<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Jarh wa Ta&#8217;dil</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/jarh-wa-tadil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 02:25:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh wa Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1718</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya. Lawan dari nasehat adalah melakukan penipuan. Sementara menipu merupakan dosa besar yang merusak keimanan seorang hamba. Maka sudah semestinya setiap muslim bersemangat untuk menunaikan nasehat kepada sesama saudaranya demi terjaganya iman di dalam dirinya dan demi kebaikan saudaranya.</p>
<p><span id="more-1718"></span></p>
<p><strong>عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ</strong><strong> </strong><strong>بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari  Jarir bin Abdillah <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata: <em>“Aku berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan nasehat (menghendaki kebaikan) bagi setiap muslim.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” </em>Lalu ada yang bertanya, <em>“Apa itu ya Rasulullah.”</em> Maka beliau menjawab,<em> “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia -dengan bacaan yarhamukallah-, apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْك النَّصِيحَة ، فَعَلَيْك أَنْ تَنْصَحهُ ، وَلَا تُدَاهِنهُ ، وَلَا تَغُشّهُ ، وَلَا تُمْسِك عَنْ بَيَان النَّصِيحَة</strong></p>
<p><em>“Maknanya: -apabila- dia meminta nasehat darimu, maka wajib bagimu untuk menasehatinya, jangan hanya mencari muka di hadapannya, jangan pula menipunya, dan janganlah kamu menahan diri untuk menerangkan nasehat –kepadanya-.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [7/295] asy-Syamilah)</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ</strong><strong> </strong><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى الْمُؤْمِنِ سِتُّ خِصَالٍ يَعُودُهُ إِذَا مَرِضَ وَيَشْهَدُهُ إِذَا مَاتَ وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ وَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيَهُ وَيُشَمِّتُهُ إِذَا عَطَسَ وَيَنْصَحُ لَهُ إِذَا غَابَ أَوْ شَهِدَ</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada enam kewajiban seorang muslim kepada mukmin yang lain. Apabila saudaranya sakit hendaknya dia jenguk. Apabila dia akan meninggal hendaknya dia ikut menyaksikannya. Apabila bertemu maka hendaknya dia ucapkan salam kepadanya. Apabila dia bersin hendaknya mendoakannya. Dan apabila dia pergi/tidak ada atau sedang hadir -ada di hadapannya- maka hendaknya dia bersikap nasehat kepadanya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, beliau berkata hadits hasan sahih)</p>
<p>al-Mubarakfuri <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ يُرِيدُ خَيْرَهُ فِي حُضُورِهِ وَغَيْبَتِهِ ، فَلَا يَتَمَلَّقُ فِي حُضُورِهِ وَيَغْتَابُ فِي غَيْبَتِهِ فَإِنَّ هَذَا صِفَةُ الْمُنَافِقِينَ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Kesimpulannya adalah hendaknya seorang muslim senantiasa menginginkan kebaikan bagi saudaranya, baik ketika dia ada ataupun tidak ada, dan janganlah dia hanya senang mencari muka ketika berada di hadapannya dan menggunjingnya apabila saudaranya itu tidak ada di hadapannya, karena sesungguhnyahal  ini termasuk ciri orang-orang munafik.”</em> (<em>Tuhfat al-Ahwadzi</em> [7/44] asy-Syamilah) <strong></strong></p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> suatu ketika melalui setumpuk makanan -yang dijual- kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalamnya lalu jari beliau menemukan basah-basah di dalamnya. Maka beliau berkata, <em>“Wahai pemilik/penjual makanan, kenapa ini?”</em>. Dia menjawab, <em>“Terkena air hujan ya Rasulullah.”</em> Maka Nabi berkata, <em>“Mengapa kamu tidak meletakkannya di atas tumpukan makanan itu supaya orang-orang bisa melihatnya. Barangsiapa yang menipu maka dia bukan termasuk golongan kami.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>ash-Shan’ani <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>وَالْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْغِشِّ وَهُوَ مُجْمَعٌ عَلَى تَحْرِيمِهِ شَرْعًا مَذْمُومٌ فَاعِلُهُ عَقْلًا</strong></p>
<p><em>“Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya penipuan, dan hal itu adalah perkara yang telah disepakati keharamannya berdasarkan syari’at dan dicela pelakunya menurut logika.”</em> (<em>as-Subul as-Salam</em> [4/134] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>ومن حقوق المسلم على المسلم أن تنصحه إذا استنصحك ، فتشير عليه بما تحبه لنفسك ، فإن من غش فليس منا ، فإذا شاورك في معاملة شخص أو في تزويجه أو غيره ، فإن كنت تعلم منه خيرا فأرشده إليه ، وإن كنت تعلم منه شرا ، فحذره ، وإن كنت لا تدري عنه ، فقل له : لا أدري عنه ، وإن طلب أن تبين له شيئا من الأمور التي تقتضي البعد عنه ، فبينه له</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Di antara kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain adalah kamu harus menasehatinya jika dia meminta nasehat kepadamu, sehingga kamu akan menunjukkan kepadanya apa yang kamu senangi untuk dirimu sendiri, karena orang yang menipu bukan termasuk golongan kita. Apabila dia bermusyawarah kepadamu -meminta saran- ketika berhubungan dengan seseorang atau dalam urusan pernikahannya atau urusan yang lain, maka apabila kamu mengetahui kebaikan darinya maka arahkanlah ia kepadanya. Apabila kamu mengetahui keburukan darinya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila kamu tidak mengetahui tentangnya maka katakanlah kepadanya; aku tidak tahu tentangnya. Apabila dia meminta kamu untuk menerangkan sesuatu perkara yang semestinya dia menjauh darinya maka terangkanlah hal itu kepadanya.”</em> (<em>adh-Dhiya’ al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’</em> [1/233] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Jarullah berkata:</p>
<p><strong>وإذا استنصحك فانصح له أي إذا استشارك في عمل من الأعمال هل يعمله أم لا ؟ فانصح له بما تحب لنفسك فإن كان العمل نافعا من كل وجه فحثه على فعله وإن كان مضرا فحذره منه وإن احتوى على نفع وضر فاشرح له ذلك ووازن بين المنافع والمضار والمصالح والمفاسد وكذلك إذا شاورك في معاملة أحد من الناس أو التزوج منه أو تزويجه فأظهر له محض نصحك واعمل له من الرأي ما تعمله لنفسك وإياك أن تغشه في شيء من ذلك فمن غش المسلمين فليس منهم وقد ترك واجب النصيحة ، وهذه النصيحة واجبة على كل حال ولكنها تتأكد إذا استنصحك وطلب منك الرأي النافع</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, artinya apabila dia meminta masukan kepadamu mengenai suatu pekerjaan apakah dia sebaiknya melakukannya atau tidak? Maka nasehatilah dia dengan sesuatu yang kamu sukai bagi dirimu. Apabila pekerjaan itu bermanfaat dari berbagai sisi maka doronglah dia untuk melakukannya. Apabila hal itu berbahaya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila hal itu mengandung manfaat dan madharat maka jelaskanlah kepadanya hal itu, dan bandingkanlah untuknya antara manfaat dan madharat, atau maslahat dan mafsadat yang ada. Demikian juga apabila dia meminta saran kepadamu dalam urusan muamalah dengan seseorang atau hendak menikah dengannya maka tunjukkanlah kepadanya sikap tulusmu dalam memberikan nasehat. Gunakanlah pendapat dalam menasehatinya dengan pendapat yang kamu sukai bagi dirimu. Janganlah kamu menipunya dalam perkara itu. Karena barangsiapa yang menipu kaum muslimin maka dia bukan termasuk golongan mereka dan dia telah meninggalkan kewajiban nasehat. Nasehat ini hukumnya wajib -secara mutlak- dalam kondisi apapun, akan tetapi kewajiban ini semakin ditekankan tatkala dia meminta nasehat kepadamu dan meminta saran yang bermanfaat kepadamu.” (Kamal ad-Din al-Islami wa Haqiqatuhu wa Mazayahu</em>, hal 77. lihat juga <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar</em>, hal 114 asy-Syamilah)  <strong></strong></p>
<p><strong>عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ</strong><strong> </strong><strong>أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَأَبَا جَهْمٍ خَطَبَانِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ انْكِحِي أُسَامَةَ فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا </strong></p>
<p>Dari Fathimah binti Qais <em>radhiyallahu’anha</em>, dia menuturkan bahwa suatu ketika Mu’waiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm ingin melamarku, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Adapun Abu Jahm, dia itu tidak pernah meletakkan tongkatnya dari  bahunya. Adapun Mu’awiyah adalah orang yang miskin, tak berharta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.”</em> Namun aku tidak menyukainya. Lalu beliau bersabda, <em>“Menikahlah dengan Usamah.” </em>Maka akupun menikah dengannya sehingga Allah menjadikan kebaikan padanya (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>وَفِيهِ دَلِيل عَلَى جَوَاز ذِكْر الْإِنْسَان بِمَا فِيهِ عِنْد الْمُشَاوَرَة وَطَلَب النَّصِيحَة وَلَا يَكُون هَذَا مِنْ الْغِيبَة الْمُحَرَّمَة بَلْ مِنْ النَّصِيحَة الْوَاجِبَة . وَقَدْ قَالَ الْعُلَمَاء إِنَّ الْغِيبَة تُبَاح فِي سِتَّة مَوَاضِع أَحَدهَا الِاسْتِنْصَاح</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menyebutkan apa-apa yang terdapat pada diri seseorang ketika bermusyawarah dan meminta nasehat, dan hal ini tidak termasuk dalam perbuatan ghibah/menggunjing yang diharamkan, bahkan hal ini adalah nasehat yang wajib. Para ulama mengatakan bahwa ghibah diperbolehkan pada enam keadaan, salah satunya adalah ketika dimintai nasehat  -pendapat tentang orang lain yang hendak dinikahi atau menjadi rekan bisnis dan semacamnya, pent-.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [5/240] asy-Syamilah)<strong></strong></p>
<p><strong>وقد سمع أبو تراب النخشبي أحمد بن حنبل وهو يتكلم في بعض الرواة فقال له: أتغتاب العلماء؟! فقال له: ويحك! هذا نصيحة، ليس هذا غيبة.</strong></p>
<p>Abu Turab an-Nakhasyabi pernah mendengar Ahmad bin Hanbal ketika dia sedang membicarakan/mengkritik sebagian periwayat. Maka dia berkata kepadanya, <em>“Apakah kamu menggunjing para ulama?!”</em>. Maka beliau berkata kepadanya, <em>“Celaka kamu! Ini adalah nasehat, ini bukan ghibah.”</em> (disebutkan dalam <em>al-Ba’its al-Hatsits</em>, hal. 36 asy-Syamilah)</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang bisa menunaikan kewajiban yang agung ini dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang saling memberikan nasehat dengan ikhlas karena-Nya. <em>Wallahul muwaffiq. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studi Tentang Bid&#8217;ah dan Mubtadi&#8217; (Kajian)</title>
		<link>http://abumushlih.com/studi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/studi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 06:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh wa Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Mubtadi']]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, berikut ini link halaman web Syaikh Muhammad Sa&#8217;id Ruslan -hafizhahullah- yang menyajikan rangkaian kajian dengan pembahasan jarh wa ta&#8217;dil dengan materi &#8216;Telaah mengenai bid&#8217;ah dan mubtadi&#8221;.Bagi yang berminat bisa mendownload kajian-kajian beliau seputar materi ini. Semoga bermanfaat bagi kita &#8230; <a href="http://abumushlih.com/studi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fstudi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fstudi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bismillah, berikut ini link halaman web Syaikh Muhammad Sa&#8217;id Ruslan -<em>hafizhahullah</em>- yang menyajikan rangkaian kajian dengan pembahasan <em>jarh wa ta&#8217;dil</em> dengan materi <strong>&#8216;Telaah mengenai bid&#8217;ah dan mubtadi&#8221;</strong>.Bagi yang berminat bisa mendownload kajian-kajian beliau seputar materi ini.</p>
<p>Semoga bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p><span id="more-1369"></span></p>
<p><a href="http://www.rslan.com/vad/items.php?chain_id=166" target="_blank">http://www.rslan.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/studi-tentang-bidah-dan-mubtadi-kajian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertakwalah, Wahai Para Da&#8217;i!</title>
		<link>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 23:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Ghibah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh wa Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1175</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka yang mengajak ke jalan Allah dengan ucapan dan perbuatan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbertakwalah-wahai-para-dai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbertakwalah-wahai-para-dai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka yang mengajak ke jalan Allah dengan ucapan dan perbuatan mereka. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Sesungguhnya tugas dakwah merupakan tugas mulia yang diembankan di pundak para da&#8217;i. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan siapakah orang yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal soleh, dan dia mengatakan, &#8216;sesungguhnya saya ini tergolong di antara kaum muslimin&#8217;.”</em> (QS. Fushshilat: 33).</p>
<p><span id="more-1175"></span>Dakwah merupakan sebab keberuntungan dan keselamatan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal soleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3). Berdasarkan ayat ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwasanya dakwah merupakan perkara yang wajib untuk dipelajari dan diamalkan oleh setiap muslim.</p>
<p>Terlebih lagi, dakwah merupakan jalan hidup manusia terbaik dan orang-orang yang setia mengikutinya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah -hai Muhammad-; Inilah jalanku, aku mengajak -manusia- menuju Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, Maha suci Allah dan sama sekali aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Yusuf: 108).</p>
<p>Maka dari itulah, pekerjaan dan tugas yang sangat mulia ini harus ditunaikan dengan cara yang benar dan niat yang ikhlas karena Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Bagaimana pun juga dakwah merupakan ibadah, dan ibadah tidak akan diterima kecuali apabila memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti tuntunan nabi-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Kahfi: 110).</p>
<p>Niat yang ikhlas tanpa diiringi dengan cara yang benar tidak akan bermanfaat. Bukankah Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai nasib malang orang-orang yang menyimpang dari jalan-Nya semacam kaum Khawarij dan saudara-saudaranya dari kalangan ahli bid&#8217;ah perusak ajaran agama (yang artinya), <em>“Katakanlah: maukah kuberitakan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia upaya mereka dalam kehidupan dunia sementara mereka mengira bahwa mereka telah melakukan suatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.”</em> (QS. al-Kahfi: 103-104). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun demikian, ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang beribadah kepada Allah akan tetapi tidak berada di atas jalan yang diridhai oleh Allah, sebagaimana disimpulkan oleh Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> (silahkan baca tafsir Ibnu Katsir)</p>
<p>Keikhlasan tanpa dibarengi dengan metode yang benar tidak akan diterima. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amal itu pasti tertolak.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim). Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan -dalam agama-&#8230;”</em> (HR. Bukhari). al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam <em>Fath al-Bari</em> (13/288), <em>“Yang dimaksud perkara baru ini adalah perkara yang diada-adakan dan tidak memiliki sumber/dalil dari syari&#8217;at. Dalam istilah syari&#8217;at hal itu dinamakan sebagai bid&#8217;ah. Adapun suatu perkara -baru- yang memiliki landasan hukum dari syari&#8217;at maka tidak bisa disebut sebagai bid&#8217;ah. Sehingga dalam istilah syari&#8217;at -semua jenis- bid&#8217;ah adalah tercela&#8230;”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sesungguhnya tugas yang mulia ini akan mendatangkan pahala yang melimpah ruah jika dilakukan sebagaimana mestinya. Dan sebaliknya, dakwah akan bisa menimbulkan malapetaka jika tidak dilakukan dengan sebagaimana mestinya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang diperoleh orang yang mengikutinya tanpa sedikitpun mengurangi pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikuti kesesatannya tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa mereka.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Untuk itulah -<em>ikhwah</em> sekalian, semoga Allah membimbing kita semua- mengetahui jalan yang lurus yaitu Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah kunci keselamatan dan keberhasilan dakwah. Sebaliknya, kebodohan terhadap Sunnah Nabi merupakan sebab utama kehancuran dakwah kita -selain ketidakikhlasan dalam beramal-, <em>Allahul musta&#8217;aan</em>. Imam Malik<em> rahimahullah</em> berkata, <em>“as-Sunnah adalah bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya niscaya dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia pasti tenggelam.”</em> (lihat kitab <em>al-Hujaj al-Qawiyyah &#8216;ala Anna Wasa&#8217;il ad-da&#8217;wah tauqifiyah</em> karya Syaikh Abdussalam Burjis <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Perselisihan manusia itu semuanya kembali kepada tiga sumber utama. Masing-masing memiliki lawan. Barangsiapa yang jatuh dari satu urusan niscaya dia akan terperosok kepada lawannya. Tauhid, lawannya syirik. Sunnah, lawannya adalah bid&#8217;ah. Dan taat, yang lawannya adalah maksiat.”</em> (<em>al-I&#8217;tisham </em>[1/91] dinukil dari <em>Ilmu Ushul Bida&#8217;</em> karya Syaikh Ali al-Halabi <em>hafizhahullah</em>, hal. 39).</p>
<p>Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.”</em> (Disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wan Nahyu &#8216;anil munkar</em>, hal. 77 cet Dar al-Mujtama&#8217;). Ibrahim an-Nakha&#8217;i<em> rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Seandainya para sahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mencukupkan diri dengan mengusap kuku niscaya akupun tidak akan membasuhnya untuk mencari keutamaan dalam mengikuti mereka.”</em> (Diriwayatkan oleh ad-Darimi dan Ibnu Batthah, dinukil dari <em>Ilmu Ushul Bida&#8217;</em>, hal. 57)</p>
<p>Apabila demikian kenyataannya, maka memperingatkan umat dari bahaya bid&#8217;ah dan tokoh-tokoh yang menyebarkannya merupakan kewajiban yang berada di pundak para ulama dan da&#8217;i di sepanjang masa. Tidakkah kita ingat, dulu di masa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika beliau memperingatkan umat ini dari bahaya laten Khawarij yang akan muncul dan membara semenjak kepergiannya? Tidakkah kita ingat, dulu di masa sahabat ketika Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> dengan lantang menyatakan permusuhan dan sikap berlepas diri beliau dari kesesatan Ma&#8217;bad al-Juhani dan teman-temannya para penganut aliran Qadariyah di Bashrah? Tidakkah kita ingat, dulu di masa Imam asy-Sayfi&#8217;i <em>rahimahullah</em> tatkala beliau dengan tegas dan keras menyatakan sikapnya mengenai hukuman yang akan beliau jatuhkan kepada orang-orang yang menggeluti ilmu kalam/filsafat dan mencampakkan Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya -yaitu dengan dipukuli dengan sandal dan diarak mengelilingi perkampungan dan di pasar-pasar-? Dan atsar/riwayat serupa yang lainnya masih banyak&#8230;</p>
<p>Maka <em>subhanallah</em> sedemikian banyak riwayat yang sudah sangat-sangat populer itu seolah-olah lenyap dari ingatan sebagian manusia, sehingga dengan entengnya mereka menuduh para ulama dan da&#8217;i yang memperingatkan manusia dari kesesatan dan ketergelinciran sebagian tokoh-tokoh mereka -akibat kebid&#8217;ahan atau penyimpangannya- adalah orang-orang yang maunya menang sendiri, merasa dirinya paling benar, bersikap angkuh, dan meremehkan jasa para pejuang agama?! Wahai orang yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, di manakah penghormatan kalian kepada Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan Sunnah para sahabatnya? Kalau anda diam, mereka diam, dan semua orang diam terhadap kemungkaran, lalu siapakah yang akan memperingatkan manusia dari kesesatan dan penyimpangan? Renungkanlah -dengan akal sehat dan pikiran yang jernih- betapa besar bahaya dan kerusakan yang timbul apabila para ulama dan da&#8217;i tidak memperingatkan kaum muslimin dari penyimpangan yang diserukan dan disebarluaskan di antara mereka? Sangggupkah anda menanggung dosa-dosa orang yang mengikuti kesesatan itu dan mengajarkannya kepada anak didik dan masyarakatnya? Jawablah, wahai saudaraku&#8230; Tegakah <em>antum</em> (anda) menyaksikan tokoh pujaan<em> antum</em> memikul dosa yang begitu banyak akibat telah mengajarkan kesesatan kepada umat manusia, dan umat manusia pun menularkan ajaran sesatnya kepada anak cucu mereka? Jawablah, wahai saudaraku&#8230; Apakah sikap semacam itu merupakan suatu keangkuhan ataukah justru sebuah bukti nyata rasa kasih sayang seorang mukmin kepada sesama saudaranya? Jawablah, wahai saudaraku dari lubuk hatimu yang paling dalam!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia, kalian memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar, dan kalian beriman kepada Allah.”</em> (QS. Ali Imran: 110). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Lelaki yang beriman dan perempuan yang beriman, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar.”</em> (QS. at-Taubah: 71). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Isra&#8217;il melalui lisan Dawud dan Isa bin Maryam. Hal itu disebabkan kemaksiatan mereka dan kebiasaan mereka melampaui batas. Mereka pun biasa tidak saling melarang kemungkaran yang dilakukan di antara mereka. Sungguh jelek perbuatan yang mereka lakukan itu.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 78-79).</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Berbicara dalam bentuk kritik/celaan kepada orang-orang/tokoh (periwayat hadits atau yang semacamnya, pent) dalam rangka menunaikan nasehat untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untuk kitab-Nya, dan untuk kaum mukminin itu tidak dikategorikan dalam perbuatan ghibah/menggunjing, bahkan dia akan mendapatkan pahala dengan tindakan yang dilakukannya itu selama dia benar-benar tulus berniat untuk itu (memberikan nasehat bukan semata-mata mencela, pent).”</em> (<em>al-Ba&#8217;its al-Hatsits Syarh Ikhtishar Ulum al-Hadits</em> karya Ahmad Syakir, hal. 228)</p>
<p>Maka bertakwalah, wahai para da&#8217;i dengan lisan-lisan kita dan anggota badan kita&#8230; Sesungguhnya kita akan ditanya di hadapan Allah dan harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan selama hidup di dunia. Apakah nasehat yang kita berikan benar-benar ikhlas karena-Nya? Apakah kita termasuk orang yang berlapang dada ketika diberi nasehat? Apakah kita termasuk orang yang menganggap bahwa nasehat saudara kita merupakan bukti cinta dan kasih sayangnya kepada kita? Apakah selama ini kita mau menelaah ucapan dan perbuatan kita; sudahkah itu semua sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ataukah sebenarnya menyelisihi Sunnah namun kita berkeras mempertahankannya?</p>
<p>Ingatlah ucapan emas seorang tabi&#8217;in yang mulia salah satu murid senior Abdullah bin Abbas yaitu Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em>. Beliau mengatakan, <em>“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.”</em> (Disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wan Nahyu &#8216;anil munkar</em>, hal. 77).</p>
<p>Marilah kita memohon kepada Allah hidayah untuk berjalan di atas jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberikan anugerah ilmu dan amal salih dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada&#8217; dan orang-orang soleh. Dan semoga Allah menjauhkan kita dari jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun tidak mau tunduk kepadanya. Sebagaimana pula kita berlindung kepada Allah agar tidak tergolong orang-orang yang sesat, yaitu orang yang bersemangat dalam beribadah dan berdakwah namun tanpa bimbingan ilmu yang benar. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah.</p>
<p>Yogyakarta, awal bulan Dzulqo&#8217;dah 1430 H<br />
Yang mengharapkan luasnya ampunan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

