<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Ibadah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/ibadah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Merasakan Kelezatan Iman</title>
		<link>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2502</guid>
		<description><![CDATA[Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman [34]) Ridha adalah merasa puas dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [34])</p>
<p><span id="more-2502"></span></p>
<p>Ridha adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu serta tidak mencari lagi sesuatu yang lain bersamanya. Makna hadits ini adalah; orang tersebut tidak mencari dan berharap kecuali kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> semata, tidak mau berusaha kecuali di atas jalan Islam, dan tidak mau menempuh suatu jalan kecuali apabila sesuai dengan syari&#8217;at Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seseorang yang telah merasa ridha dengan sesuatu maka sesuatu itu akan terasa mudah baginya. Demikian pula seorang mukmin apabila iman telah meresap ke dalam hatinya maka akan terasa mudah segala ketaatan kepada Allah dan dia akan merasakan nikmat dengannya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/86] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang bisa merasakan kelezatan iman adalah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Ridha      Allah sebagai Rabb</li>
<li>Ridha      Islam sebagai agama</li>
<li>Ridha      Muhammad sebagai rasul</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Pertama:</strong><br />
<em>Ridha Allah Sebagai Rabb</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Rabb</strong></p>
<p>Imam ar-Raghib al-Ashfahani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Akar kata dari Rabb adalah tarbiyah; yaitu menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.”</em> (lihat <em>al-Mufradat fi Gharib al-Qur&#8217;an</em> [1/245])</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Rabb artinya adalah yang mentarbiyah seluruh alam; dan alam itu adalah segala sesuatu selain Allah. Tarbiyah itu berupa penciptaan mereka, pemberian berbagai sarana yang Allah sediakan untuk mereka, pemberian nikmat kepada mereka dengan kenikmatan yang sangat agung; yang seandainya mereka tidak mendapatkannya niscaya mereka tidak mungkin bertahan hidup di alam dunia. Nikmat apapun yang ada pada diri mereka adalah bersumber dari Allah ta&#8217;ala.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, sebagaimana tercantum dalam <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Rabb menurut bahasa digunakan untuk tiga makna; sayyid/tuan yang dipatuhi, maalik/pemilik atau penguasa, atau sosok yang melakukan ishlah/perbaikan untuk selainnya.”</em> (lihat transkrip ceramah <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul</em> milik beliau)</p>
<p><strong>[2] Tarbiyah Umum dan Tarbiyah Khusus</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Tarbiyah Allah ta&#8217;ala kepada makhluk-Nya ada dua macam: umum dan khusus. Tarbiyah yang bersifat umum adalah berupa penciptaan seluruh makhluk, pemberian rizki dan petunjuk kepada mereka menuju kemaslahatan hidup mereka untuk bisa bertahan hidup di alam dunia. Adapun tarbiyah yang bersifat khusus adalah tarbiyah yang Allah berikan kepada para wali-Nya. Allah mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuk itu dan menyempurnakan iman mereka. Allah singkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang membatasi antara mereka dengan diri-Nya. Hakikat tarbiyah khusus ini adalah pemberian taufik untuk menggapai segala kebaikan dan penjagaan dari segala keburukan. Barangkali inilah rahasia mengapa kebanyakan doa para nabi itu menggunakan kata Rabb, sebab semua cita-cita dan keinginan mereka berada di bawah kendali rububiyah Allah yang khusus ini. Maka firman-Nya &#8216;Rabbul &#8216;alamin&#8217; menunjukkan atas keesaan Allah dalam hal mencipta, mengatur, pemberian nikmat, dan kekayaan-Nya yang maha sempurna. Hal itu sekaligus menggambarkan betapa besarnya kebutuhan seluruh alam ini kepada-Nya, dari segala sisi dan pertimbangan.” </em>(<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, lihat <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34], lihat juga <em>Tafsir Surah al-Fatihah</em>, hal. 12) <em> </em></p>
<p><strong>[3] Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Tauhid rububiyah adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Memberikan Rizki, Yang Mengatur segala urusan, yang  memelihara dan menjaga seluruh makhluk dengan segala bentuk nikmat dan Allah pula yang memelihara dan menjaga makhluk-makhluk pilihan-Nya yaitu para nabi dan pengikut mereka dengan bimbingan akidah yang benar, akhlak yang mulia, ilmu-ilmu yang bermanfaat, maupun amal salih. Inilah bentuk tarbiyah (pemeliharaan dan penjagaan) yang bermanfaat bagi hati dan ruh, yang akan membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akherat (lihat <em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 13)</p>
<p>Allah adalah Rabb alam semesta. Artinya, Allah adalah pencipta dan penguasa alam semesta. Dialah yang melakukan <em>ishlah</em>/perbaikan dan <em>tarbiyah</em>/pemeliharaan dan pembinaan kepada mereka dengan nikmat-nikmat-Nya. Diantara kenikmatan itu -bahkan yang paling agung- adalah diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab. Kemudian Allah pula yang akan memberikan balasan kepada hamba atas amal-amal mereka. Konsekuensi rububiyah Allah adalah berupa perintah dan larangan kepada hamba, balasan atas kebaikan mereka, dan hukuman atas kejahatan mereka. Inilah hakikat rububiyah (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 26)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara ringkas, tauhid rububiyah bisa didefinisikan dengan mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah ada pencipta selain Allah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?”</em> (QS. Fathir: 3). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan milik Allah lah kekuasaan atas langit dan bumi.”</em> (QS. Ali &#8216;Imran: 189). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, Lalu mengapa kalian tidak bertakwa.” </em>(QS. Yunus: 31) (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/5-6] cet. Maktabah al-&#8217;Ilmu, lihat juga <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em> hal. 34)</p>
<p>Apabila diringkas lagi, bisa disimpulkan bahwa tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17 karya Syaikh Muhammad bin &#8216;Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi, lihat juga <em>Qathfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani</em>, hal. 56 karya Syaikh al-Muhaddits Abdul Muhsin al-&#8217;Abbad al-Badr, dan <em>at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 6 karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh <em>hafizhahumullahu</em>)</p>
<p><strong>[4] Orang Musyrik Pun Mengakui Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Para rasul mereka pun mengatakan, “Apakah ada keraguan terhadap Allah; padahal Dia lah yang menciptakan langit dan bumi.”.” </em>(QS. Ibrahim: 10). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, &#8216;Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui&#8217;.” </em>(QS. az-Zukhruf: 9)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).”</em> (QS. az-Zukhruf: 87). Imam Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya orang-orang musyrik arab dahulu telah mengakui tauhid rububiyah. Mereka pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi ini hanya satu.”</em> (lihat <em>Syarh al-&#8217;Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 81, lihat juga <em>Fath al-Majid</em>, hal. 16, <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/201] [7/167])</p>
<p><strong>[5] Konsekuensi Mengimani Allah Sebagai Rabb</strong></p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, <em>“Sebagaimana pula wajib diketahui bahwa pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidaklah mencukupi dan tidak bermanfaat kecuali apabila disertai pengakuan terhadap tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam beribadah) dan benar-benar merealisasikannya dengan ucapan, amalan, dan keyakinan&#8230;”</em> (lihat <em>Syarh Kasyf asy-Syubuhat</em>, hal. 24-25).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” </em>(QS. Yusuf: 107). Ikrimah berkata, <em>“Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, &#8216;Allah&#8217;. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [13/556])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Kemudian, sesungguhnya keimanan seorang hamba kepada Allah sebagai Rabb memiliki konsekuensi mengikhlaskan ibadah kepada-Nya serta kesempurnaan perendahan diri di hadapan-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiya&#8217;: 92). Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. al-Baqarah: 21). Keberadaan Allah sebagai Rabb seluruh alam memiliki konsekuensi bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan sia-sia atau dibiarkan begitu saja tanpa ada perintah dan larangan untuk mereka. Akan tetapi Allah menciptakan mereka untuk mematuhi-Nya dan Allah mengadakan mereka supaya beribadah kepada-Nya. Maka orang yang berbahagia diantara mereka adalah yang taat dan beribadah kepada-Nya. Adapun orang yang celaka adalah yang durhaka kepada-Nya dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya. Barangsiapa yang beriman terhadap rububiyah Allah dan ridha Allah sebagai Rabb maka dia akan ridha terhadap perintah-Nya, ridha terhadap larangan-Nya, ridha terhadap apa yang dibagikan kepadanya, ridha terhadap takdir yang menimpanya, ridha terhadap pemberian Allah kepadanya, dan tetap ridha kepada-Nya tatkala Allah tidak memberikan kepadanya apa yang dia inginkan.”</em> (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 97)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 89)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Allah Sebagai Rabb&#8217; </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari keterangan-keterangan para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Allah sebagai Rabb mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini      bahwa seluruh kenikmatan -jasmani maupun ruhani- adalah bersumber dari      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa segala sesuatu yang ada di alam dunia ini adalah ciptaan dari-Nya</li>
<li>Meyakini      bahwa segala kejadian yang ada di alam dunia ini adalah terjadi dengan      kehendak-Nya. Allah lah yang mengatur segalanya dan Allah yang paling      mengetahui tentangnya.</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah adalah penguasa tunggal alam semesta, Dia lah yang berhak      memerintah dan melarang atas hamba-hamba-Nya, dan Dia lah yang akan      memberikan balasan dan hukuman atas amal perbuatan mereka</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul yang      menjadi pembimbing umat manusia untuk menggapai kebahagiaan hidup yang      sejati</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah semata yang berhak untuk diibadahi, yang menjadi tumpuan      harapan, dan tempat bergantungnya hati. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam      hal itu semua</li>
<li>Memurnikan      segala macam bentuk ibadah kepada-Nya serta meninggalkan dan mengingkari      segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya</li>
<li>Menaati      perintah dan larangan-Nya serta mengimani pahala dan siksa yang      diberikan-Nya</li>
<li>Merasa      ridha dengan takdir dan musibah yang ditetapkan oleh-Nya</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Kedua:</strong><br />
<em>Ridha Islam Sebagai Agama</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara bahasa islam artinya adalah menyerahkan diri. Adapun menurut syari&#8217;at, islam adalah sikap pasrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan melaksanakan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 62)</p>
<p>Dari Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah &#8211;dalam riwayat lain syahadat diungkapkan dengan kata-kata: mentauhidkan Allah, dalam riwayat lain lagi disebutkan: beribadah kepada Allah dan mengingkari sesembahan selain-Nya&#8211;, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa Ramadhan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [8] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [16])</p>
<p><strong>[2] Pokok Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Islam ditegakkan di atas dua prinsip pokok. Pertama; beribadah kepada Allah semata. Kedua; beribadah kepada Allah hanya dengan syari&#8217;at-Nya. Kedua hal ini telah tercakup di dalam dua kalimat syahadat yang kita ucapkan: <em>asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah</em>. <em>“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” </em></p>
<p>Kalimat <em>laa ilaha illallah</em> bermakna tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka seluruh sesembahan yang diibadahi oleh manusia selain Allah adalah sesembahan yang batil. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demikian itulah, karena sesungguhnya Allah itu adalah -sesembahan- yang benar. Adapun segala yang mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil.”</em> (QS. al-Hajj: 62). Adapun kalimat <em>Muhammadur rasulullah</em> bermakna tidak ada orang yang menjadi pedoman dalam hal syari&#8217;at selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80)</p>
<p>Oleh karena itu amalan yang diterima di sisi Allah adalah yang memenuhi dua syarat: ikhlas (tidak syirik) dan <em>ittiba&#8217;</em>/mengikuti tuntunan (bukan bid&#8217;ah). Kedua hal inilah yang dimaksud oleh firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Fudhail bin Iyadh <em>rahimahullah </em>berkata, <em>“Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits).</p>
<p><strong>[3] Pondasi Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [9] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [35], lafal ini milik Muslim). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” </em>(lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (QS. at-Taubah: 109)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p><strong>[4] Agama Para Nabi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/bertauhid dan seorang muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 67). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“&#8230; Maka ikutilah millah Ibrahim yang lurus, dan tidaklah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 95). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian Kami wahyukan kepadamu; hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim yang lurus itu, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. an-Nahl: 123). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah (Muhammad), &#8216;Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama/millah Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.&#8217;.” </em>(QS. al-An&#8217;am: 161).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada teladan yang baik untuk kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah saja&#8230;” </em>(QS. al-Mumtahanah: 4).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” </em>(QS. an-Nahl: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus seorang pun rasul sebelum engkau -wahai Muhammad- melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25).</p>
<p><strong>[5] Islam Telah Sempurna</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 3). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ini adalah nikmat terbesar dari Allah ta&#8217;ala untuk umat ini. Dimana Allah ta&#8217;ala telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan lagi agama selainnya, dan juga tidak butuh nabi selain nabi mereka -semoga salawat dan keselamatan terus terlimpah kepada beliau-. Oleh sebab itulah Allah ta&#8217;ala menjadikan beliau sebagai penutup nabi-nabi dan diutus kepada segenap jin dan manusia&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [3/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya, dan kelak di akherat dia akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.”</em> (QS. Ali Imran: 85). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya, siapa pun yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam padahal Islam itu jelas-jelas telah diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, maka amalannya pasti tertolak dan tidak akan diterima. Agama Islam itulah ajaran yang mengandung sikap kepasrahan/istislam kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada rasul-rasul-Nya. Oleh sebab itu, selama seorang hamba tidak memeluk agama ini maka dia belum memiliki sebab keselamatan dari azab Allah dan tidak memiliki sebab untuk meraih kejayaan berupa limpahan pahala dari-Nya. Dan semua agama selainnya adalah batil.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 137)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.”</em> (QS. Ali Imran: 19). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Ini adalah berita dari Allah ta&#8217;ala bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya dari siapa pun selain agama Islam. Hakikat  Islam adalah mengikuti para rasul dengan menjalankan ajaran yang diturunkan Allah kepada mereka di setiap masa sampai akhirnya mereka -para rasul- ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju-Nya kecuali jalan Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam keadaan memeluk agama selain yang disyari&#8217;atkan oleh beliau maka tidak diterima&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/19] cet. Maktabah at-Taufiqiyah)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberikan al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum yang ummi/buta huruf (yaitu orang-orang musyrik); ”Maukah kalian masuk Islam?”. Apabila mereka masuk Islam, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk. Namun apabila mereka justru berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha melihat semua hamba.”</em> (QS. Ali Imran: 20). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat ini dan juga ayat-ayat lain yang serupa merupakan penunjukan yang sangat tegas mengenai keumuman pengutusan beliau -semoga salawat dan keselamatan tercurah kepadanya- kepada semua manusia sebagaimana hal itu telah diketahui sebagai bagian dari agama secara pasti, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil al-Kitab maupun as-Sunnah dalam banyak ayat dan hadits.”</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Muhammad itu adalah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi.”</em> (QS. al-Ahzab: 40). Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku dari kalangan umat ini, entah dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia tidak mau beriman terhadap ajaran yang aku bawa melainkan kelak dia pasti termasuk penduduk neraka.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [153]). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terdapat kandungan hukum bahwasanya semua agama telah dihapuskan pemberlakuannya dengan adanya risalah Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/245])</p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Islam Sebagai Agama&#8217;</strong></p>
<p>Dari keterangan-keterangan di atas kita dapat menyimpulkan bersama bahwa yang dimaksud dengan ridha Islam sebagai agama itu meliputi hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Beribadah      hanya kepada Allah dan mengingkari segala bentuk peribadahan kepada selain      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah utusan Allah</li>
<li>Meyakini      wajibnya rukun Islam, yaitu: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji</li>
<li>Meyakini      bahwa ibadah tidak akan diterima apabila tidak ikhlas atau tidak mengikuti      tuntunan</li>
<li>Meyakini      tauhid sebagai pondasi agama Islam yang tidak akan sah amal apapun      tanpanya</li>
<li>Meyakini      bahwa agama para nabi adalah satu -yaitu islam- meskipun syari&#8217;atnya      berlainan</li>
<li>Meyakini      bahwa asas agama para nabi adalah tauhid</li>
<li>Meyakini      bahwa seluruh agama yang ada telah dihapuskan dengan ajaran Islam yang      dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini      kesempurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ia tidak memerlukan penambahan atau      koreksi</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Ketiga:</strong><br />
<em>Ridha Muhammad Sebagai Rasul</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Anugerah Risalah</strong></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, <em>“Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah ilah/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan. Kedua; Allah ta&#8217;ala telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.”</em> (lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, hal. 35)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, yang mensucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), sementara sebelumnya mereka berada di dalam kesesatan yang amat nyata.”</em> (QS. Ali Imran: 164)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Risalah adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi hamba. Mereka benar-benar membutuhkannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh di atas segala jenis kebutuhan. Risalah adalah ruh, cahaya, dan kehidupan alam semesta. Maka kebaikan seperti apa yang ada pada alam tanpa ruh, tanpa cahaya, dan tanpa kehidupan?”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim Ushul al-Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wa al-Jama&#8217;ah</em>, hal. 78 karya Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani)</p>
<p><strong>[2] Sumber Kehidupan Hakiki</strong></p>
<p>Allah<em> ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.”</em> (QS. al-Anfal: 24)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanya bisa digapai dengan merespon seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak merespon seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun dia memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka hidup. Oleh karena itu orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang kehilangan sebagian darinya maka dia kehilangan sebagian unsur kehidupan, bisa jadi di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sekadar dengan responnya terhadap ajakan Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 85-86 cet. Dar al-&#8217;Aqidah)</p>
<p><strong>[3] Kasih Sayang Rasul Kepada Umatnya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian. Terasa berat baginya apa yang menyusahkan kalian. Dia sangat bersemangat memberikan kebaikan kepada kalian. Dan terhadap orang-orang yang beriman dia sangat lembut dan penyayang.”</em> (QS. at-Taubah: 128)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang mustajab, maka semua Nabi bersegera mengajukan doanya itu. Adapun aku menunda doaku itu sebagai syafa&#8217;at bagi umatku kelak di hari kiamat. Doa -syafa&#8217;at- itu -dengan kehendak Allah- akan diperoleh setiap orang di antara umatku yang meninggal dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [199])</p>
<p>Dari Urwah, suatu ketika &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> -istri Nabi- menceritakan kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Pernahkah anda menemui suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku telah mendapatkan tanggapan dari kaummu sebagaimana apa yang aku temui. Tanggapan paling berat yang pernah aku dapatkan adalah pada hari &#8216;Aqabah, ketika itu aku tawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, akan tetapi dia tidak menerima tawaranku sebagaimana yang aku kehendaki. Aku pun kembali dengan perasaan sedih mewarnai wajahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku sudah berada di Qarn Tsa&#8217;alib. Aku angkat kepalaku ke atas, ternyata ada awan yang sedang menaungi diriku. Aku pun memperhatikan, ternyata di sana ada Jibril, lalu dia pun memanggilku. Dia berkata, &#8216;Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan yang mereka lakukan terhadapmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, agar kamu perintahkan kepadanya apa yang ingin kau timpakan kepada mereka.&#8217; Maka malaikat penjaga gunung itu pun menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu dia berkata, &#8216;Wahai Muhammad&#8217;. Dia berkata, &#8216;Apabila kamu menginginkan hal itu, niscaya akan aku timpakan kepada mereka dua bukit besar itu.&#8217;.”</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> justru menjawab, <em>“Tidak, sesungguhnya aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab Bad&#8217;u al-Khalq</em> [3231])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau menceritakan: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membaca firman Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> mengenai Ibrahim (yang artinya), <em>“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia, barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia adalah termasuk golonganku.”</em> (QS. Ibrahim: 36). &#8216;Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> juga berkata (yang artinya), <em>“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu, dan apabila Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 118). Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, <em>“Ya Allah, umatku, umatku.”</em> Dan beliau pun menangis. Allah<em> &#8216;azza wa jalla</em> berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad -sedangkan Rabbmu tentu lebih mengetahui- lalu tanyakan kepadanya, apa yang membuatmu menangis?”</em>. Maka Jibril <em>&#8216;alaihis sholatu was salam</em> menemui beliau dan bertanya kepadanya, lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan kepadanya tentang apa yang telah diucapkannya -dan Dia (Allah) tentu lebih mengetahuinya-. Kemudian Allah berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad, dan katakan kepadanya, &#8216;Sesungguhnya Kami pasti akan membuatmu ridha berkenaan dengan nasib umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu bersedih.&#8217;.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [202])</p>
<p>Sa&#8217;id bin al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, beliau menceritakan: Ketika kematian hendak menghampiri Abu Thalib, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun datang kepadanya. Di sana beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin al-Mughirah telah berada di sisinya. Kemudian beliau berkata, <em>“Wahai pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untuk membelamu kelak di sisi Allah.”</em> Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan syahadat kepadanya, sedangkan mereka berdua pun terus mengulangi ucapan itu. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>&#8230; (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1360] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [24])</p>
<p><strong>[4] Konsekuensi Iman Kepada Rasul</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Makna syahadat bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah yaitu mentaati segala perintahnya, membenarkan berita yang disampaikannya, menjauhi segala yang dilarang dan dicegah olehnya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari&#8217;atnya.”</em> (lihat <em>Hushul al-Ma&#8217;mul bi Syarh Tsalatsat al-Ushul</em>, hal. 116)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul pun melainkan supaya ditaati dengan izin Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 64). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apa saja yang dibawa oleh rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarang olehnya kepada kalian maka tinggalkanlah.” </em>(QS. al-Hasyr: 7).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya, tidaklah hal itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” </em>(QS. an-Najm: 3-4). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ikutilah dia (rasul) mudah-mudahan kalian mendapatkan petunjuk.” </em>(QS. al-A&#8217;raaf: 158). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apabila mereka tidak mau memenuhi seruanmu (Muhammad), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu mengikuti hawa nafsunya. Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.” </em>(QS. al-Qashash: 50)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau merasakan siksaan yang sangat pedih.”</em> (QS. an-Nur: 63). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak pantas bagi seorang beriman lelaki ataupun perempuan apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian ternyata masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam menyelesaikan urusan mereka.”</em> (QS. al-Ahzab: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang perkara apa saja maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 59).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka demi Rabbmu, mereka sama sekali tidak beriman sampai mereka mau menjadikan kamu sebagai hakim/pemutus perkara dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak lagi mendapati rasa sempit di dalam diri mereka atas apa yang kamu putuskan dan mereka pun pasrah secara sepenuhnya.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 65)</p>
<p><strong>[5] Makna &#8216;Ridha Muhammad Sebagai Rasul&#8217;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Muhammad sebagai rasul adalah mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini bahwa diutusnya      Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> merupakan anugerah dan      karunia terbesar bagi umat manusia</li>
<li>Meyakini bahwa kebutuhan      umat manusia terhadap bimbingan rasul (risalah) adalah di atas segala      kebutuhan mereka</li>
<li>Meyakini bahwa kehidupan      yang sejati dan kebahagiaan yang hakiki hanya bisa digapai dengan  memenuhi seruan Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini betapa besar      kasih sayang Rasul kepada umatnya dan semangat beliau yang begitu besar      dalam rangka memberikan hidayah kepada mereka</li>
<li>Meyakini kebenaran      berita yang disampaikan olehnya</li>
<li>Meyakini wajibnya      menaati perintahnya dan menjauhi larangannya, dan bahwasanya hal itu      termasuk dalam ketaatan kepada Allah</li>
<li>Meyakini bahwa ibadah      kepada Allah -seikhlas apapun- tidak akan diterima oleh-Nya apabila tidak      sesuai dengan syari&#8217;at dan ajaran beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Menerima segala      ketetapan beliau dengan penuh kepasrahan</li>
<li>Menjadikan sabda dan      ketetapan beliau sebagai rujukan dalam menyelesaikan segala macam      perselisihan serta menjunjung tinggi sabda-sabdanya di atas seluruh ucapan      manusia</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENERIMAAN SANTRI BARU MA’HAD AL-‘ILMI</title>
		<link>http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 06:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2496</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu adalah landasan ucapan dan perbuatan Ilmu merupakan pondasi kebangkitan Ilmu menjadi syarat tegaknya peradaban Ilmu menanamkan rasa takut kepada ar-Rahman Marilah, Saudaraku..! Kita tegakkan penghambaan kepada Allah dengan ilmu PENERIMAAN SANTRI BARU MA’HAD AL-‘ILMI YOGYAKARTA ANGKATAN IX TAHUN 2012 &#8230; <a href="http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenerimaan-santri-baru-ma%25e2%2580%2599had-al-%25e2%2580%2598ilmi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenerimaan-santri-baru-ma%25e2%2580%2599had-al-%25e2%2580%2598ilmi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Ilmu adalah landasan ucapan dan perbuatan<br />
Ilmu merupakan pondasi kebangkitan<br />
Ilmu menjadi syarat tegaknya peradaban<br />
Ilmu menanamkan rasa takut kepada ar-Rahman<br />
</em></p>
<p><span id="more-2496"></span></p>
<p><em>Marilah, Saudaraku..!<br />
Kita tegakkan penghambaan kepada Allah dengan ilmu</em></p>
<p><strong>PENERIMAAN SANTRI BARU MA’HAD AL-‘ILMI YOGYAKARTA<br />
ANGKATAN IX TAHUN 2012 – 2013</strong></p>
<p><strong>Terbuka Untuk Umum<br />
Ikhwan dan Akhwat</strong></p>
<p><strong>Materi Pelajaran Rutin:</strong></p>
<ul>
<li>Tauhid</li>
<li>Aqidah</li>
<li>Fiqih</li>
<li>UshulFiqih</li>
</ul>
<p><strong>Daurah-Daurah :</strong></p>
<ul>
<li><em>Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah</em> (Manhaj)</li>
<li><em>Tsalatsatul Ushul</em> (Tauhid)</li>
<li><em>(Aqidah)</em></li>
<li><em>Shifat Wudhu Nabi</em> (Fiqih)</li>
<li><em>Talkhis Shifat Sholat Nabi</em> (Fiqih)</li>
<li><em>Qowa’id Fiqhiyyah</em> (Fiqih)</li>
<li><em>Ushul Fi Tafsir</em> (UshulTafsir)</li>
<li><em>Baiquniyah</em> (UshulHadits)</li>
</ul>
<p><strong>Masa Belajar:</strong><br />
1 tahun (2 semester)</p>
<p><strong>Jadwal Kajian:</strong><br />
4 kali pertemuan perpekan (di luar jam kuliah)</p>
<p><strong>Staf Pengajar:</strong></p>
<ul>
<li>Ustadz Abu Sa’ad <em>hafizhahullah</em></li>
<li>Ustadz Afifi Abdul Wadud <em>hafizhahullah</em></li>
<li>Ustadz Abu ‘Isa <em>hafizhahullah</em></li>
<li>Ustadz Marwan <em>hafizhahullah</em></li>
<li>Ustadz Aris Munandar <em>hafizhahullah</em></li>
</ul>
<p><strong>Waktu Pendaftaran:</strong><br />
1 Mei – 31 Mei 2012</p>
<p><strong>Biaya Pendaftaran:</strong><br />
Gratis</p>
<p><strong>2 Langkah Pendaftaran</strong><br />
<strong><em>Langkah Pertama</em>: Via SMS</strong><br />
Ketik: Daftar [spasi] MI [spasi] Nama [spasi] JenisKelamin [spasi] Alamat [spasi] Pekerjaan<br />
Contoh: Daftar MI Ahmad Putra Pogung Kidul Mahasiswa<br />
SMS dikirimkan ke nomor:<br />
0857 2593 7791 (putra)<br />
0852 9299 5015 (putri)</p>
<p><strong><em>Langkah Kedua</em>: Via e-mail</strong></p>
<p><a href="http://mahadilmi.files.wordpress.com/2012/04/formulir-pendaftaran-mi-2012.doc">Download Formulir Pendaftaran</a></p>
<p>Kemudian diisi dengan lengkap lalu dikirimkan ke alamat email:<br />
<a href="mailto:mahadilmi.ikhwan@gmail.com">mahadilmi.ikhwan@gmail.com</a> (putra)<br />
<a href="mailto:mahadilmi_akhwat@yahoo.com">mahadilmi_akhwat@yahoo.com</a> (putri)</p>
<p><strong>Syarat Pendaftaran*:</strong></p>
<ol>
<li>Muslim/muslimahusia minimal 17 tahun.</li>
<li>Terbuka untuk mahasiswa dan non mahasiswa.</li>
<li>Bersedia dan komitmen menjalani pendidikan selama 1 tahun.</li>
<li>Mengisi Formulir Pendaftaran</li>
<li>Fotocopy KTP dan KTM (bagi mahasiswa)</li>
<li>Surat Rekomendasi (dari ustadz, pengurus YPIA, atau yang lainnya).</li>
<li>Mengikuti tes masuk:
<ol>
<li>Tes tertulis meliputi tes bahasa arab dan tes kemampuan dasar diniyyah.</li>
<li>Tes wawancara meliputi tes kemampuan baca Al-Qur’an dan kesungguhan.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>*<small>Syarat no. 5 dan 6 diserahkan jika sudah resmi diterima</small></p>
<p><strong>Tes Seleksi:</strong><br />
Sabtu, 2 Juni 2012<br />
Pkl. 08.30 WIB – selesai<br />
di Masjid Pogung Raya, Pogung Dalangan (utara Fakultas Teknik UGM)</p>
<p><strong>Pengumuman Hasil Seleksi:</strong><br />
Bisa dilihat di website <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a> dan <a href="http://mahadilmi.wordpress.com/">www.mahadilmi.wordpress.com</a><br />
Tanggal 9 Juni 2012</p>
<p><strong>Briefing:</strong><br />
Ahad, 10 Juni 2012<br />
Pkl. 08.30WIB – selesai<br />
di Masjid Al-Ashri PogungRejo</p>
<p><strong>Biaya Pendidikan:</strong><br />
SPP per bulan Rp 50.000,-</p>
<p><strong>Penyelenggara:</strong><br />
<a title="Ma'had Al 'Ilmi Yogyakarta" href="http://mahadilmi.wordpress.com/">Ma’had Al-’Ilmi Yogyakarta</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/penerimaan-santri-baru-ma%e2%80%99had-al-%e2%80%98ilmi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Membutuhkan Hidayah?</title>
		<link>http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 11:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2494</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa besarkah kebutuhan kita kepada hidayah? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan setidaknya ada 10 alasan yang melatarbelakangi doa yang senantiasa kita panjatkan dalam sholat kita. Yaitu doa meminta hidayah. Beliau memaparkan: Barangsiapa yang mencermati segala kerusakan yang menimpa alam semesta &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Seberapa besarkah kebutuhan kita kepada hidayah? Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan setidaknya ada 10 alasan yang melatarbelakangi doa yang senantiasa kita panjatkan dalam sholat kita. Yaitu doa meminta hidayah. Beliau memaparkan:</p>
<p><span id="more-2494"></span></p>
<p>Barangsiapa yang mencermati segala kerusakan yang menimpa alam semesta secara umum maupun khusus, niscaya dia akan menemukan bahwa itu semua muncul dari dua sumber utama ini (yaitu akibat kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, pent).</p>
<p>Adapun kelalaian, maka ia akan menghalangi seorang hamba dari mengetahui kebenaran sehingga membuatnya tergolong orang yang sesat. Adapun memperturutkan hawa nafsu akan memalingkannya dari mengikuti kebenaran sehingga membuatnya termasuk golongan orang yang dimurkai. Sedangkan orang yang dikaruniai nikmat itu adalah orang-orang yang diberi anugerah ilmu tentang kebenaran dan ketundukan untuk melaksanakannya serta mendahulukan hal itu di atas selainnya. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas jalan keselamatan. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang berada di atas jalan kehancuran.</p>
<p>Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk mengucapkan setiap sehari semalam berkali-kali, <em>“Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladzina an&#8217;amta &#8216;alaihim ghairil maghdhubi &#8216;alaihim wa lad dhaalliin.”</em> Artinya: <em>“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.”</em> (QS. al-Fatihah: 5-7)</p>
<p>Karena sesungguhnya seorang hamba sangat-sangat membutuhkan pengetahuan terhadap apa saja yang bermanfaat baginya dalam kehidupan dunia dan akheratnya. Sebagaimana dia juga sangat-sangat membutuhkan keinginan yang kuat sehingga bisa mendahulukan urusan yang bermanfaat baginya itu serta sebisa mungkin menjauhi segala hal yang membahayakan dirinya.</p>
<p>Dengan terkumpulnya kedua perkara ini maka sungguh dia telah mendapat petunjuk menuju jalan yang lurus itu. Apabila dia kehilangan ilmu tentangnya maka dia akan menempuh jalan orang-orang yang sesat. Dan apabila dia kehilangan tekad dan keinginan untuk mengikutinya maka dia telah menempuh jalan orang-orang yang dimurkai. Dengan begitu bisa diketahui betapa agung kedudukan doa ini dan betapa besar kebutuhan hamba terhadapnya, karena kebahagiaan hidup di dunia dan akherat semuanya tergantung pada hal ini.</p>
<p>Setiap hamba senantiasa membutuhkan hidayah dalam setiap waktu dan tarikan nafas, dalam segala urusan yang dia lakukan atau pun dia tinggalkan, karena sesungguhnya dia berada di antara berbagai keadaan yang dia pasti diliputi olehnya:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, hal-hal yang telah dia lakukan akan tetapi tidak mengikuti petunjuk akibat kebodohannya, maka dalam keadaan ini dia butuh untuk mencari hidayah kepada kebenaran dalam hal itu.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, dia sudah mengetahui hidayah dalam masalah itu, akan tetapi dia sengaja melanggarnya, maka dalam keadaan ini dia butuh untuk bertaubat dari kesalahannya.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, hal-hal yang memang tidak diketahuinya baik ilmu maupun amalan yang benar padanya, sehingga dia pun kehilangan hidayah untuk mengilmui sekaligus mengamalkannya.</p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong>, hal-hal yang memang dia telah memperoleh sebagian hidayah dalam urusan itu akan tetapi belum sempurna, maka dia butuh untuk mendapatkan hidayah yang sempurna padanya.</p>
<p><strong><em>Kelima</em></strong>, hal-hal yang dia telah mendapatkan hidayah terhadap pokok kebenaran dalam hal itu secara global saja, maka dia pun masih membutuhkan hidayah terhadap rincian-rinciannya.</p>
<p><strong><em>Keenam</em></strong>, dia telah mendapatkan hidayah &#8216;menuju&#8217; jalan yang lurus itu, maka dia pun masih membutuhkan hidayah untuk bisa berjalan &#8216;di atasnya&#8217;. Karena hidayah &#8216;menuju&#8217; jalan itu lain, sedangkan hidayah &#8216;di atas&#8217; jalan itu sesuatu yang lain lagi. Bukankah anda bisa melihat bahwasanya  seseorang bisa jadi telah mengetahui bahwa jalan menuju negeri anu adalah jalan ini dan itu. Meskipun demikian dia tidak sanggup untuk menempuhnya. Karena untuk bisa menempuh jalan itu masih memerlukan hidayah yang lebih khusus lagi untuk bisa berjalan di atasnya. Seperti misalnya dengan melakukan perjalanan di waktu ini bukan di waktu yang itu, kemudian mengambil air di jarak sekian dengan jumlah sekian, lalu singgah di tempat ini bukan di tempat yang itu. Inilah hidayah yang dibutuhkan untuk bisa menempuh jalan itu yang terkadang diabaikan oleh orang yang sudah mengetahui jalan tersebut, sehingga dia pun gagal dan tidak berhasil mencapai tujuan.</p>
<p><strong><em>Ketujuh</em></strong>, dia juga membutuhkan hidayah untuk hal-hal yang terkait dengan masa depannya sebagaimana yang dia dapatkan pada waktu yang telah berlalu.</p>
<p><strong><em>Kedelapan</em></strong>, perkara-perkara yang dia tidak bisa meyakini apa yang benar dan batil dalam hal itu, oleh sebab itu dia masih membutuhkan hidayah kepada keyakinan yang benar di dalamnya.</p>
<p><strong><em>Kesembilan</em></strong>, perkara-perkara yang telah diyakini olehnya bahwa dia berada di atas petunjuk akan tetapi sebenarnya dia berada di atas kesesatan dalam keadaan tidak menyadarinya. Dengan demikian dia membutuhkan hidayah dari Allah untuk bisa meninggalkan keyakinan tersebut.</p>
<p><strong><em>Kesepuluh</em></strong>, hal-hal yang telah dia lakukan sebagaimana hidayah yang sebenarnya, maka dia pun masih membutuhkan hidayah untuk bisa berbagi hidayah itu kepada selainnya, agar bisa membimbing dan mengarahkannya. Karena apabila dia melalaikan hal itu niscaya dia akan kehilangan hidayah sekadar dengan kelalaiannya tadi. Sesungguhnya balasan itu serupa dengan jenis amalan. Semakin dia berjuang dalam memberikan hidayah dan ilmu kepada orang lain maka semakin besar perhatian Allah dalam memberikan hidayah dan ilmu kepada dirinya, sehingga dia akan bisa menjadi orang yang mendapat hidayah dan menyebarkannya.</p>
<p>Hal itu sebagaimana dalam doa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan selainnya, <em>“Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman, dan jadikanlah kami orang yang memberikan hidayah dan terus diberi hidayah, tidak sesat dan tidak pula menyesatkan. Mendatangkan keselamatan kepada wali-wali-Mu dan memerangi musuh-musuh-Mu. Dengan cinta-Mu Kami mencintai orang yang mencintai-Mu. Dengan permusuhan-Mu kami akan memusuhi siapa saja yang menentang-Mu.” </em>(HR. Tirmidzi dalam <em>Kitab ad-Da&#8217;awat </em>sanadnya dilemahkan Syaikh al-Albani, tetapi sisi pendalilan dari hadits ini didukung oleh hadits yang lain)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Diterjemahkan secara bebas dari:<br />
<em>Risalah Ibnul Qayyim ila Ahadi Ikhwanihi</em> (hal. 5-10)<br />
Penerbit Dar &#8216;Alam al-Fawa&#8217;id<br />
<em>tahqiq</em> Abdullah bin Muhammad al-Mudaifir<br />
<em>isyraf</em> Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mengapa-kita-membutuhkan-hidayah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syahadat Laa Ilaha Illallah</title>
		<link>http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 05:57:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Laa ilaha illallah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2486</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca rahimakumullah, syahadat laa ilaha illallah adalah cabang keimanan yang tertinggi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha &#8230; <a href="http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsyahadat-laa-ilaha-illallah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsyahadat-laa-ilaha-illallah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Pembaca <em>rahimakumullah</em>, syahadat <em>laa ilaha illallah</em> adalah cabang keimanan yang tertinggi. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [9] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [35], lafal ini milik Muslim)</p>
<p><span id="more-2486"></span>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” </em>(lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam)</p>
<p>Syahadat inilah yang kelak akan menyelamatkan seorang hamba di hari kiamat. Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sangat bersemangat untuk mendakwahi pamannya Abu Thalib agar mau mengucapkan kalimat ini sebelum kematiannya. Sa&#8217;id bin al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, beliau menceritakan: Ketika kematian hendak menghampiri Abu Thalib, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun datang kepadanya. Di sana beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin al-Mughirah telah berada di sisinya. Kemudian beliau berkata, <em>“Wahai pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untuk membelamu kelak di sisi Allah.”</em> Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan syahadat kepadanya, sedangkan mereka berdua pun terus mengulangi ucapan itu. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>&#8230; (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1360] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [24])</p>
<p>Tentu saja yang dimaksud orang yang bersyahadat dengan sebenarnya adalah orang yang memahami kandungannya. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mempersyaratkan ilmu pada diri orang yang mengucapkan syahadat, jika dia memang ingin masuk ke dalam surga. Dari &#8216;Utsman bin &#8216;Affan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, niscaya dia akan masuk ke dalam surga.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [26])</p>
<p>Namun, memahami kandungan syahadat dan mengucapkannya pun belum cukup jika tidak disertai dengan amalan nyata di dalam kehidupan. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mempersyaratkan orang yang ingin masuk surga untuk membersihkan dirinya dari syirik. Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, niscaya dia masuk ke dalam neraka.”</em> Dan aku -Ibnu Mas&#8217;ud- berkata, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti akan masuk surga.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1238] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [92])</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Syahadat dengan lisan saja tidak cukup. Buktinya adalah kaum munafik juga mempersaksikan keesaan Allah &#8216;azza wa jalla. Akan tetapi mereka hanya bersaksi dengan lisan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini di dalam hati mereka. Oleh sebab itu ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka&#8230;”</em> (lihat <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em>, hal. 23 cet. Dar Tsurayya 1424 H). Ini menunjukkan bahwa  mengucapkan syahadat belum bisa menyelamatkan jika tidak dibarengi dengan keyakinan dan dibuktikan dengan amalan. Meskipun demikian, bukan berarti kita boleh sembarangan mencurigai orang. Sebab yang menjadi patokan adalah apa yang tampak secara lahiriah. Adapun urusan batin kita serahkan kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Marilah, sejenak kita simak kisah Usamah bin Zaid berikut ini&#8230;</p>
<p>Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> menceritakan: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengirim kami untuk bertempur melawan kaum Huraqah. Kami pun menggempur mereka dan berhasil membuat mereka kocar-kacir. Aku bersama seorang Anshar mengikuti salah seorang diantara mereka. Tatkala kami berhasil meringkusnya, tiba-tiba dia mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>. Temanku dari kaum Anshar pun menahan diri, sedangkan aku terus menyerangnya dengan tombakku hingga dia tewas. Pada saat kami pulang, kejadian itu dilaporkan kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Maka beliau bersabda, <em>“Wahai Usamah! Apakah kamu membunuhnya padahal dia telah mengucapkan laa ilaha illallah?!”</em>. Aku  menjawab, <em>“Orang itu hanya ingin cari selamat.”</em> Dalam riwayat lain Usamah menjawab, <em>“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia mengucapkan kalimat itu karena takut dari tebasan pedang.”</em> Dalam riwayat lain Nabi bertanya, <em>“Apakah kamu membelah dadanya, sehingga bisa mengetahui apakah dia benar-benar mengucapkannya atau tidak?!” </em>Dalam riwayat lain Nabi berkata,<em> “Apa yang akan kamu lakukan dengan laa ilaha illallah apabila kelak ia datang pada hari kiamat?!”</em>. Nabi terus mengulangi ucapan itu sampai-sampai aku berharap seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari itu (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Maghazi</em> [4269] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [96])</p>
<p>Kisah ini menunjukkan kepada kita betapa agung kedudukan kalimat <em>laa ilaha illallah</em>. Apabila seseorang telah mengucapkannya terjagalah darah dan hartanya, kecuali apabila dia melakukan dosa yang sangat besar sehingga menyebabkan dirinya layak untuk diperangi atau ditumpahkan darahnya. Dari Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Aku diperintahkan untuk memerangi umat manusia sampai mereka mempersaksikan laa ilaha illallah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukannya maka mereka telah menjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali ada alasan lain yang dibenarkan dalam Islam untuk mengambilnya. Adapun hisab atas mereka itu adalah urusan Allah.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [25] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [22])</p>
<p>Darah seorang muslim haram untuk ditumpahkan kecuali ada sebab yang jelas dan dibenarkan oleh syari&#8217;at dalam menumpahkannya. Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim yang bersyahadat laa ilaha illallah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah kecuali dengan salah satu diantara tiga alasan: membalas nyawa dengan nyawa, seorang yang telah menikah namun berzina, dan orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jama&#8217;ah/persatuan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ad-Diyat</em> [6878] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Qisamah wal Muharibin wal Qishash wad Diyat</em> [1676]</p>
<p>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Adapun sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8216;orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jama&#8217;ah&#8217; maka itu bersifat umum mencakup semua orang yang murtad dari Islam dengan sebab apapun kemurtadannya. Oleh sebab itu wajib membunuhnya jika dia tidak mau kembali kepada Islam. Para ulama mengatakan: Hukum ini juga mencakup setiap orang yang keluar dari jama&#8217;ah (persatuan umat) dengan sebab bid&#8217;ah, pemberontakan, atau karena tindak kejahatan lain yang dia lakukan. Demikian pula termasuk dalam hal ini adalah kaum Khawarij. Wallahu a&#8217;lam.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [6/228])</p>
<p>Seorang khalifah yang lurus, Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> telah menunjukkan kepada kita keteladanan dan keberanian dalam memerangi orang-orang yang secara terang-terangan menghinakan ajaran Islam dan mengingkari syari&#8217;at yang sudah baku. Tatkala sebagian orang arab sepeninggal Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadi murtad dan menjadi pengikut nabi palsu -Musailamah al-Kadzdzab dan al-Aswad al-&#8217;Ansi- dan sebagian yang lain masih mengakui kewajiban sholat akan tetapi menolak kewajiban zakat, maka bangkitlah Sahabat Nabi yang mulia ini untuk menumpas pemberontakan mereka.</p>
<p>Sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menceritakan: Tatkala Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> wafat kemudian Abu Bakar diangkat menjadi khalifah sesudahnya, maka sebagian orang Arab pun kembali ke dalam kekafiran. &#8216;Umar bin al-Khaththab berkata kepada Abu Bakar, “Bagaimana bisa engkau memerangi orang-orang itu, padahal Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda, <em>“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan laa ilaha illallah. Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah maka terjaga harta dan nyawanya kecuali ada alasan yang benar untuk mengambilnya. Adapun hisabnya adalah urusan Allah.”</em> Abu Bakar menjawab, <em>“Demi Allah, aku pasti akan memerangi orang-orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat, karena zakat adalah kewajiban atas harta. Demi Allah, seandainya mereka menolak menyerahkan kepadaku seutas tali yang dahulu biasa mereka serahkan kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -di masa beliau masih hidup- niscaya aku akan memerangi mereka karena penolakan itu.”</em> &#8216;Umar bin al-Khaththab berkata, <em>“Demi Allah, tidaklah aku melihatnya kecuali  Allah &#8216;azza wa jalla telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang. Sehingga aku pun mengetahui bahwa tindakan beliau adalah benar.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab az-Zakah</em> [1399] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [20])</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Hakikat Ibadah</title>
		<link>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 20:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2484</guid>
		<description><![CDATA[Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17, at-Tauhid al-Muyassar, hal. 53). Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah thariq mu&#8217;abbad (Lihat Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [1/34])). &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17, <em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53).</p>
<p><span id="more-2484"></span></p>
<p>Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah <em>thariq mu&#8217;abbad </em>(Lihat<em> Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim </em>[1/34])). Yaitu jalan yang telah dihinakan, karena telah banyak diinjak-injak oleh telapak kaki manusia (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34). Sehingga, ibadah bisa diartikan dengan perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan (Lihat <em>at-Tanbihat al-Mukhtasharah Syarh al-Wajibat</em>, hal. 28).</p>
<p>Secara terminologi, ada beberapa definisi yang diberikan oleh para ulama tentang makna ibadah, yang pada hakikatnya semua definsi itu saling melengkapi. Di antaranya mereka menjelaskan bahwa ibadah adalah ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya yang disampaikan melalui lisan para rasul-Nya (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> juga menerangkan bahwa ibadah itu mencakup ketundukan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta membenarkan berita yang dikabarkan-Nya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 45)</p>
<p>Ibnu Juraij <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa ibadah kepada Allah artinya adalah mengenal Allah (Lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [7/327]). Yang dimaksud mengenal Allah di sini adalah mentauhidkan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat tentang perintah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada Mu&#8217;adz sebelum keberangkatannya ke Yaman. Beliau bersabda, <em>“.. Hendaklah yang pertama kali kamu ajak kepada mereka adalah supaya mereka beribadah kepada Allah &#8216;azza wa jalla -dalam riwayat lain disebutkan untuk mentauhidkan Allah-, kemudian apabila mereka sudah mengenal Allah&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Nawawi</em> [2/49] cet. Dar Ibnul Haitsam, lihat pula <em>Shahih Bukhari</em> cet. Maktabah al-Iman, tahun 1423 H, hal. 203 dan 1467. Lihat juga <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 80 cet. Dar al-Hadits tahun 1423 H)</p>
<p>Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ibadah adalah puncak perendahan diri yang dibarengi dengan puncak kecintaan. Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Menurut pengertian syari&#8217;at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/34]). Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, <em>“Sebagian ulama mendefinisikan ibadah sebagai kesempurnaan rasa cinta yang disertai kesempurnaan sikap tunduk.”</em> (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menegaskan, <em>“Ibadah yang diperintahkan itu harus mengandung unsur perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini mengandung tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satu unsur saja maka dia belum dianggap beribadah kepada Allah dengan sebenarnya. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja, maka ini adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan modal rasa harap semata, maka ini adalah metode kaum Murji&#8217;ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka, maka ini adalah jalannya kaum Khawarij.”</em> (<em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 35)</p>
<p>Ibadah juga diartikan dengan tauhid. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> mengenai maksud firman Allah (yang artinya), <em>“Wahai umat manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 21</strong>). Beliau menjelaskan, <em>“Artinya tauhidkanlah Rabb kalian&#8230;”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/75])</p>
<p>Di dalam kitabnya <em>al-&#8217;Ubudiyah </em>(Lihat<em> al-&#8217;Ubudiyah, </em>hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh, tahun 1425 H), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi (Lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 54 cet. al-Maktab al-Islami tahun 1423 H). Dari sini, maka ibadah itu mencakup perkara hati/batin dan juga perkara lahiriyah. Sehingga seluruh ajaran agama itu telah tercakup dalam istilah ibadah (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> menerangkan di dalam <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul </em>(Lihat<em> Syarh Tsalatsat al-Ushul, </em>hal. 23 cet. Dar al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah tahun 1424 H) bahwa pengertian ibadah bisa dirangkum sebagai berikut; suatu bentuk perendahan diri kepada Allah yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari&#8217;at-Nya.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.”</em> (lihat <em>asy-Syarh al-Mumti&#8217; &#8216;ala Zaad al-Mustaqni&#8217;</em> [1/9] cet. Mu&#8217;assasah Aasam, tahun 1416 H).</p>
<p>Dari pengertian-pengertian di atas paling tidak kita dapat menarik satu kesimpulan penting bahwa sesungguhnya ibadah itu ditegakkan di atas rasa cinta dan pengagungan. Rasa cinta akan melahirkan harapan dan tunduk kepada perintah-Nya, sedangkan pengagungan akan menumbuhkan rasa takut dan mematuhi larangan-larangan-Nya. Selain itu, kita juga bisa mengerti bahwa pelaksanaan ibadah tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus mengikuti tuntunan para rasul <em>&#8216;alaihimush sholatu was salam</em>. Dalam konteks sekarang, maka kita semua harus mengikuti petunjuk dan ajaran Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, nabi dan rasul yang terakhir.</p>
<p>Ibadah/amalan akan menjadi benar dan diterima di sisi Allah jika memenuhi 2 syarat; ikhlas dan ittiba&#8217; (Lihat <em>Mazhahiru Dha&#8217;fil &#8216;Aqidah fi Hadzal &#8216;Ashr wa Thuruqu &#8216;Ilajiha</em>, oleh Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>, hal. 10 cet. Kunuz Isybiliya, tahun 1430 H. Sebagian ulama menambahkan syarat ketiga yaitu aqidah yang benar, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali dalam <em>Abraz al-Fawa&#8217;id Syarh Arba&#8217; al-Qawaid</em>).</p>
<p>Ikhlas artinya ibadah itu hanya diperuntukkan kepada Allah dan tidak dipersekutukan dengan selain-Nya. Ini merupakan kandungan dari syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em>. Lawan dari ikhlas adalah syirik, riya&#8217; dan sum&#8217;ah. <em>Riya&#8217;</em> adalah beribadah karena ingin dilihat orang, sedangkan <em>sum&#8217;ah</em> adalah beribadah karena ingin didengar orang. Ittiba&#8217; maksudnya adalah setia dengan tuntunan/sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak mereka-reka tata cara ibadah yang tidak ada tuntunannya. Ini merupakan kandungan dari <em>syahadat anna Muhammadar rasulullah</em>. Lawan dari <em>ittiba&#8217;</em> adalah <em>ibtida&#8217;</em> atau membuat bid&#8217;ah (Silahkan baca <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, oleh Syaikh Dr. Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi <em>hafizhahullah</em>, cet. Jami&#8217;ah al-Islamiyah bil Madinah al-Munawwarah).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai dengan syari&#8217;at Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan yang diniatkan untuk mencari wajah Allah, inilah dua rukun amal yang akan diterima di sisi-Nya (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [5/154] Baca juga <em>al-Qawa&#8217;id wa al-Ushul aj-Jami&#8217;ah wa al-Furuq wa at-Taqasim al-Badi&#8217;ah an-Nafi&#8217;ah</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 40-42 cet. Dar al-Wathan tahun 1422 H).</p>
<p>Sebagaimana orang yang tidak ikhlas amalannya tidak diterima, demikian pula orang yang tidak ittiba&#8217; -alias berbuat bid&#8217;ah- maka amalannya pun tidak diterima. Apalagi orang yang beribadah tanpa keikhlasan dan tanpa ittiba&#8217; (Lihat <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar wa Qurratu &#8216;Uyun al-Akhyar Syarh Jawami&#8217; al-Akhbar</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 14 cet. Darul Kutub al-Ilmiyah, tahun 1423 H). Oleh sebab itu para ulama, di antaranya Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> menafsirkan bahwa yang dimaksud <em>ahsanu &#8216;amalan</em> (amal yang terbaik) dalam surat al-Mulk [ayat 2] sebagai amalan yang paling ikhlas dan paling benar (Lihat <em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 93).</p>
<p>Ikhlas jika dikerjakan karena Allah, sedangkan benar jika dikerjakan dengan mengikuti sunnah/ajaran Nabi (Lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, karya Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits, tahun 1418 H). Bukan dengan cara-cara bid&#8217;ah. Bid&#8217;ah adalah tata cara beragama yang diada-adakan dan menyaingi syari&#8217;at, dimaksudkan dengannya untuk berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, hal. 13). Hal ini memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa syari&#8217;at Islam ini mengatur niat dan cara. Niat yang baik juga harus diwujudkan dengan cara dan sarana yang baik pula (Lihat pula <em>Ighatsat al-Lahfan min Masha&#8217;id asy-Syaithan</em>, karya Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>, hal. 16 cet. Dar Thaibah, tahun 1426 H). Islam tidak mengenal kaidah ala Yahudi; &#8216;tujuan menghalalkan segala cara&#8217;.</p>
<p>Dengan demikian untuk beribadah dengan baik, seorang muslim harus memadukan antara <em>shihhatil irodah</em> (ketulusan niat) dengan <em>shihhatul fahm</em> (kelurusan pemahaman). Oleh sebab itu Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwa kedua hal tadi -<em>shihhatul irodah</em> dan <em>shihhatul fahm</em>- merupakan anugrah dan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Ketulusan niat terwujud di dalam tauhid dan keikhlasan, sedangkan kelurusan pemahaman terwujud dalam ittiba&#8217; kepada sunnah. Sehingga amat wajar jika para ulama sangat menekankan kedua pokok yang agung ini. Sampai-sampai diriwayatkan bahwa Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> pernah berdoa, <em>“Allahumma ahyinaa &#8216;alal islam, wa amitnaa &#8216;alas sunnah.”</em> Artinya: <em>“Ya Allah, hidupkanlah kami di atas islam (tauhid), dan matikanlah kami di atas Sunnah.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Belajar Zuhud</title>
		<link>http://abumushlih.com/mari-belajar-zuhud.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mari-belajar-zuhud.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 10:36:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2482</guid>
		<description><![CDATA[Zuhud merupakan sebab kecintaan Allah kepada seorang hamba. Para ulama salaf merupakan teladan terdepan dalam hal zuhud. Salah satu pembeda terbesar yang melebihkan mereka di atas generasi sesudahnya adalah karena mereka lebih zuhud kepada dunia dan lebih berhasrat kepada akhirat. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mari-belajar-zuhud.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmari-belajar-zuhud.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmari-belajar-zuhud.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Zuhud merupakan sebab kecintaan Allah kepada seorang hamba. Para ulama salaf merupakan teladan terdepan dalam hal zuhud. Salah satu pembeda terbesar yang melebihkan mereka di atas generasi sesudahnya adalah karena mereka lebih zuhud kepada dunia dan lebih berhasrat kepada akhirat.</p>
<p><span id="more-2482"></span></p>
<p><strong>Pengertian Zuhud</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Zuhud yang disyari&#8217;atkan itu adalah; dengan meninggalkan perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat kelak di negeri akhirat dan kepercayaan yang kuat tertanam di dalam hati mengenai balasan dan keutamaan yang ada di sisi Allah&#8230; Adapun secara lahiriyah, segala hal yang digunakan oleh seorang hamba untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, maka meninggalkan itu semua bukanlah termasuk zuhud yang disyari&#8217;atkan. Akan tetapi yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan sikap berlebihan dalam perkara-perkara yang menyibukkan diri sehingga melalaikan dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, baik itu berupa makanan, pakaian, harta, dan lain sebagainya&#8230;”</em> (lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimyah</em> karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 69-70)</p>
<p>Berikut ini, sebagian riwayat mengenai zuhud yang dibawakan oleh Imam Ibnu Abi &#8216;Ashim <em>rahimahullah</em> (wafat 287 H) dalam kitabnya <em>az-Zuhd</em>. Semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[1] Menjaga Lisan dan Perbuatan </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin &#8216;Amr <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa diam -pandai menjaga lisan- niscaya dia akan selamat.”</em> (lihat <em>az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 15)</p>
<p>Dari Jabir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dia menceritakan bahwa ada seorang lelaki menemui Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan bertanya, <em>“Wahai Rasulullah! Kaum muslimin seperti apakah yang paling utama?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Yaitu seorang muslim yang bisa menjaga kaum muslimin yang lain dari gangguan lisan dan tangannya.”</em> (lihat <em>az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 21)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menjaga apa yang ada diantara kedua jenggotnya dan apa yang ada diantara kedua kakinya niscaya dia akan masuk Surga.”</em> (lihat <em>az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 22)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.” </em>(lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 23)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata, <em>“Demi Allah yang tiada sesembahan yang benar selain-Nya. Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih butuh dipenjara dalam waktu yang lama selain daripada lisan.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 26)</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau berkata, <em>“Sesuatu yang paling layak untuk terus dibersihkan oleh seorang hamba adalah lisannya.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 27)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berpesan, <em>“Jauhilah oleh kalian kebiasaan terlalu banyak berbicara.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 28)</p>
<p>Pada suatu ketika Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berwasiat kepada putranya Abdurrahman. Beliau berkata, <em>“Wahai putraku, aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah. Kendalikanlah lisanmu. Tangisilah dosa-dosamu. Hendaknya rumahmu cukup terasa luas bagimu.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 30)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ucapan yang baik itu pun termasuk sedekah.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 30)</p>
<p>Dari Ibnu Abi Zakaria <em>rahimahullah</em>, beliau mengatakan, <em>“Aku belajar untuk diam setahun lamanya.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 39)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 45)</p>
<p><strong>[2] Pandai Memilih Teman</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Muharib <em>rahimahullah</em>, beliau menuturkan, <em>“Dahulu kami berteman dengan al-Qasim bin Abdurrahman, ternyata beliau mengungguli kami dengan tiga perkara; dengan banyak sholat, banyak diam, dan jiwa yang dermawan.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 46)</p>
<p>Dari Malik bin Dinar <em>rahimahullah</em>, beliau mengatakan, <em>“Setiap teman yang kamu tidak bisa memetik kebaikan darinya maka jauhilah dia.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 49)</p>
<p><strong>[3] Memandang Dunia Sebagaimana Mestinya</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dunia ini adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir.” </em>(lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 69)</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sudah menjadi ketetapan Allah tabaraka wa ta&#8217;ala bahwasanya tidaklah Allah mengangkat suatu perkara dunia melainkan Allah juga pasti akan merendahkannya.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 115)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari &#8216;Umar bin al-Khaththab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah Allah membukakan dunia kepada seseorang melainkan Allah pasti akan munculkan permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari kiamat.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 138)</p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Berhati-hatilah kalian terhadap dunia. Berhati-hatilah kalian terhadap kaum perempuan.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 139)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari &#8216;Amr bin &#8216;Anbasah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pada hari kiamat, dunia akan didatangkan. Kemudian dipilih darinya apa-apa yang digunakan untuk taat kepada Allah dan ikhlas karena-Nya. Adapun apa-apa yang dipakai tidak untuk taat kepada Allah dan tidak ikhlas karena-Nya maka dilemparkan ke dalam Neraka Jahannam.”</em> (lihat<em> az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 142)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mari-belajar-zuhud.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat, Teguran, dan Pelajaran</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[[1] Istighfar Palsu Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun &#8230; <a href="http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-teguran-dan-pelajaran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-teguran-dan-pelajaran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>[1] Istighfar Palsu</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.”</em> Kemudian beliau menjelaskan, <em>“Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, karya al-Khathib al-Baghdadi, hal. 69)</p>
<p><span id="more-2476"></span></p>
<p><strong>[2] Niat Menimba Ilmu</strong></p>
<p>Abu Abdillah ar-Rudzabari <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 71)</p>
<p><strong>[3] Guru Terbaik</strong></p>
<p>Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, <em>“Kepada siapakah aku duduk/berteman dan belajar?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasehatimu dengan ucapannya semata.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 71-72)</p>
<p><strong>[4] Rusaknya Hati</strong></p>
<p>Muhammad bin Ya&#8217;qub <em>rahimahullah</em> berkata: Suatu saat aku mendengar al-Junaid ditanya mengenai hati; faktor apa yang merusak hati seorang pemuda? Maka beliau menjawab, <em>“Rasa tamak/hawa nafsu dan ambisi.”</em> Lalu beliau ditanya, <em>“Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Sikap wara&#8217;/menjaga diri dari yang diharamkan.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 72)</p>
<p><strong>[5] Kenali Dirimu!</strong></p>
<p>Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar, <em>“Wahai orang yang riya&#8217;!”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 93)</p>
<p><strong>[6] Antara Wajah dan Perbuatan</strong></p>
<p>Sebagian orang bijak mengatakan, <em>“Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 105)</p>
<p><strong>[7] Amalan Setelah Berbuat Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Seorang lelaki menemui seorang ahli ibadah. Ahli ibadah itu bertanya kepadanya, <em>“Apakah kamu pernah melakukan suatu perbuatan dosa?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya.”</em> Ahli ibadah itu pun berkata, <em>“Itu artinya kamu sudah mengetahui bahwa Allah menetapkan hal itu menimpamu?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya.”</em> Lalu ahli ibadah itu berpesan, <em>“Maka sekarang beramallah sampai kamu mengetahui bahwa Allah &#8216;azza wa jalla benar-benar telah menghapus dosa itu darimu.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 124)</p>
<p><strong>[8] Kiat Menghafal Hadits</strong></p>
<p>Waki&#8217; <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.”</em> (lihat mukadimah <em>az-Zuhd</em> karya Imam Waki&#8217;, hal. 91)</p>
<p>Waki&#8217; <em>rahimahullah</em> juga berpesan, <em>“Mintalah pertolongan -kepada Allah- untuk menguatkan hafalan dengan cara mempersedikit dosa.”</em> (mukadimah <em>az-Zuhd</em>, hal. 91)</p>
<p><strong>[9] Nikmat dan Adzab</strong></p>
<p>Abud Darda&#8217; <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 48)</p>
<p><strong>[10] Larut Dalam Pujian dan Celaan</strong></p>
<p>Wahb bin Munabbih <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 51)</p>
<p><strong>[11] Pembersihan Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Sirin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Aku pernah mendapat berita bahwa ada salah seorang dari kaum Anshar yang apabila datang waktu sholat maka dia mengatakan -kepada teman-temannya-: “Berwudhulah kalian, sesungguhnya sebagian ucapan yang tadi kalian katakan lebih kotor daripada hadats.”.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 53)</p>
<p><strong>[12] Hakikat Syukur</strong></p>
<p>Muhammad bin Ka&#8217;ab <em>rahimahullah</em> mengatakan tentang maksud ayat (yang artinya), <em>“Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.”</em> (<strong>QS. Saba&#8217;: 13</strong>). Kata beliau, <em>“Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 65)</p>
<p><strong>[13] Godaan Perempuan</strong></p>
<p>Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sungguh apabila aku dititipi untuk menjaga sebuah rumah dari permata itu jauh lebih aku senangi daripada harus dititipi seorang perempuan cantik.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 67)</p>
<p><strong>[14] Menimba Ilmu Atau Bekerja</strong></p>
<p>Abdurrahim bin Sulaiman ar-Razi <em>rahimahullah</em> berkata: Dahulu kami belajar kepada Sufyan ats-Tsauri. Apabila datang kepadanya seorang lelaki dalam rangka menimba ilmu, maka beliau pun bertanya kepadanya, <em>“Apakah kamu memiliki jalan penghasilan?”</em>. Apabila orang itu mengabarkan bahwa dia dalam keadaan cukup, maka beliau memerintahkannya untuk menimba ilmu. Dan apabila ternyata orang itu belum berkecukupan maka beliau memerintahkannya untuk mencari pekerjaan (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 69-10)</p>
<p><strong>[15] Jangan Sebarkan Kekejian!</strong></p>
<p>Khalid bin Ma&#8217;dan <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk “Orang-orang yang menyukai tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 19</strong>).” (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 71)</p>
<p><strong>[16] Sambutan Yang Indah</strong></p>
<p>Tsabit al-Bunani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dahulu apabila kami datang menemui Anas bin Malik, tatkala beliau melihat kedatangan kami maka beliau minta diambilkan minyak wangi. Kemudian beliau mengusap minyak wangi itu dengan kedua telapak tangannya lalu menyalami saudara-saudaranya yang datang.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 81)</p>
<p><strong>[17] Catat, Hafalkan, dan Sampaikan!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yahya bin Khalid al-Barmaki <em>rahimahullah</em> berkata kepada anaknya, <em>“Dahulu mereka -pendahulu yang salih- mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka dengar. Mereka menghafalkan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka catat. Kemudian mereka menyampaikan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka hafalkan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 126)</p>
<p><strong>[18] Bukan Amal Biasa-Biasa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara&#8217;/menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 133)</p>
<p><strong>[19] Apalah Artinya Dunia</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Seandainya seluruh isi dunia ini dijadikan halal bagiku, niscaya aku akan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 144)</p>
<p><strong>[20] Puncak Syukur</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Muhammad bin al-Hasan <em>rahimahullah</em> menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, <em>“Apakah puncak syukur itu?”</em>. Aku menjawab, <em>“Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.”</em> Lalu dia mengatakan, <em>“Jawabanmu tepat, wahai anak muda.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 144)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbaiki Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 09:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2474</guid>
		<description><![CDATA[Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16) Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p><span id="more-2474"></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari an-Nu&#8217;man bin Basyir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu para da&#8217;i yang menyerukan tauhid adalah da&#8217;i-da&#8217;i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (<strong>HR. Muslim </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 109</strong>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang-cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara di akhirat. Demikian pula syirik, dusta dan riya&#8217; seperti sebatang pohon, yang buah-buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 14)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat -di dalam tanah- sedangkan cabangnya menjulang ke langit.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 24</strong>). Yang dimaksud &#8216;kalimat yang baik&#8217; di dalam ayat ini adalah syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 425)</p>
<p>Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak? Sementara inilah hak Allah Rabb penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul<em> &#8216;alaihimush sholatu was salam</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” </em>(<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162-163</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya; Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(<strong>QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” </em>(<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri.” </em>(<strong>QS. al-Hasyr: 19</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 28</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang paling berbahagia dengan syafa&#8217;atku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah laa ilaha illallaah niscaya dia akan masuk surga.” </em>(<strong>HR. Abu Dawud </strong>dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 17)</p>
<p>Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, <em>“Di mana pun bumi dipijak, maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!”</em>. Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (5)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 17:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2449</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.” (QS. Yusuf: 108) Dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>)</p>
<p><span id="more-2449"></span></p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika hendak mengutus Mu&#8217;adz ke Yaman bersabda kepadanya, <em>“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum Ahlil Kitab, hendaklah yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallaah.”</em> Dalam riwayat lain disebutkan, <em>“Supaya mereka mentauhidkan Allah.”</em> <em>“Kemudian, apabila mereka mematuhimu untuk itu maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam. Lalu apabila mereka telah mematuhimu untuk itu, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sedekah/zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan untuk orang-orang miskin di antara mereka. Lalu apabila mereka mematuhimu untuk itu, maka jauhilah harta-harta terbaik mereka dan berhati-hatilah dari doanya orang yang terzalimi; karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda pada peperangan Khaibar, <em>“Sungguh besok akan aku berikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan rasul-Nya. Melalui kedua tangannyalah Allah akan berikan kemenangan.”</em> Maka orang-orang pun memperbincangkan hal itu semalaman. Siapakah kira-kira yang akan mendapatkan bendera itu. Di pagi harinya mereka bergegas menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka semua ingin mendapatkan bendera itu. Beliau pun bersabda, <em>“Dimana Ali bin Abi Thalib?”</em>. Ada yang menjawab, <em>“Kedua matanya sedang sakit.”</em> Maka mereka pun mengutus orang untuk menjemputnya. Ketika dia sudah datang maka Nabi pun meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya. Setelah itu dia pun sembuh, seolah-olah sebelumnya dia tidak menderita sakit sama sekali. Kemudian Nabi memberikan bendera itu kepadanya. Beliau berpesan, <em>“Berangkatlah dengan tenang sampai kamu tiba di medan perang mereka. Kemudian ajaklah mereka untuk memeluk Islam. Sampaikan kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah ta&#8217;ala di dalam Islam. Demi Allah, apabila Allah memberikan petunjuk kepada seorang saja dengan perantara dirimu maka itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”</em> Mereka &#8216;memperbincangkan&#8217;, maksudnya &#8216;mendiskusikan&#8217; hal itu.</p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Dakwah -mengajak orang- kepada [agama] Allah merupakan jalan      pengikut Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Peringatan untuk senantiasa memperhatikan keikhlasan; karena      banyak orang yang berdakwah kepada kebenaran, akan tetapi sebenarnya dia      mengajak demi kepentingan dirinya sendiri</li>
<li><em>Bashirah</em>/ilmu -dalam dakwah-      merupakan sesuatu yang wajib dimiliki</li>
<li>Salah satu pertanda keindahan tauhid tatkala tauhid itu menjaga      kesucian Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari segala bentuk celaan</li>
<li>Salah satu bukti keburukan syirik adalah karena ia merupakan      bentuk celaan kepada Allah</li>
<li>Salah satu pelajaran terpenting, bahwa harus menjauhkan orang      muslim dari golongan orang-orang musyrik; agar dia tidak ikut menjadi      bagian dari mereka, meskipun dia tidak sampai berbuat kesyirikan</li>
<li>Tauhid merupakan kewajiban yang paling pertama</li>
<li>Tauhid lebih didahulukan dari segalanya, termasuk sholat      sekalipun</li>
<li>Makna &#8216;supaya mereka mentauhidkan Allah&#8217; sama dengan makna      syahadat laa ilaaha illallaah</li>
<li>Bisa jadi seorang termasuk kalangan orang yang memiliki suatu      kitab suci akan tetapi dia sendiri tidak memahami kitabnya, atau dia      mengetahui ajarannya akan tetapi tidak mengamalkannya</li>
<li>Perlu diperhatikan bahwa hendaknya bertahap dalam melakukan      pengajaran</li>
<li>Memulai sesuatu dengan yang terpenting sebelum yang lain</li>
<li>Sasaran pembagian zakat</li>
<li>Seorang yang berilmu menyingkap kerancuan (syubhat) yang ada      pada pelajar</li>
<li>Larangan memungut zakat dari jenis harta yang terbaik</li>
<li>Hendaknya menjauhi doanya orang yang terzalimi</li>
<li>Berita bahwa doa orang yang terzalimi itu tidak terhalang</li>
<li>Salah satu pertanda -beratnya perjuangan- tauhid adalah      kesusahan, kelaparan, dan musibah yang menimpa pemimpin para rasul dan      wali-wali Allah</li>
<li>Sabda beliau &#8216;Aku akan memberikan bendera ini&#8217; dst merupakan      salah satu tanda kenabian</li>
<li>Beliau meludahi kedua mata Ali, ini juga termasuk      tanda/mukjizat kenabian</li>
<li>Keutamaan Ali <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></li>
<li>Keutamaan para sahabat yang mendiskusikan hal itu semalaman      sampai-sampai mereka hampir tidak peduli dengan berita kemenangan perang</li>
<li>Iman kepada takdir, karena bendera itu diperoleh orang yang      tidak berupaya mendapatkannya sedangkan orang yang berupaya justru tidak      mendapatkannya</li>
<li>Hendaknya menjaga adab, sebagaimana disebutkan dalam hadits <em>&#8216;berangkatlah      dengan tenang&#8217;</em></li>
<li>Dakwah kepada Islam didahulukan sebelum perang</li>
<li>Hal itu [dakwah] disyariatkan bagi kaum yang telah didakwahi      sebelumnya dan diperangi</li>
<li>Berdakwah dengan hikmah, berdasarkan sabda beliau, <em>“Sampaikan      kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan.”</em></li>
<li>Mengetahui hak Allah yang harus ditunaikan di dalam Islam</li>
<li>Pahala -yang besar- bagi orang yang menjadi perantara orang      lain -walaupun hanya satu- sehingga mendapatkan hidayah</li>
<li>Bolehnya bersumpah tatkala berfatwa (bukan karena diminta      bersumpah)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (3)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 17:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2445</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 120</strong>)</p>
<p><span id="more-2445"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang kepada Rabb mereka, mereka itu tidaklah mempersekutukan.”</em> (<strong>QS. al-Mu&#8217;minun: 59</strong>)</p>
<p>Dari Hushain bin Abdurrahman. Dia berkata: Suatu ketika aku bersama Sa&#8217;id bin Jubair, dia berkata, <em>“Siapakah di antara kalian yang tadi malam melihat ada bintang jatuh?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku.”</em> Lalu aku katakan, <em>“Adapun aku, ketika itu aku bangun bukan karena sedang sholat. Akan tetapi aku tersengat binatang berbisa.”</em> Dia bertanya, <em>“Lalu apa yang kamu lakukan?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku meminta ruqyah.” Dia bertanya, “Apa yang mendasari kamu melakukan hal itu?”</em>. Aku jawab, <em>“Ada sebuah hadits yang disampaikan kepadaku oleh asy-Sya&#8217;bi.”</em> Dia bertanya, <em>“Hadits apa yang dia sampaikan kepada kalian?”</em>. Aku menjawab: Dia menuturkan kepada hadits dari Buraidah bin al-Hushaib, bahwa Nabi bersabda, <em>“Tidak ada ruqyah -yang lebih manjur- daripada untuk mengobati &#8216;ain/mata jahat atau tersengat binatang berbisa.”</em> Dia -Sa&#8217;id bin Jubair- berkata: “Sungguh baik orang yang telah mengikuti dalil yang telah dia dengar. Akan tetapi, Ibnu &#8216;Abbas telah menuturkan hadits kepada kami dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda: “Ditampakkan kepadaku umat-umat. Di sana aku melihat ada seorang nabi bersama dengan sekelompok orang pengikut. Ada pula seorang nabi yang disertai oleh satu atau dua orang. Bahkan, ada nabi yang tidak disertai oleh seorang pengikut pun. Kemudian tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok besar manusia. Aku menyangka bahwa mereka itu adalah umatku. Dikatakan kepadaku, <em>“Ini adalah Musa bersama dengan kaumnya.”</em> Kemudian aku memandang lagi, ternyata ada sekelompok besar manusia. Dikatakan kepadaku, <em>“Inilah umatmu. Bersama dengan mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”</em> Kemudian beliau -Nabi- bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang pun membicarakan hal itu. Sebagian mereka berkata, <em>“Barangkali mereka itu adalah para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> Sebagian lagi mengatakan, <em>“Barangkali mereka itu adalah orang-orang yang dilahirkan di lingkungan Islam dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah sama sekali.”</em> Mereka pun menyebutkan kemungkinan sebab-sebab yang lain. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun keluar menemui mereka. Mereka menyampaikan masalah itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, <em>“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak minta diobati dengan kay/besi panas, tidak beranggapan sial/tathayyur, dan bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” </em>Bangkitlah &#8216;Ukkasyah bin Mihshan, dia berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau menjawab, <em>“Ya, kamu termasuk golongan itu.”</em> Lalu ada seorang lelaki yang bangkit dan berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau pun menjawab, <em>“Kamu sudah didahului oleh &#8216;Ukkasyah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Mengetahui berbagai tingkatan orang dalam bertauhid</li>
<li>Maksud dari merealisasikan tauhid</li>
<li>Pujian Allah kepada Ibrahim sebagai sosok yang tidak termasuk      golongan orang musyrik</li>
<li>Pujian Allah kepada para pemimpin wali-wali Allah yang bersih      dari syirik</li>
<li>Tidak meminta ruqyah dan tidak berobat dengan kay merupakan      bentuk perealisasian tauhid</li>
<li>Karakter utama yang memadukan ciri-ciri tersebut adalah tawakal</li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat, karena mereka mengerti bahwa      kemuliaan itu tidak akan bisa dicapai tanpa amal</li>
<li>Besarnya semangat para sahabat terhadap kebaikan</li>
<li>Keutamaan umat ini dari sisi kuantitas maupun kualitas</li>
<li>Keutamaan para sahabat Musa</li>
<li>Ditampakkannya umat-umat kepada Nabi <em>&#8216;alaihish sholatu was      salam</em></li>
<li>Setiap umat akan dikumpulkan -di hari kiamat- bersama nabinya      masing-masing</li>
<li>Sedikitnya jumlah orang yang menerima dakwah nabi-nabi</li>
<li>Nabi yang tidak memiliki pengikut maka dia akan datang      sendirian pada hari kiamat</li>
<li>Buah ilmu ini, yaitu tidak perlu terpedaya dengan jumlah yang      banyak, dan tidak perlu merasa kecewa akibat jumlah yang sedikit</li>
<li>Keringanan untuk ruqyah dalam rangka penyembuhan &#8216;ain dan      tersengat binatang berbisa</li>
<li>Kedalaman ilmu salaf, hal itu tampak dari ucapannya, <em>“Sungguh      baik orang yang mengikuti dalil yang dia dengar. Akan tetapi demikian&#8230;” </em>Beliau      -Sa&#8217;id bin Jubair- mengetahui bahwa hadits yang pertama tidaklah      bertentangan dengan hadits yang kedua</li>
<li>Jauhnya salaf dari memuji orang dengan sesuatu yang tidak ada      pada dirinya</li>
<li>Dalam<em> </em>sabda beliau, <em>“Kamu termasuk dalam golongan      itu.”</em> merupakan salah satu tanda kenabian</li>
<li>Keutamaan &#8216;Ukkasyah</li>
<li>Penggunaan sindiran</li>
<li>Keluhuran akhlak Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

