<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Ibadah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/ibadah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Nasehat, Teguran, dan Pelajaran</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[[1] Istighfar Palsu Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun &#8230; <a href="http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-teguran-dan-pelajaran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-teguran-dan-pelajaran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>[1] Istighfar Palsu</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.”</em> Kemudian beliau menjelaskan, <em>“Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, karya al-Khathib al-Baghdadi, hal. 69)</p>
<p><span id="more-2476"></span></p>
<p><strong>[2] Niat Menimba Ilmu</strong></p>
<p>Abu Abdillah ar-Rudzabari <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 71)</p>
<p><strong>[3] Guru Terbaik</strong></p>
<p>Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, <em>“Kepada siapakah aku duduk/berteman dan belajar?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasehatimu dengan ucapannya semata.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 71-72)</p>
<p><strong>[4] Rusaknya Hati</strong></p>
<p>Muhammad bin Ya&#8217;qub <em>rahimahullah</em> berkata: Suatu saat aku mendengar al-Junaid ditanya mengenai hati; faktor apa yang merusak hati seorang pemuda? Maka beliau menjawab, <em>“Rasa tamak/hawa nafsu dan ambisi.”</em> Lalu beliau ditanya, <em>“Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Sikap wara&#8217;/menjaga diri dari yang diharamkan.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 72)</p>
<p><strong>[5] Kenali Dirimu!</strong></p>
<p>Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar, <em>“Wahai orang yang riya&#8217;!”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 93)</p>
<p><strong>[6] Antara Wajah dan Perbuatan</strong></p>
<p>Sebagian orang bijak mengatakan, <em>“Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 105)</p>
<p><strong>[7] Amalan Setelah Berbuat Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Seorang lelaki menemui seorang ahli ibadah. Ahli ibadah itu bertanya kepadanya, <em>“Apakah kamu pernah melakukan suatu perbuatan dosa?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya.”</em> Ahli ibadah itu pun berkata, <em>“Itu artinya kamu sudah mengetahui bahwa Allah menetapkan hal itu menimpamu?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya.”</em> Lalu ahli ibadah itu berpesan, <em>“Maka sekarang beramallah sampai kamu mengetahui bahwa Allah &#8216;azza wa jalla benar-benar telah menghapus dosa itu darimu.”</em> (<em>al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;i</em>q, hal. 124)</p>
<p><strong>[8] Kiat Menghafal Hadits</strong></p>
<p>Waki&#8217; <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.”</em> (lihat mukadimah <em>az-Zuhd</em> karya Imam Waki&#8217;, hal. 91)</p>
<p>Waki&#8217; <em>rahimahullah</em> juga berpesan, <em>“Mintalah pertolongan -kepada Allah- untuk menguatkan hafalan dengan cara mempersedikit dosa.”</em> (mukadimah <em>az-Zuhd</em>, hal. 91)</p>
<p><strong>[9] Nikmat dan Adzab</strong></p>
<p>Abud Darda&#8217; <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 48)</p>
<p><strong>[10] Larut Dalam Pujian dan Celaan</strong></p>
<p>Wahb bin Munabbih <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 51)</p>
<p><strong>[11] Pembersihan Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Sirin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Aku pernah mendapat berita bahwa ada salah seorang dari kaum Anshar yang apabila datang waktu sholat maka dia mengatakan -kepada teman-temannya-: “Berwudhulah kalian, sesungguhnya sebagian ucapan yang tadi kalian katakan lebih kotor daripada hadats.”.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 53)</p>
<p><strong>[12] Hakikat Syukur</strong></p>
<p>Muhammad bin Ka&#8217;ab <em>rahimahullah</em> mengatakan tentang maksud ayat (yang artinya), <em>“Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.”</em> (<strong>QS. Saba&#8217;: 13</strong>). Kata beliau, <em>“Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 65)</p>
<p><strong>[13] Godaan Perempuan</strong></p>
<p>Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sungguh apabila aku dititipi untuk menjaga sebuah rumah dari permata itu jauh lebih aku senangi daripada harus dititipi seorang perempuan cantik.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 67)</p>
<p><strong>[14] Menimba Ilmu Atau Bekerja</strong></p>
<p>Abdurrahim bin Sulaiman ar-Razi <em>rahimahullah</em> berkata: Dahulu kami belajar kepada Sufyan ats-Tsauri. Apabila datang kepadanya seorang lelaki dalam rangka menimba ilmu, maka beliau pun bertanya kepadanya, <em>“Apakah kamu memiliki jalan penghasilan?”</em>. Apabila orang itu mengabarkan bahwa dia dalam keadaan cukup, maka beliau memerintahkannya untuk menimba ilmu. Dan apabila ternyata orang itu belum berkecukupan maka beliau memerintahkannya untuk mencari pekerjaan (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 69-10)</p>
<p><strong>[15] Jangan Sebarkan Kekejian!</strong></p>
<p>Khalid bin Ma&#8217;dan <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk “Orang-orang yang menyukai tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman.”</em> (<strong>QS. an-Nuur: 19</strong>).” (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 71)</p>
<p><strong>[16] Sambutan Yang Indah</strong></p>
<p>Tsabit al-Bunani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dahulu apabila kami datang menemui Anas bin Malik, tatkala beliau melihat kedatangan kami maka beliau minta diambilkan minyak wangi. Kemudian beliau mengusap minyak wangi itu dengan kedua telapak tangannya lalu menyalami saudara-saudaranya yang datang.”</em> (<em>Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim</em>, hal. 81)</p>
<p><strong>[17] Catat, Hafalkan, dan Sampaikan!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yahya bin Khalid al-Barmaki <em>rahimahullah</em> berkata kepada anaknya, <em>“Dahulu mereka -pendahulu yang salih- mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka dengar. Mereka menghafalkan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka catat. Kemudian mereka menyampaikan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka hafalkan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 126)</p>
<p><strong>[18] Bukan Amal Biasa-Biasa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam asy-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara&#8217;/menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 133)</p>
<p><strong>[19] Apalah Artinya Dunia</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Seandainya seluruh isi dunia ini dijadikan halal bagiku, niscaya aku akan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 144)</p>
<p><strong>[20] Puncak Syukur</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Muhammad bin al-Hasan <em>rahimahullah</em> menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, <em>“Apakah puncak syukur itu?”</em>. Aku menjawab, <em>“Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.”</em> Lalu dia mengatakan, <em>“Jawabanmu tepat, wahai anak muda.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id wa al-Akhbar wa al-Hikayat</em>, hal. 144)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-teguran-dan-pelajaran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbaiki Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 09:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2474</guid>
		<description><![CDATA[Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16) Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p><span id="more-2474"></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari an-Nu&#8217;man bin Basyir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu para da&#8217;i yang menyerukan tauhid adalah da&#8217;i-da&#8217;i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (<strong>HR. Muslim </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 109</strong>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang-cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara di akhirat. Demikian pula syirik, dusta dan riya&#8217; seperti sebatang pohon, yang buah-buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 14)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat -di dalam tanah- sedangkan cabangnya menjulang ke langit.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 24</strong>). Yang dimaksud &#8216;kalimat yang baik&#8217; di dalam ayat ini adalah syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 425)</p>
<p>Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak? Sementara inilah hak Allah Rabb penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul<em> &#8216;alaihimush sholatu was salam</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” </em>(<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162-163</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya; Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(<strong>QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” </em>(<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri.” </em>(<strong>QS. al-Hasyr: 19</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 28</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang paling berbahagia dengan syafa&#8217;atku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah laa ilaha illallaah niscaya dia akan masuk surga.” </em>(<strong>HR. Abu Dawud </strong>dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 17)</p>
<p>Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, <em>“Di mana pun bumi dipijak, maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!”</em>. Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (5)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 17:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2449</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.” (QS. Yusuf: 108) Dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>)</p>
<p><span id="more-2449"></span></p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika hendak mengutus Mu&#8217;adz ke Yaman bersabda kepadanya, <em>“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum Ahlil Kitab, hendaklah yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallaah.”</em> Dalam riwayat lain disebutkan, <em>“Supaya mereka mentauhidkan Allah.”</em> <em>“Kemudian, apabila mereka mematuhimu untuk itu maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam. Lalu apabila mereka telah mematuhimu untuk itu, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sedekah/zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan untuk orang-orang miskin di antara mereka. Lalu apabila mereka mematuhimu untuk itu, maka jauhilah harta-harta terbaik mereka dan berhati-hatilah dari doanya orang yang terzalimi; karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda pada peperangan Khaibar, <em>“Sungguh besok akan aku berikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan rasul-Nya. Melalui kedua tangannyalah Allah akan berikan kemenangan.”</em> Maka orang-orang pun memperbincangkan hal itu semalaman. Siapakah kira-kira yang akan mendapatkan bendera itu. Di pagi harinya mereka bergegas menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka semua ingin mendapatkan bendera itu. Beliau pun bersabda, <em>“Dimana Ali bin Abi Thalib?”</em>. Ada yang menjawab, <em>“Kedua matanya sedang sakit.”</em> Maka mereka pun mengutus orang untuk menjemputnya. Ketika dia sudah datang maka Nabi pun meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya. Setelah itu dia pun sembuh, seolah-olah sebelumnya dia tidak menderita sakit sama sekali. Kemudian Nabi memberikan bendera itu kepadanya. Beliau berpesan, <em>“Berangkatlah dengan tenang sampai kamu tiba di medan perang mereka. Kemudian ajaklah mereka untuk memeluk Islam. Sampaikan kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah ta&#8217;ala di dalam Islam. Demi Allah, apabila Allah memberikan petunjuk kepada seorang saja dengan perantara dirimu maka itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”</em> Mereka &#8216;memperbincangkan&#8217;, maksudnya &#8216;mendiskusikan&#8217; hal itu.</p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Dakwah -mengajak orang- kepada [agama] Allah merupakan jalan      pengikut Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Peringatan untuk senantiasa memperhatikan keikhlasan; karena      banyak orang yang berdakwah kepada kebenaran, akan tetapi sebenarnya dia      mengajak demi kepentingan dirinya sendiri</li>
<li><em>Bashirah</em>/ilmu -dalam dakwah-      merupakan sesuatu yang wajib dimiliki</li>
<li>Salah satu pertanda keindahan tauhid tatkala tauhid itu menjaga      kesucian Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari segala bentuk celaan</li>
<li>Salah satu bukti keburukan syirik adalah karena ia merupakan      bentuk celaan kepada Allah</li>
<li>Salah satu pelajaran terpenting, bahwa harus menjauhkan orang      muslim dari golongan orang-orang musyrik; agar dia tidak ikut menjadi      bagian dari mereka, meskipun dia tidak sampai berbuat kesyirikan</li>
<li>Tauhid merupakan kewajiban yang paling pertama</li>
<li>Tauhid lebih didahulukan dari segalanya, termasuk sholat      sekalipun</li>
<li>Makna &#8216;supaya mereka mentauhidkan Allah&#8217; sama dengan makna      syahadat laa ilaaha illallaah</li>
<li>Bisa jadi seorang termasuk kalangan orang yang memiliki suatu      kitab suci akan tetapi dia sendiri tidak memahami kitabnya, atau dia      mengetahui ajarannya akan tetapi tidak mengamalkannya</li>
<li>Perlu diperhatikan bahwa hendaknya bertahap dalam melakukan      pengajaran</li>
<li>Memulai sesuatu dengan yang terpenting sebelum yang lain</li>
<li>Sasaran pembagian zakat</li>
<li>Seorang yang berilmu menyingkap kerancuan (syubhat) yang ada      pada pelajar</li>
<li>Larangan memungut zakat dari jenis harta yang terbaik</li>
<li>Hendaknya menjauhi doanya orang yang terzalimi</li>
<li>Berita bahwa doa orang yang terzalimi itu tidak terhalang</li>
<li>Salah satu pertanda -beratnya perjuangan- tauhid adalah      kesusahan, kelaparan, dan musibah yang menimpa pemimpin para rasul dan      wali-wali Allah</li>
<li>Sabda beliau &#8216;Aku akan memberikan bendera ini&#8217; dst merupakan      salah satu tanda kenabian</li>
<li>Beliau meludahi kedua mata Ali, ini juga termasuk      tanda/mukjizat kenabian</li>
<li>Keutamaan Ali <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></li>
<li>Keutamaan para sahabat yang mendiskusikan hal itu semalaman      sampai-sampai mereka hampir tidak peduli dengan berita kemenangan perang</li>
<li>Iman kepada takdir, karena bendera itu diperoleh orang yang      tidak berupaya mendapatkannya sedangkan orang yang berupaya justru tidak      mendapatkannya</li>
<li>Hendaknya menjaga adab, sebagaimana disebutkan dalam hadits <em>&#8216;berangkatlah      dengan tenang&#8217;</em></li>
<li>Dakwah kepada Islam didahulukan sebelum perang</li>
<li>Hal itu [dakwah] disyariatkan bagi kaum yang telah didakwahi      sebelumnya dan diperangi</li>
<li>Berdakwah dengan hikmah, berdasarkan sabda beliau, <em>“Sampaikan      kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan.”</em></li>
<li>Mengetahui hak Allah yang harus ditunaikan di dalam Islam</li>
<li>Pahala -yang besar- bagi orang yang menjadi perantara orang      lain -walaupun hanya satu- sehingga mendapatkan hidayah</li>
<li>Bolehnya bersumpah tatkala berfatwa (bukan karena diminta      bersumpah)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (3)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 17:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2445</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 120</strong>)</p>
<p><span id="more-2445"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang kepada Rabb mereka, mereka itu tidaklah mempersekutukan.”</em> (<strong>QS. al-Mu&#8217;minun: 59</strong>)</p>
<p>Dari Hushain bin Abdurrahman. Dia berkata: Suatu ketika aku bersama Sa&#8217;id bin Jubair, dia berkata, <em>“Siapakah di antara kalian yang tadi malam melihat ada bintang jatuh?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku.”</em> Lalu aku katakan, <em>“Adapun aku, ketika itu aku bangun bukan karena sedang sholat. Akan tetapi aku tersengat binatang berbisa.”</em> Dia bertanya, <em>“Lalu apa yang kamu lakukan?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku meminta ruqyah.” Dia bertanya, “Apa yang mendasari kamu melakukan hal itu?”</em>. Aku jawab, <em>“Ada sebuah hadits yang disampaikan kepadaku oleh asy-Sya&#8217;bi.”</em> Dia bertanya, <em>“Hadits apa yang dia sampaikan kepada kalian?”</em>. Aku menjawab: Dia menuturkan kepada hadits dari Buraidah bin al-Hushaib, bahwa Nabi bersabda, <em>“Tidak ada ruqyah -yang lebih manjur- daripada untuk mengobati &#8216;ain/mata jahat atau tersengat binatang berbisa.”</em> Dia -Sa&#8217;id bin Jubair- berkata: “Sungguh baik orang yang telah mengikuti dalil yang telah dia dengar. Akan tetapi, Ibnu &#8216;Abbas telah menuturkan hadits kepada kami dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda: “Ditampakkan kepadaku umat-umat. Di sana aku melihat ada seorang nabi bersama dengan sekelompok orang pengikut. Ada pula seorang nabi yang disertai oleh satu atau dua orang. Bahkan, ada nabi yang tidak disertai oleh seorang pengikut pun. Kemudian tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok besar manusia. Aku menyangka bahwa mereka itu adalah umatku. Dikatakan kepadaku, <em>“Ini adalah Musa bersama dengan kaumnya.”</em> Kemudian aku memandang lagi, ternyata ada sekelompok besar manusia. Dikatakan kepadaku, <em>“Inilah umatmu. Bersama dengan mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”</em> Kemudian beliau -Nabi- bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang pun membicarakan hal itu. Sebagian mereka berkata, <em>“Barangkali mereka itu adalah para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> Sebagian lagi mengatakan, <em>“Barangkali mereka itu adalah orang-orang yang dilahirkan di lingkungan Islam dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah sama sekali.”</em> Mereka pun menyebutkan kemungkinan sebab-sebab yang lain. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun keluar menemui mereka. Mereka menyampaikan masalah itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, <em>“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak minta diobati dengan kay/besi panas, tidak beranggapan sial/tathayyur, dan bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” </em>Bangkitlah &#8216;Ukkasyah bin Mihshan, dia berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau menjawab, <em>“Ya, kamu termasuk golongan itu.”</em> Lalu ada seorang lelaki yang bangkit dan berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau pun menjawab, <em>“Kamu sudah didahului oleh &#8216;Ukkasyah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Mengetahui berbagai tingkatan orang dalam bertauhid</li>
<li>Maksud dari merealisasikan tauhid</li>
<li>Pujian Allah kepada Ibrahim sebagai sosok yang tidak termasuk      golongan orang musyrik</li>
<li>Pujian Allah kepada para pemimpin wali-wali Allah yang bersih      dari syirik</li>
<li>Tidak meminta ruqyah dan tidak berobat dengan kay merupakan      bentuk perealisasian tauhid</li>
<li>Karakter utama yang memadukan ciri-ciri tersebut adalah tawakal</li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat, karena mereka mengerti bahwa      kemuliaan itu tidak akan bisa dicapai tanpa amal</li>
<li>Besarnya semangat para sahabat terhadap kebaikan</li>
<li>Keutamaan umat ini dari sisi kuantitas maupun kualitas</li>
<li>Keutamaan para sahabat Musa</li>
<li>Ditampakkannya umat-umat kepada Nabi <em>&#8216;alaihish sholatu was      salam</em></li>
<li>Setiap umat akan dikumpulkan -di hari kiamat- bersama nabinya      masing-masing</li>
<li>Sedikitnya jumlah orang yang menerima dakwah nabi-nabi</li>
<li>Nabi yang tidak memiliki pengikut maka dia akan datang      sendirian pada hari kiamat</li>
<li>Buah ilmu ini, yaitu tidak perlu terpedaya dengan jumlah yang      banyak, dan tidak perlu merasa kecewa akibat jumlah yang sedikit</li>
<li>Keringanan untuk ruqyah dalam rangka penyembuhan &#8216;ain dan      tersengat binatang berbisa</li>
<li>Kedalaman ilmu salaf, hal itu tampak dari ucapannya, <em>“Sungguh      baik orang yang mengikuti dalil yang dia dengar. Akan tetapi demikian&#8230;” </em>Beliau      -Sa&#8217;id bin Jubair- mengetahui bahwa hadits yang pertama tidaklah      bertentangan dengan hadits yang kedua</li>
<li>Jauhnya salaf dari memuji orang dengan sesuatu yang tidak ada      pada dirinya</li>
<li>Dalam<em> </em>sabda beliau, <em>“Kamu termasuk dalam golongan      itu.”</em> merupakan salah satu tanda kenabian</li>
<li>Keutamaan &#8216;Ukkasyah</li>
<li>Penggunaan sindiran</li>
<li>Keluhuran akhlak Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (2)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-2.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-2.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 17:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2442</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Keutamaan Tauhid dan Pengampunan Dosa Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik).” (QS. al-An&#8217;aam: 82) Dari &#8216;Ubadah bin Shamit radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-2.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-2.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-2.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Keutamaan Tauhid dan Pengampunan Dosa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik).”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>)</p>
<p><span id="more-2442"></span></p>
<p>Dari &#8216;Ubadah bin Shamit <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Bersaksi pula bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, serta kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam dan merupakan ruh ciptaan-Nya. Bersaksi bahwa Surga adalah benar, Neraka adalah benar. Barangsiapa yang mempersaksikan itu semua maka Allah akan memasukkan dia ke dalam Surga bagaimana pun keadaan amalnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim pula, dari hadits &#8216;Itban. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah mengharamkan Neraka kepada orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah demi mengharapkan wajah Allah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “Musa <em>&#8216;alaihis salam</em> pernah berkata: <em>“Wahai Rabb-ku! Ajarkan kepadaku sesuatu yang bisa kugunakan untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu.”</em> Allah menjawab: <em>“Katakanlah, wahai Musa: laa ilaaha illallaah.”</em> Musa berkata: <em>“Wahai Rabb-ku! Semua hamba-Mu mengatakan ucapan ini?”</em>. Allah berkata: <em>“Wahai Musa! Seandainya langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya selain Aku, demikian pula bumi yang tujuh diletakkan di atas daun timbangan, kemudian laa ilaaha illallaah di atas daun timbangan yang satu, niscaya yang lebih berat adalah timbangan laa ilaaha illallaah.”</em> (<strong>HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim</strong>. al-Hakim menyatakan hadits ini sahih)</p>
<p>Dalam riwayat Tirmdzi -beliau pun menyatakan hadits ini hasan- dari Anas. Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku, maka Aku akan datang kepada-Mu dengan ampunan sepenuh itu pula.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Betapa luasnya karunia Allah</li>
<li>Pahala/balasan atas tauhid yang sedemikian melimpah di sisi      Allah</li>
<li>Tauhid menyebabkan dosa-dosa terampuni</li>
<li>Tafsiran ayat yang terdapat dalam surat al-An&#8217;aam [82]</li>
<li>Cermatilah dengan baik kelima perkara yang disebutkan dalam      hadits &#8216;Ubadah</li>
<li>Apabila kamu padukan antara hal tersebut [no 5] dengan      kandungan hadits &#8216;Itban dan yang sesudahnya, maka akan jelas bagimu apa      makna laa ilaaha illallaah, dan akan jelas pula bagimu kekeliruan      orang-orang yang <em>maghrur</em>/tertipu</li>
<li>Perhatikan syarat yang dijelaskan di dalam hadits &#8216;Itban</li>
<li>Para Nabi pun butuh untuk diberikan penegasan kembali mengenai      besarnya keutamaan laa ilaaha illallaah</li>
<li>Timbangan laa ilaaha illallaah ini sebenarnya lebih berat      daripada seluruh makhluk, walaupun kebanyakan orang yang mengucapkannya      memiliki timbangan kalimat ini yang ringan</li>
<li>Penegasan bahwa bumi ini tujuh, sebagaimana langit</li>
<li>Langit memiliki penghuni</li>
<li>Penetapan sifat-sifat Allah, berbeda dengan kaum Asy&#8217;ariyah</li>
<li>Apabila kamu memahami kandungan hadits Anas, maka kamu akan      paham maksud sabda Nabi dalam hadits &#8216;Itban: <em>“Sesungguhnya Allah      mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah demi      mengharapkan wajah Allah.”</em> Bahwa yang dimaksud adalah meninggalkan      syirik, jadi tidak cukup hanya dengan ucapan di lisan saja</li>
<li>Perhatikan kesamaan yang ada pada &#8216;Isa dan Muhammad sebagai      hamba Allah dan utusan-Nya</li>
<li>Keistimewaan Isa yang tercipta dengan kalimat Allah</li>
<li>Mengetahui kejadian Isa dari ruh ciptaan-Nya</li>
<li>Mengetahui besarnya keutamaan beriman kepada Surga dan Neraka</li>
<li>Mengetahui maksud dari sabda Nabi <em>“Bagaimana pun keadaan      amalnya.”</em></li>
<li>Mengetahui bahwa timbangan amal itu memiliki dua daun timbangan</li>
<li>Mengetahui bahwa Allah memiliki wajah</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-2.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (1)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 17:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2439</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56) Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-1.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-1.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>)</p>
<p><span id="more-2439"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan: Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb-mu memerintahkan kepadamu: Janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan  sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Marilah akan aku bacakan kepada kalian apa saja yang diharamkan Rabb kalian atas kalian; Janganlah kalian mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 151</strong>)</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud -<em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>- berkata: Barangsiapa yang ingin melihat wasiat yang dicap oleh Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bacalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Katakanlah: Marilah akan aku bacakan kepada kalian apa saja yang diharamkan Rabb kalian atas kalian; Janganlah kalian mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> Sampai firman-Nya, <em>“Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, ikutilah ia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan selainnya.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 151-153</strong>)</p>
<p>Dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Dahulu aku membonceng Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di atas seekor keledai. Beliau bertanya kepadaku, <em>“Wahai Mu&#8217;adz, tahukah kamu apakah hak Allah atas hamba, dan apakah hak hamba atas Allah?”</em>. Aku menjawab, <em>“Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.”</em> Beliau bersabda, <em>“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya. Adapun hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> Aku katakan, <em>“Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya saya menyebarkan kabar gembira ini kepada orang-orang?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Jangan kamu sebarkan kabar gembira ini, karena hal itu akan menyebabkan mereka bersandar (menyepelekan amal).”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Hikmah penciptaan jin dan manusia</li>
<li>Hakikat ibadah adalah tauhid, karena pertikaian antara para      rasul dengan umatnya adalah dalam hal tersebut</li>
<li>Barangsiapa yang tidak melaksanakan tauhid pada hakikatnya dia      belum beribadah kepada Allah. Hal ini semakna dengan firman-Nya (yang      artinya), <em>“Dan kalian tidaklah beribadah kepada apa yang aku ibadahi.”</em> (<strong>QS. al-Kafirun: 3</strong>)</li>
<li>Hikmah diutusnya para rasul</li>
<li>Ajaran para rasul itu mencakup semua umat</li>
<li>Agama para nabi adalah sama (tauhid)</li>
<li>Sebuah perkara yang sangat agung, bahwasanya ibadah kepada      Allah tidak tercapai tanpa mengingkari <em>thaghut</em> (sesembahan selain      Allah). Hal ini semakna dengan firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Barangsiapa      yang ingkar kepada thaghut.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 256</strong>)</li>
<li>Thaghut itu luas, meliputi segala yang disembah selain Allah</li>
<li>Agungnya kedudukan tiga buah ayat yang <em>muhkam</em>/sangat      tegas dan jelas di dalam surat al-An&#8217;aam [151-153] dalam pandangan salaf.      Di dalamnya terkandung sepuluh perkara, yang diawali dengan larangan      berbuat syirik</li>
<li>Ayat-ayat yang muhkam di dalam surat al-Israa&#8217;. Di dalamnya      terdapat delapn belas perkara. Allah memulainya dengan firman-Nya (yang      artinya), <em>“Janganlah kamu jadikan sesembahan lain bersama Allah,      sehingga akan membuatmu berada dalam keadaan dicela dan dihinakan.”</em> (<strong>QS.      al-Israa&#8217;: 22</strong>). Kemudian, Allah menutupnya dengan firman-Nya (yang      artinya), <em>“Janganlah kamu jadikan sesembahan lain bersama Allah,      sehingga hal itu akan menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam Jahannam dalam      keadaan dicela dan dijauhkan (dari rahmat Allah).”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;:      39</strong>). Allah mengingatkan kita tentang keagungan perkara-perkara ini      dengan firman-Nya (yang artinya), <em>“Demikian itulah sebagian hikmah yang      telah diwahyukan Rabb-mu kepadamu.”</em> (<strong>QS. al-Israa&#8217;: 39</strong>)</li>
<li>Ayat di dalam surat an-Nisaa&#8217; yang disebut dengan ayat <em>al-Huquq      al-&#8217;Asyrah</em> (sepuluh kewajiban). Allah memulainya dengan firman-Nya      (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan      sesuatu apapun dengan-Nya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</li>
<li>Peringatan tentang wasiat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em> sebelum wafatnya</li>
<li>Mengetahui apa hak Allah atas kita</li>
<li>Mengetahui apa hak hamba atas-Nya tatkala mereka menunaikan      hak-Nya</li>
<li>Perkara ini -hak hamba atas Allah- tidak diketahui oleh      kebanyakan para sahabat</li>
<li>Diperbolehkan menyembunyikan ilmu demi kemaslahatan</li>
<li>Dianjurkan menyampaikan kabar gembira kepada sesama muslim</li>
<li>Kekhawatiran dari sikap bersandar kepada keluasan rahmat Allah</li>
<li>Seorang yang ditanya memberikan jawaban <em>“Allah dan rasul-Nya      yang lebih mengetahui”</em>, ketika dia tidak mengetahui jawabannya</li>
<li>Boleh mengkhususkan mengajarkan suatu ilmu tertentu kepada      sebagian orang, dan tidak kepada selain mereka</li>
<li>Kerendahan hati Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> karena beliau mau mengendarai keledai dan memboncengkan orang di atasnya</li>
<li>Boleh membonceng di atas hewan tunggangan</li>
<li>Berita ini -yang diterima Mu&#8217;adz- mengandung perkara yang      sangat agung</li>
<li>Keutamaan Mu&#8217;adz bin Jabal</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-1.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberkas Ikhlas</title>
		<link>http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 00:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Nawawi]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Riyadhus Shalihin]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2421</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahir rahmanir rahim Ikhlas, tentu semua orang menginginkannya. Karena dengan ikhlas lah seorang hamba bisa mewujudkan perintah Tuhannya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan untuk-Nya agama dengan hanif/bertauhid&#8230;&#8221; (QS. al-Bayyinah: 5) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseberkas-ikhlas.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseberkas-ikhlas.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillahir rahmanir rahim</p>
<p>Ikhlas, tentu semua orang menginginkannya. Karena dengan ikhlas lah seorang hamba bisa mewujudkan perintah Tuhannya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan untuk-Nya agama dengan hanif/bertauhid&#8230;&#8221;</em> (<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>)</p>
<p><span id="more-2421"></span>Keikhlasan di dalam dada, itulah yang akan sampai kepada-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya, tidak juga darahnya, akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.&#8221;</em> (<strong>QS. al-Hajj: 37</strong>)</p>
<p>Allah mengetahui apakah seorang hamba benar-benar ikhlas dalam mengabdi kepada-Nya, ataukah sebenarnya dia sedang mengejar kepentingan dunia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Katakanlah: Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada kalian atau kalian menampakkannya maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.&#8221;</em> (<strong>QS. Ali Imran: 29</strong>)</p>
<p>Dengan ketiga ayat itulah, Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> memulai kitabnya yang sangat populer, <em>Riyadhus Shalihin</em>. Sebuah kitab yang boleh dikatakan menghiasi perpustakaan-perpustakaan umat Islam di berbagai penjuru negeri. Sebuah karya yang mendapatkan pujian para ulama, yang menjadi pertanda keikhlasan penulisnya&#8230;</p>
<p>Padahal, kalau orang mencermati apa yang beliau lakukan di dalam kitab ini, tidak lebih dari &#8216;sekedar&#8217; mengumpulkan ayat-ayat dan hadits-hadits. Suatu perbuatan yang sangat mudah dilakukan, terlebih lagi di masa kecanggihan teknologi semacam sekarang ini&#8230;</p>
<p>Namun demikianlah&#8230; Tidak kita dapati di masa ini tulisan ulama yang sedemikian tersebar dan dimanfaatkan dengan luas di tengah-tengah manusia -sepengetahuan kami-, selain <em>Riyadhus Shalihin</em>.</p>
<p>Hal ini kembali mengingatkan kita tentang pentingnya ikhlas dalam menghadapi berbagai corak kehidupan dan problematika umat. Betapa sering kita mendengar, membaca, mengucapkan, atau bahkan menulis dan menyampaikan tenang masalah ini, namun sudahkah ikhlas itu terpatri dan menjadi warna kehidupan kita sehari-hari?</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Arab 12 Jam (Jogja)</title>
		<link>http://abumushlih.com/bahasa-arab-12-jam-jogja.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bahasa-arab-12-jam-jogja.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 02:25:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[FKIM]]></category>
		<category><![CDATA[Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kursus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2414</guid>
		<description><![CDATA[Ikutilah Belajar Cepat Bahasa Arab 12 Jam, Bisa! Pendaftaran: 7-21 Oktober 2011 Tempat pendaftaran langsung: Wisma MTI (Misfallah Thalabul ‘Ilmi) Jl. Selokan Mataram, Pogung Kidul SIA XVI RT 01/49 No. 8C, Sindudadi, Mlati, Sleman (utara Fak. Teknik UGM) Pendaftaran via &#8230; <a href="http://abumushlih.com/bahasa-arab-12-jam-jogja.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbahasa-arab-12-jam-jogja.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbahasa-arab-12-jam-jogja.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ikutilah Belajar Cepat Bahasa Arab 12 Jam, Bisa!</p>
<p><strong>Pendaftaran:</strong><br />
7-21 Oktober 2011</p>
<p><span id="more-2414"></span></p>
<p><strong>Tempat pendaftaran langsung:</strong><br />
Wisma MTI (Misfallah Thalabul ‘Ilmi)<br />
Jl. Selokan Mataram, Pogung Kidul SIA XVI RT 01/49 No. 8C, Sindudadi, Mlati, Sleman (utara Fak. Teknik UGM)</p>
<p><strong>Pendaftaran via SMS ketik:</strong><br />
Nama lengkap / Jurusan / Univ / Angkatan<br />
(Misal: Afrizal Faelani/T.Mesin/UGM/11)<br />
Kirim ke <strong>0852 7123 2258 (a.n. Panji)</strong></p>
<p><strong>Frekuensi belajar:</strong><br />
1 kali sepekan, setiap Sabtu pukul 07.30 WIB<br />
Di Masjid-masjid atau Wisma-wisma sekitar Kampus UGM</p>
<p><strong>Briefing:</strong><br />
Jum’at, 21 Oktober 2011<br />
Pukul 16.00 WIB<br />
Di Masjid Al ‘Ashri Pogungrejo</p>
<p><strong>Mulai belajar:</strong><br />
Sabtu, 22 Oktober 2011</p>
<p><strong>Gratis, Khusus Putra, Mahasiswa</strong></p>
<p><strong>Informasi:</strong><br />
0852 7123 2258 (Panji)</p>
<p><strong>Penyelenggara:</strong><br />
Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bahasa-arab-12-jam-jogja.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Jelang Iedul Adha 1432 H (Jogja)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kajian-jelang-iedul-adha-1432-h-jogja.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kajian-jelang-iedul-adha-1432-h-jogja.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 02:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2412</guid>
		<description><![CDATA[Kajian Jelang Iedul Adha Gratis &#38; Terbuka untuk umum, Putra Putri Dapatkan fasilitas buku panduan dan snack dengan biaya Rp 20.000 Pendaftaran via sms ke Putra 081324261341 Putri 085729428242 Kajian berlangsung 2 hari : Sabtu, 22 Oktober 2011 Pukul 8.30 &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kajian-jelang-iedul-adha-1432-h-jogja.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-jelang-iedul-adha-1432-h-jogja.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-jelang-iedul-adha-1432-h-jogja.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kajian Jelang Iedul Adha</p>
<p>Gratis &amp; Terbuka untuk umum,</p>
<p>Putra Putri</p>
<p><span id="more-2412"></span></p>
<p>Dapatkan fasilitas buku panduan dan snack</p>
<p>dengan biaya Rp 20.000</p>
<p>Pendaftaran via sms ke</p>
<p>Putra 081324261341</p>
<p>Putri 085729428242</p>
<p>Kajian berlangsung 2 hari :</p>
<p><strong>Sabtu, 22 Oktober 2011</strong></p>
<p>Pukul 8.30 – 11.30 WIB</p>
<p>Di Masjid Pogung Raya</p>
<p>Dengan tema :</p>
<p><strong>Keutamaan di Bulan Dzulhijjah &amp; Fiqih Qurban</strong></p>
<p>oleh: Ust. Arifin Ridin Lc</p>
<p><strong>Ahad, 23 Oktober 2011</strong></p>
<p>Pukul 8.30 – 11.30 WIB</p>
<p>Di Masjid Pogung Raya</p>
<p>Dengan tema :</p>
<p><strong>Kesalahan – kesalahan dalam penyelenggaraan Qurban &amp; Kiat memilih hewan Qurban</strong></p>
<p>Oleh: Ust. Abu Sa’ad M. Nur Huda Lc MA</p>
<p>Penyelenggara:</p>
<p>Panitia Semarak Qurban 1432 H</p>
<p>Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</p>
<p>Website:</p>
<p>www.ypia.or.id</p>
<p>www.muslim.or.id</p>
<p>www.muslimah.or.id</p>
<p>www.radiomuslim.com</p>
<p>www.badaronline.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kajian-jelang-iedul-adha-1432-h-jogja.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tujuh Faidah Dzikir</title>
		<link>http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 04:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2408</guid>
		<description><![CDATA[Mengingat Allah (baca: dzikir) merupakan pokok daripada syukur. Manfaat yang besar dapat diperoleh dengan mengerjakan amalan ini. Namun, sayang sekali kebanyakan orang melupakan dan melalaikannya. Padahal, faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah: [1] Mendatangkan pertolongan Allah Allah ta&#8217;ala &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftujuh-faidah-dzikir.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftujuh-faidah-dzikir.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Mengingat Allah (baca: dzikir) merupakan pokok daripada syukur. Manfaat yang besar dapat diperoleh dengan mengerjakan amalan ini. Namun, sayang sekali kebanyakan orang melupakan dan melalaikannya. Padahal, faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah:</p>
<p><span id="more-2408"></span></p>
<p><strong>[1] Mendatangkan pertolongan Allah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan mengingat kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>)</p>
<p><strong>[2] Mendatangkan ampunan dan pahala yang besar</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, lelaki maupun perempuan, maka Allah sediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 35</strong>)</p>
<p><strong>[3] Sebab hidupnya hati</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya (Allah) dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya, seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p><strong>[4] Mendatangkan ketentraman jiwa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 28</strong>)</p>
<p><strong>[5] Jauh dari perangkap setan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman maka akan Kami jadikan setan sebagai pendamping yang selalu menemaninya.” </em>(<strong>QS. az-Zukhruf: 36</strong>)</p>
<p><strong>[6] Jalan menuju keikhlasan</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berusaha mengelabui Allah, sedangkan Allah justru mengelabui mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat maka mereka berdiri dengan penuh kemalasan, mereka mencari-cari pujian manusia, dan mereka sama sekali tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 142</strong>)</p>
<p><strong>[7] Perlindungan Allah pada hari kiamat</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat&#8230; di antaranya adalah seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sepi, kemudian meneteslah air matanya.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dan yang perlu diingat bahwasanya dzikir yang benar adalah yang dilandasi keikhlasan niat dan dikerjakan dengan mengikuti Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tujuh-faidah-dzikir.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

