<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Internet</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/internet/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Waktu, Alangkah Berharganya Dirimu!</title>
		<link>http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 07:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1550</guid>
		<description><![CDATA[Berjam-jam membaca al-Qur’an sesuatu yang amat jarang kita lakukan. Berjam-jam mengikuti kajian kitab pun jarang kita lakukan. Berjam-jam membolak-balik kitab para ulama pun sulit untuk kita saksikan pada kebanyakan sosok pemuda muslim di jaman ini. Namun, berjam-jam di depan internet &#8230; <a href="http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwaktu-alangkah-berharganya-dirimu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwaktu-alangkah-berharganya-dirimu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Berjam-jam membaca al-Qur’an sesuatu yang amat jarang kita lakukan.  Berjam-jam mengikuti kajian kitab pun jarang kita lakukan. Berjam-jam  membolak-balik kitab para ulama pun sulit untuk kita saksikan pada  kebanyakan sosok pemuda muslim di jaman ini. Namun, berjam-jam di depan  internet tanpa ada aktifitas yang jelas dan bermutu adalah sesuatu yang  lumrah. Terlebih lagi dengan adanya <strong>facebook</strong> yang kini marak di dunia  maya. Sungguh benar Allah <em>ta’ala</em> yang berfirman (yang artinya), <em>“Demi  masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian,   kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam  kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”</em> (QS. al-’Ashr :  1-3).</p>
<p><span id="more-1550"></span>Perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan. Hanya  saja, kebanyakan orang tidak bisa menggunakan produk kecanggihan  teknologi itu dengan sebagaimana seharusnya. Cobalah kita ingat beberapa  belas tahun yang silam, ketika televisi masih menjadi barang langka,  ketika internet dan <em>hape</em> belum meluas sebagaimana sekarang. Niscaya akan  kita dapati banyak kemungkaran yang dahulu jarang kita temukan terjadi  secara terang-terangan ternyata pada jaman sekarang ini sudah menjadi  barang yang biasa dan lumrah menghiasi PC, laptop, dan perangkat  komunikasi para generasi muda. <em>Allahul musta’an</em>! Sungguh benar sabda  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Segeralah beramal sebelum  datangnya fitnah-fitnah bak potongan-potongan malam yang gelap gulita.  Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia telah  menjadi kafir.” Atau “Pada sore hari masih beriman namun di pagi harinya  dia menjadi kafir.” “Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan  sekeping kesenangan dunia.” </em>(HR. Muslim).</p>
<p>Saudaraku -semoga Allah menjaga diriku dan dirimu- waktu yang Allah  berikan kepada kita merupakan nikmat yang sangat agung. Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua buah nikmat yang  kebanyakan manusia terpedaya karena tidak bisa menggunakan keduanya  dengan baik, yaitu kesehatan dan waktu luang.”</em> (HR. Bukhari). Hasan  al-Bashri <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hai anak Adam, sesungguhnya kamu  adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu maka lenyaplah  sebagian dari dirimu.”</em> Ada orang yang mengatakan, <em>“Waktu bagaikan  pedang, kalau kamu tidak menebasnya -dengan kebaikan- maka dia akan  menebasmu -dengan keburukan-.”</em></p>
<p>Hidup di dunia adalah sementara <em>ya akhi</em>…,  untuk apa kita buang waktu kita dalam perkara-perkara yang sia-sia?  Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah kalian mengira, bahwa  Kami menciptakan kalian sia-sia belaka, dan kalian tidak akan  dikembalikan kepada Kami?”</em>. (QS. al-Mukminun : 115). Allah juga  berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian sesudah itu kalian juga akan mati,  lantas kalian kelak akan dibangkitkan pada hari kiamat.”</em> (QS.  al-Mukminun : 15-16).</p>
<p>Setiap mukmin, ketika ditanya; untuk apa anda hidup? Niscaya selama  akalnya masih waras akan menjawab; untuk beribadah kepada Allah.  Benar-benar jawaban yang cerdas. Namun, ketika kita perhatikan dengan  seksama aktifitas dan perilaku manusia di alam nyata dalam bentuk  gerak-gerik mata, jari-jemari, tangan dan kakinya, di kala siang, sore  atau malam hari, maka akan kita temukan realita yang berkebalikan  seratus delapan puluh derajat dari jawaban yang mereka lontarkan. Mereka  makan untuk memenuhi hawa nafsu. Mereka memandang untuk memenuhi hawa  nafsu. Mereka berjalan untuk mencapai apa yang diinginkan oleh nafsu.  Mereka begadang juga untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu. Mereka buka  mata dan telinga lebar-lebar pun untuk memenuhi keinginan hawa nafsu.</p>
<p>Kita tidak sedang menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain,  namun yang kita bicarakan adalah aib-aib kita yang Allah sendirilah yang  paling tahu betapa banyak aib kita di mata-Nya. Meskipun demikian, kita  seperti orang yang masa bodoh dengan dosa-dosanya. Abdullah bin Mas’ud  <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Seorang mukmin akan melihat dosanya  bagaikan sebuah bukit besar yang akan menimpa dirinya. Sedangkan seorang  yang fajir akan melihat dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap  di depan hidungnya kemudian dia halau dengan jari dengan santainya.”</em></p>
<p>Subhanallah! Betapa jauhnya kita dengan akhlak salafus shalih. Ibnu  Abi Mulaikah mengatakan, <em>“Aku berjumpa dengan tiga puluh sahabat  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka semua merasa khawatir  dirinya tertimpa kemunafikan.”</em> Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em> mengatakan,  <em>“Seorang mukmin akan memadukan di dalam dirinya antara ihsan/perbuatan  baik dengan rasa takut. Sedangkan seorang yang munafik akan memadukan di  dalam dirinya antara perbuatan jelek dengan rasa aman dari tertimpa  hukuman.”</em> <em>Allahul musta’aan</em>!</p>
<p>Di manakah posisi kita wahai saudaraku!  Kita menisbatkan diri sebagai seorang salafi -pengikuti pemahaman  salafus shalih- namun dalam prakteknya akhlak kita seperti akhlak  orang-orang Arab Badui…!</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang akhlak orang Arab Badui (yang  artinya), <em>“Orang Arab Badui itu lebih keras kekufuran dan kemunafikannya  dan sangat wajar tidak memahami batasan-batasan (hukum) yang Allah  turunkan kepada rasul-Nya…”</em> (QS. at-Taubah : 97). Syaikh as-Sa’di  <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Meskipun di kota maupun di pelosok/badui juga  sama-sama terdapat orang kafir dan munafik, namun yang berada di pelosok  itu biasanya lebih parah daripada yang hidup di kota. Salah satu  buktinya adalah orang Arab badui/pelosok itu lebih rakus kepada harta  dan lebih pelit terhadapnya.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [1/457]).</p>
<p>Memang sebagian di antara mereka pun terdapat orang yang beriman. Allah  <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan di antara orang Arab Badui itu pun  ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”</em> (QS. at-Taubah : 99).  Oleh sebab itu mereka dicela bukan karena kebaduiannya, akan tetapi  dikarenakan mereka meninggalkan perintah-perintah Allah, dan bahwasanya  mereka adalah golongan orang yang sangat mudah terjerumus di dalamnya  (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [1/458]).</p>
<p>Maka apa bedanya mereka itu (baca: Arab badui yang ‘mbeling’) dengan  sebagian di antara kaum muslimin pada hari ini yang begitu mudah  meninggalkan perintah-perintah Allah serta menerjang  larangan-larangan-Nya semata-mata dengan alasan <em>“Ini kan jaman moderen,  biasalah.” “Kita kan masih muda, ya wajar!”</em>. Atau dengan mengatakan,  <em>“Dari dulu ya sudah kayak gini, masak tradisi warisan nenek moyang mau  kita selisihi [?!]“</em>. Atau dengan mengatakan, <em>“Masak tiap hari disuruh  pengajian, kita ‘kan juga butuh refreshing, menikmati dunia memangnya  gak boleh?”</em>. Atau, <em>“Ah kamu ini sok suci. Jangan munafiklah!”</em>. <em>“Kamu  sih, sukanya yang ekstrim-esktrim.”</em> Dan seabrek bisikan syaitan lainnya.  <em>Laa haula wa laa quwwata illa billah</em>!</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku -semoga Allah membimbingmu-  sesungguhnya syaitan dan bala tentaranya tidak henti-henti berupaya  untuk menjerumuskan umat manusia. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya singgasana Iblis berada di atas lautan.  Maka dia mengutus pasukan-pasukannya demi menyesatkan manusia. Bala  tentaranya yang paling mulia kedudukannya di sisi Iblis adalah yang  paling dahsyat menimbulkan kekacauan.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Suatu ketika,  Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em> mendapati suaminya yaitu Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> meninggalkannya di suatu malam, maka Aisyah pun  merasa cemburu. Setelah pulang, Nabi melihat kegelisahan yang ada  padanya, lalu Nabi berkata, <em>“Ada apa denganmu wahai Aisyah? Apakah kamu  merasa cemburu?”</em>. Aisyah mengatakan, <em>“Bagaimana orang sepertiku tidak  merasa cemburu kepada seorang suami yang seperti anda?”</em>. Maka Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apakah syaitanmu telah  mendatangimu?”</em>. Aisyah berkata, <em>“Wahai Rasulullah, apakah bersamaku ada  syaitan?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Iya.”</em> Lalu Aisyah berkata, <em>“Apakah semua  orang juga demikian?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Iya.”</em> Aisyah kembali bertanya,  <em>“Demikian juga anda wahai Rasulullah?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Iya, hanya  saja Allah telah membantuku untuk menundukkannya sehingga akhirnya dia  pun masuk Islam.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Ketika dahulu para sahabat duduk bersama untuk berbicara dan menasehati  dalam rangka menambah keimanan dan ketakwaan. <em>Eee</em> … pada hari ini  sebagian dari kita justru berkumpul dan saling bahu membahu untuk  memupuk kemaksiatan dan merontokkan tembok keimanan. Tidakkah kita ingat  firman Allah <em>ta’ala</em> (yang artinya), <em>“Pada hari kiamat itu nanti  orang-orang yang saling berkasih sayang dan berteman akan berubah  menjadi saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.”</em> (QS.  az-Zukhruf : 67).</p>
<p>Maka, dengan andil besar dari syaitan dan bala  tentaranya itulah, terbentuklah geng-geng, perkumpulan-perkumpulan,  gerakan-gerakan, yang semuanya memiliki satu kecenderungan yang seragam  yaitu bertekad bulat untuk mendurhakai ar-Rahman Sang penguasa kerajaan  langit dan bumi. Dengan keyakinan mereka, mereka menanamkan bahwa  kehidupan dunia adalah lahan untuk memuaskan hawa nafsu dan mengumbar  kesombongan. Dengan ucapan mereka, mereka ingin mengelabui kaum muda  bahwa tidak ada gunanya rajin-rajin menuntut ilmu agama, lebih baik  sibuk dengan wawasan terkini dan meninggalkan al-Qur’an. Dengan sikap  dan perbuatan mereka, mereka mengajak masyarakat dan para orang tua  untuk bersama-sama menenggelamkan putra-putri mereka dalam pergaulan  bebas tanpa batas, sehingga perbuatan keji pun dengan leluasa  merajalela. Apakah maknanya ini semua, wahai saudaraku yang mulia…  <strong>akankah kita biarkan kemungkaran itu terus merajalela dan merusak  tunas-tunas bangsa?</strong></p>
<p>Oleh sebab itu, seorang pemuda muslim yang masih menyimpan kecintaan  kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya menanamkan tekad di dalam hatinya  agar <strong>tidak ikut memperkeruh raut muka umat Islam masa kini di hadapan  Rabb mereka</strong>.</p>
<p>Jadilah sebagaimana pemuda Ibrahim yang getol untuk  memperjuangan tauhid dan memberantas syirik yang ada di masyarakatnya!</p>
<p>Jadilah sebagaimana para pemuda Kahfi yang beriman kepada Allah dan  Allah pun berkenan menambahkan hidayah kepada mereka!</p>
<p>Jadilah  sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang sangat keras memusuhi musuh-musuh  Islam yang berani melecehkan sahabat Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>!</p>
<p>Jadilah sebagaimana para pemuda Anshar yang berlomba-lomba untuk  maju ke medan jihad demi mempertahankan agamanya!</p>
<p>Jadilah sebagaimana  Uwais al-Qarani yang sangat berbakti kepada ibunya!</p>
<p>Saudaraku, salafuna as-shalih adalah orang-orang yang sangat <strong>pelit  dengan waktunya dan paling gigih dalam menjaga lisan mereka</strong>. Allah  <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah mereka itu mengira bahwa Kami  tidak mendengar rahasia dan bisik-bisikan mereka? Sebenarnya Kami  mendengar, dan para utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi  mereka.”</em> (QS. az-Zukhruf : 80).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang  artinya), <em>“Tidak ada kebaikan di dalam kebanyakan perbincangan mereka  kecuali orang yang menyuruh bersedekah, mengajak yang ma’ruf, atau  mendamaikan di antara manusia.”</em> (QS. an-Nisa’ : 114). Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Salah satu tanda baiknya  keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak penting  baginya.”</em> (HR. Tirmidzi, hasan). Sebagian orang bijak mengatakan,  <em>“Apabila kamu akan berbicara maka ingatlah bahwa Allah mendengar  ucapanmu. Apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Allah juga selalu  mengawasimu.”</em> (lihat <em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 152).</p>
<p><em>Ikhwah</em> sekalian, <strong>tauhid bukan sekedar tulisan</strong> yang tergores di  buku-buku. Tauhid bukan sekedar dihafal di dalam pikiran. Tauhid juga  bukan sekedar slogan-slogan kosong tanpa makna. Tauhid yang bersemayam  di dalam hati seorang insan tentu akan membuahkan <strong>amal nyata di dalam  kehidupan</strong>. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan,  <em>“..pokok keimanan itu tertanam di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan  hati. Ia mencakup pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan  ketundukan. Sedangkan apa yang ada di dalam hati pastilah akan tampak  konsekuensinya dalam perbuatan anggota-anggota badan. <strong>Apabila seseorang  tidak melakukan konsekuensinya maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak  ada atau lemah</strong> [padanya]. Oleh karena itu maka amal-amal lahir itu  merupakan konsekuensi dari keimanan di dalam hati. Ia merupakan  pembuktian atas apa yang ada di dalam hati, tanda dan saksi baginya. Ia  merupakan cabang dari totalitas keimanan dan bagian dari kesatuannya.…” </em>(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah, lihat juga <em>Mujmal  Masa’il al-Iman al-’Ilmiyah</em>, hal. 15).</p>
<p>Ibnu Batthah <em>rahimahullah</em> (wafat tahun 387 H) menyebutkan riwayat  dari Umair bin Habib <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia mengatakan, <em>“Iman itu  bertambah dan berkurang.”</em> Ada yang bertanya, <em>“Apakah maksud pertambahan  dan pengurangannya?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Apabila kita mengingat Allah  kemudian kita memuji dan menyucikan-Nya maka itulah pertambahannya. Dan  apabila kita lalai dan melupakan-Nya maka itulah pengurangannya.”</em> (<em>al-Ibanah al-Kubra</em> [3/153], lihat juga <em>Fath al-Bari Ibnu Rojab</em> [1/5]  as-Syamilah).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Belumkah tiba saatnya bagi  orang-orang yang beriman untuk tunduk dan takut hati mereka dengan  mengingat Allah serta merenungkan kebenaran yang diturunkan (kepada  mereka), dan janganlah mereka itu seperti orang-orang terdahulu yang  diberikan kitab sebelum mereka, ketika masa yang panjang berlalu maka  mengeraslah hati mereka, dan banyak di antara mereka yang menjadi  orang-orang fasik.”</em> (QS. al-Hadid : 16).</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya, <em>“Wahai Rasulullah, apakah kami  akan celakan sedangkan bersama kami masih ada orang-orang salih?”</em>. Maka  beliau menjawab, <em>“Iya, apabila perbuatan-perbuatan keji telah  merajalela.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Demikianlah sekelumit pesan bagi saudara-saudaraku sekalian, para  pemuda yang menginginkan kebahagiaan abadi di akherat nanti, bersama  para bidadari dan pelayan-pelayan yang baik budi. Suatu hari di  saat  orang-orang lain tersiksa, ketika itu pemuda yang tumbuh dalam ketaatan  beribadah kepada Rabbnya pun akan merasakan keteduhan di bawah naungan  Arsy-Nya. Karena dia rela untuk meninggalkan apa yang disenangi oleh  hawa nafsunya demi mendapatkan kecintaan Rabb alam semesta.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang surga (yang artinya), <em>“Itulah yang balasan bagi  orang-orang yang takut kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Bayyinah : 8).</p>
<p>Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memurnikan taubat kita  agar benar-benar ikhlas karena-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar  lagi Maha Penerima taubat. <em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa  ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/waktu-alangkah-berharganya-dirimu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Hakiki</title>
		<link>http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 03:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1477</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Firanda Andirja Abidin, Lc.* -hafizhahullah- Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu dengan mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua meskipun ia berada di &#8230; <a href="http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fujian-hakiki.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fujian-hakiki.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Ustadz Firanda Andirja Abidin, Lc.*</strong> -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p>Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu dengan  mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk menegakkan amar  ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua meskipun ia  berada di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tenggelam dalam lautan  kemaksiatan. Ini adalah suatu kemuliaan karena ia bisa menghadapi ujian  dengan baik sehingga terhindar dari kemaksiatan. Namun ingat  sesungguhnya bukan ini ujian yang sebenarnya.</p>
<p><span id="more-1477"></span><br />
Allah telah  melarang para hambanya untuk bermaksiat kepadanya baik  secara terang-terangan atau tatkala ia bersendirian tatkala tidak ada  orang lain yang melihatnya. Seseorang yang mencegah dirinya dari  melakukan kemaksiatan dihadapan khalayak tentunya berbeda dengan orang  yang mencegah dirinya dari melakukan kemaksiatan tatkala ia  bersendirian. Sesungguhnya ujian yang hakiki adalah ujian yang dihadapi  seorang hamba tatkala ia sedang bersendirian kemudian tersedia  dihadapannya sarana dan prasarana serta kemudahan baginya untuk  melakukan kemaksiatan, apakah ia mampu mencegah dirinya dari kemaksiatan  tersebut??. Inilah ujian yang hakiki, ujian yang sangat berat,  beruntunglah bagi mereka yang bisa selamat dari ujian ini.</p>
<p>Ketahuliah…, orang yang mampu menghindarkan dirinya dari kemaksiatan  tatkala dihadapan orang lain namun ia terjerumus dalam kemaksiatan  tatkala ia sedang bersendirian merupakan orang yang tercela.</p>
<p>Rasulullah salallah wa&#8217;alaihi wasallam pernah bersabda</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لألفين أقواما من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة فيجعلها  الله هباء منثورا فقالوا يا رسول الله صفهم لنا لكي لا نكون منهم ونحن لا  نعلم فقال أما إنهم من إخوانكم ولكنهم أقوام إذا خلوا بمحارم الله انتهكوها<br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku yang datang pada hari  kiamat dengan membawa kebaikan yang banyak seperti[1] bukit Tihamah kemudian Allah menjadikannya seperti debu yang beterbangan.&#8221;</em> Maka mereka -sahabat- bertanya, <em>&#8220;Wahai Rasulullah, berikanlah ciri mereka kepada kami agar kami tidak termasuk golongan mereka dalam keadaan tidak sadar.&#8221;</em> Maka beliau menjawab, <em>&#8220;Adapun, mereka itu adalah saudara-saudara kalian, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang apabila bersepi-sepi dengan apa yang diharamkan Allah maka mereka pun menerjangnya.&#8221;</em></p>
<p>Allah telah menguji orang-orang yahudi dengan ikan,<br />
Allah berfirman</p>
<p style="text-align: right;"><strong>}وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ  يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ  شُرَّعاً وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ  بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ| (لأعراف:163)</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di  dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu  datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka  terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan  itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka  disebabkan mereka berlaku fasik&#8221;</em>. (QS. 7:163)</p>
<p>Lihatlah…Allah memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk melakukan  kemaksiatan. Namun mereka (orang-orang Yahudi) tersebut tidak sabar  dengan ujian Allah padahal mereka yakin bahwa Allah mengawasi  gerak-gerik mereka, oleh karena itu mereka tidak melanggar perintah  Allah secara langsung tetapi mereka melakukan hilah yang akhirnya Allah  merubah mereka menjadi kera-kera yang hina.</p>
<p>Allahpun telah menguji para sahabat Nabi, Allah berfirman</p>
<p style="text-align: right;"><strong>}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِنَ  الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ  يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ  أَلِيمٌ| (المائدة:94)<br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu  dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan  tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia  tidak dapat melihat-Nya. Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu,  maka baginya azab yang pedih&#8221;</em> (Al-Maidah : 94)</p>
<p>Dari Muqotil bin Hayyan, bahwasanya ayat ini turun tatkala umroh  Hudaibiyah, tatkala itu muncul banyak sekali zebra, burung, dan  hewan-hewan buruan yang lain di tengah perjalanan para sahabat (yang  sedang dalam keadaan berihram umroh), mereka tidak pernah menjumpai yang  seperti ini sebelumnya, namun Allah melarang mereka untuk berburu  hewan-hewan tersebut.[2] Sampai-sampai saking terlalu jinaknya  hewan-hewan tersebut maka mereka bisa mengambil langsung hewan-hewan  buruan yang kecil dengan tangan-tangan mereka, adapun hewan-hewan buruan  yang besar maka mereka bisa dengan mudah menombaknya[3]</p>
<p>Dalam ayat ini | لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ } Allah menta&#8217;kid  (menekankan) dengan sumpah[4] untuk menunjukan bahwa apa yang sedang  mereka hadapi berupa jinaknya hewan-hewan buruan, tidaklah Allah  menjadikan hewan-hewan tersebut jinak kecuali karena untuk menguji  mereka.[5]</p>
<p>Adapun nakiroh pada kalimat | بِشَيْءٍ } menunjukan bahwa cobaan yang  Allah turunkan pada mereka bukanlah cobaan yang sangat mengerikan yang  menyebabkan terbunuhnya nyawa dan rusaknya harta benda, namun cobaan  yang Allah berikan kepada para sahabat pada ayat ini adalah semisal  cobaan yang Allah berikan kepada penduduk negeri Ailah (orang-orang  yahudi) berupa ikan-ikan yang banyak mengapung di permukaan laut namun  Allah melarang mereka untuk menangkapnya[6]. Dan faedah dari cobaan yang  tergolong &#8220;ringan&#8221; ini adalah untuk mengingatkan mereka bahwa  barangsiapa yang tidak bisa tegar menghadapi seperti cobaan ini maka  bagaimana ia bisa tegar jika menghadapi cobaan yang sangat berat. Oleh  karena itu huruf | مِنَ } dalam ayat ini | مِنَ الصَّيْدِ } ini jelas  adalah bayaniah dan bukan  tab&#8217;idhiyah.[7]</p>
<p>Jika seorang hamba merasakan bahwa dirinya dimudahkan untuk melakukan  kemaksiatan, jalan-jalan menuju kemaksiatan terbuka lapang baginya maka  ketahuilah bahwa ia sedang diuji oleh Allah…ingatlah bahwa Allah yang  sedang mengujinya juga sedang mengawasinya, maka takutlah ia kepada  Allah. Inilah ujian yang hakiki, dan Allah akan memberikan ganjaran yang  besar baginya karena kekuatan imannya. Barangsiapa yang meninggalkan  kemaksiatan padahal sangat mudah baginya untuk melakukannya maka  ketahuilah bahwa itu adalah kabar gembira baginya karena hal itu  merupakan indikasi imannya yang kuat. Barangsiapa yang bermaksiat kepada  Allah dalam keadaan bersendirian maka ketahuliah bahwa imannya ternyata  lemah, dan hendaknya ia takut kepada adzab yang Allah janjikan kepada  orang-orang yang melanggar perintahNya.</p>
<p>Oleh karena itu di akhir ayat Allah berfirman | لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ  يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ }, inilah hikmah dari ujian yang Allah berikan  kepada para sahabat yang sebagian mereka bisa saja mengambil hewan-hewan  buruan tersebut dengan mudahnya baik secara terang-terangan maupun  secara sembunyi-sembunyi. Dengan ujian ini akan nampak siapakah dari  hamba-hamba Allah yang takut dan bertakwa kepada Allah baik secara  terang-terangan maupun tatkala bersendirian.</p>
<p>Hal ini sebagaimana firman Allah</p>
<p style="text-align: right;"><strong>}إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ  وَأَجْرٌ كَبِيرٌ| (الملك:12</strong>(</p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak  oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar&#8221;</em>. (QS.  67:12)[8]</p>
<p>Ujian yang diberikan oleh Allah agar terbedakan hamba Allah yang karena  keimanannya yang kuat maka takut kepada adzab Allah di akhirat yang  meyakini bahwasanya Allah senantiasa mengawasinya meskipun ia tidak  melihatNya, agar terbedakan dari hamba yang lemah imannya sehingga  berani melanggar perintah Allah…[9], sehingga Allah memberinya ganjaran  yang besar…adapun menampakan rasa takut kepada Allah dihadapan khalayak  maka bisa jadi ia melakukannya karena takut kepada Allah maka ia tidak  mendapatkan ganjaran…[10].</p>
<p style="text-align: left;">*<strong>Penulis</strong> adalah mahasiswa S2 Universitas Islam Madinah</p>
<p style="text-align: left;">____</p>
<p style="text-align: left;">Catatan Kaki</p>
<p style="text-align: left;">[1] HR Ibnu Majah II/1418 no 4245 dan At-Thobroni dalam Al-Mu’jam  Ash-Shogir I/396 no 662 (dan ini adalah lafalnya) dan Al-Mu’jam  Al-Awshoth V/46 no 4632. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih  Sunan Ibnu Majah, dan As-Shahihah II/32  no 505</p>
<p style="text-align: left;">[2] Ad-Dur Al-Mantsur, karya As-Suyuthi (3/185)</p>
<p>[3] Tafsir Ibnu Katsir (2/98)</p>
<p>[4] Karena huruf lam dalam ayat ini adalh Al-Lam Al-Waqi&#8217;ah lijawabil  qosam</p>
<p>[5] Tafsir Abi As-Sa&#8217;ud  (3/78)</p>
<p>[6] Lihat juga Fathul Qodir (2/77), At-Tafsir Al-Kabir (12/71)</p>
<p>[7] Tafsir Abi As-Sa&#8217;ud  (3/78), Tafsir As-Sa&#8217;di (1/244),  karena jika  kita mengatakan bahwa مِن  dalam ayat ini adalah tab&#8217;idhyah (sebagaimana  hal ini adalah pendapat yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya  (2/98)) maka sesuatu yang ringan yang difahami dari kalimat بِشَيْءٍ  bukanlah jika dibandingkan dengan cobaan-cobaan yang berat namun jika  dibandingkan dengan seluruh hewan</p>
<p>[8] Tafsir Ibnu Katsir (2/99)</p>
<p>[9] Tafsir Abi As-Saud (3/78)</p>
<p>[10] Tafsir As-Sa&#8217;di (1/244)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Harus Ikut &#8216;Edan&#8217;?</title>
		<link>http://abumushlih.com/mengapa-kita-harus-ikut-edan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mengapa-kita-harus-ikut-edan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 18:12:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[week-end]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1292</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah Rabb Jibril, Mika&#8217;il, dan Israfil. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir dan panutan terbaik untuk segenap insan. Amma ba&#8217;du. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mengapa-kita-harus-ikut-edan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengapa-kita-harus-ikut-edan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengapa-kita-harus-ikut-edan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah Rabb Jibril, Mika&#8217;il, dan Israfil. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir dan panutan terbaik untuk segenap insan. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (QS. adz-Dzariyat: 56). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak: sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.”</em> (QS. an-Nahl: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati untuk menetapi kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” </em>(QS. al-&#8217;Ashr: 1-3)</p>
<p><span id="more-1292"></span>Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> mengatakan: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memegang kedua pundakku seraya bersabda, <em>“Jadilah kamu di dunia ini sebagaimana layaknya seorang yang asing atau musafir yang sedang melintasi suatu jalan.” </em>Ibnu Umar berkata, <em>“Apabila kamu berada di waktu sore janganlah menunda-nunda hingga tiba waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi janganlah menunda-nunda hingga datang waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum tiba kematianmu.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq)</p>
<p>Saudaraku, seolah-olah dunia ini telah menipumu. Ketika dunia dengan segenap perhiasannya mengelabui manusia dengan warna-warninya yang menarik nafsu dan mengundang minat para pemuda, datanglah syaitan berwajah manusia yang membisikkan ke telingamu, <em>“Ayo, nikmatilah masa mudamu! Sekarang ini adalah saatnya untuk kamu menunjukkan jati dirimu! Ini adalah akhir pekan, ayo kita week-end di tempat yang istimewa, yang akan memuaskan kesenanganmu! Tak usah kau ragu, untuk apa kau sibukkan dirimu dengan buku dan rekaman-rekaman kajian itu? Nikmatilah, hidupmu! Bebaslah, jangan jadikan duniamu bagaikan penjara [!!!].”</em> Inilah contoh ungkapan begundal syaitan yang gemar menipu dan menyesatkan keturunan Adam sejak dahulu.</p>
<p>Tahukah engkau, wahai saudaraku&#8230; Perjalanan hidup yang tidak lama ini, bagi seorang &#8216;musafir&#8217; adalah &#8216;sepotong siksaan&#8217; (<em>qith&#8217;atun minal &#8216;adzab</em>) yang melukai hati dan perasaannya. Jauh dari &#8216;sanak famili&#8217;, jauh dari &#8216;sahabat dan tetangga&#8217;, dan sangat jauh dari panutan kita yang sejati. Kita hidup di tengah keterasingan, namun beruntunglah orang-orang yang asing (<em>al-Ghuroba&#8217;</em>), yaitu yang berusaha untuk menghidupkan kembali Sunnah yang nyaris mati dan Aqidah yang telah luntur dari dada anak negeri. Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Saudaraku, yang dimaksud &#8216;orang asing&#8217; di sini tentu saja bukan turis manca negara, yang kesana kemari berjalan dengan busana ketat dan mini, bukan pula wisatawan lokal yang kebingungan mencari kuburan wali untuk dikunjungi demi mencari berkah serta kelancaran rezeki. Tentu bukan itu, wahai saudaraku yang kusayangi&#8230; Akan tetapi orang yang asing itu adalah orang yang mempersembahkan sholat dan sembelihannya, hidup dan matinya, segalanya demi Rabb alam semesta. Orang-orang yang tidak terlalaikan oleh kehidupan dunia dari mengingat dan mengagungkan Rabb mereka. Orang-orang yang tidak menjual akheratnya demi mendapatkan secuil dunia yang hina dan tak berharga. Orang-orang yang memiliki keyakinan sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair cendekia,</p>
<p><em>Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas<br />
Mereka men-thalaq/menceraikan dunia karena khawatir akan fitnahnya<br />
Mereka cermati isi dunia, maka tatkala</em></p>
<p><em>Mereka mengerti kalau ternyata dunia<br />
Tidak layak untuk dijadikan tempat hidup selama-lamanya</em></p>
<p><em>Maka mereka &#8216;menyulap&#8217; dunia menjadi samudera<br />
Dan mereka gunakan amal salihnya sebagai bahtera<br />
Yang berlayar di atasnya</em></p>
<p>Saudaraku, apa yang hendak kau katakan tentang generasi muda kita yang siang dan malam disirami dengan bisikan-bisikan syaitan dan disuguhi dengan atraksi-atraksi kemungkaran? Apakah yang ingin kau ungkapkan tentang kondisi teman-teman kita, yang dulu masih senang berkumpul di taman-taman surga (baca: majelis ilmu) kini telah beralih ke tepi pantai dan lereng gunung -di mana orang biasa berpacaran-, markaz-markaz game, atau bioskop-bioskop pribadi yang siap memuaskan pengunjung di dalam bilik-bilik internet di kota maupun pelosok-pelosok desa? Inikah yang mereka sebut sebagai kemajuan jaman dan peradaban yang tinggi itu? Ketika manusia sudah menjelma menjadi &#8216;binatang-binatang&#8217; yang tidak lagi mengenal halal dan haram, tidak mengenal tauhid dan syirik, tidak peduli iman atau kekafiran, apalagi taat dan kemaksiatan&#8230;<em> fa inna lillahi wa inna ilaihi raaji&#8217;uun.</em></p>
<p>Sungguh benar firman Allah<em> ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya. Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.”</em> (QS. Ali Imran: 102). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Taatilah Allah dan taatilah rasul dan wasapadalah, apabila kamu berpaling maka ketahuilah sesungguhnya kewajiban utusan Kami hanyalah menyampaikan dengan jelas.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 92). Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Akan tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sedangkan akherat itu jelas lebih baik dan lebih kekal.”</em> (QS. al-A&#8217;la: 16-17). Allah <em>ta&#8217;ala </em>juga mengingatkan (yang artinya), <em>“Alif lam lim. Apakah manusia itu mengira dia akan dibiarkan mengucapkan &#8216;kami telah beriman&#8217; kemudian mereka tidak diuji. Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka hal itu agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang benar dan siapakah yang dusta.”</em> (QS. al-Ankabut: 1-3). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga memperingatkan (yang artinya), <em>“Di antara manusia ada orang-orang yang mengatakan &#8216;kami beriman kepada Allah dan hari akhir&#8217; padahal sesungguhnya mereka bukan orang-orang mukmin. Mereka hendak mengelabui Allah dan orang-orang yang beriman, padahal sebenarnya mereka tidak menipu siapa-siapa selain diri mereka sendiri. Namun, mereka tidak menyadarinya. Di dalam hati mereka terdapat penyakit, maka Allah pun tambahkan kepada mereka penyakitnya&#8230;”</em> (QS. al-Baqarah: 8-10)</p>
<p>Kita hidup di saat sebagian besar para pemuda tidak berhasrat untuk menyelami kandungan ayat-ayat suci, tidak merasa enjoy dengan menyimak sabda-sabda Nabi, apalagi tergerak untuk menegakkan amar ma&#8217;ruf dan nahi mungkar di berbagai penjuru bumi. Mereka terlena oleh artis-artis film, penyiar-penyiar televisi, jadwal pertandingan bola kaki (baca: sepak bola), dan pusat-pusat perbelanjaan yang memanjakan pengunjung dengan barang-barang dan makhluk-makhluk yang menggiurkan. Mereka lebih mengenal seluk-beluk berita terkini selebriti daripada sejarah kepahlawanan para sahabat Nabi. Aduhai, di jaman apa kita sekarang ini?</p>
<p>Tidakkah kita ingat sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“La ilaha illallah. Hampir-hampir saja kebinasaan menimpa bangsa Arab akibat keburukan yang sudah dekat. Pada hari ini dinding yang menghalangi Ya&#8217;juj dan Ma&#8217;juj telah terbuka sebesar ukuran ini.” -Sufyan, salah seorang periwayat menggambarkan dengan melingkarkan jarinya seperti angka sepuluh-. Zainab binti Jahsy radhiyallahu&#8217;anha mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa sementara di antara kami masih banyak orang salih?”. Maka beliau menjawab, “Iya. Apabila perbuatan maksiat telah merajalela.” </em>(HR. Muslim dalam Kitab al-Fitan). Apabila kemaksiatan dengan berbagai macam bentuknya telah merajalela, maka apa jadinya nasib kita -wahai saudaraku-?!</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apakah kalian melihat apa yang aku lihat? Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat jatuhnya fitnah di sela-sela rumah kalian bagaikan tempat-tempat jatuhnya air hujan.” </em>(HR. Muslim dalam Kitab al-Fitan). Kalau di masa Nabi masih hidup saja, fitnah itu telah turun ke permukaan bumi bagaikan turunnya air hujan, maka bagaimanakah fitnah yang datang sesudah wafatnya beliau dan setelah berlalunya para khulafa&#8217;ur rasyidin, bukankah ia laksana terpaan gelombang lautan, dan seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Ketika itu, di pagi hari seorang hamba masih berhias dengan nilai-nilai keimanan, namun di sore harinya dia telah terperangkap dalam jerat-jerat kekafiran, <em>nas&#8217;alullahal &#8216;afiyah</em>!</p>
<p>Maka sekarang jawablah pertanyaanku, wahai saudaraku&#8230; mengapa kita harus ikut-ikutan edan (gila) sebagaimana orang-orang yang telah terbius oleh tipu daya syaitan dan bala tentaranya? Apakah kita akan menjawab dengan jawaban orang yang ngawur, <strong><em>“Nek ora edan ora komanan.”</em></strong> Kalau tidak ikut gila nanti tidak kebagian. Maka ingatlah wahai saudaraku, … memang jatah untuk orang-orang yang beriman akan disempurnakan oleh Allah di akherat kelak, bukan di sini! Tidakkah kau ingat sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Maukah kukabarkan kepada kalian tentang penduduk surga? Setiap orang yang lemah dan diremehkan. Seandainya dia berdoa dengan bersumpah atas nama Allah niscaya Allah kabulkan doanya.”</em> (HR. Muslim). Beliau juga bersabda, <em>“Betapa banyak orang yang rambutnya kusut dan ditolak di pintu-pintu gerbang, namun seandainya dia berdoa dengan bersumpah atas nama Allah maka Allah pasti kabulkan permintaannya.”</em> (HR. Muslim). Lihatlah mereka -para penduduk surga- yang di dunia dihinakan dan diejek oleh manusia, namun di sisi Allah mereka jauh lebih mulia daripada para majikan dan raja-raja!</p>
<p>Untuk apa kau tukar akherat yang kekal dengan dunia yang sementara? Tidakkah kau ingat betapa luas dan besarnya neraka sehingga akan siap dan pasti muat untuk menyiksa siapa saja yang durhaka kepada Allah<em> ta&#8217;ala</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,<em> “Pada hari ini -hari kiamat- neraka Jahannam didatangkan dengan tujuh puluh ribu tali kekang yang melekat padanya. Di setiap tali kekang itu terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang menyeretnya.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Untuk apa kau tukar akherat dengan dunia, sementara di akherat nanti kematian akan disembelih dan binasa? Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka pun telah memasuki neraka, maka kematian didatangkan lalu diletakkan di antara surga dan neraka, kemudian ia disembelih. Lalu ada yang berseru, &#8216;Wahai penduduk surga, kematian sudah tiada! Wahai penduduk neraka, kematian sudah tiada!&#8217;. Maka penduduk surga pun semakin bertambah gembira, sedangkan penduduk neraka justru semakin bertambah sedih karenanya.”</em> (HR. Muslim). Nah, kira-kira di manakah tempat yang nyaman ketika itu, di surga ataukah di neraka?</p>
<p><em>Ya Allah kami memohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari api neraka.</em></p>
<p>Segala puji hanya bagi-Mu, yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali diri-Mu. Salawat dan salam semoga terus tercurah kepada seorang hamba dan utusan-Mu, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka hingga kiamat tiba.</p>
<p>Yogyakarta, awal Dzulhijjah 1430 H<br />
Yang selalu membutuhkan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
<em>-semoga Allah mengampuninya-</em></p>
<p>http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mengapa-kita-harus-ikut-edan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudaraku, hargailah waktumu!</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-hargailah-waktumu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-hargailah-waktumu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 08:46:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=804</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Facebook merajalela&#8221;. Itulah kesan singkat di benak saya hasil dari berbincang-bincang dengan seorang teman yang sangat tidak senang saudaranya terjerumus dalam kejelekan. Sehingga hal itu mendorong saya untuk menyusun tulisan singkat ini. Berjam-jam membaca al-Qur&#8217;an sesuatu yang amat jarang kita &#8230; <a href="http://abumushlih.com/saudaraku-hargailah-waktumu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-hargailah-waktumu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-hargailah-waktumu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>&#8220;Facebook merajalela&#8221;.</p>
<p>Itulah kesan singkat di benak saya hasil dari berbincang-bincang dengan seorang teman yang sangat tidak senang saudaranya terjerumus dalam kejelekan. Sehingga hal itu mendorong saya untuk menyusun tulisan singkat ini.</p>
<p><span id="more-804"></span>Berjam-jam membaca al-Qur&#8217;an sesuatu yang amat jarang kita lakukan. Berjam-jam mengikuti kajian kitab pun jarang kita lakukan. Berjam-jam membolak-balik kitab para ulama pun sulit untuk kita saksikan pada kebanyakan sosok pemuda muslim di jaman ini. Namun, berjam-jam di depan internet tanpa ada aktifitas yang jelas dan bermutu adalah sesuatu yang lumrah. Terlebih lagi dengan adanya facebook yang kini marak di dunia maya. Sungguh benar Allah ta&#8217;ala yang berfirman (yang artinya), &#8220;Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian,  kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.&#8221; (QS. al-&#8217;Ashr : 1-3).</p>
<p>Perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan. Hanya saja, kebanyakan orang tidak bisa menggunakan produk kecanggihan teknologi itu dengan sebagaimana seharusnya. Cobalah kita ingat beberapa belas tahun yang silam, ketika televisi masih menjadi barang langka, ketika internet dan hape belum meluas sebagaimana sekarang. Niscaya akan kita dapati banyak kemungkaran yang dahulu jarang kita temukan terjadi secara terang-terangan ternyata pada jaman sekarang ini sudah menjadi barang yang biasa dan lumrah menghiasi PC, laptop, dan perangkat komunikasi para generasi muda. Allahul musta&#8217;an! Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah bak potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia telah menjadi kafir.&#8221; Atau &#8220;Pada sore hari masih beriman namun di pagi harinya dia menjadi kafir.&#8221; &#8220;Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan sekeping kesenangan dunia.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Saudaraku -semoga Allah menjaga diriku dan dirimu- waktu yang Allah berikan kepada kita merupakan nikmat yang sangat agung. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Ada dua buah nikmat yang kebanyakan manusia terpedaya karena tidak bisa menggunakan keduanya dengan baik, yaitu kesehatan dan waktu luang.&#8221; (HR. Bukhari). Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, &#8220;Hai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu maka lenyaplah sebagian dari dirimu.&#8221; Ada orang yang mengatakan, &#8220;Waktu bagaikan pedang, kalau kamu tidak menebasnya -dengan kebaikan- maka dia akan menebasmu -dengan keburukan-.&#8221; Hidup di dunia adalah sementara ya akhi&#8230;, untuk apa kita buang waktu kita dalam perkara-perkara yang sia-sia? Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Apakah kalian mengira, bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia belaka, dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?&#8221;. (QS. al-Mukminun : 115). Allah juga berfirman (yang artinya), &#8220;Kemudian sesudah itu kalian juga akan mati, lantas kalian kelak akan dibangkitkan pada hari kiamat.&#8221; (QS. al-Mukminun : 15-16).</p>
<p>Setiap mukmin, ketika ditanya; untuk apa anda hidup? Niscaya selama akalnya masih waras akan menjawab; untuk beribadah kepada Allah. Benar-benar jawaban yang cerdas. Namun, ketika kita perhatikan dengan seksama aktifitas dan perilaku manusia di alam nyata dalam bentuk gerak-gerik mata, jari-jemari, tangan dan kakinya, di kala siang, sore atau malam hari, maka akan kita temukan realita yang berkebalikan seratus delapan puluh derajat dari jawaban yang mereka lontarkan. Mereka makan untuk memenuhi hawa nafsu. Mereka memandang untuk memenuhi hawa nafsu. Mereka berjalan untuk mencapai apa yang diinginkan oleh nafsu. Mereka begadang juga untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu. Mereka buka mata dan telinga lebar-lebar pun untuk memenuhi keinginan hawa nafsu. Kita tidak sedang menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain, namun yang kita bicarakan adalah aib-aib kita yang Allah sendirilah yang paling tahu betapa banyak aib kita di mata-Nya. Meskipun demikian, kita seperti orang yang masa bodoh dengan dosa-dosanya. Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu mengatakan, &#8220;Seorang mukmin akan melihat dosanya bagaikan sebuah bukit besar yang akan menimpa dirinya. Sedangkan seorang yang fajir akan melihat dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di depan hidungnya kemudian dia halau dengan jari dengan santainya.&#8221;</p>
<p>Subhanallah! Betapa jauhnya kita dengan akhlak salafus shalih. Ibnu Abi Mulaikah mengatakan, &#8220;Aku berjumpa dengan tiga puluh sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, mereka semua merasa khawatir dirinya tertimpa kemunafikan.&#8221; Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, &#8220;Seorang mukmin akan memadukan di dalam dirinya antara ihsan/perbuatan baik dengan rasa takut. Sedangkan seorang yang munafik akan memadukan di dalam dirinya antara perbuatan jelek dengan rasa aman dari tertimpa hukuman.&#8221; Allahul musta&#8217;aan! Di manakah posisi kita wahai saudaraku! Kita menisbatkan diri sebagai seorang salafi -pengikuti pemahaman salafus shalih- namun dalam prakteknya akhlak kita seperti akhlak orang-orang Arab Badui&#8230;!</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman tentang akhlak orang Arab Badui (yang artinya), &#8220;Orang Arab Badui itu lebih keras kekufuran dan kemunafikannya dan sangat wajar tidak memahami batasan-batasan (hukum) yang Allah turunkan kepada rasul-Nya&#8230;&#8221; (QS. at-Taubah : 97). Syaikh as-Sa&#8217;di rahimahullah mengatakan, &#8220;Meskipun di kota maupun di pelosok/badui juga sama-sama terdapat orang kafir dan munafik, namun yang berada di pelosok itu biasanya lebih parah daripada yang hidup di kota. Salah satu buktinya adalah orang Arab badui/pelosok itu lebih rakus kepada harta dan lebih pelit terhadapnya.&#8221; (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/457]). Memang sebagian di antara mereka pun terdapat orang yang beriman. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Dan di antara orang Arab Badui itu pun ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir&#8230;&#8221; (QS. at-Taubah : 99). Oleh sebab itu mereka dicela bukan karena kebaduiannya, akan tetapi dikarenakan mereka meninggalkan perintah-perintah Allah, dan bahwasanya mereka adalah golongan orang yang sangat mudah terjerumus di dalamnya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [1/458]).</p>
<p>Maka apa bedanya mereka itu (baca: Arab badui yang &#8216;mbeling&#8217;) dengan sebagian di antara kaum muslimin pada hari ini yang begitu mudah meninggalkan perintah-perintah Allah serta menerjang larangan-larangan-Nya semata-mata dengan alasan &#8220;Ini kan jaman moderen, biasalah.&#8221; &#8220;Kita kan masih muda, ya wajar!&#8221;. Atau dengan mengatakan, &#8220;Dari dulu ya sudah kayak gini, masak tradisi warisan nenek moyang mau kita selisihi [?!]&#8220;. Atau dengan mengatakan, &#8220;Masak tiap hari disuruh pengajian, kita &#8216;kan juga butuh refreshing, menikmati dunia memangnya gak boleh?&#8221;. Atau, &#8220;Ah kamu ini sok suci. Jangan munafiklah!&#8221;. &#8220;Kamu sih, sukanya yang ekstrim-esktrim.&#8221; Dan seabrek bisikan syaitan lainnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah!</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku -semoga Allah membimbingmu- sesungguhnya syaitan dan bala tentaranya tidak henti-henti berupaya untuk menjerumuskan umat manusia. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Sesungguhnya singgasana Iblis berada di atas lautan. Maka dia mengutus pasukan-pasukannya demi menyesatkan manusia. Bala tentaranya yang paling mulia kedudukannya di sisi Iblis adalah yang paling dahsyat menimbulkan kekacauan.&#8221; (HR. Muslim). Suatu ketika, Aisyah radhiyallahu&#8217;anha mendapati suaminya yaitu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam meninggalkannya di suatu malam, maka Aisyah pun merasa cemburu. Setelah pulang, Nabi melihat kegelisahan yang ada padanya, lalu Nabi berkata, &#8220;Ada apa denganmu wahai Aisyah? Apakah kamu merasa cemburu?&#8221;. Aisyah mengatakan, &#8220;Bagaimana orang sepertiku tidak merasa cemburu kepada seorang suami yang seperti anda?&#8221;. Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Apakah syaitanmu telah mendatangimu?&#8221;. Aisyah berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, apakah bersamaku ada syaitan?&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Iya.&#8221;  Lalu Aisyah berkata, &#8220;Apakah semua orang juga demikian?&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Iya.&#8221; Aisyah kembali bertanya, &#8220;Demikian juga anda wahai Rasulullah?&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Iya, hanya saja Allah telah membantuku untuk menundukkannya sehingga akhirnya dia pun masuk Islam.&#8221; (HR. Muslim).<br />
.<br />
Ketika dahulu para sahabat duduk bersama untuk berbicara dan menasehati dalam rangka menambah keimanan dan ketakwaan. Eee &#8230; pada hari ini sebagian dari kita justru berkumpul dan saling bahu membahu untuk memupuk kemaksiatan dan merontokkan tembok keimanan. Tidakkah kita ingat firman Allah ta&#8217;ala (yang artinya), &#8220;Pada hari kiamat itu nanti orang-orang yang saling berkasih sayang dan berteman akan berubah menjadi saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.&#8221; (QS. az-Zukhruf : 67). Maka, dengan andil besar dari syaitan dan bala tentaranya itulah, terbentuklah geng-geng, perkumpulan-perkumpulan, gerakan-gerakan, yang semuanya memiliki satu kecenderungan yang seragam yaitu bertekad bulat untuk mendurhakai ar-Rahman Sang penguasa kerajaan langit dan bumi. Dengan keyakinan mereka, mereka menanamkan bahwa kehidupan dunia adalah lahan untuk memuaskan hawa nafsu dan mengumbar kesombongan. Dengan ucapan mereka, mereka ingin mengelabui kaum muda bahwa tidak ada gunanya rajin-rajin menuntut ilmu agama, lebih baik sibuk dengan wawasan terkini dan meninggalkan al-Qur&#8217;an. Dengan sikap dan perbuatan mereka, mereka mengajak masyarakat dan para orang tua untuk bersama-sama menenggelamkan putra-putri mereka dalam pergaulan bebas tanpa batas, sehingga perbuatan keji pun dengan leluasa merajalela. Apakah maknanya ini semua, wahai saudaraku yang mulia&#8230; akankah kita biarkan kemungkaran itu terus merajalela dan merusak tunas-tunas bangsa?</p>
<p>Oleh sebab itu, seorang pemuda muslim yang masih menyimpan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya menanamkan tekad di dalam hatinya agar tidak ikut memperkeruh raut muka umat Islam masa kini di hadapan Rabb mereka. Jadilah sebagaimana pemuda Ibrahim yang getol untuk memperjuangan tauhid dan memberantas syirik yang ada di masyarakatnya! Jadilah sebagaimana para pemuda Kahfi yang beriman kepada Allah dan Allah pun berkenan menambahkan hidayah kepada mereka! Jadilah sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang sangat keras memusuhi musuh-musuh Islam yang berani melecehkan sahabat Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam! Jadilah sebagaimana para pemuda Anshar yang berlomba-lomba untuk maju ke medan jihad demi mempertahankan agamanya! Jadilah sebagaimana Uwais al-Qarani yang sangat berbakti kepada ibunya!</p>
<p>Saudaraku, salafuna as-shalih adalah orang-orang yang sangat pelit dengan waktunya dan paling gigih dalam menjaga lisan mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Apakah mereka itu mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisik-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan para utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka.&#8221; (QS. az-Zukhruf : 80). Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang artinya), &#8220;Tidak ada kebaikan di dalam kebanyakan perbincangan mereka kecuali orang yang menyuruh bersedekah, mengajak yang ma&#8217;ruf, atau mendamaikan di antara manusia.&#8221; (QS. an-Nisa&#8217; : 114). Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.&#8221; (HR. Tirmidzi, hasan). Sebagian orang bijak mengatakan, &#8220;Apabila kamu akan berbicara maka ingatlah bahwa Allah mendengar ucapanmu. Apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Allah juga selalu mengawasimu.&#8221; (lihat Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam, hal. 152).</p>
<p>Ikhwah sekalian, tauhid bukan sekedar tulisan yang tergores di buku-buku. Tauhid bukan sekedar dihafal di dalam pikiran. Tauhid juga bukan sekedar slogan-slogan kosong tanpa makna. Tauhid yang bersemayam di dalam hati seorang insan tentu akan membuahkan amal nyata di dalam kehidupan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, &#8220;..pokok keimanan itu tertanam di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan hati. Ia mencakup pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan ketundukan. Sedangkan apa yang ada di dalam hati pastilah akan tampak konsekuensinya dalam perbuatan anggota-anggota badan. Apabila seseorang tidak melakukan konsekuensinya maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak ada atau lemah [padanya]. Oleh karena itu maka amal-amal lahir itu merupakan konsekuensi dari keimanan di dalam hati. Ia merupakan pembuktian atas apa yang ada di dalam hati, tanda dan saksi baginya. Ia merupakan cabang dari totalitas keimanan dan bagian dari kesatuannya.…&#8221; (Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah, lihat juga Mujmal Masa&#8217;il al-Iman al-&#8217;Ilmiyah, hal. 15).</p>
<p>Ibnu Batthah rahimahullah (wafat tahun 387 H) menyebutkan riwayat dari Umair bin Habib radhiyallahu&#8217;anhu, dia mengatakan, &#8220;Iman itu bertambah dan berkurang.&#8221; Ada yang bertanya, &#8220;Apakah maksud pertambahan dan pengurangannya?&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Apabila kita mengingat Allah kemudian kita memuji dan menyucikan-Nya maka itulah pertambahannya. Dan apabila kita lalai dan melupakan-Nya maka itulah pengurangannya.&#8221; (al-Ibanah al-Kubra [3/153], lihat juga Fath al-Bari Ibnu Rojab [1/5] as-Syamilah).</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk dan takut hati mereka dengan mengingat Allah serta merenungkan kebenaran yang diturunkan (kepada mereka), dan janganlah mereka itu seperti orang-orang terdahulu yang diberikan kitab sebelum mereka, ketika masa yang panjang berlalu maka mengeraslah hati mereka, dan banyak di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.&#8221; (QS. al-Hadid : 16). Suatu ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ditanya, &#8220;Wahai Rasulullah, apakah kami akan celakan sedangkan bersama kami masih ada orang-orang salih?&#8221;. Maka beliau menjawab, &#8220;Iya, apabila perbuatan-perbuatan keji telah merajalela.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Demikianlah sekelumit pesan bagi saudara-saudaraku sekalian, para pemuda yang menginginkan kebahagiaan abadi di akhirat nanti, bersama para bidadari dan pelayan-pelayan yang baik budi. Sebuah hari di  saat orang-orang lain tersiksa, ketika itu pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Rabbnya pun akan merasakan keteduhan di bawah naungan Arsy-Nya. Karena dia rela untuk meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsunya demi mendapatkan kecintaan Rabb alam semesta. Allah ta&#8217;ala berfirman tentang surga (yang artinya), &#8220;Itulah yang balasan bagi orang-orang yang takut kepada Rabbnya.&#8221; (QS. al-Bayyinah : 8).</p>
<p>Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memurnikan taubat kita agar benar-benar ikhlas karena-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Penerima taubat. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-hargailah-waktumu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

