<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Ibadah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/ibadah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kajian al-Qur’an (1-20 Ramadhan 1431 H)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 02:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Pogung]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1909</guid>
		<description><![CDATA[Menggali Makna Al-Qur’an di Bulan Ramadhan (Seri Kajian Tafsir Masjid Al-Ashri) Panduan: Kitab Durus minal Qur’an Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullah- Kitab Rujukan: Durus Minal Qur’an, Syaikh Shalih Al-Fauzan Peserta tidak diharuskan bisa membaca kitab gundul (tanpa harokat). Pemateri: Ustadz Aris Munandar (ustadzaris.com) Hari: 1-20 Ramadhan 1431 H Waktu: 05.30 – 07.15 WIB Tempat: Masjid Al-Ashri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-al-qur%25e2%2580%2599an-1-20-ramadhan-1431-h.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-al-qur%25e2%2580%2599an-1-20-ramadhan-1431-h.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>Menggali Makna Al-Qur’an di Bulan Ramadhan</strong></p>
<p><strong>(Seri Kajian Tafsir Masjid Al-Ashri)</strong></p>
<p><span id="more-1909"></span>Panduan: Kitab Durus minal Qur’an Syaikh Shalih Al-Fauzan -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<ul>
<li><img title="القرآن الكريم" src="http://www.islamacademy.net/UserFiles/quran.jpg" alt="" width="113" height="109" />Kitab Rujukan: <strong>Durus Minal Qur’an</strong>, Syaikh Shalih Al-Fauzan</li>
</ul>
<blockquote><p>Peserta tidak diharuskan bisa membaca kitab gundul (tanpa harokat).</p></blockquote>
<ul>
<li>Pemateri: <strong>Ustadz Aris Munandar</strong> (<a href="http://ustadzaris.com/" target="_blank">ustadzaris.com</a>)</li>
</ul>
<ul>
<li>Hari: <strong>1-20 Ramadhan 1431 H</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Waktu: <strong>05.30 – 07.15 WIB</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Tempat: <strong>Masjid Al-Ashri Pogung Rejo, Sinduadi Mlati Sleman, Yogyakarta<br />
</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Informasi: Takmir Masjid Al-Ashri (<a href="http://al-ashree.com/" target="_blank">al-ashree.com</a>)</li>
</ul>
<ul>
<li>Harga Kitab: <strong>Rp 78.000,00</strong> (bagi yang memesan kitab)</li>
</ul>
<ul>
<li>Insya Allah, kajian ini akan disiarkan <em><strong>LIVE</strong></em><em><strong> </strong></em> via <a href="http://radiomuslim.com/" target="_blank"><strong>radiomuslim.com</strong></a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kajian-al-qur%e2%80%99an-1-20-ramadhan-1431-h.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Meraih Ampunan</title>
		<link>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 04:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1907</guid>
		<description><![CDATA[Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat. Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ditemui. Sehingga hal itu menyebabkan seorang hamba harus waspada, karena tatkala dia telah merasa taubatnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat.</p>
<p><span id="more-1907"></span></p>
<p>Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ditemui. Sehingga hal itu menyebabkan seorang hamba harus waspada, karena tatkala dia telah merasa taubatnya diterima, kemudian -pada akhirnya- perasaan itu justru menyeret dirinya terjerumus ke dalam lembah dosa yang lainnya, <em>wal &#8216;iyadzu billah!</em></p>
<p>Ketahuilah saudaraku, bahwa tauhid yang bersih merupakan kunci untuk meraih ampunan. Namun, hal ini tidaklah sesederhana dan semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut:</p>
<p>[1] Orang yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar atau tidak bertaubat darinya maka dia pasti masuk neraka.</p>
<p>[2] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih terkotori dengan syirik kecil sementara kebaikan-kebaikannya ternyata lebih berat daripada timbangan keburukannya maka dia pasti masuk surga.</p>
<p>[3] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih memiliki syirik kecil sedangkan keburukan/dosanya justru lebih berat dalam timbangan maka orang itu berhak masuk neraka namun tidak kekal di sana (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 44)</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dan dia menghasankannya)</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan syarat untuk bisa meraih ampunan Allah<em> ta&#8217;ala</em>. Syaikh Abdurrahman bin Hasan <em>rahimahullah</em> berkata mengomentari hal ini, <em>“Ini adalah <strong>syarat yang berat</strong> untuk bisa mendapatkan janji itu yaitu curahan ampunan. Syaratnya adalah <strong>harus bersih dari kesyirikan, banyak maupun sedikit</strong>. Sementara tidak ada yang bisa selamat/bersih darinya kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah ta&#8217;ala. Itulah hati yang selamat sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), “Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara: 88-89</strong>).”</em> (<em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 53-54)</p>
<p>Namun -sebagaimana sudah disinggung di atas- keutamaan ini hanya akan bisa diperoleh bagi orang yang bersih tauhidnya. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“&#8230;Seandainya ada seorang yang bertauhid dan sama sekali tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa hampir seisi bumi, maka Allah pun akan menemuinya dengan ampunan sepenuh itu pula. Namun <strong>hal itu tidak akan bisa diperoleh bagi orang yang cacat tauhidnya</strong>. Karena sesungguhnya tauhid yang murni yaitu yang tidak tercemari oleh kesyirikan apapun maka ia tidak akan menyisakan lagi dosa. Karena ketauhidan semacam itu telah memadukan antara kecintaan kepada Allah, pemuliaan dan pengagungan kepada-Nya serta rasa takut dan harap kepada-Nya semata, yang hal itu menyebabkan <strong>tercucinya dosa-dosa, meskipun dosanya hampir memenuhi isi bumi</strong>. Najis yang datang sekedar menodai, sedangkan faktor yang menolaknya sangat kuat.”</em> (Dinukil dari <em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 54-55)</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung keterangan bahwa kandungan makna <em>la ilaha illallah</em> yang bisa lebih berat timbangannya daripada semua makhluk dan semua dosa. Kandungan maknanya yaitu <strong>wajib meninggalkan syirik dalam jumlah banyak maupun sedikit</strong>. Hal itu pasti membuahkan ketauhidan yang sempurna. <strong>Tidak mungkin bisa bersih dari syirik kecuali bagi orang yang benar-benar merealisasikan tauhidnya</strong> serta mewujudkan konsekuensi dari kalimat ikhlas (syahadat) yang berupa ilmu, keyakinan, kejujuran, keikhlasan, rasa cinta, menerima, tunduk patuh dan lain sebagainya yang menjadi konsekuensi kalimat yang agung itu (lihat<em> Qurrat al-&#8217;Uyun al-Muwahhidin</em>, hal. 22).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang mengucapkannya -la ilaha illallah- dengan penuh keikhlasan dan kejujuran maka dia <strong>tidak akan terus-menerus berkubang dalam kemaksiatan-kemaksiatan</strong>. Karena keimanan dan keikhlasannya yang sempurna menghalangi dirinya dari terus-menerus berkubang dalam maksiat. Oleh sebab itu dia akan bisa masuk surga sejak awal bersama dengan rombongan orang-orang yang langsung masuk surga.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21)</p>
<p>Hadits di atas juga menunjukkan bahwa tauhid <strong>tidak cukup di lisan</strong>. Namun tauhid juga menuntut seorang hamba untuk <strong>menunaikan kewajiban serta meninggalkan kemaksiatan</strong>. Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa barangsiapa yang mempersaksikannya -kalimat tauhid- namun dia mencemarinya dengan perbuatan dosa dan kemaksiatan, atau dia sekedar mengucapkannya dengan lisan sementara hati atau amalannya berbuat syirik seperti halnya orang-orang munafik maka orang semacam ini ucapan syahadatnya tidak bermanfaat. Akan tetapi yang semestinya dia lakukan adalah mengucapkannya kemudian meyakininya dengan kuat, melaksanakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan serta mengikuti tuntunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 20).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang dilarang maka itu berarti dia telah berani menawarkan dirinya untuk menerima hukuman Allah ta&#8217;ala meskipun dia mengucapkan kalimat ini dan meyakininya. Apabila dia melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya maka berubahlah dia menjadi orang yang murtad dan kafir. Syahadat ini tidak lagi bermanfaat untuknya. Oleh sebab itu kalimat ini <strong>harus diwujudkan dalam kenyataan</strong> dan mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya, kalau tidak demikian maka dia berada dalam bahaya besar seandainya dia tidak kunjung bertaubat.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 26).</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung motivasi (<em>targhib</em>) dan peringatan (<em>tarhib</em>). Ini merupakan motivasi agar orang mau <strong>berjuang keras membersihkan tauhidnya dari kotoran syirik dan kemaksiatan</strong>, karena Allah menjanjikan ampunan yang demikian besar bagi orang yang murni tauhidnya. Dan ini sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang selama ini tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan agar waspada dan takut kalau-kalau ternyata di akhir hidupnya mereka tidak tergolong orang yang bersih tauhidnya.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Seandainya Allah mau menyiksa manusia -di dunia- sebagai hukuman atas dosa yang mereka perbuat niscaya tidak akan Allah sisakan di atas muka bumi ini seekor binatang melatapun. Akan tetapi Allah menunda hukuman itu untuk mereka hingga waktu yang telah ditentukan. Maka apabila telah datang saatnya sesungguhnya Allah Maha melihat semua hamba-Nya.”</em> (<strong>QS. Fathir: 45</strong>). Imam Ibnu Katsir<em> rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya adalah seandainya Allah menyiksa mereka sebagai hukuman atas semua dosa yang mereka perbuat niscaya Allah akan menghancurkan semua penduduk bumi dan segala binatang dan rezeki yang mereka miliki.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/362])</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwasanya para pelaku maksiat itu sangat berresiko dijatuhi ancaman siksa dan mereka akan masuk ke neraka lalu mereka akan dikeluarkan darinya dengan syafa&#8217;at para nabi dan yang lainnya. Hal itu dikarenakan mereka telah melemahkan tauhid mereka dan mencemarinya dengan kemaksiatan-kemaksiatan.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan <strong>membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid&#8217;ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan</strong>. Hal itu akan tercapai dengan cara menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah.”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 20)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa <strong>merealisasikan <em>la ilaha illallah</em> adalah sesuatu  yang sangat sulit</strong>. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata: <strong><em>&#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;</em></strong>. Sebagian salaf juga mengatakan: <em>&#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;</em>. Dan tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, maka dia tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai keikhlasan.</p>
<p>Oleh sebab itu, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, <em>&#8216;Orang-orang Yahudi mengatakan: Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat&#8217;</em>. Maka beliau menjawab: <em>&#8216;Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?&#8217;</em> Setan tidak akan repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur -dengan iman-.</p>
<p>Oleh sebab itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang terasa berat dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, <em>&#8216;Benarkah kalian merasakan hal itu?&#8217;</em>. Mereka menjawab, <em>&#8216;Benar&#8217;</em>. Beliau pun bersabda, <em>&#8216;Itulah kejelasan iman&#8217;</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Artinya hal itu merupakan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan keimanan kalian, karena perasaan itu muncul dalam dirinya sementara hal itu tidak akan muncul kecuali pada hati yang lurus dan bersih (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/38])</p>
<p>Keikhlasan -yang hal ini merupakan intisari dari ajaran tauhid- merupakan sesuatu yang membutuhkan <strong>perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu</strong>. Sahl bin Abdullah berkata, <em>“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 26).</p>
<p>Dan sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 143).</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Binasalah hamba Dinar! Celakalah hamba Dirham! Celakalah hamba khamisah (sejenis kain)! Celakalah hamba khamilah (sejenis model pakaian)! Apabila diberi dia merasa senang, dan apabila tidak diberi maka dia murka. Celaka dan merugilah dia!”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa sebagian manusia ada yang <strong>cita-cita hidupnya hanya untuk mendapatkan dunia</strong> dan perkara itulah yang paling dikejar olehnya. Itulah tujuan pertama dan terakhir yang dicarinya. Maka kalau ada orang semacam ini niscaya akhir perjalanan hidupnya adalah kebinasaan dan kerugian (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 331).</p>
<p>Itulah sosok pengejar dunia, yang rasa senang dan bencinya dikendalikan oleh hawa nafsunya (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 241). Maka barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai puncak urusan dan akhir cita-citanya pada hakekatnya dia telah mengangkatnya sebagai sesembahan tandingan bagi Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 332)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagaimanakah pendapatmu mengenai orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan?” </em>(<strong>QS. al-Furqan: 43</strong>).</p>
<p>Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali <em>hafizhahullah</em> memberikan keterangan bahwa sesungguhnya <strong>tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah melainkan dia condong menujukan ibadahnya kepada selain Allah</strong>. Memang, bisa jadi dia tidak tampak memuja/menyembah patung atau berhala. Atau juga tidak tampak dia menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi, sebenarnya dia telah menyembah hawa nafsu yang telah menjajah hatinya dan memalingkan dirinya sehingga tidak mau tunduk beribadah kepada Allah (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 147)</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Pokok munculnya kesyirikan kepada Allah adalah kesyirikan dalam hal cinta. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), &#8216;Sebagian manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.&#8217; (<strong>QS. al-Baqarah: 165</strong>)&#8230;”</em> (<em>ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</em>, hal. 212). Orang yang mencintai selain Allah -apa pun bentuknya- sebagaimana kecintaannya kepada Allah, atau orang yang lebih mendahulukan ketaatan kepada selain Allah daripada ketaatan kepada Allah maka sesungguhnya orang tersebut telah terjerumus dalam syirik besar yang tidak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya tidak bertaubat darinya (lihat<em> al-Qaul as-Sadid</em>, hal. 96, lihat juga <em>al-Jadid</em>, hal. 278)</p>
<p>Bahkan, karena terlalu berlebihan kecintaannya kepada dunia maka sebagian orang tega menjadikan amal akherat sebagai alat untuk menggapai ambisi-ambisi dunia semata! <strong>Secara fisik mereka tampak mengejar pahala akherat</strong>, namun hatinya dipenuhi dengan kecintaan kepada kesenangan dunia yang hanya sesaat. <em>Subhanallah</em>&#8230; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya),<em>“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan untuk mereka balasan atas amal-amal mereka di dalamnya sedangkan mereka tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak akan mendapatkan balasan apa-apa di akherat selain neraka dan akan hapuslah semua amal yang mereka kerjakan dan sia-sialah apa yang dahulu mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. Huud: 15-16</strong>).</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa beramal soleh semata-mata untuk menggapai kesenangan dunia -tanpa ada keinginan untuk memperoleh balasan akherat atau balasan yang dijanjikan Allah- termasuk kategori kesyirikan, bertentangan dengan kesempurnaan tauhid, bahkan menyebabkan terhapusnya pahala amalan (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 238)</p>
<p><em>Nas&#8217;alullahat taufiq was salamah</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Info Pengajian Umum (Yogyakarta)</title>
		<link>http://abumushlih.com/info-pengajian-umum-yogyakarta.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/info-pengajian-umum-yogyakarta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 18:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Bin Baz]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1902</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah Kajian Akbar Bersama Ulama Madinah Tema: NASIHAT BAGI PENUNTUT ILMU Bersama Asy-Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili -hafizhahullah- (Dosen Islamic University of Madinah An-Nabawiyyah KSA) Insya Allah akan diselenggarakan pada: Selasa, 3 Agustus 2010 Pukul 08.00 WIB s.d. Selesai Bertempat di Islamic Center Bin Baz, Bantul Gratis, terbuka untuk umum Putra dan Putri Informasi: 0812.274.5704 (Ustadz Abu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Finfo-pengajian-umum-yogyakarta.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Finfo-pengajian-umum-yogyakarta.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Hadirilah<br />
Kajian Akbar Bersama Ulama Madinah</p>
<p><span id="more-1902"></span><br />
Tema:<br />
NASIHAT BAGI PENUNTUT ILMU</p>
<p>Bersama<br />
Asy-Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili -hafizhahullah-<br />
(Dosen Islamic University of Madinah An-Nabawiyyah KSA)</p>
<p>Insya Allah akan diselenggarakan pada:</p>
<p>Selasa, 3 Agustus 2010<br />
Pukul 08.00 WIB s.d. Selesai<br />
Bertempat di Islamic Center Bin Baz, Bantul</p>
<p>Gratis, terbuka untuk umum<br />
Putra dan Putri</p>
<p>Informasi:<br />
0812.274.5704 (Ustadz Abu Sa’ad -hafizhahullah-)</p>
<p>Penyelenggara:<br />
Islamic Center Bin Baz Yogyakarta</p>
<input id="post_form_id" name="post_form_id" type="hidden" value="0f11c6d3a69b93dbf5fea966b0bb9387" />
<div>
<div>
<div>Kajian Umum Yogyakarta</div>
<p><a title="Kirim ini ke teman atau ke profil Anda." rel="dialog" href="http://www.facebook.com/ajax/share_dialog.php?s=4&amp;appid=2347471856&amp;p[]=1292568681&amp;p[]=413943756122">Bagikan</a></div>
<div>Hari ini jam 1:30 | <a href="http://www.facebook.com/editnote.php?note_id=413943756122">Sunting Catatan</a> | <a onclick="ask_delete_note(413943756122, 'note_413943756122', 10,1292568681,'Kajian Umum Yogyakarta','/note.php?note_id=413943756122', 0); return false;" href="http://www.facebook.com/note.php?saved&amp;&amp;suggest&amp;note_id=413943756122#">Hapus</a></div>
</div>
<p>Hadirilah<br />
Kajian Akbar Bersama Ulama Madinah</p>
<p>Tema:<br />
NASIHAT BAGI PENUNTUT ILMU</p>
<p>Bersama<br />
Asy-Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili -hafizhahullah-<br />
(Dosen Islamic University of Madinah An-Nabawiyyah KSA)</p>
<p>Insya Allah akan diselenggarakan pada:</p>
<p>Selasa, 3 Agustus 2010<br />
Pukul 08.00 WIB s.d. Selesai<br />
Bertempat di Islamic Center Bin Baz, Bantul</p>
<p>Gratis, terbuka untuk umum<br />
Putra dan Putri</p>
<p>Informasi:<br />
0812.274.5704 (Ustadz Abu Sa’ad -hafizhahullah-)</p>
<p>Penyelenggara:<br />
Islamic Center Bin Baz Yogyakarta</p>
<p>Sumber:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;3f590&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/07/26/kajian-akbar-bersama-syaikh-sulaiman-ar-ruhaili-di-yogyakarta-3-agustus-2010/" target="_blank">http://salafiyunpad.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/info-pengajian-umum-yogyakarta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Faedah Hadits Jibril</title>
		<link>http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 05:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Taqdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1899</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan: Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku. [Dia berkata]: Waki&#8217; menuturkan kepada kami dari Kahmas dari Abdullah bin Buraidah, dari Yahya bin Ya&#8217;mar. Ubaidullah bin Mu&#8217;adz al-Anbari menuturkan kepada kami: dan ini merupakan haditsnya. [Dia berkata]: Ayahku menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: Kahmas menuturkan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, dari Yahya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-faedah-hadits-jibril.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-faedah-hadits-jibril.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> meriwayatkan:</p>
<p>Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku. [Dia berkata]: Waki&#8217; menuturkan kepada kami dari Kahmas dari Abdullah bin Buraidah, dari <strong>Yahya bin Ya&#8217;mar</strong>.</p>
<p><span id="more-1899"></span></p>
<p>Ubaidullah bin Mu&#8217;adz al-Anbari menuturkan kepada kami: dan ini merupakan haditsnya. [Dia berkata]: Ayahku menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: Kahmas menuturkan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, dari <strong>Yahya bin Ya&#8217;mar</strong>, dia berkata:</p>
<p>Dahulu, yang pertama kali mempersoalkan masalah takdir di Bashrah adalah Ma&#8217;bad al-Juhani. Maka suatu ketika, aku beserta Humaid bin Abdurrahman al-Himyari memutuskan untuk bersama-sama berangkat menunaikan haji atau umrah, kami berkata, <em>“Seandainya kita bisa dipertemukan dengan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lalu kita tanyakan kepadanya mengenai apa yang dilontarkan oleh orang-orang itu seputar masalah takdir.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Maka kamipun bisa bertemu dengan Abdullah bin Umar bin al-Khaththab tatkala masuk ke dalam masjid. Kemudian aku dan temanku memeluknya. Seorang dari kami memeluk dari sebelah kanan, sementara yang lain dari sebelah kiri. Aku pun mengira bahwa temanku akan menyuruh diriku untuk berbicara. Maka aku pun berkata, <em>“Wahai Abu Abdirrahman -panggilan Ibnu Umar-, sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang suka membaca/menghafal al-Qur&#8217;an dan gemar mengumpulkan ilmu -lalu dia menceritakan keadaan mereka- akan tetapi mereka mengklaim bahwa takdir itu tidak ada, dan semua urusan itu terjadi begitu saja/tidak ditakdirkan sebelumnya.”</em></p>
<p>Maka dia -Ibnu Umar- berkata, <em>“Apabila kamu bertemu dengan mereka, sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka juga berlepas diri dariku. Demi tuhan yang dengannya Abdullah bin Umar bersumpah, seandainya salah seorang di antara mereka mempunyai emas sebesar gunung Uhud lalu dia infakkan niscaya Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman terhadap takdir.”</em></p>
<p>Lalu dia -Ibnu Umar- berkata:</p>
<p>Ayahku Umar bin al-Khaththab menuturkan kepadaku, dia berkata:</p>
<p>Pada suatu hari, ketika kami sedang duduk-duduk bersama dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Tiba-tiba muncul seseorang dengan pakaian yang sangat putih dan memiliki rambut yang sangat hitam. Tidak tampak padanya bekas menempuh perjalanan. Namun, tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenali identitasnya. Sampai akhirnya dia duduk di depan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kemudian meletakkan kedua lututnya di depan lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Lalu dia berkata, <em>“Wahai Muhammad, beritakan kepadaku tentang Islam.”</em></p>
<p>Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam itu adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan menunaikan haji jika kamu mampu melakukan perjalanan ke sana.”</em> Maka dia -lelaki asing itu- berkata, <em>“Kamu benar.”</em></p>
<p>Dia -Umar- berkata, <em>“Kami pun terheran-heran terhadap ulahnya. Dia yang bertanya kepada beliau, namun di saat yang sama dia juga yang membenarkan jawabannya.” </em></p>
<p>Lalu dia -orang itu- bertanya, <em>“Beritakan kepadaku tentang Iman.”</em> Beliau -Nabi- menjawab, <em>“Yaitu kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu juga harus beriman kepada takdir yang baik ataupun yang buruk.”</em> Dia berkata, <em>“Kamu benar.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Lalu dia berkata, <em>“Beritakan kepadaku tentang Ihsan.”</em> Beliau menjawab, <em>“Yaitu kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Kalau kamu tidak bisa seolah-olah melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Lalu dia berkata, <em>“Beritakan kepadaku tentang waktu hari kiamat.”</em> Beliau pun menjawab, <em>“Orang yang ditanyai tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” </em>Maka dia berkata, <em>“Kalau begitu beritakan kepadaku tentang tanda-tandanya?”</em></p>
<p>Maka beliau menjawab, <em>“Yaitu ketika seorang budak perempuan melahirkan tuannya. Dan ketika kamu melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian, yang miskin dan pekerjaannya menggembalakan kambing sudah berlomba-lomba meninggikan bangunan.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dia -Umar- berkata: Lalu dia pergi, dan aku diam di situ selama beberapa waktu. Kemudian beliau -Nabi- berkata kepadaku, <em>“Wahai Umar, tahukah kamu siapakah yang bertanya itu?”</em>. Aku jawab, <em>“Allah dan rasul-Nya lebih tahu.” </em>Beliau berkata, <em>“Sesungguhnya dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang agama kalian.” </em>(<strong>HR. Muslim no. 8</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/5-17])</p>
<p><strong>Faedah Hadits</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hadits Jibril yang agung ini menyimpan banyak sekali faedah, di antaranya -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Yahya al-Hajuri <em>hafizhahullah</em>- adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Orang yang pertama kali mempersoalkan -mengingkari- takdir di      Bashrah adalah Ma&#8217;bad al-Juhani</li>
<li>Hendaknya bertanya untuk mengatasi masalah yang dihadapi, atau      bertanya untuk memberikan pengajaran kepada orang-orang</li>
<li>Semestinya seorang penanya bersikap lembut dalam mengajukan      pertanyaannya</li>
<li>Terkadang seseorang pandai membaca al-Qur&#8217;an sementara dia      bodoh tentangnya, terutama apabila dia tidak terdidik oleh para ulama Sunnah</li>
<li>Boleh mengumumkan sikap <em>hajr</em>/boikot terhadap penebar      kebid&#8217;ahan</li>
<li>Penuntut ilmu yang tidak berpedoman kepada Sunnah niscaya tidak      akan bermanfaat bagi dirinya, bahkan justru mendatangkan bahaya bagi      dirinya sendiri dalam hal agamanya</li>
<li>Kewajiban untuk menjaga rukun-rukun yang disebutkan di dalam      hadits ini dikarenakan itu semua merupakan pokok-pokok ajaran agama</li>
<li>Semestinya untuk merujuk kepada para ulama dalam mengatasi      persoalan yang menimpa</li>
<li>Keutamaan para ulama, dan bahwasanya mereka senantiasa melihat      dan memperhatikan dalil-dalil yang ada demi menyikapi permasalahan</li>
<li>Boleh melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu dengan diiringi      niat untuk sekaligus menunaikan haji dan umrah</li>
<li>Semestinya yang berbicara dalam urusan-urusan penting adalah      orang yang paling senior atau yang paling pandai menjelaskan di antara      mereka</li>
<li>Orang-orang Qadariyah/penolak takdir itu dihukumi kafir, sebab      mereka telah mengingkari  ilmu      Allah, namun madzhab mereka yang ini sekarang sudah punah</li>
<li>Hendaknya memberikan perhatian yang besar dalam mengajarkan      agama yang Allah telah menciptakan kita untuk menjalankannya</li>
<li>Hendaknya berlepas diri dari kebid&#8217;ahan dan penganutnya</li>
<li>Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berpendapat tentang      kafirnya kelompok <em>Qadariyah</em> tersebut</li>
<li>Kelompok Qadariyah yang diceritakan di dalam hadits ini adalah      penuntut ilmu dan tidak termasuk golongan para ulama</li>
<li>Hendaknya seorang murid/penuntut ilmu tidak tergesa-gesa      melakukan tindak pengingkaran terhadap perkara-perkara yang belum merebak      selama para ulama masih ada, sampai mereka memutuskan hukum terhadap      perkara tersebut, meskipun menurut seorang murid hal itu memang selayaknya      diingkari. Pelajaran serupa dengan ini adalah yang terdapat dalam      kisah  jama&#8217;ah Masjid Bani Hanifah      beserta keadaan Abu Musa dengan mereka dan Ibnu Mas&#8217;ud -ketika mengingkari      sekelompok orang yang berkumpul untuk dzikir jama&#8217;i, pent-.</li>
<li>Keutamaan para sahabat dan keutamaan ilmu mereka</li>
<li>Sedekah dari orang kafir -yang wajib ataupun sunnah- tidak      diterima</li>
<li>Iman terhadap takdir adalah wajib, tidak sah keimanan tanpanya</li>
<li>Ucapan <em>&#8216;seandainya&#8217;</em> tidak sepenuhnya dibenci kecuali      apabila dalam rangka memprotes takdir, hal ini dapat dipetik dari      perkataan, <em>“Seandainya kita dipertemukan&#8230;”</em></li>
<li>Pengajaran mengenai adab menuntut ilmu</li>
<li>Bertanya dalam rangka memberikan pengajaran bagi orang lain.      Oleh sebab itu, para Sahabat itu sangat merasa senang jika ada orang arab      badui yang bertanya tentang suatu perkara</li>
<li>Keutamaan menggabungkan berbagai macam niat baik dalam satu      perbuatan</li>
<li>Keutamaan mengenakan pakaian putih, dan seyogyanya seorang alim      dan penuntut ilmu untuk berhias diri dengannya lebih daripada yang lainnya</li>
<li>Dalil keabsahan <em>dilalah iqtiran</em>, hal itu bisa dipetik      dari ucapan, <em>“Tidak tampak padanya bekas menempuh perjalanan.” </em>(<em>dilalah      iqtiran</em> adalah suatu kata bisa memiliki makna yang lain tatkala      diiringkan dengan kata yang lain, pent)</li>
<li>Hendaknya menyebutkan dalil atas suatu hukum</li>
<li>Penetapan keberadaan malaikat, salah satunya adalah Jibril <em>&#8216;alaihis      salam</em></li>
<li>Penetapan sebagian sifat/ciri malaikat</li>
<li>Pengenalan tentang rukun-rukun Islam, rukun-rukun Iman, dan      rukun Ihsan</li>
<li>Agama ini terdiri dari tiga tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan</li>
<li>Semestinya membenarkan orang yang benar atau cocok dengan      kebenaran</li>
<li><em>Muraqabah</em>/merasa diawasi oleh Allah      adalah bentuk dari ihsan</li>
<li>Penetapan bahwa Allah melihat hamba-hamba-Nya dan senantiasa      mengawasi mereka</li>
<li>Penetapan adanya hari kiamat beserta tanda-tandanya</li>
<li>Tidak boleh berkata-kata tanpa landasan ilmu. Orang yang tidak      tahu hendaknya berkata, <em>“Allahu a&#8217;lam.”</em></li>
<li>Hanya Allah yang mengetahui kapan terjadinya kiamat, maka orang      yang mengaku-ngaku mengetahuinya adalah pembohong dan pendusta</li>
<li>Takdir ada yang tampak baik dan ada pula yang tampak buruk      dalam pandangan hamba</li>
<li>Salah satu ciri kiamat kecil adalah banyaknya budak perempuan,      sehingga seorang budak perempuan pun melahirkan majikannya</li>
<li>Penjelasan tentang Islam dan Iman terhadap orang banyak. Banyak      ulama yang secara khusus membuat tulisan dengan urutan semacam ini      sebagaimana yang disebutkan dalam hadits</li>
<li>Takdir itu ada yang baik dan ada yang buruk. Adapun hadits yang      artinya, <em>“Kejelekan tidak diarahkan kepada-Mu.”</em> Maka hadits itu      sudah dijelaskan oleh an-Nawawi bahwa maksudnya meliputi lima kandungan      makna: [1] Tidak boleh mendekatkan diri dengan keburukan kepada-Mu. [2]      Keburukan tidak disandarkan kepada-Mu. [3] Keburukan tidak terangkat      kepada-Mu. [4] Hal itu tidak buruk apabila disandarkan kepada-Mu. [5]      Keburukan itu secara mandiri tidak boleh disandarkan sebagai ciptaan-Mu.      Namun, pendapat yang terakhir ini perlu dikaji kembali.</li>
<li>Kata <em>Rabb</em> bisa bermakna <em>&#8216;tuan&#8217;</em>, dan terkadang      bisa juga bermakna <em>&#8216;pemilik&#8217;</em></li>
<li>Ciri banyaknya harta -di masyarakat- adalah tatkala orang-orang      miskin sudah berlomba-lomba       meninggikan bangunan, sebab hal itu tidak mungkin terjadi kecuali      karena begitu melimpahnya harta di saat itu</li>
<li>Sekedar pemberitaan tentang suatu kaum bukan berarti pelecehan      terhadap mereka</li>
<li>Bolehnya bertanya dengan maksud menguji, diambil dari sabda      Nabi, <em>“Tahukah kamu siapakah yang bertanya itu?”</em></li>
<li>Terkadang ta&#8217;lim/pengajaran itu bisa dilakukan dengan      peragaan/perbuatan</li>
<li>Dahulu para sahabat biasa mengucapkan, <em>“Allahu wa rasuluhu      a&#8217;lam.”</em> Namun ucapan ini khusus ketika beliau/Nabi masih hidup saja</li>
<li>Mempersekutukan dua kata ganti -Allah dengan rasul- tidak      sepenuhnya dibenci, adapun hadits <em>“Sejelek-jelek khatib adalah kamu      dst.”</em> Maka hal itu dikarenakan pada saat berkhutbah yang semestinya      dipakai adalah ungkapan-ungkapan yang jelas dan gamblang</li>
<li>Kompromi antara hadits ini dengan hadits Ibnu Abbas yang      menceritakan kedatangan utusan Abdul Qais -yang di sana rukun Islam      disebut dengan iman, pent- ialah; hadits ini menunjukkan bahwa amal-amal      batin termasuk iman, sedangkan hadits tersebut menunjukkan bahwa amal-amal      lahiriyah juga termasuk iman</li>
<li>Boleh menggembalakan kambing sambil berjalan tanpa alas kaki,      namun memakai alas kaki itu lebih utama sebagaimana disebutkan dalam      hadits, <em>“Orang yang memakai alas kaki itu laksana orang yang menunggang      kendaraan maka sering-seringlah kamu memakai alas kaki.”</em></li>
<li>Berlomba meninggikan bangunan biasanya terjadi dalam rangka      berbangga-bangga</li>
<li>Orang-orang akan merasa heran terhadap sesuatu yang mengundang      keheranan</li>
<li>Pada asalnya pertanyaan itu disampaikan untuk meminta      keterangan/<em>istifadah </em></li>
<li>Di antara para malaikat juga terdapat utusan/rasul dan      pengajar-pengajar</li>
<li>Allah memberikan kekuatan kepada para malaikat untuk bisa      menjelma dalam bentuk lain</li>
<li>Agama Allah yang benar adalah agama kita. Ia bisa disebut      dengan agama Allah; karena Dia lah yang mensyari&#8217;atkannya. Bisa juga      disebut dengan agama kita, karena kita beragama kepada Allah dengannya.      Hal ini dipetik dari ucapan beliau, <em>“Dia mengajarkan kepada kalian      tentang agama kalian.”</em></li>
<li>Keutamaan seorang yang berilmu, dan penjelasan bahwa Jibril      tatkala itu berperan sebagai pengajar bagi mereka sementara -ketika itu-      dia bertanya kepada Nabi, walaupun pendapat yang lebih kuat menyatakan      bahwa orang-orang salih dari kalangan manusia itu kedudukannya lebih utama      daripada malaikat</li>
<li>Semua kitab Allah itu harus diimani, yaitu mencakup: al-Qur&#8217;an,      Taurat, Injil, Zabur dan Suhuf Ibrahim dan Musa</li>
<li>Beradab dalam berbicara, ini terkandung dalam ucapan mereka, <em>“Ketika      itu kami duduk-duduk bersama di sisi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> Mereka tidak menggunakan ungkapan, <em>“Beliau duduk-duduk di sisi kami.”</em></li>
<li>Indahnya adab para sahabat -<em>semoga Allah meridhai mereka-</em> ketika berada di dalam majelis ilmu dengan bersikap tenang/diam -tidak      ribut- dan lain sebagainya</li>
<li>Hendaknya bersikap lembut terhadap orang yang bertanya</li>
<li>Seorang murid mengajarkan adab bersama gurunya, hal ini bisa      dipetik dari ucapannya, <em>“Bolehkah saya mendekat, wahai Muhammad.”</em></li>
<li>Hendaknya penanya mengajukan pertanyaannya dengan jelas dan      lemah lembut</li>
<li>Berhias diri adalah perkara yang dituntut, bukan tergolong      perbuatan sombong/angkuh</li>
<li>Penuntut ilmu lebih utama untuk memakai pakaian putih karena      Jibril datang berperan sebagai guru yang mengajarkan agama -dan dia      mencontohkan demikian-</li>
<li>Hendaknya seorang guru berpenampilan yang bagus</li>
<li>Hendaknya meninggalkan sikap berlebih-lebihan di dalam memuji,      karena dia -Yahya bin Ya&#8217;mar- cukup mengatakan -kepada Ibnu Umar, salah      seorang ulama di kalangan Sahabat-, <em>“Wahai Abu Abdirrahman.”</em></li>
<li>Orang yang baru masuk hendaknya mendahului mengucapkan salam,      hal ini diitunjukkan oleh riwayat lain hadits ini dari jalur Abu Hurairah      -dalam riwayat Bukhari no. 50 dan Muslim no. 9- dan Abu Dzar yang di dalamnya      terdapat keterangan tambahan bahwa ketika masuk Jibril berkata, <em>“Assalamu&#8217;alaikum,      wahai Muhammad.”</em> lalu dia berkata, <em>“Bolehkah saya mendekat, wahai      Muhammad.”</em></li>
<li>Hendaknya membawa teman ketika bepergian jauh</li>
<li>Sesuatu yang wajar, bahwa mayoritas orang yang mau      memperhatikan urusan dakwah di suatu daerah adalah penduduk aslinya (lihat      <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em> oleh Syaikh Yahya al-Hajuri, hal.      38-42)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam, Anda Sudah Paham?</title>
		<link>http://abumushlih.com/islam-anda-sudah-paham.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/islam-anda-sudah-paham.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 12:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralis]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1897</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah nama bagi sebuah din/agama yang haq, agama yang diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya. Islam bukan sekedar kepercayaan yang mengandung sikap pasrah semata tanpa ada rambu-rambu khusus -seperti syari&#8217;at yang diajarkan Nabi kepada kita- sebagaimana yang diklaim oleh kaum liberal dan pluralis. Buktinya, di dalam hadits Jibril Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjelaskan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fislam-anda-sudah-paham.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fislam-anda-sudah-paham.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Islam adalah nama bagi sebuah <em>din</em>/agama yang haq, agama yang diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya. Islam bukan sekedar kepercayaan yang mengandung sikap pasrah semata tanpa ada rambu-rambu khusus -seperti syari&#8217;at yang diajarkan Nabi kepada kita- sebagaimana yang diklaim oleh kaum liberal dan pluralis.</p>
<p><span id="more-1897"></span></p>
<p>Buktinya, di dalam hadits Jibril Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan bahwa Islam itu meliputi; <em>syahadat</em>/persaksian bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji. Lalu, dimanakan bisa ditemukan ajaran-ajaran ini kalau bukan dalam agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>?</p>
<p>Di dalam hadits yang lain, dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga menegaskan, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: kewajiban untuk mentauhidkan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.”</em> (<strong>HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16</strong>, ini lafal Muslim, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/63] dan <em>Syarh Muslim</em> [2/31]). Berdasarkan riwayat hadits ini dapat kita ketahui juga bahwasanya istilah &#8216;tauhid&#8217; bukanlah istilah baru yang tidak dikenal di masa Nabi, bahkan Nabi sendirilah yang mengajarkannya kepada kita!</p>
<p>Dalam jalur riwayat lain -di dalam Shahih Muslim- masih dari Ibnu Umar juga disebutkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: kewajiban beribadah kepada Allah -semata- dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/32])</p>
<p>Berdasarkan dalil-dalil semacam itulah para ulama -di antaranya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em>- mendefinisikan bahwa islam adalah: <em>&#8216;Kepasrahan kepada Allah dengan bertauhid, bersikap tunduk kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, dan berlepas diri dari kemusyrikan beserta segenap penganutnya&#8217;</em> (lihat <em>Hushul al-Ma&#8217;mul</em>, hal. 104). Apabila kita cermati maka pengertian ini sangat bersesuaian dengan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas.</p>
<p>Ada satu hal yang patut untuk digarisbawahi di sini adalah bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menggunakan beberapa ungkapan untuk menyebutkan syahadat, yaitu:</p>
<ol>
<li>Kewajiban mentauhidkan Allah</li>
<li>Kewajiban beribadah kepada Allah -semata- dan mengingkari      segala sesembahan selain-Nya</li>
<li>Bersaksi bahwa tiada sesembahan -yang benar- selain Allah dan      Muhammad utusan Allah</li>
</ol>
<p>Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa barangsiapa yang tidak memenuhi ketiga hal di atas maka tidak bisa disebut sebagai seorang muslim. Artinya, orang yang bukan muslim itu bisa mencakup:</p>
<ol>
<li>Orang yang tidak mentauhidkan Allah, dan ini mencakup semua      orang selain pemeluk Islam, bahkan mencakup kaum munafikin walaupun mereka      &#8216;berbaju&#8217; Islam, dan juga tercakup di dalamnya kaum atheis yang tidak      meyakini adanya tuhan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman tentang orang-orang      munafikin (yang artinya), <em>“Di antara manusia ada yang mengatakan, &#8216;Kami      beriman kepada Allah dan hari akhir&#8217; padahal mereka itu bukan orang-orang      yang beriman.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 8</strong>)</li>
<li>Orang yang beribadah kepada Allah namun tidak mengingkari      sesembahan selain-Nya, yaitu orang-orang musyrik yang mempersekutukan      Allah dalam ibadah. Mereka beribadah kepada Allah dan juga beribadah      kepada selain Allah, kelompok ini pun sebenarnya sudah tercakup dalam      kategori yang pertama di atas. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman tentang      mereka (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan      Allah, maka Allah haramkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah      neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang zalim itu.”</em> (<strong>QS.      al-Ma&#8217;idah: 72</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman mengenai status      sesembahan selain-Nya (yang artinya), <em>“Yang demikian itu, karena Allah      adalah satu-satunya [sesembahan] yang benar sedangkan segala sesuatu yang      mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Hajj: 62</strong>)</li>
<li>Orang yang beribadah kepada Allah semata dan mengingkari      sesembahan selain-Nya namun tidak mau mengikuti ajaran Nabi Muhammad <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> setelah beliau diutus kepada mereka, seperti halnya      kaum ahli kitab di Yaman yang didakwahi oleh Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>.      Oleh karenanya, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> -yang      beliau itu diutus oleh Allah untuk mengajarkan agama Islam kepada segenap      manusia- telah menegaskan dalam sabdanya, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>,      beliau bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya.      Tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku di antara umat ini entah      dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan      risalah/ajaran yang aku bawa melainkan dia pasti termasuk golongan      penduduk neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim no. 153</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/243]). Oleh sebab itu an-Nawawi <em>rahimahullah</em> memberi judul bab      untuk hadits ini dengan judul &#8216;Kewajiban beriman terhadap risalah Nabi      kita Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang berlaku bagi      segenap manusia dan dihapusnya semua agama dengan agamanya&#8217; (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/242])</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/islam-anda-sudah-paham.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Santri Baru &#8216;Syabaabul Masjid&#8217;</title>
		<link>http://abumushlih.com/pengumuman-santri-baru-syabaabul-masjid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pengumuman-santri-baru-syabaabul-masjid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 11:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'had]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Syabaabul Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Takmir]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1894</guid>
		<description><![CDATA[PENGUMUMAN PENERIMAAN SANTRI BARU GELOMBANG I MA’HAD SYABAABUL MASJID TAHUN AJARAN 1431/1432 H Bismillahirrahmanirrahim Berikut ini nama-nama calon santri yang dinyatakan diterima sebagai santri baru Ma’had Syabaabul Masjid angkatan I, tahun ajaran 1431/1432 H. Wachid Mufti Adi Ikhsan Anang Teguh Riadi Taufik Rahmadi Erlan Iskandar Anindya S.P. Fitriyansah Ardian Febi Dwi Prasetyo Rayyan Mochamad Maretan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpengumuman-santri-baru-syabaabul-masjid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpengumuman-santri-baru-syabaabul-masjid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>PENGUMUMAN </strong></p>
<p><strong>PENERIMAAN SANTRI BARU GELOMBANG I</strong></p>
<p><strong>MA’HAD SYABAABUL MASJID</strong></p>
<p><strong>TAHUN AJARAN 1431/1432 H</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span id="more-1894"></span></p>
<p><em>Bismillahirrahmanirrahim</em></p>
<p>Berikut ini nama-nama calon santri yang dinyatakan diterima sebagai santri baru Ma’had Syabaabul Masjid angkatan I, tahun ajaran 1431/1432 H.</p>
<ol>
<li><strong>Wachid Mufti Adi Ikhsan</strong></li>
<li><strong>Anang Teguh Riadi</strong></li>
<li><strong>Taufik Rahmadi </strong></li>
<li><strong>Erlan Iskandar</strong></li>
<li><strong>Anindya S.P.</strong></li>
<li><strong>Fitriyansah</strong></li>
<li><strong>Ardian Febi Dwi Prasetyo</strong></li>
<li><strong>Rayyan Mochamad Maretan</strong></li>
<li><strong>Agung Hasan </strong></li>
<li><strong>Haris Firmansyah</strong></li>
<li><strong>Adi Suheryadi</strong></li>
<li><strong>Ganda Sukmana</strong></li>
</ol>
<p>Bagi yang bersangkutan diharapkan kehadirannya untuk penjelasan agenda kegiatan belajar mengajar dalam acara <strong>Briefing Santri Baru</strong> pada:</p>
<p>Hari, tanggal       : Ahad, 12 Sya’ban 1431 H (25/7/2010)</p>
<p>Waktu                   : Pkl. 16.00 – selesai</p>
<p>Tempat                : Masjid Pogung Raya</p>
<p>Demikian pengumuman ini ditetapkan, semoga bisa menjadi perhatian. <em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
<p>Yogyakarta, 12 Sya’ban 1431 H</p>
<p><strong>Panitia Penerimaan Santri Baru</strong></p>
<p><strong>Ma’had Syabaabul Masjid</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>NB</strong>: Diharapkan untuk menyiapkan biaya pendaftaran sebesar Rp.30.000,-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pengumuman-santri-baru-syabaabul-masjid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ringan Tapi Agung</title>
		<link>http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 05:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1891</guid>
		<description><![CDATA[At Tauhid edisi VI/30 Oleh: al-Akh Yulian Purnama -hafizhahullah- Nampaknya, banyak diantara kita belum merenungkan secara mendalam, ayat Qur’an, dzikir dan doa yang hampir setiap hari terucap dari lisan kita, yang sebenarnya sangat lugas mengikrarkan konsep Tauhid yang benar. Ya, konsep Tauhid yang diajarkan Islam sesungguhnya sangat bisa dipahami dari dzikir, doa dan ayat-ayat sederhana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fringan-tapi-agung.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fringan-tapi-agung.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>At Tauhid edisi VI/30</strong></p>
<p><strong>Oleh: al-Akh Yulian Purnama -</strong><em>hafizhahullah</em><strong>-<br />
</strong></p>
<p>Nampaknya, banyak diantara kita belum  merenungkan secara mendalam, ayat Qur’an, dzikir dan doa yang hampir  setiap hari terucap dari lisan kita, yang sebenarnya sangat lugas  mengikrarkan konsep Tauhid yang benar.</p>
<p><span id="more-1891"></span>Ya, konsep Tauhid yang diajarkan  Islam sesungguhnya sangat bisa dipahami dari dzikir, doa dan ayat-ayat  sederhana yang sering dibaca oleh kebanyakan kita. Beberapa diantaranya  akan dibahas pada tulisan ini.</p>
<p><em><strong>Laa Ilaaha Illallah</strong></em></p>
<p>Kalimat ini tentu tidak asing lagi bagi  kita, sering kita ucapkan di dalam maupun di luar shalat, banyak  terdapat di dalam Al Qur’an dan merupakan rukun pertama dari rukun  Islam. Kalimat ini merupakan pondasi dari agama seorang muslim. Karena  dengan mengucapkan kalimat ini, seorang muslim telah mengikrarkan konsep  Tauhid. Secara bahasa arab, dan menurut penafsiran pada ulama, makna  dari ‘<em>Laa Ilaaha Illallah</em>‘ adalah ‘tidak ada sesembahan yang  berhak disembah selain Allah’. Dengan kata lain, ‘walaupun sesuai  realita sesembahan lain itu memang ada, namun satu-satunya yang berhak  disembah adalah Allah semata’. Jika demikian, orang yang mengucapkan ‘<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>‘ konsekuensinya ia tidak boleh sujud, berdoa,  shalat, tawakkal dan mempersembahkan bentuk ibadah yang lain kepada  selain Allah. Tidak kepada berhala, tidak kepada pohon, tidak kepada  batu, tidak kepada kyai, tidak kepada kuburan, melainkan hanya kepada  Allah semata.</p>
<p>Oleh karena itulah kaum Qura’isy  bersikeras enggan mengucapkan kalimat ini, padahal mereka juga menyembah  Allah dan mengakui Allah sebagai satu-satunya Rabb pencipta alam  semesta.</p>
<p>“<em>Katakanlah: “Siapakah yang memberi  rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa  (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang  mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari  yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka (kaum  musyrikin) akan menjawab: “Allah” </em>“ (QS. Yunus: 31)</p>
<p>Namun ketika diseru untuk mengucapkan ‘<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>‘, mereka berkata:</p>
<p>“<em>Mengapa Muhammad menjadikan  sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja? Sesungguhnya ini  benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan</em>” (QS. Shaad: 5)</p>
<p>Tidak hanya itu, bahkan marah dan  memerangi Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Padahal  sesembahan-sesembahan yang mereka sembah itu hanya sebagai perantara  untuk mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>“<em>Dan mereka menyembah selain  daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada  mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu  adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”</em> ” (QS. Yunus:  18)</p>
<p>Jika konsep Tauhid itu semata-mata  mengakui Allah sebagai satu-satunya Rabb pencipta alam semesta, tentu  kaum musyrikin ketika itu dengan senang hati mengucapkan ‘<em>Laa Ilaaha  Illallah</em>‘ dan tidak perlu marah serta memerangi Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em>.</p>
<p>Namun sungguh sangat disayangkan, banyak  orang yang bersemangat dalam dzikir ‘<em>Laa Ilaaha Illallah</em>‘  namun justru berbuat kesyirikan dengan mempersembahkan bentuk-bentuk  ibadah kepada selain Allah.  Renungkanlah..</p>
<p><em><strong>Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka  Nasta’in</strong></em></p>
<p>Kalimat di atas adalah sebuah ayat dari  surat Al Fatihah, yang tentunya sering kita baca lebih dari 17 kali  dalam sehari dan dihafal hampir oleh semua muslim diseluruh dunia. Yang  artinya:</p>
<p>“<em>Hanya kepada Engkaulah kami  beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan</em>”  (QS. Al Fatihah: 5)</p>
<p>Secara bahasa arab, gaya bahasa ayat ini  mengandung makna pembatasan. Sehingga maknanya ‘<em>Hanya kepadaMu lah  satu-satunya kami beribadah, hanya kepadaMu lah satu-satunya kami  memohon pertolongan</em>‘. Ayat ini menegaskan konsep Tauhid, bahwa  peribadatan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta menggantungkan  pertolongan hanya kepada Allah.</p>
<p>Meminta dan menggantungkan pertolongan  kepada selain Allah, semisal dukun, kyai, jin, atau menggunakan jimat,  rajah, jampi-jampi, berarti telah berbuat yang bertentangan dengan surat  Al Fatihah ayat 5 ini.</p>
<p><em><strong>Laa Haula Wa Laa Quwwata  Illa Billah</strong></em></p>
<p>Kalimat ini adalah dzikir yang sudah  tidak asing lagi di telinga dan lisan kita, dikenal dengan istilah <em>hauqolah</em>.  Biasa kita baca ketika mendengar adzan, ketika setelah shalat, atau  ketika melihat sesuatu yang menakjubkan. Arti dari kalimat ini adalah ‘<em>Tiada  daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah Ta’ala</em>‘.  Begitu agungnya kalimat ini sampai-sampai oleh Rasulullah <em>Shallalahu’alaihi  Wasallam</em> dikatakan sebagai tabungan surgawi.</p>
<p>Makna dari kalimat ini adalah, bahwa  tercapainya sesuatu, perubahan kondisi menjadi lebih baik, adalah  semata-mata karena kehendak Allah dan pertolongan dari-Nya. Bukan karena  pertolongan dukun, bantuan jin, keajaiban jimat atau kesaktian kyai.  Sama sekali bukan.</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan sesuatu  kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya  kecuali Dia</em>” (QS. Yunus: 107)</p>
<p>Konsekuensinya, memohon kebaikan,  memohon tercapainya sesuatu, menggantungkan pertolongan hanyalah  ditujukan kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Inilah konsep Tauhid.</p>
<p>“<em>Dan jika setan mengganggumu dengan  suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya  Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</em>” (QS. Fushilat: 36)</p>
<p><strong>Surat</strong><strong> Yaasin</strong></p>
<p>Konsep Tauhid dalam surat Yasin  sangatlah kental, terutama dalam ayat tentang seorang lelaki yang mau  mengikuti dakwah utusan Allah yang menyerukan Tauhid, di tengah  masyarakat yang berbuat kesyirikan. Lelaki tersebut berkata :</p>
<p>“<em>Faktor apa yang bisa sampai  membuatku tidak menyembah Rabb yang telah menciptakanku dan yang hanya  kepada-Nya-lah kamu semua akan dikembalikan? Untuk apa aku menyembah  sesembahan-sesembahan selain-Nya padahal jika Allah Yang Maha Pemurah  menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at dari para  sesembahan itu tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka  tidak pula dapat menyelamatkanku?</em>” (QS. Yaasin: 22-23)</p>
<p>Ayat ini menggelitik nalar manusia,  yaitu bahwa telah jelas Allah lah semata yang menciptakan alam beserta  isinya dan seluruh manusia. Lalu mengapa mempersembahkan ritual-ritual  ibadah kepada selain Allah? Sungguh kemusyrikan telah melempar jatuh  akal sehat manusia.</p>
<p>Ayat ini juga membantah telak orang yang  meminta-minta pertolongan kepada selain Allah. Karena pertolongan dari  sesembahan selain Allah, tidak bermanfaat jika Allah tidak  menghendakinya terjadi. Begitu juga keburukan  dari sesembahan selain  Allah, tidak membahayakan jika Allah tidak menghendakinya terjadi.</p>
<p>Namun sangat disayangkan, sebagian orang  bersemangat untuk selalu membaca surat Yasin setiap pekannya, namun  belum meresap dalam hati mereka konsep Tauhid yang terkandung di  dalamnya.</p>
<p><strong>Ayat Kursi</strong></p>
<p>Di negeri kita, hampir semua orang  menghapal ayat kursi, yaitu surat Al Baqarah ayat 255. Orang yang  merenungkan ayat kursi akan mendapati di dalamnya sarat akan konsep  Tauhid. Semisal firman Allah <em>Ta’ala</em> (yang artinya): “<em>Tiada  yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya</em>” (QS. Al  Baqarah: 255)</p>
<p>Berkaitan dengan ayat ini, Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya):</p>
<p>“<em>Katakanlah (wahai Muhammad): “Hanya  kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit  dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” </em>“ (QS. Az  Zumar: 44)</p>
<p>Ayat-ayat ini memberi pengajaran bahwa  syafa’at itu sepenuhnya milik Allah <em>Ta’ala</em>. Dan syafa’at dapat  diberikan semata-mata atas izin Allah Ta’ala. Memang benar bahwa  sebagian makhluk Allah ada yang dapat memberi syafa’at, itupun terbatas  pada orang-orang yang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at.  Sehingga tidak boleh sembarang kita mengklaim kyai Fulan, habib Fulan, <em>mbah </em>Fulan bisa memberi syafa’at padahal tidak ada keterangan bahwa  Allah <em>Ta’ala</em> mengizinkan mereka untuk memberi syafa’at.</p>
<p>Pengajaran lain, baginda Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam </em>memang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at. Namun  syafa’at dari Baginda Nabi tidak dapat diberikan kepada salah seorang  di antara kita tanpa izin Allah <em>Ta’ala</em>. Seseorang tidak akan  mendapatkan syafa’at jika Allah tidak me-ridhai dia untuk  mendapatkannya, walau orang tersebut telah memintanya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam </em>ribuan kali. Jika demikian, bukankah seharusnya kita  memohon syafa’at tersebut kepada Allah dan bukan memohonnya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em>? Terlebih lagi berdoa memohon syafa’at kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em> bertentangan dengan konsep Tauhid bahwa doa hanya  ditujukan kepada Allah semata.</p>
<p><strong>Dzikir Setelah Shalat</strong></p>
<p>Doa yang sering kita baca setelah shalat  ini berbunyi:</p>
<p><em>Allahumma, laa maani’a limaa  a’thaita, wa laa mu’thia limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal  jaddu</em></p>
<p>“<em>Ya Allah, tidak ada yang dapat  menghalangi jika Engkau memberikan sesuatu, dan tidak ada yang dapat  memberi jika Engkau telah menghalanginya. Tidak berguna kekayaan  seseorang dihadapun-Mu wahai Dzat Yang Maha Kaya</em>”  (HR. Bukhari  no.6615, Muslim no.477)</p>
<p>Dzikir ini menegaskan bahwa doa hanyalah  ditujukan kepada Allah bukan kepada selain-Nya. Karena Allah-lah yang  memiliki hak veto untuk memberi kebaikan dan keburukan atau tidak  memberinya.</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan sesuatu  kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya  kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada  yang dapat menolak kurnia-Nya</em>” (QS. Yunus: 107)</p>
<p>Dzikir yang diajarkan oleh Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em> ini berisi puji-pujian terhadap Allah terutama memuji  kebesaran Allah dalam hal kekuasaan-Nya untuk memberi kebaikan atau  keburukan. Berkaitan dengan hal tersebut, digunakannya lafadz ‘<em>Allahumma</em>‘  di sini memberikan pengajaran bahwa permintaan kita kepada Allah  disampaikan langsung kepada Allah tanpa melalui perantara siapapun.</p>
<p>“<em>Dan Allah berfirman: “Berdoalah  (langsung) kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan</em>” (QS. Al Mu’min: 60)</p>
<p>Demikian, semoga kita dan seluruh umat  muslim berhenti sejenak saja untuk merenungkan kalimat-kalimat di atas  yang senantiasa meluncur deras dari lisan kita, sehingga dapat kita  resapi hakikat ajaran Tauhid yang agung yang merupakan modal utama untuk  mengharap secercah rahmat dari Allah <em>Ta’ala</em> di hari akhir  kelak. [Yulian Purnama]</p>
<p>Sumber: http://buletin.muslim.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ringan-tapi-agung.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Menembus&#8217; Pintu Surga</title>
		<link>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 06:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1885</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenembus-pintu-surga.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut   Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya   pada hari kiamat nanti&#8230;&#8221;</em></p>
<p><span id="more-1885"></span>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ  الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا  يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ  فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا  أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut  Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya  pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka.  Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’.  Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain  golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu  dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…”</em> (HR.  Bukhari [1896] dari Sahl <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah  orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab  orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya  (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum  muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar  melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki  surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat <em>Syarh  Riyadhush Shalihin</em> oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).</p>
<p>Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana  dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,</p>
<p><strong>مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ  اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا  خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ  وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ  كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ  مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو  بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ  مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ  يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو  أَنْ تَكُونَ مِنْهُم</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah  maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah  kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan  dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad  akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa  akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan  ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”</em></p>
<p>Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, <em>“Ayah dan ibuku  sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu  dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah  ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.</em></p>
<p>Maka beliau pun menjawab, <em>“Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk  golongan mereka.”</em> (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang  hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang  harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta  (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351).</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan  berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala  bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan  dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits  dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara  tegas, Nabi bersabda,</p>
<p><strong>لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب  الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل</strong></p>
<p><em>“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga  yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah  dilakukannya.”</em> (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih,  demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, <em>“Dan aku  berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari  semua pintu surga-.” </em>Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau  Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas  termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar  <em>radhiyallahu’anhu</em>. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit  orang yang bisa <strong>mengumpulkan berbagai amal kebaikan</strong> di dalam dirinya  (Fath Al-Bari, 7/31).</p>
<p>Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan  ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.</p>
<p><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو  بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ  أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا  قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya (kepada para  sahabat), <em>“Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”</em>. Abu  Bakar berkata, <em>“Saya.”</em> Beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian  yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”</em>. Maka Abu Bakar berkata,  <em>“Saya.”</em> Beliau kembali bertanya, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari  ini memberi makan orang miskin?”</em>. Maka Abu Bakar mengatakan, <em>“Saya.”</em> Lalu beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini  sudah mengunjungi orang sakit.”</em> Abu Bakar kembali mengatakan, <em>“Saya.”</em> Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, <em>“Tidaklah  ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan  masuk surga.”</em> (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p>Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq  <em>radhiyallahu’anhu</em>, <em>”Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya)  mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang  bersemayam di dalam hatinya.”</em> Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut,  Ibnu ‘Aliyah mengatakan, <em>”Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya  adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap  (sesama) makhluk-Nya.”</em> (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab,  hal. 102).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا  صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ  كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ</strong></p>
<p><em>”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging.  Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia  rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging  itu adalah jantung.” </em>(HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat  An-Nu’man bin Basyir <em>radhiyallahu’anhuma</em>).</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ”Di dalam hadits ini terdapat  isyarat yang menunjukkan bahwa <span style="text-decoration: underline;">kebaikan gerak-gerik anggota badan  manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan,  kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat  (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya</span>.  Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain  kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai  Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal  yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik  seluruh anggota badannya. Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala  macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat  untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-‘Ulum  wa Al-Hikam, hal. 93).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar   bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari  kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108).</p>
<p>Maka dari arah pintu manakah kita -dengan segala kekurangan yang ada- akan berusaha -dengan taufik Allah tentunya- bisa menembus pintu surga? Dari satu pintu, ataukah dari banyak pintu&#8230; <em>Allahul muwaffiq</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/menembus-pintu-surga.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Shaum Ramadhan</title>
		<link>http://abumushlih.com/kedudukan-shaum-ramadhan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kedudukan-shaum-ramadhan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 08:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Buka Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Infak]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Panduan Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1880</guid>
		<description><![CDATA[“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan kepadanya…”. Kewajiban Bagi Kaum Yang Beriman Allah ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa, sebagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkedudukan-shaum-ramadhan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkedudukan-shaum-ramadhan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang  lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan  kepadanya…”.</em></p>
<p><span id="more-1880"></span><strong>Kewajiban Bagi Kaum Yang Beriman</strong></p>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا  كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian untuk  berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian  agar kalian bertakwa.”</em> (QS. Al-Baqarah [2] : 183).</p>
<p>Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Ramadhan merupakan salah  satu rukun Islam. Inilah kedudukannya (yang mulia) di dalam agama Islam.  Hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma’/kesepakatan kaum muslimin  karena Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan demikian.” (Syarh Riyadhush  Shalihin, 3/380).</p>
<p>Ketika menjelaskan ayat di atas beliau mengatakan, “Allah mengarahkan  pembicaraannya (di dalam ayat ini, pen) kepada orang-orang yang beriman.  Sebab puasa Ramadhan merupakan bagian dari konsekuensi keimanan. Dan  <strong>dengan menjalankan puasa Ramadhan akan bertambah sempurna keimanan  seseorang</strong>. Dan juga karena dengan meninggalkan puasa Ramadhan akan  mengurangi keimanan. Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang  meninggalkan puasa karena meremehkannya atau malas, apakah dia kafir  atau tidak? Namun pendapat yang benar menyatakan bahwa orang ini tidak  kafir. Sebab tidaklah seseorang dikafirkan karena meninggalkan salah  satu rukun Islam selain dua kalimat syahadat dan shalat.” (Syarh  Riyadhush Shalihin, 3/380-381).</p>
<p>Menunaikan kewajiban merupakan ibadah yang sangat utama, karena  <strong>kewajiban merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah</strong>. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda membawakan firman Allah ta’ala  (dalam hadits qudsi),</p>
<p><strong>وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا  افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ</strong></p>
<p>“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang  lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan  kepadanya…” (HR. Bukhari [6502] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang  menunjukkan bahwa mengerjakan kewajiban lebih utama daripada mengerjakan  amalan yang sunnah.” (Syarh Arba’in li An-Nawawi yang dicetak dalam  Ad-Durrah As-Salafiyah, hal. 265).</p>
<p>Syaikh As-Sa’di juga mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat pokok  yang sangat agung yaitu kewajiban harus didahulukan sebelum  perkara-perkara yang sunnah. Dan ia juga menunjukkan bahwa amal yang  wajib itu lebih dicintai Allah dan lebih banyak pahalanya.” (Bahjat  Al-Qulub Al-Abrar, hal. 116).</p>
<p>Al-Hafizh mengatakan, “Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwasanya  menunaikan kewajiban-kewajiban merupakan amal yang paling dicintai oleh  Allah.” (Fath Al-Bari, 11/388).</p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Amal-amal  wajib lebih utama daripada amal-amal sunnah. Menunaikan amal yang wajib  lebih dicintai Allah daripada menunaikan amal yang sunnah. Ini  merupakan pokok agung dalam ajaran agama yang ditunjukkan oleh  dalil-dalil syari’at dan ditetapkan pula oleh para ulama salaf.”  Kemudian beliau menyebutkan hadits di atas. Setelah itu beliau  mengatakan, “Maka hadits ini memberikan penunjukan yang sangat gamblang  bahwa amal-amal wajib lebih mulia dan lebih dicintai Allah daripada  amal-amal sunnah.” Kemudian beliau menukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar  di atas (lihat Tajrid Al-Ittiba’ fi Bayan Tafadhul Al-A’maal, hal. 34).</p>
<p>Dikutip dari:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;0b9a9&quot;, event);" rel="nofollow" href="../keagungan-puasa-ramadhan.html/" target="_blank">http://abumushlih.com/keagungan-puasa-ramadhan.html/</a></p>
<p>Anda tertarik untuk mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan bermanfaat?<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;0b9a9&quot;, event);" rel="nofollow" href="../gema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html/" target="_blank">http://abumushlih.com/gema-ramadhan-1431-h-masjid-pogung-raya.html/</a></p>
<p>Anda tertarik untuk menyisihkan harta di jalan Allah?<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;0b9a9&quot;, event);" rel="nofollow" href="../semarak-dakwah-jogja-syaban-ramadhan-1431-h.html/" target="_blank">http://abumushlih.com/semarak-dakwah-jogja-syaban-ramadhan-1431-h.html/</a></p>
<p>Anda di luar Jogja dan ingin berlangganan buletin dakwah setiap pekan?<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;0b9a9&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://buletin.muslim.or.id/tentang/penawaran-buletin-at-tauhid-jogjakarta" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id/tentang/penawaran-buletin-at-tauhid-jogjakarta</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kedudukan-shaum-ramadhan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Polemik Arah Kiblat (Audio)</title>
		<link>http://abumushlih.com/polemik-arah-kiblat-audio.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/polemik-arah-kiblat-audio.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 13:35:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Polemik Arah Kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1869</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, persoalan kiblat kembali mencuat. Yang menjadi masalah, hal ini banyak menimbulkan konflik dan perdebatan di masyarakat. Bagaimanakah pandangan syari&#8217;at? Berikut ini kami sajikan rekaman kajian bersama ustadz Abu Thohir, Lc. (Pekanbaru) yang mengupas persoalan tersebut. Kami ucapkan terima kasih kepada al-Akh Aqil Azizi yang mengirimkan rekaman kajian ini kepada kami. Selamat mengunduh file kajian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpolemik-arah-kiblat-audio.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpolemik-arah-kiblat-audio.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillah, persoalan kiblat kembali mencuat. Yang menjadi masalah, hal ini banyak menimbulkan konflik dan perdebatan di masyarakat. Bagaimanakah pandangan syari&#8217;at?</p>
<p><span id="more-1869"></span>Berikut ini kami sajikan rekaman kajian bersama ustadz <strong>Abu Thohir, Lc.</strong> (Pekanbaru) yang mengupas persoalan tersebut. Kami ucapkan terima kasih kepada al-Akh Aqil Azizi yang mengirimkan rekaman kajian ini kepada kami. Selamat mengunduh file kajian ini, semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/kiblat_445/230610_permasalahanKiblat_masjidAl-madinahPekanbaru.mp3" target="_blank">Download Kajian</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/polemik-arah-kiblat-audio.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/kiblat_445/230610_permasalahanKiblat_masjidAl-madinahPekanbaru.mp3" length="0" type="audio/mpeg" />
		</item>
	</channel>
</rss>
