<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Kematian</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/kematian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Terperdaya Oleh Nikmat</title>
		<link>http://abumushlih.com/terperdaya-oleh-nikmat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/terperdaya-oleh-nikmat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 22:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1712</guid>
		<description><![CDATA[Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, banyak orang yang terlena dengan kenikmatan dunia. Di antara kenikmatan yang membuat banyak orang lupa akan jati diri dan tujuan hidupnya adalah nikmat kesehatan dan waktu luang. Terutama nikmat waktu, yang begitu banyak orang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/terperdaya-oleh-nikmat.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fterperdaya-oleh-nikmat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fterperdaya-oleh-nikmat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, banyak orang yang terlena dengan kenikmatan dunia. Di antara kenikmatan yang membuat banyak orang lupa akan jati diri dan tujuan hidupnya adalah nikmat kesehatan dan waktu luang. Terutama nikmat waktu, yang begitu banyak orang lalai memanfaatkannya dengan baik. Sehingga banyak sekali waktu mereka yang terbuang percuma bahkan menjerumuskan mereka ke dalam jurang bahaya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1712"></span>Duduk di depan televisi seharian pun tak terasa, terhenyak sekian lama di hadapan berita-berita terbaru yang disajikan media massa sudah biasa, dan berjubel-jubel memadati stadion selama berjam-jam untuk menyaksikan pertandingan sepak bola atau konser grup band idola pun rela. Aduhai, alangkah meruginya kita tatkala waktu kehidupan yang detik demi detik terus berjalan menuju gerbang kematian ini kita lalui dengan menimbun dosa dan menyibukkan diri dengan perbuatan yang sia-sia.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku, ingatlah sabda Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ada dua buah nikmat yang kebanyakan orang terperdaya karenanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari</strong><span style="font-weight: normal;"> [6412] dari Ibnu Abbas </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/258])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku, sesungguhnya dunia ini merupakan ladang akherat. Di dalam dunia ini terdapat sebuah perdagangan yang keuntungannya akan tampak jelas di akherat kelak. Orang yang memanfaatkan waktu luang dan kesehatan tubuhnya dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah maka dialah orang yang beruntung. Adapun orang yang menyalahgunakan nikmat itu untuk bermaksiat kepada Allah maka dialah orang yang tertipu (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/259]) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam menetapi kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Jadilah engkau di dunia seperti layaknya orang yang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan jauh.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari</strong><span style="font-weight: normal;"> [6416] dari Ibnu Umar </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/263])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang yang lima: [1] Masa mudamu sebelum masa tuamu, [2] masa sehatmu sebelum sakitmu, [3] masa kayamu sebelum miskinmu, [4] waktu luangmu sebelum sibukmu, dan [5] hidupmu sebelum matimu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. al-Hakim</strong><span style="font-weight: normal;"> dari Ibnu Abbas </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [11/264], hadits ini disahihkan al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 486) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah sekedar kesenangan sementara, dan sesungguhnya akherat itulah negeri tempat tinggal yang sebenarnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Ghafir: 39</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ada seorang yang bertanya kepada Muhammad bin Wasi&#8217;, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bagaimana keadaanmu pagi ini?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bagaimanakah menurutmu mengenai seorang yang melampaui tahapan perjalanan setiap harinya menuju alam akherat?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. al-Hasan berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya dirimu adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu, maka lenyaplah sebagian dari dirimu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 482)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian orang bijak berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bagaimana bisa merasakan kegembiraan dengan dunia, orang yang perjalanan harinya menghancurkan bulannya, dan perjalanan bulan demi bulan menghancurkan tahun yang dilaluinya, serta perjalanan tahun demi tahun yang menghancurkan seluruh umurnya. Bagaimana bisa merasa gembira, orang yang umurnya menuntun dirinya menuju ajal, dan masa hidupnya menggiring dirinya menuju kematian.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 483) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/terperdaya-oleh-nikmat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mereka Bertiga Pun Menangis</title>
		<link>http://abumushlih.com/mereka-bertiga-pun-menangis.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mereka-bertiga-pun-menangis.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 05:35:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Aiman]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1640</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu, dia berkata: Abu Bakar radhiyallahu&#8217;anhu berkata kepada Umar beberapa waktu setelah wafatnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Marilah kita bersama-sama pergi ke rumah Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mereka-bertiga-pun-menangis.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmereka-bertiga-pun-menangis.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmereka-bertiga-pun-menangis.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><span style="font-weight: normal;">Dari Anas bin Malik </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, dia berkata: Abu Bakar </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata kepada Umar beberapa waktu setelah wafatnya Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Marilah kita bersama-sama pergi ke rumah Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang sering berkunjung kepadanya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Tatkala kami sampai bertemu dengannya, dia pun menangis. Mereka berdua -Abu Bakar dan Umar- bertanya kepadanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang engkau tangisi? Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Maka dia menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Saya menangis bukan karena mengetahui bahwa apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akan tetapi saya menangis karena wahyu telah terputus turun dari langit.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Maka ucapannya itu membangkitkan perasaan mereka berdua -Abu Bakar dan Umar- untuk melelehkan air mata. Akhirnya mereka berdua pun menangis bersamanya (HR. Muslim, lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [8/76-77])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1640"></span></span></span>Hadits yang agung ini mengandung mutiara hikmah, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Keutamaan 	berkunjung kepada orang-orang yang salih (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [8/76]). Hal itu dikarenakan dengan mengunjungi mereka seorang 	muslim akan mendapatkan gambaran mengenai keluhuran budinya sehingga 	akan memacu dirinya untuk meniru kebaikan mereka. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu 	a&#8217;lam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Anjuran 	bagi orang yang salih untuk mengunjungi orang lain yang kedudukannya 	berada di bawah dirinya, dan hendaknya seorang ikut mengunjungi 	orang lain yang dahulu biasa dikunjungi oleh teman dekatnya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [8/76])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	sekelompok lelaki -salih- berkunjung menemui seorang perempuan 	salihah dan mendengar ucapannya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [8/76]). Tentu saja dengan tetap menjaga adab-adab berkomunikasi 	antara lain jenis. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hendaknya 	seorang alim yang senior juga mengajak temannya untuk keperluan 	mengunjungi orang lain ataupun menjenguk orang yang sedang sakit 	atau keperluan lain yang semisal (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [8/77])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bolehnya 	menangis ketika bersedih karena berpisah dengan orang-orang salih 	dan orang-orang yang selama ini menjadi teman dekatnya, meskipun 	sebenarnya mereka telah berpindah kepada suatu kondisi yang lebih 	baik daripada kondisi dan tempat sebelumnya di mana mereka berada 	(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [8/77])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Ummu Aiman </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anha</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	di mana Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> semasa hidupnya sering berkunjung ke rumahnya. Di sebutkan dalam 	sebuah riwayat, bahwa Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ummu 	Aiman adalah ibu setelah ibu kandungku (ibuku yang kedua).”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [8/76]) </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kesedihan 	para sahabat karena terputusnya wahyu dari langit. Hal ini 	menunjukkan betapa besar pengagungan para sahabat terhadap Sunnah 	Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">dan 	betapa mulia kedudukan beliau di sisi mereka. Dan sikap itu juga 	mencerminkan kebahagiaan hidup yang selama ini mereka rasakan 	bersama dengan bimbingan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Oleh sebab itu, mereka merasa bahwa kepergian beliau merupakan 	musibah yang sangat besar bagi umat ini. Meskipun demikian, mereka 	tetap bersabar dan menerima takdir ini dengan dada yang lapang, 	bahkan mereka meyakini bahwa apa yang dijanjikan Allah di sisi-Nya 	itu lebih baik bagi Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> daripada apa yang beliau dapatkan di dunia. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kedalaman 	ilmu para sahabat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu 	&#8216;anhum</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Mereka mengetahui bahwa kenikmatan yang dijanjikan Allah di sisi-Nya 	itu lebih baik bagi Nabi daripada dunia dan seisinya. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Tidak 	ada lagi wahyu yang turun semenjak wafatnya Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	maka ini merupakan bantahan bagi orang-orang yang mengaku Nabi 	sesudah beliau.</span></span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mereka-bertiga-pun-menangis.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syafa&#8217;at Bagi Umat Bertauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/syafaat-bagi-umat-bertauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/syafaat-bagi-umat-bertauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 09:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'tazilah]]></category>
		<category><![CDATA[Syafa'at]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1620</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang mustajab, maka semua Nabi bersegera mengajukan doa/permintaannya itu. Adapun aku menunda doaku itu sebagai syafa&#8217;at bagi umatku kelak di hari kiamat. Doa &#8230; <a href="http://abumushlih.com/syafaat-bagi-umat-bertauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsyafaat-bagi-umat-bertauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsyafaat-bagi-umat-bertauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, dia berkata: Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang mustajab, maka semua Nabi bersegera mengajukan doa/permintaannya itu. Adapun aku menunda doaku itu sebagai syafa&#8217;at bagi umatku kelak di hari kiamat. Doa -syafa&#8217;at- itu -dengan kehendak Allah- akan diperoleh setiap orang yang meninggal di antara umatku dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/342]) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1620"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits yang mulia ini mengandung pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Kasih 	sayang Rasul </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> yang 	sangat besar kepada umatnya dan besarnya perhatian beliau demi 	kebaikan mereka. Oleh sebab itu beliau sengaja mengakhirkan doanya 	-yang mustajab- itu bagi kepentingan umatnya pada saat-saat yang 	paling mereka perlukan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/342]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Semua 	orang yang meninggal dalam keadaan tidak musyrik (atau kafir) maka 	tidak akan dihukum kekal di dalam neraka meskipun dia bergelimang 	dosa-dosa besar dan belum bertaubat darinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/342]). Adapun 	apabila seorang mukmin mati dalam keadaan sebelumnya bergelimang 	dengan dosa besar lalu bertaubat dari dosa-dosanya sebelum mati, 	maka ia akan langsung masuk surga (lihat ucapan Imam Bukhari dalam 	Kitab </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Libas</span></em><span style="font-weight: normal;"> setelah membawakan hadits ini, </span><em><span style="font-weight: normal;">Shahih 	Bukhari</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1216)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Pentingnya 	taubat. Terlebih lagi di saat-saat menjelang kematian, sebelum nyawa 	berada di tenggorokan. Karena yang menjadi patokan hukum akherat 	kelak adalah kondisi terakhir orang tersebut di alam dunia, apakah 	dia meninggal di atas iman ataukah tidak. Sementara kematian itu 	adalah rahasia Allah yang kita tidak tahu kapan datangnya. Oleh 	sebab itu kita tertuntut untuk bertaubat dengan segera dan tidak 	menunda-nundanya. Selama kita masih menjumpai siang dan malam di 	alam dunia ini, maka kesempatan taubat masih terbuka 	selebar-lebarnya. Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	Allah &#8216;azza wa jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk 	menerima taubat para pelaku dosa di siang hari, dan membentangkan 	tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat para pelaku dosa di 	malam hari, sampai akhirnya adalah ketika matahari terbit dari arah 	tenggelamnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. 	Muslim dari Abu Musa </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [9/26]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Kewajiban 	mengimani adanya hari kebangkitan sesudah kematian dan dibalasnya 	amal-amal manusia kelak di akherat. Sehingga kehidupan di alam dunia 	ini adalah bentuk ujian dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, siapakah 	di antara mereka yang bersyukur -dengan bertauhid dan mengikuti 	rasul-Nya- dan siapakah yang justru kufur dan berpaling dari 	petunjuk-Nya. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apakah 	kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dalam keadaan sia-sia 	dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Mu&#8217;minun: 115). Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apakah 	manusia itu mengira dia dibiarkan begitu saja.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Qiyamah: 36). Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“-Allah- 	Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian 	siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Mulk: 2)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Kewajiban 	mengimani keberadaan malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk 	menjalankan tugas-tugas mereka, di antaranya adalah Jibril </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;alaihis 	salam</span></em><span style="font-weight: normal;"> yang ditugaskan 	untuk menyampaikan wahyu. Sebagaimana Nabi Muhammad </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> adalah rasul/utusan dari kalangan manusia, maka Jibril adalah rasul 	dari kalangan malaikat. Oleh sebab itulah -</span><em><span style="font-weight: normal;">wallahu 	a&#8217;lam</span></em><span style="font-weight: normal;">- Imam Bukhari </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> mencantumkan hadits ini di dalam Kitab </span><em><span style="font-weight: normal;">Bad&#8217;u 	al-Wahyi</span></em><span style="font-weight: normal;"> dengan judul 	bab : Penyebutan mengenai malaikat (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Shahih 	Bukhari</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 674 dan 	677) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Keutamaan 	doa, bahkan intisari dari ibadah adalah doa. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Rabb 	kalian berfirman: Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan 	permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri 	dari beribadah kepada-Ku mereka pasti masuk ke dalam Jahannam dalam 	keadaan hina.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. 	al-Mu&#8217;min: 60)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Keutamaan 	tauhid dan keutamaan mempelajarinya, karena dengan tauhid yang 	bersih dari kesyirikan seorang hamba akan mendapatkan ampunan atas 	dosa-dosanya dan dimasukkan ke dalam surga. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang 	yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman 	(syirik), mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka 	itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-An&#8217;am: 82). Abu Dzar </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> meriwayatkan dari Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	beliau bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Jibril 	&#8216;alaihis salam datang menemuiku lalu meyampaikan kabar gembira 	kepadaku bahwa barangsiapa di antara umatmu yang mati dalam keadaan 	tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka pasti masuk 	surga. Aku -Nabi- berkata: &#8216;Meskipun dia berzina dan mencuri?&#8217; Dia 	-Jibril- menjawab, &#8216;Meskipun dia berzina dan mencuri.&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/166])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Orang 	yang meninggal di atas kekafiran/kemusyrikan maka amal-amalnya di 	dunia tidak bermanfaat baginya di akherat (tidak bisa membuatnya 	masuk surga). Dari &#8216;Aisyah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anha</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	beliau berkata: Aku berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai 	Rasulullah, Ibnu Jud&#8217;an adalah orang yang di masa Jahiliyah suka 	menyambung tali kekerabatan dan memberi makan orang miskin, apakah 	hal itu bermanfaat untuknya?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. 	Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak 	bermanfaat baginya. Karena sesungguhnya dia tak pernah suatu hari 	pun memohon, &#8216;Wahai Rabbku ampunilah dosaku di hari pembalasan 	nanti.&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. 	Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/352])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Wajibnya 	mengimani adanya syafa&#8217;at di akherat kelak. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Pada 	hari itu tidak berguna syafa&#8217;at kecuali bagi orang yang diberi ijin 	oleh ar-Rahman dan ucapannya diridhai oleh-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. Thaha: 109). Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Dan 	mereka tidak akan memberikan syafa&#8217;at kecuali bagi orang-orang yang 	diridhai-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. 	al-Anbiya&#8217;: 28). Syafa&#8217;at yang ditetapkan ini akan diberikan setelah 	terpenuhi 2 syarat: [1] Ijin Allah bagi orang yang memberikan 	syafa&#8217;at, dan [2] keridhaan Allah terhadap orang yang akan diberi 	syafa&#8217;at, sedangkan Allah tidak ridha kecuali kepada orang yang 	bertauhid (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Majid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 196). 	Maka ini artinya orang musyrik -contohnya; orang yang berdoa kepada 	selain Allah- tidak berhak mendapatkan syafa&#8217;at&#8230; Camkanlah hal ini 	baik-baik wahai saudaraku! Sehingga hal ini menunjukkan kepada kita 	bahwa sebenarnya hakekat syafa&#8217;at itu adalah milik Allah, bukan 	milik orang yang diberi ijin memberi syafa&#8217;at. Allah berfirman (yang 	artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Katakanlah: 	Milik Allah semata, syafa&#8217;at itu seluruhnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. az-Zumar: 44)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Bahaya 	syirik, karena orang yang meninggal dalam keadaan musyrik tidak akan 	mendapatkan syafa&#8217;at, dan tidak akan bisa masuk surga -</span><em><span style="font-weight: normal;">na&#8217;udzu 	billahi min suu&#8217;il khatimah</span></em><span style="font-weight: normal;">-. 	Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa 	yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan surga baginya dan 	tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang 	zalim itu seorang penolongpun.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Ma&#8217;idah: 72) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Ketekunan 	beribadah tidak ada manfaatnya apabila tercampur dengan kesyirikan. 	Oleh sebab itu Allah mengiringkan perintah untuk beribadah dengan 	larangan berbuat syirik (silahkan baca QS. an-Nisaa&#8217;: 36)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Bantahan 	bagi sekte Khawarij dan sebagian Mu&#8217;tazilah yang meniadakan syafa&#8217;at 	bagi pelaku dosa besar dari kalangan orang-orang yang beriman. 	Mereka -Khawarij dan Mu&#8217;tazilah- berdalil dengan ayat (yang 	artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Maka tidak 	berguna bagi mereka syafa&#8217;at orang-orang yang memberikan syafa&#8217;at.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Muddatstsir: 48) dan ayat-ayat serupa lainnya. Maka al-Qadhi 	&#8216;Iyadh </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah membantah mereka dengan mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ayat-ayat 	ini berlaku bagi orang-orang kafir.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/311]). Lihatlah -</span><em><span style="font-weight: normal;">wahai 	para pemuda</span></em><span style="font-weight: normal;">- bagaimana 	para ulama berbicara dengan ilmu, menyimpulkan hukum secara tepat 	-dengan memadukan berbagai ayat yang ada dalam satu persoalan- dan 	tidak serampangan dalam bersikap&#8230;</span></p>
</li>
</ol>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/syafaat-bagi-umat-bertauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Yang Bisa Menjamin Dirinya?</title>
		<link>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 13:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p><span id="more-1570"></span></p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad as-Sa&#8217;idi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya hati anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara dua jari di antara jari-jemari ar-Rahman, laksana hati yang satu, -sehingga dengan mudahnya- Allah palingkan hati itu sebagaimana yang dikehendaki-Nya.”</em> Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berdoa, <em>“Wahai Yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk berada di atas ketaatan kepada-Mu.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/250])</p>
<p>Tiga hadits yang agung ini mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>Hendaknya merasa takut terhadap su&#8217;ul khotimah dan mengharapkan      husnul khotimah</li>
<li>Iman terhadap surga dan neraka</li>
<li>Amalan yang telah sekian lama dilakukan tidak bisa menjamin      seseorang bahwa dirinya pasti selamat, karena di akhir hidupnya belum      tentu dia masih istiqomah</li>
<li>Tidak boleh tertipu oleh banyaknya amalan yang pernah dilakukan</li>
<li>Tidak boleh merasa aman dari makar Allah</li>
<li>Tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah</li>
<li>Hendaknya menyeimbangkan antara khauf (takut) dan roja&#8217;      (harapan)</li>
<li>Hendaknya menempuh sebab-sebab yang bisa menjadikan istiqomah</li>
<li>Hendaknya menjaga keikhlasan dalam beramal</li>
<li>Pentingnya memperhatikan dan menata amalan-amalan hati</li>
<li>Peringatan dari bahaya riya&#8217; dan kemunafikan</li>
<li>Ikhlas merupakan sebab utama keselamatan</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk surga sehebat      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk neraka seburuk      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Nasib seseorang di akherat kelak ditentukan bagaimana keadaan      akhir hidupnya di alam dunia ini, apakah dia meninggal di atas keimanan      ataukah tidak?</li>
<li>Penetapan bahwa Allah memiliki jari yang sesuai dengan      keagungan dan kemuliaan-Nya, tidak seperti apa yang ada pada makhluk</li>
<li>Penetapan bahwa hati manusia itu berada di bawah kekuasaan      Allah</li>
<li>Penetapan sifat kasih sayang pada diri Allah, Allah tidak      berbuat semena-mena terhadap makhluk-Nya</li>
<li>Hendaknya selalu memohon taufik kepada Allah agar hatinya      berada di atas kebenaran</li>
<li>Ketaatan kepada Allah merupakan sumber keselamatan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Depan Gerbang Kematian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1553</guid>
		<description><![CDATA[Kematian, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia tidak mau menerima pengunduran &#8230; <a href="http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-depan-gerbang-kematian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-depan-gerbang-kematian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em> Kematian</em>, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya  diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti  akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba  saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia  tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekalipun. Karena  bukanlah sifat malaikat seperti manusia, yang zalim dan jahil.</p>
<p><span id="more-1553"></span>Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia  lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para  malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai,  tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini  juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah  orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa.  Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada  di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ?  Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi  malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita  tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita  melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan  engkau jera ?</p>
<p><strong>Sebab-sebab su’ul khatimah</strong></p>
<p>Saudaraku seiman mudah -mudahan Allah memberikan taufik kepada Anda-  ketahuilah bahwa su’ul khatimah tidak akan terjadi pada diri orang yang  shalih secara lahir dan batin di hadapan Allah. Terhadap orang-orang  yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya, tidak pernah terdengar cerita  bahwa mereka su’ul khotimah. Su’ul khotimah hanya terjadi pada orang  yang rusak batinnya, rusak keyakinannya, serta rusak amalan lahiriahnya;  yakni terhadap orang-orang yang nekat melakukan dosa-dosa besar dan  berani melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Kemungkinan semua dosa itu  demikian mendominasi dirinya sehingga ia meninggal saat melakukannya,  sebelum sempat bertaubat dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa su’ul khotimah memiliki berbagai sebab yang  banyak jumlahnya. Di antaranya yang terpokok adalah sebagai berikut :</p>
<ul>
<li> Berbuat syirik kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em>. Pada hakikatnya syirik  adalah ketergantungan hati kepada selain Allah dalam bentuk rasa cinta,  rasa takut, pengharapan, do’a, tawakal, inabah (taubat) dan lain-lain.</li>
<li>Berbuat bid’ah dalam melaksanakan agama. Bid’ah adalah menciptakan  hal baru yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Penganut  bid’ah tidak akan mendapat taufik untuk memperoleh husnul khatimah,  terutama penganut bid’ah yang sudah mendapatkan peringatan dan nasehat  atas kebid’ahannya. Semoga Allah memelihara diri kita dari kehinaan itu.</li>
<li>Terus menerus berbuat maksiat dengan menganggap remeh dan sepele  perbuatan-perbuatan maksiat tersebut, terutama dosa-dosa besar.  Pelakunya akan mendapatkan kehinaan di saat mati, disamping setan pun  semakin memperhina dirinya. Dua kehinaan akan ia dapatkan sekaligus dan  ditambah lemahnya iman, akhirnya ia mengalami su’ul khotimah.</li>
<li>Melecehkan agama dan ahli agama dari kalangan ulama, da’i, dan  orang-orang shalih serta ringan tangan dan lidah dalam mencaci dan  menyakiti mereka.</li>
<li>Lalai terhadap Allah dan selalu merasa aman dari siksa Allah. Allah  berfirman yang artinya, <em>“Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang  tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali  orang-orang yang merugi”</em> (QS. Al A’raaf [7] : 99)</li>
<li>Berbuat zalim. Kezaliman memang ladang kenikmatan namun berakibat  menakutkan. Orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang paling layak  meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Allah berfirman yang artinya,  <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang  zalim”</em> (QS. Al An’aam [6] : 44)</li>
<li>Berteman dengan orang-orang jahat. Allah berfirman yang artinya,  <em>“(Ingatlah) hari ketika orang yang zalim itu menggigit dua tangannya,  seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan yang lurus  bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak  menjadikan si fulan sebagai teman akrabku”</em> (QS. Al Furqaan [25] : 27-28)</li>
<li>Bersikap ujub. Sikap ujub pada hakikatnya adalah sikap seseorang  yang merasa bangga dengan amal perbuatannya sendiri serta menganggap  rendah perbuatan orang lain, bahkan bersikap sombong di hadapan mereka.  Ini adalah penyakit yang dikhawatirkan menimpa orang-orang shalih  sehingga menggugurkan amal shalih mereka dan menjerumuskan mereka ke  dalam su’ul khotimah.</li>
</ul>
<p>Demikianlah beberapa hal yang bisa menyebabkan su’ul khotimah.  Kesemuanya adalah biang dari segala keburukan, bahkan akar dari semua  kejahatan. Setiap orang yang berakal hendaknya mewaspadai dan  menghindarinya, demi menghindari su’ul khotimah.</p>
<p><strong>Tanda-tanda husnul khotimah</strong></p>
<p>Tanda-tanda husnul khotimah cukup banyak. Di sini kami menyebutkan  sebagian di antaranya saja :</p>
<ul>
<li> Mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah saat meninggal.  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, <em>“Barangsiapa yang  akhir ucapan dari hidupnya adalah laa ilaaha illallaah, pasti masuk  surga”</em> (HR. Abu Dawud dll, dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil)</li>
<li>Meninggal pada malam Jum’at atau pada hari Jum’at. Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap muslim yang meninggal  pada hari atau malam Jum’at pasti akan Allah lindungi dari siksa kubur”</em> (HR.Ahmad)</li>
<li>Meninggal dengan dahi berkeringat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, <em>“Orang mukmin itu meninggal dengan berkeringat di  dahinya”</em> (HR. Ahmad, Tirmidzi dll. dishahihkan Al Albani)</li>
<li>Meninggal karena wabah penyakit menular dengan penuh kesabaran dan  mengharapkan pahala dari Allah, seperti penyakit kolera, TBC dan lain  sebagainya</li>
<li>Wanita yang meninggal saat nifas karena melahirkan anak. Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang wanita yang meninggal  karena melahirkan anaknya berarti mati syahid. Sang anak akan  menarik-nariknya dengan riang gembira menuju surga”</em> (HR. Ahmad)</li>
<li>Munculnya bau harum semerbak, yakni yang keluar dari tubuh jenazah  setelah meninggal dan dapat tercium oleh orang-orang di sekitarnya.  Seringkali itu didapatkan pada jasad orang-orang yang mati syahid,  terutama syahid fi sabilillah.</li>
<li>Mendapatkan pujian yang baik dari masyarakat sekitar setelah  meninggalnya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah melewati  jenazah. Beliau mendengar orang-orang memujinya. Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Pasti (masuk) surga”</em> Beliau kemudian  bersabda, <em>“kalian -para sahabat- adalah para saksi Allah di muka bumi ini”</em> (HR. At  Tirmidzi)</li>
<li>Melihat sesuatu yang menggembirakan saat ruh diangkat. Misalnya,  melihat burung-burung putih yang indah atau taman-taman indah dan  pemandangan yang menakjubkan, namun tidak seorangpun di sekitarnya yang  melihatnya. Kejadian itu dialami sebagian orang-orang shalih. Mereka  menggambarkan sendiri apa yang mereka lihat pada saat sakaratul maut  tersebut dalam keadaan sangat berbahagia, sedangkan orang-orang di  sekitar mereka tampak terkejut dan tercengang saja.</li>
</ul>
<p><strong>Bagaimana kita menyambut kematian?</strong></p>
<p>Saudara tercinta, sambutlah sang kematian dengan hal-hal berikut :</p>
<ul>
<li> Dengan iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para  Rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk.</li>
<li>Dengan menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya di masjid  secara berjama’ah bersama kaum muslim dengan menjaga kekhusyu’an dan  merenungi maknanya. Namun, shalat wanita di rumahnya lebih baik daripada  di masjid.</li>
<li>Dengan mengeluarkan zakat yang diwajibkan sesuai dengan takaran dan  cara-cara yang disyari’atkan.</li>
<li>Dengan melakukan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap  pahala.</li>
<li>Dengan melakukan haji mabrur, karena pahala haji mabrur pasti surga.  Demikian juga umrah di bulan Ramadhan, karena pahalanya sama dengan  haji bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, yakni setelah melaksanakan  yang wajib. Baik itu shalat, zakat, puasa maupun haji. Allah  menandaskan dalam sebuah hadits qudsi, <em>“Seorang hamba akan terus  mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku  mencintai-Nya”</em></li>
<li>Dengan segera bertobat secara ikhlas dari segala perbuatan maksiat  dan kemungkaran, kemudian menanamkan tekad untuk mengisi waktu dengan  banyak memohon ampunan, berdzikir, dan melakukan ketaatan.</li>
<li>Dengan ikhlas kepada Allah dan meninggalkan riya dalam segala  ibadah, sebagaimana firman Allah yang artinya, <em>“Padahal mereka tidak  disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan  kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus”</em> (QS. Al Bayyinah [98] :  5)</li>
<li>Dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya.</li>
<li>Hal itu hanya sempurna dengan mengikuti ajaran Nabi, sebagaimana  yang Allah firmankan yang artinya, <em>“Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni  dosa-dosamu’. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang”</em> (QS. Ali Imran  [3] : 31)</li>
<li>Dengan mencintai seseorang karena Allah dan membenci seseorang  karena Allah, berloyalitas karena Allah dan bermusuhan karena Allah.  Konsekuensinya adalah mencintai kaum mukmin meskipun saling berjauhan  dan membenci orang kafir meskipun dekat dengan mereka.</li>
<li>Dengan rasa takut kepada Allah, dengan mengamalkan ajaran kitab-Nya,  dengan ridha terhadap rezeki-Nya meski sedikit, namun bersiap diri  menghadapi Hari Kemudian. Itulah hakikat dari takwa.</li>
<li>Dengan bersabar menghadapi cobaan, bersyukur kala mendapatkan  kenikmatan, selalu mengingat Allah dalam suasana ramai atau dalam  kesendirian, serta selalu mengharapkan keutamaan dan karunia dari Allah.  Dan lain-lain</li>
</ul>
<p>(dicuplik dari <em>Misteri Menjelang Ajal, Kisah-Kisah Su’ul Khatimah  dan Husnul Khatimah</em>, penerjemah Al Ustadz Abu ‘Umar Basyir  <em>hafizhahullah</em>). Semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi kita  Muhammad, kepada sanak keluarga beliau dan para sahabat beliau</p>
<p>Penyusun ulang: Ari Wahyudi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Ilmu Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/keutamaan-ilmu-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/keutamaan-ilmu-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 13:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1525</guid>
		<description><![CDATA[Dari Utsman bin Affan radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada yang sesembahan -yang benar- selain Allah, niscaya masuk surga.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [2/64]) Hadits yang agung &#8230; <a href="http://abumushlih.com/keutamaan-ilmu-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-ilmu-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-ilmu-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Utsman bin Affan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada yang sesembahan -yang benar- selain Allah, niscaya masuk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/64])</p>
<p><span id="more-1525"></span>Hadits yang agung ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Ilmu -mengetahui maksudnya- merupakan salah satu syarat la      ilaha illallah (lihat <em>at-Tanbihat al-Mukhtasharah</em>, hal. 43).      Maknanya, jika seseorang mengucapkan la ilaha illallah tanpa mengerti      maknanya maka syahadatnya belum bisa diterima.</li>
<li>Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang melahirkan      amalan. Dia mengetahui bahwa sesembahan yang benar hanya Allah dan dia pun      menyembah-Nya serta tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dalilnya      adalah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits yang      lain, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan      Allah dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa      yang meninggal dalam keadaan mempersektukan Allah dengan sesuatu apapun      maka dia akan masuk neraka.”</em> (HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah <em>radhiyallahu&#8217;anuma</em>,      lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/164-165])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa tinggi keutamaan ilmu tauhid. Karena      ilmu tentang tauhid inilah yang akan mengantarkan seorang hamba menuju      surga-Nya. Dengan syarat orang tersebut harus mengamalkannya dan tidak      melakukan pembatalnya. Orang yang tidak melakukan kesyirikan -dan dosa      lain yang serupa- pasti masuk surga (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/168])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa orang musyrik di akherat kelak      kekal di dalam neraka. Sama saja apakah dia itu berasal dari kalangan Ahli      Kitab; Yahudi dan Nasrani, pemuja berhala       ataupun segenap golongan orang kafir yang lainnya. Bahkan hukum ini      -kekal di neraka- juga berlaku umum bagi mereka yang memeluk agama selain      Islam ataupun mengaku Islam padahal telah dihukumi kekafiran akibat      tindakan kemurtadan yang dilakukannya kemudian mati di atas keyakinannya      tersebut (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/168])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa pahala bagi amalan manusia di      akherat nanti ditentukan di saat akhir kehidupannya. <em>Innamal a&#8217;malu bil      khawatim</em>.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan tidak mungkin bersatu antara Islam dan      kekafiran. Maka bagaimanakah lagi orang yang mengatakan bahwa mereka      menganut ajaran Islam Liberal?!</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar kebutuhan umat manusia      kepada ilmu tauhid, sebab apabila mereka tidak memahaminya akan sangat      besar kemungkinannya mereka melanggarnya -berbuat syirik- dalam keadaan      tidak sadar kemudian meninggal di atasnya, <em>wal &#8216;iyadzu billah!</em></li>
<li>Wajib mengimani adanya surga dan segala kenikmatan yang ada di      dalamnya</li>
<li>Surga hanya dimasuki oleh orang-orang yang bertauhid. Maka      hadits ini menjadi bantahan yang sangat telak bagi kaum Liberal dan      Pluralis yang menggembar-gemborkan paham Islam Liberal. Di antara contoh      keyakinan mereka yang sangat menjijikkan adalah ucapan salah seorang tokoh      mereka, <em>“Kalau surga itu hanya dihuni oleh orang Islam saja, maka      tentunya mereka akan kesepian.” Maha Suci Allah dari apa yang mereka      ucapkan. </em>Ada seorang teman yang menceritakan kepada kami sebuah kisah      yang didengarnya dari salah seorang ustadz. Suatu ketika seseorang berkata      kepada temannya sesama tukang becak, <em>“Surga itu seperti alun-alun      Kraton Yogyakarta. Dari mana saja orang datang dan melewati jalan manapun,      tidak masalah. Yang penting akhirnya mereka juga sampai ke sana.”</em> Maka      temannya menjawab dengan lugas, <em>“Itu &#8216;kan surganya Mbah -Moyang- mu!”</em></li>
<li>Hadits ini mengandung dorongan untuk memahami dan mengamalkan      tauhid dengan sebenar-benarnya serta dorongan untuk menjauhi segala macam      bentuk kesyirikan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/keutamaan-ilmu-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidayah Itu Mahal, Ya Akhi&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/hidayah-itu-mahal-ya-akhi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/hidayah-itu-mahal-ya-akhi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 11:40:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ajal]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[Hidayah adalah kebutuhan hidup manusia yang paling utama. Bagaimana tidak, lha wong setiap hari di setiap kali sholat -bahkan di setiap raka&#8217;at- orang-orang yang beriman senantiasa diperintahkan untuk meminta hal itu kepada Rabbnya. Ihdinash shirathal mustaqim&#8230; Meskipun demikian, kita dapati &#8230; <a href="http://abumushlih.com/hidayah-itu-mahal-ya-akhi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhidayah-itu-mahal-ya-akhi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhidayah-itu-mahal-ya-akhi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hidayah adalah kebutuhan hidup manusia yang paling utama. Bagaimana tidak,<em> lha wong</em> setiap hari di setiap kali sholat -bahkan di setiap raka&#8217;at- orang-orang yang beriman senantiasa diperintahkan untuk meminta hal itu kepada Rabbnya. <em>Ihdinash shirathal mustaqim&#8230;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Meskipun demikian, kita dapati sebagian orang -bahkan banyak di antara mereka- yang menyepelekan hidayah yang agung ini atau menyia-nyiakannya. Betapa banyak di antara mereka yang telah diberikan hidayah oleh Allah untuk memeluk agama Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat, menjalankan sholat, membayarkan zakat, berpuasa Ramadhan, bahkan bisa menunaikan ibadah haji ke<em> Baitullah</em>. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit di antara mereka yang tidak menyadari betapa besar anugerah yang Allah berikan kepada mereka. Akibatnya mereka pun menyia-nyiakan nikmat yang agung ini. Nikmat hidayah, <em>Subhanallah!</em></p>
<p><em><span id="more-1194"></span></em></p>
<p>Saudaraku, kisah berikut ini mungkin akan menyadarkan mereka yang lalai akan nikmat yang agung ini. Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Shahih mereka berdua, dari Sa&#8217;id bin al-Musayyab dari bapaknya, bahwa pada saat kematian sudah hampir menemui Abu Thalib -paman Nabi- maka datanglah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menemuinya. Namun ternyata di sisi pamannya itu telah dijumpainya Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan, <em>“Wahai pamanku, ucapkanlah la ilaha illallah, sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untukmu di sisi Allah.”</em> Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu benci kepada ajaran Abdul Muthallib -ayahmu-?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan ajakan itu kepada pamannya dan mengulang-ulang ucapan tadi. Sampai pada akhirnya Abu Thalib mengatakan di akhir pembicaraannya kepada mereka bahwa dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan la ilaha illallah&#8230; (lihat <em>Syarh Muslim li an-Nawawi</em> [2/60-61])</p>
<p>Dari kisah ini kita dapat mengetahui betapa tinggi dan mahalnya nilai hidayah. Siapakah Nabi Muhammad dan siapakah Abu Thalib? Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah seorang utusan Allah yang malaikat pun bersedia menawarkan bantuan kepadanya atas izin Allah. Adapun Abu Thalib adalah pamannya sendiri yang selama hidup senantiasa membela Nabi dan melindunginya dari tekanan dan ancaman kaum kafir Quraisy. Meskipun demikian, lihatlah&#8230; bagaimana kondisinya menjelang ajal. Di saat semua orang membutuhkan keimanan, di saat itu pun ternyata kalimat tauhid pun tidak kunjung dia ucapkan. Dia enggan, padahal dia telah mengetahui bahwa ajaran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah kebenaran. Taufik di tangan Allah.</p>
<p>Hati manusia -<em>ayyuhal ikhwah</em>- berada di antara jari-jemari ar-Rahman yang Allah akan membolak-balikkannya sebagaimana yang Allah kehendaki. Apakah kita merasa aman dari <em>su&#8217;ul khatimah</em>? <em>Subhanallah</em>&#8230; Ingatlah, bahwa kita tidak akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus kecuali dengan nikmat hidayah dari Allah, bahkan kita tidak bisa menemukan jalan yang lurus itu kalau seandainya Allah tidak membimbing kita menujunya. Maka sadarilah nikmat yang agung ini, dan hargailah ia sebagaimana mestinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang sahabat di dalam sya&#8217;irnya,</p>
<p><em>“Kalau bukan karena Allah niscaya</em></p>
<p><em>kami tidak mendapatkan hidayah,</em></p>
<p><em>dan tidak menunaikan sholat&#8230;”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sungguh, sebuah kisah yang menyimpan banyak pelajaran berharga. Di antara pelajaran dari hadits di atas adalah:</p>
<ol>
<li>Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak      menguasai pemberian hidayah/taufik, bagi dirinya sendiri apalagi bagi      orang lain. Demikian juga pemberian syafa&#8217;at, bukan milik beliau!      (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan      hidayah kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang kuasa      memberikan hidayah kepada orang yang Allah kehendaki&#8230;”</em> (QS.      al-Qashash: 56)</li>
<li>Tingginya semangat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa      sallam</em> dalam berupaya menyampaikan hidayah ke dalam hati orang yang      didakwahi terlebih lagi jika mereka adalah sanak familinya sendiri      (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Kisah ini menunjukkan besarnya keutamaan tauhid.      Oleh sebab itu kita tidak boleh sedikitpun mempersembahkan doa/ibadah      kepada selain Allah (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di      Kaliurang)</li>
<li>Datangnya taufik itu semata-mata bersumber dari      Allah (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Kedudukan Nabi tidak boleh ditinggikan melebihi      kedudukan Allah (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di      Kaliurang)</li>
<li>Menceritakan kekafiran yang dilakukan orang lain      tidak selayaknya menggunakan kata ganti pertama -saya- (Keterangan Syaikh      Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Meskipun kalimat tauhid itu ringan dan mudah      diucapkan, namun ternyata tidak bisa mengucapkannya melainkan orang yang      mendapatkan taufik dari Allah <em>ta&#8217;ala</em> (Keterangan Syaikh Walid dalam      Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Keluarga dan persahabatan itu memiliki pengaruh      terhadap agama seseorang (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih      Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Orang yang meninggal di atas kemusyrikan maka dia      akan berada kekal di neraka Jahannam. Dan dia dihukumi sebagai orang yang      berhak masuk neraka/ash-haabul jahiim (Keterangan Syaikh Walid dalam      Daurah Shahih Muslim di Kaliurang). Semoga Allah menyelamatkan kita      darinya&#8230;</li>
<li>Disyari&#8217;atkannya menuntun orang yang sekarat/akan      meninggal untuk mengucapkan la ilaha illallah, yaitu dengan      memerintahkannya mengucapkan la ilaha illallah sebagaimana yang dilakukan      oleh Nabi, bukan hanya sekedar mengingatkannya -tanpa memerintah-      (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Bolehnya mendoakan agar orang-orang musyrik mendapatkan      hidayah (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Disyari&#8217;atkannya menyambung tali kekerabatan      meskipun dengan saudara yang kafir (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah      Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
<li>Diperbolehkannya menjenguk orang kafir yang sakit      dengan maksud mendakwahi atau menarik simpati mereka supaya masuk Islam      (Keterangan Syaikh Walid dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)</li>
</ol>
<p>Hidayah ini mahal wahai saudaraku&#8230;</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah mengingatkan kita bahwa jalan yang lurus ini adalah jalan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah, bukan jalan semua orang yang mencarinya. Ini artinya, orang hanya akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus ini jika dia diberikan nikmat taufik dari Allah<em> ta&#8217;ala</em>, bukan semata-mata hasil jerih payah dan usaha dirinya sendiri. Hidayah itu adalah nikmat, <em>ikhwah</em> sekalian&#8230;</p>
<p>Lihatlah, berapa banyak kita saksikan sebagian orang yang dulunya punya komitmen dengan ajaran agama dan menampakkan diri sebagai seorang yang bermanhaj lurus, namun perjalanan hidup dan dunia kerja telah merubah dirinya. Jilbabnya yang dulu lebar dan rapat kini menjadi menjadi sempit dan ketat. Jenggotnya yang dulu lebat kini pun habis dibabat. Celananya yang dulu berada di atas mata kaki, kini telah terjuntai menyapu bumi. Sholat lima waktunya yang dulu berjama&#8217;ah kini pun cukup di rumah. Matanya yang dulu tertunduk ketika melihat lawan jenis kinipun tertengadah. Telinganya yang dulu benci mendengar musik, kini telah larut dalam alunan nada-nadanya&#8230; <em>Subhanallah</em>! Bagaimanakah nasib kita, saudara-saudaraku sekalian&#8230; Akankah kita berbalik ke belakang, kembali ke alam kejahiliyahan&#8230;? Padahal anugerah hidayah itu telah kita jumpai, namun sayang seribu sayang kita sering melalaikan dan menyia-nyiakannya, <em>nas&#8217;alullahat taufiq was salamah..</em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman niscaya Kami akan membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan yang dipilihnya, dan kelak Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 115). Allah <em>ta&#8217;ala</em> memerintahkan (yang artinya), <em>“Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.”</em> (QS. al-Baqarah: 152).</p>
<p>Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa&#8217;i dan Abu Dawud, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, <em>“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu -karena Allah- janganlah kau lupakan untuk membaca doa di setiap akhir sholat, yaitu: Allahumma a&#8217;inni &#8216;ala dzikrika wa syukrika wa husni &#8216;ibadatik &#8216;Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu&#8217;.”</em> (Hadits ini disahihkan al-Albani dalam <em>Shahih Sunan Abu Dawud</em>, lihat takhrij kitab <em>al-Fawa&#8217;id</em> cet. Dar al-&#8217;Aqidah hal. 124)</p>
<p>Kami sadar bahwa apa yang kami tulis ini sangat jauh dari kesempurnaan, namun hanya satu yang kami harapkan bahwa tulisan ini bisa mengetuk hati kita semua untuk segera kembali bertaubat kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari segala kesalahan dan penyimpangan kita. Ingatlah, <em>ya akhi</em>&#8230; kematian pasti tiba di hadapan kita. Sementara kita tidak tahu, kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Oleh sebab itu marilah kita hiasi nafas-nafas kita dengan dzikir kepada-Nya. Marilah kita isi hati kita dengan cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Marilah kita tundukkan lisan dan anggota badan kita untuk taat kepada Rabb penguasa alam semesta, Raja yang menguasai hari pembalasan. Masih ada waktu untuk berbenah, mumpung badan belum berkalang tanah&#8230; Allah<em> ta&#8217;ala</em> masih memberikan kesempatan bagi kita untuk bersimpuh di hadapan-Nya dan menyesali dosa-dosa kita di masa silam.</p>
<p>Marilah kita perbanyak membaca sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada manusia terbaik sesudahnya yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>ketika dia meminta kepada Nabi untuk diajari doa di dalam sholat dan ketika sedang berada di rumah. <em>&#8216;Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsiran wa la yaghfirudz dzunuba illa anta. Faghfirli maghfiratan min &#8216;indik warhamni. Innaka antal Ghafurur Rahim.&#8217;</em> <em>Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, sementara tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain diri-Mu. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan sayangilah aku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim li an-Nawawi</em> [8/296])</p>
<p>Akhir seruan kami adalah segala puji hanya bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Salawat beriring salam semoga selalu tercurah kepada Nabi akhir zaman, para sahabatnya, dan segenap pengikut mereka yang setia dengan Sunnahnya.</p>
<p>Yogyakarta, 4 Dzulqo&#8217;dah 1430 H<br />
Yang sangat membutuhkan bimbingan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
<em>-semoga Allah menunjukinya-</em></p>
<p>http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/hidayah-itu-mahal-ya-akhi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Menyambut Kematian</title>
		<link>http://abumushlih.com/perjalanan-menyambut-kematian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/perjalanan-menyambut-kematian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 17:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khatimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1048</guid>
		<description><![CDATA[Kematian, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia tidak mau menerima pengunduran &#8230; <a href="http://abumushlih.com/perjalanan-menyambut-kematian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperjalanan-menyambut-kematian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperjalanan-menyambut-kematian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em> Kematian</em>, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekalipun. Karena bukanlah sifat malaikat seperti manusia, yang zalim dan jahil.</p>
<p><span id="more-1048"></span></p>
<p>Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai, tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa. Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ? Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan engkau jera ?</p>
<p><strong>Sebab-sebab su’ul khatimah</strong></p>
<p>Saudaraku seiman mudah -mudahan Allah memberikan taufik kepada Anda- ketahuilah bahwa su’ul khatimah tidak akan terjadi pada diri orang yang shalih secara lahir dan batin di hadapan Allah. Terhadap orang-orang yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya, tidak pernah terdengar cerita bahwa mereka su’ul khotimah. Su’ul khotimah hanya terjadi pada orang yang rusak batinnya, rusak keyakinannya, serta rusak amalan lahiriahnya; yakni terhadap orang-orang yang nekat melakukan dosa-dosa besar dan berani melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Kemungkinan semua dosa itu demikian mendominasi dirinya sehingga ia meninggal saat melakukannya, sebelum sempat bertaubat dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa su’ul khotimah memiliki berbagai sebab yang banyak jumlahnya. Di antaranya yang terpokok adalah sebagai berikut :</p>
<ul>
<li> Berbuat syirik kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada hakikatnya syirik adalah ketergantungan hati kepada selain Allah dalam bentuk rasa cinta, rasa takut, pengharapan, do’a, tawakal, inabah (taubat) dan lain-lain.</li>
<li>Berbuat bid’ah dalam melaksanakan agama. Bid’ah adalah menciptakan hal baru yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Penganut bid’ah tidak akan mendapat taufik untuk memperoleh husnul khatimah, terutama penganut bid’ah yang sudah mendapatkan peringatan dan nasehat atas kebid’ahannya. Semoga Allah memelihara diri kita dari kehinaan itu.</li>
<li>Terus menerus berbuat maksiat dengan menganggap remeh dan sepele perbuatan-perbuatan maksiat tersebut, terutama dosa-dosa besar. Pelakunya akan mendapatkan kehinaan di saat mati, disamping setan pun semakin memperhina dirinya. Dua kehinaan akan ia dapatkan sekaligus dan ditambah lemahnya iman, akhirnya ia mengalami su’ul khotimah.</li>
<li>Melecehkan agama dan ahli agama dari kalangan ulama, da’i, dan orang-orang shalih serta ringan tangan dan lidah dalam mencaci dan menyakiti mereka.</li>
<li>Lalai terhadap Allah dan selalu merasa aman dari siksa Allah. Allah berfirman yang artinya, “Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raaf [7] : 99)</li>
<li>Berbuat zalim. Kezaliman memang ladang kenikmatan namun berakibat menakutkan. Orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang paling layak meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al An’aam [6] : 44)</li>
<li>Berteman dengan orang-orang jahat. Allah berfirman yang artinya, “(Ingatlah) hari ketika orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan yang lurus bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrabku” (QS. Al Furqaan [25] : 27-28)</li>
<li>Bersikap ujub. Sikap ujub pada hakikatnya adalah sikap seseorang yang merasa bangga dengan amal perbuatannya sendiri serta menganggap rendah perbuatan orang lain, bahkan bersikap sombong di hadapan mereka. Ini adalah penyakit yang dikhawatirkan menimpa orang-orang shalih sehingga menggugurkan amal shalih mereka dan menjerumuskan mereka ke dalam su’ul khotimah.</li>
</ul>
<p>Demikianlah beberapa hal yang bisa menyebabkan su’ul khotimah. Kesemuanya adalah biang dari segala keburukan, bahkan akar dari semua kejahatan. Setiap orang yang berakal hendaknya mewaspadai dan menghindarinya, demi menghindari su’ul khotimah.</p>
<p><strong>Tanda-tanda husnul khotimah</strong></p>
<p>Tanda-tanda husnul khotimah cukup banyak. Di sini kami menyebutkan sebagian di antaranya saja :</p>
<ul>
<li> Mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah saat meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapan dari hidupnya adalah laa ilaaha illallaah, pasti masuk surga” (HR. Abu Dawud dll, dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil)</li>
<li>Meninggal pada malam Jum’at atau pada hari Jum’at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap muslim yang meninggal pada hari atau malam Jum’at pasti akan Allah lindungi dari siksa kubur” (HR.Ahmad)</li>
<li>Meninggal dengan dahi berkeringat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang mukmin itu meninggal dengan berkeringat di dahinya” (HR. Ahmad, Tirmidzi dll. dishahihkan Al Albani)</li>
<li>Meninggal karena wabah penyakit menular dengan penuh kesabaran dan mengharapkan pahala dari Allah, seperti penyakit kolera, TBC dan lain sebagainya</li>
<li>Wanita yang meninggal saat nifas karena melahirkan anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang meninggal karena melahirkan anaknya berarti mati syahid. Sang anak akan menarik-nariknya dengan riang gembira menuju surga” (HR. Ahmad)</li>
<li>Munculnya bau harum semerbak, yakni yang keluar dari tubuh jenazah setelah meninggal dan dapat tercium oleh orang-orang di sekitarnya. Seringkali itu didapatkan pada jasad orang-orang yang mati syahid, terutama syahid fi sabilillah.</li>
<li>Mendapatkan pujian yang baik dari masyarakat sekitar setelah meninggalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati jenazah. Beliau mendengar orang-orang memujinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Pasti (masuk) surga” Beliau kemudian bersabda, “kalian adalah para saksi Allah di muka bumi ini” (HR. At Tirmidzi)</li>
<li>Melihat sesuatu yang menggembirakan saat ruh diangkat. Misalnya, melihat burung-burung putih yang indah atau taman-taman indah dan pemandangan yang menakjubkan, namun tidak seorangpun di sekitarnya yang melihatnya. Kejadian itu dialami sebagian orang-orang shalih. Mereka menggambarkan sendiri apa yang mereka lihat pada saat sakaratul maut tersebut dalam keadaan sangat berbahagia, sedangkan orang-orang di sekitar mereka tampak terkejut dan tercengang saja.</li>
</ul>
<p><strong>Bagaimana kita menyambut kematian?</strong></p>
<p>Saudara tercinta, sambutlah sang kematian dengan hal-hal berikut :</p>
<ul>
<li> Dengan iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk.</li>
<li>Dengan menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya di masjid secara berjama’ah bersama kaum muslim dengan menjaga kekhusyu’an dan merenungi maknanya. Namun, shalat wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjid.</li>
<li>Dengan mengeluarkan zakat yang diwajibkan sesuai dengan takaran dan cara-cara yang disyari’atkan.</li>
<li>Dengan melakukan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala.</li>
<li>Dengan melakukan haji mabrur, karena pahala haji mabrur pasti surga. Demikian juga umrah di bulan Ramadhan, karena pahalanya sama dengan haji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</li>
<li>Dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, yakni setelah melaksanakan yang wajib. Baik itu shalat, zakat, puasa maupun haji. Allah menandaskan dalam sebuah hadits qudsi, “Seorang hamba akan terus mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku mencintai-Nya”</li>
<li>Dengan segera bertobat secara ikhlas dari segala perbuatan maksiat dan kemungkaran, kemudian menanamkan tekad untuk mengisi waktu dengan banyak memohon ampunan, berdzikir, dan melakukan ketaatan.</li>
<li>Dengan ikhlas kepada Allah dan meninggalkan riya dalam segala ibadah, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah [98] : 5)</li>
<li>Dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya.</li>
<li>Hal itu hanya sempurna dengan mengikuti ajaran Nabi, sebagaimana yang Allah firmankan yang artinya, “Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (QS. Ali Imran [3] : 31)</li>
<li>Dengan mencintai seseorang karena Allah dan membenci seseorang karena Allah, berloyalitas karena Allah dan bermusuhan karena Allah. Konsekuensinya adalah mencintai kaum mukmin meskipun saling berjauhan dan membenci orang kafir meskipun dekat dengan mereka.</li>
<li>Dengan rasa takut kepada Allah, dengan mengamalkan ajaran kitab-Nya, dengan ridha terhadap rezeki-Nya meski sedikit, namun bersiap diri menghadapi Hari Kemudian. Itulah hakikat dari takwa.</li>
<li>Dengan bersabar menghadapi cobaan, bersyukur kala mendapatkan kenikmatan, selalu mengingat Allah dalam suasana ramai atau dalam kesendirian, serta selalu mengharapkan keutamaan dan karunia dari Allah. Dan lain-lain</li>
</ul>
<p>(dicuplik dari <em>Misteri Menjelang Ajal, Kisah-Kisah Su’ul Khatimah dan Husnul Khatimah</em>, penerjemah Al Ustadz Abu ‘Umar Basyir hafizhahullah). Semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada sanak keluarga beliau dan para sahabat beliau</p>
<p>Penyusun: Ari Wahyudi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/perjalanan-menyambut-kematian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tangis Haru Syeikh al-Albani</title>
		<link>http://abumushlih.com/tangis-haru-syeikh-al-albani.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tangis-haru-syeikh-al-albani.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 19:22:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Albani]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1032</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Halaman fb al-Akh Ibnu Daili -semoga Allah membalas kebaikannya- Kisah mimpi seorang ukhti Aljazair yang bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jalannya diikuti oleh Syeikh Al-Albani. Sebuah percakapan seorang muslimah dengan Syeikh Al Albani yang berkomunikasi melalui &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tangis-haru-syeikh-al-albani.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftangis-haru-syeikh-al-albani.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftangis-haru-syeikh-al-albani.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Sumber: Halaman fb al-Akh Ibnu Daili -semoga Allah membalas kebaikannya-</p>
<p>Kisah mimpi seorang ukhti Aljazair yang bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jalannya diikuti oleh Syeikh Al-Albani. Sebuah percakapan seorang muslimah dengan Syeikh Al Albani yang berkomunikasi melalui telephone, pada saa&#8230;t Syeikh Al Albani sedang ceramah di suatu majelis ta&#8217;lim.yang menceritakan tentang mimpi tersebut bahwasanya Syeikh Al Albani telah mengikuti jalannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p><span id="more-1032"></span></p>
<p>Muslimah tersebut bermaksud mengabarkan kepada beliau rahimahullah sebagai kabar gembira. Namun ternyata beliau rahimahullah menyambutnya dengan tangisan haru, karena merasa terlalu rendah untuk itu. Berikut terjemahan percakapan tersebut : Ukhti: Syeikh, seorang akhwat di Aljazair pernah bermimpi…mudah-mudahan ini adalah sebuah kabar gembira… Syeikh Al Albani: Khairan Rayti…(Semoga kebaikan yang ukhti saksikan) ! Ukhti : Insya Allah…Syeikh, apakah ada dalil yang menegaskan bahwa jika ada orang yang menceritakan mimpinya kepada kita, lalu kita mengatakan: Khairan rayti (semoga kebaikan yang engkau saksikan) ? Syeikh Al Albani : Tidak…ucapan ini tidak tsabit, tapi tidak mengapa untuk sesekali digunakan… Ukhti: Semoga Allah memberkahi Anda… Syeikh Al Albani : Semoga ukhti juga demikian… Ukhti : Baik, sang ukhti tersebut bermimpi melihat dirinya berada di sebuah balkon yang menghadap ke sebuah jalan….maka tiba-tiba di jalan itu, sang ukhti melihat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam…ukhti itu melihat saya berdiri di dekat Rasulullah dan saya tersenyum kepada beliau, lalu beliau pun tersenyum kepada saya &#8230; kemudian beliau berlalu meninggalkan jalan itu … tidak lama kemudian, kami melihat seorang Syeikh yang juga berjalan di jalan itu … kamipun mengucapkan salam kepadanya: “Assalamu ‘alaikum…” kemudian Syeikh itu menjawab: “Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh…”,</p>
<p>Syeikh itu bertanya: “Apakah kalian melihat Rasulullah ? Kami pun menjawab: Iya, kami melihat beliau ….. Maka kami pun menunjukkan jalan yang dilalui (Rasulullah). Maka Syeikh itu pun menapaki jalan tepat di jejak kaki rasulullah dan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ukhti tersebut bertanya kepada saya: Siapakah gerangan Syeikh itu ? Maka saya pun menjawab: (Dan ini mudah-mudahan kabar gembira untuk Anda, wahai Syeikh…) Itu adalah … Syeikh Al-Albani … (dan saya katakan bahwa mudah-mudahan ini adalah kabar gembira untuk Syeikh, bahwasanya Syeikh telah berjalan di atas jalan Sunnah…Insya Allah … ( TERDENGAR SYEIKH AL ALBANI MULAI SESENGGUKAN MENANGIS )</p>
<p>Ukhti: Bagaimana menurut Anda, wahai Syeikh &#8230;.. ? ( SYEIKH AL ALBANI HANYA TERDIAM DAN MENANGIS….LALU MENUTUP TELEPHONE…BELIAU DIAM DAN MENANGIS DALAM WAKTU YANG CUKUP LAMA…KEMUDIAN BELIAU MEMINTA MURID-MURIDNYA YANG HADIR DI MAJELIS ITU UNTUK PULANG … ) Syeikh Al Albani : Pulanglah kalian, wahai ikhwan … &#8221;</p>
<p>Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah seorang penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika kau tidak bisa mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka.&#8221; [ ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah – (61 – 101 H) ] [ Khalifah 8 Bani Umayyah – (99 – 101 H) ]</p>
<p>Dengarkan rekaman suara percakapan tersebut beserta terjemahnya ke dalam bahasa Inggris di link berikut ini <a href="http://alqiyamah.wordpress.com/2009/04/18/syaikh-albani-pun-menangis/" target="_blank">http://alqiyamah.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tangis-haru-syeikh-al-albani.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk apa kita hidup?</title>
		<link>http://abumushlih.com/untuk-apa-kita-hidup.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/untuk-apa-kita-hidup.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 15:18:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=704</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang Merajai pada hari pembalasan. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman, da&#8217;i yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yang menerangkan kepada umat manusia &#8230; <a href="http://abumushlih.com/untuk-apa-kita-hidup.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Funtuk-apa-kita-hidup.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Funtuk-apa-kita-hidup.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang Merajai pada hari pembalasan. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman, da&#8217;i yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yang menerangkan kepada umat manusia wahyu yang diturunkan kepada mereka, dan sosok teladan terbaik bagi segenap umat manusia. Amma ba&#8217;du.</p>
<p><span id="more-704"></span>Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Hai umat manusia sembahlah Rabb kalian, Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.&#8221; (QS. al-Baqarah : 21). Beribadah kepada Allah merupakan sebuah amanah agung yang diletakkan di atas pundak segenap keturunan Adam alaihis salam dan juga saudara-saudara mereka dari bangsa jin. Inilah kewajiban terbesar umat manusia yang harus mereka tunaikan kepada Rabb mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.&#8221; (QS. ad-Dzariyat : 56). Allah ta&#8217;ala memerintah dan melarang (yang artinya), &#8220;Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217; : 36).</p>
<p><strong>Apa yang dimaksud dengan ibadah?</strong><br />
Setiap muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tentu mengetahui hal ini; bahwa mereka hidup adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Namun, banyak orang yang terjerumus dalam kekeliruan dalam memaknai ibadah di dalam kehidupan mereka. Sebagian orang menganggap bahwa ibadah hanya terkait dengan urusan masjid dan ibadah ritual belaka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang lebih penting adalah menjalin hubungan baik dengan sesama manusia tanpa memperdulikan agama mereka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang paling penting saat ini adalah terjun di dalam pertarungan di panggung politik untuk mendapatkan kekuasaan bagi kemenangan kaum muslimin.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menerangkan hakikat ibadah ini dalam salah satu karyanya al-&#8217;Ubudiyah bahwa ibadah merupakan istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tidak. Sebagian ulama lainnya mengungkapkan bahwa ibadah ialah menaati Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Ibadah dibangun di atas dua pondasi utama; yaitu pengagungan kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya. Segala bentuk ibadah tidak akan diterima kecuali apabila murni untuk Allah dan dilakukan dengan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Ibadah seperti itulah yang akan mengantarkan seorang muslim berjumpa dengan Rabbnya dengan penuh suka cita. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabbnya, hendaklah dia beramal salih dan tidak mempersekutukan Rabbnya dengan apa pun dalam beribadah kepada-Nya.&#8221; (QS. al-Kahfi : 110).</p>
<p><strong>Amal salih, bekal mengarungi kehidupan</strong><br />
Banyak orang mengira bahwa dengan harta dan jabatan maka seorang akan bisa hidup dengan penuh kenikmatan di alam dunia ini. Oleh sebab itu mereka mengejar-ngejar dunia bahkan lebih mengutamakannya daripada mengejar akhirat. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa dunia ini hanyalah sementara. Hari ini kita masih bernafas, boleh jadi esok atau lusa tubuh kita sudah bermandikan tanah alias mati. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Setiap jiwa pasti merasakan kematian, sesungguhnya pahala atas amal-amal kalian hanya akan disempurnakan pada hari kiamat kelak. Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung, sedangkan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.&#8221; (QS. Ali Imran : 185). Allah juga berfirman (yang artinya), &#8220;Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sekedar permainan dan kesia-siaan, dan sungguh negeri akhirat itu pasti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, mengapa kalian tidak mau memikirkan?&#8221; (QS. al-An&#8217;aam : 32).</p>
<p>Hanya dengan iman dan amal salih seorang manusia bisa merasakan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang tidak hanya berlangsung sesaat di muka bumi, akan tetapi terus berlanjut hingga di negeri akhirat nanti. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak akan merasa takut dan tidak pula merasa sedih; yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa menjaga ketakwaan. Bagi mereka kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan terhadap ketetapan Allah, itulah kemenangan yang sangat besar.&#8221; (QS. Yunus : 10). Barangsiapa yang menjadikan kesenangan dunia sebagai puncak cita-cita dan angan-angan hidupnya maka Allah akan berikan itu semua kepada mereka, dan di akhirat mereka tidak akan mendapatkan apa-apa selain siksa. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Barangsiapa yang mengingkan kehidupan dunia beserta perhiasannya, maka Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan atas amal mereka di dunia dan mereka sama sekali tidak dirugikan, mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh bagian di akhirat melainkan neraka, dan lenyaplah sudah apa yang mereka perbuat dan sia-sialah amal yang mereka lakukan di sana.&#8221; (QS. Huud : 15).</p>
<p><strong>Hanya orang beriman sajalah yang kokoh</strong><br />
Cobaan hidup merupakan perkara yang wajar dan pasti dirasakan oleh umat manusia. Sakit dan sehat, miskin dan kaya, susah dan senang, sedih dan gembira, sempit dan lapang, merupakan bagian dari pernik hidup yang memaksa manusia untuk menentukan sikap dalam menyikapi semuanya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.&#8221; (QS. al-Mulk : 2). Ketika umat manusia mencoba berpaling dari tuntunan Rabb mereka dalam mengatasi problematika hidup ini maka manusia akan sengsara. Sebaliknya, apabila mereka mau taat dan tunduk kepada syari&#8217;at Rabb mereka maka kesejatian hidup dan ketenangan dalam menerima cobaan akan senantiasa mereka dapatkan. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat&#8230;&#8221; (QS. Ibrahim : 27). Allah juga berfirman (yang artinya), &#8220;Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) maka mereka itu sajalah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang benar-benar mendapat petunjuk.&#8221; (QS. al-An&#8217;aam : 82).</p>
<p>Hanya ada satu jalan!<br />
Setiap orang menyangka bahwa apa yang mereka yakini adalah kebenaran dan setiap golongan merasa bahwa keberuntungan ada di pihak mereka, namun semua dakwaan membutuhkan pembuktian. Hanya ada satu jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan yang sejati di dunia dan di akhirat. Itulah jalan yang setiap kali sholat diminta oleh seorang mukmin kepada Rabbnya, &#8220;Ya Allah tunjukilah kepada kami jalan yang lurus.&#8221; Inilah jalan yang mengantarkan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para pejuang yang mati syahid serta orang-orang salih. Sebuah jalan yang telah ditetapkan oleh Rabbul &#8216;alamin. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Dan tidaklah pantas bagi seorang beriman, laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat nyata.&#8221; (QS. al-Ahzab : 36).</p>
<p>Bahkan Allah menafikan keimanan dari diri orang-orang yang tidak mau melapangkan dadanya menerima keputusan utusan ar-Rahman al-Hakim. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Maka demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikan engkau (wahai Muhammad) sebagai hakim atas segala perselisihan yang terjadi di antara mereka kemudian mereka tidak menemui di dalam hati mereka rasa sempit atas apa yang kamu tetapkan dan mereka pun menerimanya dengan sepenuh hati.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217; : 65). Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena hal itu akan mencerai-beraikan dari jalan-Nya. Itulah yang diwasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa.&#8221; (QS. al-An&#8217;aam : 153). Inilah jalannya kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti perjalanan hidup mereka di dalam hal aqidah, akhlak, ibadah, maupun mu&#8217;amalah dengan baik dan benar. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Orang-orang yang terlebih dulu dan pertama-tama berjasa kepada Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, dan Allah siapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.&#8221; (QS. at-Taubah : 100). Maka barangsiapa yang menyimpang dari jalan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam akan merugi di dunia dan di akhirat. Mereka mengira telah melakukan sesuatu yang terbaik, namun sebenarnya amal mereka sia-sia. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Katakanlah (hai Muhammad); Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai oranag-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia usahanyaa di dunia sementara mereka mengira telah melakukan yang terbaik.&#8221; (QS. al-Kahfi : 103-104).</p>
<p>Jauhilah sang pemusnah kebahagiaan!<br />
Tatkala seorang hamba menyadari bahwa perjalanannya menuju Rabbnya merupakan perjalanan yang dipenuhi dengan onak dan duri di kanan dan kiri jalan ini. Tatkala dia mengerti bahwa untuk mendapatkan kenikmatan surga yang abadi dibutuhkan perjuangan dan ketabahan dalam menghadapi ujian yang bertubi-tubi. Maka ketika itulah seorang mukmin harus berupaya keras untuk menjaga mutiara keimanan dan modal kebahagiaan yang ada di dalam dirinya. Hanya hamba-hamba bertauhid sajalah yang dapat menjaga dirinya dari terseret ke dalam ombak syirik dan kekafiran. Sebuah ombak dahsyat dan angin topan yang sangat kencang yang akan menyeret orang-orang yang ragu dan menyimpan kekafiran ke dalam jurang neraka Jahannam. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Barangsiapa yang menentang Rasul setelah petunjuk jelas baginya dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan biarkan dia terombang-ambing di dalam kesesatannya dan kelak Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217; : 115).</p>
<p>Sedangkan perkara paling pokok yang membuat mereka yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya itu adalah kesyirikan yang membuat pelakunya tidak lagi diampuni dosa-dosanya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan dia akan mengampuni dosa lain di bawahnya bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217; : 116). Inilah faktor utama yang akan menendang barisan kaum pecundang ke dalam gerombolan tentara Iblis yang bersama-sama bahu membahu untuk menjerumuskan manusia ke dalam lembah kebinasaan. Inilah dosa syirik yang mengharamkan pelakunya untuk menikmati keindahan surga dan bidadari yang ada di sana. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan baginya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan bagi orang-orang zalim itu  tidak ada seorang penolongpun untuk mereka.&#8221; (QS. al-Maa&#8217;idah : 72). Allah ta&#8217;ala berfirman mengisahkan tentang kengerian di hari kiamat. ketika manusia bermusuhan satu sama lain, mereka yang diikuti berlepas diri dan membenci orang-orang yang mengikutinya dan mereka sama-sama melihat pedihnya azab, mereka yang dulunya saling bekerjasama di atas kebatilan pun saat itu harus merasakan penyesalan yang teramat dalam, &#8220;Pada hari itu orang-orang yang berteman dekat pun berubah menjadi musuh satu dengan yang lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa.&#8221; (QS. az-Zukhruf : 67).</p>
<p>Sang musyrik tidak akan mendapatkan apa yang dia dambakan<br />
Ketahuilah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- bahwa berbagai macam jalan dimanfaatkan oleh syaitan dan bala tentaranya untuk menyesatkan bani Adam. Oleh sebab itu wajib bagimu untuk mengenali dan menjauhi tipu daya dan makar mereka, agar engkau tidak ikut terseret hancur binasa sebagaimana mereka. Ingatlah bahwasanya hanya dengan tauhid yang benar seorang hamba akan menemukan kebahagiaan hidup yang dicita-citakannya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Seandainya para penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi&#8230;&#8221; (QS. al-A&#8217;raaf : 96). Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada di dalam kerugia, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.&#8221; (QS. al-&#8217;Ashr : 1-3).</p>
<p>Maka kalau seorang manusia mengharapkan keselamatan dengan jimat yang dikenakannya, atau mengharapkan kebahagiaan dengan datang kepada dukun dan paranormal serta mempercayai ocehan mereka, yakinlah bahwasanya orang-orang yang bergantung kepada selain-Nya tidak akan mendapatkan apa-apa, bahkan hati mereka tersiksa karenanaya, dan yang lebih mengerikan adalah Allah meninggalkan mereka dan tidak mau peduli lagi dengan nasib mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka baginya penghidupan yang sempit, dan kelak pada hari kiamat Kami akan mengumpulkannya dalam keadaan buta. Dia mengatakan; wahai Rabbku, mengapa kau bangkitkan aku dalam keadaan buta sementara dahulu aku bisa melihat. Allah menjawab; Demikianlah yang layak kamu dapatkan, dahulu datang kepadamu ayat-ayat-Kami tapi kemudian kamu melupakannya, maka sekarang pun kamu dilupakan.&#8221; (QS.Thaha : 124-126). Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk.&#8221; (QS. al-Bayyinah : 6).</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan membersihkan semua ketergantungan hati kita dari segala sesembahan selain-Nya. Yang dengan itulah maka hidup kita akan menjadi berarti, bukan sekedar membuat hidup menjadi lebih hidup, namun membuat orang benar-benar hidup. Itulah yang kita inginkan. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/untuk-apa-kita-hidup.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

