<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Ikhlas</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/ikhlas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 07:31:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2468</guid>
		<description><![CDATA[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah [al-Fatawa Juz 14/295-296] menjelaskan : Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>[<em>al-Fatawa</em> Juz 14/295-296] menjelaskan :</p>
<p><span id="more-2468"></span></p>
<p>Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah <em>ilah</em>/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.</p>
<p>(<em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em> karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 35)</p>
<p>Dari keterangan Syaikhul Islam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya sumber kebahagiaan umat manusia adalah<strong> ikhlas</strong> -yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya- dan <strong><em>ittiba&#8217;</em></strong> -yaitu konsisten dengan ajaran dan petunjuk Rasulullah-, inilah rahasia kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Kedua hal ini pula lah yang terkandung dalam dua kalimat syahadat yang senantiasa kita ucapkan. Dua kalimat yang juga selalu diserukan oleh para mu&#8217;adzin kaum muslimin di berbagai belahan bumi.</p>
<p>Dasar kaidah yang agung ini adalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabb-nya, hendaklah dia melakukan amal salih, dan janganlah dia mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Amal yang salih adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah/tuntunan Nabi. Adapun amalan yang ikhlas adalah yang semata-mata dipersembahkan untuk Allah. Sebagaimana diterangkan oleh Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Dari sinilah kita mengetahui mengapa perhatian para ulama salaf terhadap tauhid dan sunnah sangatlah besar; karena memang kedua hal itulah asas Islam. Dengan memahami tauhid dengan benar maka seorang hamba akan mengerti jalan untuk menggapai ikhlas. Dan dengan memahami sunnah dengan baik maka seorang hamba akan mengerti cara untuk <em>ittiba&#8217;</em> kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Apabila tauhid dan sunnah itu merupakan perkara yang paling mendasar, maka memahami lawan-lawannya pun menjadi perkara yang sangat penting. Karena tidak mungkin seorang mengenal tauhid dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu syirik. Demikian pula, tidak mungkin seorang mengenal sunnah dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu bid&#8217;ah.</p>
<p>Maka sungguh sangat aneh jika ada orang yang mengaku muslim akan tetapi sangat alergi membahas tentang syirik dan bid&#8217;ah?! Bahkan, yang lebih aneh lagi adalah sikap sebagian orang yang mencemooh dakwah tauhid dan menjauhkan umat Islam darinya. Dengan bangganya dia menikmati amalan-amalan bid&#8217;ah dan melecehkan dakwah tauhid dengan bahasa-bahasa yang merendahkan para ulama. <em>Subhanallah</em>, tidakkah kita takut akan hukuman-Nya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberkas Ikhlas</title>
		<link>http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 00:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Nawawi]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Riyadhus Shalihin]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2421</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahir rahmanir rahim Ikhlas, tentu semua orang menginginkannya. Karena dengan ikhlas lah seorang hamba bisa mewujudkan perintah Tuhannya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan untuk-Nya agama dengan hanif/bertauhid&#8230;&#8221; (QS. al-Bayyinah: 5) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseberkas-ikhlas.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseberkas-ikhlas.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillahir rahmanir rahim</p>
<p>Ikhlas, tentu semua orang menginginkannya. Karena dengan ikhlas lah seorang hamba bisa mewujudkan perintah Tuhannya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan untuk-Nya agama dengan hanif/bertauhid&#8230;&#8221;</em> (<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>)</p>
<p><span id="more-2421"></span>Keikhlasan di dalam dada, itulah yang akan sampai kepada-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya, tidak juga darahnya, akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.&#8221;</em> (<strong>QS. al-Hajj: 37</strong>)</p>
<p>Allah mengetahui apakah seorang hamba benar-benar ikhlas dalam mengabdi kepada-Nya, ataukah sebenarnya dia sedang mengejar kepentingan dunia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Katakanlah: Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada kalian atau kalian menampakkannya maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.&#8221;</em> (<strong>QS. Ali Imran: 29</strong>)</p>
<p>Dengan ketiga ayat itulah, Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> memulai kitabnya yang sangat populer, <em>Riyadhus Shalihin</em>. Sebuah kitab yang boleh dikatakan menghiasi perpustakaan-perpustakaan umat Islam di berbagai penjuru negeri. Sebuah karya yang mendapatkan pujian para ulama, yang menjadi pertanda keikhlasan penulisnya&#8230;</p>
<p>Padahal, kalau orang mencermati apa yang beliau lakukan di dalam kitab ini, tidak lebih dari &#8216;sekedar&#8217; mengumpulkan ayat-ayat dan hadits-hadits. Suatu perbuatan yang sangat mudah dilakukan, terlebih lagi di masa kecanggihan teknologi semacam sekarang ini&#8230;</p>
<p>Namun demikianlah&#8230; Tidak kita dapati di masa ini tulisan ulama yang sedemikian tersebar dan dimanfaatkan dengan luas di tengah-tengah manusia -sepengetahuan kami-, selain <em>Riyadhus Shalihin</em>.</p>
<p>Hal ini kembali mengingatkan kita tentang pentingnya ikhlas dalam menghadapi berbagai corak kehidupan dan problematika umat. Betapa sering kita mendengar, membaca, mengucapkan, atau bahkan menulis dan menyampaikan tenang masalah ini, namun sudahkah ikhlas itu terpatri dan menjadi warna kehidupan kita sehari-hari?</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/seberkas-ikhlas.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti Sebuah Perjuangan</title>
		<link>http://abumushlih.com/arti-sebuah-perjuangan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/arti-sebuah-perjuangan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 17:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2344</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi perkara yang telah dipahami oleh setiap orang bahwa kesuksesan selalu diiringi dengan kesungguh-sungguhan dan perjuangan dalam mencapai cita-cita dan harapan. Keberhasilan bukanlah warisan yang bisa diperoleh dengan mudah ataupun barang murah yang bisa didapatkan di mana saja. Akan tetapi &#8230; <a href="http://abumushlih.com/arti-sebuah-perjuangan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Farti-sebuah-perjuangan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Farti-sebuah-perjuangan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Menjadi perkara yang telah dipahami oleh setiap orang bahwa kesuksesan selalu diiringi dengan kesungguh-sungguhan dan perjuangan dalam mencapai cita-cita dan harapan. Keberhasilan bukanlah warisan yang bisa diperoleh dengan mudah ataupun barang murah yang bisa didapatkan di mana saja. Akan tetapi sunnatullah menuntut bahwa keberhasilan akan diberikan kepada para pejuang dan sosok yang mau untuk berkorban.</p>
<p><span id="more-2344"></span></p>
<p>Ini bukan sekedar logika, akan tetapi inilah yang ditunjukkan oleh al-Qur&#8217;an, tatkala Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan [menuju keridhaan] Kami. Dan sesungguhnya Allah akan bersama dengan orang-orang yang berbuat ihsan.”</em> (<strong>QS. al-Ankabut: 69</strong>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Allah mengaitkan antara hidayah dengan jihad/kesungguhan. Ini artinya, orang yang paling besar mendapat hidayah adalah yang paling besar kesungguhannya. Sedangkan jihad yang paling wajib adalah jihad menundukkan jiwa dan berjuang mengendalikan hawa nafsu, berjihad melawan syaitan, dan berjihad melawan [ambisi] dunia. Maka barangsiapa yang berjihad melawan keempat hal ini akan Allah tunjukkan kepadanya jalan-jalan keridhaan-Nya yang akan mengantarkan menuju surga-Nya. Dan barangsiapa yang meninggalkan jihad itu maka dia akan kehilangan sebagian petunjuk sekadar dengan jihad/perjuangan yang dia abaikan.”</em> (<em>adh-Dhau&#8217; al-Munir</em> [4/518])</p>
<p>Demikianlah saudaraku, hal itu menunjukkan betapa besar buah dari jihad itu. Di mana pun, orang-orang yang memiliki keunggulan dalam hal ini adalah orang yang tepat untuk dijadikan sebagai rujukan di tengah perselisihan, bukan sembarang orang. al-Auza&#8217;i dan Ibnul Mubarak berkata, <em>“Apabila orang-orang berselisih tentang sesuatu maka perhatikanlah kepada apa yang dipegang oleh Ahluts Tsughur.”</em> Yang dimaksud adalah <em>ahlul jihad</em> (lihat <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir</em> [4/518])</p>
<p>Memang, berbicara lebih mudah daripada melakukan sebuah tindakan. Oleh sebab itulah di samping kekuatan ilmu dan ma&#8217;rifah, manusia juga diberikan kekuatan tekad dan harapan. Kesuksesan tidak akan diraih hanya dengan omongan, namun ia juga membutuhkan sebuah tindakan nyata dalam kehidupan. Siapa pun yang menginginkan ilmu maka dia tertuntut untuk mengerahkan kesungguhan, demikian juga orang yang mendambakan kekayaan dan kesejahteraan. Mereka rela untuk pergi pagi pulang petang, memeras keringat, membanting tulang, demi menggapai apa yang mereka kira sebagai sebuah masa depan dan ketentraman yang diimpikan.</p>
<p>Yang jelas, bagi seorang mukmin menyia-nyiakan waktu yang singkat dan amat berharga ini untuk perkara-perkara rendah, semu dan sementara adalah sebuah kehinaan dan kerugian. Oleh sebab itu, sebagaimana kata pepatah, <em>“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” </em>Inilah motivasi sekaligus, penghibur hati, sekaligus cambuk bagi orang-orang yang dirundung kesedihan akibat beratnya jalan yang mereka tempuh dan sedikitnya teman yang meringankan beban mereka. Tidak perlu risau dan khawatir, Allah tidak akan menyia-nyiakan jerih payah hamba-hamba-Nya yang berbuat baik&#8230;</p>
<p>Saudaraku, kekecewaan akan bisa berubah menjadi kebahagiaan, tatkala kita menyadari bahwa sesungguhnya banyak sekali musibah dan tekanan yang kita alami sebenarnya bersumber dari kelalaian dan kelengahan diri kita sendiri. Oleh sebab itu Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Orang yang paling bijak adalah yang menjadikan keluhannya tertuju kepada Allah dari [hal-hal] yang ada pada dirinya sendiri, bukan dari diri orang lain.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/arti-sebuah-perjuangan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudaraku&#8230; Apa Yang Kau Cari?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 16:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2329</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang teman -semoga Allah menambahkan kepadanya ilmu yang bermanfaat- pernah menulis sebuah artikel dengan judul yang kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Namun, pada kesempatan ini saya hanya akan sedikit menyampaikan beberapa keterangan dan sedikit mengkaji realita yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-apa-yang-kau-cari.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-apa-yang-kau-cari.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Salah seorang teman -<em>semoga Allah menambahkan kepadanya ilmu yang bermanfaat</em>- pernah menulis sebuah artikel dengan judul yang kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Namun, pada kesempatan ini saya hanya akan sedikit menyampaikan beberapa keterangan dan sedikit mengkaji realita yang ada di sekitar kita demi mengingatkan diri kami sendiri dan segenap <em>ikhwah</em>&#8230;</p>
<p><span id="more-2329"></span><strong>Pertama</strong>; <em>Masalah Niat</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa amalan yang kita lakukan akan sangat tergantung pada niat pelakunya. Oleh sebab itu kami mengingatkan kepada segenap <em>ikhwah</em> untuk senantiasa menjaga niat dalam beramal karena Allah, bukan karena mencari tujuan-tujuan yang rendah dan hina. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Maka keikhlasan adalah perkara yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan oleh setiap kita, dalam setiap amalan yang kita lakukan, di mana pun dan kapan pun&#8230;</p>
<p><strong>Kedua</strong>; <em>Masalah Prioritas</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa keutamaan amalan itu bertingkat-tingkat, ada yang wajib dan ada yang sunnah, ada yang utama dan ada yang lebih utama, ada yang penting dan ada yang lebih penting. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada mengerjakan hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu hendaknya kita lebih mendahulukan sesuatu yang memiliki urgensi dan keutamaan yang lebih daripada sesuatu yang kurang penting dan kurang utama, terlebih lagi di saat-saat kebanyakan manusia tenggelam dalam kelalaian dan penyimpangan-penyimpangan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ibadah di saat fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>; <em>Masalah Ilmu</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa ilmu merupakan pintu menuju kebahagiaan, keselamatan, dan kemuliaan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka akan dipahamkan oleh-Nya dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Beliau juga bersabda, <em>“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu [agama] niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu hendaknya kita bersemangat dalam menuntut ilmu ini. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> pernah mengatakan, <em>“Barangsiapa yang menuntut ilmu dalam rangka menghidupkan ajaran Islam, maka dia termasuk Shiddiqin dan derajatnya adalah sesudah derajat kenabian.” </em>Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dalam sehari cukup sekali atau dua kali. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”</em></p>
<p><strong>Keempat</strong>; <em>Masalah Hidayah</em></p>
<p>Kita semua mengetahui betapa butuhnya kita terhadap hidayah dan bimbingan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Sehingga setiap hari kita memohon kepada-Nya untuk ditunjuki jalan yang lurus. Hidayah ini mencakup petunjuk berupa ilmu dan amalan. Karena orang yang berjalan di atas jalan yang lurus adalah yang memadukan antara ilmu dan amalan. Bukan sekedar berilmu tapi tidak beramal. Bukan juga beramal namun tanpa ilmu.</p>
<p>Oleh sebab itu kita harus menjaga nikmat hidayah ini dengan baik. Jangan sampai Allah mencabut hidayah ini dari dalam diri kita akibat kelalaian dan kesalahan kita sendiri. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tatkala mereka menyimpang maka Allah pun simpangkan hati mereka.”</em> (<strong>QS. ash-Shaff: 5</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya di hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata: Wahai Rabbku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku bisa melihat. Allah menjawab; Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami akan tetapi kamu justru melupakannya, maka demikian pula pada hari ini kamu dilupakan.”</em> (<strong>QS. Thaha: 124-125</strong>)</p>
<p><strong>Kelima</strong>; <em>Masalah Dakwah</em></p>
<p>Kita semua juga mengetahui bahwa dakwah merupakan tugas agung para pengikut setia Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dakwah memiliki keutamaan dan urgensi yang sangat besar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas ilmu yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu ilmu yang telah kita dapatkan tidak boleh disembunyikan. Hendaknya kita ikut berpartisipasi dalam menyebarluaskannya. Terlebih lagi di masa seperti masa kita sekarang ini tatkala kebatilan dan kemaksiatan begitu gencarnya dipromosikan melalui segala sarana, baik di kota maupun di desa, di kalangan orang tua maupun anak muda. Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> pernah berkata, <em>“Ilmu itu tidak bisa ditandingi oleh apapun, yaitu bagi orang yang niatnya benar.”</em> Ketika ditanya apa maksud niat yang benar itu, beliau menjawab, <em>“Yaitu belajar dalam rangka menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.”</em></p>
<p><strong>Keenam</strong>; <em>Masalah Sabar</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa untuk menuntut ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya tentu saja dibutuhkan kesabaran. Demikian juga untuk menjauhi larangan-larangan, menjalankan perintah, serta tatkala mengalami musibah. Maka hendaknya setiap kita menggembleng diri dengan kesabaran. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dengan bekal kesabaran dan keyakinan, maka akan diraih kepemimpinan dalam urusan agama.” </em></p>
<p>Para ulama kita juga menegaskan, bahwa sabar laksana kepala bagi anggota badan. Apabila kesabaran itu hilang maka hilanglah keimanan. Sabar ini sangat dibutuhkan. Lihatlah kesabaran para ulama kita dalam menuntut ilmu hingga harus merasakan haus dan lapar, jauh dari sanak famili, harus meninggalkan tanah kelahiran mereka, bahkan ada di antara mereka yang rela menjual pakaian dan bahkan rumahnya demi menuntut ilmu.</p>
<p>Demikian juga lihatlah kesabaran mereka dalam menghadapi berbagai ujian dan tekanan yang datang dari musuh-musuh dakwahnya. Tidaklah itu semua mereka lakukan kecuali karena keyakinan mereka akan kebenaran janji Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada orang-orang yang sabar. Allah tidak akan menyia-nyiakan jerih payah mereka, Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan dan kesabaran mereka selama hidup di dunia&#8230; Karena Allah akan membalasnya dengan surga yang kenikmatannya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia&#8230; Sebuah kenikmatan yang sekali celupan di dalamnya bisa melupakan segala kesusahan dan kerepotan yang pernah dialaminya selama hidup di dunia&#8230;</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>; <em>Masalah Akidah</em></p>
<p>Kita semua telah mengetahui keutamaan dan urgensi akidah bagi individu dan masyarakat. Sebab akidah yang benar merupakan kunci keselamatan pada hari pembalasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu [hari kiamat] tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>). Allah pun menjadikan dakwah kepada akidah yang benar sebagai pondasi dan ruh dakwah para nabi dan rasul. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu selayaknya setiap pribadi muslim dan muslimah memiliki perhatian yang besar terhadap masalah akidah, memahaminya dengan benar dan berusaha mendakwahkannya kepada umat setelah berusaha menanamkannya di dalam dirinya sendiri. Janganlah kita meremehkan masalah akidah, karena ia adalah pondasi dan ruh agama ini. Akidah tidak hanya dibutuhkan di permulaan, di tengah-tengah, ataupun di akhir saja, namun dia dibutuhkan di semua waktu dan di segala kondisi. Inilah ibadah hati yang tidak boleh terlepas barang sedetik pun dari hati setiap insan.</p>
<p>Kita harus ingat, bahwa bodoh dan lalai terhadap akidah adalah gerbang kehancuran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman tentang bahaya penyimpangan akidah ini (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”</em> (<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 72</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>; <em>Masalah Bahasa Arab</em></p>
<p>Kita semua juga telah mengetahui bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits ditulis dalam bahasa arab, demikian juga kitab-kitab para ulama kita. Maka menjadi kebutuhan bagi kita semua untuk bisa memahami ayat-ayat, hadits-hadits serta keterangan para ulama dengan benar. Oleh sebab itu alangkah pentingnya bagi setiap penuntut ilmu untuk mempelajari bahasa ini. Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Pelajarilah bahasa arab, karena ia adalah bagian penting dari agama kalian.” </em>Dengan memahami bahasa arab, maka seorang penuntut ilmu akan dapat membaca kitab-kitab tafsir, hadits dan fikih serta kitab-kitab ushul yang akan sangat berguna bagi pembentukan pribadi muslim yang cerdas dan bermanfaat bagi umat manusia.</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>; <em>Masalah Waktu</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa waktu, umur dan kesempatan merupakan kenikmatan yang tidak ternilai harganya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua nikmat yang banyak orang tertipu olehnya; yaitu kesehatan dan waktu luang.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Oleh sebab itu, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga bersumpah dengan waktu. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu semestinya kita gunakan waktu ini sebaik-baiknya demi kebahagiaan hidup kita di dunia maupun di akhirat. Sebab kita juga tidak tahu kapan kita akan mati dan dalam keadaan apa kita mati. Yang bisa kita lakukan adalah beramal dan beramal. Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan hari. Apabila berlalu hari itu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.” </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpesan, <em>“Bersegeralah dalam beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Pada waktu pagi seorang beriman namun di sore hari menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman dan esok harinya kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mungkin ini saja sebagian catatan yang rasanya perlu kami sampaikan sebagai pengingat bagi diri kami dan pembaca sekalian, mengingat pentingnya hal ini untuk disampaikan dan demikian banyaknya perkara yang menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka.</p>
<p>Tulisan ini terutama kami tujukan kepada segenap generasi muda yang telah diberikan kenikmatan oleh Allah berupa akal pikiran dan kesempatan serta kekuatan, agar mereka tidak menyia-nyiakan berbagai kesempatan baik yang telah dibukakan untuk mereka.</p>
<p>Semoga yang singkat ini bermanfaat, <em>wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>* Tulisan ini disusun dengan saran dari salah seorang teman -<em>semoga Allah senantiasa menjaganya</em>-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Pendusta</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 02:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[Sum'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2326</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pendusta.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pendusta.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dalam Kitab <em>al-Imarah</em> Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, &#8216;Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.&#8217; Allah berkata, &#8216;<strong>Dusta kamu</strong>. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.&#8217; Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian, ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur&#8217;an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, &#8216;Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?&#8217;. Di menjawab, &#8216;Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur&#8217;an untuk-Mu.&#8217; Allah mengatakan, &#8216;<strong>Dusta kamu</strong>. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur&#8217;an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur&#8217;an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.&#8217; Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya, seorang lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, &#8216;Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.&#8217; Allah berkata, &#8216;<strong>Dusta kamu</strong>. Sebenarnya kamu lakukan itu agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim [1905]</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [6/531-532])</p>
<p><span id="more-2326"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini menerangkan kepada kita nasib malang yang menimpa tiga pendusta. <em>Pertama</em>, orang yang  berjihad akan tetapi tidak ikhlas. <em>Kedua</em>, orang yang bergelut dengan ilmu dan mendakwahkannya akan tetapi tidak ikhlas. <em>Ketiga</em>, orang yang berderma dengan hartanya akan tetapi tidak ikhlas. Mereka bertiga celaka akibat tidak pandai menjaga hatinya dari riya&#8217; dan sum&#8217;ah. Mereka beramal bukan karena Allah, tapi karena manusia, mengharapkan pujian dan sanjungan mereka. Itulah niat yang tersimpan di dalam hatinya, yang Allah tampakkan pada hari kiamat, pada hari tidak akan ada orang yang bisa berbohong dan menyembunyikan kedustaannya.</p>
<p>Dalam Kitab <em>az-Zuhd</em>, Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>tabaraka wa ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang dia mempersekutukan diriku dengan selain Aku maka Aku tinggalkan dia bersama dengan kesyirikannya.”</em> (<strong>HR. Muslim [2985]</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [9/232])</p>
<p>Abu Ishaq al-Fazari berkata, <em>“Sesungguhnya ada di antara manusia orang yang menyukai pujian kepada dirinya padahal dirinya tidak lebih berharga di sisi Allah daripada sehelai sayap nyamuk.”</em> (<em>Ta&#8217;thir al-Anfas</em>, hal. 573). Ibnu Taimiyah berkata, <em>“Barangsiapa yang mencintai seseorang tapi bukan karena Allah, maka bahaya teman-temannya lebih besar daripada bahaya musuh-musuhnya.”</em> (<em>Ta&#8217;thir al-Anfas</em>, hal. 575). <em>Semoga Allah melindungi kita dari syirik dan segala hal yang menjerumuskan ke dalamnya&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senang Mendengarkan Bacaan al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 07:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2320</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.” Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”. Beliau &#8230; <a href="http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsenang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadaku, <em>“Bacakanlah kepadaku al-Qur&#8217;an.”</em> Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Aku katakan, <em>“Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku.”</em> Maka aku pun membacakan surat an-Nisaa&#8217;, ketika sampai pada ayat [yang artinya], <em>“Bagaimanakah jika [pada hari kiamat nanti] Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka.&#8221;</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 41</strong>). Aku angkat kepalaku, atau ada seseorang dari samping yang memegangku sehingga aku pun mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat air mata beliau mengalir (<strong>HR. Bukhari [4582] dan Muslim [800]</strong>)</p>
<p><span id="more-2320"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki rasa senang dan menikmati bacaan al-Qur&#8217;an yang dibacakan oleh orang lain. Oleh sebab itu Imam Bukhari juga mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Orang yang senang mendengarkan al-Qur&#8217;an dari selain dirinya&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/107]). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ada beberapa pelajaran dari hadits Ibnu Mas&#8217;ud ini, di antaranya; anjuran untuk mendengarkan bacaan [al-Qur'an] serta memperhatikannya dengan seksama, menangis ketika mendengarkannya, merenungi kandungannya. Selain itu, hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya meminta orang lain untuk membacanya untuk didengarkan, dalam keadaan seperti ini akan lebih memungkinkan baginya dalam mendalami dan merenungkan isinya daripada apabila dia membacanya sendiri. Hadits ini juga menunjukkan sifat rendah hati seorang ulama dan pemilik kemuliaan meskipun bersama dengan para pengikutnya.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/117])</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri orang soleh adalah bisa menangis ketika mendengar bacaan al-Qur&#8217;an. Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab &#8216;Menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/112]). Lantas, apakah yang mendorong Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menangis ketika mendengar ayat di atas? Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang tampak bagi saya, bahwasanya beliau [Nabi] menangis karena sayangnya kepada umatnya. Sebab beliau mengetahui bahwa kelak beliau pasti menjadi saksi atas amal mereka semua, sedangkan amal-amal mereka bisa jadi tidak lurus (amalan yang tidak baik) sehingga membuat mereka berhak untuk mendapatkan siksaan, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [9/114])</p>
<p>Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa menangis tatkala membaca al-Qur&#8217;an harus dilandasi dengan keikhlasan. Bukan karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan. Oleh sebab itu, Imam Bukhari mengiringi bab tadi [menangis tatkala membaca al-Qur'an] dengan bab &#8216;Dosa orang yang membaca al-Qur&#8217;an untuk mencari pujian (riya&#8217;), mencari makan, atau menyalah gunakannya untuk berbuat jahat/dosa&#8217; (lihat <em>Fath al-Bari</em> [9/114]).</p>
<p>Dan yang lebih utama lagi adalah menangis tatkala sendirian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang menceritakan 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, yang salah satunya adalah, <em>“Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lantas berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [660] dan Muslim [1031]</strong>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hadits ini menunjukkan keutamaan menangis karena takut kepada Allah ta&#8217;ala dan keutamaan amal ketaatan yang rahasia/tersembunyi karena kesempurnaan ikhlas padanya, Allahu a&#8217;lam.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [4/354])</p>
<p>Satu pelajaran lagi yang mungkin bisa ditambahkan di sini, adalah keutamaan belajar bahasa arab. Karena dengan memahami bahasa arab akan lebih memudahkan dalam menghayati kandungan al-Qur&#8217;an. Oleh sebab itu hendaknya kita lebih bersemangat lagi dalam mempelajari bahasa arab dan mengkaji tafsir al-Qur&#8217;an. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/senang-mendengarkan-bacaan-al-quran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mohonlah Kepada-Nya&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 03:24:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wirid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2310</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada siapa pun di samping doamu kepada Allah.” (QS. al-Jin: 18) Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang berdoa kepada sesembahan yang lain &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmohonlah-kepada-nya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmohonlah-kepada-nya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada siapa pun di samping doamu kepada Allah.”</em> (<strong>QS. al-Jin: 18</strong>)</p>
<p><span id="more-2310"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan barangsiapa yang berdoa kepada sesembahan yang lain di samping doanya kepada Allah, yang jelas tidak ada bukti yang melandasinya, maka sesungguhnya hisabnya adalah di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kamu berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, mereka itu pasti akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>)</p>
<p>Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah berfirman; &#8216;Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku, dan Aku akan senantiasa bersama-Nya jika dia berdoa kepada-Ku.&#8217;.”</em> (<strong>HR. Bukhari [7405] dan Muslim [2675]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Rabb kita -tabaraka wa ta&#8217;ala- pada setiap malam turun ke langit terendah yaitu ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Allah mengatakan: Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta sesuatu kepada-Ku niscaya akan Aku beri, dan siapakah yang mau memohon ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.”</em> (<strong>HR. Muslim [758]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Musa <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah -&#8217;azza wa jalla- membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya.”</em> (<strong>HR. Muslim [2759]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya pada setiap malam ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim menepati waktu itu dalam keadaan memohon kepada Allah kebaikan dalam urusan dunia dan akhirat kecuali Allah pasti akan memberikan apa yang dia minta kepadanya, dan hal itu terjadi setiap malam.”</em> (<strong>HR. Muslim [757]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjenguk salah seorang di antara kaum muslimin yang menderita sakit hingga badannya menjadi sangat lemah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata, <em>“Apakah kamu pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah sebelum ini?”</em>. Dia menjawab, <em>“Iya. Dahulu aku pernah berdoa; Ya Allah, hukuman apa yang Kau tetapkan untukku di akhirat mohon Kau segerakan saja untukku di dunia ini [daripada nanti di akhirat, pent].&#8217;.”</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Subhanallah! Kamu tidak akan sanggup menanggungnya -atau kamu tidak akan mampu menerimanya-, mengapa kamu tidak berdoa; &#8216;Ya Allah, berikanlah kepadaku kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah aku dari siksa neraka.&#8217;?.”</em> Anas berkata: Lalu Nabi  mendoakan orang itu kemudian dia pun sembuh (<strong>HR. Muslim [2688]</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mohonlah-kepada-nya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Tengah Era Fitnah dan Kelalaian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2286</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. Amma ba&#8217;du. Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2286"></span> Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap insan. Tidakkah kita ingat bersama, <em>wahai saudaraku semoga Allah menjagaku dan menjagamu</em>&#8230; bahwa menjadi orang yang istiqomah di atas ketaatan di kala-kala fitnah merajalela adalah sebuah keutamaan yang sangat besar&#8230;</p>
<p>Dari Ma&#8217;qil bin Yasar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan bahwa mereka itu adalah, <em>“Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.”</em> (<strong>HR. Thabrani</strong>, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)</p>
<p>Ingatkah engkau <em>wahai saudaraku</em>&#8230; bahwa kebaikan paling utama yang saat ini banyak dilalaikan oleh manusia adalah tauhid, iman dan keikhlasan?</p>
<p>Tentang keutamaan tauhid, maka kita semua ingat bahwa tauhid inilah yang menjadi tujuan diciptakannya seluruh jin dan manusia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Para ulama salaf menafsirkan bahwa makna ibadah di sini adalah tauhid&#8230;</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada&#8230; betapa banyak di antara mereka yang melalaikan tauhid! Sehingga mereka terjerumus dalam berbagai perbuatan syirik&#8230; Entah itu syirik besar maupun kecil, entah itu yang tampak maupun yang tersembunyi&#8230; Padahal, kita semua tahu betapa besar bahaya dosa yang satu ini, sampai-sampai Allah mengatakan (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p>Tentang pentingnya keimanan, maka terlalu banyak dalil yang menunjukkan betapa besar peranan iman bagi kehidupan setiap insan. Di antaranya Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada di sekitar kita&#8230; betapa banyak orang yang rela menjual keimanannya demi mendapatkan kesenangan dunia yang hanya sementara! Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah dalam melakukan amalan-amalan sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman namun di pagi harinya dia menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Adapun, tentang keagungan ikhlas&#8230; maka banyak sekali dalil yang menunjukkan hal itu kepada kita. Di antaranya, Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>). Dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu diukur dengan niatnya. Dan setiap orang akan diberi balasan seperti apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena motivasi dunia atau karena keinginan menikahi seorang wanita, maka hijrahnya hanya akan mendapatkan balasan seperti apa yang dia niatkan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Lihatlah, berbagai fenomena yang ada di tengah umat manusia&#8230; Betapa banyak indikasi yang mencerminkan rusaknya nilai-nilai keikhlasan ini di dalam aktifitas hidup mereka. Penyakit riya&#8217; dan ujub seolah telah menjadi wabah yang merambah kemana-mana&#8230; Orang yang sholat, orang yang bersedekah, orang yang berdakwah, orang yang mengajarkan kebaikan&#8230; tidaklah ada satu celah kebaikan kecuali setan berusaha untuk membidikkan anak panah ujub dan riya&#8217; ini kepadanya&#8230;</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca <em>Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in</em> di dalam sholat kita&#8230; Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan -menukil keterangan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- bahwa <em>iyyaka na&#8217;budu</em> merupakan senjata untuk melawan penyakit riya&#8217;, sedangkan <em>iyyaka nasta&#8217;in</em> merupakan senjata untuk melumpuhkan penyakit ujub&#8230;</p>
<p><em>Saudaraku</em>.., semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran.. Tauhid, iman dan keikhlasan inilah yang menjadi perisai hidup seorang muslim. Tidak ada nilainya harta dan keturunan apabila tidak diiringi dengan tauhid, iman dan keikhlasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari -kiamat- tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>)</p>
<p>Tidaklah seorang hamba mendapatkan kemuliaan derajat di sisi Allah kecuali karena tauhid, iman dan keikhlasan yang mewarnai tindak-tanduk dan perilakunya. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah pada hari tiada lagi naungan kecuali naungan dari-Nya: [1] Seorang pemimpin yang adil, [2]  pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, [3] lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak berbuat keji oleh seorang wanita berkedudukan dan cantik namun ia mengatakan, &#8216;Aku takut kepada Allah&#8217;, [6] orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sepi lalu berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Maka di masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian semacam ini setiap muslim harus berjuang mempertahankan tauhid, keimanan dan keikhlasan yang ada di dalam dirinya. Semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> menunjuki kita kepada kebenaran dan meneguhkan kita di atasnya, dan semoga Allah menunjuki kita kebatilan dan menjauhkan kita darinya. <em>Wallahul musta&#8217;an</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Ilmu</title>
		<link>http://abumushlih.com/kemuliaan-ilmu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kemuliaan-ilmu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 07:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[salafush shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2273</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Maka Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian, dan orang-orang yang diberikan ilmu berderajat-derajat.” (QS. al-Mujadilah: 11) Ibnu Wahb meriwayatkan dari Imam Malik. Imam Malik berkata: Aku pernah mendengar Zaid bin Aslam -gurunya- mengatakan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kemuliaan-ilmu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-ilmu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-ilmu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian, dan orang-orang yang diberikan ilmu berderajat-derajat.”</em> (<strong>QS. al-Mujadilah: 11</strong>)</p>
<p><span id="more-2273"></span></p>
<p>Ibnu Wahb meriwayatkan dari Imam Malik. Imam Malik berkata: Aku pernah mendengar Zaid bin Aslam -gurunya- mengatakan tentang tafsir firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Kami akan mengangkat kedudukan orang-orang yang Kami kehendaki.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 76</strong>). Beliau (Zaid) berkata, <em>“Yaitu dengan sebab ilmu.”</em> (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/133, lihat juga <em>Umdat al-Qari</em> 2/5)</p>
<p>Ada sebuah riwayat dari al-Auza&#8217;i, bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang menemui Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Lelaki itu berkata, <em>“Wahai Abu Abdirrahman, amal apakah yang paling utama?”</em>. Beliau menjawab, “<em>Ilmu”</em>. Kemudian dia bertanya lagi, <em>“Amal apakah yang paling utama?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Ilmu”</em>. Lantas lelaki itu berkata, <em>“Aku bertanya kepadamu tentang amal yang paling utama, lantas kamu menjawab ilmu?!”</em>. Ibnu Mas&#8217;ud pun menimpali perkataannya, <em>“Aduhai betapa malangnya dirimu, sesungguhnya ilmu tentang Allah merupakan sebab bermanfaatnya amalmu yang sedikit maupun yang banyak. Dan kebodohan tentang Allah akan menyebabkan amal yang sedikit maupun yang banyak menjadi tidak bermanfaat bagimu.”</em> (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/133)</p>
<p>Ibnu Wahb menceritakan, suatu saat Abud Darda&#8217; <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata: Aku tidak takut apabila kelak ditanyakan kepadaku, <em>“Hai Uwaimir, apa yang sudah kamu ilmui?”</em>. Namun, aku khawatir jika ditanyakan kepadaku, <em>“Apa yang sudah kamu amalkan dari ilmu yang sudah kamu ketahui?”</em>. Karena Allah tidak akan memberikan ilmu kepada seseorang selama dia hidup di dunia melainkan Allah pasti akan menanyainya pada hari kiamat (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/136)</p>
<p>Ibnu Baththal berkata, <em>“Barangsiapa yang mempelajari hadits demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya maka kelak di akherat Allah akan memalingkan wajahnya menuju neraka.”</em> (<em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/136)</p>
<p>Masruq berkata, <em>“Sekadar dengan kualitas ilmu yang dimiliki seseorang maka sekadar itulah rasa takutnya kepada Allah. Dan sekadar dengan tingkat kebodohannya maka sekadar itulah hilang rasa takutnya kepada Allah.”</em> (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/136)</p>
<p>Qatadah berkata: Sesungguhnya setan tidak pernah membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia pun datang melalui pintu ilmu. Setan mengatakan, <em>“Untuk apa kamu terus-menerus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan semua (ilmu) yang telah kamu dengar, niscaya itu sudah cukup bagimu.”</em> Maka Qatadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa <em>&#8216;alaihis salam</em> adalah orang yang paling layak untuk merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi ternyata Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), <em>“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu.”</em>(<strong>QS. al-Kahfi: 66</strong>) (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari</em> karya Ibnu Baththal, 1/136)</p>
<p>Demikianlah, sekelumit catatan mengenai kemuliaan ilmu. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu menimba ilmu demi menggapai ridha-Nya. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa hshahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kemuliaan-ilmu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?</title>
		<link>http://abumushlih.com/apakah-anda-sudah-mengenal-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/apakah-anda-sudah-mengenal-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 10:18:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2256</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan ini mungkin jarang sekali kita dengar. Bahkan, bagi banyak orang akan terasa aneh dan terkesan tidak penting. Padahal, mengenal Allah dengan benar (baca: ma’rifatullah) merupakan sumber ketentraman hidup di dunia maupun di akherat. Orang yang tidak mengenal Allah, niscaya &#8230; <a href="http://abumushlih.com/apakah-anda-sudah-mengenal-allah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapakah-anda-sudah-mengenal-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fapakah-anda-sudah-mengenal-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Pertanyaan ini mungkin jarang sekali kita dengar. Bahkan, bagi banyak  orang akan terasa aneh dan terkesan tidak penting. Padahal, mengenal  Allah dengan benar (baca: ma’rifatullah) merupakan sumber ketentraman  hidup di dunia maupun di akherat. Orang yang tidak mengenal Allah,  niscaya tidak akan mengenal kemaslahatan dirinya, melanggar hak-hak  orang lain, menzalimi dirinya sendiri, dan menebarkan kerusakan di atas  muka bumi tanpa sedikitpun mengenal rasa malu.</p>
<p><span id="more-2256"></span></p>
<p>Berikut  ini, sebagian ciri-ciri atau indikasi dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta  keterangan para ulama salaf yang dapat kita jadikan sebagai pedoman  dalam menjawab pertanyaan di atas:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pertama; Orang Yang Mengenal Allah Merasa Takut Kepada-Nya</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu saja.”</em> (<strong>QS. Fathir: 28</strong>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“&#8230;Ibnu Mas&#8217;ud pernah mengatakan, &#8216;Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.&#8217; <strong>Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma&#8217;rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya</strong>.  Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling  takut kepada Allah di antara mereka. Barangsiapa yang mengenal Allah,  niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut  kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu  bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta  tersebut&#8230;.”</em> (<em>Thariq al-Hijratain</em>, dinukil dari <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir &#8216;ala at-Tafsir</em> [5/97])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kedua; Orang Yang Mengenal Allah Mencurigai Dirinya Sendiri</strong></p>
<p>Ibnu Abi Mulaikah -salah seorang tabi&#8217;in- berkata, <em>“Aku  telah bertemu dengan tiga puluhan orang Shahabat Rasulullah shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam, sedangkan mereka semua merasa sangat takut  kalau-kalau dirinya tertimpa kemunafikan.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em>).</p>
<p>Suatu ketika, ada seseorang yang berkata kepada asy-Sya&#8217;bi, <em>“Wahai sang alim/ahli ilmu.”</em> Maka beliau menjawab, <em>“Kami ini bukan ulama. Sebenarnya orang yang alim itu adalah orang yang senantiasa merasa takut kepada Allah.”</em> (dinukil dari <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir &#8216;ala at-Tafsir</em> [5/98])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ketiga; Orang Yang Mengenal Allah Mengawasi Gerak-Gerik Hatinya</strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“..<strong>Begitu  pula hati yang telah disibukkan dengan kecintaan kepada selain Allah,  keinginan terhadapnya, rindu dan merasa tentram dengannya, maka tidak  akan mungkin baginya untuk disibukkan dengan kecintaan kepada Allah,  keinginan, rasa cinta dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya kecuali  dengan mengosongkan hati tersebut dari ketergantungan terhadap  selain-Nya</strong>. Lisan juga tidak akan mungkin digerakkan untuk  mengingat-Nya dan anggota badan pun tidak akan bisa tunduk berkhidmat  kepada-Nya kecuali apabila ia dibersihkan dari mengingat dan berkhidmat  kepada selain-Nya. Apabila hati telah terpenuhi dengan kesibukan dengan  makhluk atau ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat maka tidak akan tersisa  lagi padanya ruang untuk menyibukkan diri dengan Allah serta mengenal  nama-nama, sifat-sifat dan hukum-hukum-Nya&#8230;”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 31-32)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Keempat;  Orang Yang Mengenal Allah Selalu Mengingat Akherat</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa  yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami  sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun  dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di  akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta  sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. Huud: 15-16</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah  dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah (ujian dan  malapetaka) bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga  membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi  kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir,  dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Kelima; Orang Yang Mengenal Allah Tidak Tertipu Oleh Harta</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bukanlah  kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi  kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.” </em>(<strong>HR. Bukhari</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seandainya  anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang  ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain  tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p><strong>Keenam; Orang Yang Mengenal Allah Akan Merasakan Manisnya Iman</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman&#8230;”</em> Di antaranya, <em>“Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,<em> “Akan bisa merasakan lezatnya iman orang-orang yang ridha kepada  Rabbnya, ridha Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p><strong>Ketujuh; Orang Yang Mengenal Allah Tulus Beribadah Kepada-Nya</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan <strong>setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan</strong>.  Maka barangsiapa yang hijrahnya [tulus] karena Allah dan Rasul-Nya  niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya.  Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai  atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas  sebatas apa yang dia inginkan saja.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah <strong>hati dan amal</strong> kalian.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Ibnu Mubarak <em>rahimahullah</em> mengingatkan, <em>“Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wal Hikam</em> oleh Ibnu Rajab).</p>
<p>Demikianlah,  sebagian ciri-ciri orang yang benar-benar mengenal Allah. Semoga Allah  memberikan taufik kepada kita untuk termasuk dalam golongan mereka. <em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/apakah-anda-sudah-mengenal-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

