<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Istiqomah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/istiqomah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Di Tengah Era Fitnah dan Kelalaian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2286</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. Amma ba&#8217;du. Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2286"></span> Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap insan. Tidakkah kita ingat bersama, <em>wahai saudaraku semoga Allah menjagaku dan menjagamu</em>&#8230; bahwa menjadi orang yang istiqomah di atas ketaatan di kala-kala fitnah merajalela adalah sebuah keutamaan yang sangat besar&#8230;</p>
<p>Dari Ma&#8217;qil bin Yasar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan bahwa mereka itu adalah, <em>“Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.”</em> (<strong>HR. Thabrani</strong>, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)</p>
<p>Ingatkah engkau <em>wahai saudaraku</em>&#8230; bahwa kebaikan paling utama yang saat ini banyak dilalaikan oleh manusia adalah tauhid, iman dan keikhlasan?</p>
<p>Tentang keutamaan tauhid, maka kita semua ingat bahwa tauhid inilah yang menjadi tujuan diciptakannya seluruh jin dan manusia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Para ulama salaf menafsirkan bahwa makna ibadah di sini adalah tauhid&#8230;</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada&#8230; betapa banyak di antara mereka yang melalaikan tauhid! Sehingga mereka terjerumus dalam berbagai perbuatan syirik&#8230; Entah itu syirik besar maupun kecil, entah itu yang tampak maupun yang tersembunyi&#8230; Padahal, kita semua tahu betapa besar bahaya dosa yang satu ini, sampai-sampai Allah mengatakan (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p>Tentang pentingnya keimanan, maka terlalu banyak dalil yang menunjukkan betapa besar peranan iman bagi kehidupan setiap insan. Di antaranya Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada di sekitar kita&#8230; betapa banyak orang yang rela menjual keimanannya demi mendapatkan kesenangan dunia yang hanya sementara! Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah dalam melakukan amalan-amalan sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman namun di pagi harinya dia menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Adapun, tentang keagungan ikhlas&#8230; maka banyak sekali dalil yang menunjukkan hal itu kepada kita. Di antaranya, Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>). Dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu diukur dengan niatnya. Dan setiap orang akan diberi balasan seperti apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena motivasi dunia atau karena keinginan menikahi seorang wanita, maka hijrahnya hanya akan mendapatkan balasan seperti apa yang dia niatkan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Lihatlah, berbagai fenomena yang ada di tengah umat manusia&#8230; Betapa banyak indikasi yang mencerminkan rusaknya nilai-nilai keikhlasan ini di dalam aktifitas hidup mereka. Penyakit riya&#8217; dan ujub seolah telah menjadi wabah yang merambah kemana-mana&#8230; Orang yang sholat, orang yang bersedekah, orang yang berdakwah, orang yang mengajarkan kebaikan&#8230; tidaklah ada satu celah kebaikan kecuali setan berusaha untuk membidikkan anak panah ujub dan riya&#8217; ini kepadanya&#8230;</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca <em>Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in</em> di dalam sholat kita&#8230; Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan -menukil keterangan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- bahwa <em>iyyaka na&#8217;budu</em> merupakan senjata untuk melawan penyakit riya&#8217;, sedangkan <em>iyyaka nasta&#8217;in</em> merupakan senjata untuk melumpuhkan penyakit ujub&#8230;</p>
<p><em>Saudaraku</em>.., semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran.. Tauhid, iman dan keikhlasan inilah yang menjadi perisai hidup seorang muslim. Tidak ada nilainya harta dan keturunan apabila tidak diiringi dengan tauhid, iman dan keikhlasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari -kiamat- tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>)</p>
<p>Tidaklah seorang hamba mendapatkan kemuliaan derajat di sisi Allah kecuali karena tauhid, iman dan keikhlasan yang mewarnai tindak-tanduk dan perilakunya. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah pada hari tiada lagi naungan kecuali naungan dari-Nya: [1] Seorang pemimpin yang adil, [2]  pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, [3] lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak berbuat keji oleh seorang wanita berkedudukan dan cantik namun ia mengatakan, &#8216;Aku takut kepada Allah&#8217;, [6] orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sepi lalu berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Maka di masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian semacam ini setiap muslim harus berjuang mempertahankan tauhid, keimanan dan keikhlasan yang ada di dalam dirinya. Semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> menunjuki kita kepada kebenaran dan meneguhkan kita di atasnya, dan semoga Allah menunjuki kita kebatilan dan menjauhkan kita darinya. <em>Wallahul musta&#8217;an</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istiqomah Di Atas Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/istiqomah-di-atas-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/istiqomah-di-atas-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 15:52:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2231</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslimin&#8230; semoga senantiasa dirahmati Allah&#8230; Istiqomah, sebuah perbendaharaan paling berharga bagi setiap insan&#8230; Tidak ada seorang pun di dunia ini melainkan membutuhkannya. Agar kelak di akherat, dirinya bisa berbahagia tatkala berjumpa dengan-Nya&#8230; Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya; &#8230; <a href="http://abumushlih.com/istiqomah-di-atas-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fistiqomah-di-atas-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fistiqomah-di-atas-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kaum muslimin&#8230; <em>semoga senantiasa dirahmati Allah</em>&#8230;</p>
<p>Istiqomah, sebuah perbendaharaan paling berharga bagi setiap insan&#8230; Tidak ada seorang pun di dunia ini melainkan membutuhkannya. Agar kelak di akherat, dirinya bisa berbahagia tatkala berjumpa dengan-Nya&#8230;</p>
<p><span id="more-2231"></span>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya;</p>
<p><strong>حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي  شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ح و  حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا  عَنْ جَرِيرٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ  كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ  عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي  فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي  حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ  فَاسْتَقِمْ</strong></p>
<p>Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib menuturkan kepada kami.  Mereka berdua berkata; Ibnu Numair menuturkan kepada kami [tanda  perpindahan sanad] demikian pula Qutaibah bin Sa’id dan Ishaq bin  Ibrahim mereka semuanya menuturkan kepada kami dari Jarir [tanda  perpindahan sanad] begitu pula Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Dia  berkata; Abu Usamah menuturkan kepada kami. Mereka semuanya meriwayatkan  dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari <strong>Sufyan bin Abdullah  ats-Tsaqafi</strong>, dia berkata; Aku berkata, <em>“Wahai Rasulullah, katakanlah  kepada saya suatu ucapan di dalam Islam yang tidak akan saya tanyakan  kepada seorang pun sesudah anda.”</em> Sedangkan dalam penuturan Abu Usamah  dengan ungkapan, <em>“orang selain anda”</em>, maka beliau menjawab, <em>“Katakanlah;  Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dalam  Kitab al-Iman, lihat <em>Syarh Nawawi</em> [2/91-92])</p>
<p>Istiqomah, sebuah perkara yang sangat agung dan tidak bisa diremehkan,  sampai-sampai Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em> mengatakan tatkala  menjelaskan firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p><strong>فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ</strong></p>
<p><em>“Istiqomahlah engkau sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.”</em> (<strong>QS. Huud : 112</strong>)</p>
<p>Ibnu Abbas mengatakan, <em>“Tidaklah turun kepada Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam di dalam keseluruhan al-Qur’an suatu ayat yang lebih  berat dan lebih sulit bagi beliau daripada ayat ini.”</em> (lihat <em>Syarh  Nawawi</em> [2/92]).</p>
<p>Sampai-sampai sebagian ulama -sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qasim al-Qusyairi- mengatakan,</p>
<p><strong>الِاسْتِقَامَة لَا يُطِيقهَا إِلَّا الْأَكَابِر</strong></p>
<p><em>“Tidak ada yang bisa benar-benar istiqomah melainkan orang-orang besar.”</em> (Disebutkan oleh an-Nawawi dalam <em>Syarh Muslim</em> [2/92])</p>
<p>Oleh sebab itu ikhwah sekalian, semoga Allah meneguhkan kita di atas  jalan-Nya, marilah  kita mengingat besarnya nikmat yang  Allah karuniakan kepada <strong>Ahlus Sunnah yang tetap tegak di atas kebenaran</strong> di antara berbagai golongan yang menyimpang dari jalan-Nya. Inilah  nikmat teragung dan <strong>anugerah terindah yang menjadi cita-cita setiap  mukmin</strong>. Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><strong>إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ  ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا  تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ  تُوعَدُون</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah,  kemudian mereka istiqomah akan turun kepada mereka para malaikat seraya  mengatakan; Janganlah kalian takut dan jangan sedih, dan bergembiralah  dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.” </em>(<strong>QS. Fusshilat : 30</strong>).</p>
<p>al-Qadhi ‘Iyadh <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat  di atas -QS. Fusshilat : 30- adalah <strong>orang-orang yang mentauhidkan Allah</strong> dan beriman kepada-Nya lalu istiqomah dan tidak berpaling dari tauhid.  Mereka konsisten dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah <em>subhanahu wa  ta’ala</em> <strong>sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan itu</strong> (lihat <em>Syarh  Nawawi</em> [2/92]).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menjelaskan,  bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengakui dan mengikrarkan  -keimanan mereka-, mereka ridha akan rububiyah Allah <em>ta’ala</em> serta pasrah  kepada perintah-Nya. Kemudian mereka istiqomah di atas jalan yang lurus  dengan <strong>ilmu dan amal</strong> mereka, mereka itulah orang-orang yang akan  mendapatkan kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat (lihat  <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [2/1037-1038]).</p>
<p>Abu Bakar as-Shiddiq <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan ketika menafsirkan  ayat di atas (yang artinya), <em>“Kemudan mereka tetap istiqomah”</em>, maka  beliau mengatakan, <em>“Artinya mereka <strong>tidak mempersekutukan Allah dengan  sesuatu apapun</strong>.”</em> Diriwayatkan pula dari beliau, <em>“Yaitu mereka tidak  berpaling kepada sesembahan selain-Nya.”</em> (Disebutkan oleh Ibnu Rajab  al-Hanbali di dalam <em>Jami’ al-’Ulum</em>, hal. 260).</p>
<p>Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em> tentang makna firman Allah <em>ta’ala</em> <em>“Sesungguhnya orang-orang yang  mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah”</em>, beliau  mengatakan, <em>“Yaitu mereka istiqomah dalam <strong>menunaikan kewajiban-kewajiban</strong> yang Allah bebankan.”</em> Sedangkan Abu al-’Aliyah mengatakan, <em>“Kemudian  -setelah mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah- maka mereka pun  <strong>mengikhlaskan</strong> kepada-Nya agama dan amal.”</em> Qatadah mengatakan, <em>“Mereka  istiqomah <strong>di atas ketaatan</strong> kepada Allah.”</em> Diriwayatkan pula dari Hasan  al-Bashri, apabila beliau membaca ayat ini maka beliau berdoa, <em>Allahumma  anta Rabbuna farzuqnal istiqomah</em>; <em>‘Ya Allah, engkaulah Rabb kami,  <strong>karuniakanlah rezeki keistiqomahan kepada kami</strong>’.”</em> (<em>Jami’ al-’Ulum</em>, hal.  260).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/istiqomah-di-atas-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekarang dan Masa Depan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sekarang-dan-masa-depan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sekarang-dan-masa-depan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Oct 2010 06:47:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2036</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Yang merajai pada hari pembalasan. Salawat dan keselamatan semoga selalu terlimpah kepada Rasul akhir zaman, yang mengajak meniti jalan yang lurus menuju negeri keabadian yang dengan penuh kenikmatan. Amma ba&#8217;du. Seringkali kita tertipu oleh pandangan sekilas. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sekarang-dan-masa-depan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekarang-dan-masa-depan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsekarang-dan-masa-depan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, Yang merajai pada hari pembalasan. Salawat dan keselamatan semoga selalu terlimpah kepada Rasul akhir zaman, yang mengajak meniti jalan yang lurus menuju negeri keabadian yang dengan penuh kenikmatan. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2036"></span>Seringkali kita tertipu oleh pandangan sekilas. Sesuatu -yang belum jelas- menjadi tergambar indah dan menyenangkan dengan sekilas pandangan, padahal hanya sekilas saja. Namun, kalau diteliti dan dicermati dampak-dampaknya serta ujung-ujungnya, maka kebalikannya justru yang dijumpai; kesedihan, penyesalan dan penderitaan berkepanjangan. <em>Subhanallah!</em></p>
<p>Oleh sebab itu, saudaraku&#8230; kehidupan dunia dengan seabrek tipuan dan sejuta kepalsuan ini tidak selayaknya melupakan seorang muslim akan hakekat yang sebenarnya dari hidup yang dijalaninya. Kita yakini bersama, hidup kita di alam dunia ini pasti berakhir, tidak kekal selamanya. Setelah itu, kita akan memasuki alam akherat&#8230; Ya, alam pembalasan pahala atau penjatuhan hukuman! Maka, kita harus cerdik dan sabar. Cerdik dalam menyikapi segala macam kepalsuan tersebut agar kita tidak tertipu olehnya. Dan sabar dalam menahan godaan yang menggiurkan dari para penebar kebatilan.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.”</em> (<strong>QS. al-Mulk: 2</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan kehidupan dunia tidak lain adalah kesenangan yang palsu.”</em> (<strong>QS. al-Hadid: 20</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”</em> (<strong>QS. al-Jumu&#8217;ah: 8</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga begitu saja, sementara Allah belum mengetahui (membuktikan) siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan mengetahui siapakah orang-orang yang bersabar.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 142</strong>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Keberuntungan paling besar di dunia ini adalah kamu menyibukkan dirimu di sepanjang waktu dengan perkara-perkara yang lebih utama dan lebih bermanfaat untukmu kelak di hari akherat. Bagaimana mungkin dianggap berakal, seseorang yang menjual surga demi mendapatkan sesuatu yang mengandung kesenangan hanya sesaat? Orang yang benar-benar mengerti hakekat hidup ini akan keluar dari alam dunia dalam keadaan belum bisa menuntaskan dua urusan; menangisi dirinya sendiri -akibat menuruti hawa nafsu tanpa kendali- dan menunaikan kewajiban untuk memuji Rabbnya. Apabila kamu merasa takut kepada makhluk maka kamu akan merasa gelisah karena keberadaannya dan menghindar darinya. Adapun Rabb (Allah) ta&#8217;ala, apabila kamu takut kepada-Nya niscaya kamu akan merasa tentram karena dekat dengan-Nya dan berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 34)</p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku -<em>semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya</em>- tiada bahagia tanpa takwa kepada-Nya. Sementara, takwa itu mencakup tiga tingkatan:</p>
<ol>
<li>Menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan dosa dan      keharaman. Apabila seseorang       melakukan hal ini hatinya akan tetap hidup.</li>
<li>Menjaga diri dari perkara-perkara yang makruh/dibenci. Apabila      seseorang melakukan hal ini hatinya akan sehat dan kuat.</li>
<li>Menjaga diri dari berlebih-lebihan -dalam perkara mubah- dan      segala urusan yang tidak penting. Apabila seseorang melakukan hal ini      hatinya akan diliputi dengan kegembiraan dan sejuk dalam menjalani      ketaatan (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 34). <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sekarang-dan-masa-depan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesabaran Seorang Da&#8217;i</title>
		<link>http://abumushlih.com/kesabaran-seorang-dai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kesabaran-seorang-dai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 07:12:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2014</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Raja yang menguasai langit dan bumi, Penguasa yang berhak mengatur dan mengendalikan jagat raya sebagaimana yang Dia ingini. Salawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi penebar rahmah, Sang penutup nabi dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kesabaran-seorang-dai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkesabaran-seorang-dai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkesabaran-seorang-dai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Raja yang menguasai langit dan bumi, Penguasa yang berhak mengatur dan mengendalikan jagat raya sebagaimana yang Dia ingini. Salawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi penebar rahmah, Sang penutup nabi dan rasul, yang meninggalkan umatnya di atas ajaran yang terang-benderang. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2014"></span></p>
<p>Saudaraku, semoga Allah membimbing langkah kita untuk berjalan di atas jalan-Nya, … berlalunya waktu dan pergantian generasi dari sejak masa kenabian berlalu senantiasa diwarnai dengan gelombang yang menerpa bahtera dakwah agama yang hanif ini. Gelombang yang menghempaskan hati dan tubuh para penyeru kebenaran di tepi-tepi kesabaran dan terkadang menggiring sebagian mereka mendekati garis keputus-asaan&#8230;</p>
<p><em>Subhanallah! </em>Betapa beruntung, orang-orang yang tetap teguh di atas kesabaran, mengharapkan ridha Allah atas dakwahnya, dan memiliki harapan yang panjang bagi masyarakat yang didakwahinya. Memang, kesabaran ini menjadi salah satu kunci keberuntungan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“.. Sesungguhnya tidaklah ada seorang da&#8217;i pun yang mengajak manusia kepada apa yang didakwahkan oleh para rasul kecuali dia pasti akan menghadapi orang-orang yang berupaya menghalang-halangi dakwahnya, sebagaimana halnya rintangan yang dihadapai oleh para rasul dan nabi-nabi dari kaum mereka. Oleh sebab itu semestinya dia bersabar. Artinya dia harus berpegang teguh dengan kesabaran yang hal itu termasuk salah satu karakter terbaik yang dimiliki oleh ahli iman dan merupakan sebaik-baik bekal bagi seorang da&#8217;i yang mengajak kepada Allah tabaraka wa ta&#8217;ala, sama saja apakah dakwahnya itu ditujukan kepada orang-orang yang dekat dengannya atau selain mereka, dia haruslah menjadi orang yang penyabar.”</em> (<em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 13)</p>
<p>Bahkan, Allah pun mengingatkan kekasih-Nya, yaitu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk bersabar, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para nabi dan rasul sebelum beliau. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah didustakan para rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan yang ditujukan kepada mereka, dan mereka pun tetap mendapatkan gangguan, sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 34</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Bersabarlah, sebagaimana ulul azmi dari kalangan rasul pun bersabar&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahqaf: 35</strong>)</p>
<p>Inilah akhlak seorang da&#8217;i kepada Rabbnya dan dalam berinteraksi dengan orang yang didakwahinya. Meniru keteladanan yang ada pada baginda nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan salafus shalih yang mendahului kita. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada bagi kalian, pada diri Rasulullah suatu teladan yang bagus, bagi orang-orang yang mengharap kepada Allah dan hari akhir.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 21</strong>)</p>
<p>Dari Urwah, suatu ketika &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> -istri Nabi- menceritakan kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Pernahkah anda menemui suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku telah mendapatkan tanggapan dari kaummu sebagaimana apa yang aku temui. Tanggapan paling berat yang pernah aku dapatkan adalah pada hari &#8216;Aqabah, ketika itu aku tawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, akan tetapi dia tidak menerima tawaranku sebagaimana yang aku kehendaki. Aku pun kembali dengan perasaan sedih mewarnai wajahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku sudah berada di Qarn Tsa&#8217;alib. Aku angkat kepalaku ke atas, ternyata ada awan yang sedang menaungi diriku. Aku pun memperhatikan, ternyata di sana ada Jibril, lalu dia pun memanggilku. Dia berkata, &#8216;Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan yang mereka lakukan terhadapmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, agar kamu perintahkan kepadanya apa yang ingin kau timpakan kepada mereka.&#8217; Maka malaikat penjaga gunung itu pun menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu dia berkata, &#8216;Wahai Muhammad&#8217;. Dia berkata, &#8216;Apabila kamu menginginkan hal itu, niscaya akan aku timpakan kepada mereka dua bukit besar itu.&#8217;.”</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> justru menjawab, <em>“Tidak, sesungguhnya aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari [3231]</strong>)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terkandung keterangan mengenai besarnya rasa kasih sayang Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada umatnya dan betapa kuat kesabaran dan kelembutan sikapnya. Hal itu selaras dengan firman Allah ta&#8217;ala (yang artinya), &#8216;Dengan rahmat Allah maka kamupun bersikap lembut kepada mereka&#8217;. Dan juga firman-Nya (yang artinya), &#8216;Tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.&#8217;.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [6/353])</p>
<p>Saudaraku, barisan pembela dakwah al-Haq akan senantiasa dihadang oleh barisan serdadu Iblis&#8230; akankah kau mundur ke belakang dan terlempar ke jurang kehancuran, atau kau memilih maju ke depan untuk meraih kemenangan dan berjumpa dengan Allah dengan membawa amalan? Apabila hari ini engkau merintih dan mengeluh karena banyaknya rintangan dan hambatan yang engkau temui di atas jalan yang mulia ini -seolah-olah engkau telah kehilangan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa atas segalanya-, maka pilihlah jalan manapun yang kamu sukai -kalau engkau memang ingin memisahkan diri dari jalan dakwah ini- dan Allah pun tidak segan-segan untuk menimpakan hukuman-Nya kepada orang-orang yang durhaka!!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Apabila bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, sanak kerabat kalian, harta-harta yang kalian kumpulkan dan perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian senangi, itu lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai datangnya keputusan Allah, dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 24</strong>) (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 332)</p>
<p>Saudaraku, … inilah jalanku dan jalanmu, jalan yang dibentangkan oleh Allah dan dipimpin oleh nabimu, jalan yang akan mengantarkan kepada kemuliaan dan ampunan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, dan Maha suci Allah, aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>).</p>
<p>Semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> memberikan taufik kepada kita, untuk istiqomah di atas jalan dakwah ini hingga ajal tiba. Sungguh, satu orang yang mendapatkan hidayah -dari Allah- dengan perantara dakwah kita itu jauh lebih berharga bagi masa depan kita daripada gerombolan onta merah ataupun simpanan harta-benda yang dibangga-banggakan oleh manusia. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammad, wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kesabaran-seorang-dai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbahagialah al-Ghuroba&#8217;</title>
		<link>http://abumushlih.com/berbahagialah-al-ghuroba.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/berbahagialah-al-ghuroba.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 09:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1674</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim &#8230; <a href="http://abumushlih.com/berbahagialah-al-ghuroba.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberbahagialah-al-ghuroba.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberbahagialah-al-ghuroba.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari jalan Abu Hurairah  <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata; Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali  menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang  yang asing itu.” (<strong>HR. Muslim</strong> [145] dalam Kitab al-Iman.Syarh Muslim,  1/234).</p>
<p><span id="more-1674"></span>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menukil keterangan  al-Harawi bahwa makna orang-orang yang asing adalah : orang-orang yang  berhijrah meninggalkan negeri/daerah mereka karena kecintaan mereka  kepada Allah ta’ala (Syarh Muslim, 1/235). Keterangan al-Harawi di atas  dilandaskan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah  dalam Shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya Islam datang dalam  keadaan asing dan ia akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah  orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah yang dimaksud  dengan orang-orang asing?”. Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang  memisahkan diri dari kabilah-kabilah [mereka].” (<strong>HR. Ibnu Majah</strong> [3978]  dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibni Majah  [8/488] namun tanpa tambahan ‘ada yang bertanya, dan seterusnya’,  as-Syamilah).</p>
<p>Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amr bin  al-’Ash <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia mengatakan; Suatu hari Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berbicara dan ketika itu kami berada di  sisi beliau, “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Kemudian ada yang  menanyakan, “Siapakah yang dimaksud orang-orang yang asing itu wahai  Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Orang-orang salih yang hidup di  tengah-tengah orang-orang yang jelek lagi banyak [jumlahnya]. Orang yang  mendurhakai mereka lebih banyak daripada orang yang menaati mereka.”  (<strong>HR. Ahmad</strong> 6362 [13/400], disahihkan al-Albani dalam Shahih w a Dha’if  al-Jami’ 7368 [3/443] as-Syamilah)</p>
<p>Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> menyebutkan di dalam Silsilah  al-Ahadits as-Shahihah penafsiran makna orang-orang yang asing tersebut  dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dalam  as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan dari Abdullah bin Mas’ud  <em>radhiyallahu’anhu</em> secara marfu’ -sampai kepada Nabi-, beliau <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya Islam itu datang dalam  keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti ketika datangnya.  Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah  mereka itu wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu orang-orang  yang tetap baik [agamanya] tatkala orang-orang lain menjadi rusak.”  (as-Shahihah no 1273 [3/267]. as-Syamilah, lihat juga Limadza ikhtartul  manhaj salafi, hal. 54).</p>
<p>al-Qari menafsirkan bahwa makna orang-orang yang asing adalah  orang-orang yang memperbaiki [memulihkan] ajaran Nabi yang telah dirusak  oleh manusia sesudahnya. Beliau berdalil dengan hadits yang  diriwayatkan melalui Amr bin Auf al-Muzani <em>radhiyallahu’anhu</em>, demikian  dinukilkan oleh al-Mubarakfuri (Tuhfat al-Ahwadzi [6/427] as-Syamilah).  Imam Tirmidzi menyebutkan dalam Sunannya hadits tersebut yang  disandarkan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,  “Mereka itu adalah orang-orang yang memperbaiki ajaranku yang telah  dirusak oleh manusia-manusia sesudah kepergianku.” (<strong>HR. Tirmidzi</strong> [2554]  dari Amr bin Auf al-Muzani <em>radhiyallahu’anhu</em>, namun hadits ini  dinyatakan berstatus dha’if jiddan -lemah sekali- oleh Syaikh al-Albani  dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [2630] as-Syamilah, lihat pula  Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 53 oleh Syaikh Salim al-Hilali).</p>
<p>al-Mubarakfuri menjelaskan makna ‘ memperbaiki ajaranku yang telah  dirusak oleh manusia-manusia’ yaitu : “Mereka mengamalkan ajaran/sunnah  tersebut dan mereka menampakkannya sekuat kemampuan mereka.” (Tuhfat  al-Ahwadzi [6/428] as-Syamilah). al-Mubarakfuri juga menjelaskan bahwa  hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di atas bersatus lemah  dikarenakan terdapat seorang periwayat yang bernama Katsir bin Abdullah  bin Amr bin Auf al-Muzani. al-Mubarakfuri berkata, “Katsir ini adalah  periwayat yang lemah menurut banyak ulama ahli hadits, bahkan menurut  mayoritas mereka. Sampai-sampai Ibnu Abdi al-Barr mengatakan, ‘Orang ini  telah disepakati akan kedha’ifannya’.” Maka keterangan beliau ini  menyanggah at-Tirmidzi yang menghasankan hadits di atas (lihat Tuhfat  al-Ahwadzi [6/428] as-Syamilah).</p>
<p>Syaikh Salim al-Hilali <em>hafizhahullah</em> berkata, “…tidak ada riwayat  yang sah mengenai penafsiran [Nabi] tentang makna al-Ghuraba’  (orang-orang asing) selain  dua tafsiran yang marfu’ yaitu : <span style="text-decoration: underline;">[1]  Orang-orang yang [tetap] baik tatkala masyarakat telah diliputi  kerusakan. [2] Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah banyak  orang yang buruk [agamanya], akibatnya orang yang menentang mereka lebih  banyak daripada yang mengikuti mereka</span>.” (Limadza ikhtartul manhaj  salafi, hal. 55).</p>
<p>Imam at-Tirmidzi membawakan hadits dari Anas bin Malik  <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,  “Akan datang suatu masa ketika itu orang yang tetap bersabar di antara  mereka di atas ajaran agamanya bagaikan orang yang sedang menggenggam  bara api.” (HR. Tirmidzi [2260] disahihkan al-Albani dalam Shahih wa  Dha’is Sunan at-Tirmidzi [5/260], as-Shahihah no 957. as-Syamilah).</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita termasuk al-Ghuroba&#8217;.. <em>Allahumma amin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/berbahagialah-al-ghuroba.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Yang Bisa Menjamin Dirinya?</title>
		<link>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 13:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p><span id="more-1570"></span></p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad as-Sa&#8217;idi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya hati anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara dua jari di antara jari-jemari ar-Rahman, laksana hati yang satu, -sehingga dengan mudahnya- Allah palingkan hati itu sebagaimana yang dikehendaki-Nya.”</em> Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berdoa, <em>“Wahai Yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk berada di atas ketaatan kepada-Mu.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/250])</p>
<p>Tiga hadits yang agung ini mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>Hendaknya merasa takut terhadap su&#8217;ul khotimah dan mengharapkan      husnul khotimah</li>
<li>Iman terhadap surga dan neraka</li>
<li>Amalan yang telah sekian lama dilakukan tidak bisa menjamin      seseorang bahwa dirinya pasti selamat, karena di akhir hidupnya belum      tentu dia masih istiqomah</li>
<li>Tidak boleh tertipu oleh banyaknya amalan yang pernah dilakukan</li>
<li>Tidak boleh merasa aman dari makar Allah</li>
<li>Tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah</li>
<li>Hendaknya menyeimbangkan antara khauf (takut) dan roja&#8217;      (harapan)</li>
<li>Hendaknya menempuh sebab-sebab yang bisa menjadikan istiqomah</li>
<li>Hendaknya menjaga keikhlasan dalam beramal</li>
<li>Pentingnya memperhatikan dan menata amalan-amalan hati</li>
<li>Peringatan dari bahaya riya&#8217; dan kemunafikan</li>
<li>Ikhlas merupakan sebab utama keselamatan</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk surga sehebat      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk neraka seburuk      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Nasib seseorang di akherat kelak ditentukan bagaimana keadaan      akhir hidupnya di alam dunia ini, apakah dia meninggal di atas keimanan      ataukah tidak?</li>
<li>Penetapan bahwa Allah memiliki jari yang sesuai dengan      keagungan dan kemuliaan-Nya, tidak seperti apa yang ada pada makhluk</li>
<li>Penetapan bahwa hati manusia itu berada di bawah kekuasaan      Allah</li>
<li>Penetapan sifat kasih sayang pada diri Allah, Allah tidak      berbuat semena-mena terhadap makhluk-Nya</li>
<li>Hendaknya selalu memohon taufik kepada Allah agar hatinya      berada di atas kebenaran</li>
<li>Ketaatan kepada Allah merupakan sumber keselamatan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Yang Paling Disukai</title>
		<link>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ Qutaibah menuturkan kepada kami &#8230; <a href="http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ  هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ  أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ</strong></p>
<p>Qutaibah menuturkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya  dari Aisyah -<em>radhiyallahu’anha</em>-, dia berkata, <em>“Amal yang paling disukai  oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan  secara terus menerus oleh pelakunya.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p><span id="more-1555"></span>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ  حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ  عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى  اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ  الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ</strong></p>
<p>Muhammad bin Ar’arah menuturkan kepadaku. Dia berkata; Syu’bah  menuturkan kepada kami dari Sa’d bin Ibrahim dari Abu Salamah dari  Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>, dia berkata, <em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam pernah ditanya, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’</em>. Maka  beliau menjawab,<em>”Yaitu yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.”</em> Beliau juga bersabda, <em>“Bebanilah diri kalian dengan amal-amal yang mampu  untuk kalian kerjakan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p>Kedua hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa :</p>
<ol>
<li> Penetapan sifat mahabbah bagi Allah</li>
<li>Amalan satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan keutamaan di sisi  Allah</li>
<li>Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang dikerjakan secara  kontinyu</li>
<li>Apa yang dicintai oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> -dalam pandangan syari’at- maka hal itu menunjukkan bahwa Allah <em>ta’ala</em> juga mencintai perkara tersebut</li>
<li>Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mengerjakan  amalan</li>
<li>Dalam memilih amalan -sunnah- maka hendaknya seorang memperhatikan  kemampuannya agar bisa kontinyu dalam mengerjakannya, lebih baik sedikit  tapi kontinyu daripada banyak namun terhenti.</li>
<li>Hadits ini menganjurkan agar seorang hamba istiqomah dalam beramal  dan mengikhlaskan amalnya karena Allah dan sesuai dengan tuntunan  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></li>
<li>Amal salih merupakan sebab datangnya kecintaan Allah</li>
<li>Seorang mukmin hendaknya mencitai apa yang dicintai oleh Allah dan  Rasul-Nya, sebagaimana dia juga harus membenci segala perkara yang  dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan sabar di dalam ketaatan</li>
<li>Hadits ini menunjukkan pentingnya menjaga motivasi dan semangat  dalam beramal supaya bias kontinyu</li>
<li>Hadits ini menunjukkan perlunya <em>targhib</em>/dorongan dan <em>tarhib</em>/ancaman  dalam menjaga stabilitas keimanan</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa amal termasuk bagian dari iman</li>
<li>Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya melainkan sesuai  dengan batas kemampuannya</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, <em>wallahu a’lam. Wa  shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sallam. Walhamdu  lillahi Rabbil ‘alamin.</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istiqomahlah!</title>
		<link>http://abumushlih.com/istiqomahlah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/istiqomahlah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 02:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1448</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita agar kita beriman dan istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir dan kekasih ar-Rahman, sang pembawa petunjuk dan agama yang benar &#8230; <a href="http://abumushlih.com/istiqomahlah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fistiqomahlah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fistiqomahlah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita agar kita beriman dan istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir dan kekasih ar-Rahman, sang pembawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama yang ada. Amma ba’du.</p>
<p><span id="more-1013"> </span></p>
<p>Saudara-saudaraku sekalian, … kita hidup di zaman yang penuh dengan cobaan dari Allah al-’Aziz al-Hakim. Cobaan dan ujian yang menyelimuti umat manusia ibarat derasnya hujan yang menyirami bumi, bahkan terkadang bergelombang menyerang silih berganti bak ombak lautan yang menerjang tepi-tepi pantai. Maha suci Allah dari melakukan perbuatan yang sia-sia. Sesungguhnya, dengan ujian dan musibah yang mendera manusia akan menampakkan kepada kita siapakah orang yang tegar di atas jalan-Nya, dan siapakah orang-orang yang berjatuhan dan melenceng dari jalan-Nya yang lurus.</p>
<p><span id="more-1448"></span></p>
<p>Istiqomah merupakan sebuah perkara yang sangat mulia, yang tak akan ditemukan jawabannya kecuali dari jawaban seorang utusan Rabb semesta alam. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya;</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ جَرِيرٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ</strong></p>
<p>Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata; Ibnu Numair menuturkan kepada kami [tanda perpindahan sanad] demikian pula Qutaibah bin Sa’id dan Ishaq bin Ibrahim mereka semuanya menuturkan kepada kami dari Jarir [tanda perpindahan sanad] begitu pula Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Usamah menuturkan kepada kami. Mereka semuanya meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, dia berkata; Aku berkata, <em>“Wahai Rasulullah, katakanlah kepada saya suatu ucapan di dalam Islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun sesudah anda.”</em> Sedangkan dalam penuturan Abu Usamah dengan ungkapan, “orang selain anda”, maka beliau menjawab, <em>“Katakanlah; Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.”</em> (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, lihat Syarh Nawawi [2/91-92])</p>
<p>Sebuah perkara yang sangat agung dan tidak bisa diremehkan, sampai-sampai Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan tatkala menjelaskan firman Allah ta’ala,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ</strong></p>
<p><em>“Istiqomahlah engkau sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.”</em> (QS. Huud : 112)</p>
<p>Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam keseluruhan al-Qur’an suatu ayat yang lebih berat dan lebih sulit bagi beliau daripada ayat ini.” (lihat Syarh Nawawi [2/92]).</p>
<p>Sampai-sampai sebagian ulama -sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qasim al-Qusyairi- mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>الِاسْتِقَامَة لَا يُطِيقهَا إِلَّا الْأَكَابِر</strong></p>
<p>“Tidak ada yang bisa benar-benar istiqomah melainkan orang-orang besar.” (Disebutkan oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim [2/92])</p>
<p>Oleh sebab itu ikhwah sekalian, semoga Allah meneguhkan kita di atas jalan-Nya, marilah barang sejenak kita mengingat besarnya nikmat yang Allah karuniakan kepada Ahlus Sunnah yang tetap tegak di atas kebenaran di antara berbagai golongan yang menyimpang dari jalan-Nya. Inilah nikmat teragung dan anugerah terindah yang menjadi cita-cita setiap mukmin. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah akan turun kepada mereka para malaikat seraya mengatakan; Janganlah kalian takut dan jangan sedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.”</em> (QS. Fusshilat : 30).</p>
<p>al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas -QS. Fusshilat : 30- adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya lalu istiqomah dan tidak berpaling dari tauhid. Mereka konsisten dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan itu (lihat Syarh Nawawi [2/92]).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengakui dan mengikrarkan -keimanan mereka-, mereka ridha akan rububiyah Allah ta’ala serta pasrah kepada perintah-Nya. Kemudian mereka istiqomah di atas jalan yang lurus dengan ilmu dan amal mereka, mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1037-1038]).</p>
<p>Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu’anhu mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas (yang artinya), “Kemudan mereka tetap istiqomah”, maka beliau mengatakan, “Artinya mereka tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Diriwayatkan pula dari beliau, “Yaitu mereka tidak berpaling kepada sesembahan selain-Nya.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam Jami’ al-’Ulum, hal. 260).</p>
<p>Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma tentang makna firman Allah ta’ala “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah”, beliau mengatakan, “Yaitu mereka istiqomah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah bebankan.” Sedangkan Abu al-’Aliyah mengatakan, “Kemudian -setelah mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah- maka mereka pun mengikhlaskan kepada-Nya agama dan amal.” Qatadah mengatakan, “Mereka istiqomah di atas ketaatan kepada Allah.” Diriwayatkan pula dari Hasan al-Bashri, apabila beliau membaca ayat ini maka beliau berdoa, <em>Allahumma anta Rabbuna farzuqnal istiqomah</em>; ‘Ya Allah, engkaulah Rabb kami, karuniakanlah rezeki keistiqomahan kepada kami’.” (Jami’ al-’Ulum, hal. 260).</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/istiqomahlah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kau Buat Allah Cemburu!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 02:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1162</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Sang pembawa lentera ilmu dan bimbingan. Demikian pula semoga dicurahkan kepada para sahabatnya yang berjihad dengan segenap harta dan diri mereka di &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-buat-allah-cemburu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-buat-allah-cemburu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Sang pembawa lentera ilmu dan bimbingan. Demikian pula semoga dicurahkan kepada para sahabatnya yang berjihad dengan segenap harta dan diri mereka di jalan-Nya, begitu pula para pengikut mereka di sepanjang masa. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-1162"></span></p>
<p>Asma&#8217; binti Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> meriwayatkan, suatu saat dia mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah &#8216;azza wa jalla.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang mukmin itu merasa cemburu, sedangkan Allah lebih besar rasa cemburunya -daripada dirinya-.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/29] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Kapan Allah cemburu?</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak ada satupun sosok yang lebih menyukai pujian kepada dirinya dibandingkan Allah. Oleh sebab itulah Allah pun memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih punya rasa cemburu dibandingkan Allah, dikarenakan itulah maka Allah pun mengharamkan perkara-perkara yang keji.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/27] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Kapan Allah gembira?</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh, Allah sangat-sangat bergembira terhadap taubat salah seorang di antara kalian jauh melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian di saat ia berhasil menemukan kembali ontanya yang telah menghilang.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/13] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh, Allah jauh-jauh lebih bergembira terhadap taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang dari kalian yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di suatu padang yang luas namun tiba-tiba hewan itu lepas darinya. Padahal di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Dia pun berputus asa untuk bisa mendapatkannya kembali. Lalu dia mendatangi sebuah pohon kemudian berbaring di bawah naungannya dengan perasaan putus asa dari memperoleh tunggangannya tadi. Ketika dia sedang larut dalam perasaan semacam itu, tiba-tiba hewan tadi telah ada berdiri di sisinya. Lalu dia pun meraih tali pengikat hewan tadi, dan karena saking bergembiranya dia pun berkata, &#8216;Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu.&#8217; Dia salah berucap gara-gara saking gembiranya. “</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/16] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Allah amat menyayangi kalian!</strong><br />
Umar bin al-Khaththab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan bahwa suatu ketika didatangkan di hadapan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serombongan tawanan perang. Ternyata ada seorang perempuan yang ikut dalam rombongan itu. Dia sedang mencari-cari sesuatu -yaitu anaknya, pent-. Setiap kali dia menjumpai bayi di antara rombongan tawanan itu maka dia pun langsung mengambil dan memeluknya ke perutnya dan menyusuinya. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun berkata kepada kami, <em>“Apakah menurut kalian perempuan ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”</em>. Maka kamipun menjawab, <em>“Tentu saja dia tidak akan mau melakukannya, demi Allah. Walaupun dia sanggup, pasti dia tidak mau melemparkan anaknya -ke dalamnya-.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun mengatakan, <em>“Sungguh, Allah jauh lebih menyayangi hamba-hamba-Nya dibandingkan -kasih sayang- perempuan ini kepada anaknya.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/21] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Bertaubatlah, sekarang juga!</strong><br />
Abu Musa al-Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menuturkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari segera bertaubat. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di waktu malam hari segera bertaubat. Sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” </em>(HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/26] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, <em>“Semua umatku akan dimaafkan kecuali orang yang melakukan dosa secara terang-terangan. Termasuk perbuatan dosa yang terang-terangan yaitu apabila seorang hamba pada malam hari melakukan perbuatan (dosa) lalu menemui waktu pagi dalam keadaan dosanya telah ditutupi oleh Rabbnya, namun setelah itu dia justru mengatakan, &#8216;Wahai fulan, tadi malam saya melakukan ini dan itu&#8217;. Padahal sepanjang malam itu Rabbnya telah menutupi aibnya sehingga dia pun bisa melalui malamnya dengan dosa yang telah ditutupi oleh Rabbnya itu. Akan tetapi pagi harinya dia justru menyingkap tabir yang Allah berikan untuk menutupi aibnya itu.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/225] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Jangan sepelekan maksiat</strong><br />
Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Sesungguhnya kalian akan melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan mata kalian hal itu lebih ringan daripada helaian rambut. Sementara kami dulu di masa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menganggapnya termasuk perkara-perkara yang membinasakan.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [11/372] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seorang hamba bisa saja hanya mengucapkan suatu kalimat namun hal itu menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/234] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Tanda kiamat sudah dekat</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari kiamat.”</em> Ada yang berkata, <em>“Bagaimanakah -contoh bentuk- penyia-nyiaannya wahai Rasulullah?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [11/377] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Jangan hanya bicara, amalkan ilmu</strong><br />
Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kelak pada hari kiamat didatangkan seorang lelaki lalu dilemparkan ke dalam neraka. Maka usus perutnya pun terburai lalu dia pun berputar-putar dengannya sebagaimana halnya seekor keledai yang mengelilingi alat penggiling. Maka para penduduk neraka pun berkeumpul mengerumuninya. Mereka mengatakan, &#8216;Wahai fulan, apa yang terjadi padamu. Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang yang mungkar?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Benar. Aku dulu memang memerintahkan yang ma&#8217;ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan aku juga melarang dari yang mungkar namun aku sendiri justru melakukannya.&#8217;.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/235] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p><strong>Sabar, Dunia hanya sebentar</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/214] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga diliputi oleh perkara-perkara yang terasa tidak menyenangkan, sedangkan neraka diliputi oleh perkara-perkara yang terasa menyenangkan hawa nafsu.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/101] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ya Allah, tiada kehidupan yang sejati melainkan kehidupan akherat&#8230;”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/260] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H).</p>
<p>Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatannya maka Allah pun akan mengaruniakan iffah/terjaganya kehormatan kepadanya. Barangsiapa yang melatih diri untuk bersabar maka Allah akan jadikan dia penyabar. Barangsiapa yang melatih diri untuk senantiasa merasa cukup maka niscaya Allah akan beri kecukupan untuk dirinya. Tidaklah kalian diberikan suatu karunia yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/343] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Jangan tertipu oleh dunia!</strong><br />
Amr bin Auf <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bukanlah kemiskinan yang kukhawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi sesungguhnya yang kukhawatirkan menimpa kalian adalah ketika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian sehingga kalian pun berlomba-lomba untuk meraupnya sebagaimana dahulu mereka berlomba-lomba mendapatkannya. Dan dunia mencelakakan kalian sebagaimana dulu dunia telah mencelakakan mereka.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/216] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003 dan Fath al-Bari [11/274] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> menceritakan,<em> “Keluarga Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sejak awal tiba di Madinah tidak pernah sampai merasakan kenyang karena menyantap hidangan gandum halus selama tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/327] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> menceritakan, <em>“Keluarga Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah memakan dua jenis makanan dalam sehari kecuali salah satunya pasti kurma kering.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/329] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Ikhlaslah!</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berfirman, &#8216;Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama dengan diri-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/232] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya jiwanya (merasa cukup), dan tersembunyi (tidak suka menonjol-nonjolkan diri, pent).”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/220] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bukanlah kekayaan yang sejati itu kekayaan yang berupa melimpahnya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan di dalam hati -merasa cukup dengan pemberian Allah, pent-.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/306] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Kenikmatan tiada tara menanti di sana&#8230;</strong><br />
Abu Hurairah<em> radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah &#8216;azza wa jalla berfirman, &#8216;Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang soleh kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah terdengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.&#8217;.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/102] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang masuk surga maka dia akan selalu senang dan tidak akan merasa susah. Pakaiannya tidak akan usang dan kepemudaannya tidak akan habis.” </em>(HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/110] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p>Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila para penduduk surga telah memasuki surga dan para penduduk neraka pun telah memasuki neraka maka didatangkanlah kematian hingga diletakkan di antara surga dan neraka, kemudian kematian itu disembelih. Lalu ada yang menyeru, &#8216;Wahai penduduk surga, kematian sudah tiada. Wahai penduduk neraka, kematian sudah tiada&#8217;. Maka penduduk surga pun semakin bertambah gembira sedangkan penduduk neraka semakin bertambah sedih karenanya.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/120-121] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p><strong>Saudariku, jangan kau seperti mereka!</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua kelompok manusia calon penghuni neraka yang belum pernah kulihat keduanya. Suatu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukuli manusia. Dan kaum perempuan yang berpakaian tapi telanjang, yang menyimpang dan mengajak orang lain untuk ikut menyimpang. Kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, dan tidak akan mencium baunya. Padahal baunya akan bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/124] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p><strong>Kiamat terlalu dahsyat untuk dibayangkan!</strong><br />
Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pada hari kiamat umat manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.” </em>Maka Aisyah mengatakan, <em>“Wahai Rasulullah, perempuan dan laki-laki dikumpulkan menjadi satu? Tentu saja mereka akan saling melihat satu dengan yang lain.”</em> Maka beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Wahai &#8216;Aisyah, sesungguhnya urusan di waktu itu lebih dahsyat sehingga tidak sempat bagi mereka untuk saling memperhatikan satu dengan yang lain.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/126] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p><strong>Istiqomahlah!</strong><br />
&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> menceritakan, <em>“Amal yang paling disenangi oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan secara terus menerus oleh pelakunya.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/332] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha </em>meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Berbuatlah sebaik dan selurus mungkin dan lakukan apa yang paling mendekati ideal. Ketahuilah sesungguhnya bukan amal kalian semata yang bisa memasukkan kalian ke surga. Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu walaupun hanya sedikit.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/335] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>Demikianlah yang bisa kami sajikan ke hadapan para pembaca yang mulia, dengan harapan Allah berkenan untuk mengaruniakan petunjuk dan bimbingan-Nya ke dalam hati kita sehingga akan semakin meningkatkan rasa cinta kita kepada-Nya, harap dan takut serta tawakal hanya kepada Rabb alam semesta. Teriring doa semoga Allah mengampuni semua dosa kita di masa lalu, dan semoga Allah -Yang Maha Pemberi petunjuk- menuntun kita agar tetap berjalan di atas shirathal mustaqim sampai ajal tiba. Akhirnya, segala puji bagi Allah yang dengan karunia-Nya segala kebaikan bisa menjadi terlaksana. <em>Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam.</em></p>
<p>Yogyakarta, Akhir bulan Syawwal 1430 H,<br />
Hamba yang sangat membutuhkan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
<em>-Semoga Allah memperbaiki dirinya-</em></p>
<p>http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Download Kajian Istiqomah</title>
		<link>http://abumushlih.com/download-kajian-istiqomah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/download-kajian-istiqomah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 15:58:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Download Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Arba'in]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1107</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, as-Sholatu was salamu &#8216;ala Rosulillah. Amma ba&#8217;du. Sesungguhnya keistiqomahan merupakan perkara yang sangat agung yang didambakan oleh setiap muslim. Bagaimana tidak, sementara setiap hari dia meminta kepada Allah dalam setiap raka&#8217;at sholat keistiqomahan di atas jalan yang lurus. Oleh &#8230; <a href="http://abumushlih.com/download-kajian-istiqomah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdownload-kajian-istiqomah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdownload-kajian-istiqomah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Alhamdulillah, as-Sholatu was salamu &#8216;ala Rosulillah. Amma ba&#8217;du.</p>
<p>Sesungguhnya keistiqomahan merupakan perkara yang sangat agung yang didambakan oleh setiap muslim. Bagaimana tidak, sementara setiap hari dia meminta kepada Allah dalam setiap raka&#8217;at sholat keistiqomahan di atas jalan yang lurus. Oleh sebab itu sebagian ulama salaf mengatakan bahwa, &#8216;al-Istiqomatu laa yuthiiquha illal akaabir&#8217; artinya: &#8216;tidak ada yang sanggup untuk istiqomah kecuali orang-orang yang berjiwa besar&#8217;.</p>
<p><span id="more-1107"></span></p>
<p>Maka seorang muslim harus berusaha untuk mengenali hakekat jalan yang lurus dan memohon kepada Allah agar senantiasa membimbingnya untuk tidak menyimpang darinya hingga kematian tiba. Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk istiqomah dengan firman-Nya &#8216;wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun&#8217; artinya: &#8216;Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim&#8217;.</p>
<p>Berikut ini link downlad kajian yang membahas tentang istiqomah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc. semoga bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p>Download kajian dari situs <a href="http://www.archive.org/download/SyarahHadiitsArbain2/HaditsKe-21UstAbdullahTaslim-istiqomah.mp3" target="_blank">audio.assunnah.web.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/download-kajian-istiqomah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/SyarahHadiitsArbain2/HaditsKe-21UstAbdullahTaslim-istiqomah.mp3" length="5871253" type="audio/mpeg" />
		</item>
	</channel>
</rss>

