita firman Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Siapkanlah bekalmu wahai saudaraku, sebelum mulut terkunci dan sekujur tubuhmu menjadi kaku&#8230; </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sekedar-untuk-mengingat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembalilah, Wahai Saudaraku!</title>
		<link>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 20:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1716</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, apakah gerangan yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah?” (QS. al-Infithar: 6) Sebagian ulama berkata bahwa di dalam firman Allah “Apa yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah” terdapat isyarat mengenai jawaban atas pertanyaan ini. Yaitu bahwasanya yang menyebabkan manusia terperdaya dan terlena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkembalilah-wahai-saudaraku.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkembalilah-wahai-saudaraku.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai umat manusia, apakah gerangan yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Infithar: 6</strong><span style="font-weight: normal;">) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian ulama berkata bahwa di dalam firman Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah”</span></em><span style="font-weight: normal;"> terdapat isyarat mengenai jawaban atas pertanyaan ini. Yaitu bahwasanya yang menyebabkan manusia terperdaya dan terlena adalah kemurahan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;"> serta penundaan hukuman dan kelembutan sikap-Nya. Padahal sesungguhnya tidak boleh orang terperdaya dan terlena disebabkan hal itu. Karena Allah membiarkan orang zalim bebas berkeliaran sampai tiba waktunya Allah menghukumnya dan pada saat itulah dia tidak mampu lagi untuk mengelak darinya. Lalu, apakah gerangan yang membuatmu terperdaya oleh karunia Rabbmu Yang Maha Pemurah? Jawabnya: kemurahan dan kelembutan Allah. Inilah sebab yang memperdaya manusia sehingga membuat dirinya terus menerus bergelimang dalam maksiat, mendustakan kebenaran dan bersikeras mempertahankan penyimpangan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir Juz &#8216;Amma</span></em><span style="font-weight: normal;"> Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 65)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1716"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Aduhai, alangkah tepat apa yang digambarkan oleh ayat yang mulia tersebut! Betapa sering kita jumpai diri kita ini; dengan berbagai kenikmatan yang Allah curahkan dan alirkan ke dalam berbagai relung nafas kehidupan kita, namun ternyata hal itu bukannya semakin menyadarkan kita akan kesalahan dan dosa yang kita perbuat di hadapan-Nya. Justru sebaliknya, kita justru semakin berbuat semaunya, membangkang dan menerjang larangan-larangan-Nya, bertindak semena-mena seolah-olah tiada kematian yang akan memutuskan harapan dan angan-angan para durjana.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku yang kucintai, semoga Allah membukakan hati kita untuk menerima kebenaran yang datang dari-Nya. Tidakkah engkau ingat, sebuah nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita dahulu. Dahulu, kita tidak mengenal Islam dan Sunnah ini sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> dan para sahabatnya. Dahulu, kita masih terlena oleh berbagai kesenangan dunia dan berbagai hiburan yang tak mengenal batasan agama. Dahulu, kita tidak mengenal apa itu tauhid, apa itu manhaj, bahkan kita pun tidak mengenal apa tujuan hidup kita yang sebenarnya. Bukankah demikian keadaan kita dulu sebelum Allah pancarkan hidayah itu di dalam lubuk hati kita setelah kegelapannya? </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Lalu mengapa -wahai saudaraku yang mulia- pada hari ini kita seolah-olah telah melupakan kenikmatan agung itu&#8230; Kita kembali terlena oleh suasana dan hiruk pikuk kehidupan dunia yang fana dan melalaikan dari-Nya. Mengapa kita lalai dan terlena serta terus menerus melestarikan pembangkangan kepada-Nya? Apakah kita telah berani meremehkan hak-hak Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;">? Ataukah kita berani melecehkan dan menganggap sepele hukuman yang akan ditimpakan oleh-Nya kepada kita? Ataukah karena kita memang sudah tidak lagi mengimani akan balasan yang dijanjikan-Nya? (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Taisir al-Karim ar-Rahman</span></em><span style="font-weight: normal;">, Juz 2 hal. 1274) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Maha suci Allah, betapa lancang dan kurang ajarnya diri kita ini! Setiap detik kehidupan ini kita senantiasa diberi karunia nikmat dan kemurahan dari-Nya lantas itu semua kita balas dengan kedurhakaan dan pembangkangan bahkan penghinaan kepada-Nya?! Betapa tidak tahu dirinya kita ini&#8230; Wahai saudaraku, bukankah Allah yang telah menunjukimu sehingga mengenal Islam dan Sunnah Nabi-Nya </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">? Bukankah Allah yang membimbingmu sehingga mengetahui tata cara beribadah yang benar kepada-Nya? Bukankah Allah juga yang mengentaskan kebodohanmu sehingga engkaupun menjadi orang yang berilmu? Lalu mengapa -dengan ilmu itu- kamu tidak semakin bertambah taat dan patuh kepada-Nya? Dimanakah ilmu yang ada pada dirimu?</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Bukankah Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengingatkan dan memuji orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Fathir: 28</strong><span style="font-weight: normal;">). Alangkah benar ucapan Fudhail bin &#8216;Iyadh </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Seorang yang berilmu akan senantiasa dinilai sebagai orang bodoh selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia telah mengamalkannya maka barulah dia benar-benar menjadi orang berilmu yang sejati.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi di dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Iqtidha&#8217; al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amala</span></em><span style="font-weight: normal;">). Abdullah bin Mas&#8217;ud </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bukanlah ilmu itu didapat hanya dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakekat ilmu itu adalah yang membuahkan rasa takut kepada Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (dinukil oleh Ibnul Qayyim di dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Inilah rahasianya; mengapa selama ini pengetahuan yang kita miliki tidak mengantarkan kita menjadi hamba-hamba yang patuh dan tunduk kepada-Nya, namun justru menjadikan kita sebagai para pemuja hawa nafsu yang senantiasa menerjang aturan-Nya. Tiada lain karena rasa takut kepada-Nya tidak menghiasi hati dan perilaku kita. Hati kita dipenuhi dengan kecintaan terhadap dunia dengan segala perhiasannya. Hati kita dipenuhi dengan kegandrungan kepada kesenangan dunia yang sementara lagi menipu. Hati  kita telah mabuk dan terpesona oleh rayuan nafsu dan bujukan syaitan yang durjana.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Itulah rahasianya mengapa Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> mewasiatkan kepada kita untuk segera beramal yaitu mengamalkan ilmu yang telah kita mengerti. Dan mengamalkan ilmu itu adalah cerminan rasa takut kita kepada Allah</span><em><span style="font-weight: normal;"> &#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;">. Hal itu supaya kita tidak tergolong orang yang tertipu dengan dunia; sehingga akibatnya kita pun rela menjual agama demi mendapatkan kesenangan dunia yang menipu dan sementara saja, </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-weight: normal;">! Rasul </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal sebelum datangnya fitnah-fitnah yang datangnya bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Yang membuat seorang di pagi hari masih beriman, namun di sore harinya dia telah berubah menjadi kafir. Atau di sore hari dia beriman, namun di pagi harinya berubah menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Para ulama suu&#8217; duduk di depan pintu surga seraya menyeru manusia supaya masuk ke dalamnya dengan ucapan lisan mereka. Akan tetapi mereka mengajak kepada neraka dengan amal perbuatan mereka. Setiap kali ucapan mereka mengajak manusia, “Kemarilah!” maka perbuatan mereka justru berkata, “Jangan kalian dengarkan ucapannya.” Karena seandainya apa yang dia serukan adalah kebenaran maka niscaya dia adalah orang yang pertama kali melakukannya. Mereka itu secara lahir tampak sebagai pemberi petunjuk, akan tetapi pada hakekatnya mereka adalah perampok.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 60)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya maka hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada keinginan hawa nafsunya. Hati yang begitu terpikat dengan syahwat akan terhalangi dari Allah sesuai dengan kadar ketergantungan hati itu kepadanya. Hati merupakan bejana -untuk mengenal- Allah di atas muka bumi yang diciptakan-Nya. Maka hati yang paling dicintai-Nya adalah hati yang paling lembut, paling kuat, dan paling jernih. Aduhai, mengapa mereka menyibukkan hati mereka dengan dunia. Seandainya mereka mau menyibukkannya dengan -kecintaan kepada- Allah dan -harapan terhadap- hari akherat niscaya akan tampak dengan jelas bagi mereka keagungan makna firman-Nya dan kebesaran ayat-ayat-Nya yang bisa disaksikan dan niscaya dia akan mampu memetik berbagai hikmah yang jarang ditemukan dan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 95)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Wahai saudaraku, kembalilah ke jalan Rabbmu. Sesungguhnya barisan para mujahid senantiasa menunggu kehadiranmu. </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu waliyyut taufiq</span></em><span style="font-weight: normal;">. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Keamanan dan Hidayah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 09:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ushul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1540</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Tatkala turun ayat (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan rasa aman, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-An&#8217;am: 82). Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan mereka pun berkata, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-keamanan-dan-hidayah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-keamanan-dan-hidayah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Tatkala turun ayat (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan </em><em>rasa aman, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 82). Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dan mereka pun berkata, <em>“Siapakah di antara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hal itu bukan seperti yang kalian kira. Namun yang dimaksud adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya, &#8216;Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.&#8217; (QS. Luqman: 13).” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p><span id="more-1540"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Kunci utama untuk mendapatkan keamanan dan hidayah adalah      tauhid yang bersih dari segala kotoran syirik. Maka dari sini, kita bisa      memahami mengapa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> beserta      para sahabatnya -demikian juga para rasul terdahulu- senantiasa mengawali      dakwahnya dengan tauhid dan menjadikannya sebagai prioritas yang paling      utama. Tidak lain dan tidak bukan, karena tauhid itulah kunci keberhasilan      suatu umat. Mereka diciptakan untuk bertauhid. Itu artinya, barangsiapa      yang tidak bertauhid maka dia telah menyelisihi fitrahnya dan meninggalkan      jalan Allah <em>ta&#8217;ala</em> menuju jalan kesesatan yang  menyeret pelakunya ke jurang kehancuran      dunia dan akherat <em>wal &#8216;iyadzu billah</em>. Maka pahamilah perkara ini      baik-baik wahai para aktifis dakwah dan para da&#8217;i&#8230; Jangan sampai kalian      pertaruhkan nasib umat ini di &#8216;meja perjudian&#8217; yang membuat mereka lalai      dari tujuan penciptaan dirinya.</li>
<li>Kezaliman itu bertingkat-tingkat. Ada kezaliman yang membuat      pelakunya sama sekali tidak mendapatkan keamanan dan petunjuk. Ada      pula kezaliman yang dampaknya tidak sampai separah kezaliman yang pertama,      dimana pelakunya masih dikatakan sebagai mukmin, meskipun dengan kualitas      iman yang rendah (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab al-Iman</em>, hal. 20, <em>Fath      al-Bari</em> [1/109,111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kezaliman yang melenyapkan keamanan dan petunjuk      secara menyeluruh adalah syirik kepada Allah. Inilah penafsiran dari ayat      82 dari surat al-An&#8217;am (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab Tafsir al-Qur&#8217;an</em>,      hal. 959). Barangsiapa yang menjadikan ibadah itu dipersembahkan kepada      selain Allah maka dia adalah sezalim-zalim pelaku kezaliman (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/206])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat menyadari bahwa semua      orang -pada umumnya- pasti tidak bisa luput dari kezaliman, minimal      kezaliman terhadap dirinya sendiri yaitu dengan bermaksiat kepada Allah <em>ta&#8217;ala, </em>meskipun tidak mencapai derajat kesyirikan.</li>
<li>Kata-kata <em>&#8216;bizhulmin&#8217;</em> (dengan kezaliman) dipahami oleh      para sahabat dengan maknanya yang umum yang meliputi segala jenis maksiat      dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mengingkari cara      pemahaman mereka itu. Hanya saja, beliau menjelaskan bahwa yang      dimaksudkan kezaliman dalam ayat ini adalah kezaliman yang paling berat      yaitu syirik. Sehingga kata &#8216;kezaliman&#8217; di sini tergolong sebagai ungkapan      umum namun yang dimaksudkan adalah maknanya yang khusus -<em>al &#8216;am urida      bihil khash</em>- (<em>Fath al-Bari</em> [1/109-110], lihat juga <em>Ma&#8217;alim      Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah</em>, hal. 419)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kemaksiatan -dosa besar ataupun      dosa kecil- bukanlah kekafiran -yang mengeluarkan dari agama-. Oleh sebab      itu Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab<em> &#8216;Zhulmun      duna zhulmin&#8217;</em> -kezaliman yang tidak mengeluarkan dari agama- di dalam <em>Kitab      al-Iman</em> dari shahihnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206], <em>Fath      al-Bari</em> [1/109]). Sehingga hadits ini mengandung bantahan bagi kaum      Khawarij yang menganggap bahwa pelaku dosa besar keluar dari Islam.      Demikian juga, ia mengandung bantahan bagi kaum Murji&#8217;ah yang menganggap      bahwa kemaksiatan tidak mempengaruhi keimanan.</li>
<li>&#8216;Prestasi&#8217; seorang hamba dalam mewujudkan keimanan (tauhid) di      dalam dirinya dan membersihkan diri dari segala bentuk kezaliman (terutama      syirik) akan mengangkat kedudukannya di sisi Allah <em>ta&#8217;ala</em>.      Sebagaimana predikat <em>Khalil ar-Rahman</em> -kekasih Allah- serta      &#8216;seorang imam yang patut dijadikan teladan&#8217; diberikan Allah kepada Nabi      Ibrahim <em>&#8216;alaihis salam</em> (lihat Shahih al-Bukhari, <em>Kitab Ahadits      al-Anbiya&#8217;</em>, hal. 700-702)</li>
<li>Syirik merupakan kezaliman yang sangat besar. Karena orang yang      berbuat syirik telah meletakkan ibadah tidak pada tempatnya. Ibadah yang      semestinya hanya dipersembahkan kepada Allah Yang Maha esa dalam hal      rububiyah-Nya, justru diberikan juga kepada makhluk-makhluk yang lemah dan      tak menguasai apa-apa. Ini menunjukkan bahwa orang musyrik tidak bersikap      hikmah dan juga tidak pandai bersyukur kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> atas      nikmat kehidupan yang diberikan kepadanya. Padahal, Allah sama sekali      tidak membutuhkan makhluk-Nya. Orang yang tidak bersyukur kepada Allah      -sementara tauhid itu merupakan bentuk syukur yang paling tinggi- pada      hakekatnya adalah orang yang takabur atau menyombongkan diri. (lihat      Shahih al-Bukhari, <em>Kitab Ahadits al-Anbiya&#8217;</em>, hal. 721)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi      wa sallam</em> memiliki peran yang sangat besar dalam menafsirkan al-Qur&#8217;an, bahkan hal itu      merupakan kewajiban utama yang beliau emban. Seandainya tidak ada beliau      maka manusia akan salah paham dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur&#8217;an,      sebagaimana yang dialami para sahabat ketika menyikapi makna ayat ke-82      dari surat al-An&#8217;am ini. Mereka menyangka bahwa syarat untuk memperoleh      ketentraman dan petunjuk itu adalah harus bersih dari segala bentuk      kezaliman, dan itu tentunya merupakan sesuatu yang sangat berat. Maka      muncullah peran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menjelaskan      maksud sebenarnya dari ayat tersebut (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab Tafsir      al-Qur&#8217;an</em>, hal. 1007)</li>
<li>Di dunia, orang musyrik -yang sebelumnya muslim- dihukumi      sebagai orang murtad alias halal darahnya. Sementara di akherat nanti      semua amal kebaikan mereka tidak ada artinya apa-apa. Oleh sebab itu Allah      menafikan keamanan dan hidayah dari orang-orang yang mencampuri keimanan mereka      dengan kezaliman (syirik) alias murtad (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab      Istitabatul Murtadin</em>, hal. 1388)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bolehnya -bagi Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>- untuk menunda keterangan setelah waktu turunnya      ayat. Namun, ketika keterangan itu diperlukan maka beliau wajib      menyampaikannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Tidak mungkin bersatu antara iman dan kekafiran secara lahir      dan batin. Oleh sebab itu setelah mencantumkan hadits ini di dalam <em>Kitab      al-Iman</em>, Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membawakan bab dengan judul      &#8216;ciri-ciri orang munafik&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa lafaz umum dimaknakan menurut      keumumannya sampai datang dalil lain yang mengkhususkannya (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa kemaksiatan tidak disebut sebagai      syirik (lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mempersekutukan      Allah barang sedikitpun maka dia akan mendapatkan keamanan dan hidayah. Lalu      bagaimana halnya dengan pelaku maksiat yang disiksa atau dihukum? Maka dia      juga tetap dikatakan sebagai orang yang mendapatkan keamanan ketika dibebaskan      kelak dari kekalnya siksa neraka dan pada akhirnya juga dibimbing masuk surga (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [1/111])</li>
<li>Hadits ini mengandung bantahan bagi kaum al-Qur&#8217;aniyun (baca:      Ingkar Sunnah) yang menolak hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em> serta mencukupkan diri dengan al-Qur&#8217;an.</li>
<li>Hadits ini mengandung peringatan dari bahaya menyelisihi Sunnah      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena hal itu pasti akan      menjerumuskan ke dalam kesesatan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kunci-keamanan-dan-hidayah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudaraku, Kemanakah Engkau Yang Dahulu?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 22:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1446</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -hafizhahullah- * [ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ] Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah subhaanahu wa ta’ala menunjuki seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -<em>hafizhahullah</em>- *</p>
<p><strong><em>[ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ]</em></strong></p>
<p><em>Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam</em></p>
<p>Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah <em>subhaanahu wa ta’ala</em> menunjuki seorang hamba untuk dapat mengenal Islam.<span id="more-116"> </span> Allah <em>ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (آل عمران )</strong></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman, tatkala (Allah) mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari golongan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka (dari kesyirikan, kebid’ahan, dan akhlak buruk lainnya [</em>Lihat <em>Taisir Karimirrahman]), dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah, meskipun sebelumnya, mereka dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran : 164)</em></p>
<p><em><span id="more-1446"></span></em></p>
<p>Bahkan nikmat hidayah Islam merupakan nikmat terbesar yang diterima seorang manusia dari Allah. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu </em>mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong> فالمهتدي هو العامل بالحق المريد له وهي اعظم نعمة لله على العبد</strong></p>
<p>“<em>Orang yang mendapatkan hidayah adalah orang yang beramal dengan kebenaran, dia menginginkan hidayah tersebut ada pada dirinya, dan <strong>ini</strong> <strong>merupakan anugerah Allah yang paling besar kepada seorang hamba</strong>.”(</em> <em>Miftah Dar As Sa’adah, Asy Syamilah)</em></p>
<p>Hidayah Islam akan membimbing hamba mengetahui kedudukan dirinya di hadapan Allah <em>ta’ala</em>. Hidayah Islam akan memahamkan hamba akan hakikat keberadaan dirinya di dunia. Hidayah Islam akan membawa hamba untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Rabbul ‘Alamin dan menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Sungguh… beruntunglah orang-orang yang berjalan di atas bumi ini, dengan bimbingan dan naungan hidayah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p><strong>[ Allah Perintahkan Manusia Meminta Hidayah ]</strong></p>
<p>Di setiap rakaat dalam sholat-sholat kita, bukankah Allah perintahkan kepada kita untuk membaca surat Al Fatihah??? Bukankah dalam salah satu ayat, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p><em>“(Ya Allah), berikanlah kepada kami hidayah menuju jalan yang lurus” (Al Fatihah : 6)</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun adalah orang yang senantiasa berdoa kepada Allah <em>ta’ala </em>memohong hidayah. Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca doa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى</strong></p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya <strong>aku meminta kepada-Mu hidayah</strong>, ketaqwaan, penjagaan diri, dan hati yang merasa cukup”(HR. Muslim, no. 2721)</em></p>
<p>Lihatlah bagaimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya meminta hidayah. Dan beliau adalah beliau, yang telah diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, dijamin oleh Allah <em>ta’ala</em> dengan jaminan surga. Lantas kita… ??? Di manakah kita dibandingkan dengan Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[ Akhi…Hargailah Nikmat yang Agung Ini ]</strong></p>
<p>Tatkala Allah <em>ta’ala </em>melunakkan hati seorang hamba untuk dapat menerima <em>al haq</em>, yang ketika itu mayoritas manusia menolaknya, maka sungguh…inilah anugerah terbesar dari Allah kepada hamba. Tidaklah kenikmatan ini didapatkan oleh semua manusia, Allah (dengan segala hikmah dan pengetahuan-Nya) hanyalah menunjuki hamba tertentu saja diantara hamba-hamba-Nya. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ</strong></p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Allah menyesatkan orang-orang yang Dia kehendaki dan Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki” (Fathir : </em></p>
<p>Namun terkadang banyak manusia lalai akan nikmat yang agung ini, lalai dan menyia-nyiakannya. Benih-benih hidayah yang dahulu pernah tumbuh dalam hatinya, benih hidayah yang dahulu seseorang bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah karenanya, merasakan manisnya hidup di atas sunnah… Ada sebagian manusia menelantarkan kenikmatan ini, seakan-akan mereka adalah orang yang belum pernah mengenal hidayah, kembali menjadi <em>awwam</em>.</p>
<p>Sungguh sangat dikhawatirkan apa yang menimpa kaum Yahudi, menimpa pula kepada mereka. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ</strong></p>
<p><em>“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah akan memalingkan hati mereka (dari kebenaran). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (As Shof : 5) </em></p>
<p>Saudaraku… Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun tidak mau mengikutinya. Merekalah orang yang dimurkai oleh Allah <em>‘azza wa jalla.</em></p>
<p>Syaikh As Sa’diy <em>rahimahullahu </em>mengatakan, <em>“Salah satu puncak kelancangan dan kesesatan adalah tatkala seorang manusia mengetahui kebenaran, lantas meninggalkannya. Mereka berpaling dari kebenaran dengan maksud dan keinginan mereka. Maka Allah ta’ala akan semakin memalingkan hati mereka dari kebenaran, sebagai hukuman bagi mereka, atas kesesatan yang mereka pilih. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka, karena mereka tidaklah pantas untuk menerima kebaikan, tidak pantas bagi mereka melainkan kebinasaan. </em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Beliau melanjutkan, <em>“Ayat ini, yaitu As Shof ayat 5, menunjukkan bahwa ketika Allah ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik, bukanlah berarti Allah dzolim kepada mereka. Tetapi, semua ini hanyalah disebabkan karena perbuatan mereka. Mereka sendirilah lah yang menutup pintu-pintu hidayah, setelah mereka mengilmuinya.”</em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Allah ta’ala telah berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ</strong></p>
<p><em> “Kami palingkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana pada awalnya mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran), dan Kami biarkan mereka bimbang dalam kesesatan” (Al An’am : 110)</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> [Akhi…Kemanakah Engkau yang Dahulu…???]</strong></p>
<p>Kita saksikan realita dengan mata kita, sebagaian saudara-saudara kita yang dahulu bersama kita mempelajari sunnah, yang dahulu sangat semangat mengamalkan sunnah, menggebu-gebu mendakwahkan sunnah, saat ini hanyut tertelan gelombang <em>fitnah</em>.</p>
<p>Jenggot yang dahulu menjadi kebanggaan, sekarang tinggallah menjadi kenangan. Pakaian syar’i yang dahulu engkau kenakan, celanamu yang dahulu di atas mata kaki, seiring berlalunya zaman, semakin memanjang, hingga menyapu jalanan.</p>
<p>Lupakah engkau, wahai saudaraku… bahwa kita dahulu pernah berlomba-lomba memenuhi seruan adzan? Lupakah engkau… bahwa kita dahulu sangat semangat menghadiri kajian-kajian? Bukankah engkau dahulu terhadap teman-teman perempuan selalu menjaga pandangan?</p>
<p>Saudariku, kemana jilbabmu yang engkau kenakan? Jilbabmu yang dahulu engkau banggakan, jilbab yang menutup sempurna, kini semakin mengecil, lantas menghilang. <strong>Saudaraku, kemanakah dirimu yang dahulu…?</strong></p>
<p>Sungguh, kita saksikan saat ini, betapa ganasnya fitnah yang melanda orang-orang yang beriman. Fitnah yang menyerang kaum muslimin.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا</strong></p>
<p><em>“Bersegeralah dalam beramal ketika datangnya fitnah, fitnah yang bagaikan potongan gelapnya malam, seorang yang beriman di pagi hari, menjadi kafir di sore hari atau seorang yang beriman di sore hari, menjadi kafir di pagi harinya, dia menukar agamanya dengan sebagian dari perhiasan dunia.”(HR. Muslim, no 328)</em></p>
<p>Tidaklah selamat dari fitnah ini melainkan dia yang ditunjuki oleh Allah untuk tegar menapak jalan kebenaran. <em>Fitnah</em> <em>syubhat</em> dan <em>fitnah</em> <em>syahwat</em>. Hanyalah kepada Allah, seorang hamba memohon hidayah. Allahu musta’an.</p>
<p>Allah <em>subhaanahu wa ta’ala </em>adalah Dzat yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Orang yang dahulu sangat semangat menyerukan sunnah, saat ini telah berubah menjadi seorang yang membenci sunnah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdoa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>“يا مقلب القلوب ! ثبت قلبي على دينك” . فقيل له في ذلك .فقال : إنه ليس آدمي إلا و قلبه بين إصبعين من أصابع الله ، فمن شاء أقام و من شاء أزاغ</strong><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Ya Allah, Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu”, kemudian ada yang bertanya tentang doa tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah anak Adam melainkan hatinya berada diantara dua jari dari jemari-jemari Allah. Siapa yang dikehendaki, Allah akan luruskan dia, dan siapa yang dikehendaki, Allah akan simpangkan dia.”(HR. Tirmidzi no. 3517, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini : Sanadnya Shahih)</em></p>
<p><em>Saudaraku…</em></p>
<p><em>Ini adalah sebatas nasehat … </em></p>
<p><em>Bagi kami…sebagai motivator supaya tegar berjalan melawan fitnah syubhat dan syahwat… </em></p>
<p><em>Bagi saudara-saudara kami… sebagai pengingat agar tetap istiqomah, hingga berjumpa Allah kelak di akhirat…</em></p>
<p><em>Terkhusus bagi saudara-saudara lama kami… yang dahulu kita pernah bersama…</em></p>
<p><em>Ini sebatas nasehat…</em></p>
<p><em>Karena agama tidaklah tegak melainkan dengan nasehat….</em></p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ad Dinnu An Nashihat”</em></p>
<p><em>Washolallahu ‘ala Nabiyina Muhammad…</em></p>
<p><em>***</em></p>
<p><em>Al Faqir ‘ila Maghfirati Rabbihi ‘Azza wa Jalla</em></p>
<p><a href="http://hanifnurfauzi.wordpress.com/" target="_blank"><em>Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi</em></a></p>
<p><em>______________________________________</em></p>
<p><em>Wisma Darus Shalihin, 16 Shafar 1431 H</em></p>
<p><em>*</em>Penulis adalah salah seorang mahasiswa UGM (Teknik Kimia) yang sekarang ini banyak berkecimpung dalam kegiatan keislaman, di antara aktivitasnya adalah: menjadi mudir/direktur Ma&#8217;had Bahasa Arab Umar bin Khattab yang dibina oleh <a href="http://ypia.or.id" target="_blank">Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</a>. Semoga Allah menjaga kami dan beliau dan memberikan keistiqomahan kepada kami dan beliau.   <em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Kegelapan Menuju Cahaya</title>
		<link>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 11:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1424</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta’ala berfirman, اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdari-kegelapan-menuju-cahaya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdari-kegelapan-menuju-cahaya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: right;">اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</p>
<p><em>“Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”</em> (QS. al-Baqarah: 257)</p>
<p><span id="more-1424"></span></p>
<p>al-Baghawi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">قوله تعالى: { اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا } ناصرهم ومعينهم</p>
<p><em>“Firman Allah ta’ala: Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman. Maknanya adalah Dia sebagai pembela dan pemberi bantuan kepada mereka.”</em> (<em>Ma’alim at-Tanzil</em> [1/315] asy-Syamilah)</p>
<p>al-Alusi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">{ يُخْرِجُهُم } بهدايته وتوفيقه</p>
<p><em>“Allah mengeluarkan mereka, yakni dengan hidayah dan taufik dari-Nya.”</em> (<em>Ruh al-Ma’ani</em> [2/324] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Jarir ath-Thabari <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">يخرجهم من ظلمات الكفر إلى نور الإيمان</p>
<p><em>“Maksudnya, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan.”</em> (<em>Jami’ al-Bayan</em> [5/424] asy-Syamilah)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;">عن الضحاك:&#8221;الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور&#8221;، الظلمات: الكفر، والنور: الإيمان &#8220;والذين كفروا أولياؤهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلى الظلمات&#8221;، يخرجونهم من الإيمان إلى الكفر</p>
<p><em>“Diriwayatkan dari adh-Dhahhak tentang ayat ‘Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya’ bahwa yang dimaksud dengan ‘kegelapan-kegelapan’ adalah kekafiran sedangkan ‘cahaya’ adalah keimanan. ‘Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan’ maksudnya mengeluarkan mereka dari keimanan menuju kekafiran.”</em> (<em>Jami’ al-Bayan</em> [5/425] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">والظلمات : الضلالة ، والنور : الهدى ، والطاغوت : الشياطين</p>
<p><em>“Yang dimaksud dengan kegelapan-kegelapan adalah kesesatan, sedangkan yang dimaksud dengan cahaya adalah petunjuk. Adapun thaghut yaitu syaitan-syaitan.” </em>(<em>Zaad al-Masiir</em> [1/263] asy-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">وحد تعالى لفظ النور وجمع الظلمات؛ لأن الحق واحد والكفر أجناس كثيرة وكلها باطلة</p>
<p><em>“Allah ta’ala menyebutkan lafal cahaya dalam bentuk tunggal dan menyebutkan kegelapan dalam bentuk plural/jamak, hal itu dikarenakan kebenaran itu satu sedangkan kekafiran itu banyak ragamnya dan seluruhnya adalah kebatilan.”</em> (<em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em> [1/685] asy-Syamilah)</p>
<p>asy-Syinqithi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">وهذه الآية يفهم منها أن طرق الضلال متعددة . لجمعه الظلمات وأن طريق الحق واحدة . لإفراده النور</p>
<p><em>“Dari ayat ini dapat dipahami bahwasanya jalan-jalan kesesatan itu banyak, karena Allah menyebutkan kegelapan dalam bentuk jamak. Adapun jalan kebenaran hanya satu, karena Allah menyebutkan cahaya dalam bentuk tunggal/mufrad.”</em> (<em>Adhwa’ al-Bayan</em> [1/186] asy-Syamilah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dari-kegelapan-menuju-cahaya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salafiyah di Nigeria (Audio)</title>
		<link>http://abumushlih.com/salafiyah-di-nigeria-audio.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/salafiyah-di-nigeria-audio.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 08:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Nigeria]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1395</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, berikut ini link halaman download rekaman sebuah dialog yang dilakukan oleh Syaikh Hamd bin Abdul Aziz al-Atiq hafizhahullah bersama beberapa ikhwah di Nigeria yang mendapatkan karunia petunjuk dari Allah untuk mengikuti manhaj salaf -semoga Allah meneguhkan kita di atasnya-. Bagi yang ingin silahkan mendengarkannya, semoga bermanfaat&#8230; Halaman Download (islamancient.com)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsalafiyah-di-nigeria-audio.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsalafiyah-di-nigeria-audio.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillah, berikut ini link halaman download rekaman sebuah dialog yang dilakukan oleh Syaikh Hamd bin Abdul Aziz al-Atiq <em>hafizhahullah</em> bersama beberapa <em>ikhwah</em> di Nigeria yang mendapatkan karunia petunjuk dari Allah untuk mengikuti manhaj salaf -semoga Allah meneguhkan kita di atasnya-.</p>
<p>Bagi yang ingin silahkan mendengarkannya, semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p><span id="more-1395"></span><a href="http://islamancient.com/lectures,item,784.html" target="_blank"><strong>Halaman Download</strong></a> (islamancient.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/salafiyah-di-nigeria-audio.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidayah Itu Mahal, Ya Akhi&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/hidayah-itu-mahal-ya-akhi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/hidayah-itu-mahal-ya-akhi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 11:40:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ajal]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[Hidayah adalah kebutuhan hidup manusia yang paling utama. Bagaimana tidak, lha wong setiap hari di setiap kali sholat -bahkan di setiap raka&#8217;at- orang-orang yang beriman senantiasa diperintahkan untuk meminta hal itu kepada Rabbnya. Ihdinash shirathal mustaqim&#8230; Meskipun demikian, kita dapati sebagian orang -bahkan banyak di antara mereka- yang menyepelekan hidayah yang agung ini atau menyia-nyiakannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhidayah-itu-mahal-ya-akhi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhidayah-itu-mahal-ya-akhi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hidayah adalah kebutuhan hidup manusia yang paling utama. Bagaimana tidak,<em> lha wong</em> setiap hari di setiap kali sholat -bahkan di setiap raka&#8217;at- orang-orang yang beriman senantiasa diperintahkan untuk meminta hal itu kepada Rabbnya. <em>Ihdinash shirathal mustaqim&#8230;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Meskipun demikian, kita dapati sebagian orang -bahkan banyak di antara mereka- yang menyepelekan hidayah yang agung ini atau menyia-nyiakannya. Betapa banyak di antara mereka yang telah diberikan hidayah oleh Allah untuk memeluk agama Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat, menjalankan sholat, membayarkan zakat, berpuasa Ramadhan, bahkan bisa menunaikan ibadah haji ke<em> Baitullah</em>. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit di antara mereka yang tidak menyadari betapa besar anugerah yang Allah berikan kepada mereka. Akibatnya mereka pun menyia-nyiakan nikmat yang agung ini. Nikmat hidayah, <em>Subhanallah!</em></p>
<p><em><span id="more-1194"></span></em></p>
<p>Saudaraku, kisah berikut ini mungkin akan menyadarkan mereka yang lalai akan nikmat yang agung ini. Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Shahih mereka berdua, dari Sa&#8217;id bin al-Musayyab dari bapaknya, bahwa pada saat kematian sudah hampir menemui Abu Thalib -paman Nabi- maka datanglah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menemuinya. Namun ternyata di sisi pamannya itu telah dijumpainya Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan, <em>“Wahai pamanku, ucapkanlah la ilaha illallah, sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untukmu di sisi Allah.”</em> Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu benci kepada ajaran Abdul Muthallib -ayahmu-?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan ajakan itu kepada pamannya dan mengulang-ulang ucapan tadi. Sampai pada akhirnya Abu Thalib mengatakan di akhir pembicaraannya kepada mereka bahwa dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan la ilaha illallah&#8230; (lihat <em>Syarh Muslim li an-Nawawi</em> [2/60-61])</p>
<p>Dari kisah ini kita dapat mengetahui betapa tinggi dan mahalnya nilai hidayah. Siapakah Nabi Muhammad dan siapakah Abu Thalib? Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah seorang utusan Allah yang malaikat pun bersedia menawarkan bantuan kepadanya atas izin Allah. Adapun Abu Thalib adalah pamannya sendiri yang selama hidup senantiasa membela Nabi dan melindunginya dari tekanan dan ancaman kaum kafir Quraisy. Meskipun demikian, lihatlah&#8230; bagaimana kondisinya menjelang ajal. Di saat semua orang membutuhkan keimanan, di saat itu pun ternyata kalimat tauhid pun tidak kunjung dia ucapkan. Dia enggan, padahal dia telah mengetahui bahwa ajaran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah kebenaran. Taufik di tangan Allah.</p>
<p>Hati manusia -<em>ayyuhal ikhwah</em>- berada di antara jari-jemari ar-Rahman yang Allah akan membolak-balikkannya sebagaimana yang Allah kehendaki. Apakah kita merasa aman dari <em>su&#8217;ul khatimah</em>? <em>Subhanallah</em>&#8230; Ingatlah, bahwa kita tidak akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus kecuali dengan nikmat hidayah dari Allah, bahkan kita tidak bisa menemukan jalan yang lurus itu kalau seandainya Allah tidak membimbing kita menujunya. Maka sadarilah nikmat yang agung ini, dan hargailah ia sebagaimana mestinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang sahabat di dalam sya&#8217;irnya,</p>
<p><em>“Kalau bukan karena Allah niscaya</em></p>
<p><em>kami tidak mendapatkan hidayah,</em></p>
<p><em>dan tidak menunaikan sholat&#8230;”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sungguh, sebuah kisah yang menyimpan banyak pelajaran berharga. Di antara pelajaran dari hadits di atas adalah:</p>
<ol>
<li>Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak      menguasai pemberian hidayah/taufik, bagi dirinya sendiri apalagi bagi      orang lain. Demikian juga pemberian syafa&#8217;at, bukan milik beliau!      (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan      hidayah kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang kuasa      memberikan hidayah kepada orang yang Allah kehendaki&#8230;”</em> (QS.      al-Qashash: 56)</li>
<li>Tingginya semangat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em> dalam berupaya menyampaikan hidayah ke dalam hati orang yang      didakwahi terlebih lagi jika mereka adalah sanak familinya sendiri      (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Kisah ini menunjukkan besarnya keutamaan tauhid.      Oleh sebab itu kita tidak boleh sedikitpun mempersembahkan doa/ibadah      kepada selain Allah (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di      Kaliurang)</li>
<li>Datangnya taufik itu semata-mata bersumber dari      Allah (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Kedudukan Nabi tidak boleh ditinggikan melebihi      kedudukan Allah (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di      Kaliurang)</li>
<li>Menceritakan kekafiran yang dilakukan orang lain      tidak selayaknya menggunakan kata ganti pertama -saya- (Keterangan Syaikh      Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Meskipun kalimat tauhid itu ringan dan mudah      diucapkan, namun ternyata tidak bisa mengucapkannya melainkan orang yang      mendapatkan taufik dari Allah <em>ta&#8217;ala</em> (Keterangan Syaikh Walid dalam      Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Keluarga dan persahabatan itu memiliki pengaruh      terhadap agama seseorang (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih      Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Orang yang meninggal di atas kemusyrikan maka dia      akan berada kekal di neraka Jahannam. Dan dia dihukumi sebagai orang yang      berhak masuk neraka/ash-haabul jahiim (Keterangan Syaikh Walid dalam      Daurah Shahih Muslim di Kaliurang). Semoga Allah menyelamatkan kita      darinya&#8230;</li>
<li>Disyari&#8217;atkannya menuntun orang yang sekarat/akan      meninggal untuk mengucapkan la ilaha illallah, yaitu dengan      memerintahkannya mengucapkan la ilaha illallah sebagaimana yang dilakukan      oleh Nabi, bukan hanya sekedar mengingatkannya -tanpa memerintah-      (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Bolehnya mendoakan agar orang-orang musyrik mendapatkan      hidayah (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Disyari&#8217;atkannya menyambung tali kekerabatan      meskipun dengan saudara yang kafir (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah      Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Diperbolehkannya menjenguk orang kafir yang sakit      dengan maksud mendakwahi atau menarik simpati mereka supaya masuk Islam      (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
</ol>
<p>Hidayah ini mahal wahai saudaraku&#8230;</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah mengingatkan kita bahwa jalan yang lurus ini adalah jalan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah, bukan jalan semua orang yang mencarinya. Ini artinya, orang hanya akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus ini jika dia diberikan nikmat taufik dari Allah<em> ta&#8217;ala</em>, bukan semata-mata hasil jerih payah dan usaha dirinya sendiri. Hidayah itu adalah nikmat, <em>ikhwah</em> sekalian&#8230;</p>
<p>Lihatlah, berapa banyak kita saksikan sebagian orang yang dulunya punya komitmen dengan ajaran agama dan menampakkan diri sebagai seorang yang bermanhaj lurus, namun perjalanan hidup dan dunia kerja telah merubah dirinya. Jilbabnya yang dulu lebar dan rapat kini menjadi menjadi sempit dan ketat. Jenggotnya yang dulu lebat kini pun habis dibabat. Celananya yang dulu berada di atas mata kaki, kini telah terjuntai menyapu bumi. Sholat lima waktunya yang dulu berjama&#8217;ah kini pun cukup di rumah. Matanya yang dulu tertunduk ketika melihat lawan jenis kinipun tertengadah. Telinganya yang dulu benci mendengar musik, kini telah larut dalam alunan nada-nadanya&#8230; <em>Subhanallah</em>! Bagaimanakah nasib kita, saudara-saudaraku sekalian&#8230; Akankah kita berbalik ke belakang, kembali ke alam kejahiliyahan&#8230;? Padahal anugerah hidayah itu telah kita jumpai, namun sayang seribu sayang kita sering melalaikan dan menyia-nyiakannya, <em>nas&#8217;alullahat taufiq was salamah..</em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman niscaya Kami akan membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan yang dipilihnya, dan kelak Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 115). Allah <em>ta&#8217;ala</em> memerintahkan (yang artinya), <em>“Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.”</em> (QS. al-Baqarah: 152).</p>
<p>Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa&#8217;i dan Abu Dawud, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, <em>“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu -karena Allah- janganlah kau lupakan untuk membaca doa di setiap akhir sholat, yaitu: Allahumma a&#8217;inni &#8216;ala dzikrika wa syukrika wa husni &#8216;ibadatik &#8216;Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu&#8217;.”</em> (Hadits ini disahihkan al-Albani dalam <em>Shahih Sunan Abu Dawud</em>, lihat takhrij kitab <em>al-Fawa&#8217;id</em> cet. Dar al-&#8217;Aqidah hal. 124)</p>
<p>Kami sadar bahwa apa yang kami tulis ini sangat jauh dari kesempurnaan, namun hanya satu yang kami harapkan bahwa tulisan ini bisa mengetuk hati kita semua untuk segera kembali bertaubat kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari segala kesalahan dan penyimpangan kita. Ingatlah, <em>ya akhi</em>&#8230; kematian pasti tiba di hadapan kita. Sementara kita tidak tahu, kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Oleh sebab itu marilah kita hiasi nafas-nafas kita dengan dzikir kepada-Nya. Marilah kita isi hati kita dengan cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Marilah kita tundukkan lisan dan anggota badan kita untuk taat kepada Rabb penguasa alam semesta, Raja yang menguasai hari pembalasan. Masih ada waktu untuk berbenah, mumpung badan belum berkalang tanah&#8230; Allah<em> ta&#8217;ala</em> masih memberikan kesempatan bagi kita untuk bersimpuh di hadapan-Nya dan menyesali dosa-dosa kita di masa silam.</p>
<p>Marilah kita perbanyak membaca sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada manusia terbaik sesudahnya yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>ketika dia meminta kepada Nabi untuk diajari doa di dalam sholat dan ketika sedang berada di rumah. <em>&#8216;Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsiran wa la yaghfirudz dzunuba illa anta. Faghfirli maghfiratan min &#8216;indik warhamni. Innaka antal Ghafurur Rahim.&#8217;</em> <em>Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, sementara tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain diri-Mu. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan sayangilah aku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim li an-Nawawi</em> [8/296])</p>
<p>Akhir seruan kami adalah segala puji hanya bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Salawat beriring salam semoga selalu tercurah kepada Nabi akhir zaman, para sahabatnya, dan segenap pengikut mereka yang setia dengan Sunnahnya.</p>
<p>Yogyakarta, 4 Dzulqo&#8217;dah 1430 H<br />
Yang sangat membutuhkan bimbingan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
<em>-semoga Allah menunjukinya-</em></p>
<p>http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/hidayah-itu-mahal-ya-akhi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meminta Petunjuk Jalan Yang Lurus</title>
		<link>http://abumushlih.com/meminta-petunjuk-jalan-yang-lurus.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/meminta-petunjuk-jalan-yang-lurus.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 16:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Shirathal Mustaqim]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir al-Fatihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=998</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, ”Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmeminta-petunjuk-jalan-yang-lurus.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmeminta-petunjuk-jalan-yang-lurus.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, <em>”Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia terus berada di atasnya…”</em> (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, I/37)</p>
<p><span id="more-998"></span></p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Ayat ini -ihdinash shirathal mustaqim- mengandung penjelasan bahwa sesungguhnya hamba tidak akan mendapatkan jalan untuk menggapai kebahagiaannya kecuali dengan tetap istiqamah di atas jalan yang lurus. Dan tidak ada jalan untuk meraih keistiqamahan baginya kecuali dengan hidayah dari Rabbnya kepada dirinya. Sebagaimana tidak ada jalan baginya untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya, maka demikian pula tidak ada jalan baginya untuk bisa istiqamah di atas jalan tersebut kecuali dengan hidayah dari-Nya.” (Al Fawa’id, hal. 21).</p>
<p>Syaikhul Islam rahimahullah berkata :<br />
Seorang hamba senantiasa memerlukan hidayah Allah untuk meniti jalan yang lurus. Maka dari itu dia sangat memerlukan tercapainya maksud di balik doa ini (yaitu ‘ihdinash shirathal mustaqim’). Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari azab dan bisa menggapai kebahagiaan kecuali dengan hidayah ini. <strong>Barangsiapa yang kehilangan hidayah maka dia akan termasuk golongan orang yang dimurkai atau golongan orang yang sesat</strong>. Dan petunjuk ini tidak akan diraih kecuali dengan taufik dari Allah. Ayat ini pun menjadi salah satu senjata pembantah kesesatan mazhab Qadariyah.</p>
<p>Adapun pertanyaan orang : ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah kepada mereka (umat Islam) oleh sebab itu mereka tidak perlu meminta hidayah’ beserta jawaban orang untuk pertanyaan itu bahwa ‘yang dimaksud dengan ayat ini adalah permintaan agar hidayah itu terus menerus menyertai hamba’, maka itu semua merupakan ucapan orang yang tidak memahami hakekat hukum sebab akibat dan tidak mengerti isi perintah Allah. Karena sesungguhnya hakekat jalan yang lurus (shirathal mustaqim) itu adalah seorang hamba melakukan perintah Allah yang tepat di setiap waktu yang dijalaninya baik hal itu ilmu maupun amal, dan dia tidak menerjang larangan Allah.</p>
<p>Nah, hidayah semacam ini sangat diperlukan di setiap saat agar bisa berilmu dan beramal sebagaimana apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan larangan-Nya pada kesempatan tersebut. Dan hidayah itu pun dibutuhkan hamba agar bisa memiliki tekad yang bulat dalam rangka menjalankan perintah. Demikian pula halnya diperlukan rasa benci yang amat dalam agar bisa meninggalkan hal-hal yang dilarang. Apalagi ilmu dan tekad yang lebih spesifik ini sulit terbayang bisa dimiliki seseorang di saat yang sama.</p>
<p><strong>Bahkan di sepanjang waktu hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah untuk mengaruniakan ilmu dan tekad ke dalam hatinya sehingga dia akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus</strong>.</p>
<p>Memang benar, bahwa seorang muslim telah memperoleh petunjuk global yang menerangkan bahwa Al-Qur’an adalah haq, Rasul pun haq dan agama Islam adalah benar. Anggapan itu memang benar. Akan tetapi petunjuk yang masih bersifat global ini belumlah cukup baginya apabila dia tidak mendapatkan petunjuk yang lebih rinci dalam menyikapi segala perkara juz’iyaat (persoalan cabang) yang diperintahkan kepadanya dan dilarang darinya dimana mayoritas akal manusia mengalami kebingungan dalam hal itu. Sehingga hawa nafsu dan syahwat mengalahkan diri mereka dikarenakan hawa nafsu dan syahwat itu telah mendominasi akal-akal mereka.</p>
<p>Pada asalnya manusia itu tercipta sebagai makhluk yang suka berbuat zalim lagi bodoh. Sehingga sejak dari permulaan manusia itu memang tidak punya ilmu dan cenderung melakukan hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsunya yang buruk. Oleh sebab itu dia selalu membutuhkan ilmu yang lebih rinci untuk bisa mengikis kebodohan dirinya. Selain itu dia juga memerlukan sikap adil dalam mengendalikan rasa cinta dan benci, dalam mengendalikan ridha dan marah, dalam mengendalikan diri untuk melakukan dan meninggalkan sesuatu, dalam mengendalikan diri untuk memberikan dan tidak kepada seseorang, dalam hal makan dan minumnya, dalam kondisi tidur dan terjaga.</p>
<p>Maka<strong> segala sesuatu yang hendak diucapkan atau dilakukannya membutuhkan ilmu yang menyingkap kejahilannya dan sikap adil yang menyingkirkan kezalimannya</strong>. Apabila Allah tidak menganugerahkan kepadanya ilmu serta sikap adil yang lebih rinci -sebab jika tidak demikian- maka di dalam dirinya tetap akan tersisa kebodohan dan kezaliman yang akan menyeretnya keluar dari jalan yang lurus.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman terhadap Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah terjadinya perjanjian Hudaibiyah dan Bai’at Ridhwan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata.” hingga firman-Nya, “Dan Allah menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath : 1-2). Kalau keadaan beliau di akhir hidupnya atau menjelang wafatnya saja seperti ini (tetap memerlukan hidayah-pent) lalu bagaimanakah lagi keadaan orang selain beliau ?<br />
[Majmu’ Fatawa. Islamspirit.com]</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, ”Jalan yang lurus ini adalah jalannya orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalannya para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalannya orang yang dimurkai, yang mereka mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 39).</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al ‘Ankabut [29] : 69).</p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, ”Allah subhanahu mengaitkan hidayah dengan jihad (kesungguh-sungguhan). Maka <strong>orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya</strong> dan jihad yang paling wajib adalah berjihad untuk menundukkan diri sendiri, melawan hawa nafsu, memerangi syaitan, dan menundukkan urusan keduniaan. Barang siapa yang berjihad melawan keempat hal ini di atas petunjuk Allah maka Allah akan menunjukkan kepada-Nya berbagai jalan untuk menggapai keridhaan-Nya dan akan mengantarkan dirinya menuju ke dalam surga-Nya. Dan barang siapa yang meninggalkan jihad, maka akan luput pula darinya petunjuk sebanding dengan jihad yang ditinggalkannya. Al Junaid mengatakan,”Orang-orang yang berjihad menundukkan hawa nafsu mereka di atas jalan Kami dengan senantiasa bertaubat, maka Kami akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan keikhlasan, dan tidak mungkin sanggup berjihad menghadapi musuh fisik yang ada di hadapannya kecuali orang yang telah berjihad menundukkan musuh-musuh ini di dalam dirinya…” (Al Fawa’id, hal. 58).</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Qashash [28] : 50).</p>
<p>Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa <strong>semua orang yang tidak mau memenuhi seruan Rasul dan justru menganut pendapat yang menyelisihi ucapan Rasul maka dia tidaklah bermadzhabkan bimbingan hidayah akan tetapi madzhabnya adalah hawa nafsu</strong>. Orang-orang yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang kezaliman telah menjadi karakter hidupnya dan suka menentang (kebenaran) telah melekat dalam perangainya. Ketika hidayah menyapa, mereka justru menolaknya. Mereka lebih senang menuruti kemauan hawa nafsunya. Mereka sendirilah yang menutup pintu-pintu dan jalan menuju hidayah. Mereka justru membuka pintu-pintu kesesatan dan jalan menuju ke sana. Mereka menutup mata dan tidak mau tahu, padahal mereka telah tenggelam dalam kesesatan dan penyimpangan. Mereka terombang-ambing, hidup di ambang kehancuran (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 618).</p>
<p>Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitana, wa hablanaa min ladunka rahmah. Innaka anta al-Wahhaab [lihat doa ini dalam QS. Ali Imran : 8].</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/meminta-petunjuk-jalan-yang-lurus.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
