<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Maksiat</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/maksiat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 07:31:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tiga Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 20:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1962</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid&#8217;ah. Dan [3] ketaatan, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid&#8217;ah. Dan [3] ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan [ketaatan kepada] Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 104)</p>
<p><span id="more-1962"></span><strong>Tauhid mengantarkan menuju bahagia</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Abdullah Ibnu Mubarak <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat (yang ikhlas), dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niat (yang tidak ikhlas).”</em></p>
<p><strong>Syirik mengantarkan menuju sengsara</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim itu.”</em> (<strong>QS. al-Maa&#8217;idah: 72</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p><strong>Sunnah mengantarkan menuju bahagia</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah (Muhammad); Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sunnah adalah [laksana] bahtera Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal akan tenggelam.”</em></p>
<p><strong>Bid&#8217;ah mengantarkan menuju sengsara</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya akan Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 115</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan -dalam agama-, [dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid'ah] dan setiap bid&#8217;ah pasti sesat [dan setiap kesesatan di neraka].”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>, tambahan dalam kurung dalam riwayat <strong>Nasa&#8217;i</strong>)</p>
<p><strong>Ketaatan mengantarkan menuju bahagia</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 71</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Semua umatku pasti masuk surga, kecuali yang enggan.”</em> Para sahabat pun bertanya, <em>“Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Barangsiapa mentaatiku masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan itu.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat.”</em></p>
<p><strong>Kemaksiatan mengantarkan menuju sengsara</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi nafsu (ketaatan) sedangkan neraka diliputi dengan perkara-perkara yang disenangi nafsu (kemaksiatan).”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Hilangnya harapan dan rasa takut</strong></p>
<p>Sementara ketiga hal di atas -tauhid, sunnah, dan ketaatan- memiliki satu musuh yang sama yaitu ketiadaan rasa harap dan rasa takut. Yaitu ketika seorang hamba tidak lagi menaruh harapan atas apa yang Allah janjikan dan tidak menyimpan rasa takut terhadap ancaman yang Allah berikan. Akibat ketiadaan harap dan takut ini maka timbul berbagai dampak yang membahayakan. Di antara dampaknya adalah; [1] terlena dengan curahan nikmat sehingga lalai dari mensyukurinya, [2] sibuk mengumpulkan ilmu namun lalai dari mengamalkannya, [3] cepat terseret dalam dosa namun lambat dalam bertaubat, [4] terlena dengan persahabatan dengan orang-orang saleh namun lalai dari meneladani mereka, [5] dunia pergi meninggalkan mereka namun mereka justru senantiasa mengejarnya, [6] akherat datang menghampiri mereka namun mereka justru tidak bersiap-siap untuk menyambutnya. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa ketiadaan rasa harap dan takut ini bersumber dari lemahnya keyakinan. Lemahnya keyakinan itu timbul akibat lemahnya <em>bashirah</em>/pemahaman. Dan lemahnya <em>bashirah</em> itu sendiri timbul karena <strong>jiwa yang kerdil dan rendah</strong> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 170).</p>
<p><strong>Bersihkan jiwamu!</strong></p>
<p>Jiwa yang kerdil dan rendah akan merasa puas dengan perkara-perkara yang hina, sementara jiwa yang besar dan mulia tentu hanya akan puas dengan perkara-perkara yang mulia (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 170). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”</em> (<strong>QS. asy-Syams: 9-10</strong>). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yaitu orang yang menyucikan jiwanya dari dosa-dosa dan membersihkannya dari aib-aib, lalu dia meninggikannnya dengan ketaatan kepada Allah serta memuliakannya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 926). Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Yang dimaksud penyucian di sini ialah dia menyucikan dirinya dengan cara membebaskannya dari syirik dan noda-noda maksiat, sehingga jiwanya menjadi suci dan bersih.”</em> (<em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em>, hal. 165)</p>
<p>Dari sinilah, kita menyadari betapa besar peran ilmu yang diamalkan. Oleh sebab itu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa seusai sholat Subuh dengan doa yang sangat indah, <em>Allahumma inni as&#8217;aluka &#8216;ilman nafi&#8217;an wa rizqan thayyiban wa &#8216;amalan mutaqabbalan</em>. Yang artinya; <em>“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amalan yang diterima.”</em> (<strong>HR. Ahmad dan Ibnu Majah</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya akan dipahamkan dalam urusan agamanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Sedangkan ilmu dan pemahaman seorang hamba tentang agamanya diukur dengan rasa takutnya kepada Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”</em> (<strong>QS. Fathir: 28</strong>). Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti ilmu -seseorang-.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Meraih Ampunan</title>
		<link>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 04:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1907</guid>
		<description><![CDATA[Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat. Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkunci-meraih-ampunan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat.</p>
<p><span id="more-1907"></span></p>
<p>Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ditemui. Sehingga hal itu menyebabkan seorang hamba harus waspada, karena tatkala dia telah merasa taubatnya diterima, kemudian -pada akhirnya- perasaan itu justru menyeret dirinya terjerumus ke dalam lembah dosa yang lainnya, <em>wal &#8216;iyadzu billah!</em></p>
<p>Ketahuilah saudaraku, bahwa tauhid yang bersih merupakan kunci untuk meraih ampunan. Namun, hal ini tidaklah sesederhana dan semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut:</p>
<p>[1] Orang yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar atau tidak bertaubat darinya maka dia pasti masuk neraka.</p>
<p>[2] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih terkotori dengan syirik kecil sementara kebaikan-kebaikannya ternyata lebih berat daripada timbangan keburukannya maka dia pasti masuk surga.</p>
<p>[3] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih memiliki syirik kecil sedangkan keburukan/dosanya justru lebih berat dalam timbangan maka orang itu berhak masuk neraka namun tidak kekal di sana (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 44)</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dan dia menghasankannya)</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan syarat untuk bisa meraih ampunan Allah<em> ta&#8217;ala</em>. Syaikh Abdurrahman bin Hasan <em>rahimahullah</em> berkata mengomentari hal ini, <em>“Ini adalah <strong>syarat yang berat</strong> untuk bisa mendapatkan janji itu yaitu curahan ampunan. Syaratnya adalah <strong>harus bersih dari kesyirikan, banyak maupun sedikit</strong>. Sementara tidak ada yang bisa selamat/bersih darinya kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah ta&#8217;ala. Itulah hati yang selamat sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), “Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara: 88-89</strong>).”</em> (<em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 53-54)</p>
<p>Namun -sebagaimana sudah disinggung di atas- keutamaan ini hanya akan bisa diperoleh bagi orang yang bersih tauhidnya. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“&#8230;Seandainya ada seorang yang bertauhid dan sama sekali tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa hampir seisi bumi, maka Allah pun akan menemuinya dengan ampunan sepenuh itu pula. Namun <strong>hal itu tidak akan bisa diperoleh bagi orang yang cacat tauhidnya</strong>. Karena sesungguhnya tauhid yang murni yaitu yang tidak tercemari oleh kesyirikan apapun maka ia tidak akan menyisakan lagi dosa. Karena ketauhidan semacam itu telah memadukan antara kecintaan kepada Allah, pemuliaan dan pengagungan kepada-Nya serta rasa takut dan harap kepada-Nya semata, yang hal itu menyebabkan <strong>tercucinya dosa-dosa, meskipun dosanya hampir memenuhi isi bumi</strong>. Najis yang datang sekedar menodai, sedangkan faktor yang menolaknya sangat kuat.”</em> (Dinukil dari <em>Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 54-55)</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung keterangan bahwa kandungan makna <em>la ilaha illallah</em> yang bisa lebih berat timbangannya daripada semua makhluk dan semua dosa. Kandungan maknanya yaitu <strong>wajib meninggalkan syirik dalam jumlah banyak maupun sedikit</strong>. Hal itu pasti membuahkan ketauhidan yang sempurna. <strong>Tidak mungkin bisa bersih dari syirik kecuali bagi orang yang benar-benar merealisasikan tauhidnya</strong> serta mewujudkan konsekuensi dari kalimat ikhlas (syahadat) yang berupa ilmu, keyakinan, kejujuran, keikhlasan, rasa cinta, menerima, tunduk patuh dan lain sebagainya yang menjadi konsekuensi kalimat yang agung itu (lihat<em> Qurrat al-&#8217;Uyun al-Muwahhidin</em>, hal. 22).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang mengucapkannya -la ilaha illallah- dengan penuh keikhlasan dan kejujuran maka dia <strong>tidak akan terus-menerus berkubang dalam kemaksiatan-kemaksiatan</strong>. Karena keimanan dan keikhlasannya yang sempurna menghalangi dirinya dari terus-menerus berkubang dalam maksiat. Oleh sebab itu dia akan bisa masuk surga sejak awal bersama dengan rombongan orang-orang yang langsung masuk surga.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21)</p>
<p>Hadits di atas juga menunjukkan bahwa tauhid <strong>tidak cukup di lisan</strong>. Namun tauhid juga menuntut seorang hamba untuk <strong>menunaikan kewajiban serta meninggalkan kemaksiatan</strong>. Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa barangsiapa yang mempersaksikannya -kalimat tauhid- namun dia mencemarinya dengan perbuatan dosa dan kemaksiatan, atau dia sekedar mengucapkannya dengan lisan sementara hati atau amalannya berbuat syirik seperti halnya orang-orang munafik maka orang semacam ini ucapan syahadatnya tidak bermanfaat. Akan tetapi yang semestinya dia lakukan adalah mengucapkannya kemudian meyakininya dengan kuat, melaksanakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan serta mengikuti tuntunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 20).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang dilarang maka itu berarti dia telah berani menawarkan dirinya untuk menerima hukuman Allah ta&#8217;ala meskipun dia mengucapkan kalimat ini dan meyakininya. Apabila dia melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya maka berubahlah dia menjadi orang yang murtad dan kafir. Syahadat ini tidak lagi bermanfaat untuknya. Oleh sebab itu kalimat ini <strong>harus diwujudkan dalam kenyataan</strong> dan mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya, kalau tidak demikian maka dia berada dalam bahaya besar seandainya dia tidak kunjung bertaubat.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 26).</p>
<p>Hadits di atas juga mengandung motivasi (<em>targhib</em>) dan peringatan (<em>tarhib</em>). Ini merupakan motivasi agar orang mau <strong>berjuang keras membersihkan tauhidnya dari kotoran syirik dan kemaksiatan</strong>, karena Allah menjanjikan ampunan yang demikian besar bagi orang yang murni tauhidnya. Dan ini sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang selama ini tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan agar waspada dan takut kalau-kalau ternyata di akhir hidupnya mereka tidak tergolong orang yang bersih tauhidnya.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Seandainya Allah mau menyiksa manusia -di dunia- sebagai hukuman atas dosa yang mereka perbuat niscaya tidak akan Allah sisakan di atas muka bumi ini seekor binatang melatapun. Akan tetapi Allah menunda hukuman itu untuk mereka hingga waktu yang telah ditentukan. Maka apabila telah datang saatnya sesungguhnya Allah Maha melihat semua hamba-Nya.”</em> (<strong>QS. Fathir: 45</strong>). Imam Ibnu Katsir<em> rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya adalah seandainya Allah menyiksa mereka sebagai hukuman atas semua dosa yang mereka perbuat niscaya Allah akan menghancurkan semua penduduk bumi dan segala binatang dan rezeki yang mereka miliki.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/362])</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwasanya para pelaku maksiat itu sangat berresiko dijatuhi ancaman siksa dan mereka akan masuk ke neraka lalu mereka akan dikeluarkan darinya dengan syafa&#8217;at para nabi dan yang lainnya. Hal itu dikarenakan mereka telah melemahkan tauhid mereka dan mencemarinya dengan kemaksiatan-kemaksiatan.”</em> (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 21).</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan <strong>membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid&#8217;ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan</strong>. Hal itu akan tercapai dengan cara menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah.”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 20)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa <strong>merealisasikan <em>la ilaha illallah</em> adalah sesuatu  yang sangat sulit</strong>. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata: <strong><em>&#8216;Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan&#8217;</em></strong>. Sebagian salaf juga mengatakan: <em>&#8216;Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas&#8217;</em>. Dan tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, maka dia tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai keikhlasan.</p>
<p>Oleh sebab itu, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, <em>&#8216;Orang-orang Yahudi mengatakan: Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat&#8217;</em>. Maka beliau menjawab: <em>&#8216;Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?&#8217;</em> Setan tidak akan repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur -dengan iman-.</p>
<p>Oleh sebab itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang terasa berat dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, <em>&#8216;Benarkah kalian merasakan hal itu?&#8217;</em>. Mereka menjawab, <em>&#8216;Benar&#8217;</em>. Beliau pun bersabda, <em>&#8216;Itulah kejelasan iman&#8217;</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Artinya hal itu merupakan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan keimanan kalian, karena perasaan itu muncul dalam dirinya sementara hal itu tidak akan muncul kecuali pada hati yang lurus dan bersih (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/38])</p>
<p>Keikhlasan -yang hal ini merupakan intisari dari ajaran tauhid- merupakan sesuatu yang membutuhkan <strong>perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu</strong>. Sahl bin Abdullah berkata, <em>“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 26).</p>
<p>Dan sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</em> (<em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 143).</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Binasalah hamba Dinar! Celakalah hamba Dirham! Celakalah hamba khamisah (sejenis kain)! Celakalah hamba khamilah (sejenis model pakaian)! Apabila diberi dia merasa senang, dan apabila tidak diberi maka dia murka. Celaka dan merugilah dia!”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa sebagian manusia ada yang <strong>cita-cita hidupnya hanya untuk mendapatkan dunia</strong> dan perkara itulah yang paling dikejar olehnya. Itulah tujuan pertama dan terakhir yang dicarinya. Maka kalau ada orang semacam ini niscaya akhir perjalanan hidupnya adalah kebinasaan dan kerugian (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 331).</p>
<p>Itulah sosok pengejar dunia, yang rasa senang dan bencinya dikendalikan oleh hawa nafsunya (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 241). Maka barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai puncak urusan dan akhir cita-citanya pada hakekatnya dia telah mengangkatnya sebagai sesembahan tandingan bagi Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 332)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagaimanakah pendapatmu mengenai orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan?” </em>(<strong>QS. al-Furqan: 43</strong>).</p>
<p>Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali <em>hafizhahullah</em> memberikan keterangan bahwa sesungguhnya <strong>tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah melainkan dia condong menujukan ibadahnya kepada selain Allah</strong>. Memang, bisa jadi dia tidak tampak memuja/menyembah patung atau berhala. Atau juga tidak tampak dia menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi, sebenarnya dia telah menyembah hawa nafsu yang telah menjajah hatinya dan memalingkan dirinya sehingga tidak mau tunduk beribadah kepada Allah (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 147)</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Pokok munculnya kesyirikan kepada Allah adalah kesyirikan dalam hal cinta. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta&#8217;ala (yang artinya), &#8216;Sebagian manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.&#8217; (<strong>QS. al-Baqarah: 165</strong>)&#8230;”</em> (<em>ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</em>, hal. 212). Orang yang mencintai selain Allah -apa pun bentuknya- sebagaimana kecintaannya kepada Allah, atau orang yang lebih mendahulukan ketaatan kepada selain Allah daripada ketaatan kepada Allah maka sesungguhnya orang tersebut telah terjerumus dalam syirik besar yang tidak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya tidak bertaubat darinya (lihat<em> al-Qaul as-Sadid</em>, hal. 96, lihat juga <em>al-Jadid</em>, hal. 278)</p>
<p>Bahkan, karena terlalu berlebihan kecintaannya kepada dunia maka sebagian orang tega menjadikan amal akherat sebagai alat untuk menggapai ambisi-ambisi dunia semata! <strong>Secara fisik mereka tampak mengejar pahala akherat</strong>, namun hatinya dipenuhi dengan kecintaan kepada kesenangan dunia yang hanya sesaat. <em>Subhanallah</em>&#8230; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya),<em>“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan untuk mereka balasan atas amal-amal mereka di dalamnya sedangkan mereka tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak akan mendapatkan balasan apa-apa di akherat selain neraka dan akan hapuslah semua amal yang mereka kerjakan dan sia-sialah apa yang dahulu mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. Huud: 15-16</strong>).</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa beramal soleh semata-mata untuk menggapai kesenangan dunia -tanpa ada keinginan untuk memperoleh balasan akherat atau balasan yang dijanjikan Allah- termasuk kategori kesyirikan, bertentangan dengan kesempurnaan tauhid, bahkan menyebabkan terhapusnya pahala amalan (lihat <em>al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 238)</p>
<p><em>Nas&#8217;alullahat taufiq was salamah</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kunci-meraih-ampunan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabligh Akbar Ust. Abdul Hakim (Jakarta)</title>
		<link>http://abumushlih.com/tabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 06:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Abdul Hakim]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Jadwal Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1888</guid>
		<description><![CDATA[Tabligh Akbar, Masjid Akbar Kemayoran (Jakarta Pusat, 25 Juli 2010) Hadirilah…!!! Tabligh Akbar &#38; Kajian Ilmiyah Islam (Gratis!!!Untuk Umum) Tema: ” Dampak Maksiat Bagi Kehidupan Masyarakat “ Pembicara: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Insya Allah akan diselenggarakan pada hari: &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Tabligh Akbar, Masjid Akbar Kemayoran (Jakarta Pusat,  25 Juli 2010)</p>
<p><span id="more-1888"></span><br />
<strong>Hadirilah…!!!<br />
Tabligh Akbar &amp; Kajian Ilmiyah  Islam</strong> (Gratis!!!Untuk Umum)</p>
<p>Tema:<br />
” Dampak Maksiat Bagi  Kehidupan Masyarakat “</p>
<p>Pembicara:<br />
Al-Ustadz Abdul Hakim bin  Amir Abdat</p>
<p>Insya Allah akan diselenggarakan pada hari:<br />
Ahad,  25 Juli 2010 / 23 Sya’ban 1431.<br />
Jam 09.00 Wib – Selesai</p>
<p>Tempat:  Masjid Akbar Kemayoran dekat (PRJ), Jakarta.</p>
<p>Informasi:<br />
Ikhwan:  (021) 7042. 5406 – 0856. 792. 7818 – 0858. 8188. 5694<br />
Akhwat : (021)  9250. 8514</p>
<p>Penyelenggara:<br />
Pustaka Imam Adz -Dzahabi<br />
bekerjasama  dengan<br />
DKM Masjid Akbar Kemayoran.</p>
<p>Sumber: http://moslemsunnah.wordpress.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tabligh-akbar-ust-abdul-hakim-jakarta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekas-Bekas Pelajaran Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 20:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1783</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syaikh as-Sa&#8217;di rahimahullah berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki bekas-bekas/dampak yang baik serta keutamaan yang beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya kebaikan di dunia dan di akherat itu &#8230; <a href="http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbekas-bekas-pelajaran-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbekas-bekas-pelajaran-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki bekas-bekas/dampak yang baik serta keutamaan yang beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya kebaikan di dunia dan di akherat itu semua merupakan buah dari tauhid dan keutamaan yang muncul darinya.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 16)</p>
<p><span id="more-1783"></span></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> juga berkata, “Segala kebaikan yang segera -di dunia- ataupun yang tertunda -di akherat- sesungguhnya merupakan buah dari tauhid, sedangkan segala keburukan yang segera ataupun yang tertunda maka sesungguhnya itu merupakan buah/dampak dari lawannya&#8230;.” (<em>al-Qawa&#8217;id al-Hisan al-Muta&#8217;alliqatu Bi Tafsir al-Qur&#8217;an</em>, hal. 26)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>)</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata: Ketika turun ayat <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>) Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Lantas merekapun mengadu, <em>“Lalu siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksudkan adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya; &#8216;Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.&#8217; </em>(<strong>QS. Luqman: 13</strong>)<em>.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p>al-Khatthabi <em>rahimahullah</em> berkata, “Asal makna dari zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan barangsiapa yang menempatkan ibadah untuk selain Allah <em>ta&#8217;ala</em> maka dia adalah sosok pelaku kezaliman yang paling zalim.” (sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar&#8217;awi <em>hafizhahullah</em> berkata, “Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> memberitakan kepada kita bahwasanya barangsiapa yang mentauhidkan-Nya dan tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik maka Allah menjanjikan atasnya keselamatan dari masuk ke dalam neraka di akherat serta Allah akan membimbingnya menuju jalan yang lurus di dunia.” (<em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 35)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar&#8217;awi <em>hafizhahullah</em> juga menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang meninggal di atas tauhid serta bertaubat dari dosa-dosa besar maka dia akan selamat dari siksa neraka. Dan barangsiapa yang meninggal dalam keadaan masih bergelimang dengan dosa-dosa besar/tidak bertaubat darinya sementara dia masih bertauhid maka dia akan selamat dari -hukuman- kekal di neraka.” (<em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 35)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah wahdahu la syarika lah -tiada sesembahan yang benar selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya- dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan putra dari seorang hamba perempuan-Nya serta terjadi dengan kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam dan merupakan ruh dari -ciptaan-Nya. Dan dia mengatakan bahwa surga itu benar, neraka juga benar. Maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga melalui salah satu pintu manapun di antara kedelapan pintu surga yang dia kehendaki.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/70-71])</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah ia merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka, yaitu apabila -minimal- di dalam hatinya masih terdapat tauhid meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati maka akan bisa menghalangi masuk neraka secara keseluruhan/tidak masuk neraka sama sekali.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 17)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah ada seorang hambapun yang mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya melainkan Allah pasti haramkan dia tersentuh api neraka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/82-83])</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah barang sedikitpun maka dia pasti masuk neraka.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/164])</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Jibril &#8216;alaihis salam datang kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa barangsiapa yang meninggal di antara umatmu dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah barang sedikitpun maka dia pasti masuk surga.” </em>Aku -Abu Dzar- berkata, <em>“Meskipun dia berzina dan mencuri?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Meskipun dia berzina dan mencuri.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/166])</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “&#8230;Apabila dia adalah seorang pelaku dosa besar -yaitu yang masih bertauhid- meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya -maksudnya tidak bertaubat dari dosa besarnya- maka dia berada di bawah kehendak Allah -artinya terserah kepada Allah mau menghukum atau memaafkannya-. Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia disiksa terlebih dulu lalu akan dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga&#8230;” (<em>Syarh Muslim</em> [2/168])</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “&#8230;Sesungguhnya salah satu ciri hati yang sakit adalah ia berpaling dari mengkonsumsi hal-hal yang bermanfaat dan yang cocok dengannya menuju hal-hal yang justru membahayakan dirinya, serta ia berpaling dari obat yang manjur menuju penyakit yang membahayakan&#8230;” (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 96)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga berkata, “&#8230;Salah satu ciri sehatnya hati adalah ia senantiasa merasa rindu dan berhasrat untuk berkhidmat/mengabdi dan taat -kepada Allah- sebagaimana halnya orang yang lapar menginginkan makanan dan minuman.” (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 98)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya serta menahan dari melampiaskan hawa nafsunya -dengan cara yang terlarang-, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggal baginya.”</em> (<strong>QS. an-Nazi&#8217;aat: 40-41</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu -kiamat- tidak berguna harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;araa&#8217;: 88-89</strong>). <em>Wallahu a&#8217;lam. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammad wa &#8216;ala alihi wa sallam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembalilah, Wahai Saudaraku!</title>
		<link>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 20:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1716</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, apakah gerangan yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah?” (QS. al-Infithar: 6) Sebagian ulama berkata bahwa di dalam firman Allah “Apa yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah” &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkembalilah-wahai-saudaraku.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkembalilah-wahai-saudaraku.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai umat manusia, apakah gerangan yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Infithar: 6</strong><span style="font-weight: normal;">) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian ulama berkata bahwa di dalam firman Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang membuat kalian terperdaya oleh Rabbmu Yang Maha Pemurah”</span></em><span style="font-weight: normal;"> terdapat isyarat mengenai jawaban atas pertanyaan ini. Yaitu bahwasanya yang menyebabkan manusia terperdaya dan terlena adalah kemurahan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;"> serta penundaan hukuman dan kelembutan sikap-Nya. Padahal sesungguhnya tidak boleh orang terperdaya dan terlena disebabkan hal itu. Karena Allah membiarkan orang zalim bebas berkeliaran sampai tiba waktunya Allah menghukumnya dan pada saat itulah dia tidak mampu lagi untuk mengelak darinya. Lalu, apakah gerangan yang membuatmu terperdaya oleh karunia Rabbmu Yang Maha Pemurah? Jawabnya: kemurahan dan kelembutan Allah. Inilah sebab yang memperdaya manusia sehingga membuat dirinya terus menerus bergelimang dalam maksiat, mendustakan kebenaran dan bersikeras mempertahankan penyimpangan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir Juz &#8216;Amma</span></em><span style="font-weight: normal;"> Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 65)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1716"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Aduhai, alangkah tepat apa yang digambarkan oleh ayat yang mulia tersebut! Betapa sering kita jumpai diri kita ini; dengan berbagai kenikmatan yang Allah curahkan dan alirkan ke dalam berbagai relung nafas kehidupan kita, namun ternyata hal itu bukannya semakin menyadarkan kita akan kesalahan dan dosa yang kita perbuat di hadapan-Nya. Justru sebaliknya, kita justru semakin berbuat semaunya, membangkang dan menerjang larangan-larangan-Nya, bertindak semena-mena seolah-olah tiada kematian yang akan memutuskan harapan dan angan-angan para durjana.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Saudaraku yang kucintai, semoga Allah membukakan hati kita untuk menerima kebenaran yang datang dari-Nya. Tidakkah engkau ingat, sebuah nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita dahulu. Dahulu, kita tidak mengenal Islam dan Sunnah ini sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> dan para sahabatnya. Dahulu, kita masih terlena oleh berbagai kesenangan dunia dan berbagai hiburan yang tak mengenal batasan agama. Dahulu, kita tidak mengenal apa itu tauhid, apa itu manhaj, bahkan kita pun tidak mengenal apa tujuan hidup kita yang sebenarnya. Bukankah demikian keadaan kita dulu sebelum Allah pancarkan hidayah itu di dalam lubuk hati kita setelah kegelapannya? </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Lalu mengapa -wahai saudaraku yang mulia- pada hari ini kita seolah-olah telah melupakan kenikmatan agung itu&#8230; Kita kembali terlena oleh suasana dan hiruk pikuk kehidupan dunia yang fana dan melalaikan dari-Nya. Mengapa kita lalai dan terlena serta terus menerus melestarikan pembangkangan kepada-Nya? Apakah kita telah berani meremehkan hak-hak Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;">? Ataukah kita berani melecehkan dan menganggap sepele hukuman yang akan ditimpakan oleh-Nya kepada kita? Ataukah karena kita memang sudah tidak lagi mengimani akan balasan yang dijanjikan-Nya? (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Taisir al-Karim ar-Rahman</span></em><span style="font-weight: normal;">, Juz 2 hal. 1274) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Maha suci Allah, betapa lancang dan kurang ajarnya diri kita ini! Setiap detik kehidupan ini kita senantiasa diberi karunia nikmat dan kemurahan dari-Nya lantas itu semua kita balas dengan kedurhakaan dan pembangkangan bahkan penghinaan kepada-Nya?! Betapa tidak tahu dirinya kita ini&#8230; Wahai saudaraku, bukankah Allah yang telah menunjukimu sehingga mengenal Islam dan Sunnah Nabi-Nya </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">? Bukankah Allah yang membimbingmu sehingga mengetahui tata cara beribadah yang benar kepada-Nya? Bukankah Allah juga yang mengentaskan kebodohanmu sehingga engkaupun menjadi orang yang berilmu? Lalu mengapa -dengan ilmu itu- kamu tidak semakin bertambah taat dan patuh kepada-Nya? Dimanakah ilmu yang ada pada dirimu?</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Bukankah Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengingatkan dan memuji orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Fathir: 28</strong><span style="font-weight: normal;">). Alangkah benar ucapan Fudhail bin &#8216;Iyadh </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Seorang yang berilmu akan senantiasa dinilai sebagai orang bodoh selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia telah mengamalkannya maka barulah dia benar-benar menjadi orang berilmu yang sejati.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi di dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Iqtidha&#8217; al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amala</span></em><span style="font-weight: normal;">). Abdullah bin Mas&#8217;ud </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bukanlah ilmu itu didapat hanya dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakekat ilmu itu adalah yang membuahkan rasa takut kepada Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (dinukil oleh Ibnul Qayyim di dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Inilah rahasianya; mengapa selama ini pengetahuan yang kita miliki tidak mengantarkan kita menjadi hamba-hamba yang patuh dan tunduk kepada-Nya, namun justru menjadikan kita sebagai para pemuja hawa nafsu yang senantiasa menerjang aturan-Nya. Tiada lain karena rasa takut kepada-Nya tidak menghiasi hati dan perilaku kita. Hati kita dipenuhi dengan kecintaan terhadap dunia dengan segala perhiasannya. Hati kita dipenuhi dengan kegandrungan kepada kesenangan dunia yang sementara lagi menipu. Hati  kita telah mabuk dan terpesona oleh rayuan nafsu dan bujukan syaitan yang durjana.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Itulah rahasianya mengapa Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> mewasiatkan kepada kita untuk segera beramal yaitu mengamalkan ilmu yang telah kita mengerti. Dan mengamalkan ilmu itu adalah cerminan rasa takut kita kepada Allah</span><em><span style="font-weight: normal;"> &#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;">. Hal itu supaya kita tidak tergolong orang yang tertipu dengan dunia; sehingga akibatnya kita pun rela menjual agama demi mendapatkan kesenangan dunia yang menipu dan sementara saja, </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-weight: normal;">! Rasul </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal sebelum datangnya fitnah-fitnah yang datangnya bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Yang membuat seorang di pagi hari masih beriman, namun di sore harinya dia telah berubah menjadi kafir. Atau di sore hari dia beriman, namun di pagi harinya berubah menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Para ulama suu&#8217; duduk di depan pintu surga seraya menyeru manusia supaya masuk ke dalamnya dengan ucapan lisan mereka. Akan tetapi mereka mengajak kepada neraka dengan amal perbuatan mereka. Setiap kali ucapan mereka mengajak manusia, “Kemarilah!” maka perbuatan mereka justru berkata, “Jangan kalian dengarkan ucapannya.” Karena seandainya apa yang dia serukan adalah kebenaran maka niscaya dia adalah orang yang pertama kali melakukannya. Mereka itu secara lahir tampak sebagai pemberi petunjuk, akan tetapi pada hakekatnya mereka adalah perampok.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 60)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya maka hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada keinginan hawa nafsunya. Hati yang begitu terpikat dengan syahwat akan terhalangi dari Allah sesuai dengan kadar ketergantungan hati itu kepadanya. Hati merupakan bejana -untuk mengenal- Allah di atas muka bumi yang diciptakan-Nya. Maka hati yang paling dicintai-Nya adalah hati yang paling lembut, paling kuat, dan paling jernih. Aduhai, mengapa mereka menyibukkan hati mereka dengan dunia. Seandainya mereka mau menyibukkannya dengan -kecintaan kepada- Allah dan -harapan terhadap- hari akherat niscaya akan tampak dengan jelas bagi mereka keagungan makna firman-Nya dan kebesaran ayat-ayat-Nya yang bisa disaksikan dan niscaya dia akan mampu memetik berbagai hikmah yang jarang ditemukan dan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 95)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Wahai saudaraku, kembalilah ke jalan Rabbmu. Sesungguhnya barisan para mujahid senantiasa menunggu kehadiranmu. </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahu waliyyut taufiq</span></em><span style="font-weight: normal;">. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kembalilah-wahai-saudaraku.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Grup Orang-Orang Keterlaluan</title>
		<link>http://abumushlih.com/grup-orang-orang-keterlaluan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/grup-orang-orang-keterlaluan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 07:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Siksa]]></category>
		<category><![CDATA[Sombong]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1591</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak disucikan-Nya (Abu Mu&#8217;awiyah -seorang periwayat- berkata: dan -Allah- tidak akan memandang mereka) dan mereka akan menerima &#8230; <a href="http://abumushlih.com/grup-orang-orang-keterlaluan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgrup-orang-orang-keterlaluan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgrup-orang-orang-keterlaluan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ada tiga golongan manusia yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak disucikan-Nya (Abu Mu&#8217;awiyah -seorang periwayat- berkata: dan -Allah- tidak akan memandang mereka) dan mereka akan menerima siksa yang sangat pedih, yaitu: orang yang sudah tua tapi berzina, raja yang suka berdusta, dan orang miskin yang sombong.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/184])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1591"></span></span>Hadits yang agung ini mengandung pelajaran, antara lain:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Di antara 	bentuk hukuman yang diberikan Allah di akherat kelak kepada 	orang-orang yang durhaka adalah dengan tidak mengajak bicara, tidak 	menyucikan, dan tidak memandang mereka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Di antara 	bentuk kenikmatan dan balasan yang diberikan Allah di akherat kelak 	kepada orang-orang yang taat adalah dengan mengajak bicara, 	menyucikan, dan memandang mereka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Iman kepada 	hari akherat dan pembalasan amal</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Iman adanya 	kehidupan setelah kematian</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Dorongan 	untuk beramal salih sebelum kematian datang</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Anjuran untuk 	bertaubat dari dosa dan kesalahan di masa silam agar tidak menjadi 	penyesalan di akherat nanti</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Penetapan 	bahwa Allah berbicara dan memandang, yang sesuai dengan kemuliaan 	dan keagungan diri-Nya, tidak serupa dengan makhluk-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Berzina, 	berdusta, dan sombong merupakan dosa besar</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Perbuatan 	dosa akan membawa petaka bagi pelakunya, cepat ataupun lambat</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Tercelanya 	orang-orang yang melakukan suatu jenis perbuatan dosa padahal dari 	segi kemungkinan dan dorongan untuk melakukannya adalah kecil, di 	sisi lain juga sebenarnya orang tersebut tidak terlalu 	&#8216;membutuhkannya&#8217;. Orang yang sudah tua semestinya akalnya sudah 	sempurna dan melemah sebab-sebab untuk melakukan &#8216;hubungan&#8217; dengan 	perempuan. Maka orang tua yang berzina jauh lebih tercela 	dibandingkan seandainya pelakunya itu masih muda yang notabene 	akalnya masih belum sempurna dan sebab-sebab untuk itu masih 	&#8216;menggebu-gebu&#8217;. Begitu pula seorang raja/pemimpin yang menipu 	rakyatnya padahal dia adalah penguasa yang tidak perlu merasa takut 	kepada siapa-siapa dan tidak perlu menjilat kepada orang lain. 	Demikian pula orang miskin, tidak punya harta, lantas apa yang akan 	disombongkannya? Itu semua menunjukkan bahwa mereka melakukan 	perbuatan dosa tersebut dalam keadaan tidak ada &#8216;alasan&#8217; untuk 	melakukannya tidak lain karena meremehkan kedudukan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> dan tidak peduli sama sekali terhadap aturan-Nya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/184-185])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Meninggalkan 	kemaksiatan karena takut kepada Allah ketika dia mampu melakukannya 	merupakan sebab bertambahnya iman.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Melakukan 	kemaksiatan dalam keadaan sedikitnya faktor pendorong dan kecilnya 	kemungkinan untuk melakukannya akan menyebabkan turunnya keimanan 	secara drastis, lebih parah keadaannya daripada orang yang 	bermaksiat dalam kondisi banyak faktor pendorongnya. Walaupun 	dua-duanya sama-sama tercela dan merusak iman pelakunya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fathu 	Rabbil Bariyyah</span></em><span style="font-weight: normal;">, karya 	Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Menyebutkan 	permasalahan secara global kemudian dirinci merupakan salah satu 	metode mengajar yang dicontohkan oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/grup-orang-orang-keterlaluan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumber Kemaksiatan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 06:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Kezaliman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Marah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1558</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Sumber segala bentuk kemaksiatan yang besar ataupun yang kecil ada tiga: ketergantungan hati kepada selain Allah, memperturutkan kekuatan angkara murka, dan mengumbar kekuatan nafsu syahwat. Wujudnya adalah syirik, kezaliman, dan perbuatan-perbuatan keji. Puncak ketergantungan hati kepada &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsumber-kemaksiatan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsumber-kemaksiatan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>Sumber segala bentuk kemaksiatan yang besar ataupun yang kecil ada tiga: ketergantungan hati kepada selain Allah, memperturutkan kekuatan angkara murka, dan mengumbar kekuatan nafsu syahwat. Wujudnya adalah syirik, kezaliman, dan perbuatan-perbuatan keji. Puncak ketergantungan hati kepada selain Allah adalah kemusyrikan dan menyeru sesembahan lain sebagai sekutu bagi Allah. Puncak memperturutkan kekuatan angkara murka adalah terjadinya pembunuhan. Adapun puncak mengumbar kekuatan nafsu syahwat adalah terjadinya perzinaan.</p>
<p><span id="more-1558"></span></p>
<p>Oleh sebab itu Allah <em>subhanahu</em> memadukan ketiganya dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali apabila ada alasan yang benar, dan mereka juga tidak berzina.”</em> (QS. al-Furqan: 68). Ketiga jenis dosa ini saling menyeret satu dengan yang lainnya. Syirik akan menyeret kepada kezaliman dan perbuatan keji, sebagimana halnya keikhlasan dan tauhid akan menyingkirkan kedua hal itu dari pemiliknya (ahli tauhid). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demikianlah, Kami palingkan darinya -Yusuf- keburukan dan perbuatan keji, sesungguhnya dia termasuk kalangan hamba pilihan Kami (yang ikhlas).”</em> (QS. Yusuf: 24)</p>
<p>Yang dimaksud dengan &#8216;keburukan&#8217; (<em>as-Suu&#8217;</em>) di dalam ayat tadi adalah kerinduan (<em>&#8216;isyq</em>), sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan keji (<em>al-fakhsya&#8217;</em>) adalah perzinaan. Maka demikian pula kezaliman akan bisa menyeret kepada perbuatan syirik dan perbuatan keji. Sesungguhnya syirik itu sendiri merupakan kezaliman yang paling zalim, sebagaimana keadilan yang paling adil adalah tauhid. Keadilan merupakan pendamping bagi tauhid, sementara kezaliman merupakan pendamping syirik.</p>
<p>Oleh sebab itulah, Allah <em>subhanahu</em> memadukan kedua hal itu. Adapun yang pertama -keadilan sebagai pendamping tauhid- adalah seperti yang terkandung dalam firman Allah (yang artinya), <em>“Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Allah, demikian juga bersaksi para malaikat dan orang-orang yang berilmu, dalam rangka menegakkan keadilan.”</em> (QS. Ali Imran: 18). Adapun yang kedua -kezalimaan sebagai pendamping syirik- adalah seperti yang terkandung dalam firman Allah (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik merupakan kezaliman yang sungguh-sungguh besar.”</em> (QS. Luqman: 13). Sementara itu, perbuatan keji pun bisa menyeret ke dalam perbuatan syirik dan kezaliman. Terlebih lagi apabila keinginan untuk melakukannya sangat kuat dan hal itu tidak bisa didapatkan selain dengan menempuh tindakan zalim serta meminta bantuan sihir dan setan.</p>
<p>Allah <em>subhanahu</em> pun telah memadukan antara zina dan syirik di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Seorang lelaki pezina tidak akan menikah kecuali dengan perempuan pezina pula atau perempuan musyrik. Demikian juga seorang perempuan pezina tidak akan menikah kecuali dengan lelaki pezina atau lelaki musyrik. Dan hal itu diharamkan bagi orang-orang yang beriman.”</em> (QS. an-Nur: 3). Ketiga perkara ini saling menyeret satu dengan yang lainnya dan saling mengajak satu sama lain. Oleh sebab itu, setiap kali melemah tauhid dan menguat syirik pada hati seseorang maka semakin banyak  perbuatan keji yang dilakukannya, kemudian semakin besar pula ketergantungan hatinya kepada gambar-gambar -yang terlarang- serta semakin kuat pula kerinduan yang menggelayuti hatinya terhadap gambar/rupa tersebut&#8230;</p>
<p>(diterjemahkan dari <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 78-79)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sumber-kemaksiatan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Depan Gerbang Kematian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penjabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1553</guid>
		<description><![CDATA[Kematian, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia tidak mau menerima pengunduran &#8230; <a href="http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-depan-gerbang-kematian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-depan-gerbang-kematian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em> Kematian</em>, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya  diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti  akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba  saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia  tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekalipun. Karena  bukanlah sifat malaikat seperti manusia, yang zalim dan jahil.</p>
<p><span id="more-1553"></span>Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia  lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para  malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai,  tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini  juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah  orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa.  Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada  di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ?  Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi  malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita  tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita  melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan  engkau jera ?</p>
<p><strong>Sebab-sebab su’ul khatimah</strong></p>
<p>Saudaraku seiman mudah -mudahan Allah memberikan taufik kepada Anda-  ketahuilah bahwa su’ul khatimah tidak akan terjadi pada diri orang yang  shalih secara lahir dan batin di hadapan Allah. Terhadap orang-orang  yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya, tidak pernah terdengar cerita  bahwa mereka su’ul khotimah. Su’ul khotimah hanya terjadi pada orang  yang rusak batinnya, rusak keyakinannya, serta rusak amalan lahiriahnya;  yakni terhadap orang-orang yang nekat melakukan dosa-dosa besar dan  berani melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Kemungkinan semua dosa itu  demikian mendominasi dirinya sehingga ia meninggal saat melakukannya,  sebelum sempat bertaubat dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa su’ul khotimah memiliki berbagai sebab yang  banyak jumlahnya. Di antaranya yang terpokok adalah sebagai berikut :</p>
<ul>
<li> Berbuat syirik kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em>. Pada hakikatnya syirik  adalah ketergantungan hati kepada selain Allah dalam bentuk rasa cinta,  rasa takut, pengharapan, do’a, tawakal, inabah (taubat) dan lain-lain.</li>
<li>Berbuat bid’ah dalam melaksanakan agama. Bid’ah adalah menciptakan  hal baru yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Penganut  bid’ah tidak akan mendapat taufik untuk memperoleh husnul khatimah,  terutama penganut bid’ah yang sudah mendapatkan peringatan dan nasehat  atas kebid’ahannya. Semoga Allah memelihara diri kita dari kehinaan itu.</li>
<li>Terus menerus berbuat maksiat dengan menganggap remeh dan sepele  perbuatan-perbuatan maksiat tersebut, terutama dosa-dosa besar.  Pelakunya akan mendapatkan kehinaan di saat mati, disamping setan pun  semakin memperhina dirinya. Dua kehinaan akan ia dapatkan sekaligus dan  ditambah lemahnya iman, akhirnya ia mengalami su’ul khotimah.</li>
<li>Melecehkan agama dan ahli agama dari kalangan ulama, da’i, dan  orang-orang shalih serta ringan tangan dan lidah dalam mencaci dan  menyakiti mereka.</li>
<li>Lalai terhadap Allah dan selalu merasa aman dari siksa Allah. Allah  berfirman yang artinya, <em>“Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang  tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali  orang-orang yang merugi”</em> (QS. Al A’raaf [7] : 99)</li>
<li>Berbuat zalim. Kezaliman memang ladang kenikmatan namun berakibat  menakutkan. Orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang paling layak  meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Allah berfirman yang artinya,  <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang  zalim”</em> (QS. Al An’aam [6] : 44)</li>
<li>Berteman dengan orang-orang jahat. Allah berfirman yang artinya,  <em>“(Ingatlah) hari ketika orang yang zalim itu menggigit dua tangannya,  seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan yang lurus  bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak  menjadikan si fulan sebagai teman akrabku”</em> (QS. Al Furqaan [25] : 27-28)</li>
<li>Bersikap ujub. Sikap ujub pada hakikatnya adalah sikap seseorang  yang merasa bangga dengan amal perbuatannya sendiri serta menganggap  rendah perbuatan orang lain, bahkan bersikap sombong di hadapan mereka.  Ini adalah penyakit yang dikhawatirkan menimpa orang-orang shalih  sehingga menggugurkan amal shalih mereka dan menjerumuskan mereka ke  dalam su’ul khotimah.</li>
</ul>
<p>Demikianlah beberapa hal yang bisa menyebabkan su’ul khotimah.  Kesemuanya adalah biang dari segala keburukan, bahkan akar dari semua  kejahatan. Setiap orang yang berakal hendaknya mewaspadai dan  menghindarinya, demi menghindari su’ul khotimah.</p>
<p><strong>Tanda-tanda husnul khotimah</strong></p>
<p>Tanda-tanda husnul khotimah cukup banyak. Di sini kami menyebutkan  sebagian di antaranya saja :</p>
<ul>
<li> Mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah saat meninggal.  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, <em>“Barangsiapa yang  akhir ucapan dari hidupnya adalah laa ilaaha illallaah, pasti masuk  surga”</em> (HR. Abu Dawud dll, dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil)</li>
<li>Meninggal pada malam Jum’at atau pada hari Jum’at. Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap muslim yang meninggal  pada hari atau malam Jum’at pasti akan Allah lindungi dari siksa kubur”</em> (HR.Ahmad)</li>
<li>Meninggal dengan dahi berkeringat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, <em>“Orang mukmin itu meninggal dengan berkeringat di  dahinya”</em> (HR. Ahmad, Tirmidzi dll. dishahihkan Al Albani)</li>
<li>Meninggal karena wabah penyakit menular dengan penuh kesabaran dan  mengharapkan pahala dari Allah, seperti penyakit kolera, TBC dan lain  sebagainya</li>
<li>Wanita yang meninggal saat nifas karena melahirkan anak. Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang wanita yang meninggal  karena melahirkan anaknya berarti mati syahid. Sang anak akan  menarik-nariknya dengan riang gembira menuju surga”</em> (HR. Ahmad)</li>
<li>Munculnya bau harum semerbak, yakni yang keluar dari tubuh jenazah  setelah meninggal dan dapat tercium oleh orang-orang di sekitarnya.  Seringkali itu didapatkan pada jasad orang-orang yang mati syahid,  terutama syahid fi sabilillah.</li>
<li>Mendapatkan pujian yang baik dari masyarakat sekitar setelah  meninggalnya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah melewati  jenazah. Beliau mendengar orang-orang memujinya. Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Pasti (masuk) surga”</em> Beliau kemudian  bersabda, <em>“kalian -para sahabat- adalah para saksi Allah di muka bumi ini”</em> (HR. At  Tirmidzi)</li>
<li>Melihat sesuatu yang menggembirakan saat ruh diangkat. Misalnya,  melihat burung-burung putih yang indah atau taman-taman indah dan  pemandangan yang menakjubkan, namun tidak seorangpun di sekitarnya yang  melihatnya. Kejadian itu dialami sebagian orang-orang shalih. Mereka  menggambarkan sendiri apa yang mereka lihat pada saat sakaratul maut  tersebut dalam keadaan sangat berbahagia, sedangkan orang-orang di  sekitar mereka tampak terkejut dan tercengang saja.</li>
</ul>
<p><strong>Bagaimana kita menyambut kematian?</strong></p>
<p>Saudara tercinta, sambutlah sang kematian dengan hal-hal berikut :</p>
<ul>
<li> Dengan iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para  Rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk.</li>
<li>Dengan menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya di masjid  secara berjama’ah bersama kaum muslim dengan menjaga kekhusyu’an dan  merenungi maknanya. Namun, shalat wanita di rumahnya lebih baik daripada  di masjid.</li>
<li>Dengan mengeluarkan zakat yang diwajibkan sesuai dengan takaran dan  cara-cara yang disyari’atkan.</li>
<li>Dengan melakukan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap  pahala.</li>
<li>Dengan melakukan haji mabrur, karena pahala haji mabrur pasti surga.  Demikian juga umrah di bulan Ramadhan, karena pahalanya sama dengan  haji bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, yakni setelah melaksanakan  yang wajib. Baik itu shalat, zakat, puasa maupun haji. Allah  menandaskan dalam sebuah hadits qudsi, <em>“Seorang hamba akan terus  mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku  mencintai-Nya”</em></li>
<li>Dengan segera bertobat secara ikhlas dari segala perbuatan maksiat  dan kemungkaran, kemudian menanamkan tekad untuk mengisi waktu dengan  banyak memohon ampunan, berdzikir, dan melakukan ketaatan.</li>
<li>Dengan ikhlas kepada Allah dan meninggalkan riya dalam segala  ibadah, sebagaimana firman Allah yang artinya, <em>“Padahal mereka tidak  disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan  kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus”</em> (QS. Al Bayyinah [98] :  5)</li>
<li>Dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya.</li>
<li>Hal itu hanya sempurna dengan mengikuti ajaran Nabi, sebagaimana  yang Allah firmankan yang artinya, <em>“Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni  dosa-dosamu’. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang”</em> (QS. Ali Imran  [3] : 31)</li>
<li>Dengan mencintai seseorang karena Allah dan membenci seseorang  karena Allah, berloyalitas karena Allah dan bermusuhan karena Allah.  Konsekuensinya adalah mencintai kaum mukmin meskipun saling berjauhan  dan membenci orang kafir meskipun dekat dengan mereka.</li>
<li>Dengan rasa takut kepada Allah, dengan mengamalkan ajaran kitab-Nya,  dengan ridha terhadap rezeki-Nya meski sedikit, namun bersiap diri  menghadapi Hari Kemudian. Itulah hakikat dari takwa.</li>
<li>Dengan bersabar menghadapi cobaan, bersyukur kala mendapatkan  kenikmatan, selalu mengingat Allah dalam suasana ramai atau dalam  kesendirian, serta selalu mengharapkan keutamaan dan karunia dari Allah.  Dan lain-lain</li>
</ul>
<p>(dicuplik dari <em>Misteri Menjelang Ajal, Kisah-Kisah Su’ul Khatimah  dan Husnul Khatimah</em>, penerjemah Al Ustadz Abu ‘Umar Basyir  <em>hafizhahullah</em>). Semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi kita  Muhammad, kepada sanak keluarga beliau dan para sahabat beliau</p>
<p>Penyusun ulang: Ari Wahyudi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-depan-gerbang-kematian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosa Terbesar di sisi al-Jabbar</title>
		<link>http://abumushlih.com/dosa-terbesar-di-sisi-al-jabbar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/dosa-terbesar-di-sisi-al-jabbar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 11:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1498</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam; Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?”. Maka beliau menjawab, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Abdullah berkata, “Kukatakan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/dosa-terbesar-di-sisi-al-jabbar.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdosa-terbesar-di-sisi-al-jabbar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdosa-terbesar-di-sisi-al-jabbar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><span style="font-weight: normal;">Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam; Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Abdullah berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kukatakan kepadanya; Sesungguhnya itu benar-benar dosa yang sangat besar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Abdullah berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Lalu, kamu membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Abdullah berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Lalu, kamu berzina dengan istri tetanggamu.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/153]) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1498"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits yang mulia ini mengandung pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Kemaksiatan 	yang terbesar adalah syirik, kemudian setelah itu pembunuhan tanpa 	alasan yang benar. Para ulama madzhab Syafi&#8217;i mengatakan bahwa dosa 	besar yang terbesar setelah syirik adalah pembunuhan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/154])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Sebagaimana 	amalan itu bertingkat-tingkat keutamaannya, demikian pula dosa. Ada 	dosa besar dan ada dosa kecil. Dosa besar pun bertingkat-tingkat, 	sedangkan dosa besar yang terbesar adalah yang terkait dengan hak 	Allah (ibadah) yaitu mempersekutukan Allah dalam hal ibadah. Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa 	lain yang berada di bawah tingkatan syirik itu bagi siapa saja yang 	dikehendaki-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. an-Nisaa&#8217;: 48). Syaikh Abdurrahman bin Hasan </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Maka 	jelaslah berdasarkan ayat ini bahwa syirik merupakan dosa yang 	paling besar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Majid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 70)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Tauhid 	rububiyah -pengakuan Allah sebagai satu-satunya pencipta- sudah 	tertanam di dalam hati manusia (lihat Shahih Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	Tafsir al-Qur&#8217;an</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 	924)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	dimaksud menjadikan sekutu bagi Allah adalah beribadah kepada 	selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya. Artinya seseorang 	beribadah kepada Allah dan juga kepada selain Allah (lihat Shahih 	Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab Tafsir 	al-Qur&#8217;an</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1003). </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Tauhid 	rububiyah merupakan dalil atas tauhid uluhiyah. Orang yang mengakui 	bahwa Allah yang menciptakan dirinya maka sudah semestinya dia 	mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah. Oleh sebab itu Nabi 	mengatakan bahwa dosa terbesar itu -yaitu syirik- adalah, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Engkau 	menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah 	menciptakanmu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Sebagaimana 	Allah tidak bersekutu dalam hal rububiyah (penciptaan, penguasaan, 	dan pengaturan alam) maka demikian pula dalam hal uluhiyah. Metode 	semacam ini sering kita temukan dalam al-Qur&#8217;an. Contohnya, firman 	Allah (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai 	umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian 	dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Baqarah: 21). Tauhid rububiyah merupakan pintu gerbang 	menuju tauhid uluhiyah (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	Tauhid li Shaffil Awwal</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 36)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Bertanya 	kepada ahli ilmu atau ulama. Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Bertanyalah 	kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui perkara apa saja.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. an-Nahl: 43) </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Perbuatan 	membunuh anak karena takut dia makan bersama orang tuanya (alasan 	ekonomi) adalah sebuah tindakan biadab (lihat Shahih Bukhari, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Adab</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 1239)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Perzinaan 	adalah perbuatan yang sangat keji dan dosa yang sangat besar (lihat 	Shahih Bukhari, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Muharibin</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 1368)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hamba 	dan perbuatannya adalah ciptaan Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat Shahih Bukhari, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	at-Tauhid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 1494). Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah 	yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. ash-Shaffat: 96). Meskipun demikian, perbuatan yang dilakukan 	oleh manusia tidak di bawah tekanan dan dia melakukan sesuatu dengan 	pilihan dan kemampuannya sendiri. Oleh sebab itu, pelaku maksiat 	tidak boleh berdalil dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatannya. 	Sesungguhnya berdalih dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatan 	merupakan karakter orang-orang musyrikin. Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang 	yang berbuat syirik itu benar-benar akan mengatakan; Seandainya 	Allah menghendaki niscaya kami tidak akan berbuat syirik demikian 	pula bapak-bapak kami. Dan kami juga tidak akan pernah mengharamkan 	apapun -yang sebenarnya tidak haram, pent-. Demikian itulah tindakan 	pendustaan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka sampai 	mereka merasakan hukuman Kami&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-An&#8217;am: 148) </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kewajiban 	Nabi adalah sekedar menyampaikan risalah/wahyu dan ketetapan dari 	Allah, bukan menyampaikan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu dan 	perasaannya, ataupun menampung keinginan dan paham kebudayaan 	kaumnya terhadap agama ini. az-Zuhri </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Risalah 	berasal dari Allah &#8216;azza wa jalla. Kewajiban Rasulullah shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam adalah menyampaikannya. Adapun kewajiban kita 	adalah taslim/pasrah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat Shahih Bukhari, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	at-Tauhid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 1496-1497). Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah 	dia -Muhammad- berbicara dengan dasar hawa nafsunya, akan tetapi itu 	adalah semata-mata wahyu yang diwahyukan kepadanya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. an-Najm: 3-4). Allah juga berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah 	kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan -wahyu- dengan jelas.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Ankabut: 18). Oleh sebab itu, Allah menyebut orang yang 	menaati Rasul telah menaati Allah. Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa 	yang taat kepada Rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada 	Allah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80). Sehingga ini semua menjadi bantahan yang sangat 	jelas bagi kaum Liberal dan Pluralis yang beranggapan bahwa ajaran 	al-Qur&#8217;an yang diterapkan oleh Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> adalah sebuah produk budaya, bukan wahyu yang suci dan harus 	dijunjung tinggi! </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Maha 	suci Allah dari busuknya keyakinan mereka&#8230;</span></em><span style="font-weight: normal;"> Inilah akibatnya -wahai saudaraku- tatkala manusia berpaling dari 	manhaj salaf, maka yang terjadi adalah kerancuan, kebimbangan, dan 	kerusakan akal yang pada akhirnya akan menyeret pelakunya ke jurang 	kehancuran! Maha benar Allah dengan firman-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang 	terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta 	orang-orang yang mengkuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada 	mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah pun telah menyediakan 	untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. 	Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan 	yang sangat besar.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. at-Taubah: 100) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Membunuh jiwa 	yang diharamkan adalah dosa besar, maka bagaimanakah lagi jika yang 	dibunuh adalah anaknya sendiri? Demikian juga, berzina adalah dosa 	besar, maka bagaimanakah lagi jika yang menjadi korban -suka atau 	tidak suka- adalah istri tetangganya?</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk 	menjaga agama, nyawa, dan kehormatan mereka. Karena perkara-perkara 	ini termasuk dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">maqashid 	syari&#8217;ah</span></em><span style="font-weight: normal;"> yang harus 	dijaga.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	yang agung ini menunjukkan bahwa sebesar apapun kebencian orang 	terhadap pembunuhan dan perzinaan, maka kebencian mereka terhadap 	kemusyrikan harus lebih besar dari itu semua. Karena syirik adalah 	sebesar-besar dosa besar! Bahkan, meskipun syirik tersebut 	digolongkan dalam syirik ashghar yang tidak sampai membuat pelakunya 	keluar dari agama secara total, maka kebencian kita kepadanya harus 	lebih besar! Abdullah bin Mas&#8217;ud </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh, aku 	bersumpah dengan nama Allah tapi dusta itu lebih aku sukai daripada 	bersumpah dengan selain nama Allah meskipun jujur.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (dinukil dari </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Majid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 402). 	Syaikh Abdurrahman bin Hasan </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kalau sikap 	seperti itu yang diterapkan terhadap syirik ashghar, lantas 	bagaimanakah lagi sikap terhadap syirik akbar yang menyebabkan 	pelakunya kekal di neraka?”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Majid</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 402). Maka perhatikanlah diri kita masing-masing, wahai 	saudaraku. Seberapakah kualitas kebencian kita kepada syirik, 	ataukah kita justru meremehkan dan seolah menganggap kita pasti 	terbebas darinya? </span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul 	musta&#8217;an</span></em><span style="font-weight: normal;">. </span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/dosa-terbesar-di-sisi-al-jabbar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Hakiki</title>
		<link>http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 03:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1477</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Firanda Andirja Abidin, Lc.* -hafizhahullah- Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu dengan mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua meskipun ia berada di &#8230; <a href="http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fujian-hakiki.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fujian-hakiki.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Ustadz Firanda Andirja Abidin, Lc.*</strong> -<em>hafizhahullah</em>-</p>
<p>Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu dengan  mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk menegakkan amar  ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua meskipun ia  berada di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tenggelam dalam lautan  kemaksiatan. Ini adalah suatu kemuliaan karena ia bisa menghadapi ujian  dengan baik sehingga terhindar dari kemaksiatan. Namun ingat  sesungguhnya bukan ini ujian yang sebenarnya.</p>
<p><span id="more-1477"></span><br />
Allah telah  melarang para hambanya untuk bermaksiat kepadanya baik  secara terang-terangan atau tatkala ia bersendirian tatkala tidak ada  orang lain yang melihatnya. Seseorang yang mencegah dirinya dari  melakukan kemaksiatan dihadapan khalayak tentunya berbeda dengan orang  yang mencegah dirinya dari melakukan kemaksiatan tatkala ia  bersendirian. Sesungguhnya ujian yang hakiki adalah ujian yang dihadapi  seorang hamba tatkala ia sedang bersendirian kemudian tersedia  dihadapannya sarana dan prasarana serta kemudahan baginya untuk  melakukan kemaksiatan, apakah ia mampu mencegah dirinya dari kemaksiatan  tersebut??. Inilah ujian yang hakiki, ujian yang sangat berat,  beruntunglah bagi mereka yang bisa selamat dari ujian ini.</p>
<p>Ketahuliah…, orang yang mampu menghindarkan dirinya dari kemaksiatan  tatkala dihadapan orang lain namun ia terjerumus dalam kemaksiatan  tatkala ia sedang bersendirian merupakan orang yang tercela.</p>
<p>Rasulullah salallah wa&#8217;alaihi wasallam pernah bersabda</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لألفين أقواما من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة فيجعلها  الله هباء منثورا فقالوا يا رسول الله صفهم لنا لكي لا نكون منهم ونحن لا  نعلم فقال أما إنهم من إخوانكم ولكنهم أقوام إذا خلوا بمحارم الله انتهكوها<br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku yang datang pada hari  kiamat dengan membawa kebaikan yang banyak seperti[1] bukit Tihamah kemudian Allah menjadikannya seperti debu yang beterbangan.&#8221;</em> Maka mereka -sahabat- bertanya, <em>&#8220;Wahai Rasulullah, berikanlah ciri mereka kepada kami agar kami tidak termasuk golongan mereka dalam keadaan tidak sadar.&#8221;</em> Maka beliau menjawab, <em>&#8220;Adapun, mereka itu adalah saudara-saudara kalian, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang apabila bersepi-sepi dengan apa yang diharamkan Allah maka mereka pun menerjangnya.&#8221;</em></p>
<p>Allah telah menguji orang-orang yahudi dengan ikan,<br />
Allah berfirman</p>
<p style="text-align: right;"><strong>}وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ  يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ  شُرَّعاً وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ  بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ| (لأعراف:163)</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di  dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu  datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka  terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan  itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka  disebabkan mereka berlaku fasik&#8221;</em>. (QS. 7:163)</p>
<p>Lihatlah…Allah memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk melakukan  kemaksiatan. Namun mereka (orang-orang Yahudi) tersebut tidak sabar  dengan ujian Allah padahal mereka yakin bahwa Allah mengawasi  gerak-gerik mereka, oleh karena itu mereka tidak melanggar perintah  Allah secara langsung tetapi mereka melakukan hilah yang akhirnya Allah  merubah mereka menjadi kera-kera yang hina.</p>
<p>Allahpun telah menguji para sahabat Nabi, Allah berfirman</p>
<p style="text-align: right;"><strong>}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِنَ  الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ  يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ  أَلِيمٌ| (المائدة:94)<br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu  dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan  tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia  tidak dapat melihat-Nya. Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu,  maka baginya azab yang pedih&#8221;</em> (Al-Maidah : 94)</p>
<p>Dari Muqotil bin Hayyan, bahwasanya ayat ini turun tatkala umroh  Hudaibiyah, tatkala itu muncul banyak sekali zebra, burung, dan  hewan-hewan buruan yang lain di tengah perjalanan para sahabat (yang  sedang dalam keadaan berihram umroh), mereka tidak pernah menjumpai yang  seperti ini sebelumnya, namun Allah melarang mereka untuk berburu  hewan-hewan tersebut.[2] Sampai-sampai saking terlalu jinaknya  hewan-hewan tersebut maka mereka bisa mengambil langsung hewan-hewan  buruan yang kecil dengan tangan-tangan mereka, adapun hewan-hewan buruan  yang besar maka mereka bisa dengan mudah menombaknya[3]</p>
<p>Dalam ayat ini | لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ } Allah menta&#8217;kid  (menekankan) dengan sumpah[4] untuk menunjukan bahwa apa yang sedang  mereka hadapi berupa jinaknya hewan-hewan buruan, tidaklah Allah  menjadikan hewan-hewan tersebut jinak kecuali karena untuk menguji  mereka.[5]</p>
<p>Adapun nakiroh pada kalimat | بِشَيْءٍ } menunjukan bahwa cobaan yang  Allah turunkan pada mereka bukanlah cobaan yang sangat mengerikan yang  menyebabkan terbunuhnya nyawa dan rusaknya harta benda, namun cobaan  yang Allah berikan kepada para sahabat pada ayat ini adalah semisal  cobaan yang Allah berikan kepada penduduk negeri Ailah (orang-orang  yahudi) berupa ikan-ikan yang banyak mengapung di permukaan laut namun  Allah melarang mereka untuk menangkapnya[6]. Dan faedah dari cobaan yang  tergolong &#8220;ringan&#8221; ini adalah untuk mengingatkan mereka bahwa  barangsiapa yang tidak bisa tegar menghadapi seperti cobaan ini maka  bagaimana ia bisa tegar jika menghadapi cobaan yang sangat berat. Oleh  karena itu huruf | مِنَ } dalam ayat ini | مِنَ الصَّيْدِ } ini jelas  adalah bayaniah dan bukan  tab&#8217;idhiyah.[7]</p>
<p>Jika seorang hamba merasakan bahwa dirinya dimudahkan untuk melakukan  kemaksiatan, jalan-jalan menuju kemaksiatan terbuka lapang baginya maka  ketahuilah bahwa ia sedang diuji oleh Allah…ingatlah bahwa Allah yang  sedang mengujinya juga sedang mengawasinya, maka takutlah ia kepada  Allah. Inilah ujian yang hakiki, dan Allah akan memberikan ganjaran yang  besar baginya karena kekuatan imannya. Barangsiapa yang meninggalkan  kemaksiatan padahal sangat mudah baginya untuk melakukannya maka  ketahuilah bahwa itu adalah kabar gembira baginya karena hal itu  merupakan indikasi imannya yang kuat. Barangsiapa yang bermaksiat kepada  Allah dalam keadaan bersendirian maka ketahuliah bahwa imannya ternyata  lemah, dan hendaknya ia takut kepada adzab yang Allah janjikan kepada  orang-orang yang melanggar perintahNya.</p>
<p>Oleh karena itu di akhir ayat Allah berfirman | لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ  يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ }, inilah hikmah dari ujian yang Allah berikan  kepada para sahabat yang sebagian mereka bisa saja mengambil hewan-hewan  buruan tersebut dengan mudahnya baik secara terang-terangan maupun  secara sembunyi-sembunyi. Dengan ujian ini akan nampak siapakah dari  hamba-hamba Allah yang takut dan bertakwa kepada Allah baik secara  terang-terangan maupun tatkala bersendirian.</p>
<p>Hal ini sebagaimana firman Allah</p>
<p style="text-align: right;"><strong>}إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ  وَأَجْرٌ كَبِيرٌ| (الملك:12</strong>(</p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak  oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar&#8221;</em>. (QS.  67:12)[8]</p>
<p>Ujian yang diberikan oleh Allah agar terbedakan hamba Allah yang karena  keimanannya yang kuat maka takut kepada adzab Allah di akhirat yang  meyakini bahwasanya Allah senantiasa mengawasinya meskipun ia tidak  melihatNya, agar terbedakan dari hamba yang lemah imannya sehingga  berani melanggar perintah Allah…[9], sehingga Allah memberinya ganjaran  yang besar…adapun menampakan rasa takut kepada Allah dihadapan khalayak  maka bisa jadi ia melakukannya karena takut kepada Allah maka ia tidak  mendapatkan ganjaran…[10].</p>
<p style="text-align: left;">*<strong>Penulis</strong> adalah mahasiswa S2 Universitas Islam Madinah</p>
<p style="text-align: left;">____</p>
<p style="text-align: left;">Catatan Kaki</p>
<p style="text-align: left;">[1] HR Ibnu Majah II/1418 no 4245 dan At-Thobroni dalam Al-Mu’jam  Ash-Shogir I/396 no 662 (dan ini adalah lafalnya) dan Al-Mu’jam  Al-Awshoth V/46 no 4632. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih  Sunan Ibnu Majah, dan As-Shahihah II/32  no 505</p>
<p style="text-align: left;">[2] Ad-Dur Al-Mantsur, karya As-Suyuthi (3/185)</p>
<p>[3] Tafsir Ibnu Katsir (2/98)</p>
<p>[4] Karena huruf lam dalam ayat ini adalh Al-Lam Al-Waqi&#8217;ah lijawabil  qosam</p>
<p>[5] Tafsir Abi As-Sa&#8217;ud  (3/78)</p>
<p>[6] Lihat juga Fathul Qodir (2/77), At-Tafsir Al-Kabir (12/71)</p>
<p>[7] Tafsir Abi As-Sa&#8217;ud  (3/78), Tafsir As-Sa&#8217;di (1/244),  karena jika  kita mengatakan bahwa مِن  dalam ayat ini adalah tab&#8217;idhyah (sebagaimana  hal ini adalah pendapat yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya  (2/98)) maka sesuatu yang ringan yang difahami dari kalimat بِشَيْءٍ  bukanlah jika dibandingkan dengan cobaan-cobaan yang berat namun jika  dibandingkan dengan seluruh hewan</p>
<p>[8] Tafsir Ibnu Katsir (2/99)</p>
<p>[9] Tafsir Abi As-Saud (3/78)</p>
<p>[10] Tafsir As-Sa&#8217;di (1/244)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ujian-hakiki.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

